[ CHAPTER – PART 8 ] A MINUTE OF HOPE

AOF

Tittle :  A Minute of Hope

Author : gazasinta

Main Cast :  

  • Park Jiyeon as Jiyeon
  • Kim Jaejoong as Dr Jae
  • Kim Myungsoo as Myungsoo
  • Bae Suzy as Sooji
  • Jeo Min Seo as Park Jeo Min ( Jiyeon’s sister )

Extended Cast : 

  • Shin Goo as Seo Sin Goo ( Harabeoji )
  • Kang Bo Ja as Halmeoni Kang (  Yongha’s mother )
  • Park Won Sook as Won Sook ( Yongha’s sister )
  • Yun Yoo Sun as Yoo Sun ( Jaejoong and Myungsoo’s mother )
  • Kim Soo Ro as Soo Ro ( Jaeejong and Myungsoo’s father )
  • Kim Mi Sook as Mi Sook ( Suzy’s mother )
  • Kim Ji Young as Bibi Lee Eun Cha
  • Lee Kwang soo as Kwang Soo
  • Son Ye Jin as Seo Ye Jin ( Jiyeon and Jeo Min’s mother )
  • Park Yong Ha as Yong Ha ( Jiyeon and Jeo Min’s father )

Genre :  School, Family, Drama

Rating : PG-17

Poster created by @Olivemoon

Note : Pertama-tama dan semoga belum basi author mau ucapkan :

Taqabalallahu Minna Wa Minkum, Shiyamana Wa Shiyamakum.

Hepi Eid Mubarak 1437H ya chingudeul untuk yang merayakan J semoga kita kembali fitrah, Aamiin Ya Rabbal Al’aamiin.

Kedua author mau mohon maaf bangetttt. Mianhae baru muncul lagi setelah 5 bulanan hibernasi. Hahahaha ga taulah sibuk apa si author ini, kesono sini nyari kerjaan rutin tiap lebaran. Dagang kulit ketupat, sama wara wiri nyari angpao.

Btw part ini dibikin dengan banyak rasa. Rasa bersalah, rasa tidak enak, rasanya lama betul dan terakhir rasanya kurang bagus, mungkin karena rasa bersalah itu jadinya kurang bagus pengen cepet-cepet aja bawaannya, tapi mudah-mudahan dengan komen kalian nanti jadi semangat lagi ngarangnya.

Oh iya udah tau penampakanku seperti apa ? udah ga perlu penisirin lagi kan, tuh udah dipajang di HSF hahahah sebagai “ Writer Of The Month “ heuheuheu*showoffbangetsihuthor

Mudah-mudahan Ica dalam keadaan sadar 100% ketika memilih author ga jelas ini. Oh ya udah lama nih ga terima komenan karena ga post ff juga kan y ?  5 komen terbaik dan menyangkut dihati author akan aku pajang di next FF, dan pasti ada hadiahnya…ihhhh berasa yang punya hsf. Beneran bikin komenan yang menyentuh ya, bukan berupa pujian aja loh, apapun KRITIK PEDAS sekalipun kalo yang membangkitkan semangat bakal aku pilih.

Ok deh udah kepanjangan, silahkan dibaca dan masukannya yah. Kamsahamnida.

Disclaimer : FF ini terinsprirasi dari Kdrama yang sangat menyentuh Thank You, tapi alur dan ceritanya pure milik author.

Sorry for typos , and happy reading ya guys!!!

“ Be a strong wall in the hard times and be a smilling sun in the good times.

Previous Part

“ Kau pasti berbohong, Jiyeon sendiri yang mengatakan padaku jika ia masih sendiri “

 “ Sekarang kau percaya jika yeoja ini sudah memiliki kekasih ? “

 ” Ap-ppa, apa yang sebenarnya kau lakukan padaku ????? “

 Part 8 ~ A Minute Of  Hope

Rumah Kel.Kim ~ Kamar Myungsoo,

Myungsoo berdiri dalam diam, menatap tanpa ekspresi bayangan dirinya dipantulan cermin kamarnya. Seperti sebuah patung, gejolak emosi dalam dirinya bahkan tidak terlihat. Myungsoo seperti seseorang yang tidak tahu harus berbuat apa, meski sebenarnya banyak hal yang tertinggal dikepalanya.

 Tak bisa Myungsoo gambarkan apa yang sebenarnya ia rasakan, yang ia sadari bahwa hatinya terluka. Jaejoong yang selalu dibanggakan orangtuanya, yang dijadikan patokan oleh orangtuanya untuk ia tandingi kesuksesannya, orang yang selama ini ia masih menaruh rasa hormat bahkan melebihi kedua orangtuanya.

 Hyungnya telah membohongi dirinya, terlebih keluarganya.

Bagaimana mungkin Jaejoong memilih untuk tinggal terpisah padahal mereka ada di desa yang sama ? Apa alasan Jaejoong ada di desa ini ? sementara yang ia tahu hyungnya adalah seorang ahli bedah di St Marry Seoul. Apa orangtuanya tahu akan hal ini ? atau hanya dirinya saja yang baru mengetahui fakta ini ?

Begitu banyak pertanyaan diotak Myungsoo, namun ada satu pertanyaan yang ia benar-benar takut untuk mengungkapkannya.

Sangat kecewakah dirinya jika hanya tentang Jaejoong yang membohonginya?

 Atau

Ada alasan lain yang tak disadarinya ?

Wajah tak berekpresi itu perlahan-lahan menampakkan kesedihan.

Myungsoo menangkup tak percaya sesuatu yang jatuh dari matanya. Ia menangis, hal yang tak pernah ia lakukan dalam kurun waktu sangat lama selama hidupnya. Tentang orangtua, saudara, bahkan dirinya sendiripun tak pernah jadi alasan untuk ia menangis. Myungsoo berbalik lemah, seolah kehilangan kekuatan ia berjalan gontai menuju ranjangnya. Tubuhnya kemudian merebah pasrah. Dengan memaksa matanya terpejam, Myungsoo berharap tertidur tanpa mengingat apapun, juga tak ingin kejadian buruk hari ini terbawa hingga ke mimpinya.

Rumah Sewa Jaejoong,

Jendela rumah itu masih terbuka, meski suara binatang-binatang telah menandakan bahwa hari sudah larut malam. Jaejoong sengaja menyeret kasur empuk miliknya dan menempatkannya tepat menghadap ke arah jendela kamar yang terbuka, agar terangnya cahaya bulan dapat ia nikmati.

Tujuan utamanya tentu saja menenangkan hatinya yang sedang gundah. Sayangnya Jaejoong  gagal berdamai dengan degup jantungnya. Harusnya kasur empuk dan berharga mahal miliknya itu bisa membuatnya tertidur nyaman, namun justru sebaliknya, kasur itu seolah berubah menjadi hamparan kulit durian. Begitu sakit dan membuat perasaannya tak tenang.

Seumur hidupnya ia hanya merasakan gugup ketika harus menyelamatkan pasien dari kematian didepan matanya, bukan ketika wajah gadis lugu itu hadir dan menerornya untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah ia perbuat. Seharusnya juga Jaejoong tak perlu memikirkan akan seberapa canggung jika ia bertemu dengan Jiyeon nanti, apa yang telah ia lakukan hanya untuk pria yang dipanggil  Tuan Ma tidak lagi mengganggu yeoja itu.

Jaejoong menyesali mengapa ia memiliki sikap temperamen, hanya karena tak senang mendengar pria tengik itu meminta Jiyeon untuk dijadikan kekasih, hingga ia akhirnya melakukan hal bodoh. Gadis itu bukan kekasihnya bahkan juga tak terpikirkan untuk dijadikan kekasih ? Bagaimana mungkin darahnya mendidih mendengar permintaan Tuan Ma yang menginginkan Jiyeon dalam hidupnya ?

Jaejoong tak bisa menjawabnya. Ia sudah meyakinkan diri bahwa hanya karena peristiwa diluar dugaan bersama gadis itulah yang membuatnya gugup. Setelah kata maaf terucap, semuanya pasti akan kembali seperti semula.

“ Tch sial, untuk apa aku harus mengorbankan waktu tidurku hanya karena memikirkan hal bodoh itu ? “ Jaejoong tersenyum sinis, tangannya kemudian ia gunakan untuk menopang kepalanya, dan mulai memaksa untuk matanya terpejam.

Bunyi kucuran air terdengar dari sebuah kamar mandi yang terletak ditengah-tengah antara dua rumah yang berjarak cukup jauh dan saling bersikuan. Air dalam bak besar yang terletak disana telah habis, namun Jiyeon tak lelah untuk mengisinya hingga kembali penuh. Tak peduli keadaan kamar mandi cukup gelap dan airnya begitu dingin, Jiyeon tetap disana, berjongkok membasuh berkali-kali bibirnya dengan air.

Perasaannya tak tenang ketika ia memaksa untuk tidur, sebentar ia menghadap ke arah kanan, beberapa detik kemudian merubahnya ke arah kiri, bahkan menatap langit-langit kamar pun sudah ia lakukan. Hasilnya tetap sama, detik –detik bagaimana dokter itu menarik tubuh kemudian melumat kasar bibirnya selalu berputar-putar dikepalanya.

” Jiyeon-aa, apa kau sedang jatuh cinta ? “

“ Eomma!! Hentikan, jangan menggodaku. AKU-TIDAK-SEDANG-JATUH-CINTA “

“ Hahahaha…..memangnya kenapa jika kau jatuh cinta ? Kau sudah besar, suatu saat kau akan merasakan indahnya jatuh cinta. Ketika jantungmu berdegup sangat keras kau akan sadar bahwa kau sedang jatuh cinta pada seseorang, jangan takut dan malu untuk mengakuinya, itu akan terasa menyenangkan “

“ Keumanhe eomma “

 Wajahmu memerah, apa kau malu ? hahhaha “

“ Eommaaaaaa……..”

Pandangan Jiyeon menerawang, ia teringat ketika sang eomma menggodanya tentang jatuh cinta, jarinya lembut mengusap airmatanya yang tiba-tiba saja turun.

Apa ia sedang jatuh cinta ?

