[CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY- PART 1

wattpad

Title : [TEASER] A Golden Girl Story

Author : Yochi Yang

Casts : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Jeon Jungkook, Kim Taehyung

Genre : School Life, Romance, Slice of Life, Drama

Length : Chaptered

| TEASER | PART 1 | PART 2 | PART 3 | PART 4 |

Jiyeon’s POV

Nasib manusia memang susah diprediksi. Kalau boleh memilih, aku lebih ingin percaya dengan adanya keajaiban. Di mana secara ajaib aku bisa hidup sendirian tanpa gangguan meski hanya sebentar. Merasakan ketenangan dan jauh dari semua penat yang selama ini terus mengusik hidupku. Kalau boleh meminta, aku ingin merasakan kebahagiaan tanpa harus ada imbalan kesedihan yang kurasakan setelahnya. Namun apa memang benar keajaiban itu ada di dunia ini? Atau hanya sekedar dalam cerita dongeng belaka?

Ceritaku ini, mungkin akan jadi salah satu cerita hidup yang amat sangat panjang. Semua dimulai ketika aku masih berusia sekitar 16 tahun. Dan aku masih bersekolah di Kingo High School tingkat kedua. Kingo High School, adalah salah satu sekolah elite di kota Seoul. Saking elite-nya, gedung kelas tingkat pertama hingga tingkat ketiga dibangun secara terpisah, sehingga tidak ada murid-murid antar tingkat yang bercampur aduk kecuali saat berada di kantin atau tempat di luar gedung kelas lainnya. Murid-murid yang bersekolah di sini juga wajib tinggal di asrama Kingo, yang letaknya berjarak sekitar 300 meter dari sekolah Kingo. Begitulah, selama bersekolah di sini aku pun hanya pulang ke rumah paling sering dua minggu sekali, meskipun peraturannya setiap murid diperbolehkan pulang ke rumah seminggu sekali.

Peraturan di asrama juga cukup ketat. Asrama namja dan yeoja tentu saja dibangun secara terpisah, meski hanya berjarak sekitar 100 meter. Dan bagi murid yang bekerja part-time, harus kembali ke asrama paling lambat pukul sepuluh malam. Bagi siapapun yang melanggar, kepala asrama pasti akan langsung memberikan hukuman yang memalukan. Baik itu kepala asrama yeoja maupun kepala asrama namja. Beruntung Jung Eunji ssaem, kepala asrama yeoja sangat menyukaiku. Meskipun ia terkenal suka marah-marah, tapi Jung ssaem sangat jarang memarahiku. Mungkin karena aku tak pernah atau tepatnya belum pernah melanggar peraturan selama berada di asrama.

Saat itu, aku adalah sosok yeoja yang menyenangkan. Siapapun akan senang berada di dekatku. Untuk itulah hampir semua siswa-siswi di Kingo mengenalku, baik dari tingkat pertama sampai tingkat ketiga. Meskipun aku hanya berasal dari keluarga kalangan menengah ke bawah, namun aku memiliki otak yang jenius sejak kecil. Daya ingatku sangat kuat dan melebihi batas kenormalan, bahkan aku bisa mengingat apapun dengan jelas walau hanya dengan melihat sekali saja. Tidak heran kalau dari kecil aku selalu mampu bersekolah di tempat elite dengan beasiswa yang kudapatkan. Aku bahkan mulai kehabisan tempat untuk menyimpan piala penghargaanku di rumah setiap kali menang lomba cerdas cermat.

Tapi tentu saja, sesempurna apapun hidupku, aku tetap mendapatkan banyak masalah. Memiliki apa yang tidak dimiliki oleh orang lain terkadang menimbulkan kecemburuan tersendiri. Begitulah, aku mengatakan hampir semua murid di Kingo mengenalku, bukan berarti semua dari mereka menyukaiku. Karena pada kenyataannya, tidak sedikit juga murid yang tidak menyukaiku. Tapi aku tidak pernah mempedulikan mereka selama mereka tidak melebihi batas kewajaran.

Dan sialnya, kebanyakan murid yang membenciku adalah murid yeoja, tentu saja. Hah.. Padahal kalau boleh jujur, aku lebih suka berteman dengan yeoja. Karena menurutku teman namja itu sedikit menakutkan. Mereka suka berkelahi dan aku sama sekali tidak menyukai hal yang berbau kekerasan. Baiklah, kuakui aku trauma dengan kekerasan karena aku pernah sekali menyaksikan tetanggaku berkelahi hingga salah satu dari mereka tewas. Dan aku sama sekali tidak menyukai darah. Terkadang aku sempat menyesal harus memiliki daya ingat sekuat ini dan malah membuatku repot sendiri. Itulah kenapa setiap kali ada namja yang mencoba mendekatiku lebih dari batas kewajaran, aku selalu menghindar. Tapi sialnya, banyak sekali murid namja di sini yang menyukaiku. Bukan aku yang terlalu percaya diri, tapi memang begitulah kenyataannya. Aku bahkan masih tidak tertarik sama sekali dengan soal percintaan, meski aku sering mendengar kata kencan atau semacamnya dari teman-teman sekelasku.

Eoh! Jiyeon-a! Kau sudah datang?”

Ah, benar sekali, aku belum menyebutkan namaku. Namak adalah Park Jiyeon, anak tunggal dari pasangan Park Haeil dan Park Jiyoung. Dan yeoja yang baru saja memanggilku tadi, dia adalah Kim Sejung, satu-satunya teman yeoja yang menyukaiku dengan tulus. Dan untungnya, dia pula yang menjadi teman sekamarku di asrama.

Ah, aku mengatakannya bukan karena semua teman yeoja sekelasku membenciku

Ah, aku mengatakannya bukan karena semua teman yeoja sekelasku membenciku. Anni. Baik namja maupun yeoja, mereka semua baik padaku, bahkan bisa dikatakan kalau teman-teman sekelasku lah yang bersikap paling normal terhadapku. Mungkin karena mereka lebih sering bertemu denganku di dalam kelas, jadi mereka tahu seperti apa dan bagaimana keseharianku. Tapi entahlah, aku hanya merasa cocok dan nyaman jika bersama Sejung. Sejung sangat cantik. Meski dia sedikit kasar dan tipe orang yang suka blak-blakan, ia tidak pernah menyembunyikan apapun dariku. Apapun yang mengganggu pikirannya tentangku, pasti dia mengatakannya langsung padaku. Dan rasa penasarannya tentang hal apapun yang membuatnya tertarik sangat tinggi. Mungkin karena itulah aku menyukainya.

Yaa, kau sudah tahu berita terbaru pagi ini?” Sejung bertanya seraya duduk di sampingku dengan mulutnya yang penuh dengan lolipop kegemarannya.

Mwonde? Aku belum dengar apapun.”

“Ada murid baru di tingkat pertama. Banyak yang bilang kalau dia tampan dan lucu. Aku jadi penasaran. Bagaimana kalau kita pergi melihat di gedung tingkat pertama?” kedua mata yeoja itu terlihat berbinar saat mengucapkannya.

