[CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 9

wattpad

| TEASER | PART 1 | PART 2 | PART 3 | PART 4 | PART 5 | PART 6 | PART 7 |PART 8  | PART 9|

Jiyeon’s POV

Entah sudah menghilang kemana akal sehatku, saat ini aku justru malah sedang bersantai bersama Myungsoo sunbae—ah, anni, maksudku Kim Myungsoo di sini, di taman sekolah. Dan sialnya, lagi-lagi aku harus memijit kepalanya yang katanya sedang pusing. Apa dia pikir aku ini baby sitternya?

Entah sudah berapa kali aku menghela napas panjang. Aku terus berpikir bagaimana caranya bisa lepas darinya untuk saat ini. ponsel milikku bahkan sudah dirampasnya dan berada dalam kantong celananya. Mana mungkin aku bisa mengambilnya begitu saja? Eottokhaji? Bagaimana kalau Sejung kebingungan mencariku? Lagipula waktu istirahat tinggal beberapa menit lagi.

Yaa, Park Jiyeon.”

Aku sedikit tersentak mendengar Myungsoo yang tiba-tiba memanggilku.

Wae?” sahutku seraya menatap ke arahnya yang masih memejamkan kedua matanya dengan santainya di atas pangkuanku. Sungguh kakiku sudah hampir merasa kesemutan.

“Bagaimana perasaanmu saat ini?”

Aku tak segera menjawab. Tentu saja aku merasa sangat kesal padanya. Bisa-bisanya dia menghambat rencanaku yang semula akan pulang menemui Eomma dan Appa. Ah, jamkanman! Aku baru teringat sesuatu.

“..Jika sekali saja aku melihatmu bersama Myungsoo Oppa, maka jangan salahkan aku jika seluruh dunia tahu akan perselingkuhan seorang jurnalis terkenal, Park Jiyoung. Arrassseo?”

Aku pun tersentak seketika. Andwae! Aku hampir melupakannya. Ancaman Sohee sunbae tidak pernah main-main. Jangan sampai yeoja itu tahu kalau aku sedang bersama Myungsoo sekarang.

“Jiyeon-a, kenapa kau diam saja?”

“Aku— aku harus pergi sekarang.” aku bermaksud beranjak berdiri namun Myungsoo menahan lenganku.

Eodiga? Yaa, kau tidak boleh pergi kemanapun sebelum kuijinkan.”

Ck, tidak bisakah kau membiarkanku pergi saja? Aku harus pulang sekarang.”

Mwo? Kau ingin membolos?”

Anniya.. Tentu saja aku akan minta ijin dulu.”

Wae? Kenapa kau minta ijin pulang?”

“Itu bukan urusanmu. Ck, sudahlah. Biarkan aku pergi sekarang.”

Aku terus berusaha berdiri namun Myungsoo menahan lenganku semakin kuat.

Jamkanman!” ucapnya seraya menarik tanganku dengan keras hingga kepalaku refleks merunduk dan berada tepat beberapa centi di depan wajahnya.

Deg!

Kurasakan wajahku kembali memanas dan jantungku berdetak tidak normal. Suasana macam apa ini? Apa? Apa yang terjadi? Kulihat Myungsoo masih menatapku dalam. Aku bahkan hampir tidak sadar kalau tangannya sudah menyibak anak rambutku dan menyelipkannya ke belakang telingaku. Sial. Kenapa wajahnya terlihat begitu tampan di saat seperti ini? Pergi kemana wajah menyebalkannya beberapa saat yang lalu itu tadi? Perasaanku semakin tidak enak, apalagi saat aku merasakan tengkukku yang perlahan ditekan olehnya. Andwae! Aku refleks memejamkan kedua mataku. Sungguh aku merasa amat gugup setengah mati. Apa dia— dia mau menciumku? Lalu kenapa aku diam saja? Aku harus menolaknya! Harus! Kalau tidak, kalau tidak—

Ctak!

Akh!” aku refleks membuka mata sembari mengelus jidatku saat merasakan sesuatu yang sakit di sana. Kulihat Myungsoo tersenyum jahil padaku. Mwoya? Apa dia baru saja menyentil jidatku?

Ohmo, lihatlah, kau begitu ingin kucium sampai-sampai memejamkan mata begitu.” ucapnya dengan nada setengah mengejek.

Grrrr! Kali ini muncul lagi wajah menyebalkan itu. Namja sialan. Aku bahkan tak bisa membantah kata-katanya.

Myungsoo kembali tertawa kecil, lalu bangkit dari tidurnya dan duduk di sampingku.

“Pulanglah. Aku takkan menghalangimu lagi.” lanjutnya kemudian.

Tanpa merespon ucapannya, aku langsung beranjak bermaksud berdiri, namun ia kembali menahan tanganku dan—

Chup!

Aku merasakan sesuatu yang kenyal dan hangat menyentuh pipiku sekilas. Dengan cepat aku menoleh dan melotot ke arahnya sembari memegangi pipiku.

“K-kau—”

“Itu baru permulaan. Kalau ingin meminta lebih, tunggu sampai kita resmi menjadi sepasang kekasih.”

Lagi-lagi aku speechless dibuatnya dan hanya mampu mengutuknya habis-habisan dalam hati. Namun tak urung eentah kenapa aku merasakan wajahku semakin panas. Dan aku yakin ini karena aku amat kesal padanya. Namja ini benar-benar tidak pernah ditampar sebelumnya. Aish!

Tak ingin ambil pusing lagi, dengan gusar aku pun beranjak berdiri.

Eoh, jamkanman!”

Grrrr! Habis sudah kesabaranku. Aku kembali berbalik dan sudah siap membentaknya dengan kata-kata terkasar yang pernah kudengar dari orang lain sebelumnya. Namun niatku langsung urung seketika begitu kulihat ia mengulurkan sebuah ponsel padaku.

Wae? Tidak mau ponselmu kembali? Ah, geurae aku akan—,”

Dwaesseo! Berikan padaku!” potongku cepat dan menyambar ponsel milikku dari tangannya dengan kasar. Setelah itu aku benar-benar beranjak pergi dari hadapannya. Bahkan untuk menoleh sedikitpun aku tak sudi. Namja itu— dia benar-benar sudah mempermalukanku.

*

*

Author’s POV

Taehyung terlihat menoleh kesana kemari mencari keberadaan Sejung. Sejak Jiyeon pergi tadi, namja itu kehilangan Sejung karena ia sibuk menjawab bebagai pertanyaan yang berkaitan dengan hubungannya dengan Jiyeon dari teman-teman sekelasnya. Alhasil kini namja itu malah kehilangan jejak saudara kembarnya itu. sudah berkali-kali ia menelepon, namun tak ada jawaban sama sekali. Namun pada akhirnya, ia pun menemukan sosok yeoja tersebut tengah duduk termenung di belakang gedung olahraga. Taehyung menghela napas lega dan menghampiri yeoja tersebut.

Yaa, Sejung-a, kenapa kau tidak menjawab teleponku, eoh?” ucapnya sedikit kesal.

Namun ekspresinya perlahan berubah saat melihat tampang Sejung yang tampak begitu frustasi dan sedih.

Yaa, wae geurae?” tanyanya seraya duduk di samping Sejung.

Sejung sedikit tersentak saat menyadari keberadaan Taehyung, namun kembali memasang wajah datarnya.

“Kenapa mencariku?” ia balik bertanya.

“Kudengar kau akan meminta ijin pulang bersama Jiyeon. Tentu saja aku akan ikut. Lagipula masa ijinku juga masih berlaku.”

Yaa, kau bisa saja kena hukuman karena minta ijin tidak masuk tapi malah keluyuran di sekolah.”

Ck. Sudahlah lupakan tentangku. Katakan saja ada apa denganmu?”

M-museun suriya?”

“Tidak perlu mengelak. Kita ini saudara kembar jadi sedikit banyak aku juga bisa merasakan bagaimana suasana hatimu. Katakan saja padaku ada apa.”

Aish! Kenapa kau jadi banyak bicara begini sekarang?”

“Apa terjadi sesuatu?”

Sejung mendesah dibuatnya. Sebenarnya ia tidak suka jika Taehyung ingin tahu urusannya. Namun karena namja tersebut terus saja mendesak, akhirnya ia pun mulai mengambil napas dalam-dalam.

Molla.” ucapnya kemudian.

Yaa, aku sudah berbaik hati ingin mendengar keluh kesahmu, kenapa kau justru hanya mengatakan itu?”

Ck! Kau tidak akan mengerti. Aku— aku hanya merasa bingung.”

“Untuk itulah aku memintamu mengatakannya padaku. Setidaknya aku bisa ikut memikirkan jalan keluarnya nanti.”

Sekali lagi Sejung menghela napas panjang.

“Menurutmu, mana yang lebih penting? Sahabat, atau orang yang kau sukai?”

Taehyung tak segera menjawab. Alih-alih memikirkan jawaban atas pertanyaan Sejung, namja yang memang lumayan peka dan memiliki otak cerdas itu justru miulai menerka-nerka maksud dari ucapan yeoja tersebut.

Sahabat? Apa yang dimaksudnya itu Jiyeon? Setahuku hanya Jiyeon sahabat yang paling dekat dengannya. Lalu, orang yang disukainya? Apa hubungannya dengan Jiyeon? Apa mungkin— maksudnya Jiyeon juga menyukai namja yang disukainya? Keunde siapa? Siapa namja itu?’

Yaa, kenapa kau malah diam? Bukankah kau bilang ingin membantu memikirkan jalan keluar untukku?” tegur Sejung sedikit kesal melihat Taehyung yang terdiam.

“Kalau kau menanyakan hal itu, jawabanku adalah keduanya penting. Sahabat, dan juga orang yang kita sukai, keduanya penting.”

“W-wae? Apa tidak bisa memilih salah satu saja?”

“Kalau harus memilih salah satu, tentu saja aku lebih memilih sahabat. Apa kau tidak pernah membaca ataupun sekedar tahu persoalan semacam ini, eoh? Hal seperti ini amat sering terjadi. Sahabatmu juga menyukai namja yang kau sukai, geutji?”

Anni.. Geuge— maksudku— sepertinya namja itulah yang menyukainya.”

Mwo? Nugu? Siapa namja yang menyukai Jiyeon?”

Sejung tersedak mendengarnya dan menoleh cepat ke arah Taehyung.

Wae? Kenapa malah menatapku seperti itu?” Taehyung justru bertanya karena bingung.

“N-neo— darimana kau tahu kalau yang kumaksud itu Jiyeon?”

Kali ini giliran Taehyung yang tersedak.

Sial. Aku keceplosan,’ pikirnya.

A-ahh—geuge, tentu saja aku tahu. Bukankah sahabatmu itu hanya Jiyeon, eoh? Sudahlah, katakan saja siapa namja yang menyukainya.”

Yaa! Kenapa kau jadi meributkan hal itu? Kau berniat membantuku atau tidak? Aish! Benar-benar tidak berguna!”

Taehyung menggaruk tengkuknya tak sabar. Namja itu mendesah pelan sebelum kemudian melanjutkan.
“Aku benci mengatakan ini, keunde— kalau memang namja itu tidak menyukaimu dan lebih memilih Jiyeon, tidak ada yang bisa kau lakukan. Lebih baik menyerah saja.”

Sejung termenung mendengarnya. Ia merasa ucapan Taehyung itu benar, namun entah kenapa ia tidak merasa puas mendengar jawaban itu.

Yaa, lagipula bukankah kau tidak tahu bagaimana perasaan Jiyeon terhadap namja itu, geutji? Siapa tahu kalau sebenarnya Jiyeon menyukai namja lain dan bukan namja yang kau sukai itu?”

Sejung masih terdiam. Kali ini Taehyung juga benar. Jiyeon bahkan pernah mengatakan padanya kalau ia dan Jungkook hanya sebatas sunbae dan hoobae. Lagipula Jiyeon dekat dengan Jungkook hanya karena ingin membantu namja itu sembuh dari phobianya. Itu saja. Sejung menarik napas panjang.

