[CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 4

wattpad

Previous story ..

“Sunbae, jebal. Aku adalah aku, dan aku sama sekali berbeda dengan yeoja yang sunbae sebutkan itu. Jadi jangan samakan aku dengan mereka. Jeoseongeyo, aku harus pergi. Gomawo sudah menyelamatkanku dari murid-murid namja itu tadi.”

Tanpa menunggu jawaban dari Myungsoo sunbae, aku langsung membuka pintu gudang. Namun begitu aku hendak keluar, langkahku terhenti karena tiba-tiba saja di depan pintu sudah berdiri seorang namja yang cukup kukenal.

“J-Jungkook?”

Jungkook tak menyahut. Namun ekspresi wajahnya terlihat sangat dingin dan berbeda dari biasanya. Mwoya? Apa yang terjadi padanya?

.

.

.| TEASER | PART 1 | PART 2 | PART 3 | PART 4 |

Author’s POV

“Yaa! Jino-ya! Jangan menghalangiku! Bikyeo!”

“Andwae! Geumanhae.. Berhentilah bersikap seperti penggemar fanatik begitu. Jiyeon sunbae tidak menyukainya.”

“Aish! Kubilang minggir!”

Jungkook yang saat itu kebetulan baru saja kembali dari taman sedikit terkejut ketika telinganya mendengar nama Jiyeon disebut. Sesaat kemudian kedua matanya melihat Jinho yang tampak berusaha menghalangi murid-murid namja dan sedikit ribut dengan mereka.

Argh!” Jinho mengerang pelan saat tubuhnya terjatuh akibat dorongan murid-murid namja itu dan rasa ngilu yang seketika menyerang pantatnya. Namja itu tampak kesal karenanya. Melihat itu, Jungkook langsung bergegas menghampirinya.

Gwaenchanha? Apa yang sedang terjadi? Kenapa kau ribut dengan mereka?” Jungkook bertanya sambil membantu Jinho berdiri.

Aish! Aku sudah gagal melindunginya. Sejung sunbae pasti kecewa karena aku tidak bisa melindungi sahabatnya.” gerutu Jinho terlihat jengkel sekaligus menyesal.

“Apa ada sesuatu yang sedang terjadi?” sekali lagi Jungkook bertanya karena ia sudah penasaran setengah mati gara-gara nama Jiyeon tadi disebut.

“Jiyeon sunbae– mereka mengejarnya. Aish! Sudah kubilang kalau Jiyeon sunbae tidak menyukai penggemar yang terlalu terobsesi seperti itu, tapi mereka malah mengabaikanku. Aigoo.. Sejung sunbae, mian aku telah gagal melindungi sahabatmu..”

Penggemar? Seketika Jungkook melihat ke arah para murid namja itu berlari. Tanpa mengatakan apapun lagi, Jungkook pun beranjak pergi mengikuti mereka.

Mwoya? Yaa, Jungkook-a! Eodiga? Yaa!”

Jungkook tak menghiraukan panggilan Jinho dan terus berlari. Namun beberapa saat kemudian ia melihat para penggemar Jiyeon itu terlihat kesal karena telah kehilangan jejak sang idola.

“Aish! Kemana perginya? Kenapa cepat sekali dia menghilang?”

“Kau benar. padahal aku sudah menyalakan kamera milikku.”

“Ck! Semua ini gara-gara si pendek Jinho. Kalau saja dia tidak menghalangi pasti kita bisa mengejar Jiyeon sunbae tadi.”

“Aish! Dwaesseo. Kita kembali saja. Kalau mengejarnya sampai ke gedung tingkat kedua hanya akan membuat kita repot. “

“Geurae.. Namja tingkat kedua semuanya menakutkan.”

“Kkaja, kita kembali saja.”

Jungkook hanya terdiam mendengar semua percakapan para penggemar Jiyeon itu hingga mereka akhirnya pergi menuju gedung kelas mereka. Sementara Jungkook masih melihat sekeliling, berharap ia menemukan sosok Jiyeon. Namun rupanya ia tak menemukannya dan malah melihat beberapa murid yeoja yang tampak berbisik-bisik sambil menatap ke arahnya. Jungkook berdehem canggung dan bermaksud kembali ke kelasnya, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar sebuah suara.

“Sunbae! Hentikan, jebal!”

Langkah Jungkook seketika terhenti mendengarnya. ia segera mencari tahu asal suara tersebut hingga akhirnya sampai di depan gudang penyimpanan peralatan olahraga yang berada tak jauh darinya. Namja itu bermaksud membuka pintu tersebut akan tetapi gerakannya terhenti sejenak.

“Wae? Bukankah seharusnya kau merasa senang karena aku sudah tertarik padamu? Aku memilihmu. Kau tahu hampir semua yeoja di Kingo mengharapkan hal itu.”

Jungkook tertegun mendengar suara tersebut. Suara ini, dia sangat mengenalnya.

“Sunbae, jebal. Aku adalah aku, dan aku sama sekali berbeda dengan yeoja yang sunbae sebutkan itu. Jadi jangan samakan aku dengan mereka. Jeoseongeyo, aku harus pergi. Gomawo sudah menyelamatkanku dari murid-murid namja itu tadi.”

Jungkook semakin menegang mendengarnya. Kali ini ia juga mengenali suara itu. Namja itu kembali mengepalkan tangannya dengan keras. Entah kenapa emosinya kembali memuncak.

Kriieet..

Seorang yeoja yang ternyata adalah Jiyeon itu tampak terkejut saat membuka pintu dan mendapati Jungkook yang sudah berdiri di hadapannya.

“J-Jungkook?”

Mendengar nama itu disebut, Myungsoo yang berada di belakang Jiyeon pun turut terkejut pula, apalagi saat melihat Jungkook yang sudah berada di sana. Akan tetapi namja itu tak mengatakan apapun dan hanya menatap Jungkook yang masih setengah menunduk dalam diam. Meski begitu Myungsoo bisa melihat bagaimana ekspresi Jungkook saat itu yang terlihat seperti siap meninju siapa saja yang berani mengusiknya.

“J-Jungkook-a, g-gwaenchanha?” Jiyeon bertanya sehati-hati mungkin karena ia merasa kalau Jungkook sedang dalam suasana hati yang buruk saat itu.

Sunbae.. Aku butuh bantuanmu.” akhirnya Jungkook pun membuka suara, tanpa menatap Jiyeon sama sekali. Ia berusaha sekuat mungkin menahan emosinya saat itu.

N-ne?” Jiyeon masih belum bisa mengerti arah pembicaraan Jungkook.

“Aku akan menunggumu di depan selepas sekolah nanti.”

Belum sempat Jiyeon menyahut kembali, Jungkook sudah berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan mereka.

Mwoya?” Jiyeon masih kebingungan dengan sikap Jungkook itu, namun beberapa saat setelahnya ia menyadari sesuatu. Apa jangan-jangan Jungkook meminta bantuannya untuk menyembuhkan phobianya itu?

Mwo? Jinjja?” Jiyeon merasa senang hingga tanpa sadar ia berkata pada dirinya sendiri.

“Kau mengenalnya?”

Jiyeon sedikit tersentak mendengarnya. ia bahkan hampir melupakan keberadaan Myungsoo yang masih berdiri di belakangnya.

Ah, ne.. Dia murid tingkat pertama yang baru pindah kemarin.”

Myungsoo tak menyahut. Dalam hati namja itu bertanya-tanya ada hubungan apa antara Jungkook dan Jiyeon. Sejak kapan mereka mengenal satu sama lain? Kenapa mereka terlihat akrab sampai-sampai Jungkook meminta bantuan yeoja itu? Dan bantuan apa yang dimaksudnya? Begitulah berbagai macam pertanyaan yang bermunculan di kepala Myungsoo, akan tetapi namja itu hanya memendamnya tanpa berniat mengungkapkannya.

Melihat Myungsoo yang terdiam, Jiyeon pun merasa harus segera pergi dari sana.

Geureom, aku pergi.” Jiyeon membungkuk sedikit memberi hormat, lalu membalikkan badannya. Akan tetapi tiba-tiba saja Myungsoo menahan tangannya.

Sunbae-” Jiyeon hendak memprotes lagi atas perlakuan Myungsoo tersebut, namun niatnya urung begitu melihat ekspresi Myungsoo yang tampak serius dan lebih menyeramkan dari sebelumnya.

“Aku- tidak akan pernah melepaskanmu.”

Lagi-lagi nyali Jiyeon dibuat menciut mendengarnya, sama seperti saat pertama kali ia bertemu Myungsoo di taman waktu itu. Entah kenapa kali ini ia bahkan tak bisa membantah ucapan Myungsoo. Ia merasa, namja itu serius dengan ucapannya. Alhasil Jiyeon hanya mampu meneguk salivanya dengan susah payah tanpa menyahut apapun.

