[CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 3

wattpad

Title : A Golden Girl Story

Author : Yochi Yang

Main Casts : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Jeon Jungkook, Kim Taehyung

Other Casts : Kim Sejung, Kim Seokjin, Jo jinho, etc

Genre : School-life, Romance, Slice of Life, Drama

Rating : General


| TEASER | PART 1 | PART 2 | PART 3 | PART 4 |

Myungsoo melangkah masuk ke dalam rumah mewahnya dengan wajah berseri-seri. Entah kenapa namja itu merasa senang hari itu. Ia merasa hari-hari ke depannya tidak akan terasa membosankan lagi seperti biasanya. Setelah melemparkan tas miliknya ke atas meja, namja itu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa begitu saja.

Hmmh.. Park – Ji – Yeon..” gumamnya berkali-kali seorang diri, lalu kembali tersenyum kecil dan menyandarkan kepalanya di punggung sofa.

Hoo, apa sesuatu yang bagus baru saja terjadi?”

Myungsoo sedikit tersentak namun hanya melirik sekilas ke arah sumber suara. Seorang yeoja yang masih mengenakan seragam sekolah terlihat muncul di ambang pintu. Dia adalah Kim Soeun, adik Myungsoo satu-satunya. Sepertinya yeoja itu juga baru pulang dari sekolah. Soeun memang tidak bersekolah di Kingo karena yeoja itu lebih nyaman bersekolah di tempat yang tidak ada hubungannya dengan keluarganya. Menurutnya bersekolah di tempat milik Appanya hanya akan memberinya banyak tekanan. Bukan karena ia tak menyukai Appanya, melainkan ia hanya ingin mendapatkan teman yang benar-benar tulus tanpa melihat status sosialnya. Yeoja itu turut menghempaskan tubuhnya di sebelah Myungsoo.

Oppa tampak senyum-senyum seperti orang gila. Pasti ada sesuatu yang terjadi di sekolah, geutji?” ulangnya.

Eobseo (tidak ada). Hanya masalah kecil.” ucap Myungsoo sambil memejamkan kedua matanya, mencoba kembali mengingat sosok Jiyeon dalam benaknya.

Ah, matta. Kudengar Jungkook pindah ke Kingo, matji? Aku tahu dari Appa. Sepertinya Appa memang tidak bisa melepaskan Jungkook begitu saja.”

Mendengar nama Jungkook disebut, kedua mata Myungsoo kembali terbuka. Ia kembali teringat pertemuannya dengan Jungkook pagi tadi di sekolah.

Ah, benar juga. Aku juga penasaran dengan itu. Apa mungkin Appa yang mengatur semuanya?” kata Myungsoo seolah pada dirinya sendiri.

Mwonde? Memangnya apa yang sudah terjadi? Apa Oppa bertemu dengannya?”

“Dia sekamar denganku di asrama.”

Jinjja? Ah.. Tetap saja Oppa jarang ada di asrama. Kurasa itu bukan masalah besar. Keunde, meskipun asrama itu milik Appa, seharusnya Oppa tidak bersikap seenaknya begitu. Oppa juga tetap harus mengikuti peraturan di sana.”

Anni—

Soeun menatap heran ke arah Myungsoo, seakan meminta penjelasan lebih lanjut.

“—mulai hari ini aku akan tinggal di asrama.”

*

*

KRIIIIINNNGGGG!!!!

Suara alarm otomatis yang menyebar ke seluruh asrama Kingo itu terdengar berdering nyaring membuat semua murid Kingo mau tak mau terbangun akibat suara bisingnya. Tak sedikit dari mereka yang mengumpat-ngumpat tak jelas meskipun mereka sudah hapal betul dengan kebiasaan itu setiap paginya.

Jiyeon – Sejung room

Huuuaaaahh.. Aku masih mengantuk!! Siapa saja tolong hentikan suara menyebalkan ini!!” teriak Sejung seraya menutupi kedua telinganya menggunakan bantal dan kembali meringkuk di tempat tidurnya.

Sementara Jiyeon yang sudah tak sanggup lagi mendengar suara alarm itu telah berusaha mengumpulkan seluruh nyawanya yang semula berlarian entah kemana.

“Sejung-a, ireona..” katanya masih dengan mata yang setengah terpejam.

Hmm.. Sebentar lagi.. Kau mandi saja duluan.” sahut Sejung di balik bantalnya.

Ck, arrasseo..” akhirnya Jiyeon pun turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Namun langkahnya terhenti saat melihat tumpukan pakaian kotor yang berada di keranjang miliknya.

Mwoya? Yaa, Sejung-a, bukankah aku sudah menyuruhmu mencuci semua pakaian ini? Kenapa masih bertumpuk di sini, eoh?”

Mian.. Kemarin sore aku terlalu capek jadi tidak sempat ke tempat laundry.” lagi-lagi Sejung menyahut dari balik bantalnya.

Aishh!” gerutu Jiyeon agak kesal. Lalu tanpa pikir panjang lagi yeoja itu segera meraih keranjang pakaian kotor tersebut dan berjalan menuju pintu keluar.

Yaa, aku akan ke laundry dulu. Kalau kau masih belum mandi hingga aku kembali, aku pastikan akan membunuhmu, arrasseo?” katanya.

Hmmmmm..”

*

*

Taehyung – Wonho room

Yaa! Ireona (bangun)! Apa telingamu tidak mendengar suara alarm itu, eoh?”ucap Taehyung seraya menarik selimut yang semula menutupi tubuh Wonho. Namun sedetik kemudian namja itu terkejut sekaligus kesal karena rupanya Wonho mengenakan earphone di telinganya. Wajar saja kalau namja itu masih tertidur pulas hingga saat ini. Dengan gemas Taehyung menarik bantal milik Wonho lalu memukulkannya ke tubuh namja itu.

Ireona! Sudah siang! Hari ini tugasmu mencuci pakaian.” katanya.

Wonho tampak menggeliat malas, lalu dengan agak kesal ia bangun dari tempat tidurnya.

Arra-arra.. (baiklah-baiklah).” katanya lalu berjalan begitu saja dengan mata setengah terpejam.

Bugh! Alhasil namja itu malah menabrak pintu kamar mandi dan seketika membuat kedua matanya terbuka.

Aisshh! Kenapa kau tidak memberitahuku kalau ada pintu di sini?” gerutunya kesal.

Sementara Taehyung hanya menatap temannya itu dengan geli tanpa mengatakan apapun. Dilemparkannya pakaian Wonho yang semula diletakkan begitu saja di atas tempat tidur tepat ke wajahnya.

“Cuci semuanya. Aku akan menyiapkan sarapan.” katanya seolah memberi perintah, membuat Wonho merasa kesal karenanya.

“Dasar ketua kelas kejam.” katanya. “Yaa, kita barter tugas hari ini. Biar aku saja yang menyiapkan sarapan. Kau yang mencuci. Jangan membantah. Kau memang ketua kelas di sekolah tapi di sini aku beberapa hari lebih tua darimu. Jadi jangan membantah ucapan orang yang lebih tua, arrasseo?”

Kali ini giliran Taehyung yang merasa jengkel. Namun belum sempat ia membantah, Wonho sudah masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu dari dalam.

Aish!” gerutu Taehyung, lalu menyambar asal keranjang berisi pakaian kotor milik mereka dan membawanya keluar.

*

*

Myungsoo – Jungkook – Jin room

Jin tampak menggeliat dan menguap lebar saat suara alarm itu berbunyi. Kedua matanya masih menyipit saat ia mendapati Jungkook yang sedang meneguk air putih dengan wajah yang berkeringat.

 Kedua matanya masih menyipit saat ia mendapati Jungkook yang sedang meneguk air putih dengan wajah yang berkeringat

Mwoya? Kapan kau bangun?” tanya Jin heran.

Eoh, hyung kau sudah bangun? Ah, aku bangun sekitar satu jam yang lalu. Aku baru selesai jogging sebentar tadi..”

Jogging? Pagi-pagi buta? Whoa.. Daebak! Lain kali bangunkan aku, aku juga ingin tahu bagaimana rasanya jogging di pagi hari.”

Jungkook hanya mengangguk sambil tersenyum. Jin bangkit dari tempat tidurnya, namun ekspresinya mendadak berubah saat mendengar sesuatu di dalam kamar mandi.

