[CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY-PART 5

wattpad

Previous story

“Jiyeon sunbae..” Jungkook terus mengucapkan nama Jiyeon di tengah rasa paniknya. Kedua tangannya yang gemetar sudah hampir bergerak untuk menyentuh tubuh yeoja itu, namun detik berikutnya seperti ada perasaan kuat yang membuatnya tak berani melakukannya. Alhasil, namja itu hanya mampu terdiam dalam kekalutannya seorang diri.

“Park Jiyeon..”

*

*

| TEASER | PART 1 | PART 2 | PART 3 | PART 4 | PART 5 |

Author’s POV

“Park Jiyeon, aku menyukaimu. Jadilah yeojachinguku.” Jiyeon melihat Myungsoo kini tengah berlutut di hadapannya dengan membawa satu buket bunga mawar di tangannya.

Yeoja itu tertegun melihatnya.

Apa ini mimpi? Myungsoo sunbae datang padaku dan memintaku menjadi yeojachingunya? Keunde bukankah dia sendiri yang bilang kalau untuk saat ini kami berdua tidak bisa berkencan? Kenapa dia berubah pikiran secepat itu?

Belum sempat Jiyeon menjawab, tiba-tiba dari arah lain muncul seorang namja lainnya. Kim Taehyung. Namja itu tampak berlutut sembari memegangi dadanya dengan wajah penuh kesakitan.

“Ketua kelas..” Jiyeon bergegas lari kemudian menghampiri Taehyung dan membantunya berdiri. Akan tetapi namja itu justru menarik tangannya.

“Jiyeon-a, kenapa kau tega melakukan ini padaku?” Taehyung berkata dengan wajah memelas, membuat Jiyeon tak kuasa menahan rasa iba melihatnya.

“T-Taehyung-a—”

“Jiyeon-a, kau sudah tahu perasaanku padamu, keunde kenapa kau mengabaikanku? Apa kau menolak perasaanku yang tulus ini?”

Jiyeon kembali tergagap dibuatnya, “Ak-aku— aku tidak—”

“Jiyeon sunbae..”

Lagi-lagi Jiyeon tak sempat melanjutkan perkataannya begitu mendengar suara tersebut. Yeoja itu menoleh dan sudah mendapati Jungkook yang berdiri di belakangnya.

“Jungkook-a..”

Jungkook berjalan menghampiri Jiyeon lalu serta merta menarik yeoja itu ke dalam pelukannya. Tentu saja Jiyeon terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu, apalagi dari Jeon Jungkook yang diketahuinya memiliki phobia terhadap yeoja.

“J-Jungkook-a, kau—”

“Jangan tinggalkan aku, sunbae. Aku membutuhkanmu. Na neo saranghae..”

Jiyeon tak mampu mengatakan apapun saat itu juga. Ia masih belum bisa mencerna semua itu sepenuhnya.

Apa ini? Jinjja apakah saat ini aku tengah bermimpi? Oh Tuhan kalau memang benar ini mimpi tolong cepat bangunkan aku sekarang juga!

Greb!

Jiyeon kembali dibuat terkejut karena tiba-tiba ia merasa ditarik oleh seseorang untuk yang kesekian kalinya. Kim Myungsoo. Kali ini namja itu berdiri membelakangi Jiyeon sembari menatap tajam ke arah Jungkook.

“Jangan pernah kau mendekati apalagi menyentuh yeojaku lagi. Dia milikku, dan selamanya akan tetap menjadi milikku.” ucap Myungsoo seraya mempererat genggaman tangannya pada Jiyeon yang masih kebingungan.

“Apa hakmu melarangku? Kau bukanlah siapa-siapa baginya. Kau tidak punya hak apapun atas dirinya!” Jungkook membalas dengan suara tak kalah sengitnya.

Greb!

Lagi-lagi dan untuk yang ke sekian kalinya Jiyeon merasa tangannya ditarik, dan kini orang itu adalah Taehyung. Namja itu membawa Jiyeon ke belakang tubuhnya, sama seperti yang dilakukan Myungsoo beberapa saat yang lalu. Kemudian namja itu menatap tajam ke arah Myungsoo dan Jungkook.

“Aku tidak akan pernah membiarkan Jiyeon jatuh ke tangan namja labil seperti kalian. Park Jiyeon, dia akan bersamaku. Jika kalian berani menyentuhnya, kalian harus menghadapiku terlebih dahulu.” ucap namja itu pula.

Jiyeon tak tahan lagi melihatnya. Yeoja itu pun menepiskan tangan Taehyung yang semula memeganginnya itu dengan keras.

Geumanirago! Aish jinjja! Aku tahu ini tidak nyata. Tapi tak bisakah kalian bertiga membiarkanku dalam ketenangan meskipun dalam mimpi, eoh? Jebal, yang kubutuhkan sekarang hanya istirahat. Aku sangat lelah. Jadi kumohon biarkan aku sendiri. Aku perlu mendinginkan pikiranku dulu. Aku tahu kalian bertiga menyukaiku. Tapi apa kalian tidak memikirkan bagaimana perasaanku, eoh? Aku kebingungan, kepalaku pusing karena kalian bertiga. Aish! Oh Tuhan, cepat bangunkan aku sekarang, kumohon!”

“Park Jiyeon, apa maksudmu? Kau tidak sedang bermimpi.”

“Jiyeon-a, aku tahu kau merasa lelah. Tapi kau juga tetap harus menentukan pilihanmu mau itu sekarang ataupun nanti.”

Sunbae, tolong pikirkan dengan baik-baik. Aku yakin pilihanmu selalu yang terbaik.”

“Pilih aku, Park Jiyeon!”

Anni! Lebih baik kalau kau denganku, JIyeon-a!”

Anni, sunbae. Aku lebih baik dari mereka!”

AISSSHH SHIKKEUREOOO!!”

Bersamaan dengan itu Jiyeon merasa kedua bahunya terguncang. Seketika yeoja itu pun membuka kedua matanya, dan objek pertama kali yang ditangkap oleh indra penglihatannya saat itu adalah sosok Kim Myungsoo.

Mwoya! Kenapa kau masih di sini? Bukankah sudah kubilang untuk membiarkanku sendiri, eoh?” Jiyeon berkata dengan nada meninggi, berharap sosok namja di depannya itu segera lenyap saat itu juga.

Akan tetapi sosok namja di depannya itu bukannya menghilang, melainkan justru menatapnya dengan ekspresi keheranan.

Mworago?”tanyanya bingung.

Jiyeon tak menjawab. Yeoja itu mengerjap-ngerjapkan kedua matanya berkali-kali. Lalu ia melihat ke sekeliling. Ia merasa berada di tempat asing, dan tempat itu berbeda dengan tempat yang sebelumnya. Bahkan saat ini ia tengah berada di atas ranjang king size yang sebelumnya tak pernah ia tempati.

“Apa aku masih bermimpi?” gumam JIyeon seolah pada dirinya sendiri.

Myungsoo seketika menatap aneh pada Jiyeon saat mendengar gumaman itu, “Pabo. Kau ada di rumahku sekarang. Tepatnya di kamarku.”ucapnya kemudian.

Jiyeon masih belum sepenuhnya sadar, namun detik berikutnya ia meringis kecil saat merasakan cubitan di lengannya. Rupanya Myungsoo baru saja mencubit kecil lengan yeoja itu.

Appeuda..” ringis Jiyeon sembari mengusap-usap lengannya dan menatap Myungsoo penuh protes.

“Apa kau masih belum percaya kalau ini nyata? Ahh.. Atau mungkin sebuah ciuman akan membuatmu sadar kalau kau tidak sedang bermimpi, hm?” Myungsoo terlihat mencondongkan wajahnya ke arah Jiyeon, namun yeoja itu dengan cepat segera bangkit dari tempat tidurnya lalu beringsut menjauh.

Myungsoo tertawa geli melihatnya, “Geogjeongma, sudah kubilang aku baru akan macam-macam nanti saat kita sudah resmi berkencan. Tepatnya saat aku sudah mendapatkan hatimu seutuhnya.” ucapan Myungsoo seketika membuat wajah Jiyeon memanas.

Yeoja itu bahkan masih belum mengerti dan bingung dengan apa yang tengah terjadi. Dia berusaha mengingat-ingat, hingga beberapa saat kemudian yeoja itu pun mulai mengingat kejadian semalam. Saat ia kehujanan di depan sekolah bersama Jungkook. Tapi hanya sebatas itu yang diingatnya. Ia sama sekali tidak mengingat kejadian selebihnya. Lalu di mana Jungkook sekarang?

