[CHAPTER-PART 9] EIRENE

EIRENE1

EIRENE-9

||Author : Lyzee7||

||Main Cast : Kim Myungsoo|Park Jiyeon|Irene|Ryu Hwayoung||

||Genre : Family|Romance|Complicated|Royal|Little Action||

||Rating : PG-17||

||Recommended Song : Fervor by Baek Jiyoung||

 EIRENE CAST

Castle

Myungsoo menatap ayahnya dengan tajam yang sedang duduk santai di depannya. Wajah tegang yang awalnya ditunjukkan Jisub sudah hilang dan berganti ketenangan yang biasa di perlihatkan ayahnya. Ibunya sudah pergi dan meninggalkan Myungsoo agar berdua dengan Jisub. “Ayah masih tidak mau menceritakan semuanya padaku?” entah untuk yang keberapa kalinya Myungsoo bertanya pada ayahnya yang menjawabnya dengan menggeleng santai.

“Kenapa?” tanya Myungsoo sekali lagi.

Kim Jisub menghela napasnya lelah lalu menopang kepala dengan sebelah tangannya. “Ayah berjanji pada seseorang untuk tidak membuatmu mengingat masa itu,” jelasnya.

“Siapa?!”

Jisub mengangkat bahunya lalu meminta maaf.

“Ini sudah enam tahun setelah aku mengalami kecelakaan mobil, mendapatkan trauma di kepala yang menyebabkanku amnesia!” Myungsoo berteriak marah pada ayahnya, masa bodoh dengan ayahnya yang seorang Raja. “Kalau aku tidak bisa mengingatnya sama sekali, setidaknya…” Myungsoo memelankan suaranya, lebih tenang, “…setidaknya aku tahu bagaimana masa laluku.”

“Kenapa kau bersikeras untuk mengingat hal yang tidak penting?” Kim Jisub berkata dengan kerutan di dahinya.

Mengangkat bahunya, Myungsoo menoleh ke perapian yang mengeluarkan suara derak kayu terbakar. “Karena aku merasa semua orang menyembunyikan banyak hal dariku, dan aku merasa sangat bodoh dan tidak berguna karena itu,” jawab Myungsoo.

Kim Jisub hanya bisa menatap putra tunggalnya dengan sedih.“Banyak orang yang ingin melupakan hal itu, Myungsoo-ya,” lirihnya.

“Seburuk itukah?”

Myungsoo’s POV

Di sinilah aku sekarang. Duduk di kursi kerja ayahku dengan sebuah album foto yang terbuka di atas meja. Foto pertama menunjukkan aku yang berumur sekitar empat tahun bersama beberapa teman TK maupun anak-anak bangsawan lainnya. Aku tidak menemukannya.

Kubalik ke halaman berikutnya, tidak ada.

Tidak ada.

Tidak ada.

Tidak ada.

Ti-

Aku menemukannya! Foto yang sama dengan foto yang dikirimkan Irene dan ini diambil pada 23 Mei 2004. Jiyeon, garis wajahnya tidak berbeda dengan yang sekarang. Yang membedakan adalah senyum lebar yang sangat manis- bahkan terlihat lucu. Tangan kanannya terentang ke depan dan jari telunjuknya tersemat sebuah cincin berwarna silver. Dress berwarna peach terjuntai sampai bawah lutut dan sepasang sepatu dengan warna senada pas di kakinya.

Di tiga lembar selanjutnya tidak ada Jiyeon hingga di lembar ke-empat, sebuah foto dimana aku berada di perpustakaan Istana sedang menunjuk seorang gadis yang membaca buku yang cukup tebal dengan serius. Yang membuatku bingung, gadis itu adalah Jiyeon yang menggunakan sweater pink pastel dan rambutnya dikepang menyamping. Aku menghadap ke kamera dan tersenyum. Berbeda dengan foto-foto sebelumnya yang tak pernah menyinggungkan senyum sedikit pun. Oh! Demi Tuhan! Buku bersampul merah yang sedang dibaca Jiyeon, dengan tulisan berwarna emas. Slaughter in 1895. Mataku melebar antara terkejut, tidak percaya dan ngeri.

Gadis itu mengetahui tentang ‘Pembantaian’ itu dan ia telah berbohong padaku? Sialan! Tidak! Lupakan, Kim Myungsoo. Yang seharusnya kau pertanyakan adalah siapa Jiyeon Midford hingga membuatku bisa tersenyum seperti itu? Siapa Jiyeon hingga terlihat begitu dekat denganku?

