[CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 7

wattpad

Previous story..

“Sunbae! Jiyeon sunbae!”

Namun sayang ia kalah cepat. Namja misterius itu telah membawa masuk Jiyeon ke dalam mobilnya, lalu segera melajukan mobilnya dengan cepat. Jungkook semakin frustasi dan bingung karenanya. Ia benar-benar tak bisa melakukan apapun saat itu.

“Andwae! Andwae! Aaaarrghhh! Park Jiyeon!!”

| TEASER | PART 1 | PART 2 | PART 3 | PART 4 | PART 5 | PART 6 | PART 7 |

Langit yang menyelimuti permukaan kota Seoul tengah menunjukkan semburat kuningnya tatkala seorang yeoja berambut panjang dengan sedikit poni di jidat mulusnya keluar dari rumah sakit Kingo. Kim Sejung, yeoja tersebut terlihat asyik dengan ponsel di tangannya. Saudara kembar Kim Taehyung itu memang berencana ingin pergi ke asrama sebentar untuk mengambil beberapa barang yang dibutuhkannya. Sebenarnya ia bisa saja meminta tolong Jiyeon untuk mengambilkannya, namun yeoja itu mengurungkan niatnya karena sahabatnya itu baru saja mengatakan bahwa ia sedang ada urusan sebentar di luar. Sejung tak tahu apa urusan yang dimaksud Jiyeon, akan tetapi entah kenapa ia merasa Jiyeon tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Namun semua itu tak terlalu ia permasalahkan, toh ia sendiri juga sempat menyembunyikan masalahnya dari Jiyeon. Meski begitu tak urung Sejung tetap penasaran akan hal tersebut.

Tiinn.. Tiinn…”

Ohmo, ohmo, ohmo!” Sejung terkejut setengah mati saat seorang pengendara motor hampir menyerempetnya di tepi trotoar. Yeoja itu melotot ke arah pengendara motor yang kini berhenti di sampingnya itu dan sudah siap meledakkan amarahnya.

Eoh! Sejung sunbae!”

Amarah Sejung sedikit mereda begitu mendengar namanya disebut. Yeoja itu sedikit memicingkan kedua matanya seolah berusaha mengenali namja pengendara motor tersebut.

Nuguseyo?” tanyanya heran.

Namja pengendara motor itu membuka helmnya sejenak dan tampaklah tampang seorang namja yang cukup tampan sekaligus imut di depan Sejung.

Sunbae, nan Jinho, Jo Jinho, hoobae-mu di sekolah.” ucap namja itu seraya tersenyum manis.

Sementara Sejung justru semakin heran, pasalnya ia tak pernah mengingat murid-murid namja tingkat pertama, kecuali Jungkook tentunya

Sementara Sejung justru semakin heran, pasalnya ia tak pernah mengingat murid-murid namja tingkat pertama, kecuali Jungkook tentunya.

Sementara Sejung justru semakin heran, pasalnya ia tak pernah mengingat murid-murid namja tingkat pertama, kecuali Jungkook tentunya

Sunbae, aku mencarimu seharian tadi di sekolah. Aku tidak tahu kalau sunbae tidak masuk hari ini. Keunde, ngomong-ngomong, sedang apa sunbae di sini?”

Yaa, berhentilah bersikap sok akrab padaku begitu. Untuk apa kau mencariku di sekolah? Aku tidak mengenalmu. Dan satu hal lagi, kau hampir saja menabrakku. Apa kau tidak ada cita-cita sedikitpun untuk meminta maaf padaku, eoh?”

A-ahh.. J-jeoseongeyo, sunbae.. Mianhae, aku benar-benar tidak sengaja tadi. Sunbae gwaenchanha?”

Anni. Angwaenchanha. Tapi aku akan merasa lebih baik kalau kau segera menghilang dari pandanganku sekarang juga. Arrachi?”

Jinho meneguk ludah mendengarnya. Meskipun ia sudah tahu kalau Sejung adalah tipe yeoja yang galak, tetap saja ia masih sedikit gentar karenanya. Belum sempat namja itu menjawab, Sejung sudah beranjak pergi dari tempatnya.

Ah, Sejung sunbae, jamkanman!” Jinho kembali mengendarai motornya namun kali ini dengan perlahan dan mensejajarkan posisinya dengan Sejung.

Wae tto?”

Sunbae kau tidak bersama Jiyeon sunbae?”

“Bukan urusanmu. Kenapa kau ingin tahu sekali, eoh?”

Ah, m-mian. Keunde ada sesuatu yang kupikir Sejung sunbae perlu mengetahuinya.”

“Jangan berbelit-belit. Kalau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja lalu cepatlah pergi.”

Geuge— apa sunbae sudah tahu soal berita hangat yang baru saja tersebar di sekolah?”

Mwonde? Kalau maksudmu soal penyusup itu, aku sudah tahu jadi kau tak perlu memberitahuku lagi.”

Anni-anni.. Bukan itu. Ah, kalau begitu— apa sunbae juga tahu soal Eomma Jiyeon sunbae yang diberitakan— geuge— berselingkuh dengan partner kerjanya?”

Langkah kaki Sejung terhenti mendengarnya. Yeoja itu kembali menoleh dan menatap tajam ke arah Jinho yang masih setia di atas motornya itu.

Museun suriya? Jangan mengatakan hal yang membuatku marah.”

A-anni-anniyo, sunbae.. Aku hanya bertanya.”

“Katakan padaku darimana kau dapatkan berita semacam itu, eoh?”

Geuge— itu tertempel di mading sekolah siang tadi.”

Mworago?” Sejung terkejut mendengarnya. Ia langsung teringat pesan dari Jiyeon beberapa saat yang lalu. Saat yeoja itu mengatakan kalau ia sedang ada urusan. Apa mungkin Jiyeon sedang menyelidiki kebenaran berita tentang Eommanya itu?

‘Aish sial, aku sebagai sahabatnya justru tidak tahu apapun di saat Jiyeon membutuhkan bantuanku. Pasti seharian ia merasa dikucilkan di sekolah. Pasti ia jadi bahan pembicaraan semua murid-murid Kingo. Dia pasti sangat bingung dan kalut dengan pikirannya saat ini. Aish, sahabat macam apa aku ini?’ batin Sejung.

Tanpa mengatakan apapun lagi, Sejung pun kembali beranjak.

Eoh, Sunbae eodiga?” tegur Jinho heran.

“Kemana lagi? Tentu saja menemui Jiyeon. Aku harus ada di sampingnya saat ini. Aish, kalau saja aku tahu siapa yang menyebarkan berita itu, pasti sudah kucincang habis tubuhnya. Ck! Sudahlah kau pergi saja sana, jangan mengikutiku lagi.”

Ah, sunbae— sebenarnya, aku tau siapa yang menyebarkan berita itu. Kebetulan saat itu— aku mendengar pembicaraan mereka di ruang club mading.”

M-mwo? Yaa, nugu? Siapa yang melakukannya, eoh?’

Geuge— dia adalah— Yoon Sohee sunbae..”

*

*

Di saat yang bersamaan, sebuah mobil berwarna silver terlihat berhenti tepat di depan rumah sakit Kingo. Di dalam mobil tersebut tampak seorang namja berparas tampan yang masih mengenakan seragam sekolahnya lengkap duduk di belakang, sementara seorang namja paruh baya berada di depan kemudi. Namja tampan yang tak lain adalah Kim Myungsoo itu terlihat mengutak atik ponsel di tangannya seolah tengah menghubungi seseorang, hingga beberapa saat kemudian namja itu pun keluar dari mobil dan mulai menyambungkan panggilannya.

Yoboseyo..”

Eodi? Aku sudah sampai di depan.”

Ah, Myungsoo Oppa. Bisakah kau menunggu sebentar lagi? Geuge— aku masih ada sedikit urusan dengan Kimbum. Kau tahu namja ini sangat keras kepala dan aku harus—”

Arrasseo. Keunde cepatlah, Appa sudah menunggu kita. Jangan sampai kita terlambat” potong Myungsoo, lalu setelahnya ia pun memutuskan sambungan teleponnya.

Namja itu membuang napasnya asal, dan bemaksud kembali masuk kedalam mobil, namun niatnya urung sejenak begitu kedua matanya menangkap sosok seseorang yang tidak begitu asing baginya.

Yeoja itu— bukankah dia salah satu temannya Park Jiyeon?” gumamnya.

“—aku tidak akan pernah membiarkan orang yang sudah mencemarkan nama baik Jiyeon begitu saja. Siapapun orangnya, aku pasti akan membuat perhitungan dengannya.”

“Sunbae, ikut saja denganku. Aku akan mengantarmu menemui Jiyeon sunbae.”

“Mwo?”

“Wae? Bukankah lebih baik ikut denganku daripada naik bus? Lagipula sunbae tidak perlu mengeluarkan uang.”

“Yaa, siapa bilang aku mau naik bus? Kau tidak tahu kalau aku bisa saja menghubungi sopir pribadiku, eoh? Tapi sudahlah, tidak ada salahnya ikut denganmu. Kkaja, kita jalan saja dulu, aku akan mencoba menghubungi Jiyeon.”

“Whoa jinjja, sunbae benar-benar mau ikut denganku? Aigoo.. Semoga ini bukan mimpi.”

Berhenti bicara yang tidak berguna dan cepatlah jalan.”

“A-ah, ne.. Tentu saja.”

Detik berikutnya Myungsoo pun melihat keduanya mulai bergerak menjauh dari pandangannya. Namja itu terdiam sejenak, teringat dengan ucapan yeoja yang tak lain adalah Sejung bebebrapa saat yang lalu itu.

