[Chapter 6] BEAUTIFUL LIAR

beautiful liar pt1

© Poster by @farvidkar

Tittle: Beautiful Liar – Part 6 | Author: farvidkar | Genre: Action, Crime, Romance | Main Cast: L Kim / Kim Myung Soo, Bae Suzy/ Ahn Suzy/ Stephani Ahn | Other cast: Kim Soo Hyun, Kim Kai/ Kim Jong In, Byun Baek Hyun/ Bernard Byun, Shim Changmin/ Charles Shim, Zelo/ Steven Choi, Lee Seung Gi, Ahn Jae Hyun/ Michael Ahn and etc | Rating: PG-17

 

A/N: Asli buatan sendiri dengan imajinasi yang datang sendirinya. Tidak ada maksud lain dengan karakter yang dibuat. Jika terdapat kesalahan dalam penulisan harap dimaklumi. Fanfiction ini sudah pernah saya publih di blog pribadi

 

 

The last part [part 1] [part 2] [part 3] [part 4] [part 5]

Entah mengapa Myungsoo semakin penasaran dengan sosok Stephani Ahn, sehingga ia mengunjungi blog photographer itu. Di profilnya sangat minim informasi.

-Stephani Ahn-  New York, Sept 20

Disudut bawah blog itu terdapat tulisan hangul. Ukurannya kecil namun  berhasil membuat L tak bisa berkata-kata.

Terlalu tajam menembusmu, tak bisa kutarik untuk memperbaikinya.. maafkan aku karena menjadi angin… Stephani Ahn

“tak bisa kutarik untuk memperbaikinya? Permintaan maaf…” gumam L. kemudian ia membaca akan diadakan pertunjukan galeri berikutnya di Tokyo. Kemudian Myungsoo menekan kursor untuk membeli tiket online.

“Bulan depan di Tokyo” gumam pria itu.

California, Amerika Serikat

“Kapan kau pergi lagi? Aku masih ingin kau disini Stephie” ujar Baekhyun sedih. Suzy tersenyum sekilas kemudian menggigit pizza-nya.

“Hhm bulan depan mungkin”

“No! dua minggu lagi” potong Zelo.

“Kau dengar? Dua minggu lagi” lanjut Suzy. Mereka bertiga duduk di ruang televisi sambil menunggu Changmin dan Jaehyun pulang dari kantor.

“Mana Yoogeun? Kenapa sampai malam ini dia belum pulang?” tanya Suzy. Ya sejak dia tiba di California gadis itu belum melihat bocah kecil itu.

“Oh, dia ada di rumah Natalie, calon istri Charles hyung” jelas Baekhyun.

Changmin sudah berhenti dari kepolisian dan menjadi buronan. Dia juga kabur ke California bersama yang lainnya dan mengganti identitas menjadi Charles Shim. Natalie adalah wanita berdarah Korea-Amerika beranak satu hasil dari pemerkosaan. Natalie Jung, hidup bersama anaknya yang sebaya dengan Yoogeun. Changmin bertemu dengan Natalie yang bekerja di perusahaan milik Jaehyun.

“Ah Natalie. Aku pernah mendengar namanya dari Michael oppa, tetapi belum pernah bertemu langsung” ujar Suzy.

Tak lama kemudian, Jaehyun dan Changmin datang bersama seorang wanita yang bisa ditebak bernama Natalie. Suzy datang menghampiri kakaknya dan memeluknya singkat. Kemudian dia beranjak kearah Yoogeun yang terus meminta untuk dipeluk.

“Yoogeun kau tambah berat” gurau Suzy. Gadis itu memeluk Yoogeun erat, walaupun mereka beda Ibu, tetapi mereka tetap memiliki darah yang sama yaitu darah dari sang ayah.

“Kau pasti Suzy ah maaf, maksudku Stephani. Senang bisa bertemu langsung denganmu” Suzy meneri uluran tangan Natalie. Keduanya langsung akrab setelah berbincang-bincang tentang masakan.

