[Chapter 12] Belle in the 21st Century – The Smoke is Coming

belle-11-myungyeon-love

Belle in the 21st Century – My Beauty

kkezzgw art&storyline

Main Cast: T-ARA’s Jiyeon, INFINITE’s Myungsoo

Other Cast: more than 12~

belle-cast-myungyeon

Genre: Romance, Marriage Life, Family

Rated: 15+

BELLE IN THE 21ST CENTURY: CHAPTER 1 | 2 | 3 | 4 |5 | 6 | 7 | …

Facebook Twitter: ELF SONE RANDOM Blog:  keziagw wonkyoonjung Ask.fm Wattpad

Disclaimer: FF ini terinspirasi dan di adaptasi dari series Disney Princess ‘Beauty and the Beast’ (1991) yang akan diterjemahkan menjadi versi abad 21 dengan berbagai perombakan yang tetap berhubungan dengan cerita aslinya. Series pertama dari Disney Princess di abad 21 versi kkezzgw ini dimulai dari. FF ini sudah dibuat dalam berbagai versi. Mohon maaf untuk kesamaan cerita, alur, karakter, adegan, nama, maupun typo.

———————————————————-

MYUNGSOO  POV

Saat pertama kali aku membuka mata pagi itu, aku tahu semuanya sudah berubah—perubahan yang membuatku tersenyum bodoh.

Aku kembali tersenyum bahagia memperhatikan wanita yang kini berada dalam dekapanku setelah semalam dengan penuh gairah memanggil namaku berkali – kali dengan suara merdunya. Aku tertawa kecil, tidak pernah menyangka pernikahan yang sebelumnya kutentang mati – matian kini justru membawa kebahagiaan tersendiri bagiku.

Kuperhatikan wajah istriku yang tampak chubby dengan pipi merah merona terkena pancaran sinar matahari, bibir merahnya sesekali mengerucut membuatku tak tahan dan mengecupnya berkali – kali dengan pelan. Wajahnya terlihat damai namun menggairahkan, sekarang aku tahu mengapa banyak pria menyukai hal kecil ini dari wanitanya.

Ini juga pertama kalinya bagiku berada di ranjang yang sama dengan seorang wanita di pagi hari. Biasanya, aku meninggalkan mereka begitu saja di kamar hotel sendirian setelah mereka terlelap lalu meninggalkan beberapa lembar uang untuk mereka pulang tanpa repot – repot mengkhawatirkan nasib mereka selanjutnya.

Namun wanita ini jelas berbeda. Selain ibuku dan—hmm…tidak ada orang lain yang berani memerintahku, meneriakiku, menyuruhku bekerja di ladang atau kandang hewan, dan terutama membantingku ke lantai di pertemuan pertama kami. Memori itu kembali membuatku tersenyum…aku benar-benar sudah menyukainya.

Kuusap punggung dan rambutnya bergantian sambil menciumi puncak kepalanya, menikmati bagaimana tubuhnya bersentuhan denganku dalam selimut yang sama—semuanya terasa sempurna. Perpaduan vanilla dan lemon membuatku semakin menyukai wangi feromon tubuhnya yang menyegarkan, kutenggelamkan kepalaku diantara lekukan leher jenjangnya sebelum mengecupnya lamat – lamat hingga meninggalkan bercak merah yang membuatku semakin bangga.

Aku tidak tahu berapa lama aku menghabiskan waktuku memandangi dan mengecupi wajah cantiknya selama ia tidur, namun ketika matahari semakin beranjak tinggi, akhirnya wanitaku mengerang manja dan mengeratkan pelukannya pada pinggangku. Dalam kondisi ini aku justru mengingat kembali bagaimana seksinya tubuh istriku dalam balutan lingerie semalam, aku benar – benar kalap saat itu, bahkan lingerie tak berdosa itu sudah menjadi perca di lantai akibat ulah brutalku.

Aku tersenyum kecil, mengecup pelipis dan telinganya sebelum membisikkan sesuatu. “Wake up, my Beauty..”

“Hmmm….”

Perlahan, ia mengerjap sambil mengusap rambutnya dan aku tak dapat menahan senyum geliku ketika pandangan kami bertemu untuk kesekian kalinya dalam suasana yang berbeda.

