[CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 6

wattpad

Previous story..

Aku hanya tersenyum tipis mendengarnya. Meskipun mereka berkata demikian, aku tahu sebenarnya mereka pun sangat penasaran dengan kebenaran berita itu, karena bahkan aku sendiri pun ingin tahu kebenarannya. Sungguh, aku merasa hampa dan tak bisa memikirkan apapun saat ini. Tuhan, masalah apa lagi yang akan Kau timpakan padaku? Eomma, semoga ini semua tidak benar.

| TEASER | PART 1 | PART 2 | PART 3 | PART 4 | PART 5 | PART 6 |

“Sejung-a, ireona.. Sejung-a..”

Taehyung menggoyangkan bahu Sejung pelan, membuat yeoja yang semula tertidur pulas itu bergeming dari posisinya. Dengan kedua mata yang setengah terpejam ia mencoba memperhatikan sekelilingnya, seakan berusaha beradaptasi dengan suasana di sekitarnya. Detik berikutnya kedua matanya terbuka lebih lebar begitu melihat sosok wajah di hadapannya.

“Tae—” yeoja itu tak melanjutkan ucapannya, dan hanya menatap nanar ke arah Taehyung.

Sementara Taehyung hanya tersenyum tipis, agak canggung tentu saja, karena ia masih merasa belum terbiasa dengan saudara kembarnya itu.

Ehm, geuge— aku— itu— kau— sebaiknya— makan dulu.” namja itu berusaha bersikap senormal mungkin, namun entah kenapa itu terasa sulit baginya.

Sejung masih belum menjawab. Yeoja itu terus saja menatap lurus kearah Taehyung, membuat namja itu semakin merasa tak enak karenanya.

Y-yaa, jangan menatapku seperti itu. setidaknya katakan sesuatu.” ucap namja itu seraya membuang pandangannya dari Sejung.

Pabo!” ucap Sejung singkat.

Taehyung mendesah lemah mendengar ucapan yang pernah ia dengar sebelumnya itu.

“Apa memang hanya itu kata-kata yang ingin kau tujukan padaku?” kali ini namja itu tak ingin ambil pusing lagi. Kalau memang Sejung masih merasa tidak adil padanya, ia sudah tak bisa melakukan apa-apa lagi kecuali diam membiarkannya.

“Apa kau tahu bagaimana aku hidup selama ini, eoh? Kau pikir aku benar-benar bahagia sejak hari itu?”

Sekali lagi Taehyung mendesah mendengarnya. kepalanya mulai terasa berdenyut.

“Bisakah kau mengatakan hal itu nanti? Kepalaku pusing mendengarmu berteriak seperti itu. Setidaknya pikirkan kondisiku juga..”

“Kau memintaku memikirkan kondisimu, tapi apa kau juga memikirkan kondisiku saat itu, eoh? Kau— sama sekali tak pernah mengerti perasaanku. Kau selalu berbuat semaumu tanpa memikirkan apa yang kurasakan.”

Taehyung tak menjawab lagi. Kini kedua matanya terpejam. Ia sama sekali tak berniat untuk menjawab perkataan Sejung lebih lanjut lagi. Ia hanya akan mendengarkan. Yah, namja itu hanya akan diam mendengarkan semua perkataan Sejung untuknya.

Nan—” suara Sejung kini terdengar pelan, bahkan sangat pelan dari sebelumnya.

Taehyung masih diam. Meski kali ini yeoja itu tak berteriak lagi, tetap saja namja itu hanya diam membisu. Ia rasa percuma jika harus berdebat dengan Sejung untuk saat ini. Namja itu sudah siap mendengar makian dari saudara kembarnya itu untuk yang ke sekian kalinya.

“—bogoshipda..”

Deg!

Taehyung tertegun mendengarnya. Meski hanya sebuah bisikan kecil, ia masih bisa mendengar cukup jelas ucapan yeoja itu. Kedua matanya pun perlahan kembali terbuka. Ia melihat Sejung yang kini tengah menunduk sembari terisak kecil.

“Kau tidak tahu.. hiks.. Hampir setiap malam aku selalu berdoa.. hiks.. Aku berdoa agar saudara kembarku yang bodoh itu dibukakan pintu hatinya, hiks.. aku.. hiks.. aku ingin dia sadar kalau, hikss.. kalau aku hanya tidak mau berpisah darinya.. hiks.. hiks.. tapi.. hiks.. hiks.. tapi Tuhan sama sekali.. hiks.. tidak pernah mau mendengarkan doaku.. hiks.. dia.. hiks.. dia—”

“Kemarilah.” potong Taehyung lalu memberi isyarat agar Sejung lebih mendekat padanya.

Sejung hanya menatap tak mengerti pada Taehyung masih dengan isakannya, tanpa menyahut apapun.

“Bukankah kau merindukanku? Kemarilah, biarkan aku memelukmu.”

“M-mwo?” yeoja itu masih belum sepenuhnya mengerti, tepatnya ia mengerti tapi masih tidak menyangka kalau Taehyung akan mengatakan hal seperti itu.

Syut!

Karena tak juga bergerak, akhirnya Taehyung menarik tangan yeoja itu dan membawanya ke dalam pelukannya masih dengan posisi tubuhnya yang terbaring. Dielusnya kepala yeoja itu dengan lembut, sementara Sejung yang masih sedikit shock itu hanya mampu terdiam di atas dada bidang saudara kembarnya itu. Suara isakannya bahkan sudah tak terdengar lagi.

Mianhae..”

Sejung tertegun mendengarnya. Setelah sekian lamanya ia menunggu, akhirnya saat ini ia pun mendengar kata itu keluar dari mulut Taehyung.

“..mian karena aku sudah meninggalkanmu. Aku sudah membiarkanmu hidup sendirian selama ini. Aku tahu, seharusnya aku membicarakannya dulu denganmu sebelum memutuskannya. Keunde, kau juga harus tahu kalau aku melakukannya untuk kebaikanmu sendiri. Mianhae, Sejung-a, kau pasti sangat membenciku selama ini. Mianhae..”

Sejung kembali terisak. Ia benar-benar merasa lega karena pada akhirnya ia benar-benar mendengar Taehyung meminta maaf padanya setelah sekian lamanya. Kalau saja Taehyung tahu, sebenarnya hanya itulah yang ingin didengar oleh yeoja itu selama ini. Apalagi sejak Jiyeon menyadarkannya bahwa kebenciannya pada Taehyung selama ini sama sekali tidak mendasar.

Arra.. Na arra.. hiks.. aku.. aku sudah lama memaafkanmu. Selama ini.. aku.. hiks.. aku hanya ingin mendengar kau mengatakan itu padaku.. hiks.. nado.. nado mianhae, Oppa..”

Taehyung tersenyum lega mendengarnya. Namja itu mengangguk kecil, masih dengan tangannya yang bergerak lembut menyusuri rambut Sejung. Sepasang saudara kembar itu merasa semua beban yang mereka rasakan selama ini mendadak lenyap dengan sendirinya. Hanya kelegaan dan rasa bahagia yang kini mereka rasakan. Setidaknya untuk saat ini, karena mereka pun tidak pernah tahu apa lagi yang akan terjadi di masa depan.

*

*

Club Mading room

Seorang yeoja berambut panjang tampak serius menatap layar smartphone di tangannya yang menampilkan beberapa foto yang ia dapatkan pagi tadi. Sesekali kening yeoja itu berkerut, namun tak jarang senyuman kecil menghiasi bibirnya.

“Park Jiyeon.. Jadi dia benar-benar yeoja seperti itu. Ternyata benar, buah itu memang terjatuh tak pernah jauh dari pohonnya. Aku bisa menggunakan foto ini untuk membuat Myungsoo Oppa menjauh dari yeoja sialan itu.” gumamnya pelan, seolah berkata pada dirinya sendiri dan kembali tersenyum penuh arti.

Yaa, Sohee-ya, mau sampai kapan kau tersenyum sendirian di sana, eoh? Bukankah beberapa menit yang lalu kau mengirim pesan padaku untuk mengajakku ke kantin? Geureom ppalli. Mumpung pelajaran sedang kosong.”

Yeoja berambut panjang yang tak lain adalah Yoon Sohee itu sedikit tersentak dan refleks memasukkan kembali smartphone itu ke dalam saku bajunya.

Eo-eoh.. Kkaja.” Ia menyahut dengan sedikit gugup, membuat Jiwon, yeoja yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut sedikit heran.

Yaa, neon gwaenchanha? Kau seperti— sedang menyembunyikan sesuatu, matji?” selidik Jiwon pula.

M-mwo? A-anni.. Apa yang kau bicarakan, eoh? Aish, dwaesseo, kkaja kita ke kantin sekarang.”

Ah, jamkanman. Mengenai berita yang tertempel di mading barusan, apa itu kau yang melakukannya lagi?”

Museun suriya?”

“Sohee-ya, aku tahu kau sangat membenci murid golden itu karena Myungsoo lebih memilihnya daripada kau. Keunde, menurutku sedikit berlebihan jika harus menyebarkan berita palsu mengenai Eommanya seperti itu. Lagipula tidak masuk akal jika berita mengenai orang luar dipublikasikan di sekolah.”

