[ CHAPTER – PART 9 ] A MINUTE OF HOPE

AOF

Tittle : A Minute of Hope

Author : gazasinta

Main Cast :

o Park Jiyeon as Jiyeon
o Kim Jaejoong as Dr Jae
o Kim Myungsoo as Myungsoo
o Bae Suzy as Sooji
o Jeo Min Seo as Park Jeo Min ( Jiyeon’s sister )

Extended Cast :

o Shin Goo as Seo Sin Goo ( Harabeoji )
o Kang Bo Ja as Halmeoni Kang ( Yongha’s mother )
o Park Won Sook as Won Sook ( Yongha’s sister )
o Yun Yoo Sun as Yoo Sun ( Jaejoong and Myungsoo’s mother )
o Kim Soo Ro as Soo Ro ( Jaeejong and Myungsoo’s father )
o Kim Mi Sook as Mi Sook ( Suzy’s mother )
o Kim Ji Young as Bibi Lee Eun Cha
o Lee Kwang soo as Kwang Soo
o Son Ye Jin as Seo Ye Jin ( Jiyeon and Jeo Min’s mother )
o Park Yong Ha as Yong Ha ( Jiyeon and Jeo Min’s father )

Genre : School, Family, Drama

Rating : PG-17

Poster created by @Olivemoon

Disclaimer : FF ini terinsprirasi dari Kdrama yang sangat menyentuh Thank You, tapi alur dan ceritanya pure milik author.
Sorry for typos , and happy reading ya guys!!!

“ Be a strong wall in the hard times and be a smilling sun in the good times “

Previous Part

“ Selamat malam…maaf jika aku terlambat “
Semua mata menoleh ke arah si pemilik suara berat. Diantara semua yang hadir hanya Sooji yang nampak begitu syok. Bukan hanya kebetulan memiliki nama yang sama tapi pria itu adalah benar Kim Myungsoo. Namja yang selama ini diam-diam ia perhatikan, yang selalu berusaha untuk ia dekati. Apakah ini mimpi, jika iya Sooji tidak ingin siapapun membangunkannya.
Tapi….
Park Jiyeon, entah atas dasar apa Sooji mengingatnya ketika melihat Myungsoo. Tiba-tiba saja ia jadi teringat gadis itu. Sooji memang tidak tahu apa-apa tentang keduanya, tapi ia jelas mengingat bagaimana Myungsoo begitu peduli pada gadis itu. Gadis yang membuat tidak hanya Myungsoo yang terluka, namun juga dirinya

Part 9 ~ A Minute Of Hope

Restaurant ~

“ Ommo !!! Apa yang terjadi dengan tanganmu ?? “

Myungsoo mengabaikan kekhawatiran Yoo Sun yang terlihat seperti sandiwara dimatanya. Ia lebih memilih untuk membungkuk hormat dihadapan keduanya.

Yoo Sun merubah rasa kesal karena perhatiannya dibaikan Myungsoo dengan mencoba tersenyum. Dan dengan suka cita ia kemudian menuntun putranya itu untuk duduk disebelahnya. Tak peduli pada Soo Ro yang menatap aneh ke arahnya. Mulai saat ini rasanya ia harus memberikan perhatian lebih untuk Kim Myungsoo.

Sementara, tak terlihat raut semangat diwajah Myungsoo. Ia memang tak datang untuk memenuhi undangan orangtuanya, tapi tantangan pada Jaejoong yang akhirnya memaksa Myungsoo untuk tetap hadir. Juga dengan sedikit harapan, kegalauan dihatinya bisa sejenak terlupakan jika ia memiliki kegiatan lain.

Tapi dimana Jaejoong ?

Pandangan Myungsoo beredar, ketika tatapannya bertemu dengan seseorang yang berada pércis dihadapannya.

“ Kau ? “ Myungsoo sedikit terkejut.

Bae Sooji, Myungsoo melihat mata gadis itu berkaca-kaca menatap ke arahnya, entah karena apa. Myungsoo menahan detak jantungnya. Amarah yang baru saja ia luapkan tentang gadis lain kembali terkuak karena bertemu Sooji. Myungsoo tersenyum miris, ternyata kehidupan setelah sekolahnya tidak berbeda, dunia ini benar-benar sangat sempit, hanya berkutat disekitar situ saja.

“ Eoh. An-nye-ong, senang – bertemu – denganmu disini “ Sapa Sooji dengan suara gugup dan bergetar.

Bertemu Sooji, tentu saja wajah gadis itu kembali membayangi. Park Jiyeon.

***

“ Jadi kalian berdua sudah saling mengenal ? ahh….ini merupakan berita yang sangat baik “

Myungsoo hanya melirik sekilas ke arah eommanya yang terlihat sangat senang dengan kenyataan bahwa ia dan Sooji saling mengenal. Tangannya tetap sibuk memotong kecil-kecil daging untuk ia masukkan kedalam mulutnya. Daging steak yang sedang dinikmatinya terlalu lezat untuk ia abaikan.

“ Sooji-aa, bagaimana Myungsoo menurutmu, ah maksudku bagaimana putraku yang sangat tampan ini jika dikampus ? “ Lanjut Yoo Sun semakin bersemangat.

“ Yoo Sun-aa pertanyaanmu sungguh sangat klasik, menanyakan hal yang jawabannya sudah pasti, tentu saja Myungsoo memiliki begitu banyak penggemar dan … “

Tatapan tajam Yoo Sun membuat Soo Ro perlahan menutup mulutnya, maksud Soo Ro hanya agar pembicaraan ini tak terlalu menjurus pada niat perjodohan, ia yakin Myungsoo tak nyaman dengan sikap Yoo Sun.

“ Bagaimana menurutmu ? “ Yoo Sun memajukan tubuhnya, dan tersenyum menggoda ke arah Sooji .

“ Eomma ! “ Kali ini Myungsoo yang memprotes. Ia merasa eommanya sudah keterlaluan, ia tak suka kehidupan pribadinya diperbincangkan. Terlebih eommanya tak pernah peduli bagaimana ia menjalani kesehariannya.

“ Aigo, aku hanya ingin tahu namja seperti apa putraku dimata gadis cantik seperti Sooji “ Ucap Yoo Sun yang tak peduli Myungsoo tak menyukai caranya.

Myungsoo memejamkan matanya sekejap, tangannya kemudian mengambil serbet untuk membersihkan mulut sebelum kunyahannya berakhir.

“ Myung-soo, d-ia….berbeda dengan murid lainnya…. “ Sooji memberanikan diri menatap Myungsoo “ Terkesan tak peduli, tapi ia tetap bersinar….. karena bakatnya. Ak-uu…. sering mendengar teman-temanku…membicarakannya …. ia idola dikampus kami “

Yoo Sun tersenyum begitu lebar dan nampak terharu mendengar jawaban Sooji, begitupun Mi Sook yang mendapat tatapan bahagia dari Yoo Sun, hati keduanya nampak berbunga-bunga mengetahui seperti ada sesuatu dengan pandangan Sooji tentang Myungsoo.

Sementara Myungsoo mengernyitkan dahi tak paham dengan jawaban Sooji yang menggambarkan tentang dirinya. Akhir – akhir ini ia memang cukup dekat dengan gadis bersurai hitam panjang dihadapannya ini, tapi penilaiannya terasa aneh bagi Myungsoo.

Ketika pandangan keduanya – Myungsoo dan Sooji – bertemu, senyum manis Sooji tersuguh untuk Myungsoo.

Apa ada hal yang Myungsoo tidak ketahui tentang sikap Sooji pada dirinya ?

***

Warung tenda ~

Kemeja putih berlapis tuxedo hitam yang disemprotkan parfum berharga mahal, serta tatanan rambut yang disisir kebelakang tak seperti biasanya, membuat semua orang menatap berbisik-bisik ke arah Jaejoong, namun ia sama sekali tak peduli dan menyesali penampilan supernya berakhir tak seistimewa perjamuan yang diadakan orangtuanya.
Hanya disebuah warung tenda pinggir jalan bersama dengan “ keluarga baru “ nya.

Awalnya Jaejoong telah menguatkan tekad untuk menghadiri undangan keluarga, ketika menatap rumah Jiyeon niatnya perlahan luntur, rasanya ia tak ingin menikmati makanan mewah sementara Jiyeon dan keluarga hanya meringkuk menunggu pagi datang, mungkin dengan perut yang hanya kenyang pas-pasan.

Senyum manis dari bibir Jiyeon yang terbiasa menanggung beban merupakan pemandangan langka untuk Jaejoong lihat. Gadis itu menikmati tiap suapan Jajjangmyeon dimulutnya.

“ Gomawo “

Tiba-tiba mengucapkan terimakasih, membuat Jaejoong yang memang sedang memperhatikan Jiyeon sedikit terkejut. Buru-buru Jaejoong mengalihkan tatapannya, menghindari kontak mata dengan Jiyeon. Mungkin gadis itu menyadari jika ia terus menatapnya tadi.

“ Mwo ? “ Tanya Jaejoong seraya memasukkan Tteokbokki kedalam mulutnya tanpa melihat Jiyeon.

“ Dokter mengajak kami merayakan ulangtahun dokter “

Kunyahan dimulutnya terhenti, kali ini Jaejoong terpaksa harus menatap Jiyeon seraya mengingat jika ia mengarang hal itu sebagai alasan mengajak makan Jiyeon dan keluarganya tadi.

