[Chapter 2] Last Angel

image

Previous
Laykim Artposter & Storyline
Main Cast:
Park Jiyeon, Lee Jaehwan
Other Cast:
Byun Baekhyun, Bae Irene, Lee Junho, Lee Ahreum, Cha Hakyeon,
Genre:
Romance, Fantasy, Hurt/ comfort
Length: Multichapter
Rating: PG – 15

Hepi reading & komen juseyo…

Jiyeon berhasil membuktikan bahwa dirinya memiliki kemampuan memasak lebih baik daripada koki-koki yang ada di restauran Foodie. Setelah berhasil membuat Bae Irene kagum merasakan hasil masakannya, Jiyeon berjalan keluar dari restauran seorang diri. Masih agak bingung, namun ia berusaha meyakinkan diri kalau Seoul adalah kota kecil dan dia tidak akan tersasar hanya karena berjalan sendirian.
“Aku tidak tahu harus pergi ke mana. Tetapi perasaanku mengatakan kalau kakiku harus melangkah terus ke arah selatan. Ah, memangnya ada apa di selatan.”

“Kau mau ke mana?”
Deg!
Suara itu….
Jiyeon membalikkan badan, seketika itu tampak lah sosok Jaehwan di depan matanya. Pakaian yang dikenakan namja itu masih lengkap dan rapi, Jiyeon curiga kalau Jaehwan sengaja mengikuti ke mana dirinya pergi.
“Kau sengaja mengikutiku?” tanya Jiyeon curiga.
Jaehwan mengangkat kedua alisnya. Percaya diri sekali gadis itu bertanya seperti itu padanya. “Jangan berlebihan. Aku hanya kebetulam lewat dan melihatmu sendirian di sini,. Makanya akunamaku tanya seperti itu tadi. Kau kira aku orang yang kurang kerjaan, mengikutimu kemana pun kau pergi.”
Jiyeon mengangguk kecil, membenarkan perkataan Jaehwan. Namja itu memang orang sibuk, jadi dia tidak mungkin mengikuti dirinya.
“Bolehkah aku bertanya padamu?” Jiyeon sedikit ragu dengan pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Jaehwan.

Jaehwan mengangguk. “Apa?”
Kali ini Jiyeon malah terdiam. Ia merasa terlalu dini jika menanyakan siapa gadis yang disukai oleh Jaehwan atau paling tidak, dia bisa tahu gadis macam apa yang menjadi kriteria Jaehwan agar dirinya dapat mencari gadis seperti itu dan membuat Jaehwan suka pada gadis itu.

“Kenapa malah melamun?” Jaehwan melambaikan tangan kanannya di depan mata Jiyeon untuk menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

Jiyeon tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke arah Jaehwan dan tersenyum tipis. “Hmmm, tidak apa-apa. Aku… tadi hanya mengingat pertanyan yang ingin aku tanyakan padamu tetapi ternyata aku tetap lupa.” Jiyeon tentu saja berbohong pada Jaehwan. Ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan tentang gadis yang disukai Jaehwan. Sebagai ganti pertanyaannya, Jiyeon menemukan satu pertanyaan ringan. Ia yakin Jaehwan akan menjawabnya.
“Lee Jaehwan! Apa….” Jiyeon ragu dan membiarkan Jaehwan penasaran dengan yang ingin dikatakan oleh Jiyeon.

“Kau ingin bertanya atau memberitahu tentang sesuatu?” tanya Jaehwan bingung melihat sikap aneh seorang gadis asing yang baru dikenalnya. “Kau ingin bertanya, kan? Kenapa berbelit-belit?”

Jiyeon menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha meyakinkan diri bertanya tentang sesuatu pada Jaehwan. “Aku ingin bertanya, apakah kau pernah jatuh cinta?”