.

.

Jungkook sekali lagi berusaha sekeras mungkin untuk menahan emosinya. Ini sudah ke sekian kalinya namja itu hampir tak bisa mengontrol perasaannya sendiri. Ia benar-benar merasa tidak terima saat melihat Jiyeon bersama Myungsoo. Entah kenapa ia tidak rela jika harus melihat keduanya bersama-sama. Namja itu terus berjalan menuju toilet namja. Hanya ada satu dua murid yang saat itu berada di sana. Jungkook masuk ke dalam salah satu bilik lalu mengguyur wajahnya dengan air keran. Napasnya terlihat naik turun. Ditatapnya pantulan wajahnya di cermin. Perasaan kacaunya sedikit demi sedikit mulai mereda. Entah kenapa setiap kali melihat pantulan wajahnya sendiri, ia selalu teringat dengan seseorang yang sangat disayanginya.

“Putra namjaku satu-satunya, kau begitu tampan. Bahkan jauh lebih tampan dari Appamu. Kookie-ya, berjanjilah pada Eomma. Apapun yang terjadi pada Eomma, ini semua bukan kesalahanmu. Jadi berjanjilah untuk tidak merasa kau yang harus bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi. Ini bukan salahmu. Eomma selalu percaya padamu, sayang. Berjanjilah pada Eomma untuk selalu tersenyum. Berjanjilah, Kookie-ya..”

Air mata Jungkook mengalir bercampur dengan air yang membasahi wajahnya. Namja itu kembali merasakan sakit di dadanya, nyeri yang hampir tak bisa ditahannya. Dipaksakan wajahnya untuk tersenyum, seperti apa yang diinginkan oleh mendiang Eommanya. Namun semua itu terlalu sulit untuk dilakukannya. Ia terlanjut terluka.

KYAAAAAAAAAAA!!”

Jungkook terkejut dan seketika menoleh mendengarnya. Suara itu terdengar sangat dekat dengan posisinya saat itu. Dengan cepat namja itu bergegas keluar dari toilet dan setibanya di luar ia sudah mendapati seorang yeoja yang terduduk seraya menutup wajah menggunakan kedua tangannya. Tak jauh dari yeoja itu berada Jungkook melihat seorang murid namja yang sudah terbaring di lantai sembari memegangi perutnya yang berlumuran darah. Jungkook tercekat melihatnya, apalagi setelah ia tahu siapa namja tersebut. Bersamaan dengan itu sekilas ia melihat seorang namja lain yang mengenakan hoodie tengah berlari menjauh. Meski hanya sekilas, Jungkook bisa melihat kalau di tangan namja berhoodie itu terdapat sebuah pisau yang penuh darah. Secepat kilat namja itu pun berlari mengejar.

Jeogiyo! Namja itu! Cepat tangkap dia! Dia seorang penyusup!” Jungkook berseru kepada para murid yang kebetulan berada di sekitar tempat tersebut.

Otomatis beberapa murid namja yang berada di sana pun serentak mengkuti arahan Jungkook dan berusaha menghalangi namja hoodie tersebut. Namun namja berhoodie itu terlalu gesit dan sulit ditangkap. Ia justru malah sempat memberikan beberapa pukulan pada para murid namja Kingo yang mencoba menghalanginya. Bahkan beberapa Guru yang ikut mencoba mengejar pun tak mampu menangkapnya. Akhirnya setelah cukup lama berkejaran, mereka benar-benar kehilangan jejak namja hoodie tersebut.

Jungkook berhenti berlari dengan napas terengah-engah. Namja itu terlihat sangat kesal karena gagal menangkap si namja hoodie. Dalam hati ia bertanya-tanya siapa namja itu dan kenapa ia menyerang seorang murid Kingo. Entah kenapa, ingatan Jungkook akan kejadian yang menimpa Yesung beberapa tahun yang lalu itu kembali muncul di kepalanya. Ia merasa seperti mengalami dejavu dengan kejadian barusan. Namja itu tersentak sejenak. Ia baru ingat dengan namja yang menjadi korban di depan toilet tadi. Dengan setengah tergesa Jungkook pun berbalik dan kembali menuju toilet.

.

.

“Jiyeon-a!”

Ohmo, gapjagi!” Jiyeon yang saat itu masih melamun memikirkan kejadian bersama Myungsoo dan Jungkook beberapa saat yang lalu itu terperanjat gara-gara teguran tersebut. Kedua matanya membulat lebar begitu melihat Sejung yang sudah nyengir lebar di sampingnya. Saat ini keduanya tengah berada di depan kelas mereka.

Mwoya?” yeoja itu heran karena melihat ekspresi Sejung yang dirasanya sudah membaik seperti sedia kala.

“Kau merindukanku?” Sejung menaik turunkan kedua alisnya sambil tersenyum lebar seolah mempermainkan Jiyeon.

Aish! Diamlah. Aku sedang tak ingin bicara denganmu.” sahut Jiyeon berpura-pura marah sambil membuang muka, walaupun sebenarnya sangat penasaran kenapa sikap Sejung berubah secepat itu. Bukankah sebelumnya tadi ia terlihat benar-benar marah?

Sejung tersenyum kecil dan langsung merangkul Jiyeon. “Yaa, kau marah padaku karena sudah meninggalkanmu begitu saja, eoh?”

Jiyeon tak menjawab dan masih bersikap seperti benar-benar marah.

Aigoo.. Mianhae, aku tahu seharusnya aku tidak bersikap kekanakan seperti itu tadi. Mian..”

“Sejung-a, apa selama ini aku pernah menyembunyikan sesuatu darimu?” kini Jiyeon bertanya sambil menatap lekat manik Sejung.

Anni..”

Geureom, kenapa kau tidak mau menceritakan masalahmu padaku? Apa selama ini aku belum cukup baik untukmu?”

“Jiyeon-a-“

Jiyeon menghela napas panjang saat Sejung kembali menunjukkan ekspresi suramnya.

Yaa.. Aku hanya bercanda. Jangan dipikirkan lagi. Melihatmu kembali secara utuh saja aku sudah sangat senang. Ah, keunde darimana saja kau tadi? Aku sudah mencarimu kemana-mana asal kau tahu saja.”

Sejung tak segera menjawab. Yeoja itu melepaskan rangkulannya sejenak, lalu menatap Jiyeon dengan tatapan yang sulit diartikan, membuat Jiyeon mengerutkan keningnya pertanda heran. Sedetik kemudian Sejung pun menghela napas sepenuh dadanya.

“Ketua kelas-” Sejung tak segera melanjutkan ucapannya, namun Jiyeon mulai mengerti kalau sahabatnya itu hendak mengungkapkan mengenai permasalahannya dengan Taehyung, jadi ia tetap setia menunggu tanpa menyela. “-Kim Taehyung.. Namja itu-“

Oh baiklah. Sejujurnya dalam hati Jiyeon sedikit tidak sabar karena Sejung terlalu mengulur-ulur waktu saat mengatakannya. Namun semua itu ditahannya demi mendapatkan kebenaran dari Sejung.

“- namja itu- sebenarnya dia-“

“Yaa! Apa kau sudah dengar kalau ada penyusup di sekolah kita?”

“Penyusup? Apa yang kau bicarakan?”

“Geurae.. Seorang penyusup baru saja menyerang seorang murid tingkat kedua di depan toilet namja.”

“Jinjja? Ohmo, kenapa bisa ada penyusup yang masuk? Lalu apa yang terjadi dengan murid itu?”

“Molla. Kudengar dia terluka parah. Penyusup itu membawa senjata tajam.”

“Mworago? Yaa! Bagaimana itu bisa terjadi? Ohmo! Lalu bagaimana dengan penyusupnya? Apa dia tertangkap?”

“Kudengar dia berhasil lolos saat beberapa Guru dan beberapa murid mengejarnya”

“Aish! Mwoya! Kenapa mereka membiarkannya lolos?”

“Keunde, kau tahu siapa murid tingkat kedua yang diserang?”

“Kalau tidak salah dia ketua kelas 2-1.”

“Maksudmu Kim Taehyung?”

“Eoh, begitulah yang kudengar.”

Deg!

Baik Jiyeon maupun Sejung sama-sama tercengang mendengarnya. Keduanya saling bertatapan sejenak. Wajah pias mulai menghiasi kedua yeoja itu. Tanpa disangka-sangka Sejung bangkit dari duduknya lalu menarik lengan salah seorang murid yeoja yang baru saja berbincang-bincang itu dengan agak kasar.