Konyol sekali, tidak seharusnya ia mengambil kesimpulan bodoh dari insiden antara dirinya dan Jaejoong. Jikapun jantungnya berdegup sangat kencang ketika Jaejoong menciumnya tadi, bukankah itu adalah sebuah reaksi ilmiah ? Meski saat ini tak bisa dipungkiri, jika isi kepalanya memang hanya tentang apa yang dokter itu lakukan.

Bagaimana dengan dokter itu ? Apa sekarang juga tak bisa tidur seperti dirinya ?

Dengan perlahan-lahan Jiyeon menolehkan kepala, memberanikan diri menatap rumah Jaejoong dibelakangnya. Ia hampir saja terjatuh karena terkejut melihat jendela rumah itu terbuka, Jiyeon buru-buru menyelesaikan aktivitasnya.

Bersiap untuk berlari, namun sesuatu disadarinya. Untuk apa ia menghindar ? Rumah itu memang selalu terbuka, tentu saja dokter itu sudah terlelap di tempat tidurnya, karena apa yang dilakukan dokter itu memang hanya ingin menolongnya dari gangguan Tuan Ma. Tidak seperti dirinya, yang mengambil banyak macam kesimpulan bahkan yang diluar nalarnya sekalipun.  Mungkin reaksinya berlebihan, namun itulah yang Jiyeon rasakan. Terlebih tak ada satupun kata yang diucapkan pria itu untuk mengklarifikasi apa yang telah diperbuatnya.

Sesalnya,

Mengapa harus cara seperti itu yang Jaejoong pilih ?

Ia anggap wanita seperti apa dirinya hingga Jaejoong tak memikirkan perasaannya ?

Entahlah. Pemikiran Jaejoong tak sampai di logikanya.

Semburat-semburat cahaya pagi mulai terlihat, mengingatkan sang bulan yang menggantung dilangit untuk segera berganti tugas dengan matahari. Ayam-ayam mulai membuka mata dan mengepakkan sayapnya, bersiap membangunkan setiap orang untuk segera  beraktivitas.

Jiyeon, Jaejoong dan Myungsoo bahkan belum sama sekali berhasil memejamkan mata. Tubuh ketiganya hanya tergeletak menatap kosong langit-langit kamar dengan perasaan yang tidak sama hadir direlung hati ketiganya. Potongan-potongan insiden antara Jaejoong dan Jiyeon, serta Myungsoo yang berada disana menyaksikan kejadian itu hadir dipelupuk mata mereka, seperti sebuah adegan film yang diputar terus-menerus.

Kyunghee University,

Siganeul doedollimyeon

Gieokdo jiwojilkka

Haebol sudo eopsneun maldeureul

Naebaetneun geol ara

Neol himdeulge haessgo

Nunmullo salge haessdeon

Mianhan maeume geureon geoya

Hajiman nan marya

Neoui bakkeseon sal su eopseo

( This Love – Davichi )

Untuk yang kesekian kalinya, Jiyeon harus mengulang lagu yang ia bawakan. Bagian reffrain yang seharusnya paling mudah diingat, ia justru tidak sama sekali mengingat liriknya. Tangan Jiyeon terasa dingin dan gemetar, kepalanya tertunduk tak berani menatap wajah kesal teman-temannya. Sebut ia egois, karena tetap bertahan berada didepan dan yakin dapat menyelesaikan lagu pilihannya dengan baik.

 “ A- akku…. akan mengulangnya “ Ucap Jiyeon sangat pelan.

 “ Keumanhe !!! Seosangnim, sampai kapan kau akan memberikan kesempatan padanya ? seharusnya sudah sampai orang ke delapan untuk berdiri disana dan membawakan lagu “ Ucap Eunji sudah tak tahan, dan merasa Dosen Hong terlalu menganak emaskan Jiyeon.

 “ Benar. Seharusnya ia sudah menyiapkan lagu pilihannya, bagaimana mungkin ia akan menjadi salah satu kontestan kompetisi itu ? tidakkah ia akan mempermalukan kampus ini nanti eoh ? “ Sambut Irene tak kalah gemasnya.

 ” Iya benar “

”  Benar “

 ” Iya benar sekali “

Satu persatu teman-teman dikelas Jiyeon memprotes. Biasanya, ia akan menatap marah kepada orang yang berlaku tidak adil padanya, namun kali ini ia hanya diam dan pasrah. Delapan kali bukanlah kesempatan yang sedikit, seharusnya ia tahu diri sejak kesempatan kedua gagal ia lakukan.

“ Semuanya tenanglah !!!! “ Teriak Dosen Hong menenangkan, ia kemudian memandang Jiyeon dengan sedikit kekecewaan terpancar dari matanya “ Jiyeon-aa. Ada apa ? “

“ Maaf. Aku baru menentukan lagu itu pagi ini. Maafkan aku “

Jiyeon membungkuk memohon maaf. Ia terpaksa berbohong. This Love adalah lagu kesukaan eommanya. Setiap malam ketika berkumpul diruang keluarga,  ia menyanyikannya dengan diiringi dentingan piano sang appa. Eommanya sangat menyukainya, bahkan Jeo Min bilang ia menyanyikannya lebih indah dari Davici. Pujian Jeo Min mungkin hanya untuk menghibur Jiyeon, buktinya hari ini ia benar-benar buruk menyanyikan lagu yang seharusnya indah itu.

Sementara itu, meski headset terpasang dikedua telinganya, bukan berarti Myungsoo tak tahu apa yang terjadi dikelas. Hanya saja ia berusaha untuk tidak lagi peduli terhadap hal-hal apapun yang berhubungan dengan Jiyeon. Bahkan, ia memilih untuk tidak menatap Jiyeon. Hingga yeoja itu berjalan melewati kursinya, Myungsoo tetap bergeming dan asik sendiri.

Aneh ? tentu saja, karena tak sekalipun Jiyeon pernah lolos dari ejekannya. Terlebih jika yeoja itu melakukan kesalahan, itu kesempatan besar baginya untuk mengolok-olok Jiyeon. Myungsoo telah memikirkannya, bahwa mulai hari ini ia tak lagi pantas untuk menyentuh sedikit saja Park Jiyeon, bukan karena hyungnya melainkan ia tak ingin lebih dalam membenci yeoja itu.

Rumah Sewa Jaejoong,

Tubuh Jaejoong tertelungkup diambang pintu. Matanya enggan terbuka karena tubuhnya terasa remuk. Tak juga bisa tertidur hingga menjelang pagi, ia akhirnya menenggak beberapa botol bir dan  akhirnya tertidur dalam keadaan mabuk. Kini ia tersadar, dan melihat jam menunjukkan pukul sebelas siang,  Jaejoong memaksa tubuh lemahnya untuk bangkit.

Jaejoong menyampirkan handuk dipundaknya, berjalan menuju kamar mandi. Dilihatnya keadaan sekitar sangat sepi. Jaejoong berdiri untuk memandang sejenak rumah Jiyeon. Pintu dan jendelanya tertutup rapat.

“ Paman hantu !!! “

Jaejoong menoleh, Jeo Min sudah dihadapannya muncul entah darimana. Disamping Jeo Min, harabeoji sedang asyik menikmati choco pie, seolah didunia ini hanya ada pria tua itu dan choco pienya saja. Jaejoongpun bergerak hendak meneruskan langkah menuju kamar mandi, ia tak ingin mendengar pertanyaan Jeo Min tentang mengapa ia menatap kediaman gadis kecil itu.

“ Kau mencari eonni ? “  Tanya Jeo Min.

Mendengar nama gadis itu disebut, membuat sendi-sendi tulang Jaejoong menegang. Ia berhenti dan kembali menoleh kearah Jeo Min “ Ahni. Aku ingin ke kamar mandi “ Ucapnya dengan sikapnya yang terlihat kaku menutupi kegugupan.

Jeo Min nampak heran melihat Jaejoong yang seperti tak nyaman berdiri dihadapannya, tiba-tiba juga ia teringat eonnina yang sejak pagi bertingkah aneh “ Paman hantu kau tahu apa yang terjadi dengan eonni ? “ Tanya Jeo Min penuh selidik.

Jaejoong tak langsung menjawab. Mengapa Jeo Min bertanya seperti itu, apa ini ada hubungannya dengan kejadian semalam. Terlebih pertanyaan Jeo Min yang seolah menerangkan tentang keadaan yeoja itu “ Ahni…wae ? “ Tanya Jaejoong berpura-pura tak minat.

Mendengar jawaban Jaejoong yang seolah tidak tertarik, Jeo Min pun membalikkan tubuhnya dengan mengajak harabeoji serta.

“ Kajja harabeoji, kita bermain saja “

“ Waeyooooo ? “ Karena kesal dibuat penasaran, Jaejoongpun mengalah.

“ Heeeeee, gwenchana “ Jeo Min menunjukkan cengirannya, tidak berapa lama wajahnya berubah sangat serius “  Pagi ini eonni berkali-kali menyikat bibirnya hingga memerah, bahkan pasta gigi sampai habis ia gunakan, eonni bilang bibirnya terkena virus, oleh karena itu ia harus membersihkannya “

“ Uhuk-uhuk “ Jaejoong sampai tersedak air liurnya sendiri mendengar cerita Jeo Min.

Wajah Jaejoong sontak saja memerah. Bukan karena malu, namun ia merasa marah dengan apa yang Jiyeon katakan. Jadi gadis itu anggap bibirnya mengandung virus yang bisa menularkan penyakit. Jaejoong berkacak pinggang dan menggeleng bersamaan, memandang kembali rumah Jiyeon.

“ Paman hantu, maukah kau memberikan obat untuk mengusir virus dari bibir eonni ? Aku tidak ingin ia sakit. Aku mohon “ Ucap Jeo Min dengan nada sedih yang memohon.

Jaejoong menarik nafasnya, mencoba menurunkan emosinya..

“ Jika sakit maka harus menemui dokter. Suruh eonnimu pergi dan bertemu dengan dokter “ Dan Jaejoongpun masuk kedalam kamar mandi dengan membanting pintunya keras membuat harabeoji hampir tersedak dengan choco pie ditangannya.

“ Harabeoji……gwenchana ? “ Jeo Min menepuk-nepuk punggung harabeoji.

“ Uhuk-uhuk-uhuk. Gwenchana, aku benci dengan paman hantu. Ia benar-benar seperti hantu. Aku tidak ingin memiliki menantu sepertinya “ Cerocos harabeoji.