Yaa, apa ada seseorang di kamar mandi?” tanyanya heran.

Molla (tidak tahu). Mungkin teman sekamar kita yang tidur di atas. Aku juga belum sempat bertemu dengannya.”

Mwo? Jinjja? Whoa, kapan dia sampai di asrama? Apa mungkin tadi malam saat kita sudah tidur?”

Ah, Hyung. Apakah dia memang sedang ada urusan penting di rumah? Bukankah peraturan di sini mengharuskan semua murid tinggal di asrama? Kalau tidak salah Hyung pernah bilang kalau teman sekamar kita ini jarang ada di asrama. Mengapa begitu?”

Ahh.. Kau memang benar. Keunde untuk yang satu ini agak sedikit berbeda. Mm.. Maksudku dia itu—””

Krieeett..

Ucapan Jin terhenti saat pintu kamar mandi terbuka dan muncul seorang namja dari sana. Namja yang kini hanya mengenakan handuk di bagian bawah dengan rambut basah itu tampak tersenyum ramah.

Yo! I’m home, guys!” sapanya.

Deg! Jungkook merasa seperti langit runtuh dari atas saat itu juga. Tangannya seketika mengepal keras. Ige mwoya? Kim Myungsoo? Kenapa dia ada di sini?‘ Pikirnya tidak terima.

Yaa, kapan kau tiba? Kenapa kau tidak mengatakan apa-apa?” tanya Jin pula.

Myungsoo berjalan mendekat sambil menatap Jungkook yang masih terdiam.

Ah, aku datang saat kalian berdua terlelap. Aku ingin membangunkan kalian tapi aku tidak tega. Jadi kubiarkan saja. Apa aku mengagetkanmu, Jungkook-a?”

Jungkook tak menjawab. Kedua matanya masih menatap tajam ke arah Myungsoo.

Hoo, jadi kalian memang sudah saling mengenal. Baguslah. Ah, Jungkook-a, apa kau akan mandi duluan? Aku bisa menunggu.” kata Jin kemudian pada Jungkook.

Anni, Hyung.” sahut Jungkook berusaha keras menahan emosinya. “Aku— akan keluar sebentar.”

Mwo? Eodi? (kemana)?” tanya Jin, namun Jungkook telah beranjak pergi dan berjalan keluar dari kamar.

Mwoya? Dia terkadang terlihat aneh.” gumam Jin seolah pada dirinya sendiri.

Hyung? Dia memanggilmu Hyung?” tanya Myungsoo tiba-tiba.

Ahh.. Geuge— aku yang menyuruhnya memanggilku Hyung. Kau tahu kalau aku tidak suka suasana canggung. Panggilan sunbae itu canggung menurutku. Wae?”

Anni. Hanya saja— aku jadi ingin dipanggil seperti itu juga olehnya— lagi.”

*

*

Taehyung masih sedikit mendongkol saat ia menjinjing keranjang berisi pakaian kotornya menuju tempat laundry. Asrama Kingo memang menyediakan tempat laundry khusus untuk murid-murid Kingo. Tempat laundry pun terbagi menjadi tiga tempat, tentu saja karena murid Kingo yang jumlahnya tidak sedikit. Taehyung semula hendak memilih tempat laundry pertama namun rupanya tempat itu sudah penuh. Akhirnya namja itu beringsut masuk ke tempat laundry kedua. Akan tetapi ternyata di sana pun sama saja. Mau tak mau namja itu pun pindah ke tempat laundry terakhir. Beruntung karena di sana masih ada beberapa tempat kosong jadi Taehyung bisa bernapas lega.

Begitu selesai memasukkan deterjen cair dan semua pakaian kotornya kedalam mesin cuci, Taehyung berbalik dan bermaksud duduk menunggu di tempat duduk yang memang sudah disediakan di sana. Akan tetapi langkahnya mendadak terhenti saat kedua matanya menangkap seorang yeoja yang tengah duduk sambil terkantuk-kantuk dengan memeluk sebuah bantal berukuran besar yang entah didapatkannya darimana.

Taehyung tertawa geli melihatnya, apalagi saat melihat rambut yeoja itu yang berdiri keatas

Taehyung tertawa geli melihatnya, apalagi saat melihat rambut yeoja itu yang berdiri keatas. Namja itu pun kemudian menghampiri yeoja tersebut. Park Jiyeon, yeoja itu masih belum menyadari jika di sampingnya kini telah duduk Taehyung yang asyik memperhatikannya. Namja itu merasa terhibur dan tidak tahan untuk tidak mengambil gambar yeoja yang berpose luar biasa unik itu. Sayangnya saat itu ia sedang tidak membawa smartphone miliknya, namja itu jadi agak menyesal sudah meninggalkan ponsel miliknya di kamar. Alhasil ia hanya bisa memperhatikan Jiyeon tanpa melakukan apapun.

Kluk!

Jiyeon kembali terkantuk dan kepalanya kini tanpa sengaja tersandar di pundak Taehyung. Namja itu tertegun sejenak karenanya. Tanpa sadar ia meneguk ludahnya sendiri. Sebenarnya ia merasa tak enak dengan posisi itu apalagi di sana pun tak sedikit murid Kingo yang sesekali memperhatikan mereka berdua. Namun entah kenapa Taehyung enggan membangunkan Jiyeon saat itu. Perasaan dongkol yang semula didapatkannya dari Wonho tadi mendadak lenyap seketika digantikan oleh perasaan senang entah kenapa. Akhirnya ia pun hanya membiarkan Jiyeon yang tertidur pulas di bahunya.

*

*

Sementara itu Jungkook berjalan keluar dari asrama masih dengan emosi yang ditahannya. Meskipun sebelumnya ia sudah menyangka kalau ini bakal terjadi, namun tetap saja namja itu tak bisa menerimanya. Kim Myungsoo, ia tak bisa menerima namja itu begitu saja seperti yang diharapkan oleh Appanya. Meski bagaimanapun ia berusaha menerima, namun egonya jauh lebih kuat dari apapun. Jungkook, namja itu terlanjur sakit hati pada Myungsoo.

Flashback

5 years ago..

“Kookie-ya.. Keluarlah. Apa yang sedang kau lakukan di dalam sana?”

Seorang namja yang berusia sekitar 11 tahun itu hanya terdiam tak menyahut panggilan tersebut. Dari celah pintu kamarnya, ia mengintip keluar dan melihat ada beberapa orang di sana. Jeon Jungkook, namja itu tahu siapa mereka. Mereka adalah keluarga Kim, yang sekaligus adalah keluarga Eomma kandungnya, Kim Haeun. Namun entah kenapa Jungkook merasa tidak nyaman dengan mereka sejak dulu.

Kepala keluarga Kim, yakni Kim Taeho, adalah Oppa kandung Kim Haeun, Eomma Jungkook. Taeho adalah sosok namja yang hangat dan ramah pada siapa saja. Ia bahkan sangat menyayangi Jungkook seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan Jungkook sendiri pun tak bisa mengingkari bahwa ia pun menyukai namja paruh baya itu. Kim Taeho lah pemilik grup Kingo di Seoul.

Istri Kim Taeho adalah Kim Sungryung. Yeoja itu sangat cantik dan selalu memperllihatkan senyumnya. Namun bagi Jungkook, yeoja itu sangat mengerikan bahkan saat sedang tersenyum. Bukan tanpa alasan sebenarnya. Karena tanpa sepengetahuan siapapun, Jungkook sering mendapatkan tatapan tajam dari Sungryung yang selalu membuat Jungkook bergidik ngeri entah kenapa. Itulah alasannya Jungkook sedikit enggan jika berkumpul bersama keluarga Kim.

Pasangan bermarga Kim ini memiliki tiga orang anak. Anak sulung mereka bernama Kim Jongwoon, yang saat itu sudah berusia sekitar 19 tahun dan kuliah di salah satu universitas ternama di Seoul. Jongwoon, atau yang lebih sering dipanggil Yesung itu merupakan namja yang baik, hampir seluruh sifat Taeho diturunkan padanya. Bahkan jika dibandingkan dengan semua sepupu Jungkook, ia paling merasa nyaman jika bersama Yesung.

