[CHAPTER-PART 10] EIRENE

EIRENE1

EIRENE-10

||Author : Lyzee7||

||Main Cast : Kim Myungsoo|Park Jiyeon|Irene|Ryu Hwayoung||

||Genre : Family|Romance|Complicated|Royal|Little Action||

||Rating : PG-17||

||Recommended Song : Fervor by Baek Jiyoung||

 

EIRENE CAST

“Terima kasih karena sudah menjadikanku anak kalian, memenuhiku dengan cinta dan kasih sayang yang kalian miliki selama ini,” –Jiyeon Midford.

Tidak ada satu orang pun yang benar-benar suci di dunia ini. Mereka pasti pernah melakukan suatu dosa lalu berlutut kepada Tuhan agar diberikan ampunan atas dosanya. Namun mereka akan melakukan dosa lagi, dan meminta ampun kembali. Begitu seterusnya seperti sebuah roda yang berputar. Tidak ada penyesalan, karena mereka berpikir bahwa Tuhan telah menghapus dosa-dosa itu.

Setelah itu, manusia akan memilih sisi sebelah mana roda itu akan ia hentikan. Akan-kah itu sebuah ampunan atau sebuah dosa?

Tidak ada yang tahu.

Author POV

Flashback

H-7 jam sebelum Christmas Eve.

“Apa yang kita lakukan di sini, Yang Mulia?”

Myungsoo mendahului Jiyeon lalu berbalik menghadap gadis kecil itu dengan senyum lebar. Myungsoo merentangkan kedua tangannya diantara jajaran kursi kosong di gereja megah yang ada di Istana. “Selamat ulang tahun, Jiyeon Vience Midford.”

“Ya?” Jiyeon tertegun sejenak kemudian tersenyum. “Anda tidak perlu repot mengingat tanggal ulangtahun saya, Yang Mulia. Terima kasih.”

Kedua tangan Myungsoo jatuh di sisi tubuhnya lalu berjalan mendekati Jiyeon. “Mengingat ulang tahunmu bukanlah hal yang merepotkan kok,” aku-nya. “Lagi pula ini tidak pantas disebut kejutan ulang tahun.” Raut wajahnya terlihat sedih saat mengatakannya dan ia tak membiarkan Jiyeon melihatnya dengan membalikkan badannya menghadap salib besar yang terpampang di dinding gereja. “Hah… seharusnya kita pergi ke taman bermain.”

Seakan usaha Myungsoo sia-sia, Jiyeon tersenyum kecil lalu melenggang duduk di kursi panjang paling dekat dengannya. “Saya menyukainya.”

Kepala Myungsoo dengan cepat menoleh ke belakang lalu menatap hazel itu yang menatap salib di depan mereka dengan tatapan kagum. “Apa?”

“Saya menyukai kejutan anda, Yang Mulia. Terima kasih banyak.”sahut Jiyeon lalu menepuk tempat kosong di sebelahnya. “Mau bergabung?”

Sebelah alis Myungsoo terangkat. “Ya.”

Setelah itu keheningan menyelimuti mereka. Lama mereka terdiam, hanya mengamati salib emas itu dengan dalam diam sampai akhirnya Myungsoo membuka suara.

“Aku ada sesuatu untuk kuceritakan padamu, Jiyeon-ah. Maukah kau mendengarkannya?”

Jiyeon menoleh dan menemukan Myungsoo yang sedang menatapnya dalam. “Tentu saja, Yang Mulia.”

“Baiklah,” gumamnya lalu kembali mengarahkan pandangannya ke depan. “Ayah bilang, aku punya banyak dosa, ibu, paman Han, kepala pelayan Seo, dan terutama dirinya.” Suaranya terdengar begitu lirih. Jiyeon hanya bisa menatapnya dengan alis bertaut samar.

“Katanya kami setiap hari melakukan banyak perbuatan yang penuh dosa. Selalu ada yang mati kelaparan karena mereka miskin tiap harinya. Sedangkan aku bisa makan dan bermain seenaknya. Semua orang tunduk kepada kami, sedangkan kami belum tentu menatap setiap orang dari mereka yang telah menghormati kami. Salah satu pengawalku pernah hampir mati karena harus mencicipi makanan yang dihidangkan untukku pada suatu hari. Menurutmu… apakah dosaku akan dimaafkan?”

Jiyeon tertegun mendengar pengakuan Myungsoo yang terdengar begitu… memilukan. Ia kembali mengalihkan pendangannya ke depan menatap salib itu dengan tatapan kosong. Sedangkan Myungsoo beralih menatap Jiyeon dalam diam, menunggu gadis itu bersuara.

“Yang Mulia…” bisik Jiyeon namun masih bisa terdengar oleh Myungsoo walaupun samar. “Saat anda berpikir bahwa sebuah dosa sangat menakutkan, mengapa anda tetap melakukan hal yang menimbulkan dosa?”

“Itu karena,” kata-kata Myungsoo terhenti sejenak, “aku memang harus melakukannya sebagai anggota kerajaan. Aku tidak memiliki pilihan lain selain menjalankan tugasku sebagai seorang Putera Mahkota. Aku tahu tugas dan kedudukanku.”

“Anda benar, Yang Mulia. Karena anda adalah seorang Putera Mahkota, anda harus tetap hidup dan menyadari kedudukan anda,” ungkap Jiyeon dengan begitu ringan namun ada keyakinan di setiap katanya. Gadis itu tidak terlihat ragu sedikit pun dengan ucapannya. “Yang Mulia, jika kerajaan tidak berusaha untuk menghidupi rakyatnya, mungkin, akan ada lebih banyak korban- jauh lebih banyak korban yang mati kelaparan. Jika mereka tidak tunduk pada satu hal yaitu kepada Raja dan Keluarganya, maka mereka akan berusaha untuk saling menjatuhkan demi mendapatkan kedudukan tertinggi. Hukum rimba akan berlaku pada saat itu juga. Maka dari itu, para pengawal yang melindungi anda terpilih untuk siap mati demi menyelamatkan anda.”

“Jika anda menganggap bahwa semua itu adalah sebuah dosa, dan apakah dosa itu dapat dimaafkan atau tidak? Itu tergantung bagaimana anda mengakhirinya, apakah anda memilih jalan dimana anda akan mendapatkan sebuah ampunan ataukah jalan dimana anda akan membiarkan dosa itu membentuk dinding pertahanan anda. Dan ketahui-lah kedua jalan itu akan membutuhkan pengorbanan yang besar di setiap langkahnya.”

Kata-kata Jiyeon terngiang di benak Myungsoo bagaikan cerita dongeng yang dibacakan Yang Mulia Ratu saat mengantarnya tidur. Lagi, Jiyeon selalu mengejutkan Myungsoo dengan rangkaian kata yang mengalun lembut di bibir mungil itu. “Lalu, pada saat aku ingin mengakhirinya…” entah mengapa kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa Myungsoo berpikir terlebih dahulu, “Di sisi mana kau ingin aku melangkah?”

