[FICLET] congratulation

Congratulation by Olivemoon || Main Cast(s):  Park Jiyeon & Kim Myungsoo || Minor Cast(s):-|| Genre(s): Sad || Length: Ficlet || Rating: General || Credit picture  vyvyren

Maaf jika banyak ranjau alias typo(s). Ff ini terinspirasi dari lagu day6 congratulation.

Happy reading!

.

.

Jiyeon memijat pelan pelipisnya, berusaha meredakan sedikit denyut yang membuat kepalanya terasa berat. Bagaimana tidak, tadi malam ia lembur mengerjakan laporan, lalu tanpa sedetikpun istirahat, Jiyeon mendapatkan bonus merevisi hasil pekerjaan teman kantornya. Ah, rasanya itu tak bisa dikatakan bonus.

Jiyeon mengedarkan pandangannya ke sekitar, stasiun bawah tanah Seoul ini tidak seramai pagi hari, atau mungkin saja orang lebih memilih naik kendaraan pribadi dari pada harus berjalan kaki di bawah teriknya sinar matahari musim panas.

Dirogohnya benda persegi empat dari tas merah menyalanya. Selama sehari semalam telepon genggam itu ia matikan, dengan maksud agar tidak ada orang yang mengganggunya.

Layarpun menyala, menampilkan foto dirinya yang tengah berada di pelukan seorang lelaki. Sesaat, Jiyeon tersenyum miris sebelum muncul sebuah pemberitahuan bahwa ada pesan LINE yang masuk ke handphone nya. Jiyeon menggeser kunci layar yang dengan otomatis menampilkan foto temannya, Luna dengan pesan ‘Aku menunggumu di rumah, cepatlah pulang!’ di bawahnya.

Jiyeon terkikik pelan. Entah kapan Luna mengirimnya pesan. Saat ia pulang nanti, ia pasti diomeli habis-habisan. Sahabatnya itu keras kepala, semua barang yang ia inginkan harus ia dapatkan, pun permintaan atau perintah lainnya. Yah, seperti pada Jiyeon sesaat yang lalu.

Menit berikutnya Jiyeon berubah muram, tidak ada pesan dari orang yang selama tiga minggu ini ia tunggu-tunggu. Seketika ingatannya terlempar pada kejadian tiga minggu yang lalu.

“Jiyeon,” Myungsoo, kekasih Jiyeon memulai percakapan setelah keduanya keluar dari kedai tteokbokki yang biasa mereka kunjungi.

“Hm?” Jiyeon yang berjalan beiringan dengan Myungsoo, berdehem.

“Kurasa… kita memerlukan break untuk sejenak.” Ucap pria itu tanpa ragu.

Jiyeon menghentikan langkahnya, terlalu kaget sampai tangan yang Myungsoo pegang itu ia lepaskan tanpa sadar.”A-apa maksudnya, oppa? Aku tahu pasti ada alasan di balik semua ini. Apakah aku berbuat salah? Apakah ada tingkahku yang oppa rasa menyebalkan? Aku yakin aku bisa memperbaikinya tapi tolong …” Suara Jiyeon hilang sebelum ia bisa menyelesaikan perkatannya. Matanya buram terhalang air mata sehingga ia tak tahu ekspresi seperti apa yang Myungsoo berikan padanya.

Myungsoo mendekat sebelum merengkuh Jiyeon erat.”Sssshhh, tidak ada yang salah denganmu, atau kita. Aku hanya perlu waktu untuk memikirkan hubungan kita. Sayang, percayalah ini hanya break. Aku berjanji semuanya akan kembali seperti semula lagi. Tak akan lama, hm?”

Jiyeon menatap mata Myungsoo dalam. Dalam pikiran Jiyeon, hanya satu alasan yang membuatnya yakin, Myungsoo berada pada titik jenuh hubungan mereka. Jiyeon meyakinkan dirinya bahwa ini hal yang wajar. Lantas, meskipun hatinya sedikit teriris, Jiyeon mengangguk sebagai balasan.