“ Sebenarnya paman hantu orang baik, hanya saja ia sangat sensitif,  seperti eonni ketika awal bulan tiba “ Ucap Jeo Min terkikik dengan ucapannya sendiri.

“ Yyaaa !!!! “

Jaejoong muncul kembali tiba-tiba. Ia menguping pembicaraan Jeo Min dan harabeoji.

“ Harabeoji, ayo kita masuk kau harus minum “ Jeo Min menarik harabeoji untuk pulang kerumah, mengabaikan Jaejoong yang hendak memarahinya.

“ Pantas jika anak itu menyebalkan. Eonninya saja sangat menyebalkan “ Geram Jaejoong bertolak pinggang , ia menatap Jeo Min tajam yang menyeret harabeoji untuk masuk kedalam rumah.

Kyunghee University ~ Toilet wanita,

“ Mengapa aku lupa membawanya ? “

Sooji terlihat panik tak menemukan sehelai tisupun di dalam toilet, juga tak biasanya ia lupa menyimpannya dalam tas. Keadaan toilet sepi, tentu saja hanya ada kelas musik yang sedang menunggu pergantian kelas. Gadis cantik itupun hanya berdiam dan memutuskan bersabar menunggu sampai ada orang yang akan menolongnya.

Trekkk

Terdengar suara pintu dibuka, dan seseorang melangkah masuk.

“ Chogiyo !!! mianhae, apa kau bisa membantuku ? Aku tidak menemukan tisu disini, apa kau bisa memberikannya padaku ? “ Mohon Sooji sedikit merasa lega karena akhirnya ada yang datang.

Sayangnya, tak ada jawaban. Hanya bunyi kucuran air kran yang mengalir deras. Sooji tetap sabar menunggu hingga orang itu selesai dengan aktivitasnya. Tidak berapa lama terdengar langkah kaki mendekat,  seseorang memberikan tisu dari bawah pintu. Sooji tersenyum dan dengan cepat mengambilnya.

“ Ah gomawo “ Ucap Sooji lega.

Selesai dari toilet, Sooji mencari sosok yang baru saja membantunya, namun hanya punggungnya yang terlihat sebelum akhirnya gadis itu keluar dan menghilang di balik pintu.  Sooji mempercepat gerakannya.

“ Jiyeon ? “ Ucap Sooji pelan, ternyata gadis pendiam itu yang menolongnya.

Sooji berlari-lari kecil dan mensejajarkan diri dengan gadis yang ia anggap sangat misterius. Park Jiyeon, teman sekelas Kim Myungsoo.

“ Jiyeon-ssi gomawo “ Sooji menundukkan kepalanya mengucapkan terimakasih, ia sudah berjalan sejajar dengan Jiyeon.

Jiyeon hanya menoleh sekilas tanpa menghentikan langkahnya. Seingatnya ia tak pernah memberitahu siapa namanya pada Sooji ketika yeoja ini berusaha dekat dengannya. Apa yeoja ini mencari tahu tentangnya ?

“ Gomawo “ Ulang Sooji karena Jiyeon tak kunjung bereaksi dengan ucapan terimakasihnya “ Eum kau masih ada kelas ? sekarang kau mau kemana ? “

Kali ini Jiyeon menghentikan langkahnya dan menatap Sooji tak nyaman. Sedangkan Sooji, ia tetap tersenyum bahkan kini ia mengulurkan tangannya kepada Jiyeon “ Mari kita menjadi teman “

Padangan Jiyeon menyusuri sosok Sooji dari ujung kepala hingga kakinya. Semua orang dikampus ini pasti ingin berteman dengan bidadari bersuara emas – julukan Sooji yang ia tahu – ini. Mengapa Sooji memintanya secara khusus untuk berteman ? Di dunia ini tidak ada kebaikan yang tulus menurut Jiyeon. Orang yang awalnya sangat tulus membantunya saja, akhirnya mempermalukan harga dirinya, entah mengapa nama Jaejoong terlintas dikepalanya.

“ Terimakasih, tapi aku lebih senang seperti ini “  Dan Jiyeon meninggalkan Sooji yang masih tersenyum untuknya.

Penolakan Jiyeon yang kedua kali, namun tak membuat Sooji berubah memandang buruk tentang Jiyeon. Dari buku psikologi yang pernah ia baca, ada beberapa alasan orang begitu dingin dan tertutup dari pergaulan, Jiyeon mungkin salah satu dari beberapa alasan itu. Trauma persahabatan, atau pribadi yang sulit ditaklukkan. Sooji memandang punggung Jiyeon dengan tetap tersenyum, namun wajahnya tiba-tiba berubah panik ketika seseorang berteriak kencang dari lantai atas dan sebuah pot bunga jatuh tepat ketika Jiyeon yang tidak menyadari situasi itu berjalan dibawahnya.

“ Jiyeon-ssiiii awassss !!!! “

Jiyeon seperti sadar akan sesuatu. Kepalanya reflek menengadah keatas, namun tubuhnya seolah kaku untuk menghindar ketika dilihatnya sebuah benda  jatuh dan segera akan mengenai wajahnya. Tapi siapa disana ? Pria yang berdiri dilantai atas, tempat jatuhnya pot bunga itu.

Prangggggg !!!!!!

“ Aarrgghhkk “

“ Ya Tuhannn !!!! “

Brukkkk

iyeon tersungkur. Ia meraba keningnya dan mendapati darah di telapak tangannya. Jiyeon tak sanggup melihat darah, kenangan terakhirnya dirumah sakit adalah mimpi buruk baginya. Kepala Jiyeon terasa pusing, samar-samar ia mendengar ramai suara orang menyebut namanya. Setelahnya pandangannya mengabur dan ia jatuh tak sadarkan diri.

“ Siapapun tolong bantu aku membawanya ke ruang kesehatan “ Sooji berteriak panik. Ia menyesal terlambat untuk menyelamatkan Jiyeon. Pot itu jatuh tepat mengenai kening  Jiyeon hingga gadis itu tidak sadarkan diri “ Yya !!! mengapa tak satupun dari kalian menolongnya, tolong cepat bawa Jiyeon “ Sooji merasa kesal karena banyaknya orang hanya mengasihani dan berbisik-bisik tentang Jiyeon.

“ Menyingkirlah !!! Biarkan aku membawanya “

Seorang pria muncul dari kerumunan, dengan cepat meraih tubuh Jiyeon untuk dibawa dalam gendongannya. Sooji merasa lega, namun juga ada perasaan lain yang enggan untuk ia sebutkan.

Kim Myungsoo, Sooji melihat wajah Myungsoo sama panik dengan dirinya. Tentu saja, bukankah Myungsoo adalah teman satu kelas Jiyeon ? Lagipula, situasinyapun tak memungkinkan untuk ia merasakan perasaan itu. Soojipun bangkit dan menyusul Myungsoo yang membawa Jiyeon ke ruang kesehatan.

Seoul ~ Rumah Sakit St.Marry,

Jaejoong berjalan menuju ruangan Dokter Kwon. Jika bukan pria hangat yang menjadi gurunya di Saint Marry ini, Jaejoong tidak akan mungkin repot-repot untuk kembali menjejakkan kakinya ditempat yang mengingatkan kembali dirinya pada sosok Nana. Setiap jengkal langkahnya wajah Nana selalu terbayang, Jaejoong mempercepat langkahnya. Berharap tidak ada hal serius yang akan dibicarakan Dokter Kwon padanya.

Tiba depan ruangan Dokter Kwon, Jaejoong mengangkat tangannya ragu.

“ Masuk “ Terdengar suara dari dalam ruangan ketika Jaejoong mengetuk pintu “ Eoh Dokter Jae !!!! Lama tidak berjumpa, apa kabarmu ? hahahhaha “

Dokter Kwon sontak berdiri menyambut kedatangan Jaejoong dan memeluknya. Dari rona wajah pria setengah baya itu terlihat jelas kebahagian. Jaejoong membalas pelukan Dokter Kwon dengan perasaan sedikit tegang.

“ Silahkan duduk. Ada sesuatu yang serius yang ingin aku sampaikan padamu “

Dahi Jaejoong mengernyit melihat wajah Dokter Kwon berubah serius.

“ Aku mohon kembalilah pada dunia kedokteran. Aku yakin ini adalah cita-citamu   “

Jaejoong menatap Dokter Kwon kosong, setelahnya ia membuang nafas pelan. Menjadi seorang dokter memang cita-citanya sejak kecil. Jaejoong orang yang senang untuk menolong, meski ia enggan orang akan tahu jika ia menolongnya. Permintaan Dokter Kwon bukanlah sesuatu yang bisa dengan cepat ia pikirkan jawabannya.

“ Tidak disini. Aku tahu kau lahir dan besar di Hwanghee, oleh sebab itu aku memanggilmu mengabdi untuk tempat kelahiranmu. Aku membutuhkan seorang ahli bedah disana menemani satu dokter yang baru saja praktek, dia lulusan Amerika, walaupun ia pintar dibutuhkan seorang senior untuk membimbingnya “ Ucap Dokter Kwon. Sedikit putus asa karena Jaejoong sepertinya sulit untuk menerima penawarannya “ Aku mohon. Demi instansi kita “

Jaejoong terkejut Dokter Kwon sampai berdiri dan membungkuk memohon padanya. Ia memang belum menentukan masa depannya, namun menjadi dokter Jaejoong merasa ia bukan seorang laki-laki yang senang menjilat ludahnya sendiri.

Kyunghee University ~ Ruang Kesehatan,

Hampir satu jam Jiyeon tak sadarkan diri. Selama itu pula Sooji setia berada disampingnya. Tak peduli kampus telah sepi dan eommanya akan memarahinya, karena terlambat pulang, Sooji merasa bertanggungjawab dengan kecelakaan yang menimpa Jiyeon.

“ Eerrgghhh “

Wajah Sooji berubah tenang ketika melihat Jiyeon sepertinya telah sadarkan diri “ Jiyeon-ssi, kau sudah sadar ? “ Sambut Sooji lega.

Jiyeon memijit keningnya yang terasa pening. Ketika matanya terbuka sempurna, Sooji adalah orang pertama yang ia lihat dan memegang erat tangannya.

