[CHAPTER 2] FROM HELLO

picsart_11-26-08-03-55

→ Poster By ByunHyunji @ Poster Channel

Tittle : From Hello || Author : Babythinkgirl || Maincast : Kim Myungsoo – Im Yoona – Seohyun

“Ada kesalahan-kesalahan dalam percintaan yang bisa dimaafkan, tetapi pengkhianatan tidak termasuk salah satu di antaranya.”

Ponsel Yoona berbunyi sore itu, dan dia langsung mengangkatnya ketika mengetahui bahwa yang menelepon adalah ibunya,

“Yoona?” ibunya langsung berbicara seperti kebiasaannya, “Ibu harus memperingatkanmu.”

“Memperingatkan apa bu?” Dahi Yoona mengeryit dan langsung waspada. Ibunya tidak pernah berucap dengan nada seserius ini sebelumnya.

“Chang wook.” Suara sang ibu setengah berbisik, “Dia datang kemari pagi ini dan memohon kepada ibu untuk memberikan informasi di mana dirimu.”

“Ibu tidak memberitahukannya kepadanya kan?” Yoona langsung panik. Percuma dia pindah ke lain kota kalau pada akhirnya Chang wook mengetahui dia ada di mana.

“Tentu saja tidak sayang.” Sang ibu menghela napas panjang, “Tetapi sepertinya dia tidak menyerah, dia bilang pada akhirnya kalau ibu tidak mau mengatakan di mana dirimu, dia akan tetap tahu karena dia akan menghubungi kantor penerbitmu.”

Yoona mengernyit kesal. Kalau Chang wook menghubungi kantor penerbitnya, tentu saja Chang wook akan tahu dimana dia berada. Dia mendesah kesal, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, Yoona hanya tidak menyangka kenapa Chang wook sekeras kepala ini mengejarnya. Apakah lelaki itu tidak bisa menerima bahwa Yoona tidak bisa memaafkannya?

“Terima kasih sudah memperingatkanku bu, ada kemungkinan bahwa dia sudah tahu di mana aku berada, aku menginformasikan kepindahanku dan alamat baruku kepada penerbit. Aku akan bersiap kalau Chang wook nekat dan mendatangiku.”

“Kau tidak apa-apa Yoona?” suara ibunya tampak cemas di seberang sana, membuat Yoona tersenyum haru.

“Tidak apa-apa, ibu, aku bisa bertahan.” Jawabnya mencoba sekuat mungkin meskipun dalam hatinya dia meragu.

Perempuan itu datang lagi malam ini, dan memesan segelas anggur untuk teman menulisnya. Myungsoo mengernyit, dari info yang didapatnya dari Daesung, Yoona adalah seorang penulis novel romance. Tetapi sepertinya Yoona sedang murung karena beberapa kali perempuan itu hanya menghela napasnya di depan laptopnya, lalu mengawasi layar laptop itu dengan tatapan mata kosong.

Myungsoo merasa seperti pengintip yang memalukan ketika berdiri di depan kaca balkon atas dan mengamati Yoona seperti ini, tetapi dia tidak bisa menahan diri. Sudah beberapa hari ini Yoona selalu datang. Setiap pukul sembilan lalu akan menulis sampai dini hari sebelum kemudian pulang ketika terang menyentuh langit. Myungsoo tidak bisa menahan ketertarikannya untuk mengintip ke bawah, menanti kedatangan Yoona. Dan sejauh ini, perempuan itu tetap datang.

Ada keinginan tertahannya untuk mendekati perempuan itu, tetapi dia menahan diri. Dia takut kalau dia terlalu mengganggu, Yoona akan merasa segan dan kemudian tidak akan datang lagi.

“Perempuan itu datang lagi.” Daesung yang tiba-tiba sudah ada di ambang pintu ruang kerja Myungsoo bergumam sambil tersenyum penuh pengertian, mengamati Myungsoo. “Kau sepertinya sangat tertarik kepadanya.”

“Kenapa kau bisa berpikiran begitu?” Myungsoo mundur dari kaca itu dan melangkah menuju kursi kerjanya. Daesung adalah tangan kanannya, orang kepercayaannya. Lelaki itu dulu adalah pegawai setia ayahnya, dan orang yang paling dipercaya oleh ayahnya. Setelah ayah Myungsoo meninggal dan dia mewarisinya jaringan kerajaan bisnis hotel dan restoran ini, Daesunglah yang selalu membantunya, memberinya pendapat dari sisi pengalaman, melengkapi apa yang tidak dimiliki oleh Myungsoo.