“Katakan. Katakan padaku dimana dia sekarang.” Sejung tampak berusaha menahan tangisnya saat mengucapkan kalimat itu.

M-mwoya? Siapa yang kau maksud?”

“Kim Taehyung. Di mana dia sekarang?”

“Sepertinya dia langsung dilarikan ke rumah sakit-“

Belum selesai yeoja itu menjawab, Sejung dengan gusar sudah beranjak lari meninggalkan mereka. Jiyeon yang melihatnya masih belum sepenuhnya mengerti, namun sedetik kemudian ia tersadar dengan apa yang baru saja terjadi.

“Sejung-a! Eodiga! Yaa! Jamkanman!” yeoja itu akhirnya turut berlari pula menyusul Sejung.

.

.

Sementara itu di tempat lain, seorang namja berhoodie terlihat panik dan refleks melemparkan pisau yang masih berada di tangannya itu begitu saja ke arah semak-semak di pinggir jalan. Namja itu terus berlari menuju ke arah mobil miliknya yang sebelumnya ia parkir cukup jauh dari sekolah Kingo. Begitu sampai di dalam mobil, namja itu melepaskan masker yang semula menutupi wajahnya. Napasnya tersengal-sengal. Keringat telah membanjiri sebagian wajahnya. Dengan kasar ia menyambar botol minuman yang semula terletak di dashboard mobilnya lalu menenggaknya hingga setengah botol. Untuk beberapa saat namja itu terdiam dan kembali mengingat aksinya beberapa menit yang lalu. Namja itu memukul setir mobilnya berkali-kali dengan penuh kekesalan. Namun kegiatannya terhenti saat ponsel miliknya berbunyi. Ekspresinya semakin tegang begitu melihat ID caller di layar ponselnya. Dengan sedikit bimbang, namja itu pun mengangkatnya.

Y-yeobeoseyoo..”

“Aku belum mendengar laporan darimu.”

Namja hoodie itu menelan salivanya sebelum menjawabnya.

J-jeoseonghamnida.. Aku- aku gagal melakukannya..”

Tak segera terdengar sahutan dari seberang, namun beberapa saat kemudian terdengar suara tawa kecil dari sana, membuat namja hoodie itu berkeringat semakin deras mendengarnya.

“Dwaesseo. Aku sudah menduga kalau kau akan gagal. Sebenarnya tadi aku hanya mengujimu apakah kau memang layak menjadi pengganti Adachi. Ternyata kau cukup punya nyali juga sepertinya. Gwaenchanha.. Aku sudah bilang kalau kau boleh melakukan tugasmu secara perlahan. Lagipula, aku juga sudah memiliki senjata lain di sana. Geureom, teruslah menjadi berguna untukku- Yuto.. Demi Abeojimu.”

Klik.

Tuut.. uut.. tuut..

Namja hoodie itu menggenggam erat ponsel di tangannya untuk beberapa saat. Jika bukan karena Abeojinya, ia sama sekali takkan sudi menuruti semua perintah yeoja iblis itu. Namun sekali lagi, demi Abeojinya ia akan rela melakukan apa saja, sekalipun harus menghilangkan nyawa orang lain.

*

*

“Beristirahatlah dan jangan banyak bergerak agar lukanya cepat mengering. Kau masih beruntung pisaunya hanya menggores kulit perutmu dan tidak sampai mengenai organ vital. Meski begitu sayatan lukanya cukup dalam. Jadi jangan banyak bergerak dulu agar lukanya cepat mengering.” seorang perawat muda tersenyum lembut begitu ia selesai memeriksa keadaan Taehyung di salah satu ruang perawatan.

Nde, kamsahamnida..” Taehyung mengangguk sambil sesekali meringis menahan rasa nyeri pada perutnya yang kini telah diperban akibat goresan yang dialaminya. Ia merasa tak punya tenaga sama sekali saat itu.

Begitu perawat muda itu berjalan keluar, Taehyung menghembuskan napas sepenuh dadanya. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu di sekolah.

– Flashback –

Taehyung baru saja hendak pergi ke gedung kelasnya saat tanpa sengaja kedua matanya menangkap seorang namja berhoodie tengah mengendap-endap di sekitar toilet namja. Kening Taehyung berkerut pertanda heran karena sikap namja hoodie itu tidak biasa. Apalagi ia juga merasa namja hoodie tersebut seperti bukan salah satu murid Kingo. Karena penasaran, Tehyung pun mengikuti si namja hoodie yang sikapnya terkesan diam-diam itu.

“Jeogiyo! Nugu-seyo?” karena tak tahan lagi akhirnya Taehyung menegur namja hoodie tersebut.

Namja hoodie itu terlihat terkejut dan menoleh. Taehyung semakin heran karena rupanya namja hoodie itu mengenakan masker sehingga ia tak bisa mengenali wajahnya. Taehyung memperhatikan namja hoodie tersebut mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Namun beberapa detik setelahnya Taehyung mendadak terkesiap saat kedua matanya menangkap sebuah benda tajam mengkilat di balik saku hoodie milik namja tersebut.

“Neo-” belum sempat Taehyung menyelesaikan kalimatnya, namja hoodie itu telah terlebih dahulu mendorongnya hingga tubuh namja itu terbentur dinding toilet. Taehyung meringis kecil dan melihat namja hoodie itu hendak kabur meninggalkannya.

“Yaa! Jangan kabur!” Taehyung segera kembali berdiri dan menarik lengannya akan tetapi namja hoodie itu dengan cepat mengeluarkan pisau yang sejak tadi disembunyikannya dan langsung mengayunkannya pada Taehyung. Taehyung yang tidak siap akan hal itu tak sempat menghindar hingga alhasil pisau tersebut berhasil menggores seragamnya hingga tembus ke perutnya.

“Aargh!” Taehyung mengerang kesakitan dan seketika terjatuh ke lantai sembari memegangi perutnya yang telah mengeluarkan darah.

Kebetulan saat itu ada seorang murid yeoja yang sedang lewat dan seketika berteriak histeris saat melihat Taehyung yang berlumuran darah. Mendengar jeritan yeoja tersebut, si namja hoodie panik dan segera kabur sebelum ia tertangkap di sana. Setelahnya, Taehyung masih sempat melihat Jungkook yang keluar dari dalam toilet dan langsung berlari mengejar si namja hoodie. Sementara para murid namja lain yang semula berada di dalam toilet pun segera menolong Taehyung dan membawanya ke rumah sakit dengan bantuan beberapa Guru.

– Flashback ends –

*

*

Sekali lagi Taehyung menarik napas panjang. Ia terus berpikir sebenarnya siapa namja hoodie itu dan apa tujuannya datang ke sekolah Kingo? Lalu untuk apa ia mengendap-endap di toilet namja dengan membawa sebuah pisau? Apa dia memang sedang berencana membunuh seseorang di sana? Lalu siapa? Tiba-tiba Taehyung teringat dengan Jungkook. Namja itu tadi juga berada di dalam toilet. Apa mungkin si namja hoodie mengincar murid pindahan itu? Tapi kenapa dan untuk apa? Taehyung menggelengkan kepalanya mencoba mengusir semua rasa penasarannya itu. Lagipula saat itu bukan hanya Jungkook yang berada di dalam toilet. Bisa saja si namja hoodie mengincar namja lain di sana.

Brakk!!

Taehyung terkejut setengah mati mendengar suara tersebut. Tahu-tahu ia melihat pintu ruangannya sudah terbuka dari luar. Namun Taehyung lebih terkejut lagi begitu mengetahui siapa yang kini berada di ambang pintu tersebut.

Eoh-” namja itu bahkan tak bisa berkata apapun saat itu juga.

Kim Sejung, yeoja yang baru datang itu tampak berdiri terpaku di ambang pintu sembari menatap nanar ke arah Taehyung yang sedang terbaring lemah. Tampak jelas di wajahnya kalau yeoja itu tengah berusaha keras menahan air matanya. Taehyung yang melihatnya hanya terdiam dan tak ingin mengatakan apapun. Keduanya terus saling bertatapan dari kejauhan dengan berbagai emosi yang berkecamuk dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya Sejung pun berjalan masuk perlahan menghampiri Taehyung. Selangkah, dua langkah, tiga langkah, hingga empat langkah kemudian kedua kaki Sejung terhenti. Detik berikutnya yeoja itu mendadak terduduk di tempatnya. Ia menelungkupkan wajahnya di atas kedua lututnya dan menangis tersedu-sedu.

Huhuhu.. Hiks.. Wae? Kenapa kau melakukan ini padaku? Wae? Hiks.. hiks..”

