[CHAPTERED] A Golden Girl Story – Part 2

wattpad

Title : A Golden Girl Story

Author : Yochi Yang

Main Casts : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Jeon Jungkook, Kim Taehyung

Other Casts : Kim Sejung, Kim Seokjin, Jo jinho, etc

Genre : School-life, Romance, Slice of Life, Drama

Rating : General

——————————————

| TEASER | PART 1 | PART 2 | PART 3 | PART 4 |

Author’s POV

Jungkook tampak berjalan menyusuri koridor asrama Kingo. Ini adalah hari pertama ia masuk ke asrama tersebut. Di depan tadi ia sudah bertemu dengan Lee Howon, kepala asrama namja. Menurut keterangan namja tersebut, Jungkook akan tinggal di kamar nomor 105, yang berada di lantai 2. Kini namja itu sudah berada di lantai 2 dan mulai mencari kamar yang akan ia tempati. Begitu menemukannya, ia membuka pintu tersebut.

Krieett..

Namja itu tertegun sejenak melihat interior kamar tersebut. Hampir tak seperti yang dibayangkannya. Ia pikir kamar yang akan ditempatinya sangat luas dan mewah mengingat iini adalah asrama Kingo. Namun rupanya tak semewah itu. Hanya kamar yang cukup sederhana namun tak terlalu sempit juga dengan dua pembatas dinding dan satu ranjang susun. Ada sebuah tangga kecil juga yang mengarah ke atas. Dari bawah ia bisa melihat ada tempat tidur juga di sana. Dengan perlahan Jungkook masuk ke dalam.

Eoh! Kau murid pindahan itu, geutji?”

Jungkook sedikit terkejut dan menoleh ke asal suara. Tampak olehnya seorang namja yang hanya mengenakan handuk di bagian bawah dengan rambut yang basah. Sudah dapat disimpulkan kalau ia baru saja selesai mandi.

Annyeonghaseyo. Ne, aku murid pindahan tingkat pertama. Jeon Jungkook imnida.” Jungkook memperkenalkan diri dengan sedikit membungkuk.

Ah, tak perlu bersikap formal begitu. Namaku Kim Seokjin. Aku memang murid tingkat ketiga, tapi karena kau sekarang jadi teman sekamarku, panggil saja aku Jin Hyung.”

“Ah, ne, Hyung!”

Jin tersenyum simpul, lalu berjalan menuju lemari pakaiannya.

“Kau bisa memilih tempat tidur sesukamu. Ah, keunde  kau tidak bisa tidur di atas. Sudah ada penghuninya. Yah.. Kendati orangnya jarang ada juga.” ucap Jin yang mulai mengenakan t-shirt.

Eoh, keunde, bukankah setiap kamar hanya ada dua penghuni? Apakah ada pengecualian untuk itu?”

Ah, kau benar. Sebenarnya hanya ada 2 orang untuk satu kamar. Tapi Lee ssaem bilang khusus untuk kamar ini ada pengecualiannya.”

Jungkook tak bertanya lagi. Meskipun masih penasaran, ia memilih diam dan membongkar pakaiannya dari dalam koper miliknya. Kalau boleh jujur, namja itu sudah memiliki firasat yang kurang baik sejak masuk kamar ini. Tapi sesaat kemudian ia segera menepisnya jauh-jauh dan melanjutkan membereskan barang-barangnya.

*

*

Jiyeon’s POV

Kriiinng!!

Aku membuka kedua mataku dengan berat. Jam weker milikku terus saja berbunyi karena aku sengaja menaruhnya di tempat yang tak bisa kujangkau agar aku tak bisa mematikannya. Perlahan aku bangkit dari tempat tidur dan beringsut meraih jam weker milikku lalu mematikannya. Nyawaku masih belum sepenuhnya terkumpul hingga kedua mataku menatap suasana di sekitarku. Seketika aku baru sadar kalau saat ini aku tengah berada di kamarku sendiri, di rumahku.

Begitulah. Kemarin adalah hari minggu dan aku memang berniat pulang ke rumah. Aish, rasanya benar-benar waktu yang singkat. Sekarang bahkan sudah hari Senin lagi. Ah matta, ngomong-ngomong soal Senin, aku baru ingat kalau hari ini adalah jadwal piket harianku di kelas.Untung saja semalam aku mengatur alarm lebih awal dari biasanya. Jadi aku tidak khawatir akan kesiangan.

Selepas mandi dan bersiap-siap, aku keluar dari kamar untuk bergabung dengan Eomma dan Appa di meja makan. Namun sesampainya di sana aku hanya melihat Appa yang sudah berpakaian rapi.

Eomma eodiseo?” tanyaku seraya mengambil tempat duduk di samping Appa.

Eommamu baru saja berangkat.”

Mwoya? Sepagi ini?”

“Katanya di daerah Daegu sedang ada berita hangat yang banyak diminati oleh publik, jadi Eommamu buru-buru kesana untuk meliput.”

Hoo.. Eomma bekerja terlalu keras, sampai-sampai tidak sempat makan pagi. Padahal dia sudah menyempatkan membuat sarapan untuk kita. Pasti Eomma capek sekali.” gumamku.

“Tidak perlu terlalu memikirkan Eommamu. Eommamu tahu mana yang terbaik. Jja, makanlah, bukankah kau akan berangkat lebih awal hari ini?”

Um.. ” anggukku, lalu segera mengisi piringku dengan nasi dan lauk yang sudah Eomma buat.

Eomma memang bekerja sebagai seorang Jurnalis di salah satu kantor redaksi di Seoul. Aku tidak tahu bagaimana detailnya, yang jelas Eomma sangat jarang berada di rumah. Aku tahu kegiatan sebagai Jurnalis itu benar-benar sibuk dan selalu bepergian ke tempat-tempat yang tidak terprediksi. Hmm, padahal tidak setiap hari aku bisa bertemu dengan Eomma dan Appa. Tapi apa boleh buat? Itu memang pekerjaan Eomma.

Terkadang aku berpikir, apa enaknya jadi seorang jurnalis. Tapi Eomma pernah mengatakan padaku kalau menjadi seorang jurnalis adalah impiannya sejak kecil. Dan Eomma bilang kalau itu pekerjaan yang menyenangkan karena selalu mendapatkan pengalaman baru setiap harinya dan juga bisa mengenal orang-orang baru. Meskipun aku tidak begitu mengerti, tapi aku tidak tertarik sama sekali untuk menjadi seorang Jurnalis. Aku lebih suka dengan pekerjaan Appa. Appa mengajar di salah satu sekolah Elementary swasta di Seoul. Menurutku pekerjaan Appa lebih menyenangkan dan tenang daripada menjadi Jurnalis. Tapi aku sendiri juga masih belum tahu akan menjadi apa aku kelak. Padahal seharusnya aku sudah mulai memikirkannya. Hmm.. Mungkin kelak aku akan jadi orang paling jenius di dunia, muehehe..

*

*

Aku sampai di depan sekolah Kingo dengan napas lega. Untuk sejenak aku menatap gerbang sekolahku itu dengan perasaan bangga. Kalau dipikir-pikir, aku sangat hebat bisa bersekolah di tempat ini. Ah, pokoknya aku bersyukur sudah dikaruniai otak jenius.

Aku bermaksud kembali melangkah, namun tanpa sengaja aku melihat seorang namja yang mengenakan hoodie sedang berdiri tak jauh dari gerbang sekolah. Entah apa yang dilakukannya namun sepertinya ia sedang sibuk dengan ponsel miliknya. Aku mengerutkan keningku. Sepertinya dia bukan murid Kingo. Meskipun memakai hoodie aku tahu dia tidak memakai seragam sekolah Kingo. Lalu apa yang sedang dilakukannya di sana?

Sebenarnya aku tak mau tahu dengan urusan namja itu. Tapi aku kembali berpikir, mungkin sebaiknya aku mulai memberanikan diri berinteraksi dengan namja lebih sering agar aku tidak terus menerus terjebak dalam trauma masa kecilku itu. Lagipula mungkin saja orang itu butuh bantuanku. Maka setelah menarik napas cukup panjang,  aku pun menghampirinya dengan perlahan.

Jeogiyo.. Kau bukan murid Kingo, geutji? Apa ada yang bisa kubantu?”

Namja itu tampak sedikit terkejut dan menoleh padaku. Oh, kurasa namja ini bukan orang Korea. Wajahnya tampak sedikit berbeda.

Ah, anni.. Aku— sedang menunggu temanku.” katanya pula sambil tersenyum.

Hoo.. Kau punya teman di Kingo. Keunde sepertinya kau bukan orang Korea.”

Ah, ne.. Aku keturunan Jepang.. Kebetulan baru pindah kemari beberapa bulan yang lalu.”

Geurae? Tapi bahasa Koreamu cukup lancar juga. Ah, kalau boleh tahu kau bersekolah di mana?”

Ah, mian. Aku harus pergi. Sepertinya— temanku sedang menunggu di tempat lain. Geureom..” namja itu sedikit membungkuk padaku, lalu beranjak pergi begitu saja meninggalkanku.

Mwoya? Padahal aku hanya bertanya dia sekolah di mana. Tapi sepertinya dia memang sedang terburu-buru. Akhirnya aku pun memutuskan kembali melanjutkan perjalananku masuk ke dalam.