“ Eoh “ Jawab Jaejoong singkat

“ Berapa umur dokter sekarang ? “ Jiyeon bertanya seraya terus menyantap Jajjangmyeon dengan lahap.

“ Menurutmu ? “ Bukannya menjawab, Jaejoong justru balik bertanya.

Jiyeon menatap Jaejoong dengan perasaan sedikit kesal, bibirnya bergerak-gerak kecil seolah sedang bersumpah serapah.

Menyadari hal itu membuat Jaejoong ingin tersenyum, baru kali ini ia merasa nyaman berada didekat gadis ini setelah insiden memalukan itu.

“ Dokter masih terlihat muda, aku rasa belum 40 tahun “ Ucap Jiyeon tanpa mau memaksa otaknya untuk berpikir.

Kali ini, justru Jaejoong yang dibuat jengkel. Mengapa gadis ini begitu jauh menebaknya hampir berkepala 4 ?

” Jika umurku sudah sampai 40 tahun, aku tidak akan berada disini bersama kalian. Aku sudah pasti merayakannya bersama keluarga kecilku “ Ucap Jaejoong ketus.

Jiyeon menghentikan suapan dan mengangkat kepala untuk menatap Jaejoong. Entah mengapa jawaban Jaejoong membuat perasaannya campur aduk. Disatu sisi ia bersyukur, setidaknya pria yang kerap acuh dan sedikit galak ini masih memiliki keinginan seperti manusia biasa lainnya, membangun rumah tangga. Setelah ditinggal pergi kekasihnya, Jiyeon pikir Jaejoong tak peduli lagi dengan hal yang seperti itu. Tapi di lain sisi, seperti ada yang membuatnya takut, ketidaksengajaannya menggantungkan hidup pada Jaejoong, membuat ia enggan memikirkan bagaimana kelak jika tak lagi ada Jaejoong disampingnya.

“ Waeyo ? “ Tanya Jaejoong melihat ada sesuatu dari tatapan Jiyeon padanya.

“ Eoh…. Ahniyo “ Jiyeon memaksa senyumnya “ Syukurlah, tentu saja dokter akan memiliki keluarga kelak. Jika itu terjadi, aku harap dokter masih mengingat kami, kami pasti hidup dalam keadaan lebih baik “ Ucap Jiyeon dengan membalut kegundahan dengan senyuman.

Seperti ada sesuatu yang meremas hati Jaejoong ketika kalimat itu Jiyeon ucapkan. Kehidupan lima belas tahun, sepuluh tahun, lima tahun ? Apakah semuanya benar akan baik-baik saja ? Bahkan jika Jiyeon mengetahui apa yang terjadi dengan Jeo Min ? Apakah mereka semua akan tetap berhubungan baik ?

Jaejoong tak berharap dimaafkan, hanya memohon agar Jeo Min bisa merasakan kehidupan yang panjang bersama eonninya yang begitu hebat, serta kakek yang selalu ada dan menyayanginya. Meski itu adalah hal yang mungkin mustahil.

“ Eoh “ Jawab Jaejoong sekenanya.

“ Jadi berapa umur dokter ? “ Jiyeon masih penasaran.

Jaejoong memicingkan mata dan nampak berpikir “ 32 tahun ini, apa yang akan kalian berikan padaku ? “ Sindir Jaejoong dengan gaya pongah seperti biasa.

Jiyeon dan Jeo Min serta kakek saling menatap. Sepertinya memang tidak ada yang bias diberikan pada Jaejoong.

“ Maafkan kami, tapi kami akan mengingatnya. 12 Februari, akan kami jadikan sebagai hari lahirnya seorang malaikat “ Ucap Jiyeon disertai senyum Jeo Min dan harabeoji bangga.

“ Tch … berlebihan “ Jaejoong berdecak “ Sudahlah makan saja! “ Seraya mengambil botol soju untuk menutupi wajahnya yang memerah karena pujian Jiyeon.

“ Paman hantu, apa benar jika kau sudah memiliki kekasih ? “

Glek.

Hampir saja tenggorakan Jaejoong tersedak. Wajah Jeo Min tiba-tiba sudah berada dekat dengan wajahnya dengan pertanyaan konyol yang keluar dari bibir mungilnya. Gadis kecil itu sengaja berdiri diatas kursi agar bisa mensejajarkan diri dengannya.

“ Mwo ? “

“ Paman hantu bilang akan segera memiliki keluarga kecil, itu berarti paman sudah memiliki kekasih “ Intonasi suara Jeo Min menurun dan wajahnya berubah sedih.

Tubuh Jaejoong mendadak kaku, sungguh ia tidak bisa mengerti apa yang gadis kecil ini katakan tentang hubungan orang dewasa.

“ Me-mangnya kenapa jika aku sudah memiliki kekasih ? “

Jeo Min takut-takut melirik kearah Jiyeon.

“ Ahniyo, lalu….. kenapa paman hantu tak merayakan ulang tahun dengannya ? mengapa justru paman hantu memilih merayakannya dengan kami ? “ Ucap Jeo Min.

Meski kembali sibuk dengan Jajjangmyeon, namun telinga Jiyeon tak lepas dari pembicaraan dokter Jaejoong dengan adiknya.

“ Aku…..pasti akan membawa dan mengenalkannya. Tunggu saja. Untuk kali ini aku memilih merayakannya dengan kalian “ Ucap Jaejoong kikuk, mungkin karena lagi-lagi hanya mengarang cerita.

Trang

“ Jajjangmyeon ini pedas sekali, aku kurang menyukainya ! “

Jiyeon meletakkan sumpit dengan gaya yang sedikit berlebihan, dan mengibaskan tangan didepan mulutnya, seolah mengusir rasa pedas. Bahkan Jajjangmyeonnya hanya tersisa sedikit di mangkuknya. Tak hanya itu, ia pun tiba-tiba langsung meneguk habis minuman yang ada didepannya.

Jaejoong, Jeo Min serta harabeoji melihat tak mengerti ke arah Jiyeon. Dan dengan cepat tangan Jaejoong terulur begitu menyadari yang diminum Jiyeon.

“ Hey !! Itu… sojuuu!!! “

***

Pematang sawah ~

Gom Se Mari ga

Han chib-e isseo

Appa Gom

Eomma Gom

Aegi Gom

Appa Gomeun ttung ttung-hae

Eomma Gomeun neul ssin-hae

Aegi Gomeun neomu gwiyeowo

Eussuk eussuk Jar-han da

Jaejoong nampak kesulitan membawa Jiyeon dipunggungnya, gadis itu terus saja bergerak-gerak bertepuk tangan dan bernyanyi bersama dongsaeng dan harabeoji, menyanyikan lagu yang hanya pantas dinyanyikan oleh anak kecil dan seorang kakek yang kekanak-kanakkan.

Jalan panjang dan lurus diantara pematang sawah yang cantik dengan warna kuning yang siap panen, serta taburan bintang dilangit yang cerah sedikit mengalihkan rasa lelahnya. Hanya semilir angin yang membuatnya ingin buru-buru sampai untuk menghangatkan tubuhnya dalam balutan selimut.

Appa Gom

Eomma Gom

Aegi Gom

“ Jeo Min-aa, apa kau seorang aegi beruang ? “ Tanya Jiyeon, kepalanya jatuh dipundak Jaejoong.

“ Eoh, aku adalah seorang aegi, lalu eonni adalah eomma beruang !! “ Pekik Jeo Min terlihat begitu senang dan bersemangat.

Jiyeon tersenyum dengan mata terpejam, kedua tangannya semakin erat ia kalungkan dileher Jaejoong, membuat pria itu kini menatapnya. Karena pengaruh alkohol, tentu saja ia tak menyadari perubahan wajah Jaejoong, malah ia kembali mengoceh “ Jika begitu, harabeoji adalah appa beruang !! “ Ucap Jiyeon seraya menunjuk pada harabeoji.

Jeo Min menoleh kearah harabeoji, menatapnya lekat, namun tiba-tiba menggeleng kuat.

“ Sama sekali tidak cocok “ Ucap Jeo Min meremehkan.

Harabeoji mempoutkan bibirnya, tak berapa lama ia tersenyum senang “ Kalau begitu aku tetap menjadi seorang kakek. Kakek beruang….. hahaha “ Harabeoji mengangkat kedua tangannya bersorak senang.

“ Harabeoji !!! Tidak ada lagu untuk kakek beruang, hanya appa, eomma dan aegi, apa kau bisa menambahkan untuk kakek beruang ? Pasti nadanya tidak masuk “ Protes Jeo Min, tanpa menunggu jawaban harabeoji Jeo Min menatap Jaejoong “ Ahh tentu saja paman hantu adalah appa beruang !! Bukankah cocok sekali dengan eonni ? “

Meski namanya disebut, namun Jaejoong tak berniat memprotes ataupun menyetujui kalimat Jeo Min. Kakinya terus melangkah, sesekali menoleh kearah Jiyeon, memastikan gadis itu bisa berlindung nyaman dibalik punggungnya.

Semakin jauh melangkah, beban berat dipunggungnya kini terasa biasa, bahkan ia kini meraih jemari Jeo Min, menuntun gadis kecil itu dengan tangan kirinya, sementara harabeoji ia biarkan untuk memegang ujung tuxedonya.