Jaehwan menyipitkam kedua mata bulatnya. “Kenapa bertanya seperti itu?”
Jiyeon kebingungan menjawab pertanyaan Jaehwan. Kenapanmalah dirinya yang harus menjawab pertanyaan?
“Jawab dulu pertanyaanku!” Jiyeon berusaha mengalihkan pembicaraan.
Tiba-tiba Jaehwam menggeleng.
“Apa maksudnya?” tanya Jiyeon.
“Kau bertanya padaku, apakah aku pernah jatuh cinta, kan?”
Jiyeon mengangguk cepat. “Eoh. Jawabannya?”
Jaehwan mendengus kesal. “Belum pernah,” jawab Jaehwan singka.
“Hahahahahahaha….” Jiyeon ketawa terbahak-bahak mendengar jawaban Jaehwan yang menurutnya terlalu jujur. Ia tidak menyangka kalau namja bernama Lee Jaehwan benar-benar belum pernah mengalami pacaran. “Sudah ku duga, jawabanmu pasti seperti itu. Haha… Sungguh tak ku sangka. Namja tampan sepertimu benar-benar bernasib malang. Baiklah, aku akan membantumu mendapatkan cinta sejatimu.”
Tiba-tiba Jaehwan beranjak pergi tanpa pamit dulu pada Jiyeon.
“Yaak! Kau mau ke mana?” teriak Jiyeon takut jika Jaehwan meninggalkannya di tempat itu sendirian. Tempat asing itu bisa berbahaya untuknya.
Karena tidak ingin berjalan sendirian, akhirnya Jiyeon mengikuti langkah Jaehwan menuju mobilnya yang diparkir tidak jauh dari tempatnya berjalan.
“Kau tidak punya tujuan lain? Kenapa mengikutiku terus?” Jaehwan merasa tidak nyaman diikuti terus oleh Jiyeon. Dia bahkan berpikir kalau Jiyeon adalah penguntit yang sengaja mengikutinya ke mana pun ia pergi.
Jiyeon kesal. Ia mengerucutkan bibirnya dan menatap Jaehwan nanar. “Aku memang tidak punya tujuan lain. Makanya aku terus mengikutimu sampai di sini. Aku… hanya hidup sendirian. Keluargaku sudah lama meninggal dan aku tidak punya siapa-siapa lagi.”
Ekspresi Jiyeon sangat meyakinkan. Rupanya dia pandai berpura-pura.
Tiba-tiba Jaehwan menghentikan langkahnya dan membalikkan badan. Ia memandang Jiyeon dari ujung kepala sampai ujung kaki. Cantik. Gadis seperti Jiyeon pantas menjadi idol atau orang terkenal. “Baiklah, kau boleh ikut denganku. Tapi ingat! Jangan berani berbuat sesuatu yang membuatku marah. Kau mengerti?”
Jiyeon berpikir sejenak. Sesuatu yang membuat Jaehwan marah? Apa saja?
“Kau bicara membingungkan sekali. Memangnya apa saja yang bisa membuatmu marah?” tanya Jiyeon penasaran.
Jaehwan berdecak kesal karena Jiyeon tak kunjung mengerti maksud ucapannya. “Kau ini bodoh atau memang bawaanmu seperti itu, huh? Akan ku jelaskan lain waktu. Sekarang aku mau ke restoran.”
“Hah? Restoran lagi? Kenapa harus ke sana? Apakah tidak ada tempat lain, eoh?” Jiyeon enggan sekali kembali ke restoran itu. Ia harus bertemu dengan sang manajer yang menurutnya sombong.
“Jika kau memang tidak ingin ikut, katakan saja yang sebenarnya. Tidak usah banyak bertanya!” Ken masuk ke dalam mobilnya.
Sedangkan Jiyeon membuka mulutnya sehingga membentuk huruf O dan menyusul Jaehwan.
“Jika kau berani meninggalkan aku lagi, akan ku kutuk kau jadi monyet!” kata Jiyeon kesal sembari melipat kedua tangannya dan meletakkan di depan dada.
Jaehwan merinding mendengar kutukan Jiyeon namun tak berselang lama, namja itu justru tertawa terbahak-bahak. “Yaak! Apa yang kau katakan tadi? Kau membuatku tertawa, sungguh menggelikan!”
Jiyeon bertambah kesal. “Awas kau, Lee Jaehwan!” gerutunya lirih.
***
Malam tiba. Hari yang gelap membuat Jaehwan enggan keluar rumah. Lagipula mobilnya pun sudah disimpan di dalam garasi apartemen yang terletak di lantai dasar gedung beringkat tinggi itu.
Tap tap tap!
Jiyeon berjalan mondar mandir seraya menggigit ujung bajunya. Ia tengah sibuk memikirkan cara membuat Lee Jaehwan jatuh cinta pada seorang gadis. Ya, dia harus segera melakukannya agar takdirnya sebagai malaikat bisa terjaga dan tidak akan menjadi devil menyeramkan yang sama sekali tidak ia inginkan.
“Heh! Bisa diam atau tidak? Kau membuatku menjadi semakin pusing. Sudah, duduk sana!” Jaehwan tak sanggup melihat Jiyeon yang berjalan mondar mandir tanpa alasan yang jelas. Saat ini ia sedang pusing memikirkan pekerjaannya yang harus segera diselesaikan. Belum lagi masalah restoran yang menjadi tanggung jawabnya.
“Kalau begitu, jangan melihatku! Kau kan bisa pindah ke ruangan lain. Kenapa harus di sini?” kata Jiyeon sewot.
Jaehwan kesal untuk kesekian kali. “Yak! Seharusnya aku yang bilang begitu! Aku pemilik apartemen ini, bukan dirimu. Seharusnya kau yang pindah ke ruangan lain. Dasar!”
Pertengkaran antara Jaehwan dan Jiyeon memang tak bisa dihindari. Keduanya selalu adu mulut dan ingin menang sendiri. Tak ada bedanya dengan anak kecil yang berebut mainan.
“Baiklah, jika itu maumu. Aku akan keluar dari sini. Jadi, kau tidak perlu memarahiku seperti tadi. Menyebalkan!” Akhirnya Jiyeon yang mengalah. Dia segera mengambil alas kaki dan keluar dari apartemen Jaehwan begitu saja. Telinganya sudah hampir meledak gegara bertengkar terus dengan Jaehwan.
