[CHAPTER-PART 11] EIRENE

EIRENE1

EIRENE-11

||Author : Lyzee7||

||Main Cast : Kim Myungsoo|Park Jiyeon|Irene|Grey Anderson(Other Cast)||

||Genre : Family|Romance|Complicated|Royal|Little Action||

||Rating : PG-17||

||Recommended Song : Fervor by Baek Jiyoung||

“Aku mengingat hazel itu. Dan, sudah berapa lama cahayanya meredup?” -Kim Myungsoo

 

Istana Berkshire

Semalam Grey Anderson kembali dari Korea setelah mengunjungi makam teman kecilnya. Walaupun sebenarnya ia menganggapnya sebagai teman karena Hwayoung adalah teman pertama Jiyeon saat tiba di Korea. Memberikan kenangan-kenangan yang pantas didapatkan Jiyeon sesuai umurnya. Oleh karena itu Grey berterima kasih pada Hwayoung.

Saat ini ia dalam perjalanan menuju kediaman Raja Inggris, yaitu Vincent Aldren Williams dengam mengendarai McLaren putihnya di jalanan yang licin karena salju. Ia menghela napasnya, entah sudah ke-berapa kalinya. Buku-buku jarinya memutih seiring pegangannya pada kemudi mengerat saat ia mengingat pembicaraannya dengan Jiyeon di depan makam keluarga Ryu.

Flashback

Salju yang berjatuhan tak menyurutkan keinginan Grey untuk tetap berada di area pemakaman, begitu pula dengan Jiyeon yang dipayungi Yunho, menghalangi majikannya terkena salju yang berjatuhan. Sehun dan Wonho berdiri agak menjauh ketika Grey mengatakan bahwa ia ingin menbicarakan sesuatu dengan Jiyeon.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Grey membuka obrolan mereka.

“Tidak buruk,” balas Jiyeon. “Tidakkah seharusnya kau harus segera kembali ke London?”

Grey menggumam sebagai balasannya. “Kau juga… kembali-lah ke London. Raja sudah menunggumu.”

Mendengar ucapan Grey, Jiyeon mengalihkan tatapannya dari Grey. “Kehidupanku di sini, Grey. ”

“For what?! Looking for someone who murdered your parents?!” Grey menatap Jiyeon dengan tatapan tajamnya, mencoba mencari jawaban dari manik itu. Sadar bahwa nada suaranya meninggi, ia mengepalkan tangannya untuk menahan gejolak emosi. “Stop it, Jiyeon. I beg you,” lirihnya.

“Tidak, Grey,” Jiyeon membalas tatapan Grey. “Selama ini, aku bangkit setelah kejadian itu menimpaku setelah melihat kedua orang tuaku meninggal di depan mata. Kau tahu apa salah satu alasanku untuk hidup? Alasan untuk membalas dendam kematian kedua orang tuaku! Aku hidup untuk hal itu, kau tahu?! Kalau bukan karena alasan itu, aku tidak akan segan-segan menyerahkan diriku untuk dijadikan budak oleh mereka! Membiarkan mereka memperlakukanku layaknya makhluk yang lebih rendah daripada hewan sekalipun! Menyiksaku sampai mati! Aku tidak akan keberatan!”

Grey terperangah melihat kemarahan Jiyeon di depan matanya. “Kau… melakukannya untuk membalaskan dendam orang tuamu? Tidak ada seorang pun yang memintamu untuk balas dendam, bahkan orang tuamu pasti juga tidak menginginkanmu melakukan ini, Jiyeon-ah.”

“Memang… tidak ada yang memintaku melakukannya,” balas Jiyeon sambil menyinggungkan senyum liciknya. “Aku melakukannya, karena ini memang keputusanku. Aku ingin membalas dendam atas namaku, Jiyeon Vience Midford.”

Pengakuan gadis itu membuat dunianya seolah ditelan kegelapan abadi dengan warna hitam yang melingkupinya tanpa secercah cahaya sedikitpun.

Gadis lembut yang dikenalnya sejak keci, kini telah berubah.