Hazel itu mengerjap menatapnya dengan tatapan lembut. “Saya ingin Tuhan tetap menyayangi anda, Yang Mulia.” Sudut bibir Jiyeon tertarik ke atas menampilkan senyumnya yang sangat menawan. “Suatu saat nanti, saya percaya anda akan bahagia setelah terlepas dari beban yang anda tanggung selama ini. Saya ingin anda bahagia, Pangeran…”

Begitu tulus harapan yang diucapkan Jiyeon. Jiyeon ingin Myungsoo bahagia suatu saat nanti tanpa membawa beban apapun. Hal yang selama ini Myungsoo inginkan dan begitu sulit terwujud walau hanya sesaat. Pernah suatu waktu ayahnya mengatakan padanya bahwa anggota kerajaan tidak akan bisa hidup bahagia seperti yang ia inginkan. Bahkan mungkin mereka bisa berakhir tragis seperti pendahulunya. Namun kali ini Jiyeon mengatakan bahwa ia juga bisa bahagia, suatu saat nanti. Mungkin itu hanyalah pemikiran anak sekolah dasar, tapi, entah mengapa Myungsoo ingin memercayainya.

“Begitu ya…” sekarang Myungsoo paham. Perlahan ia berdiri lalu memutar tubuhnya ke arah Jiyeon membuat gadis itu sedikit memiringkan kepalanya, bertanya-tanya. “Kalau begitu, maukah kau ikut denganku?”

“Ikut kemana, Yang Mulia?”

Myungsoo mendengus lalu meniup poni sambil memutar bola matanya. Ia mengulurkan tangan kanannya pada Jiyeon, “Sudah ikut saja.”

Detik berikutnya Jiyeon mengangguk lalu menyambut uluran tangan Myungsoo dengan tangan kirinya yang langsung ditarik lembut oleh Myungsoo.tanpa mengatakan apapun, Myungsoo menuntun Jiyeon melewati deretan kursi lalu menaiki tiga anak tangga…

Menuju altar.

Flashback End

Midford’s Manor

Jiyeon duduk terdiam di atas keramik kamar mandi dengan tatapan kosong, membiarkan air shower jatuh membasahi tubuhnya. Bibirnya yang terluka hampir berwarna ungu dan bergetar kedinginan. Darah di telapak kaki kanan Jiyeon mengalir sampai ke lantai hingga membentuk arus kecil mengikuti air shower. Kedua lengan dan telapak tangannya terdapat beberapa goresan memanjang kemerahan dan ada beberapa yang mengeluarkan darah.

“Biarkan saya masuk, nona.” Suara lirih Hyomin terdengar dari balik pintu kamar mandi yang tidak terkunci. Apabila majikannya belum memperkenankannya masuk, maka Hyomin tidak akan masuk walaupun perasaan cemas menggerogotinya.

Sudah limabelas menit berlalu setelah Jiyeon menutup pintu kamar mandi, hanya terdengar suara air berjatuhan yang dapat didengarnya. Bersama Yunho yang sudah membawa alat suntik dan cairan penenang, Hyomin berkali-kali memanggil Jiyeon agar mendengar respon gadis itu.

Jiyeon menengadahkan kepalanya membiarkan wajahnya dijatuhi air dengan mata terpejam. Perlahan, bibirnya sedikit terbuka dan sebuah nada mengalun pelan.

London bridge is falling down,

Falling down,

Falling down,

London bridge is falling down,

My fair lady.

Suara serak Jiyeon melantunkan lagu itu beberapa kali sampai ia membuka matanya perlahan. Untuk beberapa saat ia terdiam sambil menatap tangan kanannya dan menatap cincin perak, mengamati ukiran inisial namanya.

“Midford…”

“Aku, Jiyeon Vience Midford,” bisiknya terdengar sangat lirih. “Tidak akan kubiarkan mereka merendahkanku!”

“Aku adalah seorang Midford…”

Ketukan di pintu menyadarkan Jiyeon disertai dengan suara Hyomin yang memanggilnya.

“Masuklah,” perintah Jiyeon dan pintu terbuka setelahnya.

“Nona!” pekik Hyomin saat melihat keadaan Jiyeon. Ia segera menyambar handuk lalu menghambur pada Jiyeon untuk mematikan shower lalu menyampirkan handuk ke tubuh Jiyeon.

“Permisi, Nona,” tanpa aba-aba Yunho segera mengangkat tubuh Jiyeon yang menggigil dan membawanya ke ranjang. Kedua tangan Yunho dengan cekatan bergerak untuk berusaha mengeringkan sebagian tubuh Jiyeon dengan handuk sampai Hyomin tiba dengan beberapa helai pakaian.

“Atur pemanas ruangannya, Yunho-ssi. Setelah itu tolong ambilkan aku dua handuk lagi,” Hyomin memberikan aba-aba yang langsung dipatuhi Yunho sementara ia segera melepaskan baju basah Jiyeon tanpa ragu walaupun ada Yunho. Setelah selesai memakaikan Jiyeon gaun tidur baru, Yunho datang dengan membawa handuk di tangannya lalu menyerahkannya pada Hyomin lalu menyampirkan selimut tebal agar menaikkan suhu tubuh Jiyeon yang rendah hingga menyebabkan gadis itu menggigil. Hyomin beralih mengeringkan rambut Jiyeon dengan handuk kering dan duduk di sebelah kiri Jiyeon.

Tatapan kosong Jiyeon beralih menatap Yunho yang kini berlutut di depannya dengan kotak obat di lantai. Pria itu dengan hati-hati memindahkan kaki Jiyeon yang terluka ke pangkuannya lalu mulai mengobati. Yunho mengobatinya dengan perlahan, takut ia akan menyakiti Jiyeon. Saat ia akan membalutkan perban, ia tersentak ketika sebuah tangan terulur menyentuh keplanya.

Itu tangan Jiyeon. Tangan rapuh yang penuh luka itu menepuk kepala Yunho dengan lembut, mata itu menatap Yunho dengan tulus, seolah Jiyeon sedang menyampaikan bahwa gadis itu baik-baik saja.

Tanpa berkata apa-apa, Yunho kembali melilitkan perban di kaki Jiyeon. Entah kenapa saat ini- ia tidak sanggup berkata apapun di hadapan Jiyeon. Mulutnya seakan dikunci rapat-rapat selain mengatakan ‘permisi, nona’ ia tidak mengatakan hal lain lagi. Ia beralih akan mengobati tangan Jiyeon dengan meraih tangan mungil yang bertengger di kepalanya dengan lembut, lalu mulai mengobatinya.