Nyanyian 3 beruang yang mengiringi langkah mereka tak membuat Jaejoong bosan ataupun kesal. Malam ini ia berikan semua bentuk perhatiannya pada Jeo Min, harabeoji, dan Park Jiyeon.

***

Halaman rumah Kel.Bae ~

“ Gomawo ini kedua kalinya kau mengantarku “ Ucap Sooji tersenyum lembut.

Myungsoo mengangguk dan bersiap untuk masuk ke dalam mobilnya kembali, namun…

“ Apa kau baik-baik saja ? “

Myungsoo kembali menatap Sooji. Pertanyaan gadis itu mengingatkannya kembali pada rasa sakit yang coba ia kubur. Tak lama, ia tersenyum. Menutupi sisi lemahnya, rapuhnya hanya akan membuat musuh yang melihatnya senang.

“ Aku….tak lagi memikirkannya “ Ucap Myungsoo berpura-pura terlihat santai.

Setiap kalimat tegar yang Myungsoo ucapkan justru seperti jarum yang menusuk, membuat dadanya terasa sesak. Sooji semakin mengagumi sosok Myungsoo. Pandangan Sooji beralih pada tangan Myungsoo yang terbalut perban, sudah sejak tadi ia penasaran.

“ Tanganmu…. ?? “

Myungsoo mengangkat tangan kirinya yang terbalut perban dan menatapnya tersenyum “ Jangan memikirkanku, sudah malam masuklah “ Myungsoo kembali bersiap untuk berbalik pergi.

“ Myungsoo-aa !! “ Cegah Sooji reflek meraih tangan kanan Myungsoo. Sikap acuh Myungsoo memaksanya untuk berinisiatif. Tuhan sudah terlalu baik untuk ia tetap bersikap menjadi gadis pemalu. Meski memegang jemari Myungsoo reflek dillakukan, namun ia tak langsung melepaskannya ketika tersadar. Sooji bahkan berani menatap Myungsoo hingga menusuk bola mata pria itu.

“ Bisakah kita menjadi lebih dekat seperti yang keluarga kita inginkan ? “

Myungsoo tertegun. Kalimat appa dan eomma, serta eomma Sooji kembali teringat. Memang tak ada yang aneh dari sekedar hanya menyambung silaturahmi antara keluarganya dan Sooji. Namun sikap Sooji kini membuat Myungsoo jadi berpikir jika ada kalimat yang terlewat untuk ia dengarkan ketika makan malam tadi.

Jika bukan Sooji, jawaban yang akan keluar dari mulutnya pasti akan terasa pedas. Myungsoo tak mungkin memperlakukan gadis manis dihadapannya ini seperti itu. Sooji satu-satunya orang yang peduli dan bersedih ketika tahu hukuman yang harus ditanggungnya. Myungsoo mengakui ketulusan gadis ini.

“ Eoh “ Jawab Myungsoo singkat.

Sebuah harapan, meski dijawab hanya seperti itu oleh Myungsoo. Perlahan-lahan tangan Myungsoo terlepas dari genggaman Sooji, pria itu yang menariknya, namun tak lantas membuat Sooji kecewa, karena ia masih melihat Myungsoo tersenyum ketika melakukannya.

“ Terimakasih untuk hari ini “ Ucap Sooji dan meninggalkan Myungsoo.

Myungsoo menatap Sooji hingga gadis itu menghilang dari pandangannya. Tak lama ia membalikkan tubuhnya, kedua tangan ia masukkan kedalam saku sementara nafasnya ia hembuskan ke arah langit. Entah mengapa ia kembali teringat ketidakhadiran Jaejoong. jika saja hyungnya datang, tentu eommanya tak menjadikan dirinya bahan obrolan. Eommanya akan sibuk menceritakan kehebatan Jaejoong, bukan dirinya yang hanya seekor kutu kecil yang hidup diatas bulu kucing kesayangan eommanya, tidak berguna.

“ Apa gadis itu lebih berharga dari keluarga yang selalu membanggakannya ? “ Oceh Myungsoo menduga alasan Jaejoong tak datang karena Jiyeon.

***

Kyunghee university ~

Tak peduli dengan semakin banyaknya kerumunan orang-orang, jemari lentik itu terus bergerak mencari namanya dalam daftar siswa yang lolos untuk mengikuti seleksi selanjutnya. Senyum tak mampu ia sembunyikan ketika menemukan namanya tercantum disana.

“ Terimakasih Tuhan “ Ucapnya bersyukur dan segera membebaskan diri dari kerumunan murid lainnya.

“ Ternyata kau lolos seleksi juga…tch !!! “

Jiyeon, senyum manis dibibirnya perlahan hilang melihat dua orang yeoja teman sekelasnya sudah berdiri dihadapannya. Ia tahu apa yang akan diucapkan oleh dua orang yang tidak menyukainya ini, ketika Jiyeon hendak mengabaikan keduanya, Irene dan Eunji menahan pundaknya.

“ Bagaimana bisa ? Apa rahasiamu ? “ Ucap Irene memelintir ujung rambut dan mengunyah permen karet, membuat sosoknya seperti seorang senior penindas.

Jiyeon menatap Irene tajam. Penampilan terakhirnya ketika menyanyikan This Love memang mengecewakan, Jiyeonpun sebenarnya ragu ia bisa lolos seleksi berikutnya, namun ia tak terima jika orang mengatakan ia tak memiliki bakat. Jika akhirnya Miss Hong dan juri lainnya meloloskannya, tentu saja ada penilaian yang orang awan seperti dirinya tak tahu.

“ Mianhae, aku tidak ingin berdebat “ Ucap Jiyeon berusaha mengendalikan kesalnya.
Eunji dan Irene saling berpandangan dan tersenyum mengejek.

“ Hey tunggu dulu !! Kau ini selalu bersikap seperti itu yah ? Pantas saja banyak orang yang tidak menyukaimu “ Eunji nampak geram.

“ Aku tidak pernah mengganggu kalian, jadi kenapa kalian melakukan ini padaku ? “ Ucap Jiyeon akhirnya merasa kesal.

“ Tch…. Kau ini benar-benar jahat !! Kau juga melakukan itu pada Kim Myungsoo kan ??? Kau menjebaknya bukan ? “ Ucap Eunji benar-benar kesal.

“ Jika kau ingin naik, naiklah dengan cara yang baik, tidak perlu menginjak kepala orang lain, terlebih temanmu sendiri “ Irene menyambung.

“ Apa maksud perkataanmu ? “ Ucap Jiyeon tersulut emosinya karena tuduhan Eunji dan Irene.

“ Kau !!! Apa kau melihat sendiri bahwa Myungsoo yang melakukannya ? “ Ucap Irene menggunakan telunjuknya untuk menekan-nekan dada Jiyeon.

Jiyeon menyingkirkan telunjuk Irene “ Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Kenapa ? Apa kau bisa menyelamatkannya ? “

Irene dan Eunji hanya saling menatap, kemudian tersenyum menyeringai ke arah Jiyeon. Tidak ada kalimat untuk kembali menyerang, keduanya pergi meninggalkan Jiyeon begitu saja.

“ Orang yang aneh “ Ucap Jiyeon, tapi tak lama ia menundukkan kepalanya.

Seperti sebelumnya, setelah mengucapkan tuduhannya pada Myungsoo, entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal dihati Jiyeon. Bukannya pergi meninggalkan tempatnya sekarang, Jiyeon justru kembali ke kerumunan dan mencari nama lain disana. Meski ia tahu tidak mungkin ada nama namja itu, karena hukuman yang diterimanya.

“ Ini bukan salahku, tapi karena perbuatan jahatnya padaku “ Ucapnya dalam hati ketika nama itu tidak ditemuinya disana.

Ruang kelas B~

Sepi, mungkin karena masih tiga puluh menit tersisa dari jam pelajaran pertama. Jiyeon meraih knop pintu, jantungnya berdegup kencang ketika membuka pintu dan menemukan hanya namja itu yang ada didalamnya.

Kim Myungsoo, namja itu duduk disudut kelas dan menatap ke arahnya. Jiyeon ragu untuk masuk, tapi karena tidak ingin membuat Myungsoo berpikiran macam-macam ia pun melangkah, meyakini dirinya bahwa kecanggungannya bukan karena perasaan bersalah.

Sementara,

Derit pintu membuat Myungsoo mengalihkan perhatiannya. Dilihatnya teman sekelas bermarga Park itu melihat kearahnya sebelum akhirnya membuang pandangan ketika tatapan mereka bertemu. Meski begitu, Myungsoo tetap tak mengalihkan perhatiannya, hingga yeoja berambut pirang sebahu itu duduk di bangku terdepan kelasnya.

Semua hal mengenai yeoja itu hadir di kepalanya. Musuhnya yang berada dikelas yang sama dengannya, musuhnya yang berhasil menghempaskan dirinya dari kompetisi yang dicita-citakannya, dan juga musuhnya yang merebut perhatian hyungnya.

Myungsoo meraih gitar disampingnya, jemarinya kemudian mulai memetik satu persatu senar gitar kesayangannya. Hanya alunan musik instrumental yang diciptakannya sendiri, namun seperti menggambarkan perasaan hatinya.

Hampir tiga menit Myungsoo melakukannya, ketika petikan gitarnya terhenti…

“ Chukae !!! “ Ucap Myungsoo.

Jiyeon yang diajak berbicara tetap memunggunginya tanpa reaksi.