Geurae, kurasa kau benar. Aish! Sebenarnya apa yang baru saja merasuki pikiranku tadi? Hampir saja aku merusak persahabatanku dengan Jiyeon. Aigoo.. Taehyung-a, kau benar-benar berguna. Aku sudah salah menilaimu tadi. Gomawo, eoh?” Sejung mengacak rambut Taehyung sedikit gemas.

“Y-yaa, hentikan!” Taehyung merasa agak aneh dan menepis tangan jahil saudara kembarnya itu.

Wae? Aku hanya berterimakasih padamu. Aigoo, Taehyung-a, kalau kuperhatikan kau lumayan tampan juga. Andai saja kau bukan saudara kembarku pasti aku sudah jatuh cinta padamu dan menjadikanmu sebagai namchinku.”

“Berhenti bicara omong kosong dan katakan saja padaku sebenarnya siapa namja yang menyu— anni maksudku namja yang kau sukai itu.”

Ohmo! Aku hampir lupa. Aku belum membalas pesan jiyeon. dia pasti kebingungan mencariku. Aku harus segera pergi dan menemukannya.” Sejung langsung beranjak berdiri dan pergi begitu saja setengah berlari meninggalkan Taehyung.

Yaa! Sejung-a! Yaa! Berhenti! Kau belum menjawab pertanyaanku! YAA KIM SEJUNG!!”

*

*

Beberapa saat setelah meminta ijin untuk pulang ke rumah, Jiyeon dan Sejung sudah terlihat berada di luar sekolah dan berjalan beriringan menuju halte bus. Entah sudah berapa kali ponsel milik Sejung terus bergetar menandakan panggilan dari seseorang, namun yeoja itu sama sekali tak berniat mengangkatnya.

Yaa, kenapa kau tidak mengangkatnya? Aku sampai bisa mendengar suara vibranya dari sini.” ucap Jiyeon sedikit heran.

“Tidak usah pedulikan. Ini hanya dari Taehyung. Dia memaksa ikut dengan kita tapi aku yakin kau pasti takkan mengijinkannya.”

Ah, kau memang benar. Taehyung tak boleh tahu hal ini. Aku tidak mau membuatnya terus mengkhawatirkanku.”

“Jiyeon-a, apa kau menyukai Taehyung?”

Uhuk!

Jiyeon terbatuk sejenak mendengarnya. Yeoja itu berdehem sekali mencoba bersikap normal.

Y-yaa, kenapa tiba-tiba menanyakan itu?” katanya sedikit canggung.

Geunyang— hanya ingin tahu. Keunde— apa kau menyukainya?”

Jiyeon mendesah sejenak.

Molla. Aku benar-benar pusing kalau harus memikirkan soal itu sekarang. Sungguh, banyak sekali yang kupikirkan saat ini sampai-sampai kepalaku hampir meledak rasanya.”

Greb!

Jiyeon terkejut karena tiba-tiba saja Sejung memeluknya tanpa aba-aba.

“S-Sejung-a, wae gapjagi?” tanyanya bingung.

“Jiyeon-a, aku— aku benar-benar menyayangimu. Mianhae.. Mian jika aku tak selalu berada di sampingmu saat kau membutuhkanku.”

Jiyeon tersenyum tulus mendengarnya. Ia pun menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.

Nado. Aku juga benar-benar sayang padamu. Keunde, tidak perlu meminta maaf begitu. Kau terlihat aneh saat mengucapkannya.”

Yaa! Aku sedang serius!” Sejung refleks melepas pelukannya dan menatap Jiyeon garang.

Geurae! Seperti itu. Seperti itulah dirimu yang sebenarnya. Yaa, kau tidak cocok bersikap lembek seperti tadi. Aku lebih suka dirimu yang galak dan apa adanya. Geuraesseo, jangan pernah tunjukkan wajah lembek begitu lagi padaku, arrasseo?”

Sejung mendengus mendengarnya, namun tak urung ia tertawa juga.

“Dasar yeoja kejam. Tega sekali mengatai sahabatnya begitu! Kau bukan temanku!” ucapnya berpura-pura marah dan berjalan cepat mendahului Jiyeon. Tepat saat itu ponsel milik Jiyeon bergetar.

Eoh! Sekarang Taehyung menghubungiku. Apa yang harus kulakukan?” seru yeoja itu seraya setengah berlari mengejar Sejung.

“Abaikan saja!”

Mwo? Keunde— aku merasa tak enak padanya. Aish! Yaa! Kim Sejung tunggu aku!”

*

*

Kedua yeoja itu kini telah sampai di depan sebuah rumah minimalis yang tampak tenang dan nyaman dari luar. Jiyeon menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum kemudian melangkahkan kedua kakinya.

Kkaja,” ucapnya pada Sejung yang masih setia menemaninya itu.
Namun langkah keduanya terhenti karena tiba-tiba saja dari arah pintu rumah Jiyeon muncul seorang namja paruh baya dari dalam.

Park Haeil, Appa Jiyeon itu tampak sedikit terkejut saat mendapati dua yeoja berada di depan rumahnya

Park Haeil, Appa Jiyeon itu tampak sedikit terkejut saat mendapati dua yeoja berada di depan rumahnya. Tampang namja itu terlihat lesu dan tak bersemangat, namun ia tetap tersenyum saat melihat putri kesayangannya pulang.

“Jiyeonie? Kenapa kau ada di sini?”

Jiyeon tak menjawab melainkan langsung menghambur pada Appanya tersebut.

Aigoo.. Wae geurae?” Haeil mengelus rambut Jiyeon dengan lembut.

Appa.. Eomma— eodiseo?”

Haeil tak segera menjawab, namun sesaat kemudian ia kembali tersenyum.

“Kenapa tiba-tiba menanyakan Eommamu? Tentu saja Eommamu sedang bekerja.”

Jiyeon menggeleng keras dan melepaskan pelukannya. “Gotjimal. Appa, jebal katakan padaku yang sebenarnya. Apa yang sudah terjadi pada Eomma?”

“Jiyeon-a—”

“Kenapa Appa dan Eomma tidak bisa dihubungi? Kenapa Appa semalam meneleponku berkali-kali? Jebal Appa, katakan padaku apa yang sudah terjadi?”

Haeil mendesah kecil, lalu melirik kearah Sejung yang hanya diam berdiri di belakang Jiyeon.

“Masuklah dulu. Kalian pasti lelah.” ucapnya kemudian seraya menepuk kecil kepala Jiyeon.

Lalu setelah tersenyum hangat pada Sejung, namja itu pun berjalan masuk mendahului keduanya.

Jiyeon tak segera bergeming mengikuti langkah Appanya, melainkan hanya mematung di tempatnya. Sejung berjalan medekat dan menepuk pelan bahu sahabatnya itu.

“Park Abeonim benar. Sebaiknya kita masuk saja dulu. Aku yakin Park Abeonim akan menjelaskan semuanya padamu setelah ini. Kkaja.”

Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Jiyeon pun mengangguk dan menuruti ajakan Sejung.

*

*

Di sisi lain, tepatnya di sekolah Kingo, bel pertanda pulang sudah berbunyi. Semua murid-murid Kingo tampak berhamburan keluar dari kelas. Jungkook pun terlihat baru keluar dari kelasnya dan berjalan menuju loker miliknya. Namun ia tertegun sejenak begitu melihat benda asing berada di dalamnya. Bukannya ia terkejut, karena ini bukan kali pertamanya loker miliknya berisi barang-barang asing yang berasal dari para penggemarnya. Namun perhatiannya justru terpaku pada bungkusan kecil yang tergeletak di antara barang-barang lainnya.

Aneh. Biasanya semua hadiah yang diberikan padaku terbungkus rapi. Tapi kenapa ini berbeda?’ pikir Jungkook heran.

Namja itu pun mengambil bungkusan kecil tersebut dan mulai membukanya perlahan. Sesaat kemudian raut wajahnya berubah menegang begitu melihat isi dalam bungkusan tersebut. Sebuah boneka kelinci berukuran kecil dengan kondisi kepalanya yang terpisah dari tubuhnya. Rahang Jungkook seketika mengeras. Bayangan masa lalunya kembali melintas di kepalanya.

Eomma, kenapa memberikan kelinci padaku? Aku tidak suka kelinci. Telinganya terlalu panjang.”

“Kookie-ya, Eomma tahu kau tidak menyukai kelinci. Tapi tidak ada salahnya memeliharanya, bukan? Kau jadi punya teman bermain di rumah. Lagipula bukankah dia sangat lucu, eoh?.”

“Apa Eomma menyukainya?”

“Geureom.. Lihatlah, aigoo dia mirip sekali denganmu..”

“Kalau begitu aku akan memeliharanya. Kuharap dia tidak menggigit.”

..

“Eomma, di mana Bunny? Kenapa aku tidak bisa menemukannya di kandang atau di manapun?”

“Kookie-ya.. Bunny, kelincimu—”

“Waeyo, Eomma? Kenapa dengan Bunny milikku?”

“Eoh! Jungkook-a, kau sudah pulang? Aigoo, mianhae.. Imo sedang ingin makan daging kelinci. Jadi Imo terpaksa membunuh kelincimu dan menjadikannya menu makan malam bersama nanti. Geogjeongma, kau pasti akan mendapatkan bagian kepalanya, eoh?”

“Huaaaaaa, Imo jahat! Kembalikan Bunny padaku! Kembalikan Bunny padaku!”

Jungkook meremas boneka kecil di tangannya itu penuh emosi yang ditahannya.

Siapa? Siapa yang sudah meletakkan benda ini ke dalam loker milikku?’

Namja itu hampir membuang benda tersebut ke tempat sampah, namun niatnya urung saat melihat ada benda lain di dalam bungkusan tersebut. Secarik kertas kecil yang ditulis dengan tinta merah.

Kau masih ingat Bunny kelincimu, matji? Jangan sampai aku melakukan hal yang sama kepada’nya’. Katakan pada Taeho kalau kau menolak warisan darinya atau ‘dia’ akan bernasib sama seperti Bunny-mu.”

Tak perlu mencari tahu lagi, Jungkook langsung bisa menebak siapa dalang di balik semua ini. Kim Sungryung, Eomma Myungsoo sekaligus Imonya sendiri. Jungkook bermaksud mengabaikan ancaman yeoja itu namun wajahnya seketika terkejut dan kembali menegang begitu membalik kertas tersebut yang ternyata terdapat sebuah foto dirinya yang sedang bersama dengan seseorang. Dan seseorang itu, dia adalah Park Jiyeon.

Deg!

Jungkook seketika merasa napasnya sesak.

M-maldo andwae! Bagaimana— bagaimana dia bisa tahu soal Jiyeon Noona? Andwae! Aku tidak akan membiarkannya menyakiti Jiyeon Nuna. Tidak akan.’

Namja itu meremas kertas tersebut lalu merobeknya penuh kemarahan. Setelah melemparkannya ke tempat sampah, namja itu segera beranjak pergi untuk menemui Jiyeon.

“Aku tidak peduli dengan ancamanmu, Imo. Jiyeon Nuna, mulai sekarang aku akan terus berada di sampingnya. Aku pasti akan melindunginya.”

*

*

Sementara itu, Myungsoo juga baru saja keluar dari kelasnya. Namja tampan itu berjalan lurus diiringi dengan tatapan kagum yang selalu ia dapatkan dari para murid yeoja yang dilewatinya sepanjang koridor. Namun namja itu sama sekali tidak peduli dan terus saja berjalan seolah tak ada orang lain di sekitarnya.

Ia sudah hampir berada di halaman depan sekolah saat tiba-tiba seorang yeoja menghadang jalannya. Mau tak mau Myungsoo pun menghentikan langkahnya dan menatap sedikit malas pada yeoja di hadapannya.

Mwo?” ucapnya dengan nada dingin khas miliknya.