———|♥|———

JIYEON POV

Sepertinya pagi terlalu cepat datang, sejak tadi aku sudah berusaha membuka mata namun tidak ada hasil yang berarti. Kueratkan pelukanku pada sesuatu yang keras disampingku dengan manja, aku benar – benar malas melakukan apapun di pagi hari—terutama bangun pagi.

Aku merasakan kecupan – kecupan lembut di wajahku. Sesuatu yang lembut, hangat, dan membuatku mengingat malam panas yang semalam kulewati. Dan suara serak yang kudengar sepanjang malam kembali terdengar. “Wake up, Beauty..”

Sontak aku mengerang manja dan mulai membuka mataku yang sibuk menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang masuk. Aku mengerjap kebingungan melihat seorang pria berbaring di sisiku dengan keadaan telanjang. Pertama, Myungsoo  lebih terlihat seperti model di majalah Men’s Health dibanding seseorang yang bersanding denganku. Bisep dan otot perut terbentuk sempurna, dada bidang, bahunya yang lebar, kulit putihnya yang berkilau terkena sinar matahari, dengan rambut berantakan, hidung mancung, serta bibir tebal menawan yang membuatku meneteskan air liur.

Morning…” sapanya dengan senyum hangat sambil mengusap rambutku pelan.

Momorning. Sudah berapa lama kau bangun?”

Keningnya berkerut samar. “Entahlah, setengah jam mungkin?”

Aku membuka mataku lebar – lebar mendengarnya. “Mwo? Dan kau berbaring disini memperhatikanku tidur selama itu?”

“Kau terlalu manis untuk ditinggalkan begitu saja.”

Mataku mengerjap seolah sedang mencerna perkataan Myungsoo . Aku? Manis? Aku bisa merasakan aku kembali merona malu dan memutuskan untuk mengubur wajahku di bantalku. Kudengar tawa kecilnya menggema sebelum lengannya memeluk pinggangku dan membawaku mendekat kearahnya.

Ia mengecup puncak kepalaku dengan lembut. “Ya, dan bodohnya aku baru mengatakannya padamu sekarang.”

Mataku terpenjam merasakan tangan hangatnya mengelus rambut dan punggung telanjangku dengan lembut, bibirnya yang mengecupi apapun yang dapat ia jangkau, dan bagaimana kulit kami bersentuhan tanpa terhalang sehelai benang pun. Aku tidak pernah menyangka pernikahan kami akan berakhir seperti ini, terlalu manis untuk disebut nyata namun terlalu jelas untuk disebut mimpi.

Aku berniat tidur kembali tapi….astaga! Bukankah kita harus bekerja sekarang?! Jam berapa sekarang?!

“Oh astaga, bodohnya aku,” kulepas pelukan Myungsoo  yang menatapku heran, “ayo kita bangun, kita bisa terlambat berangkat kerja!” kataku panik dan bergegas turun, tapi Myungsoo  justru menarik tanganku hingga tubuhku terhempas keatas tubuhnya.

“Hari ini kita libur, Nona Kim.” Tandasnya menyeringai kearahku.

“Libur? Memang kenapa? Bukankah banyak perkerjaan yang harus kita selesaikan di akhir bulan?”

Myungsoo  tersenyum, “Ya, aku tahu itu,” Myungsoo  memutar posisi tubuh kami sehingga kini ia berada diatas membuatku benar – benar terekspos di depannya. “Tapi hari ini aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu,” ucapnya lalu menunduk dan mengecupi tulang selangkaku hingga naik ke leher dan dagu.

“Myungsoo –ah, ini masih pagi..” kataku menahan desakan gairah itu.

Tapi peringatan itu tidak sanggup menghentikan tangannya yang mengusap seluruh tubuhku yang dapat dijangkaunya atau ciumannya yang merambat ke bawah. “Lalu?”

“Aku tampak…mengerikan di pagi hari,” jawabku asal, sejujurnya aku hanya merasa malu dengannya.

Myungsoo  langsung menghentikan kegiatannya dan menatapku dalam. “Kau salah besar. Kurasa melihatmu di pagi hari adalah salah satu momen terbaik yang pernah kumiliki, ketika kau bangun dan rambut kusutmu menutupi wajahmu, atau pipimu mengerucut kecil, erangan manjamu, dan pipimu yang memerah terkena sinar matahari. Kau terlihat begitu polos dan menggemaskan. Jadi, jangan pernah bilang kau mengerikan di pagi hari.” katanya sambil menatapku seolah aku adalah harta paling berharganya.