Tepat seperti yang kuharapkan, saat memasuki kelas aku masih belum melihat siapapun di dalam. Artinya aku yang pertama datang. Entah kenapa, aku selalu merasa senang dan bangga setiap kali menjadi yang pertama datang ke kelas. Dengan penuh semangat aku segera menghapus whiteboard dan menuliskan namaku di pojok kanan bawah, menandakan kalau hari ini adalah jadwal piketku.

Kriet..

Aku menoleh dan mendapati Taehyung yang baru saja masuk ke dalam kelas.

Eoh! Ketua kelas kau sudah datang?” sapaku sambil tersenyum padanya.

Benar juga. Hari ini adalah tugas piketku bersama Taehyung. Tidak heran kalau ia datang sepagi ini. Tapi kurasa meski tidak sedang piket pun Taehyung pasti selalu berangkat pagi-pagi.

Kulihat Taehyung hanya mengangguk menanggapi sapaanku, lalu berjalan menuju bangkunya. Ngomong-ngomong, sebenarnya aku merasa kalau sikap Taehyung akhir-akhir ini sedikit aneh padaku. Dia jarang bicara atau bahkan tersenyum sekalipun padaku. Aku jadi penasaran apa dia sedang ada masalah? Tapi aku terlalu takut untuk bertanya, mengingat dia adalah tipe orang yang tertutup. Tanpa bicara apapun lagi aku pun mengambil sapu dan mulai membersihkan ruang kelas. Taehyung membantu merapikan bangku yang tidak teratur dan membersihkan debu-debu menggunakan kemocing.

Kurang lebih 10 menit kemudian aku selesai menyapu seluruh ruangan kelas dan bersiap akan membuang sampah, tapi Taehyung menahan tanganku.

“Biar aku yang membuangnya. Kau pasti lelah. Istirahat saja.” katanya.

Anni, selama itu tidak berlari, tubuhku masih kuat. Tenang saja, ketua kelas.”

“Jangan membantah. Kakimu baru saja sakit. Istirahatlah.”

“Taehyung-a..” aku merasa sedikit terharu melihat Taehyung yang berjalan keluar kelas sambil menjinjing tempat sampah yang semula hendak kubuang. Aku tidak menyangka kalau ia tahu soal kakiku yang sakit tempo hari akibat injakan Kim Myungsoo. Padahal itu sudah berlalu dua hari yang lalu. Aigoo ketua kelas memang super pengertian dan perhatian. Aku tersenyum sendiri dibuatnya. Mungkin aku terlalu berburuk sangka karena telah mengira ia bersikap aneh padaku.

*

*

Author’s POV

Seorang murid namja yang tampan dengan seragam sekolah yang dilapisi blazer itu terlihat baru saja keluar dari sebuah limousine hitam. Dengan langkah santai ia berjalan memasuki gerbang sekolah. Seperti yang ia duga, beberapa murid yeoja yang berada di sekitar sana tampak memperhatikannya terpesona seperti biasanya. Namun tak ada satu pun dari mereka yang berani mengatakan apapun, melainkan hanya melihat dari kejauhan. Tentu saja, Kim Myungsoo, namja yang baru tiba tersebut memang dikagumi dan disegani hampir semua penghuni sekolah, mengingat ia adalah anak dari pemilik Kingo. Dan meskipun ia memiliki paras yang rupawan, namun namja itu terkenal dingin dan sedikit kasar. Ia tidak suka jika ada yeoja yang mendekatinya dengan bersikap sok manis atapun sok mencari perhatiannya. Ia bahkan tidak segan-segan berbuat kasar jika yeoja manapun bersikap di luar batas terhadapnya. Untuk itulah tak ada satupun yeoja yang berani mendekati Myungsoo secara langsung, meskipun mereka tetap mengagumi namja bermarga Kim tersebut.

Eoh! Myungsoo-ya! Baru sampai?” sapa seorang namja tak kalah menawannya pula dari Myungsoo, sambil berjalan mendekati namja tersebut.

Mwoya? Sepertinya pagi ini kau terlihat tidak senang.” balas Myungsoo saat melihat namja di depannya itu menunjukkan ekspresi malas.

Namja dengan nama Kim Seokjin yang tertera di nametag miliknya itu mengangkat bahu. “Tidak juga. Hanya sedikit jengah melihat kerumunan itu.”

“Kerumunan? Apa maksudmu?”

Neon molla? Yaa, bagaimana kau bisa tidak tahu? Lihatlah, murid pindahan itu benar-benar sudah sangat populer. Ia sudah seperti seonggok madu saja yang dikerumuni banyak lebah.”

Myungsoo menoleh dan mendapati beberapa murid yeoja yang tengah berkerumun. Lalu sesaat kemudian ia melihat sesosok murid namja yang tampak buru-buru atau lebih tepatnya ketakutan setengah berlari menjauhi kerumunan yeoja tersebut. Myungsoo mengerutkan kening saat melihatnya. Ia mencoba memastikan apakah yang dilihatnya itu benar atau tidak.

“Jeon Jungkook?” gumamnya kemudian.

Eoh, kau sudah mengenalnya? Apa kalian sudah sempat bertemu? Keunde, kapan kau kembali ke asrama? Bukankah semalam kau tidak ada di asrama?”

Mwo? Apa yang kau bicarakan?”

Mwoya? Jadi maksudmu kau belum sempat bertemu dengannya? Aah.. Jungkook, namja itu, dia jadi teman sekamar kita sekarang. Aku juga penasaran kenapa dia ditempatkan satu kamar dengan kita. Padahal setahuku peraturan di asrama hanya memperbolehkan 2 orang untuk satu kamar.”

M-mworago?”

*

*

Jungkook terlihat tergesa saat berjalan menuju gedung kelasnya. Namja itu setengah menyesal karena sudah menuruti keinginan Appanya untuk bersekolah di tempat ini. Padahal namja itu sudah mengatakan kalau ingin bersekolah di sekolah khusus para namja. Tapi ia tak bisa menolak keinginan Appanya karena ia tahu itu semua juga demi kebaikannya sendiri agar bisa menghilangkan phobianya secara perlahan. Lagipula ini pun juga keinginan dari seseorang yang cukup penting bagi Jungkook. Meskipun sebenarnya ia merasa sangat enggan jika harus bersekolah di Kingo karena suatu alasan yang lain.

Begitu merasa dirinya terbebas dari kerumunan para yeoja, Jungkook menarik napas lega dan mulai berjalan secara normal.

“Apa hari pertamamu di sekolah menyenangkan?”

Jungkook sedikit terkejut dan berhenti sejenak, lalu melihat ke arah suara barusan. Air mukanya berubah begitu melihat siapa yang baru saja menegurnya itu, meskipun ia sudah menduga kalau hal ini akan terjadi.

Annyeonghaseyo, sunbae-nim.” sapa Jungkook mencoba bersikap ramah dengan setengah membungkuk.

Kim Myungsoo, namja yang baru saja menegur itu memasang wajah terkejut melihatnya.

Mwoya? Sikapmu berbeda sekali dengan saat terakhir kali kita bertemu dulu. Apa mungkin— kau sudah tidak membenciku lagi? Hoo, rupanya kau sudah lebih dewasa sekarang,”

Jungkook tak menjawab dan memilih diam menunduk. Myungsoo pun berjalan mendekati Jungkook dan menepuk bahu namja itu, “Arrasseo.. Aku bisa mengerti akan sikapmu yang dulu. Aku memang salah. Keunde, aku bahkan tidak pernah menyangka kalau kau akan bersekolah di sini. Apa mungkin kau sudah mulai menerima—”

Jeoseonghamnida. Aku harus masuk kelas.” potong Jungkook, lalu setelah membungkuk hormat, ia bergegas pergi dari hadapan Myungsoo.

Myungsoo terdiam di tempatnya dengan kedua matanya yang menatap punggung Jungkook yang semakin menjauh. Namja itu hanya mengangkat bahu dan membuang napas dengan asal, lalu memilih berbalik untuk menuju gedung kelasnya.

*

*

Sementara itu Jungkook tampak berjalan dengan sedikit gusar. Tidak ada yang tahu apa yang tengah terjadi dengannya, atau apa yang terjadi antara dia dengan Myungsoo. Yang jelas namja itu saat ini merasa moodnya seketika rusak setelah bertemu Myungsoo, padahal ia sudah berusaha mempersiapkan diri dan berantisipasi saat bertemu dengan Myungsoo. Namun ternyata ego dan emosinya jauh lebih kuat dari dugaannya. Kedua tangannya mengepal keras setiap kali mengingat masa lalu yang selalu saja mengganggu pikirannya selama ini. Tanpa sadar Jungkook refleks meninju tembok yang berada di dekatnya dengan cukup keras.

Bugh!

Ohmo!”

Jungkook terkejut mendengar suara tersebut, dan setelahnya ia pun tersadar kalau ia hampir saja salah sasaran meninju seorang  yeoja yang kebetulan lewat di depannya.

Ah, j-jeoseonghamnida.” ucap Jungkook gugup sambil menunduk.

Eoh, Jungkook-a, gwaenchanha?

Jungkook menatap sejenak ke arah murid yeoja yang kini tengah mengenakan seragam olahraga tersebut, namun kembali menundukkan pandangannya dengan cepat.

“J-Jiyeon sunbae, jeoseongeyo. A-aku tadi hampir memukulmu.”

Yeoja yang ternyata memang Jiyeon itu tak segera menjawab. Ia justru merasa keheranan melihat Jungkook yang seperti sedang marah itu. Yeoja itu melihat jari tangan Jungkook yang semula dipakainya untuk memukul tembok dan seketika ia pun tersentak.