Kejadian itu baru tiga munggu yang lalu, namun Jiyeon merasa itu sudah tiga tahun lamanya. Selama beberapa hari Jiyeon mencoba menghubungi Myungsoo, tapi tak satupun panggilan yang ia jawab. Maka Jiyeon mengambil kesimpulan break juga berarti berhenti saling menghubungi.

Menyadari bahwa kereta sudah tiba, Jiyeon membuang botol yang telah ia teguk habis isinya lalu bergegas memasuki kereta dan memposisikan dirinya senyaman mungkin pada salah satu kursi. Untuk membuat perjalanannya tak terasa, Jiyeon memutuskan untuk membalas pesan Luna. Ia harap Luna berhenti membahas betapa bodonya ia begitu saja setuju dengan keputusan Myungsoo. Yah, meskipun setelahnya ia sering menguatkan Jiyeon untuk bersabar.

Namun,

Senyum Jiyeon menghilang seketika saat ia mendengar tawa yang familiar di telinganya. Sangat familiar. Ia melempar pandang pada sisi kirinya. Disana, Myungsoo tertawa lepas dan alasan tawa itu adalah wanita yang menarik dirinya masuk ke dalam kereta.

Entah takdir apa yang Tuhan rencanakan, keduanya duduk di hadapan Jiyeon dengan Myungsoo yang sama sekali tak menyadari kehadirannya.  Jiyeon berada dalam dilema, menyangkal semua kemungkinan-kemungkinan terburuk. Mungkin mereka hanya teman. Barulah ketika Myungsoo mendaratkan ciuman ke pipi gadis disampingnya, disaat yang sama pula hati Jiyeon sakit seolah di remas dengan kuat, sebelum remuk dan tak berbentuk lagi.

Jiyeon tak tahu berapa lama ia sudah menatap pasangan dihadapannya, entah kenapa matanya seakan enggan. Mungkin, Jiyeon berharap Myungsoo menyadari kehadirannya. Lalu apa? Apa yang akan ia utarakan setelahnya? Sungguh, ia tak tahu.

Dilihatnya, sang gadis terlelap, bersandar di pundak Myungsoo dengan nyaman. Myungsoo tersenyum manis, senyum yang ia selalu tunjukan pada Jiyeon.  Jiyeon, entah kenapa rasa jijik manjalar di hatinya. Baru beberapa menit yang lalu hatinya terluka namun rasanya kesedihan tidak tercermin sama sekali di wajah gadis itu. Kecewa? Rasanya lebih dari itu.

Jiyeon menunduk sebentar, mencari kontak Myungsoo di handphone nya. Disana, Myungsoo tampak ragu untuk mengambil keputusan. Ia angkat atau tidak.

Kendati demikian, pada akhirnya panggilan pertama selama tiga minggu itu ia jawab.”Halo,” Sapanya.

“Selamat. Kau sangat luar biasa.”

Jiyeon melihat dengan jelas kebingungan yang tercetak di wajah Myungsoo sebelum lelaki itu memfokuskan matanya ke depan, dan disanalah pandangan keduanya bertemu untuk pertama kalinya dalam tiga minggu. Jiyeon menarik kedua sudut bibirnya ke atas sehingga membuat sebuah senyum simpul, sementara Myungsoo, ia tampak kaget dengan mata yang membulat sempurna.

“Jiyeon… ini bukan …ini hanya…” Myungsoo berbisik, namun Jiyeon bisa mendengarnya dengan jelas.

“Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Apa ini yang kau maksud meminta waktu untuk memikirkan hubungan kita?” Jiyeon memperlihatkan tawa dengan nada yang penuh kesakitan,”Kau membuatku percaya padamu layaknya orang bodoh.”