Jiyeon yang saat itu baru sampai di sana sedikit terkejut ketika melihat Sejung yang kini berjongkok di lantai sambil menangis tersedu-sedu. Namun yeoja itu sengaja tidak masuk ke dalam dan memilih diam di tempatnya, karena entah kenapa ia merasa harus memberikan waktu berdua untuk Sejung dan Taehyung.

Sejung masih terisak-isak dengan posisi yang sama dan terus mengatakan hal yang sama.

“Apa kau benar-benar begitu membenciku, eoh? Apa kau benar-benar begitu ingin meninggalkanku, eoh? Jawab aku, Kim Taehyung, jawab aku! Hiks.. Hiks..”

Taehyung menghela napas sejenak mendengarnya. ia bahkan tidak menyangka kalau Sejung akan datang kepadanya seperti itu.

Uljima..” hanya itu yang diucapkan oleh Taehyung, “Nan gwaenchanha..” lanjutnya seraya melirik Sejung yang berada di bawah sisi kiri ranjangnya.

Sejung tak menyahut melainkan mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Taehyung. Kali ini Taehyung bisa melihat wajah Sejung yang telah berlinangan air mata.

Sekali lagi namja itu mendesah dan segera memalingkan pandangannya dari Sejung

Sekali lagi namja itu mendesah dan segera memalingkan pandangannya dari Sejung. Sebenarnya ia tidak mau melihat air mata dari yeoja itu. Lagi. Namja itu, ia merasa hatinya perih setiap kali melihatnya.

 Namja itu, ia merasa hatinya perih setiap kali melihatnya

Greb!

Taehyung terkejut saat tiba-tiba ia merasakan kepala Sejung telah berada di atas dadanya. Yeoja itu terisak lagi untuk yang ke sekian kalinya, kali ini suara tangisannya semakin keras dari sebelumnya. Taehyung benar-benar tidak menyangka akan terjadi seperti ini.

Y-yaa-“

“Kim Taehyung bodoh! Kau bodoh! Dari dulu kau selalu melakukan apapun sesukamu! Kau tidak pernah memikirkan perasaanku! Kau bodoh! Bodoh! Huhuhuhu..” Sejung menangis seraya memukul-mukulkan kedua tangannya di dada Taehyung, membuat namja itu kelabakan sekaligus kesakitan.

Argh! Yaa! Yaa! Geumanhae! Appeuda! Kau melukaiku! Argh!” erangnya berusaha menghentikan tangan Sejung.

Melihat Taehyung yang kesakitan, Sejung pun tersadar dan segera menghentikan aksi pemukulannya lalu menjauhkan kepalanya dari dada Taehyung.

M-mianhae..” ucapnya sambil menunduk.

Taehyung tak menyahut. Namja itu masih kesakitan akibat ulah Sejung barusan. Namun begitu melihat wajah Sejung yang tampak menyesal, namja itu hanya menghela napas panjang.

Dwaesseo.. Gwaenchanha..” ucapnya kemudian.

Sejung tak menjawab. Yeoja itu masih terisak meski sudah tak sekeras tadi. Sementara Taehyung pun kembali terdiam, tak tahu harus mengatakan apa lagi di saat seperti itu. Ia merasa sulit untuk memulai dari awal lagi. Setidaknya untuk saat ini.

*

*

Jiyeon mendesah kecil saat melihat Taehyung yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Sejung baru saja keluar setelah puas menangis dan memukuli Taehyung tadi. Sementara Jiyeon yang semula ingin mengejar sahabatnya itu urung sejenak karena ia juga ingin tahu keadaan Taehyung sekarang. Ia bermaksud akan menyusul Sejung setelah memastikan keadaan Taehyung benar-benar tidak buruk. Yeoja itu kini duduk di kursi yang terletak di sisi kiri ranjang Taehyung.

“Ketua kelas, jeongmal gwaenchanha?” tanyanya dengan wajah sendu.

Taehyung tersenyum kecil melihat ekspresi Jiyeon yang tampak khawatir itu.

Yaa, kita tidak sedang berada di sekolah, kenapa kau masih memanggilku ketua kelas? Apa kau sudah melupakan nama asliku, eoh?” Taehyung mencoba mengajak bercanda.

Jiyeon sedikit cemberut mendengarnya, “Mwoya? Aku sedang serius, kenapa kau malah bercanda begitu? Bagiku namamu atau ketua kelas, itu sama saja.”

Taehyung kembali tertawa kecil, “Sudah kubilang, aku baik-baik saja. Hanya luka kecil dan tidak sampai mengenai organ dalam. Kalau aku cukup beristirahat, pasti akan segera sembuh.”

Keunde ketua- ehm maksudku Taehyung-a, apa kalian baik-baik saja? Maksudku- kau dengan Sejung-“

Taehyung tak menjawab. Namja itu hanya menatap kosong ke langit-langit seolah tengah memikirkan sesuatu. Jiyeon jadi sedikit merasa tak enak melihatnya.

Ah, kau tidak perlu menjawabnya kalau memang tidak ingin. Aku hanya mengkhawatirkan kalian berdua..”

Taehyung menatap Jiyeon dan mengangguk sambil tersenyum. Jiyeon membalas senyumannya dengan sedikit canggung. Bagaimanapun juga ia masih sangat penasaran dengan hubungan antara Taehyung dan Sejung, akan tetapi yeoja itu berusaha keras untuk memendam rasa penasarannya itu dalam-dalam.

Keunde- neon jeongmal gwaenchanha? Soal penyusup di sekolah- apa kau sempat melihat wajahnya? Mungkin ciri-cirinya?”Jiyeon pun mengalihkan pembicaraan.

Taehyung menggeleng lemah, “Dia mengenakan masker dan hoodie, jadi aku tak bisa mengenali wajahnya. Aku hanya ingat kalau tubuhnya sedikit lebih tinggi dariku.”

Jinjja? Keunde, dia sangat hebat bisa meloloskan diri dari kepungan murid-murid namja dan juga para guru. Pasti dia sangat menguasai ilmu bela diri. Aigoo.. Aku masih tidak bisa percaya ini akan terjadi padamu. Seharusnya kau tidak perlu mendekatinya tadi..”

Wae? Kau mengkhawatirkanku?”

“Tentu saja-” Jiyeon tak segera melanjutkan ucapannya saat melihat Taehyung menatapnya dengan tatapan tak biasa.

Aish! Tatapan itu lagi,’ batin Jiyeon.

Yeoja itu berdehem kecil sebelum kemudian melanjutkan, “Ah, sepertinya keadaanmu tidak terlalu buruk, jadi aku akan pergi saja menyusul Sejung-“

“Jiyeon-a..”

Jiyeon urung berdiri dari tempat duduknya dan menatap Taehyung dengan perasaan was-was. “N-ne?” tanyanya.

“..na neo johahae (aku menyukaimu)..”

Ehk!

Jiyeon seketika tersedak mendengarnya. Ia merasa sedang mengalami dejavu. Yeoja itu menggelengkan kepalanya dan kembali bertanya untuk memastikan pendengarannya, “M-mworago?”

Taehyung menghela napas kecil, lalu tersenyum, “Anni.. Aku hanya ingin mengatakannya sekali dan aku tahu kau sudah mendengarnya. Geureom, kalau kau ingin pergi sekarang, pergilah.”

“Taehyung-a-“

Ah, geurido– aku minta tolong padamu, tolong temukan Sejung. Aku yakin dia sedang membutuhkanmu sekarang.”

Ah.. N-ne.. Arrasseo.. Geureom, na ganda..”

Taehyung kembali tersenyum dan mengangguk kecil. Jiyeon pun beranjak dari tempatnya, lalu berjalan keluar dari kamar Taehyung. Sesampainya di luar, yeoja itu berhenti sejenak dan menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Ia meletakkan tangannya di dadanya sendiri.

“.. na neo johahae..”

Ucapan itu kembali terngiang di telinga Jiyeon dan seketika membuat wajahnya memanas.

‘Mwoya? Apa yang kudengar tadi itu benar? Taehyung- menyukaiku? Kim Taehyung? Sejak kapan? Kenapa tiba-tiba sekali? Bahkan itu bukan saat yang tepat. Aarghh.. Sebenarnya ada apa dengan hari ini? Kenapa aku bisa sepopuler ini? Eottokhaji?’ batin Jiyeon merasa pusing.

Dengan langkah gontai, akhirnya yeoja itu pun kembali berjalan pergi untuk menemukan Sejung.