“ Park Jiyeon !! Namamu ……ada disana kan ? “ Ucap Myungsoo kembali.

Jiyeon bergeming. Ia yakin dibalik ucapan selamat, selanjutnya adalah niat buruk namja itu. Tak pernah ada pemikiran yang baik jika itu tentang Myungsoo. Adilkah yang dilakukannya ? Jiyeon tak tahu sampai kapan rasa bencinya akan hilang.

“ Aku turut bahagia dengan pencapaian yang kau dapat, namun aku lebih berbahagia jika kau tidak mengganggu keluargaku, cukuplah hidupku yang kau jadikan tumbal “

Jiyeon bergeming, sudah segila itu rupanya Myungsoo hingga mengucapkan kata-kata yang ia tidak mengerti. Hingga satu persatu murid lainnya datang, Jiyeon tak pernah melihat ke arah Myungsoo, namja itu dibiarkannya seolah berbicara sendiri.

Jiyeon mengurungkan niatnya untuk keluar dari toilet ketika ada dua orang murid lainnya masuk. Ia selipkan rambutnya di telinga agar dapat mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan dua orang diluar.

” Gadis brengsek itu benar-benar menyebalkan !!! “

“ Lalu bagaimana sekarang ? “

“ Jika menyingkirkan orang lain tidak harus berhadapan dengan hukum, aku akan melakukannya secara terbuka “

“ Hati-hati dengan ucapanmu, memangnya kau ingin membunuhnya ? “

“ Tch…. dia benar-benar menyebalkan “

“ Bagaimana dengan Myungsoo ? Bukankah kau menyukainya ? “

“ Untuk sementara ini kita tidak bisa berbuat apa-apa, memangnya kau memiliki pilihan agar kita selamat eoh ? Myungsoo satu-satunya orang yang ada disana selain kita, dan gadis bodoh itu percaya bahwa Myungsoolah yang melakukannya, dengan begitu akan memudahkan kasus ini ditutup “

“ Apa kau yakin tidak ada orang lain disana selain Myungsoo ? “

“ Sudahlah yang terpenting gadis bodoh itu sudah percaya. Kau dengar sendirikan apa yang dia katakan ? Sudahlah tak perlu khawatir, demi menyelamatkan diriku apapun akan ku lakukan, bahkan orang yang aku sukai “

“ Ssstt … Yya pelankan suaramu. Palli !!! kepalaku rasanya sudah mau pecah, kita butuh sedikit bersenang-senang “

Hening,

Kalimat itu rupanya benar adanya. Pergilah ke toilet dan berpura-puralah untuk tak tampak disana, maka kau akan mendengar suatu rahasia besar. Hingga keduanya keluar, Jiyeon masih terduduk diatas toilet. Kepalanya tertunduk dan kakinya tak sanggup untuk ia gerakan. Sebenci itukah teman-teman dikelas padanya hingga berniat mencelakainya ?

Rasa marah yang Jiyeon tahan, membuat dadanya sesak dan matanya terasa panas. Seharusnya gadis miskin sepertinya tak perlu dipedulikan, seperti selama ini ia tak peduli dengan sekitarnya, memilih menyendiri agar dirinya tak pernah dianggap ada.

Koridor kampus ~

“ Jiyeon-ssi “

Panggil Sooji ketika berhasil mengejar Jiyeon.

Jiyeon tak menoleh, ia tak ingin wajah sehabis menangisnya terlihat.

“ Ada apa ? “ Tanya Jiyeon sedikit ketus, karena yakin berhadapan dengan Sooji hanya akan membicarakan tentang Myungsoo.

Myungsoo. Jiyeon sudah mengetahui fakta bahwa namja itu tak bersalah, namun kini ia menduga banyak orang yang hendak mencelakainya karena namja itu sering berada dekat dengannya, meski kenyataanya kebersamaannya dengan namja itu karena alasan saling membenci.

“ Apa kau punya sedikit waktu ? ini tentang Myungsoo “ Ucap Sooji hati-hati.

Jiyeon menghapus jejak airmata yang mungkin saja masih tertinggal tanpa ingin Sooji ketahui. Dan menarik nafasnya kuat sebelum kini menatap Sooji.

“ Jika kau ingin membicarakan Myungsoo, sebaiknya pada pihak kampus yang menjatuhkan hukuman, bukan denganku “ Tegas Jiyeon dengan pandangan yang juga tajam kearah Sooji.

“ Hanya kau yang bisa menyelamatkannya, dia tidak bersalah…benarkan ? “

Jiyeon mencengkeram kuat jemarinya. Orang yang benci padanya, orang yang berpura-pura baik padanya, semua hanya karena Myungsoo. Myungsoo hanya dihukum untuk tidak ikut kompetisi, tak seperti dirinya yang dibenci, bahkan teman-temannya berniat mencelakainya.

“ Kau…menangis ? “ Sooji terhenyak mendapati jejak air mata dipipi Jiyeon.

“ Benar. Lalu kenapa ? Apa kau mempedulikanku ? “ Cecar Jiyeon yang entah mengapa menjadi sangat emosi.

“ Mianhae, aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu, aku hanya ingin… “ Sooji tak meneruskan kata-katanya. Tak etis rasanya jika ia menuntut sesuatu dari orang yang sedang bersedih. Tangan Sooji bergerak perlahan, meletakannya dipundak Jiyeon “ Apa kau bersedia membagi kesedihanmu padaku ? “ Lembut Sooji.

“ Sudahku katakan berkali-kali padamu bukan ? aku tak butuh teman, aku hanya butuh kesendirian. Mengenai Myungsoo…jangan membicarakannya lagi denganku “ Kesal Jiyeon.

Sorot kebencian dimata Jiyeon begitu jelas membuat Sooji tak bisa lagi berkata, ia memang tak tahu percis apa yang terjadi dengan keduanya hingga mereka saling membenci. Jika sudah seperti ini dengan penjelasan apapun yang keluar dari bibirnya tak akan merubah kebencian Jiyeon pada Myungsoo.

Sooji menundukkan wajahnya. Hatinya teramat sedih, ia benar-benar ingin melihat Myungsoo ada dikompetisi itu. Meski tak yakin apa yang akan ia lakukan akan meluluhkan hati Jiyeon.

“ Jiyeon-ssi. Untuk saat ini, hanya kau yang bisa menyelamatkannya. Myungsoo namja yang berbakat, dia berhak untuk bersama kita mendapatkan kesempatan emas itu…..aku mohon, aku mohon padamu “

Srettttt

Tiba-tiba seseorang mengangkat tubuh Sooji, mencegahnya untuk berlutut. Namja itu yang menjadi bahan pembicaraan. Myungsoo memang berniat untuk menemui Jiyeon, setelah gagal menghubungi Jaejoong dan meminta penjelasan ketidakhadirannya, hanya Jiyeonlah yang bisa ia selidiki, meski pertanyaan seperti apa yang hendak ditanyakan, mengingat Jiyeon tak tahu ia dan Jaejoong bersaudara, namun ia urungkan karena melihat Sooji bersama dengan gadis itu. Myungsoo tak bisa terus berdiam diri ketika melihat Sooji merelakan dirinya terlihat rendah hanya karena meminta belas kasihan yeoja angkuh musuhnya.

“ Myung-sso ssi ? “ Sooji terkejut.

“ Jangan melakukan itu padanya “ Ucap Myungsoo masih mencengkram kuat lengan Sooji “ Aku tak pantas untuk kau perjuangkan seperti itu, jangan rendahkan dirimu dihadapan orang lain, bahkan itu bukan urusanmu !! “

Melihat keberadaan keduanya memamerkan perasaan saling peduli semakin membuat Jiyeon muak. Ia menatap penuh kebencian dua orang yang berada dihadapannya dengan pandangan jijik

“ Aku hanya meyakini jika kau tidak bersalah, aku yakin Jiyeonpun tahu kau tidak bersalah. Kau diperlakukan tidak adil karena tuduhan itu. Apa kau ingin menyerah ? aku sering melihatmu berlatih dengan gigih, kau bahkan tidak memiliki teman bukan karena kau anak yang nakal, tapi kau serius demi cita-citamu hingga yang kau pikirkan hanyalah berlatih dan terus berlatih. Aku…ingin kita bersama….dalam kompetisi itu “ Intonasi suara Sooji semakin melemah.

Myungsoo menatap Sooji begitu dalam. Tak menyangka ada oranglain yang sepeduli itu padanya. Rasa kasih yang tulus, harus ia akui hatinya tersentuh. Jika oranglain saja ingin memperjuangkannya, lalu mengapa ia menyerah ? Tapi…

“ Sayangnya nasibku ada pada yeoja ini, dan dia tak sepertimu. Dia…membenciku “ Ucap Myungsoo menatap Jiyeon seolah putus harapan.

Jiyeon bergeming dengan kalimat yang Myungsoo ucapkan. Myungso tak bersalah, bahkan ia mengabaikan fakta yang baru saja didengarnya. Jiyeon menarik kuat nafasnya, awal pertemuannya dengan Myungsoo, permusuhannya hingga saat ini terputar diotaknya seperti sebuah background .