“ Aku…”

Jiyeon menggantungkan kalimatnya dan memilih untuk menahan rasa penarasan dengan apa yang terjadi pada dirinya, mereka tidak dekat meski faktanya Sooji adalah satu-satunya orang yang menjaganya. Dilihatnya Sooji juga ingin mengatakan sesuatu, namun gadis itupun mengalihkan dengan mengambil botol mineral dan menyodorkannya pada Jiyeon.

Jiyeon menerima minuman yang diberikan Sooji. Tangannya tak sengaja meraba kening dan menemukan perban disana. Perban ? Jiyeon tidak ingin Jeo Min dan harabeoji khawatir, ia pun memaksa melepaskan namun dengan cepat Sooji mencegahnya.

“ Itu membantumu menyembuhkan luka lebih cepat “ Ucap Sooji.

Jiyeonpun tak lagi keras kepala. Hening. Keduanya terlihat sama-sama tidak tahu apa yang harus dibicarakan.Jiyeon mencoba mengingat-ingat sendiri apa yang telah terjadi, namun ketika itu dilakukannya, kepalanya semakin terasa pusing.

“ Jangan memikirkan apapun, kau harus merasa relax. Oh ya, minumlah susu itu “ Sooji meraih cepat susu kotak diatas nakas samping Jiyeon.

“ Aku tidak menyukai susu “ Tolak Jiyeon terdengar lebih halus dibandingkan sikap sebelumnya pada Sooji “ Terimakasih “

Sooji tersenyum, ia berharap ini adalah awal Jiyeon menerimanya sebagai teman. Sooji juga tidak tahu apa yang membuatnya tertarik berteman dengan Jiyeon. Ketika hari itu ia melihat Myungsoo berbincang, ada sedikit rasa penasaran Sooji pada Jiyeon, namun ia tak mau disebut hanya memanfaatkan Jiyeon utuk kepentingan pribadi. Ia bukan oarang yang seperti itu.

“ Oh ya, Myungsoo yang membawamu kesini “

Jiyeon tak segera bereaksi ketika nama Myungsoo disebut oleh Sooji, namun tak lama kemudian wajahnya berubah ketika mengingat sesosok pria dengan wajah datar berdiri di lantai atas kampus kembali hadir.

 “ Kim Myungsoo !!! “ Ucap Jiyeon dengan suara yang bergetar menahan kekesalan.

Jiyeon memaksa tubuhnya untuk bangun, kali ini ia memandang Sooji kesal karena mencegahnya dan merasa paling tahu tentang keadaannya, ia tak suka diperlakukan seperti seorang pesakitan.

“ Jiyeon-ssi, biar aku membantumu “ Sooji dengan sigap bangkit dan hendak menolong jiyeon untuk meninggalkan ruang kesehatan.

“ Kau juga melihatnya kan ? “

Sooji tak mengerti apa yang sedang Jiyeon bicarakan.

“ Dia yang melakukannya padaku. Kim Myungsoo yang membuatku celaka “ Ucap Jiyeon dengan nada yang terdengar bergetar menahan marah.

“ Tidak mungkin “ Ucap Sooji menggeleng tak percaya.

Jiyeon memandang aneh Sooji yang seolah membela Myungsoo. Apa yeoja ini adalah kekasih Kim Myungsoo.

“ Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan hal seperti itu pada temanmu ? Myungsoo, bahkan ia yang membawamu kesini, disaat semua hanya menatap mengasihanimu “

Jiyeon terdiam. Bukan karena ia menyesal telah menuduh Myugsoo, ataupun terharu dengan sikap pria yang Sooji ceritakan itu. Jiyeon tak habis pikir dengan tindakan Myungsoo. Mencelakai dan menolongnya disaat yang bersamaan. Apa sebenarnya yang direncanakan seorang Kim Myungsoo ?

“ Kau tidak tahu permusuhan diantara kami. Dia adalah pria yang tega melakukan apapun padaku, terlebih ia ingin sekali mengalahkanku dalam kompetisi nanti. Tch, kotor sekali caranya “

“ Lalu apa yang sekarang ingin kau lakukan ? “ Tanya Sooji begitu khawatir melihat kemarahan dimata Jiyeon.

“ Mencarinya ! “ Jiyeon memaksa tubuhnya untuk bangkit meski dengan susah payah.

Keyakinan Sooji sedikit luntur tentang Jiyeon yang sebenarnya baik.Ia memang tidak memiliki bukti jika Myungsoo tak bersalah, namun raut wajah Myungsoo yang khawatir ketika Jiyeon terluka, dan usahanya untuk berlari tak peduli orang-orang berbisik-bisik dengan tindakannya tak Myungsoo pedulikan. Mengapa tidak dirinya saja yang terluka ? Agar apa yang Myungsoo lakukan tidak terasa disia-siakan.

” Mungkin sekarang hanya tinggal kita berdua “ Ucap Sooji.

Sudah sore, tentu saja kampus saat ini tidak lagi ada orang. Jiyeon meneruskan langkahnya dan tak peduli dengan Sooji yang tetap mengekornya.

“ Apa kau ingin aku antar pulang ? “

“ Aku bisa melakukannya sendiri “ Ketus Jiyeon

Perusahaan Kel.Bae,

“ Iya. Soo Ro ingin bertemu dengan putrimu. Ia bilang  lebih cepat bertemu lebih baik “ Ucap Yoo Sun diseberang sana.

Wajah Mi Sook merona merah, padahal perjodohan ini adalah untuk putrinya, namun rasanya ia yang mengalami kebahagian. Lampu merah tidak hanya dari Yoo Sun, namun juga Kim Soo Ro suami sahabatnya itu. Ini merupakan kabar gembira, menjadi bagian keluarga Kim pasti sungguh sangat menyenangkan untuk masa depan putrinya kelak.

” Suatu kehormatan bagiku khususnya putriku. Ini sangat cepat, apa kau sudah memberitahukan putramu mengenai hal ini ? “ Ucap Mi Sook lembut tak ingin terlihat jika ia sangat bahagia.

“ Belum, kami sengaja membuatnya berjalan normal. Bagaimanapun kami tidak ingin memaksa Myungsoo dalam hal ini “

Mi Sook terdiam sejenak. Sedikit khawatir dengan kalimat tidak ingin memaksa yang keluar dari bibir Yoo Sun. Apa kelak jika putranya menolak maka rencananya akan gagal ? Ia memang tidak pernah memikirkan akan ada seorang pria yang menolak jika dijodohkan dengan putrinya, namun karena ini merupakan keluarga Kim, Mi Sook sedikit khawatir rencananya tak berjalan seperti yang ia bayangkan.

“Baiklah, besok malam kita bertemu. Aku tahu restaurant itu, kau benar-benar menyiapkan semuanya sangat istimewa, gomawo Yoo Sun-aa “

Mi Sook menutup sambungan telepon dan tersenyum begitu bahagia. Rencananya berhasil, malam ini mungkin merupakan awal kebahagiannya, juga putrinya. Mi Sook pun belum membicarakan hal ini pada Sooji, namun Mi Sook yakin Sooji dan Myungsoo akan saling menyukai.

Mi Sook meraih ponsel diatas meja kerjanya dan mulai mengetikkan pesan disana.

Kyunghee University ~ Koridor Kampus,

Myungsoo segera bersembunyi di balik dinding kelas ketika satu diantara dua yeoja yang berjalan di koridor itu menoleh. Ia berharap tidak Sooji terlebih Jiyeon mengetahui jika ia membuntuti keduanya. Myungsoo telah berhasil menekan keinginannya untuk berada disisi Jiyeon, menunggu yeoja itu tersadar meski perasaannya begitu khawatir.

Ia tak ingin ketika Jiyeon tersadar, yeoja itu marah karena ada dirinya disekitar gadis itu, meski faktanya Myungsoolah yang menolongnya, membawa gadis itu ke ruang kesehatan untuk segera ditangani dokter.

Kekhawatirannya perlahan berubah menjadi rasa syukur ketika pintu terbuka dan melihat Jiyeon keluar dari ruangan, meski kepala gadis itu dibalut perban setidaknya gadis itu masih bisa dilihatnya. Tatapan Myungsoo tak lepas menatap nanar punggung gadis bersurai sebahu yang berjalan cukup jauh didepannya.

“ Huh “ Tak berapa lama Myungsoo tersenyum sinis menanggapi perasaannya. Ia pun berbalik arah, berjalan berlawanan dengan Jiyeon dan Sooji yang meninggalkan kampus.

Rumah Sewa Jaejoong – Halaman Rumah,

“ Harabeoji apa kau melihat ada tanda-tanda kehidupan disana ? “ Bisik Jeo Min sebelah matanya tertutup untuk melihat jelas kedalam ruangan dari celah kayu dinding kamar Jaejoong.

“ Obseyo. Sepertinya paman hantu tidak ada didalam “ Ucap harabeoji yang berada disamping Jeo Min, mengintip kamar Jaejoong.

“ Hahhhhhh…..ini sungguh membosankan. Kemana perginya paman hantu ? Harabeojiiiii, mengapa kau tidak bisa melakukan apapun ? bahkan itu sebuah permainan sederhana….ahhhh bosan sekali “ Keluh Jeo Min.

Harabeoji menunduk sedih. Ia memang hanya mengikuti saja Jeo Min menjalankan batu-batu kecil dari permaina gongginori – permainan tradisional korea dengan menggunakan kerikil – tanpa memikirkan strategi untuk mengalahkan Jeo Min. Ia pikir dengan begitu saja Jeo Min akan senang bermain dengannya.

“ Aku akan belajar “ Ucap harabeoji sungguh-sungguh

Jeo Min menatap harabeoji lemah “ Sudahlah, meskipun begitu harabeoji tetap saja tidak bisa mengimbangi permainanku “

Jeo Min meninggalkan harabeoji menuju beranda rumahnya. Harabeoji tak patah semangat untuk mengikuti Jeo Min. Di beranda, keduanya menopang dagu diatas lututnya, berharap Jiyeon segera pulang. Jeo Min ingat eonninya tadi bilang akan mampir sebentar ke pasar untuk membantu orang-orang mengangkut barang belanjaan dan akan pulang membawakan makan sore untuk mereka.