Aku tidak tahu ia bisa mengatakan kalimat yang membuat sekelilingku seakan memudar dan hanya binar cinta di matanya yang menjadi pusat duniaku saat ini. Tanpa menunggu lama, kami kembali tenggelam dalam lautan asmara yang kami ciptakan sendiri.

**

AUTHOR POV

Wajah Tuan Kim tampak suram begitu asistennya menjemput beliau di bandara. Ia terlihat letih, kacau, bingung, dan tertekan dengan semua permasalahan yang menimpa keluarganya. Terlebih setelah kejadian mengejutkan di Hawaii kemarin semakin mendorongnya untuk bergerak cepat sebelum terlambat.

“Pak, anda tidak apa-apa?”

Tuan Kim menatap asistennya dengan dingin. “Ada apa?”

“Saya hanya bertanya kemana tujuan kita sekarang? Ke kantor atau ke—“

“Kantor, kita harus ke kantor detik ini juga. Tolong hubungi sekretarisku untuk menyiapkan ruang rapat dan menghubungi Myungsoo  serta para pemegang saham lainnya.”

Asisten itu mengangguk paham sebelum menyibukkan diri pada ponselnya. Sementara Tuan Kim kembali memusatkan pikirannya pada rencana – rencana yang berjalan sedikit lebih cepat dari yang ia duga.

**

Karyawan – karyawan yang berlalu lalang di lobi gedung Jaekyo Group saling berbisik dan menatap sepasang suami-istri yang baru saja memasuki kantor. Beberapa dari mereka berdecak iri dan bahkan tampak tersenyum maklum melihatnya. Selama ini mereka tidak pernah melihat kejadian ini sehingga tidak heran kini mereka sudah menjadi pusat perhatian yang cukup mencengangkan.

Menyadari tatapan para karyawan di sekitarnya, Jiyeon menundukkan kepalanya dengan wajah memerah menahan malu. Ia semakin memerah begitu melihat  jari-jarinya yang kini terpaut dengan milik Myungsoo  erat, seolah pria itu tidak akan pernah melepaskannya. Berbanding terbalik dengan Jiyeon, Myungsoo  tampak tersenyum cerah dengan langkah tegas yang membuktikan mood-nya sangat bagus. Ia pun menyadari tatapan karyawan di sekitarnya ataupun rasa malu istrinya, namun ia tidak peduli. Saat ini Myungsoo  hanya ingin melakukan sesuatu yang sebenarnya selalu ia inginkan setelah menyadari perasaanya—menunjukkan pada dunia bahwa Jiyeon adalah miliknya.

“Oh astaga…” desah Jiyeon begitu keduanya berhasil memasuki lift.

“Kenapa?”

“Mereka semua memperhatikan kita, babo! Menjauhlah dariku!” masih dengan wajahnya yang memerah Jiyeon mendorong Myungsoo  kencang hingga pria itu terkekeh geli. Pria itu mendekati Jiyeon hingga punggung gadis itu menabrak tembok, menghindari sesuatu yang ia tahu tidak akan pernah bisa ia hindari. Gadis itu terus menghindari kontak mata dengan suaminya, pipinya sudah bersemu merah merasakan betapa panasnya atmosfer disekitar mereka.

Darah Myungsoo  seakan mendidih memandang kepolosan Jiyeon yang membuat bagian bawah tubuhnya terasa nyeri. Dengan lembut namun tegas Myungsoo  merengkuh pipi Jiyeon dan mendaratkan kecupan-kecupan lembut pada sudut bibir Jiyeon dengan hangat namun bergairah.

“Si-Myungsoo , please…” kini Jiyeon memohon dengan suara serak karena suaminya masih sibuk mengeksploitasi leher jenjangnya yang sudah penuh jejak-jejak percintaan mereka semalaman.

