[CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 8

wattpad

| TEASER | PART 1 | PART 2 | PART 3 | PART 4 | PART 5 | PART 6 | PART 7 |PART 8 |

Author’s POV

Ketiga namja tersangka yang ketahuan menyelinap ke dalam asrama yeoja itu terlihat berdiri sejajar dengan kepala sedikit tertunduk, berusaha menghindari kontak mata dengan Jung Eunji yang tampak menatap mereka secara bergantian dengan tatapan yang bahkan seorang Kim Myungsoo pun merasa sulit meneguk salivanya sendiri. Sungguh, ia tak menyangka jika penyelinapannya akan diketahui oleh Eunji. Diam-diam ia melirik ke arah namja berhoodie merah di samping kirinya itu. Kim Taehyung, pasti namja itu yang sudah mengacaukan semua rencananya. Namun Myungsoo hanya mampu menyimpan kekesalannya dalam hati dan diam di tempatnya dengan pasrah.

Sementara Jungkook yang kini berdiri dengan kepala tertunduk di sebelah kanan Myungsoo itu sudah tak berniat mengatakan apapun sejak awal. Ia memang sudah menyadari dan menduga kalau hal ini akan terjadi. Bagaimanapun juga ia tahu kalau perbuatannya kali ini tidak benar. Kalau bukan karena mengkhawatirkan keadaan Jiyeon, tentu namja itu takkan mungkin nekat menyelinap masuk kedalam asrama yeoja. Namun nasi sudah menjadi bubur. Namja itu kini hanya bisa pasrah menanti hukuman yang akan diberikan padanya.

Lain halnya dengan Myungsoo dan Jungkook. Taehyung justru lebih mnegkhawatirkan Sejung sekarang. Ia khawatir yeoja itu akan semakin marah padanya. Masalah kabur dari rumah sakit sebelum waktunya itu saja sudah sempat membuatnya frustasi setengah mati, dan kini ditambah dengan penyelinapannya yang ketahuan sekaligus hukuman yang akan diterimanya. Sungguh ia tak bisa membayangkan bagaimana panjangnya ceramah yang akan didengarnya dari Sejung nantinya.

Entah sadar entah tidak, ketiga namja itu menghela napas dalam tempo yang bersamaan.

Melihat ketiga namja di depannya yang tengah tertunduk seakan menyesali perbuatannya itu, Jung Eunji turut menghembuskan napas panjang. Sebenarnya ia tahu alasan kenapa ketiga namja itu sampai berani menyelinap masuk ke dalam asrama yeoja seperti itu. Bahkan ia baru sadar bahwa beberapa saat yang lalu dirinya sudah tertipu mentah-mentah oleh si polos Jungkook yang berpura-pura meminta bantuannya. Dan tanpa bertanya pun ia juga mengerti alasan kenapa system komputernya mendadak error, mengingat siapa di antara ketiga namja itu yang lebih berpeluang melakukannya. Kim Myungsoo, tentu saja namja itu yang memiliki peluang paling besar untuk melakukannya. Eunji memijit pelipisnya sejenak. Ia sudah terlalu malas memikirkan hukuman seperti apa yang pantas diberikan pada murid bermasalah seperti mereka.

Ck, kalian tentukan saja hukuman kalian sendiri.”

Ucapan yeoja itu sontak membuat ketiga namja bermasalah itu mengangkat kepala mereka serempak.

N-nde? Menentukan hukuman sendiri?” ulang Taehyung tak mengerti.

Geurae. Bukankah itu bagus? Kalian bisa menentukan sendiri hukuman yang pernah kuberikan pada murid-murid lain yang menurut kalian cocok dengan kalian.”

Untuk sejenak ketiga namja itu saling berpandangan. Kim Myungsoo, ia bingung memikirkan hukuman apa yang sebaiknya dipilihnya, mengingat hukuman yang pernah diberikan Eunji pada murid-murid bermasalah lain sebelumnya itu cenderung merepotkan dan memalukan. Dari hukuman yang biasa seperti mencuci semua pakaian murid-murid asrama di laundry setiap pagi selama satu bulan, atau membersihkan dan mengepel lantai seluruh koridor asrama yang gedungnya mencapai tiga lantai selama sebulan, hingga hukuman luar biasa seperti mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar asrama tanpa menggunakan alat apapun selama satu bulan, menyanyi dengan melakukan gerakan senam di depan asrama setiap pagi selama satu bulan, dan menjadi pengamen dari rumah ke rumah dengan video sebagai buktinya selama satu bulan pula, tentu saja semua itu sama sekali tak ada yang menguntungkan baginya. Namja itu benar-benar frustasi dibuatnya.

Sementara Taehyung, meskipun ia tak begitu masalah dengan hukuman-hukuman yang pernah terjadi sebelumnya itu, bukan berarti ia menyukainya. Namja itu lebih suka dihukum mengerjakan semua soal mata pelajaran entah berapapun itu jumlahnya daripada mengerjakan pekerjaan melelahkan seperti itu. Namja itu turut frustasi sama halnya dengan Myungsoo.

Lalu bagaimana dengan Jeon Jungkook? mengingat dia adalah murid pindahan di Kingo, tentu saja ia tidak tahu menahu mengenai hukuman-hukuman yang pernah terjadi sebelumnya. Namja itu berpikir kalau hukumannya mungkin hanya sekedar membersihkan asrama atau semacamnya. Dan ia merasa tidak keberatan jika hanya sebatas itu.

Di saat ketiga namja itu masih asyik dengan pikiran mereka masing-masing, tiba-tiba saja terdengar suara gaduh berasal dari luar kamar Jung Eunji. Dan dalam hitungan detik, muncullah dua orang yeoja yang mereka kenal tampak berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit tersengal.

“Park Jiyeon, Kim Sejung, apa yang sedang kalian lakukan di sini?” tegur Eunji merasa heran sekaligus agak marah saat melihat kedua yeoja itu masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Jeoseonghamnida, seonsaengnim. Kami datang kemari bermaksud memohon pada Seonsaengnim untuk tidak memberikan hukuman pada mereka. Geuge— mereka sebenarnya tidak bersalah. Mereka hanya bermaksud ingin menjenguk dan mengkhawatirkan keadaan saya. Saya mohon, pertimbangkanlah terlebih dahulu. Ini semua terjadi bukan karena mereka sengaja ingin melanggar peraturan asrama. Jebal, seonsaengnim. Percayalah pada saya..” ucap jiyeon panjang lebar seraya membungkukkan badannya, membuat ketiga namja yang mendengarnya itu merasa tersentuh karenanya. Dan perasaan mereka terhadap yeoja itu kian bertambah besar setelah melihat hal itu.

“Park Jiyeon. Kau tidak perlu memberitahuku karena aku sudah tahu alasan mereka. Keunde— peraturan tetaplah peraturan. Dan siapapun yang melanggarnya mau dia sengaja atau tidak, ia tetap akan mendapatkan hukuman. Jadi itu pun berlaku pada ketiga namja ini.”

Jawaban Eunji itu seketika membuat kelima bocah itu memasang wajah kecewa.

Seonsaengnim—”

“Aku sudah membuat keputusan jadi tidak ada gunanya lagi kalian memohon padaku. Kembalilah ke kamar kalian.”

Jiyeon dan Sejung benar-benar kecewa mendengar ucapan Eunji itu. keduanya menatap kearah ketiga namja itu dengan tatapan iba sekaligus menyesal karena tak bisa melakukan apapun untuk membantu mereka. Namun di tengah-tengah kediaman mereka dalam pikiran masing-masing, terjadilah sesuatu yang tak terduga bahkan mungkin akan menjadi moment tak terlupakan dalam sejarah hidup Jiyeon.

Kriiiiiiuuuuuukkkk..”

Semua mata pun seketika tertuju ke arah suara barusan. Park Jiyeon yang merasa suara tabu itu berasal dari dalam perutnya, dalam hitungan detik sudah memasang wajah merah sempurna saat itu juga. Sejak siang tadi saat ia diculik penjahat itu, Jiyeon memang belum memasukkan apapun kedalam perutnya. Dan lagi sekarang sudah hampir pukul 10 malam. Tidak heran kalau ia merasa lapar saat itu. sungguh ingin sekali ia berlari dan pergi dari sana saat itu juga. Atau kalau bisa terbang ke langit tingkat sembilan untuk menyembunyikan raut wajahnya yang entah sudah berbentuk seperti apa saat itu. ia bahkan sama sekali tak berani melihat ke arah ketiga namja yang ia yakini bahkan seribu persen sudah menahan tawa geli karena suara perutnya itu. Bahkan Eunji sendiri pun tak tahan untuk menyembunyikan senyum gelinya, namun lain halnya dengan Sejung. Ia bisa mengerti bagaimana perasaan sahabatnya saat itu. namun tak ada yang bisa dilakukannya untuk menyelamatkannya kecuali terdiam dalam rasa ibanya.

“Sepertinya kau sudah melewatkan makan malammu. Pergilah ke dapur asrama dan minta pada Ahn Ahjumma agar membuatkan makan malam untukmu.”

Tanpa disuruh untuk yang kedua kalinya, Jiyeon segera membungkukkan setengah badannya mengiyakan ucapan Eunji.

“S-saya permisi dulu, Seonsaengnim.” ucapnya, lalu dengan cepat membalikkan tubuhnya dan bergegas menarik tangan Sejung keluar dari kamar Eunji.

Sepeninggal kedua yeoja itu, Eunji termenung sejenak. Entah kenapa di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja ia mendapatkan suatu pencerahan.

“Ngomong-ngomong, aku sudah tahu hukuman yang pantas untuk kalian.” ucapnya kemudian, membuat ketiga namja itu lagi-lagi saling berpandangan.

Keunde bukankah seonsaengnim bilang kami sendiri yang akan menentukan hukumannya?” dan lagi-lagi Taehyung lah yang mewakili mereka untuk bertanya.

“Aku menarik ucapanku. Dan keputusanku tak bisa diganggu gugat oleh siapapun.”

G-geuraesseo.. Hukuman apa yang akan kami terima?” kali ini Jungkook yang bertanya.

Eunji mengulas senyuman di bibirnya sejenak sebelum kemudian menjawab pertanyaan itu.

“Kalian bertiga— akan menggantikan para koki di dapur asrama dan bertugas membuat makan malam untuk seluruh murid Kingo. Dan sebagai bahan pertimbangan karena Jiyeon dan Sejung datang memohon untuk memaafkan kalian, maka hukuman kalian hanya akan berlangsung selama selama tiga minggu.”

Ketiga namja itu serempak membelalak lebar mendengarnya.

MWO??”

Seonsaengnim. Lebih baik saya dihukum membersihkan lantai gedung saja daripada memasak—”

“Kim Myungsoo, apa kau tidak mendengar ucapanku tadi? Keputusan yang sudah kubuat, tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Sekalipun itu kau, anak pemilik Kingo.”

Myungsoo langsung terdiam dibuatnya. Wajahnya pucat pasi. Seumur-umur, namja itu selalu dilayani oleh pelayan dan sama sekali tak pernah masuk ke dalam dapur apalagi memasak. Tapi kali ini, ia justru dihukum harus memasak? Karma macam apa ini?

Keunde seonsaengnim, saya tidak pandai memasak—” sama halnya dengan Myungsoo, Taehyung pun merasa keberatan dengan keputusan Eunji itu. namja itu memang tidak pernah dilayani oleh pelayan seperti Myungsoo, namun selama ini ia selalu makan makanan yang berada di kantin sekolah ataupun yang berasal dari dapur asrama. Ia sama sekali belum pernah mencoba memasak sendiri.

“Tidak ada bantahan lagi. Atau kalian ingin masa hukuman kalian ditambah? Baiklah kalau begitu hukuman kalian akan ditambah menjadi—”

ANDWAE!! SEONSAENGNIM KAMI MENERIMANYA!” Myungsoo dan Taehyung serempak berseru memotong ucapan Eunji sebelum yeoja itu sempat menyelesaikan kalimat seramnya.

“Baguslah kalau kalian menerimanya. Ah, karena aku tidak ingin kalian membuat dapur asrama nanti hancur berantakan, jadi aku akan memberikan kalian bertiga kesempatan untuk belajar memasak selama seminggu entah bagaimana caranya. Setelah itu, kalian sudah harus benar-benar bisa memasak masakan yang layak untuk dimakan. Jika tidak, terpaksa masa hukuman kalian akan ditambah menjadi satu bulan. Algesseoyo?”

“..N-nde..” sahut ketiga namja itu dengan suara tak bersemangat, bahkan hampir tak terdengar.

