[CHAPTER – PART 3] HIGH SCHOOL OF LOVE

POSTER HIGH SCHOOL OF LOVE

by. amaliachimo (amliaoffical)

Title

High School OF Love

Main cast 

Park Jiyeon, Jung Sojung (Krystal), Kim Jongin, Kim Myungsoo

Support Cast

Bae Suji (Suzy), Kang Minhyuk, Lee Joon, Baekhyun, and many more..

Genre: mix (?)._.  

Rating: PG-17

 Prolog | Chapter-Part 1 | Chapter-Part 2Chapter-Part 3

“Awal dari persaingan.”

Sebelumnya…

Waktu pulang sekolah. Jongin dan Krystal berjalan bersama, tanpa keberadaan Jiyeon di antara mereka.”Yaa Kkamjongg, apa kakimu itu perlu aku tembak dulu baru bisa diam!”teriak Krystal demi menahan langkah Jongin.

Rahang Jongin mengeras,”Apa salahnya kita menunggunya di halte bus?”

“Kenapa harus di halte bus?”tanya Krystal,”Kau mau menghindarinya, sudah kukatakan Jiyeon itu temanku, itu artinya—“

“Dia temanku juga, dan aku—“Jongin menatap Krystal geram,”—harus bersikap baik padanya. Aku mengerti, Jung Sojung.”

“Kalau begitu tunggu dulu!”suruh Krystal yang balas menatap Jongin tajam.

Jongin mendengus lalu memalingkan wajahnya dari Krystal,”Aku tidak menyuruhmu meninggalkannya, kita hanya perlu menunggunya di halte bus. Apa yang salah?”

“Kau menghindarinya.”serang Krystal, yang membuat Jongin menelan ludahnya sendiri.

Ani,”bantah Jongin agak terbata,”untuk apa aku menghindarinya? Percuma saja, ke manapun aku pergi dia pasti akan menemukanku dan berlari ke arahku. Apalagi dia hanya sedang piket di kelas dan aku masih ada di lingkungan sekolah ini.” Tidak ada tanggapan lagi dari Krystal, yang kini hanya asik menyelidiki setiap raut wajah Jongin yang tampak mencurigakan baginya. “Berhenti menatapku seperti itu!”

Jongin kembali melanjutkan jalannya yang sempat tertunda, namun ia tidak jadi. Seperti satelit yang selalu berputar mengikuti pelanetnya, begitupun Jiyeon yang kini berlari ke arah Jongin. Senyum bangga menghiasi wajah Jongin.

“Sudah kukatakan dia pasti akan menemukanku dan berlari ke arahku,”kata Jongin sangat percaya diri, yang membuat Krystal ingin sekali memuntahkan seluruh isi perutnya ke wajah pamuda sok keren itu sekarang juga.

Jiyeon tampak ceria dan bersemangat, sementara Krystal tampak prihatin memperhatikannya. Gadis sepolos dan secantik Jiyeon tergila-gila dengan sahabatnya yang angkuh dan bodoh ini, kasihan sekali. Krystal masih belum sanggup menerima kenyataan konyol ini.

Di luar dugaan, Jiyeon melintas di antara Jongin dan Krystal. Kedua manusia yang terkejut itu seperti laut yang terbelah, mereka menyerong ke arah Jiyeon pergi. Jongin pun merasa malu dengan apa yang dilihatnya sekarang. Jiyeon memeluk seorang pemuda berkulit putih susu yang belum pernah Jongin lihat sebelumnya. Pemuda itu tersenyum sambil mengelus rambut panjang Jiyeon. Nuguya? Batin Jongin.

“Myungsoo..”ucap Krystal kaku, yang langsung membuat Jongin menoleh padanya.

—“Kim Myungsoo, dia tampan dan hangat seperti Jonghyun Oppa.”

—“Karena ada gadis yang dia sukai dan dia tunggu selama ini.”

Jongin membuang nafasnya panjang, lalu memutar tubuhnya ke arah semula dan melangkah pergi. Akan tetapi, sosok Suzy membuat langkahnya lagi-lagi harus tertunda. Pikiran Jongin berusaha menimbang keputusan. Melewati cinta-segi-tiga di belakangnya, membuat perutnya terasa mual. Lantas melewati Suzy, membuat kepalanya pusing memikirkan sejuta alasan untuk menghindar. Jadi, mungkin lebih baik pusing, pikirnya.