Anak kedua keluarga Kim, yang dua tahun lebih tua dari Jungkook, dia bernama Kim Myungsoo. Sama seperti Yesung, Myungsoo pun merupakan namja yang baik. Hanya saja namja itu sedikit lebih dingin dan agak kasar. Namun Myungsoo sangat menyayangi keluarganya melebihi apapun dan tidak akan segan-segan berbuat kasar jika ada seseorang yang menyakiti keluarganya.

Anak bungsu dalam keluarga Kim adalah Kim Soeun, yang hanya setahun lebih tua dari Jungkook dan setahun lebih muda dari Myungsoo. Jika dibandingkan dengan kedua Oppanya, Soeun adalah yeoja periang. Ia tidak suka jika kedua Oppanya bertengkar dan akan menangis sekeras-kerasnya jika kedua oppanya itu bertengkar. Itulah mengapa Yesung dan Myungsoo jarang sekali bertengkar, karena tak ingin melihat Soeun menangis.

Begitulah, Jungkook memang enggan bertemu mereka namun setiap kali ia merasa enggan, Yesung selalu berhasil membuatnya luluh hingga bersedia turut bergabung bersama mereka. Seperti yang terjadi saat makan malam di rumah keluarga Jungkook malam itu. Jungkook yang semula tak berniat ikut bergabung di luar, akhirnya turut bergabung setelah Yesung membujuknya dengan kata-kata manisnya. Jungkook sangat menyukai Yesung karena menurutnya Yesung adalah satu-satunya orang yang bisa memahaminya. Yesung bahkan mengaku kalau sebenarnya ia pun tahu Sungryung sering memberikan tatapan tajam pada Jungkook. namun Yesung selalu berkata kalau itu semua karena Jungkook anak yang berbeda dari yang lainnya. Jungkook adalah seseorang yang spesial. Itulah alasannya mengapa Sungryung sering seperti memelototinya. Sungryung hanya merasa iri karena Jungkook lebih terlihat istimewa dibandingkan dengan anak-anaknya.

“Sebagai seorang namja kau tidak boleh gentar hanya karena hal seperti itu. Kau harus menunjukkan pada dunia seperti apa seorang Jeon Jungkook yang sebenarnya. Kau bukan seorang penakut, geutji? Eomma bukan orang jahat. Dia hanya merasa iri karena kau lebih terlihat bersinar. Percayalah suatu saat Eomma pasti menyukaimu. Kau hanya perlu mengambil hatinya, arrachi?”

Saat itu Jungkook tak begitu mengerti maksud Yesung. Namun tak ada yang dilakukannya kecuali mengangguk menanggapi ucapan Yesung. Dan pada kenyataannya semua tak seindah yang diharapkan Jungkook. Semuanya bermula ketika malam itu Sungryung mengajak Jungkook pergi ke mobil yang diparkir di luar rumah keluarga Jungkook dengan alasan ingin memberikan sesuatu untuk Jungkook. Jungkook yang tidak pernah berharap apalagi membayangkan akan diberi sesuatu oleh Sungryung itu hanya diam dengan ekspresi bingung tanpa menjawab apapun.

“Ah, geurae.. Kebetulan tadi aku juga melihat Eomma membungkus sesuatu saat hendak kemari.” ucap Yesung pula sambil tersenyum.

“Mwoya? Eomma memberikan hadiah pada Jungkook tapi tidak untuk kami?” kata Soeun setengah memprotes.

“Yaa, bukankah kau sudah terlalu sering mendapatkan hadiah dari Eomma, eoh? Biarkan saja. Lagipula aku juga penasaran hadiah apa yang akan Eomma berikan pada Jungkook.” sahut Myungsoo, membuat Soeun cemberut.

“Wah, seharusnya kau tak perlu serepot ini, memberikan hadiah pada Jungkook sepertinya agak berlebihan.” kata Jeon Jinwoo, Appa Jungkook merasa tak enak.

“Gwaenchahnha. Aku hanya ingin menunjukkan pada kalian kalau aku juga menyayangi Jungkook. lagipula bukankah Taeho Oppa mengatakan kalau Jungkook juga akan menjadi salah satu pewaris grup Kingo? Jadi tidak ada salahnya kalau aku mulai memberikan sesuatu yang layak juga untuk calon pewaris Kingo.” ucapan Sungryung itu sebenarnya sedikit membuat Jinwoo dan Haeun tersinggung, namun keduanya hanya tersenyum dan mengangguk menanggapinya. Sebenarnya keduanya juga keberatan jika Jungkook dijadikan salah satu pewaris Kingo, namun Taeho terlanjur menyayangi Jungkook dan tetap bersikeras dengan keputusannya. Untuk itulah Jinwoo dan Haeun hanya mampu pasrah menerimanya.

“Kkaja, Kookie sayang. Ikut Sungryung imo (bibi).” ulang Sungryung seraya mengulurkan tangannya untuk menggandeng Jungkook. Namun Jungkook lebih memilih diam tanpa menerima uluran tangan Sungryung.

“Nde, imo..” ucap Jungkook kemudian sambil berdiri dari tempat duduknya.

Sungryung kembali tersenyum manis lalu berjalan mendahului Jungkook keluar dari rumah untuk menuju mobilnya yang berada di luar. Jungkook yang berjalan di belakang Sungryung itu sama sekali tak berniat ingin bertanya meskipun ia sangat penasaran seperti apa hadiah yang akan ia terima dari Sungryung. Dan entah kenapa saat itulah Jungkook merasakan aura gelap yang luar biasa berasal dari Sungryung. Meskipun saat itu Sungryung membelakanginya, Jungkook merasa aura yeoja itu sangat mengerikan, apalagi saat hanya berdua seperti ini.

“I-imo..”

Tepat saat itulah Jungkook melihat sebuah bayangan di kegelapan. Bayangan yang bahkan sampai Jungkook beranjak dewasa pun masih melekat di benaknya. Bayangan itu secara tiba-tiba menyergapnya dan membungkam mulutnya bahkan tanpa ia sadari. Jungkook yang ketakutan hanya mampu meronta-ronta berusaha melepaskan diri namun tangan itu jauh lebih kuat dari tenaga kecilnya. Jungkook bahkan masih belum sepenuhnya mengerti apa yang tengah terjadi, namun sesaat kemudian ia merasa bungkaman di mulutnya itu terlepas disusul dengan sebuah erangan. Jungkook gemetar ketakutan dan bersembunyi di balik pohon. Ia sama sekali tak tahu apa yang tengah terjadi saat itu, meskipun ia masih bisa melihat kalau kini sosok bayangan tadi sedang bergulat dengan Yesung di hadapannya. Ia hanya bisa mengingat beberapa detik kemudian terdengar sebuah erangan lagi dan melihat tubuh Yesung yang terkapar di atas tanah. Jungkook tertegun, seluruh tubuhnya terasa kaku saat ia menyadari sosok bayangan tadi melarikan diri. Dengan gemetar Jungkook berusaha menyeret tubuhnya sendiri menghampiri Yesung yang tergeletak.

“H-Hyung.. G-gwaenchanha?” bahkan Jungkook sendiri hampir tak bisa mendengar suaranya sendiri saking gemetarnya.

Yesung tak menjawab melainkan terus terbatuk dan mengeluarkan banyak darah dari mulutnya.

“H-Hyung..” Jungkook meraba tubuh Yesung dan mendapati sebuah pisau yang tertancap di perutnya. Namja itu terlalu shock dengan apa yang dilihatnya dan tanpa sadar tangannya mencabut pisau tersebut dari perut Yesung.

“H-Hyung.. Yesung Hyung..” hanya itu yang mampu terucap dari mulutnya dengan air mata yang mengalir deras di kedua pipinya.

“Ohmo! Jungkook-a, apa yang sudah kau lakukan?”

“Jeon Jungkook! kau pembunuh! Kau sudah membunuh anakku!”

“Jungkook-a.. Kenapa kau melakukannya?”

Jungkook bahkan tak bisa membantah semua tuduhan yang dilontarkan padanya saat itu. Ia hanya bisa menangis dan menangis meratapi keadaan Yesung.

“Eomma, Appa.. Percayalah padaku. Aku benar-benar tidak melakukannya.. Bayangan itu— bayangan itu yang melakukannya. Dia— dia menyergapku, lalu— lalu berkelahi dengan Yesung hyung. jeongmal, aku tidak bohong! Aku— aku tidak melakukannya! Bukan aku—” Jungkook terus berusaha menjelaskan apa yang terjadi saat itu kepada semuanya saat mereka berada di rumah sakit. Namja itu masih gemetar ketakutan saat itu.