Perut Jeo Min dan harabeoji saat ini sudah sangat kenyang. Pagi tadi Jaejoong memberikan banyak makanan untuk keduanya, bahkan untuk Jiyeon jika pulang beraktivitas nanti. Meskipun Jeo Min dan harabeoji sering mengganggunya, namun Jaejoong tak berhenti berbuat baik pada mereka.

Jiyeon melarang Jeo Min dan harabeoji untuk menerima cuma-cuma pemberian Jaejoong, Jeo Min mengabaikannya. Ancaman Jaejoong lebih mengerikan daripada eonninya sendiri. Oleh karenanya Jeo Min tidak berani menolak apapun pemberian Jaejoong. Untuk yang kesekian kalinya, Jeo Min menoleh kearah rumah Jaejoong. Gelap dan tertutup rapat, namun Jeo Min tetap mendatanginya lagi dan memanggil-manggil nama paman hantu.

“ Jiyeon-aa !!! “

Teriakan harabeoji membuat Jeo Min menoleh ke arah pagar rumah. Ia terkejut melihat kepala eonninya dibalut perban dan nampak ada darah disana.

“ Eonni kau kenapa ? Apa yang terjadi padamu ? “

Jeo Min dan harabeoji menghambur bersamaan dan menangis memeluk Jiyeon. Yang dipeluk hanya tersenyum melihat reaksi berlebihan adik dan kakeknya. Jiyeon membawa Jeo Min dalam gendongannya, meski sangat berat dan ia begitu lelah, Jiyeon senang melakukannya. Memanjakan Jeo Min merupakan hiburan tersendiri baginya.

“ Harabeoji, ini choco pie untukmu “ Jiyeon mengambil choco pie dari kantong ditangannya, harabeoji mengambilnya dengan senang hati.

” Jeo Min-aa nan gwenchana, ini bukan apa-apa. Ini hanya bagian dari kelas akting. Sudahhhh jangan menangis eoh “ Hibur Jiyeon mengusap airmata Jeo Min.

” Jeongmalyo…hiks…hiks. Kalau begitu boleh aku menyentuh keningmu hiks..hiks ? “ Tanya Jeo Min masih menangis.

“ Eoh “

Jiyeon menyiapkan nafasnya, bersiap untuk menahan perih jika Jeo Min memegang keningnya.

“ Aku juga “

Plak

Tangan harabeoji dengan cepat menempel dikening Jiyeon. Karena terlalu bersemangat hingga itu seperti pukulan dikening Jiyeon. Kali ini Jiyeon tak kuasa menahannya, ia meringis sakit.

“ Awwww “

 “ Mianhae “ Cengir harabeoji.

Melihat kepolosan harabeoji, Jiyeon mengurungkan untuk membentaknya. Ia kemudian tersenyum dan memeluk harabeoji hangat. Berpura-pura demi kebahagian adik dan harabeoji bukan hal sulit bagi Jiyeon . Ia sudah terlatih melakukannya, meski kadang ia mengabaikan perasaan sedihnya. Itu lebih baik.

“ Apa kau sudah mandi ? apakah bersih ? eoh, sepertinya tidak ? kajja mandi lagi !!“ Jiyeon menggoda Jeo Min dengan mencium-cium wajah hingga tubuh Jeo Min, membuat adiknya meronta-ronta karena geli.

“ Hahahhaa, eonni….aku sudah besar dan bisa melakukannya dengan baik….hahaha “

“ Sudah besar ? Pantas kau sangat berat. Turunlah “ Jiyeon menurunkan Jeo Min.

Ketiganya masuk ke dalam rumah, baru saja Jiyeon akan duduk tak sengaja ia mendapati wajahnya dicermin yang ia gantung didinding. Tatapan pertamanya jatuh pada perban dikepala, kemudian tanpa sadar menelusur kebawah hingga pandangannya jatuh tepat dibibirnya. Entah apa yang sedang ia pikirkan wajah Jaejoong yang menciumnya dengan penuh kelembutan terlintas seperti nyata. Jiyeon gugup dan langsung menutupi bibirnya, Jeo Min yang melihatnya mengerutkan dahinya.

“ Waeyo ? apa bibir eonni masih sakit ? Coba kulihat ? “

“ Ahniyo !!! “ Jiyeon spontan menggunakan telapak tangannya untuk menutup bibirnya. Jantungnya berdegup kencang.

Jeo Min dan harabeoji saling bertatapan “ Eonni, kau harus menemui dokter, jika tidak maka virus itu akan menyebar dan membahayakanmu. Itu ….yang paman hantu katakan “

“ Mwoooo ???????? “ Jiyeon terlonjak kaget “ K-kkau bercerita pada paman hantu apa yang sudah kukatakan ? “ Wajah Jiyeon memucat. Belum selesai masalahnya dengan dokter itu, kini apa yang akan dokter itu pikirkan tentang kalimatnya ?

” Iya. Paman hantu bilang eonni harus berani bertemu dengan dokter. Eonni apa kau takut pergi ke rumah sakit ? Kalau begitu temuilah paman hantu, bukankah ia juga seorang dokter ? “

Tubuh Jiyeon terasa lemas. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan jika bertemu dengan Jaejoong.

Rumah Sewa Jiyeon,

Jiyeon seperti sedang bermain petak umpat. Di hadapannya satu buah ember pakaian sudah siap untuk ia jemur, namun Jiyeon harus memastikan bahwa ia tidak akan bertemu Jaejoong. Jiyeon kembali mengintip dari balik jendela. Terlihat sepi. Buru-buru Jiyeon menyeret embernya dan bersiap untuk menjemur, namun tiba-tiba terdengar suara dari arah rumah Jaejoong, seperti orang bodoh Jiyeon kebingungan dan spontan mengangkat ember yang sebenarnya sangat berat. Ia pun masuk kembali agar tak terlihat Jaejoong. Tak peduli Jeo Min dan harabeoji memandangnya aneh Jiyeon hanya bisa melakukan hal itu sekarang ini.

api ketika ia mengintip kembali dari jendela, hanya seekor kucing yang menabrak sebuah botol. Jiyeon menggeram kesal dan membuang nafasnya lelah. Sampai kapan ia harus seperti ini ?

Bersikap seperti tak terjadi apa-apa, sepertinya sulit untuk ia lakukan. Memilih menghindar seperti sekarang ini, tidak mungkin akan selamanya, kecuali satu diantara mereka memilih untuk tak lagi tinggal disana, hal itu lebih dinilai tidak mungkin.

“Michiesseo…. michiesseo….. michiesseo “ Jiyeon memukul-mukul pelan kepalanya merasa kesal sendiri dengan sikapnya.

Jiyeon mempercepat gerakannya, meski ia yakin bahwa tidak akan ada orang yang melakukan pekerjaan diluar selarut malam ini seperti dirinya, tetap saja ia harus berjaga-jaga dari kemungkinan itu. Sekali lagi ia tak berniat untuk menghindar dari Jaejoong, ia hanya belum siap saja.

“ Huh “ Ucapnya seraya menghembuskan nafas lega.

Tiga utas tali yang terikat pada satu batang pohon menyambung ke batang pohon lainnya telah penuh dengan pakaian yang sejak pagi tadi ia cuci. Jiyeon buru-buru mengangkat ember kosong dan bersiap membawanya masuk. Namun suara pintu pagar yang di geser seseorang membuat perasaannya berubah gugup. Jiyeonpun mengambil ancang-ancang untuk bersiap lari….

“ Apa kau berniat menghindariku ? “

Jiyeon berjengkit kaget. Hal pertama yang ia lihat dihadapannya adalah bayangan tubuh tegap seseorang yang ada dibelakangnya. Jiyeon tahu itu Jaejoong. Butuh waktu lima belas detik untuk Jiyeon memberanikan diri membalikkan tubuh.

Sementara, Jaejoong berdecak tak percaya ketika Jiyeon berbalik, ia melihat yeoja itu menutupi wajahnya dengan masker “ Apa kau takut aku melakukannya lagi ? “ Ucap Jaejoong mendekatkan wajahnya pada Jiyeon hingga yeoja itu mundur beberapa langkah, dan betapa terkejutnya Jaejoong ketika Jiyeon lari dari hadapannya.

Jaejoong benar-benar marah dibuatnya, ia mendongak menatap langit, berkacak pinggang dan menghembuskan nafasnya kasar.

“ Lupakanlah !!! Anggap aku tak pernah melakukannya padamuuuuu….“

Tepat ketika Jaejoong berteriak, Jiyeon menghentikan larinya. Ia pun menoleh kasar dan menatap Jaejoong takjub. Tak ada kata maaf yang diucapkan pria itu dengan penuh penyesalan. Jaejoong mengatakannya seolah apa yang telah ia lakukan adalah hal biasa yang tak perlu dibesar-besarkan. Senyum mengejek terukir di hati Jiyeon, jadi apa gunanya ia memikirkan peristiwa itu sampai dengan saat ini bahkan bertingkah seperti orang bodoh, jika Jaejoong saja tak peduli dengan perasaan malunya.

“ Mengapa dokter berpikir jika aku mengingatnya ? Tanpa dokter suruh, aku tidak sedikitpun mengingatnya “

“ Lalu untuk apa kau menyikat bibir dan menghabiskan pasta gigi jika memang benar kau sudah melupakannya ? dan masker itu ? “ Jaejoong perlahan mendekat ke arah Jiyeon.

Rasanya ingin sekali Jiyeon menenggelamkan diri dibalik kaosnya. Lupakan tentang ia memakai masker, Jiyeon bisa beralasan jika ia sedang terserang flu. Darimana Jaejoong tahu jika ia menyikat bibirnya dan menghabiskan banyak pasta gigi ? Apa pria ini sebenarnya terus memperhatikannya.

“ Wae ? Apa kau akan bilang bahwa aku menularkan virus padamu ? “ Kini Jaejoong sudah berada tepat dihadapan Jiyeon.

Jiyeon ragu untuk terus menatap Jaejoong, namun memilih untuk tetap melakukannya. Jeo Min. Mengapa adiknya harus menceritakan pada Jaejoong tentang hal memalukan itu. Jadi siapa kini yang harus marah ? dirinya pada Jaejoong atau Jaejoong pada dirinya ?