Sejuta alasan yang sudah Jongin rancang tampaknya sia-sia karena Suzy tak beda jauh dengan Krystal. Membeku menatap adegan-temu-kangen konyol itu, tapi bedanya tatapan Suzy sangat tajam seperti pisau yang siap menembus dada Myungsoo.

Jongin menatap keempat manusia yang menggunakan formasi dua-satu-satu itu bergantian. Setelah sempat menggeleng, Jongin pun meninggalkan mereka dan bergabung dengan Kyungsoo dan Chunji yang sudah berada di luar gedung sekolah. Syukurlah aku tidak perlu bersusah payah menghindar, batinya—berusaha merasa tegar(?).

Mata Kyungsoo dan Chunji celingukan, yang membuat Jongin geram,”Yaa, apa yang kalian cari?”tanyanya.

“Di mana rubah-rubahmu?”tanya Chunji.

“Tadi aku melihat Jiyeon baru menyelesaikan piket di kelasnya,”kata Kyungsoo.”dan.. Krystal bukannya dia bersamamu.”

Jongin merangkul bahu kedua teman sekelasnya itu,”Mereka tersesat di tengah hutan,”jawabnya asal.”Jadi, aku pulang bersama kalian hari ini, kajja!”

.

.

.

“Setelah diperiksa lebih lanjut di Singapur, dokter menyatakan bahwa aku Negative Meninghitis. Dan, ternyata aku hanya Sakit Migren biasa, jadi oprasiku dibatalkan.”jelas Myungsoo,”aku sangat bersyukur bisa pulang secepat ini.”lalu tersenyum menatap kaca spion  di atasnya.

Dari kaca spion itu, Myungsoo bisa melihat senyuman Jiyeon yang sangat ia rindukan selama meninggalkan Korea. Di samping Jiyeon mata Myungsoo pun menangkap sosok Krystal yang hanya diam seribu bahasa, sambil menatap ke luar jendela. Myungsoo tahu, sejak hari itu sulit untuk Krystal menerima kepulangannya yang begitu cepat. Mungkin, godaan kecil akan membuat gadis itu membaik, pikir Myungsoo

“Krysie, apa kau tidak merindukanku?”tanyanya, yang membuat sepasang mata anggun itu langsung mengarah padanya—pergi meninggalkan jalan raya yang ramai.

“Aku?”Krystal berpikir keras demi menjawab pertanyaan itu, sementara kini gantian Jiyeon yang menghadiahkan sepasang matanya pada suasana jalan raya.”Tentu saja rindu, kita ini kan teman.”Dengan nada suara yang terdengar seperti menyindir.

“Kalau begitu bicaralah!”pinta Myungsoo sambil menoleh pada Krystal,”Aku rindu suaramu yang cempreng.”lalu tersenyum tanpa beban. Tidakkah Myungsoo tahu, minyak mampu membangkitkan api kapan saja.

Mwo?”Krystal tidak terima, ditambah Myungsoo malah menertawainya.”Aishh,”Sumpah-serapah langsung dilayangkannya untuk Myungsoo. Lebih baik, dari pada diam seperti laut mati, pikir Myungsoo.

Jiyeon, Krystal, dan Myungsoo kini berada di dalam mobil sedan milik keluarga Myungsoo. Di jok depan diisi oleh Myungsoo dan supirnya, sementara di belakang di isi oleh Jiyeon dan Krystal. Setelah menjalankan pengobatan di Singapur, banyak berkas yang Myungsoo harus urus untuk kembalinya ia ke SMA Kirin. Karena itu, ia ke sekolah siang tadi dan sesuai rencananya ia berhasil mengejutkan beberapa temannya terutama gadisnya—Jiyeon.

“Jongin—”suara Jiyeon langsung mencuri perhatian Myungsoo dan Krystal. Tidak ada tawa meledek atau sumpah-serapah lagi.

—“Tetangga di depan rumah kita ternyata memiliki adik laki-laki yang seumuran dan satu sekolah denganmu, namanya Kim…Jong…in, ya Kim Jongin.”

Myungsoo kembali mengingat pernyataan ibunya kemarin.”—aku melupakannya.”

Mobil sedan Myungsoo yang sempat menyalip beberapa mobil, kini harus berdampingan dengan bus. Jiyeon melihat Jongin berdiri di dalam bus itu, bersama Chunji dan Kyungsoo.

“Bukan salahmu,”Krystal mencondongkan kepalanya menuju jendela di samping Jiyeon,”dia sendiri yang menginginkannya.”