Jiyeon pernah menyelamatkan Myungsoo satu kali, ketika polisi melakukan razia, tapi Jiyeon tak mendapatkan balasan dari Myungsoo atas kebaikannya. Justru namja itu dengan tega mempermainkan nasibnya , menjadikan rekaman kegiatan mengamen sebagai ancaman untuk mengeluarkannya dari Kyunghee. Ya. Tidak ada alasan untuk Jiyeon menyelamatkan kembali Myungsoo, tidak pernah ada.

Perlahan Jiyeon membalikkan tubuhnya. Benarkah dendam telah membuatnya menjadi seorang yang jahat ? ia meninggalkan keduanya.
“ Dia benar-benar membenciku “ Lirih Myungsoo.

Rumah sakit St.Marry, Seoul ~

“ KALIAN MEMBUNUHNYA !!! KALIAN MEMBUNUHNYA !!! AKU AKAN MENUNTUT RUMAH SAKIT INI, KALIAN TELAH MEMBUNUH PUTRIKU “

“ Nyonya tenanglah, kau bisa dianggap melakukan pencemaran nama baik ? “

“ AKU TIDAK PEDULI, KALIAN BERBOHONG DENGAN MENGATAKAN PUTRIKU TERKENA AIDS. KELUARGA KAMI ADALAH KELUARGA YANG RELIGIUS DAN SEHAT, BAGAIMANA MUNGKIN AIDS MENJADI PENYEBAB KEMATIANNYA ? AKU AKAN MENUNTUT KALIAN !!! “

Jaejoong berdiri diam tak jauh jaraknya dengan kejadian itu. Ahjumma yang mengamuk seolah sedang melontarkan semua sumpah serapahnya pada Jaejoong. Beberapa perawat yang mencoba menenangkan nampak kewalahan, karena ahjumma itu seperti orang yang kerasukan.

Lambat laun ahjumma itu berubah wujud menjadi sosok lain. Sesosok gadis yang amat dikenalnya. Bedanya gadis itu hanya menatap Jaejoong dengan mata yang berkaca-kaca yang justru membuat dirinya semakin merasa tidak tenang dan bersalah.

“ Aku masih ingat ketika dokter mengatakan bahwa Jeo Min baik-baik saja, dia akan tumbuh sehat seperti anak kecil lainnya. Lalu apa yang terjadi sekarang ? dokter berbohong padaku “

“ Hey Jae !! “

Sapaan seseorang membuat Jaejoong tersentak. Matanya berpendar untuk meyakinkan bahwa yang baru saja ia alami adalah sebuah mimpi disaat sadarnya. Hatinya sedikit lega karena Tuhan mengabulkan doanya. Dihadapannya Dokter Nam tersenyum dengan sorot matanya menyiratkan kerinduan.

“ Apa kabarmu ? lama kita tidak bertemu “

Senyum kaku Jaejoong menunjukkan jika dirinya masih syok dengan apa yang baru saja hadir dalam bayangannya.

“ Jae-aa !! “

Kali ini Dokter Nam menyikut lengan Jaejoong sedikit keras.

“ Eoh…seperti yang kau lihat, aku… baik-baik saja “ Jaejoong mengusap keringat yang ada dikeningnya “ Aku ingin bertemu dengan Dokter Kwon, kau bisa mengantarku ? “

Dokter Nam menarik senyumnya “ Apa ada kabar gembira yang akan kau putuskan ? “

Jaejoong berpikir sejenak, kemudian ia hanya mengendikkan bahu.

***

Sekolah dasar, Hwanghee ~

Dari luar jendela kelas, Jeo Min nampak serius mengikuti anak-anak sebayanya meng-eja satu-persatu huruf yang diajarkan seosangnim. Karena suaranya yang lantang, semua yang ada didalam kelas menoleh, buru-buru Jeo Min menyembunyikan kepalanya agar tidak terlihat, bahkan ia segera menarik tangan harabeoji untuk berlari dan bersembunyi ketika seosangnim membuka pintu dan berniat menghampirinya.

Bel berbunyi, dan semua anak berhamburan keluar. Para eomma ataupun halmeoni sudah bersiap menjemput. Jeo Min dan harabeoji berdiri dipagar sekolah, diam memperhatikan satu-persatu anak-anak pulang kerumah dengan mobil ataupun hanya sekedar berjalan bergandengan tangan dengan orangtuanya.

“ Hey, apakah kau murid disekolah ini ? “

Seorang namja kecil dengan botol air minum berbentuk pororo dilehernya menyapa. Jeo Min dan harabeoji saling berpandangan. Keduanya menolehkan kepala, kesamping kiri, kanan dan belakang. Tidak ada orang lain selain mereka.

“ Aku ? kau bertanya padaku ? “ Tanya Jeo Min menunjuk dirinya sendiri.

“ Eoh “ Namja kecil itu menganggukkan kepala.
Jeo Min dan harabeoji kembali saling bertatapan. Jeo Min menggeleng, namun harabeoji mengangguk membuat garis-garis halus nampak dikening namja kecil.

“ Aku belum sekolah “ Ucap Jeo Min menjawab kebingungan namja kecil dihadpannya.

“ Memangnya berapa umurmu ? “

“ lima tahun “ Jawab Jeo Min.

“ Lima tahun belum bersekolah ? Seharusnya kita berada dikelas yang sama, kenapa kau tidak bersekolah saja ? “

Jeo Min menunduk, namun harabeoji memegang lebih erat tangannya, dengan gelengan kepala untuk mengisyaratkan cucunya jangan bersedih.

“ Cucuku juga akan bersekolah, tapi tidak disini. Dia akan bersekolah di gedung yang tinggi, tidak seperti ini “ Ucap harabeoji menghibur Jeo Min

Namja kecil itu menatap aneh harabeoji yang bicaranya seperti seumuran dengannya.

“ Suk Hyun-aa !! “

Tiba-tiba seorang wanita yang memakai kacamata coklat dan topi lebar memanggil namja kecil itu dari dalam mobil yang terparkir cukup jauh. Namja kecil bernama Suk Hyun menoleh, dan tersenyum senang.

“ Aku harus pulang, eommaku sudah menjemput. Besok, kau akan datang lagi kan ? Sampai bertemu !!!“

Suk Hyun berlari melambaikan tangan pada Jeo Min dan harabeoji yang membalasnya ragu.

Sementara didalam mobil,

“ Apa itu temanmu ? “ Tanya wanita setengah baya dengan dandanan sedikit heboh.

“ Aku baru berbicara padanya hari ini. Dia belum bersekolah “

Dahi wanita yang dipanggil eomma oleh Suk Hyun berkerut. Seperti teringat sesuatu ia memperhatikan orang yang sedang mereka bicarakan dari spion dimobilnya, tapi hingga mobilnya jauh dari sekolah Suk Hyun ia tidak berhasil mengingat keduanya.

***

Pusat kedai makanan, Hwanghee ~

Jiyeon hanya menatap gamang kedai yang ramai dikunjungi orang-orang dari kejauhan. Nampak pria berumur itu dengan ramah melayani para tamunya, hal yang masih Jiyeon lakukan beberapa hari lalu. Kini, tentu saja ia tak mungkin lagi menginjakkan kakinya disana. Tuan Ma pasti akan mengusirnya mentah-mentah.

“ Hanya membantu orang-orang dipasar rasanya tidak cukup. Hah… mencari pekerjaan ternyata sesulit ini “

Jiyeon mengeratkan tas punggung dan berbalik dengan kepala tertunduk lemah. Langkahnya gontai meninggalkan kedai Tuan Ma, tempat terakhir yang ia kunjungi setelah beberapa kedai disekitar menolaknya. Padahal Jiyeon sudah meyakinkan pemilik kedai bahwa ia hanya membutuhkan tiga bungkus makanan sebagai balasan jerih payahnya.

***
Rumah kel. Kim ~

Sudah cukup jauh Jiyeon berjalan. Kakinya terhenti di sebuah rumah besar dengan pagar tinggi menjulang. Rumah yang membuat pemiliknya tentu saja merasa aman terlindungi. Jiyeon memandangi rumah tersebut, sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman membayangkan ia berada didalamnya, bersama Jeo Min dan harabeoji.
Tidak berapa lama suara klakson mengagetkannya, Jiyeon buru-buru menepi dan membiarkan mobil tersebut masuk.

“ Siapa yeoja diluar sana ? segera tutup rapat pintunya, kita tidak tahu orang-orang jahat mungkin sedang mengintai “

Jiyeon bisa mendengar seorang wanita yang baru saja keluar dari dalam mobil itu memberi perintah pada penjaga rumahnya. Jiyeon kembali tersenyum, sungguh sulit mendapat penilaian baik dari orang lain, bahkan ia tak melakukan apa-apa. Hanya berdiri dan mengagumi rumah yang seperti gedung itu.

“ Hanya karena aku miskin, kalian tega mengatakan hal yang tidak-tidak padaku…tch “

Seperti memahami kesedihan Jiyeon, langit jingga tempatnya berpijak meneteskan airnya. Jiyeon memindahkan tas dari punggungnya, mendekapnya erat dan segera mencari tempat berlindung, buku-buku didalamnya tidak boleh rusak.

***

“ Tuan muda, ponsel anda berbunyi “ Ucap pria di jok depan yang menjadi sopir Myungsoo.

Myungsoo membuka mata dan melihat ponselnya dengan malas. Tak berapa lama tubuhnya kembali tersandar. Mengabaikan panggilan sang eomma. Lagipula ia sudah hampir tiba dirumah.

Melihat tak ada respon dari tuan mudanya, sang sopir pun tak berani untuk terus mengingatkan.