Flashback End

Tigapuluh menit kemudian Grey sampai di tempat kediaman resmi keluarga kerajaan Inggris, yaitu Istana Windsor. Istana yang sudah dibangun berabad-abad yang lalu itu tampak luar biasa seperti biasanya. Rumput hijau dan tanaman yang benar-benar terawat sempurna, keramik di tengah air mancur begitu bersih, dan beberapa penjaga berdiri bak patung manekin di beberapa lokasi.

Setelah menyerahkan kunci mobil kepada seorang pelayan, Grey menaiki anak tangga melingkar yang membawanya ke pintu utama Istana yang dibukakan lebar oleh seorang maid untuknya dan memasuki Istana lebih dalam. Suara ketukan sepatunya terdengar setiap kali ia melangkah di lantai marmer itu. Beberapa lukisan mendiang Raja yang tergantung di dinding merah menemani perjalanannya.

Ia terhenti.

Seorang pria jakung yang mengenakan kemeja biru gelap berdiri di ujung lorong, bersandar di dinding tepat sebelum belokan terakhir yang akan membawanya ke tempat Raja. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya dan tatapan matanya menatap Grey dingin.

“Di mana Jiyeon?”

Dengan susah payah Grey mengalihkan tatapannya dari pria itu lalu menjatuhkan dirinya ke lantai dengan lutut kanannya sebagai tumpuan.

Prince Louis,” Grey menyapa. “Nona Jiyeon tetap ingin tinggal di Korea untuk membalaskan dendamnya. Dan…” Ucapan Grey terpotong ketika melihat Louis tertawa.

“Dendam?” ia terkekeh sekali lagi. Detik berikutnya, tiba-tiba raut mukanya berubah menjadi sendu lalu menatap langit-langit istana. “Berapa lama, huh? Aku tidak bisa melakukan apa-apa tanpa tangan kananku, Jiyeon.”

Setelah itu Louis menjauhkan punggungnya dari tembok, lalu berjalan melewati Grey tanpa menatap pria itu sedikit pun. “Dendam membutakan banyak orang. Mereka tidak akan peduli saat tubuh mereka perlahan-lahan hancur karena dendam mulai menguasai hati dan pikiran mereka,” kalimatnya selesai tepas sebelum ia menghilang di balik lorong, meninggalkan Grey yang tetap pada posisinya- terdiam.

.

“Jadi, dia masih belum ingin kembali?”

Grey mengangguk sopan kepada seorang lelaki yang duduk di kursi Kebesaran seorang Raja. “Ya, Yang Mulia. Seperti yang sudah Anda dengar, Jiyeon mungkin tidak akan kembali bahkan setelah dendamnya sudah terbalaskan.”

Vincent Aldren Williams menautkan kedua tangannya di depan wajahnya, berpikir. “Begitu ya? Berbeda dengan cara kita bermain catur di London…” mata tajamnya melirik sebuah papan catur yang terbuat dari batu giok di sebelah kanannya lalu tersenyum miring, “…dia terlalu menikmati permainan caturnya di area lawan.”

“Lalu,” Grey mendongakkan kepalanya dengan perlahan, menatap Raja dengan penuh hati-hati. “apakah ada cara untuk membuatnya kembali ke London, Yang Mulia?”

“Tidak ada yang bisa kita lakukan, Grey.” balas Raja dengan penuh misteri pada kalimatnya. “Ada perkembangan penyelidikanmu tentang kematian David?” raut wajah Sang Raja berubah dalam sekejap, ia menatap Grey dengan tatapan dingin.

“Ya, Yang Mulia,” balas Grey mantap. “Kematian Lord David yang bertepatan pada saat perayaan Natal di kediaman Yang Mulia Kim Jisub, Raja Korea Selatan. Setelah lonceng ketiga dibunyikan, terdengar suara letusan keras dan puluhan orang berpakaian hitam menyerak secara membabi buta. Itu adalah dokumen rahasia Kerajaan Korea Selatan yang hanya diketahui oleh para petinggi dan bangsawan Korea Selatan yang Pendahulunya berada dalam kejadian itu. Slaughter in 1895. Pada saat itu, seorang bangsawan yang terkenal sangat kejam, namun loyal kepada Raja memerintahkan anak buahnya untuk menyerang balik mereka. Orang itu adalah Park Hyoojon, mendiang kepala keluarga bangsawan Park.”