“Mencemarkan nama baik Jiyeon? Apa maksudnya?” lagi-lagi namja itu bergumam seorang diri. Ia memang tidak tahu menahu soal berita tentang Eomma Jiyeon yang tertempel di mading siang tadi, karena namja itu terlalu asyik dengan fantasinya sendiri akibat kejadian yang dialaminya bersama Jiyeon di taman sekolah tadi.

Oppa mwohae?”

Myungsoo sedikit tersentak oleh teguran itu. Ia mendapati seorang yeoja dengan rambut terikat ke belakang tengah berdiri di hadapannya. Kim Soeun, adiknya.

"Eoh, kau sudah selesai?" sahut Myungsoo setengah sadar

Eoh, kau sudah selesai?” sahut Myungsoo setengah sadar.

Eoh.. Aku sudah puas memarahi Kimbum. Keunde Oppa, kenapa wajahmu terlihat bingung begitu? Apa terjadi sesuatu?”

A-anni. Anniya. Kkaja.” Myungsoo mendahului Soeun masuk ke dalam mobil.

Sementara Soeun yang sejak awal sudah merasa aneh melihat sikap Oppanya itu hanya mengangkat bahunya, lalu mengikuti jejak Myungsoo masuk ke dalam mobil.

*

*

Sementara itu Jiyeon tampak terkulai tak sadarkan diri di dalam mobil yang membawanya pergi. Yeoja itu pingsan akibat obat bius yang digunakan untuk membungkam mulutnya beberapa saat yang lalu. Sedangkan namja yang kini tengah sibuk di depan kemudinya itu terlihat menyunggingkan senyumnya sambil sesekali menatap Jiyeon yang terkulai lemas melalui kaca spion mobilnya. Namja itu tampak puas melihat paras yeoja yang baru saja diculiknya itu.

“Aku tidak tahu kalau Sohee memiliki teman secantik ini. Tidak sia-sia aku menuruti permintaannya. Dia memang sangat mengerti seperti apa seleraku.” namja itu bergumam seorang diri.

Beberapa menit kemudian, begitu mobilnya melewati jalanan yang sepi dan jauh dari kota, namja itu bermaksud menepikan mobilnya untuk menghubungi seseorang. Namun tiba-tiba saja seorang namja yang mengenakan hoodie tampak berlari menyebrang tepat di depan mobilnya membuat namja itu menginjak rem secara mendadak.

Yaa! Kau mau mati, eoh?” teriaknya pada namja hoodie tersebut.

Namja hoodie itu tak segera menyahut melainkan hanya menatap datar ke arahnya.

Namun beberapa saat kemudian ia pun membungkukkan setengah badannya

Namun beberapa saat kemudian ia pun membungkukkan setengah badannya.

Jeoseonghamnida.” ucapnya, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan namja tersebut.

Aish! Dasar bocah tidak berguna. Lagipula sedang apa dia berada di tempat sepi begini?” gumam namja itu kesal, namun beberapa saat setelahnya ia kembali fokus pada ponsel di tangannya dan mulai menghubungi seseorang.

Yeobeoseyo.”

“Aku sudah membawanya ke tempat sepi. Apa yang harus kulakukan sekarang?”

Bagus. Sekarang terserah kau mau apakan dia. Yang penting jangan sampai dia mati, karena aku tak mau dia mati semudah itu. Aku ingin dia menderita seumur hidup. Apa kau mengerti maksudku?”

Hahahaha tentu saja aku mengerti. Lagipula dia benar-benar seleraku. Tubuhnya sangat bagus, bahkan jauh lebih menggoda daripada tubuhmu.”

Berhenti bicara omong kosong dan cepat lakukan saja perintahku. Begitu kau selesai dengannya, tinggalkan saja dia di jalan.”

Geurae, arrasseo. Aku akan melakukannya.”

Bip.

Sambungan pun terputus. Kini pandangan namja itu beralih pada Jiyeon yang masih tergeletak di belakang. Setelah kembali menyunggingkan senyum iblisnya, namja itu pun beringsut ke belakang dengan kedua tangannya yang mulai bergerak perlahan mengelus wajah mulus Jiyeon yang hampir tanpa cacat itu. Sekali lagi namja itu tersenyum, dan tangannya sudah siap menjelajahi baju seragam Jiyeon yang masih membungkus tubuhnya. Namun begitu namja itu mulai membuka kancing kemeja seragam Jiyeon, tiba-tiba saja sebuah tangan menarik kerah belakang baju namja tersebut dan menyeretnya paksa keluar dari dalam mobil.

Bugh! Bugh!

Dalam hitungan detik, dua bogeman langsung mendarat di wajah namja tersebut.

“Kurangajar! Siapa kau berani memukulku, eoh?”

*

*

Jungkook yang masih tampak frustasi itu menoleh kesana kemari berusaha mencari kendaraan yang bisa mengantarnya mengikuti mobil yang membawa Jiyeon barusan. Namun betapapun ia berusaha mencoba menghentikan mobil yang melewatinya, tak satupun dari mereka yang bersedia berhenti. Jungkook semakin frustasi dibuatnya. Namun air mukanya yang semula amat sangat kacau itu seketika berubah 180 derajat begitu kedua matanya melihat sosok seseorang yang dikenalnya tengah mengendarai sebuah motor di kejauhan. Dengan cekatan Jungkook pun berlari dan langsung menghentikannya.

Ohmo! Ohmo! Mwoya? Eoh! Jungkook-a, kau— yaa! Mwohaneun geoya, eoh? Neo michyeosseo? Kenapa kau berlari ke tengah jalan begitu? Apa kau sudah bosan hidup, eoh?” namja yang tak lain adalah Jinho itu terlihat kaget sekaligus kesal karena ia hampir saja menabrak Jungkook. Sementara Sejung yang saat itu tengah dibonceng oleh Jinho turut terkejut pula bahkan jauh lebih terkejut saat melihat namja yang menghentikan mereka itu adalah Jeon Jungkook. Ia tidak menyangka kalau ternyata Jungkook dan Jinho saling mengenal. Namun yeoja itu hanya diam tanpa berkomentar apapun.

“Jino-ya, bisakah aku minta tolong padamu? Pinjami aku motormu sebentar. Ini sangat mendesak. Eoh, jebal.”

M-mwo? Keunde—”

Jebal, Jino-ya. Jebal. Aku janji pasti akan mengembalikannya padamu. Eoh?”

Jinho tak segera menjawab. Sebenarnya ia sangat bingung dan penasaran kenapa Jungkook bersikeras meminjam motornya. Namun karena melihat ekspresi Jungkook yang seperti orang kebingungan sekaligus cemas itu membuatnya tak tega untuk menolak.

Ah, sunbaemian tapi sepertinya kita harus turun di sini.” ucapnya kemudian pada Sejung yang masih terdiam di belakangnya.

Yeoja itu hanya menyahut kecil, lalu turun dari atas jok motor Jinho. Hingga Jungkook mengambil alih motor tersebut, Sejung masih bungkam sekaligus diliputi rasa penasaran.

“Memangnya kau mau kemana? Sepertinya buru-buru sekali?” tanya Jinho pula.

“Aku mau mengejar Jiyeon sunbae. Dia diculik.”

MWO??” baik Jinho maupun Sejung terbelalak mendengarnya.

Namun belum sempat mereka bertanya apapun lagi, Jungkook sudah melajukan motornya dengan kecepatan penuh.

Yaa! Apa katanya tadi? Jiyeon— diculik?” kini Sejung benar-benar panik dan khawatir. Pantas saja sejak tadi nomor Jiyeon tak bisa dihubungi. Jadi rupanya dia diculik? Lalu siapa yang menculiknya? Kenapa dan apa maunya? Sejung benar-benar kalut saat itu.

Sementara itu pada saat yang bersamaan, mobil yang ditumpangi oleh Myungsoo dan Soeun kebetulan lewat di jalan di mana Sejung dan Jinho berada. Soeun yang kebetulan melihat Sejung di tepi jalan itu sedikit tersentak.

Eoh! Bukankah dia yeoja yang tadi di rumah sakit?”

Myungsoo menoleh saat mendengar ucapan adiknya itu.

“Kau mengenalnya?” tanyanya.

“Tidak juga. Geuge— tadi saat aku hendak ke ruang rawat Kimbum, aku salah masuk kamar dan malah masuk ke kamar orang lain. Yeoja itu, dia juga ada di sana tadi.”

“Dia murid Kingo.”

Eoh jinjja? Kalau begitu apa dia juga mengenal Jiyeon eonnie?”

Myungsoo tak menjawab dan hanya melihat ke arah Sejung dan Jinho berada. Entah kenapa ia merasa ada yang janggal saat itu. Bukankah mereka berdua tadi bermaksud hendak menemui Jiyeon? kenapa malah berada di tepi trotoar begitu? Dan juga mereka seperti sedang kebingungan. Entah kenapa tapi Myungsoo merasa ada yang kurang beres dengan mereka.

Ahjussi, berhenti sebentar. Tolong mundur sedikit, ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada temanku.”

Ahn Junghwan, sopir pribadi Myungsoo itu pun menyahut mengiyakan dan menuruti perintah anak majikannya itu. Begitu mobilnya berhenti tepat di depan Sejung dan Jinho, Soeun membuka kaca jendela mobilnya.

Sejung yang melihat yeoja itu sedikit terlonjak.

Eoh! Kau bukankah yang tadi salah masuk kamar?” ucapnya.

Matjayo. Annyeong!” Soeun melambai kecil dan tersenyum manis.

Sejung membalasnya dengan sedikit canggung sekaligus heran. Namun ekspresinya berubah terkejut saat melihat sosok namja yang duduk di samping Soeun.

Eoh? K-Kim Myungsoo sunbae?”

“Sedang apa kalian di sini?” tanya Myungsoo pula.

Melihat Myungsoo di sana, secara refleks Sejung pun menghambur dan bahkan hampir menubruk kaca jendela mobil Myungsoo, membuat Soeun dan Myungsoo terkejut karenanya.

