[FICLET] Behind The Unspecial Feeling

Behind The Unspecial Feeling by Olivemoon || Main Cast(s): Park Jiyeon & Kim Myungsoo || Genre(s): Romance crack! || Length: Ficlet || Rating: T || Prompt by dewi farihatus sholihah : Why you being so kind to everyone, that’s making me unspecial for you. || Note: di ff originalnya, cast cwo nya itu Joshua, tapi karna aku pengen di post disini juga jadi aku ganti hihi

Happy reading!

“Jiyeon, apa kau sudah putus dengan Myungsoo?”

 

Jiyeon yang baru saja mendaratkan pantatnya di kursi datar itu mendelik tajam ke arah pemilik suara. Setelah semua kejadian yang ia alami pagi ini, dimulai dari bangun terlambat karena alarm yang tak berbunyi, mobilnya yang tak mau menyala hingga ia harus berjalan kaki menuju halte terdekat, belum lagi menunggu bus yang tiba setengah jam setelahnya memastikan gadis malang itu melewatkan kuis Prof. Kim. Pasrah sajalah jika ia akhirnya harus mengulang.

 

Kekesalan Jiyeon tak berhenti disitu, parahnya beberapa detik yang lalu, saat ia akhirnya bisa sedikit bernafas lega, teman sekelas—bahkan gadis itu jarang berbicara padanya—mengajukan pertanyaan yang berhasil membuat mood Jiyeon rusak. Sepenuhnya.

 

Jiyeon penasaran. Sebenarnya mimpi apa dia semalam.

 

“Tidak, kami baik-baik saja. Memangnya kenapa?” Jawabnya setelah memastikan kakinya takan berayun untuk menendang bokong gadis itu.

 

“Begitukah?” Gadis itu mengangguk pelan.”Tadi pagi kulihat Myungsoo menggendong gadis menuju ruang kesehatan, lalu saat dalam perjalanan kesini kulihat dia juga membantu membawakan buku gadis yang lain—”

 

Jiyeon menyela,“Kau seperti tidak tahu dia saja. Dia ‘kan memang baik pada semua orang.”

 

“Apa kau tak merasa cemburu?”

 

Tentu saja! Aku pasti sebuah batu kalau merasa tak cemburu. Kalimat itu ingin sekali Jiyeon katakan tapi kata-perkatanya bahkan tak sampai ditenggorokan.

 

“Tidak, aku malah merasa bangga padanya,” Ungkap Jiyeon.

 

“Sedikitpun?” Tanyanya tak percaya,”Jiyeon, jika begitu aku ingin tahu apa bedanya kau dan gadis-gadis yang lain? Maksudku kau ‘kan pacarnya, pasti Myungsoo memberikan perlakuan yang istimewa padamu.”

 

Jiyeon terdiam. Ia sendiripun tak tahu harus menjawab apa karna nyatanya tak ada perlakuan khusus yang Myungsoo tunjukan padanya. Jiyeon bukanlah gadis yang tak peka, sudah ia sadari sejak lama, dan seiring berjalannya waktu hal itu semakin mengganggu pikirannya. Sukurlah, Prof. Song datang di waktu yang tepat sehingga ia tak perlu menjawab pertanyaan itu.

 

Sungguh, Jiyeon tak siap jika harus mengelak dengan alasan “Mungkin karena Myungsoo baik pada semua orang maka matanya menjadi buta untuk melihat perbedaannya.”

 

Mungkin.

.

.

 

“Pelan-pelan,” Myungsoo, pria yang lebih muda dua tahun, sekaligus kekasih Jiyeon itu memperingatkan gadis di depannya agar memakan bekal makan siang dengan perlahan.

 

Hari ini yaitu senin, rabu, dan kamis mereka memang selalu makan siang berdua karena jadwal kuliah yang sama-sama kosong. Namun bedanya hari ini, Jiyeon tidak membawa bekal karena paginya yang penuh kesialan dan Myungsoo dengan senang hati menyerahkan miliknya.

 

Myungsoo adalah sosok kekasih yang sempurna. Tapi, Jiyeon justru membencinya. Terserahlah jika ingin menyebutnya bodoh, toh ia hanya menginginkan kekasih yang menganggapnya spesial. Cukup.