“Kalau  begini caranya, aku benar-benar bisa menjadi devil. Aaah menyebalkan! Bagaimana cara menyelamatkan nasibku? Aku tidak mau menjadi devil selamanya.” Jiyeon bicara pada dirinya sendiri sambil melangkahkan kakinya menyusuri jalan beraspal yang cukup ramai. “Kenapa cara menjadi malaikat begitu sulit? Kenapa aku harus berurusan dengan namja menyebalkan seperti Lee Jaehwan?” Jiyeon teramat kesal menghadapi Jaehwan. Ia bahkan tidak pernah mau membayangkan hidupnya tenang bersama Jaehwan, setidaknya hanya sampai dirinya kembali menjadi malaikat.
Buk!
Jiyeon menendang ban sebuah mobil sedan yang diparkir tak jauh dari apartemen Jaehwan. Rupanya ia melampiaskan kekesalan dan kemarahannya pada ban mobil tersebut. “Aku tidak akan menyerah.” Jiyeon hendak berbalik arah namun tiba-tiba alarm mobil yang ditendangnya tadi berbunyi nyaring. Jiyeon terlonjak kaget bahkan hampir melompat gegara mendengar suara alarm yang memekakkan telinga. “Dasar mobil jelek! Kenapa alarmnya baru berbunyi?”
‘Hei, kau yang ada di sana! Apa yang telah kau lakukan pada mobil antikku?”
Seseorang tiba-tiba datang tergesa-gesa mendekati Jiyeon dengan wajah panik. Sedangkan Jiyeon malah menunjukkan wajah tak acuh.
“Kau mau merusak mobilku, eoh?” Orang yang mendekati Jiyeon tadi membentak Jiyeon yang hanya menendang ban mobilnya. Tidak ada yang rusak sama sekali, hanya saja alarm mobil itu tak henti-hentinya berbunyi. “Kau harus bertanggung jawab!”
Jiyeon memelototkan kedua matanya. “Apa katamu? Aku hanya menendang ban mobilnya, bukan bodinya. Kau sebut ini kerusakan? Bagian mana yang rusak?” Jiyeon tidak dapat menahan kekesalannga terhadap namja yang sama sekali tidak dikenalnya.
“Pokoknya kau harus tanggung jawab!”
“Apa? Hei, mobilmu masih utuh dan tidak ada goresan sama sekali. Lagipula aku hanya menendang bannya, jadi tidak mungkin mobilmu tergores! Aneh sekali…” celoteh Jiyeon tidak terima saat dirinya dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya.
Suasana hening sesaat. Baik Jiyeon maupun Junho diam seribu bahasa.
“Siapa namamu?” tanya Junho datar sambil menatap aneh pada Jiyeon.
Jiyeon balas menatap Junho. Ia yang tengah melipat kedua tangan di depan dada, mulai memikirkan cara keluar dari masalah aneh yang kini ia hadapi dan lepas dari pemuda aneh itu. “Untuk apa kau menanyakan namaku?” tanya Jiyeon sewot.
“Ini penting karena kau menendang mobilku. Kalau aku melapor ke polisi….”
Polisi? Tiba-tiba Jiyeon membelalakkan kedua bola matanya dan mengerutkan kening. Kalau ia masuk penjara, bagaimana dirinya bisa menyelesaikan misi mengubah takdirnya menajdi malaikat selamanya.
“Jangan! Aku mohon jangan lakukan itu. Baiklah, namaku Park Jiyeon.” Jiyeon mendadak terdiam. Marga Park memang terdengar cocok untuk nama Jiyeon. Tak lama kemudian ia tersenyum kecil dan berhasil membuat Junho penasaran dengan senyumannya.
“Oh, jadi namamu Park Jiyeon. Ikut aku!” Junho menarik tangan Jiyeon secara paksa dan membuat gadis malaikat itu terpaksa harus mengikuti kemauan Junho agar ia tidak dijebloskan ke dalam penjara.
Jiyeon berlari mengimbangi langkah Junho yang begitu cepat. Dia ingin sekali berontak dan melepaskan diri dari pemuda aneh yang menarik lengannya itu. ‘Dia pikir, dia itu siapa? Berani sekali menarik paksa lenganku seperti ini. Awas kau!’ batin Jiyeon tidak terima diperlakukan layaknya seorang pencuri yang diseret ke dalam penjara.
Junho masuk ke dalam lift kemudian ia segera keluar dengan tergesa-gesa. Jiyeon tahu betul keadaan di sekitarnya. Memang tak banyak orang yang berkeliaran di apartemen itu tapi sesuatu yang membuatnya bingung adalah Junho mengajaknya ke salah satu apartemen yang sangat diketahui oleh Jiyeon.
“Hei, kau mau membawaku ke mana, eoh?” tanya Jiyeon curiga karena apartemen Jaehwan juga ada di lantai itu.
“Diam saja!”
Jiyeon semakin curiga. “Hei, aku bisa jalan sendiri. Kau tidak perlu menarikku seperti ini. Aku bukan anjing yang bisa kau perlakukan dengan kasar begini.” Jiyeon terus saja berceloteh agar Junho melepaskan lengannya.
“Tidak! Kau akan melarikan diri jika aku melepaskanmu.”
Jiyeon mendengus kesal. Kenapa laki-laki di dunia sangat menjengkelkan? Kalau begini terus, kapan dirinya bisa menyelesaikan misi itu. Jiyeon hanya bisa pasrah saat Junho membawanya ke sebuah kamar di apartemen itu.
Tok tok!
Junho mengetuk pintu apartemen seseorang. Jiyeon pasrah dengan menundukkan kepalanya, mengadukan nasibnya pada lantai di bawahnya. Siapa tahu, mereka akan mengerti dan ikut sedih atas takdir yang harus ia jalani. Jiyeon sudah tidak peduli ke mana Junho akan membawanya dan apa yang akan dilakukannya.
Tok tok!