Myungsoo tak bisa berkata apapun, tidak dengan melihat cara Jiyeon menatapnya. Dia yang terlihat sangat tenang pada situasi saat inilah yang membuat Myungsoo semakin takut. Myungsoo tak pernah melihat sisi yang lain selain kebahagiaan dan pemaaf di mata itu, namun saat ini yang ia lihat ialah kesakitan, luka, dan jijik. Kata-kata itu tak pernah ia gunakan untuk menggambarkan Jiyeon.

“Apakah perempuan itu lebih baik daripada aku? Apakah dia membuatmu melupakan semua tentangku?”

“Jiyeon, ini tak seperti yang kau bayangkan… ini hanya─”

“Apa kau ingin aku memberitahu kebohongan seperti ‘hmm. Tak apa asalkan kau bahagia’ huh?” Jiyeon mencoba sebaik mungkin agar suaranya tak terdengar ragu.

Tentu saja Myungsoo berpikir Jiyeon akan melakukan hal itu. Semua orang yang mengenal Jiyeon tahu ia akan memaafkan siapa saja atas apapun yang mereka lakukan terhadapnya. Tapi tidak sekarang, tidak saat ini.

“…Jiyeon,”

“Mengapa aku harus mendoakan kebahagiaan untukmu yang telah meninggalkanku?”

Myungsoo membisu kembali. Apapun yang ia katakan tak akan ada gunanya. Ia tak pernah melihat sisi ini dari Jiyeon  dan Myungsoo tahu betul penyebab apa yang terjadi pada saat ini, pada Jiyeon-nya. Sungguh, Myungsoo tak perduli dengannya, tepatnya berhenti perduli setelah sebulan yang lalu saat ia bertemu wanita di sampingnya.

Myungsoo tak pernah merasa menjadi orang jahat, namun sekarang, berbicara dan melihat Jiyeon yang seperti ini membuat hatinya di hujani berjuta penyesalan dan kebingungan. Ia yakin Jiyeon akan memaafkannya dengan mudah. Sayangnya, dugaannya salah.

Ketika kereta berhenti, Jiyeon menggenggam erat handphone nya. Ia beranjak, ingin segera mungkin keluar sebelum air matanya tumpah.

“Sekarang aku tahu kau tak akan pernah kembali padaku. Aku tak tahu seberapa baik hidupmu tanpaku …tapi terimakasih, karena sekarang aku bisa melakukan hal yang sama.”

Kian lama suara sepatu hak Jiyeon kian tak terdengar lagi oleh Myungsoo. Ia mengadah, melihat punggung dingin Jiyeon yang semakin menjauh. Apakah ini bukan mimpi? Apa Jiyeon benar-benar telah menghilang dari kehidupannya? Sekiranya itulah yang Myungsoo pikirkan dengan ponsel yang masih melekat di telinganya sementara panggilan itu sudah cukup lama terputus.

 

FIN.

A/N: halooooo! author gaje ini balik setelah 3486756394234346 tahun kkkkk. Sehat? sehat? semoga pada sehat. Ff ini pernah di post di AFF dengan cast yang beda, fyi hehe. Oh! gimana pas abis baca? nyesekkah? hihi entah kenapa demen banget nulis yang angst2, maaf yaa kalo nanti post yang angst2 lagi. Piiiiiiis~

25 responses to “[FICLET] congratulation

  1. hixhix…npa myung tga mlkukan hal tu pda jiyeon? ap yg kurng jiyeon dbndgkn dgn tuh yoeja? npa myung tga mlukai hti jiyeon?

  2. baca ini jadi keinget sama mv nya day6
    plis apa banget coba ngajak break eh taunya malah jalin hubungan lain sama cewek lain dan ngegantungin jiyeon gitu aja. emang twinnya oe itu jemuran apa digantung gantung-_- ngeselin banget ini myungsoo-_-
    tapi bagus ajalah biar nyesel ini holang-_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s