Karena itulah Myungsoo menghadiahi Daesung cafe ini, tetapi lelaki setengah baya itu menolaknya. Dia hanya ingin tinggal di sebuah apartemen mini di bagian atas cafe dan tetap ingin bekerja menjadi pelayan meskipun Myungsoo sudah melarangnya. Tetapi Daesung bilang bahwa menjadi pelayan cafe ini bisa membantunya tetap hidup. Dia kesepian dan bercakap-cakap dengan para pelanggan bisa menyembuhkan sepinya, karena itulah Myungsoo mengizinkan Daesung menjadi pelayan di Garden Cafe ini.

Daesung meletakkan kopi panas untuk Myungsoo dan tersenyum, “Kau menyapanya malam itu, kau bahkan tidak pernah menyapa pelanggan lain sebelumnya.”

Myungsoo tersenyum kecut, rupanya dia terlalu mudah terbaca oleh Daesung, “Tetapi bukan berarti aku tertarik kepadanya.”

“Oh ya?” Daesung mengangkat alisnya, “Sebelumnya kau tidak pernah menginap di cafe ini.” Seperti halnya Daesung, Myungsoo mempunyai apartemen sendiri di sisi lain di bagian atas cafe ini. Tetapi dia memang jarang memakainya, karena dia selalu pulang ke rumahnya, kawasan hijau dan sejuk di perbukitan pinggiran kota, dekat dengan area resor hotelnya. “Dan aku hitung, sejak kau menyapa perempuan itu, kau selalu datang kemari setiap malam, tanpa absen.”

Myungsoo terkekeh mendengar perkataan Daesung, “Aku memang tidak bisa membohongimu ya.”

“Aku sudah mengenalmu sejak kecil.” Daesung tertawa, “Kau tidak pernah bertingkah seperti ini sebelumnya dengan perempuan manapun.” Daesung berdehem, “Begitu juga ketika dengan Seohyun.”

Myungsoo tertegun ketika nama Seohyun disebut. Wajahnya sedikit memucat, dia lalu memalingkan muka dengan murung.  “Tetapi pada akhirnya semua akan tetap sama bukan?” gumamnya sedih, “Seberapa besarpun aku tertarik kepada perempuan itu, aku tidak akan pernah bisa memilikinya.”

“Kau bisa memilikinya kalau kau mampu mengambil keputusan tegas.”

“Tidak.” Myungsoo mengernyit seolah kesakitan, “Aku memang bukan orang baik. Tetapi aku masih punya hati.”

Tuhan tahu dia sudah tidak mencintai Seohyun, tunangannya. Tetapi dia masih punya hati. Kesalahannya harus dibayar, meskipun perasaannya yang dikorbankan.

“Myungsoo?” Suara lembut Seohyun menggugah Myungsoo dari lamunannya, membuat Myungsoo menoleh dan langsung tersenyum lembut, “Iya sayang?”

Seohyun menyelipkan rambut panjangnya yang indah di belakang telinganya, dan tersenyum lembut,

“Ada apa? Kau tampak begitu murung.”

Myungsoo mendesah, “Ah..iya… mungkin aku sedikit tidak enak badan.” Itu yang sesungguhnya. Dia sungguh merasa tidak enak badan, dia tidak suka berada di sini, tetapi dia harus. Setiap akhir pekan setelah kesibukan kantornya berakhir, dia harus berada di sini, menghabiskan waktunya bersama Seohyun, tunangannya. Tetapi pikirannya mengembara, ke cafe itu, tempat perempuan bernama Yoona itu selalu datang dan menulis di sana sampai dini hari.

Myungsoo tidak sabar untuk segera pergi dari sini dan menuju Garden Cafe, mengamati Yoona dari kejauhan.

“Pulanglah.” Bisik Seohyun lembut, penuh pengertian, “Mungkin kau kelelahan dan butuh istirahat.”

Seohyun selalu seperti itu, begitu lembut dan penuh pengertian. Apapun yang dilakukan Myungsoo dia selalu mengerti. Apalagi yang sebenarnya Myungsoo cari?

Ditatapnya Seohyun dengan senyuman lembut, kemudian dia menarik Seohyun mendekat dan mengecup keningnya, “Kau mau kuantar masuk?”

“Tidak Myungsoo, pulanglah, aku bisa masuk sendiri.” Jawab Seohyun tanpa kehilangan senyumnya.