Yaa, Jiwon-a, siapa bilang itu berita palsu? Aku mendapatkan berita itu, benar-benar dari seseorang yang terpercaya. Dan semuanya itu murni tanpa rekayasa. Geurido, mau itu berita orang luar atau dalam, kalau aku yang melakukannya, maka itu tidak akan jadi masalah. Kau sendiri bahkan tahu siapa aku.”

Keunde tetap saja—”

Hoo.. Jadi maksudmu kau lebih memilih membela murid golden itu dibandingkan aku, eoh?”

Jiwon memutar kedua bola matanya jengah mendengarnya. Yeoja itu mendesah kecil.

Arrasseo.. Kau yang menang.” katanya pasrah.

Sohee tersenyum puas mendengarnya, “Joha, setidaknya kau masih punya otak bagus untuk menentukan kepada siapa kau seharusnya berpihak. Geureom, kkaja.” yeoja itu merangkul bahu Jiwon dan mengajaknya pergi. Sementara Jiwon hanya menurut meski dalam hati ia sedikit enggan.

Tanpa diketahui oleh kedua yeoja itu, rupanya di dalam ruangan club mading masih ada seorang murid namja yang kebetulan belum keluar dari ruangan tersebut. Namja itu tertegun serang diri. Ia masih belum sepenuhnya mengerti apa yang dibicarakan kedua yeoja itu tadi, namun ia cukup mengerti, bahkan sangat mengerti kalau ternyata kegaduhan yang terjadi akibat berita di mading baru saja itu ulah Sohee. Namja itu memang bukan anggota club mading, ia hanya kebetulan sedang mengambilkan ponsel milik temannya yang tertinggal di dalam ruangan tersebut, dan tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan Sohee dan Jiwon. Kini namja itu merasa sedang mengetahui sebuah rahasia besar seorang Yoon Sohee. Ia mendadak gelisah.

Eottokhae? Ah, matta. Sejung sunbae harus tahu soal ini.”

*

*

Suasana dalam kelas 1-2 terdengar gaduh saat itu. Choi ssaem kembali tidak mengajar karena ikut menghadiri rapat bersama beberapa Guru mengenai kejadian penyusup waktu itu. Dan hal itu sangat menyenangkan sekaligus melegakan untuk sebagian murid, terutama murid-murid yang sering mendapatkan hukuman dari Guru tersebut. Kini mereka tampak asyik dan sibuk dengan kegiatan masing-masing. Hui, sang ketua kelas pun tidak terlihat batang hidungnya saat itu karena ia baru saja mendapatkan panggilan dari Kang ssaem untuk memberi laporan mengenai pendaftaran murid yang akan ikut berpartisipasi dalam kompetisi olahraga nanti. Itulah kenapa suasana kelas sangat ramai hampir tak terkontrol.

Namun lain halnya dengan Jungkook, entah sejak kapan namja itu tampak sibuk memantau layar ponsel miliknya. Bukan melihat foto, video, ataupun chat. Namja itu rupanya hanya sibuk menatap layar ponselnya yang kini menampilkan sebuah nama yang tertulis dengan huruf hangeul sekaligus beberapa angka di bawahnya. Begitulah, namja itu tengah memandangi nomor ponsel Jiyeon yang baru saja didapatkannya beberapa waktu yang lalu saat keduanya akan berpisah untuk menuju gedung kelas masing-masing setelah menjalani hukuman dari Choi ssaem tadi pagi. Entah bagaimana namja itu kembali teringat dengan kejadian pagi itu meski hanya dengan menatap nomor ponsel yeoja itu. Teringat bagaimana ia memegang tangan yeoja itu, dan bagaimana saat yeoja itu membalas genggaman tangannya. Namja itu mendadak merasakan jantungnya berdegup tak beraturan. Ia baru sadar akan apa yang dilakukannya pagi tadi. Ada perasaan takut, namun juga bahagia di saat yang bersamaan. Sebuah senyuman pun menghiasi wajah namja tampan itu. Entah kenapa ia sudah tidak sabar menantikan suara bel pertanda berakhirnya kegiatan di sekolah hari ini. Namja itu sudah ingin melihat wajah Jiyeon secepatnya. Ia sudah merindukan sosok yeoja itu.

“Yaa, apa kalian sudah membaca berita di mading?”

“Ah, maksudmu soal jurnalis itu?”

“Eoh.. Apa kalian tahu kalau jurnalis itu adalah Eommanya Jiyeon sunbae?”

“Mwo? Jinjja?”

“Eoh.. Park Jiyoung itu memang Eommanya Jiyeon sunbae. Aku tidak percaya kalau kau tidak tahu soal itu.”

“Aku memang jarang menonton televisi karena itu membosankan.”

“Aish, dwaesseo. Keunde apa benar Eomma Jiyeon sunbae selingkuh? Kalau memang benar begitu, kasihan sekali. Pasti Jiyeon sunbae merasa terpukul sekaligus malu.”

“Aku memang sedikit iri dengan Jiyeon sunbae, keunde kalau harus menghadapi masalah serumit ini, rasanya aku jadi berpikir dua kali untuk menjadi seperti dirinya.”

“Aish, molla. Lebih baik jangan bahas masalah itu lagi. Itu sama sekali bukan urusan kita.”

“Yaa, yaa, keunde apa kalian melihat itu? Jungkookie, bukankah sejak tadi dia selalu mencuri-curi pandang kemari, eoh?”

“Mwo? Jinjja?”

“Ohmo, apa mungkin dia sedang melihat kearahku? Aigoo.. Akhirnya ia peka juga terhadap perasaanku selama ini.”

“Jangan membuatku tertawa. Jungkook pasti mencuri pandang kepadaku.”

“Sstt.. Jangan terlalu keras. Nanti dia dengar.”

“Ohmo, yaa, yaa! Kenapa dia pergi? Aish, ini semua gara-gara kalian. Dia pergi karena kalian bicara terlalu keras. Aigoo dia pasti merasa malu. Jungkook memang namja pemalu. Uughh.. Aku jadi semakin gemas melihatnya.”

“Yaa, bisakah kalian diam? Telingaku sakit mendengar ocehan kalian sejak tadi.”

Sementara itu Jungkook terlihat berjalan menyusuri koridor dengan raut wajah sedikit tegang. Tujuannya sudah jelas, yaitu ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri soal berita yang tertempel di mading sekolah seperti yang diperbincangkan teman-teman sekelasnya barusan. Namja itu sedikit mempercepat langkahnya hingga ia pun hampir sampai di tempat mading sekolah. Namun entah karena terlalu tergesa atau apa, namja itu tanpa sengaja menyenggol lengan seorang murid yeoja sehingga mau tak mau langkah kakinya terhenti.

Jungkook pun refleks sedikit membungkukkan badannya. “Jeoseongeyo.. Aku tidak sengaja.” ucapnya tanpa melihat kearah yeoja tersebut. Setelah itu ia pun berbalik bermaksud kembali melanjutkan langkahnya.

Jamkanman!”

Niat Jungkook pun seketika urung mendengar teguran itu. Tak ada respon apapun selama beberapa detik, namun sedetik kemudian Jungkook melihat kaki yeoja yang baru saja disenggolnya itu berjalan mendekat kepadanya dan berdiri di hadapannya.

“Jeon Jungkook, matji?”

Jungkook tak segera menjawab. Ia berusaha mengenali suara itu, namun ia merasa ini adalah pertama kalinya ia mendengar suara itu.

N-ne..” sahutnya kenudian.

Masih belum terdengar sahutan. Jungkook pun masih diam setengah menunduk, menanti apa lagi yang akan dikatakan yeoja di depannya itu.

“Kenapa kau tidak mengangkat wajahmu? Apa kau tidak ingin melihat wajah orang yang ada di depanmu ini, hm?”

Jungkook tak segera menjawab. Sejujurnya ia pun penasaran dengan yeoja yang kini berbicara dengannya itu. Ia merasa kalau yeoja itu cukup berpengaruh di sekolah, karena semenjak mereka bertabrakan tadi Jungkook sempat menyadari beberapa murid di sekitar sana mulai berbisik-bisik tak jelas.

Jeoseonghamnida.. Keunde jika memang kau tidak terluka, tolong biarkan aku pergi sekarang.”

Neo!”

Jungkook kembali mengurungkan niatnya yang hendak beranjak pergi saat lagi-lagi mendengar teguran yang lebih keras dari yeoja itu. Suara bisikan-bisikan di sekitarnya kini mulai semakin ramai.

“Apakah seperti itu sikap seorang hoobae terhadap sunbae-nya, eoh? Setidaknya tatap kedua mataku, bocah.”

“Sohee-ya—”

“Jiwon-a, jangan ikut campur dan diam saja di situ. Aku hanya ingin mengajarkan pada bocah ini bagaimana caranya bersikap yang benar terhadap sunbae-nya.”