Beberapa lembar ke depan, ada foto di mana aku yang mengenakan seragam kerajaan berwarna merah berbahan sutra. Dengan sedikit warna emas di beberapa aksesoris yang melekat. Selendang khas berwarna biru melekat dari pundak kiri sampai pinggang sebelah kananku. Dan yang terpenting, tanganku menggandeng tangan Jiyeon seolah menyeretnya dengan paksa dan senyum di bibirku begitu lebar. Jiyeon mengenakan gaun panjang berwarna hitam hingga mata kakinya dengan rambut cokelatnya gulung ke atas dengan rapih.

Ini tidak seperti yang kupikirkan, bukan?

Ketika tanganku bergerak membalik ke lembar selanjutnya, selembar foto terjatuh ke lantai. Aku mengambilnya lalu membalikkan foto itu. Ada empat orang dengan senyum lebar duduk di sebuah sofa panjang berwarna hitam. Aku dan seorang gadis -yang kuyakini adalah Jiyeon- berada di tengah-tengah antara se-pasang suami isteri. Mereka bukan ayah dan ibuku. Wanita dengan gaun kuning yang melekat di tubuhnya duduk dengan anggun di samping Jiyeon. Selain rambut hitamnya yang disanggul sederhana, garis wajahnya, rahang, hidung, dan bibirnya mirip dengan Jiyeon. Sedangkan laki-laki yang duduk di sampingku dengan mengenakan setelan jas formal. Rambutnya berwarna cokelat. Dan laki-laki itu memiliki mata berwarna hazel, warna yang sama dengan milik Jiyeon. Aku yakin…

Dia adalah David Midford dan isterinya.

Apa hubunganku dengan keluarga Midford sebenarnya? Kenapa kami terlihat begitu dekat? Tunggu! Apakah aku dan Jiyeon- tidak mungkin, bukan? Tidak mungkin kalau Jiyeon adalah seorang Puteri Mahkota. Tidak! Tidak mungkin! Awalnya Shin Wonho mengatakan kalau Midford terlalu berbahaya dan sekarang ia memutuskan untuk tunduk pada Jiyeon. Lalu Irene juga mengatakan hal yang sama. Tapi, ia memberiku sebuah bukti bahwa aku dan Jiyeon dulunya sangat dekat walaupun hanya sedikit gambar yang diambil.

Sial! Siapa Midford sebenarnya?!

Drrttt

Ponselku bergetar dan nama Hyunwoo tertera di sana. “Halo?”

“Myungsoo-ya…”

Aku mengernyit mendengar nada suara Hyunwoo yang tidak terdengar seperti biasanya. “Ada apa?”

“Hwayoung- dia- meninggal dunia.”

Myungsoo POV End

Author POV

Keesokan paginya, seluruh murid sekolah kerajaan digemparkan dengan berita mengenai keluarga Ryu yang ditemukan meninggal karena mobil yang mereka tumpangi menabrak pembatas jalan, jatuh ke jurang lalu meledak.

Myungsoo memakai setelan jas dan dasi hitam, sekarang ia melangkahkan kakinya keluar dari mobil bersamaan dengan kedua orang tuanya yang berada di mobil yang lainnya. Ia menatap bentuk luar gereja itu sekilas sebelum menghela napas lalu mengikuti kedua orang tuanya untuk memasuki gereja. Semua orang dari kalangan bangsawan dan para menteri berpakaian hitam menyambut kedatangan keluarga kerajaan dengan membungkukkan badan mereka dalam diam. Setelah meletakkan setangkai bunga aster putih yang sudah disediakan di depan foto Tuan, Nyonya Ryu dan Hwayoung, Myungsoo berdiri di depan foto Hwayoung yang kebetulan berada di antara foto tuan dan nyonya Ryu.

Terima kasih pernah menjadi temanku. Beristirahatlah dalam damai, Hwayoung-ah. Myungsoo mengucapkan dengan tulus dalam hatinya. Sebuah perpisahan yang tidak dapat dihindari jika Tuhan sudah berkehendak. Kematian.

Debuman pintu gereja yang semula tertutup, kembali dibuka dan seorang gadis dengan gaun hitam polos se-lutut masuk diiringi ketukan higheels yang membentur marmer. Semua pasang mata tertuju pada gadis itu namun ia mengabaikannya.