“Myungsoo sunbae, kami butuh bantuanmu. Jebal, bantu kami mengejar penculik itu.”

Myungsoo semakin tak mengerti mendengar ucapan Sejung itu.

“Penculik? Museun suriya?”

“Jiyeon. Jiyeon diculik oleh seseorang. Jebal, bantu kami mengejarnya, sunbae.”

M-mworago?”

*

*

Jungkook mempercepat laju motornya dengan perasaan tak menentu. Ia benar-benar khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Jiyeon. Kedua matanya berusaha menemukan sosok mobil yang tadi membawa lari Jiyeon. Cukup lama ia mencari, hingga akhirnya ia berhasil menemukan mobil tersebut. Dengan kecepatan penuh Jungkook melajukan motornya mengejar mobil tersebut, namun sayang ia tak dapat mengimbangi kecepatan mobil itu dan justru malah tertinggal cukup jauh. Meski begitu ia tak berputus asa. Ia yakin namja itu pasti membawa Jiyeon ke tempat yang jauh dari keramaian kota. Untuk itulah ia memilih melewati jalan yang sekiranya cukup aman untuk orang jahat melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan orang lain. Cukup lama ia menyusuri jalanan yang sepi itu hingga beberapa saat kemudian kedua matanya menangkap sebuah mobil yang terparkir di tepi jalan. Dengan tak sabar Jungkook semakin mempercepat motornya hingga akhirnya ia sampai di depan mobil tersebut.

Secepat kilat Jungkook memarkir motornya dan langsung berlari menuju mobil tersebut. Namun alangkah terkejutnya ia saat melihat pemandangan di depannya. Seorang namja tengah tergeletak tak bernyawa di luar mobil dengan pisau yang menancap di dadanya disertai darah yang berceceran di sekitar tubuhnya. Napas Jungkook seketika sesak melihatnya. Dengan cepat namja itu membuka pintu mobil, berharap ia menemukan Jiyeon di sana. Sesaat kemudian ia menarik napas lega begitu ia melihat tubuh Jiyeon yang tergeletak tak berdaya di dalam mobil. Namja itu masih sempat berpikir sebelum membawa Jiyeon. Otaknya berputar keras berusaha menebak siapa namja yang terbunuh itu sekaligus yang membunuh namja penculik tersebut. Jiyeon tak mungkin melakukannya, lagipula yeoja itu masih tak sadarkan diri. Lalu siapa yang membunuh namja itu? Apa dia temannya? Lalu kenapa ia tak membawa Jiyeon kabur? Berbagai macam pertanyaan memenuhi kepala Jungkook, akan tetapi namja itu lebih memilih memikirkan itu nanti karena ia justru saat ini kembali dibuat bimbang ketika harus berpikir bagaimana caranya ia membawa Jiyeon. di satu sisi ia masih belum sepenuhnya berani menyentuh tubuh yeoja, mengingat phobianya itu. Tapi di sisi lain tak ada yang bisa dilakukannya kecuali mengangkat Jiyeon keluar. Setidaknya ia bisa membuat Jiyeon sadar dari pingsannya. Akhirnya setelah membulatkan tekadnya dan memberanikan diri, Jungkook benar-benar menyentuh tubuh Jiyeon dan mengangkatnya keluar dari dalam mobil.

KYAAAAAAA!!!”

Jungkook terkejut mendengar jeritan itu. Begitu ia keluar dari mobil dengan tubuh Jiyeon yang dibopongnya, ia sudah melihat beberapa orang di sana. Kim Myungsoo dan teman-temannya.

“J-Jungkook-a, k-kau—” Jinho tak mampu melanjutkan ucapannya karena terlalu shock saat melihat mayat yang kini tergeletak di hadapannya.

Sementara Jungkook hanya diam tak menyahut. Entah kenapa ia merasa kenangan masa lalu seperti terulang kembali. Situasi ini, ini seperti dejavu baginya.

Melihat Jungkook yang terdiam, Sejung langsung berlari menghampiri Jiyeon yang digendong olehnya.

“Jiyeon-a, Jiyeon-a, gwaenchanha? Yaa, ireona..” Sejung berusaha menepuk-nepuk pipi Jiyeon namun yeoja itu tetap tak bergeming sedikitpun.

“Dia masih terpengaruh oleh obat bius.” ucap Jungkook menjelaskan.

Sejung tak menjawab. Entah kenapa ada sedikit rasa takut di hatinya saat melihat Jungkook. Dan Jungkook tahu itu. Jungkook tahu mereka pasti berpikir kalau dialah yang membunuh namja penculik tersebut. Namun Jungkook sama sekali tak berniat membela diri. Toh juga rasanya percuma.

“Bawa dia masuk ke dalam mobilku. Ahjussi, tolong hubungi polisi dan laporkan kejadian ini.” ucap Myungsoo kemudian.

Jungkook masih terdiam di tempatnya. Kedua matanya menatap tajam ke arah Myungsoo seolah menyiratkan pertanyaan ‘apa kau juga mencurigaiku?’. Namun Myungsoo hanya menghela napas panjang.

“Bawa saja dia kedalam mobilku. Biar polisi yang menangani kejadian ini.” ulangnya.

Akan tetapi Jungkook masih belum bergerak dari tempatnya. Myungsoo pun membuka pintu mobilnya, memberi isyarat agar Jungkook membawa Jiyeon masuk ke dalam. Meski masih diliputi kebimbangan, akhirnya Jungkook pun membawa masuk Jiyeon.

Geuge— aku akan naik motorku saja.” ucap Jinho yang masih berdiri di tempatnya itu dengan sedikit canggung.

Gomawo, Jino-ya. Mian, aku membawanya sedikit kasar tadi.” Jungkook menyahut sesaat setelah ia meletakkan Jiyeon ke dalam mobil Myungsoo.

A-ah, ne. Gwaenchanha. Keunde— apa kau tidak ikut denganku saja?”

Jungkook tak segera menjawab. Ia menatap Jiyeon yang tampak pulas di dalam mobil milik Myungsoo.

Anni, aku ingin berada di samping Jiyeon sunbae sampai ia sadar nanti. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja di saat ia tak berdaya begini. Lagipula, aku tahu kau merasa takut padaku saat ini, geutji?”

Jinho tersedak mendengarnya. Namun ia berusaha tersenyum dan mengangguk.

A-arrasseo..” katanya.

Sementara Myungsoo dan Sejung yang mendengar ucapan Jungkook barusan itu entah kenapa merasa sedikit tak enak. Meskipun Myungsoo tahu kalau Jungkook dan Jiyeon memang dekat, tapi tetap saja rasanya aneh bahkan nyaris seperti tak rela mendengar ucapan itu keluar dari mulut Jungkook. Begitupun yang dirasakan Sejung. Yeoja itu bahkan tidak menyangka kalau hubungan Jiyeon dengan Jungkook ternyata cukup dekat. Entah kenapa Sejung merasa selama ini Jiyeon tidak berterus terang padanya. Berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya saat itu. Tapi meski begitu, rasa sayangnya pada Jiyeon jauh lebih besar, sehingga ia pun mengesampingkan perasaannya dulu untuk saat ini.

*

*

Seorang perawat muda terlihat menuliskan laporan di buku catatannya yang berisi tentang perkembangan kondisi Taehyung.

Chukkae, Taehyung-ssi. Keadaanmu sudah semakin membaik. Kau hanya tinggal istirahat lebih banyak dan keadaanmu akan benar-benar pulih.”

“Jadi aku sudah bisa pulang?”

Anniyo. Kau masih perlu menjalani tahap pemulihan dulu. Mungkin dua tiga hari lagi baru bisa pulang.”

Taehyung mendesah kecil mendengarnya. sejujurnya ia sama sekali tidak betah terus berada di rumah sakit. Ia ingin kembali menjalani hari-harinya di sekolah dan asrama seperti biasanya. Ia ingin bertemu dan berkumpul dengan teman-temannya lagi, terutama dengan Jiyeon. Namja itu sudah merasa rindu pada Jiyeon dan ingin segera bertemu dengannya.

Begitu perawat muda itu keluar dari ruang rawatnya, Taehyung meraih ponsel miliknya yang semula berada di atas nakas kecil di samping ranjangnya, dan mulai mencari kontak Sejung yang baru saja didapatnya semalam. Setelah itu ia mulai mengetikkan beberapa pesan pada saudara kembarnya itu.

Neo eodiya? – Taehyung

Di jalan. – Sejung

Apa nanti malam kau akan kembali ke rumah sakit? – Taehyung

Eoh.. Aku akan kembali kesana nanti. – Sejung

Bersama Jiyeon? – Taehyung

Taehyung tak segera mendapatkan balasan dari Sejung. Namja itu jadi sedikit tak enak karenanya.

Apakah aku terlalu mencolok?’ pikirnya.

Lupakan saja. Aku hanya ingin tahu. Geureom, berhati-hatilah di jalan. – Taehyung

Eoh,. – Sejung

Taehyung semakin merasa tak enak saat membacanya. Ia penasaran kenapa Sejung bersikap agak aneh begitu? ‘Apa mungkin Sejung benar-benar tidak suka kalau aku menyukai Jiyeon?’ lagi-lagi ia membatin.

Drrt.. drrt..

Namja itu sedikit terkejut saat ponselnya kembali bergetar beberapa saat kemudian. Pesan dari Sejung.

Bagaimana keadaanmu saat ini menurut dokter? – Sejung

Taehyung mengerutkan keningnya sedikit saat membaca pesan Sejung itu. ia merasa ada yang aneh.