Mwo? Aku tidak mendengarnya.”

Nde, Seonsaengnim. Kami mengerti.” ulang ketiga namja itu sedikit lebih keras, meski dalam hati mereka amat mendongkol.

Eunji tersenyum puas mendengarnya. Di antara ketiga namja itu, Jungkook-lah yang terlihat paling tenang. Pasalnya Abeojinya sudah lama mendirikan sebuah kedai ramen dan namja itu seringkali membantu membuat menu utama di kedai tersebut. Karena Eommanya sudah lama meninggal, dirinya-lah yang selama ini membantu Abeojinya, dengan dibantu oleh dua orang pekerja lainnya. Jadi hukuman seperti itu tidak terlalu menjadi masalah baginya. Meski begitu, ia tetap gelisah, mengingat selama ini hanya menu ramen spesial milik Abeojinya yang dibuatnya. Bagaimanapun juga ia belum pernah mencoba membuat resep selain ramen karena ia rasa menu yang lain lebih rumit cara pengolahannya. Dan kali ini, ia pun berpikir mungkin sebaiknya ia mulai belajar membuat resep menu masakan lainnya. Dan ia akan meminta bantuan Abeojinya. *note : di prolog sudah dijelaskan profesi orangtua bocah kelinci.

Dan akhirnya ketiganya pun bubar setelah Eunji menyuruh mereka kembali ke asrama namja.

*

*

Seperti biasa, jalanan kota Seoul tampak padat oleh keramaian lalu lintas sekaligus para pejalan kaki pagi itu. Di tengah hingar bingar suasana tersebut, tampak seorang namja yang mengenakan hoodie berwarna putih tengah berjalan memasuki gerbang sekolahnya. Namun langkahnya terhenti sejenak saat kedua matanya menangkap sebuah mobil limousine hitam yang cukup tak asing baginya berhenti di depan sekolah. Sesaat kemudian seorang yeoja dengan rambut yang terikat ke belakang tampak keluar dari dalam mobil tersebut dan melambai kecil pada seseorang yang masih berada di dalam sana. Namja hoodie itu sempat melihatnya. Yeoja paruh baya berambut pendek itu, ia masih sempat melihat senyum yang menurutnya begitu mengerikan. Hingga saat mobil itu berlalu dari hadapannya, namja itu masih terpaku di tempat.

Eoh! Yuto-ya! Annyeong!”

Karena terlalu asyik dengan pikirannya, namja bernama Yuto itu sedikit tersentak dan menoleh mendengarnya.

Ia melihat yeoja yang baru datang itu kini sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum manis.

Eoh, Annyeong, Soeun-a.” balasnya kemudian.

“Sedang menunggu seseorang?”

Eoh.. Aku— aku sedang menunggumu.”

M-mwo? Menungguku? Keunde wae?”

“Kenapa kau begitu terkejut? Bukankah kita sekelas? Apa aneh jika aku menunggu teman sekelasku?”

Kim Soeun, putri bungsu keluarga pemilik Grup Kingo itu tak segera menjawab. Ia merasa sedikit heran karena tidak biasanya teman sekelasnya itu menunggunya, apalagi di depan gerbang sekolah begitu. Ditambah lagi, selama ini Yuto adalah namja yang sangat tertutup dan tidak pernah bergaul dengan siapapun. Tapi saat ini, sikap namja itu terlihat aneh dan berbeda dari biasanya.

“Apa yang sedang kau pikirkan? Kkaja!”

Ucapan namja itu menyadarkan lamunan Soeun. Lalu dengan sedikit gugup ia pun mengangguk.

Eo-eohh.. Kkaja.”

Keduanya pun berjalan beriringan untuk menuju kelas mereka. Seiring mereka berjalan, Soeun tak henti-hentinya berpikir, mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi pada namja di sampingnya itu. Namun tiba-tiba saja kedua mata yeoja itu membelalak lebar.

‘Apa jangan-jangan sikap Yuto jadi aneh begini karena diam-diam dia sebenrnya menyukaiku dan berniat ingin mendekatiku? Ohmo, andwae!’

Tanpa sadar Soeun menoleh dan menatap ke arah namja yang bertubuh tinggi di sampingnya itu seolah ingin memastikan, membuat namja yang merasa diamati itu turut menoleh kearahnya.

Wae?” tanyanya dengan ekspresi bingung.

“Yuto-ya— kau— kau tidak bermaksud—”

Yuto tampak mengerutkan keningnya tak mengerti saat Soeun tak melanjutkan ucapannya itu. Namun ketika ia melihat bagaimana ekspresi wajah Soeun yang tampak merona dan sikap canggungnya itu, sekilas terlihat sebuah smirk di bibir namja tersebut.

Eoh, geurae.. Soeun-a, sebenarnya— ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.”

Soeun tak segera menjawab, namun sebentar kemudian ia pun membuka mulutnya.

“M-mwonde?” tanyanya hati-hati.

“Na— neo johahae. Soeun-a, apa kau— mau menjadi yeojachinguku?”

Blush!

Kini wajah Soeun benar-benar berubah merah sempurna. Langkah kakinya mendadak terhenti. Ia sama sekali tidak menyangka kalau tebakannya bahwa Yuto menyukainya itu benar-benar tepat. Yeoja itu tercengang sejenak karenanya. Selama ini ia tak pernah sekalipun mendapatkan pernyataan semacam itu dari namja manapun. Kim Sangbum, satu-satunya namja yang paling dekat dengannya pun tak pernah mengatakan hal seperti itu. Tapi sekarang, justru namja yang selama ini sama sekali jarang bahkan hampir tak pernah terlibat interaksi dengannya malah menyatakan hal semacam itu padanya.

M-mworago? Y-yaa, kau pasti bercanda, matji?”

Anni. Aku serius.”

Soeun seakan merasa bumi bergoyang saat itu. Yeoja itu bersusah payah meneguk salivanya dan mengatur napasnya. Bagaimanapun juga ini benar-benar pertama kali baginya.

“Tidak perlu menjawabnya sekarang. Jika kau bersedia menjadi yeojachinguku, datanglah ke Penta cafe malam ini, tepat pukul 8. Aku akan menunggumu di sana.”

Soeun masih belum menyahut. Ia berusaha mencerna semua perkataan Yuto untuknya itu. Dan belum sampai yeoja itu menjawab, Yuto sudah menyentuh dan menepuk kecil kepalanya, lalu beranjak pergi mendahuluinya.

Yeoja itu masih mematung bahkan saat punggung Yuto benar-benar menghilang dari pandangannya. Ia menggigiti kuku jari tangannya pertanda tengah gugup sekaligus bingung.

Eottokhe? Eottokhaji?” desisnya berkali-kali.

*

*

Kingo High School

Suasana dalam kelas 3-3 pagi itu terlihat lengang. Bukan karena tak ada satupun orang di dalam sana, melainkan mereka tengah asyik memperhatikan seorang namja paruh baya yang sedang menjelaskan materi pelajaran Matematika di depan. Murid-murid kelas itu memang terkenal rajin dan taat akan peraturan sekolah. Tak ada satupun dari mereka yang berani menimbulkan gaduh sedikit saja di saat Guru sedang menjelaskan materinya di depan. Tentu saja, mereka merasa takut dan segan terhadap anak pemilik sekolah tersebut yang notabenenya adalah teman sekelas mereka. Begitulah, Kim Myungsoo, anak pemilik Kingo itu memang pernah menegaskan pada mereka untuk bersikap baik saat pelajaran berlangsung, atau ia tidak ragu-ragu untuk melaporkan dan mengeluarkan jika terdapat salah seorang murid yang berani melanggarnya. Meski namja itu terkenal kasar dan suka bersikap seenaknya, namun ia adalah salah satu murid teladan di sekolah. Dan kendati tidak selalu menjadi juara, setidaknya otaknya selalu bekerja setiap kali menghadapi berbagai macam persoalan rumit.

Namun tak seperti hari-hari biasanya, namja tampan bermarga Kim itu kini terlihat sangat frustasi. Bukan karena memikirkan persoalan yang tertulis di papan tulis, melainkan ingatannya masih tertuju pada kejadian semalam, saat ia dan kedua namja lainnya menerobos masuk ke dalam asrama yeoja. Ia benar-benar sama sekali tak bisa menemukan jalan keluar. Hukuman yang diberikan oleh Jung Eunji benar-benar di luar dugaannya. Namja itu benar-benar frustasi tingkat tinggi saat itu.

Aish! Bagaimana mungkin aku memasak? Sial. Kenapa nasibku bisa seburuk ini?” gumam namja itu berkali-kali.

Ia bertanya-tanya dalam hati apa jadinya nanti jika ia harus memasak bersama dua namja itu di dapur asrama? Lagipula bagaimana nanti anggapan para murid Kingo saat melihat seorang Kim Myungsoo dihukum memasak di dapur asrama? Aigoo, hanya membayangkannya saja namja itu sudah frustasi setengah mati. Apa mereka bisa mengatasinya? Namun tiba-tiba Myungsoo tersentak. Jungkook, bukankah Abeoji Jungkook memiliki kedai ramen? Myungsoo baru teringat hal itu sekarang. Pasti Jungkook mewarisi keahlian memasak dari Abeojinya. Dan pasti tidak terlalu sulit jika sepupunya itu yang menghandle semuanya nanti. Tapi tetap saja, Jungkook tidak akan mampu mengatasi semuanya sendirian. Mengingat murid Kingo yang jumlahnya tidak sedikit. lagi-lagi namja itu mendesah pelan, berusaha mencari cara untuk membantu mengatasi hukuman yang diberikan padanya itu.

Harus bisa memasak selama seminggu? Bukankah itu mustahil? Lagipula ia dilahirkan bukan sebagai seorang koki. Lalu darimana ia akan belajar memasak? Dari pelayan rumahnya? Tentu saja Myungsoo takkan pernah melakukannya, pasti para pelayan di rumahnya akan beramai-ramai menertawainya jika ia meminta bantuan mereka. Namun di saat yang bersamaan, tiba-tiba sebuah nama terlintas di kepalanya. Park Jiyeon. Meski tidak tahu pasti, tapi bukankah wajar kalau seorang yeoja bisa memasak? Ia yakin kalau Jiyeon bisa memasak.

Myungsoo tersenyum kecil, sedikit merasa memiliki harapan meski belum begitu pasti. Ia akan meminta bantuan Jiyeon. Tanpa pikir panjang lagi namja itu pun mengambil ponsel miliknya dan mulai mencari nama My Future Princess di daftar kontaknya. Namja itu bahkan sama sekali tidak sadar jika Choi ssaem sudah memperhatikan gelagatnya sejak tadi. Choi ssaem bahkan sudah memberi isyarat pada murid-murid lainnya agar segera menyiapkan beberapa gumpalan kertas untuk dilemparkan pada namja tersebut. Begitulah, Choi ssaem memang memiliki peraturan sendiri. Jika terdapat murid yang asyik dengan kegiatannya sendiri tanpa memperhatikan penjelasan guru di depan, maka murid tersebut akan dilempari gumpalan-gumpalan kertas oleh murid sekelas dan murid tersebut-lah yang wajib membersihkan semua gumpalan sampah itu nantinya.

Jin, teman sekelas sekaligus teman satu kamarnya yang kebetulan duduk di belakang Myungsoo itu berkali-kali menendang pelan kursi Myungsoo dari belakang bermaksud untuk memberitahunya, akan tetapi namja itu sama sekali tak peduli. Barulah ketika ia selesai mengirimkan pesan pada Jiyeon, ia menyadari ada sesuatu yang janggal. Ia merasa tidak mendengar suara apapun saat itu, bahkan suara Choi ssaem yang semula terdengar bersemangat menjelaskan materi di depan pun tak didengarnya lagi. Dengan perlahan dan penuh keraguan, namja itu pun mengangkat kepalanya dan melihat ke depan.

Deg!

Namja itu amat terkejut saat melihat Choi ssaem yang sudah melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap kearahnya dengan tatapan garang. Bukan. Myungsoo bukannya takut pada namja paruh baya itu. Bagaimanapun juga, tak ada satupun Guru di sekolah yang mampu membuatnya gentar, kecuali Jung Eunji tentunya. Ia hanya merasa terkejut saat itu, karena bahkan ia sendiri yang membuat peraturan untuk bersikap baik saat pelajaran berlangsung, namun ia sendiri pula yang melanggarnya. Berakhir sudah reputasi seorang Kim Myungsoo yang sudah melanggar peraturan yang dibuatnya sendiri.

“Lempari dia.” Choi ssaem terdengar memberi perintah pada murid-murid yang lain, akan tetapi tak ada satupun yang berani bergerak melakukan perintahnya itu.