 

“Aku sangat lapar, semenit saja kau telat rasanya perutku tak akan bisa menahannya lagi,” ucap Jiyeon dengan mulut penuh makanan.

 

Mata Myungsoo menyipit seiring dengan senyumnya yang mengembang,”Jangan sampai terlambat lagi. Aku akan membangunkanmu setiap pagi kalau begitu, atau apa perlu aku jemput saja?”

 

“Tidak usah,” Jiyeon mendadak sebal mengapa baru sekarang ia tawarkan, lima bulan yang sudah terlewatkan ia kemana saja?

 

Heol.

 

“Kenapa?” Tanyanya, meminta penjelasan.

 

“Tidak apa-apa, aku hanya tak ingin merepotkanmu.” Jiyeon nengutuk dirinya sendiri, alasan macam apa itu! Terlihat sekali jika ia berharap tapi jual mahal.

 

“Begitukah? Yasudah kalau begitu,” Sayangnya Myungsoo yang polos tak mengerti dengan kode yang Jiyeon berikan.

 

Wanita malang itu hanya bisa berdecak sebal sebelum meneguk minuman yang Myungsoo berikan padanya.

 

“Masih bad mood? Ayolah senyum,” Bujuk Myungsoo setelah melihat ekspresi kekasihnya yang masih sama. Terlihat lemas dan kesal meskipun ia telah melahap habis semua bekal miliknya.

 

Itu karenamu, bodoh!! Hati Jiyeon menjerit.

 

Jiyeon berusaha keras untuk menarik kedua sudut bibirnya hingga sesaat kemudian Myungsoo membalas, menandakan bahwa perjuangannya telah berhasil.”Oh ya, kudengar kau menggendong seorang gadis tadi pagi,”

 

“Iya,” Myungsoo mengangguk,”Gadis itu tak sengaja terkena bola yang ku tendang saat latihan pagi.”

 

“Hmm …begitu rupanya.” Jiyeon menanggapi dengan kata-kata yang singkat namun disertai dengan berbagai macam gejolak saat membayangkan Myungsoo memperlihatkan ekpresi kekhwatirannya untuk gadis lain.

 

Kali ini, tak disangka-sangka Myungsoo sedikit peka untuk menangkap gelagat Jiyeon.“Jangan cemburu, eoh? Aku hanya bertanggung jawab saja.”

 

“Kau memang selalu begitu, baik pada semua orang.” Jiyeon tersenyum kecut.”Tapi tahukah kau bahwa hal itu bisa saja membuat orang salah paham?”

 

Myungsoo hanya diam menatap Jiyeon penuh tanya. Lewat pancaran matanya Jiyeon tahu Myungsoo tak mengerti maksud dari kalimat yang barusan ia ucapkan, atau pemuda itu hanya berpura-pura, mungkin. Entahlah.

 

“Tahukah kau berapa kali orang melemparkan pertanyaan yang sama ‘Jiyeon, apa kau sudah putus dengan Myungsoo?’ selama lima bulan ini hanya karna mereka melihat kau berbuat baik kepada gadis lain. Hhh …saking banyaknya akupun sampai lupa berapa kali.” Jiyeon tertawa, mengejek dirinya sendiri.

 

“Selama ini aku ingin mengatakannya padamu, tapi aku takut hanya karena hal sepele itu kau akan memandangku sebagai wanita kakanakkan, pencemburu, overprotektif, atau posesif sementara seharusnya aku bisa dewasa dalam menanggapi apapun mengingat usia kita yang terpaut dua tahun.”

 

Jiyeon mengambil napas dalam-dalam sembari memikirkan haruskah ia berhenti disitu atau meluapkan semua ganjalan di hatinya.”Tapi bak sebuah batu yang keras jika terkena air terus-menerus pasti akan terkikis, begitu juga hati ini. Semakin lama aku semakin berpikir apa bedanya perlakuanmu padaku dengan gadis lainnya. Namun aku menyesal, menyesal mencari tahu jika akhirnya hal yang kutakutkan ternyata berubah menjadi fakta sebenarnya.”