“A-aappun yang aku lakukan, apa hakmu melarangku ? “ Ketus Jiyeon, namun nyalinya sedikit ciut ketika Jaejoong mendekatkan wajahnya dan memegang kuat kedua bahunya. Apa dokter ini akan melakukannya lagi.

“ Apa kau ingin aku melakukannya lagi ? “ Ucap Jaejoong berniat mengerjai Jiyeon.

Mata Jiyeon terbelalak, namun sebisa mungkin ia mengontrol degup jantungnya“ SS-Sudah ma-lam. Aku harus tidur. Selamat malam “

Karena jantungnya terus berdebar saat Jaejoong melakukannya, Jiyeon pergi dari hadapan Jaejoong. Tapi karena masih jengkel, Jiyeon sengaja menabrak cukup keras bahu Jaejoong. Membuat Jaejoong mengernyit tak paham dengan sikapnya.

“ Mianhae !!! “

Jiyeon berhenti melangkah, namun ia tidak ingin menoleh.

Jika tidak mengalah, maka semuanya tidak akan selesai. Jaejoong paham bagaimana sifat yeoja, ia pun memutuskan untuk kembali menghampiri dan sedikit bersikap lunak pada Jiyeon.

“ Mari kita bicara “

Mobil Jaejoong,

Kalimat yang sudah berada diujung lidah tertahan ketika mereka bersama. Untuk menatap wajah masing-masingpun sampai-sampai tidak berani mereka lakukan. Jiyeon sendiri berusaha untuk tidak kembali terlihat memalukan dihadapan Jaejoong, kalimat bahwa bibir Jaejoong mengandung virus seharusnya tidak sampai dokter itu dengar. Jiyeon melirik Jaejoong yang berada disebelah dengan ekor matanya. Pria itu juga diam, namun terlihat lebih tenang dibandingkan dirinya.

Sementara Jaejoong berpikir bahwa gadis dengan karakter seperti Jiyeon akan membutuhkan waktu cukup lama untuk melupakan kejadian memalukan yang dialaminya. Dugaannya salah, gadis dihadapannya ini memang sulit ditebak. Wajah polos yang menunjukkan kelemahan, harus Jaejoong akui justru sebaliknya, gadis ini begitu kuat. Sikap diam dan tak banyak bicara  yang menunjukkan jika gadis seperti ini kebanyakan pemalu, nyatanya kini sudah ada dihadapannya.

“ Eummm…katakan sesuatu agar aku tidak berpikiran buruk tentang dokter “ Ucap Jiyeon terdengar ragu untuk memulai pembicaraan.

Jaejoong menoleh kearahnya, sebelum akhirnya kembali mendongak menatap langit yang bertabur bintang “ Aku, tidak memiliki alasan untuk melakukannya “

Dahi Jiyeon berkerut. Berharap ada kalimat lebih rinci dari Jaejoong untuk menjelaskannya.

“ Aku tidak bermaksud sama sekali melakukannya padamu. Aku melihatnya, sejak awal kalian datang dan duduk dihalaman rumah. Aku masih berdiam diri ketika ia memegang tanganmu “ Jaejoong mendapati wajah Jiyeon terlihat tak nyaman dengan kalimatnya yang menjelaskan perlakukan Tuan Ma “ Ku pikir kalian saling menyukai “

Jiyeon terlihat ingin memprotes kalimat Jaejoong, namun ia putuskan untuk tetap mendengarkan.

“ Aku baru menyadari jika ada yang tidak beres ketika kau meronta. Aku memang bukan siapa-siapa diantara kalian, tapi melihat seorang yeoja teraniaya didepan mataku, kurasa tidak ada pria normal yang hanya akan berdiam diri…. “

“ Gomawo “ Ucap Jiyeon cepat memotong kalimat Jaejoong. Entah mengapa kalimat Jaejoong seperti menunjukkan bagaimana pria ini yang sebenarnya, Jiyeon merasa bersalah ketika banyak prasangka buruk yang ia tuduhkan jika itu menyangkut Jaejoong.

“  Mianhae, jika cara seperti itu yang aku pilih untuk menjauhkan pria itu darimu. Aku hanya ingin kau hidup tenang bersama adik dan harabeojimu, tidak ada hal lainnya. Mianhe “ Ucap Jaejoong tertunduk terlihat penuh penyesalan.

Jiyeon tersenyum lembut, namun jauh dilubuk hatinya ada sedikit perasaan kecewa. Ia juga tidak tahu klarifikasi apa yang ingin ia dengar dari Jaejoong. Bukankah seharusnya ia merasa lega ? Setelah ini,  mereka akan kembali bisa bersikap seperti biasa, sebagai tetangga dekat. Tapi perasaan bingung, resah, tak bisa tidur dan jantungnya berdegup kencang setelah kejadian kemarin rasanya tidak adil sekali jika tiba-tiba hanya alasan ingin menolongnya saja yang ia dengar, meskipun kenyataannya memang seperti itu.

“ Eoh “ Ucap Jiyeon mencoba untuk mengulas senyum.

Jiyeon mengalihkan pandangannya pada telapak tangan Jaejoong yang ada disampingnya, meski ragu namun akhirnya ia  meraih dan menaruh tepat diatas telapak tangannya, ia menggenggamnya dengan perasaan bersyukur “ Dokter, anda….seperti seorang kakak laki-laki untukku. Tidak, bahkan kau seperti keluargaku lainnya, seperti eomma yang membuatku bertahan untuk tidak menangis. Seperti appa yang membuatku kuat. Kamsahamnida “ Kepala Jiyeon tertunduk hormat, dan airmatanya jatuh di telapak tangan Jaejoong.

Jaejoong tak pernah merasakan haru seperti ini, mendengar ada seseorang yang menempatkan dirinya secara khusus dihati mereka. Seorang kakak laki-laki untuk orang yang tidak ada hubungan darah, atau bahkan keluarga yang dia sendiri tidak yakin ia adalah anggota keluarga yang baik untuk keluarganya sendiri. Jaejoong tidak pernah mendengar sebelumnya. Sungguh ia tersenyum begitu lebar dalam hatinya.

Jiyeon menarik tangannya dari Jaejoong, keduanya kemudian hanya memandang langit dari dalam mobil Jaejoong yang kap atasnya terbuka. Suara jangkrik menjadi teman mereka. Mungkin membosankan hanya melakukan hal itu, tapi tak satupun dari mereka yang ingin memulai untuk beranjak.

“ Kau merubah gaya rambutmu ? “ Tanya Jaejoong dengan suara yang sangat lembut dan tetap memandang langit.

“ Eoh “ Balas Jiyeon singkat mengikuti arah pandang Jajeoong. Jiyeon tak ingin Jaejoong tahu bawa ia memberikan anak rambut didahinya hanya untuk menutupi luka, meskipun sebenarnya Jaejoong tidak akan mengkhawatirkan jikapun ia terluka.

Dan suasana pun kembali hening. Hanya mengandalkan suara-suara alam dan binatang malam. Awalnya Jiyeon hanya ingin menoleh ke arah Jaejoong, tak disangka ia terpenjara melihat ketampanan pria itu dari arah samping. Sepersekian detik ia melakukannya tanpa berkedip. Hingga…

“ Kenapa ? “

“ Apa ? Eoh….tidak apa-apa “ Jiyeon merasa tidak enak karena Jaejoong memergokinya.

Keduanya pun kembali memandang langit dengan perasaan lebih nyaman dari sebelumnya.

“ Sepertinya mau hujan “ Ucap Jiyeon lembut.

Jaejoong tersenyum “ Di langit banyak bintang, jadi tidak mungkin akan turun hujan “

Jiyeon mengangguk setuju dan tersenyum. Malam ini ia melihat sisi berbeda dari Jaejoong. Dokter disampingnya lebih banyak tersenyum, tak melulu berwajah dingin dan berkata ketus seperti kemarin-kemarin yang pria ini tunjukkan. Jiyeon harap ini adalah awal yang baik untuk kehidupan keluarganya kelak, meski sebenarnya kehidupan tidak ada yang tak tersentuh masalah.

Rumah Kel.Bae,

“ Nanti malam kita memiliki jadwal pertemuan dengan sahabat eomma “

Tangan Sooji berhenti memasukkan buku ke dalam tas ketika Mi Sook sang eomma memberitahu rencana perkenalan dirinya dengan anak laki-laki dari sahabat eommanya. Ia membuat nafasnya pelan agar tak terdengar.

Apa akan berakhir seperti ini lagi ? Memenjarakan keinginannya untuk memilih apa yang ia mau ? Mengapa hidupnya hanya tentang pilihan sang eomma.

“ Oh ya. Kau tidak perlu hadir les piano, karena butuh waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri. Ingat kau tidak boleh mempermalukan keluarga kita  “

Mi Sook menoleh ke arah Sooji yang tidak bereaksi apapun.

“ Kau tidak tertarik ? “ Tanya Mi Sook mencari raut wajah putrinya.

“  Aku mendengarnya eomma “  Jawab Sooji lembut tak ingin eommanya curiga.

“ Baiklah. Siapkan dirimu untuk bertemu dengannya sesempurna mungkin. Dan apa hari ini kau tidak ingin eomma mengantarmu ? “ Tanya Mi Sook menahan untuk keluar.

Sooji menggeleng dan membiarkan keningnya dikecup oleh sang eomma.  Tangannya meraih sebuah foto yang ia selipkan dibukunya. Kim Myungsoo, foto yang ia ambil ketika Myungsoo sedang bermain gitar ditaman menjadi penyemangatnya.

“ Aku berharap sekali jika duniaku yang seperti ini hanyalah mimpi. Dan hanya menginginkanmu yang membangunkanku dari mimpi buruk ini “ Jemari Sooji menyusur pelan diatas wajah Myungsoo.

Rumah Kel.Kim,

“ Tidak disini. Aku tahu kau lahir dan besar di Hwanghee, oleh sebab itu aku memanggilmu mengabdi untuk tempat kelahiranmu. Aku membutuhkan seorang ahli bedah disana menemani satu dokter yang baru saja praktek, dia lulusan Amerika, walaupun ia pintar dibutuhkan seorang senior untuk membimbingnya “

“ Jaejoong-aa…”

Jaejoong tersadar dari lamunannya ketika terdengar suara gelas yang diletakkan seseorang dimeja. Eommanya tersenyum begitu lebar menatap padanya.