Junho mengetuk lagi. Rupanya hal itu mampu menarik perhatian Jiyeon.
Deg!
Itu apartemen Lee Jaehwan. Jiyeon menoleh ke kanan dan ke kiri, mencoba melihat sekitarnya. Kemudian mengedip-ngedipkan mata, berharap ia salah melihat. Benar, itu kamar Jaehwan. Dia mendesah kasar. “Kenapa aku malah kembali lagi ke tempat ini?” keluhnya lemas.
Cekleeek!
Tampaklah seorang pemuda berpostur jangkung dan hidung super mancung dengan setelan kaos dan celana jeans warna hitam. Jaehwan sempat terkejut melihat Junho membawa Jiyeon dan memegang tangan gadis itu. Sedangkan Jiyeon membuang muka dan tidak ingin melihat Jaehwan yang selalu membuatnya kesal.
“Ada apa, Hyung?” tanya Jaehwan datar.
Junho tidak menjawab. Ia malah menerobos masuk ke dalam apartemen dan menyeret Jiyeon masuk juga. “Aku ingin menitipkan gadis ini,” ungkap Junho ketus.
Jiyeon langsung mendongakkan kepalanya, menatap Junho penuh tanda tanya. “Kau pikir aku ini barang, eoh?” Jiyeon terpancing emosi.
Junho melirik tajam ke arah Jiyeon. “Dia telah merusak mobilku.”
“Aku sama sekali tidak merusak mobilmu. Hei, jangan menebar fitnah sembarangan!”
“Baiklah. Sampai kapan?” tanya Jaehwan yang sedang menahan sakit di kepalanya. Dia ingin Junho segera pergi dari apartemennya dan dia bisa istirahat secepatnya.
“Sampai besok malam. Aku akan melaporkannya ke polisi. Tapi bukan sekarang.” Junho melepaskan tangan Jiyeon. Tak berapa lama kemudian dia membalikkan badan. “Aku titip dia dulu.” Junho berjalan mendekati pintu kemudian membukanya dan menghilang saat pintu itu tertutup kembali.
Jiyeon hanya dapat terpaku di depan televisi milik Jaehwan. Dia sadar dan tahu apa yang baru saja terjadi. Bagaimana bisa Junho menitipkan dirinya di rumah Jaehwan. Pasti Junho dan Jaehwan saling mengenal.
Karena Junho sudah pergi, Jaehwan langsung berjalan menuju kamarnya.
“Tunggu!” pinta Jiyeon saat Jaehwan hendak melangkahkan kaki. “Aku tahu kalau aku salah. Kau bisa menceramahiku dan apapun yang ingin kau lakukan padaku. Aku… minta maaf untuk semua kesalahanku.” Jiyeon membungkukkan punggungnya pada Jaehwan. Ia benar-benar meminta maaf karena sudah merepotkan Jaehwan selama mereka tinggal bersama. “Jaga dirimu baik-baik. Aku akan datang lagi besok. Jangan khawatir! Aku tidak akan melarikan diri dari apapun.” Jiyeon berbalik, sesat kemudian ia mengayunkan langkahnya, ingin segera keluar dari apartemen itu. ‘Aku pasrah, entah bisa menjadi malaikat atau tidak, aku sama sekali tidak peduli. Aku… tidak ingin membuat manusia sengsara dan sedih karena kehadiranku. Baiklah, aku akan pergi setelah bertanggung jawab pada pemuda aneh itu,’ batin Jiyeon. Sebenarnya dia masih ingin melakukan sesuatu yang sangat ia inginkan ketika dirinya menjadi manusia.
Jiyeon memegang knop pintu dan siap membukanya namun tiba-tiba….
Brukk!
Jiyeon membalikkan badannya. Ia tercengang melihat pemandangan di dalam aprtemen Jaehwan. “Jaehwan-a!” Jiyeon menyerukan nama Jaehwan dan langsung berhambur melihat keadaan Jaehwan yang tengah jatuh pingsan. Tubuh pemuda tampan itu tergeletak di atas lantai dan sukses membuat Jiyeon panik.
“Jaehwan-a!” Jiyeon datang mendekati Jaehwan yang sudah tak sadarkan diri. Badannya panas dan pucat sekali. Jiyeon bingung, tak tahu apabyang harus ia lakukan. Ia belum pernah merawat orang sakit dan tidak mengenal macam-macam penyakit manusia. “Apa yang harus aku lakukan? Jaehwan-a, bangunlah!” Jiyeon berusaha membangunkan Jaehwan dengan menampar pelan pipi Jaehwan, mencubit kecil lengan Jaehwan bahkan menggoyangkan tubuh Jaehwan yang masih terkapar di atas lantai.
“Aku harus membawanya ke kamar. Tetapi gimana caranya?”
Jiyeon berjalan mondar-mandir, berharap segera menemukan cara untuk membawa Jarhwan ke kamarnya. Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya untuk menggunakan kekuatan malaikat yang dimilikinya. “Semoga berhasil. Kalau tidak, bagaimana aku bisa membawanya ke kamarnya? Tubuh Jaehwan sangat berat.” Jiyeon terdiam, menutup kedua kelopak matanya, menghela nafas panjang dan teratur, menenangkan pikirannya dan berusaha menggunakan kekuatannya. Dia harus yakin kalau kekuatannya akan bekerja dan berhasil membawa tubuh Jaehwan ke dalam kamarnya karena takut kalau penyakit Jaehwan semakin parah.
Cliing!
Jiyeon mendadak membuka matanya. Ia merasa kekuatannya berhasil mengirim tubuh Jaehwan ke kamarnya.
“Berhasil?” Jiyeon senang karena akhirnya Jaehwan berhasil ia pindahkan ke dalam kamarnya. “Tapi… bagaimana ini bisa terjadi? Seharusnya aku tidak bisa menggunakan kekuatanku….”
Jiyeon tidak peduli pada kekuatannya yang mendadak berhasil ia gunakan. “Aku harus melihat keadaan Jaehwan.” Dengan langkah cepat, Jiyeon pergi ke kamar Jaehwan yang hanya berjarak tujuh meter dari tempatnya berdiri.
*****