“Cengeng…”

Gerakan tangan Yunho terhenti, begitu pun Hyomin ketika mendengar gumaman Jiyeon. “Maaf?”  Yunho menatap majikannya dengan raut wajah yang bertanya-tanya.

“Jangan menekuk wajahmu seperti itu.” Raut wajah Jiyeon berubah sedikit terlihat kesal- kesal yang dibuat-buat, “kau terlihat jelek,” lanjutnya bermaksud menyisipkan sebuah gurauan.

Kening Yunho mengerut menatap Jiyeon lalu melanjutkan pekerjaannya kembali. “Sama sekali todak lucu, Nona,” balasnya dingin. Di dalam benaknya Yunho bertanya-tanya, apakah menurut Jiyeon hal seperti ini lucu? Beberapa saat yang lalu ketia ia sedang mengawasi keadaan sekitar Manor, Hyomin menghubunginya dengan nada panik mengatakan bahwa Jiyeon kehilangan kendali.

Jiyeon terdiam setelah mendengar Yunho mengatakannya. Sebelah tangannya terulur lalu menyentuh pipi Yunho dengan ringan, meminta pria itu menatapnya.

“Maaf ya, aku membuat kalian khawatir lagi.”

.

Setelah Yunho dan Hyomin undur diri dan menutup pintu kamarnya, Jiyeon tidak berniat memejamkan matanya kembali. Sebaliknya, ia berjalan mendekati jendela besar yang tertutup tirai lalu menyibaknya.

Sinar bulan begitu terlihat terang di tengah malam yang dingin. Salju yang menutupi jalan dan pepohonan mulai berkurang. Beberapa bintang sudah bisa terlihat di langit walaupun sebagian masih tertutup awan. Untuk sesaat, Jiyeon menikmati keadaan ini.

Seekor kunang-kunang terlihat melintasi kaca jendelanya lalu berhenti untuk hinggap di sana. Jiyeon terdiam dan sedikit terpana melihat kilau cahaya yang memancar lalu mendekatkan jari telunjuknya dan menyentuhnya dari balik kaca.

“Cantik,” bisiknya kagum lalu tersenyum kecil.

Flashback

Salju putih menjatuhi kediaman Raja Korea Selatan yang ramai dengan para bangsawan dan dua Santa Clause dengan kantung besarnya yang berisi hadiah di depan pintu masuk istana. Saat anak para bangsawan yang diundang di pesta itu datang, tugas mereka sebagai pemberi hadiah akan dengan senang hati mereka kerjakan.

Jiyeon POV

Entah kenapa, salju yang turun semakin lebat ketika aku menatap keluar jendela yang gelap. Hampir seluruh tamu undangan dan keluarga bangsawan yang lain sudah tiba di Istana dan berbaur dengan tamu-tamu yang lainnya. Mereka semua terlihat sangat bahagia. Tak terkecuali Pangeran. Baru saja ia meminta para pemain orkestra untuk memainkan ‘Waltz in A minor’- karya Chopin favoritku. Namun, entah kenapa perasaan resah ini tetap tidak mau lenyap dari diriku.

Aku mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru dan mengamatinya. Pelayan yang menyajikan mekanan dan minuman, Santa Clause itu dikelilingi oleh anak-anak dan tawa mereka terdengar olehku. Ibu dan ayah, dimana mereka?

Mengedarkan pandangan mencari mereka, perasaan panik merasukiku. Ah- syukurlah ternyata mereka sedang beriri di dekat pohon natal dengan senyum mengembang. Mereka menatapku lalu secara bersamaan berjalan ke arahku.

“Kau tidak menyukai pestanya?” tanya ayah setelah ia mensejajarkan tubuhnya denganku.

Aku menggeleng. “Aku suka,” jawabku.

Ibu menyahuti dengan tangan yang membelai rambutku dengan lembut. “Lalu kenapa sendirian?”

Lagi, aku menggeleng untuk yang kedua kalinya. “Kenapa saljunya turun sangat lebat?” tanyaku sambil menunjuk ke luar jendela.

“Memangnya kenapa?” tanya ayahku.

“Bisakah kita pulang?” Kedua tanganku meremas ujung dress putih yang kupakai lalu menghamburkan diri ke ayah dan menarik tangan ibu untuk ku genggam. “Aku tidak nyaman, Dad.”

Setelah ayah dan ibu memberiku sejuta alasan agar aku berhenti meminta kepada mereka untuk segera pulang, Myungsoo datang dan mengajakku berdansa sementara ayah dan ibu mulai sibuk dengan telepon mereka. Mereka bilang, ia akan memanggil Hyomin untuk menemaniku di sini.

“Pestanya jelek ya?”

Suara Pangeran menyadarkanku bahwa saat ini kami sedang berdansa di dekat teman-teman kami yang melakukan hal yang serupa.

“Tidak, Yang Mulia. Pestanya sangat bagus, menyenangkan,” jawabku berusaha mengulas senyuman.

Myungsoo menaikkan sebelah alisnya. Lalu tangannya membuat gerakan agar memutar tubuhku sesuai irama musik. “Kau melamun terus dari tadi. Kau sakit, Jiyeon? Wajahmu pucat dan telapak tanganmu basah.”

“Apa?” aku sedikit tersentak mendengar pengakuan Myungsoo. Kalau kupikir-pikir lagi, aku memang sedikit takut. Jantungku berpacu terlalu cepat dan seluruh tubuhku menjadi panas dingin. “Tidak,” aku menggeleng. “Saya baik-baik saja, Pangeran.”

Myungsoo menatapku dengat cemas. “Kau yakin?”

“Ya, Yang Mulia,” balasku. “Bisakah kita istirahat sebentar?”

Tanpa berpikir panjang, Myungsoo mengangguk setuju lalu menarikku ke sudut ruangan dan mendudukkan-kudi sebuah kursi. Myungsoo menggigit bibir bawahnya sedikit khawatir melihat perubahan sikapku.

Myungsoo mengangkat tangannya lalu mengusap rambutku pelan. “Tunggu di sini, oke?” ia memberikan perintah padaku dan aku langsung menahan tangannya Myungsoo mulai melangkahkan kakinya menjauh.

Sadar bahwa tindakanku tidak sopan, aku segera menarik kembali tanganku. “Anda mau kemana, Yang Mulia? Puncak acaranya segera dimulai.”

“Aku mau mengambilkanmu sesuatu. Hanya sebentar,” jawabnya lalu berusaha melepaskan tanganku.

Namun dengan sigap aku menahannya lagi. “Bawalah pengawal anda, Pangeran,” suaraku lebih terdengar seperti sebuah permohonan dan Myungsoo mengabulkannya. Ia memanggil salah seorang pengawal yang berdiri tak jauh dari kami lalu berjalan pergi.