Tentu saja, saat ini korban mereka tak lain adalah Kim Myungsoo, murid paling berpengaruh di sekolah. Apa jadinya nanti kalau mereka melempari anak pemilik Kingo? Bisa-bisa mereka semua akan dikeluarkan dari sekolah elite ini. Alhasil, seisi kelas hanya diam menunduk tanpa berani melempari Myungsoo.

Wae? Apa kalian tak mendengar perintahku? Apa kalian semuai ingin dihukum? Cepat lempari dia!” ulang Choi ssaem dengan suara lebih keras.

Namun lagi-lagi tak ada yang berani bergerak sama sekali, membuat Choi ssaem semakin murka karenanya. Namun belum sempat namja paruh baya itu kembali berteriak, Myungsoo sudah berdiri dari tempat duduknya.

“Lempar saja.” ucapnya kemudian, membuat semua teman-teman sekelasnya menatapnya tak percaya. Mereka sempat saling bertukar pandang satu sama lain dengan ekspresi penuh keraguan.

“Siapapun yang bersalah pantas mendapat hukuman. Lakukan saja.” ulang Myungsoo sekali lagi.

Untuk sejenak masih tak ada yang berani mulai melempar, namun beberapa saat kemudian, Jin mulai melemparkan gumpalan kertas kearah Myungsoo.

Mianhae..” ucapnya seraya terus meremas kertas kosong dan melemparnya kearah namja di depannya itu.

Melihat sudah ada yang memulai, akhirnya satu persatu murid-murid yang lain pun mulai berani melemparkan gumpalan kertas kearah Myungsoo. Meskipun sedikit kesal, namun Myungsoo hanya pasrah menerima lemparan itu. memang tidak sakit, tapi rasa malu benar-benar membuat namja itu kesal. Tapi apa boleh buat, ia memang harus memberikan contoh yang benar pada yang lain. Siapa yang bersalah, maka dia pantas mendapatkan hukuman.

Aish.. Kesialan apa lagi yang akan menimpaku setelah ini?‘ batinnya kesal.

*

*

Seorang murid namja berparas tampan terlihat berdiri di depan toilet dengan tangan kanannya yang asyik memainkan ponselnya. Sedetik kemudian namja itu pun tampak menempelkan ponsel tersebut ke telinganya.

Yeobeoseyo?” terdengar suara seorang namja dari seberang.

“Abeoji, apa hari ini Abeoji ada waktu senggang?”

“Mwoya? Jungkook-a. Kaukah itu? Aigoo.. Kenapa kau menelpon sekarang? Kukira salah satu pelanggan yang menelepon. Aku sedang sibuk karena beberapa pelanggan menelepon dan memesan menu di kedai kita secara bersamaan. Kalau tidak penting sebaiknya kau tutup saja, eoh?”

K-keunde, Abeoji. Aku butuh bantuanmu..”

“Bantuan apa? Tidak biasanya kau membutuhkan bantuanku?’

Ah, geuge— aku— bisakah Abeoji mengajariku memasak menu makanan selain ramen?”

“Mwo? Sejak kapan kau jadi tertarik ingin memasak? Bukankah biasanya kau selalu bilang malas dan cukup bangga hanya dengan membuat ramen spesial saja, eoh?”

Ah geuge— aku— mendapatkan hukuman untuk menggantikan koki di dapur asrama, dan Seonsaengnim memberikan kesempatan selama seminggu untuk bisa memasak dengan benar. Geuraesseo— bisakah Abeoji membantuku?”

Terdengar helaan napas panjang dari seberang, dan itu membuat Jungkook memiliki firasat kurang baik.

“Hukuman di asrama Kingo rupanya cukup merepotkan juga. Hmm.. Jungkook-a, bukannya Abeoji tidak mau membantu, keunde kedai ramen kita benar-benar sedang ramai minggu ini. jadi sepertinya tidak akan ada waktu untuk mengajarimu memasak.”

Ah, kalau begitu aku bisa meminta bantuan Yoseob Hyung atau Jieun Noona—”

“Andwae.. Kau tahu hanya mereka berdua yang bekerja di kedai kita. Jadi sudah pasti mereka juga sibuk membantu Abeoji di sini..”

Abeoji, tidak bisakah Abeoji meluangkan waktu sebentar saja untuk mengajariku?”

“Mianhae.. Sepertinya kali ini Abeoji tidak bisa membantumu.. Keunde kalau kau mau, kau bisa belajar dari seseorang yang Abeoji kenal. Dia adalah teman sekolah mendiang Eommamu, dan dia sangat pandai memasak. Ah, dan kebetulan dia adalah salah satu Gurumu di Kingo.”

M-mwo? N-nugu?”

“Jung Eunji. Minta tolong saja padanya.”

“Astaga. Sudahlah, kalau Abeoji memang tidak bisa, lupakan saja. Kututup teleponnya.”

Bip.

Jungkook mematikan ponselnya dengan sedikit gusar. Jung Eunji katanya. Kalau saja Abeojinya tahu bahwa justru orang itulah yang sudah memberi hukuman merepotkan ini. Namja itu menghela napas dengan kasar. Sekarang kemana lagi ia akan meminta bantuan? Abeojinya benar-benar tidak bisa diharapkan. Namun di saat ia sedang kebingungan, bayangan wajah seseorang terlintas begitu saja di kepalanya.

Ah, Jiyeon sunbae. Mungkin dia bisa membantuku.” gumamnya senang.

Bagus. Dengan begini ia jadi punya alasan untuk lebih dekat dengan yeoja itu. Ah, sepertinya Jeon Jungkook memang sudah semakin mendekati fase penyembuhan dari phobianya. Maka dengan wajah berseri-seri, namja itu pun kembali fokus pada ponselnya dan mulai mengetikkan beberapa pesan untuk dikirimkannya pada Jiyeon.

*

*

Asrama Kingo

Seorang namja berhoodie merah terlihat berjalan sedikit mengendap memasuki dapur asrama. Sesekali namja itu menoleh ke kanan dan ke kiri seolah mencoba memastikan tak ada seorangpun yang memergokinya. Tepat sekali. Namja yang tak lain adalah Kim Taehyung itu memang tidak masuk sekolah hari ini karena Sejung memaksanya untuk beristirahat di asrama karena lukanya yang masih belum sembuh total itu. Namun Taehyung sama sekali tak bisa tenang hanya dengan terus berdiam diri di kamar karena memikirkan hukuman yang diberikan oleh Eunji semalam. Namja itu terus berpikir darimana ia akan belajar memasak, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk meminta diajari oleh kepala dapur asrama.

Setelah merasa yakin bahwa tak ada satupun yang orang yang melihatnya di sana, Taehyung pun berjalan cepat memasuki dapur. Di dalam sana ia melihat beberapa koki tengah memasak untuk persiapan makan malam nanti. Pandangan Taehyung terus berkeliling hingga akhirnya ia menemukan sosok seseorang yang dicarinya. Ahn Youngmi, kepala dapur asrama.

A-annyeonghaseyo, Ahn ahjumma.” Sapa Taehyung sopan dengan sedikit membungkukkan badannya.

Ahn Youngmi yang semula asyik mengaduk kari ayamnya itu menoleh dan sedikit terkejut saat mendapati seorang namja berparas tampan namun sedikit polos itu sudah berdiri di hadapannya.

“Kenapa kau berada di sini? Tidak sekolah?” yeoja paruh baya itu justru balik bertanya.

Taehyung hanya menggeleng sembari menunjukkan rectangle smile miliknya, “Anniyo, Ahjumma. Geuge— sebenarnya aku kemari karena ingin meminta bantuan Ahjumma.”

Ahn Youngmi tak segera menjawab. Namun beberapa saat kemudian ia pun mengangguk mengerti.

“Kau pasti salah satu murid yang dihukum oleh Jung ssaem, matji?”

Taehyung sedikit terkejut mendengarnya, “D-darimana Ahjumma bisa tahu?”

Mianhae, haksaeng. Tapi Jung ssaem sudah memberi pesan pada kami untuk tidak memberikan bantuan apapun pada murid yang dihukum olehnya. Jadi, kurasa sia-sia saja kau datang kemari untuk meminta bantuanku.”

Taehyung seketika memasang wajah terkejut sekaligus kecewa secara bersamaan. Ia tidak menyangka kalau Jung Eunji akan sekejam itu. Dia sendiri yang memberi kesempatan untuk belajar memasak, tapi ia juga yang mempersulit jalan untuk belajar memasak. Alhasil, namja itu pun keluar dari dapur asrama dengan wajah lesu.

“Harus meminta tolong pada siapa lagi aku sekarang? Ah, apa Sejung bisa membantuku ya?” gumam namja itu seorang diri.

Namun alih-alih menghubungi Sejung, Taehyung justru memikirkan orang lain, yakni Park Jiyeon.

“Daripada meminta bantuan Sejung yang gemar memarahiku, bukankah lebih baik aku meminta bantuan Jiyeon saja? Aigoo.. Seharusnya dari awal aku sudah memikirkan itu dan tidak perlu repot datang kemari. Ck, dasar bodoh.”

Lalu detik berikutnya namja itu pun sudah asyik dengan ponsel di tangannya dan mengetikkan pesan kepada Jiyeon.

*

*

Jiyeon terlihat bertopang dagu di atas meja kelasnya. Wajah yeoja itu tampak tak tenang. Tentu saja. Sejak ia kembali dari ruangan Eunji semalam, ia mendapati notif beberapa missed calls dari Appanya. Namun begitu ia mencoba menghubungi Appanya kembali, ia malah tak mendapatkan respon apapun. Gelisah. Hanya itu yang dirasakan Jiyeon saat itu. Ia sangat penasaran dan ingin tahu setengah mati sebenarnya untuk apa Appanya meneleponnya malam-malam begitu. Benar-benar tidak biasa. Untung saja saat itu Ham ssaem sedang sibuk dengan ponsel di tangannya sehingga ia tak memperhatikan Jiyeon yang hampir tak bisa fokus sama sekali pada soal essai di depannya itu.

Drrtt.. Drrtt..

Jiyeon seketika tersentak begitu merasakan getaran di saku kemejanya. Tanpa pikir panjang, yeoja itu langsung meraih ponsel tersebut dari saku bajunya. Ia benar-benar berharap kalau itu adalah pesan dari Appanya. Namun ekspresi wajahnya mendadak berubah saat melihat notif di layar ponselnya.

3 messages received

Masih dengan rasa penasaran, Jiyeon pun membuka pesan tersebut. Dan seketika keningnya mengerut begitu melihat pengirim pesan tersebut.

1 message from My Future Prince

1 message from Jungkookie

1 message from Ketua Kelas Tae

‘Aish, aku lupa belum mengganti namanya.’ batin Jiyeon saat memutuskan untuk membuka pesan dari Myungsoo terlebih dahulu.

Chagi-ya, aku membutuhkan bantuanmu. Bisakah kau menemuiku di tempat biasa saat istirahat nanti? Jangan terlambat, eoh? – Myungsoo

Ehek!

Jiyeon seketika tersedak saat membacanya. Wajahnya pun mendadak memerah.

‘C-chagiya? Kenapa dia memanggilku begitu? Aish, dan juga tempat biasa apa maksudnya? Dia bicara seolah kami berdua layaknya sepasang kekasih yang memiliki tempat spesial. Dasar menyebalkan.

Jiyeon tak segera membalas pesan dari Myungsoo itu dan langsung membuka pesan dari Jungkook.

Nuna, bisakah kita bertemu saat istirahat nanti? Kalau bisa, kutunggu di taman dekat kolam ikan. – Jungkook

Ehek!

Lagi-lagi Jiyeon tersedak begitu membacanya.

Nu-nuna? K-kenapa tiba-tiba Jungkook memanggilku Nuna? Aigoo.. Apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa waktunya bisa bersamaan begini?’

Untuk yang kedua kalinya Jiyeon tak segera membalas dan langsung membuka pesan dari Taehyung dengan perasaan was-was. Ia khawatir Taehyung pun meminta bertemu di waktu yang bersamaan.

Hey cantik! apa kau bisa meluangkan waktumu sebentar saat istirahat nanti? Aku menunggumu di kantin. – Taehyung

Uhuk! Uhuk! Uhuk!

Kali ini Jiyeon benar-benar terbatuk cukup keras. Bahkan hampir seisi kelas serempak menatap kearahnya. Ham Ssaem yang semula asyik dengan ponselnya pun turut menatap kearah yeoja itu pula. Secepat kilat Jiyeon pun segera memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam saku kemejanya.