Sementara itu Jungkook masih dalam posisi yang sama. Sejujurnya ia merasa tersinggung saat yeoja itu memanggilnya dengan sebutan bocah. ia merasa diremehkan. Apalagi cara bicara yeoja itu benar-benar angkuh dan terkesan menjengkelkan. Jungkook menarik napas dalam-dalam. Ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan yeoja ini. ia harus bisa membuktikan bahwa dirinya bukanlah seorang bocah seperti yang dikatakan yeoja itu. Akhirnya, perlahan namun pasti, Jungkook benar-benar mengangkat wajahnya dan memberanikan diri menatap ke arah yeoja yang berdiri di hadapannya itu.

Untuk sesaat, Yoon Sohee, yeoja itu sedikit tertegun melihatnya

Untuk sesaat, Yoon Sohee, yeoja itu sedikit tertegun melihatnya. Ia tidak menyangka kalau namja yang kini berada di hadapannya itu sangatlah tampan, bahkan sosok aslinya jauh lebih tampan dari sosok yang sebelumnya ia lihat di layar ponsel miliknya tadi.

"Hoo

Hoo.. Kau tampan juga. Aku jadi menarik ucapanku yang mengataimu bocah tadi. Kurasa kau cukup serasi jika disandingkan denganku. Bagaimana, menurutmu, Jungkook-ssi?”

Jungkook tak menjawab. Sebenarnya saat itu ia tengah berusaha sekeras mungkin agar bisa bertahan menatap yeoja itu. Karena walau bagaimanapun juga phobianya itu benar-benar masih belum sembuh. Untuk itulah ia hanya diam karena tak ingin Sohee curiga dengan suaranya yang tiba-tiba berubah gemetar karena menahan perasaan takutnya.

Wae? Kenapa kau hanya diam? Kau tidak bermaksud menolakku, geutji? Ah, matta. Kau pasti belum tahu siapa aku. Nan— Yoon Sohee. Putri Yoon Dujun, kepala sekolah Kingo.” kini Sohee mengulurkan tangan kanannya pada Jungkook. Namun seperti sebelumnya, Jungkook hanya diam tak bergerak sedikitpun. Sohee jadi sedikit kesal melihatnya. Ia merasa namja itu sangat sombong, bahkan untuk menyambut uluran tangannya pun tak mau.

Mwoya? Apa kau bermaksud mempermainkanku, eoh?” ucapnya berusaha menahan emosinya.

Namun bukan Yoon Sohee namanya kalau ia langsung menyerah begitu saja. Yeoja itu semakin mendekat dan mulai menyentuh lengan Jungkook yang kekar, lalu tangannya beralih ke dada bidang namja itu. Jungkook semakin tegang dan gemetar dibuatnya, akan tetapi ia benar-benar tak bisa melakukan apapun saat itu. Dan karena melihat Jungkook yang hanya diam di tempatnya, Sohee pun semakin berani. Ia lebih mencondongkan tubuhnya kepada Jungkook, lalu sedikit berjinjit dan mendekatkan wajahnya pada wajah namja itu.

Jungkook tersentak dibuatnya. Ia mengerti apa yang hendak dilakukan yeoja itu. Namun belum sempat ia berbuat apa-apa, sebuah tangan tiba-tiba saja menariknya kebelakang, sehingga hal itu membuat Sohee yang semula sudah siap menyambar bibir Jungkook itu hanya mampu menyerang angin kosong. Tahu-tahu Jiyeon sudah berdiri di sana dengan wajah cemas. Napasnya terlihat memburu.

Baik Jungkook maupun Sohee sendiri pun tampak terkejut dengan kedatangan yeoja itu

Baik Jungkook maupun Sohee sendiri pun tampak terkejut dengan kedatangan yeoja itu.

“Kau—” Sohee benar-benar jengkel dibuatnya.

S-sunbae-nim. Jeoseongeyo. Keunde—keunde, ah, aku sedang ada urusan penting dengan Jungkook. Geureom, jeoseongeyo. Jungkook-a, kkaja!” tanpa menunggu respon dari Sohee, Jiyeon sudah menarik tangan Jungkook dan mengajaknya pergi dari sana.

Sementara Sohee yang merasa dipermainkan sekaligus dipermalukan itu hanya mampu mengepalkan tangannya dengan keras. Ia benar-benar marah bercampur kesal saat itu. Seperti ada asap yang hampir keluar dari atas kepalanya.

Yaa! Park jiyeon! Berhenti di sana! Yaa!” teriaknya berkali-kali, namun Jiyeon dan Jungkook benar-benar sudah pergi dan menghilang dari pandangannya.

Sohee hanya mampu menghentakkan kakinya dengan kesal. Sementara Jiwon yang sejak tadi melihatnya bersama murid-murid lainnya hanya diam sambil menatap iba sekaligus geli kearah Sohee. Sebenarnya Jiwon ingin tertawa, tapi yeoja itu terlalu pintar untuk membuat masalah dengan Sohee.

Hoo.. Jadi seperti ini kelakuanmu dengan para hoobae?”

Kali ini semua mata beralih kearah suara barusan. Tahu-tahu seorang namja yang sangat berpengaruh di Kingo, bahkan lebih berpengaruh daripada Sohee itu kini sudah berdiri di belakang yeoja itu dengan ekspresi wajahnya yang tampak dingin.

Kedua mata Sohee membulat begitu melihatnya

Kedua mata Sohee membulat begitu melihatnya.

“M-Myungsoo Oppa, geu— geuge—”

“Tidak perlu menjelaskan apapun. Aku sudah melihat semuanya. Dari awal sampai akhir. Bahkan sangat detail.”

“K-keunde Oppa—”

Mwo? Kau ingin bilang ini hanya salah paham? Memangnya apa urusannya denganku? Tidak ada hubungannya sama sekali. Aku tidak peduli kau mau melakukan apa, keunde aku tidak suka melihatmu yang bersikap seenaknya pada mereka. Sohee-ya, ingat. Bagiku, kau itu bukan siapa-siapa. Kalau aku mau, aku bisa saja mengganti posisi Kepala Sekolah yang sekarang. Geuraesseo, jangan lagi gunakan jabatan Appamu untuk mengancam murid-murid Kingo, arra?”

Sohee tak menyahut. Ia benar-benar merasa kalah telak saat itu sampai-sampai tak ada satupun kata-kata yang mampu diucapkannya.

Ah, dan satu lagi. Berhenti memanggilku Oppa. Rasanya aku tidak ingat pernah memiliki dongsaeng sepertimu.”

Pffffffffttt

Ucapan terakhir Myungsoo itu sontak mengundang tawa dari murid-murid Kingo yang mendengarnya meskipun itu hanya suara tawa yang ditahan. Tentu saja mereka tidak ada yang berani tertawa keras karena tidak ada yang mau membuat masalah dengan dua orang berpengaruh itu.

Setelah memberikan senyum khasnya, Myungsoo pun beranjak pergi dari hadapan Sohee dengan langkah santai tanpa beban. Sepeninggal Myungsoo, seperti dikomando semua murid-murid Kingo yang semula bergerombol di sana pun serempak buyar dan turut pergi meninggalkan Sohee. Sementara itu Jiwon terlihat menghampiri yeoja itu dan mengelus bahunya. Walau bagaimanapun juga Sohee adalah sahabatnya, jadi tidak mungkin kalau ia juga ikut-ikutan pergi begitu saja meninggalkannya. Jiwon tidak sejahat itu.

Dwaesseo.. Sudah kukatakan kalau kau terlalu berlebihan. Lihatlah semuanya jadi kacau sekarang.”

Anni. Ini sama sekali belum berakhir. Aku— bahkan belum memulai permainannya.”

Jiwon hanya menghela napas kecil mendengarnya. Ia tak tahu apa rencana Sohee, tapi ia berharap kalau semuanya akan baik-baik saja tanpa menimbulkan masalah yang terlalu besar.

*

*

Myungsoo terlihat berjalan seorang diri dengan langkah sedikit mengendap-endap. Ya, namja itu memang ingin tahu kemana Jiyeon membawa Jungkook pergi tadi. Entah kenapa namja itu masih merasa tidak enak jika harus membiarkan mereka hanya berduaan. Untuk itulah ia mengikuti kemana mereka berdua pergi. Kini namja itu telah sampai di taman, karena Jiyeon memang mengajak Jungkook pergi ke arah sana. Dari kejauhan, Myungsoo bisa melihat saat itu Jiyeon dan Jungkook tengah duduk bersama bersandarkan pada sebuah pohon. Sesekali Myungsoo melihat Jiyeon yang tampak berbicara dengan ekspresi khawatir, dan entah kenapa Myungsoo tidak suka melihatnya. Apalagi saat melihat Jungkook yang terlihat begitu nyaman berada di samping yeoja itu. Tanpa berpikir panjang, namja itu pun segera mengeluarkan ponsel miliknya dan mengetikkan beberapa pesan singkat di sana.

To : My Future Princess

Neo eodie? Aku ingin bertemu denganmu sekarang. Temui aku di dekat pohon raksasa.- Myungsoo

Kenapa sunbae ingin bertemu denganku? Mian, keunde aku sedang ada urusan penting sekarang. – Jiyeon

Jadi kau berani menolak permintaan sunbae-mu? – Myungsoo

Geurae, aku akan menemuimu nanti. Keunde beri aku waktu sebentar lagi. – Jiyeon

Myungsoo mendengus saat membacanya. Namun ia tak membalas lagi. Kedua matanya kembali mengarah pada tempat di mana Jiyeon dan Jungkook kini berada.