Myungsoo menghela napas, lalu menyentuhkan jemarinya di rambut Seohyun dengan lembut, “Terimakasih Seohyun, sampai ketemu lagi besok ya.”

Seohyun mengangguk, memundurkan kursi rodanya dan memutarnya memasuki rumah. Myungsoo menunggu sampai pintu rumah itu tertutup, lalu melangkah pergi, tanpa menoleh lagi.

Dalam perjalanannya pulang dari rumah Seohyun, Myungsoo merenung. Dulu semuanya baik-baik saja. Myungsoo melabuhkan cintanya kepada Seohyun, dan memutuskan untuk melamarnya. Tetapi kemudian dia larut, sibuk dalam pekerjaannya dan lupa untuk memberikan perhatiannya kepada perempuan itu.

Seohyun yang kehilangan cintanya, akhirnya memutuskan untuk mencari perhatian dari lelaki lain. Dan dia mendapatkannya dari sosok lelaki bernama Kyuhyun, yang ternyata adalah seorang bajingan.

Bajingan itu merenggut kegadisan Seohyun yang sedang rapuh karena diabaikan oleh Myungsoo. Lalu kemudian meninggalkannya begitu saja dalam kondisi hamil.

Masa-masa itu sangat menyakitkan bagi Myungsoo, ketika Seohyun datang kepadanya dan mengakui semuanya, tentu saja Myungsoo marah besar. Mereka sedang berkendara di mobil, di tengah hujan deras ketika Seohyun mengakui semuanya kepada Myungsoo. Myungsoo yang marah menginjak gas begitu kencang untuk meluapkan emosinya hingga kehilangan kewaspadaannya. Mereka mengalami kecelakaan fatal, kecelakaan yang membuat Seohyun keguguran anak hasil hubungannya dengan Kyuhyun,  dan tidak bisa berjalan lagi selamanya.

Myungsoo sendiri hanya mengalami lecet-lecet, dia mendengar kenyataan bahwa Seohyun akan lumpuh dan merasakan penyesalan yang luar biasa. Dialah penyebab semua ini, Seohyun menjadi lumpuh seumur hidup karena dirinya, karena dialah mereka mengalami kecelakaan parah itu. Padahal perselingkuhan Seohyun kalau ditelaah adalah karena kesalahannya, Myungsoo terlalu sibuk dengan bisnisnya sehingga melupakan Seohyun. Bahkan dia hampir tidak punya waktu untuk tunangannya itu, jadi wajar kalau Seohyun sampai mengais perhatian dari lelaki lain.

Lalu Myungsoo memutuskan bahwa dia harus bertanggungjawab. Dan pagi itu pula ketika Seohyun tersadarkan diri dari kecelakaan, menangis ketika mengetahui bahwa dia tidak bisa berjalan lagi, Myungsoo memeluknya dan mengatakan bahwa dia akan selalu mendampingi Seohyun selamanya. Dia memaafkan kekhilafan Seohyun dan bertekad untuk melangkah ke depan, meninggalkan yang lalu.

Myungsoo mengira itu akan mudah. Toh dia mencintai Seohyun sebelum kejadian itu, dipikirnya dia hanya perlu memaafkan dan kemudian menjalani keadaan mereka seperti sebelumnya. Tetapi kemudian dia merasakan perasaannya mulai terkikis dan musnah, setiap menatap perempuan cantik itu. Lalu menyadari kenyataan bahwa Seohyun telah mengkhianatinya dan membiarkan dirinya disentuh oleh lelaki lain sampai sedemikian jauhnya.

Hari demi hari berlalu, sampai di titik cintanya musnah begitu saja. Dia menjalani harinya dengan Seohyun hanya karena dia merasa harus melakukannya. Myungsoo yakin dia bisa melakukannya, toh hatinya sudah mati rasa.

Sampai kemudian dia melihat Yoona, dan terpesona lalu tertarik kepadanya.

Daesung memang benar, Myungsoo tidak pernah tertarik kepada perempuan lain sebelumnya. Begitu kuat, begitu memabukkan, membuatnya tak bisa memikirkan yang lain. Membuatnya ingin mencoba mendekat bahkan meskipun dia sadar bahwa dia tidak bisa memiliki perempuan itu.

Sejenak Myungsoo ragu, dia berada di persimpangan jalan, satu menuju ke arah rumahnya dan yang lain menuju ke arah Garden Cafe. Pada akhirnya Myungsoo mengarahkan mobilnya ke arah Garden Cafe. Dia ingin melihat Yoona.