“Park Jiyeon, apa ada masalah?”

A-ahh, a-annimnida, seonsaengnim. Amugeotdo..” elak Jiyeon sedikit gugup sambil tersenyum berusaha meyakinkan Ham ssaem.

Ham ssaem tampak menghela napas, lalu mengalihkan pandangannya pada seluruh penjuru kelas.

“Jika sudah selesai mengerjakan, cepat kumpulkan jawaban kalian ke depan.”

Jiyeon menarik napas lega karenanya. Ia merasa beruntung karena tidak ketahuan memainkan ponsel saat pelajaran berlangsung. Sejung yang duduk di sebelahnya itu pun menyenggolnya pelan.

Yaa, batukmu tadi terdengar tidak wajar. Beritahu aku apa yang terjadi.” bisiknya.

Sekali lagi Jiyeon menarik napas panjang dan memasang wajah lesu, “Eottokhaji? Banyak sekali yang kupikirkan..”

Sejung mengerutkan keningnya tak mengerti, namun ia tak berniat bertanya lagi mengingat waktunya yang kurang tepat. Bisa-bisa mereka diusir keluar kelas dan nilai buruk karena ketahuan mengobrol.

Ah, matta. Sejung-a, Taehyung benar-benar berada di asrama, geutji?” tanya Jiyeon tiba-tiba.

Eoh.. Aku sudah menyuruhnya istirahat seharian ini. Wae?”

A-anni.. Keunde— kenapa dia memintaku bertemu dengannya di kantin?”

“M-mwo? Dia ada di sekolah? Aish! Namja itu benar-benar keras kepala. Tunggu saja aku pasti akan mencincangnya sampai habis nanti.”

Ahh, Sejung-a, kau terlalu berlebihan. Sudahlah biarkan saja. Mungkin memang ada sesuatu yang penting makanya dia sampai datang ke sekolah begitu.”

Sejung tak segera menjawab, namun sesaat kemudian ia kembali berbisik.

“Jiyeon-a, apa jangan-jangan— Taehyung sedang mempersiapkan kejutan untuk menyatakan perasaannya padamu?”

Uhuk! Uhuk!

Lagi-lagi Jiyeon terbatuk cukup keras dan kembali menyita perhatian seisi kelas.

“Park Jiyeon, kalau memang sedang sakit, sebaiknya pergi ke ruang kesehatan saja. Jangan sampai konsentrasimu terganggu karena rasa sakit yang kau tahan.”

A-ahh, jeoseonghamnida, seonsaengnim. S-saya hanya tersedak sedikit. Gwaenchansimnida.”

“Aku tahu kau berbohong. Sudahlah, cepat pergi ke ruang kesehatan sebelum aku benar-benar memaksa lebih jauh lagi.”

Jiyeon meneguk saliva mendengarnya. Lalu dengan perlahan ia pun mengangguk menyerah.

N-nde..”

*

*

Kini Jiyeon terlihat berjalan seorang diri menyusuri koridor sekolah. Ia bingung sekarang, pasalnya ia benar-benar tidak merasa sakit tapi dipaksa harus pergi ke ruang kesehatan. Yeoja itu menghela napasnya sejenak, lalu kembali mengeluarkan ponsel miliknya. Wajahnya kembali lesu.

“Sekarang apa yang akan kukatakan pada mereka? Lagipula kenapa mereka bertiga bisa meminta bertemu dalam waktu yang bersamaan sih? Aish, benar-benar merepotkan. Ck, eottokhaji?”

Di saat yeoja itu tengah asyik dengan kekalutannya sendiri, tiba-tiba saja seseorang menghadang jalannya, sehingga mau tak mau ia pun menghentikan langkahnya. Ekspresi wajahnya seketika berubah terkejut saat melihat siapa yang kini berada di hadapannya. Yoon Sohee.

“Sohee sunbae?”

Jiyeon kembali teringat saat Sejung sempat menceritakan bahwa semua berita tentang dirinya yang tertempel di mading itu adalah ulah Sohee. Entah kenapa Jiyeon sangat merasa tidak nyaman dan malas saat bertatap muka dengan yeoja itu.

Sunbae, jeoseongeyo, aku harus pergi—”

“Siapa yang mengijinkanmu pergi, eoh? Ikut aku.”

Belum sempat Jiyeon menolak, Sohee sudah menarik tangannya terlebih dahulu dengan sedikit kasar dan mengajaknya pergi ke tempat yang lebih aman dari pantauan orang lain. Begitu sampai di tempat yang dirasa cocok, Sohee melepaskan pegangannya dengan kasar pula.

“Kenapa sunbae mengajakku kemari?”

“Aku ingin membuat kesepakatan denganmu.” ucap Sohee dengan nada dingin tanpa menatap Jiyeon.

“Kesepakatan? Apa maksud sunbae?”

Sohee pun menolehkan kepalanya dan kini menatap Jiyeon dengan tatapan tajam sekaligus remeh.

“Kau—masih sayang pada keluargamu, matji?”

Jiyeon tak berniat menjawab. Ia tahu, Sohee pasti sedang merencanakan sesuatu yang licik dari nada bicaranya itu.

“Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluargamu, ah— tepatnya Eommamu. Kau pasti tidak tahu bukan kalau berita yang tertempel di mading itu bukanlah sebuah kebohongan?”

Kini Jiyeon mulai merasa darahnya mendidih. Ia bisa menebak kemana arah pembicaraan Sohee itu, namun yeoja itu masih mencoba menahan emosinya.

“Aku tahu kau sangat penasaran setengah mati apakah berita itu benar atau tidak. Geogjeongma. Aku tidak akan menyebarluaskan berita tentang perselingkuhan Eommamu di media sosial jika aku mau. Keunde, itu semua tidak gratis—”

Sunbae! Aku tidak tahu apa sebenarnya tujuan utamamu melakukan hal ini, keunde— mau berita itu benar atau salah, aku lebih percaya pada keluargaku sendiri daripada orang lain. Geuraesseo, berhentilah melakukan hal yang tidak berguna seperti ini dan jangan pernah lagi ikut campur dengan urusan orang lain.”

Mwo? Kau berani bicara begitu padaku? Kau tidak takut padaku, eoh?”

Mian, mungkin aku memang sedikit keterlaluan, tapi aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Lagipula urusan keluargaku sama sekali tak ada hubungannya dengan sunbae.”

Geurae! urusan keluargamu memang tak ada urusannya denganku. Keunde kau tahu aku bisa saja memanfaatkan keadaan ini semauku.”

Mian tapi aku sama sekali tidak tertarik dan aku tidak mempercayaimu, sunbae. Geureom, aku pergi.”

YAA PARK JIYEON JAMKANMAN!”

Jiyeon terpaksa kembali mengurungkan niatnya untuk beranjak pergi saat Sohee meninggikan suaranya. Dengan sedikit gusar karena kesal melihat kegigihan Jiyeon, Sohee mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya, lalu setelah mengoperasikannya sejenak, ia pun menunjukkan benda tersebut di depan wajah Jiyeon.

Igeo! Lihatlah baik-baik. Apa sekarang kau mulai percaya padaku, eoh?”

Deg!

Jantung Jiyeon seakan berhenti berdetak begitu kedua matanya menangkap foto yang ditunjukkan oleh Sohee padanya itu. seorang yeoja yang terbilang masih cukup muda tampak mesra dengan seorang namja tak dikenalnya. Akan tetapi yeoja dalam foto tersebut, ia begitu amat mengenalnya.

Maldo andwae..” ucap Jiyeon lirih, bahkan hampir tak terdengar.

Sohee tersenyum kecil melihatnya.

Geurae, aku sengaja memasang foto yang tak begitu jelas di mading karena aku masih punya hati nurani. Keunde, kalau aku mau, aku bisa melakukan hal yang bahkan lebih jauh daripada itu. Park Jiyeon, Eommamu itu sudah berselingkuh dengan namja lain.”

Jiyeon masih terdiam dalam keterkejutannya. Hatinya terasa sakit, ia seolah bisa ikut merasakan bagaimana perasaan Appanya jika melihat ini. Sohee semakin puas saat melihat Jiyeon yang terdiam.

“Kau percaya padaku sekarang?” ucap yeoja itu seraya menyimpan kembali ponsel miliknya.

Jiyeon tak menjawab, melainkan kembali menatap Sohee.

“Apa maumu sebenarnya?” katanya kemudian. Kini suaranya terdengar lebih dingin dari sebelumnya.

Sohee tertawa kecil sebelum menjawab pertanyaan Jiyeon itu.

“Tidak sulit. Permintaanku hanya satu. Jauhi Myungsoo Oppa. Dan sebagai gantinya, aku tidak akan menyebarluaskan foto ini di media sosial.”

Jiyeon tak segera menjawab. Mungkin persyaratan itu tidak begitu sulit untuknya. Tapi mengingat bagaimana sikap Myungsoo akhir-akhir ini padanya, yeoja itu merasa ragu apakah ia bisa menyanggupinya atau tidak. Lagipula, entah kenapa dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa enggan jika harus menyanggupi persyaratan yang diajukan Sohee itu.

Wae? Shireo?” ucapan Sohee kembali menyadarkan Jiyeon dari lamunan sesaatnya.

Anni. Aku akan melakukannya. Aku akan menjauhi Myungsoo sunbae, tapi kau harus menghapus semua foto yang menyangkut soal Eommaku.”

Sohee tertawa keras mendengarnya, membuat Jiyeon mengerutkan keningnya pertanda heran.

Yaa, kau pikir aku akan percaya begitu saja padamu, eoh? Aku tidak akan pernah menghapus foto ini. keunde geogjeongma. Selama kau menepati janjimu, maka aku juga pasti akan menepati janjiku. Geuraesseo, semuanya tergantung padamu. Jika sekali saja aku melihatmu bersama Myungsoo Oppa, maka jangan salahkan aku jika seluruh dunia tahu akan perselingkuhan seorang jurnalis terkenal, Park Jiyoung. Arrassseo?”

Jiyeon sekuat tenaga berusaha menahan emosinya. Belum sampai ia menyahut apapun, Sohee sudah melenggang pergi setelah sebelumnya menunjukkan senyum iblisnya.

Sepeninggal Sohee, Jiyeon tertunduk seorang diri. Yeoja itu berusaha keras menahan hatinya yang serasa ditusuk-tusuk jarum. Dengan sedikit gemetar, ia meraih ponselnya dan mencoba mencari sebuah nama di daftar kontak miliknya.

Eomma.

Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Jiyeon pun menekan tombol call pada nama kontak tersebut. Ia sudah memutuskan untuk mencari tahu sendiri dari Eommanya.

Tuuutt.. tuuuut..

“..nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi..

Eomma.. Kenapa aku tak bisa menghubungimu? Di mana Eomma sebenarnya?” perasaan Jiyeon semakin tak enak. Kini ia mencoba menghubungi Appanya, namun rupanya hasilnya pun sama saja. Yeoja itu mendesah panjang. Ia sudah memutuskan akan pulang ke rumahnya sebentar selepas sekolah nanti. Ia benar-benar sudah penasaran setengah mati dengan semua ini.

Tepat saat Jiyeon berbalik dan bermaksud melanjutkan perjalanannya menuju ruang kesehatan —yang sebenarnya sama sekali tidak perlu— tiba-tiba ia melihat seorang murid yeoja yang mengenakan masker tampak setengah berlari menyusuri koridor. Jiyeon mengerutkan keningnya sejenak. Yeoja itu, sepertinya ia mengenalnya.

“Sejung? Mau kemana dia? Dan kenapa ia mengenakan masker? Apa dia sedang sakit? Tapi rasanya tadi baik-baik saja.” Jiyeon terus bergumam seorang diri.

Tanpa menunggu lagi, akhirnya Jiyeon pun berbalik dan memutuskan untuk mengikuti Sejung. Jiyeon hampir berteriak untuk memanggil yeoja tersebut, akan tetapi niatnya urung saat kedua matanya melihat Sejung berlari menuju ke arah gedung tingkat pertama. Jiyeon berhenti sejenak karenanya.

Mwoya? Untuk apa Sejung pergi ke gedung tingkat pertama?” gumamnya penuh keheranan.

Sedetik kemudian ia pun melanjutkan langkahnya menyusul Sejung. Dua menit kemudian yeoja itu telah sampai di dalam gedung tingkat pertama, namun ia kembali menghentikan langkahnya saat melihat Sejung berhenti di tempat loker para murid tingkat pertama. Dengan cepat Jiyeon bersembunyi di balik dinding pembatas ruang tersebut dan mengintip diam-diam. Tampak olehnya Sejung yang mengedarkan pandangannya kesana kemari seolah tengah mencari tempat loker yang ditujunya. Beberapa saat kemudian ia pun menuju ke salah satu loker lalu dengan perlahan memasukkan sebuah bungkusan kecil kedalam loker tersebut.