“Lanjutkan,” sahut Raja ketika ia melihat Grey terdiam sejenak.

“Beberapa tahun silam setelah bangsawan yang menjadi dalang dari pembantaian itu dihukum mati, penerusnya sudah bersumpah pada Raja bahwa mereka tidak akan berkhianat. Tetapi Park Hyoojon tidak setuju saat Raja mengampuni mereka dan ia memiliki spekulasi bahwa keturunannya akan menyusun rencana untuk balas dendam. Dan semua itu memang benar terjadi. Sampai pada saat marga Midford menggantikan tugas marga Park setelah Lord David Vience Midford menikahi Lady Park Jihyun, mereka menghabisi seluruh anggota keluarga pengkhianat itu…”

“setelah ada percobaan penculikan pada Putera Mahkota, Kim Myungsoo yang masih berusia enam tahun…”

Seoul, Castle

Myungsoo terdiam saat kesunyian menyambutnya setelah ia membuka pintu besar gereja itu. Ia terdiam cukup lama mengamati setiap sudut ruangan yang terasa tidak asing baginya sampai seorang bocah laki-laki berjalan melaluinya masuk ke dalam gereja itu begitu saja. Bocah laki-laki terhenti beberapa langkah di depannya dengan pundak bergetar dan kepala menunduk. Isakan kecit terdengar.

“Bodoh!”

Apa? Myungsoo bertanya dalam pikirannya mendengar teriakan bocah itu.

Perlahan bocah laki-laki itu memutar kepala lalu menatap Myungsoo di balik pundak dengan mata tajam yang berkaca-kaca.

Myungsoo membeku di tempatnya. Dia… bocah laki-laki itu… demi Tuhan! Itu adalah dirinya sewaktu kecil. Mata Myungsoo melebar dan tanpa sadar kakinya melangkah mundur namun terhalang oleh tembok yang entah kenapa tiba-tiba berada di sana.

“Kau melakukannya lagi,” desis bocah itu matanya kosong menatap Myungsoo.

“Siapa…” mata Myungsoo mengamati “kau?”

Tawa sinis terdengar membuat Myungsoo mengerutkan keningnya. Menggeleng, bocah itu mengabaikan pertanyaan Myungsoo lalu duduk di bangku urutan kedua. Suasana hening seketika ketika bocah itu menatap kedepan dalam diam. Tanpa bersuara, Myungsoo memutuskan untuk duduk di bangku seberang.

“Kenapa lama sekali?” lirih bocah itu dan hampir tidak bisa didengar oleh Myungsoo. “Aku menunggumu begitu lama di sini.”

Mata Myungsoo mengerjap mengamatinya. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan anak itu. Apa maksudmu? “Kenapa menungguku?” alih-alih menanyakannya, Myungsoo memilih menggumamkan pertanyaannya yang sebenarnya di pikirannya.

“Karena,” bocah laki-laki itu menjawab. “aku ingin minta maaf padanya.”

“Padanya?” sahut Myungsoo memiringkan kepala. “Siapa?”

Bocah laki-laki itu menyeka air matanya lalu mengulurkan tangan ke depan, menunjuk ke arah altar.

Mengikuti arahannya, Myungsoo memutar kepala dan terkesiap. Seorang gadis kecil dengan gaun putih yang berlumuran darah berdiri membelakangi mereka. Entah sejak kapan berada di sana, Myungsoo tidak mengerti.

“My Eirene,” ucap bocah laki-laki itu kemudian gadis kecil yang awalnya terdiam mulai merespon membalikkan tubuhnya. Myungsoo melebarkan matanya ketika mengenal garis wajah gadis itu. “Jiyeon Vience Midford.”