Mata tajam Myungsoo menatap Jiyeon lalu beralih pada tiga tangkai mawar hitam yang mencuri perhatiannya yang berada di tangan kanan Jiyeon. Perlahan ia mulai mendengar beberapa bangsawan berbisik.

“Midford datang…”

“Aku masih tidak percaya kalau Midford masih memiliki penerus. Dia masih bocah ingusan…”

“Lihat apa yang dibawnya…”

“Mawar hitam? Dia benar-benar mewarisi sifat para pendahulunya…”

“Midford memang suka seenaknya sendiri…”

Myungsoo mengerjap ketika Jiyeon membungkuk ke arahnya -lebih tepatnya kedua orang tuanya juga- saat itulah matanya mengintip melewati bahu Jiyeon. Yunho berdiri di samping pintu dalam diam dengan setelan jas seperti yang biasa dipakainya.

Mengikuti kedua orang tuanya, ia menyingkir lalu duduk di deret kursi paling depan sebelah kiri yang disiapkan khusus untuk keluarga kerajaan.

Sekarang di tangannya terdapat mawar hitam asli yang langsung didatangkannya dari Turki. Aneh memang. Tapi, memberikan setangkai mawar hitam pada kematian seseorang adalah kebiasaan turun-temurun dari pendahulunya. Dari para penyandang Midford di belakang namanya.

Ia berdiam diri di halaman gereja, dan terlihat seorang anak perempuan duduk di bangku kayu yang terihat rapuh seorang diri. Ia memiliki rambut hitam pendek dengan poni yang menutupi dahinya. Mata anak itu menatap lurus ke depan nampak tidak memiliki titik fokus. Dia buta dan Jiyeon menyadari hal itu.

Anak itu bersenandung pelan namun bisa terdengar oleh Jiyeon, dan membuat Jiyeon terdiam.

“Saita no no hana yo.”

(Bunga fraud yang mekar.)

“Aa douka oshiete okure hito wa naze kizutsukeatte arasou no deshou.”

(Kumohon beritahu aku mengapa orang-orang bertarung dan saling menyakiti?)

 “Rin to saku hana yo.”

(Bunga fraud yang mekar dan berani.)

“Soko kara nani ga mieru?”

(Apa yang bisa kau lihat dari sana?)

 “Hito wa naze yurushiau koto dekinai no deshou?”

(Mengapa orang-orang tak bisa saling memaafkan?)

 “Ame ga sugite natsu wa ao wo utsushita.”

(Hujan telah usai, dengan musim panas yang berwarnakan biru.)

“Hitotsu ni natte, chiisaku yureta watashi no mae de nani mo iwazu ni.”

(Sendirian, kau menggigil di depanku tanpa berkata apa-apa.)

“Karete yuku tomo ni omae wa nani wo omou?”

(Apa yang kau pikirkan ketika teman-temanmu layu?)

 “Kotoba wo motanu sono hade nanto ai wo tsutaeru?”

(Bagaimana caramu menyampaikan rasa cintamu?)

 “Natsu no hi wa kagete kaze ga nabita futatsu kasanatte.”

(Mentari musim panas pun tertutup awan, dan angin pun berhembus, keduanya pun bersatu.)

“Ikita akashi wo watashi wa utaou na mo naki mono no tame.”

(Aku akan bernyanyi sebagai bukti bahwa kau hidup demi mereka yang tak bernama.)

Setelah nyanyian gadis kecil itu usai, Jiyeon tersadar dari lamunannya. Ini hanyalah sebuah lagu! Ia terkekeh menertawai dirinya sendiri yang terhanyut dalam arti lirik lagu itu.

“Ada yang salah, Nona?”

Jiyeon menoleh dan gadis itu baru teringat bahwa ia bersama Yunho. Jiyeon menggeleng menjawab pertanyaan Yunho sebelumnya.

.

Jiyeon berdiri di tengah-tengah, tepat menghadap foto Hwayoung. Ia mulai meletakkan satu per satu tangkai mawar hitamnya mulai dari Tuan Ryu, Nyonya Ryu, dan terakhir Hwayoung. Ia menatap sekilas peti mati Hwayoung yang berada di belakang figura.

Aku tidak bisa menyimpulkan kalau kita memulai awal perkenalan kita dengan baik. Tapi aku percaya bahwa kalian-lah teman perempuan pertama yang menceritakan padaku banyak kisah dongeng yang bahkan tidaklah nyata. Ungkap Jiyeon dalam hatinya. Aku juga tidak menyimpulkan kalau pertemuan kembali kita setelah enam tahun lamanya juga berjalan dengan baik. Tapi aku sekarang mulai mengerti kalau teman pertama belum tentu akan bertahan sampai akhir ketika kita tidak memiliki ‘tujuan’ yang sama. Semua canda dan tawa hanyalah warna-warni pada kenangan yang membuat seseorang menjadi lemah.