“Jadi menurutmu dia lebih penting dariku?” gumamnya merasa sedikit sedih.

Namja itu pun menghela napas panjang, lalu beranjak begitu saja dari sana. ‘Tidak ada gunanya menonton mereka berduaan di sana,’ batinnya kesal.

*

*

Jiyeon masih menarik tangan Jungkook hingga keduanya sampai di taman yang suasananya lumayan sepi. Napas Jiyeon masih tersengal saat keduanya memilih berhenti di dekat sebuah pohon yang cukup rindang. Setelah melepaskan pegangan tangannya, Jiyeon pun langsung membuang tubuhnya di bawah pohon tersebut dan bersandar di sana.

“Jungkook-a, apa kau— baik-baik saja?” yeoja itu bertanya di sela napasnya yang tak beraturan.

Jungkook tak segera menjawab. Namja itu masih berusaha menenangkan pikiran dan perasaannya atas kejadian barusan. Ia bahkan tak bisa membayangkan apa jadinya jika Sohee benar-benar menciumnya tadi. Namja itu benar-benar merasa bersyukur dengan kedatangan Jiyeon yang tiba-tiba itu. Kalau tidak, mungkin namja itu benar-benar akan jatuh pingsan di sana.

Ne, nan gwaenchanha..” namja itu perlahan turut duduk bersandar pada pohon yang sama namun di sisi yang berbeda.

Huft! Untung saja aku melihat kalian tadi. Aku benar-benar cemas saat melihat Sohee sunbae tadi. Aigoo.. aku benar-benar tidak bisa membayangkannya. Aish, kenapa sekarang aku jadi agak tidak menyukainya? Apa dia tidak memikirkan tindakannya itu? Ck, jinjja..”

Tanpa Jiyeon sadari, Jungkook tersenyum mendengarnya, “Gomawo karena kau sudah menolongku, sunbae..”

Eoh.. Tidak masalah. Keunde, bagaimana kau bisa berakhir dalam kondisi begitu? Apa kau terlibat masalah dengannya?”

Anni.. Aku hanya tidak sengaja menyenggol lengannya.”

Aish, sudah kuduga. Lain kali kalau kau melihatnya di sekitarmu, berusahalah untuk tidak terlibat masalah dengannya. Begitu melihat ada dia, cepatlah pergi menghindar, arrachi?”

Ah.. Ne..”

Jiyeon bernapas lega mendengarnya. Entah kenapa yeoja itu benar-benar merasa horror saat ia melihat Sohee yang hendak mencium Jungkook tadi itu. Ia merasa sangat sayang jika bibir murni milik Jungkook harus berakhir dengan milik seorang yeoja seperti Sohee.

Aish, apa yang sedang kupikirkan?” Jiyeon menggelengkan kepalanya mencoba menepis pikiran-pikiran yang bersarang di sana.

Drrtt.. drrtt..

Jiyeon sedikit tersentak saat posel miliknya bergetar. Yeoja itu pun mengambil benda persegi panjang tersebut dari saku baju seragamnya. Sedetik kemudian kedua matanya sedikit membulat disertai kerutan di keningnya saat membaca notif di layar ponselnya itu.

1 message from My Future Prince

Ige mwoya? Future prince?” gumamnya tak mengerti. Seingatnya ia sama sekali tidak pernah memberikan nama semacam itu di kontak miliknya. Lalu siapa ini? Akan tetapi tak butuh waktu lama untuk bertanya-tanya dalam hati, karena ia mulai teringat kejadian saat di dalam gudang olahraga waktu itu. Saat Myungsoo dengan watadosnya menyimpan nomor ponselnya di sana. Yeoja itu menghela napas kecil dan membuka pesan tersebut.

Neo eodie? Aku ingin bertemu denganmu sekarang. Temui aku di dekat pohon raksasa.- Myungsoo

Jiyeon kembali mengerutkan kening saat membacanya. ‘Bertemu denganku? Untuk apa? Apa dia mau mengerjaiku lagi?’ pikirnya.

Kenapa sunbae ingin bertemu denganku? Mian, keunde aku sedang ada urusan penting sekarang. – Jiyeon

Jadi kau berani menolak permintaan sunbae-mu? – Myungsoo

Jiyeon menghela napas kembali. Rasanya memang percuma jika harus berdebat dengan Myungsoo. Lagipula ia tak mau membuat masalah dengan orang-orang kaya.

Geurae, aku akan menemuimu nanti. Keunde beri aku waktu sebentar lagi. – Jiyeon

Tak ada balasan lagi. Yeoja itu pun kembali mengantongi ponselnya. Untuk ke sekian kalinya ia mengambil udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga paru-parunya.

Sunbae, gwaenchanha?”

Yeoja itu sedikit terkejut mendengar pertanyaan yang dlontarkan Jungkook itu.

Eoh? Mwoga?” ia pun balik bertanya.

“Soal berita itu— jeongmal gwaenchanha?”

Ahh..” raut wajah Jiyeon kembali suram seketika. Benar juga. Ia bahkan masih belum memastikan soal kebenaran berita di mading itu. Sebenarnya ia berniat ingin langsung menghubungi Jiyoung, eommanya. Akan tetapi entah kenapa suara hatinya melarang ia melakukan itu. Lagipula yeoja itu tidak percaya kalau itu semua benar. Jadi ia merasa sama sekali tidak perlu untuk memastikan apapun.

Mianhae, sunbae.. Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih.”

A-ahh.. Anniya.. Nan gwaenchanha. Jinjja. Berita itu— sama sekali tidak benar. Geurae, aku tidak percaya dengan berita itu. Aku tahu seperti apa Eommaku. Itu pasti hanya ulah seseorang yang iseng.”

Ah, geurae? Syukurlah, aku hanya khawatir sunbae sedih karena memikirkannya.”

Gomawo, Jungkook-a.. Kau sudah mengkhawatirkanku.”

“Tentu saja. Sunbae— bagiku, kau sudah seperti menjadi bagian dari hidupku. Kalau kau merasa membutuhkan seseorang di sampingmu, datang saja padaku.”

A-aahh, ahaha— n-ne.. Tentu saja. G-gomawo, Jungkook-a..” rasa gugup itu mendadak kembali menyerang perasaan Jiyeon. Untung saja saat itu mereka tidak saling berhadapan. Sebab kalau tidak pasti Jungkook akan bisa melihat raut wajahnya yang mulai memerah.

Sunbae— bolehkah— aku kembali memegang tanganmu?”

Ehk! Jiyeon tersedak mendengar pertanyaan mendadak itu.

N-ne?”

“Aku ingin sembuh dari phobiaku secepat mungkin. Geureom, Gwaenchanha?”

Deg! Deg! Deg!

Jungkook, ingin memegang tanganku lagi. Keunde— apa ini akan baik-baik saja? Eottokhaji?’ batin jiyeon bingung.

A-ahh.. Geuge— geureom. Gwaenchanha. Geunyang— pegang saja sesuka hatimu.”

Uhuk! Jiyeon mendengar Jungkook terbatuk sesaat setelah ia mengatakan itu.

Mwoya! Apa aku salah bicara?’ pikir yeoja itu heran.

Eo-eoh.. G-gomawo— Sunbae..”

Deg! Deg!

Entah kenapa Jiyeon merasa harap-harap cemas saat itu. Secara perlahan ia pun merasakan tangan kanannya disentuh Jungkook untuk yang kedua kalinya. Mula-mula hanya sentuhan biasa, namun semakin lama sentuhan itu berubah menjadi pegangan erat, hingga akhirnya Jungkook pun menautkan kelima jemarinya pada jemari yeoja itu.

Deg! Deg! Deg!

Meski keduanya tak saling berhadapan, namun Jiyeon bisa merasakan kegugupan yang dialami oleh namja itu. Bahkan ia merasa bukan hanya Jungkook yang merasakannya, melainkan dirinya sendiri turut merasakan gugup entah kenapa. Dan entah sadar entah tidak, yeoja itu membalas tautan jemari Jungkook, dengan berbagai perasaan yang tak bisa dipahaminya.

*

*

Seorang yeoja dengan rambut panjang yang terikat ke belakang dan masih berseragam sekolah lengkap tampak tergesa memasuki rumah sakit Kingo siang itu. Sebelah tangannya sibuk memegangi ponsel yang sejak ia turun dari dalam mobil sudah menempel manis di telinganya.

Aish sudah kubilang jangan sampai telat makan tapi kau tetap saja keras kepala. Kalau sudah begini siapa yang repot, eoh?”

Arrasseo, arrasseo.. Mian, lagipula ini semua juga karenamu. Kalau saja kau membantuku menyelesaikan tugas kelompok kita, tentu aku tidak akan sampai lupa waktu.”