Setelah 2 minggu berada di California Suzy dan Zelo sudah harus berangkat ke Tokyo. Jaehyun mengantar adiknya ke airport. Sekilas terlihat raut kesedihan di wajah putih pucat pria itu. Suzy tahu betapa sedihnya sang kakak karena dirinya tidak bisa tinggal menetap bersamanya.

“Oppa, jangan terus menerus mengkhawatirkanku. Kau perlu mengkhawatirkan dirimu sendiri” ujar Suzy, ia menggenggam tangan hangat sang kakak.

“Mereka mungkin masih berusaha mencari kita. Aku tidak bisa tenang kalau kau pergi jauh dariku. Aku tidak mau kehilangan anggota keluarga lagi” tanpa sadar Zelo yang duduk di jok belakang menghapus butiran air mata yang menetes. Walaupun luarnya dia adalah pria yang terlihat cool tetapi di dalam dirinya tertulis jelas bahwa pria itu sangatlah melankolis.

“Aku sudah dewasa dan bisa menjaga diriku sendiri. Bahkan sekarang aku yang jadi mengkhawatirkanmu”

“Kenapa jadi kau yang mengkhawatirkanku?”

“Aku khawatir oppa tidak akan menikah di umur yang semakin tua, jadi lebih baik dari sekarang oppa carilah kekasih dan cepat-cepat menikah”

“Arraseo, asalkan kau sudah mendapatkan seseorang yang tepat terlebih dahulu”

“Ekhem… jangan lupakan aku” suara Zelo memecahkan haru diantara kakak beradik itu.

Pesawat menuju Tokyo Japan tidak lama lagi akan lepas landas. Suzy dan Zelo segera berpamitan dengan Jaehyun. Sebelum mereka benar-benar berpisah Jaehyun memberi pelukan untuk sang adik.

Tokyo, Japan

“Saya dan Nona Stephani baru tiba di bandara, kami akan langsung ke hotel. Nanti malam saya akan mengunjungi tempat pameran” kata Zelo di ujung sambungan telepon, dia sedang berbicara dengan seseorang yang mengurus pameran foto dari Jepang.

“Apakah Nona Stephani juga akan ikut? Kami akan sangat berterima kasih jika bisa bertemu langsung dengan nona Stephani. Bisakah kau usahakan hal itu?” ujar seseorang di seberang telepon, terlihat jelas dari wajah Zelo kalau dia sedang tidak senang.

“Hanya aku sendiri, kau tahu sendiri kalau nona Stephani tidak suka menunjukkan di khalayak dan saya minta tolong untuk tidak berharap banyak, saya sungguh minta maaf kalau membuat anda kecewa tuan Edogawa” Suzy tersenyum miring mendengar nada bicara Zelo. Sepertinya pria itu sudah belajar bagaimana cara menangani orang-orang yang berusaha menghasut agar bertemu langsung dengan ‘Stephani Ahn’.

“Cih.. dia sudah tiga kali mencoba membujukku agar bisa bertemu denganmu. Aku sudah muak menghadapi orang-orang seperti itu disetiap pameranmu” Suzy hanya mengangguk membalas curhatan pria itu. Kini mereka menaiki sebuah taxi, bukannya sebuah mobil jemputan. Suzy dan Zelo lebih nyaman menggunakan kendaraan umum ketimbang menaiki jemputan dari pihak panitia pagelaran yang kemungkinan akan mengetahui sosok Stephani Ahn.

Setibanya di hotel Zelo melakukan check in untuk dua orang dan tentunya dua kamar. Dan tentunya akan memesankan kamar termahal untuk Suzy dengan balkon menghadap view terbaik karena gadis itu akan selalu tidur larut malam demi menghabiskan waktu duduk-duduk di balkon.

“Noona ini kunci kamarmu, sore ini aku akan jalan-jalan kemudian langsung mengunjungi tempat pameran, kau mau ikut jalan-jalan?” gadis itu menggeleng. Ia mengisyaratkan akan beristirahat di kamarnya.