“Jungkook-a, kami percaya padamu, Nak.. Tenanglah, jangan takut. Eomma dan Appa ada di sini,.” Haeun memeluk Jungkook mencoba menenangkan.

Jungkook terus terisak dalam pelukan Haeun dengan tubuh gemetar. Dari ekor matanya ia melihat dua orang polisi tengah berbicara dengan Taeho, Jinwoo dan seorang dokter.

“..melihat bagaimana sikap dan tanggapannya, dia masih begitu shock dengan apa yang terjadi. Sebaiknya kita biarkan dia sampai tenang dahulu. Untuk anak seusia itu memang masih sangat labil. Ada kemungkinan kalau dia memiliki semacam gangguan pada psikisnya..”

Mendengar itu Jungkook langsung menarik diri dari pelukan Haeun dan berseru, “Anni! Anni, aku tidak gila! Aku berkata apa adanya. Jeongmal! Aku sama sekali tidak berbohong! Bayangan itu! Bayangan itu yang melakukannya!”

Setelah berkata demikian, Jungkook berjalan mendekati Sungryung.

“Imo.. Imo juga melihatnya, geutji? Melihat bayangan itu? Dia— dia menyergapku, lalu berkelahi dengan Yesung Hyung. Imo melihatnya, geureotji?” katanya seraya memegangi lengan Sungryung.

Namun Sungryung melepaskan pegangan tangan Jungkook dan membuang muka, “Jangan bicara padaku, dasar kau pembunuh! Kau sudah berusaha membunuh anakku, dan sekarang malah mengarang cerita murahan seperti itu. Kau pikir kami akan percaya dengan cerita bodohmu itu?”

Hati Jungkook seketika terasa mencelos mendengarnya. Ia benar-benar merasa dikhianati. Jelas-jelas ia sedang bersama Sungryung saat itu, tidak mungkin ia tak melihatnya.

“I-imo.. Kenapa imo berbohong? Waeyo, imo? Waeyo? Jebal, katakan yang sebenarnya. Katakan kalau aku berkata yang sebenarnya, imo, jebal..”

Jungkook terus memohon sampai terduduk memegangi kedua kaki Sungryung. Semuanya berusaha menenangkannya namun Jungkook terus saja meronta hingga akhirnya seorang suster pun memberikan suntikan penenang untuknya.

Jungkook membuka kedua matanya perlahan dan mendapati dirinya sedang terbaring di sebuah brankar dengan kedua kaki dan tangannya yang terikat. Namja itu berusaha meronta melepaskan diri namun usahanya hanya sia-sia belaka. Ia ingin berteriak, namun hal itu diurungkannya mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Kalau ia berteriak histeris seperti tadi, ia pasti akan disuntik kembali dan Jungkook tak mau itu. Akhirnya ia pun memilih diam hingga seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut.

“M-Myungsoo Hyung..” ucap Jungkook begitu melihat Myungsoo yang masuk.

Myungsoo berjalan mendekat dengan raut wajah yang sangat muram. Bahkan terkesan mengerikan jika dibandingkan dengan ekspresinya yang seperti biasa.

“Yesung Hyung— dia sudah meninggal.” ucap Myungsoo dingin tanpa menatap ke arah Jungkook sedikitpun.

Jungkook tertegun mendengarnya. Sungguh ia tak tahu harus berekspresi seperti apa lagi saat itu. Hatinya benar-benar hancur, sedih, takut, semuanya bercampur menjadi satu. Seandainya tubuhnya ditusuk oleh benda tajam sekalipun mungkin ia takkan bisa merasakannya. Jungkook benar-benar mati rasa.

“Aku melihatnya.”

Air muka Jungkook berubah saat mendengar ucapan Myungsoo itu, “N-ne?” tanyanya dengan suara tertahan, berharap Myungsoo berada di pihaknya.

“Bayangan itu. Aku melihatnya sekilas. Dia berlari ke arah jalan. Aku melihatnya.”

“Lalu— lalu kenapa Hyung diam saja? Kenapa Hyung tidak mengatakannya pada semua orang? Hyung—

“Karena aku juga percaya pada Eomma!. Aku— aku percaya pada Eomma..”

Jungkook lagi-lagi merasa sakit hati dan kecewa mendengarnya.” Hyung, kau lebih memilih membela Sungryung imo meskipun tahu dia berbohong?”

“Eomma tidak berbohong. Kau— tidak tahu apa-apa. Eomma tidak akan berbohong tanpa alasan.”

“Hyung—”

“Mian. Kau— sebaiknya bersiap untuk ditahan selama beberapa hari. Mianhae, Jungkook-a.. Keunde— aku lebih memilih percaya pada Eomma..”

*

*

flashback ends

“Aarrghhh!!” Jungkook hampir saja meninju sebuah pohon menggunakan tangan kanannya lagi, namun niatnya urung mengingat luka di tangannya masih belum sembuh benar akibat pukulannya waktu itu. Alhasil namja itu hanya mampu meremas rambutnya sendiri dengan kesal. Sungguh ia masih merasa dikhianati hingga detik ini. Kim Myungsoo, dan juga Kim Sungryung. Jungkook sama sekali tak sudi jika harus bertemu dengan keduanya lagi. Kalau saja bukan karena kebaikan hati Taeho, Jungkook tidak akan pernah sudi bersekolah di tempat ini sampai kapanpun. Sayangnya ia tak bisa menolak saat Taeho memintanya untuk pindah ke Kingo. Apalagi Jinwoo bahkan turut mendukungnya pula. Jungkook sendiri pun sebenarnya sudah berusaha sekeras mungkin untuk melupakan kejadian di masa lalu itu. Namun tetap saja semuanya begitu sulit untuk dilupakan. Hatinya terlanjur sakit dan kecewa. Apalagi ditambah dengan kejadian yang menimpa Haeun, Eommanya beberapa hari setelah peristiwa tersebut.

Beberapa saat lamanya Jungkook terdiam, masih berusaha menguasai perasaannya. Sesaat kemudian namja itu menarik napas sepenuh dadanya sepanjang mungkin. Tidak. Dia tidak boleh menyerah begitu saja. Dia harus mencoba menahan emosinya untuk sementara waktu. Ini semua demi Appanya yang sangat disayanginya. Ia tidak mau kembali mengecewakan Appanya. Dia akan mencoba melatih kesabarannya sebisa mungkin. Ia harus bisa membuktikan bahwa dirinya sangat layak untuk menjadi salah satu pewaris grup Kingo. Kalau dulu ia memang sempat menolak, tapi saat ini ia justru akan berusaha menjadi yang terbaik dan membuktikan pada Kim Sungryung bahwa Taeho tidak salah memilih keputusan. Jeon Jungkook, namja itu bermaksud akan membalas semua rasa sakitnya.

Akhirnya Jungkook pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Namun saat berjalan melewati tempat laundry yang berseberangan dengan asrama namja, langkah Jungkook terhenti sejenak. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat dengan jelas sosok Jiyeon yang berada di dalam sana. Namun bukan itu yang mengganggu pikirannya, melainkan posisi Jiyeon yang saat itu tengah bersandar pada seorang namja.

Namja itu— bukankah dia namja yang kemarin di ruang kesehatan?” gumam Jungkook seorang diri. “Apa mereka itu sepasang kekasiih?”

Entah kenapa Jungkook merasa gelisah melihatnya. Lagi-lagi ia menatap kedua tangannya sendiri. Lalu teringat dengan ucapan Jiyeon tempo hari.

“..kalau kau juga berubah pikiran dan ingin mencoba sembuh dari phobiamu, aku siap membantumu..

Jungkook mengepalkan tangannya dengan keras, lalu menarik napas perlahan.

Geurae.. Pertama-tama, aku harus sembuh dulu dari phobia ini..” gumamnya lagi, sebelum kemudian benar-benar pergi menuju ke asrama kembali.

*

*

Jiyeon’s POV

Aku dan Sejung terus berlari-lari menyusuri koridor dengan napas tersengal-sengal. Kami berdua sesekali beradu mulut di sepanjang perjalanan akibat terlambat datang ke sekolah. Aish! Sungguh kenapa aku harus berlari sepagi ini?