Ohmo! Jungkook-a, tanganmu—” secara refleks Jiyeon menyentuh tangan Jungkook, namun Jungkook bahkan jauh lebih cepat menarik tangannya kembali sambil melangkah mundur. Jiyeon tersadar dibuatnya.

Ah, mianhae.. Aku lupa kau pengidap gynophobia. Keunde tanganmu— gwaenchanha? Itu terlihat memar. Pasti sakit sekali.”

N-nan gwaenchanha. G-gomawo sudah mengkhawatirkanku..”

Jiyeon tak menyahut melainkan hanya menghela napas. Kenapa tiba-tiba namja ini memukul tembok? Apa ia sedang kesal? Apa yang membuatnya sampai kesal begitu? Begitulah yang dipikirkan Jiyeon saat itu. Terus terang ia merasa iba melihat Jungkook yang seperti itu. Entah kenapa ada sedikit keinginan di hatinya untuk membuat namja itu sembuh dari penyakitnya. Tapi ia sendiri bahkan tak tahu bagaimana caranya.

“Kau– pasti merasa sangat tertekan.” katanya kemudian seolah ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya.

Jungkook tak menyahut dan masih menunduk.

Geogjeongma, selama kau hanya takut pada yeoja, pasti kau akan memiliki banyak sahabat namja, geutji? Aku tidak tahu seperti apa atau bagaimana caranya namja bergaul, keunde, paling tidak kau bisa berbagi masalah dengan mereka. Ehm, geuge— Sebenarnya— aku pun sedikit takut terhadap namja.”

Jungkook sedikit terkejut mendengarnya. “S-sunbae— juga?” tanyanya.

Ah, tidak begitu parah. Hanya saja aku sedikit menghindari namja karena suatu alasan. Tapi terkadang aku juga ingin membuang trauma kecilku ini dan mencoba terbiasa berinteraksi dengan namja. Bagaimanapun juga tidak mungkin selamanya aku terus menerus menghindari namja. Lagipula suatu saat nanti aku pun harus menikah dengan seorang namja. Jadi mau tak mau aku tetap harus berusaha menghilangkan traumaku ini. Ahh.. Geurideo— kalau kau juga berubah pikiran dan ingin mencoba sembuh dari phobiamu, aku siap membantumu. Jadi kita bisa sama-sama saling membantu dari trauma kita masing-masing. Eotte?”

Jungkook masih tak menjawab, namun namja itu mencoba meresapi kata-kata Jiyeon barusan.

“Jiyeon-a! Mwohaneun geoya? Ppalli! Semuanya sudah berkumpul di gedung olahraga!”

Jiyeon menoleh mendengar teriakan barusan. Rupanya Sejung yang berteriak sambil melambaikan tangannya di kejauhan.

Eoh! Aku segera datang! Ah, aku harus pergi. Jungkook-a sebaiknya kau pergi ke UKS, aku tahu kau tidak merasa sakit, tapi lukamu itu tidak main-main. Jadi kau harus mengobatinya. Arrasseo?”

Sebelum Jungkook menyahut, Jiyeon sudah beranjak dan berlari meninggalkannya. Jungkook masih bisa mendengar yeoja itu sempat mengeluh dan menggerutu tak jelas saat ia pergi. Tanpa sadar namja itu tersenyum seorang diri sambil menatap punggung Jiyeon yang semakin jauh dari pandangannya. Beberapa saat kemudian namja itu menyentuh dadanya sendiri. Ia merasakan ada sesuatu yang ganjal di sana, namun ia sendiri tak tahu apa itu.

“Park Jiyeon..”

*

*

Jiyeon’s POV

Hosh! Hosh! Aku terengah-engah saat menghampiri Sejung yang telah ikut berbaris rapi di lapangan yang berada di gedung olahraga. Terus terang, pelajaran yang paling tidak kusukai adalah pelajaran olahraga, tentu saja karena aku harus mengeluarkan banyak tenaga. Bagiku itu sangat merepotkan, apalagi jika aku harus berlari. Aish itu sama sekali bukan hobiku. Tapi entah kenapa, begitu aku melihat Kang Minhyuk Seonsaengnim yang sangat manis dan murah senyum itu, acapkali rasa penatku terobati. Apalagi Kang ssaem adalah guru olahraga yang baik dan tidak pernah memaksakan kehendak pada kami. Mungkin di sekolah ini dialah satu-satunya guru idola kami, terutama bagi para murid yeoja.

Begitu selesai mengabsen kami satu persatu, Kang ssaem pun berkata,

Begitu selesai mengabsen kami satu persatu, Kang ssaem pun berkata, “Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul, kita akan memulai pelajaran hari ini. Seperti yang sudah saya katakan minggu lalu, hari ini kita akan melakukan test lari sprint sejauh 200 meter memutari lapangan yang sudah saya tandai..”

Aku mendelik lebar mendengarnya. Apa katanya? Lari sprint? Dengan tatapan protes aku menoleh pada Sejung.

Ah matta. Minggu lalu kau ijin tidak masuk sekolah jadi pasti tidak tahu. Mian aku lupa memberitahumu, hehe.” balas Sejung dengan cengirannya, membuatku semakin kecut karenanya.

“.. bagi siapa saja yang kemampuan larinya memenuhi syarat, dia akan langsung saya masukkan dalam daftar peserta turnamen marathon yang akan diadakan 3 bulan lagi. Geureom, berbarislah dan segera bersiap untuk siapa saja yang saya sebutkan namanya. Pertama, Shin Wonho, Jung Wooseok, Kim Taehyung.”

Ketiga namja yang disebutkan namanya itu pun maju ke depan dan mulai memposisikan diri di garis awal.

“Aku bertaruh pasti Wooseok yang menang.” ucap Sejung padaku.

Tubuh Wooseok memang sangat tinggi. Kakinya sangat panjang, sehingga siapapun bisa menebak kalau larinya cepat. Tapi Taehyung juga tidak kalah dalam bidang olahraga. Entahlah, aku bahkan tidak ingin mengkhawatirkan orang lain saat ini. Aku benar-benar frustasi. Kenapa harus lari?

“Ketua kelas, berjuanglah. Aku mendukungmu!”

“Wooseok-a, jangan khawatir, kau pasti menang.”

“Wonho-ya, tubuhmu sangat ringan, pasti kau lebih cepat sampai ke garis finish!”

“Taehyung-a, kaulah yang terbaik. Aku mendukungmu! Fighting!”

Tch! Mwoya? Jelas-jelas Wooseok-lah yang lebih banyak memiliki peluang untuk menang. Bicara apa kalian ini.” kata Sejung sambil mencibir ke arah Taehyung.

Kulihat Taehyung menoleh saat mendengar ucapan Sejung, namun yeoja itu segera membuang muka. Pandangan Taehyung beralih padaku. Mau tak mau aku pun mengangkat sebelah tanganku untuk menyemangatinya.

Fighting!” ucapku tanpa suara. Bisa buruk jadinya kalau Sejung sampai mendengar aku menyemangati Taehyung.

Taehyung tersenyum kecil menanggapinya dan kembali fokus ke depan.

Priiitt!!”

Begitu peluit dibunyikan, ketiga namja itu langsung berlari sekuat tenaga. Semua murid mulai berteriak-teriak menyemangati mereka. Aku tercengang melihat betapa kencangnya ketiga namja itu saat berlari. Aku bahkan hampir tidak percaya kalau Taehyung mampu mengimbangi kaki panjang Wooseok. Tapi tetap saja, Wooseok jauh lebih unggul berkat kaki panjangnya itu. Dan akhirnya Wooseok sampai di garis finish pertama kali, disusul Taehyung, lalu Wonho.

Hahaha apa kubilang. Wooseok lah pemenangnya. Tch, mana mungkin namja seperti dia bisa menang.” cibir Sejung sambil melirik remeh ke arah Taehyung yang terengah-engah kelelahan.

Yaa, kau ini punya dendam kesumat apa sih dengan ketua kelas? Geurojima.. Dia bisa tersinggung.” kataku pada Sejung.

“Sudah kubilang, aku hanya tidak menyukainya. Itu saja.”

Aish! Jawabanmu selalu seperti itu. Bilang saja kalau kau tertarik padanya.”

Mwo? Hahaha aku? Jadi duta shampoo? Oops.. Eh, maksudku— hahaha aku? Tertarik pada namja itu? Mimpi pun aku tak sudi!”

Tch! Arrasseo, akan kuingat kata-katamu ini..”

“Kim Sejung, Bae Suzy, Park jiyeon!”

Aku tersedak mendengarnya.

Yaa, apa baru saja Kang ssaem menyebutkan namaku?” tanyaku pada Sejung untuk memastikan.

Eoh! Dan aku akan jadi lawanmu.”

M-maldo andwae!” jeritku pelan, lalu beringsut lesu mengikuti Sejung. Tentu saja Sejung yang akan jadi pemenangnya, tidak diragukan lagi yeoja itu selalu full of energy. Dibandingkan dengannya, aku sama sekali tak ada apa-apanya kalau sudah menyangkut tenaga.

Kami bertiga pun memposisikan diri di garis awal. Aku menarik napas panjang sepenuh dadaku. Tanpa sengaja aku bertemu pandang dengan Taehyung. Namja itu tersenyum dan mengangguk padaku untuk memberikan semangat. Tapi entah kenapa aku justru merasa tatapannya itu mengandung rasa iba terhadapku. Tentu ia tahu kalau aku sangat payah dalam berlari.