Geuge— sunbae bilang, ini di rumahmu?” tanyanya dengan sedikit ragu sekaligus gugup.

Myungsoo hanya mengangguk mengiyakan. Kedua matanya masih asyik menatap Jiyeon seolah hendak menelan yeoja itu bulat-bulat. Tentu saja itu membuat Jiyeon merasa tidak nyaman. Yeoja itu menunduk berusaha menghindari tatapan langsung dengan Myungsoo, namun begitu tanpa sengaja ia melihat pakaian yang dikenakannya, seketika yeoja itu pun membelalak lebar.

Sunbae, kau— apa kau—” Jiyeon bahkan tak mampu melanjutkan ucapannya. Wajahnya sudah sangat panas menahan rasa malu sekaligus amarahnya. Ia mulai membayangkan hal-hal yang tidak seharusnya terjadi saat melihat pakaian yang melekat di tubuhnya sekarang bukanlah piyama miliknya yang semalam dikenakannya.

Wae? Pakaianmu basah jadi tidak mungkin aku membiarkanmu memakainya semalaman.”

Jiyeon bungkam mendengarnya. Ingin sekali yeoja itu memaki-maki Myungsoo habis-habisan atau kalau perlu meninju namja itu karena sudah lancang mengganti pakaiannya begitu saja tanpa sepengetahuan dirinya. Akan tetapi entah kenapa yeoja itu sama sekali tak punya nyali untuk memarahi Myungsoo. Alhasil yeoja itu hanya menunduk dalam-dalam. Air matanya bahkan hampir keluar saat itu juga.

Yaa, kau tidak berpikir kalau aku yang mengganti pakaianmu, geutji?”

Ucapan Myungsoo itu sontak membuat Jiyeon mengangkat kepalanya menatap namja itu kembali, “Geuge— apa maksud sunbae—”

Myungsoo tertawa melihat reaksi Jiyeon yang seperti itu, “Mwoya? Menciummu saja aku tidak berani apalagi mengganti pakaianmu, Geogjeongma, adikku Soeun yang mengganti pakaianmu.”

Jiyeon merasa seolah disiram air comberan begitu mendengar perkataan Myungsoo. Yeoja itu merasa malu bukan main. Ia bahkan hampir menangis gara-gara membayangkan hal-hal yang sama sekali tidak terjadi.

J-jeoseongeyo, sunbae.. Ak-aku sudah berpikiran buruk tentangmu.”

Myungsoo hanya tersenyum mendengarnya. Entah kenapa ia sama sekali tak berniat untuk mengatakan apapun saat itu. Namja itu terlalu senang menatap Jiyeon yang kini mengenakan t-shirt dengan hot pants milik Soeun. Bagi Myungsoo yeoja itu terlihat manis dan sangat menggemaskan saat itu, padahal ia juga sering melihat Soeun mengenakan pakaian itu. Namun entah kenapa namja itu lebih senang kalau melihat Jiyeon yang memakainya.

S-sunbae— bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Geurae, tanyalah sesukamu.”  Myungsoo menjawab penuh antusias dengan tatapannya yang masih belum lepas dari Jiyeon.

Glek!

Glek!

Lagi-lagi Jiyeon dibuat canggung karena kini Myungsoo benar-benar duduk di hadapannya.

Geuge— kenapa tiba-tiba aku berada di rumahmu? Seingatku, semalam aku bersama Jungkook di depan sekolah. kenapa sekarang aku ada di sini? Lalu di mana Jungkook? Apa dia baik-baik saja? Apa dia—”

Greb!

Ucapan Jiyeon seketika terhenti karena Myungsoo secara tiba-tiba mendekat dan langsung memeluknya begitu saja.

S-sunbae—”

Geumanhae.. Jebal, jangan katakan apapun. Kumohon diamlah sebentar. Aku— tidak ingin mendengar kau membicarakannya lagi. Kumohon, Jiyeon-a.. Kumohon..”

Jiyeon tertegun mendengarnya. Dalam hati ia tidak mengerti sama sekali dengan maksud Myungsoo itu. ‘Wae? Kenapa tiba-tiba Myungsoo sunbae bersikap seperti ini? Dan apa maksudnya ia tidak ingin mendengar aku membicarakannya? Apa maksudnya membicarakan Jungkook? Keunde wae? Apa mereka saling mengenal? Ah benar juga, aku baru ingat kalau mereka sekamar di asrama. Keunde kenapa aku merasa ada yang aneh di sini?‘ batin JIyeon.

Semakin lama Myungsoo semakin mempererat pelukannya, membuat Jiyeon mau tak mau kembali mencium aroma tubuh wangi Myungsoo sekaligus getaran tak biasa yang berasal dari jantungnya sendiri. Yeoja itu tidak mengerti, sebenarnya apa yang tengah dirasakannya saat itu. Tak ada yang bisa dilakukannya saat itu kecuali membiarkan Myungsoo terus memeluknya. Yeoja itu merasa hangat dan nyaman entah kenapa.

*

*

Wajah Jungkook terlihat kusut saat ia terbangun dari tempat tidurnya. Namja itu hampir tak bisa tidur semalaman. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang yaitu Park Jiyeon. Namja itu kini terduduk masih di atas tempat tidurnya. Sesekali kedua matanya mengarah ke atas, tempat di mana ranjang Myungsoo berada. Jungkook sudah menunggu semalaman berharap kalau Myungsoo kembali ke asrama, namun rupanya namja itu sama sekali tidak kembali. Jungkook mendesah frustasi. Berkali-kali ia meremas rambutnya sendiri dengan resah.

“Jungkook-a, gwaenchanha? Tampangmu— tampak tidak baik. Wae geurae?”

Jungkook menoleh ke arah Jin yang baru saja keluar dari kamar mandi. Namja itu hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Jin, membuat Jin semakin heran melihatnya.

Mwoya? Apa ada sesuatu yang terjadi? Ah, matta.. Sepertinya Myungsoo tidak kembali ke asrama semalam. Apa kau melihatnya?”

Jungkook semakin kesal mendengar pertanyaan Jin yang menyebutkan nama Myungsoo. Namja itu pun segera bangkit dari tempat tidurnya .

Hyung, aku akan mandi dulu.” ucapnya sembari berjalan melewati Jin begitu saja dan masuk ke dalam kamar mandi.

Sementara Jin hanya bisa menatap pintu kamar mandi yang telah tertutup rapat itu dengan penuh keheranan.

Flashback

9 hours ago..

“..Sunbae, apa kau ingat dengan namja yang tadi pagi bertemu kita di depan gudang? Aku sedang mencarinya. Apa kebetulan Myungsoo sunbae melihatnya di asrama?”

“…kamsahamnida, Sunbae.. A-ku harus pergi..”

Myungsoo mengepalkan tangannya dengan kesal. Kata-kata Jiyeon itu terus saja terngiang-ngiang di telinganya.

‘Aish! Kenapa aku jadi kesal begini?’ Namja itu terus menggerutu dalam hati tanpa tahu sebab pastinya kenapa ia jadi sekesal itu.

‘Jungkook. Dari sekian banyak namja kenapa harus Jungkook? Wae?’ lagi-lagi ia membatin. Kali ini ia meremas rambutnya sendiri. Ahn Junghwan, sopir pribadinya yang tanpa sengaja melihatnya melalui kaca spion mobil itu jadi heran karenanya. Saat itu Myungsoo memang hendak menghadiri acara makan malam bersama keluarganya sekaligus bersama klien Kim Taeho di sebuah restoran dan tengah dalam perjalanan menuju kesana.

“Apa terjadi sesuatu, Tuan Muda?” tanya Junghwan yang merasa khawatir melihat gelagat anak majikannya itu.

Myungsoo sedikit tersentak mendengarnya. Ia tidak menyangka bahkan Junghwan pun sampai menyadari kegundahannya.

“Anniyo, Ahjussi. Amugeotdo (bukan apa-apa)..” Myungsoo menyahut dengan senyum yang agak dipaksakan.

Glegarr! Dhuaarr!

Untuk kedua kalinya Myungsoo dibuat terkejut akibat suara petir barusan. Beberapa saat kemudian hujan pun mulai mengguyur permukaan kota Seoul dengan derasnya. Namja itu tertegun sejenak. Ia kembali teringat dengan Jiyeon yang beberapa saat yang lalu justru pergi keluar dari asrama. Ia ingat kalau yeoja itu tidak membawa payung dan hanya mengenakan mantel biasa. Namja itu mendadak semakin resah karenanya. Bagaimana kalau dia kehujanan saat di jalan? Bagaimana kalau ada orang jahat yang melihatnya berkeliaran seorang diri di malam hari? Myungsoo semakin cemas bahkan hanya memikirkannya.