Setelah beberapa langkah, Myungsoo membalikkan tubuhnya lalu berjalan mundur dengan senyum yang lebar. “Setelah ini jangan murung lagi, ya? Promise me?”

Jadi, Myungsoo sudah menyadarinya sedari tadi? Maafkan aku, Pangeran. Maaf ya, Myungsoo-ya. Sudut bibirku tertarik membentuk senyuman, “Sure, My Prince.”

Sudah lebih dari lima menit, Myungsoo masih belum kembali. Para tamu sudah berkumpul di tengah-tengah ruangan dengan senyum yang masih mengembang di bibir mereka. Beberapa pasang suami isteri saling bergandengan tangan, juga dengan anak-anak mereka.

Aku berkeliling mencari ayah dan ibu lalu menemukan mereka yang sedang berdiri di barisan paling belakang, mengamati Raja yang sedang berpidato di depan. Menyadari keberadaanku yang berjalan mendekat, ayah dan ibu tersenyum lalu menarikku agar berdiri di antara mereka berdua. Tangan kanan ayah menggenggam tangan kiriku, sedangkan ibu mengusap puncak kepalaku.

“Hyomin belum datang?” tanyaku membuat usapan ibu terhenti.

“Eum,” gumamnya. “Hyomin kesulitan membawa mobilnya karena jalanan licin. Jadi, ia harus membawa mobil dengan pelan. Tidak apa-apa, ya?”

“Iya.”

TENG.

Aku terkesiap ketika mendengar bunyi lonceng itu. Tubuhku tiba-tiba gemetar, dan tanganku menggenggam tangan ayah dengan erat.

TENG.

Myungsoo? Kenapa dia belum kembali? Aku mengedarkan pandanganku lalu menemukannya di ambang pintu besar yang terbuka sedang berjalan ke arahku. Pintu itu menghubungkan ruang pesta dengan kediaman utama keluarga kerajaan.

TENG.

Aku memejamkan mataku, berdo’a agar tidak mendengar sesuatu yang memekakan telingaku. Untuk beberapa detik, aku tidak mendengar apa-apa. Tidak, semuanya terasa hampa dan aku tidak bisa merasakan apa pun sampai seseorang mengguncang tubuhku dengan paksa.

Aku membuka mata, melihat ibu yang sedang panik dan mengatakan sesuatu yang tidak dapat ku dengar. Ayah terlihat berlari melewati kerumunan orang yang berlari dengan raut wajah ketakutan menuju Raja dan Ratu dengan sebuah pistol di tangan kanannya, sambil menembaki beberapa orang berpakaian hitam yang menembak membabi buta.

“…ran. Kau …sa mendengar ibu? Cari Pangeran, Jiyeon.”

Suara ibu dan teriakan orang-orang mulai menusuk masuk ke gendang telingaku. Aku mengangguk tanpa pikir panjang lalu menerima sodoran pistol dari tangan ibu.

Genangan darah di bawah kakiku tanpa sengaja kulihat ketika aku menundukkan kepalaku. Gaun putihku pun sudah ternodai warna merah pekat di beberapa sisinya dengan bau darah yang masih segar.

Ini mimpi, iya ‘kan? Mana mungkin sejarah masa lalu terulang kembali? Malam ini seharusnya tidak ada pertumpahan darah karena ini malam natal yang suci.

Sejarah telah terulang.

Pembantaian itu kini terulang lagi!

Aku berlari secepat yang kubisa setelah ibu mendorongku dan ia pergi menyusul ayah. Aku melewati beberapa orang yang tergeletak dengan darah menggenang di lantai, entah masih hidup atau tidak. Aku melewati pintu menuju kediaman keluarga kerajaan, berharap Myungsoo pergi menjauh dari tempat pesta bersama pengawalnya.

Langkahku terhenti ketika melihat seseorang berpakaian hitam berdiri di samping tubuh seorang pengawal yang tergeletak tak bernyawa. Ia terlihat seperti sedang menghubungi seseorang dari walkie-talkie miliknya, lalu tangannya bargerak membuka pintu.

Aku melepas sepatuku tanpa suara, lalu dengan sekuat tenaga melemparnya melewati pria itu hingga membentur tembok dengan keras membuatnya memalingkan wajah ke asal suara. Dengan kaki telanjangku, aku berlari sekuat tenaga berusaha tidak menimbulkan suara. Aku menerjangnya, mengarahkan pistol itu ke kepalanya dan menarik pelatuknya.

DOR

Pria itu terjatuh dangan keras di lantai. Aku mendekatinya lalu menginjak tubuhnya, tanganku bergerak membuka rompi anti peluru yang di pakainya, membenampak moncong pistol di dada kirinya dan menarik pelatuknya berkali-kali.

“Mati!”

“Mati!”

“Mati!”

“Mati!”

“Mati!”

            Ucapanku terhenti ketika pistol yang kutembakkan berhenti mengeluarkan peluru panasnya. Aku menyeringai puas ketika sebuah lubang mengaga menembus dada kirinya.

            Melempar pistol ke sembarang arah, aku bangkit lalu membuka pintu yang sebelumnya hendak dimasuki pria yang telah ku bunuh.

“Jiyeon?”

Aku memutar pandanganku mencari ke sumber suara, lalu menggeser selot kunci setelah menyadari bahwa itu adalah Myungsoo, Pangeran.

“Kenapa tanganmu berlumuran darah seperti ini, Jiyeon-ah?” Myungsoo menatapku takut dengan tubuhnya yang gemetar hebat.

.

Setelah menutup pintu lemari setinggi tubuhku, aku melangkah mundur dua kali lalu berhenti sejenak. Kutatap lemari itu dengan debar jantung berpacu lebih cepat dari biasanya. “Kumohon, tetap-lah di sini sampai saya kembali, Pangeran,” biskku lalu lekas pergi dari ruangan ini.

Lagi-lagi, langkahku terhenti ketika melihat jejak kaki milikku. Mungkin itu karena kakiku yang sebelumnya menginjak genangan darah di depan pintu tadi. Tanpa berpikir panjang, aku merobek ujung gaunku lalu membersihkan jejak darah yang ku tinggalkan lalu membuangnya.

“Do’a-kan aku, Myungsoo-ya.”

.

Aku cukup beruntung dapat mendapatkan pistol dari mayat pengawal Myungsoo yang masih berada di depan pintu. Dengan langkah perlahan tanpa suara, aku mendekati ruang pesta. Di ruang pesta sangat sunyi, aku tidak mendengar suara apapun sampai suara seorang pria menyentakkanku.

“Kubilang jangan bergerak, atau kalian ingin Raja kalian mati?!”