Ahh, keunde Sejung-a, untuk apa melihat murid baru tingkat pertama? Lagipula murid namja di sana menyeramkan. Mereka sangat agresif setiap kali melihatku.”

Ah, kau benar..” Sejung nampak kecewa. Namun beberapa saat kemudian ia kembali bersemangat. “Aku punya ide. Kalau kau memang tidak mau mereka melihatmu, pakai masker saja. Orang-orang akan mengira kalau sedang kena flu. Kebetulan aku bawa dari rumah.”

Aku sedikit mendesah mendengarnya. Tidak kusangka Sejung akan setertarik ini dengan murid baru itu. Tapi melihat api semangat yang menyala di kedua bola matanya, aku jadi tidak tega untuk menolak.

Arrasseo..” akhirnya aku menyerah dan menuruti ajakannya. Kalau saja aku tidak menyukainya, tentu aku akan menolak mentah-mentah. Bertemu murid namja tingkat pertama itu sangat merepotkan.

Lalu setelah mengenakan masker, kami berdua pun beranjak untuk pergi ke gedung tingkat pertama. Untuk menuju gedung kelas tingkat pertama, kami yang berada di gedung tingkat kedua harus melalui gedung klub olahraga karena letaknya yang berada di ujung barat. Sementara gedung kelas tingkat ketiga terpisah oleh gedung klub musik yang menjadi pembatas antara gedung kelas tingkat kedua dan tingkat ketiga.

Setelah memakan waktu sekitar 5 menit, akhirnya kami sampai di depan gedung kelas tingkat pertama. Tentu saja banyak murid yang berkeliaran di sana karena jam masuk kelas memang masih cukup lama.

Yaa, kau mengajakku kemari tapi kau tidak tahu tujuan pasti kita?” aku setengah memprotes begitu kulihat Sejung yang asyik celingukan kesana kemari.

Bukannya menjawab, Sejung malah menarik lengan seragam salah seorang murid namja dan menghentikannya.

Jeogiyo.. Apa kau tahu di mana murid baru yang datang pagi ini?” tanyanya.

Eoh, s-sunbae? Kenapa sunbae ada di sini?” murid namja itu balik bertanya dengan wajah berseri.

Aku jadi bertanya-tanya apa dia itu salah satu fans-nya Sejung. Ah, aku lupa mengatakan kalau Sejung juga populer di sekolah karena wajahnya yang cantik dan berasal dari salah satu keluarga terpandang. Juga karena kebaikan hatinya tentu saja. Aku bahkan akhir-akhir ini sering berpikir, mungkin aku populer karena aku sangat dekat dengan Sejung.

Yaa, aku sedang bertanya jadi jawablah.” ulang Sejung sedikit kesal.

“Ahh, geuge– aku belum melihatnya, sunbae.”

Aish.. Kkaja. Mungkin dia masih berkeliaran di sekitar ruang Guru.” Sejung menarik tanganku agak keras dan bergegas pergi meninggalkan namja tadi yang masih menatapnya terpesona. Tanpa sengaja aku melihat nametag pada seragamnya. Jo Jinho. Kulihat namja itu masih terpaku menatap Sejung.

“Sejung-a, pelan-pelan. Aku tidak suka berlari.” ucapku sedikit ngos-ngosan karena Sejung berjalan terlalu cepat.
Aku melepaskan pegangan tangannya dan berhenti sejenak.

Yaa, kau ini lemah sekali. Baru begitu saja sudah capek.”

“Kau kan tahu sendiri aku tidak suka berlari.” aku mengerucutkan mulutku, tapi tentu saja Sejung tidak melihatnya karena masker di wajahku.

Arrasseo, kau bisa menungguku di sini. Kalau aku sudah menemukannya, aku akan menghubungimu.”

Ck.. Arrasseo, arrasseo. Cepatlah. Aku tidak mau lama-lama di sini.”

Tanpa menyahutku Sejung sudah melesat pergi dari hadapanku. Aigoo.. Aku penasaran sebenarnya darimana ia bisa mendapatkan energi lebih seperti itu. Berlawanan sekali denganku. Meskipun fisikku bisa dibilang cukup kuat, tapi kelemahan terbesarku adalah berlari. Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan jantungku. Tapi yang jelas aku tahu pasti kalau jantungku sangat sehat. Mungkin karena aku memang hanya kurang berolahraga.

Ah, baiklah sekarang apa yang harus kuperbuat di tempat ini. Aku menghela napas panjang, dan berniat mencari tempat duduk yang nyaman. Namun baru saja aku berbalik, entah bagaimana bisa aku menabrak seseorang. Dan karena memang aku masih sedikit lelah, keseimbanganku terganggu sehingga aku terdorong ke belakang dan jatuh.

Akh!” aku meringis kecil, merasakan sedikit nyeri di bagian pantatku.
Aku pun mendongak dan melihat seorang namja tengah berdiri di hadapanku. Namja itu cukup tampan meskipun wajahnya masih terlihat sangat imut. Mungkin karena usianya yang masih sangat muda.

Tapi bukan hal itu yang menggangguku

Tapi bukan hal itu yang menggangguku. Kalau untuk melihat situasi yang seperti saat ini, normalnya orang yang menabrak setidaknya akan mengulurkan tangannya untuk membantu berdiri, begitu yang sering kubaca di novel remaja. Tapi lain halnya dengan namja ini. Ia hanya menatapku dengan raut wajah khawatir, namun tak juga mengulurkan tangannya.

M-mianhae.. G-gwaenchanha?” ia bertanya dengan nada gugup.

Aku menatapnya aneh, lalu bangkit dengan usahaku sendiri. “Eoh, gwaenchanha..” sahutku kemudian.

Namja itu tak menyahut, melainkan hanya menatapku seperti tadi, membuatku mengerutkan kening. Kenapa dia tampak begitu gugup? Apa dia mengenaliku? Tapi bukankah aku saat ini memakai masker? Lalu kenapa sikapnya begitu aneh? Sekilas aku melirik dada sisi kirinya. Tak ada nametag apapun. Tapi aku yakin dia murid tingkat pertama.

Tanpa berkata apapun, namja itu berbalik begitu saja meninggalkanku. Tapi entah kenapa aku justru penasaran dengan sikap anehnya itu. Kalaupun dia mengenalku, bukankah seharusnya ia tak menghindariku? Aku tahu bagaimana kebiasaan murid namja tingkat pertama. Mereka selalu agresif terhadapku. Tapi kali ini, ah.. Aku benar-benar penasaran.

Jeogiyo!” panggilku akhirnya.

Namja itu memang berhenti melangkah, tapi ia tak membalikkan badannya sama sekali dan tetap membelakangiku. Aku pun berjalan mendekat.

“Jangan mendekat!”

Aku sedikit terkejut mendengar gertakannya yang tiba-tiba itu, sehingga membuatku mau tak mau berhenti melangkah.