Myungsoo menatap hazel itu dengan mata melebar. “Bagaimana bisa- maksudku- dia… kau…” bahkan kini ia tidak bisa merangkai kata-katanya dengan benar. “Siapa kalian?”

Bocah laki-laki itu berdiri lalu melangkah keluar dari barisan kursi, berdiri menghadap Myungsoo. “Kenapa kau bodoh sekali sih?” cibir bocah itu memandang rendah pada Myungsoo. “Aku adalah kau. Kau pikir ini wajah siapa huh?”

“Kenapa bisa?”

Pertanyaan Myungsoo membuat bocah itu menunduk lalu mengambil tempat di samping Myungsoo. “Ini salahku,” lirihnya. “Aku ingin minta maaf padanya.

Myungsoo tetap diam menunggu bocak laki-laki itu meneruskan ucapannya.

Dia hanya ingin melindungiku,” ucapnya di antara isak tangisnya. “Aku menyakitinya. Dengan memanggilnya… memanggilnya-… monster.” Air matanya turun lagi, ia menggunakan lengannya untuk menyekanya. “Aku bahkan tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Apakah dia baik-baik saja atau tidak. Aku merindukannya, sangat merindukannya.”

Ketika Myungsoo akan menyentuh pundak bocah lelaki itu, tiba-tiba gerakannya terhenti. Ia melihat gadis kecil yang awalnya diam di altar bergerak turun menghampiri mereka. Mata hazel yang sangat dikenalnya menatap kosong kepada bocah lelaki yang masih terisak di sampingnya. Tangan mungil gadis itu terangkat dan Myungsoo menahan napasnya.

“Kenapa menangis?”

Suara itu menginterupsi bocah itu, ia mendongak lalu merasakan pipinya diusap lembut. Bocah itu tersenyum kecil lalu menggeleng, “Tidak apa-apa. Aku hanya merindukanmu.”

Gadis itu tidak menjawab, raut wajahnya tiba-tiba menjadi dingin dengan tatapan kosong dan tangannya terkulai di sisi tubuhnya. Seperti sebuah debu yang beterbangan mengelilingi gadis itu, perlahan membuat gaun putih berubah menjadi gaun berwarna hitam.

“Apa-?”

“Kau tahu?” bocah itu memotong ucapan Myungsoo lalu bangkit mendekati gadis kecil itu. “Dia hanya khayalanku. Maksudku, tempat ini ada di dalam ingatanku- ingatan kita.” Lalu, ia mengangkat kedua tangannya, merengkuh gadis kecil itu dengan erat. “Ini yang akan terjadi saat aku menyentuhnya.”

Perlahan, tubuh gadis kecil itu berubah menjadi debu yang beterbangan hingga menyisakan udara kosong pada Myungsoo kecil. Di sudut matanya menggenang buliran air mata yang siap turun kapan pun.

“Jangan menangis. Saya akan selalu berada di sisi Anda, Pangeran.”

Lalu, debu itu lenyap di antara mereka. Bocah laki-laki itu membalikkan badannya berhadapan dengan Myungsoo. “Aku ingin bertemu dengannya,” lirihnya.

Myungsoo tidak mengerti. “Apa yang harus kulakukan?”

Bocah laki-laki itu mendekat lalu mengangkat tangan kanannya pada Myungsoo. “Buanglah ketakutanmu pada masa lalumu. Jangan menolak sebuah kenyataan dan biarkan dirimu mengingat kembali semuanya.”

Bocah itu mengangkat sebelah tangannya ke arah Myungsoo, dan Myungsoo melakukan hal yang sama dan ujung jari-jari mereka saling bersentuhan. Detik berikutnya, tubuh bocah laki-laki itu perlahan-lahan menghilang seperti yang terjadi pada gadis kecil sebelumnya. Bersatu dengan Myungsoo.