 

“Makan siang, jalan-jalan, dan mengirim pesan, semuanya aku yang memulai. Kau bahkan masih memanggilku Sunbae.” Ungkap Jiyeon dengan memberi tekanan pada setiap katanya.

 

“Dan kemudian aku menyadari bahwa memang akulah orang yang terlebih dulu mendekatimu dan memintamu menjadi kekasihku. Aku penasaran, mungkin, apa mungkin, kau menerimaku hanya karena kau tak ingin membuatku sakit hati?”

 

“Itu tidak benar, sunbae!” Ah, baru sesaat yang lalu, bibir Jiyeon pun belum kering setelah membahas mengenai panggilan ‘Sunbae’, Myungsoo sudah berulah, membuat hati Jiyeon semakin panas.

 

Untuk mencegah mulutnya mengatakan hal yang tak ia inginkan, Jiyeon beranjak,”Aku duluan, ada tugas yang belum ku kerjakan.”

.

.

.

“Aish!”

 

Jiyeon mengerang kesakitan setelah mengetahui ternyata dirinya menendang batu yang cukup besar. Ia kesal. Sudah tiga hari semenjak insiden bocornya tangki kesabarannya, Myungsoo tak kunjung mengirimnya pesan. Jiyeon diabaikan. Sekali lagi, dibaikan.

 

Berbagai macam pikiran tak butuh izinnya untuk masuk dan mengacau kenerja otaknya. Semuanya dimulai dari what ifs. Bagaimana jika.

 

Bagaimana jika Myungsoo benar-benar memandangnya sebagai wanita yang kekanakkan?

 

Maka Jiyeon akan bersiap untuk meminta maaf dan berjanji akan lebih dewasa.

 

Bagaimana jika Myungsoo ternyata diam-diam menemukan wanita yang lebih dewasa?

 

Maka Jiyeon akan membuktikan bahwa ia lebih dewasa dengan menghapus semua channel kartun di tv yang selalu ditontonnya dan membuang koleksi komik Shinchan yang memenuhi rak bukunya.

 

Bagaimana jika Myungsoo ternyata benar-benar hanya kasihan terhadapnya?

 

Maka Jiyeon akan meminta Myungsoo mengasihaninya lebih lama karena di drama yang di tontonya pun lambat laun rasa itu akan berubah jadi cinta.

 

Bagaiana jika Myungsoo memutuskannya?

 

Maka bunuh saja Jiyeon sekarang juga.

 

 

Jiyeon berjalan lunglai ke arah halte. Mobilnya sudah di perbaiki namun ia enggan untuk membawanya dengan alasan takut jika saat dalam perjalanan ia akan melamunkan masalahnya. Hal itu pernah terjadi saat Jiyeon memikirkan kata-kata yang pas untuk mengungkapkan perasaannya pada Myungsoo hingga dia tidak menyadari mengambil jalur yang salah, melawan arus kendaraan. Butuh beberapa menit sampai ia sadar. Itupun setelah dirinya diteriaki wanita gila berkali-kali dan di berhentikan oleh polisi.

 

Hhh …cukup sekali seumur hidup sajalah ia mempermalukan dirinya di depan publik.

 

Jiyeon menghentikan langkahnya saat lima langkah lagi ia akan sampai di halte. Sesaat yang lalu matanya tidak sengaja melihat sosok yang tengah memporak-porandakan pikirannya. Kim Myungsoo. Disana, di kafe itu Myungsoo terlihat duduk bersama seorang gadis.

 

Jiyeon yang sempat akan menumpahkan air mata dan hanya akan pulang begitu saja mengurungkan niatnya. Ya, tidak boleh berakhir seperti ini. Sakit yang ditanggungnya tak ingin ia pendam sendiri.

 

Jiyeon sekali lagi membulatkan tekadnya, yakin dengan keputusan yang akan ia buat. Ia mengepalkan kedua tangan dan mengambil langkah lebar untuk menghampiri keduanya.