Jiyeon kembali mengerutkan kening melihatnya. Setelah terdiam beberapa saat lamanya, ia sedikit tersentak.

Apa jangan-jangan— Sejung sedang mencoba memberikan hadiah pada Jungkook? Keunde— bukankah dia sendiri yang bilang kalau ia tidak menyukai Jungkook lagi? Apa dia bohong padaku?’ batin Jiyeon penasaran.

Jiyeon kembali tersentak saat melihat Sejung berbalik. Dengan cepat Jiyeon pun beringsut berusaha menyembunyikan tubuhnya agar tak terlihat oleh Sejung. Begitu Sejung menghilang dari pandangannya, barulah ia keluar dari tempat persembunyiannya.

Aigoo.. Aku merasa seperti seorang pencuri yang takut ketahuan mencuri. Kenapa aku harus bersembunyi dari Sejung?” gumamnya seorang diri. Namun tak ayal ia tetap merasa heran dan penasaran sebenarnya apa yang diberikan Sejung pada Jungkook barusan? Namun karena tak kunjung mendapatkan jawaban di kepalanya, akhirnya yeoja itu pun memutuskan kembali ke gedung kelasnya.

*

*

Sementara itu di tempat lain, tepatnya di sekolah Kim Soeun, yeoja itu terlihat gelisah hingga berkali-kali menggigiti pensilnya tanpa sadar hampir sepanjang pelajaran berlangsung. Beruntung para Guru di sekolahnya tak begitu keras seperti Guru-Guru di sekolah Kingo, jadi yeoja itu tidak merasa khawatir sedikitpun akan mendapatkan gertakan tiba-tiba. Lagipula ia adalah salah satu murid teladan, yang mewarisi otak cukup jenius dari orangtuanya, jadi meskipun ia diberi pertanyaan soal dadakan, ia takkan merasa kesulitan.

Kini kedua pasang mata kecil miliknya mengarah ke bangku pojok kanan belakang, tepatnya ke arah bangku milik Yuto, namja yang beberapa saat yang lalu telah menyatakan perasaan padanya. Tampak olehnya namja itu tengah bersandar di kursi miliknya sembari memejamkan kedua matanya, seolah sama sekali tak tertarik dengan penjelasan Guru di depan. Dan itu bukanlah hal baru yang dilihat oleh Soeun. Namja itu memang terkenal acuh dan bahkan jarang masuk sekolah. Namun entah kenapa pihak sekolah tak pernah memberikan peringatan keras padanya. Di samping itu, tak ada satupun murid di sana yang berniat ingin mendekati namja tersebut karena sifatnya yang dingin dan tertutup. Dan itulah yang membuat Soeun penasaran setengah mati bagaimana bisa namja se-ansos itu secara tiba-tiba menyatakan perasaan padanya.

Soeun kembali menolehkan kepalanya ke depan. Diam-diam ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku kemejanya dan mengetikkan beberapa kalimat pesan untuk dikirimkan pada sahabatnya, Kim Sangbum yang kebetulan sekelas dengannya dan duduk selisih dua bangku di belakangnya.

To : Kimbum

Tadi pagi Yuto bilang dia suka padaku. Dia ingin aku mejadi yeojachingunya. Eottokhaji? – Soeun

Jangan terima. Dia tidak serius. – Kimbum

Mwo? Darimana kau tahu? – Soeun

Percaya saja padaku, pasti tidak menyesal. – Kimbum

Tapi dia terlihat bersungguh-sungguh. – Soeun

Darimana kau tahu? – Kimbum

Hanya menebak. Dia menyuruhku datang ke Penta cafe nanti malam kalau aku menerima cintanya. – Soeun

Apa kau menyukainya? – Kimbum

Molla.. Kau tahu aku bahkan hampir tak pernah berinteraksi dengannya. Keunde hatiku rasanya berdebar saat dia menyatakan perasaannya tadi – Soeun

Soeun-a, saranghae.. – Kimbum

Blush!

Deg! Deg!

Seketika wajah Soeun memerah saat membacanya. ‘Apa-apaan orang ini? kenapa tiba-tiba sekali?’ pikirnya.

Namun belum sempat ia membalas, Kimbum sudah membalas lagi.

Kenapa tidak segera membalas? Apa karena dadamu berdebar keras sampai-sampai tak sanggup membalasnya? – Kimbum

Yaa! Jugule? Jangan bercanda. Aku serius! Dasar menyebalkan! – Soeun

Aku hanya memberikan contoh padamu. Aku yakin beberapa saat yang lalu kau merasa berdebar-debar. Aku bahkan bisa melihat sikap salah tingkahmu dari belakang sini, hahaha tentu saja, siapapun yeoja yang menerima pernyataan seperti itu wajar jika jantungnya berdebar keras. Apalagi ini adalah pertama kalinya bagimu, matji? Yaa, Soeun-a, dengarkan saja kata-kataku. Dia itu tidak serius. Aku yakin itu – Kimbum

Kenapa kau bisa seyakin itu? Kau bahkan tak pernah berbicara dengannya. – Soeun

Sudahlah, percaya saja padaku. Aku hanya tidak mau kau menyesal nantinya. – Kimbum

Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tidak mau membuatnya menunggu sia-sia nanti – Soeun

Tetaplah datang ke sana, lalu katakan perasaanmu yang sebenarnya padanya. Ah, aku yang akan mengantarmu. Eotte? – Kimbum

Mwo? Kenapa harus kau yang mengantarku? – Soeun

Sudahlah kau menurut saja. Aku hanya berjaga-jaga, siapa tahu dia marah dan mengamuk saat kau menolaknya. Jadi aku bisa melindungimu. – Kimbum

Soeun berpikir sejenak sebelum kemudian membalas lagi.

Arrasseo.. Aku akan mengikuti saranmu. – Soeun

Joha.– Kimbum

Soeun tak membalas lagi. Ia kembali menoleh ke pojok kanan belakang, ke arah namja yang hingga kini masih dalam posisi sama seperti sebelumnya. Ia mulai memikirkan saran dari Kimbum barusan, dan ia merasa kata-kata namja itu ada benarnya. Mungkin debaran jantungnya memang karena itu adalah kali pertamanya ia mendapatkan pengakuan semacam itu. Ditariknya napas sepenuh dadanya, mencoba meyakinkan diri bahwa keputusannya itu tidak salah. Yeoja itu bahkan sama sekali tidak sadar kalau sebenarnya semua perkataan dari Kimbum tadi itu hanyalah akal-akalan namja itu belaka karena ia tidak mau Seoun menjadi yeojachingu namja selain dirinya. Begitulah, Kimbum memang sudah lama menyukai Soeun tanpa pernah mencoba mengungkapkannya. Dan ia sadar kalau terkadang perasaan cinta itu memang egois. Namun sayangnya, Soeun sama sekali tidak peka akan hal itu.

*

*

Jiyeon’s POV

Aku masih asyik mengamati pergerakan Sejung di kelas. Begitulah, setelah kurasa cukup lama keluar dari kelas tadi, aku langsung kembali ke kelas, dan kebetulan Ham ssaem baru saja mengakhiri pelajaran Matematika untuk hari ini. kini suasana di dalam kelas terdengar lumayan bising karena Lee ssaem, guru Sejarah di kelas kami belum menampakkan dirinya. Dan aku bermaksud menggunakan kesempatan itu untuk menginterogasi Sejung perihal kejadian barusan. Sungguh aku amat penasaran karenanya.

“Sejung-a.”

Sejung tampak sedikit tersentak saat aku memanggilnya lalu menoleh kearahku.

W-wae?” ia pun bertanya.

“Tadi aku melihatmu pergi ke gedung tingkat pertama.”

Tepat seperti dugaanku, raut wajah Sejung mendadak berubah tegang dari sebelumnya.

“K-kau melihatku?” tanyanya dengan nada cemas.

Mian, tapi aku juga mengikutimu. Yaa, kenapa kau berbohong padaku, eoh?”

M-museun suriya?”

Ck! Aku tahu kau sebenarnya masih menyukai Jungkook, matji?”

Sejung tampak membelalak mendengarnya.

M-mworago?”

“Kau— tadi baru saja meletakkan sebuah hadiah kejutan kedalam loker Jungkook, geutji?”

M-mwo?”

Aish, sudah kuduga kalau kau memang masih menyukainya. Kenapa kau harus berbohong padaku, eoh?”

Sejung tak segera menjawab ucapanku. Aku jadi sedikit bingung melihatnya. Tidak mungkin bukan, kalau sebenarnya dia mengira kalau aku juga menyukai Jungkook sampai-sampai ia harus membohongiku begitu? Keunde— kalau bicara soal itu, aku jadi kembali teringat akan perkataan Jungkook waktu itu. Tapi sebenarnya aku sendiri masih ragu apa ucapan Jungkook saat itu benar-benar serius? Ohmo, atau jangan-jangan Sejung tahu kalau Jungkook sebenarnya menyukaiku? Menyukaiku? Ck, kenapa rasanya aneh sekali saat mengatakan kata itu? Aigoo, nan jeongmal michyeosseo.

“Jiyeon-a, sebenarnya itu—”

Drrrtt… Drrrtt…

Aku sedikit terkejut saat merasakan ponsel milikku bergetar. Dengan cepat aku pun mengambil benda persegi panjang itu dari dalam saku kemejaku.

Deg!

Dadaku bergetar cukup keras begitu membaca ID caller di layar ponselku.

Eomma.

Meski aku merasa tak sabar ingin mendengar suaranya dan menanyakan banyak hal pada Eomma, aku berusaha untuk mengatur suaraku agar terdengar senormal mungkin.

Eo-eoh, Eomma..” ucapku.

Tak segera kudengar jawaban dari Eomma.

Eomma, waeyo? Kenapa Eomma menelepon?” ulangku.

Jiyeona..”

Aku menahan napas sejenak. Entah kenapa, aku merasa nada suara Eomma sedikit berbeda dari biasanya.

N-nde, Eomma..”

Mianhae..”

Deg!

Kali ini aku merasa tanganku gemetar. Sungguh, firasatku amat tidak enak. Andwae! Jangan meminta maaf, Eomma..

W-waeyo?” namun aku masih berusaha mengontrol suaraku.

“Jiyeon-a, mianhae, selama ini Eomma jarang ada waktu bersamamu. Apa— selama ini kau baik-baik saja tanpa Eomma? Apa kau hidup baik bersama Appa?”

Tanganku refleks mengepal keras mendengarnya.

Eo-eomma— museun suriya? Aku tidak pernah merasa sebaik ketika aku bersama Eomma dan Appa..”

Tak segera kudengar sahutan dari Eomma. Namun samar aku bisa mendengar helaan napas panjang dari sana.

Kau tahu, Eomma amat menyayangimu. Kau adalah anak yeoja yang sangat manis dan cerdas. Anak Eomma tersayang satu-satunya. Keunde.. Apapun yang terjadi pada Eomma, tetaplah bersama Appa, eoh. Berjanjilah pada Eomma, chagi..”

“Eomma—”

“Mianhae, Jiyeon-a.. Jeongmal mianhanta.. Eomma selalu menyayangimu..”

Tuuutt..

“Eo-eomma… Yeobeoseyo? Eomma..”

Dengan gerakan tak sabar aku kembali menggeser touchscreen dan mencoba menghubungi Eomma kembali. Akan tetapi..

“..nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..”

Andwae! Eomma apa yang sebenarnya kau ingin coba katakan? Jebal jangan seperti ini.. Dadaku mendadak terasa sesak dan sakit. Kedua tanganku gemetar. Sungguh, aku tak ingin semua yang kutakutkan itu benar-benar terjadi. Eomma bukanlah orang seperti itu. Di tengah kalutnya pikiranku, sebuah tangan menyentuh tanganku perlahan. Aku menoleh dan mendapati Sejung yang masih berada di sampingku.

“Jiyeon-a, tenanglah. Neo wae geurae? Apa itu tadi Eomma-mu yang menelepon? Museun niriseo?” ia bertanya dengan ekspresi penuh dengan rasa penasaran sekaligus khawatir.

“Sejung-a, aku— aku— Eomma— tidak mungkin Eomma, hiks..” tanpa sadar aku merasakan kedua pipiku menghangat. Aku terisak. Aku tahu ini sangat tidak masuk akal. Tapi hatiku amat sakit rasanya. Bahkan untuk berbicara pun dadaku serasa ingin meledak. Kurasakan kedua tangan Sejung menggenggam tanganku semakin erat, seolah mencoba menguatkanku, meskipun ia sendiri mungkin tidak tahu apa yang membuatku jadi seperti ini.