Kata-kata Krystal sepertinya tidak membuahkan hasil, Jiyeon malah tampak murung. Mobil sedan pun pergi meninggalkan bus itu. Sekilas Myungsoo sempat melihat sosok yang Jiyeon maksud, sebelum ia melirik ekspresi Jiyeon dari kaca spion. Muncul rasa tidak suka di benak Myungsoo.

—“Ibu rasa kalian akan cocok menjadi teman.”

“Atau mungkin saingan.”gumam Myungsoo sangat pelan.

***

Sore yang hangat. Angin sibuk menggerakan tumbuhan di taman, meski keberadaanya tidak begitu terasa. Cukup banyak orang di taman, dari anak kecil hingga orang dewasa. Maklum sudah mulai masuk liburan musim panas. Di salah satu bangku panjang berbahan dasar kayu itu, Krystal dan Myungsoo juga ikut meramaikan suasana. Krystal masih diam membeku, sementara Myungsoo menunggunya berkata-kata sambil melipat tangan di atas dada bidangnya.

“Myungsoo, aku,”Krystal menunda perkataanya, karena mendadak dadanya terasa sesak,”aku suka padamu.”lanjutnya setelah mengambil nafas panjang-panjang.

Myungsoo yang tadinya asik menikmati suasana taman, kini sukses menghadap padanya. Pemuda itu menatap mata Krystal yang telah membulat sempurna, persis seperti kodok. Beberapa detik berikutnya, Myungsoo tertawa terbahak-bahak di hadapan Krystal.

“Apanya yang lucu?”heran Krystal yang tampak kecewa.

“Ekspresimu—,”ungkap Myungsoo diselah-selah tawanya yang belum juga berhenti,”—lucu sekali.”

Bola mata Krystal berputar jengkel, kini gantian gadis itu yang melipat tangannya di atas dada,”Aku serius, aku sungguhan menyukaimu Kim-Myung-Soo.”tegasnya. Membuat Myungsoo tidak sanggup untuk melanjutkan tawanya lagi.

“Aku tahu.”katanya sambil tersenyum, membuat Krystal sedikit melirik ke arahnya yang kini kembali pada posisi semula. Bagaimana bisa dia sesantai itu? Batin Krystal.”Aku juga menyukaimu,”duar. Ribuan kembang api seperti meledak di dada Krystal,”tapi hanya sebatas teman, tidak bisa lebih dari itu.”

Ribuan kembang api yang sempat meledak di dada Krystal, langsung padam seketika sebelum mencapai puncaknya.”Kenapa begitu?”tanyanya kaku, sampai tak sanggup berekspresi.

“Karena kau teman dari gadis yang aku suka dan aku tunggu selama ini.”pernyataan Myungsoo membuat Krystal menoleh.

“Jiyeon?”

“Krysie, lupakan aku dan tetaplah menjadi teman Jiyeon!”Pinta Myungsoo,”Tolong jaga dia selama aku menjalani pengobatan di Singapur, kau gadis yang baik, aku percaya padamu. Rahasiakan semua ini dari Jiyeon.”

Krystal tahu, point-nya bukan karena teman, tapi Myungsoo yang mencintai Jiyeon. Musim panas yang menyakitkan.

***

“Kali ini, siapa yang menolakmu?”

“Kim Myungsoo, dia tampan dan hangat seperti Jonghyun Oppa.”suaranya parau, nyaris tanpa tenaga dan gairah. Krystal sungguhan patah hati kali ini. Belum pernah Jongin melihatnya seperti ini. Dulu waktu Jonghyun menikah dengan Seungyeon, Krystal melampiaskan emosinya pada Jongin. Setidaknya gadis itu berekspresi, meskipun hanya marah-marah dan menangis.

Tapi sayang rasa ingintahu Jongin seolah lebih besar kadarnya dibanding rasa empatinya sendiri,“Kenapa dia menolakmu?”

“Karena ada gadis yang dia sukai dan dia tunggu selama ini.” Angin hangat menerjang keputusasaan di wajahnya. Melayangkan Krystal pada ingatan tentang alasan penolakan Myungsoo. Sakit rasanya, atmosfer itu seakan terulang lagi. Jongin mungkin tampak cuek dari luar, namun rasa ingintahu itu sebenarnya secercah perhatian yang ia tunjukan.

Jalan sepanjang pertokoan Myeongdong yang ramai tak mampu mengobati kesunyian di hati Krystal. Jongin mencubit pipi tirus Krystal, namun yang dicupit tetap tak bergeming. Bukan Jongin namanya, kalau tidak mampu membuat masalah dengan Krystal. Pipi yang dicubit, Jongin tarik sekuat tenaga.