“W-wae? Kenapa kau melarangku mendekatimu? Kau- bukankah mengenaliku, geutji?” tanyaku ingin memastikan.

“Aku- baru pindah hari ini di sekolah ini.”

Lagi-lagi aku dibuat terkejut mendengarnya. Hoo.. jadi dia si murid baru itu? Kurasa apa yang dikatakan Sejung benar. Penampilan namja ini memang terlihat menarik. Tidak heran banyak murid yeoja yang membicarakannya. Tapi kenapa sikapnya aneh sekali?

“Eoh! Itu dia si murid baru..”

“Aigoo, dia memang tampan..”

“Geurae.. Dan juga imut.”

“Aaaa.. aku jadi ingin mencubit pipinya.”

“Keunde, apa kalian tahu siapa namanya?”

Aku terdiam sejenak mendengar berbagai macam celotehan pelan yang berasal dari murid yeoja yang berada di sana. Lalu pandanganku kembali pada namja baru yang masih berdiri mematung tak jauh di depanku itu. Pasti ia merasa tidak nyaman dengan sikap mereka yang seperti hendak menelannya bulat-bulat di hari pertamanya di sekolah.

Ah, mian.. Kurasa aku sudah mengganggumu. Kau bisa pergi sekarang.” Aku pun membalikkan badanku.

Aku harus segera menghubungi Sejung dan memberitahunya kalau aku sudah bertemu dengan si murid baru dan segera mengajaknya kembali ke gedung kelas kami. Namun baru saja aku mengeluarkan ponsel milikku, tiba-tiba saja namja itu sudah berdiri di hadapanku. Aku menatapnya penuh keheranan. Pasalnya ekspresinya benar-benar tampak tegang.

Eoh?” tanyaku heran.

“Kau- bisa mengantarku ke ruang tata usaha? Aku- tersesat.”

Pfffffttt.. Sebisa mungkin aku menahan tawaku. Sungguh aku merasa sangat geli melihat cara namja ini berbicara. Nadanya benar-benar kaku dengan pandangan matanya yang selalu berubah-ubah, sesekali menatapku dan sesekali menatap ke arah lain. Bagiku itu sangat menggemaskan. Aigoo.. Apa-apaan aku ini?

Arrasseo.. Aku akan mengantarmu. Kkaja.” Aku pun berjalan mendahuluinya, berusaha menahan tawaku. Untung saat ini aku mengenakan masker, jadi dia tidak akan curiga dengan perubahan air mukaku.
Aku pun mengajak namja itu menuju ruang tata usaha yang letaknya berseberangan dengan ruang Guru. Ah, ngomong-ngomong dimana Sejung? Bukankah tadi dia pergi ke ruang guru?

“Itu ruang tata usaha.” Tunjukku pada si murid baru.

Namja itu hanya mengangguk kecil, lalu berjalan melewatiku begitu saja. Tentu saja aku sedikit tersinggung karenanya.

Jamkanman.” Panggilku lagi-lagi membuatnya berhenti.

“Kau tidak ingin mengatakan apapun?” lanjutku sambil menatapnya sedikit tajam.

Gomawo.” katanya kemudian tanpa berbalik menatapku dan entah kenapa hal itu tidak membuatku merasa puas.

“Bukankah kau murid baru di sini? Setidaknya kau harus memperkenalkan diri pada Sunbaemu.” kataku kemudian.

S-sunbae?” namja itu tampak terkejut mendengar ucapanku, lalu membalikkan badannya menghadapku.

Geurae, aku murid tingkat kedua, namaku Park Jiyeon.” sahutku seraya mengulurkan tanganku padanya.
Namun ia hanya diam tak mengatakan apapun.

“Kau tidak ingin menyebutkan namamu?” tegurku padanya.

Namja itu tak juga menjawab, melainkan terus menatapku seakan mencoba memastikan sesuatu melalui tatapannya itu. Aku merasa semakin aneh dibuatnya. Kenapa sikapnya berbeda dari sebelumnya? Bukankah tadi dia selalu menghindari tatapan langsung denganku? Tapi sekarang ia justru seperti tengah mengajak bertanding siapa yang lebih lama bertahan menatap. Dan itu sama sekali membuatku tidak nyaman, apalagi dengan jarak yang tidak terlalu jauh seperti ini, meski saat ini aku memakai masker.

“Sepertinya baik-baik saja.” gumamnya seperti berkata pada dirinya sendiri.

“N-ne?” tanyaku tak mengerti.

“Aku Jungkook. Jeon Jungkook. Bangapseumnida, Park Jiyeon Sunbae.”

Aku tertegun. Entah kenapa, aku merasa dia berubah menjadi sosok namja yang lain, berbeda jauh dengan namja yang tadi menabrakku. Ia memang tidak menyambut uluran tanganku, tapi melihat senyumnya yang tampak tulus itu entah kenapa membuat hatiku senang. Ah, ngomong-ngomong di mana Sejung? Dia harus melihat ini.

MWO?? KAU BERTEMU DENGANNYA? AISSHH!!”

Yaa, pelankan suaramu, bodoh! Kau membuat semuanya menatap ke arah kita.” kataku sedikit bersungut membuat Sejung seketika menutup mulutnya. Namun terlambat karena murid-murid lain mulai menatap kami sambil berbisik. Aish.. aku benar-benar tidak suka jadi pusat perhatian.

“Eoh! Bukankah itu Jiyeon sunbae?”

“Mwo? Jinjja? Eodi?”

“Ah, kau benar. Itu Jiyeon sunbae!”

“Sunbae! Jiyeon sunbae!”

Aku melotot lebar dibuatnya. Bagamana mereka bisa mengenaliku? Bahkan saat aku masih mengenakan masker? Aish tentu saja, bagaimana aku bisa sebodoh ini. Mereka pasti bisa tahu dengan jelas kalau ini adalah aku, mengingat orang yang selalu bersama Kim Sejung hanyalah Park Jiyeon. Tanpa menunggu aba-aba, aku pun menarik tangan Sejung dengan paksa dan mengajaknya berlari sekuat tenaga. Sial! Lagi-lagi aku harus berlari. Ck.. Terkadang aku bahkan berangan ingin jadi bodoh saja sehingga tidak akan jadi sepopuler ini. Tapi mengingat biaya sekolah yang amat sangat mahal, niatku untuk menjadi bodoh pun terbang sia-sia. Lagipula aku terlanjur menyukai sekolah ini.

“Jadi- namanya Jeon Jungkook? Bagaimana orangnya? Apa dia tampan?” Sejung kembali bertanya begitu kami berhasil selamat dari amukan massa dan sampai di lantai satu gedung kelas kami.

Aku masih sibuk mengatur napasku sementara Sejung setia menanti jawaban untuk pertanyaan yang baru saja dilontarkannya. Aish, aku heran kenapa dia begitu tertarik dengan murid baru itu. Dan juga, apa dia tak merasa lelah sama sekali akibat berlari tadi?