“A-Ahjussi, bisakah kita putar balik sebentar? Tolong antarkan aku ke sekolah dulu.”

Junghwan terlihat heran saat mendengarnya. Namun begitu melihat raut wajah Myungsoo yang nampak cemas itu, ia pun mengangguk.

“Algeusseumnida.”

Akhirnya Junghwan pun benar-benar memutar balik mobilnya untuk menuju ke sekolah Kingo. Hanya butuh beberapa menit menempuh perjalanan kesana karena memang mereka masih belum terlalu jauh. Myungsoo yang sejak tadi sudah memasang kedua matanya dengan tajam di sepanjang perjalanan itu menahan napasnya, berharap menemukan sosok Jiyeon di sana. Dan benar saja, tepat ketika mereka hampir sampai di depan sekolah Kingo, Myungsoo melihat dua orang tengah berdiri di depan gerbang sekolah.

“Ahjussi, berhenti di sini saja.” ucap Myungsoo dan langsung disambut anggukan oleh Junghwan, lalu menepikan mobil tak jauh dari sekolah Kingo.

Myungsoo masih menatap lurus ke arah Jiyeon dan Jungkook kini berada. Hatinya semakin merasa tak enak saat melihat Jungkook yang memakaikan mantel miliknya kepada Jiyeon. Entah kenapa ia merasa kesal melihatnya.

‘Apa mereka memang sedekat itu? Sejak kapan?’ batinnya tak rela. Ia terus menatap tajam kearah dua insan itu berada. Ingin sekali rasanya namja itu turun dari mobil dan menarik Jiyeon mengajaknya pergi dari sana. Namun apa dayanya, ia merasa masihlah bukan siapa-siapa bagi Jiyeon. Apalagi saat mengingat reaksi Jiyeon ketika ia mengungkapkan perasaannya pada yeoja itu saat di sekolah tadi. Myungsoo jadi semakin tak berdaya karenanya. Ia sudah hampir meminta Junghwan untuk pergi dari sana karena merasa tak sanggup jika harus melihat kedekatan keduanya lebih lama lagi. Namun niatnya urung digantikan ekspresi terkejut bercampur cemas begitu kedua matanya melihat Jiyeon yang mendadak jatuh pingsan di tempatnya.

“Park Jiyeon..” Myungsoo menatap ke arah Jiyeon berada dengan tatapan khawatir. Ia ingin turun dan berlari menghampiri yeoja itu berada namun ia menahan dirinya demi melihat ada Jungkook yang masih bersama yeoja itu. Akan tetapi Myungsoo semakin tak sabar karena ia melihat Jungkook tak juga melakukan sesuatu pada jiyeon melainkan hanya mencoba membangunkan Jiyeon dengan sikap yang bahkan Myungsoo sendiri tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata.

“Apa yang dilakukannya? Kenapa ia tidak mencoba melakukan sesuatu?” Myungsoo terus bermonolog pelan masih dengan ekspresi cemasnya.

Detik berikutnya, Myungsoo mulai tak tahan lagi dan tanpa aba-aba dari siapapun namja itu segera keluar dari dalam mobil dan berlari begitu saja ke arah mereka.

“Tuan Muda, eodigaseyo?” Junghwan keheranan melihatnya lalu dengan cepat turut turun dari mobil untuk mengambil payung yang berada di bagasi dan bergegas mengikuti anak majikannya tersebut.

Myungsoo segera menghampiri Jiyeon yang kini telah terbaring tak sadarkan diri di depan gerbang sekolah. Jungkook tampak terkejut dan tak percaya dengan kedatangan Myungsoo yang tiba-tiba itu.

“Kau—?” Jungkook bahkan tak bisa mengatakan apapun saat itu.

Myungsoo tak menyahut dan hanya memberikan tatapan tajam kearah Jungkook yang bahkan Jungkook sendiri pun tak bisa mengartikan arti tatapan itu. Setelah itu Myungsoo segera menggendong tubuh tak berdaya Jiyeon dan membawanya menuju ke mobil miliknya dengan Junghwan yang setia memayungi keduanya.

Sementara itu Jungkook hanya mampu menatap kepergian mereka dengan perasaan yang berkecamuk dalam dadanya. Marah, kesal, benci, sedih, semuanya berbaur menjadi satu, dan itu semua ditujukannya pada dirinya sendiri. Ia benar-benar merasa tidak berguna bahkan untuk seseorang yang mulai terasa berarti baginya. Kedua tangannya mengepal keras. Jeon Jungkook, namja itu hanya bisa menangis dalam hati.

Flashback ends

*

*

Whoaaaa.. Myungsoo Oppa, apa kalian berdua— ohmo, daebak!”

Myungsoo dan Jiyeon yang semula masih asyik berpelukan itu terkejut bukan main mendengar seruan tersebut dan seketika saling melepaskan diri satu sama lain. Tahu-tahu di belakang mereka, tepatnya di ambang pintu kamar Myungsoo tampak seorang yeoja tengah berdiri dengan mulut setengah terbuka menunjukkan ekspresi terkejut sekaligus tak percaya.

“Y-yaa, museum suriya..” Myungsoo menyahut dengan sedikit gugup. Wajah namja itu sudah seperti tomat karena menahan malu. Ia tidak menyangka kalau Soeun adiknya akan masuk ke dalam kamarnya secara tiba-tiba seperti itu.

Oppa, selama ini aku belum pernah melihatmu dekat dengan yeoja manapun, keunde dengan Eonnie ini— whoa jeongmal, ini benar-benar berita besar. Aku harus memberitahu Appa dan Eomma soal ini.”

M-mwo? Yyaa, ini tidak—”

Eommaaa!! Appaaa! Aku punya berita besaarr!”

Myungsoo segera bangkit dari tempat tidurnya lalu dengan gusar ia bergegas pergi untuk mengejar Soeun yang telah berlari keluar.

YAA! KIM SOEUN! YAA!!”

Sementara itu Jiyeon semakin merasa tak enak pada saat yang bersamaan, Ia bingung harus bagaimana. Ia bahkan tak bisa membayangkan akan ada kejadian apa lagi setelah ini. Ingin sekali yeoja itu pergi dari sana dan kembali ke asrama secepatnya, Namun ia tak memiliki keberanian untuk bergerak dari tempatnya mengingat itu adalah rumah keluarga Kim Myungsoo.

Eottokhaji?” desisnya bingung bukan main.

*

*

Jiyeon’s POV

Jinjja! Ige mwoya? Sungguh kenapa aku harus berada di tempat ini? Di tempat keluarga pemilik Kingo grup? Oh astaga ini benar-benar masalah besar bagiku. Bukan apa-apa, aku hanya merasa sangat tidak seharusnya berada di sini. Hari ini, saat ini, detik ini, aku bahkan sudah berada di ruang makan keluarga Kim, duduk tepat di tengah-tengah mereka sekeluarga. Entah kenapa aku merasa sekujur tubuhku penuh dengan keringat dingin. Tentu saja aku gugup setengah mati. Berada di antara keluarga paling terpandang di Seoul, sama sekali tidak pernah muncul dalam mimpiku. Menunduk seraya meremas ujung mini dress milik adik Myungsoo sunbae yang kini melekat di tubuhku, hanya itu yang sanggup kulakukan saat itu. Bahkan untuk bernapas pun aku seolah tak berani. Aku sama sekali tak berkutik. Appa, Eomma, eottokhaji? Jebal tolong aku!

“Park Jiyeon, neo wae geurae? Kenapa kau diam saja? Apa perlu aku mengambilkan nasi dan lauk di atas piringmu lalu menyuapimu, hm?”

Dan ini. Inilah yang membuatku paling merasa sangat-sangat tidak nyaman. Perlakuan Myungsoo sunbae padaku benar-benar membuatku gila. Aish eottokhaji? Aku ingin dia memperlakukanku lebih normal daripada ini. Dia sangat menakutkan jika bersikap manis seperti ini. Tidak. Aku tidak boleh jatuh dalam perangkapnya begitu saja. Tidak boleh.

Oppa, berhentilah menggodanya.. Eonnie, kkaja, kau tidak boleh diam saja. Kau juga harus makan.” Soeun, adik Myungsoo sunbae turut membuka suara, namun aku masih belum berani bergerak.

Geurae, jangan hanya diam begitu. Tidak perlu merasa sungkan. Anggap saja kami seperti keluargamu sendiri.” kali ini Tuan Kim Taeho, Appa Myungsoo sunbae yang berbicara.