*

*

Beberapa saat kemudian Jiyeon dan Sejung terlihat tengah duduk di sebuah kursi taman rumah sakit. Pandangan keduanya mengarah ke hamparan luas yang terbentang di depan mereka. Ada beberapa pasien rumah sakit juga yang berada di sana didampingi oleh keluarga mereka dan beberapa suster. Beberapa saat lamanya keduanya larut dalam diam. Jiyeon memang sengaja tak ingin mengganggu ketenangan sahabatnya itu meskipun dalam hati ia sudah hampir mati karena rasa penasaran yang menggerogoti kepalanya.

Ige.. Minumlah.” yeoja itu menyodorkan sebuah milkshake yang baru saja dibelinya di kantin rumah sakit sebelum ia datang ke tempat itu pada Sejung. Entah kenapa, sesaat Jiyeon mendadak teringat pada Myungsoo ketika melihat milkshake di tangannya. Ia kembali teringat akan kejadian di taman sekolah waktu itu. Lalu ketika mereka berada di dalam gudang sekaligus pengakuan frontal namja itu. Dan hingga berakhir dengan kejadian soal ungkapan mendadak dari Taehyung beberapa saat yang lalu. Yeoja itu menggelengkan kepalanya berusaha menepis bayangan Myungsoo dan Taehyung di sana dan kembali fokus pada Sejung.

Gomawo,” Sejung tersenyum dan menerima pemberian dari Jiyeon, lalu kembali menatap lurus ke depan.

Jiyeon menghela napas perlahan melihatnya. Ia benar-benar lebih suka sosok Sejung yang cerewet dan penuh semangat daripada melihatnya seperti yang sekarang ini.

“Jiyeon-a, kau tahu selama ini aku selalu disegani dan disukai semua murid Kingo karena aku berasal dari kalangan atas, geutji?” ucapan Sejung itu membuat Jiyeon seketika menoleh padanya.

Museun suriya (bicara apa kau ini).. Tidak semuanya berpikiran seperti itu. Kau yeoja yang baik, perhatian, apa adanya, dan tidak pernah membedakan siapapun, itulah sebabnya mereka menyukaimu.” sahut Jiyeon kemudian.

Sejung tersenyum kecil mendengarnya, “Kurasa kaulah satu-satunya yang berpikiran seperti itu mengenai diriku. Gomawo, Jiyeon-a. Aku memang tidak pernah salah sudah memilihmu sebagai sahabatku.”

M-mwoya? jangan katakan itu. Kau membuat suasananya jadi canggung sekarang. Aku lebih suka dengan dirimu yang seperti biasanya. Jadi jangan seperti ini. Kau tahu ini membuatku merasa aneh dan tidak nyaman.”

Sejung kembali tersenyum, namun kali ini ia menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menarik napas sepenuh dadanya.

“Sebenarnya, orangtuaku yang sekarang, mereka bukanlah orangtua kandungku.”

Jiyeon sedikit membelalak mendengarnya. “M-mworago?” katanya terkejut. Ia benar-benar tidak tahu soal itu.

“Dan Kim Taehyung- dia- dia adalah saudara kembarku.”

Ucapan Sejung yang kedua kalinya itu semakin membuat kedua mata Jiyeon melebar.

M-mwo? S-saudara kembar?” ulang Jiyeon tak percaya.

Eoh.. Kami berdua- adalah saudara kembar yang sejak kecil hidup di panti asuhan. Kami tidak pernah tahu siapa dan di mana orangtua kandung kami. Pemilik panti bilang kalau kami sudah dibuang semenjak masih bayi. Tch.. Aku benci jika harus mengingatnya lagi. Saat itu, aku dan Taehyung selalu bersama-sama. Kami sudah seperti pinang dibelah dua dan tak bisa dipisahkan oleh apapun. Taehyung selalu berada di sampingku dan selalu menuruti kemauanku. Dia akan menghajar anak-anak yang selalu saja mencoba menggangguku. Saat itu Taehyung sudah seperti pahlawan untukku dan aku tak mau bahkan semenit pun berpisah darinya.

Keunde– saat usia kami menginjak 10 tahun, sepasang suami istri datang ke panti untuk mengadopsi salah satu dari kami, seperti biasanya. Selama ini setiap kali ada orangtua yang hendak mengadopsi kami, aku dan Taehyung selalu bersembunyi karena takut mereka akan memilih kami. Tentu saja aku tidak mau jika harus dipisahkan dari Taehyung, karena mereka selalu memilih salah satu di antara kami. Jinjja, aku tidak ingin Taehyung meninggalkanku.

Tapi saat itu, Taehyung bersikap tak seperti biasanya. Saat melihat sepasang suami istri yang kaya raya, sikapnya mendadak aneh dan berubah. Dia memaksaku ikut menemui mereka bersama dengan anak-anak yang lain. Dan sialnya saat itu, sepasang suami istri kaya raya itu memilihku untuk diadopsi. Aku takut dan mencoba lari bersembunyi dari mereka, tapi Taehyung menahanku. Dia bilang, sudah saatnya aku menjalani kehidupan baru. Aku benci mendengarnya mengatakan itu. Aku tahu semakin lama Taehyung memang semakin seperti orang dewasa. Pemikirannya terlalu sulit untuk kupahami. Dan aku benci itu. Ia berkata seolah tak mau hidup bersamaku lagi. Aku menolaknya mentah-mentah tapi dia justru marah dan membentakku. Aku menangis, karena itu adalah pertama kalinya Taehyung memarahiku. Hatiku hancur rasanya. Bahkan saat aku benar-benar pergi meninggalkan panti pun ia tetap tak mau melihat wajahku. Saat itulah aku merasa kalau Taehyung sudah tak mau peduli lagi denganku. Dan aku pun mulai membencinya.

Bahkan saat kami dipertemukan kembali di sekolah ini, ia sama sekali tak mau menyapaku. Padahal aku sudah mulai melupakan kejadian masa lalu itu. Tapi karena sikapnya yang seperti tak mengenaliku aku jadi kembali membencinya, bahkan lebih kuat dibandingkan dulu. Itulah alasannya kenapa aku sangat marah saat ada berita kau berkencan dengannya. Sebenarnya.. Aku hanya tidak mau kehilanganmu, aku tidak ingin kau pergi meninggalkanku sama seperti yang dilakukan Taehyung padaku. Mianhae, Jiyeon-a.. Aku- aku memang egois..” Sejung mengakhiri ceritanya dengan isakan pelan. Berkali-kali yeoja itu mengusap air matanya menggunakan kedua punggung tangannya.

Jiyeon pun segera meraih kedua bahu yeoja tersebut dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. Sejujurnya Jiyeon cukup shock saat mendengar cerita itu. Ia benar-benar tidak menyangka ternyata Sejung dan Taehyung memiliki masa lalu yang pahit seperti itu.

“Sejung-a, apa kau mau kuberitahu sesuatu?” Jiyeon berkata sambil mengelus rambut Sejung lembut.

M-mwonde?”

“Kau memang yeoja yang sangat baik, kuat, tidak pernah memilih-milih teman dan selalu bersikap apa adanya. Keunde– kau sangat buruk dalam menilai seseorang.”

M-museun suriya?”

Aigoo.. Itulah kenapa aku selalu menjadi juara di sekolah. Aku memiliki otak jenius yang tidak dimiliki oleh orang lain.”

Yaa! Apa sekarang ini waktunya untuk memamerkan kejeniusanmu, eoh?” Sejung melepaskan pelukan Jiyeon dan menatapnya sedikit kesal.

Geureom! Untuk itu dengarkan saja ucapan dari seseorang yang jenius sepertiku ini. Kim Taehyung, namja itu, dia adalah saudara kembarmu. Dia selalu berada di dekatmu sejak kalian masih bayi. Kau bilang dia selalu ada untukmu, matji? Lalu apa kau pikir dia tidak punya alasan kenapa dia selalu ada untukmu?”

Eoh?” Sejung mengerutkan keningnya bingung mendengar pertanyaan Jiyeon itu.

Pabo yeoja! Sudah jelas dia melakukannya karena dia menyayangimu. Kau bilang kau selalu diganggu oleh anak-anak lain di sana, geutji? Dan tiba-tiba saja Taehyung berubah saat melihat sepasang suami istri hendak mengadopsi seorang anak. Yaa, tidak pernahkah kau berpikir sekali saja kalau dia melakukannya demi kebaikanmu? Mwoya? Bahkan ini hanya masalah sederhana, tapi kau sendiri yang menjadikannya serumit itu. Taehyung hanya ingin melihatmu bahagia. Melihatmu memiliki kehidupan baru. Dia ingin kau memiliki masa depan yang cerah. Aku saja kagum kepadanya karena di usia yang masih sangat muda begitu tapi dia sudah memiliki pemikiran sejauh itu. Tidak heran kalau dia selalu menduduki posisi kedua di sekolah. Dia murid golden kedua setelah diriku. Kim Taehyung, ehm– meskipun aku tidak terlalu dekat dengannya, tapi aku tahu bagaimana dia. Dia sangat peduli dan perhatian pada orang lain. Angeurae?”