“Bersedia..”

Eomma, Appa, jeoseongeyo. Sepertinya aku tidak akan jadi yang pertama untuk kali ini.

“..siap..”

Anni! Bagaimanapun juga aku harus tetap berusaha melakukan yang terbaik. Kalaupun aku pingsan nanti, setidaknya aku sudah melakukan semampuku.

“..priiiiitt!!”

Wussh! Aku berlari sekuat tenaga yang kupunya. Amat sangat kencang, bahkan kurasa ini pertama kalinya aku berlari sangat kencang. Bagus. Sejung dan Suzy masih di belakang. Aku sedikit senang karenanya. Apa aku akan berhasil jadi yang pertama? Garis finish masih terlalu dini untuk dicapai. Aku akan berusaha mempertahankan posisiku. Aku berlari, terus berlari. Namun aku mulai merasa lelah. Beberapa saat kemudian kulihat Sejung melewatiku. Mwoya? Yeoja itu bahkan sempat memberikan smirk miliknya dan melambaikan sebelah tangannya padaku dengan tenangnya. Ige mwoya?? Kenapa aku merasa dikhianati? Anni! Aku tidak boleh menyerah sekarang. Aku berusaha mengumpulkan sisa tenagaku dan terus berlari.

Wuush! Lagi-lagi aku melotot lebar saat melihat Suzy yang turut melewatiku pula. What the hell?? Apa kecepatan lariku berkurang? Oh tidak, aku benar-benar sudah mencapai batasku! Ini tidak boleh! aku tak boleh pingsan sekarang. Paling tidak aku harus sampai ke garis finish! Oh jebal.. Bertahanlah Park Jiyeon!

Namun tiba-tiba saja..

Brukk!

Kakiku mendadak terkilir dan tentu saja aku langsung terjatuh. Aku bahkan berani bersumpah demi apapun rasanya sakit sekali. Aku terus mengerang kesakitan hingga di sekitarku mulai berdatangan teman-temanku.

“Jiyeon-a, gwaenchanha?”

Yaa, Park Jiyeon, gwaenchanha?”

Ohmo! Pasti itu sakit sekali. Lihatlah ekspresinya.”

Kulihat Kang ssaem menghampiriku dengan tergesa.

“Park Jiyeon, gwaenchanha? Apa kakimu terkilir?” tanyanya.

Aku hanya mampu mengangguk sambil terus meringis kesakitan.

Igeo, minumlah dulu.” Kang ssaem memberikan botol minuman padaku. Aku menerimanya lalu meneguknya perlahan.

“Jiyeon-a, gwaenchanha? Yaa, kenapa bisa sampai jatuh, eoh?” kulihat Sejung berlari mendekatiku dengan wajah cemas. Kurasa ia berhasil sampai ke garis finish dan langsung kembali berlari menghampiriku. Napasnya tampak ngos-ngosan dengan keringat yang membanjiri wajahnya. Aku jadi melupakan pengkhianatan sekilasnya tadi dan berubah tak tega untuk membuatnya lebih khawatir lagi.

N-nan— gwaenchanha. Hanya terkilir sedikit.”

“Park Jiyeon lepaslah sepatumu!” kata Kang ssaem padaku.

Aku mengangguk lalu melepas sepatuku. Beberapa detik kemudian aku terkejut saat melihat jempol kakiku yang berdarah. Kepalaku seketika pusing saat melihatnya.

Ohmo! Yaa! Sampai berdarah begitu dan kau bilang hanya terkilir sedikit?” ucap Sejung dengan nada tinggi.

“Sebaiknya kau pergi ke UKS dulu. Apa kau bisa berjalan?” tanya Kang ssaem lagi.

Nde–

Anni, aku akan menggendongmu ke UKS.”

M-mwo?” aku terkejut saat mendengar Taehyung mengatakan itu.

Ah, geurae, Kim Taehyung, antarkan dia ke UKS.”

Yaa! Siapa bilang kau boleh menyentuh Jiyeon? Bikyeo, biar aku yang membawanya.” potong Sejung gusar seraya meraih tanganku dan bermaksud membawaku di punggungnya. Namun sedetik kemudian ia justru terjatuh dengan sendirinya.

“Kim Sejung, sepertinya kau masih kelelahan. Biarkan Taehyung saja yang membawanya.”

Keunde ssaem—”

Ah, gwaenchanha. Aku bisa jalan sendiri, jeongmal.” ucapku.

“Naiklah. Jangan membantah.” potong Taehyung yang sudah berjongkok membelakangiku dan memberikan tanda agar aku segera naik ke punggungnya. Aku tertegun sejenak. Entah kenapa aku sama sekali tak bisa membantah ucapan Taehyung. Apa ini akan baik-baik saja? Dengan ragu aku pun naik ke atas punggung Taehyung. Kulihat Sejung hendak protes kembali namun entahlah ia hanya mampu menatap Taehyung dengan ekspresi tak suka. Mianhae, Sejung-a. Dan akhirnya Taehyung pun benar-benar menggendongku pergi untuk menuju ruang kesehatan.

Canggung. Tentu saja itu yang kurasakan saat itu. Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya aku bersentuhan secara intens dengan seorang namja. Ugh! Aku benar-benar tidak nyaman sama sekali dengan posisi saat ini. Sangat tidak nyaman.

Ah, geuge— ketua kelas kau bisa menurunkanku sekarang. Jinjja, aku masih sanggup berjalan sendiri.”

W-wae? Apa—karena mereka?”

Mwo—” aku menggantung ucapanku dan melihat sekeliling. IGE MWOYA? Aku baru sadar kalau banyak pasang mata yang melihat ke arah kami berdua. Di antara mereka bahkan mulai berbisik-bisik tak jelas. Seketika aku membenamkan kepalaku di punggung Taehyung.

Geuge— Apa kau benar-benar ingin turun sekarang?”

ANNI! ANNI! Taehyung-a, jebal cepat bawa aku ke UKS!!”

Sial! Aku benar-benar malu! Oh! Tamatlah reputasiku!

*

*

Author’s POV

Kim Myungsoo baru saja keluar dari ruang guru untuk menyerahkan tugas kelompoknya ketika tanpa sengaja kedua matanya menangkap sesuatu yang agak janggal.

Mwoya?” gumamnya saat melihat seorang murid namja sedang menggendong murid yeoja di punggungnya dengan sedikit tergesa. Namja itu berhenti sejenak dengan dahinya yang berkerut.

Hoo.. Bukankah dia yeoja si murid golden itu? Apa dia sedang cedera?” gumamnya lagi.

Ia berniat menghampiri mereka namun niatnya urung ketika melihat Jiyeon membenamkan wajahnya di punggung Taehyung. Namja itu terdiam sejenak karenanya.

Hmm.. Sepertinya kedatanganku hanya akan mengganggu moment indah mereka. Sudahlah, aku bisa menyapanya lagi lain kali.”
Myungsoo pun memilih berbalik kembali untuk menuju gedung kelasnya.

*

*

Jungkook masih menatap tangan kanannya yang berwarna ungu kebiruan akibat pukulannya tadi pagi. Entah kenapa setiap kali ia melihat tangannya, ia jadi teringat kembali dengan Jiyeon. Cara yeoja itu berbicara, bagaimana ia tersenyum, Jungkook bisa mengingatnya dengan jelas meski ia hanya sekali-kali mencuri pandang ke arah yeoja itu. Ia juga tak bisa berkonsentrasi penuh selama pelajaran berlangsung. Ini pertama kalinya ia merasakan hal seperti itu mengenai yeoja. Sesaat kemudian Jungkook sedikit terlonjak. Ia mendadak teringat ucapan Jiyeon yang menyuruhnya pergi ke UKS untuk mengobati luka di tangannya itu.

“Padahal aku lebih suka saat melihat memar ini entah kenapa.” gumamnya seorang diri. “Lagipula aku belum tahu letak ruang kesehatan di mana.”

Yaa, Jeon Jungkook! Kau tidak mau ke kantin? Kkaja, aku berbaik hati mengajakmu pergi bersama.” ucap salah seorang namja yang duduk di seberang Jungkook.

Jungkook melirik sebentar ke arah nametag namja yang bertubuh lebih pendek darinya itu. Jo Jinho.

Jungkook tak segera menyahuti ajakan Jinho

Jungkook tak segera menyahuti ajakan Jinho. ‘Benar juga. Aku memang harus mulai mencari teman agar aku tidak terus menerus sendirian’, pikirnya.

Keunde bukankah ini belum waktunya istirahat?” Jungkook balik bertanya.

Gwaenchanha. Choi ssaaem sedang berhalangan hadir jadi jam pelajaran hari ini kosong. Kkaja.”

Eodiga? Mau ke kantin?” tanya seorang namja lagi yang duduk di belakang Jinho.

Jungkook kembali melihat nametag miliknya. Kang Hyunggu, tapi Jungkook sering mendengar teman-teman di kelasnya lebih sering memanggilnya Kino.

 Kang Hyunggu, tapi Jungkook sering mendengar teman-teman di kelasnya lebih sering memanggilnya Kino

“Mau ikut?” tawar Jinho pula.

“Boleh. Kebetulan aku sedang ingin makan camilan.”