“Akkhhh.” Setelah teriakan tercipta, Jongin melepaskan pipi Krystal yang kini telah tercetak warna merah di sana.”Yaa, Kim Jongin.”Krystal menendang betis Jongin sekuat tenaga. Bukannya kesakitan, Jongin malah merangkul bahu Krystal sambil tersenyum senang.

“Kau itu gadis yang kuat, jangan kalah hanya karena lelaki bodoh itu.”Sejurus tinjuan menghantam perut ramping Jongin.”Akhh.”Kali ini  pemuda itu kesakitan.

Yaa, Myungsoo tidak bodoh.”Protes Krystal,”Kau yang bodoh.”

Langit-langit kamar Jongin yang remang-remang tampak seperti layar bioskop mini. Menampilkan cerita Krystal yang patah hati. Musim panas yang hangat dan ramai saat itu, bertolak belakang dengan kondisi sahabatya yang dingin dan sunyi. Cinta pertamanya gagal, yang kedua pun gagal. Pernikahan Jonghyun waktu itu, juga berlangsung saat musim panas. Sekilas senyuman mengihasi wajah Jongin saat mengingat tingkah Krystal yang patah hati karena kakanya, padahal gadis itu baru berumur 11 tahun. Akan tetapi, yang mengganggu pikiran Jongin bukan tentang Krystal yang patah hati, melainkan tetang gadis yang disukai Myungsoo.

“Aku masih ingat, kau pernah berjanji akan memperkenalkanku pada teman baikmu di sekolah.”Kata Jongin setelah menyedot kopi dinginnya,”Tapi, sampai sekarang kau sepertinya lupa dengan janji itu?”

Krystal menghela nafas panjang,”Jangan bahas soal itu, perasaanku masih kacau.”ia masih belum menyentuh kopi panas yang sudah berada di atas mejanya sejak tadi. Jongin dan Krystal tengah berada di dalam café Bergaya Eropa yang letaknya di Daerah Gangnam.

“Apa ini ada hubungannya dengan penyebab patahhatimu?”tanya Jongin asal menduga, awalnya Krystal tampak tidak peduli. ”Apa teman yang mau kau kenalkan itu adalah gadis yang Myungsoo suka?” Tapi, ketika dugaan berikutnya terlontar, kelopak mata Krystal langsung membesar—menatap Jongin.

Dengan gerakan cepat Krystal menghindari mata Jongin yang menyadari akan hal itu. Krystal mengangkat cangkir kopinya dan meminumnya tergesa-gesa.”Akhh.”Tentu saja air kopi itu langsung membakar bibirnya.

Yaa, bibirmu bisa melepuh Jung soojung, ahahahaha.” komentar Jongin tanpa rasa iba. Krystal mengipas-ngipas bibirnya dengan tangannya yang tak berdaya sambil menebar amarah pada Jongin dari tatapannya. Sayangnya tawa itu tidak juga reda, tapi Jongin mengambil kopi dinginnya dan menempelkannya pada bibir Krystal.”Peganglah! Mungkin ini bisa membantumu.”suruhnya.

“Jiyeon.”simpul Jongin, yang masih tidak lepas dari ingatan dan langit-langit kamarnya.”Bagaimana dengan perasaanmu pada Myungsoo?”

***

Jiyeon masuk ke dalam toilet rumahnya dengan piyama bergambar Doraemon. Rambutnya digulung ke atas dengan bando kuning melingkar di kepalanya. Sekilas ia melihat pantulan dirinya dari cermin, sebelum mengambil sikat gigi dan memoleskan pasta gigi jeruk favorite-nya di sana. Sikat itu, kini menggosok gigi-gigi putih Jiyeon yang rapih.

—“Apa orang Kanada tidak suka bereteman dengan orang Korea?”

—“Tidak juga, aku yang tidak suka berteman dengan mereka, aku lebih suka orang Korea. Karena itu aku kembali.”

Ingatan tentang mimpi indah itu menyusup dibalik mata Jiyeon yang tengah melihat cerminan mulutnya yang penuh busa. Lirikan yang saling menyatu seperti terhubung oleh benang kasat mata, perlahan mendekat, dekat, dan semangkin dekat. Jarak terhapus, membuat sesuatu yang kenyal dan hangat menyentuh bibirnya. Bibir Jongin menyapu lembut bibir Jiyeon.