Ohmo, suaranya benar-benar lembut. Sikapnya pun sangat hangat. Perasaanku sedikit mencair mendengarnya. Meskipun begitu, aku masih mengharapkan suara Eomma Myungsoo sunbae turut mempersilahkanku pula. Tapi entahlah, melalui ekor mataku aku bisa melihat tatapan tajam dari Kim Sungryung yang menghujam kearahku. Hanya membayangkannya saja sudah membuatku merasa tidak nyaman dan ingin segera pergi ke belakang. Wae? Apa jangan-jangan beliau tidak menyukaiku? Ah, sudahlah memangnya apa yang kuharapkan? Aku hanyalah yeoja dari kalangan biasa yang kebetulan mendapatkan kesempatan emas masuk ke sekolah Kingo. Aku bahkan tidak seharusnya berada di sini sekarang.

Karena tak ingin membuat suasana semakin canggung, akhirnya aku pun bergerak mengambil makanan mewah yang ada di atas meja itu dan mulai mengunyahnya dengan perlahan. Sangat perlahan, takut kalau suara decapan mulutku terdengar oleh mereka. Padahal suara dentingan sendok dan piring milik Myungsoo sunbae bahkan jauh lebih keras.

“Sepertinya kau sangat dekat dengan uri Myungsoo, Park Jiyeon-ssi.. Atau bahkan mungkin— kalian memiliki suatu hubungan— spesial?”

Uhuk-uhuk!” aku sontak tersedak mendengar pertanyaan mendadak yang dilontarkan oleh Eomma Myungsoo sunbae itu. Ah, anni. Bukan hanya aku, tapi Myungsoo sunbae juga.

Ohmo, Eonnie gwaenchanha?” Soeun terdengar khawatir lalu menyodorkan segelas minuman kepadaku.

Setelah meneguk sedikit minumanku, aku buru-buru meminta maaf. “J-jeoseonghamnida..” ucapku merasa kikuk.

Aigoo.. Mianhae, pasti pertanyaanku begitu mengejutkanmu, geutji?” Kim Sungryung terdengar berkata sangat lembut dengan senyumannya namun entah kenapa meski begitu bagiku tatapannya sangat tajam padaku.

Diam-diam aku melirik ke arah Myungsoo sunbae. Namja itu pun tampak meneguk minumannya akibat tersedak barusan sama sepertiku. Tanpa sengaja tatapan kami bertemu, namun dengan cepat aku segera menunduk. Entahlah, aku hanya merasa untuk sementara ini tatapannya benar-benar tidak bagus untuk jantungku.

A-annimnida.. Aku dengan Myungsoo sunbae—”

Matjayo. Kami berdua memang dekat.” Aku membelalak mendengar Myungsoo sunbae yang memotong ucapanku barusan. Aku kembali menatap kerahnya dengan tatapan memprotes, namun sialnya ia tak balas menatapku.

Keunde— saat ini aku masih harus sedikit berjuang untuk mendapatkan hatinya secara utuh.” Myungsoo sunbae melanjutkan seraya beralih menatapku. Lagi-lagi aku merasa seluruh wajahku memanas begitu mendengar ucapannya itu. Aku kembali menunduk dan menyambar minumanku dengan sedikit gugup. Aish, kenapa namja ini selalu saja berbuat seenaknya begitu? Untuk apa dia mengatakan hal memalukan seperti itu. Aku yakin pasti keluarganya sangat marah mendengar ucapan konyolnya itu.

Namun tanpa disangka-sangka aku mendengar Kim Taeho tertawa. Mwoya? Appa Myungsoo sunbae tertawa? Keunde wae?

Aigoo.. Anak ini benar-benar sudah berubah sekarang. Geurae, arrasseo.. Lakukan saja semaumu, Myungsoo-ya. Appa selalu percaya pada pilihanmu.”

Aku melihat wajah Myungsoo sunbae tampak berseri-seri sesaat setelah Appanya mengatakan itu, “Nde, gomapta, Appa.” katanya, lalu kembali menatap ke arahku.

Glek!

Aku menelan ludah karenanya. Apa maksudnya itu? Ia tersenyum padaku namun aku benar-benar tak ingin membalas senyumannya. Oh Tuhan sungguh aku merasa sangat kepanasan berada di tempat ini lama-lama.

Eonnie, kau tahu, kau adalah yeoja pertama yang Oppa bawa ke rumah ini. Kau pasti sangat spesial baginya. Chukkae..” Soeun tersenyum manis seraya mengacungkan jempol tangannya padaku.

A-ahh, keunde aku tidak—”

“Lanjutkan sarapanmu. Kau tidak ingin kita terlambat ke sekolah, bukan? Lagipula bukankah kau harus mampir ke asrama dulu?” Myungsoo sunbae memotong ucapanku membuatku lagi-lagi tak bisa berkutik.

“N-ne..” aku menyahut lalu kembali melanjutkan sarapanku.

Entah kenapa secara bersamaan aku merasakan suasana yang sedikit ganjal saat itu. Seperti ada yang kurang beres di sini. Dan keresahanku seolah terbukti begitu tanpa sengaja aku bertemu pandang sesaat dengan Eomma Myungsoo sunbae. Jinjja, aku benar-benar merasa ada yang salah dengannya. Apa dia memang tidak menyukaiku? Tapi kenapa? Apa karena aku hanya yeoja dari kalangan biasa? Aish, sudah kuduga pasti akan berakhir seperti ini jika terlibat dengan orang-orang kaya. Akhirnya dengan gugup aku pun kembali menghabiskan makananku. Entah sudah berapa kali aku tersedak, yang jelas yang kuinginkan saat itu hanya satu, yaitu cepat-cepat pergi dari sini.

*

*

Author’s POV

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..

Sejung yang kini duduk di kursi sisi kiri ranjang Taehyung itu masih menunduk dalam diam dan hanya suara detik jarum jam dinding ruangan tersebut yang terdengar. Entah sudah berapa lamanya ia duduk terdiam di sana tanpa mengucapkan apapun. Sesekali kedua matanya melirik Taehyung yang tampak terlelap di atas ranjangnya. Ia hampir tak bisa tidur semalaman karena bau obat-obatan rumah sakit amat mengganggunya. Sebenarnya ia sudah berencana akan mengajak Taehyung bicara mengenai banyak hal, tapi yeoja itu tak pernah mendapatkan kesempatan sejak semalam karena teman-teman sekelasnya yang datang bergantian untuk menjenguk. Sekalipun ia mendapatkan kesempatan untuk berdua, Taehyung justru sudah terlelap. Alhasil yeoja itu terpaksa menunggu hingga esok hari.

Beberapa saat kemudian yeoja itu tampak menguap pelan. Ia mulai merasa lelah dan mengantuk karena sejak tadi hanya duduk diam menunggu Taehyung bangun dari tidurnya. Yeoja itu benar-benar ingin bicara banyak pada saudara kembarnya itu setelah sekian lamanya mereka bersikap seperti saling tak mengenal. Namun sepertinya Taehyung terlalu lelap dalam tidurnya hingga mau tak mau Sejung pun hanya bisa diam menunggu. Secara perlahan yeoja itu meletakkan kedua tangannya di sisi ranjang Taehyung lalu menumpukan kepalanya di atas kedua tangannya itu. Karena terlalu letih, hanya dalam hitungan detik akhirnya yeoja itu benar-benar tertidur dengan posisi tersebut.

Namun tanpa disadari oleh Sejung, sebenarnya Taehyung sudah terjaga sejak tadi. Tapi karena masih merasa agak canggung, namja itu terpaksa pura-pura tidur. Secara perlahan ia membuka kedua matanya dan melirik ke arah Sejung yang tertidur dengan posisi duduk di sisi ranjangnya itu. Tanpa sadar namja itu tersenyum kecil melihatnya, dan seolah tertarik oleh magnet, sebelah tangannya bergerak pelan lalu mengusap lembut kepala Sejung. Ada perasaan lega sekaligus haru saat ia melakukannya.

Bogoshippeo, Sejung-a..”

*

*

Park Jiyeon’s POV

Aku berjalan setengah berlari menuju ruang rawat Taehyung. Sebenarnya pikiranku masih sedikit kacau akibat kejadian di rumah Myungsoo sunbae tadi. Tapi aku berusaha untuk mengesampingkan itu dulu dan beralih fokus pada Taehyung dan Sejung untuk saat ini. Apa keadaan Taehyung semakin membaik? Dan juga hubungan mereka, aku harap mereka tak lagi bersikap seperti tidak saling mengenal seperti sebelumnya.

Aku menghentikan langkahku tepat di depan pintu ruang rawat Taehyung. Kuhembuskan napas sepenuh dadaku.

..na neo johahae..”

Blush!