Semua orang menunduk ketakutan, aku melihat teman-temanku menangis dalam diam. Pasti mereka pun ketakutan. Sehun duduk di sudut ruangan bersama Wonho dan Hyunwoo, sedang menenangkan Hyunwoo yang sedang menangis.

Baru saja aku membalikkan badan, aku menubruk tubuh besar seseorang yang mengenakan pakaian Santa Clause. Detik itu, ia mengarahkan pistolnya ke kepalaku dengan senyum mengerikan yang dimilikinya.

“Mau pergi ke mana, Nona kecil?”

Tubuhku didorongnya hingga tersungkur di lantai ruang pesta. Aku mendengar suara beberapa anak menyebutkan namaku terkesiap.

“Well, kita kedatangan gadis kecil yang cantik di sini. Aku rasa, dia tahu dimana Putera Mahkota berada. Jadi, bawa dia ke tempat ini!” ucap pria dengan pakaian Santa Clause kepada seorang rekannya yang sedang menodongkan senjatanya ke Raja.

DEG

Jantungku seolah berhenti berdetak ketika melihat ayah dan ibu yang berdiri dengan tangan terikat di samping Raja dan Ratu. Mereka menatapku dengan tatapan khawatir,  ayah terlihat menggerakkan bibirnya ‘Are you okay?’

‘Fine,’ aku menjawab tanpa suara dan ia tersenyum kecil. Aku mengerti bahwa untuk saat-saat seperti ini, aku bukan prioritas kedua orangtuaku. Jadi, mereka pasti menahan diri agar amarah mereka tidak meledak melihatku terluka. Aku tahu mereka pun tersiksa akan hal itu.

“Hei, jawab aku!” Santa Clause itu menjambak rambutku, memaksaku berdiri.

Ayah dan ibu seketika menatapku khawatir. Mengabaikan rasa takutku, aku menyeringai meremehkannya. “Kau pikir dirimu siapa? Berani sekali memberiku perintah padaku?!” desisku yang langsung dihadiahi lemparan tubuhku ke lantai. Membuat kepalaku terbentur cukup keras. Aku merintih saat merasakan cairan kental mengalir turun dari pelipisku. Kembali menatap kedua orangtua ku yang terlihat antara menahan amarah dan kesedihan, aku meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja dengan berusaha memperlihatkan senyumku.

Kumohon tunggu sebentar lagi.

“Kau mau main-main dengan kami, Nona kecil?”

Aku merasakan sebuah tendangan di rusukku membuat tubuhku terlentang dan mengerang kesakitan. Detik berikutnya, tangan besar miliknya melilit leherku. Ia mencekikku.

“Masih tidak mau mengatakannya, hah?”

Aku memaksakan tawa keluar dari bibirku. “Tidak mau,” bisikku dengan napas tercekat.

“Lepaskan tanganmu darinya!”

Seruan Raja membuat Santa Clause ini berpaling ke arahnya. “Your wish, My King,” balasnya lalu melepaskan tangannya dari leherku membuatku berusaha menghirup oksigen dengan rakus. “Tapi…” ia kembali menatapku dengan seringai iblisnya. “… saat ini, bukan kau yang memberi perintah!”

GREB

Ia kembali mencekikku tepat setelah aku mendengar sesuatu.

“Ya. Kau benar,” bisikku. Aku berusaha menjangkau sebuah pisau yang tergeletak di dekat kakiku tanpa diketahuinya. “Tapi kami akan mengambil alih!”

Beberapa peluru meluncur menembus jendela, mengenai orang-orang yang mengenakan pakaian serba hitam begitu pun orang yang menawan kedua orangtua ku beserta Raja dan Ratu bersamaan dengan pisau di tanganku menusuk leher Santa Clause hingga membuat genggaman tangannya lepas. Pintu terbuka, beberapa orang bersenjata masuk untuk membereskan orang berpakaian serba hitam yang tersisa. Sebelum kembali ke ruang pesta, aku telah menelpon Hyomin agar menghubungi inspektur Han untuk mengirim orang-orang terbaiknya ke istana. Di antara orang-orang itu, aku dapat melihat Hyomin dengan sebuah pistol di tangannya.

“Aku yang akan memberi perintah padamu,” bisikku lalu menendang tubuh besarnya hingga tersungkur ke belakang. Ia melotot padaku, terlihat tersiksa dengan rasa sakit di lehernya. “Ku perintahkan padamu untuk mati sekarang juga!”

Detik berikutnya, pisau itu menancap di jantungnya. Darahnya mengenai wajahku, wajah dengan senyum iblis penuh dosa. Aku berdiri setelah menyelipkan rambut ke belakang telingaku agar tidak menghalangi pandanganku lalu menghampiri ayah dan ibu yang terlihat sedang melepaskan tali yang mengikat tangan Raja dan Ratu. Mereka menyambutku dengan tatapan cemas lalu memelukku dengan erat.

“Are you okay?” tanya ayah padaku.

Aku menggeleng lalu tersenyum. “It’s terrible. I’m dizzy. But it’s okay mom, dad,” blasku sambil melebarkan senyumku.

DOR

Sebuah tembakan terdengar nyaring disusul erangan Ratu yang ternyata terkena tembakan di lengan kirinya. Hyomin dan yang lain mencari arah tembakan sedangkan Ayah dan ibu bergerak cepat ke arah Raja dan Ratu.

DOR

DOR

Dua tembakan beruntun terdengar kembali. Semuanya seperti berjalan begitu lambat dengan berurutan. Tubuh ayah dan ibu mulai limbung, jeritan kembali terdengar, puluhan peluru di tembakkan ke seseorang yang berpakaian serba hitam, satu-satunya yang tersisa.

BRUK

“Mom, Dad?” lirihku mendekat ke arah mereka dengan langkah terseok.

“David, Jihyun-ah!” Raja dan Ratu pun berusaha menyadarkan ayah dan ibu kembali. Mereka membalikkan tubuh ayan dan ibu agar terlentang, lalu terlihat banyak darah keluar dari tubuh mereka.

“Mom?” aku menepuk pipi ibu yang terlihat pucat. “Kenapa ibu tidur di lantai? Tidakkah lantainya dingin? Ibu bilang kita bisa sakit kalau tidur di lantai. Bangunlah, eumh?”

Aku beralih pada ayah lalu menempelkan kening kami. Aku mendekatkan bibirku di telinganya lalu membisikkan sesuatu. “Dad? Kenapa kau juga tidak mau bangun? Aku jadi kesepian kalau kalian meninggalkanku sendirian, aku takut kalau sendirian.” Tanganku membelai pipinya dengan gemetar. “Dad?”

Sejarah yang terulang kembali. Namun, takdir sepertinya berbalik. Jika bukan keluarga kerajaan, maka kami-lah yang menanggungnya. Bukankah begitu?