Keesokan paginya, Jiyeon tertidur di kamar Jaehwan. Ia telah merawat Jaehwan yang tengah sakit. Jiyeon memberikan kompres pada Jaehwan dan selalu menggantinya setiap kompres itu tak terasa dingin. Ia mengetahui cara kompres dari internet. Ya, Jiyeon lebih paham menggunakan gadget daripada mengenal macam-macam penyakit manusia.
Jaehwan mulai tersadar. Ia membuka matanya perlahan-lahan dan merasa kalau badannya terasa tidak enak. Jaehwan melirik ke sebelah kanan. Ia melihat Jiyeon tertidur dengan posisi duduk di atas lantai dan meletakkan kepalanya di atas ranjang milik Jaehwan. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas meski gadis itu tengah tertidur pulas.
“Jiyeon?” lirih Jaehwan dengan kerutan di keningnya saat melihat sosok gadis yang membuatnya kesal dan selalu ingin marah. Ia tidak menyangka kalau Jiyeon lah yang merawatnya semalaman. “Jadi… dia sudah merawatku semalam?”
Dengan melihat posisi Jiyeon yang tertidur itu, Jaehwan mulai percaya kalau Jiyeon memang orang yang baik. Ia sampai tertidur saat merawatnya yang sedang sakit panas semalam. Jaehwan masih memperhatikan wajah Jiyeon selama beberapa saat. Tangannya mulai tergerak untuk membelai lembut rambut Jiyeon yang berwarna hitam kecoklatan.  “Terimakasih, Park Jiyeon.”
Tak lama kemudian, Jiyeon terbangun dari tidurnya. Saar membuka mata, Jiyeon sedikit terkejut melihat Jaehwan sudah terduduk dengan tatapan melekat pada dirinya. “Ah, maaf. Aku… tertidur di sini. Sungguh, aku tidak bermaksud mengambil kesempatan supaya bisa berdekatan denganmu. Jangan berpikir seperti itu. Kau mengerti, kan?” Jiyeon gugup dan terkesan salah tingkah saat ia menyadari kalau Jaehwan masih memperhatikannya. “Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Jiyeon takut kalau Jaehwan marah padanya.
Jaehwan menggeleng pelan. “Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku… berterimakasih padamu. Kau telah melakukan sesuatu padaku sehingga sakitku sedikit berkurang.”
Jiyeon tak percaya kalau Jaehwan mengucapkan terimaksih padanya. Ia tidak percaya namun telinganya telah mendengar ucapan terimakasih itu. Jiyeon mengangguk kecil dan disusul dengan seulas senyuman tipis dari bibir mungilnya. “Aku hanya ingin menolongmu. Kau kan tinggal sendirian. Jadi, aku yang mengurusmu semalam. Kau tidak perlu berterimakasih. Seharusnya aku yang berterimakasih padamu. Bagaimana keadaanmu?” tanya Jiyeon khawatir.
“Jauh lebih baik dari semalam. Ini berkat dirimu,” ucap Jaehwan.
Jiyeon menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum kebahagiaannya karena mendapat pujian dari Jaehwan. “Syukurlah. Jika kau sudah merasa baikan, aku akan pergi dari tempat ini. Aku tidak mau merepotkan siapapun, termasuk dirimu.”
Jaehwan tertegun seperti seseorang yang tengah memikirkan sesuatu. Sedangkan Jiyeon, hanya terdiam menunggu reaksi Jaehwan. Ia yakin kalau Jaehwan akan membiarkannya pergi karena selama tiga hari mereka bersama-sama, Jaehwan selalu kesal pada Jiyeon. Ia seperti tidak menginginkan kehadiran Jiyeon. Lagipula siapa yang ingin tinggal bersama orang asing dan aneh seperti Jiyeon yang datang secara tiba-tiba.
‘Mungkin memang benar kata mereka. Aku menyerah saja. Tugas ini sangat sulit bagiku,’ batin Jiyeon sedih karena dia harus menerima takdirnya sebagai devil.
Jiyeon memutuskan untuk bersiap meninggalkan apartemen Jaehwan tetapi ada satu hal yang membuatnya menunda melakukan hal itu. Ya, urusannya dengan Junho belum selesai. Sebagai malaikat, dia harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan. “Aku akan pergi setelah menyelesaikan urusanku dengan orang yang semalam.” Jiyeon selesai bicara dan hendak keluar dari kamar Jaehwan.
“Jika kau pergi, bagaimana dengan pekerjaan yang telah diberikan padamu?” Tiba-tiba Jaehwan menyinggung masalah pekerjaan.
“Aku akan bilang pada Irene dan Baekhyun kalau aku tidak bisa bekerja di restauran. Mereka boleh membenciku atas hal ini. Aku… tidak peduli.” Keputusan Jiyeon sudah bulat. Setelah pergi dari apartemen Jaehwan, ia akan kembali menjadi malaikat dan menunggu takdirnya menjadi seorang devil. Mungkin memang itulah jalan takdirnya. Jiyeon hendak pergi dari kamar Jaehwan. Ia tidak bisa berlama-lama berada di dekat pemuda itu. Pendiriannya bisa goyah dan keputusannya bisa berubah jika dia berlama-lama berada di dalam kamar bersama Jaehwan.
Tap!
Tiba-tiba Jaehwan memegang tangan Jiyeon yang hendak beranjak dari kamarnya. “Tunggu! Kenapa sikapmu berubah aneh begini? Apakah kepalamu baru saja terbentur sesuatu? Atau kau dipukul Junho hyung semalam?”
Jiyeon mengerutkan keningnya saat Jaehwan menyebut nama Junho. “Aku baik-baik saja. Siapa yang kau maksud dengan Junho? Apakah… dia adalah orang yang semalam menyeretku kemari?”
Jaehwan malah bingung. “Jadi kau belum tahu namanya?”
Jiyeon menggelengkan kepalanya pelan. “Dia menanyakan namaku tetapi aku tidak balik bertanya.”
Tiba-tiba Jaehwan mendapatkan satu cara untuk menahan Jiyeon agar tidak pergi begitu saja. “Dia adalah kakak sepupuku. Tapi kenapa kalian bisa kemari? Memangnya ada masalah apa?”