Bodoh! Kenapa tiba-tiba ucapan itu mendadak terngiang lagi di kepalaku? Aish jinjja! Ayolah, sekarang bukan saatnya memikirkan itu. Oh, baiklah, jujur setiap kali aku mengingat Taehyung, kejadian kemarin itu masih terbayang di benakku. Jinjja, jinjja, jinjja.. Aku benar-benar frustasi.

Ah, dan lagi. Mantel yang kini berada di tanganku. Ini mantel milik Jungkook. Semalam pelayan di rumah Myungsoo sunbae sudah mencuci sekaligus mengeringkannya untukku, jadi aku langsung membawanya ke asrama. Aku bermaksud akan langsung ke sekolah setelah mengantarkan pakaian ganti untuk Sejung, jadi sekalian kubawa juga mantel milik Jungkook. lagipula aku juga ingin meminta maaf padanya karena sudah meninggalkannya di depan sekolah. Dia pasti kecewa padaku. Ck! Kenapa masalahku rumit sekali.

Agasshi ingin menjenguk pasien?”

Aku tersentak mendengarnya. Aku menoleh dan mendapati seorang dokter paruh baya sudah berdiri di belakangku. Aku pun refleks mundur selangkah dan setengah membungkuk menyapanya.

A-annyeonghaseyo. Nde, uisa-nim. Aku hendak menjenguk pasien Kim Taehyung.”

Dokter itu tersenyum ramah dan mengangguk, “Aku akan memeriksa keadaan pasien terlebih dahulu. Setelah itu kau boleh menemuinya sepuasnya.”

“A-ahaha.. Nde..”

Dokter pun membuka pintu ruang rawat Taehyung. Aku bisa melihat Sejung yang kini tengah tertidur pulas di sisi ranjang Taehyung dengan posisi duduk. Aku sedikit terharu sekaligus iba melihatnya. Sejung pasti sangat kelelahan. Aku juga melihat Taeyung yang sudah terjaga. Namun tiba-tiba saja namja itu tampak meletakkan jari telunjuknya di bibir seolah memberi isyarat untuk tidak membuat suara bising.

Uisa-nim, bisakah aku minta tolong? Tolong datang dan periksa keadaanku sejam lagi saja. Geuge— aku tidak ingin dia terbangun. Jebal buttaktaeraeyeo..” Taehyung berkata dengan setengah berbisik, aku tahu dia tak ingin mengusik tidur Sejung. Diam-diam aku mengulum senyum melihatnya. Sepertinya mereka berdua sudah menjadi lebih akur.

Dokter tak segera menjawab, namun setelah melihat ekspresi memohon di wajah Taehyung, akhirnya dokter pun mengangguk setuju, “Geurae, aku akan kembali sejam lagi.” ucapnya sambil tersenyum.

Taehyung tampak senang mendengarnya, “Kamsahamnida, uisa-nim..” katanya pula.

Dokter kembali mengangguk sambil tersenyum ramah, kemudian ia pun berbalik dan berjalan keluar dari kamar Taehyung.

Untuk sejenak aku merasa agak canggung saat itu. Apalagi lagi-lagi aku kembali teringat dengan kejadian kemarin. Kulihat Taehyung hanya menatapku tanpa mengucapkan apapun. Aish, aku merasa canggung sekali. Aku berdehem kecil untuk mengusir rasa canggungku dan berjalan perlahan menhampiri ranjang Taehyung.

Geuge— bagaimana perasaanmu sekarang?”

“Masih sama seperti sebelumnya, dan kurasa akan tetap seperti ini untuk seterusnya.”

Aku mengerutkan kening tak paham mendengar jawaban dari Taehyung itu, “N-ne?”

“Kau bertanya bagaimana perasaanku. Maka itu jawabanku.”

M-mwo?”

Tidak butuh waktu lama akhirnya aku sadar dan mulai bisa mencerna maksud ucapan Taehyung barusan. Lagi-lagi aku merasakan hawa panas di sekitarku. Aish..

Taehyung tampak tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi. Aku tertegun sejenak melihatnya. Meskipun wajahnya terlihat agak pucat, ia masih tampan seperti biasanya. Ah, apa yang kupikirkan? Keunde ngomong-ngomong aku baru sadar kalau Taehyung dan Sejung memiliki senyum yang sama. Rectangle smile itu. Tidak heran kalau mereka kembar.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” aku sedikit terkejut mendengar teguran Taehyung itu.

A-anniya. Amugeotdo.. Aku— hanya memikirkan keadaanmu..”

Aish! Apa-apaan ini. Aku ketahuan melamun.

Taehyung kembali tersenyum, “Geogjeongma.. Keadaanku sudah lebih baik dari kemarin. Ahh, apa kau membawakan pakaian ganti untuk Sejung?”

A-ahh, ne.. Aku membawanya.” kataku sembari meletakkan tas kecil berisi pakaian ganti milik Sejung di atas meja kecil yang berada di sana. “Geuge— aku akan pergi ke sekolah dan bilang pada seonsaengnim kalau Sejung ijin hari ini. Geureom, cepatlah sembuh, ketua— ehm, maksudku Taehyung-a..”

Aku tersenyum canggung, lalu berbalik bermaksud pergi.

“Jiyeon-a.”

Namun lagi-lagi aku harus kembali menghadap kearahnya karena panggilannya itu.

W-wae?”

“Kemarilah sebentar.”

N-ne?”

Taehyung memberikan isyarat padaku agar aku lebih mendekat padanya. Dengan ragu sekaligus gugup entah kenapa aku pun menuruti perintahnya dan berdiri di sebelah Sejung yang tertidur.

Greb!

Aku terkejut saat tiba-tiba Taehyung meraih sebelah tanganku dan meletakkannya di atas keningnya.

“T-Taehyung-a—”

Hoo.. Aku merasa jauh lebih baik sekarang.”

M-mwo?”

“Kurasa sentuhanmu merupakan obat yang mujarab. Aku benar-benar merasa nyaman sekarang. Jiyeon-a, bertahanlah sebentar lagi. Kau ingin aku cepat sembuh, geutji? Jadi, tetaplah seperti ini sedikit lebih lama. Maka aku akan segera sembuh seperti yang kau inginkan.”

Glek!

Aku menelan salivaku dengan susah payah mendengar ucapannya itu. Kim Taehyung, apa benar ini dirinya? Ini benar-benar di luar dugaan. Apa Taehyung memang memiliki sisi seperti ini? Ataukah dia hanya bersikap manja begini saat ia sedang sakit? Atau dia hanya begini terhadapku karena— ehm, dia menyukaiku? Aish, aku tidak tahu tapi terus terang aku benar-benar merasa canggung karenanya. Kulihat namja itu mulai memejamkan kedua matanya, seolah benar-benar merasakan sentuhan yang kuberikan ini merupakan sebuah obat untuknya.

Deg! Deg!

Entah kenapa aku mendadak merasa aneh saat melihatnya yang terdiam seperti itu. Wajahnya terlihat sangat damai dan polos seperti tanpa dosa.

Oh ayolah, aku tidak mungkin jatuh hati padanya geutji? Anni

Oh ayolah, aku tidak mungkin jatuh hati padanya geutji? Anni.. Pasti tidak mungkin. Aigoo, ige mwoya?

“Jiyeon-a, kau bisa sedikit mengusap kepalaku.”

N-ne??”

Taehyung menggerakkan tanganku seolah memberi contoh padaku mengusap-usap kepalanya. Aku semakin canggung dibuatnya. Namun tak ada yang bisa kulakukan selain menuruti permintaannya itu. Rambutnya terasa begitu lembut saat aku mengusapnya, dan entah kenapa semakin lama aku semakin betah melakukan hal itu padanya. Baiklah, mungkin saat ini orang lain yang melihatnya akan berpikir kalau aku hampir mirip seperti seorang ibu yang tengah menidurkan anaknya.

KEUNDE JINJJA!! IGE MWOYA??

*

*

Aku sampai di gerbang sekolah dengan napas sedikit tersengal. Aish, sudah kuduga kalau ini akan terjadi. Aku terlambat datang ke sekolah. Meskipun begitu entah kenapa aku sama sekali tak ingin menyalahkan Taehyung karena dialah yang sudah menahanku sehingga aku datang terlambat. Entahlah, aku justru merasa senang karena bisa membuatnya merasa nyaman begitu. Ah, sudahlah aku tak ingin memikirkannya lagi.