“Yaa, lihatlah Jiyeon. Kenapa dia menangis?”

“Molla, mungkin sedang ada masalah. Sebaiknya jangan ikut campur, kasiahan dia akhir-akhir ini sering ditimpa masalah.”

“Aigoo.. Apa lagi yang sudah dialaminya sekarang? Kenapa murid golden kita selalu mengalami hal buruk begitu?”

“Sstt.. sudahlah, pura-pura tidak melihat saja. Lagipula sudah ada Sejung di sana.”

Meskipun mereka mengatakan itu semua dengan amat sangat pelan, aku masih bisa mendengarnya secara samar. Dengan cepat aku mengerigkan air mataku. Tidak seharusnya aku menangis seperti ini. Andwae! Aku harus berusaha tegar dan menghadapi semua ini. Baiklah, sudah kuputuskan untuk mencari tahu semuanya selepas sekolah nanti.

*

*

Author’s POV

Myungsoo tampak sesekali melihat layar ponselnya dengan ekspresi gelisah sekaligus kesal. Tepat sekali, namja itu tengah menanti pesan balasan dari Jiyeon yang sudah sekitar sejam yang lalu belum juga memberi balasan.

Ck. Apa jangan-jangan yeoja itu kehabisan pulsa? Aish, sebaiknya kutelepon saja.” gumamnya seorang diri dan kembali berkutat dengan ponsel miliknya.

Beruntung kali ini sedang pergantian jam pelajaran dan kebetulan Guru Biologinya masih belum masuk kelas, jadi Myungsoo masih bisa leluasa menggunakan ponselnya tanpa merasa khawatir. Ia bahkan sudah tidak mempedulikan tatapan teman-temannya yang menatapnya aneh sekaligus takut akibat kejadian lemparan kertas beberapa saat yang lalu. Namja itu tetap asyik fokus dengan ponsel di tangannya. Akan tetapi begitu ia mulai menyambungkan panggilannya ke nomor Jiyeon, ia kembali dibuat kesal karena nomor yeoja itu sedang sibuk. Ia bahkan sudah mencoba beberapa kali namun hasilnya tetap sama.

Ck. Apa dia sedang menelepon orang lain? Kenapa sibuk terus? Aish, lama-lama aku jadi tidak sabar.” namja tampan itu kembali menggerutu sendirian. Setelah cukup lama berpikir, ia pun memutuskan akan mendatangi Jiyeon ke kelasnya saat istriahat nanti. Namja itu sama sekali tidak sadar kalau Jin, teman sekamarnya itu sejak tadi sudah menatapnya aneh sekaligus penuh tanda tanya. Pasalnya selama ini ia mengenal Myungsoo sebagai seseorang yang selalu bersikap tenang dan dingin. Namun sepertinya kali ini sikap yang seperti itu sudah menghilang entah kemana digantikan dengan sikapnya yang terlihat gelisah dan tak tenang. Meski begitu, Jin sama sekali tak berniat ingin mengganggunya. Tentu saja ia juga sedikit merasa bersalah karena bagaimanapun juga dirinyalah yang memulai melempari Myungsoo beberapa saat yang lalu. Namja itu tak mau ambil resiko terkena semburan maut dari Myungsoo jika ia sampai mengusiknya.

*

*

Sama halnya dengan Myungsoo, Jungkook pun terlihat gelisah menanti balasan dari Jiyeon. namja itu pun tampak berkali-kali memeriksa notif di layar ponsel miliknya. Namun setiap kali ia mendapatkan notifikasi, sebagian besar itu hanya berasal dari murid-murid yeoja Kingo penggemarnya. Namja itu mendesah pelan. Sudah berkali-kali ia mengganti nomor teleponnya, namun entah bagaimana caranya nomornya itu lagi-lagi tersebar hampir di seluruh penjuru sekolah. Sebenarnya ia ingin mencurigai Jinho, teman sekelasnya yang satu-satunya tahu nomor ponselnya. Namun setiap kali Jungkook ingin bertanya, Jinho lebih sering terlihat menghindar darinya. Namja itu jadi menduga-duga, apakah sikap Jinho seperti itu karena ia masih berpikir kalau Jungkook-lah pembunuh namja yang menculik Jiyeon waktu itu? sekali lagi Jungkook mendesah kecil. Ia sudah berencana ingin mengganti nomor teleponnya lagi, namun ia mengurungkan niatnya karena nomornya yang saaat ini sudah terlanjur diberikan pada Jiyeon. ia khawatir jika Jiyeon akan kesulitan menghubunginya suatu saat nanti.

Sekali lagi ponsel milik Jungkook bergetar dan dengan cepat namja itu memeriksanya. Namun lagi-lagi ia memasang wajah kecewa saat yang masuk ke notifnya adalah yeoja fans-nya yang lain.

Ck. Kemana sebenarnya Jiyeon sunbae? Apa dia tak membaca pesanku? Apa sebaiknya kutelepon saja?” ia bergumam seorang diri dan mulai menggeser-geser screen ponselnya.

Akan tetapi baru saja ia bermaksud mendial nomor Jiyeon, Ham ssaem sudah masuk kelas sehingga mau tak mau ia pun mengurungkan niatnya dan mengantongi ponselnya kembali. Namja itu mendesah kecewa karenanya.

Mungkin sebaiknya aku ke kelasnya saja nanti’ batinnya pula.

*

*

Tidak jauh beda dari Myungsoo dan Jungkook, seorang namja yang tak lain adalah Taehyung itu pun terlihat resah sambil terus memantau ponsel miliknya di kantin sekolah. Ia penasaran sekaligus khawatir karena Jiyeon tak juga membalas pesannya. Berkali-kali ia mengacak rambutnya sendiri.

“Apa ia marah karena aku sudah memanggilnya begitu? Aish, seharusnya aku tidak menyebutnya seperti itu. Pasti saat ini ia berpikir kalau aku ini namja penggoda. Aigoo..” gerutunya.

Namja itu mendadak merasa malu sendiri ketika mengingat bagaimana ia menyebut Jiyeon ‘cantik’ saat ia mengirim pesan pada yeoja itu tadi. Ia benar-benar merasa amat bodoh sudah melakukan hal itu. Memalukan. Begitulah ia merutuki dirinya sendiri. Pasalnya selama ini ia sama sekali tidak pernah bersikap seperti itu pada yeoja manapun. Namun entah kenapa kata itu terlintas begitu saja di kepalanya dan tanpa sadar malah mengirimkannya pada Jiyeon.

Ck. Aku harus menghubunginya untuk meminta maaf. Kalau sampai dia marah, aku tidak akan punya kesempatan untuk minta diajari memasak olehnya.” Taehyung pun mulai menggeser screen ponselnya untuk menghubungi nomor Jiyeon. namun belum sempat ia memencet tombol dial, seorang namja paruh baya tampak melangkah memasuki kantin. Taehyung terkejut setengah mati melihatnya, apalagi namja itu rupanya adalah Choi ssaem, Guru paling killer di sekolah. Dengan cepat namja itu pun segera bersembunyi di kolong meja di depannya. Bisa runyam kalau sampai Choi ssaem melihatnya berada di kantin saat pelajaran masih berlangsung. Apalagi saat itu ia tak mengenakan seragam sekolah. Ditambah lagi ia pun bisa masuk ke dalam sekolah secara sembunyi-sembunyi.

Dari kolong meja, Taehyung bisa melihat kaki Choi ssaem yang berjalan mendekati Ahjumma penjaga kantin sekolah. Secara samar ia juga mendengar kalau Choi ssaem tengah memesan satu porsi bulgogi. Taehyung sempat mengerutkan kening karenanya.

‘Bagaimana bisa Choi ssaem memesan makanan? Bahkan ini belum waktunya isitirahat. Hmm.. Ini termasuk pelanggaran.‘ pikir Taehyung.

Namun namja itu lebih memilih diam karena sama sekali tak ingin berurusan dengan Choi ssaem yang terkenal galak itu dan memutuskan menunggu hingga namja paruh baya itu selesai makan. Namun rupanya keberuntungan sama sekali tak memihaknya, karena pada saat yang bersamaan, ponsel miliknya berbunyi nyaring. Taehyung terkejut setengah mati dan seketika jengkel saat melihat Shin Wonho, teman sekelas sekaligus sekamarnya yang menghubunginya.

“Sial, aku lupa mengubahnya ke mode silent.” gerutunya pelan dan tanpa pikir panjang langsung mereject panggilan tersebut dengan kesal. Ia berharap suara ponselnya itu tidak terdengar oleh Choi ssaem, akan tetapi lagi-lagi Dewi Fortuna tak berpihak padanya, karena tahu-tahu namja paruh baya itu sudah berdiri tegak tepat di hadapannya dengan wajah garangnya.

Taehyung mendongak dan menunjukkan rectangle smile miliknya pada Choi ssaem.

“Berdiri!” bentak Choi ssaem sengit, membuat senyum Taehyung lenyap seketika dan terpaksa berdiri dengan wajah menunduk.

J-jeoseonghamnida, Seonsaengnim. Saya tidak bermaksud membolos.. Jeongmal..”

Choi ssaem tak segera menjawab. Ia mengamati Taehyung dari ujung kaki hingga ujung kepala.

“Kim Taehyung, matji?” tanyanya.

N-nde..” entah kenapa perasaan Taehyung mendadak tak enak.

“Apa kau sudah berada di sini sejak tadi?”

N-nde, Seonsaengnim..”

Choi ssaem terlihat sedikit terkejut mendengarnya. Taehyung tidak tahu kalau Choi ssaem sebenarnya merasa cemas karena berpikir kalau ia akan menyebarkan ke seluruh sekolah perihal dirinya yang sedang memesan makanan di saat pelajaran berlangsung. Setelah berdehem sejenak, Choi ssaem pun menepuk bahu Taehyung.

Gwaenchanha. Ah, bukankah kau yang diserang oleh penyusup waktu itu? Apa sudah sembuh?”

N-nde, Seonsaengnim. Sebenarnya saya masih belum diperbolehkan pulang dari rumah sakit, tapi saya memilih pulang lebih cepat. Dan saya sengaja datang ke sekolah, karena ada sesuatu yang harus saya lakukan.”

Hmm, geurigeuna.. Ah, ngomong-ngomong, apa kau ingin makan sesuatu?”

Taehyung mendongak sejenak mendengarnya. Tidak biasanya Choi ssaem bersikap selembut ini pada murid manapun. Taehyung sedikit curiga karenanya.

A-annimnida. Saya sudah makan tadi. Keunde seonsaengnim— apa seonsaengnim—

Ahahaha baiklah. Sebentar lagi waktu istirahat tiba. Geurae, sepertinya aku harus kembali ke ruang guru. Kim Taehyung, semoga lekas sembuh. Dan ingat, anggap saja kau tak melihat apa-apa hari ini, arrasseo?”

Taehyung tak segera menjawab, namun begitu melihat raut wajah Choi ssaem yang seolah hendak menelannya bulat-bulat itu, akhirnya ia pun mengangguk cepat.

N-nde, seonsaengnim.”

Choi ssaem tersenyum puas, lalu melangkah keluar dari kantin setelah sebelumnya sempat membisikkan sesuatu pada Ahjumma penjaga kantin. Sepeninggal Choi ssaem, Taehyung menghela napas panjang sepenuh dadanya. Ia merasa lega meski sedikit heran karena Choi ssaem bersikap lunak padanya. Tak ingin ambil pusing lagi, ia kembali mengambil ponselnya dan sedikit terkejut saat melihat beberapa notif pesan di sana. Ia pikir itu dari Jiyeon, namun rupanya itu semua adalah pesan dari Wonho.

Yaa, eodiya? Kupikir hari ini kau masuk. Apa lukamu masih terasa sakit? Tapi sepertinya semalam baik-baik saja. – Wonho

Taehyung-a, kenapa kau mereject panggilanku? Ada sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu. – Wonho

Yaa! Jiyeon sedang menangis sekarang. Kau sedang apa sih? – Wonho

Taehyung membelalak saat membacanya. Jiyeon menangis? Namja itu seketika mendadak khawatir. Ingin sekali ia langsung pergi menemui Jiyeon saat itu, namun mengingat waktu istirahat masih belum tiba, alhasil ia hanya bisa menunggu dengan resah.

Jiyeon-a, apa yang terjadi padamu?’ batinnya tak tenang.