Kedua mata Myungsoo terbuka menatap langit-langit kamarnya. Dengan kesadaran yang masih timbul-tenggelam dan pandangan yang masih disilaukan cahaya, ia mendudukkan tubuhnya dan melepas selang infus yang menancap di pergelangan tangannya. Telinganya berdengung ketika beberapa perawat bergegas masuk dengan suara yang tidak bisa didengarnya dengan jelas.

Myungsoo menyibakkan selimut lalu beranjak dari tempat tidurnya. “Minggir,” desisnya ketika perawat-perawat itu menghalanginya keluar kamar.

Tidak mendengarkan perintahnya, Myungsoo memberikan tatapan tajamnya. “Kalian tidak mendengar perintahku? AKU BILANG MENYINGKIRLAH! JANGAN MENGHALANGIKU!” teriakan itu terdengar putus asa, membuat perawat-perawat itu melangkah mundur karena terkejut.

Pangeran mereka tidak pernah terlihat kacau seperti ini.

Di sudut lain, Woohyun menatap punggung Myungsoo yang perlahan menjauh dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak. Ia bergerak menghentikan perawat yang mencoba menyusul sang Pangeran, lalu mengikuti dari kejauhan tanpa suara.

.

Entah kapan terakhir kali Myungsoo datang ke gereja ini, suasananya tetap tidak berubah. Seperti pagi ini setelah ia masuk dan melangkahkan kakinya pelan-pelan, ia mengabaikan pening yang teramat sangat di kepalanya. Menganggap kekhawatiran dokter kerajaan dan para pelayannya hanya-lah angin lalu, ia melangkah jauh ke depan, tepat di kursi yang diingatnya terakhir kali duduk bersama gadis itu, Jiyeon.

Ia ingat, saat itu mereka sedang membicarakan sesuatu yang tidak sesuai dengan umur mereka, sebuah dosa. Dan Jiyeon menanggapi Myungsoo dengan sangat bijak membuat Myungsoo melupakan masalah yang menggeluti pikirannya pada saat itu juga. Ia pun mengingat ketika gadis itu menghadapi sifat kekanak-kanakannya yang terkadang keterlaluan.

Pada saat itu, ia tak sengaja melihat cincin perak yang tersemat di jari telunjuk Jiyeon.

Flashback

Gadis itu terpekik ketika Myungsoo tiba-tiba menarik tangan kanannya dan mengamati cincin itu. “Sepertinya cincin ini terlalu besar untukmu?” pertanyaan Myungsoo terdengar seperti sebuah pernyataan yang menggambarkan bahwa ia tidak menyukai cincin itu.

“Yang Mulia?” pekik Jiyeon ketika Myungsoo melepas cincin itu dari telunjuknya tanpa persetujuan darinya.

Myungsoo mengabaikan teriakan Jiyeon dan menjauhkan cincin itu dari jangkauannya. “Ada yang tertulis di sini? JM?” Myungsoo mengeja dua huruf yang terukir di sana. “Apa ini? Huh?” Myungsoo terdiam ketika ia melihat raut wajah Jiyeon yang terlihat marah sekaligus sedih.

Flashback end

Jiyeon menjelaskan bahwa cincin tersebut merupakan identitas keluarga Midford. Dan cincin itu harus selalu tersemat di jemarinya sampai suatu saat ia berbaring di peti kematiannya sendiri, cincin itu tetap tidak boleh di lepaskan.

Myungsoo menggenggam erat punggung kursi di depannya dengan ekspresi kosong. “Gadis bodoh!” desisnya dengan mata memerah dan bulir-bulir air mulai menggenang di pelupuk matanya. “Kau bukan aktris, jadi jangan bersandiwara di hadapanku, sialan!” teriakan Myungsoo menggema di seluruh sudut gereja. Air matanya kini meluncur bebas tanpa ia pedulikan, dan menangis dengan tubuh membungkuk.

Tangisan yang terdengar amat pilu dan penuh penyesalan seorang Kim Myungsoo membuat seorang wanita di ambang pintu gereja terdiam. Kim Jiah menangis dalam diam dan bibir bergetar. Wanita itu segera menghampiri Myungsoo dan duduk di sampingnya, tanpa mengatakan apa pun ia meraih tubuh Myungsoo ke arahnya dan memeluknya. Memberikan usapan lembut penuh sayang untuk menenangkan Myungsoo.