“Jangan melimpahkan kesalahan pada orang lain. Aku tahu kau itu memang teledor. Apa aku harus mengingatkanmu setiap waktu, eoh?”

Tuut.. tuut.. tuut..

Mwoya! berani sekali dia mematikan telepon secara sepihak begitu. Aish! Kim Sang Bum, aku pastikan akan benar-benar membunuhmu setelah ini!” yeoja itu tampak kesal dan terus berjalan menuju ruang rawat namja yang baru saja berbicara dengannya melalui telepon tadi.

*

*

Taehyung’s room

“Kau bisa makan sendiri atau mau kusuapi?” Sejung bertanya dengan kedua tangannya yang bergerak menyiapkan bubur untuk Taehyung.

Dua bersaudara itu sudah mulai terbiasa untuk berbaur satu sama lain semenjak kejadian tadi pagi. Kecanggungan yang sebelumnya mereka rasakan perlahan menghilang dengan sendirinya.

“Aku makan sendiri saja. Kau juga pergilah mencari makan. Apa kau tidak lapar? Makanan lembek seperti ini tidak akan membuatmu kenyang.”

Sejung nyengir mendengarnya, namun ia membenarkan perkataan Taehyung. Sejak dulu yeoja itu memang tidak begitu menyukai bubur karena baginya makanan itu sama sekali tak bisa mengganjal perutnya yang lapar.

Arrasseo. Keunde aku akan menemanimu sampai kau menghabiskan buburnya, baru aku akan pergi mencari makan di luar.”

Taehyung tersenyum mendengarnya, “Rupanya kau cukup perhatian dan tidak semenyebalkan yang kukira. Aku bahkan merasa ini pertama kalinya melihatmu bersikap lebih dewasa. Biasanya kau selalu bersikap manja padaku.”

Aish! Diamlah, tidak usah mengungkit-ungkit masa lalu dan cepat habiskan buburmu sebelum aku memukul perutmu yang terluka itu.”

Taehyung mendengus mendengarnya. Tapi dalam hati ia merasa lega, karena Sejung yang sekarang jauh lebih tegas dan kuat dibandingkan saat ia masih kecil dulu yang hanya bisa menangis dan merengek meminta pertolongan darinya. Akhirnya namja itu pun mulai memasukkan satu suapan bubur ke dalam mulutnya.

“Taehyung-a—”

Yaa, kau lupa kalau aku lahir beberapa menit lebih dahulu sebelum kau? Panggil aku Oppa.”

Aish! Itu sudah sangat lama dan rasanya aneh kalau tiba-tiba aku kembali memanggilmu dengan panggilan seperti itu. Sudahlah, aku hanya ingin bertanya satu hal padamu.”

Mwoga?”

“Apa kau menyukai Jiyeon?”

Uhuk-uhuk!” Taehyung seketika tersedak buburnya sesaat setelah pertanyaan itu dilontarkan.

Aish, ternyata memang benar.” ucap Sejung pelan seraya mengambilkan minuman Taehyung dan menyerahkannya pada namja itu.

Sejung menghela napas cukup panjang di saat Taehyung masih meneguk minumannya.

Gwaenchanha.. Kali ini aku tidak akan ikut campur lagi. Itu adalah hakmu untuk menyukai siapapun, terlebih itu adalah sahabatku sendiri. Keunde— kalau kau sampai berani menyakitinya, jangan harap aku akan berada di pihakmu, arrasseo?”

Taehyung meneguk salivanya mendengar gertakan dongsaeng kembarnya itu.

M-mwoya? kau lebih memilih berada di pihak orang lain ketimbang saudaramu sendiri?”

Geureom.. Selama ini Jiyeon-lah yang selalu berada di sampingku. Dia selalu ada dalam suka dukaku. Sementara kau? Menegurku saja tak pernah sudi.”

Ehek! Taehyung merasa tertohok mendengarnya. Namja itu tak menyahut dan hanya berdehem kecil, berusaha mengusir perasaan tak enaknya lalu kembali menyendok buburnya.

Keunde— seandainya Jiyeon tidak membalas perasaanmu, apa kau akan baik-baik saja?”

Gerakan tangan Taehyung mendadak terhenti mendengarnya. Namun beberapa saat setelahnya, ia kembali memasukkan suapannya kedalam mulutnya.

Gwaenchanha.. Aku tahu kalau cinta itu tak bisa dipaksakan. Lagipula bukankah ada pepatah yang mengatakan kalau cinta itu tak harus memiliki?” sahutnya kemudian.

Pfffffttt… Buahahaha aigoo.. Sejak kapan kau jadi seperti seorang pujangga begitu, eoh? Oh ayolah, aku lebih suka dengan sosok Ketua kelas Kim Taehyung yang pendiam dan tertutup. Kau tampak konyol kalau seperti ini.”

“Kau boleh saja berkata begitu, karena kau belum pernah merasakan cinta. Kau tidak pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta pada lawan jenismu.”

Ahh, geuge—” Sejung tak melanjutkan perkataannya. Ingatannya mendadak tertuju pada seorang murid namja tingkat pertama yang beberapa hari terakhir ini sempat mengganggu pikirannya. Jeon Jungkook. Wajah Sejung mendadak memanas saat mengingat sosok namja itu.

Mwoya? Kau— apa jangan-jangan kau—” Taehyung yang melihatnya langsung menaruh curiga pada yeoja itu.

Anni-anni! Aku tidak sedang jatuh cinta!”

Mwo? Aku tidak bilang kau sedang jatuh cinta.”

“A-aahh.. Geu— geuge—”

Nuguji? Apa aku mengenalnya?”

“A-anni.. Ah, mungkin tidak—”

Mwo? Dia seorang sunbae? Katakan saja namanya, aku pasti mengenalnya. Kim Seokjin? Min Suga? Yang Yoseob? Lee Gikwang? Yong Junhyung?”

“A-anniya.. Dia bukan seorang sunbae, tapi— aish! Dwaesseo! Aku tidak ingin membahasnya. Ppalli habiskan saja buburmu!”

“Aku sudah kenyang.”

Mwoya! kau baru makan beberapa sendok. Pokoknya harus habis semua aku tidak mau tahu!”

“Kalau begitu katakan siapa namja itu.”

Aish, Taehyung-a, ayolah.. Aku sedang tak ingin membahasnya..”

“Kalau begitu aku tak mau habiskan buburnya.”

Ck! Kau ini benar-benar keras kepala. Habiskan atau kupukul perutmu.”

Geurae, pukul saja.”

Yaa Kim Taehyung!”

Brak!

YAA KIM SANG BUM KAU BENAR-BENAR MATI DI TANGANKU SEKARANG!!”

Sejung dan Taehyung seketika menghentikan percekcokan kecil mereka dan serempak menoleh ke arah sumber suara.

Tahu-tahu di ambang pintu ruang rawat Taehyung tampak seorang yeoja yang asing bagi mereka tengah berdiri terpaku di sana sembari menatap keduanya dengan tatapan kosong

Tahu-tahu di ambang pintu ruang rawat Taehyung tampak seorang yeoja yang asing bagi mereka tengah berdiri terpaku di sana sembari menatap keduanya dengan tatapan kosong.

Untuk sesaat ketiga orang itu masih saling bertatapan satu sama lain dengan ekspresi sama-sama bingung, hingga pada akhirnya yeoja asing tersebut tersadar dan segera membungkukkan setengah badannya

Untuk sesaat ketiga orang itu masih saling bertatapan satu sama lain dengan ekspresi sama-sama bingung, hingga pada akhirnya yeoja asing tersebut tersadar dan segera membungkukkan setengah badannya.

A-ahh.. J-jeoseonghamnida.. Ternyata aku salah kamar, ahahaha..” yeoja itu menggaruk tengkuknya dengan canggung diiringi tawa sumbangnya.

A-ahh.. Ahahaha n-nde, gwaenchanha.. Sepertinya orang yang ingin kau bunuh itu tidak ada di sini, ahahaha..” Sejung membalas ucapan yeoja itu dengan setengah bercanda, membuat keduanya kembali tertawa. Sementara Taehyung hanya tersenyum melihatnya. Entah kenapa, ia merasa sedikit aneh saat melihat yeoja itu. Setelah beberapa saat ia termenung, tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Geureom, aku harus pergi. Sekali lagi mian sudah mengganggu ketenangan kalian.” sekali lagi yeoja itu berkata dengan setengah membungkuk sopan, lalu tersenyum manis sebelum kemudian ia benar-benar menghilang di balik pintu.

Whoa daebak.. yeoja itu tampak manis dan imut tapi rupanya seram juga hobinya, hahaha,” Sejung kembali tertawa mengingat bagaimana suara melengking yeoja itu tadi saat baru masuk ke dalam.

Namun sesaat kemudian tawa Sejung terhenti digantikan ekspresi herannya begitu melihat Taehyung yang tampak terdiam dengan wajah serius.

Wae geurae?” Sejung mengerutkan keningnya seraya menatap Taehyung penuh selidik. “Yaa! Apa jangan-jangan kau— kau tertarik pada yeoja itu, eoh? Kau menyukainya saat pertama kali melihatnya, matji?”