Yoon Sohee, yeoja yang mencegatnya itu menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang berisi cokelat pada Myungsoo.

Mwoya? Sekarang bukan hari Valentine.”

O-Oppa.. Aku— aku ingin meminta maaf padamu soal sikapku waktu itu. aku—”

Wae? Aku tidak merasa kau punya salah denganku. Kenapa meminta maaf padaku?”

Geuge— waktu itu— kau pasti berpikiran buruk tentangku. Jeongmal, aku tidak pernah bermaksud seperti itu. itu—”

Ck, sudahlah. Aku sedang tidak ada waktu bermain-main. Kalau ingin meminta maaf, minta maaflah pada mereka yang selama ini kau injak-injak. Bukan padaku.”

Myungsoo beranjak begitu saja namun Sohee lagi-lagi menghalangi jalannya.

Oppa, jebal.. Setidaknya— terimalah pemberian dariku ini. Begitu saja, aku sudah merasa senang.”

Myungsoo mendesah kesal melihatnya. Ia melihat Sohee yang menundukkan kepalanya sembari kedua tangannya yang menyodorkan kotak berisi cokelat itu padanya. Lagi-lagi Myungsoo mendesah panjang. Namun belum sempat ia mengatakan apapun, tanpa sengaja kedua matanya menangkap sosok Jungkook yang setengah berlari melewatinya. Namja itu sepertinya tidak sadar bahwa ia ada di sana. Myungsoo melihat Jungkook sedang bertanya pada salah seorang murid namja.

Jeogiyeo, sunbae— apa sunbae sekelas dengan Jiyeon Nu- ah maksudku Jiyeon sunbae? Geuge— aku sepertinya sering melihatmu berada di sekitarnya.”

Eoh, aku memang sekelas dengannya. Wae?”

“Apakah sunbae melihat Jiyeon sunbae saat keluar dari kelas tadi? Geuge— aku mencoba menghubunginya tapi tidak bisa.”

Ah, dia tadi ijin pulang lebih awal, kurasa dia pulang ke rumahnya.”

Mwo? Pulang ke rumah? Geuge— apa kau tahu di mana rumah Jiyeon sunbae?”

Eoh. Rumahnya ada di daerah Seongdong. Keunde— kenapa sepertinya kau ingin sekali bertemu dengannya?”

A-ah, geunyang— aku—”.

Yaa, Wonho-ya! Mwohaneun geoya? Ppalliwa! Kita nanti bisa terlambat masuk kerja!”

Wonho menoleh sejenak dan berdecak kesal. Namun kemudian ia kembali beralih pada Jungkook.

“Sepertinya Jiyeon penting sekali bagimu. Keunde kau harus tahu, sainganmu ada di mana-mana. Jadi sebaiknya persiapkan mentalmu. Geureom, aku pergi dulu.” ucapnya.

Eo-eoh. Gomawo, sunbae.”

Sepeninggal Wonho, Jungkook termenung sejenak. Namun beberapa saat kemudian, namja itu pun terlihat beranjak pula dari sana.

Myungsoo yang masih berada di sana dan mendengar semua pembicaraan keduanya itu pun turut termangu juga. Ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Jungkook dan kenapa namja itu sepertinya ingin sekali menemui Jiyeon? ia bahkan hampir melupakan keberadaan Sohee yang masih setia menunggu di depannya itu. Namja itu mendesah sejenak, lalu mengambil kotak berisi cokelat tersebut dari tangan Sohee.

Geurae, aku akan menerimanya. Keunde setelah ini jangan berbuat aneh-aneh lagi, atau kau akan tahu sendiri akibatnya.”

Wajah Sohee tampak berseri-seri saat Myungsoo menerima pemberian darinya dan itu membuat Myungsoo justru semakin merasa malas melihatnya.

Gomawo Oppa.. Aku senang sekali kau menerima pemberian dariku.”

Eoh. Aku pergi sekarang.” sahut Myungsoo singkat, lalu beranjak pergi begitu saja meninggalkan Sohee yang masih terdiam di tempatnya.

Yeoja itu termenung sejenak. Rupanya ia pun diam-diam turut mendengarkan pembicaraan Jungkook dengan Wonho barusan. Yeoja itu mengeluarkan smirk andalannya. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu.

*

*

Aissh! Kenapa mereka tidak ada yang mengangkat teleponku? Ck! Sebenarnya pergi kemana mereka sekarang?” Taehyung terlihat berjalan mondar-mandir dengan ponsel yang menempel manis di telinganya.
Namun lagi-lagi ia mendapatkan mailbox dari semua panggilannya.

Klung! Low battery. Please recharge your device.

Taehyung semakin kesal saat mendapatkan notif tersebut pada layar ponselnya. Akhirnya masih dengan  bersungut-sungut tak jelas, namja itu pun memutuskan kembali ke asrama saja untuk mengisi baterai ponselnya lebih dulu.

Lagipula mereka juga pasti akan kembali ke asrama nanti.’ batinnya.

*

*

Waktu masih menunjukkan sekitar pukul 3 sore, namun langit hitam telah menyelimuti permukaan kota Seoul seolah pertanda akan segera diguyur oleh hujan. Bahkan suara petir pun sudah mulai terdengar bersahutan. Namun di tengah-tengah suasana seperti itu, seorang yeoja yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap justru terlihat berlari-lari menyusuri trotoar sembari terisak kecil. Ia sama sekali peduli dengan tatapan aneh dan penuh keheranan dari orang-orang yang dilewatinya. Ia bahkan tak mempedulikan ponsel miliknya yang terus bergetar sejak tadi. Park Jiyeon, yeoja itu terlanjur merasa amat kecewa.

“..Yeoja itu— dia tidak pantas lagi disebut sebagai Eommamu.”

“Appa, jebal jangan seperti ini. Apa Appa lebih mempercayai orang lain daripada Eomma? Aku tahu Eomma bukan orang seperti itu..”

“.. Sudah kukatakan dia bukan Eommamu lagi! Dia bahkan lebih memilih pergi bersama namja lain daripada bersama keluarganya sendiri. Apa yeoja seperti itu masih pantas kau panggil eomma, eoh?”

“Andwae! Maldo andwae! Aku tidak percaya Eomma melakukannya! Aku tidak percaya!”

“Jiyeon-a, eodiga? Park Jiyeon!”

Jiyeon masih berlari di sela isakannya. Suara guntur semakin ramai menggelegar dan langit pun semakin menghitam. Bahkan saat rintikan air hujan mulai turun pun tak membuat yeoja itu peduli sama sekali. Ia terus berlari tak tentu arah. Tak dihiraukannya tubuhnya yang sudah mulai basah oleh air hujan. Ia hanya ingin menangis, merasa kecewa dan tak tahu ingin melampiaskan kekecewaannya pada siapa. Ia bahkan hampir menabrak mobil yang melaju cukup kencang kalau saja seseorang tidak segera menarik tangannya.

Yeoja itu meronta mencoba melepaskan diri dari pegangan orang tersebut, namun pegangan itu justru semakin erat.

“Lepaskan! Lepaskan aku! Hiks.. Biarkan aku pergi! Aku— hiks, aku harus menemui Eomma! Aku harus menanyakan langsung padanya, hiks.. Lepaskan aku!”

Nuna.. Tenanglah. Jiyeon Nuna, ini aku, Jungkook..”

Jiyeon berangsur tenang dan berganti menatap namja yang berada di depannya itu dengan tatapan nanar dan wajah yang basah oleh air mata bercampur air hujan.

“J-Jungkook-a..” ucapnya.

Detik berikutnya yeoja itu pun refleks memeluk Jungkook dan membenamkan kepalanya di dada namja tersebut. Sementara jungkook yang mendapatkan perlakuan tiba-tiba seperti itu merasa terkejut untuk sesaat, namun ia tak menolak saat Jiyeon semakin membenamkan kepalanya. Ia bahkan membiarkan yeoja itu memukul-mukul dadanya sembari terus menangis.

Huaaaaa.. Hiks.. Jungkook-a, kenapa ini harus terjadi padaku? Hiks.. Aku tidak percaya Eomma melakukannya. Aku sama sekali tidak percaya..”

Jungkook yang masih bingung dengan apa yang terjadi itu hanya bisa menenangkan Jiyeon.

Nu-nuna, tenanglah. Uljima.. sebaiknya kita berteduh dahulu sebelum hujan semakin deras. Kkaja.”

Jungkook membimbing Jiyeon dan mengajaknya berjalan untuk berteduh di depan sebuah etalase yang berada tak jauh dari mereka.

Jiyeon masih sesenggukan saat keduanya berteduh di sana. Jungkook menghela napas panjang, lalu melepaskan jaket miliknya dan mengenakannya pada Jiyeon. Yeoja itu hanya mendongak sejenak, namun tak berkomentar apapun kecuali suara isakannya yang masih terdengar walau samar-samar.

Mianhae.. Aku sudah melibatkanmu ke dalam masalahku. Kau— sudah melihatku seperti ini..” Jiyeon berkata dengan kepala tertunduk.

Yeoja itu sepertinya baru sepenuhnya sadar atas apa yang sudah dilakukannya tadi. Ia bahkan baru benar-benar sadar bahwa kini ada Jungkook di sebelahnya.

Sementara Jungkook, ia tidak tahu pasti apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Jiyeon, akan tetapi saat mendengar rancauan yeoja itu beberapa saat yang lalu, ia mulai bisa menerka bahwa semua yang terjadi ada hubungannya dengan Eomma Jiyeon. Diam-diam namja itu kembali mengingat akan berita yang menjadi topik hangat di sekolah akhir-akhir ini mengenai Park Jiyoung yang selingkuh.

Nuna— kau pasti begitu menyayangi Eommamu, matji? Apa kau ingin menemui Eommamu?”

Jiyeon tak segera menjawab. Ia hanya diam menatap ke depan dengan pandangan kosong. Ia benar-benar tak tahu harus melakukan apa.

“Aku akan membantumu mencari Eommamu. Nuna geogjeongma, selama Eommamu masih ada di dunia ini, kita pasti bisa menemukannya. Kau harus menanyakan padanya sendiri tentang kebenarannya, bukan?”

Jiyeon mendesah kecil, lalu menatap tetesan air hujan yang turun melalui langit-langit etalase yang menjadi tempat perlindungan mereka.

Eottokhaji? Aku bahkan tidak tahu kepada siapa seharusnya aku percaya. Eomma— selama ini aku hanya menghabiskan sedikit waktu bersamanya. Aku seperti tidak sepenuhnya mengenal Eomma karena sejak kecil aku lebih sering bersama Appa. Keunde setiap kali bersama Eomma, hatiku sangat senang, rasanya seperti ketika anak kecil menemukan kembali benda kesayangannya yang sempat hilang. Neomu haengbokkhae..”

Jungkook terdiam mendengarnya. Apa yang diungkapkan Jiyeon barusan, itu semua seolah mewakili perasaannya juga. Meskipun Eommanya tak pernah sesibuk Eomma Jiyeon, namun tetap saja namja itu hanya bisa menghabiskan waktu sebentar bersama Eommanya itu. Entah kenapa bayangan masa lalu kelamnya kembali terlintas di kepalanya. Bayangan seorang yeoja yang berlari masuk ke dalam kamarnya. Teriakan Eommanya. Dan juga darah itu..

Argh..” Jungkook refleks memegangi kepalanya, merasa nyeri setiap kali bayangan kejadian itu muncul.

Jiyeon yang sempat mendengarnya seketika menoleh kearah namja tersebut.

“Jungkook-a, museum niriseo? Gwaenchanha?”

Jungkook tak segera menjawab, nampak seperti sedang berusaha meredam rasa sakit di kepalanya. Hingga beberapa saat setelahnya, ia kembali memasang ekspresi normal seperti biasanya dan menoleh pada Jiyeon yang kini menatapnya cemas. Ada perasaan senang saat melihat ekspresi Jiyeon padanya saat itu.