Kelopak mata Jiyeon mengejap-ngejap seiring jantungnya berdetak lebih cepat. Aliran listrik seperti menjalar di sekujur tubuhnya. Bibir berbalut busa itu mengecap-ngecap. Tanpa kedali pasta gigi yang telah berubah menjadi busa tertelan sedikit demi sedikit. Setelah beberapa detik, Jiyeon terbatuk-batuk dan merasa ingin muntah. Jiyeon pun membasuh mulutnya sambil berkumur-kumur.

Setelah mulutnya bersih dari busa dan pasta gigi, Jiyeon menatap pantulannya dari cermin lagi sambil mengatur nafasnya yang kacau. Tangannya bergerak menyentuh bibir merahnya sendiri.”Kenapa mimpi itu terkesan nyata?”tanya Jiyeon seolah-olah cermin tahu jawabanya. Seperti kisah putri salju. Kepala Jiyeon cepat-cepat menggeleng. Menepis segala kemungkinan yang dipikirnya mustahil.”Jangan terlalu berharap, kau hanya perlu fokus Park Jiyeon! Kau boleh menyukai Jongin, tapi jangan terlalu banyak berhayal!”

Entah imajinasi macam apa yang melanda mimpinya, sampai bisa membawa jiwanya melayang dan tertidur di atas rumput belakang gedung sekolah bersama Jongin. Kalau itu nyata, kenapa suasana bisa berubah menjadi ruang kesehatan? Jongin pun tidak ditemukan di sekitarnya lagi, hanya ada Krystal dengan wajah khawatirnya. Lagi pula, selama ini Jongin tidak pernah memperlakukannya semanis itu. Tapi, ia tidak lupa berterimakasi pada Tuhan yang telah mengirimnya mimpi seindah itu.

***

Hari pertama Myungsoo kembali belajar di SMA Kirin. Ketika istirahat tiba, Myungsoo langsung pergi ke kelas Jiyeon dan Krystal. Sampai di ambang pintu kelas, pemuda itu berpapasan dengan Suzy dan rombongannya. Diam-diam Suzy sempat melirik Myungsoo, sementara yang dilirik tampak tidak peduli. Myungsoo tersenyum ke arah bangku Jiyeon dan Krystal. Langkah Suzy berhenti dengan rahang yang mengeras. Haemi, Naeun, Luna, dan Dasom ikut menghentikan langkah mereka dan menoleh pada Suzy.

“Suzy-aa, ada apa?”tanya Haemi.

Suzy menggeleng,”Ada lalat lewat yang mengusik ketenanganku.”katanya. Entah suara itu sempat sampai ke telinga Myungsoo atau tidak. Myungsoo sudah sampai di meja Jiyeon dan Krystal tidak lama setelah itu.

“Jiyeonie, Myungsoo-aa, aku pergi dulu. Annyeong.”Krystal langsung melesat pergi bersama topi bebeknya. Mata Myungsoo memperhatikannya sampai hilang dibalik pintu—keheranan.

Jiyeon tertawa kecil melihat ekspresi Myungsoo,”Mau ke mana dia?”tanya pemuda itu.

“Banyak yang telah terjadi selama kau pergi.”kata Jiyeon dan Myungsoo menoleh padanya,”Krysie punya kegiatan baru.”

“Apa?”

Jiyeon mendekatkan bibirnya pada kuping Myungsoo,”Misi mencari kelemahan saingan.”

“Saingan?”Myungsoo menatap Jiyeon terkejut.

Jiyeon menganguk sambil tersenyum,”Ada seseorang yang mampu mengalahkan Krysie, menjadi juara umum.”

Jinja?”

Nde.”

Myungsoo menganguk paham, lalu merangkul bahu Jiyeon,”Kajja! Kau pasti sudah sangat lapar.”Jiyeon tidak langsung merespon, ia berpikir sejenak,”Wae?”heran Myungsoo.

Jiyeon merasa ada hal yang ia lupakan, entah apa itu. Namun, akhirnya ia mengikuti ajakan Myungsoo juga.

***

Jiyeon menatap tempat makan di atas mejanya dengan wajah muram,”Yaa, tidak usah dipikirkan!”kata Krystal yang menangkap kemurungan itu.”Dia juga tidak pernah menghargai bekal darimu.”

Memberi bekal pada Jongin setiap pagi, sudah menjadi rutinitas Jiyeon. Belum pernah gadis itu melupakannya. Bahkan alasannya bangun dan berangkat sekolah pagi-pagi adalah Jongin. Bagaimana bisa ia justru melupakannya.