M-mwo?” Taehyung sedikit terkejut mendengar tuduhan itu seraya menatap Sejung dengan tatapan ‘apa-apaan itu?’.

“Bahkan belum apa-apa kau sudah mengkhianati Jiyeon, eoh? Yaa! Aku menarik kata-kataku untuk tidak ikut campur dalam urusanmu. Saat ini juga aku menentang mentah-mentah hubungan kalian. Kau sama sekali bukan namja yang baik untuk sahabatku.”

Yaa, pabo yeoja! Sebenarnya kau ini sedang membicarakan apa, eoh? Siapa yang tertarik pada yeoja itu? Aish, neo jinjja.”

“Lalu kenapa kau terlihat seperti tertarik padanya begitu?”

Aish, sudah kukatakan bukan seperti itu. aku hanya melihat seragam sekolahnya.”

“M-mwo? M-museun suriya?”

“Makanya dengarkan penjelasan orang lain dulu sebelum berpikiran macam-macam.” Taehyung memukul kecil kepala Sejung membuat yeoja itu refleks memegangi kepalanya seraya meringis kesal kearah namja itu.

Tch.. Arrasseo.. Jadi katakan apa maksudmu supaya aku mengerti.”

Taehyung mendesah kecil sebelum kemudian melanjutkan.

“Kancing baju seragam yeoja itu, aku seperti pernah melihatnya di tempat lain.”

Sejung membeku sejenak mendengarnya.

Yaa! Aku serius bertanya dan jawabanmu hanya seperti itu? Sekarang sebenarnya siapa yang bodoh di sini, eoh? Kancing seperti itu pun bahkan bisa ditemukan di tempat sampah. Aish, jinjja, sudah kuduga kau ini memang tidak serius menyukai Jiyeon.”

Taehyung memejamkan kedua matanya sejenak dan kembali menghela napas panjang, mencoba bersabar menghadapi dongsaeng kembarnya itu.

Namja yang menyerangku di depan toilet sekolah waktu itu— dia memakai kancing baju yang sama dengan milik yeoja itu tadi.”

Kali ini ekspresi Sejung berubah sedikit lebih melunak dari sebelumnya digantikan dengan ekspresi terkejut.

M-mworago?”

“Meskipun saat itu ia memakai hoodie, tapi aku sempat melihat kancing lengan baju seragamnya yang agak mencuat keluar. Keunde— kurasa kau benar. Kancing baju seperti itu memang mudah ditemui di mana saja. Dwaesseo. Mungkin memang aku saja yang terlalu memikirkannya.”

Sejung terdiam. Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya setiap kali mendengar soal insiden penyusup itu.

“Taehyung-a—”

Taehyung sedikit menolehkan kepalanya agak malas mendengar panggilan dari yeoja itu.

Wae?”

“Sebenarnya waktu itu— aku sempat melihat seorang namja yang mengenakan hoodie masuk melompati tembok pagar sekolah.. Entah kenapa tapi aku merasa— dia ada hubungannya dengan penyusup itu. Atau mungkin, justru dialah penyusup itu..”

Taehyung tertegun mendengarnya. Jadi, Sejung sempat melihat namja itu?

*

*

Jiyeon’s POV

“..temui aku di dekat pohon raksasa..”

Aish.. Sebenarnya dia mau apa sih? Kenapa ingin menemuiku di sana? Baiklah, saat ini aku memang sedang bimbang antara menemuinya atau mengabaikan permintaannya itu. Tapi tetap saja tidak mungkin kalau aku tidak memenuhi permintaannya itu. Pasti dia akan melakukan sesuatu yang tidak kuinginkan. Keunde aku benar-benar enggan menemuinya untuk saat ini. Entah kenapa kejadian pagi tadi di rumahnya masih membuatku merasa enggan bertatap muka dengan Myungsoo sunbae lagi.

“..tepatnya setelah aku berhasil mendapatkan hatinya seutuhnya..”

Blush!

Lagi-lagi aku merasakan hawa panas di sekitar wajahku. Kenapa aku jadi teringat dengan ucapannya itu? Aish! Dengan keras aku pun menggeleng berkali-kali. Ck, baiklah. Aku akan menemuinya saja. Kuharap ia tak melakukan sesuatu yang membuatku harus merasakan sesuatu seperti itu lagi. Akhirnya aku pun benar-benar mengangkat kedua kakiku menuju pohon raksasa tersebut. Ah, ngomong-ngomong, Jungkook baru saja kembali ke kelasnya setelah kuberitahu kalau aku sedang ada urusan. Kuharap ia sampai di gedung kelasnya dengan selamat tanpa bertemu orang seperti Sohee sunbae lagi. Jinjja, kenapa aku jadi tidak menyukai yeoja itu sekarang? Ada yang salah denganku.

Tak butuh waktu lama untukku menemukan pohon raksasa itu. Hanya memakan dua menit berjalan, aku sudah berada di bawah pohon raksasa tersebut.

Sepi. Tak kulihat seorangpun di sekitar pohon raksasa itu. Apa mungkin Myungsoo sunbae berada di atas? Aku pun mendongakkan kepalaku dengan sedikit memicingkan mata, berusaha menemukan sosok namja itu di sana. Akan tetapi aku tak bisa melihatnya dengan jelas dari bawah sini.

S-sunbae.. Myungsoo sunbae, apa kau ada di atas sana?” aku mencoba memanggilnya namun tak kudengar sahutan apapun.

Ck, kemana dia? Apa dia belum sampai di sini? Karena tak melihat siapapun aku pun meraih ponsel dari dalam saku baju seragamku, bermaksud menghubunginya, akan tetapi belum sempat aku memencet apapun, tiba-tiba aku mendengar suara gemerisik dari atas.

Dug!!

Aku hampir melemparkan ponsel di tanganku saking terkejutnya, karena tiba-tiba saja Myungsoo sunbae melompat turun dari atas pohon tepat di hadapanku, sama seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya di sini beberapa waktu yang lalu.

S-sunbae—”

Myungsoo sunbae tak menyahut, melainkan hanya menatapku dengan tatapan datarnya. Aku sedikit kikuk karenanya, karena jarak di antara kami terbilang cukup dekat. Masih dengan bungkam, kulihat namja itu mulai bergerak dan duduk bersandarkan pohon raksasa tersebut. Sementara aku masih berdiri di tempat semula.

“Duduklah,” namja itu menepuk hamparan rumput hijau di sebelahnya, mengisyaratkan agar aku duduk di sana.

Meski sedikit bimbang, aku pun perlahan mendekat, lalu turut duduk di sampingnya.

Sret!

Glek!

Aku terkejut setengah mati karena tanpa memberikan komando ataupun semacamnya, Myungsoo sunbae mendadak merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di atas pangkuanku.

“S-sunbae—”

Sstt.. Diamlah sebentar. Kepalaku sedang pusing. Ah, bisakah kau memijit kepalaku?”

“M-mwo? Shireo—”

“Kau membantah permintaan seorang sunbae?”

“Myungsoo sunbae, sudah kukatakan jangan bersikap seenaknya. Jebal, jangan seperti ini..”

“Kalau begitu aku minta tolong padamu. Tolong pijit kepalaku. Apa kau juga akan menolak seseorang yang meminta tolong padamu?”

Aku tak bisa menjawab ucapannya itu. Sungguh apa yang sedang dilakukan namja ini sekarang? Dengan perasaan resah aku melihat ke sekeliling. Syukurlah, tak ada orang lain di sekitar kami. Sepertinya aku sedikit beruntung karena berada di balik pohon raksasa ini. Tapi meski begitu tetap saja ini berbahaya untukku jika sampai ada yang melihat posisi kami saat ini. sudah cukup berita tentangku yang ditempel di mading sekolah. Aku benar-benar tak ingin jadi bahan perbincangan lagi.

“Jiyeon-a, aku masih menunggu.”

Aish! Aku semakin tak enak dibuatnya. Kulihat namja itu sudah memejamkan kedua matanya. Masih dalam kebimbangan, aku menggerakkan kedua tanganku perlahan. Dan akhirnya aku pun benar-benar memijit kepala Myungsoo sunbae. Jinjja, ini benar-benar tidak benar. Semoga ini hanya mimpi.

Hmmhh.. Pijitanmu lumayan juga. Aku merasa lebih baik sekarang.” ucapnya sambil menyunggingkan senyuman tipis.

Glek!

Aku menelan salivaku sendiri. Wajahnya, wajah Myungsoo sunbae benar-benar tampak jelas di mataku sekarang. Kedua mata yang terpejam itu, alis tebalnya, hidungnya yang mancung, dan juga— bibir. Bibir itu..

Deg! Deg! Deg!

Aku mendadak merasa tak enak entah kenapa. Aish, ige mwoya? Apa yang baru saja kupikirkan tadi? Kenapa aku jadi gugup begini sekarang? Dan juga jantung ini, kenapa terus saja berdebar tak jelas?

Ohmo, aku seperti mendengar suara genderang. Jiyeon-a, apa kau juga mendengarnya?”

Ehek!