Ketika dia memasuki pintu cafe itu, matanya mencari di sudut yang biasa, dan menemukan Yoona. Perempuan itu sedang mengetik seperti biasa ditemani segelas anggur merah yang tinggal tersisa setengahnya.

Sejenak Myungsoo ragu, tetapi kemudian dia mendekat,

“Aku heran anggur itu tidak membuatmu mengantuk.”

Yoona langsung mendongak mendengar sapaannya, ada tatapan terkejut di sana ketika melihat Myungsoo berdiri di depannya. Tetapi kemudian dia tersenyum lembut.

“Aku punya penyakit susah tidur akhir-akhir ini. Kata Daesung anggur ini bisa membantu, tetapi sepertinya aku kebal.”

Myungsoo tersenyum, “Kalau kau ingin mengantuk jangan ikuti nasehat Daesung, minumlah susu putih.”

“Susu putih?” Yoona mengeryit, “Aku tidak suka susu putih, rasanya terlalu gurih dan menguarkan aroma yang aneh di hidung, membuatku mual.”

Kali ini Myungsoo benar-benar terkekeh geli, “Aku baru kali ini mendengarkan deskripsi yang begitu menarik tentang susu putih.” Godanya, “Apa yang sedang kau tulis?” Tanpa sadar Myungsoo menarik kursi dan duduk di depan Yoona.

“Roman percintaan.” Pipi Yoona memerah, menyadari bahwa dia ditatap oleh lelaki yang begitu tampan, dengan mata cokelat muda dan rambut berantakan yang tampak sangat menggoda. Tetapi kemudian dia mengeraskan hati.

Semakin tampan seorang lelaki berarti semakin berbahaya dirinya. Gumamnya dalam hati.

“Roman percintaan? Dan sepertinya kau sedang kehabisan ide?”

Bagaimana lelaki ini tahu?

Yoona mengangkat bahunya, “Tokoh utama di ceritaku saling membenci, dan aku merasakan dorongan kuat untuk membiarkannya seperti itu.”

Myungsoo terkekeh, “Tetapi kau tidak bisa membiarkannya seperti itu?”

“Tidak bisa.” Gumam Yoona penuh penyesalan, “Karena ini cerita roman, dan cerita roman karanganku harus berujung Happy Ending.”

“Kenapa?”

“Apanya?”

“Kenapa harus Happy Ending?” Myungsoo menatap ke arah Yoona dengan tajam, membuat Yoona sedikit salah tingkah.

“Karena di kehidupan nyata kadangkala Happy Ending bukanlah milik kita.” Ingatan Yoona langsung melayang kepada Chang wook dan dia tersenyum pahit, “Karena itulah setidaknya novelku bisa menjadi pengobat luka hati.”

“Kau benar-benar penulis novel yang baik dan memikirkan perasaan pembacanya.” Gumam Myungsoo sambil tersenyum, yang ditanggapi Yoona dengan mengangkat bahunya.

“Aku hanya ingin menyajikan kisah yang indah untuk pembacaku.”

“Misi yang luar biasa baik, dan aku yakin itu bisa membantu semua orang, karena kadang di dunia nyata ini kita tidak selalu berakhir indah.” Myungsoo bangkit dari duduknya dan menganggukkan kepala sopan, “Silahkan lanjutkan menulis, maaf atas gangguanku.”

Myungsoo sedang mengenakan dasinya untuk berangkat ke kantor pusatnya di area resor hotelnya ketika pintu apartemen pribadinya di lantai dua cafe itu diketuk. Dia mengernyitkan keningnya, hari masih pagi. Cafe di bawah memang buka duapuluh empat jam, tetapi yang pasti tidak akan ada yang berani mengetuk pintunya sepagi ini. Bahkan Daesung pun tidak akan melakukannya.

Dengan jengkel sekaligus ingin tahu, Myungsoo membuka pintu ruang kerjanya dan menemukan Myungsu berdiri di sana. Saudara kembarnya.

“Kenapa kau kemari pagi sekali?” Myungsoo mengernyit, menatap adiknya ingin tahu. Myungsoo dilahirkan lebih dulu 3 menit sebelum Myungsu. Karena itulah dia selalu menganggap dirinya sebagai kakak. Lagipula, secara kepribadian, dia memang lebih dewasa dibandingkan Myungsu. Myungsu terlalu berpikiran bebas, dia bahkan tidak mau memegang perusahaan warisan ayah mereka dan memilih mengejar impiannya menjadi seorang pelukis. Kadang Myungsoo merasa iri kepada Myungsu karena kemampuannya untuk merasa bebas dan lepas dari tanggung jawab.