“Tapi, aku tetap tidak boleh melupakannya.”

Krystal kembali duduk setelah selesai memasukan barang-barangnya ke dalam tas. Ia memperhatikan Jiyeon yang tampak sangat menyesal. Seandainya Jongin melihat ekspresi tulus Jiyeon ini, apa dia masih bisa tidak memperdulikan Jiyeon. Kalau masih bisa, Krystal rasa selain bodoh dan pengecut, Jongin juga tidak punya perasaan. Krystal mengelus lembut rambut Jiyeon.

“Bekal siapa ini?”tanpa permisi sebuah tangan merebut bekal itu dari tangan Jiyeon.”Kelihatannya enak.”Melongok yang secara kompak ditunjukan Jiyeon dan Krystal saat kotak bekal itu terbuka oleh tangan jahil tadi. Tangan putih Myungsoo. Pemuda itu mencium, lalu memakan bekal buatan Jiyeon.

“Enak.”kata Myungsoo yang terlihat sangat menikmati bekal itu. Mata Jiyeon dan Krystal berkedip bersamaan beberapa kali.

Jinja?”kejut Krystal tidak yakin, lalu menoleh pada Jiyeon,”Jiyeon, itu benar-benar buatanmu?”anggukan didapat Krystal.

Karena penasaran, Krystal ikut mencobanya. Namun, tidak seperti Myungsoo. Wajah Krystal kusut mendadak. Rasa asin menjalar ke sekujur mulutnya. Buru-buru gadis itu mengambil botol minumnya di dalam tas, lalu meneguk air mineral yang ada.

“Aku rasa kau perlu ke psikater sekarang juga.”kata Krystal pada Myungsoo yang justru sangat lahap memakan bekal buatan Jiyeon.”Kajja!”

***

Yaa, kau kenapa?”Chunji menghampiri Jongin ke pinggir lapangan dan mengambil tempat di sebelah pemuda itu. Tidak lama Kyungsoo pun menyusul di sisi lainnya.

“Aku lapar.”Chunji tertawa, Kyungsoo pun ikut tertawa.

“Kau sepertinya kurang perhatian,”Chunji mengelus rambut Jongin, sementara Kyungsoo tersenyum-senyum melihat mereka dari samping. Jongin memberi tatapan tajam pada Chunji, yang malah makin menjadi-jadi dengan mengelus perutnya. Kini Kyungsoo sukses terbahak-bahak, begitupun dengan Chunji.

Aishh, yaa.”Jongin menepuk kasar belakang kepala Chunji.”Berhenti! Atau aku bunuh kau sekarang juga.”

Nde, nde.”kata Chunji sambil meringis dan mengelus belakang kepalanya.

“Apa karena Myungsoo?”tanya Kyungsoo yang masih tertawa. Tatapan tajam Jongin menyerangnya dari samping. “Kau cemburu padanya?” Kali ini wajah mereka berhadapan, sementara Chunji diam-diam tersenyum jahil.

“Kita tahu, kau kehilangan fans karena dia kembali. Itu memang sangat menyakitkan, apalagi ketiga rubah cantik itu tidak perhatian lagi padamu.”Chunji menimpali dengan penjelasan yang dirangkainya sendiri. Kyungsoo menganguk. Jongin menghela nafas panjang sambil beralih menatap lapangan yang masih ramai dengan anggota American football lain.

Dugaan Kyungsoo dan Chunji mungkin saja tepat sasaran, mengingat bangku penonton lapangan American football yang ramai sejak kehadiran Jongin, kini kembali sepi. Tapi apakah benar penyebab murung dan kurangnya konsentrasi Jongin adalah hal sepele semacam itu. Konyol sekali, pikir Jongin. ”Aku tidak peduli.”

“Tapi kalau dipikir, kaulah perebutnya, sejak awal Myungsoo memang flamboyan di sekolah ini.” kata Chunji sambil merangkul bahu Jongin. Sepertinya pemuda itu menghiraukan komentar sekaligus tatapan tajam Jongin yang mengarah padanya sekarang. ”Dan keadaan kembali seperti semula sekarang. Meski kau merasa kehilangan, setidaknya kau bisa merasa tenang sekarang.”Chunji membalas tatapan itu dengan senyuman manis sambil mengacak rambut Jongin.

“Semangat.”Kata Kyungsoo sambil meninju ke atas.

“Kita tunggu kau di lapangan.”Chunji menepuk bahu Jongin beberapa kali, lalu berlari menuju ke tengah lapangan bersamaan dengan Kyungsoo.