Sudah lebih baik. Dua tiga hari lagi aku sudah bisa pulang. Wae? – Taehyung

Apa mendengar berita buruk akan mempengaruhi keadaanmu? – Sejung

Taehyung tak segera mengetik pesan balasan. Dalam hati ia mulai bertanya-tanya apa maksud Sejung bertanya seperti itu? Apa mungkin yeoja itu memiliki berita buruk untuknya?

Sepertinya tidak masalah. Aku sudah merasa jauh lebih baik. – Taehyung

Jinjja? Kau yakin? – Sejung

Ada apa? Katakan saja. – Taehyung

Jiyeonie— baru saja diculik. Keunde geogjeongma. Dia sekarang bersama kami. Meski dia masih belum sadarkan diri. – Sejung

Taehyung terkejut saat membacanya. Namja itu tertegun.

Jiyeon diculik? Siapa yang menculiknya? Dan kenapa ia menculik Jiyeon?

Apa sekarang Jiyeon baik-baik saja? Lalu bagaimana dengan penculiknya? – Taehyung

Sudah kukatakan kalau sekarang dia masih belum sadar. Tapi dia sudah aman bersama kami. Dan mengenai penculiknya, dia sudah mati. Ada seseorang yang membunuhnya – Sejung

Taehyung tercengang sejenak. Jiyeon diculik, dan penculiknya sudah mati? Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa akhir-akhir ini terjadi hal-hal semacam ini? Taehyung memijit keningnya sejenak.

“Aku harus keluar secepatnya dari rumah sakit.” gumamnya pelan.

Namun beberapa saat setelahnya, namja itu kembali tertegun saat membaca ulang pesan Sejung.

“Kami? Apa Sejung sekarang bersama dengan orang lain? Nugu?”

*

*

Seorang yeoja berambut panjang sebahu terlihat tengah asyik meneguk segelas wine di sebuah club. Suara hiruk pikuk yang menjadi ciri khas tempat tersebut sama sekali tak mengganggunya, bahkan ia merasa sangat menikmatinya, terbukti dengan ekspresinya yang terlihat senang dan sesekali tertawa kecil. Ia sudah setengah mabuk saat seorang yeoja lainnya datang menghampirinya dengan memasang wajah kesal sekaligus khawatir.

Yaa, Sohee-ya! Mau sampai kapan kau akan terus di sini, eoh? Kita harus kembali ke asrama sebelum pukul sepuluh malam.” ujar yeoja yang tak lain adalah Kim Jiwon itu.

Yoon Sohee, yeoja yang masih dengan segelas wine di tangannya itu menatap Jiwon sekilas, lalu kembali tergelak.

“Apa katamu? Asrama?” ucapnya seolah berkata pada dirinya sendiri.

Aigoo.. Apa kau mabuk? Aish, sudah berkali-kali kubilang hentikan kebiasaan burukmu ini. kau masih terlalu muda untuk melakukan hal semacam ini. Kkaja kita pergi.” Jiwon merebut minuman memabukkan itu dari tangan Sohee, lalu serta merta menarik dan membantu Sohee berdiri, namun yeoja itu menolaknya.

Shireo, aku ingin tetap di sini. Aku— sedang merayakan keberhasilanku, hik.. Apa kau tahu? Yeoja itu— Park jiyeon. aku benar-benar telah membalaskan sakit hatiku hari ini padanya. Hahaha hik.. Aku— telah membuatnya menderita, hahaha hik..” Sohee meracau dengan suara khas orang mabuk.

Jiwon sempat tertegun mendengar ucapan itu, namun ia tak ingin ambil pusing. Toh itu bukan urusannya. Ia hanya ingin cepat keluar dari tempat bising ini dan membawa Sohee pergi bersamanya.

“Terserah apa katamu. Yang penting kita harus kembali ke asrama sekarang. Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau akan mulai tinggal di asrama dan mentaati peraturan asrama, eoh? Atau justru kau ingin Myungsoo tahu hal ini dan membuatnya semakin membencimu?”

Sohee nampak terdiam mendengar perkataan Jiwon. Tiba-tiba saja raut wajah yeoja itu berubah sedih sekaligus marah.

“Myungsoo Oppa— hiks.. dia benar-benar keterlaluan, hiks.. Berani sekali dia menolak yeoja sempurna sepertiku dan lebih memilih yeoja keparat itu, hiks.. Keunde— hik.. Kali ini aku yang akan mendapatkannya. Hik.. Akulah yang akan memenangkan hatiinya. Hik..”

Arrasseo, arrasseo. Kkaja, kita pergi sekarang.” Jiwon pun membantu dan membimbing Sohee berjalan keluar dari club tersebut dengan sedikit kewalahan.

Namun setibanya mereka di luar, tiba-tiba saja ponsel milik Sohee berbunyi. Keduanya berhenti sejenak dan dengan sedikit kepayahan Sohee mengambil ponsel miliknya itu lalu mengangkat panggilan tersebut tanpa memperhatikan ID caller yang tertera di sana.

Yeobeoseyo.” ucapnya dengan suaranya yang masih parau karena mabuk.

Yoon Sohee?” terdengar suara yeoja dari seberang.

Eoh.. Nuguseyo?”

“Belum saatnya kau mengetahui siapa aku. Keunde— ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu.”

Sohee mengerutkan keningnya, masih dengan setengah sadar akibat mabuk.

Mwonde?”

“Apa kau— benar-benar menyukai Kim Myungsoo? Kau ingin mendapatkannya?”

Kesadaran Sohee sedikit membaik dari sebelumnya meski masih setengah mabuk saat mendengar pertanyaan itu.

“Katakan siapa kau dan apa maumu?”

Terdengar suara tawa renyah sekaligus terkesan licik dari seberang sana, membuat Sohee semakin penasaran dibuatnya.

“Kalau kau memang benar-benar ingin mendapatkan Myungsoo, kau harus bersedia bekerja sama denganku. Aku jamin, kau pasti bisa mendapatkan Myungsoo seutuhnya.”

Sohee tak segera menjawab. Meskipun ia sudah mulai menemukan kembali kesadarannya, kepalanya tetap terasa pusing sehigga membuatnya enggan berpikir panjang untuk menebak siapa yang sebenarnya tengah meneleponnya saat ini.

“Kalau kau bersedia bekerjasama, datanglah ke Penta cafe besok pukul 8 malam.”

Sohee masih belum menyahut. Ia masih berusaha menerka-nerka si penelepon itu.

Ah, dan satu lagi. Orang suruhanmu itu— aku terpaksa melenyapkannya, karena rencanamu itu terlalu gegabah. Tapi tenang saja, aku punya rencana yang lebih menarik daripada rencanamu itu.”

Kedua mata Sohee membulat begitu mendengarnya.

M-mworago?”

“Geureom, kutunggu besok malam di Penta cafe.”

Bip. Tuut.. tuut..

Y-yeobeoseyo! Yeobeoseyo! Aishh!” Sohee mengumpat tak jelas saat sambungan teleponnya dimatikan sepihak. Ia benar-benar penasaran dengan orang yang baru saja meneleponnya itu. Sebenarnya siapa dia? Kenapa orang itu bisa tahu kalau dia menyuruh seseorang untuk mencelakai Jiyeon? Apa itu mata-mata yang disuruh Jiyeon? lalu kenapa dia meminta bekerjasama?

AISSHH!!” sekali lagi Sohee mengumpat sambil meremas rambutnya dengan kesal.

Yaa, wae geurae? Kenapa kau tiba-tiba tampak stress begitu, eoh? Siapa yang baru saja meneleponmu? Katakan padaku.” Jiwon yang sejak tadi sudah penasaran setengah mati karena melihat gelagat ganjil Sohee itu mendesak, namun yeoja itu justru malah mendadak membungkam mulutnya sendiri menggunakan tangannya dengan membungkuk seperti hendak muntah.

Mwoya? Sohee-ya, gwaenchanha?” Jiwon tampak khawatir saat melihatnya.

Ah, Jiwon-a, aku pusing sekali. Ayo kita pulang.” ucap Sohee seraya berusaha menggapai tangan Jiwon yang kembali memapahnya berjalan menuju mobil.

*

*

Wajah Sejung terlihat khawatir saat ia membenarkan letak selimut yang menutupi tubuh Jiyeon. Selepas meninggalkan tempat kejadian tadi, mereka memang memutuskan untuk membawa Jiyeon ke asrama saja, karena mereka tak ingin membuat orangtua Jiyeon khawatir akan keadaan putri mereka itu. Walau bagaimanapun juga Sejung tahu sebesar apa rasa sayang Jiyeon pada orangtuanya. Yeoja itu tak pernah memberitahu mereka setiap kali ia mengalami hal yang buruk. Untuk itulah Sejung meminta agar Jiyeon dibawa ke asrama saja. Jung Eunji, kepala asrama yeoja baru saja datang untuk melihat keadaan Jiyeon. Namun begitu ia merasa Jiyeon baik-baik saja, ia pun kembali kekamarnya sendiri. Meski begitu, hingga sekarang Jiyeon masih belum juga sadarkan diri. Rupanya obat bius itu benar-benar ampuh bahkan masih bertahan hingga berjam-jam.

Barulah ketika Sejung sudah mulai mengantuk dan hampir tertidur, Jiyeon perlahan membuka kedua matanya. Yeoja itu melihat sahabatnya itu kini tengah duduk di samping tempat tidurnya.

“Sejung-a..” ucap yeoja itu pelan.

Sejung yang mendengarnya seketika membuka matanya lebar-lebar.

E-eoh.. Jiyeon-a, kau sudah sadar? Aigoo syukurlah. Yaa, neon jeongmal gwaenchanha? Apa kau terluka? Apa namja itu menyakitimu, eoh?” Sejung langsung memberondong Jiyeon dengan berbagai pertanyaan yang sejak tadi sudah hampir meledak di kepalanya.