Geogjeongma, nan gwaenchanha..” ucap namja itu dengan senyuman tipis di bibirnya, lalu kembali mengarahkan tatapannya ke depan.

Nuna— tidakkah kau ingin tahu kenapa aku bisa memiliki phobia ini?” lanjutnya kemudian masih dengan pandangannya yang mengarah lurus ke depan.

Jiyeon terdiam sesaat, mengakui dalam hati kalau ia pun sebenarnya sejak awal ingin menanyakan hal itu. Namun entah kenapa, ia merasa tidak ingin membuat Jungkook mengingat kembali masa lalu yang dirasanya amat kelam sampai-sampai membuat namja tersebut memiliki phobia seperti itu. Yeoja itu pun menggeleng samar. Namun sepertinya Jungkook tak melihat gelengannya, karena detik setelahnya namja itu kembali berujar pelan.

“Aku melihat sendiri kematian Eommaku. Bagaimana Eomma meninggal, aku melihatnya dengan kedua mataku sendiri..”

Flashback

Sebulan setelah kematian Kim Jongwoon alias Yesung, putra sulung Kim Taeho, Jungkook mulai terlihat jarang tersenyum dan lebih sering menyendiri. Kejadian saat Yesung meninggal, sosok bayangan yang menyerangnya malam itu, semua masih terekam jelas di memorinya. Apalagi jika mengingat Kim Myungsoo yang lebih membela Eommanya, padahal jelas-jelas ia sendiri mengaku melihat sosok bayangan namja itu. Jungkook semakin merasakan sakit dan pilu di ulu hatinya. Ia bahkan menolak mentah-mentah saat Haeun, Eommanya menawarkan seekor kelinci baru untuk menjadi teman bermainnya. Namja itu hanya takut. Takut kejadian yang menimpa Bunny terulang kembali. Ia sudah merasa cukup merasa kehilangan sesuatu yang berharga baginya.

Pagi itu, seperti biasa Jungkook mengurung diri di dalam kamarnya. Sudah hampir satu bulan namja itu membolos sekolah dan terus menerus mengurung diri. Haeun tak henti-hentinya mencoba membujuk anak itu agar kembali menjadi sosok yang bersemangat seperti dulu, akan tetapi semua usahanya sia-sia belaka. Meski namja itu masih mau menyentuh makanan atau sekedar mandi, tetap saja ia tak mau keluar dari rumah barang sejengkal pun. Ia terus menyibukkan dirinya dengan mencoret-coret atau lebih tepatnya menggambar apa saja yang ingin diungkapkannya melalui gambarnya itu. Dan ia akan terus melakukannya seharian.

Haeun memasuki kamar Jungkook ketika namja itu masih asyik mencoret-coret di buku gambar miliknya malam itu. Yeoja yang masih terlihat muda itu perlahan mendekat dan menyentuh bahu Jungkook, membuat namja itu menoleh sejenak lalu kembali fokus pada gambarnya.

“Eomma dan Abeoji akan menghadiri acara makan malam di rumah Samcheon—”

“Aku di rumah saja.” potong Jungkook cepat.

Haeun menghela napas mendengarnya. Ia tahu, tak ada gunanya mengajak Jungkook ikut serta. Yeoja itu pun mengelus rambut Jungkook dengan lembut.

“Arrasseo.. Jangan tidur terlalu larut, hm?”

Jungkook tak merespon. Begitu Haeun beranjak keluar dari kamarnya, namja itu menghentikan gerakan tangannya sejenak. Pikirannya kacau. Ia benar-benar benci setiap kali telinganya mendengar nama keluarga Kim disebut. Namja kecil itu merobek gambar miliknya yang belum selesai itu dengan kesal, lalu menunduk dalam-dalam, mencoba menahan suara tangisnya agar tak terdengar keluar. Karena terus menangis dan merasa lelah, tanpa sadar namja itu pun jatuh tertidur.

Sementara itu Haeun yang memutuskan untuk tidak ikut serta pergi ke acara makan malam di rumah Kim Taeho itu terlihat berjalan hendak memeriksa Jungkook kembali ke kamarnya. Namun gerakannya terhenti saat bel pintu rumahnya berbunyi. Ketika ia berbalik menuju pintu depan dan membuka pintu, ekspresinya berubah terkejut begitu melihat sosok yeoja yang berdiri di hadapannya.

“Eonnie?”

Prang!

Jungkook yang semula ketiduran itu terbangun mendengar suara barusan. Dikuceknya kedua matanya yang masih terasa sembab akibat menangis tadi. Ia mendongak, mencoba menerka-nerka suara apa yang baru saja didengarnya tadi. Bukankah kedua orangtuanya sedang pergi menghadiri acara makan malam? Apa mereka sudah pulang?

Karena penasaran, akhirnya namja itu pun turun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang tengah. Namun langkahnya seketika terhenti begitu kedua matanya menangkap sosok seseorang yang amat tak ingin ditemuinya. Kedua kaki Jungkook mendadak lemas saat itu juga.

“..sudah kuduga kalau kalian memang sengaja meracuni pikiran Taeho oppa agar turut memberikan warisannya pada bocah itu. Kim Haeun kau pikir aku tidak tahu? Kau sebenarnya juga menginginkan warisan itu, geutji?”

“Eonnie, sudah berkali-kali kukatakan kalau aku sama sekali tidak menginginkan semua itu. aku sudah merasa cukup bahagia dengan usaha kedai ramen milik Jinwoo Oppa. Aku tidak menginginkan hal lain—”

“Omong kosong! Kalau memang benar begitu kenapa kau diam saja saat Taehoo Oppa akan memberikan warisannya pada Jungkook, eoh?”

“Eonnie—”

“Dwaesseo! Aku sudah tidak bisa bersabar lebih lama lagi. aku bahkan sudah kehilangan Yesung putra kesayanganku. Anak itu, Jeon Jungkook harus lenyap. Itulah satu-satunya jalan agar warisan itu tidak diberikan padanya!”

“Eonnie apa yang ingin kau lakukan?”

“Shikkeureo! Di mana anak itu sekarang, eoh?”

“Eonnie, andwae! Jebal jangan lakukan ini!”

“AISH BIKYEO!!”

Jungkook yang melihat dan mendengar semua kejadian itu semakin gemetar ketakutan. Apalagi saat melihat Haeun jatuh terduduk akibat dorongan keras dari yeoja iblis itu. Namja itu ketakutan dan bersembunyi di bawah anak tangga saat yeoja itu berjalan setengah berlari naik menuju kamarnya. Sementara Haeun terus mengejarnya dan berusaha menghentikannya.

“Eonnie! Jebal! Hentikan! Jangan lakukan itu! eonnie!”

“Di mana? Di mana anak itu? Jeon Jungkook di mana kau bocah??”

Brakk!

“Eonnie! Andwae! Jebal!”

“Aish kubilang minggir!!”

“Akh!”

Jungkook masih menangis di tempat persembunyiannya. Ia tidak tahu harus melakukan apa saat itu. ia takut, namun ia juga tak tega melihat Haeun yang berusaha melindunginya.

“Eo-eomma..” desisnya sambil terisak pelan.

Ia tak lagi mendengar suara ribut dari arah kamarnya. Kenapa? Kenapa tiba-tiba sunyi? Apa yang terjadi di sana? Jungkook merasa penasaran namun rasa takut masih menyelimuti hatinya. Hingga beberapa detik berlalu, namun ia masih tak mendengar suara apapun. Akhirnya meski dengan nyali yang amat menciut dan tubuh gemetar, Jungkook pun beringsut dari tempatnya dan memberanikan diri berjalan naik menuju kamarnya.

Namun seketika namja itu terkesiap begitu sampai di depan kamarnya. Semua persendiannya mendadak lemas. Rasa takut, sedih, marah, mual, semua bercampur baur menjadi satu. Ia tak bisa mengingat dengan jelas apa yang tengah terjadi, namun satu hal yang amat membuatnya ketakutan bahkan untuk bergerak seinchi pun ia tak sanggup adalah sosok itu. sosok yeoja yang tak lain adalah Kim Sungryung yang terlihat menakutkan saat itu. sebelah tangannya tampak sedikit bergetar memegang sebuah pisau yang sudah berwarna merah kental. Bersama dengan Eommanya yang telah terkapar tak jauh di depannya dengan napas tersengal dan cairan merah di mulutnya.

Jungkook masih terpaku di tempatnya melihat pemandangan tersebut. Ia sama sekali tak bisa menggerakkan kedua kakinya. Bahkan untuk bernapas pun rasanya sulit. Ia hanya bisa mengingat bagaimana Haeun berusaha mengatakan sesuatu padanya.

“J-Jung-kook-ah.. P-per-gi..”

Flashback ends

Jungkook kembali mengerang kecil begitu ia mengakhiri ceritanya. Jiyeon kembali cemas dan refleks memegangi lengan Jungkook mencoba menenangkan.

“Jungkook-a, gwaenchanha?”

Jungkook terdiam sejenak, merasa sedikit tenang saat tangan Jiyeon menyentuhnya. Ia pun perlahan mengangguk.

“Aku— selalu merasakan sakit di kepalaku setiap kali mengingat kejadian itu. seperti— ada potongan ingatan kecil yang sudah kulupakan.”

Jiyeon tak segera menjawab. Sungguh ia amat terkejut dan tidak menyangka kalau Jungkook memiliki masa lalu sekelam itu. Eommanya meninggal karena dibunuh di depan mata kepalanya sendiri. Bahkan untuk membayangkannya saja Jiyeon merasa tidak sanggup. Kini Jiyeon mengerti kenapa Jungkook memiliki gynophobia. Pasti bayangan yeoja pembunuh itu terus menghantuinya selama ini sampai-sampai ia memiliki phobia itu.

Keunde— kenapa kau tidak melaporkan yeoja itu pada polisi? Bukankah kau sudah melihat sendiri siapa yang membunuh Eommamu?”

Jungkook tak segera menjawab. Ia memang tak memberitahu Jiyeon tentang siapa sebenarnya yang sudah membunuh Eommanya. Entahlah, namja itu hanya merasa Jiyeon tak perlu tahu siapa yang sudah membuat semua bencana pada keluarganya. Ia hanya tidak mau Jiyeon terlalu khawatir padanya, apalagi ia juga tahu bahwa hubungan Jiyeon dengan Myungsoo cukup dekat.

Anni.. Aku memang tidak melaporkannya, karena kurasa percuma saja. Tidak ada yang percaya apa yang kukatakan..”

Jiyeon tak tahan lagi mendengarnya. Yeoja itu mendekat lalu memeluk Jungkook cukup erat, berusaha menenangkan namja itu.

Mian. Mianhae, Jungkook-a.. Karena aku kau jadi kembali mengingat masa lalumu yang kelam. Aku bahkan tak bisa membayangkan seandainya aku yang berada dalam posisimu. Pasti— pasti kau merasa tertekan selama ini.”

Jungkook tak menjawab, ia sibuk mengontrol perasaannya sendiri saat itu. Rasa hangat dan senang yang memenuhi rongga dadanya saat Jiyeon memeluknya seperti itu. Jungkook tak bisa memungkirinya lagi sekarang. Ia benar-beanr sudah jatuh cinta pada yeoja yang kini memeluknya itu.

Jiyeon melepaskan pelukannya setelah beberapa saat berlalu. Kedua matanya menatap lurus pada Jungkook yang masih terdiam oleh rasa senang yang membuncah. Yeoja itu tersenyum tipis.

“Aku— aku akan berusaha menemukan Eomma dan menanyakan semua ini secara langsung padanya. Jungkook-a, gomawo. Aku sangat bersyukur bisa bertemu kau di sini.”

Jungkook balas tersenyum, lalu mengangguk. Namun sesaat kemudian Jiyeon mulai sadar akan sesuatu.

Keunde— bagaimana bisa kau ada di sini? Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanyanya kemudian yang seketika membuat Jungkook sedikit gelagapan untuk menjawabnya.