Bunga mawar hitam melambangkan kematian, perpisahan, dan berakhirnya banyak hal yang akan terlupakan di dunia ini. Mungkin setelah ini aku akan melupakan semuanya. Berawal dari kita berjabat tangan, semua dongeng yang memiliki akhir bahagia yang kalian ceritakan. Semua yang bisa membuat seseorang menjadi lemah. Aku akan melupakan semuanya dan akan terus melangkah maju tanpa menoleh ke belakang, pada masa laluku.

Selamat tinggal.

Jiyeon berbalik lalu duduk di deret kursi terdepan sebelah kanan, berseberangan dengan Myungsoo berada. Pendeta mulai mengucapkan kotbah dengan kidmat namun Jiyeon hanya menatap kosong udara hampa di depannya tanpa menyadari mata Myungsoo yang terarah padanya.

Jiyeon memilih berjalan jauh di belakang bersama Yunho ketika ketiga peti itu dibawa menuju makam. Bahkan sampai acara penguburan, ia hanya melihatnya dari jauh. Berdiri dalam diam bersama Yunho, membiarkan helaian rambutnya tertiup angin hingga sedikit mengganggunya.

Tiba-tiba sebuah tangan merapihkan helaian rambut yang menutupi pandangannya lalu menyelipkan di belakang telinga.

“Inikah yang kau inginkan?” suara berat Sehun terdengar olehnya. Sehun mengambil tempat tepat di samping Jiyeon dengan mata yang tertuju pada orang-orang berpakaian serba hitam yang sedang memanjatkan do’a. “Salah seorang temanmu mati dan kau hanya diam dan melihatnya seolah dia tidak berarti bagimu.”

Jiyeon menurunkan pandangannya. “Inikah yang aku inginkan?” ia memutar tubuhnya untuk menatap Sehun. “Mereka yang membuatku melakukannya, Sehun-ah,” lanjutnya datar.

“Tapi kenapa Hwayoung juga terlibat?” kini Sehun balas menatap Jiyeon. “Kau tahu kalau dia tidak bersalah.”

“Aku tahu kalau Hwayoung tidak bersalah,” Jiyeon mengulangi kata-kata Sehun. “Dia bahkan tidak mengerti hubungan kedua orang tuanya dan keluargaku.”

Sehun terdiam dengan mata yang berkaca-kaca. Demi Tuhan! Gadis yang dicintainya selama ini sudah berubah drastis.

“Pikirkan ini, Sehun-ah. Jika aku tidak membunuhnya, dia hanya akan hidup dengan segala dendamnya dan dia akan menjadi pengkhianat seperti kedua orang tuanya. Dia akan hidup dengan bayang-bayang kematian kedua orang tuanya. Dia akan merelakan dirinya terjatuh dalam kegelapan demi membalaskan dendamnya-”

GREB

Ucapan Jiyeon terdiam ketika Sehun merengkuhnya dengan erat.

“Sudah… hentikan. Maafkan aku…” Sehun memang tidak merasakan apa yang Jiyeon rasakan ketika Tuan dan Nyonya Midford mati di depan Jiyeon. Sehun juga tidak mengerti bagaimana hidup dengan menanggung beban yang begitu berat, menanggung dendam yang tidak pernah bisa terhapuskan oleh waktu.

Tepat di dada bidang Sehun, Jiyeon bisa mencium aroma tubuh Sehun yang menenangkannya. Sehun memperlakukannya seperti dulu- pada waktu ia menangis di pemakaman Hyoyoung. Tapi kali ini Jiyeon sudah berubah. Ia tidak akan menangis!

“Ingatan Myungsoo masih belum kembali,” kata Sehun. Ia merasakan tubuh Jiyeon yang tegang di dekapannya.

“Biarkan seperti itu,” bisik Jiyeon. “Hilang ingatan… itu lebih baik dari pada ia harus mengingatnya.”

“Jika suatu saat dia tahu tentang semua ini, apa yang akan kau lakukan?” Sehun melirik kerumunan orang berbaju hitam dari balik bahu Jiyeon. “Amnesia Retrograde- walaupun ada kemungkinan bahwa dia kehilangan ingatan untuk selamanya, tetapi tidak menampik kemungkinan ingatannya akan kembali.”