Jiyeon tak segera menjawab. Yeoja itu mengernyitkan dahinya sebentar saat merasakan pening di kepalanya. Hanya butuh beberapa detik saja yeoja itu langsung bisa mengingat kejadian yang baru saja dialaminya beberapa jam yang lalu.

Eoh! Namja itu— dia— mencoba membiusku tadi. Tapi aku masih bisa melawannya. Lalu dia memukul kepalaku dengan keras. Argh, bahkan pukulannya masih terasa sampai sekarang.” ucapnya seraya memegangi tengkuknya yang terasa ngilu dan nyeri.

Mwo? Dia memukulmu? Aish! Pantas saja kau pingsan begitu lama. Rupanya karena pukulan itu. Kukira karena pengaruh obat bius. Keunde gwaenchanha? Apa ada yang terluka? Kuharap kau tidak mengalami gegar otak akibat pukulan itu.”

“Kurasa baik-baik saja. Buktinya aku bisa mengingat kejadiannya dengan jelas.”

Geurae, ceritakan padaku bagaimana kejadian yang sebenarnya. Bagaimana kau bisa diculik oleh namja itu, eoh?”

Ah, keunde sebelum itu— ceritakan dulu padaku bagaimana aku bisa ada di sini sekarang? Sejung-a, apa kau yang menyelamatkanku?”

Anni, mana mungkin aku yang menyelamatkanmu? Geuge— ini sedikit rumit. Jadi tadi itu—”

Brak!!

Kedua yeoja itu menoleh serempak ke sumber suara. Tahu-tahu di ambang pintu kamar mereka sudah terlihat dua orang namja yang cukup mereka kenal.

Kedua yeoja itu melotot lebar saat melihatnya

Kedua yeoja itu melotot lebar saat melihatnya.

“K-kalian?”

*

*

Myungsoo dan Jungkook yang sejak semula berniat ingin mendampingi Jiyeon terpaksa urung karena tentu saja murid namja tidak akan diijinkan masuk kedalam asrama yeoja. Meskipun Myungsoo adalah anak pemilik Kingo dan sering bertindak seenaknya pada siapa saja, namun ia memiliki sebuah pengecualian, yaitu pada kepala asrama yeoja, Jung Eunji. Entah kenapa Myungsoo merasa segan pada yeoja itu. Ia merasa Eunji adalah satu-satunya yeoja selain Eommanya yang berani membentaknya bahkan tidak segan-segan memukulnya jika ia sekali saja berani melanggar peraturan. Untuk itulah Myungsoo sempat tidak betah berada di asrama dan lebih memilih tinggal di rumah sendiri. Namun ternyata kali ini ia harus kembali dihadapkan dengan yeoja yang usianya beberapa tahun di atasnya itu. Dan ia amat enggan jika harus kembali mendapatkan makian darinya.

Kini namja itu terlihat mondar mandir di dalam kamarnya sendirian. Sejak mereka sampai di asrama tadi, Jungkook memilih untuk tidak pergi ke kamar mereka dan tak tahu kemana namja itu pergi. Begitupun dengan Jin. Namja itu juga pergi keluar entah kemana. Alhasil kini Myungsoo hanya sendirian di dalam kamarnya. Ia bahkan lagi-lagi terpaksa tidak ikut acara keluarga yang semula direncanakan oleh Appanya sore tadi.

“Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benar-benar ingin tahu keadaannya sekarang dan bertanya sebenarnya apa yang sudah terjadi padanya. Dan juga Jungkook— bagaimana ia sudah berada di sana? Aissh! Apa yang sebenarnya terjadi?” Myungsoo mengacak rambutnya frustasi.

Sungguh ia benar-benar ingin pergi menerobos ke asrama yeoja saat itu juga. Tapi mengingat bagaimana sikap Eunji padanya, nyalinya benar-benar menciut sama sekali. Ia bahkan masih ingat bagaimana ia diperlakukan seperti anak kecil dua tahun yang lalu oleh yeoja itu. Ketika ia sengaja masuk ke dalam asrama yeoja karena ingin menemui seseorang yang saat itu cukup berarti baginya. Namun rencananya justru gagal karena secara tiba-tiba Eunji datang dan menarik telinganya dengan keras lalu menyeretnya keluar dari asrama yeoja. Namja itu bahkan tak sempat membantah ataupun mengancam Eunji dengan ucapannya seperti yang biasa ia lakukan pada orang lain. Ia justru dibuat takluk sekaligus malu oleh yeoja sangar itu.

Aish! Kenapa aku jadi teringat masa lalu? Ck! Sudahlah, aku tak peduli lagi. Setidaknya aku keluar saja dulu.”

Akhirnya namja berparas tampan itu pun benar-benar keluar dari kamarnya dan menuju asrama yeoja. Untuk sejenak Myungsoo berhenti di depan asrama tersebut. Kedua matanya terarah pada kamar Eunji yang memang berada paling depan agar bisa memantau setiap murid yang keluar masuk asrama meski ia masih bisa memantau mereka melalui kamera cctv. Namja itu sudah bersiap mengendap-endap, namun gerakannya terhenti saat kedua matanya menangkap seseorang yang terlihat sedikit mencurigakan berada tak jauh dari kamar Eunji. Sesekali sosok itu menyelinap ke tempat yang lebih gelap sekaligus tempat yang menjadi titik buta kamera cctv setiap kali ada murid yeoja yang keluar atau masuk asrama. Myungsoo mengerutkan keningnya berusaha mengenali sosok tersebut.

“Jungkook?” gumamnya kecil saat berhasil mengenali siapa namja yang kini tampak mengendap-endap itu.

Dengan perlahan, namja itu pun bergerak menghampiri tempat Jungkook berada.

Neo mwohae (sedang apa kau?)”

Jungkook yang semula sibuk menyelinap itu menoleh cepat mendengarnya. Namun begitu melihat siapa yang baru saja menegurnya itu, ekspresi wajahnya seketika menjadi datar.

“Bukan urusan sunbae.” sahutnya singkat, lalu kembali fokus pada pengintaiannya.

Myungsoo tertegun sejenak mendengarnya.

Sunbae..” ia mengulangi ucapan Jungkook dengan suara pelan.

Namja itu tidak menyangka kalau Jungkook masih saja bersikap dingin padanya. Melihat sikap Jungkook yang mengabaikannya itu, Myungsoo pun menghela napas cukup panjang. Ia tahu, pasti Jungkook masih merasa kesal dan marah padanya. Apalagi beberapa saat yang lalu ia baru saja mengalami peristiwa yang hampir serupa dengan masa lalu. Sekali lagi Myungsoo menghela napasnya.

Nan—” Myungsoo kembali membuka suara, namun Jungkook sama sekali tak peduli.

“— mideyo. (aku percaya padamu)”

Jungkook tertegun sejenak mendengarnya. akan tetapi namja itu masih bungkam dan berdiri membelakangi Myungsoo meski ia merasa ada sesuatu yang menelusup kedalam hatinya saat Myungsoo mengatakan itu.

“Aku percaya bukan kau yang membunuh namja itu. Geuraesseo— berhentilah bersikap seperti itu padaku. Kau tahu, aku sama sekali merasa tidak nyaman setiap kali melihat tatapan kebencianmu itu. Lagipula— bukankah itu sudah berlalu lama sekali? Kenapa kau masih juga mempermasalahkannya?”

Jungkook tak juga berniat menjawab ucapan Myungsoo.

Anni. Masalahnya bukan hanya itu,’ batin Jungkook.

Untuk yang kesekian kalinya Myungsoo kembali mendesah.

Dwaesseo. katakan saja kau masih membenciku, keunde— untuk saat ini bisakah kau melupakan masalah itu terlebih dulu? Aku tahu sekarang kau tengah berniat menyelinap masuk ke asrama yeoja untuk melihat keadaan Jiyeon, geutji? Itu tidak akan mudah, jadi— bagaimana kalau kita bekerjasama?”

Jungkook tak segera menjawab. Namun setelah ia berpikir, memang tidak mudah masuk ke dalam asrama yeoja begitu saja, mengingat bagaimana ketatnya Eunji yang memantau keadaan sekitarnya melalui kamera CCTV. Namja itu pun akhirnya menoleh pada Myungsoo.

“Bagaimana caranya?”

Myungsoo tersenyum mendengarnya. ia merasa lega karena setidaknya Jungkook mau menanggapinya meski hanya untuk sementara.

“Begini. Kau berpura-puralah datang untuk meminta bantuan Jung ssaem dan usahakan bisa membawanya keluar dari kamar. Selagi kalian berada di luar, aku akan masuk kedalam kamar Jung ssaem untuk mengacaukan system komputer yang berada di jalur CCTV. Begitu aku selesai mengacaunya, aku akan memberikan sinyal padamu. Dengan begitu kita tidak akan ketahuan saat memasuki asrama yeoja. Eottae?”

“Kenapa bukan kau saja yang datang menemui Jung ssaem? Lagipula apa yang harus kukatakan padanya?”

A-ahh.. Geuge— aku agak kurang cocok dengannya. Kami pernah mengalami beberapa insiden kurang enak di masa lalu. Lagipula kau masih terbilang murid baru di sini. Tentu kau punya banyak alasan untuk itu.”

Jungkook tak segera menyahut. Namun setelah berpikir sejenak, ia pun menganggukkan kepalanya.

Arrasseo. Aku akan melakukannya.” ucapnya.

Joha. Kita beraksi sekarang. Sekarang masuklah ke dalam. Aku akan menunggu.”

Jungkook sudah hampir bergerak masuk, akan tetapi ia kembali lagi ke tempat semula.

Wae?” tanya Myungsoo keheranan.

“Bagaimana kau akan memberiku sinyal saat kau sudah mengacau system-nya nanti?”

Myungsoo tak segera menjawab, namun beberapa saat setelahnya ia mengambil ponsel dari dalam saku celananya.

“Berikan aku nomormu.” ucapnya kemudian.