Um..” anggukku menanggapi pertanyaannya sambil mendudukkan tubuhku di tangga yang menuju lantai 2, “Badannya kira-kira setinggi ini..” tambahku seraya memberikan gambaran pada Sejung dengan meletakkan tanganku beberapa centi lebih tinggi dariku.

Jinjja? Whoa aku jadi semakin penasaran seperti apa orangnya.”

“Lupakan saja. Dia memang tampan tapi sedikit aneh.”

Mwo? Aneh?”

Eoh.. Setidaknya begitu menurutku. Sikapnya berubah-ubah. Aku jadi tidak bisa memastikan dia itu sebenarnya pemalu atau malah sebaliknya.”

“Siapa yang pemalu?”

Aku dan Sejung sedikit terkejut dan menoleh. Kami mendapati seorang namja sudah berdiri di samping kami. Tanpa melihat nametagnya pun aku sudah tahu siapa dia. Kim Taehyung, ketua kelas 2-1, kelas kami.

Tapi bukan itu yang menarik perhatianku saat ini, melainkan sebuah botol minuman yang berada di genggaman tangannya

Tapi bukan itu yang menarik perhatianku saat ini, melainkan sebuah botol minuman yang berada di genggaman tangannya. Aku refleks meneguk ludah melihatnya. Bagaimanapun juga aku masih kelelahan dan aku sangat membutuhkan air saat ini.

“Kalian sedang membicarakan siapa?” ulang Taehyung lagi.

Wae? Kenapa kau ingin tahu sekali? Itu bukan urusanmu.” Sejung meyahut dengan nada ketus.

Selama ini Sejung memang sedikit sensi terhadap Taehyung. Aku tidak tahu kenapa tapi setiap kali aku bertanya dia hanya menjawab kalau seandainya dia harus membenci seseorang di dunia ini, maka orang itu adalah Kim Taehyung. Entahlah, setahuku mereka memang tidak pernah berhubungan baik sejak masih di tingkat pertama. Dan mungkin ini satu-satunya rahasia yang tidak diceritakan Sejung padaku.

“Jangan bergosip terus dan segeralah masuk ke kelas. Sebentar lagi bel masuk berbunyi.”

Terdengar decapan kecil dari mulut Sejung menanggapi ucapan Taehyung. Kupikir namja itu akan berjalan kembali menuju kelas, tapi ia malah mendekatiku.

“Jiyeon-a, Kau sedang flu?” tanyanya padaku.

Aku sedikit tersentak, lalu dengan agak gugup melepaskan masker di wajahku.

Anni, ah maksudku iya tadi pagi aku sedikit flu.”

“Kalau sedang flu sebaiknya banyak minum air putih. Igeo, untukmu saja!” Taehyung menyerahkan minumannya padaku, membuatku hampir tak percaya, rasanya seperti baru saja kejatuhan bulan.

“J-jinjja? Ini untukku?” tanyaku berseri-seri.

Eoh..” angguk Taehyung.

Huaaa.. Gomawo, ketua kelas! Kau memang sangat pengertian!” saking senangnya aku refleks memeluk lengan Taehyung. Tapi namja itu segera menjauhkan diri dariku.

M-mwoya? Ini- hanya air mineral. K-kenapa kau begitu senang?” tanyanya pula.

Ahahah.. Bukan apa-apa. Keunde, ketua kelas. Kenapa wajahmu merah sekali? Apa kau sedang demam?”

M-mwo? Aahh.. Anniya, nan gwaenchanha. Keunde, setelah ini segeralah masuk kelas. Jangan sampai terlambat.”

Nde.. Sekali lagi jeongmal gomawoyo, Taehyung-a!”

Taehyung tak menjawab dan terus berjalan tanpa menoleh lagi. Tanpa menunggu apapun aku langsung meneguk air mineral dari Taehyung hampir setengahnya.

Yaa! Kenapa kau senang sekali mendapatkan pemberian darinya? Apa kau menyukai si kampret itu, eoh?” tegur Sejung membuatku refleks menyemburkan air dari dalam mulutku. Aku menoleh dan menatap Sejung dengan tajam.

Yaa, apa yang kau katakan?” kataku tak senang.

“Sepertinya si sialan itu menyukaimu. Katakan padaku kalau kau tidak menyukainya atau aku akan marah, Park Jiyeon.”

Wae? Kenapa kau harus marah? Apa kau menyukai ketua kelas kita?”

Áish! Justru sebaliknya. Aku tidak menyukainya. Sangat tidak suka. Kalau kau memang ingin punya namjachingu, sebaiknya jangan dia. Aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian, arrachi?”

Pffffffffttt.. Buahahaha.. Aigoo.. Kau ini bicara apa sih? Siapa yang ingin punya namjachingu? Aigoo, aku bisa gila. Yaa, Kim Sejung, aku tidak tertarik dengan hal semacam itu asal kau tahu saja.”

“Diam kau! Apa kau tidak tahu kalau banyak teman-teman kita yang sudah berkencan satu sama lain? Apa selamanya kau akan terus sendirian, eoh?”

Aish, dwaesseo. Aku hanya akan berkencan dengan buku-buku pelajaranku. Dan kalaupun aku memang ingin punya namjachingu, aku akan lebih memilih dengan murid baru itu. Astaga.. Namjachingu apanya..” ucapku seraya berjalan meninggalkan Sejung menuju kelas.

Yaa! Park Jiyeon? Apa katamu?”

Whoah.. Sejung benar-benar meninggalkanku. Kukira ia akan menolak ajakan Suga sunbae untuk pergi ke kantin bersama. Lagi-lagi aku lupa kalau Sejung sangat populer di kalangan murid namja tingkat ketiga. Sekarang aku benar-benar sendirian di sini. Anni, bukan berarti tidak ada yang mengajakku, tapi sebagian besar teman-teman yeoja sekelasku sedang fokus pada murid baru di tingkat pertama alias Jeon Jungkook itu dan sudah berbondong-bondong entah kemana sejak bel istirahat berbunyi tadi. Sekarang hanya aku dan beberapa teman namja yang masih berada di dalam kelas. Aku melirik ke arah Taehyung yang letak bangkunya berada di ujung kanan paling depan. Sepertinya namja itu masih asyik belajar. Aigoo.. Ketua kelas memang rajin dan pintar, dan selalu mampu mempertahankan peringkat kedua di tingkat kami. Yah meskipun masih belum bisa mengalahkanku yang selalu jadi juara, muehehe.

Aku bangkit hendak mengajaknya ke kantin bersama, tapi entah kenapa aku merasa bimbang, mengingat aku yang tidak begitu suka pergi bersama dengan teman namja karena traumaku ini. Bukan karena aku phobia terhadap namja, hanya saja aku tidak mau mereka jadi salah mengartikannya dan semakin berusaha mendekatiku. Meskipun aku yakin Taehyung bukanlah tipe namja seperti itu. Baiklah, kurasa aku akan pergi sendiri saja. Mungkin membeli beberapa roti isi dan minuman bukan ide yang buruk. Aku akan memakannya di tempat yang jauh dari keramaian.