“Aku melupakannya, Bu,” lirih Myungsoo di antara isakannya. “Aku telah bersikap jahat padanya.”

Jiah menggeleng lalu mengusap belakang kepala Myungsoo. “Ini bukan salahmu, Myungsoo-ya. Jiyeon tidak pernah sekali pun menyalahkanmu. Tidak apa-apa, eum?”

Walaupun begitu, Myungsoo tetap tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia telah melupakan Jiyeon lebih dari enam tahun lamanya. Terakhir kali yang di ingatnya sebelum ia hilang ingatan adalah bagaimana ekspresi terluka Jiyeon ketika ia ketakutan pada gadis itu. Myungsoo bersumpah bahwa ia ingin bertemu dengan gadis itu. Ingin memeluknya dan mengatakan betapa ia menyesal atas tuduhan-tuduhan yang menyakiti perasaan gadis itu.

Mengatakan… betapa ia merindukan gadis yang dicintainya selama ini.

Jadi, Myungsoo memutuskan untuk mengunjungi makam David dan Jihyun setelah ia meminta ibunya agar memberinya izin. Setelah mengganti pakaiannya dengan kemeja hitam dan celana jeans biru gelap, Myungsoo menempuh perjalanan dengan mobilnya bersama Woohyun di depan. Wajahnya pucat, namun Myungsoo menolak untuk memakai sweeter maupun pakaian lain yang lebih hangat.

Selama perjalanan, Myungsoo tidak bersuara melainkan menatap kosong ke luar jendela menatap hamparan salju yang mulai mencair. Matahari terlihat cerah dari balik awan, menyilaukan pandangan Myungsoo. Ia mengangkat sebelah tangannya untuk menghalau sinar matahari menyilaukan matanya.

Woohyun melirik dari balik kaca. “Anda baik-baik saja, Yang Mulia?”

“Ya,” jawab Myungsoo singkat.

Woohyun tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Mata Myungsoo kini meredup, wajahnya pucat dan ada lingkaran hitam di matanya. Tidak ada kesan yang baik untuk mendeskripsikan Kim Myungsoo saat ini. Jauh dari kata baik, kalau bisa dibilang begitu.

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, mereka sampai di sebuah gereja besar yang terdapat hamparan berbagai macam bunga di depannya. Beberapa biarawati berlalu lalang keluar masuk gereja dan ada yang sedang bermain dengan sekumpulan anak-anak.

“Permisi,” Myungsoo memanggil salah seorang biarawati yang kebetulan melewatinya dan wanita tua itu terkesiap menyadari siapa dirinya.

“Putera Mahkota,” sapa biarawati itu lalu membungkuk singkat. “Apakah ada yang bisa saya bantu?”

Myungsoo mengangguk dan ia menjelaskan bahwa dirinya sedang mencari makam keluarga David Vience Midford dan wanita itu dengan senang hati mengantarkannya.

“Sudah lama sekali tidak ada yang mengunjungi makam Tuan dan Nyonya Midford,” jelas wanita itu membuat Myungsoo mulai tertarik mendengarkannya. “Terakhir, sekitar dua bulan yang lalu, Tuan Muda Oh Sehun berkunjung dengan mawar hitam seperti biasanya. Dia bilang, Nyonya Jihyun sangat menyukai mawar hitam. Jadi, untuk menggantikan anak Nyonya Jihyun yang telah meninggal, Tuan Muda Sehun yang membawakan ke sini jika sempat.”

“Meninggal?” tanya Myungsoo memastikan.

Biarawati itu mengangguk. “Ya, Yang Mulia,” jawabnya. Ia menjelaskan, “Satu hari setelah hari pemakaman Lady Jihyun dan Lord David, terjadi kebakaran hebat di Manor Midford tidak ada yang selamat kecuali seorang pelayan perempuan yang koma selama hampir satu minggu. Pelayan itu yang menemani Nona Jiyeon di pemakaman kedua orang tuanya.”