Sejung nampak terdiam mendengar semua perkataan Jiyeon. Dalam hati kecilnya, ia merasa ucapan Jiyeon itu benar adanya. Tapi ia masih enggan membenarkannya.

Keunde, kenapa sikapnya seperti tak mengenaliku saat kami bertemu di sekolah sejak tingkat pertama? Itu jelas menunjukkan kalau dia memang tak mau lagi mengenalku..” ucapnya setelah terdiam beberapa saat lamanya.

“Tentu saja. Apa kau pikir dia akan melupakan kejadian masa lalu itu begitu saja, eoh? Yaa, bukankah kau ini saudara kembarnya? Bagaimana kau bisa tidak tahu bagaimana sifat saudara kembarmu, eoh? Taehyung itu tipe orang yang tertutup. Tentu saja dia masih merasa bersalah dan tidak enak karena sudah membiarkanmu sendirian tanpanya selama ini. Aku yakin dia pun sebenarnya sangat bahagia saat bertemu lagi denganmu. Tapi karena sifatnya yang tertutup itu ia jadi kesulitan berekspresi. Aigoo.. Sejung-a, seharusnya kau yang lebih peka padanya. Kalau saja saat itu kau bersikap biasa saja terhadapnya, tentu dia akan merasa bebas berekspresi. Sebenarnya semuanya itu tergantung padamu..”

Lagi-lagi Sejung terdiam mendengarnya. Ia sudah tak memiliki kata-kata lagi untuk membantah ucapan Jiyeon. Kalau dipikirkan kembali, semua yang dikatakan Jiyeon itu memang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Yeoja itu kembali menghela napas panjang.

“Kurasa kau benar. Gomawo, Jiyeon-a. Kau memang sahabatku yang sangat jenius dan selalu mampu membantu meringankan bebanku.” Sejung kembali memeluk Jiyeon dengan erat.

Arrasseo.. Kau memang patut bersyukur untuk itu.” balas Jiyeon, disambut dengan cibiran kecil dari Sejung.

Keunde– aku masih penasaran dengan penyusup yang menyerang ketua kelas. Apa kau dengar sesuatu?” Jiyeon kembali bertanya dengan ekspresi penasarannya.

Sejung tak segera menyahut. Ingatannya mendadak tertuju pada namja hoodie yang sempat dilihatnya tadi di depan sekolah. Namja yang ia rasa memiliki kemampuan seperti spiderman. Entah kenapa Sejung merasa kalau namja hoodie itu ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa Taehyung. Tak hanya itu, Sejung juga kembali teringat dengan yeoja paruh baya yang tadi ditemuinya di depan sekolah.

“..tolong berikan ini padanya. Keunde kalau bisa, jangan sampai dia tahu.. Aku hanya ingin memberikan kejutan padanya. Dan satu hal lagi, kuharap kau tidak membuka isi di dalamnya, karena itu hanya berhak dilihat olehnya..”

Sejung tertegun saat mengingatnya kembali. Tanpa sadar ia melirik tas sekolahnya di mana ia masih menyimpan benda pemberian dari yeoja itu tadi. Sejung hampir saja melupakannya.

Yaa! Sejung-a! Yaa!” Jiyeon terdengar menegur seraya melambai-lambaikan sebelah tangannya di depan wajah Sejung, membuat yeoja itu tersadar dari lamunannya.

Eo-eoh.. W-wae?”

Aish! Wae geurae? Kenapa kau tiba-tiba terdiam? Apa ada sesuatu? Kau sudah dengar sesuatu mengenai penyusup itu?”

A-anni.. Molla.. Kau tahu sendiri aku masih belum sempat bertanya apapun pada Taehyung. Aku- masih merasa agak canggung. Apalagi kalau mengingat kejadian tadi. Aigoo.. Aku pasti terlihat memalukan sekali.” Sejung menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya ketika mengingat sikapnya saat di depan Taehyung beberapa menit yang lalu.

Jiyeon tersenyum kecil melihatnya, “Yaa, sejak kapan kau jadi pemalu begini, eoh? Dwaesseo.. Kembalilah ke sana. Sudah hampir malam, jadi aku akan langsung kembali ke asrama saja. Besok pagi aku akan mengantarkan pakaian ganti untukmu. Aigoo.. Membolos saat pelajaran terakhir, rasanya sayang sekali..” ucap Jiyeon mengingat mereka yang langsung pergi ke rumah sakit di tengah-tengah jam pelajaran. Tapi ia yakin kalau keadaan di sekolah masih kacau saat itu akibat masuknya seorang penyusup tersebut. Pasti para Guru tengah sibuk menyelidiki kejadiannya melalui kamera CCTV sekolah.

Geurae.. Aku akan mencoba berbicara lagi dengan Taehyung. Berhati-hatilah di jalan.”

Jiyeon mengangguk menanggapinya, lalu setelahnya ia pun berdiri dan beranjak pergi dari rumah sakit untuk kembali ke asrama Kingo.

*

*

Begitu turun dari bus, Jiyeon pun berjalan menuju asrama Kingo. Hari sudah sangat gelap ditambah dengan langit yang tampak menghitam. Jiyeon merasa sebentar lagi hujan akan turun. Diliriknya jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Hampir pukul 8 malam. Yeoja itu menghela napas cukup panjang. Ia merasa sangat lelah hari ini. Ia benar-benar telah mengalami berbagai macam kejadian yang tak biasanya seharian ini. Mulai dari mengetahui rahasia besar antara Taehyung dan Sejung, kejadian bersama Myungsoo di gudang, hingga kemunculan Jungkook yang tiba-tiba. Oh.. Benar-benar melelahkan. Namun Jiyeon mendadak tertegun sejenak. Langkah kakinya seketika terhenti. Jungkook. Jeon Jungkook. Beberapa saat setelahnya Jiyeon menyadari sesuatu.

“Aku akan menunggumu di depan selepas sekolah nanti.”

Kedua mata Jiyeon membulat sempurna ketika baru ingat akan hal itu. Yeoja itu mendadak panik sendiri.

Eottokhe? Tidak mungkin bukan kalau dia masih menungguku di depan sekolah? Pasti tidak mungkin. Tidak ada orang bodoh yang akan menunggu orang lain datang selama itu. Geurae.. Pasti dia sudah pulang ke asrama. Geurae..”

Jiyeon terus saja bermonolog seorang diri seiring dengan kedua kakinya yang kembali melangkah menuju asrama. Yeoja itu masih resah hingga ia sampai di dalam kamarnya. Ia menarik napas panjang, lalu setelah mengganti seragamnya dengan piyama, yeoja itu membaringkan tubuh di atas tempat tidurnya, berusaha berpikir positif kalau Jungkook sudah kembali ke asrama karena terlalu lama menunggu.

Namun betapapun ia mencoba menenangkan pikirannya, entah kenapa suara hati kecilnya mengatakan kalau ia harus pergi mengecek ke sekolah. Yeoja itu mendesah, kalau saja ia punya nomor ponsel Jungkook, sudah pasti ia akan menghubunginya untuk memastikan.

‘Apa sebaiknya aku pergi ke asrama namja saja? Ah, keunde pasti Lee ssaem tidak akan mengijinkanku masuk. Ck, eottokhe?’ batin Jiyeon bingung. Sesaat kemudian yeoja itu kembali bangkit dari tempat tidurnya, lalu tanpa pikir panjang lagi ia pun menyambar mantel miliknya dan berjalan keluar kamar.

Dengan perasaan bimbang akhirnya Jiyeon benar-benar menuju asrama namja. Namun ia sudah berdiri di depan asrama itu sekitar 10 menit lamanya. Ia bahkan sudah tidak tahan dengan sapaan beberapa murid Kingo yang kebetulan lewat. Dan setiap kali ia menanyakan soal Jungkook, tak ada dari mereka yang tahu karena mengaku bukan teman sekamar Jungkook. Jiyeon semakin putus asa karenanya. Namun rasa putus asanya mendadak hilang digantikan ekspresi terkejut sekaligus panik begitu secara kebetulan ia melihat sosok namja yang hendak keluar dari asrama. Kim Myungsoo. Jiyeon pun dengan cepat berbalik bermaksud lari, akan tetapi Myungsoo telah melihatnya.

“Apa kau mau kabur dariku?”

Tentu saja Jiyeon mau tak mau berhenti melangkah begitu mendengar teguran tersebut. Secara perlahan ia kembali membalikkan badannya dan setengah membungkuk pada Myungsoo.