“Sudah kukatakan hentikan kebiasaan malasmu itu. Sekarang jadinya kita malah sama-sama terlambat.. Hosh! Hosh!” kataku di sela napas sengalku.

Arra-arra! Bukankah aku sudah minta maaf.. Lagipula kenapa ke tempat laundry saja lama sekali, eoh? Apa kau tidur di sana?”

A-ahh.. Geu-geuge—” aku tak segera melanjutkan ucapanku. Kejadian memalukan tadi pagi mendadak teringat kembali di benakku. Aarrrghh.. jinjja Kenapa aku bisa sebodoh itu?

Sejung sepertinya menyadari perubahan sikapku dan menoleh curiga padaku, “Yaa, apa terjadi sesuatu tadi? Kenapa tiba-tiba wajahmu merah begitu?”

Aku pun tak tahan lagi untuk tidak mengadu dan mulai panik dengan sendirinya. “Huaaaaa Sejung-a eottokhe? Eottokhaji? Aku malu sekali, huaaa.. Sebaiknya aku bolos saja hari ini!” aku yang semula berlari ke arah kelas langsung berhenti dan berbalik arah. Namun secepat kilat Sejung menarik tanganku.

Yaa! Yaa! Wae geurae? Kenapa denganmu, eoh?” ia bertanya dengan nada heran setengah mati.

Huaaa.. Sejung-a.. Tadi aku—aku— ketiduran di sana..”

Aish! Kenapa begitu saja sampai bersikap berlebihan begitu. Itu wajar terjadi pada siapa saja. Dwaesseo, kkaja. Sebelum kita benar-benar terlambat.”

K-keunde—”

Aish shikeureo! Kau mau aku menyeretmu, eoh?”

“Sejung-a, jebal! Aku tidak mau masuk kelas sekarang!”

Sejung terus menarik-narik tanganku untuk mengajakku masuk kelas namun aku keukeuh tak ingin mengikutinya. Akan tetapi baru beberapa langkah kami berjalan, tiba-tiba gerakan Sejung terhenti.

Mwoya..” ucap Sejung tampak tertegun.

Aku yang merasa pegangan tangan Sejung mengendur itu turut berhenti dan menatap Sejung. “Wae?” tanyaku heran.

Yaa! Ige mwoya? Kau— dengan namja menyebalkan itu?” Sejung berkata dengan nada meninggi sambil menunjuk ke arah mading yang saat itu berada tepat di depan kami.

M-museun su—” ucapanku terhenti seketika saat kedua mataku menangkap sebuah tulisan sekaligus foto yang terpampang di mading sekolah. Murid Golden Kingo akhirnya menemukan pangeran impiannya di sekolah. MWORAGO?? Kedua mataku seketika membelalak lebar saat membacanya, apalagi di bawahnya terdapat fotoku yang tampak asyik bersandar di bahu seorang namja yang tak lain adalah Kim Taehyung. Oh! Matilah aku..

Yaa! Apa artinya ini? Kau— benar-benar berkencan dengan ketua kelas menyebalkan itu?”

A-anni.. I-ini tidak seperti—”

Yaa! Park Jiyeon kenapa kau mengabaikan kata-kataku, eoh? Bukankah sudah kubilang kalau aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian? Kenapa kau tidak mau mendengarku, eoh? Wae??”

Aish! Sudah kubilang ini tidak—”

“Apa kau lebih menyukainya dibandingkan dengan sahabatmu sendiri, eoh? Apa ka—emmphh..” aku membungkam mulut Sejung dengan erat sebelum dia lebih banyak bicara lagi.

Yaa! Tutup mulutmu dan dengarkan aku, Kim Sejung!.” ucapku sedikit kesal.

Setelah beberapa saat kemudian Sejung terlihat lebih tenang, akhirnya aku melepaskan bungkamanku. Kulihat yeoja itu masih menatapku dengan tajam seolah meminta penjelasan.

Aish! Jinjja.. Sejung-a, ini tidak seperti yang kau bayangkan. Ini semua salah paham. Percayalah..”

Akhirnya aku pun terpaksa menceritakan kejadian yang sebenarnya tadi pagi kepada Sejung. Tapi aku melihatnya masih memasang ekspresi wajah yang sama seperti sebelumnya.

Mwoya? Kau tidak mempercayaiku?” sungguh aku merasa tersinggung melihat ekspresinya itu.

“Jadi maksudmu, kau tidak tahu kalau ada Taehyung di sana dan tanpa sengaja ketiduran, begitu?”

Eoh.. Matjayo..”

Aish! Kalau begitu ini pasti ulah namja keparat itu. Dia harus diberi pelajaran..”

M-mwo? Yaa, kenapa kau jadi menyalahkan Taehyung? Dia juga korban di sini. Aish! Apa kau tidak mengerti? Sudah jelas ini ulah orang lain.”

Kulihat Sejung tak menjawab, namun ia terlihat berpikir. “Geurae.. Sepertinya kau benar. kita harus pergi ke ruang Club Mading dan mencari tahu siapa yang menulis berita seperti ini.”

Setelah berkata demikian, Sejung langsung merobek tulisan tersebut dan meremasnya dengan ekspresi penuh amarah. Aku justru merasa heran sendiri dengan sikapnya. Kenapa ia bisa semarah itu karena berita ini? Apa dia sebegitu bencinya dengan ketua kelas?

Kkaja!”ucapnya membuatku tersentak.

Eo-eodi?” tanyaku was-was.

“Kemana lagi? Tentu saja ke kelas. Apa kau sadar kalau kita sudah sangat terlambat?”

M-mwo? K-keunde aku—”

Geogjeongma (jangan khawatir). Kalau seisi kelas membullymu, aku yang akan menghadapi mereka.”

A-anni.. Masalahnya bukan itu—”

Tapi Sejung benar-benar menarikku dan memaksaku masuk kelas, sehingga aku pun terpaksa mengikutinya. Aish! Eottokhe? Aku bahkan tidak sanggup jika bertemu Taehyung sekarang. Aku masih ingat betapa kacaunya aku tadi pagi saat ia membangunkanku dan menatap wajah tak berdosanya itu. Aku bahkan hanya bisa berlari kabur tanpa berani menjawab pertanyaannya setelah membereskan semua cucianku. Oh, astaga! Apa yang sudah kulakukan? Dia pasti menganggapku yeoja yang aneh sekarang.

Kami berdua masuk ke dalam kelas dengan perasaan berdebar, anni, mungkin hanya aku yang berdebar. Aku masih menundukkan kepalaku tak berani mengangkatnya sedikitpun. Aku sudah pasrah dengan amarah Choi seonsaengnim karena keterlambatan kami. tapi aku masih belum siap jika harus bertemu pandang dengan Taehyung.

Sepi. Tak ada suara apapun. Mwoya? Apa karena Choi ssaem sangat marah sampai-sampai menegur kami pun tidak sudi?

Eoh! Kita selamat. Rupanya Choi ssaem belum datang.” ucapan Sejung membuatku spontan mengangkat kepalaku dan memperhatikan meja guru. Mwoya? Memang benar belum ada Choi ssaem di sana. Sesaat aku merasa lega karenanya. Tapi aku masih merasa ada kejanggalan. Kenapa seisi kelas sunyi sekali? Kenapa mereka semua terdiam seperti ini? Apa ada sesuatu yang terjadi? Namun belum sempat aku mengatakan apapun, tiba-tiba hampir semua teman-teman sekelasku bersorak sorai.

“Yeay! Chukkae, Jiyeon-a! Akhirnya kau menemukan pangeranmu!”

“Whoa.. Kalian benar-benar pasangan serasi. Ketua kelas Taehyung memang cocok denganmu.”

“Jiyeon-a, kita harus merayakan ini, eoh? Kebetulan hari ini Choi ssaem sedang berhalangan hadir, jadi kita bisa merayakannya, eotte?”

“Akhirnya.. Murid golden kita tidak sendiri lagi..”

“Jiyeon-a, aku turut bahagia dengan hubungan kalian.”

Aku masih terlalu shock dengan reaksi tiba-tiba ini sampai-sampai tak mampu berkata apapun. Padahal sejujurnya aku ingin sekali berteriak menghentikan mereka semua dan mengatakan kalau ini semua hanyalah salah paham. Tapi mereka benar-benar tak memberiku kesempatan sama sekali. Aku melihat ke arah bangku Taehyung. Kulihat namja itu sedang memijit-mijit keningnya. Tampak sekali kalau ia pun merasa pusing. Aku mengerti, pasti sejak tadi ia sudah berusaha menjelaskan namun tak ada perubahan apapun. Yah, aku cukup hapal dengan kebiasaan teman-teman sekelasku. Mereka memang sulit dikendalikan.