Meski sedikit ragu, Jungkook pun menyebutkan beberapa digit angka nomor ponsel miliknya.

“Aku akan menghubungimu nanti. Berjuanglah.” Myungsoo tersenyum memberikan semangat pada Jungkook, namun namja itu tak membalasnya dan hanya beranjak pergi begitu saja untuk menemui Eunji sesuai dengan rencana mereka. Untuk sesaat, Jungkook merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatinya, tapi ia tidak tahu apa itu.

Beberapa menit kemudian, rencana yang disusun oleh kedua namja itu pun membuahkan hasil. Di saat Eunji tengah kebingungan karena tiba-tiba system komputernya mendadak error, kedua namja itu tadi pun secepat kilat menyelinap masuk ke dalam asrama yeoja. Akan tetapi baru beberapa langkah mereka berlari, muncul satu masalah lagi, yakni mereka sama-sama tidak tahu berapa nomor kamar Jiyeon. Namun secara kebetulan saat itu ada dua murid yeoja yang kebetulan hendak keluar dan seketika tercengang saat melihat dua namja tampan tengah berdiri dengan ekspresi bingung di hadapan mereka. Mereka hampir berteriak namun Myungsoo dengan cepat memberikan isyarat agar mereka diam dengan meletakkan jari telunjuk di mulutnya.

Ssstt! Jangan berteriak kalau kalian masih ingin tetap bersekolah di Kingo.” jurus ancaman maut namja itu pun kembali berhasil membuat kedua yeoja itu bungkam dan mengangguk ketakutan.

“Aku hanya mau bertanya, apa kalian tahu di mana kamar Park Jiyeon, murid golden Kingo?”

Untuk sejenak, kedua yeoja itu saling berpandangan satu sama lain, namun salah satu dari mereka pun menjawab.

“D-dia tinggal di kamar paling ujung, nomor 50.”

Myungsoo tersenyum puas mendengarnya. “Gomawo. Ah, kuperingatkan jangan coba-coba melapor pada Jung ssaem, arrasseo?”

N-nde, sunbae..”

Myungsoo kembali tersenyum, lalu bersama Jungkook, ia pun kembali berlari untuk menuju ke tempat Jiyeon. Sementara kedua murid yeoja tadi langsung berbisik-bisik tak jelas sambil menatap kearah kedua namja itu berlari.

Brak!!

Myungsoo langsung membuka pintu kamar Jiyeon dan Sejung itu begitu saja, membuat si empunya kamar serempak menoleh dan melotot lebar karenanya.

“K-kalian?”

Jiyeon sunbae gwaenchanha?” Jungkook langsung masuk begitu saja dan menghampiri tempat tidur JIyeon.

Sementara Jiyeon yang masih terkejut dan tak menyangka akan kedatangan kedua namja itu justru kebingungan. “J-Jungkook-a, kau— kalian— yaa!! Apa yang kalian lakukan di sini, eoh? Apa kalian sadar kalau kalian sudah masuk ke dalam asrama yeoja? Itu melanggar—”

Sebelum Jiyeon semakin meracau dengan suaranya yang cukup melengking itu, Myungsoo dengan cepat mendekat lalu membungkam mulut yeoja tersebut menggunakan sebelah tangannya

Sstt diamlah jangan berteriak. Jangan sampai yang lain tahu dan mengadu pada Jung ssaem kalau kami menyelinap masuk kemari.” ucap Myungsoo dengan setengah berbisik, membuat Jiyeon mengangguk cepat, bukan karena takut oleh gertakan Myungsoo, melainkan ia merasa susah bernapas karena bungkaman Myungsoo yang cukup erat itu.

Myungsoo pun melepaskan bungkaman tangannya, lalu secara perlahan duduk di tepi ranjang Jiyeon. Sementara Jungkook yang melihat itu merasa sedikit tak enak hati, namun ia memilih diam berdiri di dekat mereka. Sedangkan Sejung yang sejak awal hampir kena serangan jantung dengan kedatangan mereka, terutama Jungkook itu pun hanya duduk dalam diam di samping Myungsoo.

Gwaenchanha? Aku kemari hanya ingin mengetahui keadaanmu. Karena pesanku tidak satupun kau balas.” kata Myungsoo kemudian.

Jiyeon tak segera menjawab. Ia masih belum sepenuhnya mengerti dengan situasi ini, apalagi kedua namja yang kini berada di dalam kamarnya adalah namja yang cukup berpengaruh di Kingo. Bagaimana jika murid yeoja lain tahu soal ini? Jiyeon bahkan tak berani membayangkannya.

Ah geuge— nan gwaenchanha. Mianhae, sunbae, aku baru bangun beberapa saat yang lalu jadi belum sempat menyentuh ponselku.” Jiyeon menjawab seraya menunduk tak berani membalas tatapan Myungsoo yang saat itu menatapnya intens.

“Apa kau tahu kenapa orang itu menculikmu?”

Jiyeon menggeleng pelan, “Dia membawaku begitu saja tanpa mengatakan apapun lalu memukulku hingga aku pingsan.”

Mwo? Dia memukulmu? Jadi kau pingsan karena dipukul?”

Ah, sunbae— sebenarnya obat bius itu juga mempengaruhiku. Lagipula pukulannya tidak begitu keras.” Jiyeon terpaksa sedikit berbohong saat melihat Myungsoo yang mulai tampak emosi, apalagi ia juga sempat melihat ekspresi Jungkook yang sama-sama tegang menahan emosinya. Astaga, yeoja itu jadi semakin merasa tidak enak karenanya.

Jinjja? Kau tidak berbohong?”

A-anniyo.. Untuk apa aku berbohong?”

“Lalu bagaimana ceritanya kau bisa sampai diculik begitu?”

Ah, geuge—” Jiyeon tak segera melanjutkan ucapannya namun beberapa saat kemudian ia justru mengangkat wajahnya dan beralih menatap Jungkook yang masih berdiri di tempatnya.

“Jungkook-a, neon— gwaenchanha? Apa tadi— Sohee sunbae berulah lagi?” tanyanya tiba-tiba dengan nada khawatir.

A-anni. Sunbae kau tak perlu mengkhawatirkanku. Aku— justru yang mengkhawatirkanmu.” sahut Jungkook senang karena setidaknya Jiyeon tak melupakan kleberadaannya di sana.

Sebenarnya Myungsoo sedikit kurang senang melihatnya, namun ia pun merasa heran saat nama Sohee disebut.

Sohee? Memangnya apa yang sudah dilakukannya?” tanyanya kemudian.

Belum sempat Jiyeon menjawab, tiba-tiba saja terdengar suara gaduh dari luar. Beberapa detik kemudian muncullah seorang namja lain dari ambang pintu kamar dengan napas yang tersengal sekaligus wajah cemasnya. Lagi-lagi kedua yeoja itu membelalak lebar melihatnya, terlebih Sejung.

“Taehyung?” ucap yeoja itu seraya melotot tak percaya saat melihat sosok Kim Taehyung yang sudah berdiri tegak di hadapannya itu.

"Ke-ketua kelas, kau—"

“Ke-ketua kelas, kau—”

Greb!

Taehyung mendekat dan sudah mendekap erat Jiyeon bahkan sebelum yeoja itu sempat menyelesaikan kalimatnya. Semua yang berada di dalam kamar itu seketika membelalak melihat tindakan tiba-tiba itu. Bahkan Myungsoo yang semula duduk di tepi ranjang Jiyeon itu entah bagaimana bisa tergeser dan terpaksa harus ikut berdiri di samping Jungkook.

“Jiyeon-a, gwaenchanha? Aku sangat mengkhawatirkanmu begitu kudengar kau diculik. Apa kau terluka, eoh? Katakan, katakan padaku bagian mana yang terluka?” Taehyung melepaskan pelukannya sejenak dan menatap Jiyeon intens dengan wajah paniknya.

Jiyeon yang masih shock itu sedikit gelagapan menanggapinya. Apalagi saat ia sempat melirik ke arah Myungsoo dan Jungkook yang sudah seperti hendak menelan Taehyung hidup-hidup saat itu juga.

‘Oh tidak! Apa mungkin mimpiku itu akan menjadi kenyataan? Andwae! Nan shireo!’ batin Jiyeon cemas.

A-ahh— n-nan gwaenchanha. Taehyung-a, kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku— tidak terluka sama sekali. Jinjja..” Jiyeon menjawab dengan harapan Taehyung segera menjauh darinya sebelum terjadi keributan seperti yang pernah terjadi dalam mimpinya itu. Namun tanpa disangka, Taehyung justru kembali memeluknya dengan erat.

“Syukurlah, aku lega kau baik-baik saja. Sungguh aku takut sesuatu yang buruk menimpamu. Mianhae, JIyeon-a, aku tidak ada di sampingmu saat kau dalam situasi bahaya begitu.” ucap Taehyung seraya membelai rambut Jiyeon dengan lembut.

Mau tak mau Jiyeon merasa terharu juga mendengarnya. Ia tidak menyangka kalau Taehyung akan sekhawatir itu padanya. Namja itu bahkan rela meninggalkan rumah sakit hanya untuk melihat keadaannya. Akan tetapi tidak begitu halnya bagi Myungsoo dan Jungkook. Kedua namja yang sejak tadi merasa tersingkir itu semakin gerah melihat pemandangan di depan mereka itu. Keduanya sudah sama-sama hampir bergerak menarik Taehyung agar menjauh dari Jiyeon, namun niat mereka urung karena Sejung sudah terlebih dulu menarik lengan Taehyung, membuat namja itu spontan melepaskan pelukannya dari Jiyeon.

Taehyung pun menatap Sejung tak mengerti.

Wae irae?” katanya merasa terganggu karena ulah Sejung barusan.