Aku berjalan menuju belakang taman sekolah dengan menjinjing kantong kecil berisi makanan yang baru saja kubeli di kantin sekolah. Kulihat hanya ada beberapa murid di sana. Aku mendesah kecil. Sekolah ini memiliki ribuan murid tapi sebagian besar dari mereka lebih memilih memanfaatkan fasilitas sekolah di dalam ruangan di waktu istirahat ketimbang di luar ruangan yang bebas udara bersih seperti ini. Memang, sekolah Kingo menyediakan semua gadget dan fasilitas canggih untuk para murid. Tak heran kalau biaya masuk sekolah ini sangat luar biasa mahal. Lagi-lagi aku bersyukur mendapatkan beasiswa ini, dan bertekad akan terus mempertahankannya hingga aku lulus nanti.

Bruk!

Aku terkejut karena entah bagaimana caranya tiba-tiba saja aku menabrak seseorang di saat aku berjalan dan membuat burger miliknya terjatuh ke tanah.

YAA!! MWOHANEUN GEOYA? APA KAU TIDAK PUNYA MATA, EOH? AISH KAU MEMBUAT BURGER MILIKKU TERBUANG SIA-SIA!”

J-jeoseonghamnida, sunbae-nim. Aku tidak sengaja.” Aku buru-buru meminta maaf begitu sadar kalau yang kutabrak adalah murid yeoja tingkat ketiga. Aku tahu siapa mereka berdua. Yoon Sohee dan Kim Jiwon. Yoon Sohee adalah anak kepala sekolah, Yoon Dujun. Kudengar ia memang suka mencari gara-gara dengan orang lain.Tapi tak kusangka kalau kali ini akulah yang jadi korbannya.

Sementara Kim Jiwon, aku tidak begitu tahu tentangnya tapi dia adalah sahabat Sohee sunbae

Sementara Kim Jiwon, aku tidak begitu tahu tentangnya tapi dia adalah sahabat Sohee sunbae.

Perasaanku langsung tidak enak dibuatnya

Perasaanku langsung tidak enak dibuatnya. Pasalnya meskipun aku juga cukup populer di kalangan tingkat ketiga, itu karena sebagian besar murid yeoja di sana tidak menyukaiku. Dan selama ini aku selalu berusaha untuk menghindari tempat yang berada dekat dengan gedung tingkat ketiga. Tapi siapa sangka kalau mereka pun bisa ada di taman belakang sekolah seperti ini. Dan kini justru dua murid yeoja tingkat ketiga sekaligus sedang berada tepat di hadapanku.

Hoo… Jadi kau yang bernama Park Jiyeon? Murid golden tingkat kedua, geutji?” Sohee sunbae berkata sambil melipat kedua tangannya.

Aku tak menjawab dan hanya diam menunduk. Buruk kalau aku sampai berani mengangkat wajahku. Sementara kedua yeoja itu masih sibuk mengitariku seolah sedang meneliti setiap inchi dari tubuhku.

“Tidak heran jika banyak murid sekolah ini yang tergila-gila padamu. Kau lumayan cantik juga. Keunde, sepertinya kau bukan dari keluarga elite. Penampilanmu terlihat sangat biasa.”

Lagi-lagi aku hanya diam membisu tak menjawab.

Yaa, apa kau bisu, eoh? Kenapa sejak tadi hanya diam? Kau mengabaikan kami ya?” tegur Jiwon sunbae padaku.

J-jeoseonghamnida. Aku- benar-benar tidak sengaja menabrak sunbae-“

Sial. Aku ingin sekali pergi dari hadapan mereka secepatnya.

Greb! Sohee tiba-tiba saja merebut kantong plastik berisi makanan yang semula berada di tanganku.

“Aku akan mengambil ini sebagai ganti rugi burgerku yang sudah kau jatuhkan. Dan juga ingat kata-kataku ini. Jangan pernah coba-coba tebar pesona pada namja murid tingkat ketiga, arrachi?”

Aku hanya mengangguk mengiyakan. Beruntung, semenit kemudian mereka berdua berjalan pergi meninggalkanku. Aku bernapas lega karenanya. Meskipun jatah makan siangku diambil mereka, setidaknya mereka tidak bersikap di luar batas kewajaran terhadapku. Aku benar-benar bersyukur karenanya. Dengan langkah gontai aku pun kembali berjalan dan mendekati salah satu pohon beringin yang paling besar di taman sekolah.

Dengan lesu aku menyandarkan tubuhku di bawah pohon tersebut

Dengan lesu aku menyandarkan tubuhku di bawah pohon tersebut.

Oh, makan siangku.. Bagaimana ini? Aku lapar tapi terlalu malas untuk kembali ke kantin. Ah, matta, aku akan meminta tolong Sejung saja untuk membelikanku roti lagi.” gumamku seorang diri sambil mengeluarkan ponsel milikku dan mendial nomor Sejung. Lama sekali aku menunggu nada sambungnya terhubung, akan tetapi hingga suara operator menjawab pun tak kudapati suara Sejung.

Aisshh! Aku menggerutu dan mengulanginya selama beberapa kali, namun hasilnya tetap sama saja.

AIISSHH!! KIM SEJUNG DI MANA KAUUU??” teriakku tak tahan lagi.

Aku sangat kelaparan dan Sejung malah tidak bisa dihubungi di saat aku membutuhkan bantuannya. Apa dia benar-benar lebih mementingkan Suga Sunbae daripada sahabatnya sendiri?

AAAARRGGHH!! KIM SEJUNG KAU BENAR-BENAR-“”

YAA!! BERISIKK!!”

Aku terperanjat mendengar gertakan barusan. Kuedarkan pandanganku ke segala penjuru, namun tak kulihat satu pun orang yang berada di dekatku saat itu selain beberapa murid yang berada cukup jauh dari tempatku. Aku penasaran dan bangkit dari dudukku kemudian mengitari pohon besar tersebut, namun tak juga kutemui siapapun di sana.

“Aneh sekali. Jelas-jelas aku mendengar suara seseorang.” gumamku mendadak merinding. Aku bahkan sempat berpikir kalau pohon besar ini ada penunggunya.

Bukk!!

Lagi-lagi aku dibuat kaget setengah mati ketika secara tiba-tiba seseorang melompat di depanku begitu saja. Aku bahkan hampir terjatuh ke belakang. Kulihat seorang namja tengah berdiri sambil menatapku dengan ekspresi datar. Rambutnya sedikit berantakan dengan kedua matanya yang agak menyipit.

 Rambutnya sedikit berantakan dengan kedua matanya yang agak menyipit

“K-kau- darimana kau muncul?” tanyaku sedikit takut.

Namja itu tak menjawab melainkan hanya mengarahkan jari telunjuknya ke atas masih dengan ekspresi datarnya dan kedua matanya yang menyipit. Aku mendongak mengikuti arah petunjuknya.

“Kau- tadi di atas pohon ini?”

“Kau mengganggu tidur siangku.” katanya dengan suara berat, menunjukkan kalau ia benar-benar baru saja tidur.