Myungsoo sendiri tidak bisa. Perusahaan ayahnya harus dikendalikan. Dan karena Myungsu tidak bisa diandalkan, maka dia mengambil alih seluruh tanggung jawab itu di pundaknya.

Mungkin dia memang ditakdirkan untuk selalu memikul tanggung jawab terhadap orang lain di pundaknya, pikirnya pahit.

Sementara itu Myungsu tampak tidak peduli, dia melangkah masuk ke apartemen Myungsoo dan membanting tubuhnya di sofa,

“Aku sedang menerima proyek melukis untuk desain kantor di dekat resor kita. Pekerjaan itu baru selesai tadi pagi dan aku memutuskan untuk berkunjung ke rumahmu pagi ini sekaligus menumpang tidur. Tetapi kata pelayan sudah berharihari kau tidak ada di sana dan tidur di Garden Cafe.” Myungsu merengut, “Jadi aku terpaksa menyusul kemari.”

Myungsoo meraih jasnya dan melirik adiknya tanpa ekspresi, “Kau bisa menumpang tidur di kamar.” Gumamnya tenang, “Aku harus bekerja.”

“Kau tampak tidak sehat.” Gumam Myungsu ketika mengamatinya, “Dan kurus. Apakah memimpin perusahaan ini membuatmu begitu sibuk sampai lupa mengurus dirimu?”

Mereka berdua memang sudah lama tidak bertemu, hampir enam bulan lebih. Itu karena Myungsu memutuskan ke Belanda, untuk mengunjungi guru melukisnya di sana. Adik kembarnya itu baru pulang sebulan yang lalu, tetapi mereka sama-sama sibuk hingga sekaranglah pertemuan mereka yang pertama setelah enam bulan berlalu.

Myungsoo sendiri mengamati adiknya yang tampak begitu segar dan tanpa beban, lalu mengernyit,

“Salah satu dari kita harus menjalankan perusahaan ini.”

“Kau tidak perlu melakukannya, kau tahu itu.” Myungsu memundurkan tubuhnya dan menyandarkan dirinya di sofa, “Perusahaan itu bisa saja kau serahkan kepada para tangan kanan ayah, selama ini bukankah mereka juga yang menjalankannya?”

“Tetapi perusahaan ini tetap butuh seseorang yang mengendalikannya, Myungsu.” Myungsoo bergumam tajam. “Aku bukan orang bebas yang bisa melepaskan tanggung jawab seperti dirmu.” Sindirnya.

Myungsu malahan tertawa, “Dan kaupun memikul tanggung jawab itu, ciri khas seorang Myungsoo.” Wajahnya berubah serius, “Sama halnya seperti yang kaulakukan kepada Seohyun.”

“Aku tidak mau membicarakannya.” Myungsoo langsung memalingkan muka, berusaha memutus percakapan. Mereka pasti akan berakhir dengan adu argumentasi ketika membicarakan Seohyun.

Myungsu adalah salah satu orang yang menentang keras ketika Myungsoo melanjutkan pertunangannya dengan Seohyun. Dia tentu saja tahu tentang pengkhianatan Seohyun dan menganggap Myungsoo bodoh karena memikul tanggung jawab terhadap Seohyun. Padahal kecelakaan yang dialami Seohyun seharusnya bukanlah kesalahan Myungsoo.

“Tidakkah kau bertanya-tanya bahwa sebenarnya ada jodohmu di luar sana?” Myungsu terus mengejar, tidak peduli akan ekspresi membunuh yang dilemparkan Myungsoo kepadanya, “Tidakkah kau ingin tahu bahwa pasangan jiwamu sedang menunggu jauh di sana? Menanti untuk kau temukan? Kalau kau terus terpaku pada Seohyun, yang jelas-jelas tidak kau cintai, kau akan kehilangan kesempatanmu untuk menemukan jodohmu yang sesungguhnya.”

“Aku tidak menyangka kau bisa begitu puitis.” Myungsoo berusaha menghindar dari bahasan tentang Seohyun. Dia sedang tidak mau memikirkannya.