“Apa aku terlihat seperti itu di mata mereka?” Jongin mengacak rambutnya sendiri. Ia jadi teringat penyebab kekesalannya sepanjang hari ini.

Berawal dari pagi tadi. Seperti biasanya Jongin dan Krystal sampai paling pagi karena menumpang mobil Jonghyun. Sesaat sebelum memisahkan diri Krystal menghentikan langkah Jongin dengan berdiri di hadapan pemuda itu. Tepat di ambang pintu kelas Jongin.

“Waktu itu dugaanmu benar, Jiyeon adalah gadis yang Myungsoo sukai. Aku harap kau tidak akan menyesal karena selalu menolaknya.”kata Krystal dengan tatapan yang tegas dan sangat meyakinkan. Sebelum sempat Jongin menanggapinya, gadis itu sudah melesat pergi menuju kelasnya yang tidak jauh dari sana. Alhasil Jongin hanya mampu membuka mulutnya dan menatap kepergiannya, tanpa berhasil mengatakan apapun.

—“Aku masih ingat, kau pernah berjanji akan memperkenalkanku pada teman baikmu di sekolah.”

—”Tapi, sampai sekarang kau sepertinya lupa dengan janji itu?”

—“Jangan bahas soal itu, perasaanku masih kacau.”

—-“Apa ini ada hubungannya dengan penyebab patahhatimu?”

—“Apa teman yang mau kau kenalkan itu adalah gadis yang Myungsoo suka?”

Tepat ketika ingatan itu datang, Jongin akhirnya mendapatkan kesimpulan yang pasti. Dengan berlaga tidak peduli, Jongin masuk dan menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Namun Jiyeon yang biasanya datang memberikan bekal tepat waktu. Pukul 07.15. Tidak juga datang. Jongin yang sebenarnya gusar, berusaha untuk tetap tenang dalam posisi tidurnya seperti biasa. Menit-menit pun berlalu, Jiyeon tetap tidak datang. Jongin membesarkan volume earphone-nya, namun ia sudah tidak sanggup lagi untuk menentang pikirannya. Pada akhirnya ia berdiri secara tiba-tiba dan tentunya sangat mengejutkan teman-temannya yang tengah mengelilingi mejanya—terutama Chunji dan Kyungsoo. Tanpa mengatakan apapun, Jongin langsung melesat pergi—meninggalkan tatapan yang terus mengarah padanya sampai menghilang di ambang pintu kelas.

Sampai di tempat tujuan, Jongin masih menimbang keputusannya untuk mencari tahu. Jantungnya berdegup kencang seakan menuntut untuk keluar dari dadanya. Kenapa untuk mengintip saja, rasanya sulit? Batin Jongin. Setelah mengambil nafas panjang dan memastikan situasi aman, Jongin mengintip dari balik jendela dengan perasaan yang tak menentu. Saat itu, Jongin melihat dengan jelas Myungsoo duduk di hadapan Jiyeon dan Krystal. Mereka bertiga terlihat akrab dan bahagia. Bahkan beberapa kali Myungsoo mengusap rambut Jiyeon dan mencubit pipinya.

“Apa-apaan dia, memang ini kelasnya?”Komentar Jongin yang tampak kesal.

Setelah itu, ketika jam istirahat. Jongin yang sedang berjalan sendirian dengan sebotol air mineral mendengar suara-suara dari lapangan basket. Awalnya pemuda itu tidak peduli, tetapi suara seseorang menuntutnya untuk menyelidiki. Ia pun memutar balik langkahnya, berjalan masuk ke dalam. Baru sampai di ambang pintu, Jongin sudah diperlihatkan dengan Myungsoo dan Jiyeon yang sedang bermain basket. Hanya berdua. Karena malas melihatnya, Jongin langsung berbalik dan pergi dari tempat itu. Namun langkahnya terhenti, ketika menemukan Suzy yang juga berdiri tidak jauh dari sana—menatap jengkel pada sepasang manusia yang tampak bahagia itu.

Jongin menghembuskan nafas panjang, lalu berdiri dan berjalan pergi—melangkah meninggalkan lapangan dan ingatannya.”Yaa, mau kemana kau?”Suara Chunji terdengar dari tengah lapangan. Jongin hanya melambaikan tangan, tanpa berkata apapun, bahkan berbalik untuk sekedar berpamitanpun, tidak.