Myungsoo  tertawa dalam gairahnya, menatap dalam mata cokelat Jiyeon yang dipenuhi kabut gairah, sama sepertinya. “Kau benar, sepertinya kita memang harus menundanya,”

Pria itu menggenggam sambil mengusap tangan Jiyeon lembut. Keduanya terkejut begitu melihat Tuan Kim ada di balik pintu lift bersama asistennya. Ekspresi gelisahnya berubah begitu melihat Myungsoo  dan Jiyeon, wajahnya mengeras begitu melihat tangan keduanya yang terpaut erat seolah tak terpisahkan.

Bujangnim, akhirnya anda datang. Sajangnim ingin—“

“Kim Myungsoo –ssi, ikut ke ruanganku sekarang.” Kata Tuan Kim sebelum masuk ke dalam lift.

Myungsoo  menghela nafas lalu menatap Jiyeon sekilas, “Aku akan segera kembali. Ah ya, tolong siapkan berkas – berkas yang harus kutanda tangani,”

Jiyeon mengangguk mengerti, memandangi punggung tegap suaminya semakin menjauhinya. Dan entah mengapa, ia merasakan sesuatu yang buruk sedang terjadi.

**

“Bersiaplah, sebentar lagi kau akan menggantikan posisiku.”

Myungsoo memejamkan matanya jengah. Mengapa tiba – tiba ayahnya membicarakan ini? “Mengapa kau tiba – tiba membicarakan ini? Aku sudah tahu itu,” tukasnya sinis.

Tuan Kim tampak merenung sejenak sebelum menatap Myungsoo , “Memang, tapi kali ini mungkin aku akan mempercepat semuanya.”

Sontak aku mengerut tak mengerti dengan maksud perkataannya, “Mempercepat apa?”

Ada setitik binar keputusasaan terpancar sebelum tergantikan oleh ekspresi mengeras dari bola matanya. “Semuanya, dulu aku pernah mengatakan kau akan menggantikanku dalam beberapa tahun ke depan, tapi sepertinya tidak.” dan kini ia menatap anaknya serius, “Pada rapat umum pemegang saham bulan ini, aku berencana untuk mengumumkan keputusanku untuk menyerahkan posisi ini ke tanganmu.”

Mata Myungsoo terbelalak kaget mendengarnya, “M-mworagu?”

“Kau mendengarku,” tukas Tuan Kim singkat, “aku sudah memutuskannya dan kuharap kau mulai mempersiapkan diri.”

Abeoji, kau tidak bisa memutuskan hal seperti ini tanpa membicarakannya denganku dulu, bagaimana mungkin kau—“

Tuan Kim mengangkat alisnya seolah menantan putranya, “Tidak membicarakannya denganmu? Tadi saja kau bilang kau sudah tahu mengenai hal ini, jadi kurasa kau selalu siap kapanpun aku akan menyerahkan tahta ini kepadamu.”

Abeoji—“

“Kau boleh kembali ke ruanganmu sekarang. Dan sebagai calon CEO Jaekyo Group, kuharap kau mulai menunjukkan kinerja terbaikmu terutama untuk bulan ini. Aku mengharapakan yang terbaik  darimu dan kuharap kau mempersiapkan dirimu semantang mungkin, Kim Myungsoo –ssi.”

**

Jiyeon berdiri dengan gelisah di ruangan Myungsoo sejak tadi setelah menyelesaikan pekerjaannya. Ia terus menatap pintu berharap Myungsoo segera datang dan memberitahunya apa saja yang ayahnya bicarakan. Sejak tadi, perasaan aneh yang ia rasakan terasa semakin kuat menyelimuti pikirannya. Ia sudah memikirkan semua kemungkinan buruk karena pertemuan itu.

Wanita itu terlonjak kaget begitu mendengar pintu ruangan terbuka. Myungsoo datang dengan ekspresi tak terbaca. Namun begitu mata keduanya bertemu, Myungsoo tersenyum lembut lalu menghampirinya.

 

“Sudah lama menungguku, ya?” Tanya Myungsoo mengenggam tangan Jiyeon.

Jiyeon menggeleng lalu tersenyum se-natural mungkin, “Tidak juga, tapi kenapa lama sekali? Memang a-apa yang ayah bicarakan denganmu?”