 

Tanpa basa-basi, Jiyeon mengambil kedua gelas yang masih penuh itu dan menumpahkan isinya tepat di kepala Myungsoo dan gadis yang duduk di kursi sebrangnya. Semua orang yang menyaksikan hal itu terkesiap. Tak ayal, ada juga yang gesit mengeluarkan telepon genggam dan merekamnya.

 

“Apa yang kau lakukan?!” Gadis itu langsung berdiri, menatap tajam Jiyeon.

 

“Sunbae,” Myungsoo yang juga kaget dengan kehadiran Jiyeon ikut berdiri.

 

“Apa ini pacarmu itu?” Pertanyaan gadis itu di jawab dengan anggukan dari Myungsoo.

 

“Kalau kau tahu ia sudah punya kekasih, kenapa kau malah menggodanya!” Jiyeon berteriak, tak perduli pada mata-mata yang semakin berbinar menontonya, penasaran bagaimanakah kelanjutannya.

 

“Chagi, ada apa ini.” Seorang laki-laki jangkung muncul dari balik punggung Myungsoo. Wajahnya terlihat khawatir melihat kepala gadis itu basah oleh susu.

 

Jiyeon yang tak mengerti dengan situasi yang tiba-tiba ini hanya bisa mematung.

 

Dengan wajah yang sebal wanita itu menjawab,”Sunbae ini berpikir kalu aku menggoda Myungsoo. Aku tidak terima di guyur oleh susu, memangnya aku sop buah?!”

 

Ia mengambil gelas di meja sebelahnya. Namun dengan sigap, lelaki itu berhasil menghentikan aksi percobaan balas dendam gadis yang ia sebut chagi.”Sudahlah hentikan. Kau pun tahu ini hanya salah paham.” Ucapnya menenangkan.

 

Ia lantas melanjutkan,”Sunbae, dia ini kekasihku. Kami disini hanya memenuhi janji bertemu dengan Myungsoo karena ia ingin meminta beberapa saran.”

 

“Ah … begitukah?” Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Jiyeon. Kecanggungan itu membuat kedua telinganya menajam hingga tak sulit baginya untuk mendengar orang-orang terkikik menahan tawa.

 

Kini, terhitung dua kali sudah ia mempermalukan dirinya didepan umum.

.

.

.

 

Jiyeon mengusap lehernya yang tak gatal. Tiga puluh menit yang lalu Jiyeon berhasil keluar dari kafe itu dengan bantuan Myungsoo. Pemuda itu menariknya tepat sebelum Jiyeon benar-benar membuat lubang untuk bersembunyi. Syukurlah.

 

Nyatanya Jiyeon malah ingin semakin menggali lubang saat ini. Sungguh rasanya sangat tak nyaman di selubungi dengan kecanggungan, duduk berdua di bangku taman namun tak ada satupun yang bicara selama setengah jam. Taman ini terasa seperti bioskop. Bedanya film di depan meraka hanya menampilkan patung yang hanya bisa mengeluarkan air dari kendinya tanpa bisa mengeluarkan dialog sedikitpun.

 

Membosankan, bukan?

 

Jiyeon sedikit terkejut ketika Myungsoo berdehem.”Aku akan mengakui semuanya.”

 

“Huh?” Jiyeon memperbaiki posisi duduknya untuk menyimak apa yang akan Myungsoo ungkapkan.

 

“Aku sudah pernah bilang ‘kan jika aku melakukan homeschooling untuk jenjang SMP dan sekolah khusus pria untuk SMA.” Jiyeon mengangguk untuk memberikan sinyal bahwa ia masih mengingatnya,”Selama itu juga aku belum pernah mempunyai pacar.”

 

“Jadi maksudmu aku yang pertama?!” Pekik Jiyeon dengan mulut dan mata yang membulat tak percaya.

 

“Ya.” Jawabnya sambil memainkan jari-jarinya, terlihat sekali bahwa ia tengah gugup.”Aku jadi sedikit bingung harus bagaimana saat dadaku berdebar tiap kali melihat ataupun hanya memikirkan sunbae. Aku ingin dekat dengan sunbae tapi aku tak tahu bagaimana caranya. Lalu aku sangat senang saat seminggu setelahnya, sunbae mulai berbicara padaku. Kita banyak menghabisakan waktu bersama sampai akhirnya kau mengutarakan perasaanmu. Sungguh, itu adalah hari yang paling membahagiakan untukku. Rasanya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Itu seperti mimpi yang menjadi kenyataan.”