Ckitttttttttt

Tiba-tiba mobil berhenti mendadak, membuat tubuh Myungsoo terpental kesamping.

“ Hey, apa kau baru bisa menyetir ? “ Hardik Myungsoo.

“ Maaf tuan, sepertinya terjadi sesuatu !! “

Belum sempat Myungsoo membuka mulutnya, sang sopir dengan cepat meraih payung dan bergegas keluar. Myungsoo membuang nafasnya tak percaya. Ia memicingkan mata untuk mengetahui apa yang terjadi, namun derasnya hujan menghalangi pandangan Myungsoo. Hanya sosok sopir dan siluet seseorang yang nampak terlihat. Myungsoo membuka sedikit kaca jendela, mencari tahu apa yang terjadi diluar.

“ Agassi, apa kau tidak melihat eoh ? kau harus lebih berhati-hati “

“ Jwesonghamnida tuan, maafkan aku “

“ Aigo…… tubuhmu juga sudah basah, tunggulah sebentar “

Samar-samar Myungsoo mendengar pembicaraan sopirnya dengan seseorang diluar. Belum selesai ia mencoba mengenali suara itu, pintu kembali dibuka. Myungsoo hanya mengerutkan dahi memperhatikan gerak gerik sang sopir yang kini sibuk mencari sesuatu.

“ Apa yang kau lakukan ? “ Tanya Myungsoo ketika sang sopir mengambil satu payung lagi yang ia tahu adalah milik eommanya.

“ Agassi didepan membutuhkannya, saya berniat menolongnya “

Mulut Myungsoo menganga tak percaya, hanya seorang sopir berani meminjamkan milik majikan kepada orang yang tidak dikenalnya “ Ohh…. jinja. Apa itu milikmu ? “

“ Ini milik nyonya tuan “

“ Lalu apa hakmu memberikan milik eommaku pada oranglain ? “

Si sopir terdiam nampak berpikir, namun tak lama ia tersenyum.

“ Saya akan bertanggungjawab “

“ Mwo ??? Yya…ya..ya !!! “

Brukkk

Myungsoo meradang. Tak bisa percaya dengan apa yang terjadi, ia pun mengeratkan coat, memakai kupluk untuk melindungi kepalanya, dan meraih satu payung yang berada dibelakang jok mobil , menyusul sopir yang dianggapnya tidak sopan.

Namun ia diam seribu bahasa ketika mengenali sosok yang sedang berbicara dengan sopirnya. Tubuh gadis itu menggigil. Dari ujung rambut sampai sepatunya sudah basah, belum lagi tas lusuh dalam dekapannya, Myungsoo yakin tak ada benda yang selamat disana.

“ Terimakasih tuan, tapi bagaimana saya mengembalikannya ? “

“ Disana, itu rumah nyonya saya agassi, kau bisa menitipkannya pada tukang kebun nanti “

“ Park Jiyeon “

Yeoja yang namanya disebut dalam hati itu menoleh padanya, Myungsoo buru-buru menundukkan kepala dan tangannya reflek meraih kupluk untuk menghalangi wajahnya terlihat.

“ Kamsahamnida tuan atas kebaikan anda, aku akan mengembalikannya “

Gadis itu berbicara dan membungkuk padanya. Myungsoo tak melakukan apa-apa, ia kembali masuk kedalam mobil dengan perasaan tak percaya.

“ Maaf tuan jika saya berlaku tidak sopan “ Ucap sang sopir.

Myungsoo tak tahu mengapa ia melakukannya. Memilih menyembunyikan diri, agar yeoja itu menerima bantuannya. Yeoja itu membencinya, namun ia tak memiliki perasaan yang sama.

Entah sejak kapan.

***

Pematang sawah ~

Mobil Marcedes hitam berjalan pelan, mengiringi langkah kaki gadis yang berlari-lari dibawah jalan gelap dan derasnya hujan. Si pengemudi awalnya mengkhawatirkan keadaan gadis itu. Tubuhnya basah dan menggigil, namun kejadian siang tadi di rumah sakit seperti menghantuinya. Hingga ia lebih memilih untuk menjaganya dari kejauhan.

“ Kelak, berjalan seperti ini, berada beberapa meter dibelakangmu mungkin kau pun tidak akan pernah mengijinkanku “ Ucap pria yang ternyata adalah Kim Jaejoong lirih.

Dan Jaejoong, ia yakin tak akan sanggup diperlakukan seperti itu oleh Park Jiyeon.

***

Menjelang pagi, rumah sewa Jaejoong ~

Brukk

Brukk

Brukk

“ Paman hantu !!! Paman hantu !!!! “

Jaejoong terbangun ketika mendengar suara pintunya digedor dari luar. Pukul dua pagi, dan ia baru tertidur satu jam yang lalu, setengah sadar ia berjalan menuju pintu, ketika pintu dibuka ia mendapati wajah panik harabeoji dihadapannya.

“ Ada apa ? “ Tanya Jaejoong yang tiba-tiba hatinya merasa tak tenang.

Haraboeji, orangtua itu bahkan sulit sekali berbicara, ia hanya mampu mencengkeram kuat lengan Jaejoong dan menunjuk-nunjuk rumahnya.

“ J-e-o… “ Ucap harabeoji berusaha untuk berbicara.

Tak menunggu sampai harabeoji menyelesaikan kalimat, Jaejoong menarik lengan pria tua itu dan berjalan cepat menuju rumahnya.

***

Rumah Sewa Jiyeon ~

Betapa terkejutnya Jaejoong melihat banyak tetesan darah di atas kasur tipis tempat Jeo Min berada, tak jauh darinya Jiyeon sedang menangis dan membersihkan tetesan darah Jeo Min dengan kain alakadarnya.
“ Apa yang kau lakukan ? “ Tanya Jaejoong yang lebih mirip seperti sebuah gertakan.

Melihat Jiyeon yang seolah ketakutan membuat Jaejoong merasa bersalah. Ia lalu mencoba mengontrol kepanikannya, menjauhkan tangan Jiyeon dari Jeo Min.

“ Bungkus dengan plastik kain yang ada ditanganmu dan segera menguburnya didalam tanah, lalu bersihkan tanganmu dengan sabun “ Jaejoong memerintahkan seraya memeriksa keadaan Jeo Min.

Darah terus keluar dari hidung Jeo Min, Jaejoong meletakkan tangan untuk memeriksa suhu tubuh gadis kecil yang tergolek lemah diatas kasur itu, mencoba bersikap tenang agar Jiyeon dan harabeoji yang melihatnya tak semakin panik dan khawatir.

“ J-e-o Min, d-dia ke-na-pa ? “ Tubuh Jiyeon bergetar, ia takut terjadi apa-apa dengan Jeo Min.

“ Tunggu disini, aku akan kembali…. “ Jaejoong berdiri hendak meninggalkan Jiyeon dan harabeoji.

Namun,

“ Pastikan kau tidak memiliki luka yang terbuka jika ingin menyentuhnya !! Tidak, tunggulah sampai aku datang jika kau ingin menyentuhnya, arraseo ? “ Jaejoong sampai bingung dengan kalimatnya sendiri

Meski bingung dengan apa yang harus dilakukan, Jiyeon menuruti semua apa yang Jaejoong perintahkan. Ia mengangguk dan menyerahkan semuanya pada Dokter Jae, ia percaya tidak akan terjadi apa-apa jika ada Dokter Jae didekatnya.

“ Cepatlah kembali “ Mohon Jiyeon dengan wajah kalut.

Jaejoong menatap iba Jiyeon, tak lama ia bergegas masuk kedalam rumahnya.

***

Klinik~

Brakkk

“ DIMANA DOKTER JAGA ?? “

Jaejoong membuka dengan kasar pintu klinik yang membuat satu perawat yang sedang berjaga terkejut. Bukannya bergegas dengan hardikkan Jaejoong, si perawat justru memperhatikan Jeo Min yang ada didalam gendongan Jaejoong takut.

Klinik kecil yang Jaejoong rasapun tidak memiliki peralatan yang ia butuhkan untuk menolong Jeo Min, setidaknya ia harus melakukan pertolongan pertama. Rumah sakit di Hwanghee cukup jauh, dan ia tak mungkin membawa Jeo Min kesana.

Seorang pria dengan seragam putih keluar dari ruangannya, sama seperti si perawat, ia hanya melihat tak mengerti ke arah Jaejoong.

“ CEPAT LAKUKAN SESUATU, KAU HARUS MENOLONGNYA !!!! “ Jaejoong sampai menarik kasar kerah sang dokter, menyadarkannya yang hanya terbengong melihat Jeo Min dalam gendongannya.

“ Ba-baik lah, segera bawa ke ruangan “ Ucapnya pada Jaejoong ” Dan kau siapkan alat-alat “ Titahnya kepada perawat disampingnya.

“ Tunggu disini dan jaga harabeoji, aku akan kembali “ Ucap Jaejoong menenangkan Jiyeon.

***

Tubuh dokter dihadapan Jaejoong mendadak kaku. Wajahnya berubah pucat dengan mulut menganga tak percaya dengan pengakuan Jae joong. Tak ada cara lain, Jaejoong memang harus mengatakannya.

“ La la-lu a-pa ya-ng ha-rus a-ku la-kukan ? “ Dokter klinik gugup dan malah bertanya pada Jaejoong.