Yaa, yaa, eodiga? Aku tidak akan mengijinkan siapapun keluar kelas tanpa alasan jelas.” ucap seorang namja lainnya ketika melihat Jinho dan Kino beringsut.

Jungkook menoleh, ia tahu namja itu adalah Lee Hwitaek atau lebih sering dipanggil Hui, ketua kelas mereka.

Jungkook menoleh, ia tahu namja itu adalah Lee Hwitaek atau lebih sering dipanggil Hui, ketua kelas mereka

Oh, ayolah ketua kelas. Kami hanya keluar sebentar. Aku benar-benar sedang lapar.” kata Kino merajuk.

Andwae. Sekali tidak tetap tidak. Lagipula Choi ssaem tetap memberikan tugas untuk kita. Jadi tidak ada yang boleh keluar kelas kecuali keadaan darurat.”

Jinho dan Kino hanya berdecak kecil mendengarnya, namun tak berniat membantah. Akhirnya keduanya kembali duduk manis di bangku masing-masing.

Jeogi, sebenarnya aku ingin ke ruang kesehatan.” ucap Jungkook tiba-tiba, membuat Hui menoleh kepadanya.

“Apa kau sedang sakit?” tanyanya.

Ah, hanya mau mengobati luka ini. Tidak akan lama.” Jungkook menunjukkan jari tangan kanannya pada Hui.

Ohmo, Jungkook-a. itu terlihat parah sekali. Apa kau habis berkelahi?”

“Aigoo.. Sayang sekali namja semanis dirimu ternyata suka berkelahi.”

“Maldo andwae. Dia pasti habis terjatuh.”

“Mana mungkin terjatuh hanya mendapatkan luka di tempat itu, kalau bukan karena memukul sesuatu.”

Jungkook hanya diam mendengar beberapa celotehan yang berasal dari murid-murid yeoja di kelasnya. Sebentar kemudian seluruh kelas pun mulai gaduh dengan beberapa argumen serupa mengenai luka di tangan Jungkook.

“Diamlah! Jangan berisik!” tegur Hui, membuat seisi kelas agak mereda, lalu melanjutkan pada Jungkook. “Geurae, kau boleh keluar. Keunde gwaenchanha? Apa kau butuh bantuan?”

Ah, geuge— aku masih belum begitu hapal beberapa tempat di sekolah ini. Jadi bisakah—”

Aku! Aku akan mengantarmu!”

“Mwo? Jangan mau! Biar aku saja yang mengantarmu, Jungkook-a!”

“Andwae! Jungkook-a, aku saja!”

“Anni! Anni! Biar aku saja!

Yaa! Bukankah beberapa detik yang lalu kalian beramai-ramai menggunjingnya? Kenapa sekarang malah berebut mengantarnya? Aish dasar yeoja! Sudahlah, biar aku saja yang mengantar Jungkook. Kkaja.” Jinho yang merasa pusing mendengar keributan itu langsung bangkit dan menarik lengan Jungkook.

Yaa, aku belum bilang mengijinkanmu.” ucap Hui.

“Apa masih harus dipikirkan lagi? Kau ingin seisi kelas bertambah ramai?”

Hui tak segera menjawab, namun beberapa saat kemudian ia mengangguk,”Geurae, kau boleh mengantarnya. Tapi jangan gunakan kesempatan untuk pergi ke kantin, arrasseo?”

Jinho hanya nyengir bebek tanpa menanggapi ucapan Hui. “Kkaja, Jungkook-a,”

Jungkook mengangguk, lalu berjalan mengikuti Jinho. Ia bisa mendengar gerutuan kecil yang terlontar dari teman-teman yeoja sekelasnya mengiringi kepergian mereka.

Whoa jinjja. Bagaimana mereka bisa sangat berlebihan begitu? Kau benar-benar populer dan membuat para yeoja heboh semenjak pindah kemari. Kau pasti merasa bangga bisa langsung mendapatkan banyak penggemar.” kata Jinho ketika keduanya berada di luar kelas.

Ah, annni. Aku tidak merasa begitu.”

Jinjja? Biasanya namja akan merasa sangat bangga jika mereka memiliki penggemar.”

“Apa kau sendiri merasa bangga saat memiliki penggemar?”

Ahh, haha aku tidak pernah memiliki penggemar. justru aku sering mendapatkan olokan dari mereka karena tubuhku yang kurang tinggi.”

Pffffffftt..” Jungkook mencoba menahan tawa geli mendengarnya.

Mwoya? Apa kau baru saja menertawakanku?” kata Jinho dengan nada tersinggung.

Ah, mian. Aku tidak bermaksud begitu.”

Hahaha.. Aku hanya bercanda. Gwaenchanha, tidak perlu terlalu canggung begitu padaku. Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan orang-orang baru di sekitarmu,”

Arraseo..” ucap Jungkook sambil tersenyum. ‘Namja ini cukup baik. Paling tidak, aku sudah mendapatkan satu teman di sini’, pikirnya.

“Tapi ada seorang sunbae yang sangat membuatku tergila-gila. Dia yeoja yang sangat cantik meskipun sedikit kasar.”

Jungkook tak segera menyahut. Entah kenapa saat telinganya mendengar kata ‘sunbae‘, di pikirannya langsung muncul sosok Park Jiyeon.

Aigoo.. Kurasa sekolah ini lama-lama akan terisi dengan orang-orang populer seperti itu. Kau bahkan yang baru ada di sini sehari saja sudah langsung populer.”

Ah, geuge— sunbae yang kau maksud itu, siapa namanya?” Jungkook sedikit ragu saat menanyakannya.

Mwoya? Kau penasaran juga dengannya? Ah, aku yakin kalau kau bertemu dengannya pasti kau juga akan mengaguminya. Namanya Kim Sejung. Murid tingkat 2-1.”

Entah kenapa Jungkook bernapas lega saat mendengarnya. Paling tidak, ia tidak merasa khawatir kalau ada orang lain yang menyukai Park Jiyeon.

Mwo? Suka?” Jungkook bergumam seorang diri saat menyadari sesuatu yang baru saja muncul di kepalanya.

Eoh?” Jinho yang tak sengaja mendengarnya pun merasa heran dan menatap namja itu dengan tatapan menyelidik. “Apa yang baru saja kau gumamkan?”

A-aah, a-anniya.. Eobseo.” Jungkook sedikit gelagapan menjawabnya, namun segera menghembuskan napas lega saat Jinho tak bertanya lebih lanjut lagi.

“Ah, keunde, sesampainya di ruang kesehatan nanti kau masuk sendiri saja ya. Kau tahu, aku benar-benar harus mampir ke kantin sebentar. Dan juga, tolong rahasiakan ini dari ketua kelas. Ok?” Jinho mengangkat sebelah tangannya pada Jungkook sebagai tanda kesepakatan mereka.

Jungkook mengangguk dan menyambut tangan Jinho. “Ok!” ‘tidak ada untungnya juga bagiku mengadukannya pada ketua kelas,’ pikir Jungkook lagi. Keduanya pun berjalan kembali menuju ruang kesehatan.

*

*

Jiyeon’s POV

“Jiyeon-a, kita sudah sampai.”

Aku tak segera menjawab ucapan Taehyung. Jujur saat ini aku benar-benar sangat malu. Super duper malu. Aku tak bisa membayangkan reaksi Taehyung saat aku justru semakin mempererat peganganku tadi. Aish! Apa dia akan marah? Apa dia merasa risih padaku? Eottokhe? Jinjja! Aku melakukannya karena aku benar-benar tidak sanggup bertatapan langsung dengan murid-murid yang melihat kami tadi.

“J-Jiyeon-a, kita sudah sampai. Geuge— kau mau kugendong sampai kapan?”

Blush! Seketika aku tersadar dan semakin malu mendengar teguran kedua dari Taehyung. Dengan bergegas aku pun segera mengangkat kepalaku dan turun dari gendongan Taehyung. Hampir saja aku terjatuh lagi karena kakiku yang masih sakit.

“Hati-hatilah. Tidak perlu terburu-buru begitu.”

G-gomawo, Taehyung-a. geuge— a-aku minta maaf kalau sudah membuatmu marah. Jinjja, aku tidak ada maksud apa-apa tadi. Percayalah padaku! Jebal, jangan membenciku!”

Aish! Aku bahkan tak berani mengangkat wajahku untuk sekedar menatap wajah Taehyung.

Pfffffftt!

Aku terkejut mendengarnya. apa barusan aku mendengar Taehyung tertawa? Dengan penasaran aku pun mengangkat kepalaku dan menatap Taehyung. Rupanya memang benar. Namja itu kini justru terlihat berusaha keras menahan tawanya.

Yaa! Apa kau baru saja tertawa?”

Hahaha mianhae.. Aku hanya tidak tahan melihat sikapmu yang lucu itu.”

Mwo? Apa katanya? Lucu? Aish! Bisa-bisanya dia berpikir begitu dan malah menertawakanku. Meskipun merasa agak kesal padanya, namun tetap saja rasa maluku masih ada. Tanpa menyahut apapun, dengan sedikit gusar aku berjalan agak terpincang melewati Taehyung begitu saja dan masuk ke dalam ruang kesehatan.

“J-Jiyeon-a, kau marah?”

Kudengar suara langkah kaki Taehyung mengikutiku dari belakang.

Anni.” sahutku pendek dan terus berjalan.

Gotjimal! Barusan kau mengabaikanku. Kau pasti marah.”