“Aku seorang seniman, meskipun aku pelukis, tetap saja aku bisa puitis.” Myungsu tertawa, “Berbeda dengan dirimu yang begitu kaku.” Wajahnya melembut, “Aku hanya ingin kau berhenti menyiksa dirimu, kak.” Apakah sejelas itu?

Myungsoo berusaha memasang wajah datar, “Kalau kau ingin aku sedikit lebih baik, bantulah aku di perusahaan.”

‘Tidak.” Myungsu langsung menjawab cepat, “Berkemeja rapi, memakai jas dan dasi bukanlah gayaku. Aku bisa mati bosan kalau bekerja di kantor.” Dengan santai dia melangkah berdiri dan menuju kamar Myungsoo, “Selamat menikmati harimu.” Gumamnya santai lalu menghilang ke dalam kamar.

Yoona sedang melangkah keluar dari pintu putar apartemennya, hendak menuju ke supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan sebagai pengisi kulkasnya ketika langkahnya membeku di trotoar.

Mobil warna biru itu dengan pelat nomor yang sangat dikenalnya.

Itu mobil Chang wook…

Dan benar saja, lelaki itu melangkah keluar dari mobilnya dan berdiri tepat di depan Yoona,

“Hai Yoona.” Sapanya seolah-olah tidak pernah terjadi apaapa di antara mereka, “Apa kabarmu? Aku kemari untuk mengunjungimu, aku merindukanmu.” Bisiknya lembut.

Bisikan itu dulu pernah membuat hati Yoona hangat. Tetapi sekarang tidak lagi, dia menggertakkan giginya dengan marah,

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Chang wook mengangkat bahunya, “tentu saja mengunjungimu, kau pikir apa? Aku harap setelah kau puas dengan tingkah kekanak-kanakanmu kita bisa bercakap-cakap dengan kepala dingin.”

Tingkah kekanak-kanakannya, katanya?

Yoona menahan dirinya untuk maju dan menampar Chang wook. Berani-beraninya lelaki itu muncul di depannya seolah tidak bersalah dan mengganggu ketenangan hidupnya lagi.

“Aku tidak mau bercakap-cakap denganmu. Minggir.” Gumam Yoona marah, ketika Chang wook dengan sengaja menghalangi jalannya di trotoar yang sempit itu.

Tetapi Chang wook tidak bergeming, dia malahan semakin sengaja menghalangi Yoona lewat.

“Kita harus bicara Yoona, ayolah hentikan sikap kekanakkanakanmu itu dan berbicaralah dengan dewasa.”

“Aku rasa aku sudah mengambil keputusan dewasa dengan mengakhiri pertunangan kita. Menyingkirlah Chang wook dan biarkan aku lewat.”

Yoona berusaha mencari jalan melewati Chang wook, tetapi karena lelaki itu menghalangi jalannya, dia merengut kepada Chang wook dengan tatapan menghina, “Ah sudahlah!” Gumamnya marah lalu membalikkan tubuhnya, hendak berbalik dan meninggalkan Chang wook.

Sayangnya gerakannya kurang cepat, Chang wook sudah meraih lengannya dan mencekalnya,

“Dengarkan aku dulu Yoona, kau harus mendengarkan aku!” seru Chang wook mulai emosi. Lelaki itu bahkan tidak peduli akan lirikan orang-orang di sekitar mereka.

Yoona malu, sungguh-sungguh malu. Dengan sekuat tenaga dia berusaha melepaskan cekalan tangan Chang wook di lengannya, berusaha melepaskan diri dari Chang wook. Dia jijik, dia benci, dan dia sangat muak kepada laki-laki ini.

Di tengah usahanya melepaskan diri, sebuah mobil berwarna merah menyala menepi ke trotoar di dekat mereka. Myungsoo turun dari mobil dan mengernyit, dari kejauhan dia sudah melihat lelaki itu mencengkeram lengan Yoona dan Yoona yang berusaha melepaskan diri. Pada akhirnya dia tidak bisa menahan diri untuk mendekat,

“Bisakah kau lepaskan perempuan itu? Tampaknya dia tidak mau berurusan denganmu.” Gumamnya dingin.

Membuat Yoona dan Chang wook menoleh bersamaan.

mau baca ff buatan aku yang lain ? silahkan kunjungi blog aku di sini babythinkgirl
terima kasih udah mau meluangkan waktunya untuk membaca ff buatan aku🙂
jika ingin berkomentar silahkan berkomentar di kolom komentar🙂
gomawo ^^

One response to “[CHAPTER 2] FROM HELLO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s