AISHH SHIKEUREOO (BERISIK)!!”

Seisi kelas mendadak terdiam seketika mendengar teriakan luar biasa barusan. Pandangan kami langsung mengarah ke suara tersebut. Aku sedikit terkejut karena rupanya itu adalah suara Sejung. Yeoja itu terlihat sangat murka. Ekspresi wajahnya tampak lebih menakutkan dari biasanya.

Brakk!!” tiba-tiba Sejung menggebrak meja dengan keras.

“Kalian semua, siapa di antara kalian yang sudah menyebar berita murahan seperti itu, hoh?” bentak Sejung dengan suara keras, yang segera disusul oleh bisikan-bisikan dan gumaman dari seluruh penjuru kelas.

Yaa, Sejung-a. kenapa kau bilang begitu? Bukankah itu sebuah kebenaran? Kami bahkan melihat sendiri foto mereka.”

“Ne, matjayo.. Lagipula berita yang sudah ditempel di mading sekolah itu sudah dipastikan benar-benar akurat. Jadi tidak mungkin itu palsu.”

Anni! Park Jiyeon sahabatku tidak akan pernah menjalin hubungan dengan namja seperti dia. Namja itu, sama sekali tidak pantas untuknya. Jadi siapapun yang berani menyebarkan berita murahan seperti itu lagi, dia akan berhadapan langsung denganku. Arrasseo?”

Setelah berkata demikian, Sejung berbalik, lalu pergi begitu saja dari kelas dengan gusar.

“Mwoya? Kenapa dia tiba-tiba bersikap begitu? Dasar aneh.”

“Apa jangan-jangan karena dia juga menyukai ketua kelas?”

“Mustahil. Kita semua tahu kalau dia membenci ketua kelas. Mereka berdua bahkan tidak pernah berhubungan baik sejak tingkat pertama.”

“Sebenarnya apa masalahnya? Tch.. Jinjja.. dasar tidak jelas.”

Aku semakin tidak tahan lagi dengan keadaan ini. Di satu sisi aku juga turut penasaran kenapa Sejung begitu marah karena berita ini. Tapi di sisi lain aku harus meluruskan semua permasalahan ini terlebih dahulu.

Geuge— yeoreobeun..” aku pun mulai angkat bicara, membuat semua teman-teman sekelasku memperhatikanku, “—sebenarnya semua ini memang hanya salah paham. Aku dengan ketua kelas— sama sekali tidak memiliki hubungan semacam itu. Dan mengenai foto itu— entah siapa yang menyebarkannya, keunde itu benar-benar tidak berarti apa-apa sama sekali. Geuge— tadi pagi aku terlalu mengantuk dan tidak sadar kalau di sebelahku ada ketua kelas. Jadi— begitulah, semuanya terjadi begitu saja. Aku yakin ketua kelas sengaja membiarkannya karena dia hanya tidak mau mengusik tidurku. Geuraesseo.. Ini semua hanya salah paham..”

Seketika terdengar suara gumaman dari teman-teman sekelasku begitu aku selesai berbicara.

“Mwoya? Jadi kalian tidak berkencan?”

“Aish! Padahal aku sudah senang kau punya namjachingu. Kalau tahu begini pasti namchinku akan terus-terusan melirikmu.”

“Keunde siapa yang sudah menyebarkan berita itu? Apa dia tidak punya pekerjaan lain selain membuat berita palsu begitu?”

“Kurasa Club Mading sudah semakin kacau saja akhir-akhir ini. Yaa, apa di antara kalian ada yang jadi anggota Club Mading?”

“Molla. Sepertinya di kelas kita tidak ada.”

“Jiyeon-a, ketua kelas, mianhae karena sudah salah paham pada kalian.”

Ahh.. Ne, gwaenchanha..” aku mencoba tersenyum, lalu melihat ke arah Taehyung berada. Kulihat namja itu tersenyum dan mengacungkan jempol padaku. Lagi-lagi wajahku terasa panas karenanya. Aish, aku masih merasa tidak enak padanya. Aku bahkan belum meminta maaf. Baiklah, aku akan meminta maaf padanya nanti saja. Aku masih merasa malu kalau sekarang. Ah matta. Sejung. Aku harus menemukan yeoja itu dulu.

Aku pun berjalan keluar kelas dan melewati koridor sambil mencoba menghubungi nomor Sejung. Cukup lama aku menunggu hingga akhirnya panggilanku pun diangkat olehnya.

Yaa, neo eodiya? Apa kau tidak ingin kembali ke kelas, eoh?” tanyaku.

Tak terdengar sahutan apapun dari Sejung.

“Sejung-a, gwaenchanha? Kenapa kau diam saja?”

Masih tak terdengar suara Sejung di seberang. Aku jadi panik sendiri dibuatnya.

“Y-yaa.. Jangan menakutiku begitu. Neon jeongmal gwaenchanha? Katakan padaku kau ada di mana sekarang! Aku akan menyusulmu.”

“Jiyeon-a.. Mianhae..”

Ada sedikit perasaan lega saat akhirnya kudengar suaranya, namun belum sepenuhnya lega.

W-wae? Kenapa kau tiba-tiba meminta maaf padaku?”

“Mian.. Aku hanya tidak mau kau merasa sakit karenanya. Dia— benar-benar tidak pantas untukmu.”

A-arrasseo.. Jangan meminta maaf lagi. Aku tahu kau melakukannya demi aku. Keunde katakan kau dimana sekarang?”

“Sepertinya aku akan bolos saja hari ini. Annyeong, Jiyeon-a..”

“Y-yaa, jamkanman! Sejung-a!”

Tuuut… tuut… tuut..

Aish! Aku menatap ponselku dengan kesal. Kenapa dia bersikap seenaknya begitu? Apa dia tidak sadar kalau aku mengkhawatirkannya? Lagipula sebenarnya masalah apa yang disembunyikannya dariku? Ck! Eottokhaji? Dimana aku harus mencari yeoja itu?

“Jiyeon-a!”

Aku menoleh mendengar panggilan itu, dan seketika terkejut saat melihat Taehyung yang sudah berjalan menghampiriku.

Eodiga (mau kemana)?” tanyanya padaku begitu ia sampai di depanku.

A-ah.. Aku mau mencari Sejung.”

Dwaesseo (lupakan saja). Biarkan saja dia.”

N-ne?” aku sedikit heran sekaligus kaget mendengar ucapan Taehyung itu.

“Biarkan dia sendiri. Aku yakin dia tak ingin diganggu oleh siapapun saat ini.”

Aku tak segera menyahut. Sejujurnya aku ingin bertanya secara langsung apa yang sebenarnya terjadi antara Sejung dengan Taehyung. Namun ketika aku hendak membuka mulutku untuk bertanya, Taehyung sudah menggelengkan kepalanya padaku. “Jangan bertanya padaku. Mian tapi kurasa aku tidak berhak mengatakan apapun tentang masalah ini. Biarkan Sejung sendiri yang memberitahukannya padamu.”

Oh! Aku sedikit terkejut saat Taehyung mengucapkan nama Sejung barusan. Ini pertama kalinya sejak kami masih duduk di tingkat pertama. Baru kali ini aku mendengar Taehyung mengucapkan nama Sejung dengan kedua telingaku sendiri.

“Kembalilah ke kelas. Jangan berkeliaran di luar. Choi ssaem memberikan tugas untuk kita.”

Tanpa menunggu jawaban dariku, Taehyung sudah beranjak dari tempatnya.

Ah, ketua kelas!” panggilku kemudian, membuat Taehyung kembali berhenti dan menoleh padaku.

Ne?” tanyanya.

Ah.. Geuge— aku— aku minta maaf atas kejadian tadi pagi. Mian tadi aku langsung pergi begitu saja. Jinjja— aku hanya terlalu gugup dan malu jadi aku langsung pergi begitu saja tadi.”

Aku memberanikan diri meminta maaf pada Taehyung dengan perasaan was-was sekaligus penasaran menunggu respon darinya. Namun tiba-tiba saja Taehyung berjalan mendekat lalu tersenyum dan menepuk kepalaku.