Aku diam saja. Entahlah aku hanya ingin memberi Taehyung pelajaran karena sudah menertawakanku di saat aku merasa malu seperti tadi.

Mianhae..”

Seketika aku tertegun mendengarnya. Ah, ngomong-ngomong ini pertama kalinya aku menerima permintaan maaf dari Taehyung. Dan lagi aku baru sadar kalau baru saja Taehyung berbicara cukup banyak padaku, padahal selama aku mengenalnya, dia terkesan pendiam dan hanya bicara seperlunya. Wah, aku merasa beruntung entah kenapa.

Anniya, ketua kelas. Jangan meminta maaf padaku. Seharusnya akulah yang minta maaf karena sudah merepotkanmu. Na jinjja gomawo..”

Taehyung hanya tersenyum dan mengangguk padaku. Mwoya? Aku baru tahu kalau Taehyung sangat manis saat tersenyum. Apa memang biasanya juga seperti itu?

“Apa di antara kalian ada yang sakit?”

Aku terkejut dan seketika lamunanku buyar mendengar teguran barusan. Kami berdua menoleh dan mendapati seorang yeoja yang mengenakan jas putih. Dia adalah Song Hyekyo eonnie, perawat di sekolah kami.

 Dia adalah Song Hyekyo eonnie, perawat di sekolah kami

Eoh, Nuna.. Kaki temanku terluka. Bisakah Nuna mengobatinya?” kata Taehyung mendahuluiku.

Hoo.. Apa kau terjatuh saat berolahraga?” tanya Hyekyo Eonnie padaku.

“N-nde, Eonnie..” aku mengangguk dengan kikuk.

Hyekyo eonnie. dia sangat baik dan cantik. Dan itu membuatku acapkali merasa rendah di depannya, sekalipun aku murid golden di Kingo.

“Kemarilah, aku akan memeriksa kakimu.”

Aku hanya mengangguk dan mengikuti instruksinya. Sekali-kali aku melirik Taehyung yang masih setia menungguku. Entah kenapa perasaan tak enak mucul begitu saja begitu melihatnya yang terus menatap kami.

Ah, ketua kelas, bisakah— kau menunggu di luar?” kataku sedikit ragu.

Wae?” Taehyung balik bertanya dengan ekspresi heran.

Geuge— geunyang—” ah, apa yang harus kukatakan untuk membuat alasan?

Geurae, sebaiknya kau menunggu di luar selagi aku mengobati lukanya.” ucapan Hyekyo eonnie seketika membuatku bernapas lega. Oh, dia memang dewi penolongku.

Arrasseo.. Aku akan keluar.” ucap Taehyung pula. Ia sempat menatapku sejenak sebelum akhirnya ia beranjak keluar. Aku tertegun heran karenanya, apa-apaan tatapannya tadi? Kenapa menurutku terasa aneh?

Kurang lebih 10 menit kemudian kakiku selesai diobati oleh Hyekyo eonnie. Sebenarnya aku juga merasa tidak masalah meskipun tidak diobati, Namun tetap saja aku ingin agar aku bisa berjalan tanpa terpincang lagi. Meski hanya luka kecil, ini amat begitu sakit dan nyeri.

Hah.. Aku benar-benar tidak cocok sama sekali dalam bidang olahraga. Apalagi berlari. Tapi kalau dipikirkan lagi, sepertinya kaki kananku ini memang rentan sakit. Pertama akibat insiden injakan waktu itu, dan sekarang saat aku berlari. Aigoo.. Jinjja..

Aku berjalan masih sedikit terpincang sambil membuka gorden yang menutupi salah satu ruangan kecil yang baru saja kumasuki. Aku melihat Taehyung masih duduk setia menungguku keluar. Namun yang membuatku terkejut adalah namja yang tampak duduk pula di sampingnya.

Eoh! Jeon Jungkook?” sapaku refleks melambaikan tanganku.

Kulihat Jungkook tampak terkejut pula saat melihatku, lalu setengah membungkukkan badannya menyapaku.

“Kau— mau mengobati luka di tanganmu itu?”tanyaku.

N-ne..” sahut Jungkook dengan kepala setengah tertunduk.

Mwoya? Kau juga terluka? Coba—” Hyekyo eonnie tak melanjutkan ucapannya karena Jungkook mendadak berdiri dari duduknya.

J-jeoseonghamnida. K-keunde— apa tidak ada perawat namja di sini?” tanyanya tanpa melihat aku maupun Hyekyo eonnie sama sekali.

Hyekyo eonnie tak segera menjawab, melainkan hanya mengerutkan kening pertanda heran. Eottokhe? Apa aku beritahu saja mengenai phobianya itu? Tapi bukankah tidak sopan membeberkan privasi orang lain begitu saja?

“Hanya aku perawat di sekolah ini. Waeyo?”sahut Hyekyo eonnie pula.

Ah geureom, b-bolehkah aku meminta obat? Geuge— aku hanya terluka sedikit di bagian tanganku.”

Hyekyo eonnie tak segera menjawab. Sepertinya ia tengah berpikir dan mulai menerka-nerka alasan apa yang membuat Jungkook sampai ingin mengobati lukanya sendiri. Namun sesaat kemudian Hyekyo eonnie tersenyum.

Geureom. Kalau kau ingin mengobati lukamu sendiri, kau boleh melakukannya. ”

Kamsahamnida.” ucap Jungkook.

Hyekyo eonnie pun memberikan obat dan perban kepada Jungkook.

“Kalau sudah selesai letakkan saja di sana. Aku harus menulis laporan untuk hari ini.” kata Hyekyo eonnie yang disambut anggukan dari Jungkook.

“Jiyeon-a, kau sudah merasa baikan?” tanya Taehyung kemudian padaku begitu Hyekyo eonnie masuk ke ruangannya.

Eoh.. sudah lebih baik daripada tadi.”

“Kalau begitu kkaja, kita kembali ke kelas. Apa kau sudah bisa berjalan?”

Ah, jamkkanman.” aku menatap ke arah Jungkook yang masih mengobati luka di tangannya. Namun sepertinya ia sedikit kesulitan saat hendak membalut lukanya dengan perban. Aku menoleh ke sekelilingku. Kebetulan aku melihat sebuah masker wajah yang terletak di atas kursi, aku pun mengambilnya kemudian mengenakannya.

“Jiyeon-a, mwohaneun geoya?” tanya Taehyung dengan raut wajah keheranan.

Aku tak menjawab melainkan langsung mendekati Jungkook.

“Jungkook-a, aku akan membalutkannya untukmu.” kataku.

Jungkook semula terkejut saat aku mendekatinya. Namun begitu melihatku yang mengenakan masker, secara perlahan ia pun mengangguk.

Aku tersenyum lalu mulai mengambil alih perban di tangannya. Mula-mula ia masih terkesan takut saat aku mulai membalut tangannya. Aku tahu itu.

“Kau bisa memejamkan matamu kalau takut. Geogjeongma, anggap saja ini tahap awal terapi untukmu.” ucapku setengah berbisik, tak mau Taehyung mendengarnya.

Jungkook tak menjawab ucapanku, melainkan hanya terus menatapku. Aku sedikit canggung juga karenanya. Meskipun mengenakan masker, aku merasa tatapan matanya seolah menusuk langsung ke jantungku. Aku berdehem kecil sekedar mencoba mengusir kegugupanku.

Jja.. Sudah selesai.” ucapku kemudian.

Gomawo, sunbae..” ucap Jungkook sambil tersenyum.

Anniya.. Aku hanya ingin membantumu. Jangan dipikirkan.” sahutku pula.
Jungkook membalas ucapanku dengan senyumannya.  Aigoo.. Aku senang sekali bisa membantunya.

Ehem..” kudengar Taehyung berdehem kecil, membuatku menoleh padanya.

Ah, matta. Ketua kelas, apa kau sudah mengenalnya? Dia Jeon Jungkook, murid pindahan tingkat pertama.”

Na arra. Kkaja kita kembali ke kelas sekarang.” Taehyung berkata, lalu berjalan mendahului kami keluar dari ruang kesehatan.

Ah benar juga. Kkaja, Jungkook-a.”

*

*
Author’s POV

Selama kurang lebih lima belas menit kemudian, Jiyeon, Taehyung dan Jungkook tampak keluar dari ruang kesehatan.

“Sekali lagi gomawo sunbae sudah membantuku.” ucap Jungkook pada Jiyeon.

Jiyeon tersenyum, namun karena ia masih mengenakan masker, hanya kedua matanya yang terlihat menyipit akibat gerakan urat wajahnya yang tersenyum.

Gwaenchanha. Kalau kau butuh apa-apa, hubungi saja aku.”

A-ahh.. Jeongmal? Aku boleh menghubungi sunbae? Geureom—”

“Jiyeon-a, kita sudah cukup terlambat. Jangan sampai kita melewatkan jam pelajaran kedua.” potong Taehyung membuat Jungkook mengurungkan niatnya yang semula akan meminta nomor ponsel Jiyeon.

Ah, kau benar. Kita sudah terlalu lama di luar kelas. Geureom, Jungkook-a, kami harus bergegas ke kelas. Sampai bertemu lagi, annyeong!” Jiyeon kembali tersenyum lalu setengah berlari dengan kakinya yang masih agak terpincang meninggalkan Jungkook.

Yaa, jangan berlari! Kakimu masih belum sembuh!” terdengar suara Taehyung yang berseru seraya mengejar Jiyeon.