Jaejoong menghembuskan nafas kuat sebelum ia berdiri dan mengambil alih Jeo Min.

“ Periksa suhu tubuh, dan berikan obat pencegah ruam dikulitnya agar tak menyebar “ Titah Jaejoong.

Dokter dan perawat benar-benar seperti orang kebingungan, keduanya seperti butuh beberapa jam untuk mencerna kalimat Jaejoong.

“ BISAKAH KALIAN BERGERAK LEBIH CEPAT ??? “ Jaejoong merasa putus asa hingga kalimatnya terdengar seperti hardikan.

***

Sinar mentari pagi masuk melalui celah-celah jendela, nampak Jaejoong tertidur dibangku panjang di ruang jaga.

“ Selamat pagi !!! “

Jaejoong membuka perlahan matanya. Dan hal yang pertama ia lihat adalah choco pie yang disodorkan oleh harabeoji untuk menyambut paginya.

“ Paman hantu, ini untukmu karena telah menyelamatkan uri Jeo Min “ Tawar harabeoji.

Tubuh Jaejoong reflek terbangun ketika mendengar nama Jeo Min.
“ Jeo Min ? “ Tanyanya seraya melihat kearah ruangan yang tertutup tirai.

Sementara di dalam,

“ Eonni, jika aku sudah sehat aku ingin pergi ke sekolah, apa kau bisa mendaftarkan ku ke sekolah ? “

“ Hemmm… apa kau benar-benar ingin bersekolah ? “

“ Eoh, aku ingin menjadi anak yang pintar. Aku juga ingin menjadi dokter seperti paman hantu, lagipula aku senang bersekolah. Disana aku bisa mendapatkan banyak teman, bisa bermain, berlari-lari, saling berbagi makanan, dan banyak hal lainnya “

“ Eoh…. Kau pasti akan segera bersekolah, tapi tubuhmu harus kuat, berjanjilah kau tidak akan membuat kami semua khawatir lagi , yakso !!! ”

“ Yakso. Lalu apakah eonni juga bisa menjemputku ? “

“ Eoh, kau sudah besar, apa perlu untuk dijemput ? “

“ Mereka, murid-murid sekolah disana selalu diantar dan dijemput oleh eomma mereka. Uri eomma dan appa sekarang sedang berada sangat jauh, jadi eonni dan harabeoji saja yang menjemputku, kalian bisa melakukannya untukku kan ? “

Jaejoong menutup kembali tirai yang ia singkap. Kalimat polos Jeo Min, seakan menampar perasaannya, membuat rasa bersalahnya semakin tak terbendung.
Mengapa harus Jeo Min, mengapa bukan dirinya saja yang ia anggap tak pantas untuk hidup.

Ketika Jaejoong mengangkat wajahnya kembali, harabeoji menatapnya. Jaejoong berpaling, ia tak ingin harabeoji mengetahui rasa sesalnya.

***

Pesisir pantai ~

Dengan pemandangan langit jingga yang menenggelamkan matahari, serta deburan ombak yang menghantam batu karang, Jiyeon menunggu Jaejoong yang tiba-tiba beranjak meninggalkannya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempat mereka duduk.

Tidak berapa lama dilihatnya Jaejoong kembali dengan sebuah benda yang cukup besar yang ditentengnya.

“ Apa ini ? “ Tanyan Jiyeon heran ketika Jaejoong menyerahkan benda itu padanya.

Jiyeon terus menatap Jaejoong, mengira pria itu akan menjawab pertanyaanya, namun Jaejoong memilih untuk kembali duduk disampingnya, menyembunyikan tatapan tajamnya dibalik kacamata hitam, yang terlihat sangat pas diwajahnya.
Jiyeonpun memutuskan untuk mencari tahu sendiri apa yang Jaejoong berikan padanya.

“ Dokter, baru kali ini aku melihatmu memakai kacamata. A-apa ada se-suatu ? “ Tanya Jiyeon dengan sangat hati-hati seraya terus membuka pemberian Jaejoong

Kembali tak ada tanggapan atas kalimatnya membuat Jiyeon menatap intens Jaejoong. Ia tak mengerti mengapa Jaejong selalu bersikap membingungkannya. Perasaan takut yang awalnya Jiyeon rasakan karena terlalu ikut campur dengan urusan pribadi, meski hanya urusan kecil tentang penampilannya menguap dan berubah menjadi rasa kesal karena pria itu mengabaikannya.

“ Apa ada sesuatu ? “ Ulang Jiyeon.

“ Eoh, a-aku tidak ingin kau sakit ….. karena tertular olehku “ Ucap Jaejoong berbohong.
Jiyeon merasa tak enak. Perlahan pikiran jeleknya tentang Jaejoong yang selalu menghindar menatapnya terpatahkan.

“ Tapi kau terlihat sangat ker …”

Jiyeon buru-buru menutup rapat bibirnya, wajahnya tiba-tiba terasa panas. Tak berani menatap Jaejoong, Jiyeon kembali sibuk membuka benda yang Jaejoong berikan dengan tak henti merutuki mulutnya yang tak sadar hampir saja mengucapkan pujian untuk Jaejoong.

“ Bukalah “ Ucap Jaejoong datar.

“ E-eohh … ehem “

Tangan Jiyeon semakin cepat membuka pembungkus yang menutupi pemberian Jaejoong. Dahinya mengernyit mendapati sebuah bingkai besar. Semakin penasaran, Jiyeon melanjutkan merobek kertas yang menutupi bingkai tersebut.

Jiyeon terdiam, dengan mulut yang sedikit menganga, ia hanya mampu menatap apa yang ada dihadapannya bergantian dengan menatap wajah Jaejoong. Ia benar-benar takjub.

Sebuah lukisan abstrak yang sangat menyentuh hatinya.

“ Ini …indah sekali. Dok-ter, apa kau yang membuatnya ? “ Tanya Jiyeon yang entah mengapa airmatanya sudah menggenang di pelupuk matanya dengan tetap memandang lukisan pemberian Jaejoong.

“ Eoh, aku yang membuatnya “ Ucap Jaejoong masih tak berani menatap Jiyeon.

“ Waeyo ? “ Tanya Jiyeon masih tak berkedip mengagumi lukisan yang Jaejoong berikan.

“ Aku menyukai suasana saat itu, hingga terpikir untuk mengabadikannya “

Jiyeon menoleh dan kembali menatap Jaejoong penuh arti, meski pria itu masih menolak untuk membalasnya. Ia tersenyum, tak bisa ia gambarkan bagaimana perasaan hatinya, seperti ada ribuan kembang api yang meletup-letup dilangit.

Sangat indah. Jiyeon mengingatnya, suasana malam itu, ketika Jaejoong mengajak keluarganya makan malam.

Dibawah langit yang penuh dengan bintang, dan hamparan sawah yang menguning yang mengelilingi mereka berempat. Dengan tuxedo yang membuat Jaejoong sangat tampan, pria itu berjalan membawa dirinya dipunggung pria itu. Tangan kanan pria itu menuntun Jeo Min yang berwajah sangat gembira, serta harabeoji disebelah kiri yang memegang ujung tuxedonya melangkah penuh sukacita.

Lukisan mereka berempat seperti gambaran sebuah keluarga. Airmata Jiyeon tak kuasa menetes diatas lukisan yang terus dipandanginya itu. Tak mau merusak, Jiyeon buru-buru menghapusnya.

“ Dokter Jae “ Panggil Jiyeon.

Kali ini Jaejoong menoleh, namun tak melepaskan kacamatanya. Tak apa, Jiyeon cukup bahagia.

“ Bolehkah …. aku…sebentar saja …. untuk meme… “ Pinta Jiyeon dengan suara terisak.

Seperti tahu keinginan Jiyeon, Jaejoong melakukannya terlebih dulu. Pria itu dengan cepat merengkuh tubuh Jiyeon kedalam pelukannya. Jaejoong memeluk Jiyeon dengan sangat erat, bahkan kepalanya ia tenggelamkan dibalik punggung Jiyeon.

Jiyeon menikmati saat-saat hangat berada dalam dekapan Jaejoong, tangannya ragu untuk membalas karena jantungnya yang berdetak sangat kencang, namun saat indah ini tak boleh ia sia-siakan, pelan – pelan tangannya bergerak untuk juga merengkuh tubuh Jaejoong.

Jiyeon merasakan punggungnya basah. Jaejoong menangis.

“ Bukankah aku yang seharusnya merasa sangat terharu, tapi…. mengapa dokter yang menangis ? “

Jaejoong terhenyak, susah payah ia menahan suaranya terdengar. Ketika Jiyeon melepaskan pelukannya, Jaejoong tak lagi menghalangi yeoja itu untuk melihatnya.

“ Katakan kau tidak akan membenciku “ Ucap Jaejoong dengan wajah menyesal luar biasa.

Jiyeon menatap Jaejoong tak mengerti. Dan entah mengapa, hatinya terasa sakit melihat Jaejoong seperti itu. Meski tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun Jiyeon beranggapan bahwa Jaejoong sedang membutuhkan oranglain karena bebannya.

“ Seperti dokter memperlakukan keluargaku, aku tidak akan pernah mungkin membencimu “

***

Rumah sewa Jiyeon ~

“ Apa hanya ada kalian berdua ? “

Jeo Min dan harabeoji mengangguk.