Mobil sedan berhenti di depan tempat drop-off sebuah hotel. Sopir itu kemudian membukakan pintu penumpang. Seorang pria berjas hitam turun. Sepertinya dia seorang pebisnis karena dari pakaiannya terlihat mencolok.

“Selamat datang tuan L Kim, aku senang kau mempercayakan hotel kami kembali” sapa seorang manajer hotel. L hanya tersenyum simpul kemudian menaiki lift. Sebelumnya asisten pria itu sudah memesankan kamar untuknya. L datang ke Tokyo untuk melakukan beberap kunjungan bisnis dan tentu kunjungan lain yang sudah direncanakan sebulan lalu.

“Maaf karena tidak bisa memberikan anda kamar yang dulu anda gunakan karena sudah ada seseorang yang memesannya duluan. Tetapi kamar yang ini sama bagusnya, hanya saja letaknya tidak sepenuhnya mendapat view lautan” jelas manajer hotel itu. L awalnya sedikit kecewa, tetapi matanya melirik pintu yang ada tak jauh disebelah pintu kamarnya.

“Dulu aku menginap di kamar itu?” tanya L.

“Iya tuan, anda menginap di kamar itu. Tepat bersebelahan dengan kamar anda”

“Baiklah tak masalah, kau boleh pergi”

Dari siang hari Suzy mengurung diri di kamar hotelnya. Ia memutar televisi yang hampir sepenuhnya menampilkan dorama japan. Gadis itu mengehela napas berat. Tidak ada yang menyenangkan jika ia terus menunggu matahari terbenam di depan televisi. Akhirnya ia putuskan untuk berdiri di balkon sembari membawa kamera kesayangannya. Beberapa kali ia mengambil bidikan pemandangan laut lepas. Awan yang berwarna oranye menandakan matahari mulai meninggalkan tempatnya. Angin pantai terasa hembusannya di tempat itu. Suzy yang mengenakan longdress kuning tanpa lengan tidak sedikitpun berniat meninggalkan balkon itu. ia akan terus membidik hingga mendapatkan foto yang bagus.

“Ah… neomu yeppo” gumam gadis itu saat ia melihat matahari yang setengah tenggelam di balik lensa kameranya.

Seseorang yang berada di balkon seberang mengamati gadis berdress putih itu. sekilas ia tersenyum karena teringat dirinya yang juga menyukai fotografi. L sudah lama berdiri di balkon menunggu momen ini. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengambil beberapa foto matahari terbenam. Satu, dua, dan tiga foto ia abadikan.

“Ah… neomu yeppo” L mendengar suara gadis yang ada di balkon sebelah. Ia kembali tersenyum. Tanpa sadar ia mengambil sebuah gadis itu yang sedang memotret. wajahnya tidak jelas bahkan hampir terlihat seperti siluet saja. Rambut gadis itu sangat panjang, hidungnya mancung dan yang pasti gadis itu sangat cantik jika dilihat dari dekat.

L tersadar pikiran ngelanturnya akan berdampak parah jika terus menatap gadis tak dikenal seperti itu. Ia memutuskan untuk kembali masuk kedalam kamar dan mengurus perutnya yang mulai keroncongan.

To Steven Choi

Aku akan jalan-jalan dan pulang larut malam. Jangan khawatirkan aku, kau khawatirkan saja pameran itu. Arraseo?

Setelah mengirim sebuah pesan singkat ke Zelo, gadis itu pergi menaiki taxi menuju pusat kota Tokyo. Ia berjalan-jalan mengunjungi kedai ramen dan beberapa tempat terkenal lainnya. Ada kalanya ia berhenti di depan bangunan bersejarah dan mengabadikan tempat itu. hanya ada satu objek yang ia tidak pernah ambil, yaitu foto dirinya.

Suzy selalu menutup diri hingga sekarang. Ia terlalu takut pada banyak orang. Bahkan saat berjalan-jalan seperti ini dia takut akan tiba-tiba ditangkap, walaupun rambutnya sudah dipotong model lain. Bahkan ia selalu berjalan-jalan memakai masker dan topi.