Aku semakin lemas ketika kedua mataku menangkap sosok Choi seonsaengnim yang kini sudah berdiri tegap tak jauh dari gerbang sekolah menantikan murid-murid Kingo yang datang terlambat. Aish, aku lupa kalau hari ini Choi ssaem sedang piket jaga. Orang tua itu tidak pernah memberi ijin masuk pada murid Kingo yang datang terlambat secara cuma-cuma tanpa hukuman. Meskipun aku tahu hukumannya tidak berat, tapi tetap saja lari keliling lapangan itu amat sangat tidak kusukai.

Dengan langkah gontai aku pun berjalan dan bergabung dengan barisan murid-murid Kingo yang datang terlambat. Namun aku sedikit terkejut saat melihat salah satu murid di barisan itu adalah Jungkook. Mwoya? Dia juga terlambat? Namja itu tampak diam sambil menundukkan kepalanya. Aku jadi teringat kembali dengan kejadian semalam. Apa dia baik-baik saja? Apa dia marah karena aku sudah meninggalkannya? Keunde aku sendiri juga masih bingung kenapa aku malah berakhir di rumah Myungsoo sunbae. Namja itu sama sekali tidak memberitahuku apa yang sebenarnya sudah terjadi semalam. Padahal aku juga penasaran ingin tahu apa yang sudah terjadi.

“Park Jiyeon, apa kau tidak mendengarku?”

*

*

Author’s POV

Jungkook berjalan agak tergesa memasuki gerbang sekolah pagi itu. Namja itu datang terlambat karena sejak pagi pikirannya tak bisa fokus dan terus tertuju pada Jiyeon. Ia bahkan tak sempat makan pagi karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Jin bahkan yang semula tak begitu peduli jadi turut heran melihat sikapnya sejak tadi pagi. Alhasil ia benar-benar datang terlambat ke sekolah. Kini namja itu sudah terlihat ikut bergabung dengan beberapa murid lain yang juga terlambat datang dan berbaris di tepi lapangan. Namja itu terus menunduk karena secara kebetulan ia berdiri di samping seorang murid yeoja dan ia tahu kalau yeoja itu sejak tadi terus berusaha mencuri pandang kearahnya. Tapi Jungkook sama sekali tak ingin peduli dan lebih memilih diam menunduk menanti hukuman yang akan diterimanya dari Choi seonsaengnim.

“Lepaskan sepatu kalian, lalu lari keliling lapangan sebanyak lima kali. Setelah itu baru kalian boleh masuk kedalam kelas.”

Jungkook dan murid-murid lain pun mulai bergerak mengikuti instruksi Choi ssaem melepaskan sepatu mereka. Bagi mereka yang sudah terbiasa datang terlambat, hal itu tidak asing lagi, namun tidak bagi Jungkook. Ia merasa Choi ssaem sedikit keterlaluan. Tapi tak ada yang bisa dilakukannya kecuali menurut seperti halnya murid-murid lainnya.

“Park Jiyeon, apa kau tidak mendengarku?”

Air muka Jungkook langsung berubah begitu mendengar nama itu disebut. Secara refleks ia mengikuti arah pandangan Choi ssaem dan tatapannya berhenti pada seorang murid yeoja yang semula tampak asyik termenung.

Yeoja yang ternyata memang Park Jiyeon itu sedikit tersentak mendengar teguran dari Choi ssaem barusan.

N-nde?” ucapnya gugup.

“Lepaskan sepatumu lalu keliling lapangan sebanyak 5 kali putaran bersama yang lain.”

Jiyeon terlihat frustasi mendengar ucapan Choi ssaem itu, namun mau tak mau yeoja itu pun mengangguk menuruti perintahnya. Bersamaan dengan itu tanpa sengaja pandangan matanya bertemu dengan pandangan Jungkook. Yeoja itu tersenyum canggung pada Jungkook, namun namja itu langsung melihat ke arah lain berusaha menghindari tatapan matanya.

Jiyeon sedikit kecewa namun ia maklum mengingat phobia yang diderita Jungkook

Jiyeon sedikit kecewa namun ia maklum mengingat phobia yang diderita Jungkook.

Sebenarnya tanpa Jiyeon sadari, Jungkook merasa lega karena ia melihat yeoja itu tampak baik-baik saja. Namja itu takut sesuatu yang buruk terjadi pada Jiyeon akibat kejadian semalam itu. Jungkook pasti tak bisa memaafkan dirinya sendiri seandainya sesuatu yang buruk menimpa Jiyeon. Akhirnya, setelah mendapatkan aba-aba dari Choi ssaem, semua murid yang datang terlambat itu pun mulai berlari-lari kecil mengelilingi lapangan, tak terkecuali Jiyeon dan Jungkook.

Jiyeon yang memang sejak jaman batu tak pernah suka berlari itu sama sekali tak bersemangat. Ia hanya lari sekedarnya tanpa ada niat ingin mempercepat larinya hingga akhir. Bahkan saat hampir semua murid selesai melakukan lima putaran, Jiyeon baru melakukan 2 kali putaran. Dan Jungkook tahu itu. Namja itu sedikit memperlambat larinya, bermaksud ingin mengimbangi langkah kaki Jiyeon. Padahal ia hanya harus menambah satu kali putaran lagi, namun ia bermaksud ingin menemani Jiyeon hingga yeoja itu selesai melakukan putaran kelimanya. Namja itu berlari-lari kecil di belakang Jiyeon tanpa disadari oleh yeoja itu. Meski melihatnya dari belakang, Jungkook tahu kalau Jiyeon sudah merasa kelelahan, dan itu membuatnya tak tega. Namun tak ada yang dapat dilakukannya selain hanya terus mengikuti Jiyeon di belakangnya. Akan tetapi tiba-tiba saja,

Bruk!

Akh!”

Jungkook terkejut saat Jiyeon mendadak jatuh terduduk di depannya.

S-sunbae, gwaenchanha?”

Jiyeon tampak mendongak dan sedikit terkejut pula saat mendapati Jungkook yang kini berdiri di hadapannya.

“Jungkook-a? Akh, kakiku terkilir. Keunde gwaenchanha. Ini tidak parah.” Jiyeon tampak berusaha bangkit dari duduknya dengan sedikit susah payah. Sungguh, ingin sekali rasanya Jungkook membantu yeoja itu berdiri, atau bahkan kalau perlu menggendongnya. Namun lagi-lagi itu hanyalah sebatas keinginan semata. Nyatanya namja itu masih tak mampu melakukan apapun saat itu.

“Kau lihat? Nan gwaenchanha.. Aku masih bisa lari. Hanya tinggal satu putaran lagi.”

Jungkook tak menjawab. Ia benar-benar merasa jadi namja yang sama sekali tak berguna saat itu.

Ah, keunde Jungkook-a, hanya tinggal kita berdua yang belum menyelesaikan lima kali putaran. Aku tidak menyangka kalau kau masih belum menyelesaikannya. Apa jangan-jangan kau juga tidak suka berlari?”

A-ahh, tidak juga.” Jungkook menyahut dengan sedikit gugup. Kalau saja Jiyeon tahu namja itu bahkan sudah hampir melakukan 7 kali putaran. Namun Jungkook tak mempermasalahkannya selama ia bisa menemani yeoja itu.

“Apa yang kalian berdua lakukan di sana? Cepat selesaikan hukuman kalian!”

Baik Jungkook dan Jiyeon sama-sama terkejut mendengar seruan dari Choi ssaem itu.

Kkaja.” ucap Jiyeon seraya kembali berlari, meski kali ini dengan kakinya yang sedikit terpincang.

Walau sebenarnya Jungkook tak tega melihatnya, mau tak mau ia pun turut berlari kecil di belakang Jiyeon hingga menyelesaikan putarannya yang ke tujuh.

*

*

Sunbae jeongmal gwaenchanha?” Jungkook masih terlihat khawatir saat keduanya selesai melakukan hukuman dari Choi ssaem barusan.

Jiyeon tersenyum, lalu memasukkan kembali air mineral yang dibawanya dari asrama ke dalam tas setelah sempat diteguknya tadi. Saat ini keduanya sama-sama berjalan meninggalkan lapangan outdoor.

Eoh.. Kau tidak perlu berlebihan begitu. Ini bahkan sama sekali bukan masalah besar.” sahutnya. “Ah, keunde Jungkook-a, apa kau baik-baik saja? Sepertinya semakin lama kau semakin memiliki kemajuan. Kau sudah tidak setakut saat kita pertama kali bertemu. Padahal saat ini aku tidak mengenakan masker, tapi sepertinya itu tak begitu mempengaruhimu lagi, geutji?”