Geuge— Nuna aku— aku memang sengaja ingin mencarimu.”

“M-mencariku? Wae?”

Jungkook menarik napas dalam-dalam, lalu mengambil kedua tangan Jiyeon dan menggenggamnya erat.

“Jiyeon Nuna— mulai sekarang, aku akan terus bersamamu. Apapun yang terjadi, aku akan selalu melindungimu. Jadi berjanjilah untuk memberitahuku apapun yang membuatmu merasa terganggu..”

Jiyeon tercengang mendengarnya. Wajahnya memanas. Detak jantungnya tak beraturan. Entah kenapa perasaan aneh itu kembali muncul dalam hatinya. Perasaan aneh yang menggelitiki perutnya. Apalagi saat melihat bagaimana cara Jungkook menatapnya. Yeoja itu mengumpat dalam hati, kenapa harus di saat seperti ini? Meski hanya seorang hoobae, namja tampan yang kini berada di depannya itu tetaplah seorang namja yang bukan anak kecil lagi, dan Jiyeon amat merasa canggung dibuatnya.

Drrrt! Drrt! Drrt!

Suara getaran dari ponsel milik Jiyeon itu memecah kediaman mereka berdua. Secara refleks Jiyeon melepaskan pegangan tangan Jungkook dan dengan gugup mengambil ponsel dari dalam saku kemejanya. Ia sempat menggerutu menyadari ponselnya yang basah oleh air hujan. Namun ekspresinya langsung berubah begitu melihat ID caller di layar ponselnya. Kim Sejung.

Dengan sedikit ragu Jiyeon pun mengangkat panggilan tersebut.

Yeob—”

[“YAA! NEO EODI JIGEUM, EOH?? KENAPA BARU DIANGKAT? APA KAU TAHU AKU KEBINGUNGAN MENCARIMU KEMANA-MANA!!”]

Jiyeon sedikit menjauhkan ponsel miliknya dari telinganya, namun ia pun menjawab dengan pelan.

“M-mianhae, Sejung-a.. Nan gwaenchanha..”

[“Aish! Katakan padaku di mana kau sekarang. Aku akan menjemputmu di sana bersama sopirku.”]

Eoh, kau memanggil sopirmu?”

[“Ck, sudahlah katakan saja kau di mana?”]

A-anni.. Tidak perlu menjemputku. Aku— akan langsung kembali ke asrama naik bus saja.”

[“Mwo? Keunde neon jeongmal gwaenchanha? Yaa, jangan bohong padaku.”]

Geuge— n-ne, tidak perlu mencemaskanku. Jeongmal gwaenchanha..”

Terdengar suara tarikan napas panjang dari Sejung.

[“Arrasseo. Kalau itu memang maumu, geurae aku akan menunggumu di asrama saja.”]

Keunde— Sejung-a, Appa—”

[“Tentu saja Park Abeonim mengkhawatirkanmu. Kau saja yang tidak sabaran dan langsung lari keluar. Keunde geogjeongma. Aku akan memberitahunya kalau kau baik-baik saja sekarang. Lagipula sepertinya kau memang butuh waktu untuk sendiri.”]

Eo-eoh.. Gomawo, Sejung-a..”

[“Eoh, kututup teleponnya.”]

Umm..”

Bip.

Jiyeon kembali memasukkan ponsel ke dalam saku kemejanya. Yeoja itu tak berani menatap ke arah Jungkook sama sekali.

Geuge— sepertinya hujannya sudah mulai agak reda. Kkaja, kita harus sampai ke asrama sebelum malam tiba.” Jiyeon berkata sedikit gugup, lalu melangkahkan kakinya keluar dari etalase mendahului Jungkook.

Namun baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba saja Jungkook berjalan menyusulnya dan menarik tangannya sehingga yeoja itu kembali berdiri berhadapan dengan namja tersebut.

“J-Jungkook-a—”

Deg! Deg! Deg!

Sungguh. Jiyeon tak mampu lagi menahan detak jantungnya yang kembali tak beraturan. Tatapan namja itu begitu menguncinya.

Nuna—gomawo, selama ini kau sudah membantuku sembuh dari phobia ini.. Aku sudah merasa jauh lebih baik sejak bertemu denganmu. Kau sudah membuatku menjadi seperti ini. Dan kali ini aku— biarkan aku memastikan bahwa phobiaku ini benar-benar sembuh. Nuna—aku— aku hanya ingin memberikannya padamu..”

“J-Jungkook-a, apa yang sedang kau bicarakan? Aku tidak m—”

Jiyeon tak sempat melanjutkan ucapannya dan justru melotot terkejut saat ia merasakan sesuatu yang hangat, kenyal sekaligus basah telah menyentuh bibirnya. Jungkook, namja itu mencium bibirnya dengan lembut.

Tubuh Jiyeon seketika menegang karenanya

Tubuh Jiyeon seketika menegang karenanya. Ia seolah merasa aliran listrik menyengat seluruh tubuhnya. Yeoja itu tak dapat berpikir jernih saat itu. Ia amat shock dengan perlakuan Jungkook yang tiba-tiba itu. Ia bahkan hanya mampu meremas ujung rok seragamnya kuat saat namja itu melumat bibirnya pelan. Park jiyeon, yeoja itu tak bisa berkutik sama sekali. Ada rasa nyaman namun juga rasa sesak yang menghimpit perasaannya saat itu.

Keduanya sama sekali tak menyadari kalau tak jauh dari mereka seorang namja telah melihat mereka sejak tadi dari dalam mobil miliknya. Kim Myungsoo, namja itu menatap nanar sekaligus penuh kemarahan ke arah mereka berdua. Hatinya seperti tengah dihantam oleh batu besar saat melihat Jungkook mencium yeoja yang dicintainya. Kedua tangan namja itu mengepal. Rahangnya mengeras mencoba menahan gemuruh di dadanya.

Myungsoo memang sudah mengikuti kemana Jungkook pergi sejak pulang sekolah tadi. Ia bahkan berusaha mati-matian untuk tetap diam saat melihat keduanya mulai bertemu tadi. Dan kini, justru ia merasa seperti tengah dilemparkan ke dalam jurang yang amat dalam. Namja itu merasa marah sekaligus sedih secara bersamaan. Ia marah karena namja lain sudah merenggut ciuman yeoja yang dicintainya. Namun ia pun merasa sedih karena menyadari bahwa namja itu tak lain adalah Jeon Jungkook, sepupunya sendiri. Akhirnya namja itu pun hanya mampu menahan semua gejolak di hatinya dalam diam. Ia merasa amat terluka. Namun ia pun tak tahu harus melakukan apa. Bagaimanapun, ia pernah bersalah pada Jungkook.

Di saat yang bersamaan, sebuah mobil lain yang terparkir tak jauh dari mobil Myungsoo berada, seorang yeoja yang tak lain adalah Yoon Sohee itu tersenyum puas saat melihat adegan menarik di depan matanya itu. tak ingin melewatkan kesempatan bagus begitu saja, yeoja itu segera membidikkan lensa kamera ponselnya kearah di mana Jiyeon dan Jungkook berada. Yeoja itu tertawa puas melihatnya dan bergegas memutar kembali mobilnya pergi dari sana.

*

*

Myungsoo melemparkan tas dan blazer seragam sekolahnya dengan kasar ke atas tempat tidurnya. Namja itu memutuskan untuk pulang ke rumahnya saat itu. Tentu saja ia takkan sanggup bertemu dengan Jungkook jika ia kembali ke asrama. Kini namja itu duduk di atas ranjangnya dan meremas rambutnya penuh frustasi. Bayangan kejadian saat Jungkook mencium Jiyeon tadi kembali berputar di kepalanya.

AAAAAARRRGGGHHH SIALL!!”

Myungsoo kembali mengumpat dan melemparkan benda-benda yang berada di dekatnya ke sembarang arah sehingga menimbulkan suara berisik di dalam kamarnya. Bruntung saat itu Kim Taeho dan Kim Sungryung sedang tidak ada di rumah sehingga kebisingan itu tak diketahui oleh mereka.

Namun Kim Soeun, adik Myungsoo yang semula sedang sibuk berpikir tentang apa yang akan ia katakan saat bertemu dengan Yuto malam nanti, seketika terkejut dan bergegas lari menuju kamar Oppanya itu untuk melihat apa yang sedang terjadi. Yeoja itu melotot terkejut begitu mengetahui kondisi kamar Myungsoo yang sudah berantakan.

Oppa! Neo wae geurae? Kenapa kau seperti orang gila begitu, eoh?”

Myungsoo bukannya menyahut melainkan melemparkan tubuhnya begitu saja di atas tempat tidurnya dan meletakkan sebelah lengannya di atas kepala mencoba meredam kemarahannya.

Oppa—”

Naga! (keluarlah) .” potong Myungsoo agak keras, membuat Soeun sedikit terkejut karenanya.

Meski merasa penasaran setengah mati, Soeun tak berani bertanya lagi. ia tahu bagaimana Myungsoo jika sudah marah begitu. Namja akan semakin marah jika dirinya diganggu. Alhasil, Soeun hanya mendesah kesal, lalu berbalik kembali keluar dari kamar Myungsoo. Namun saat kedua kakinya berjalan keluar dari kamar Myungsoo, ia sempat mendengar namja itu menggumamkan sesuatu.

“..Park Jiyeon..”

Soeun tertegun sejenak mendengarnya. Ia mulai menerka-nerka apa yang sedang terjadi pada Oppanya itu.

Apa ini ada hubungannya dengan Jiyeon Eonnie?’ pikirnya.

*

*

Jiyeon masih terdiam saat mereka berdua berjalan beriringan menuju asrama. Sejak kejadian tadi, keduanya terus diam karena merasa canggung. Bahkan saat di dalam bus pun keduanya hanya diam tak ada yang mencoba membuka suara. Sesekali Jiyeon melirik Jungkook yang kini berjalan di sampingnya. Yeoja itu merasa sangat kacau. Ia benar-benar tidak tahu apa yang tengah dirasakannya saat itu. Namun yang jelas, saat ini ia merasa amat bersalah pada Sejung. Yeoja itu sedih membayangkan betapa terlukanya perasaan Sejung jika yeoja itu tahu apa yang baru saja terjadi antara dirinya dengan Jungkook. Tidak! Jiyeon tidak ingin persahabatannya dengan Sejung berakhir buruk. Ia amat menyayangi sahabatnya itu. Tapi mengingat apa yang baru saja terjadi padanya, perasaan bersalah itu semakin kuat menggerogoti hatinya.

Ehm, Nu-Nuna, aku— aku masuk dulu.”

Jiyeon sedikit tersentak mendengarnya. Ia baru sadar kalau mereka telah sampai di depan gerbang asrama. Saat ini baru pukul enam sore jadi tak ada masalah sama sekali saat mereka masuk ke dalam asrama.

“Eo-eoh..” sial. Jiyeon bahkan masih belum bisa mengusir rasa gugupnya.

Jungkook tersenyum padanya, setelah itu ia pun beranjak mendahului Jiyeon dan menuju asrama namja.

Sementara jiyeon masih terpaku di tempatnya. Yeoja itu tak segera masuk ke dalam asrama. Ia merasa belum siap untuk bertemu dengan Sejung. Akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi ke taman yang berada di belakang asrama.

Jiyeon duduk di salah satu bangku yang berada di taman, menyandarkan punggungnya perlahan. Yeoja itu menarik napas panjang dan menghembuskannya kembali perlahan. Sungguh, ia merasa amat lelah hari itu. Ia tak lagi peduli dengan pakaiannya yang masih sedikit basah akibat hujan beberapa saat yang lalu. Ingatannya kembali pada kejadian saat Jungkook menciumnya tadi. Secara refleks yeoja itu menggigit bibirnya. Wajahnya kembali memanas, namun di saat yang bersamaan ia kembali merasa bersalah pada Sejung.