Aku seketika tersedak mendengarnya. Paboya! Park Jiyeon kau bodoh! Tak bisakah kau menghentikan suara jantungmu itu? Bahkan Myungsoo sunbae pun bisa mendengarnya. aigoo eottokhe??

Mwoya? Suaranya semakin kencang sekarang.”

Tanpa menjawab perkataannya, aku cepat-cepat bergerak dan bermaksud berdiri untuk menjauh darinya, Namun namja itu justru menarik tanganku dan menahanku agar tetap pada posisi seperti itu. Karena tidak siap dengan tarikannya yang tiba-tiba itu, aku sedikit kehilangan keseimbanganku sehingga tanpa sengaja tubuhku hampir menimpa tubuhnya. Beruntung ia menopang lenganku dengan kedua tangannya.

Eodiga? (mau kemana)” ia bertanya dengan nada yang entah mengapa menurutku terdengar begitu lembut.

“Ah- geu— geuge—” sumpah demi apapun aku semakin resah sekarang, karena kini wajah Myungsoo sunbae begitu dekat denganku. Aku bahkan bisa merasakan nafasnya di wajahku. Lagi-lagi aku meneguk salivaku sendiri. Dan saat itulah aku baru sadar bahwa aku tetaplah seorang manusia normal biasa. Wajah ini, sungguh aku tak bisa memungkiri bahwa namja ini memiliki wajah yang sangat tampan. Dan bibirnya yang berwarna kemerahan itu benar-benar membuatku resah. Tuhan, aku takut tak bisa mengontrol perasaan khilafku ini.

Yeppeuda.. (cantik)” suara bisikan Myungsoo sunbae itu membuat perasaaanku semakin bergemuruh tak karuan.

Aku merasakan wajahku dielus olehnya. Namja itu tersenyum tipis. Sedetik kemudian jari tangannya beralih mengusap pelan bibirku.

“Kau tahu? Saat ini— aku benar-benar ingin menciummu. Jinjja. Aku— menginginkan bibir yang ranum ini.” bisiknya lirih.

Aku tak menyahut. Dadaku semakin bergemuruh dan seolah ada perasaan yang mendorongku sehingga membuatku perlahan memejamkan kedua mataku.

Lakukan! Lakukan saja, sunbae! Aku tidak akan menolakmu! Aku juga menginginkannya! Aku juga ingin merasakan bibir seksimu itu!’

‘Ya Park jiyeon, michyeosseo? Apa kau akan memberikan first kissmu begitu saja kepada namja yang bahkan belum kau kenal sepenuhnya, eoh? Apa kau akan tergoda oleh wajah tampannya itu, eoh? Ya! Sadarlah, Park Jiyeon! Sadarlah!’

Lagi-lagi seperti tengah didorong oleh sesuatu, aku kembali membuka kedua mataku dan bergerak dengan cepat. Kali ini aku benar-benar berdiri dari posisiku sebelumnya. Kulihat Myungsoo sunbae kini dalam posisi duduk sembari menatapku dengan tatapan yang— ah, sudahlah aku tak bisa menjelaskannya lagi. Aku benar-benar malu saat ini. Apa yang baru saja kulakukan tadi? Pasti aku benar-benar terlihat memalukan. Oh Tuhan, nan jeongmal michyeosseo! Kuharap ini semua hanya mimpi!

S-sunbae, j-jeoseongeyo. Ke-keunde ak— aku harus pergi.” Aku buru-buru berbalik pergi meninggalkannya tanpa menunggu jawaban darinya. Aku bahkan hampir jatuh tersandung akar pohon karena saking gugupnya. Namun aku tetap berjalan cepat tanpa menoleh sedikitpun. Aarhgghh.. jinjja kenapa aku jadi kacau begini??

*

*

Author’s POV

Deg! Deg! Deg! Deg! Deg!

Sepeninggal Jiyeon, Myungsoo tampak memegangi dadanya dengan ekspresi tegang.

Jinjja, ige mwoya?” monolognya pelan sambil terus menekan-nekan dadanya sendiri. Perlahan ia menghelas napas panjang dan menghembuskannya kembali. Namja itu masih belum sepenuhnya sadar dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Pikirannya kembali mengingat moment sesaat tadi. Saat wajahnya begitu dekat dengan wajah Park Jiyeon. Saat yeoja itu memejamkan kedua matanya. Dan saat ia benar-benar sudah siap menyambar bibir merah yang ranum itu.

Aishh! Apa yang sudah kulakukan?” Myungsoo kembali bermonolog dengan dirinya sendiri seraya mengacak pelan rambutnya. Ia benar-benar tidak sadar dengan apa yang sudah dilakukannya tadi. Namun tak ayal namja itu tersenyum senang saat mengingat bahwa yeoja itu memejamkan kedua matanya.

Keunde, kenapa dia malah memejamkan mata begitu? Apa itu artinya— dia juga menyukaiku?”

*

*

Sementara itu tak jauh dari tempat mereka, rupanya seorang murid yeoja telah melihat kejadian tersebut. Yeoja yang tak lain dan tak bukan adalah Yoon Sohee itu meremas ujung seragamnya dengan emosi yang memuncak. Darahnya mendidih, seakan siap meletup keluar dari atas kepalanya. Yeoja itu marah bukan main melihat peristiwa di depan matanya itu. Hatinya panas bukan kepalang. Masih dengan amarah yang hampir mencapai ubun-ubun, yeoja itu segera meraih ponsel miliknya dan menghubungi seseorang.

Yeobeoseyo..”

“Aku punya tugas untukmu.”

Ah, geurae. Katakan saja apa itu.”

“Aku ingin— kau membereskan seorang yeoja. Hari ini juga.”

Hmm? Keunde— kau tahu imbalan terbaik yang harus kau berikan padaku, geutji?”

Arrasseo. Yang penting lakukan dulu perintahku.”

Geurae, lalu apa rencanamu?”

“Tidak perlu membunuhnya. Aku hanya ingin— dia merasakan penderitaan seumur hidupnya.”

*

*

Jiyeon terlihat berjalan tanpa arah saat keluar dari gedung kelasnya. Bahkan saat sekolah berakhir pun yeoja itu masih terlihat seperti orang linglung. Ia masih belum bisa menghilangkan perasaan gugupnya akibat insiden beberapa waktu yang lalu bersama Myungsoo. Ia masih bisa merasakan dadanya yang bergemuruh, apalagi saat kembali teringat bagaimana ia memejamkan matanya seolah siap menyambut ciuman dari Myungsoo.

Aaaarghh.. Michyeosseo, michyeosseo..” ucapnya berkali-kali seraya memukul-mukul pelan kepalanya dengan frustasi.

Sunbae, gwaenchanha?”

Ehek!

Jiyeon terkejut mendengar teguran tersebut. Tahu-tahu tak jauh dari pintu gerbang sekolah tampak Jungkook yang sudah berdiri menunggunya.

“A-ahh.. A-anni. Nan gwaenchanha. Kau— apa kau sudah lama menungguku?” sahut Jiyeon sedikit gugup. Yeoja itu berjalan mendekat dan berhenti di depan Jungkook.

Jungkook berdehem sejenak, berusaha bersikap lebih normal dan memberanikan diri menatap Jiyeon.

“A-anni. Aku baru sampai. K-kkaja, sunbae..” katanya.

Jiyeon mengangguk, lalu berjalan beriringan dengan Jungkook keluar dari gerbang sekolah. Tak jarang murid-murid Kingo lainnya melihat ke arah mereka seraya berbisik-bisik tak jelas. Dan itu membuat Jiyeon maupun Jungkook sedikit merasa tak enak. Sebenarnya Jiyeon merasa agak heran, karena murid-murid namja tingkat pertama yang biasanya selalu agresif setiap kali melihatnya, kini justru terlihat seperti terkesan menghindarinya sembari berbisik-bisik tak jelas. Yeoja itu jadi berpikir, apa sikap mereka seperti itu karena berita yang tertempel di mading itu tadi? Jiyeon ingin tahu sebenarnya apa yang dipikirkan oleh mereka saat membaca berita yang bahkan belum terbukti kebenarannya itu. Namun yeoja itu lebih memilih diam, ia justru saat ini merasa sedikit lega karena dengan begini ia takkan lagi merasa repot oleh gangguan para namja tingkat pertama.

“A-ah, Jungkook-a. Kau bilang ingin mengajakku ke suatu tempat. Eodiya?” Jiyeon mencoba tak peduli dengan sikap murid-murid Kingo yang lain dan bertanya pada Jungkook.

“Kedai ramen.” sahut Jungkook pendek, karena sebenarnya ia juga merasa agak terganggu dengan pandangan murid-murid Kingo pada mereka berdua. Namja itu ingin cepat-cepat menghilang dari pandangan mereka semua.

Hoo.. Apa kau ingin mengajakku makan ramen? Aigoo.. Aku memang sudah lama tidak memakan ramen. Gomawo, Jungkook-a.. Lain kali aku yang akan mentraktirmu.”

Jungkook hanya tersenyum canggung dan mengangguk kecil, meski sebenarnya bukan hanya itu tujuannya mengajak Jiyeon ke kedai ramen.

TING!