Ah, mian. Aku hanya tidak ingin terlambat masuk kelas. Akh!” belum selesai Jiyeon bicara, ia kembali keseleo dan hampir jatuh, namun Taehyung dengan sigap memeganginya sehingga ia bisa berjalan normal lagi.

Jungkook yang melihat kedekatan keduanya hanya bisa menatap dengan wajah tertekan. Perlahan ia menatap tangannya sendiri, lalu meremasnya pelan.

“Aku— juga ingin sedekat itu denganmu, Park Jiyeon.” gumamnya.

*

*

Taehyung’s POV

Namja pindahan itu, entah kenapa aku tidak menyukainya. Ia memang terlihat sedikit aneh. Dan aku tidak suka melihat caranya menatap Jiyeon. Apa mungkin dia menyukai Jiyeon? Dan juga Jiyeon, kenapa ia mengenakan masker hanya karena ingin membantu namja itu membalutkan lukanya? Aku merasa ada sesuatu yang aneh di sini. Aish! Mwoya? Aku heran kenapa aku bisa sekesal ini.

*

*

Jiyeon’s POV

Aku tengah berjalan sambil menyeruput milkshake dan sedang menuju kelas. Kakiku sudah terasa lebih baik daripada pagi tadi. Hyekyo eonnie memang pandai mengobati luka pada orang lain. Ah, apa sebaiknya nanti aku jadi perawat sepertinya saja ya?

Kling!

Langkahku terhenti sejenak mendengarnya dan mengambil ponsel dari saku bajuku. Pesan dari Sejung.

     Temui aku di taman. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu. Ppalli! – Sejung

Aishh! Aku sedikit menggerutu saat membacanya. Yeoja ini benar-benar semaunya saja. Setelah meninggalkanku seorang diri di kantin tadi, sekarang ia justru menyuruhku menemuinya di taman. Baiklah, aku akan memberinya pelajaran sekali-sekali.

Shireo! Aku mau langsung ke kelas. – Jiyeon

     Mwoya! Tega sekali kau padaku? Oh, ayolah, Jiyeon-a.. Ini benar-benar menyangkut masa depanku.. >.< – Sejung

Tch. Masa depan apanya.

   Aku akan mentraktirmu nanti malam di Penta Cafe! – Sejung

     Dwaesseo, aku sedang tidak ingin. – Jiyeon

     Bagaimana kalau kubelikan pernak-pernik L Infinite? – Sejung

     Yaa! Aku bukan seorang fangirl! – Jiyeon

     Tas baru? – Sejung

     Tidak tertarik. – Jiyeon

     Jajangmyun? Ramen? Kimchi? Bulgogi? Pilihlah sesukamu.. – Sejung

Aishh yeoja ini.. Apa dia pikir aku ini tukang makan?

     Kalau begitu katakan apapun maumu aku akan menyanggupinya, keunde jebal datanglah kemari. Aku benar-benar ingin menunjukkan ini padamu.. -Sejung

Aku mendesah sekali lagi. Bersamaan dengan itu tanpa sengaja kedua mataku menangkap sesosok namja yang tengah asyik mengobrol dengan teman-temannya di dekat tangga. Seketika aku tersenyum melihatnya, lalu mengetik kembali.

Arrasseo.. Aku akan kesana, keunde kau harus berjanji akan melakukan satu hal untukku. – Jiyeon

     Katakan saja, aku pasti akan menyanggupinya.– Sejung

     Kau harus berbaikan dengan ketua kelas. – Jiyeon

*

*

Author’s POV

Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 menit lamanya, akhirnya Jiyeon sampai di taman belakang sekolah. Seperti biasa, suasana di sana tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa murid yang menghabiskan waktu di sana. Ia berpikir tentu tidak terlalu sulit untuk mencari Sejung. Yeoja itu jadi penasaran sebenarnya apa yang ingin Sejung tunjukkan padanya di tempat ini.

Eodiya? Aku sudah di taman. – Jiyeon

     Aku berada di bangku dekat kolam ikan. – Sejung

Jiyeon mengantongi kembali ponsel miliknya dan berjalan lagi. Sesekali ia menyeruput milkshake yang sejak tadi masih belum habis di tangannya. Beberapa saat kemudian yeoja itu sampai di dekat pohon beringin raksasa, yang seketika mengingatkannya pada kejadian tempo hari bersama Kim Myungsoo. Tanpa sadar yeoja itu bergidik. Entah kenapa ia merasa was-was saat melewati pohon tersebut, seolah-olah Myungsoo sudah menjelma menjadi pohon besar itu. Ia bahkan berjalan agak berjinjit saat melewatinya.

“..wae? kenapa kau selalu bersikap seperti ini padaku? Apa aku masih kurang bagimu? Apa? Apa yang kurang dariku, katakan saja padaku.”

Ehk! Jiyeon sedikit tersedak saat tanpa sengaja mendengar suara tersebut. Ia baru sadar kalau ternyata di balik pohon besar itu terdapat dua orang yang sepertinya sedang bersitegang. Secepat kilat Jiyeon bersembunyi di sisi pohon yang lain dan mengintip dengan hati-hati. Tidak mungkin baginya kembali berjalan saat ini karena tentu saja mereka akan melihatnya yang sedang lewat. Dan itu pasti akan memalukan.

Eobseo! Tidak ada yang kurang..”

Hoh! Suara ini..” gumam Jiyeon.

Ia merasa pernah mendengarnya, dan yakin sangat mengingat suara itu. Yeoja itu pun memberanikan diri mengintip lebih jauh lagi. Dan seketika ia menarik kepalanya kembali bersembunyi saat melihat siapa yang ada di balik pohon tersebut.

Kim Myungsoo! Jeritnya dalam hati. Dan ia juga ingat dengan yeoja yang sedang bersama Myungsoo itu. Dia adalah yeoja yang tempo hari tanpa sengaja ditabraknya lalu berakhir dengan mengambil jatah makan siangnya. Yoon Sohee. Oh! Kenapa aku harus dipertemukan lagi dengan mereka? Lagi-lagi Jiyeon menjerit dalam hati.

“Lalu apa yang membuatmu tak pernah mau melihatku? Setidaknya beri aku kesempatan..”

“Sudah kubilang aku tidak tertarik padamu. Apa itu masih belum cukup jelas?”

“Tapi aku mencintaimu—”

“Aku pergi.”

Jamkanman! Myungsoo-ya, jebal—”

Jiyeon melihat yeoja itu menarik lengan Myungsoo, namun tanpa disangka namja itu menepisnya dengan keras sampai membuat yeoja itu terjatuh. Jiyeon terkejut sekali melihatnya.

Mian, aku tidak suka disentuh sembarangan. Seharusnya kau tahu itu.” ucap Myungsoo dengan suara dinginnya.

Entah kenapa Jiyeon merasa geram melihatnya. Melihat seorang yeoja diperlakukan seperti itu membuatnya tidak terima sama sekali. Secara refleks yeoja itu pun beranjak menghampiri mereka.

Sunbae, gwaenchanha?” katanya sambil mendekati Sohee  dan bermaksud membantunya berdiri.

Neo mwoya?” ucap Sohee dengan nada tak suka dan menolak bantuan Jiyeon. Jiyeon tak menjawab, melainkan beralih menatap Kim Myungsoo yang sudah heran sekaligus terkejut sejak melihatnya tiba-tiba muncul tadi.

“Kau—”

Sunbae, apa memang selalu seperti ini sikapmu terhadap para yeoja? Apa kau memang senang memperlakukan mereka dengan kasar?”

Myungsoo hanya diam tak menyahut, karena ia memang tak berniat untuk menjawab.

“Aku tidak tahu apa masalah kalian. Keunde, tak bisakah setidaknya kau bersikap lebih lembut? Kim Myungsoo sunbae, aku tahu kau anak pemilik Kingo dan kau bisa melakukan apa saja sesukamu. Keunde, kenapa sikapmu sama sekali tidak menunjukkan sebagai seseorang yang pantas untuk dihormati? Jeoseongeyo, aku sudah terlalu lancang mengatakan ini. Keunde, aku benar-benar kecewa denganmu, Myungsoo sunbae..”

Myungsoo masih terdiam mendengar kata-kata Jiyeon barusan. Entah kenapa, namja itu sama sekali tidak marah mendengar ucapan barusan. Ia justru merasa tertarik pada yeoja yang sudah berani terang-terangan menentangnya itu.

“Kau— tidak takut dikeluarkan dari Kingo?” kata Myungsoo seolah memberikan ancaman dalam setiap ucapannya.

Jiyeon tak segera menjawab, melainkan menarik napas cukup panjang.

“Apakah seorang murid bisa dikeluarkan dari sekolah tanpa kesalahan apapun?” tanyanya kemudian.

“Kau sudah bersikap tidak sopan pada seorang sunbae. Itu bisa dijadikan alasan. Apalagi jika aku yang mengajukannya, itu akan semakin mudah.”

Geurae, lakukan saja. Tapi asal sunbae tahu, aku tidak hanya akan tinggal diam dan pasrah begitu saja saat itu terjadi. Karena aku melakukannya bukan tanpa alasan.”

Hoo..” Myungsoo semakin tertarik mendengarnya. Ia bahkan tak bisa menanggapi kata-kata Jiyeon lagi.

Melihat Myungsoo yang terdiam, Jiyeon kembali beralih pada Sohee yang masih terduduk itu.