“Permisi, kami menjual sushi yang sangat enak, banyak turis yang datang ke tempat kami. Silahkan mampir” seorang gadis muda mencegat Suzy, ia menyerahkan sebuah brosur daro restoran khas Jepang.

“Arigatou” ucap Suzy. Ia mencari letak restoran itu, sedikit tertarik dengan tulisan sushi jumbo yang harganya tidak terlalu mahal.

“Selamat datang” Suzy duduk di sudut tepat disamping jendela. Ia membuka topi rajutnya dan masker putih. Mungkin kalian akan menganggap gadis itu baru saja keluar dari rumah sakit karena berpakaian tebal dan sangat tertutup.

Setelah makanan datang, ia tak lupa memotret makanan tersebut sebelum berakhir di dalam perutnya. Dengan lahap ia memakan dua porsi besar sushi jumbo, padahal sebelumnya ia sudah memakan semangkuk ramen di seberang jalan. Walaupun badan gadis itu kecil, tetap saja badan itu tidak akan melar.

Setelah membayar, ia putuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini ia berniat ke Asakusa. Karena posisinya tidak terlalu jauh jadi Suzy memutuskan untuk berjalan kaki saja. Tiba-tiba sebutir salju turun mengenai hidungnya. Suzy hampir saja tertawa untuk dirinya sendiri.

“Aish, apa yang lucu dengan diriku. Mengapa aku jadi menghibur diriku sendiri” gumam gadis itu, lebih tepatnya ia sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Suzy merenung sejenak, ia ingin melanjutkan perjalanannya ke Asakusa tetapi ia bisa kedinginan karena jaket tebal yang dipakainya bahkan kurang tebal untuk cuaca yang tiba-tiba dingin seperti ini. ia hampir melupakan fakta cuaca di jepang hampir sama seperti di korea. Dan hal itu terlupakan karena ia sudah lama tidak pulang ke korea.

“Sayang sekali kalau aku membuang waktu seperti ini” pada akhirnya gadis itu melanjutkan perjalanannya ke Asakusa. Sesampai disana tak cuma gadis itu seorang, ada banyak turis yang juga mengunjungi tempat itu.

“Nona kau ingin difoto?” tawar seorang pria yang sepertinya juga seorang turis.

“Tidak, terima kasih” jawab Suzy. Gadis itu kembali membidikkan kameranya hingga permukaan kulitnya mulai memerah. Bahkan tenggorokan gadis itu mulai membengkak. Suzy memutuskan untuk mencari tempat duduk karena jantungnya mulai berdebar kencang. Ia mengecek isi tasnya, apakah ia membawa obat yang diberikan dokter.

Gadis itu mendesah saat ia tak meninggalkan obat itu di kamar hotel. Buru-buru ia menyetop taxi dan kembali ke hotel. Tak berapa lama ia sampai di hotel, beruntung ia masih kuat berjalan kaki memasuki lift, namun sayangnya matanya mulai berkunang-kunang dan mulai kesulitan bernafas.

“Bisa tolong kau tekan nomor 7” ujar Suzy pada satu-satunya orang yang ada di lift itu. Gadis itu mulai limbung sehingga ia hanya bisa bersandar.

“Tak masalah. Lagi pula aku juga akan ke lantai 7” jawab pria itu. Suzy tidak menjawab atau berterima kasih. Dirinya sibuk menarik nafas dalam-dalam karena tenggorokkannya bertambah sesak. ‘Ting’ bunyi lift terbuka, hanya lima belas langkah sampai ia tiba di kamar hotelnya.

“Nona, kau tidak mau keluar? Kita sudah di lantai tujuh” kata pria itu. ia menahan pintu lift agar tidak menutup.

“Ah iya. Terima kasih” Suzy keluar dengan langkah pelan. kepalanya menunduk kebawah sehingga wajahnya tertutup oleh rambut.