“Sejung-a, mianhae.. Aku memang bukan sahabat yang baik.. Aku— sudah merusak kepercayaanmu. Aku sudah— aku—”

“Jiyeon-a, mwohaneun geoya?”

Jiyeon terkejut setengah mati mendengarnya dan menoleh cepat ke arah suara itu. Namun setelahnya ia bernapas lega setelah tahu siapa orang yang menegurnya barusan.

“Taehyung-a..”

Taehyung tampak mendekat dan turut duduk di samping Jiyeon. Namja itu mengerutkan keningnya saat melihat kondisi Jiyeon yang tak bersemangat.

Mwoya? Neon gwaenchanha? Geuge— di mana Sejung? Bukankah tadi dia bersamamu?”

“Sejung— dia kembali ke asrama lebih dulu..”

Wae? Apa terjadi sesuatu? Kau— apa yang sedang kau lakukan di sini? Kenapa tidak masuk ke asrama?”

Jiyeon tak segera menjawab. Untuk ke sekian kalinya yeoja itu mendesah panjang. Tampak sekali wajahnya yang begitu penat. Kepalanya bahkan sudah mulai terasa begitu berat.

“Taehyung-a, aku— aku lelah sekali. Nan— nan molla..”

Geogjeongma, kau bisa menceritakannya padaku. Percayalah aku pasti akan membantumu.”

Jiyeon menggeleng pelan. Ia menoleh dan menatap Taehyung. Kim Taehyung. Jiyeon bahkan baru ingat kalau namja yang kini duduk di sampingnya ini juga pernah sekali mengungkapkan perasaannya kepadanya. Lagi-lagi Jiyeon mendesah, lalu kembali menatap ke depan.

“Aku tidak tahu kenapa hidupku seperti ini. Kau— bahkan kau juga turut andil dalam semua ini..” ucapnya tanpa sadar, membuat Taehyung mengerutkan kening tak mengerti.

M-museun suriya?” tanyanya.

“Taehyung-a, kenapa? Kenapa kau menyukaiku?”

Deg!

Taehyung tertegun mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jiyeon padanya itu. Terus terang, ia mengerti jika saat itu Jiyeon tampak sangat kelelahan sehingga ucapannya terdengar seperti sedikit melantur begitu. Namja itu tak berniat menjawab, karena ia yakin Jiyeon mengatakannya dengan setengah sadar. Namun yeoja itu rupanya tak juga berhenti bicara.

“Aku bahkan tidak istimewa sama sekali. Aku hanya seorang yeoja biasa yang selalu bermasalah. Tapi kenapa kau menyukaiku? Kuharap ini semua hanya mimpi. Aku— aku benar-benar lelah.”

Taehyung terkejut saat tiba-tiba Jiyeon membaringkan tubuhnya begitu saja di atas bangku panjang tersebut dan menggunakan pangkuannya sebagai alas kepalanya.

“J-Jiyeon-a..”

“Biarkan aku tidur sebentar. Aku lelah sekali.. Aku lelah memikirkan semuanya. Eomma.. Appa.. Dan juga— semuanya. Aku lelah—”

Selanjutnya tak terdengar lagi suara rancauan Jiyeon karena rupanya yeoja itu langsung tertidur begitu saja. Taehyung yang belum sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi itu hanya terdiam menatap Jiyeon yang telah terlelap di atas pangkuannya. Namun beberapa saat kemudian namja itu tersenyum. Tangannya bergerak mengusap lembut rambut Jiyeon.

Nado molla. Aku tidak tahu kenapa aku begitu menyukaimu. Perasaan itu— ia muncul begitu saja entah sejak kapan. Jiyeon-a, mianhae.. Mungkin kau benar. Karena perasaanku ini, kau jadi merasa tidak nyaman. Keunde aku— sama sekali tak bisa menyembunyikannya lebih lama lagi.”

Taehyung mengusap wajah Jiyeon dengan lembut, sedikit menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya. Lalu secara perlahan namun pasti, namja itu menurunkan sedikit badannya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Jiyeon.

Chup~

Namja itu mengecup bibir Jiyeon yang tertidur itu dengan lembut dan hati-hati agar yeoja itu tak terusik oleh perbuatannya. Namun tanpa dugaan, entah sadar entah tidak, yeoja itu justru membalas kecupan Taehyung, membuat namja itu terkejut namun merasa senang dan semakin memperdalam ciumannya.

 Namun tanpa dugaan, entah sadar entah tidak, yeoja itu justru membalas kecupan Taehyung, membuat namja itu terkejut namun merasa senang dan semakin memperdalam ciumannya

Saranghae, Jiyeon-a..” bisik Taehyung begitu ia melepaskan tautan bibir mereka. Lalu ia pun mengecup puncak kepala Jiyeon dan mengelus kembali rambut yeoja tersebut.

*

*

Soeun terlihat frustasi malam itu. ia benar-benar bingung harus melakukan apa. Berkali-kali yeoja itu melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 19.32 KST.

Eottokhaji? Sebentar lagi pukul delapan. Eottokhae? Aish! Kenapa aku jadi segugup ini? apa yang akan kukatakan pada Yuto nanti?”

Drrtt! Drrt! Drrtt!

Yeoja itu sedikit tersentak saat merasakan ponsel miliknya bergetar. Panggilan dari Kimbum. Dengan cepat Soeun mengangkatnya.

“Kimbum-a, eottokhaji? Aku gugup sekali!”

[“Yaa, yaa! Tenanglah. Kenapa kau berlebihan begitu? Kau tinggal mengatakan kalau kau tidak bisa menerima cintanya karena tidak menyukainya. Begitu saja apa susahnya?”]

Aish! Kau tidak mengerti. Bagaimanapun juga ini pertama kalinya bagiku..”

[“Na arra.. Itulah kenapa aku akan menemanimu. Geogjeongma.. Semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku.”]

Ck! Molla.. Cepatlah kemari. Setidaknya aku tidak kebingungan seorang diri kalau ada kau di sini.”

[“Aish, arrasseo arrasseo. Aku segera kesana.”]

Bip.

Soeun mendesah panjang. Ia benar-benar gugup setengah mati. Tak bisa ia bayangkan bagaimana wajah Yuto nanti begitu ia mengatakan bahwa ia menolak cinta namja tersebut.

Aigoo.. Bagaimana kalau tiba-tiba ia marah? Ck. Aku benar-benar frustasi.” Soeun terus saja bergumam tak jelas.

Di saat ia tengah kebingungan, tiba-tba saja kedua telinganya mendengar suara aneh dari arah kamar Myungsoo yang terletak di seberang kamarnya.

Oppa..” Soeun segera keluar dari kamarnya dan menuju kamar Myungsoo.

Yeoja itu kembali dibuat terkejut begitu melihat keadaan Myungsoo yang tampak memprihatinkan. Namja itu terlihat kacau dengan posisinya yang tengkurap tak beraturan sambil bergumam tak jelas.

Soeun pun mendekat dan mencoba membangunkan Oppanya itu.

Oppa.. Gwaenchanha? Opp— ohmo! Oppa badanmu panas sekali! Apa kau demam? Aish! Sungguh merepotkan.” Soeun segera pergi ke belakang untuk mengambil air es untuk mengompress badan Myungsoo.

Dengan dibantu oleh seorang pelayan, Soeun membalikkan tubuh Myungsoo sehingga posisinya berubah menjadi terlentang.

Ahjumma, tolong panggilkan dokter. Sepertinya Oppa demam karena baru saja kehujanan. Aku tahu dia amat sensitif dengan air hujan.” ucap Soeun.

Nde, Agasshi..”

Begitu pelayan tersebut keluar untuk memanggil dokter, Soeun meletakkan kompres di dahi Myungsoo. Yeoja itu mendesah pelan melihat kondisi Oppanya itu.

“Sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu? Kenapa harus sakit sekarang? Aish, eottokhaji? Sebentar lagi pukul delapan.” keluh Soeun frustasi.

Eungh..” Myungsoo terdengar melenguh pelan.

Bibirnya yang pucat terlihat menggumamkan sesuatu.

W-wae? Oppa kau ingin mengatakan sesuatu?” karena tak bisa mendengar dengan jelas, Soeun pun mendekatkan telinganya pada mulut Myungsoo.

“..P-Park— Ji-yeon..”

Soeun kembali tertegun mendengarnya. Lagi-lagi Myungsoo menggumamkan nama Jiyeon. yeoja itu kembali mendesah kecil.

“Sepertinya kau ingin sekali bertemu dengan Jiyeon eonnie. Keunde bagaimana aku menghubunginya? Aku bahkan tidak tahu nomornya.”

Soeun sempat putus asa, namun ia terlonjak begitu melihat ponsel milik Myungsoo yang tergeletak di atas nakas kecil di samping tempat tidur namja itu. dengan cepat yeoja itu pun mulai menjelajahi ponsel tersebut untuk mencari kontak Jiyeon.

“Tidak ada nama Park jiyeon di sini. Apa dia juga tidak menyimpan nomornya? Keunde mustahil kalau Oppa tidak punya nomornya. Eoh! Jamkanman! Ige mwoya? My Future Princess? Apa mungkin ini kontak Jiyeon eonnie? Heol! Kenapa Oppa menamainya seperti itu? Menggelikan.”

Akhirnya Soeun pun benar-benar menghubungi nomor kontak tersebut. Cukup lama tak terdengar respon apapun, hingga akhirnya seseorang mengangkat panggilannya.

[“Yeobeoseyo?”]

Soeun sedikit mengerutkan keningnya pertanda heran bergitu mendengarnya.

Mwoya? suara namja?’ pikirnya.

Geuge— Jiyeon eonnie, apa benar ini nomornya?”

[“Eoh.. Matjayo. Keunde, nuguya?”]

*

*

Taehyung terlihat sedikit meregangkan tubuhnya. Sudah hampir dua jam ia duduk di sana dengan Jiyeon yang masih terlelap di atas pangkuannya. Sebenarnya namja itu mulai merasa pegal, namun ia sama sekali tak ingin membangunkan Jiyeon yang tampak kelelahan itu. lagipula ia sama sekali tidak merasa keberatan asalkan itu untuk Jiyeon. namja itu jsutru tak ada bosannya terus memandangi wajah Jiyeon yang tertidur pulas. Begitu polos dan menggemaskan. Namun semua keasyikannya itu terusik oleh suara ponsel milik Jiyeon yang bergetar di balik saku kemejanya.

Awalnya Taehyung tak berniat mempedulikannya, akan tetapi ponsel itu terus saja bergetar. Sebenarnya namja itu sedikit heran bagaimana mungkin Jiyeon tidak terusik oleh getaran ponsel tersebut. Apa mungkin karena terlalu lelah sampai-sampai ia tak merasakan sama sekali getaran ponsel miliknya itu.

Drrrtt! Drrrt!! Drrtt!

Untuk yang ke sekian kalinya ponsel milik Jiyeon terus bergetar. Karena penasaran sekaligus khawatir itu panggilan dari seseorang yang penting, akhirnya Taehyung memutuskan untuk mengambil ponsel tersebut dari balik saku kemeja milik Jiyeon.

Gulp.

Namja itu menelan salivanya sejenak saat tangannya sehati-hati mungkin mengambil ponsel tersebut dari balik saku kemeja Jiyeon. Ia bahkan sedikit memejamkan mata begitu tangannya mulai menyentuh ponsel tersebut, takut salah pegang. Akhirnya setelah berjuang cukup keras, ia pun menghembuskan napas lega begitu ponsel milik Jiyeon sudah berada dalam genggamannya.

Namun ekspresinya berubah begitu melihat ID caller di layar ponsel milik Jiyeon tersebut.

My Future Prince?” gumamnya pelan.

Entah kenapa perasaan tak enak mendadak menyelinap ke dalam hatinya. Dengan setengah ragu ia pun mengangkat panggilan tersebut.

Yeobeoseyo..”