 

“Aku berpikir kau nyaman bersamaku karena sifatku yang selalu baik pada siapapun jadi aku mempertahankannya. Aku ingin membuatmu bangga namun itu justru menjadi bumerang bagiku. Seharuanya kukatakan dari awal bahwa aku belum punya pengalaman dalam menjalin hubungan, namun aku terlalu takut jika nantinya pandanganmu terhadapku menjadi berubah. Kau sangat dewasa sedangkan aku─”

 

“Sssstt,” Jiyeon memotong perkatannya dengan merengkuh Myungsoo kedalam pelukannya.”Terimakasih sudah sudah mengatakannya.” Tubuh Myungsoo menegang. Ia sangat kaget dengan skinship yang mendadak itu.

 

Tak lama setelah Jiyeon melepaskan pelukannya, jemari-jemari kecil itu lantas mengenggam erat tangan Myungsoo yang dingin.”Kau tahu? Aku justru senang menjadi kekasih pertamamu. Kedepannya, bisakah kau tidak terlalu memikirkan bagaimana kau harus bersikap di depanku? Pandangan tiap orang akan berbeda, namun untukku sendiri ketika memintamu untuk menjadi kekasihku, itu berarti bahwa aku siap menerima semua baik dan burukmu. Tak apa jika kita berbeda, tak apa jika kita punya pendapat yang tak sama, tak apa jika kadang kita bertengkar. Semua itu hal yang wajar.”

 

“Bayangkan saja jika kita hanya menggambar satu warna di besarnya kanvas, pasti akan sangat membosankan, ‘kan? Begitu juga kita, hari ini kita telah menggoreskan tinta yang berbeda di lembar putih hanvas kita. Kedepannya mari berikan warna yang berbeda lagi, hm?”

 

Tiap kata yang keluar dari bibir Jiyeon membuat hati Myungsoo sangat terenyuh. Beban yang dipikulnya agar menjadi kekasih yang sempurna untuk Jiyeon kini luruh sudah. Kekhawatirannya pun saat membayangkan Jiyeon akan meninggalkannya tersapu dengan ringannya oleh angin yang berhembus. Ditengah senyum penuh haru, Myungsoo mengangguk.

 

“Cah, ayo kita pulang. Kau harus segera mengganti bajumu yang pasti sudah lengket itu.” Jiyeon terkikik sembari menarik Myungsoo.

 

“Oh ya, apakah tadi itu teman sekalasmu?” Tanya Jiyeon mengingat sepasang kekasih di kafe tadi.

 

“Iya, rencananya aku ingin meminta pendapat mereka tentang apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu tak marah lagi.”

 

Jiyeon menggigit jemarinya,”Aku harus meminta maaf padanya besok.”

 

“Memang harus karna kau sudah membuatnya menjadi sop buah.”

 

“Yak!” Jiyeon memukul bahu Myungsoo. Pemuda itu hanya bisa tertawa saat mengingat kembali ekspresi Jiyeon ketika menyadari bahwa dirinya telah salah paham.

 

Di bawah merahnya senja, dengan tangan yang saling bertaut, keduanya sesekali melemparkan senyuman dan tawa kebahagiaan. Manusia memang selalu memikirkan skenario terburuk untuk apapun, namun alangkah baiknya jika kita tak termakan oleh asumsi sendiri. Ingat saja bahwa hasil baik atau buruk itu bekal kita untuk memperbaiki diri.

 

.

FIN.

.

Note: Yang mau baca versi Joshua nya klik Link

Terus request prompt masih buka teman-teman, yang minat atau pengen iseng-iseng isi bisa buka Link ini siapa tau prompt kalian aku jadiin ff dan nongol disini kaya punya dewi ini nih😀

14 responses to “[FICLET] Behind The Unspecial Feeling

  1. omaigat kenapa aku ngeliatnya ini kiyut banget😆😆😆 kkkkk
    ngukuks bacanya😂 aku juga suka ceritanya😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s