“Seharusnya aku yang melontarkan pertanyaan itu padamu! Apa yang kau lakukan di sini, eoh? Neo michyeosseo? Kau masih belum sembuh total. Kau bahkan masih mengenakan seragam rumah sakit. Apa kau kabur dari rumah sakit, eoh?” ucap Sejung saat menyadari pakaian di balik hoodie merah yang dikenakan saudara kembarnya itu.

“S-Sejung-a, tenanglah dulu, jangan emosi begitu..” Jiyeon berusah menenangkan Sejung yang terlihat kalap itu. Ia sudah khawatir kalau-kalau Sejung hilang kendali dan mendadak memukul Taehyung, mengingat bagaimana sifat yeoja itu yang selalu blak-blakan dan sembrono.

Aish, aku benar-benar menyesal sudah memberitahumu tentang keadaan Jiyeon. Seharusnya aku diam saja tadi.” Sejung masih mengomel-ngomel. Yeoja itu memang ter;lihat marah, tapi sebenarnya ia hanya mengkhawatirkan keadaan Taehyung yang lukanya masih belum begitu mengering itu. Bagaimana bisa Taehyung  kabur seenaknya begitu? Yeoja itu benar-benar tak habis pikir. Namun lain halnya dengan Jiyeon, Myungsoo dan Jungkook justru merasa senang dalam hati dan seolah mendukung tindakan Sejung itu.

Ah, bukankah kau murid yang diserang oleh penyusup di sekolah waktu itu? Kurasa dia benar. kau tidak seharusnya berada di sini sekarang. Geuge— sepertinya kau masih harus banyak beristirahat mengingat lukamu yang cukup dalam itu. Kalau tidak, bisa-bisa nanti lukanya terbuka kembali.” kata Myungsoo seolah mengompori Sejung agar yeoja itu makin marah dan akhirnya memaksa Taehyung kembali ke rumah sakit.

Matjayo. Lagipula sudah ada aku— ehm maksudku kami yang menjaga Jiyeon sunbae di sini. Jadi sebaiknya sunbae kembali ke rumah sakit saja.” bahkan Jungkook pun turut memprovokasi pula. Ia berpikir menurutnya satu lebih baik daripada dua (iykwim).

“Kim Taehyung aku benar-benar tidak mengerti dirimu. Bisa-bisanya kau kabur dari rumah sakit begitu saja saat kau masih dalam tahap pemulihan. Aku tidak mau tahu pokoknya kau harus kembali ke rumah sakit sekarang juga.” Sejung kembali memarahi Taehyung diiringi oleh anggukan setuju dari Myungsoo dan Jungkook yang entah sejak kapan justru mendadak kompak di saat seperti itu.

Yaa, jangan terlalu berlebihan begitu. Aku yang lebih tahu bagaimana rasanya tubuhku saat ini. Dwaesseo. percayalah, aku sudah jauh lebih baik sekarang.” Taehyung mencoba meyakinkan Sejung.

Geuge— Taehyung-a, kurasa Sejung benar. sebaiknya kau kembali ke rumah sakit saja. Aku tidak mau kalau lukamu kembali terbuka. Aku pasti akan merasa sangat menyesal karena secara tidak langsung aku yang sudah membuatmu kembali terluka..” kini Jiyeon ikut menambahkan, namun pernyataannya itu justru membuat Myungsoo dan Jungkook kembali memasang wajah tak suka. Apalagi nada Jiyeon yang terdengar lembut saat berbicara dengan namja itu. Berbeda sekali dengan nada bicaranya saat membentak mereka ketika mereka baru sampai tadi.

Taehyung tampak menarik napas panjang.

“Jiyeon-a, sudah kukatakan, aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang. Geureom, biarkan aku tetap di sini mendampingimu. Eoh?” ucapnya.

Andwae! Kau tetap harus kembali ke rumah sakit sekarang!” Sejung kembali membentak Taehyung, membuat namja itu terperanjat karena suara keras dongsaeng kembarnya itu tepat menembus gendang telinganya.

“Dia benar. Sebaiknya kau kembali ke rumah sakit saja.” lagi-lagi Myungsoo turut memprovokasi.

Ne, sunbae. Biar kami yang menjaga Jiyeon sunbae di sini.” Jungkook menambahkan.

Shireo! Aku akan tetap berada di sini. Lagipula aku justru merasa heran, sedang apa kalian berdua di sini? Apa hubungan kalian dengan Jiyeon?” Taehyung memutar tubuhnya dan mengalihkan pandangannya pada Myungsoo dan Jungkook yang semula berdiri di belakangnya.

Kedua namja yang ditanya itu tak segera menjawab, namun kemudian Myungsoo pun berdehem kecil.

Yaa, aku ini sunbae kalian. Jadi tidak ada salahnya kalau aku mengkhawatirkan hoobaeku.” ucapnya pula dengan aksen dinginnya.

Taehyung sedikit mengerutkan keningnya seolah menyiratkan keheranan, namun sesaat kemudian ia beralih pada Jungkook.

“Aku— aku merasa bertanggungjawab terhadapnya. Itulah kenapa aku ada di sini.” Jungkook pun menjawab dengan sedikit gugup.

Sementara Taehyung semakin merasa aneh melihat kedua namja di depannya itu. Ia yakin ada sesuatu di antara mereka bertiga, dan entah kenapa Taehyung sama sekali tak menyukainya. Meski Myungsoo adalah anak pemilik Kingo, tetap saja tidak seharusnya namja itu masuk begitu saja ke dalam asrama yeoja. Namun sesaat kemudian Taehyung baru tersadar akan sesuatu. Bukankah saat ini ia sendiri juga sudah masuk ke dalam asrama yeoja? Belum sempat Taehyung mengatakan apapun, tiba-tiba saja kembali terdengar suara gaduh dari luar kamar Jiyeon dan Sejung itu. Lalu hanya dalam hitungan detik, muncullah seorang yeoja yang mereka kenal tengah berkacak pinggang di ambang pintu dengan wajah penuh amarah. Jung Eunji, bersama beberapa murid yeoja lain yang sudah bergerombol di belakangnya. Rupanya merekalah yang mengadu pada Eunji saat tanpa sengaja melihat Taehyung yang berlari menuju kamar Jiyeon dan Sejung.

“APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI, EOH?? KELUAR SEKARANG JUGA!!”

Kelima bocah yang masih berada di dalam kamar itu serempak membelalak lebar dibuatnya. Seperti dikomando, ketiga namja itu bergegas beranjak bermaksud menerobos keluar. Akan tetapi dengan sigap Eunji telah memblok pintu keluar dengan merentangkan kedua tangannya, sehingga mau tak mau ketiga namja itu pun terperangkap di dalam.

“Kim Myungsoo, Kim Taehyung, dan kau murid baru— Jeon Jungkook. Kalian bertiga dihukum karena sudah melanggar peraturan asrama Kingo.”

Oh tidak! Jerit ketiga namja itu dalam hati.

*

*

“Hati-hati. Awas kepalamu.” Jiwon tampak membantu Sohee keluar dari dalam taksi yang mengantar mereka ke depan asrama. Sohee telihat sempoyongan saat kedua kakinya menginjak tanah, namun Jiwon tetap memeganginya meskipun sedikit kewalahan. Yeoja itu membimbing Sohee berjalan masuk ke dalam asrama yeoja.

“Syukurlah, kita sudah sampai sebelum pukul sepuluh. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi pada kita nanti. Kita tahu kalau Jung ssaem benar-benar tak bisa diajak kompromi.” ucap Jiwon seraya memapah Sohee.

Yaa, Sohee-ya, bisakah kau berjalan lebih normal? Aku tidak mau Jung ssaem curiga dan melihatmu dalam keadaan seperti ini.” Jiwon kembali berkata, namun Sohee hanya diam dengan kedua matanya yang setengah terpejam.

Jiwon berdecak kesal melihatnya. Ia mencoba mencari cara untuk menutupi Sohee yang saat itu setengah mabuk dari pantauan Eunji. Namun langkahnya mendadak terhenti saat ia mendengar suara gaduh dari arah asrama yeoja.

Mwoya? Apa ada sesuatu yang terjadi? Kenapa ribut sekali di sana?”gumam Jiwon penasaran.

Namun pertanyaannya segera terjawab saat ia melihat beberapa murid yeoja tampak berjalan bergerombol mengikuti Jung Eunji di belakang. Namun ia lebih terkejut lagi saat di belakang Eunji terdapat tiga orang namja yang berjalan mengekornya dengan ekspresi gelisah.

Mwoya? Apa yang dilakukan ketiga namja itu di sana? Eoh, itu— bukannya itu Myungsoo?”

Sohee yang semula masih setengah sadar itu sedikit membuka kedua matanya saat mendengar ucapan Jiwon barusan.

“Myungsoo Oppa?” ulangnya lirih.

Lalu serta merta yeoja itu pun melihat ke arah kerumunan murid-murid yeoja yang berkerumun itu, dan benarlah, ia melihat Myungsoo ada di antara mereka.

“Apa yang kalian lakukan? Cepat semuanya masuk ke kamar! Dan kalian bertiga, ikut aku!” terdengar suara Eunji berseru dan segera dipatuhi oleh beberapa murid yeoja yang semula membuntutinya itu.

Kkaja!” ucap Jiwon kembali membantu Sohee berjalan saat Eunji sibuk dengan ketiga namja bermasalah itu sehingga ia bisa memanfaatkan kesempatan untuk masuk ke dalam asrama tanpa mendapatkan interogasi dari Eunji. Sementara Sohee hanya diam dan menurut.

Daebak! Park Jiyeon dan Kim Sejung benar-benar yeoja beruntung. Kamar mereka didatangi oleh tiga namja tampan dan paling berpengaruh di Kingo sekaligus.”