Jiyeon diam mendengar ucapan Sehun. Kedua tangannya menggenggam erat pinggang kemeja hitam Sehun beberapa saat lalu melepaskannya. “Apapun yang terjadi, Pangeran harus menerima semua kenyataan ini. Suka atau pun tidak, Pangeran tidak memiliki pilihan yang lebih baik.”

Myungsoo menatap ketiga nisan satu per satu dengan pandangan redup. Membiarkan pendeta membacakan ayat-ayat injil, sementara para pelayat duduk di kursi besi berwarna putih yang telah disediakan. Untuk kali ini Myungsoo duduk di barisan paling belakang dan membiarkan orang-orang yang lebih tua darinya duduk di depan. Sejenak ia mencari keberadaan Jiyeon yang tidak terlihat di antara orang-orang di sini. Ia mulai menolehkan kepalanya ke kiri- sedikit ke belakang dan menemukan gadis itu.

Dan yang membuatnya terkejut adalah, dia- Jiyeon di peluk oleh seseorang yang tidak asing baginya.

Oh Sehun.

Sehun adalah teman kecil si kembar Ryu dan Shin Wonho, dan mereka mengenal siapa Jiyeon. Masalalunya berhubungan dengan lima orang itu dan dua di antaranya meninggal dunia. Wonho telah memutuskan untuk bersedia menjadi informan Jiyeon, dan Oh Sehun- terlihat memiliki perasaan spesial pada Jiyeon.

Sial! Semua ini semakin rumit! Myungsoo mengumpat dalam hatinya.

.

Myungsoo masuk ke dalam kamarnya setelah memberi tahu Woohyun bahwa ia tidak ingin diganggu. Melonggarkan dasinya dengan gusar, Myungsoo berjalan menuju meja di samping ranjangnya lalu meraih buku album yang masih belum dilihatnya sampai habis. Perlahan ia duduk di pinggiran ranjang lalu membuka lembar album foto yang belum sempat dilihatnya.

Pada beberapa lembar berikutnya, sebuah foto membuat Myungsoo terkejut. Tiga anak berdiri, Myungsoo di tengah. Di antara Sehun dan Jiyeon. Sehun terlihat sedang memberengut kesal ketika ia menghalangi Sehun untuk mendekati Jiyeon. Ia tersenyum lebar menghadap kamera dengan tangan kirinya merangkul bahu Jiyeon sedangkan Jiyeon juga tersenyum menghadap kamera.

“Argh!” Myungsoo mengerang pelan ketika merasakan kepalanya seperti di pukul keras. Sekelebat bayangan terlintas di ingatannya dengan samar-samar dan semua itu buram. Disusul dengungan keras yang terasa menyakitkan telinganya.

“Saya, sampai kapan pun akan selalu berada di samping anda, Yang Mulia Putera Mahkota.”

Suara seorang gadis terdengar samar-samar lalu telinganya kembali berdengung. Titik-titik keringat mulai bermunculan di dahi dan lehernya. Dunianya berputar, membuat Myungsoo merasa pening, ia beranjak lalu melagkah tertatih.

BRUK

Myungsoo jatuh terduduk di lantai karena tiba-tiba kakinya tidak mampu hanya untuk menopang berat tubuhnya. Kepalanya menengadah dengan napas terengah, lalu denyutan itu kembali dirasakannya.

“Argh!” kedua tangannya mencengkeram kepalanya erat-erat, raut wajahnya terlihat kesakitan dan tersiksa.

“Jiyeon, kau mau berjanji padaku? Apapun yang terjadi, jangan pernah meninggalkanku. Oke?”

Suara itu, suaranya.

“Yes Your Highness.”

Setelah itu, kegelapan merenggut kesadarannya.

Aku membuka mataku saat merasakan seseorang mengguncang tubuhku pelan. Ternyata itu Pelayan Han, pelayan sekaligus merangkap asisten pribadiku yang sudah berumur sekitar 50 tahun.

“Kita sudah hampir sampai, Putera Mahkota,” ucapnya sopan.

Aku mengamati keadaan di sekitarku dan menggumam meng-iyakan setelah aku menyadari bahwa aku berada di mobil kerajaan. Ayah dan ibuku berada di mobil yang ada di depan mobil yang aku tumpangi.