Mengapa takdir se-kejam ini?

Dalam keheningan langit yang gelap, di sana terdapat cahaya. Di sanalah tempat tinggal kita berada, di seberang kegelapan tempat rembulan tenggelam. Melalui jalan yang sempit ini, mereka akan kembali ke tempat asalnya. Bagaikan malam yang meninggalkan relung di dalam hatiku dengan penuh kegilaan dan kasih sayang.

Jiyeon POV End.

Author POV

Di tempat lain, seseorang terbaring di atas ranjang berukuran sedang. Tubuhnya tertutup oleh selimut setinggi dada, penghangat ruangan menyala. Tidak ada jendela- hanya ada ventilasi di atap-atap kamar yang bercahaya redup dari lampu tidur di sisi kiri dan kanan ranjang. Alunan ‘Waltz in A Minor’ terdengar lembut dari pemutar musik tua di sudut ruangan.

Myungsoo membuka matanya dengan perlahan lalu menutupnya kemudian ketika sekelebat bayangan memenuhi pikirannya. Bayangan yang sangat mengerikan dan banyak darah dimana-mana. Ia menyentuh kepalanya lalu mengerang pelan merasakan pusing yang teramat sangat. Sebelah tangannya menopang tubuhnya yang mencoba bangun setelah itu ia menyibak selimut dengan sebelah tangannya.

“Di mana aku?” tanyanya terlebih pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba, detik berikutnya matanya melebar sempurna sebelum menutup rapat ketika bayangan sepasang tangan penuh darah mendekat dalam pikirannya. Ia berteriak namun suara itu tertahan di ujung tenggorokannya. Tangan mungilnya meremas rambut dan yang lain mencoba melepas dasi kupu-kupu yang tiba-tiba merasa mencekiknya.

“Pergi!”

Bayangan itu memanggilnya. Kedua tangan berlumuran darah itu terkepal di sisi gaun yang ternoda dengan warna merah, kaki telanjang yang meninggalkan jejak darah.

“Jangan mendekat! Monster!”

Seluruh tubuhnya bergetar hebat lalu menggeleng keras, membuat bayangan itu menghilang. “Siapa kau? Apa yang kau mau dariku?” sesaat ia terdiam lalu mendongak menatap pemutar musik yang masih memainkan lagu yang sama berulang-ulang.

“Siapa… aku?”

Jiyeon menatap kosong dua tubuh tak bernyawa di antara korban-korban yang lain. Ia mengabaikan tatapan prihatin beberapa bangsawan dan tamu yang lainnya, ia menggandeng tangan Hyomin dan tangan lainnya memainkan cincin perak di telunjuknya dengan gerakan memutar memutar. Bekas air mata di kedua pipinya telah mengering dengan kedua mata yang hampir sembab. Ia tetap tak bergeming saat satu per-satu jasad itu di angkat sampai seorang petugas berniat menutup kain yang menyelimuti tubuh kedua orangtuanya, ia meminta petugas itu berhenti.

Hyomin menunduk menatap Jiyeon dengan sedih lalu membiarkan ketika gadis itu melepas genggaman tangannya.

Jiyeon berjalan mendekati tubuh tak bernyawa ibunya lalu meraih tangan kanan Jihyun. “Selamat tinggal, ibu,” bisiknya lalu melepas cincin perak yang tersemat di jari manis ibunya dan menutup kain sampai ujung kepala Jihyun dengan tatapan yang kosong, tetap tanpa ekspresi. Setelah itu, ia beralih ke pada ayahnya dan melakukan hal yang sama, melepas cincin perak milik ayahnya. “I love you, Dad,” bisiknya disusul melepaskan blue diamond milik ayahnya.

Jiyeon berdiri setelah menutup tubuh tak bernyawa ayahnya, melepaskan kesedihan mendalam yang membuat luka di hatinya. Ia melangkah mundur sambil menggenggam erat tiga cincin di tangan kanannya, lalu terhenti.

Tanpa menatap Hyomin, ia memberikan perintah tegas. “Kau yang mengurus pemakaman mereka, Hyomin.” Nada suaranya datar tanpa emosi lalu mempersilahkan kedua petugas itu untuk membawa jasad kedua orangtuanya setelah Hyomin menyahut, menyanggupi.

.

Keesokan harinya, Manor Midford terlihat begitu sepi setelah mobil keluarga bangsawan Oh meninggalkan kawasan Manor Midford. Di depan pintu kamar Jiyeon, beberapa terhitung sepuluh pelayan perempuan berjajar rapih dengan seragam maid mereka. Satu di antaranya yang paling senior membawa sebuket bunga mawar hitam dan sebuah kotak beludru berwarna biru sudah ditata rapi di atas sebuah nampan yang terlapisi kain putih.

Tidak ada senyum di antara pelayan-pelayan itu. Mereka semua masih tidak percaya atas kematian kedua majikan mereka yang begitu tiba-tiba. Meninggalkan putri semata wayang yang masih berusia sebelas tahun, yang merupakan keturunan terakhir Midford. Pita hitam terikat di rambut mereka yang dikuncir kuda. Keheningan tak menyurutkan keteguhan mereka untuk tetap diam tak bersuara. Tetap menunduk, menunggu pintu kamar Nona mereka terbuka dan berharap gadis itu baik-baik saja.

.

Jarum jam menunjuk angka tujuh ketika Hyomin mengancingkan punggung gaun hitam yang dikenakan oleh Jiyeon dengan lembut. Jujur saja, Hyomin khawatir kepada keadaan Jiyeon karena gadis itu tidak mengucapkan sepatah kata pun setelah kembali dari istana. Gestur tubuh yang ditunjukkan Jiyeon sama sekali tidak menunjukkan sebuah tanda kehidupan kecuali bernapas dan berkedip.

Hyomin mulai menyisir rambut Jiyeon lalu menggerainya di bahu kanan Jiyeon. Setelah Hyomin selesai, ia memakaikan sepasang sepatu lalu membungkuk satu kali dan mundur mempersilahkan Jiyeon.

Jiyeon berdiri lalu memantau penampilannya di cermin dengan tatapan kosong. Gaun hitam dengan sepanjang mata kaki dan lengan sampai siku, sebuah pita hitam melilit dengan pas di lehernya yang terbuka. Plester transparan tertempel di sudut pelipisnya yang sebelumnya berdarah. Ia berbalik menuju pintu dan keluar setelah meraih sebuah topi hitam dengan pinggiran lebar, ia memakainya dengan sedikit miring di bagian kanan sehingga mata kanannya hampir tak terlihat dari depan.

Hyomin dengan sigap membukakan pintu lebar-lebar, memperlihatkan pelayan-pelayannya berbaris membentuk jalan.