Annyeonghaseyo, Sunbae..”

Myungsoo tersenyum mendengarnya, lalu berjalan menghampiri Jiyeon yang masih menundukkan kepalanya.

“Kenapa kau ada di sini? Apa kau ingin bertemu denganku?” pertanyaan Myungsoo itu seketika membuat Jiyeon menggeleng-gelengkan kepalanya.

A-anni.. Anniyo.. Aku bukan mencarimu, sunbae..”

Mwoya? Kenapa kau terlihat gugup begitu? Kalau memang bukan mencariku lalu apa yang kau lakukan di depan asrama namja malam-malam begini, hm?”

Jiÿeon semakin merasa tak enak kárena tatapan Myungsoo yang seolah gemas dan ingin meņelannya bulat-bulat saat itu.

Jiÿeon semakin merasa tak enak kárena tatapan Myungsoo yang seolah gemas dan ingin meņelannya bulat-bulat saat itu

Jiyeon meneguk salivanya sejenak, “Geuge– aku hanya ingin menanyakan seseorang. Ah, matta. Sunbae, apa kau ingat dengan murid namja tingkat pertama yang tadi pagi bertemu kita di depan gudang? Aku sedang mencarinya. Apa kebetulan Myungsoo sunbae melihatnya di asrama?”

Ekspresi Myungsoo mendadak berubah begitu mendengar ucapan terakhir Jiyeon itu. Entah kenapa ia seperti merasa kecewa. Jiyeon datang dan justru menanyakan namja lain. Itu membuat Myungsoo sedikit terluka.

Jiyeon sedikit bingung saat melihat perubahan ekspresi Myungsoo yang menjadi dingin itu.

Jiyeon sedikit bingung saat melihat perubahan ekspresi Myungsoo yang menjadi dingin itu

S-sunbae-“

“Kenapa kau mencarinya? Kau tahu ini sudah malam. Apakah pantas seorang yeoja mencari seorang namja yang bukan siapa-siapanya malam-malam begini.”

Jiyeon semakin heran mendengar ucapan Myungsoo. Bukankah beberapa detik sebelumnya ia justru senang saat mengira Jiyeon hendak mencarinya? Tapi kenapa sekarang ia justru malah menasehati layaknya orangtua begitu?

Ah, geuge– aku hanya ingin memastikan apakah dia sudah kembali ke asrama. Geunyang-aku lupa menemuinya saat pulang sekolah tadi karena harus menemani temanku yang terlibat insiden dengan penyusup tadi siang di sekolah. Jadi aku hanya ingin memastikan dia tidak menungguku hingga sekarang.”

Myungsoo tak segera menyahut, namun ia sedikit mengerti sekarang. Jiyeon mencari Jungkook hanya karena ingin mengetahui apakah namja itu sudah kembali ke asrama atau belum. Meski begitu, namja itu tetap belum bisa rela jika Jiyeon begitu peduli dengan namja lain. Dan ia tidak tahu sejak kapan ia memiliki perasaan semacam itu.

Setelah terdiam beberapa saat, namja itu pun menghela napas panjang.

Ajig. Dia belum kembali ke asrama.” ucapnya kemudian.

M-mwo? Dia belum kembali? M-maldo andwae.. Apa dia masih menungguku di depan sekolah?” ucap Jiyeon kembali panik dan seolah bertanya pada dirinya sendiri. Begitu ia mampu menguasai pikiran kalutnya, yeoja itu membungkuk pada Myungsoo, “Kamsahamnida, sunbae.. Aku-aku harus pergi.” ucapnya, lalu berbalik hendak pergi.

Akan tetapi Myungsoo menarik tangannya dan sedetik kemudian ia sudah berada dalam pelukan namja tampan itu. Jiyeon yang tak pernah menyangka sama sekali akan mendapatkan perlakuan itu seketika tertegun. Ia kembali mencium aroma parfum Myungsoo yang entah kenapa membuatnya merasa hangat dan nyaman. Dan ia pun tak menolak saat namja itu mempererat pelukannya serta membiarkan posisi mereka seperti itu selama beberapa detik.

Kajima (jangan pergi)..” ucap Myungsoo lirih.

Jiyeon kembali tertegun mendengarnya. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa Myungsoo bersikap seperti itu padanya.

‘Myungsoo sunbae.. Apa mungkin- dia benar-benar serius dengan perasaannya? Tapi kenapa? Kenapa dia memilihku?’ batin Jiyeon.

Deg! Deg! Deg!

Jiyeon terkejut begitu menyadari suara degup jantungnya sendiri yang mendadak tak beraturan. Yeoja itu bahkan tidak tahu sejak kapan jantungnya mulai berdegup sekencang itu. Dengan cepat ia pun melepaskan diri dari pelukan Myungsoo.

S-sunbae- j-jeoseongeyo- ke-keunde aku harus pergi. Geureom..” sekali lagi Jiyeon membungkukkan badannya. Ia sama sekali tak berani menatap wajah Myungsoo dan langsung berbalik pergi setengah berlari meninggalkan Myungsoo yang masih termangu menatap kepergiannya.

*

*

Sementara itu tak jauh dari asrama namja terlihat seorang yeoja yang sudah mengepalkan tangannya kesal sejak tadi, tepatnya sejak melihat Jiyeon berpelukan dengan Myungsoo.

Yeoja itu- dia sudah benar-benar berani menantangku. Dia benar-benar membuatku tak punya pilihan lain. Park Jiyeon. Akan aku pastikan kau menderita selamanya.” yeoja yang tak lain adalah Yoon Sohee itu tersenyum licik seraya menatap tajam kearah Jiyeon pergi.

“Seohee-ya! Bantu aku membawa semua barang-barangmu ini. Aish! Aku heran sebenarnya apa saja yang kau bawa dari rumahmu, eoh?” Kim Jiwon tampak kesal saat menurunkan dua buah tas ransel dan sebuah koper besar berisi barang-barang Sohee dari dalam bagasi mobil milik keluarga Yoon. Memang, ini adalah malam pertama Sohee akan tinggal di asrama Kingo, karena selama ini ia tak mau tinggal di asrama. Dan semua ini dilakukannya karena ia tahu Myungsoo pun sekarang tinggal di asrama.

Ah, arrasseo aku akan membantu membawa tas ranselnya. Kau bawa kopernya. Kkaja!” Sohee menyambar dua tas ranselnya yang berukuran sedang dan langsung berjalan mendahului Jiwon.

Sementara Jiwon merasa kesulitan saat membawa koper besar tersebut. Sungguh ia sangat kesal pada sahabatnya yang selalu berbuat semena-mena padanya itu. Dan rasa jengkelnya semakin bertambah saat kedua matanya menangkap seorang namja yang tengah berdiri tak jauh darinya sambil menatap penuh iba kearahnya.

“Apa yang sedang kau lihat? Mau kucongkel kedua matamu itu, eoh?” bentak Jiwon sengit, membuat namja yang semula menatapnya di kejauhan itu tersedak karenanya.

Ohmo.. Galak sekali Nuna itu..” gumam namja itu pelan. Sebenarnya ia sudah berniat ingin membantu Jiwon, namun karena sudah terlebih dahulu mendapatkan bentakan, akhirnya niatnya pun pupus seketika. Kini ia hanya mampu menatap iba pada Jiwon yang kesusahan membawa koper besarnya.

“Wonho-ya, sedang melihat apa?”

Namja yang ternyata adalah Shin Wonho, teman sekamar Taehyung itu agak terkejut dan menoleh mendengarnya.

Ah, anni.. Amugeotdo.. Geuge– apa hanya kita berempat yang akan pergi ke rumah sakit?” tanyanya.

Eoh.. Yang lain akan menyusul kita nanti. Kkaja.”

Keempat namja itu pun beranjak meninggalkan asrama untuk pergi ke rumah sakit menjenguk Taehyung, sang ketua kelas.

*

*

Jiyeon’s POV

Ohmo, ohmo, ohmo! Aish! Perlakuan namja itu benar-benar tidak bagus untuk jantungku. Lagipula kenapa aku jadi berdebar-debar begini? Maldo andwae! Aku tidak mungkin memiliki perasaan padanya, geutji? Aigoo.. Myungsoo sunbae, kenapa kau harus menyukaiku? Kenapa bukan orang lain saja? Aish! Eotokhe? Apakah tadi ada yang melihat kejadian memalukan itu? Kuharap tidak ada yang melihatnya atau aku akan habis dibantai oleh para penggemar Myungsoo sunbae. Huaaaa eottokhaji? Ck! Ini benar-benar jadi beban untukku!