“ Terima saja tawaran itu, kau bisa kembali tinggal disini bukan ? “ Ucap Yoo Sun antusias.

Jaejoong menatap tangannya yang dipegang erat oleh sang eomma, dengan raut wajah memohon. Seharusnya Dokter Kwon tidak menghubunginya ketika ia sedang berada dirumah, ataupun harusnya ia tidak meninggalkan ponselnya sembarang dan akhirnya eommanya yang mengangkat pertama kali panggilan dari Dokter Kwon.

“ Jangan memaksaku eomma “

“ Jaejoong-aa, kau tidak mau kembali menjadi dokter, sementara appamu menawarkanmu untuk meneruskan bisnisnya kau pun tidak mau, sebenernya apa yang ingin kau lakukan eoh ? “

” Aku tahu apa yang aku lakukan, aku akan tetap berguna jikapun tidak keduanya yang aku pilih “

“ Hah. Kau banyak berubah Jae-aa, kau tidak lagi memikirkan bagaimana perasaan orangtuamu….”

“ Kau sudah datang sepagi ini ? “

Jaejoong dan Mi Sook menatap ke arah datangnya suara. Myungsoo berdiri disana, dengan meletakkan kedua tangan didada dan tersenyum aneh melihat mereka. Mungkin hanya perasaan Jaejoong saja, ia menangkap pertanyaan Myungsoo terkesan sinis dan menyindirnya.

Myungsoo merasa emosinya muncul kembali ketika melihat Jaejoong, namun ia menyembunyikannya dengan senyuman palsu dibibirnya.

“ Myung-aa, bisakah malam ini kau ikut ? “ Ucap Yoo Sun yang terlihat seperti mengalihkan pembicaraan, padahal ia hanya teringat bahwa harus memberitahu Myungsoo tentang pertemuan dengan Mi Sook dan putrinya malam ini. Ia sengaja membuat semuanya seolah tidak direncanakan, jika tidak seperti itu Myungsoo pasti akan banyak alasan untuk menolaknya.

“ Kau juga Jaejoong-aa, kami ingin memperkenalkan kalian dengan sahabat lama eomma. Eoh sebenarnya ia sudah pernah kita undang, hanya saja ini lebih resmi “

Resmi ? Jaejoong seperti mengingat sesuatu. Pernah datang dan diundang makan malam ? Apa yeoja yang akan diperkenalkan pada Myungsoo ?.

“ Jika aku tentu saja akan ikut eomma, tapi hyung ? bukankah ia sibuk dan Seoul jauh dari Hwanghe ? “ Ucap Myungsoo tak mengalihkan sedikitpun tatapan tajam dan senyum misteriusnya dari Jaejoong.

Jaejoong masih bersikap tenang, meski ada yang ia pikirkan tentang sikap Myungsoo padanya. Jaejoong memang tak peduli Myungsoo sudah mengetahui ataupun belum tentang keputusannya berhenti menjadi seorang dokter. Ketika Jaejoong melirik sang eomma, terlihat sekali jika eommanya sangat gugup dan serba salah. Ia bisa membaca situasi bahwa eommanya ingin melindunginya. Ya, Jaejoong sangat tahu bahwa eommanya membedakan perlakuan dirinya dan Myungsoo. Dan Jaejoong sama sekali tidak berusaha membesarkan hati Myungsoo tentang sikap berbeda eommanya selama ini. Tapi baru kali ini Jaejoong menangkap nada sinis dari Myungsoo ketika menceritakan tentangnya.

“ Aku sedang tidak memiliki kegiatan saat ini “ Jawab Jaejoong akhirnya.

“ Ah tentu…hyung bisa mengambil cuti kapanpun bukan ? “

“ Myungsoo-aa, sebaiknya kau cepat pergi nanti kau akan terlambat “

Yoo Sun menghentikan pembicaraan mereka. Ia tak mau Myungsoo menertawakannya jika tahu bahwa Jajeoong tidak lagi menjadi seorang dokter. Titik terang itu masih ada, Yoo Sun berharap Jaejoong kelak mau kembali menjadi seorang dokter, agar ia tak merasa bersalah saat ini berbohong pada Myungsoo demi menjaga gengsinya.

Kyunghee University ~ Koridor Kampus,

Myungsoo merasa ada yang aneh dengan suasana kampus pagi ini, semua orang menatap dan berbisik-bisik dibelakangnya, entah apa yang mereka bicarakan. Ia rasa tak ada yang aneh dengan dirinya, ia tak merubah penampilannya sedikitpun.

Myungsoo mencoba tak mempedulikan apa yang ia lihat dan rasakan, namun ketika kakinya baru menginjak kelas…

“ Ini untukmu. Dosen Hong memintamu untuk ke ruangan rektor “

Myungsoo menerima surat pemanggilan untuk dirinya yang diserahkan oleh temannya. Dahi Myungsoo berkerut. Ia tak merasa melakukan apapun kali ini hingga harus berurusan dengan pihak kampus. Myungsoopun bergegas meninggalkan kelas, bukan karena ia taat perintah, ia hanya merasa sangat penasaran.

Ruang Rektor,

Myungsoo menggeleng dan tersenyum sinis bersamaan. Ia mengangkat wajahnya dan kini berbalik menatap dalam kearah Jiyeon. Kini keduanya saling jual beli tatapan. Jiyeon tak gentar begitupun dengan Myungsoo. Jelas hanya kemarahan yang Myungsoo lihat dari mata Jiyeon, dan iapun tak bisa menyembunyikan perasaan kecewa yang terpancar dari matanya. Tak menyangka setelah apa yang ia lakukan untuk menolong yeoja itu kemarin dibalas dengan sebuah dendam. Jiyeon melaporkannya pada pihak kampus bahwa dirinya yang berada dibalik kecelakaan yang yeoja itu alami.

“ Apa kau benar melihatnya Jiyeon-ssi ? “

“ Ya. Hanya dia satu-satunya yang berdiri disana “ Tegas Jiyeon tak melepas tatapan marahnya dari Myungsoo..

“ Apa kau lihat dia yang menjatuhkan pot itu ? “

Kali ini Jiyeon menoleh kearah rektor yang bertanya. Jiyeon diam untuk berpikir sejenak, namun memang tak seharusnya ia meragukan apa yang ia lihat ketika itu.

“ Ya. Aku melihat dialah pelakunya “

Myungsoo seperti tak mengenal Jiyeon, meski mereka bermusuhan dan hanya mengenal sikap Jiyeon yang membencinya dirinya, namun berbohong bukanlah yang bisa Jiyeon lakukan. Apa dendam bisa merubah segalanya ?

“ Kim Myungsoo. Kami bisa menjatuhkan sanksi yang berat jika kau benar melakukannya. Apa benar kau melakukannya ? “

Myungsoo tak lekas menjawab. Hanya menunjukkan wajah tenang ketika menatap rektor dan Dosen Hong yang memeriksanya. Sedetik kemudian mengalihkan tatapannya pada murid-murid yang dipanggil sebagai saksi dengan sinis.

“ Aku, ada disana ketika pot itu sudah terjatuh “ Ujar Myungsoo.

“ Dia bohong !!! Aku melihatnya menyenggol pot itu lalu akhirnya jatuh, mungkin ia tidak sengaja tapi tetap saja dia yang melakukannya “ Ucap Jiyeon berapi-api.

“ Jiyeon-ssi !!!! kami sudah cukup mendapatkan keterangan darimu, kau sudah bisa meninggalkan ruangan sekarang. Silahkan “ Tegas Rektor menyilahkan Jiyeon keluar.

Myungsoo benar-benar tak tahu bagaimana ia harus bersikap kini. Penyesalannya, mengapa Jiyeon harus menabuh genderang permusuhan lagi, ketika ia telah memilih untuk berdamai dengan hatinya tentang yeoja itu.

Koridor Kampus,

Myungsoo keluar dari ruang rektor dengan raut wajah yang sulit diartikan. Hukuman yang sangat berat, namun ia telah memilihnya. Sialnya , Myungsoo bukanlah seorang murid yang perkataannya mudah orang lain percaya, karena julukannya adalah pembuat onar.

Dosen Hong menentangnya, Myungsoo diminta untuk mengakui perbuatannya agar hukuman yang ia terima lebih ringan. Myungsoo bergeming untuk tetap pada pendiriannya. Ia sama sekali tak menentang ataupun melakukan pembelaan atas semua tuduhan yang menyudutkan dirinya karena mencelakai Park Jiyeon. Myungsoo tidak sama sekali khawatir dengan nama baiknya di kampus karena peristiwa ini. Kebenaran tidak akan pernah tertutupi lama oleh kepalsuan.

“ Myungsoo-ssi “

Myungsoo terkejut ketika Jiyeon sudah berada dihadapannya. Gadis itu masih memandang penuh marah padanya. Tatapan Myungsoo beralih pada gadis cantik dan anggun yang berdiri tepat dibelakang Jiyeon. Bae Sooji, gadis yang memanggil namanya.

“ Bagaimana keadaanmu ? “ Tanya Sooji cemas.

” Aku ? Apa ada yang menarik dari kisahku ? “ Santai Myungsoo berjalan melewati Jiyeon untuk berhadapan dengan Sooji.

“ Apa mereka menghukummu ? “ Tanya Sooji dengan nada sedikit bergetar. Entah mengapa ia merasa sedih melihat Myungsoo yang masih bisa bersikap biasa saja meski orang-orang menuduhnya.

“ Aku tidak akan ikut berkompetisi tahun ini dan bersaing dengan kalian. Selamat tinggal “ Ucap Myungsoo yang justru matanya tak lepas menatap punggung Jiyeon.

Jiyeon terkejut. Seberapapun ia membenci Kim Myungsoo, ia tidak menginginkan Myungsoo di blacklist dari kompetisi itu. Jiyeon membalikkan tubuhnya dan melihat Myungsoo terlihat santai dengan ucapannya. Sementara Sooji, ah Jiyeon tidak tahu ada hubungan apa antara keduanya, namun Jiyeon melihat Sooji sangat syok mendengar kalimat Myungsoo.

“ Mwoo ??? Itu tidak adil “ Ujar Sooji benar-benar tidak menyangka.