Arrasseo.. Tidak masalah. Kkaja.” ucapnya kemudian, lalu kembali berjalan mendahuluiku untuk masuk ke dalam kelas. Sementara aku masih terpaku di tempat. Mwoya? Ige mwoya? Tanpa sadar aku memegangi kepalaku sendiri. Ah, apa yang sedang kupikirkan? Sudah bagus Taehyung tidak mengutukku. Bukankah seharusnya aku merasa bersyukur? Tanpa menunggu lagi akhirnya aku pun mengikuti Taehyung masuk ke dalam kelas.

*

*

Author’s POV

Seorang murid yeoja Kingo tampak sedang berusaha menaiki pagar tembok sekolah sambil sesekali melihat ke sekelilingnya, khawatir kalau satpam sekolah memergokinya. Yeoja itu terlihat sedikit kesulitan saat menaiki pagar tembok tersebut, akan tetapi ia tak menyerah begitu saja hingga akhirnya ia benar-benar berhasil melompatinya dan keluar dari sekolah. Yeoja cantik yang tak lain dan tak bukan adalah Kim Sejung itu menarik napas lega untuk sesaat dan melangkahkan kedua kakinya. Ia memang benar-benar berniat membolos hari itu dan berencana pergi kemanapun ia mau. Ia merasa kalau dirinya butuh beberapa hiburan untuk sekedar menenangkan pikirannya yang saat itu sedang kacau.

Namun sedetik kemudian langkahnya mendadak terhenti saat kedua matanya menangkap seorang namja tak dikenalnya tampak berusaha masuk menaiki tembok pagar dari sisi yang lain. Secepat kilat Sejung bersembunyi di tempat yang agak terlindung. Yeoja itu menyipitkan kedua matanya berusaha mengenali namja tersebut namun sayang ia tak dapat menebak siapa karena namja itu mengenakan hoodie dan masker di wajahnya.

Mwoya? Apa dia datang terlambat? Tapi kenapa terlihat mencurigakan begitu?” gumam Sejung penasaran.

Sejung masih belum bisa menebak siapa namja itu namun sesaat kemudian mulutnya setengah menganga saat melihat namja itu melompati pagar tembok hanya dengan dua kali lompatan dan langsung menghilang di balik tembok.

D-daebak.. Sulit dipercaya. Apa dia itu spiderman?” ucapnya seorang diri.

Yeoja itu pun segera beranjak dan bermaksud memanjat masuk kembali. Ia benar-benar penasaran dengan namja hoodie barusan. Namun gerakannya terhenti saat menyadari seseorang mendekatinya dari belakang. Dengan cepat Sejung menoleh dan mendapati seorang yeoja paruh baya berambut pendek dengan penampilan anggunnya dan sepasang kacamata hitam tampak tersenyum ramah padanya.

Haksaeng, apa kau bersekolah di sini?”

*

*

Jiyeon’s POV

Jam istirahat sudah tiba, namun Sejung masih belum kembali ke kelas. Aku benar-benar mengkhawatirkan yeoja itu. Apa dia baik-baik saja? Aku sudah beberapa kali menghubungi ponselnya namun yang terdengar hanya suara operator. Aku bahkan sudah berkeliling hampir ke seluruh tempat yang biasanya didatangi Sejung. Namun hasilnya tetap nihil. Di saat aku hampir menyerah, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Gedung tingkat pertama. Apa mungkin Sejung berada di sana? Ah, aku bahkan baru ingat kalau yeoja itu sudah jatuh cinta pada Jungkook. baiklah, itu tidak penting sekarang. Yang penting aku harus mencarinya dulu sampai ketemu. Tanpa berpikir panjang lagi akhirnya aku pun pergi menuju gedung tingkat pertama.

Kini aku sampai di depan gedung club olahraga yang letaknya bersebelahan dengan gedung tingkat pertama. Sebelum aku benar-benar sampai di gedung tingkat pertama, terlebih dahulu kuambil napas sedalam-dalamnya. Entah bagaimana nasibku nanti saat berhadapan dengan murid-murid namja tingkat pertama begitu mereka melihatku, yang penting prioritas utamaku saat ini adalah mencari Sejung. Akhirnya aku pun benar-benar berjalan menuju gedung tingkat pertama. Mula-mula mereka tidak ada yang menyadari keberadaanku dan itu membuatku lega untuk sementara. Akan tetapi rupanya Tuhan berkehendak lain, karena tanpa sengaja aku justru menabrak seorang murid namja dan otomatis membuatnya menoleh padaku.

Eoh,, sunbae?”

Aish! Matilah aku. Pasti setelah ini dia akan berkoar-koar memberitahu yang lainnya kalau ada aku di sini.

Sunbae, kau tidak bersama Sejung sunbae?” ucapan namja itu membuatku sedikit tertegun. Ah, benar juga. Namja ini, aku mengingatnya. Namja yang beberapa hari yang lalu bertemu kami saat kami sedang mencari murid baru Jeon Jungkook. Aku tahu dia bukan fansku melainkan fans Sejung. Sekilas kulirik nametag di seragamnya. Jo jinho. Aku pun mencoba tersenyum padanya.

A-anni.. Aku sendirian. Ah, matta. Apa kebetulan kau melihat Sejung di sekitar sini?” tanyaku kemudian.

Anniyo. Apa sunbae sedang mencarinya? Mau kubantu?”

Ah- geuge—”

“Yaa! Itu Jiyeon sunbae, matji?”

“Eoh! Kau benar itu Jiyeon sunbae!”

“Yaa Jinho-ya kenapa kau memonopoli Jiyeon sunbae seorang diri, eoh?”

“Jamkanman! Apa kau tidak tahu berita di mading tadi pagi? Bukankah Jiyeon sunbae sudah punya namjachingu?”

“Aish! Siapa yang peduli? Aku masih mengaguminya.”

“Kkaja, kita kesana!”

“Eoh! Aku juga mau minta fotonya.”

Aku panik bukan main begitu melihat beberapa murid namja yang sudah bersiap menghampiriku. Eottokhe? Eottokhaji?

Sunbae, cepat pergi. Biar aku yang menghalangi mereka.”

Aku sedikit tersentak mendengar ucapan namja bernama Jinho itu dan seketika menyadarkanku.

Eo-eoh. Gomawo, Jino-ya.. Aku akan membalas kebaikanmu ini suatu hari nanti.” kataku, yang kemudian langsung berlari pergi meninggalkan gedung tingkat pertama. Namun rupanya murid-murid namja itu masih tetap mengejarku meskipun Jinho sudah berusaha menghalang-halangi mereka. Aish, aku jadi semakin panik dibuatnya. Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa murid-murid namja tingkat pertama begitu terobsesi padaku seperti ini. Ini sangat merepotkan. Terakhir aku meladeni mereka, aku justru malah repot sendiri dan berakhir dengan wajah keriput karena terus-terusan tersenyum di depan kamera ponsel mereka. Sejak saat itulah aku jadi malas dan tidak suka difoto.

Aku terus berlari dan hampir mencapai gedung club olahraga.

“Sunbae! Kajima! Ayo kita berfoto sebentar!”

“Jiyeon sunbae!”

Aish! Aku sudah kelelahan dan mereka masih mengejarku. Eottokhaji? Namun di saat aku kebingungan, tiba-tiba saja seseorang menarikku masuk ke dalam gudang penyimpanan sarana olahraga. Aku menahan napas saat orang itu membungkam mulutku. Aku semakin membelalak begitu menyadari kalau saat itu aku berada dalam pelukannya. Nugu? Siapa orang ini? Aku tak bisa melihat wajahnya karena dia mendekapku. Hanya aroma parfum tubuhnya yang tercium oleh hidungku dan hampir membuatku terbuai karenanya. Aku bahkan sampai bertanya-tanya dalam hati parfum macam apa yang digunakannya? Padahal aku tahu itu bukan saat yang tepat untuk penasaran.

Beberapa saat kemudian aku merasa bungkaman tangannya terlepas, namun aku masih bertahan pada posisiku karena aku sadar kalau aku mendadak jatuh cinta dengan aroma parfum orang ini.

“Apa kau begitu menyukai aroma tubuhku?”

Aku tertegun mendengarnya dan seketika membelalak begitu mengenali suara ini. Kim Myungsoo? Dengan cepat aku menarik diri dari dekapannya, namun namja itu menahanku.