Jiyeon mendesah kasar dan memutar bola matanya, malas menjelaskan masalah antara dirinya dengan pemuda bernama Junho. “Aku menendang ban mobil Junho dan tidak sengaja menyenggol mobilnya sehingga alarm mobil itu berbunyi. Dia bilang kalau aku telah merusak mobilnya hingga tergores. Tentu saja aku tidak terima karena tak ada goresan sama sekali di mobil itu.” Jiyeon kembali kesal mengingat kejadian itu. “Aku harus bertemu lagi dengannya dan membuat perhitungan. Enak saja dia menuduhku yang bukan-bukan.”
Penjelasan Jiyeon mampu membuat Jaehwan terkikik namun pemuda itu bisa menyembunyikannya dari Jiyeon. “Lalu… apa maumu? Aku bisa menghubungi Junho hyunh supaya lekas kemari dan kau bisa segera menyelesaikannya.”
Kedua mata Jiyeon berbinar-binar. “Benarkah? Kau tidak sedang berbohong padaku, kan?”
Jaehwan mengangguk. “Tentu saja.” Ia menyembunyikan senyum kecilnya. Ada sesuatu yang akan dia lakukan dan itu pasti membuatnya senang. “Kau tunggu saja. Tapi… Junho hyung lumayan susah untuk ditemui. Kau jangan khawatir. Dia pasti akan segera datang untuk menemuimu karena… dia menganggap kau bersalah padanya. Iya, kan?”
Jiyeon sedikit kesal mendengar kata ‘bersalah’ apalagi dirinya yang dikatakan bersalah oleh Jaehwan. “Terserah bagaimana pendapatmu, yang penting aku ingin segera menyelesaikan masalah konyol itu. Benar-benar aneh!” gerutu Jiyeon.
Suasana hening sesaat. Karena Jiyeon merasa aneh dalam suasana hening itu, ia menawari Jaehwan sarapan dengan makanan yang ia masak. “Aku ingin memasak. Terus terang… perutku sangat lapar. Kau mau buatkan sarapan juga?”
Jaehwan tertegun, tak percaya kalau di pagi buta seperti itu ada yang mau memasakkan makanan untuk sarapannya. Dia enggan menjawab ‘iya’ namun perutnya juga lapar dan kondisi badannya masih sedikit demam. “Ya, boleh,” jawab Jaehwan singkat.
*****
Satu jam kemudian, Jiyeon selesai membuat sarapan roti bakar isi keju dan sosis yang diberi sedikit saos tomat dan sedikit daun chey yang ia potong kecil-kecil. Aromanya sangat menggoda hidung. Jiyeon sengaja menyiapkan dua porsi roti bakar tersebut dan segelas susu untuk Jaehwan. Sedangkan untuk dirinya sendiri, ia memilih membuat pasta dengan saos pedas dan teh manis sebagai minumannya.
Tok tok!
Jiyeon mengetuk pintu kamar Jaehwan dengan pelan. Ia tidak bisa mengetuk lebih lama lagi karena tangannya harus memegang nampan yang berisi sarapan untuk Jaehwan.
“Lee Jaehwan! Sarapannya sudah siap. Boleh aku masuk?”
Tanpa mendapat jawaban, Jiyeon menerobos masuk begitu saja. Ia tidak peduli kalau Jaehwan akan memarahinya karena hal itu.
“Kenapa kau langsung masuk?” tanya Jaehwan berusaha berdiri.
Jiyeon memasang seulas senyum manisnya. “Aku sudah bertanya padamu bolehkah aku masuk? Itu artinya aku memang benar-benar mau masuk. Setidaknya aku sudah memberitahu kalau aku ingin masuk. Jadi, kau tidak berhak marah padaku.” Jiyeon meletakkan makanan yang ia bawa di atas nakas, di samping ranjang milik Jaehwan. “Makanlah! Aku pergi dulu.”
“Tunggu!” Lagi – lagi Jaehwan memegang lengan Jiyeon. “Kau tidak sarapan?”
Jiyeon lupa bahwa dirinya belum sarapan. “Nanti saja. Yang penting makanan untum sarapan sudah ada. Aku mau keluar membeli obat untukmu. Kau tetaplah di sini dan makanlah makanan itu. Ketika aku kembali dari apotik, kau pasti selesai makan dan bisa langsung minum obat.”
Deg!
Jantung Jaehwan berdegub kencang. Selama ini belum ada orang lain yang memperhatikan dirinya seperti yang telah dilakukan oleh Jiyeon. Hanya ibunya dan Jiyeon lah yang peduli sampai segitunya pada dirinya. “Tidak usah. Aku bisa membelinya sendiri. Kau di sini saja. Nanti kau akan tersesat.”
Jiyeon tersenyum. “Tenang saja. Aku memasang GPS di ponselku,” kata Jiyeon bangga karena dirinya sudah mampu mengoperasikan smartphone miliknya.
Jaehwan tertawa terpingkal-pingkal. Sedangkan Jiyeon berubah kesal karena menyadari kalau Jaehwan sedang menertawakannya.
“Kenapa? Ada yang lucu?” tanya Jiyeon kesal.
“Kau memasang gps dan ingin menggunakan aplikasi maps hanya untuk pergi ke apotik? Hahaha… Itu yang membuatku tertawa. Seakan-akan kau ini mau perginke suatu tempat yang jauh.”
Jiyeon melirik tajam ke arah Jaehwan. ‘Awas kau, Lee Jaehwan!’ batinnya kesal.
“Terserah apa katamu. Itu tidak akan mempengaruhiku. Kau harus diam di sini. Aku pergi dulu.” Jiyeon membalikkan badan kemudin mengayunkan kaki kanannya.
“Ku bilang jangan lakukan itu!” Jaehwan menarik lengan Jiyeon dan membuat gadis itu kehilangan keseimbangan berdiri. Akhirnya adegan mesra pun terjadi. Jiyeon hendak terjatuh namun Jaehwan berhasil menangkap tubuhnya. Tak ada jarak antara tubuh keduanya dan wajah mereka hanya berjarak empat sentimeter. Jantung keduanya pun berdegub kencang karena keduanya belum pernah merasakan jatuh cinta.
Jiyeon tak percaya dengan apa yang ia alami dan apa yang ia lihat. Dari jarak empat senti, Jiyeon dapat melihat betapa tampannya wajah Jaehwan dan merasakan hembusan nafas pemuda itu. “Ma, maaf, aku tidak sengaja.”
“Tak ada yang perlu dimaafkan. Kalau begitu….”
Cup!