M-mwo? Tidur? Di atas pohon ini?” aku mengulangi ucapannya dengan sedikit tidak percaya. Bagaimana bisa ia tidur di atas pohon? Tapi kalau dipikir-pikir lagi sepertinya masuk akal, mengingat ukuran pohon ini yang sangat besar. Pasti dahan-dahannya pun sangat pas untuk ukuran tubuh anak muda seperti kami. Aku bahkan tidak bisa melihat ke dalam daun-daunnya yang lebat dari bawah sini.

Selagi aku berpikir, namja itu beranjak melewatiku, tapi tanpa disangka-sangka ia menginjak kakiku cukup keras.

AAAAKKKKKHH!!” aku berteriak kesakitan dan seketika mengangkat kaki kananku yang mungkin sudah memar.
Kutatap namja kurangajar yang ternyata terus berjalan begitu saja itu bahkan tanpa meminta maaf padaku.

Jeogiyo!” panggilku dengan suara keras, membuat namja itu berhenti dan menoleh padaku.

Wae?” katanya dengan suara datar.

Aissh!! Aku benar-benar kesal melihat sikapnya yang begitu tenang itu. Dengan agak terpincang, aku pun mendekatinya.

“Kau tidak ingin mempertanggungjawabkan perbuatanmu?” kataku, berusaha sekuat mungkin menahan emosiku.

Mwoga?” dan dia masih saja bersikap seolah tidak bersalah sedikitpun.

“KAU BARU SAJA MENGINJAK KAKIKUU!!” aku sudah tidak tahan lagi menahan emosiku dan berteriak padanya. Aku benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan pandangan murid-murid lain yang mulai memperhatikan kami.

Ahh.. Itu. Geurae, aku menginjaknya tadi.”

Grrrrr!! Namja ini benar-benar sudah menghilangkan batas kesabaranku.

“K-kau- Yaa! Bisakah setidaknya kau meminta maaf padaku, eoh? Kenapa kau bisa setenang ini? Nappeun!” teriakku lagi.

“Kau tadi mengganggu tidurku. Dan kau tidak meminta maaf. Jadi apa masalahnya sekarang?”

Aku tertohok mendengar ucapan namja ini. Jadi maksudnya dia hanya membalas dendam padaku karena sudah mengganggu tidur siang konyolnya itu? Haha benar-benar..

Arrasseo.. Kalau memang itu masalahnya, geurae, aku minta maaf karena sudah mengganggu tidur siangmu yang nyenyak.”

Joha. Aku juga minta maaf sudah menginjak kakimu tadi.”

Aku terdiam. Apa ini? Ini tidak beres. Benar-benar tidak beres.

Ah, satu hal lagi. Nada bicaramu itu juga sangat tidak sopan, apalagi terhadap sunbaemu.”

Aku tersedak mendengarnya. Apa katanya? Sunbae? Aku pun melirik atribut di seragam namja itu dan seketika aku melotot karenanya. Ohmo! Ternyata benar dia murid kelas tingkat ketiga. Jadi- dia benar-benar seorang sunbae? Buruk. Ini benar-benar buruk!

“Kau pasti tahu sanksi untuk seorang hoobae yang bersikap tidak sopan terhadap sunbae-nya di sekolah ini.”

“K-keunde-aku-“

Namja itu tertawa kecil, membuatku menatapnya heran.

“Aku hanya bercanda. Geogjeongma. Selama aku sudah membalasmu tadi, itu sudah cukup bagiku. Tapi aku pasti akan mengingat wajahmu. Park – Ji – Yeon? Namamu terdengar tidak asing. Ah, murid golden di tingkat kedua itu ya?” ucapnya sambil mengeja namaku yang tetera di nametag milikku.

Aku tak menyahut, benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana saat itu juga.

Geureom, annyeong, Park Jiyeon. Bersiaplah untuk pertemuan kita selanjutnya.” ucap namja itu sambil menunjukkan smirk miliknya, dan entah kenapa nyaliku seketika menciut dibuatnya. Namja ini, sepertinya namja yang sangat berbahaya. Bersiap? Bersiap untuk apa maksudnya? Diam-diam aku melirik nametagnya. Kim Myungsoo. Itu namanya. Sepertinya tidak asing. Tapi siapa dia? Aku masih terpaku di tempat bahkan sampai namja itu berbalik dan pergi meninggalkanku yang sudah seperti mayat hidup.

“Tamatlah riwayatku karena sudah terlibat masalah dengan seorang sunbae. Apalagi dia terlihat bukan namja baik-baik. Aarghh, eottokhe?” aku terus menggumam sendirian dan berusaha menenangkan diri.

Baiklah, untuk saat ini yang terpenting adalah kakiku. Aigoo.. Apa aku akan berjalan terpincang seperti ini sampai ke kelas? Ck! Ini benar-benar hari yang buruk untukku.

Yaa! Kim Sejung!” teriakku begitu kulihat sosok yeoja yang sangat kukenal baru saja masuk ke dalam gedung kelas kami. Aku memang sengaja menunggu yeoja itu di luar kelas untuk meminta pertanggung jawabannya. Dengan sedikit terpincang aku berjalan menghampirinya.

Ohmo, Jiyeon-a. Wae geurae? Kenapa jalanmu pincang begitu, eoh? Apa kau baru saja terjatuh dari tangga?” tanya Sejung dengan nada khawatir dan seketika memeriksa kakiku.

“Kau pikir karena siapa aku jadi pincang begini? Kalau saja kau mengangkat telepon dariku pasti aku tidak akan mengalami hal seburuk ini.”

Aigoo, mianhae Jiyeon-a, ponselku tertinggal di dalam kelas karena terburu-buru keluar tadi. Keunde bagaimana ceritanya kau bisa terluka seperti ini, eoh?”

Ck, seorang sunbae menginjak kakiku.”

M-mwo? Bagaimana bisa? Apa mereka membullymu lagi? Yaa, ini benar-benar tidak bisa dibiarkan. Kau tidak bisa terus diam seperti ini. Kau harus melaporkannya pada Kepala Sekolah.”

Anni.. Maksudku-” ck! aku mendesah kesal sebelum kemudian melanjutkan, “-ini semua karena salahku. Aku tidak sengaja mengganggu seorang sunbae dan dia hanya bermaksud membalasku.”

Keunde tetap saja ini namanya pembullyan yang semena-mena karena sudah menyakitimu. Kalau kau memang tidak mau melapor, baiklah biar aku saja yang mewakilimu.”

Hajima! Jinjja, jangan lakukan apapun, Sejung-a. Entah kenapa firasatku mengatakan kalau aku harus diam saja soal ini. Sunbae itu- dia tampak seperti bukan namja yang baik-baik. Aku bisa merasakan itu. Aku bahkan masih ingat bagaimana caranya ia tersenyum. Dia juga bilang akan mengingat wajahku, dan itu benar-benar membuatku tidak nyaman.”

Mwo? Jadi sunbae yang kau maksud itu seorang namja? Heol.. Namja macam apa yang tega menginjak kaki seorang yeoja?”