“Yaa, bukankah Kim Taehyung itu memang namjachingunya Jiyeon? Tapi bagaimana dengan Myungsoo sunbae dan murid baru itu?”

“Anniya. Berita di mading beberapa hari yang lalu itu tidak benar. Kudengar mereka berdua membantah kebenaran berita itu.”

“Keunde, tetap saja jiyeon itu yeoja beruntung. Aku jadi ingin punya nasib seperti dirinya.”

“Yaa, apa artinya kau juga mau kalau Eomma mu berselingkuh dengan namja lain, eoh?”

“Ah, kau benar. Aku hampir melupakannya.”

“Tapi tetap saja ketiga namja itu benar-benar luar biasa. Menurutmu Jiyeon akan memilih siapa?”

“Tentu saja Myungsoo sunbae. Dia namja yang hampir memiliki segalanya.”

“Menurutku tidak. Myungsoo sunbae orangnya sedikit kasar. Aku tidak suka namja kasar. Kurasa Taehyung lebih baik. Dia tampan dan sangat pandai.”

“Jungkook lebih baik. Biarpun dia seorang hoobae, tapi lihatlah tubuhnya. Cukup berotot dan ugh, entah kenapa aku jadi membayangkan seperti apa abs miliknya.”

Langkah Sohee terhenti sejenak saat telinganya mendengar perbincangan beberapa murid yeoja itu.

“Sohee-ya?” Jiwon terlihat heran melihat Sohee yang mendadak berhenti. Namun ia segera mengerti apa sebabnya karena ia sendiri pun sempat mendengar obrolan beberapa murid yeoja tadi.

Sementara Sohee tak menjawab apapun. Telinganya terasa panas begitu menangkap bahwa ketiga namja itu baru saja dari kamar Jiyeon. Kedua tangannya mengepal keras. Namun entah kenapa ia justru jadi teringat dengan penelepon misterius beberapa saat yang lalu.

“..Kalau kau bersedia bekerjasama, datanglah ke Penta cafe besok pukul 8 malam..”

Sohee menyunggingkan sedikit senyum di bibirnya, “Geurae, aku pasti datang.” lirihnya kemudian.

*

*

Sementara itu di dalam kamar Jiyeon dan Sejung, kedua yeoja itu tampak menyiratkan wajah cemas. Tentu saja mereka tengah mencemaskan ketiga namja tadi. Namun alih-alih memikirkan cara untuk membantu mereka, Sejung justru memikirkan hal lain. Yakni mengenai hoobae mereka, Jeon Jungkook. Yeoja itu naik ke atas tempat tidur Jiyeon dan duduk menghadap Jiyeon yang sudah dalam posisi duduknya pula. Yeoja itu menatap intens ke dalam manik sahabatnya itu.

“W-wae? Tatapanmu aneh sekali. Apa ada sesuatu?” meski sudah mulai menduga apa yang hendak dikatakan Sejung, Jiyeon tetap merasa was-was.

“Jeon Jungkook. Sebenarnya apa hubunganmu dengannya?” tanpa diduga, Sejung langsung masuk ke pokok pembicaraan.

A-ahh, geunyang— kami hanya sebatas sunbae dan hoobae, itu saja. Memangnya apa yang kau pikirkan mengenai kami berdua?”

“Jiyeon-a, gotjimal. Katakan yang sebenarnya. Apa kalian— sebenarnya— sedang menjalin hubungan?”

Ehek!

Jiyeon tersedak mendengarnya. Dengan cepat ia menggoyang-goyangkan kedua tangannya di depan wajahnya.

Anniya, jinjja! Itu tidak benar. Kami benar-benar tidak memiliki hubungan semacam itu. jinjja percayalah padaku, Sejung-a..”

“Bukannya aku tidak percaya padamu. Keunde, kalau aku melihat kejadian yang menimpamu hari ini, semuanya ada hubungannya dengan Jungkook.”

Jiyeon tak segera menjawab. Sebenarnya ia juga tidak suka terus menerus menutupi keadaan yang sebenarnya dari Sejung, namun ia merasa masih belum saatnya Sejung tahu.

“Apa kau tidak mempercayaiku? Kau membalas dendam padaku, ya? Karena aku pernah menyembunyikan sesuatu darimu?” Sejung kembali berkata seolah memojokkan Jiyeon.

Jiyeon semakin merasa tak enak mendengarnya. Yeoja itu menarik napas panjang sejenak. Baiklah, ia sudah memutuskan ini.

Geurae.. Aku akan memberitahu keadaan yag sebenarnya padamu. Keunde, kau harus berjanji untuk tidak memberitahukannya pada siapapun juga, arrachi?”

“Apa aku memang pernah mengingkari janji, eoh?”

Sekali lagi Jiyeon menarik napas.

“Jungkook— sebenarnya namja itu memiliki phobia yang cukup langka. Dia takut pada semua yeoja. Aku dekat dengannya karena hanya aku satu-satunya orang di sekolah yang tahu mengenai phobianya, dan aku sudah berjanji akan membantunya sembuh dari phobianya itu.”

Sejung sedikit membulatkan mata mendengar itu.

M-mwo? Jinjja? Keunde— menurutku dia tampak seperti namja normal. Bahkan saat kau diculik waktu itu, dia yang menggendongmu keluar dari mobil penculiknya.”

Kini giliran Jiyeon yang memasang wajah terkejut.

J-jinjja? Jadi— dia yang menolongku dari penculik itu?” ulangnya setengah tak percaya.

“Aku tidak tahu detailnya bagaimana. Keunde saat kami tiba di sana, kami sudah melihat namja penculik itu terkapar tewas di tanah dan melihat Jungkook membawamu keluar dari dalam mobil.”

Jiyeon semakin membelalak mendengarnya.

“M-mworago? Penculik itu— tewas?”

Sejung pun menceritakan apa yang diketahuinya mulai dari awal hingga akhir. Sementara Jiyeon hanya diam menyimak dan mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Dalam hati ia tidak percaya dan menyangkal kalau Jungkook bukanlah orang yang membunuh namja penculik itu.

Maldo andwae. Aku yakin Jungkook bukanlah namja seperti itu.” gumamnya.

“Aku juga berpikiran begitu. Lagipula, tampangnya sama sekali tidak mendukung kalau ia adalah seorang pembunuh. Keunde tetap saja, aku masih sedikit merasa takut setiap kali mengingat kejadian itu.”

“Sejung-a, apa menurutmu ini semua ada hubungannya dengan penyusup yang masuk ke dalam sekolah waktu itu?”

Sejung tak segera menjawab. Ia mendadak teringat kembali dengan namja hoodie yang pernah dilihatnya melompat masuk ke dalam gedung sekolah Kingo beberapa hari yang lalu. Entah kenapa ia merasa semuanya seakan terhubung. Dan lagi-lagi ia sedikit tersentak saat mengingat yeoja paruh baya yang juga menemuinya di depan sekolah waktu itu. Barang itu. Ia masih belum memberikannya pada Jungkook seperti yang diminta oleh yeoja paruh baya tersebut.

“Sejung-a, mianhae.. Aku sudah menyembunyikan semua ini darimu.”

Sejung sedikit tersentak mendengar ucapan Jiyeon itu.

Museun suriya?”

“Mengenai Jungkook. Mian, aku tidak memberitahumu lebih awal. Geuge— bagaimanapun juga, aku tahu kalau kau menyukainya..”

Sejung sedikit gelagapan saat Jiyeon mengatakannya. Ia tidak menyangka kalau sahabatnya itu masih mengingat soal perasaannya terhadap Jungkook.

A-aahh, anniya.. Geunyang— lupakan saja. Aku tidak sungguh-sungguh mengatakannya waktu itu. Itu— hanya perasaan suka sesaat. Geuraesseo, kau tidak perlu merasa bersalah begitu, arrachi?”

Mwo? Maksudmu— kau tidak benar-benar menyukai Jungkook?”

Ah, geuge— yah pokoknya lupakan saja ucapanku waktu itu. Ah matta. Bukankah seharusnya saat ini kita memikirkan cara bagaimana membantu mereka lepas dari hukuman Jung ssaem? Aigoo.. Aku tidak bisa menerka hukuman apa yang akan diberikan pada mereka. Kuharap hukumannya tidak terlalu parah seperti yang pernah terjadi pada murid-murid lain sebelumnya.”

Geurae, kau benar. Sepertinya aku sendiri yang harus pergi menemui Jung ssaem. Aku akan meminta padanya agar membebaskan mereka dari hukuman. Sejung-a, kkaja.” Jiyeon segera beringsut turun dari atas tempat tidurnya dan bergegas keluar dari kamar untuk menemui Jung Eunji.

Sementara Sejung yang masih belum beranjak dari tempatnya itu menghembuskan napas panjang sejenak. Lalu setelahnya ia pun segera menyusul sahabatnya itu.

Sepeninggal mereka, tanpa sepengetahuan Jiyeon, ponsel miliknya tengah bergetar menandakan panggilan masuk. Setelah beberapa kali getaran, akhirnya getaran tersebut terhenti dan muncul sebuah notif di layar.

4 missed calls from Appa.

*

*

to be continued..

Huaahahah mian baru sempet ngepost  sekarang.. Semoga yang menanti ff mainstream ini kaga pada ngamuk ya, huahaha

mian juga kalo part kali ini hambar.ntar ditambahin garam sendiri deh biar rada asin, muihihi

makasih yaa buat yang udah like dan komen. Love you guys!^^

| TEASER | PART 1 | PART 2 | PART 3 | PART 4 | PART 5 | PART 6 | PART 7 |

Advertisements

9 responses to “[CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 7

  1. Pingback: [CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 9 | High School Fanfiction·

  2. Pingback: [CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 8 | High School Fanfiction·

  3. Aku baca cerita ini di wattpad juga hehe. Aku selalu nunggu kelanjutannya. Fighting thorr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s