Jaehwan mengecup lembut bibir mungil Jiyeon. Keduanya merasakan sengatan aneh yang membuat jantung mereka semakin berdegub kencang. Jiyeon termangu merasakan kecupan singkat dari Jaehwan.
Keduanya kembali ke posisi semula. Jiyeon begitu malu menatap mata Jaehwan, sungguh tidak seperti biasanya.
“Maaf untuk yang baru saja terjadi. Aku khilaf.” Dalam hati, Jaehwan meruntuki dirinya sendiri. ‘Apa yang kau lakukan, Lee Jaehwan? Kau mencium gadis asing itu untuk merasakan ciuman pertamamu,’ batin Jaehwan tidak tenang.
*****
20 menit kemudian, Jiyeon telah kembali dari apotik dan membawa beberapa obat di kantong plastik. Ia berhasil pergi seorang diri ke sebuah apotik yang berjarak 200 meter dari apartemen Jaehwan. Setelah sampai di depan apartemen Jaehwan, ia melihat seseorang berdiri di depan pintu dengan raut wajah cemas. Jiyeon pun akhirnya mendekati orang itu.
“Irene-ssi?”
Ternyata orang itu adalah Bae Irene yang selama ini mengelola restoran milik keluarga Lee. Irene terkejut melihat Jiyeon di tempat itu. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan bertemu gadis itu di depan apartemen Jaehwan.
“Park Jiyeon?”
“Kau ingin bertemu dengan Jaehwan?” tanya Jiyeon langsung. Ia tidak suka berbasa-basi terlalu lama.
Irene mengangguk. “Kau sendiri… sedang apa di sini?” tanya Irene balik.
“Aku baru saja membeli obat untuk Jaehwan,” jawab Jiyeon polos.
Irene melihat Jiyeon membawa bungkusan dalam kantong plastik berwarna putih. “Sakit? Sakit apa? Kenapa aku tidak tahu?”
“Tentu saja kau belum tahu karena baru semalam dia demam. Jangan khawatir, kondisinya sudah membaik dan suhu tubuhnya sudah menurun. Biar aku ketuk pintunya.” Jiyeon menjelaskan keadaan Jaehwan yang sebenarnya. Ia begitu polos sampai tidak menyadari kalau Irene menatapnya tajam dan kesal padanya. “Oh iya, aku bisa membukanya sendiri.” Detik berikutnya, Jiyeon langsung menekan tombol, membuka pintu apartemen Jaehwan dengan password yang ia ketahui.
Irene semakin mendengus kesal saat melihat Jiyeon bisa membuka pintu apartemen Jiyeon dengan password yang pasti sudah diberitahukan oleh Jaehwan.
Cekleeek!
Jiyeon memutar knop pintu itu. Tak lama kemudian pintu itu terbuka dan tampak lah perabotan milik Jaehwan yang dapat dilihat dari luar kamar itu. “Masuklah!”
Irene tak sungkan-sungkan masuk ke dalam apartemen Jaehwan. Ia melihat perabotan di dalam apartemen itu yang telah ditata sedemikian rapi oleh si empunya apartemen.
Jaehwan keluar dari kamarnya dengan tergopoh-gopoh. “Kenapa lama sekali?” tanya Jaehwan yang tentu saja ditujukan kepada Jiyeon. Saat berdiri di depan kamarnya, ia terkejut melihat sosok Irene di dalam apartemennya. “Irene?” lirih Jaehwan yang kentara tidak suka melihat kedatangan Irene di tempat itu.
Melihat Jaehwan sudah berada di depan kamarnya, Jiyeon segera mendekati pemuda itu dan menyodorkan obat demam yang baru saja ia beli dari apotik. “Ini obatmu. Kau harus segera meminumnya supaya kondisimu cepat membaik.” Jiyeon tak ragu dan tidak sungkan menunjukkan perhatiannya pada Jaehwan. Ia merasa harus melakukan hal itu karena Jaehwan sudah berbuat baik padanya.
“Jiyeon-ssi, biar aku saja yang memberikan obat itu pada Jaehwan oppa.”
Jiyeon terbelalak. Oppa? Jadi, Irene memanggil Jaehwan dengan sebutan oppa? pikir Jiyeon. “Oh, tentu saja boleh. Ini.”
“Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri.” Jaehwan merebut obat yang ingin diberikan oleh Jiyeon kepada Irene.
Irene tertegun, senyumnya pudar seketika, dan dia kecewa dengan sikap Jaehwan yang kembali dingin padanya.
Jiyeon merasakan atmosfir tidak enak. Dia bingung harus berbuat apa. “Mm, aku keluar dulu. Tadi aku menemukan anak anjing di luar tapi aku titipkan pada security. Jadi, aku ingin melihatnya dan mencari tahu siapa pemiliknya,” kata Jiyeon ragu. Ia merasa asing berada diantara Jaehwan dan Irene.
“Kau di sini saja!” Jaehwan memegang lengan Jiyeon erat.
Jiyeon dan Irene dapat melihat tangan Jaehwan yang tengah memegang lengan Jiyeon.
“Mm… Ba, baiklah, kalau begitu,” ujar Jiyeon sungkan pada Irene. Ia kesal pada Jaehwan karena memegang lengannya begitu kuat. “Akan ku ambilkan air minum untukmu. Obat itu… harus segera diminum.” Jiyeon melepaskan lengannya dari tangan Jaehwan dan bergegas menuju dapur untuk mengambil air minum.
Ia merasa lega setelah kakinya menginjak lantai dapur. Suasana tegang terjadi diantara Jaehwan dan Irene. “Aku tidak tahu masalah mereka dan tidak ada kaitannya denganku. Aku sangat malu tadi. Hah! Apa yang harus ku lakukan?”
Alih-alih mengambil air minum, Jiyeon malah memikirkan sesuatu di dapur. Ia dapat membaca suasana saat itu dimana Irene berdiri di depan pintu karena ragu saat hendak mengetuk pintu apartemen Jaehwan dan dia juga  ingin memberikan obat pada Jaehwan namun ditolak mentah-mentah oleh Jaehwan. “Bukankah kemarin mereka bersikal biasa saja? Kenapa sekarang Jaehwan seperti sedang marah pada Irene? Aku yakin kalau Irene menyukai Jaehwan. Ya, itu benar. Aku harus membantu Iree supaya Jaehwan jatuh cinta padanya. Aduh! Tapi bagaimana caranya?” Jiyeon bicara pada dirinya sendiri. Ia merasa sangat malu kembali ke tempat di mana Jaehwan dan Irene berada.