Jiyeon menatap satu per-satu pelayannya lalu berakhir pada pembawa bunga dan kotak beludru. “Apa yang akan kalian lakukan setelah ini?”

Pelayan-pelayan itu mengerti bahwa pertanyaan Jiyeon bermakna lain dan mereka dengan yakin menjawab. “Kami pelayan Midford akan tetap melayani Anda dan setia kepada Anda.”

“Aku memegang kata-kata kalian,” ucapnya lalu meraih kotak biru dan sebuket mawar hitam di tangannya. “Jadi, jangan pernah menyesal!”

“Yes, My Lady.”

“Raja tidak datang? Menurutku keluarga kerajaan membutuhkan pengawasan ketat.”

“Ya, aku pikir juga begitu.”

“Aku mendengar bahwa Putera Mahkota dalam perawatan medis karena terjadi sesuatu.”

Di gereja megah itu ramai dengan orang-orang yang berpakaian serba hitam, Oh Sehun, Shin Wonho, Lee Hyunwoo dan Ryu Hwayoung pun juga berpakaian hitam. Mereka seolah masih tidak percaya bahwa David dan Jihyun telah mati walaupun semua kejadian itu terjadi di depan mata mereka. Tidak ada yang sanggup menenangkan Jiyeon pada saat itu karena mereka pun tidak bisa menenangkan diri sendiri. Berbeda dengan Jiyeon, mereka-lah yang menangis sesenggukan menatap Jiyeon yang berusaha membuat kedua orangtuanya bangun. Bahkan Sehun pun tidak bisa berkutik dibuatnya.

Taman bunga di depan gereja pun menjadi pelampiasan kesedihan mereka. Sehun yang sedang duduk di kursi terlihat melamun, ia masih terbayang tragedi natal hari itu. Tangannya mengambil sebuah jepit rambut putih dengan sebuah mutiara di ujungnya. Awalnya Sehun akan memberikannya sebagai hadiah ulang tahun Jiyeon kemarin. Tapi, kenyataan telah berkata lain. Saat ini ia merasa bahwa sebuah jepit rambut bukan hal penting- bahkah sudah tidak berguna dibandingkan keadaan Jiyeon.

“Sehun-ah.”

Mendengar seseorang memanggil namanya, Sehun langsung menyimpan kembali jepit rambut itu lalu menoleh ke arah Hyunwoo yang sedang menunjuk ke arah gereja. Tiga buah mobil terlihat berhenti di depan pintu masuk gereja dengan bendera kerajaan di atas kap mobil itu. Tapi, seingat Sehun bendera kerajaan Korea Selatan bukan seperti yang dilihatnya saat ini. Pintu terbuka dan ia sadar bahwa mereka bukan orang Korea, dan Grey Anderson terlihat keluar dari mobil ketiga, menatapnya.

“Grey,” desisnya lalu melangkah mendekati Grey disusul teman-temannya.

“Dia ke sini dengan siapa?” Hyunwoo tak kuasa mempertanyakan rasa penasarannya melihat begitu ketat pengawalan ketika tiga mobil ini tiba. Lalu melihat laki-laki yang keluar dari mobil yang sama dengan Grey. “Prince Louis?”

“Raja Vincent Aldren Williams dan keluarganya,” Sahut Wonho ketika melihat sepasang suami istri yang turun dari mobil kedua, lalu menghentikan langkahnya ketika melihat seorang wanita tua turun dari mobil paling depan. Gaun hitam yang mengembang di bagian pinggang ke bawah, topi bulat hitam dengan jala tipis yang menutupi sebagian wajahnya, dan sebuket bunga mawar hitam di bawa dengan kedua tangannya. “Dan Puteri Kathryne Aldren Williams.”

Wanita tua itu menyembunyikan tangan keriputnya yang bergetar di balik buket bunga yang dibawanya. Ia membiarkan Emylia memapahnya berjalan masuk mengikuti Vincent yang sudah berjalan di depannya. Gereja besar itu penuh dengan orang-orang berbaju hitam yang mengamati kedatangan mereka. Matanya memandang ke depan, di mana terdapat tujuh peti. Rangkaian bunga krisan tersusun diantara bingkai-bingkai foto di atas meja. Ini adalah upacara pemakaman David, Jihyun, dan beberapa pelayan Midford yang gugur di malam Natal.

Tidak ada kehidupan yang abadi di dunia ini, ia tahu hal itu. Jantungnya berdebar lebih kencang ketika ia sadar bahwa tiga anak tangga sudah ia lewati dan sampai di depan peti mati David. Ia membekap mulut dengan sebelah tangan karena tak kuasa menahan tangisnya melihat David yang tak bernyawa di depan matanya. Ia masih satu-satunya pria yang dicintainya yang masih tersisa di dunia ini telah mati. Wajah rupawan yang mengingatkannya pada seseorang yang pernah memadu kasih dengannya, ia takkan pernah melupakan hal itu.

“Apa tidurmu nyenyak, sayang? Kau akan bertemu dengan ayahmu, bukan?” bisiknya lalu menyentuh garis wajah David dengan sentuhan ringan. Ia memaksakan senyumnya lalu beralih pada peti mati milik Jihyun. “Sekarang, kalian benar-benar derada di keabadian yang damai. Hal yang selalu kalian impikan. Terima kasih karena telah melindungi kami selama ini.”

“Puteri,” bisik Queen Emylia menyadarkannya yang terlarut dalam kesedihan.

Dengan berat, ia mulai meletakkan satu per satu mawar hitam di depan tujuh foto lalu duduk di kursi terdepan yang sudah disediakan untuknya.

.

Pendeta membacakan khotbahnya di depan lautan hitam orang-orang yang menundukkan kepalanya menunjukkan duka yang mendalam. Tuan Oh terlihat sedang menenangkan isterinya yang masih menangis dalam diam dan memberikan tepukan ringan di pundak Sehun yang terdiam.

Sehun mengepalkan tangannya kuat-kuat tiap ia merasakan air matanya menggenang di kelopak mata. Bayangan saat ia mengunjungi Manor Midford masih terlihat jelas di pikirannya. Bagaimana ia dan teman-temannya akan berusaha meramaikan tempat itu, bermain dengan David dan Jihyun, Jiyeon yang bisa tertawa lepas saat David melemparnya tinggi-tinggi ke udara lalu menangkapnya kembali. Namun sekarang semua itu hanyalah sebuah kenangan yang menyakitkan, terlebih bagi Jiyeon.

KRIET

Pintu gereja yang awalnya tertutup sekarang terbuka lebar, membuat pendeta itu menghentikan khutbahnya. Semua orang yang awalnya menunduk mulai memperhatikan pintu itu. Jiyeon telah datang bersama Hyomin tepat di belakangnya. Gereja itu menjadi hening ketika suara ketukan sepatu langkah kaki Jiyeon menggema dengan tegas.