Tak segera terdengar sahutan. Namun dahi Taehyung semakin mengerut saat mendengar sahutan dari seberang.

[“Geuge— Jiyeon eonnie, apa benar ini nomornya?”]

Suara yeoja?’ pikir Taehyung heran.

Eoh.. Matjayo. Keunde— Nuguya?” tanyanya kemudian.

[“Ah, geuge— bisakah aku bicara dengan Jiyeon eonnie sebentar. Ini— penting.”]

Mian. Keunde saat ini Jiyeon tidak bisa—”

Eungh.. Tae-Taehyung-a?”

Ucapan Taehyung terhenti saat tiba-tiba saja Jiyeon terbangun dari tidurnya dan memberikan tatapan terkejut sekaligus penuh tanda tanya padanya.

Aaahh..” Jiyeon refleks bangkit dari tidurnya begitu menyadari dirinya yang semula tidur di pangkuan Taehyung.

Taehyung sedikit terlonjak karena terkejut mendengar pekikan kecil Jiyeon itu. “J-Jiyeon-a, tenanglah.” katanya gugup.

“K-kenapa aku— bisa tidur di pangkuanmu? S-sejak kapan?”

A-ahh.. Geuge— kau sendiri yang bilang ingin tidur sebentar. Jadi— aku membiarkannya saja.”

M-mwo? J-jinjja?”

Eo-eoh..”

Jiyeon masih belum sepenuhnya percaya dan mencoba mengingat-ingat kembali kejadian beberapa saat yang lalu. Melihat Jiyeon yang terdiam, Taehyung segera menyerahkan ponselnya.

“Ada yang meneleponmu. Mian, aku sudah lancang mengangkatnya.”

N-nugu?”

Taehyung hanya menggeleng sebagai jawaban. Dengan sedikit ragu Jiyeon pun mengambil alih ponsel miliknya.

Y-yeobeseyo..”

[“Ah, Jiyeon eonnie, ini aku, Soeun.”]

“Soeun?”

[“Geurae, Kim Soeun, adik Myungsoo Oppa.”]

A-ahh.. Soeun-a, wae geurae? kenapa tiba-tiba menghubungiku?”

[“Eonnie, aku butuh bantuanmu. Bisakah eonnie datang ke rumah sekarang?”]

“M-mwo? Ke rumahmu? Keunde wae?”

[“Myungsoo Oppa.. Dia sedang sakit dan sejak tadi terus saja mengigau menyebutkan namamu. Geuge— aku sedang ada acara sebentar lagi dan tak ada orang di rumah kecuali para pelayan. Geuraesseo, bisakah Eonnie membantuku? Lagipula sepertinya saat ini Myungsoo Oppa sedang membutuhkanmu, Eonnie..”]

“K-keunde aku—”

[“Eonnie jebal.. Myungsoo Oppa terlihat begitu menderita. Dia terus memanggil namamu..”]

Jiyeon terdiam sejenak. Sebenarnya ia juga penasaran sekaligus merasa khawatir pada Myungsoo. Apalagi saat Soeun mengatakan kalau namja itu terus menyebut namanya. Tapi jika harus pergi ke rumah itu lagi, entah kenapa rasanya sedikit berat bagi Jiyeon. Namun karena Soeun terus mendesak, akhirnya yeoja itu pun menyerah.

Arrasseo.. Aku akan kesana sekarang.”

[“Gomawo, Eonnie.. Kau benar-benar menolongku. Geurae aku akan menunggumu. Keunde bisakah Eonnie lebih cepat? Karena aku harus pergi sebentar lagi.”]

Eoh.. Akan kuusahakan.”

[“Sekali lagi, gomawo Eonnie.. Kututup teleponnya.”]

Bip.

Jiyeon mendesah begitu panggilan tersebut berakhir. Yeoja itu kembali beralih pada Taehyung yang masih berada di sampingnya. Suasana canggung seketika menyelimuti keduanya.

Geuge— mianhae, aku sama sekali tidak sadar sudah tertidur di pangkuanmu.” ucap yeoja itu sedikit canggung.

A-ahh, gwaenchanha. Keunde Jiyeon-a, apa kau— benar-benar tidak ingat ataupun sadar dengan apa yang terjadi tadi?”

M-museun suriya? Apa— tadi terjadi sesuatu?”

A-ahh, a-anni.. Anniya.. Eobseo.. Amugeotdo anniya..”

Jiyeon mengerutkan kening heran melihat sikap Taehyung yang sedikit aneh itu. Diam-diam ia mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya baru saja terjadi padanya. Hingga beberapa saat kemudian ia melotot terkejut, seperti baru saja menyadari sesuatu. Tanpa sadar ia menutup mulutnya sendiri menggunakan tangannya.

Tidak, pasti aku tadi sedang bermimpi. Aku— tidak benar-benar mencium Taehyung, matji?’ batinnya kalut.

Geuge— hari sudah malam. Sebaiknya kau masuk ke asrama. Jangan sampai kau sakit karena kedinginan. Sebentar lagi jam makan malam segera tiba. Kau pasti belum makan sejak tadi.” ucapan Taehyung itu membuyarkan pikiran Jiyeon.

Yeoja itu tersenyum canggung.

“K-kau masuk saja dulu. Aku— aku harus pergi ke suatu tempat.”

Eodie?”

Geuge— ke rumah temanku. A-aku pergi dulu. Annyeong, Taehyung-a.” Jiyeon dengan cepat beranjak dari tempat duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan Taehyung yang masih terpaku di tempatnya.

Namja itu terlihat termenung di sana dengan berbagai pikiran yang berkecamuk dalam kepalanya.

My Future Prince?”

*

*

Soeun terlonjak ketika bel pintu rumahnya berbunyi. Dengan cepat yeoja itu bangkit dari tempat duduknya dan setengah berlari menuju pintu depan. Begitu membuka pintu rumahnya, tampak seorang yeoja cantik masih dengan seragam sekolah lengkap tengah berdiri dengan sedikit canggung.

Eonnie!” Soeun memekik pelan dan refleks memeluk yeoja yang tak lain adalah Jiyeon itu.

Namun detik berikutnya yeoja itu kembali melepas pelukannya dan menatap Jiyeon penuh keheranan.

Mwoya? Eonnie apa kau baru kehujanan? Pakaianmu sedikit basah. Apa Eonnie tak sempat ganti baju? Aigoo.. Mianhae, Eonnie. Kau pasti buru-buru kemari tadi. Kkaja masuklah dulu, kau bisa memakai pakaianku.”

A-anni. Dwaesseo, nan gwaenchanha..”

Aish, andwae pokoknya Eonnie harus ganti pakaian dulu. Aku tidak mau Eonnie ikut-ikutan sakit seperti Oppa. Kkaja.”

Karena terus dipaksa, akhirnya Jiyeon pun mau tak mau mengikuti ajakan Soeun dan mengganti pakaiannya dengan pakaian milik Soeun. Tepat saat ia selesai mengganti pakaiannya, bel pintu rumah Soeun kembali berbunyi.

Ah, eonnie. Itu pasti temanku yang datang menjemputku. Mian tapi aku benar-benar harus pergi sekarang. Gwaenchanha?”

Meski sedikit ragu, namun Jiyeon tersenyum dan mengangguk, “Gwaenchana, pergilah.”

Ohmo, gomawo Eonnie, kau memang yang terbaik. Kamar Oppa ada di seberang kamarku. Kalau ada apa-apa panggil saja pelayan di rumah. Aku sudah memberitahu mereka soal kedatanganmu. Geureom, na ganda. Annyeong!” Soeun memeluk Jiyeon sekilas sebelum kemudian melesat pergi dari hadapan yeoja itu.

Jiyeon masih mematung di tempatnya beberapa saat setelah Soeun pergi. Yeoja itu kebingungan setengah mati.

Masuk kamar Kim Myungsoo? Yang benar saja? Bisa-bisa dia menelanku bulat-bulat jika tahu aku berada di kamarnya, pikirnya.

Namun di tengah-tengah kebimbangannya itu, tiba-tiba saja telinganya mendengar suara aneh dari arah kamar yang berada di depan kamar Soeun. Yeoja itu tertegun sejenak.

“Apa itu kamarnya Myungsoo sunbae?” gumamnya, lalu perlahan mendekat dan menyentuh knop pintu sedikit ragu.

Cklek!

Krieett..

Jiyeon kembali tertegun begitu melihat isi kamar Kim Myungsoo. Sangat luas dengan nuansa putih bersih yang mendominasi lengkap dengan beberapa poster idola luar negeri yang tak begitu Jiyeon kenal. Untuk sesaat Jiyeon merasa dirinya sedang berada di dalam rumah sakit karena nuansa kamar Myungsoo yang seluruhnya berwarna putih itu. Tampak olehnya Myungsoo yang terbaring di atas ranjangnya dengan sebuah kompres yang menempel di dahinya. Namja itu sesekali terdengar menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.

Dengan perlahan Jiyeon pun melangkah masuk dan mendekat ke sisi ranjang Myungsoo.

S-sunbae— M-Myungsoo-ya, gwaenchanha?” yeoja itu menyentuh dahi Myungsoo dan sedikit tersentak saat merasakan suhu badannya yang tinggi.

Aigoo.. Kenapa kau bisa jadi demam begini? Ini pasti hukuman untukmu karena selalu saja berbuat seenaknya pada orang lain. Ck, apa Soeun sudah memanggil dokter?”

Kini Jiyeon mengangkat kompres Myungsoo dan menggantinya dengan yang baru. Namun begitu tangannya bergerak hendak memasang kembali kompresnya, tiba-tiba saja Myungsoo memegangi tangannya sehingga otomatis gerakan yeoja itu terhenti.

S-sunbae—”

Kedua mata Myungsoo setengah terbuka dan menatap Jiyeon yang juga turut menatapnya dengan terkejut.

“P-Park J-Jiyeon?” Myungsoo menggumam hampir tak terdengar.

Eo-eoh.. K-kau sudah sadar? Gwaenchanhayo?” Jiyeon bertanya sehati-hati mungkin. Ia sudah was-was kalau-kalau namja itu membentaknya karena sudah lancang masuk ke dalam kamarnya.

Namun tanpa disangka-sangka, namja itu justru menarik tangan Jiyeon dengan keras sehingga tak terelakkan lagi yeoja tersebut pun jatuh di atas tubuhnya.

S-sunbae—” Jiyeon terkejut setengah mati mendapatkan perlakuan seperti itu dan berusaha melepaskan diri dari pegangan Myungsoo, akan tetapi namja itu justru membalikkan posisi mereka sehingga kini tubuh Jiyeon terkunci di bawahnya.

Jiyeon seketika cemas bercampur tak enak saat menyadari posisi mereka yang seperti itu dan berusaha melepaskan dirinya. Bagaimana kalau tiba-tiba salah seorang pelayan Myungsoo datang dan memergoki mereka? Bahkan untuk membayangkannya saja yeoja itu tak berani.

“M-Myungsoo-ya! Lepaskan. Neo michyeosseo?”

Neo— bukankah sudah kubilang, kau itu hanya milikku. Kenapa kau tak mendengarku, eoh?”

Jiyeon mengerutkan keningnya tak mengerti. Ia berpikir pasti Myungsoo sudah kehilangan separuh kesadarannya karena demamnya itu. Namun tetap saja yeoja itu tak bisa melawan ataupun mendorong tubuh Myungsoo kendati tubuhnya lemah begitu. Sungguh, Jiyeon bingung bukan main karenanya.

M-museun suriya? Myungsoo-ya, kau sedang tidak sehat. Lebih baik istirahat saja, biar aku yang mem—mphh..”

Ucapan Jiyeon seketika terhenti karena bibir Myungsoo telah mengunci bibirnya tanpa aba-aba. Yeoja itu melotot kaget dan berusaha menolaknya, namun tentu saja tenaga Myungsoo jauh lebih kuat. Namja itu terus menciumnya sedikit kasar dan menuntut. Melumat bibirnya dengan paksa dan berusaha memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut yeoja itu.