Jungkook tak segera menjawab. Namja itu diam dengan setengah menunduk dan memikirkan ucapan Jiyeon barusan. Setelah dipikir-pikir, ia baru sadar kalau ucapan Jiyeon itu benar. Ia memang sedikit demi sedikit merasa mengalami perubahan, meski tidak begitu besar. Buktinya ia bahkan sudah mulai berani melakukan kontak mata secara langsung dengan Jiyeon meskipun hanya beberapa kali. Namun begitu, Jungkook merasa ini sedikit aneh, karena setahunya ia tetap merasa takut saat tanpa sengaja melakukan kontak mata dengan beberapa yeoja di kelasnya.

Sunbae, sepertinya— ini hanya berlaku padamu.”

Jiyeon sedikit heran saat mendengar ucapan Jungkook itu.

Museun niriya?”

“Aku— hanya merasa nyaman di samping seorang yeoja, jika yeoja itu adalah dirimu. Park Jiyeon, aku hanya merasakan kenyamanan jika berada dekat dengan Park jiyeon.”

Glek!

Lagi-lagi Jiyeon meneguk salivanya sendiri begitu mendengarnya. Ia kembali teringat dengan kejadian semalam di depan gerbang. Teringat dengan ucapan Jungkook yang ingin mengenalnya lebih jauh karena ingin lebih dekat dengannya. Rasa canggung seketika kembali menyelimuti perasaan yeoja itu.

Mianhae, sunbae.. Aku sudah membuatmu kehujanan semalam. Tapi aku senang melihatmu baik-baik saja.”

A-ahh.. Ne..” Jiyeon menyahut dengan sedikit gugup, “Eoh, matta.. Mantelmu— aku membawakannya. Gomawo sudah meminjamkannya semalam.”

Yeoja itu menyerahkan tas kecil berisi mantel milik Jungkook kepada namja itu. Tapi namja itu tak bergeming dan hanya melirik sekilas ke arahnya.

Sunbae bisa memilikinya,” sahut namja itu kemudian.

N-ne? K-keunde wae?”

“Aku ingin melihatmu yang memakainya. Jadi, pakailah, sunbae.”

Jiyeon masih belum mengerti sepenuhnya. Kenapa tiba-tiba Jungkook memberikan mantel itu padanya? Ia sama sekali tidak mengerti. Tapi mau tak mau ia pun mengangguk menerimanya.

Geurae.. G-gomawo, Jungkook-a,”

Jungkook hanya mengangguk sambil tersenyum. Dalam hati ia senang karena Jiyeon menerima pemberian darinya. Padahal kalau saja Jiyeon tahu, mantel itu adalah milik mendiang Eommanya dan salah satu peninggalan berharga baginya. Namun entah kenapa, Jungkook merasa sangat bahagia saat memberikan mantel tersebut pada Jiyeon. Ia merasa Jiyeon adalah satu-satunya yeoja yang bisa menyamai posisi Eommanya dalam hatinya.

Ah, keunde— Jungkook-a, bisakah kau menceritakan padaku bagaimana aku bisa berakhir di rumah Myungsoo sunbae semalam?”

Jungkook sedikit terkejut begitu mendengar ucapan Jiyeon itu, “Kau berada di rumahnya?”

Eoh.. Keunde ia sama sekali tak mau memberitahuku kenapa aku bisa berakhir di sana. Mungkin kau bisa menceritakannya padaku. Aku benar-benar tidak ingat sama sekali.”

Jungkook tak segera menjawab. Namja itu masih tidak menyangka kalau ternyata semalam Myungsoo membawa Jiyeon ke rumahnya. Suasana hatinya langsung berubah. Entah kenapa firasat namja itu mendadak merasa tak enak. Masuk ke dalam keluarga Kim Myungsoo, ia benar-benar tak menyukainya.

“Semalam, saat kau jatuh pingsan, aku tak bisa menolongmu.”

Jiyeon tertegun sejenak mendengarnya. Pingsan? Sesaat kemudian ia pun mulai ingat kalau semalam ia merasa kepalanya mendadak pusing.

Ah benar juga, jadi aku pingsan semalam.‘ batinnya.

“Lalu Myungsoo hy— maksudku, Myungsoo sunbae datang dan membawamu pergi.”

Ahh, jadi begitu.” Jiyeon mengangguk mengerti.

Tapi apa yang dilakukan Myungsoo sunbae di sana? Kenapa dia ada di sekolah semalam? Apa jangan-jangan dia mengikutiku? Aish, maldo andwae.. Mungkin ia hanya kebetulan sedang lewat,’ lagi-lagi Jiyeon membatin.

Sunbae, mian aku benar-benar tidak berguna saat kau membutuhkan bantuanku. Aku— benar-benar menyesal memiliki phobia ini..”

Jiyeon sedikit tersentak mendengarnya. Ia tidak menyangka kalau Jungkook akan berkata seperti itu.

Mwoya? kenapa kau sampai berkata seperti itu? Nan gwaenchanha. Justru seharusnya akulah yang meminta maaf padamu, karena sudah melupakan janji untuk menemuimu sepulang sekolah. Mianhae, Jungkook-a, aku sudah membuatmu menunggu selama itu. Jeongmal mianhae..”

Jungkook tak menjawab. Namun sedetik kemudian namja itu menghentikan langkahnya. Jiyeon merasa heran dan turut berhenti lalu menatap kearah Jungkook. Namja itu terlihat diam dengan pandangannya yang mengarah lurus ke depan.

Wae geurae? Kenapa berhenti?”

Sunbae, ikutlah denganku sepulang sekolah nanti. Aku— ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

N-ne? Eo-eodi?”

Jungkook tak menjawab. Namun tanpa disangka-sangka, namja itu memutar tubuhnya hingga tepat berhadapan dengan Jiyeon. Jiyeon yang masih belum mengerti itu hanya diam menanti apa yang hendak dilakukan namja itu. Untuk sejenak Jungkook masih tak berani mengangkat wajahnya. Namja itu menarik napas dalam-dalam, hingga detik berikutnya kedua tangannya mulai bergerak perlahan, terus bergerak hingga akhirnya ia menyentuh kedua tangan Jiyeon dan menggenggamnya. Jiyeon terbelalak dibuatnya.

“J-Jungkook-a, kau—” yeoja itu sama sekali tak menyangka kalau Jungkook akan melakukan hal itu padanya.

Jungkook masih diam. Jiyeon tahu, namja itu tengah berusaha keras menahan perasaannya yang merasa takut saat itu. Terbukti kedua tangan namja itu yang gemetaran dengan keringat dingin yang membasahi telapak tangannya. Namun ia tetap menahannya dengan kepalanya yang tertunduk. Seluruh tubuhnya terlihat gemetar, membuat Jiyeon tak tega melihatnya lebih lama lagi.

“Jungkook-a, jangan paksakan dirimu. Kau bisa memulainya sedikit demi sedikit..”

A-anni.. Biarkan— biarkan seperti ini dulu. Aku— aku hanya ingin menjadi lebih berguna untukmu. Aku— aku ingin melindungimu dengan tanganku sendiri.”

“Jungkook-a—” Jiyeon merasa tersentuh mendengarnya. Ia tidak menyangka kalau dirinya begitu berpengaruh pada Jungkook sampai seperti itu.

Deg! Deg! Deg!

Untuk yang kesekian kalinya yeoja itu kembali merasakan jantungnya berdegup tak beraturan saat kedua tangan Jungkook semakin mempererat genggamannya. Ia bahkan bisa melihat wajah Jungkook dengan jelas dengan jarak sedekat itu, meski namja itu tak menatap kearahnya. Yeoja itu tak bisa memungkiri bahwa namja itu memiliki wajah yang sangat tampan. Untuk sejenak Jiyeon seolah merasa terhipnotis karenanya. Namun tiba-tiba saja bayangan wajah Sejung melintas di kepalanya. Ia baru ingat kalau sahabatnya itu sedang jatuh cinta pada Jungkook. Yeoja itu menggeleng samar, berusaha menghilangkan getaran tak jelas di dadanya. Akan tetapi beberapa saat setelahnya, ia pun membalas genggaman tangan Jungkook, membuat Jungkook sedikit terkejut karenanya, namun namja itu hanya diam dan entah kenapa perasaannya mulai sedikit menghangat.

Gomawo.. Gomawo kau sudah mau berubah karena aku. Aku tidak tahu kenapa kau bisa melakukannya demi aku yang bahkan baru beberapa hari mengenalmu. Keunde aku sangat senang jika aku memang bisa membuatmu sembuh dari phobiamu. Gomawo Jungkook-a.. Aku berjanji, aku pasti akan membantumu sembuh secara total.”