“ Hey, mengapa kau bersedih ? aku tidak akan mati hanya karena tidak ikut kompetisi tahun ini “ Ucap Myungsoo masih terlihat biasa saja, ia melihat Sooji dan Jiyeon bergantian.

Sorot kebencian itu mulai mencair, berganti dengan perasaan bersalah. Itu yang Myungsoo tangkap dari Jiyeon hingga ia berani untuk mendekat ke arah yeoja itu “ Kau ingat dengan perjanjian kita ? jika aku kalah akan membawamu dipunggungku dan berteriak dengan mengatakan bahwa aku adalah budakmu “ Bisik Myungsoo ditelinga Jiyeon.

Jiyeon melirik Myungsoo dari ekor matanya, ia tidak berharap Myungsoo melakukannya.

Myungsoo menarik wajahnya untuk menatap Jiyeon. Saat ini wajah keduanya berjarak sangat dekat sampai-sampai Sooji yang ada didekat mereka merasakan nafasnya begitu sesak.

“ Tapi aku tidak akan melakukannya. Ini bukan kekalahan melainkan kesialan yang menimpaku “ Ucap Myungsoo pelan namun terdengar jelas oleh Jiyeon.

“ Aku memang tidak tahu selera anak itu mengenai yeoja, tapi kurasa…. Sooji sangat cantik “ Ucap Yoo Sun membayangkan wajah Sooji yang fotonya pernah ia lihat, Mi Sook memberikannya ketika itu.

Sementara Mi Sook menahan untuk memekik senang, tentu saja semua orang yang melihat putrinya akan berkata demikian, Sooji adalah kebanggaannya. Beberapa pria telah Mi Sook tolak ketika mengatakan ingin mendekati putrinya. Meskipun mereka semua serius dengan keinginannya mendekati Sooji,  Mi Sook hanya meminta putrinya untuk fokus pada pendidikan. Ia tak peduli dengan masalah percintaan, sejak Mi Sook kembali bertemu Yoo Sun beberapa bulan lalu, dalam rencananya ia hanya ingin berbesan dengan sahabatnya. Yoo Sun yang kekayaannya mungkin tidak akan habis tujuh turunan.

“ Sebaiknya jangan terlalu banyak ikut campur, biarlah mereka nanti berkenalan sewajarnya saja “ Ucap Mi Sook menahan segala kegembiraannya.

“ Geurae “ Yoo Sun menyetujui ucapan Mi Sook “ Kalau begitu sampai jumpa nanti malam, kau juga pasti sedang…..”

Brakkkkkkkk

“ Ommoooo!!!!!!!!! “

Yoo Sun terkejut mendengar pintu yang tiba-tiba dibanting sangat keras oleh seseorang. Ia reflek menoleh dengan tangan menahan degup jantung didadanya.

Myungsoo disana, berjalan tanpa peduli jika wajah Yoo Sun dan Mi Sook terlihat syok dengan apa yang ia lakukan. Langkah Myungsoo begitu mantap menuju kamarnya

Yoo Sun merasa tak enak pada Mi Sook yang diseberang sana. Yoo Sun juga tidak tahu apa yang terjadi. Dengan prilaku Myungsoo yang seperti itu, ia hanya tahu jika mood putranya sedang sangat buruk, tapi karena apa ?

“ Aigooo anak itu !!!! jika sedang lapar selalu seperti itu, tidak sadar dengan keadaan sekitar haha… “ Tawa canggung Yoo Sun menutupi ketidak enakannya “ Mi Sook-aa aku akan melihat anak itu dulu, sampai bertemu nanti malam eoh “ Yoo Sun menutup sambungan telepon dan segera menyusul Myungsoo naik ke lantai atas kamarnya.

Didepan kamar Myungsoo, Yoo Sun terkejut mendengar suara benda-benda yang dibanting kelantai, bertumbuk dengan dinding bahkan erangan marah putranya itu. Yoo Sun menutup mulutnya dan dengan panik memanggil beberapa asisten rumah tangga untuk menemaninya, melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan putranya itu.

“ Myungsoo !!! Kim Myungsoo kau kenapa ??? “ Teriak Yoo Sun menggedor-gedor pintu kamar Myungsoo.

Prangggg

“ PERGILAH !!! JANGAN PEDULIKAN AKU “

“ Ommo…ommo !!! “ Tubuh Yoo Sun sampai mundur beberapa langkah, terhenyak mendengar jawaban galak Myungsoo “ Ya Tuhannnnnn,  apa anak ini sudah gila ? “ Tak percaya Yoo Sun memijit keningnya.

Yoo Sun ingin beranjak, tapi ada sesuatu yang harus ia pastikan, melihat keadaan Myungsoo sebenarnya ia sedikit takut.

“ Tapi kau akan datang ke pertemuan nanti kan ?? “ Tanya Yoo Sun bersiap menutup telinga jika Myungsoo semakin mengamuk.

Tak ada jawaban, Yoo Sun cemas. Apa yang harus ia lakukan, pertemuan hanya tinggal beberapa jam. Jika saja suaminya sudah pulang, tentu ia tidak akan sekhawatir ini. Yoo Sun terdiam sejenak sebelum akhirnya memutuskan membubarkan asisten rumah tangganya.

“ Dia sebenarnya kenapa ? “ Yoo Sun menggaruk kepalanya tak mengerti dan memutuskan untuk membiarkan saja Myungsoo menenangkan diri.

Didalam,

Myungsoo berdiri dihadapan cermin yang sudah tak lagi berbentuk karena kemarahannya yang tak terkendalikan. Nafasnya memburu tajam dengan kedua tangan terkepal kuat menumbuk meja. Cermin yang menjadi sasaran kemarahannya kini berubah menjadi serpihan yang berserakan dibawah kakinya.

Ia bisa menahan amarahnya didepan Jiyeon tadi, namun kini ia sangat terluka. Bohong jika ia bisa menerima keputusan untuk tidak ikut kompetisi idol yag menjadi cita-citanya selama ini. Yang membuat hatinya teramat sakit mengapa lagi-lagi harus yeoja itu yang menjadi bagian dari rasa sakitnya ?

Tes

Tes

Cairan kental berwarna merah tiba-tiba menetes dari sela-sela jemari Myungsoo, akibat cermin yang ia pecahkan. Myungsoo tak peduli, baginya luka fisik yang dirasakan tak sebanding dengan sakit dihatinya. Mata Myungsoo seolah dipenuhi bara api, ia tidak akan terinjak dan kalah oleh perasaannya. Yeoja itu mulai detik ini, tak akan ada lagi kata berdamai.

Tentang Jaejoong, Myungsoo tak peduli akan seperti apa hubungan mereka.

Hwanghe – Restaurant Bintang Lima,

“ Apa anak itu tidak datang ? “ Tanya Soo Ro pada istrinya yang masih sibuk dengan telepon genggamnya.

Yoo Sun meletakkan telunjuk diatas bibirnya, memberi tanda untuk Soo Ro tidak mengganggunya. Yoo Sun mencoba menghubungi kembali putranya. Beberapa menit menunggu, wajah Yoo Sun berubah kecewa

Sementara Mi Sook dan Sooji yang sudah duduk dihadapan mereka menunggu dengan gelisah. Mi Sook tentu saja akan sangat kecewa jika malam ini pertemuan mereka gagal, ia sudah meninggalkan kesibukannya dikantor demi menyiapkan penampilannya dan Sooji dengan sangat istimewa.

Sooji mungkin akan bersorak senang jika pria yang dijodohkannya tidak datang, tapi itu tadi, ketika ia belum mengetahui bahwa pria yang dijodohkannya bermarga Kim. Sekarang Sooji patut gelisah karena harapan itu tiba-tiba saja muncul. Katakan jika ia terlalu berkhayal, pria bermarga Kim di Korea pasti ada ribuan jumlahnya.

Lagipula, apa yang ia harapkan jika benar itu adalah namja yang sama ?

“ Mi Sook-aa, maaf jika membuat kalian menunggu, tapi tenang saja ia sudah berjanji akan datang. Putra pertamaku mungkin juga masih dijalan “ Yoo Sun mencoba menenangkan karena melihat wajah khawatir dari Mi Sook dan Sooji.

Mi Sook merasa lega. Masih ada harapan pertemuan ini berjalan mulus. Ia tak peduli selain tentang Kim Myungsoo, Mi Sook pun mengangguk tersenyum. Ketika melirik Sooji, ia mendapati bahwa anaknya begitu nervous. Mi Sook meraih tangan Sooji dan membawa kepangkuannya, mengusapnya dengan lembut.

“ Tenanglah, ini baru awal perkenalan kalian “ Mi Sook setengah berbisik.

“ Eoh “ Sooji mengangguk.

“ Selamat malam…maaf jika aku terlambat “

Semua mata menoleh ke arah si pemilik suara berat. Diantara semua yang hadir hanya Sooji yang nampak begitu syok. Bukan hanya kebetulan memiliki nama yang sama tapi pria itu adalah benar Kim Myungsoo. Namja yang selama ini diam-diam ia perhatikan, yang selalu berusaha untuk ia dekati. Apakah ini mimpi, jika iya Sooji tidak ingin siapapun membangunkannya.

Tapi….

Park Jiyeon, entah atas dasar apa Sooji mengingatnya ketika melihat Myungsoo. Tiba-tiba saja ia jadi teringat gadis itu. Sooji memang tidak tahu apa-apa tentang keduanya, tapi ia jelas mengingat bagaimana Myungsoo begitu peduli pada gadis itu. Gadis yang membuat tidak hanya Myungsoo yang terluka, namun juga dirinya…

To be Continued

52 responses to “[ CHAPTER – PART 8 ] A MINUTE OF HOPE

  1. Thor……. masih lama yaa lanjutnya??😦
    Kitaa menunggu lhoooooo…
    ini salah satu ff fav yg aku tunggu2 di WP ini..
    dan salah satu alasan aku rajin bolak balik mampir WP ini cuma buat nungguin next chapternya aja hehe..
    Jadi ditunggu yaa thor..
    Apapun kesibukan yg membuat author gak sempet ngelanjuin ff ini aku do’ain semoga diberi kelancaran biar cepet selesai dan balik lagi kesini.
    Keep Fighting dan keep writing author kesayangaaan^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s