Jiyeon terus meronta mencoba melepaskan diri namun usahanya sia-sia belaka. Ia bahkan sampai mengeluarkan air mata karena takut bercampur sedih mendapatkan perlakuan Myungsoo yang selalu semena-mena terhadapnya. Barulah setelah merasa puas, Myungsoo melepaskan lumatannya. Napas keduanya nampak tersengal. Myungsoo menatap Jiyeon dengan tatapan nanar. Bibirnya yang tipis namun sedikit pucat itu mengulas senyum kecil. Entah kenapa Jiyeon melihat ada sedikit kesedihan di wajah namja tampan itu.

“Aku— sudah menghapusnya, geutji?” ucapnya dengan suaranya yang sedikit serak.

Jiyeon tak menyahut. Yeoja itu masih shock akibat perbuatan Myungsoo barusan. Ia hanya menatap Myungsoo dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara takut, sedih, heran, dan entah perasaan apa lagi yang dirasakannya saat itu.

“Ciuman itu— aku sudah menghapusnya. Geuraesseo.. Jangan pernah lagi menerima ciuman dari namja lain, arra?”

Jiyeon tertegun mendengarnya.

Apa maksudnya? Myungsoo— apa ia tahu soal kejadian saat aku bersama Jungkook tadi?’ pikir Jiyeon tak mengerti.

Namun belum sempat ia mengatakan apapun, Myungsoo kembali mendaratkan ciumannya intens. Kali ini secara perlahan, namja itu memberikan beberapa lumatan kecil di bibirnya dengan lembut. Tak ada lagi paksaan seperti tadi, begitu lembut dan dalam hingga membuat Jiyeon tak kuasa menolaknya.

Jiyeon masih belum bisa berpikir dengan jernih, apakah yang dilakukannya ini sudah benar atau salah

Jiyeon masih belum bisa berpikir dengan jernih, apakah yang dilakukannya ini sudah benar atau salah. Yang jelas, semua ketakutannya beberapa saat yang lalu berangsur hilang digantikan dengan perasaan menghangat entah kenapa. Yeoja itu bahkan masih diam ketika ciuman Myungsoo bergerak turun ke lehernya. Yeoja itu bisa merasakan tubuh Myungsoo yang panas akibat demamnya itu. Namun tak lama ciuman itu berlangsung, tiba-tiba Jiyeon merasakan pegangan dan gerakan Myungsoo melemah, hingga detik berikutnya tubuh namja itu ambruk di atas tubuhnya.

Myungsoo jatuh tertidur.

Menyadari hal itu, Jiyeon seketika tersadar dan mencoba memindahkan tubuh Myungsoo dari atas tubuhnya itu ke samping. Begitu berhasil menggeser tubuh Myungsoo, Jiyeon pun segera bangkit dari tempat tidur. Yeoja itu merasa seperti baru saja menempuh perjalanan yang amat jauh. Napasnya sedikit tersengal. Jantungnya berdetak kencang. Berkali-kali ia memegangi dadanya seraya menggigit bibirnya dengan perasaan kalut. Wajahnya terasa panas. Bahkan seluruh tubuhnya merasa kepanasan. Sungguh. Itu adalah pengalaman yang menegangkan sekaligus mendebarkan baginya. Bahkan jauh lebih menegangkan daripada saat ia naik rollercoaster sebulan yang lalu.

M-michyeosseo! Nan michyeosseo!” gumamnya berkali-kali.

*

*

Sementara itu di jalan, Soeun tak henti-hentinya mengatakan hal yang sama sepanjang perjalanan. Kimbum yang menyetir di sampingnya itu jadi sedikit merasa terganggu karenanya.

Yaa, berhentilah bicara. Kau membuatku kehilangan konsentrasiku menyetir. Apa kau ingin kita berakhir menabrak di jalan nanti, eoh?” ucap namja itu sedikit kesal.

Aish! Kau tidak tahu perasaanku tentu saja kau tak mengerti. Aku takut Yuto marah saat aku menolaknya nanti. Ck, bahkan belum apa-apa tapi aku sudah merasa bersalah duluan.”

“Kalau merasa bersalah, kenapa tidak kau terima saja cintanya kalau begitu?”

Soeun terdiam seolah berpikir sejenak mendengarnya. “Ah, benar juga. Apa sebaiknya aku terima saja cintanya. Jadi aku takkan merasa bersalah lagi. Lagipula bukankah aku bisa belajar mencintainya seiring berjalannya waktu..”

Kimbum melotot terkejut mendengarnya. “Yaa! Yaa! Michyeosseo??” semburnya cepat.

Wae? Bukankah kau sendiri yang bilang begitu? Kenapa sekarang justru kau marah padaku?”

Aish! Sudahlah, pokoknya tetap pada rencana semula saja. Yaa, aku bahkan sudah berbaik hati mengantarkanmu.”

Mwoya? Aku tidak menyuruhmu, kau sendiri yang ingin mengantarku.”

Arrasseo, arrasseo kalau begitu bicaralah sesuka hatimu sampai kita tiba nanti. Aku tidak akan melarang ataupun memprotesmu lagi.”

Soeun mendengus mendengarnya, namun ia tak menyahut lagi dan memilih untuk fokus ke depan saja. Meski begitu tetap saja hatinya amat gelisah.

Mobil milik Kimbum berhenti tepat di depan sebuah bangunan cukup megah bertuliskan Penta Café di depannya. Soeun sempat mengambil napas dalam-dalam sebelum ia keluar dari mobil.

“Lakukanlah dengan cepat setelah itu langsung keluar. Aku akan menunggumu di sini. Kalau ada masalah segera hubungi aku, arrasseo?” ucap Kimbum mewanti-wanti.

Soeun hanya mendengus sebagai jawaban, membuat namja itu sedikit kesal karenanya. Namun ia tak melakukan apapun kecuali diam menatap punggung Soeun yang sudah bergerak menjauhinya.

Kedua mata Soeun mulai menjelajahi seluruh isi ruangan dalam café tersebut untuk menemukan sosok Yuto, namun ia tak bisa menemukan sosok namja itu di manapun. Sejenak yeoja itu melihat jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 20.20 KST.

Ck, di mana dia? Apa masih belum tiba? Keunde rasanya tidak mungkin. Apa jangan-jangan dia merasa terlalu lama menunggu dan akhirnya kembali pulang? Tapi bukankah aku hanya terlambat 20 menit? Mustahil kalau ia merasa itu terlalu lama.” gumamnya seorang diri.

Yeoja itu terus menyapu seluruh ruangan tersebut akan tetapi hasilnya tetap sama.

Aish, kemana sebenarnya namja itu? Apa dia sengaja mempermainkanku? Ck, sebaiknya kutelepon saja.”

Soeun baru saja mengambil ponselnya dan hendak menghubungi Yuto, namun gerakannya terhenti karena tiba-tiba saja seseorang menyentuh tangannya dari belakang. Dengan gerakan cepat Soeun pun menoleh dan seketika terkejut saat mendapati seorang namja bertubuh tinggi sudah berdiri di belakangnya sembari tersenyum manis.

“Y-Yuto-ya?”

Mian, apa kau sudah menunggu lama?”

Soeun tak segera menjawab. Seperti biasa, Yuto selalu memakai hoodie kemanapun ia pergi. Bahkan ia menaikkan hoodienya di kepala saat itu. Soeun sempat memprotes dalam hati melihatnya.

Bukankah setidaknya ia mengenakan pakaian yang lebih baik daripada ini? aku jadi semakin ragu kalau dia benar-benar ingin berkencan denganku,’ batin yeoja itu.

“A-anni. Aku baru sampai.” sahutnya kemudian.

Yuto kembali tersenyum, lalu meraih sebelah tangan Soeun. “Kkaja.”

Soeun hanya diam menurut ajakan namja itu dan berjalan menuju salah satu meja yang masih kosong. Setelah memesan minuman dan salah satu menu di cafe tersebut, keduanya terdiam sejenak. Soeun sudah merasa gelisah sejak tadi, berusaha menemukan kalimat yang tepat dan tidak terlalu menyakitkan. Berkali-kali ia menggeser posisi duduknya dengan tidak nyaman. Yuto tahu semua itu, namun namja itu hanya diam tak berkomentar apapun.

Aish suasana macam apa ini? canggung sekali.. Ck. Eottokhaji?’ batin Soeun tak nyaman.

“.. lakukanlah dengan cepat setelah itu langsung keluar. Aku akan menunggumu di sini..” ucapan Kimbum beberapa saat yang lalu itu kembali terngiang di telinganya.

Yeoja itu pun mulai menarik napas sejenak, mengambil ancang-ancang dan berusaha sebaik mungkin mempersiapkan dirinya.

Geuge— Yuto-ya, aku—”

Ah, Soeun-a, aku ingin ke belakang sebentar. Gidaryeo, eoh?”

Soeun terpaksa mengangguk mengiyakan, lalu membiarkan Yuto yang beranjak pergi meninggalkannya. Yeoja itu kembali menarik napas dalam-dalam. Ia sedikit kecewa karena rencananya tidak berjalan mulus seperti yang dibayangkannya.

Lima menit berlalu dan Yuto masih belum kembali. Hal itu membuat Soeun semakin gelisah. Ia baru saja hendak menghubungi Kimbum untuk menceritakan kondisi saat itu, namun tiba-tiba saja ia mendengar sesuatu yang refleks membuatnya tertarik.

“.. benarkah aku bisa mendapatkan Myungsoo Oppa sepenuhnya? Keunde bagaimana caranya?”

Soeun mengerutkan kening mendengarnya. Myungsoo Oppa? Yeoja itu sempat terkejut namun beberapa saat kemudian ia mulai menepis keheranannya itu karena ia tahu nama Myungsoo di Korea bukan hanya satu. Namun entah kenapa Soeun mulai tertarik ingin mendengar lebih lanjut pembicaraan seseorang yang duduk tepat tak jauh di belakangnya itu.

“..kau tidak perlu tahu. Bukankah yang paling penting Myungsoo bisa jadi milikmu sepenuhnya, hm?”

Deg!

Tunggu dulu. Suara ini, Soeun merasa tak asing mendengarnya.

Keunde— sebagai imbalannya, kau harus melakukan sesuatu untukku.”

Mwondeyo?”

Singkirkan namja yang bernama Jeon Jungkook.”

Deg!

Sekali lagi Soeun tercekat mendengarnya. Kali ini ia tak mungkin salah. Suara ini, ia benar-beanr mengenalnya.

Eomma?”

*

*

To be continued..

Annyeong..

Mian yaa, aku selalu lupa apdet di sini juga tiap kali apdet di wattpad. jadi harap maklum. Lagian aku sedih di sini banyak sidersnya. Yasih aku tetep gamau maksain, tapi ya amanya juga manusia biasa kan, taulah maksudku, hmmm

tapi tenang aja, insya Allah aku bakalan tetep apdet lanjutannya di sini juga kok jadi buat para siders ga perlu takut ga bisa baca. Ceilah kaya cerita gw bagus aja, haha

oke sampai jumpa di part selanjutnya, sekali lagi makasih buat yang udah ninggalin jejaknya yaaaa.. Annyeong! ^^

| TEASER | PART 1 | PART 2 | PART 3 | PART 4 | PART 5 | PART 6 | PART 7 |PART 8  | PART 9|

Advertisements

2 responses to “[CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 9

  1. Ibunya myungsoo jahat amat, bahkan tega ngebunuh adik ipar’a sndiri, yaelah Kebiasan ni jiyeon, ga bisa apa jika cuma satu? repotkan jadi’a, tp mskipun bgtu, myungyeon slalu yg trdepan😁😉

  2. Ckckckckck dapat 1 dapat semua
    Entah jiyeon milih siapa???ke tiga nya sama2 pnya peluang haha jd bingung pilih yg mana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s