“ La-lu, dimana dokter Jae dan wanita muda yang kemarin mengantarmu ke klinik ? “

“ Maksudmu paman hantu dan eonni ? “

Pria dan wanita itu saling bertatapan, tidak mengerti dengan sebutan paman hantu yang Jeo Min ucapkan. Berpikir cukup lama, sepertinya hanya kakek satu-satunya orang dewasa yang bisa ia titipkan resep yang Jaejoong pesankan padanya.

“ Aku akan berbicara dengan kakekmu sebentar “

Harabeoji mengikuti saja, ketika tubuhnya dituntun untuk keluar ruangan.

Di luar,

Dokter nampak ragu, ia menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada oranglain selain mereka.

“ Ini resep yang Dokter Jae minta, aku sudah mendapatkannya dari rumah sakit, kalian bisa menebusnya besok “

Harabeoji mengangguk paham. Ia kemudian melipat resep tersebut dan menaruhnya di saku.

“ Aku turut prihatin dengan penyakit cucumu, tapi kau harus tetap memberinya semangat, AIDS tidak membunuhnya dengan cepat, tapi dukungan kalian yang menentukan semuanya.

“ Nde kamsahamnida “ Ucap harabeoji menunduk berterimakasih.

Pria yang ternyata adalah dokter klinik terharu, menyangka harabeoji sudah begitu ikhlas dengan penyakit yang diderita cucunya.

Malam hari, pesisir laut ~

“ Letakkan disini, ayo cepat truknya harus segera berangkat !! “

Jiyeon mempercepat gerakannya, ia berlari tergopoh-gopoh dengan dua buah ember besar berisi ikan segar dikedua tangannya. Ikan-ikan segar tersebut dibeli oleh para saudagar kaya untuk dijual kembali ke kota atau mereka pasok ke restaurant-restaurant di sekitar Hwanghee.

Brukk

“ Ahhh “

“ Mianhae “

Seorang kuli pria berbadan lebih besar dan kuat tak sengaja menabrak tubuh mungil Jiyeon, membuat gadis itu tersungkur dan jatuh.

“ Hey nona, paliwa !!! “

Teriakan saudagar pemilik ikan membuat Jiyeon buru-buru untuk bangkit, ia membersihkan dua tangannya yang kotor penuh tanah.

“ Nde !! “ Teriaknya tetap bersemangat.

Diraihnya ember untuk kemudian ia naikkan keatas truk, jika orang lain bisa mengangkat ember-ember tersebut dalam waktu beberapa detik, Jiyeon membutuhkan waktu dua kali lebih banyak agar ikan didalamnya tak jatuh berantakan.

“ Ini uang untuk kalian “ Seorang pria pemilik ikan berseru.

Beberapa kuli pasar termasuk Jiyeon berbaris, bersiap menerima upah atas jerih payah mereka. Karena hanya dirinya yang seorang yeoja, Jiyeon harus mengalah ketika tubuhnya terus digeser dan menjadi paling akhir dalam antrian.

Wajah Jiyeon nampak sumringah, ia menghitung lembaran won yang didapatnya. Sudah terbayang apa yang akan ia lakukan dengan uang yang ada ditangannya.

“ Jeo Min-aa, harabeoji kita akan memakan makanan enak malam ini “ Ucapnya gembira.

Malam hari, Rumah Kel.Kim ~

Jiyeon hanya memandang bingung rumah besar yang ada dihadapannya. Bagaimana caranya ia mengembalikan payung yang kemarin dipinjamnya, jika tembok rumah ini saja tinggi menjulang. Dan bel rumah, ia tak menemukannya dimanapun.

“ Chogiyo !! Chogiyo !! “

Jiyeon terus berteriak, namun sepertinya memang sia-sia. Akhirnya Jiyeon menggantungkan payung tersebut pada pagar rumah, dan berbalik untuk pergi, namun sebuah lampu menyorot tajam ke arahnya, Jiyeon menggunakan tangan untuk melindungi matanya.

“ Jiyeon-ssi ? “

Jiyeon menurunkan kedua tangannya. Mengetahui siapa pemilik suara ada rasa penyesalan mengapa ia harus tetap berada disana. Pemilik rumah besar dihadapannya, seseorang yang ia kenal, dan sialnya yeoja tersebut tak sendiri, musuh besarnya juga ada disana. rupanya keduanya memang memang memiliki hubungan.

“ Ada apa ? Apa kamu memiliki keperluan dengan Myungsoo ? “ Tanya yeoja yang ternyata adalah Sooji.

Jiyeon diam sejenak. Rumah Myungsoo ? Bukan rumah Sooji ? Jadi ? Pria itu yang meminjamkan payung untuk melindungi tubuhnya ? Kenapa ?

“ Ti-da-k, a-ku hanya tidak sengaja lewat “ Ucap Jiyeon dan bersiap untuk pergi, namun langkahnya terhenti karena Sooji menahannya.
Sooji tersenyum pada Jiyeon, belum sempat keduanya berbicara,

“ Aku akan masuk duluan “ Tiba-tiba Myungsoo bergerak melewati keduanya.

“ Tunggu !! “

Myungsoo menghentikan langkahnya, sebenarnya ia juga terkejut mendapati Jiyeon ada dirumahnya. Apa yang dilakukannya malam-malam seperti ini didepan rumah oranglain. Apa Jiyeon tahu siapa pemilik rumah ini. Apa hyungnya yang memberitahu ? Untuk apa ? Apa hubungan mereka sudah sejauh itu ? Banyak hal yang Myungsoo duga.

“ Buku yang ingin ku pinjam, bisakah kau membawanya besok saja. Aku akan pulang bersama dengan Jiyeon “

“ TIDAK PERLU !! “

Myungsoo dan Sooji menoleh ke arah Jiyeon yang tiba-tiba berteriak.

“ Mak-sud-ku … tidak terimakasih, aku akan segera pergi “ Ucap Jiyeon menyadari bahwa dirinya terlihat sangat menyebalkan.

“ Masuklah, kau dengarkan ? Dia tidak ingin ada oranglain didekatnya “

Myungsoo meraih tangan Sooji dan membawanya berlalu dari hadapan Jiyeon. Langkahnya sempat melambat ketika melihat sebuah payung yang menggantung dipagar rumahnya. Myungsoo kembali menoleh ke arah Jiyeon.

Tatapan keduanya bertemu, namun tak berapa lama Jiyeon berbalik dan berlalu.

Kejadian itu ditangkap oleh Sooji dengan perasaan tak nyaman, ia menarik nafas dan membuangnya perlahan, mencoba menepis prasangkanya sendiri. Kaki jenjangnya mendekat ke arah Myungsoo dan memegang bahu namja itu lembut.

“ Kau bersikap yang membuatnya tidak nyaman, lain kali kau harus merubahnya ? “ 

“ Aku tidak mungkin bersikap seperti itu pada orang yang membenciku “ Ucap Myungsoo dan membalikkan tubuhnya, menahan untuk terus menatap sosok Jiyeon yang menjauh.

Sooji menghela nafasnya perlahan. Ia tak pernah membenci seseorang, hingga ia mungkin tak memahami perasaan Myungsoo sekarang, namun benarkah Myungsoo benar-benar membenci Jiyeon ? jika cara Myungsoo menatap yeoja itu saja berbeda Sooji rasakan.

Tangan Sooji masuk ke sela-sela lengan Myungsoo, membuat pria itu menatap Sooji heran. Tanpa terlihat canggung dan malu, ia membalas tatapan heran Myungsoo dengan senyuman.

” Kajja, aku harus membawa pulang buku yang akan kau pinjamkan ” Ucap Sooji menarik lengan Myungsoo dan membawanya masuk kedalam.

To Be Continued

Sengaja aku pilih endingnya dibagian itu, karena ga mau bikin kalian tegang dan penasaran nunggu part selanjutnya yang kayanya bakalan lama, tapi diusahakan sih cepet. Mianhae udah ½ tahun lewat ga updated, karena berbagai urusan….oh iya, aku syedih banget liat HSF sekarang sepi, mungkin dari author2 disini juga yang updatenya kelamaan. Oh iya aku berniat publish ini juga di wattpad, siapa yang mau mampir silahkan ya di @gazasinta.

Miah plot dan bahasa rada berantakan dan aneh, ini udah mumet banget, kedepannya semoga bisa diperbaiki.

Advertisements

9 responses to “[ CHAPTER – PART 9 ] A MINUTE OF HOPE

  1. Setidaknya ini masih dilanjut,,
    Ya ampun hidup jiyeon menderita betul.
    Di kuliahan di musuhi,tapi mungkin wajar,jiyeon nyebelin kalau di kampus terkesan angkuh walaupun enggak ganggu orang sih

    Setuju di waattap aja publisnya lebih mudah buat koment

  2. Ku menunggu ini lamaaa sekalii😔😔
    Gpp deh yg penting sekarang udh update.
    Yg aku khawatirkan semoga resep dari dokter yg dibawa haraboeji dikasih ke paman hantu. Takutnya hilang atau apa, kan jeomin bisa tambah parah sakitnya😢😢

  3. Akhirnya di up, gomawo eonnie… Semoga next chapnya bisa di up dalam jangka waktu yg nggak teralu lama… Boleh nggak brharap ff lainnya jga bakal di up ? ._. Hehe…
    Keep writing… Aku kok sedih lihat myungyeon nggak akur-akur…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s