Jaehwan berdiri bersandar pada dinding di belakangnya. Dia berusaha menahan pusing karena berdiri terlalu lama. “Kenapa kau kemari? Ada urusan apa?” tanya Jaehwan pada Irene dengan sikap yang dingin.
Irene enggan menjawab pertanyaan itu. Pandangannya kosong ke arah jendela yang memperlihatkan pemandangan langit biru yang cerah.
“Pulanglah! Aku tidak apa-apa. Doakan saja supaya lekas sembuh.” Sikap dingin Jaehwan mampu membuat Irene merasa sakit hati.
“Baiklah, kalau itu yang kau mau, akan aku lakukan. Aku pulang!” Dengan emosi yang akan meledak dan sakit hati yang tak tertahan, Irene  pamit pulang kemudian menghilang di balik pintu.

Beberapa saat kemudian, Jiyeon datang mendekati Jaehwan dan heran melihat sikap dingin Jaehwan terhadap Irene. Menurut Jiyeon, tak seharusnya Jaehwan bersikap sebegitu dingin pada gadis yang mencoba memperhatikan dirinya. Irene adalah seorang gadis yang baik, dia tidak berhak mendapat perlakuan seperti itu. “Kenapa kau mengusirnya?” tanya Jiyeon ketus.
Jaehwan mengalihkan pandangannya dari lantai kosong ke arah Jiyeon yang berdiri di depannya. “Itu adalah urusanku. Kau urus saja urusanmu sendiri!” Setelah mengatakan hal tersebut, Jaehwan langsung kembali ke kamarnya dan mengunci pintu kamar, entah apa tujuannya, yang pasti Jiyeon tidak bisa masuk ke sana.
Jiyeon hanya mampu menatap pintu kamar Jaehwan dengan keheranan yang tinggi. Baru kali ini dia menjumpai seorang manusia yang memiliki sifat aneh seperti pemuda itu. “Manusia itu memang aneh!” gerutu Jiyeon.
Tanpa diketahui oleh Jiyeon, ternyata Jaehwan mendengar samar-samar perkataan Jiyeon tadi. Ia yang masih berdiri tepat di balik pintu kamarnya, mengernyitkan dahi, memikirkan maksud ucapan Jiyeon. ‘Kenapa dia bicara seperti itu? Dia sendiri kan manusia…’ batin Jaehwan bingung.

Tbc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s