Ck. Namanya Kim Myungsoo. Kalau tidak salah dia murid kelas 3-3.”

Kulihat Sejung membulatkan kedua matanya seketika, “MWORAGO??” teriaknya.

Yaa! Bisakah kau bicara lebih normal? Kenapa responmu selalu seperti itu, eoh?”

“Park Jiyeon, kau benar-benar dalam masalah sekarang. Kim Myungsoo katamu? Yaa! Kau lupa kalau dia itu anak pemilik Kingo? Bahkan Kepala Sekolah saja tunduk pada Kim Myungsoo!”

Kali ini kedua mataku yang membulat sempurna. “M-MWORAGO??”

Author’s POV

Seorang yeoja yang tengah duduk di sebuah kursi yang terletak di samping kolam renang belakang rumah mewahnya itu tampak mengaduk-aduk orange juice di tangannya. Meskipun usianya telah paruh baya, namun wajah yeoja itu masih tampak muda berkat perawatan yang dijalaninya selama ini. Yeoja itu terlihat menatap lurus ke arah kolam renang di hadapannya dengan raut mukanya yang sesekali nampak berkerut pertanda sedang memikirkan sesuatu. Sedetik kemudian yeoja itu meraih ponsel yang semula tergeletak begitu saja di atas meja, lalu mulai menekan beberapa nomor di sana.

Tuuuutt..

Yeobeoseyo..” terdengar sebuah suara seorang namja di seberang.

“Kerjakan tugasmu mulai hari ini. Tidak perlu terburu-buru. Kau bisa memulainya dengan perlahan. Yang pasti aku ingin anak itu menghilang dalam waktu dekat ini.”

“Ye.. Algeusseumnida,”

Klik!

Yeoja itu memutuskan panggilannya, lalu kembali menyeruput juice di tangannya sembari kedua matanya yang masih menatap lurus ke depan. Sesaat kemudian tampak guratan senyum kecil di wajahnya.

“Takkan kubiarkan kau memiliki semuanya.” lirihnya.

Jiyeon’s POV

Aku melangkah keluar dari gerbang sekolah dengan lesu. Sejung masih belum berniat kembali ke asrama karena sedang ada janji dengan seorang sunbae. Alhasil aku kembali seorang diri. Aku mendesah dengan berat. Kurasa aku benar-benar tamat hari ini. Bagaimana aku bisa lupa kalau Kim Myungsoo itu adalah anak dari pemilik sekolah Kingo? Aiisshh kemana perginya kemampuan daya ingat yang tinggi itu? Sekarang aku benar-benar takut. Bagaimana kalau aku dikeluarkan dari sekolah? Meskipun namja itu bilang dia tidak akan melakukan apapun kecuali mengingat wajahku, tapi tetap saja aku akan diingat sebagai seorang hoobae yang sudah bersikap tidak sopan terhadap sunbae-nya. Bagaimana kalau ia sampai menggunakan alasan itu untuk mengancamku dan menyuruhku melakukan apapun yang dia inginkan? Maldo andwae! Bahkan hanya membayangkan pun aku tak punya nyali. Aigoo.. Ettokhe..

Eoh, itu Jiyeon sunbae!”

“Jiyeon sunbae, annyeong!”

“Sunbae kenapa dengan kakimu? Kau baru terjatuh ya?”

“Sunbae gwaenchanha? Aku bisa menggendongmu sampai ke asrama.”

“Jiyeon sunbae-“

“Aish! Shikeureo!” tanpa sadar aku berteriak pada murid-murid namja tingkat pertama yang sejak tadi terus mengerumuniku. Mereka tampak terkejut dan seketika terdiam mendengar teriakanku, membuatku sadar dengan apa yang baru saja kulakukan.

“Ah, mian. Aku sedang tidak enak badan, jadi bisakah kalian tidak menggangguku?” kataku kemudian, berharap mereka segera pergi meninggalkanku.

Ne, gwaenchanha, sunbae..

Akhirnya aku bisa bernapas lega begitu kulihat mereka mulai berjalan menjauh dariku. Tidak kusangka kalau teriakanku akan membuat mereka buyar begitu. Mungkin setelah ini aku akan mendengar gosip bertemakan Park Jiyeon, murid golden yang mirip singa kelaparan saat sedang marah. Apalah itu aku tidak peduli. Justru itu akan sangat menguntungkan bagiku karena akan terbebas dari kejaran para fans.

“J-jeogiyo!”

Aku berhenti melangkah, lalu dengan malas menoleh ke asal suara barusan.

Wae tto.. Kubilang jangan gang- eoh! Kau?” aku berubah terkejut saat melihat seorang namja berdiri di belakangku. Rupanya ia adalah murid baru tingkat pertama itu. Jeon Jungkook.

“Kau- kau menjatuhkan ballpoint..”

Aku tertegun sejenak melihatnya. Hm? Lagi-lagi seperti ini. Sikapnya kembali seperti pertama kali aku melihatnya tadi pagi.

Begitu ia menyerahkan bolpoin milikku, namja itu langsung beranjak pergi begitu saja.

“Jeon Jungkook!” panggilku, membuat namja itu berhenti melangkah.
Aku memang tak ingin terlalu dekat dengan namja, tapi entah kenapa aku merasa tertarik dengan namja satu ini. Aku ingin tahu lebih banyak tentangnya.

“D-darimana kau tahu namaku?” tanyanya tanpa melihat ke arahku sama sekali.

Ah, benar juga. Aku Park Jiyeon, yeoja yang tadi pagi menolongmu. Aku maklum kau tidak tahu karena tadi aku memakai masker.”

Kulihat Jungkook hanya mengangguk menanggapi ucapanku.

“Kau mau langsung ke asrama, geutji? Bagaimana kalau kita pergi bersama?”

Anni! M-maksudku, aku akan pergi sendiri saja.”

Aku keheranan melihat responnya yang seperti itu. Sebenarnya ada apa dengan namja ini? Sikapnya jauh lebih aneh dari sebelumnya. Seperti ketakutan atau semacamnya. Berbeda sekali dengan tadi pagi saat berada di depan ruang TU. Ah, apa mungkin karena itu? Dengan cepat aku mengambil masker milik Sejung yang masih kubawa di dalam tasku, lalu mengenakannya kembali di wajahku.

“Bagaimana kalau begini? Apa kau tetap menolak pergi bersamaku?” kataku kemudian.

Jungkook terlihat ragu dan menatapku. Raut wajahnya yang semula tegang, perlahan mulai mengendur dan lebih tenang. Mwoya? Apa berarti dugaanku ini benar? Namja ini- menderita gynophobia?

Gynophobia adalah ketakutan terhadap yeoja. Bahkan ini lebih parah dari Caligynephobia atau ketakutan melihat yeoja cantik. Karena penderita gynophobia akan merasa takut pada setiap yeoja mau yeoja itu cantik atau tidak. Tidak kusangka kalau phobia seperti itu masih ada. Aku yakin Jungkook pernah mengalami kenangan sangat buruk yang membuatnya trauma sehingga memiliki penyakit itu.