*

*

Jiyeon’s POV

Aku terus memandang ke arah jam dinding yang tergantung di dinding kelas itu berkali-kali. Sudah kuputuskan, aku akan meminta ijin pulang lebih awal saja. Aku tidak akan merasa tenang apalagi berkonsentrasi belajar selama aku masih belum bertemu dengan Eomma dan Appa.

Lima menit lagi bel istirahat berbunyi, dan itu terasa amat sangat lama bagiku. Sungguh aku ingin cepat-cepat pergi menemui mereka dan menanyakan semua ini pada mereka. Sebenarnya untuk sesaat aku merasa seperti ada sesuatu yang sudah kulupakan, namun entah kenapa aku sama sekali tak bisa mengingatnya. Aku hanya mengingat ucapan Eomma beberapa saat yang lalu. Kenapa Eomma bicara seolah dia akan pergi meninggalkanku? Sebenarnya apa maksudnya?

Beberapa detik lagi bel istirahat akan berbunyi. Aku semakin tak sabar menantinya.

Lima, empat, tiga, dua satu.

KRIIIIINNGG!!

Secepat kilat aku pun segera membereskan buku-buku dan peralatan sekolahku yang semula berserakan di atas meja.

“Jiyeon-a, eodiga? Kenapa kau membereskan semuanya begitu?” Sejung menegurku dengan ekspresi herannya.

“Sejung-a, aku harus pulang sekarang. Aku harus memastikannya sendiri.”

“Memastikan– maksudmu–” Sejung tak segera melanjutkan ucapannya, namun aku bisa menangkap ekspresinya yang kemudian mulai paham.

“Aku akan ikut denganmu.” lanjutnya kemudian yang membuatku seketika menghentikan gerakan tanganku.

Andwae! Kau tidak perlu ikut membolos.” tolakku, namun ia menggeleng keras.

“Aku tetap akan ikut denganmu. Yaa! Kau baru saja diculik kemarin, tentu saja aku tidak akan membiarkanmu pergi seorang diri. Bagaimana kalau tiba-tiba kau dicuik lagi, eoh? Andwae! Pokoknya aku harus ikut!”

Aku mendesah kecil mendengarnya. Percuma membantah ucapan Sejung jika ia sudah seperti ini. Kurasa sepertinya tak masalah ia ikut denganku.

Arrasseo..” sahutku pasrah.

Sejung tampak tersenyum puas mendengar keputusanku dan turut membereskan barang-barangnya.

Kkaja.” sahutnya kemudian.

Kami berdua pun berjalan keluar kelas, namun langkah kami terhenti saat seorang namja tiba-tiba saja berdiri menghalangi langkah kami. Aku sedikit terkejut melihatnya.

“K-ketua kelas?”

Untuk sejenak aku masih belum megerti dengan keadaan ini. bukankah Taehyung ijin tidak masuk sekolah hari ini? Lalu apa yang dia lakukan di sini? Namun detik berikutnya aku membelalak lebar. Astaga aku baru ingat. Bukankah beberapa saat yang lalu ia mengirim pesan padaku dan memintaku bertemu di kantin? Bukan. Bukan hanya itu. Myungsoo sunbae dan Jungkook juga. Ohmo. Bagaimana aku bisa melupakan hal itu?

Kulihat Taehyung berjalan menghampiriku dengan ekspresinya yang tegang. Tidak. Apa dia marah padaku karena sudah mengabaikan pesannya?

“T-Taehyung-a, m-mian aku lupa tidak membalas pesan–“

Greb!

Aku terkejut setengah mati dan tak mampu melanjutkan ucapanku karena tiba-tiba saja Taehyung memelukku erat. Oh tidak! Taehyung-a, apa yang dia lakukan sekarang? Kenapa ia memelukku di depan banyak orang begini? Aku bisa medengar beberapa gumaman bahkan sebuah pekikan kecil dari teman-temanku yang melihatnya saat itu. Bagus. Kali ini aku benar-benar akan jadi bahan perbincangan lagi.

Jebal. Jangan buat aku terus menerus mengkhawatirkanmu seperti ini, Jiyeon-a. Jebal..”

Aku tertegun sejenak mendengarnya. Khawatir? Taehyung mengkhawatirkanku? Tapi kenapa?

“Katakan padaku apa yang membuatmu menangis? Siapa yang sudah membuatmu menangis?”

Aku seketika tersadar saat mendengarnya. Jadi itu alasannya kenapa Taehyung merasa khawatir. Dia tahu aku baru saja menangis. Tapi darimana ia bisa tahu? Apa ada seseorang yang memberitahunya? Ah, tentu saja. Pasti Wonho yang memberitahunya. Namja itu adalah satu-satunya orang yang patut dijadikan tersangka utama. Aku mendesah kecil.

“Taehyung-a, gwaenchanha. Tidak ada hal buruk yang terjadi padaku. Akuhanya sedang mengalami masalah kecil. Geogjeongma..”

Taehyung melepaskan pelukannya sejenak dan menatapku dalam-dalam.

Jinjja? Benar-benar tidak ada hal serius?” tanyanya seolah berusaha memastikan.

Eo-eoh.. Eobseo.”

Taehyung terlihat menarik napas lega, lalu mengusap puncak kepalaku.

“Katakan saja padaku jika kau sedang ada masalah. Aku pasti akan membantumu, arra?”

Eo-eoh..” aku menyahut dengan sedikit gugup. Sungguh perlakuannya padaku benar-benar membuatku canggung setengah mati. Apa ini? Aku bahkan merasa kesulitan saat menelan salivaku sendiri.

Ehem!”

Aku menoleh ke arah suara yang membuat deheman tersebut, dan kulihat Sejung sudah memasang ekspresi garang ke arah Taehyung dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dada.

“Jadi– apa yang membuatmu datang ke sekolah di saat kau seharusnya beristirahat di asrama, Kim Taehyung-ssi?”

Kulihat Taehyung sedikit gugup saat mendapatkan pertanyaan itu. Ah, sikap Taehyung pada Sejung sepertinya benar-benar sudah berbeda dari sebelumnya.

Geuge — Jiyeon-a, sebenarnya aku kemari karena ingin meminta bantuanmu. Kau bisa memasak, geutji?”

Aku mengerutkan kening sejenak mendengar pertanyaannya itu.

Eoh, geureom.. Keunde wae?”

Ah, baguslah. Geuge sebenarnya Jung ssaem sudah menetapkan hukumannya pada kami, yaitu kami harus menggantikan koki di dapur asrama selama tiga minggu.”

M-mwo?” baik aku dan Sejung sama-sama terkejut mendengarnya.

Jung ssaem memang selalu memberi hukuman yang aneh-aneh selama ini, tapi memasak? Aigoo.. Aku bahkan tidak pernah berpikir kesana.

“Begitulah.. Dan kami diberi kesempatan selama seminggu untuk belajar memasak. Aku tidak tahu harus meminta bantuan lagi selain padamu.”

Mwoyaa? Apa kau pikir aku tidak pandai memasak, eoh? Aku juga bisa mengajarimu!” Sejung terdengar menyela, namun Taehyung segera menggeleng cepat.

Anni. Aku tidak akan meminta bantuan pada yeoja yang mudah marah sepertimu.”

Mworago?”

A-aahh.. Sejung-a, tenanglah. Gwaenchanha. Bagaimana kalau kita berdua saja yang mengajarinya? Bukankah dua orang lebih baik dari pada satu? Angeurae, Taehyung-a?”

A-ahh, geuge–“

Aku tahu Taehyung hendak menolak, namun aku segera memberikan isyarat padanya agar setuju saja dengan ucapanku. Akhirnya ia pun mengangguk pasrah.

Eoh. Terserah kau saja yang penting hasilnya sesuai harapan.”

Aku tersenyum mendengarnya. Taehyung turut tersenyum padaku, dan lagi-lagi aku merasa aneh karenanya.

“Ohmo! Ketua kelas apa kau kemari hanya karena ingin bertemu dengan Jiyeon?”

“Apa kalian berdua benar-benar berkencan?”

“Lalu kenapa waktu itu kalian mengelak berita itu?”

“Aigoo Ketua kelas kau romantis sekali. Bahkan dalam keadaan sakit pun kau sampai menyempatkan diri datang ke sekolah hanya untuk menemui Jiyeon..”

“Ah, bukankah tadi malam kau juga sampai menyelinap masuk ke asrama yeoja? Aigoo.. Ketua kelas memang benar-benar seorang namchin idaman.”

“Kyaaa kau benar! Aku benar-benar iri pada Jiyeon!”

Aku mulai pusing mendengar semua perkataan teman-temanku itu. namun aku hanya diam tak mengatakan apapun. Percuma berdebat dengan mereka.

A-anni, bukan seperti itu. aish! Dwaesseo. Terserah kalian saja.”

Aku sedikit geli melihat raut wajah Taehyung yang sudah seperti kepiting rebus itu. bahkan Sejung yang semula memasang wajah garangnya itu kini turut merapatkan mulutnya menahan tawa geli. Namun pada saat yang bersamaan tiba-tiba aku merasa melihat seseorang yang kukenal baru saja berbalik pergi menjauh. Aku tertegun sejenak melihatnya.

Jungkook? Bukankah tadi itu Jungkook?

Entah kenapa tapi aku merasa harus mengejarnya saat itu juga. Aku merasa sepertinya ia sedang dalam mood yang kurang baik. Lagipula aku merasa bersalah padanya karena mengabaikan pesannya juga tadi.

Ah, Sejung-a, Taehyung-a. Aku harus pergi.”

Yaa, kubilang aku akan ikut denganmu.”

A-anni. Maksudku, aku ada urusan sebentar. Sejung-a, tunggu saja aku di kantin atau di mana saja terserah. Nanti kuhubungi lagi, eoh? Geogjeongma aku tidak akan meninggalkanmu.”

Tanpa menunggu sahutan dari mereka lagi, aku segera berlari mengejar Jungkook. Yah, aku yakin yang tadi kulihat itu benar-benar Jungkook. Tapi kenapa dia terlihat kesal begitu?

*

*

Author’s POV

Jiyeon terlihat menoleh kesana kemari mencari sosok namja yang tadi sempat ia lihat berada di gedung kelasnya. Tak perlu waktu lama untuk bisa menemukan sosok itu. Jeon Jungkook, namja itu tampak berjalan lurus menuju gedung tingkat pertama. Jiyeon semakin mempercepat larinya sebelum namja itu benar-benar sampai di gedung kelasnya.

“Jungkook-a, jamkanman!”

Jungkook yang mendengar seruan itu pun berhenti melangkah, namun tak menoleh sama sekali. Jiyeon sampai di dekatnya dengan napas tersengal-sengal. Sungguh, yeoja itu amat benci berlari.

Y-yaa, hahh.. hah.. kau– kenapa cepat sekali jalanmu, eoh? Akuh–, hahh.. hah.. sampai kehabisan napas..” ucap Jiyeon terpenggal-penggal seraya sedikit membungkuk memegangi perutnya.

Melihat keadaan Jiyeon yang seperti itu membuat Jungkook tak tega melihatnya.

Sunbae– gwaenchanha?”

Jiyeon hanya mengacungkan jempol tangannya sebagai jawaban karena ia masih belum sanggup menjawab. Yeoja itu pun memilih duduk di atas bebatuan yang berada di dekatnya untuk mengumpulkan kembali tenaganya. Melihat itu, Jungkook pun turut mengikuti jejaknya dan duduk di sebelahnya pula. Namun beberapa saat kemudian ia kembali berdiri.

“Aku akan membelikan minuman untuk sunbae–“

Kajima!”

Jungkook sedikit terkejut saat Jiyeon menahan lengannya. Namja itu sempat tertegun sejenak dibuatnya.

Ah, maksudku tidak perlu. Aku sudah lebih baik.” Jiiyeon yang menyadari hal itu segera melepaskan pegangan tangannya dan mencoba bersikap normal.

Jungkook pun kembali duduk di sampingnya, dan keduanya terdiam beberapa saat lamanya.

Ehm.. Mian. Aku lupa tidak membalas pesanmu tadi. Keunde– kenapa kau ingin bertemu denganku?”

Sunbae, apa kau berkencan dengan Taehyung sunbae?”

Ehek!

Jiyeon tersedak mendengar pertanyaan itu. ia sama sekali tidak menyangka kalau Jungkook akan menanyakan hal itu padanya.

Ah, geuge– kenapa tiba-tiba bertanya hal itu?”

“Karena aku melihat hubungan kalian berdua yang begitu dekat. Aku merasa hubungan kalian lebih sekedar dari teman biasa.”