Myungsoo tersenyum kecil, ia menggandeng istrinya menuju jendela besar yang menampakan keindahan landscape kota lalu memeluk Jiyeon dari belakang seraya meletakan kepalanya di pundak istrinya. Mencari ketenangan yang selama ini sudah menghilang dari hidupnya. Entah mengapa begitu mendengar ia akan segera menggantikan ayahnya, Myungsoo terus memikirkan Jiyeon tanpa sebab. Ia merasa bahagia sekaligus khawatir dengan alasan yang ia sendiri tak mengerti.

Jiyeon menahan nafas gugup begitu merasakan eratnya pelukan serta hangat nafas suaminya, namun bersamaan dengan itu ia merasa khawatir dengan sikap Myungsoo. Mengapa tiba-tiba Myungsoo melakukan ini padanya setelah bertemu ayahnya? Apa Tuan Halstein sudah memberitahu Myungsoo mengenai perjanjian keduanya?

Jiyeon membalikkan badan dan menatap lurus kearah Myungsoo, “A-apa yang kalian bicarakan tadi?”

“Aku punya kabar gembira untukmu,” jawab Myungsoo memeluk pinggang Jiyeon erat.

“Kabar gembira?”

Myungsoo sempat diam selama beberapa detik sebelum bibirnya mengukirkan senyuman penuh kebahagiaan, “Akhirnya pria itu menyerah, ia akan segera turun dari kedudukannya. Suamimu ini akan segera menggantikan pria itu memimpin perusahaan ini!”

Kegembiraan Myungsoo tidak bisa ditutupi lagi. Sejak dulu, ia ingin perusahaan ini berada dibawah kekuasaannya. Rasa bahagia itu lebih terasa karena ia bisa memimpinnya bersama seseorang yang ia cintai, seperti harapannya dulu.

Jiyeon tertawa gugup, “A-apa?”

Myungsoo masih dengan mata berbinar menatap Jiyeon, “Pada rapat umum pemegang saham berikutnya, aku akan diumumkan secara formal sebagai CEO Jaekyo Group berikutnya. Sebentar lagi aku akan menjadi pemimpin perusahaan ini, Jiyeon!”

Seperti disambar petir di tengah hari, Jiyeon merasa setengah nyawanya terbang saat itu juga. Mata dan mulutnya terbuka lebar karena terlalu shock. Ia meremas tangannya sekuat tenaga berusaha mengumpulkan sisa kekuatannya. Wajahnya langsung memucat.

Kenapa secepat ini?

Mengapa harus sekarang?

Apa ini semua benar-benar akan terjadi?

Melihat Myungsoo yang begitu bahagia, Jiyeon hanya bisa menangis dalam hati, merasakan kepahitan itu seorang diri.  Ia sadar ketakutan yang selama ini selalu ia rasakan akhirnya terjadi.

Pernikahan ini akan segera menjadi asap yang akan hilang begitu angin menyapu bersih semuanya.

TO BE CONTINUE

A/N: Halo semuanya! Udah lama banget ya FF ini gak update? Anyway aku mau ngucapin terima kasih banyak bag iaklian yang masih ingat dan mau baca FF ini lagi. Aku juga minta maaf banget karena slow update, aku sebenernya juga pengen fast update, tapi karena tugas kampus numpuk aku bener-bener gak ada waktu untuk sekedar nyentuh ini novel T___T karena ini udah lagi ada jeda libur natal dan tahun baru, aku akan berusaha untuk bikin dan update secepat mungkin.

Oh iya, setelah aku baca-baca lagim ternyata FFini masih sangat banyak kekurangannya dan aku memutuskan untuk sambil jalan sambil membenahi plot hole yang aku rasa ada di beberapa chapter. Jadi jangan kaget kalau tiba2 update ada chapter baru sebelum chapter yang sudah di publish berikutnya.

Aku juga mulai sekarang akan update sekitar seginian aja ya wordsnya? Kalau panjang-panjang takut kalian bosen wkwkwk

Itu aja sih A/N dari aku kali ini. Semoga kalian gak bosan dengan novel ini, jangan lupa COMMENT DAN LIKE YA!

29 responses to “[Chapter 12] Belle in the 21st Century – The Smoke is Coming

  1. Wah akankah ayah myung tw jika hubungan myungyeon semakin dekat. Berusaha secepatnya untuk memisahkan myungyeon. Next chapnya jangan lama2 chingu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s