Sstt.. Diamlah dulu. Mereka masih berada di luar. Apa kau ingin menjadi bulan-bulanan mereka di luar sana?”

Mau tak mau aku pun terpaksa menuruti ucapannya. Meski begitu posisi seperti ini benar-benar menyiksaku. Oh tidak, kenapa akhir-akhir ini aku sering berada dalam kondisi seperti ini? Aku memang berniat tidak menjauhi namja lagi, keunde ini benar-benar di luar rencana. Mau dilihat darimanapun juga ini benar-benar terlalu dekat. Aku semakin menegang saat kurasakan napas Myungsoo sunbae yang mengenai puncak kepalaku. Mwoya? apa dia saat ini sedang menunduk memperhatikanku? Aku refleks meneguk salivaku sendiri. Aish! Aku benar-benar tak berani bergerak sama sekali dan hanya mampu diam menunduk di hadapannya. Bahkan saking tegangnya, aku sampai memejamkan kedua mataku. Namun sesaat kemudian aku merasakan kepalaku ditepuk-tepuk olehnya, membuatku kembali membuka kedua mataku.

Wae geurae? Kenapa kau gemetaran? Geogjeongma, aku tidak akan berbuat macam-macam. Emm.. setidaknya belum.” ucapnya membuatku spontan lepas dari keteganganku dan refleks mengangkat kepalaku menatapnya.

Kulihat ia hanya balas menatapku dengan senyum manisnya.

Ahh

Ahh.. Geurae, kuakui senyumnya memang manis. Dan aku berani bertaruh kalau siapapun yeoja yang melihatnya tentu akan langsung luluh dan jatuh hati. Tapi tidak denganku— ehm, yah, kurasa.

“Apa maksudnya ‘belum’?” tanyaku kemudian. Tentu saja, aku merasa agak tersinggung dengan ucapan terakhirnya barusan.

“Park Jiyeon. Sepertinya aku akan mengatakan ini sekarang saja.”

N-nde?” aku kebingungan dengan ucapannya yang sepotong-potong itu.

“Kurasa— aku sudah tertarik denganmu. Aku— menyukaimu, Park Jiyeon..”

Deg!

Entah kenapa tubuhku mendadak terasa kaku seketika mendengar pernyataan frontal itu. Mwoya? Apa katanya barusan? Tertarik padaku? Menyukaiku? Oh, baiklah, aku tahu selama ini aku sering mendengar ucapan seperti itu dari namja-namja lain. Keunde saat ini, ucapan itu terasa berbeda entah kenapa. Apa karena ini keluar dari mulut seorang anak pemilik Kingo? Whoa jeongmal, ini benar-benar sebuah beban untukku.

S-sunbae—”

Ahh.. Kuakui aku memang menyukaimu, tapi bukan berarti kita bisa berkencan saat ini juga. Geurae, anggap saja kita akan melakukan tahap pengenalan satu sama lain lebih jauh lagi terlebih dahulu. Dengan begitu kita tidak akan merasa canggung saat menjadi semakin dekat nantinya.”

M-mwo?” aku benar-benar melongo tak habis pikir mendengar ucapan seenaknya dari namja di depanku ini. Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu begitu saja? Jadi maksudnya dia pikir aku juga tertarik padanya begitu? Whoa.. jinjja..

“Myungsoo sunbae—”

Ah matta. Mengenai berita di mading tadi pagi, aku tahu itu bukan yang sebenarnya, geutji? Jadi kurasa itu tidak jadi masalah.”

Geuge—”

“Berikan ponselmu.” lagi-lagi namja itu menyela ucapanku dan meraih ponsel milikku yang sejak tadi kugenggam begitu saja. Setelah mengetikkan beberapa nomor dan menyimpannya, ia mengembalikan ponsel milikku. Aku kesal karena aku bahkan tak sempat mengatakan apapun saat itu. Kulihat namja itu menatapku dan tersenyum padaku.

Kkaja. Sepertinya mereka sudah pergi.” katanya kemudian sambil menarik tanganku. Aku mencoba melepaskannya namun ia tetap menggenggamnya dengan erat.

Sunbae, hentikan! Jebal!” kataku pula dengan suara keras. Aku sungguh tak tahan dengan sikap seenaknya itu. Aku tahu, terus terang aku senang dan sangat menghargai kejujurannya mengenai perasaannya padaku. Tapi entah kenapa aku tidak menyukai caranya yang seperti itu. Benar-benar tidak suka.

Kulihat Myungsoo sunbae kembali menatapku.

Wae?” ia bahkan bertanya seolah tak merasa berdosa sama sekali.

Dengan keras aku melepaskan tanganku yang digenggamnya hingga terlepas, lalu membuang napasku cukup panjang.

Sunbae, apa selalu seperti ini perlakuanmu terhadap yeoja-yeoja lain? Sikapmu yang seperti ini, sungguh aku tidak menyukainya. Sunbae selalu bersikap seenaknya pada siapa saja. Apa sunbae pernah sekali saja memikirkan bagaimana perasaan orang lain?”

Wae? Bukankah seharusnya kau merasa senang karena aku sudah tertarik padamu? Aku memilihmu. Kau tahu hampir semua yeoja di Kingo mengharapkan hal itu.”

Sunbae, jebal. Aku adalah aku, dan aku sama sekali berbeda dengan yeoja yang sunbae sebutkan itu. Jadi jangan samakan aku dengan mereka. Jeoseongeyo, aku harus pergi. Gomawo sudah menyelamatkanku dari murid-murid namja itu tadi.”

Tanpa menunggu jawaban dari Myungsoo sunbae, aku langsung membuka pintu gudang. Kurasa orang seperti Myungsoo sunbae tidak akan mengerti apa maksudku. Dan aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya agar dia bisa mengerti. Namun begitu aku hendak keluar, langkahku terhenti karena tiba-tiba saja di depan pintu sudah berdiri seorang namja yang cukup kukenal.

“J-Jungkook?”

Jungkook tak menyahut. Namun ekspresi wajahnya terlihat sangat dingin dan berbeda dari biasanya. Mwoya? Apa yang terjadi padanya?

 Mwoya? Apa yang terjadi padanya?

*

*

To be continued..

Annyeong!

Alhamdullillah sejauh ini update-annya lumayan teratur ya tiap minggu. Ini semua berkat kalian yang udah berbaik hati ngasih vote dan ngga diem-diem aja alias ninggalin jejak berupa komentar. Soalnya kalo duit mustahil. Tapi bener loh, itu merupakan sumber kekuatan bagi author buat lanjutin ceritanya. Kalo ga percaya coba deh tanya author2 lain atau engga buktiin ajalah sendiri, pasti bakal rasain kebenaran omongan hayati ini, ciyahh

Ohya, mian ya buat para MyungYeon shipper, atau JiyKook shipper, atau bahkan VYeon shipper, kalo ternyata moment pairing idola kalian masih kurang banyak. Sebenernya mau dibanyakin terutama yang MyungYeon, soalnya banyaknya protes dari MYS, wkwk tapi ya gimana, sabar dulu ya.. Soalnya ini ceritanya bakal panjang rencananya.. Jadi aku bikinnya bener-bener mulai dari enol banget.. Huhuhu miaaann.. Semoga kalian mengerti.. TT

Akhirul kalam, semoga bisa apdet minggu depan ya. Ditunggu vote dan komentarnya..

Salam beng-beng ^^
_

| TEASER | PART 1 | PART 2 | PART 3 | PART 4 |

Advertisements

50 responses to “[CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 3

  1. Wah semakin lama cerita nya semakin keren aja eonny
    Daebak hohoho jiyeon d pasangin ma mereka ber tiga cocok semua
    Tp kasihan jeonkook blm kebagian moment ber dua ma jiyeon
    D tunggu llnjtan nyaaaaa

  2. Pingback: [CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 9 | High School Fanfiction·

  3. Pingback: [CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 8 | High School Fanfiction·

  4. Pingback: [CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 7 | High School Fanfiction·

  5. Duhhhhh gila cowonya pangeran semua huwe pada cocok lagi ama jiyeon jd binggung kudu shipperin siapa >□< tetep myungyeon ah kkkk~
    Ngmg2 sejung ama v saudaraan apa gimana dah? Binggung deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s