“Nona kau baik-baik saja? Sepertinya kau sedang sakit” Suzy mengisyaratkan tanda ‘Ok’ dengan tangannya. Pria itu mengikutinya dari belakang takut-takut terjadi sesuatu. Hingga Suzy berhenti di depan kamarnya dan melangkah masuk barulah pria itu masuk ke kamarnya sendiri.

L kembali ke kamarnya setelah menemui rekan kerjanya. Ada beberapa kerja sama Hansol Group yang baru saja ditanda tangani olehnya guna memperlebar sayap perusahaan yang didirikan ayahnya itu.

“Halo, bisa kau cek kamar 713 sepertinya seseorang di kamar itu sedang sakit parah. Sekalian bawakan doxepin atau cyproheptadine. Sepertinya dia mengalami gejala alergi dingin”

Setelah menelpon karyawan yang berjaga di hotel itu, L memutuskan untuk membaca surat kabar di smartphone-nya. Sesekali ia melihat tabloid online tentang bisnis yang tak cuma ada di Korea melainkan luar negeri. Ia selalu mengecek seberapa pesat kenaikan saham-saham di pelosok Negara.

Tiba-tiba terdengar bunyi rusuh yang berasal dari sebelah kamarnya. Mungkin bisa dikatakan ia sedikit ‘ingin tahu’ dengan hal-hal yang terjadi di sebelah kamarnya. Lantas ia membuka pintu kamarnya. Di luar sana sudah ada beberapa orang yang mondar mandir dengan wajah cemas.

“Apa yang terjadi?” tanya L pada seorang karyawan hotel yang lewat.

“Nona di kamar sebelah kejang-kejang, ia sesak napas” jelas karyawan hotel itu. Tak berapa lama gadis yang ia tahu adalah penghuni kamar sebelah itu digendong oleh beberapa karyawan hotel.

“Mau dibawa kemana dia?” tanya L lagi. Sepertinya kadar keingintahuan pria itu mulai meningkat setelah tiba di Tokyo.

“Nona akan dibawa ke klinik di lantai satu. Ada dokter yang akan menanganinya”

“Suzy noona! Kau membuatku takut!” Zelo datang tergesa-gesa ke ruang klinik. Bahkan di cuaca yang dingin ini ia masih sempat berkeringat.

“Aku tidak apa-apa” Suzy mengelus puncak kepala pria yang sudah dianggap sebagai adiknya itu. Ia bersyukur karena masih bisa melihat pria itu lagi. Ia tidak bisa membayangkan kalau dirinya dipanggil oleh Tuhan mendahului pria itu, apa yang akan terjadi pada pria cengen itu.

“Tapi kau bisa mati noona! Lain kali jangan keluyuran sendiri! Kau harus bersamaku” Suzy mengangguk dan mengelus kepala Zelo. Dari jauh terlihat seorang pria yang berdiri di depan pintu. Dia adalah L Kim.

L tidak dapat melihat jelas wajah gadis yang ditolongnya secara tak langsung itu. wajah gadis itu tertutup badan seorang pria yang baru saja datang. Awalnya L khawatir kalau gadis itu menginap di hotel ini sendirian dan taka da yang mengurusnya ketika sakit. Tetapi kekhawatirannya tak bertahan lama setelah melihat seorang pria datang mengujungi gadis itu bahkan terlihat akrab. Tanpa sadar rasa kekhawatiran itu berubah ‘sedikit’ menjadi sedih atau gundah.

Malam ini adalah pembukaan pameran yang bertajuk ‘Trough The Trees’ karya Stephani Ahn. L sudah bersiap-siap untuk berangkat. Bahkan ia sudah bersiap dari sejam yang lalu. Beberapa kali ia menatap dirinya di cermin memastikan kalau dirinya terlihat tampan layak seorang pria yang akan melamar wanitanya.