Jungkook tersenyum mendengarnya. Jujur ingin sekali ia menarik Jiyeon dan memeluknya saat itu juga. Tapi tidak bisa. Namja itu bahkan tengah bersusah payah menahan dirinya agar tidak ambruk karena genggaman tangan itu. Mungkin memang seharusnya ia memulainya sedikit demi sedikit. Karena itu benar-benar pertama kalinya ia kembali bersentuhan dengan yeoja sejak beberapa tahun yang lalu. Tapi ia begitu senang, karena Jiyeon bersedia membantunya hingga akhir.

Tanpa mereka sadari, seorang murid Kingo tanpa sengaja melihat keduanya yang saling bergenggaman tangan itu dari kejauhan. Dengan sebuah smirk di wajahnya, murid itu mengarahkan kamera ponsel di tangannya ke arah mereka berdua, lalu tersenyum puas saat melihat hasil bidikannya. Sesaat kemudian, dengan langkah santai murid itu pun kembali berjalan menuju kelasnya.

*

*

Jiyeon’s POV

Aku berjalan keluar dari kelas dengan sedikit tak bersemangat. Tentu saja, aku merasa ada yang kurang dan sedikit kesepian karena tak ada Sejung bersamaku seperti biasanya. Meskipun seringkali ia meninggalkanku karena harus bertemu dengan beberapa sunbae, tetap saja tak ada dirinya membuatku merasa kesepian.

“Jiyeon-a, kau tidak ingin ke kantin?”

Aku menoleh mendengar suara itu. Kulhat Suzy, teman sekelasku yang bertanya.

Geurae, kkaja kita ke kantin bersama. Geogjeongma, aku yang akan melindungimu dari amukan para hoobae kalau mereka mengganggu nanti. Aku tidak kalah kuat dari Sejung.” Krystal turut menyahut sambil mengacungkan kepalan tangannya ke udara.

Matjayo. Kau tahu kalau Krystal sangat hebat dalam ilmu bela dirinya. Geureom, kkaja pergi bersama.” Jieun terdengar menyahut ikut mendukung.

Aku tersenyum melihatnya. Ah, aku lupa kalau teman-teman sekelasku sangat baik padaku. Mereka pasti tidak tega melihatku sendirian tanpa Sejung. Baiklah, tidak ada salahnya sekali-kali aku pergi bersama teman-teman selain Sejung. Lagipula memang sudah seharusnya seperti itu, bukan? Aku pun mengangguk senang menerima ajakan mereka.

Kkaja.”

Kami berempat pun berjalan bersama menuju kantin sambil sesekali tertawa karena tingkah Krystal yang memang terkadang selalu konyol. Kami terus berjalan hingga beberapa menit kemudian langkah kami terhenti saat melihat beberapa murid yang berkerumun di depan mading sekolah.

Mwoya? Apa ada berita panas? Kenapa mereka tampak ribut sekali?” Krystal terdengar bertanya dengan nada penasaran.

Molla. Kkaja kita lihat juga.” Suzy berjalan mendahului kami dan berusaha menyeruak di antara murid-murid yang berkerumun tersebut. Krystal dan Jieun tak mau ketinggalan dan mengikuti jejak Suzy. Untuk sejenak enntah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan para murid yang berkerumun itu. Mereka bergumam dan berbisik tak jelas sambil sesekali melihat kearahku. Namun aku tak begitu peduli. Karena juga penasaran, aku pun turut menyeruak untuk melihat berita di mading itu lebih jelas.

Ige mwoya? Jiyeon-a, apa benar yang dikatakan berita ini?”

Aku menatap Krystal bingung, tak segera menjawab pertanyaannya itu, melainkan segera mengalihkan pandanganku pada berita yang tertempel di mading sekolah. Kulihat ada sebuah foto yang sedikit blur, dimana seorang yeoja tampak bermesraan dengan seorang namja. Untuk sesaat aku menajamkan kedua mataku. Dan karena fotonnya memang tak begitu jelas. Aku langsung beralih membaca caption yang tertulis di bawah foto tersebut.

Park Jiyoung, seorang jurnalis yang cukup dikenal masyarakat diketahui berhubungan gelap dengan partner kerjanya.”

Deg!

Aku merasa jantungku berhenti berdetak seketika saat membacanya. Ige mwoya? Park Jiyoung? Kenapa nama itu mirip sekali dengan nama Eomma? Ah, anniya. Ini pasti seorang yeoja yang kebetulan memiliki nama yang sama. Tapi yeoja itu, dia juga seorang jurnalis, sama seperti profesi Eomma. Dengan perasaan tercekat aku meremas ujung seragamku dan mulai melanjutkan membaca.

Menurut saksi mata, jurnalis yang masih terbilang cukup muda yang diketahui bernama Park Jiyoung ini tengah bermesraan dengan partner kerjanya di sekitar daerah Daegu, saat keduanya mendapatkan tugas untuk meliput berita di sana. Mungkinkah yeoja yang telah bersuami dan memiliki satu anak ini benar-benar berselingkuh? Saat ini kami masih menunggu konfirmasi dari pihak yang bersangkutan..”

“Yaa, bukankah Park Jiyoung itu Eommanya Jiyeon, matji?”

“Eoh, matjayo. Sepertinya itu memang Eommanya. Aku sering melihatnya di layar kaca.”

“Aigoo.. Kasihan sekali Jiyeon. Pasti dia merasa sangat terpukul dan malu.”

“Sst.. siamlah, ada Jiyeon di sini.”

“Mwo? Jinjja? Ohmo, aku tidak tahu..”

“Keunde Jiyeon-a, apa benar yang didalam foto itu Eomma mu? Kau adalah anaknya, tentu kau lebih mengenalinya daripada kami.”

Aku sama sekali tak bisa berpikir jernih mendengar semua desisan yang dilontarkan mereka. Di satu sisi aku tidak percaya kalau itu memang benar Eomma, tapi di sisi lain, semakin aku mempertajam penglihatanku, yeoja dalam foto itu memang seperti Eomma.

“Jiyeon-a, jangan dipikirkan. Mungkin ini semua hanya hoax. Bisa jadi itu hanya ulah anak-anak club mading yang iri padamu dan mengedit fotonya. Gwaenchanha, kami percaya itu tidak benar.” Jieun tampak berusaha menghiburku dan mengelus bahuku.

Geurae, pasti ini hanya kesalahpahaman seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu.” Suzy menambahkan.

Aish, aku jadi penasaran sebenarnya siapa yang selalu menyebarkan berita seperti ini. Dan kenapa selalu Jiyeon yang menjadi sasarannya. Lagipula kenapa dan untuk apa dia memasang berita orang luar di sekolah kita? Benar-benar tidak masuk akal.” Krystal pun menyahut dengan nada gemas.

Aku hanya tersenyum tipis mendengarnya. Meskipun mereka berkata demikian, aku tahu sebenarnya mereka pun sangat penasaran dengan kebenaran berita itu, karena bahkan aku sendiri pun ingin tahu kebenarannya. Sungguh, aku merasa hampa dan tak bisa memikirkan apapun saat ini. Tuhan, masalah apa lagi yang akan Kau timpakan padaku? Eomma, semoga ini semua tidak benar.

 Tuhan, masalah apa lagi yang akan Kau timpakan padaku? Eomma, semoga ini semua tidak benar

To be continued

Oohhh, ternyata untuk flashback mengenai phobia Jungkook belum muncul di part ini, ahahaha iyalah, ini aja udah nyampe 7ribu kata lebih, jadi kebanyakan kalo mau sampai pada scene flashbacknya dia, hihihi

Tapi tenang aja, mungkin di part berikutnya bakal ada, yah, mungkin, wkwk

Ohya maapkan diriku yang telat update ya kawan, bukan karena malas tapi emang rada ga mood sih, haha sama ya? Tapi insya Allah biar telat tetep bakalan apdet kok entah itu selang dua minggu atau bahkan setahun lagi, wkwk ngga ye.

Pokoknya selama masih ada ide, tetep bakal lanjut kok. Aku ga bakal maksa kalian buat ninggalin komentar lagi, soalnya kalo dipikir-pikir itu kurang halal menurutku, wkwk jadi terserah kalian sajalah mau ngasih apa enga. Yang jelas aku niatnya cuman mau ngehibur kalian aja. Lagian juga ceritanya kaga bagus bagus amat kan ya, wkwk

Oke deh, segini aja. Maap yaa kalo misalkan ntar apdetnya telat lagi. Soalnya yang part ini aja selesenya juga baru malam ini, hehe

Makasih semuanya.. Dan sampai jumpa di part selanjutnya. Ingat, besok Senin! wkwk

| TEASER | PART 1 | PART 2 | PART 3 | PART 4 | PART 5 |

Advertisements

33 responses to “[CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY-PART 5

  1. Pingback: [CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 9 | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s