Jiyeon meraih ponsel dari saku bajunya saat benda persegi itu berbunyi. Dan senyum yang semula terpasang di wajahnya mendadak menghilang begitu melihat siapa pengirim pesan tersebut.

1 message from Kim Sejung

‘Ah, benar juga. Saat ini aku sedang pergi bersama namja yang disukai Sejung. Apa ini tidak apa-apa? Ck, kurasa tak masalah. Lagipula aku hanya akan makan ramen dengannya, tidak lebih.’ batin Jiyeon. Ia pun membuka pesan dari Sejung.

Kau tidak ke rumah sakit? – Sejung

Eottokhaji? Apa aku terus terang saja kalau aku akan pergi bersama Jungkook? Keunde, aku tidak mau Sejung berpikiran macam-macam tentang kami berdua.’ Jiyeon sempat membatin bingung, namun sesaat kemudian yeoja itu pun membalas.

Mianhae, Sejung-a.. Aku masih ada urusan sebentar. Keunde geogjeongma. Aku akan ke rumah sakit nanti malam. Gidaryeo, eoh? – Jiyeon

Urusan? Mwoya? Kau tidak sedang berkencan, matji? – sejung

Ehek!

Jiyeon tersedak saat membacanya. Diam-diam ia melirik Jungkook yang kini berjalan di sampingnya. Entah kenapa lagi-lagi ia teringat dengan ucapan Jungkook yang ingin lebih dekat dengannya. Yeoja itu menggeleng pelan, dan kembali mengetik.

Paboya! Jangan pikirkan aku. Lebih baik kau pikirkan saja hubunganmu dengan saudara kembarmu itu. Ah, matta. Apa ketua kelas baik-baik saja? – Jiyeon

Kalau kau penasaran, tanyakan saja langsung padanya nanti. Kalian berdua harus lebih sering bersama kalau benar-benar ingin menjalin hubungan yang lebih serius. – Sejung

Uhuk!

Kini Jiyeon terbatuk begitu membaca pesan terakhir dari Sejung itu. Mau tak mau ia pun kembali teringat dengan ungkapan dari Taehyung waktu itu. Wajahnya lagi-lagi memanas.

Aishh michyeosseo!” desis yeoja itu seraya memukul pelan kepalanya.

Jungkook yang tanpa sengaja melihat sikapnya itu jadi sedikit heran. Ia penasaran dengan siapa sebenarnya yeoja itu sedang chatting. Apa mungkin dengan namja yang waktu itu bersamanya di tempat laundry? Kenapa ia tampak serius begitu? Dan juga kenapa wajahnya terlihat memerah? Atau jangan-jangan, ia sedang chatting dengan Kim Myungsoo? Begitulah berbagai pertanyaan yang berada dalam kepala Jungkook saat itu. Namun ia lebih memilih diam dan tak bertanya apapun.

Beberapa menit mereka berjalan, akhirnya keduanya semakin menjauh dari sekolah Kingo dan berada di jalanan besar. Kini Jungkook bisa bernapas lega karena mereka sudah tak lagi berada di antara murid-murid Kingo yang sejak tadi terus saja bergunjing tak jelas. Keduanya berjalan beriringan melalui trotoar yang cukup ramai oleh para pejalan kaki. Akan tetapi tiba-tiba saja terjadi sebuah keributan kecil tak jauh di depan mereka. Mereka melihat beberapa orang berkerumun di tepi trotoar.

Museun niriseo? Apa terjadi sesuatu? Jungkook-a, kkaja kita lihat.” ucap Jiyeon seraya mempercepat langkahnya dan mendekati kerumunan tersebut.

Jungkook pun berjalan menyusul langkah Jiyeon. Keduanya pun sampai di kerumunan tersebut. Setelah melihat dari dekat, Jungkook bisa melihat seorang yeoja tengah terduduk sambil menangis seperti sedang terluka. Namja itu sedikit terkejut karena yeoja itu rupanya adalah Yoon Sohee, yeoja yang beberapa waktu yang lalu hampir menciumnya. Begitu melihat Jungkook, tanpa disangka-sangka Sohee berteriak histeris dan berdiri menghampiri namja itu.

Huuaaa.. Jungkook-a, eottokhaji? Aku— aku baru saja dirampok. Hiks.. Aku— aku kehilangan barang berhargaku.. Hiks! Jungkook-a, tolong aku..”

Jungkook terkejut bukan main dibuatnya, karena Sohee langsung menghambur padanya tanpa aba-aba sama sekali. Sementara Jiyeon entah kenapa secara bersamaan malah terdorong ke belakang oleh orang-orang yang berkerumun itu sehingga tak bisa menjangkau keberadaan Jungkook. Ia jauh lebih terkejut lagi saat melihat yeoja itu adalah Sohee. Namun ia tak bisa melakukan apa-apa karena terhalangi oleh orang-orang yang bertubuh lebih besar darinya yang berkerumun di sana.

Haksaeng, sebaiknya kau antar Agassi ini pulang. Sepertinya dia sangat trauma dengan kejadian yang dialaminya.”

Keu-keunde aku—”

Geurae.. Sebaiknya kau antar saja dia. Biar polisi yang menangani masalah ini. Aku sudah menghubungi mereka.”

Jungkook tak sempat mengatakan apapun karena orang-orang itu terus saja berbicara dan menyuruhnya mengantar Sohee pulang. Sementara itu Jiyeon semakin tak tahan lagi melihatnya. Ia berusaha menyeruak masuk ke dalam kerumunan tersebut.

“Jungkook—” ucapan Jiyeon terpotong karena tiba-tiba saja seseorang menarik tangannya dan membungkam mulutnya dari belakang. Yeoja itu berusaha berontak namun bungkaman itu semakin kencang dan menyeretnya menjauh dari kerumunan. Ia mencoba meminta tolong, namun orang-orang di sana terlalu fokus pada Sohee dan Jungkook sehingga tak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa ia tengah diseret oleh namja misterius tersebut.

Sementara Jungkook yang masih berada dalam kerumunan itu semakin resah dan gelisah. Kedua matanya berkeliling mencoba mencari keberadaan Jiyeon. Ia berharap yeoja itu datang dan membantunya mengatasi situasi ini. Akan tetapi namja itu sama sekali tak bisa menemukan Jiyeon. Entah kenapa perasaan tak enaknya semakin menjadi-menjadi. Apalagi dengan Sohee yang sejak tadi masih menempel erat padanya. Namja itu berusaha sekuat mungkin untuk tidak ambruk dalam keadaan seperti itu. Keringat dinginnya mulai bercucuran. Namun, semua perasaan takut yang semula menguasainya itu mendadak berkurang bahkan hilang sama sekali saat kedua matanya menangkap sesuatu yang janggal. Melalui celah kecil dari orang-orang yang berjubel itu, Jungkook bisa melihat Jiyeon yang tengah meronta-ronta diseret oleh seorang namja tak dikenalnya.

Deg!

Jantung Jungkook seolah berhenti berdetak saat melihatnya. Ia langsung bisa menyimpulkan bahwa Jiyeon sedang dalam bahaya saat itu.

“S-sunbae..”

Secara refleks namja itu mendorong tubuh Sohee yang semula memeluknya itu dengan keras, membuat yeoja tengik, ah maksudnya Sohee jatuh terduduk di jalan aspal. Setelah itu Jungkook pun bergegas menerobos kerumunan orang-orang tersebut untuk mengejar Jiyeon. Tak dihiraukannya teriakan Sohee dan orang-orang itu yang memintanya kembali. Tujuannya hanya satu, yaitu menolong Jiyeon.

Sunbae! Jiyeon sunbae!”

Namun sayang ia kalah cepat. Namja misterius itu telah membawa masuk Jiyeon ke dalam mobilnya, lalu segera melajukan mobilnya dengan cepat. Jungkook semakin frustasi dan bingung karenanya. Ia benar-benar tak bisa melakukan apapun saat itu.

Andwae! Andwae! Aaaarrghhh! Park Jiyeon!!”

*

*

To be continued

.
.

Annyeong! Mian ya telat lagi. Otaknya lagi ngadat soalnya, hohoho maap juga karena ternyata oh ternyata masih juga belum nyampe di scene flashbacknya Kookie, ahaha sebenernya aku lagi buntu banget ini. gatau kenapa tetiba jadi kayak gini ceritanya padahal rencananya sih ya emang kayak gini, wkwk yah pokonya intinya aku lagi buntu aja. Btw kalo ada yang punya usul boleh kok disampein, siapa tau aja ada yang berasa beng-beng idenya, muehehe dan moga aja abis ini ada pencerahan buat part selanjutnya. Udah gitu aja, aku harap di part ini ada feelnya ya biarpun dikit. Terakhir, makasih bangeeet buat yang udah vote dan ninggalin komentar. Saranghae ^^

| TEASER | PART 1 | PART 2 | PART 3 | PART 4 | PART 5 | PART 6 |

Advertisements

23 responses to “[CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 6

  1. Pingback: [CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 9 | High School Fanfiction·

  2. Pingback: [CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 8 | High School Fanfiction·

  3. Pingback: [CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 7 | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s