L memasuki pelataran gedung itu dimana banyak orang-orang terkenal yang diketahuinya. Orang-orang akan berpikir kalau tempat ini bukanlah sebuah pameran melainkan tempat pernikahan anak presiden, bagaimana bisa kalangan pejabat negara, pebisnis, hingga artis menghadiri pembukaan pameran ini. Walaupun begitu tetap saja L sedikit kecewa karena mendengar kalau Stephani Ahn tetap tidak menunjukkan batang hidungnya.

“Saya mewakili nona Stephani Ahn menyampaikan terimakasih atas kedatangan kalian ke pembukaan galeri ini. Sekali lagi terima kasih sudah meluangkan waktu. Semoga kalian semua puas melihat karya nona Ahn di pameran ke-4 ini. berikut adalah tayangan yang dibuat oleh nona Stephani sendiri sebagai tanda terimakasih dan permintaan maaf”

Lampu penerangan kemudian padam digantikan dengan tiga buah foto yang ditayangkan. Foto pertama gelas wine yang diletakkan di atas rerumputan, disampingnya ada botol Cabernet Sauvignonn.Foto kedua menampilkan seorang anak kecil yang menangis karena harus meninggalkan anak anjingnya yang sedang terluka di sebuah pohon. Hingga foto ketiga melihatkan sebuah pemandangan matahari tenggelam, view yang ditampilkan sama persis dengan apa yang pernah dibidiknya di balkon hotel. Setelah itu layar kembali gelap namun tiba tiba muncul tulisan tangan

‘Aku menemukan pecahan beling, aku sempat tertusuk. Aku ingin mencabutnya tetapi bukan aku yang akan mencabutnya. Aku ingin kau yang mencabutnya’

Layar kembali menunjukkan sebuah foto, yaitu botol Cabernet Sauvignonn yang pecah dan di foto itu difokuskan padah sebuah pecahan beling berukuran sedang. Lampu kembali menyala. Orang-orang bertepuk tangan meriah. Beberapa wanita berbisik-bisik memuji.

“Stephani Ahn memang ahlinya membahas hal romantic, tetapi kali ini dia sukses membuat foto yang bernuansa sedih”

“Sepertinya Stephani Ahn sedang sedih saat mengambil foto-foto itu, aku benar-benar terperangah”

“Quotenya membuatku merinding”

L teringat kejadian dimana ia dan gadis itu meminum Cabernet Sauvignonn. Dia ingat jelas bahwa gadis itu ingin meminum wine yang sedikit keras. Ia juga masih ingat seberapa tajam pisau yang tertusuk di tubuhnya. Dan ia tidak akan melupakan perintah gadis itu untuk menelpon ambulans padahal gadis itu yang sengaja menusukkan pisau ke dirinya.

Satu persatu L melihat foto-foto yang terpajang di dinding. Hampir keseluruhan foto diabadikan dengan sangat baik. Bahkan di bawah foto ada keterangan curahan hati sang fotografer. L terpaku pada sebuah foto genangan air. Di genangan air itu ada pantulan seorang gadis yang sedang membidik.

“Bukankah itu kau?” ucap L. Pria itu tidak sedang bergumam, melainkan ia sedang bertanya pada seorang wanita yang berdiri disebelahnya yang juga sedang melihat foto itu.

“Apa maksudmu?” tanya balik wanita itu. ia mengenakan long dress polos tanpa lengan seperti yang dipakainya di bandara, hanya saja kali ini berwarna putih. Ia sudah melepaskan mantelnya sehingga terlihat jelas seberapa putih lengan gadis itu. hanya saja topi bundar gadis itu menyamarkan wajahnya.

“Pantulan yang ada di genangan air itu. bukankah itu kau nona Stephani Ahn? Ah maaf maksudku nona Bae Suzy”

 

 

To be continue

Tada~~! finally update lanjutan Beautiful Liar! author baca ulang dari chapter 1 karena lupa sama alur ceritanya. semoga masih ada yang ingat sama fanfict ini soalnya chapter 1 saya update 13 agustus 2014 loh~

7 responses to “[Chapter 6] BEAUTIFUL LIAR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s