***

Penantian Myungsoo, Jiyeon, dan Krystal berakhir sudah. Mobil Sedan yang biasa menjemput Myungsoo datang. Baru saja ketiga anak manusia yang berdiri di depan gedung sekolah itu, beranjak mendekati mobil Myungsoo. Suara seseorang mengintrupsi mereka untuk kembali bertahan.

Yaa, Jung Soojung tega sekali kau meninggalkan sahabat terbaikmu ini.”Kim Jongin sumbernya. Pemuda yang kini merangkul bahu Krystal dengan senyuam mengembang di wajahnya. Membuat api menyala di kepala Krystal dan sinar terpancar dari mata Jiyeon. Sementara Myungsoo bertahan dengan sikap biasa saja. Jongin sempat menangkap wajah Jiyeon yang berbahagia, namun karena degub jantungnya ia berpaling lagi—berlagak tak peduli seperti biasanya.”Annyeong Myungsoo, aku Jongin sahabat Soojung sejak kecil, apa dia sudah pernah bercerita tentangku?”Sapa Jongin—sok akrab.

Emosi Krystal sudah tak tertahan lagi, sejurus hantaman dari sikut Krystal yang kuat dan tajam menyerang perut Jongin yang tak berdaya. Alhasil Jongin meringis kesakitan di balik topengnya yang tetap bertahan,”Aku tidak punya waktu untuk bercerita hal yang tidak penting.”

“Jongin.”Panggilan Jiyeon membuat Jongin langsung menoleh. Saat itu, adegan di taman belakang sekolah seakan kembali terulang. Jongin merindukan tatapan itu. Mata yang tidak pernah lepas memperhatikannya.”Mm—neo gwaenchana?”Jongin hanya menjawabnya dengan anggukan. Tanpa mempedulikan, dua pasang mata yang tengah memperhatikan gerak-gerik mereka. Lirikan Krystal yang masih mengarah pada Jongin dan lirikan Myungsoo yang tak pernah lepas dari sosok Jiyeon.

Mianhae karena lupa mengantarkan bekal untukmu, mianhae karena lupa mendatangimu, mianhae karena lupa memperhatikanmu, mianhae karena lupa menunggumu… mianhae pangeran penolongku. Jiyeon menundukan kepalanya, padahal Jongin tidak juga melepaskan tatapannya. Semua yang sebenarnya ingin Jiyeon katakana hanya dapat ia ungkapkan dalam hatinya. Indranya terlalu ragu kalau semua itu akan penting bagi Jongin.

“Boleh aku ikut?”Pertanyaan itu keluar dari mulut Jongin. Entah kemana arah tujuannya, karena tatapan Jongin masih saja mengarah pada Jiyeon.

“Boleh saja, kalau memang mau bersempit-sempitan.”Myungsoo menjawab pertanyaan itu. Jongin sudah menebak, kalau ia pasti akan ditolak secara halus seperti ini. Tapi kalau dipikir secara rasional, memang mobil Myungsoo hanya cukup menampung empat orang dewasa. Sayangnya tekad Jongin sudah bulat, untuk merusak setiap kesempatan Myungsoo bersama Jiyeon.

“Bukannya kau latihan hari ini? Lagi pula sepertinya kau sudah hafal jalan pulang, setelah lebih dari tiga bulan kau sekolah di sini.”kata Krystal, yang membuat Jongin menjadi kikuk.

Bukan tanpa alasan Krystal berkata seperti itu, ia memergoko semuanya saat istirahat. Setelah menghabiskan waktu istirahat dengan penyelidikan lanjutan terhadap Minhyuk, gadis itu berniat menyusul Myungsoo dan Jiyeon di lapangan basket. Ketika sampai di sana, Krystal menemukan Jongin dan Suzy berdiri tidak jauh dari ambang pintu. Diam-diam Krystal menangkap aura negatif dari tatapan mereka yang mengarah pada Myungsoo dan Jiyeon. Krystal tertawa puas di alam bawah sadarnya yang damai dan sepi.

To Be Continue

Amaliachimo:“Maaf atas segala keterlambatan dan kekurangan saya dalam menyajikan ff selama ini, tetapi di balik itu saya akan berusaha sebaik-baiknya untuk para readers yang super kece. Terima kasih atas semua komentar dan like-nya. I love you all..”

11 responses to “[CHAPTER – PART 3] HIGH SCHOOL OF LOVE

  1. Kereeeeeeennnnnnn tapi pliss kapelnya myungyeon aja krys ama minhyuk aja tu kan cocok nah kai ama suzy yg sama2 rada nyebelin yayaya plis min
    Lanjutin lagi ya min hwaiting^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s