Sunbae— jeongmal gwaenchanha?”

Bikyeo! Aku tak butuh belas kasihanmu.” Sohee kembali menepis tangan Jiyeon yang bermaksud membantunya berdiri.

Jiyeon sedikit tertegun mendapatkan respon seperti itu, namun ia mencoba tersenyum, lalu mengambil milkshake miliknya yang semula ia letakkan begitu saja di sebelahnya.

Mianhae, sunbae mungkin masih merasa terguncang dan sakit hati. Aku mengerti perasaan sunbae.. Igeo, mungkin ini akan sedikit membantu sunbae.” Kata Jiyeon seraya menyodorkan milkshake miliknya pada Sohee dengan ekspresi polosnya.

Sohee menatap milkshake itu sejenak, lalu beralih menatap Jiyeon tak percaya, “Yaa! Kau pikir aku akan menerima minuman bekasmu itu, eoh? Neo jinjja—”

A-ahh.. Jeoseongeyo, sunbae.. Aku tidak—”

Greb!

Jiyeon terkejut saat tiba-tiba Myungsoo merebut milkshake di tangannya dan langsung menyeruputnya begitu saja dengan ekspresi seperti tak berdosa.

Jeogiyo!” seru Jiyeon kesal karenanya.

Sohee pun turut terkejut pula saat melihatnya. Ia tidak menyangka kalau Myungsoo akan sudi meminum milkshake bekas Jiyeon.

Sementara Myungsoo tak peduli dan terus menyeruput milkshake tersebut. “Neo paboya? Dia tidak mau meminum bekasmu. Keunde geogjeongma, aku yang akan meminumnya.” katanya santai.

M-mwo?”

Ahh.. Geurideo, Sohee-ya. Kalau kau memang ingin menarik perhatianku, kau bisa mencontoh yeoja ini.”

M-mworago?” kali ini Sohee yang tampak heran sekaligus kesal mendengarnya.

Geureom, annyeong!” ucap Myungsoo sambil menyunggingkan senyum khas miliknya, lalu setelah mengedipkan sebelah matanya pada Jiyeon, namja itu berbalik pergi masih dengan menyeruput milkshake di tangannya. Entah kenapa Jiyeon merasa sangat kesal melihat sikap namja itu. Ia merasa dipermainkan.

Neo—” ucap Sohee dengan suara tertahan, membuat Jiyeon menoleh kembali padanya. “—tidak seharusnya berada di sini!”

Sunbae—”

“Apa kau puas sekarang, eoh? Kau ingin membalas dendam padaku? Tch.. Sudah kuduga yeoja sepertimu sama saja dengan yang lain. Kau hanya ingin menarik perhatian Myungsoo.”

Anniyo, sunbae—”

“Kau— jangan pernah muncul lagi di hadapanku, arrasseo?”

Belum sempat Jiyeon menjawab, Sohee sudah beranjak dengan gusar, lalu pergi begitu saja meninggalkan Jiyeon yang masih termangu di tempatnya.

Yeoja itu mendesah kecil, “Apa dia tidak sadar kalau aku tadi baru saja membelanya.” keluhnya.

Ajik urin jeongshin meot charyeodeo dwae.. Neol mankeum norabogo michyeodo dwae..

Jiyeon sedikit tersentak saat nada dering ponselnya berbunyi. Yeoja itu mengambil ponsel miliknya dan setengah membelalak saat melihat ID caller yang muncul di layar smartphone miliknya. Hampir saja ia lupa tujuannya pergi ke taman.

Yeob—”

YAA!! EODIYA?? KENAPA LAMA SEKALI, EOH??”

Jiyeon seketika menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar suara cempreng namun merdu tersebut.

Aish, mianhae.. Aku sedang ada sedikit masalah tadi. Keunde aku sudah hampir sampai di tempatmu. Gidaryeo..”

Klik!

Jiyeon langsung memutuskan panggilan dari Sejung, lalu bangkit untuk melanjutkan perjalanannya. Sementara pikirannya masih melayang mengenai kejadian yang baru saja terjadi.

Mwoya..” gumamnya tak habis pikir.

*

*

Jiyeon’s POV

Yaa, yaa, ppalli, kemarilah!” Sejung yang melihatku mendekat langsung menarikku dan mengajakku bersembunyi di balik semak-semak.

Yaa, mwohaneun geoya? Apa kau sedang berada di medan pertempuran, eoh? Kenapa mengajakku bersembunyi di semak-semak?” kataku sedikit tak nyaman karena posisi kami saat ini.

Ssstt.. Diamlah, nanti dia bisa mendengarmu.”

Ck! Nuguya? Memangnya kau ini sedang memata-matai seseorang, eoh?”

Matjayo!”

Mwo?”

Ssstt  kubilang jangan keras-keras. Lihatlah, kau bisa melihatnya kan?”

Aku tak menyahut melainkan mengikuti arah pandangan Sejung. Kulihat seorang namja tengah duduk seorang diri di bawah pohon sambil membaca buku. Aku tak bisa melihat wajahnya karena terhalang oleh buku yang dibacanya.

Mwoya? Jangan bilang kalau kau menyuruhku kemari hanya untuk menunjukkan namja itu padaku.”

“Jiyeon-a, namja itu.. Dia sangat tampan. Meskipun dia murid tingkat pertama, aku langsung menyukainya saat pertama kali melihatnya. Mungkin inilah yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama, geutji?”

Aish, jadi ini maksud dari masa depanmu itu? Tch.. Jinjja.. Keunde gwaenchanha, Yang penting kau sudah berjanji akan berbaikan dengan Taehyung.”

Sejung tampak menarik napas panjang mendengar ucapanku, “Arrasseo, hanya menyapanya sekali tidak masalah.”

Yaa, aku menyuruhmu berbaikan dengannya, bukan hanya menyapanya sekali.”

Aish! Sudahlah, Bukankah itu sama saja?”

Ck! Aku mau kembali ke kelas.”

Yaa! Yaa! Jamkanman. Dia mau pergi.” Sejung lagi-lagi menarikku ke semak-semak saat aku bermaksud berdiri. Sekali lagi aku mengarahkan pandangan pada namja yang ditunjukkan Sejung tadi.

Namja itu terlihat bangkit dari duduknya dan hendak beranjak pergi. Namun seketika aku membelalak lebar begitu melihat wajah namja tersebut. Dia, Jeon Jungkook?

M-mwoya?” ucapku hampir tak percaya.

“Kau melihatnya? Dia sangat tampan, geutji? Aigoo.. Mimpi apa aku sampai bisa jatuh cinta pada namja yang lebih muda dariku.”

Aku tak menjawab, Entahlah, aku merasa bingung harus menjawab apa. Jungkook, wah..

“Sejung-a..” kataku kemudian sambil menatap Sejung lekat-lekat.

W-wae? Kenapa menatapku seperti itu?”

Ah, sebaiknya apa yang harus kukatakan? Sejung jatuh cinta pada namja yang kurang tepat, setidaknya untuk saat ini, karena phobia yang dideritanya itu.

Namja itu— dia—”

Mwoya? Maksudmu— kau mengenalnya?”

Ck! Apa baik-baik saja memberitahu Sejung?

Namja itu— dia— dia adalah murid pindahan tempo hari yang kau cari.”

Mwo? J-jinjja? Itu dia? Ohmo.. Jiyeon-a, bukankah kau tahu siapa namanya? Nuguji? Nugu?”

Eoh.. Jungkook. Namanya Jeon Jungkook..”

Whoaaa.. Akhirnya aku tahu namanya.. Geurae, Jeon Jungkook. Bersiaplah, mulai sekarang, kau akan menjadi namja target seorang Kim Sejung.” ucap Sejung dengan wajah berseri-seri.

Aku menghela napas kecil melihatnya. Anni. Aku tidak bisa memberitahu keadaan Jungkook yang sebenarnya pada Sejung. Aku tidak bisa. Eottokhaji? Apa yang harus kulakukan sekarang? Sejung adalah sahabat terbaikku. Dan Jungkook, meskipun aku belum lama mengenalnya, tapi hanya aku satu-satunya orang di sekolah ini yang tahu mengenai keadaannya. Dan juga— Aish! Sebenarnya apa yang kupikirkan? Kenapa aku mendadak frustasi?

*

*

Hey! Aku publishnya lebih awal ya, soalnya kebetulan lagi senggang waktunya.

Apa? Masih belum ada konflik? Oh.. Iya, sabar dulu yaa.. Kan kaya pepatah bilang, sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit. Dan itu berlaku buat FF ini, jadi mohon bersabar, ini ujian 😀

Buat next part ntar kalo ga hari Sabtu ya hari Minggu, so ditunggu yaa..

Oke segitu saja, sampai jumpa dan terima kasih buat yang udah ngasih apresiasi berupa komentar! ^^

——————————————

| TEASER | PART 1 | PART 2 | PART 3 | PART 4 |

Advertisements

50 responses to “[CHAPTERED] A Golden Girl Story – Part 2

  1. Pingback: [CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 9 | High School Fanfiction·

  2. Pingback: [CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 8 | High School Fanfiction·

  3. Pingback: [CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 7 | High School Fanfiction·

  4. Wkwkw kyaknya disini lebih banyak moment vyeon deh daripada myungyeon kkkk~ tapi lucu juga mereka di couple.in ceritanya juga asik si hhe

  5. Pingback: [CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 6 | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s