Glegarrr! Dhuaarr!

Aku terkejut setengah mati mendengarnya. Perasaanku mendadak panik. Apalagi begitu aku merasakan tetesan air hujan yang mulai turun. Eottokhe? Aku bahkan lupa tidak membawa payung. Aku semakin mempercepat langkahku bahkan nyaris berlari seiring dengan turunnya air hujan yang semakin lama semakin deras, hingga akhirnya aku pun tiba di depan sekolah. Napasku terengah-engah, tentu saja. Aku bahkan sudah mulai tidak peduli lagi dengan sekujur tubuhku yang sudah basah kuyub.

Untuk sesaat aku berharap aku tak melihat siapapun setibanya di sana, namun rupanya itu hanyalah harapanku semata. Karena pada kenyataannya aku benar-benar melihat seseorang yang tengah berdiri, berteduh di bawah gerbang sekolah yang terlindung oleh air hujan. Jeon Jungkook. Dia benar-benar masih menungguku di sana.

Aku mendekatinya perlahan hingga ia menyadari keberadaanku

Aku mendekatinya perlahan hingga ia menyadari keberadaanku. Bisa kulihat ekspresi terkejut sekaligus senang di wajahnya saat ia melihatku. Entah kenapa, aku mendadak sedih melihatnya seperti itu.

S-sunbae-“

“Jungkook-a..”

*

*

Author’s POV

Entah sudah berapa jam lamanya Jungkook berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Padahal ia tahu kalau Jiyeon tidak mungkin datang menemuinya, mengingat apa yang baru saja terjadi pada Taehyung, namja yang diketahuinya cukup dekat dengan Jiyeon. Tapi dengan bodohnya ia justru tetap setia menunggu yeoja itu di sana, seorang diri.

Glegarrr! Dhuaarr!

Tes! Tes! Tes!

Jungkook mendongak sejenak melihat langit yang sudah menghitam dengan beberapa tetesan air hujan yang mulai turun. Ia pun segera berteduh di bawah pintu gerbang sekolah yang terlindung oleh air hujan. Ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku mantel miliknya lalu merapatkan ke tubuhnya sendiri. Dingin. Tentu saja. Namja itu meringis kecil, menyadari betapa bodohnya dirinya saat itu. Ia merasa terlalu percaya diri dan mengira kalau Jiyeon akan datang kalau pada kenyataannya ia pun sudah tahu apa yang akan terjadi. Namja itu mendesah kecil. Ia sudah berencana akan menerobos air hujan dan berlari menuju asrama saat itu juga, tidak peduli jika setelah ini ia akan sakit. Baginya lebih baik tubuhnya yang sakit daripada hatinya yang terluka. Jungkook benar-benar tak peduli lagi.

Namun siapa sangka, di saat ia benar-benar akan melangkah pergi, ia justru melihat seseorang yang sudah berdiri tak jauh darinya, dengan seluruh tubuh basah kuyub. Namja itu bahkan hampir tak mampu mengucapkan apapun begitu melihatnya. Ada perasaan senang tak tertahankan namun juga perasaan menyesal karena telah membuat yeoja itu menjadi basah kuyub karenanya.

S-sunbae..”

“Jungkook-a..”

Park Jiyeon, yeoja itu berjalan menghampiri Jungkook dan ikut berteduh di bawah sana. Ia mengusap wajahnya yang semula diguyur air hujan dengan tangannya.

Sunbae-“

“Jangan katakan apapun.” potong Jiyeon tanpa menoleh pada Jungkook sedikitpun. Kini yeoja itu justru sibuk melepaskan mantel miliknya dan memeras ujung baju serta celana piyamanya yang basah oleh air hujan.

Entah kenapa, Jungkook merasa tidak begitu takut saat melihat Jiyeon yang berdiri di sebelahnya tanpa menggunakan masker saat itu. Apa mungkin karena suasananya yang sedikit gelap jadi Jungkook tidak begitu jelas melihat wajah jiyeon. Yang jelas, namja itu tidak merasa terintimidasi seperti biasanya.

Secara refleks Jungkook melepaskan mantel yang semula dipakainya, lalu ia pun mengenakannya pada Jiyeon tanpa mengucapkan apapun. Jiyeon sedikit terkejut mendapatkan perlakuan tersebut, bukan karena mantelnya, melainkan sikap Jungkook yang seolah seperti namja normal pada umumnya. Yeoja itu jadi bertanya-tanya kemana phobia yang semula dideritanya itu?

Mwoya? Aku tetap merasa kedinginan karena pakaianku basah kuyub. Sebaiknya kau pakai saja mantelmu-“

Mianhae, Sunbae.. Mian, aku sudah membuatmu seperti ini..”

Jiyeon menoleh pada Jungkook yang kini setengah menundukkan kepalanya. Yeoja itu menghela napas sejenak, lalu kembali menatap lurus ke depan.

Wae? Kenapa kau masih menungguku?”

Jungkook tak segera menjawab. Namja itu mengangkat kepalanya dan turut menatap lurus ke depan. “Aku hanya yakin kalau sunbae akan datang..”

Sekali lagi Jiyeon menarik napas panjang, dan menoleh lagi pada Jungkook.

“Jungkook-a, aku tidak tahu kenapa kau bisa sampai berpikir seperti itu. Tapi kau benar-benar orang paling bodoh yang pernah kutemui. Bagaimana jadinya kalau aku benar-benar lupa sama sekali denganmu? Bagaimana kalau aku kembali ke asrama dan langsung tertidur sampai esok? Apa kau tetap akan menungguku semalaman, eoh?”

“Aku- aku ingin lebih dekat denganmu, sunbae.. Aku ingin mengenal Park Jiyeon lebih jauh lagi. Itulah kenapa aku tetap menunggu..”

Jiyeon tercengang mendengarnya. Ia bahkan hampir tak percaya pada pendengarannya sendiri.

M-mwo?”

“Park Jiyeon.. Aku- ingin mengenalmu lebih jauh.. Jadi kumohon bantu aku sembuh dari phobiaku ini, agar aku bisa menjadi lebih dekat denganmu..”

Jiyeon tak mampu menanggapi ucapan Jungkook lagi. Yeoja itu benar-benar shock. Ia kembali merasakan hawa panas di sekitar wajahnya. Namun kali ini kepalanya mendadak merasa pusing. Sungguh ia merasa ada yang salah dengan hari ini. Kenapa? Kenapa tiga orang namja sekaligus mengutarakan hal yang sama padanya? Hanya dalam waktu sehari? Oh, Jiyeon benar-benar ingin beristirahat saat itu juga. Entah kenapa, kepalanya mendadak semakin terasa pusing. Ia tidak tahu apakah ini akibat kehujanan barusan, ataukah karena jiwanya yang masih merasa shock.

Brukk!

Dan akhirnya ia pun benar-benar jatuh tak sadarkan diri.

S-sunbae? Jiyeon sunbae!”

Jungkook terkejut bukan main begitu melihat Jiyeon yang sudah ambruk di sampingnya. Namja itu seketika panik dibuatnya. Ia tak tahu harus melakukan apa pada saat seperti itu. Ingin sekali namja itu mengangkat tubuh Jiyeon dan membawanya pergi ke tempat yang lebih teduh dan hangat. Tapi namja itu takut jika harus bersentuhan langsung dengan seorang yeoja. Bayangan masa lalunya benar-benar membuat namja itu hanya mampu diam tak berkutik di tempatnya.

“Jiyeon sunbae..” Jungkook terus mengucapkan nama Jiyeon di tengah rasa paniknya. Kedua tangannya yang gemetar sudah hampir bergerak untuk menyentuh tubuh yeoja itu, namun detik berikutnya seperti ada perasaan kuat yang membuatnya tak berani melakukannya. Alhasil, namja itu hanya mampu terdiam dan terjebak dalam kekalutannya seorang diri.

“Park Jiyeon..”

To be continued

To be continued..

*

*

Hey wassap yo! Wkwk miaann telat aku kelupaan ga posting di sini. Padahal biasanya habis publish di wattpad langsung di sini juga wkwk
Ya sudahlah yg penting posting kan ya muehehe
Untuk yang kesekian kalinya aku ulangi, moment pairing idola kalian mungkin masih sedikit karena semuanya butuh waktu dan proses jadi mohon bersabar yaa..
Mian kalo part kali ini kurang ngefeel soalnya ini buru-buru bikinnya hihihi oke gomawo dan sampai jumpa di part selanjutnya yang entah bakal diposting kapan wkwk

.| TEASER | PART 1 | PART 2 | PART 3 | PART 4 |

Advertisements

51 responses to “[CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 4

  1. Pingback: [CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 9 | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s