Langkah Myungsoo terhenti setelah mendengar penjelasan biarawati itu. Jantungnya berdebar dan napasnya terputus-putus, ia berusaha mengontrol diri. Kenyataan yang ada sekarang adalah Jiyeon masih hidup, dan ia sangat bersyukur atas hal itu. Namun, satu fakta yang membuatnya serasa ditikam beribu pisau di dadanya adalah, seberapa besar penderitaan yang telah dialami gadis itu?

“Tapi, ternyata itu tidak benar,” kata biarawati itu. “Seseorang yang datang dengan mawar hitam saat pemakaman keluarga Ryu, dia adalah nona Jiyeon Midford. Saya yakin itu adalah dia.”

“Kenapa Anda sangat yakin akan hal itu?”  Myungsoo melanjutkan langkahnya mengikuti biarawati yang mulai memelankan langkahnya.

“Karena…” ucap biarawati itu lalu langkahnya terhenti di depan dua makam yang terletak jauh dari makam yang lain. “…mawar hitam, cincin biru Midford, tatapan mata itu, dan raut wajahnya, semua itu milik Jiyeon Midford.” Ia berbalik menatap Myungsoo lalu membungkukkan badannya dan pergi.

Myungsoo menatap batu nisan bertuliskan Midford dengan tatapan kosong. Dengan langkah gontai, ia mendekat lalu bertumpu pada kedua lututnya di depan kedua makam itu. “Ini bohong… iya ‘kan?” lirih Myungsoo mengabaikan pening di kepalanya. Ia mengusap wajahnya ketika merasakan bulir air mata terjatuh di pipinya. “Bibi Jihyun… Paman David.”

Setelah itu, Myungsoo terdiam di tempatnya dengat tatapan kosong. Woohyun setia berdiri di belakang Myungsoo, tanpa mengatakan sepatah kata pun. Perasaan ini pernah dirasakannya, disaat seperti inilah, dunianya serasa hancur bersama dengan perasaannya. Satu-satunya yang dibutuhkan Sang Pangeran di saat seperti ini adalah-

“Yang Mulia?”

Gadis itu terlihat tak jauh berbeda dengan keadaan Myungsoo. Gaun hitam yang ditutupi mantel hitam hingga lututnya, tak membuat wajah pucat itu mengeluarkan rona merah seperti biasanya. Rambut cokelatnya yang indah disisir sederhana, dibiarkan jatuh melewati bahunya dan sesekali tertiup angin.

Ketika Myungsoo berbalik, Myungsoo sadar satu hal.

Hazel itu, telah meredup entah sudah berapa lamanya.

“Eirene-ku…”

-To Be Continue-

Long time no see guys ^^

Maaf udah bikin kalian nunggu lama banget. Aku lagi ngerjain projek kuliah. Author bener-bener minta maaf ya T^T

29 responses to “[CHAPTER-PART 11] EIRENE

  1. Wowwowowow akhinyaaa authornya rilis juga.ini chap.
    Wow.
    My Eirene?, apakah artinya? Pelindung hehehhh,, atau cmn sekedar panggilan. Heumzzz.
    Dan myungsoo sudah ingat hehhhhehe. Ditunggu momentnya seletah bbrp part kmrin flashback terus hehhhhe. Dan sehunnn cuyyy posisimu terancam. Myung udh inget tuh hhahahhhhhaha. #Peace 😄😉

  2. Akhirnya ff ini lanjut jugaa,,, 😊
    Yeey akhirnya myungsoo inget jd sma jiyeon,, jd eirene itu panggilan myungsoo ke jiyeon, Ya??
    Wah makin rumit ajj niis cerita’y,, cepet d lnjut nee,, hehe hwaiting 😉😉

  3. Eirene itu myung yg panggil jiyeon..
    Akhirnya myung ingat juga,dab betapa kelam dan menderitanya jiyeon selama ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s