“Jungkook-a, kami berdua– memang hanya sebatas teman biasa. Kami tidak memiliki hubungan semacam itu.”

“Apakah aku bisa mempercayaimu, sunbae?”

Jiyeon tak segera menjawab. Sejujurnya ia bingung sedang menghadapi situasi seperti apa saat itu. Namun karena ia merasa memang tak memiliki hubungan apapun dengan Taehyung, ia pun mengangguk tanpa ragu.

Jungkook tersenyum lega melihatnya. Namja itu menoleh sedikit agar bisa berhadapan dengan Jiyeon.

Nuna— kurasa aku sudah hampir sembuh dari phobiaku.”

Wajah Jiyeon memerah mendengarnya.

Nu-Nuna?” ulangnya merasa aneh saat mendengar Jungkook memanggilnya begitu.

“Boleh aku memanggilmu begitu? Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya. Aku– ingin menjadi lebih dekat denganmu. Saat phobiaku benar-benar sembuh sepenuhnya, aku– ingin kau menganggapku sebagai seorang namja sejati. Aku– aku–” Jungkook menghentikan ucapannya sejenak karena ia melihat Jiyeon yang tampak seperti berusaha menahan napas dengan wajah merahnya. Jungkook bahkan baru sadar kalau kini kedua tangannya sudah menggenggam tangan Jiyeon. Namja itu dengan cepat melepaskan pegangan tangannya.

Ah, mi-mian.. Nuna aku tidak bermaksud lancang padamu.” ucapnya dengan gugup dan dengan cepat menundukkan kepalanya.

Jiyeon yang melihatnya jadi merasa tak enak karenanya.

A-ahahah g-gwaenchanha.. Aku tahu kau tidak sengaja melakukannya. Keunde– aku senang melihatmu bisa seperti sekarang. Jungkook-a, kau tampak jauh berbeda dari pertama kali aku melihatmu.”

Jungkook tersenyum mendengarnya. Jiyeon turut tersenyum pula. Entah kenapa rasanya begitu tenang dan bahagia saat melihat senyuman namja itu. Bahkan ia sudah merasakan hal itu sejak pertama kali mereka bertemu.

Ah, matta. Kudengar kalian bertiga dihukum menggantikan koki di dapur asrama, matji?” Jiyeon berusaha kembali mencairkan suasana yang semula agak canggung itu.

Eoh.. Sebenarnya tujuanku meminta kita bertemu, karena aku ingin meminta bantuanmu. Nuna maukah kau membantu mengajariku memasak?”

Jiyeon tertegun sejenak mendengarnya.

Ah Jungkook-a, sebenarnya Taehyung juga meminta bantuanku untuk mengajarinya memasak..”

Jungkook seketika memasang raut wajah kecewa mendengarnya. Ia merasa benar-benar terlambat dalam hal apapun.

Keunde geogjeongma. Bukankah kalian bisa belajar bersama, eoh? Ah, lagipula ada Sejung juga yang akan ikut membantu. Jadi kurasa tidak masalah. Apa kau setuju?”

Raut muka Jungkook sedikit berubah mendengarnya. Ia tersenyum kecil dan mengangguk.

Joha! Aigoo Jungkook-a, sepertinya kau benar-benar sudah hampir sembuh. Lihatlah kau bahkan sudah berani menatapku secara langsung.”

Jungkook tak menjawab, melainkan hanya tersenyum lebar seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Yaa, berhenti menunjukkan ekspresi seperti itu. Kau membuatku ingin memukulmu!”

Wae? Apa kau menyukainya?”

M-mwo? A-ahahaha bukan begitu.. Aigoo neo jinjja..”

Nuna, aku ingin kau melihatku sebagai seorang namja. Jadi jangan perlakukan aku seperti anak kecil begini.”

Jiyeon awalnya bingung mendengar ucapan Jungkook itu namun setelahnya ia tertawa karena tanpa sadar ia sudah mengacak rambut Jungkook dengan gemas. Selanjutnya keduanya pun tertawa bersama.

Tanpa sepengetahuan mereka, Sejung ternyata melihat semua kejadian itu dari kejauhan. Entah kenapa, ada perasaan sesak yang menelusup ke dalam hatinya saat melihat Jiyeon dan Jungkook yang tampak akrab itu. Yeoja itu menarik napas panjang sepenuh dadanya, setelah itu, ia pun berbalik dan beranjak pergi dari sana.

*

*

To : Sejung

Eodiya? – Jiyeon

Apa kau sudah selesai dengan urusanmu? – Sejung

Sepertinya begitu. Neo eodi? Apa jadi ikut denganku? – Jiyeon

Jiyeon tak segera mendapatkan balasan dari Sejung. Yeoja itu jadi sedikit heran karenanya. Ia mencoba mengetik pesan lagi pada Sejung untuk bertanya. Dan karena terlalu fokus dengan ponsel di tangannya itu, ia tidak menyadari kalau seorang namja sudah berdiri tak jauh di depannya. Alhasil, yeoja itu pun menubruk dada bidang namja tersebut.

Ohmo!” Jiyeon memekik pelan saat ponselnya terlepas dari tangannya akibat tubrukan itu. Akan tetapi dengan gerakan cepat, namja yang ditubruknya itu langsung menangkap ponsel miliknya itu sehingga benda persegi panjang tersebut tak jadi membentur lantai.

Jiyeon mendongak sejenak melihat siapa namja di depannya itu dan seketika membelalak terkejut begitu mengenalinya.

“M-Myungsoo sunbae?”

Myungsoo tak menjawab melainkan hanya memberikan tatapan tajam menusuk kepadanya, membuat Jiyeon meneguk salivanya dengan susah payah.

“S-sunbae, aku–“

Tarawa (ikut aku).” potong Myungsoo dan serta merta menarik tangan Jiyeon begitu saja agar mengikutinya.

Jiyeon tak bisa melakukan apapun selain menuruti namja tersebut. Ia malah sibuk merutuki dirinya sendiri karena lupa kalau masalahnya masih kurang satu yaitu membalas pesan Myungsoo.

Kini keduanya sampai di taman sekolah. Dan Jiyeon sudah bisa menebak kemana namja itu akan membawanya. Terbukti beberapa detik kemudian mereka sampai di bawah pohon raksasa. Myungsoo berhenti dan melepaskan pegangan tangannya.

“Duduk!” ucapnya setengah memerintah.

Lagi-lagi Jiyeon hanya diam dan menuruti apa yang namja itu ucapkan. Ia duduk di bawah pohon tersebut dengan perasaan was-was. Namun tanpa disangka-sangka, Myungsoo langsung berbaring di sampingnya dan meletakkan kepalanya begitu saja di atas pangkuannya, membuat yeoja itu melotot terkejut dibuatnya.

“S-sunbae–“

“Diam. Kau melakukan kesalahan dan bahkan belum meminta maaf padaku.”

A-arrasseo. Aku memang bersalah sudah mengabaikan pesanmu. Mianhae.. Keunde– aku benar-benar tidak bermaksud mengabaikannya..”

“Pijit kepalaku. Aku sedang pusing hari ini.”

M-mwo? Shireo!”

Yaa, kau ingin aku meminta lebih dari ini? kalau begitu cium aku sekarang.”

Jiyeon membelalak lebar mendengarnya. “M-MWO?”

“Katakan kau memilih yang mana? Pijit atau cium?”

Jiyeon mendengus kesal mendengarnya. Yeoja itu pun akhirnya hanya bisa mendesah pasrah.

Arrasseo, akan kupijit.”

Dan akhirnya ia pun benar-benar memijit kepala Myungsoo sekarang. Sungguh, ingin rasanya yeoja itu menjitak kepala namja itu sekeras mungkin kalau saja ia tidak ingat siapa namja itu sebenarnya. Namun lambat laun kekesalannya berangsur berkurang saat melihat bagaimana namja itu menikmati pijitannya. Ia terlihat memejamkan kedua matanya seolah begitu menikmati pijitan di kepalanya. Tanpa sadar, yeoja itu tersenyum sendiri melihatnya.

“Jangan salahkan aku jika kau kembali tergoda untuk menciumku.”

Ehek!

Jiyeon seketika tersadar dan kembali memasang wajah datarnya. Ia bisa merasakan hawa panas di sekitar wajahnya.

M-museun suriya? Memangnya kapan aku pernah tergoda?”

Myungsoo tersenyum kecil, namun tak juga membuka matanya.

“Park Jiyeon, suatu saat kau akan menjadi milikku. Tidak peduli berapapun dan siapapun namja lain yang menginginkanmu, kau tetap akan menjadi milik Kim Myungsoo seutuhnya. Geuraesseo, berhentilah memberikan harapan palsu pada namja lain, arrasseo?”

M-mwo? Sunbae, kapan aku pernah bilang kalau aku bersedia jadi milikmu?”

“Berhenti memanggilku dengan sebutan sunbae. Panggilan itu terlalu resmi. Sebentar lagi kita akan menjadi sepasang kekasih jadi berhenti memanggilku begitu.”

Jiyeon semakin kesal mendengar ucapan namja yang selalu seenaknya itu. ia menarik napas panjang.

Geurae, kalau begitu aku akan memanggilmu dengan namamu. Myungsoo, Kim Myungsoo. Myungsoo-ya, mau sampai kapan kau akan terus bersikap seenak jidatmu begitu, eoh?”

Myungsoo seketika membuka kedua matanya mendengarnya. Ia tidak menyangka kalau Jiyeon akan seberani itu padanya.

Yaa, kau memanggilku seperti itu, apa kau sudah tidak waras?”

Wae? Bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk tidak memanggilmu dengan sebutan sunbae lagi, eoh? Geurae, aku terima dan sekarang aku hanya akan memanggil namamu saja.”

Aish! Panggil aku Oppa! Bukan hanya Myungsoo. Bagaimanapun usiaku lebih tua darimu.”

Shireo! Memangnya apa hakmu menyuruhku memanggilmu Oppa? Kau saja bisa berbuat seenaknya, lalu kenapa aku tidak? Aku juga bisa seenaknya memanggilmu sesuka hatiku.”

Kali ini Myungsoo yang mendengus kesal. Namun namja itu tak berniat membantah lagi dan malah kembali memejamkan matanya tak peduli.

“Terserah kau saja. Tapi saat kita sudah resmi berkencan nanti, kau harus memanggilku Oppa aku tidak mau tahu. Jika kau menolak, maka aku akan terus menciummu sampai napasmu habis.”

Aish! Neo jinjja!”

Pletak!

Akh!”

Ohmo, mi-mianhae, aku refleks melakukannya.” Jiyeon seketika panik karena tanpa sadar ia memukul kepala Myungsoo saking kesalnya.

Myungsoo meringis dan menatap Jiyeon dengan sedikit jengkel, namun begitu melihat ekspresi Jiyeon yang menurutnya lucu saat meminta maaf itu membuatnya tak kuasa menahan rasa gelinya.

“Kau bahkan sudah berani memukul kepalaku. Ini benar-benar pertama kalinya bagiku. Sudah kuputuskan. Kaulah yang akan menjadi istri Kim Myungsoo kelak.”

“Y-yaa–“

Ahh matta, aku hampir lupa. Jiyeon-a, apa kau bisa memasak?”

“W-wae?”

“Ajari aku memasak. Jung ssaem memberikan hukuman–“

Ah, aku sudah tahu. Kalau memang ingin belajar memasak padaku, kau bisa belajar bersama Taehyung dan Jungkook.”

Mwo? Kenapa harus dengan mereka?”

Geureom. Bukankah kalian bertiga mendapatkan hukuman yang sama? Karena mereka berdua sudah meminta bantuan padaku lebih dulu, jadi aku memutuskan kalian bertiga akan belajar memasak bersama. Eotte? Bukankah itu bagus? Myungsoo-ya?”

Myungsoo speechless mendengarnya. Yeoja ini— benar-benar sudah berubah dalam waktu singkat. Dan apa itu tadi? Belajar memasak bersama Taehyung dan Jungkook?

Astaga, rupanya kesialanku masih berlanjut..’ batinnya gundah gulana.

*

*

To be continued..

| TEASER | PART 1 | PART 2 | PART 3 | PART 4 | PART 5 | PART 6 | PART 7 |PART 8 |

Advertisements

4 responses to “[CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 8

  1. Pingback: [CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 9 | High School Fanfiction·

  2. Entah krna aku myungyeon ship atau krna d chpter ni man momen myungyeon yg paling brkesan d antara momen yg lain’a?? kata” eomma’a jiyeon tu trdengar sprti org yg akan prgi tuk slama’a dari pd org yg brselingkuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s