TAP

TAP

TAP

Mata Jiyeon menatap lurus ke depan dengan tatapan tajamnya, tiap langkahnya menunjukkan keanggunan dan wibawa yang tak lepas darinya. Mengabaikan bisikan orang-orang yang menyindir kedatangannya.

“Dia Midford, bukan?”

“Masih kecil dan dia sudah sebatang kara.”

“Dia tetap memberikan mawar hitam bahkan di pemakaman orangtuanya.”

“Itu memang tradisi keluarga mereka, ‘kan?”

Sehun menatap Jiyeon dengan tatapan sendu. “Karena paman David dan bibi Jihyun suka mawar hitam,” bisiknya.

Di kursi paling depan, Kathryne mengamati Jiyeon dalam diam. Bibirnya bergetar lalu kakinya hendak bergerak namun Vincent membuatnya terpaku. Pria itu melangkah mengikuti Jiyeon dari belakang, menghentikan Hyomin untuk meminta kotak beludru yang dia bawa.

Awalnya Hyomin ragu, ia menatap punggung Jiyeon yang tetap berjalan ke depan lalu mengangguk pada Vincent dan menyerahkan kotak yang dibawanya. Ia membungkuk sekali lagi.

“Jaga Jiyeon setelah ini.”

Bisikan Vincent membuatnya terpaku. Ia menatap punggung Vincent yang mulai menjauh, pria itu menyusul Jiyeon yang sudah menaiki anak tangga menuju peti yang paling kiri.

Gerakan Jiyeon yang hendak meletakkan terhenti ketika melihat ada tangkai mawar hitam di sana. Saat ia sadar akan sesuatu, ia berbalik lalu menemukan mata biru seorang wanita tua yang sedang menatapnya. Jiyeon menatapnya tanpa ekspresi lalu kembali melanjutkan aktifitasnya meletakkan mawar hitam di semua peti. Saat tiba di peti ibunya, Jiyeon melepaskan topinya lalu dengan gerakan anggun, duduk di tepian peti besi itu. Ia menghiraukan desas-desis orang-orang yang membicarakan perilakunya, Jiyeon sama sekali tidak peduli akan hal itu.

“Nona,” sang Pendeta mengingatkan, namun Vincent mengangkat sebelah tangannya pada pendeta itu.

“Selamat pagi, ibu,” sapa Jiyeon lalu mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi Jihyun sengan lembut. Jiyeon membungkukkan tubuhnya. “Gaun putih ini memang terlihat cantik untukmu, tapi aku tidak menyukainya karena kau lebih cocok menggunakan gaun warna hitam, seperti warna mawar yang kau sukai. Terima kasih karena sudah menjadikanku anak kalian, memenuhiku dengan cinta dan kasih sayang yang kalian miliki selama ini,” bisiknya lalu menata setangkai mawar itu agar berada di genggaman Jihyun. Jiyeon mendongak ketika Vincent menyodorkan kotak biru yang terbuka lalu mengambil salah satu cincin berwarna perak yang memiliki ukuran lebih kecil. Jiyeon memakaikan cincin itu di jari manis Jihyun. “Tidur yang nyenyak, ibu,” bisik Jiyeon lalu mencium kening Jihyun, memberikan sebuah ciuman perpisahan.

Beralih duduk di pinggiran peti ayahnya, Jiyeon melakukan hal yang sama pada David. Membelai pipi ayahnya, Jiyeon menempelkan keningnya pada kening ayahnya lalu tersenyum tipis. “Ayahku yang tampan,” bisik Jiyeon dengan mata terpejam ringan. “Aku sangat mencintaimu dan juga menyayangimu. Sangat gagah dan hebat dalam segala hal, pemberani seperti seorang ksatria, dan seorang Midford, ‘The Eternal Piece’. Dan mulai saat ini, ayah bisa tidur dengan nyenyak dalam kedamaian yang abadi karena aku akan menggantikanmu di sini. Mungkin tidak sehebat ayah, tapi aku akan berusaha sekuat tenaga walau pun suatu saat aku terjatuh di jurang yang sangat dalam dan gelap.” Ia menyelipkan mawar hitam di genggaman David lalu memasangkan cincin perak di jari manis David. Jiyeon mencium kening David, mengucapkan selamat tinggal.

Karena mereka tidak akan bertemu, untuk waktu yang lama.

Tanpa melepas pandangannya pada David, Jiyeon bersumpah di depan ayahnya saat kata-kata itu terlontar dari bibirnya, “Aku tidak akan membiarkan Eirene berakhir di sini, Dad. I promise.”

Castle

“Amnesia?” Kim Jisub mengulang kembali pernyataan seorang dokter di hadapannya dengan wajah terkejut. “Tapi, dia tidak mempunyai luka di kepalanya.”

Pria tua yang berprofesi menjadi dokter kerajaan menghela napasnya. “Amnesia Psikogenik terjadi karena Putera Mahkota mengalami trauma emosional karena peristiwa yang di alaminya. Saya berspekulasi bahwa Putera Mahkota melihat kejadian kemarin walau pun sekilas,” jelasnya.

“Ya Tuhan.” Kim Jisub belum memutuskan tatapannya pada Myungsoo yang saat itu terbaring di atas tempat tidur. “Kira-kira, berapa lama amnesianya berlangsung?”

Dokter terlihat berpikir. “Dalam kasus ini, penderita bisa mengingat dalam dua bulan, tapi jika penderita menolak mengingatnya, amnesia ini bisa berlangsung selama bertahun-tahun. Saya tidak bisa memastikannya, Yang Mulia.”

Flashback End

To Be Continue

Jeng jeng~

Author is back! Tuh Eirene, tuh tuh. OMG >.<

Maaf karena update lama T^T

Tapi udah aku tebus sama ceritanya yang puanjaaaaaaaaang kan?

Maap yak, maap T^T

Author bakal lebih bekerja keras lagi buat nyelesaiin cerita ini.

28 responses to “[CHAPTER-PART 10] EIRENE

  1. Wahh part ini nyeritain pembataian pada masa itu.
    Sosok jiyeon yg seperti ini yg behhh. Cocoklah.
    Tidak akan menghentikan erine sampai disini?,
    eooo ige mwoya?,,
    dan kejadian myungsoo yg wktu di part 9 akankah myungsoo mengingat jiyeon kembali,
    Arrrghhh next chap aku tunggu author.
    Jangan terlalu lama yak. Ntara feelnya ngilang hehhehehhe. Semangat author. 😃😃😃

  2. Huaaaaaaa senangnya akhirnya ff ini lanjut juga,unnie aku udah karatan nunggu ff ini d lanjut……..
    Nexttt pliesss jngan lama lgi,udah pnasaran banget😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s