“Darimana sunbae tahu kalau aku ini penderita gynophobia?” tanya Jungkook saat perjalanan menuju asrama. Aku lega karena sikapnya sudah normal dan tidak ketakutan seperti tadi, meski ia masih menjaga jarak denganku.

“Aku hanya sekedar menebak. Karena sikapmu sangat berbeda dengan saat aku memakai masker. Tidak kusangka kalau dugaanku ini tepat.”

Keunde- sunbae adalah yeoja pertama yang menyadari penyakitku ini dengan cepat. Bahkan selama ini yeoja yang mengenalku sama sekali tidak menyadari kalau aku penderita gynophobia.”

“Ah jinjja?” aku semakin tertarik karena rupanya namja ini cukup banyak bicara dari kelihatannya.

Um..” Jungkook mengangguk, lalu menoleh padaku, “Sunbae juga yeoja pertama yang bisa kuajak bicara secara bebas seperti ini semenjak aku memiliki phobia ini.”

Geuraeyo? Apa maksudmu- selama ini kau belum pernah melakukan terapi apapun untuk mengatasi penyakitmu ini?”

“Aku tidak suka dekat-dekat dengan yeoja. Karena itulah aku tidak pernah mau diterapi. Tapi aku terkejut saat melihatmu yang memakai masker. Aku tidak merasa ketakutan seperti biasanya.”

“Aku ikut senang mendengarnya. Keunde, bagaimana dengan Eommamu saat di rumah? Apa kau juga takut berada dekat dengan Eommamu?”

Air muka Jungkook berubah mendengar pertanyaanku. Ia hanya diam dan kembali menghadap ke depan. Ah, aku jadi sedikit menyesal. Pasti pertanyaanku terkesan terlalu ingin tahu dan ingin ikut campur. Atau jangan-jangan, justru Eomma nya lah penyebab ia memilliki phobia ini. Aish, molla!

Beberapa saaat lamanya kami sama-sama terdiam. Ah, sebenarnya aku tidak suka dengan suasana seperti ini. Seharusnya aku memang tidak mengeluarkan pertanyaan bodoh itu tadi. Alhasil kami berdua hanya berjalan tanpa berkata apapun. Aigoo, canggungnya.. Kenapa jadi begini? Kulihat beberapa murid Kingo juga sedang berjalan menuju asrama. Namun banyak juga di antara mereka yang pergi keluar entah pergi untuk pekerjaan part-time ataupun sekedar bersenang-senang. Lagipula sebagian besar murid Kingo memang berasal dari kalangan atas, dan hanya sebagian kecil yang berasal dari kalangan menengah ke bawah sepertiku.

Namun beberapa saat kemudian aku sedikit dibuat heran ketika melihat dua orang namja yang kurasa bukan dari Kingo sedang menuju arah yang sama dengan kami di belakang. Hm? Aku tahu benar kalau jalan ini hanya mengarah ke asrama Kingo karena memang letaknya yang berada paling ujung dan tidak ada jalan untuk ke tempat lain. Tapi kenapa dua orang itu mengarah kemari? Apa mereka memang sedang ingin pergi ke asrama Kingo? Aku terus bertanya-tanya dalam hati sambil sesekali menoleh ke belakang, hingga akhirnya kedua orang itu berbelok ke arah gang kecil tak jauh dari asrama.

Mwoya?” aku bergumam seorang diri penuh keheranan. Secara refleks aku berhenti melangkah. Sungguh aku penasaran dengan kedua orang itu. kenapa mereka pergi ke gang itu? Selama aku tinggal di asrama Kingo, aku memang belum pernah masuk ke gang itu karena di sana memang tak pernah dijamah oleh siapapun. Menurut murid-murid Kingo lain yang mengaku pernah kesana mengatakan kalau di tempat itu sangat kumuh dan banyak sekali serangga ataupun binatang melata. Meskipun tidak tahu apakah itu benar atau tidak, tentu saja tak ada satu pun dari kami yang enggan pergi kesana. Tapi kenapa kedua orang itu justru pergi kesana? Karena sangat penasaran akhirnya aku berbalik dan berjalan untuk melihat kedua orang itu pergi. Heol! Dua orang itu benar-benar pergi kesana dan tampak masih berjalan tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. Wah, aku jadi ingin tahu apa yang akan mereka perbuat di tempat seperti itu. Atau jangan-jangan mereka itu anggota gangster atau semacamnya?

Sunbae, wae geurae?

Aku sedikit tersentak mendengarnya. Tahu-tahu Jungkook sudah berada di sebelahku sambil turut menatap ke arah gang tersebut.

Ahh, anniya.. Aku hanya penasaran dengan dua orang yang pergi kesana itu. Tempat itu terkenal kumuh tapi kenapa mereka justru pergi kesana?”

Geuge– apakah itu aneh? Bukankah mereka hanya akan membersihkan tempat itu?”

“M-membersihkan? Maksudmu?”

“Mereka petugas kebersihan. Bukankah memang tugas mereka membersihkan tempat-tempat kumuh seperti itu?”

Aku melongo seketika mendengarnya. Petugas kebersihan? Tepat saat itu aku merasa jadi orang paling bodoh di dunia. Astaga! Bagaimana aku tidak tahu mengenai hal sekecil itu? Aku bahkan malah sempat memikirkan hal-hal yang luar biasa tadi. Aigoo Park Jiyeon! Hentikan kebiasaanmu menonton film drama action!

Sunbae gwaenchanha?

Ahh.. Hahaha ne.. Nan gwaenchanha. Kkaja!” aku langsung kembali berjalan mendahului Jungkook sambil berpura-pura tak ada yang terjadi. Padahal dalam hati aku benar-benar sangat malu dan merasa bodoh luar biasa. Hahaha.. Astaga! Baiklah. Paling tidak aku terselamatkan oleh masker di wajahku ini.

Author’s POV

Sementara itu di tempat yang cukup jauh dari pandangan mereka tampak seorang namja tengah memperhatikan keduanya dari balik sebuah pohon. Namja yang mengenakan kacamata hitam itu tersenyum simpul lalu membuang permen karet yang semula dikunyahnya. Setelah itu ia berbalik dan berjalan pergi seraya menaikkan hoodie yang dikenakannya hingga menutupi kepalanya.

To be continued..

Annyeong! Ini masih permulaan ya, jadi maklum kalo masi datar-dataar aja. Soalnya di pikiran author ceritanya bakalan puanjang banget jadi mohon bersabar, ini ujian, eh maksudnya mohon sabar dulu kalo pengen baca yang lebih greget, wkwk

okelah semoga HSF kembali rame ya ke depannya. Sampa jumpa~

| TEASER | PART 1 | PART 2 | PART 3 || PART 4 |

Advertisements

64 responses to “[CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY- PART 1

  1. Pingback: [CHAPTERED] A GOLDEN GIRL STORY – PART 9 | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s