Rimbunan pohon menjulang tinggi dan menyeramkan megingat minimnya penerangan di sepanjang jalan yang kami lewati. Bagaimana kalau seorang vampir tiba-tiba muncul dengan mata merahnya lalu menghisap darah kami semua? Hii. Mengerikan. Lalu aku akan menjadi vampir tampan dan keren dan akan menguasai dunia. Hahaha.

“Pak Han.”

“Ya, Pangeran?” sahutnya ketika aku panggil.

“Sebenarnya kita mau kemana sih?”

Pak Han tersenyum memperlihatkan keriput di garis wajahnya setelah mendengar pertanyaanku. “Bertemu dengan orang-orang spesial,” jawabnya.

Spesial? “Eumh… baiklah.”

Tepat setelah aku mengatakannya, mobil yang kutumpangi mulai melambat dan sebuah rumah besar, mewah, dan indah mulai terlihat di jendela mobil. Tidak, itu manor. Manor terbesar yang pernah kulihat di Korea Selatan.

“Ada pesta?”

Pak Han menoleh padaku lalu menganggukkan kepalanya.

 Mobil yang ditumpanginya pun terhenti, dan tak lama kemudian pintu mobil terbuka.

“Silahkan, Pangeran,” Pak Han mempersilahkanku keluar dengan bibir yang tersenyum lebar. “Selamat datang di Manor keluarga Midford.”

“Kenapa kita tidak bergabung dengan yang lain?” tanyaku heran ketika aku dan robongan kerajaan masuk di sisi lain bangunan yang terpisan jauh dari pesta.

Saat ini kami duduk di sebuah ruangan besar dengan nuansa biru dan emas. Rangkaian bunga krisan warna putih khas musim dingin menghiasi ruangan ini. Entah hanya perasaanku atau memang manor ini sangat elegan namun terkesan menyeramkan.

“Setelah bertemu dengan beberapa orang spesial, kita akan bergabung dengan pestanya, sayang,” sahut ibu dengan suara lembutnya.

“Baiklah,” balasku. Aku mengayunkan kakiku di sofa dengan bosan. Aku bahkan tidak segan-segan mengambil setangkai bunga krisan hanya untuk kuhitung kelopaknya. Satu… dua… ti-

Cklek

Pintu kayu besar itu terbuka dan tiga orang dewasa masuk. Ada seorang pelayan, seorang wanita cantik, dan bule. Senyum wanita dan bule itu melebar ketika melihatku.

“Suatu kehormatan keluarga kerajaan datang ke Manor kami,” kata bule itu lalu mereka berdua membungkuk sopan.

Ayah dan ibu menghampiri mereka lalu menjabat tangan mereka bergantian.

“Di mana putrimu, Jihyun-ah?” tanya ibu.

Wanita yang di panggil Jihyun kembali tersenyum dengan lembut. “Dia sedang berbincang dengan teman barunya,” jawabnya. “Ryu Hyoyoung dan Ryu Hwayoung,” tambahnya.

“Ah! Si kembar? Mereka teman baru yang cukup menyenangkan, menurutku,” ayah menyahuti dengan antusias. “Ya kan, Myungsoo?”

“Eoh? Ya,” balasku. Aku membuka mulutku hendak mengatakan sesuatu, “Mereka juga… berisik.” Para orang tua tertawa geli mendengar ucapanku. Apa aku salah bicara? Aku mengatakan hal yang sebenarnya.

Cklek

Pintu besar itu kembali terbuka. Seorang gadis kecil dengan gaun berwarna hijau tosca di persilahkan masuk sendirian oleh seseorang. Gadis itu sepertinya seumuran denganku. Ketika matanya menatapku, aku sadar kalau matanya berwarna hijau-hazel. Langkahnya terhenti tepat di antara dua suami isteri di depanku tanpa melepas tatapannya dariku.

Beberapa saat kemudian, kedua tangannya memegang sisi gaun lalu membungkuk anggun. “Senang bertemu dengan anda Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu…” lalu tatapannya kembali padaku dengan senyum kecil di bibir mungilnya dan pandangan dinginnya melembut. “Dan Yang Mulia Putera Mahkota,” lanjutnya. “Nama saya Jiyeon Vience Midford.”

“…a ba… baik… ja, Pa… ran?”

Sayup-sayup aku mendengar suara dokter Bae, lalu kurasakan sebuah tangan menyentuh pergelangan tangan lalu beralih ke keningku.

“Pangeran demam. Pangeran ak… baik-ba… saja.”

Setelah itu aku tidak mendengar apa pun di kegelapan ini.

Aku berlarian masuk ke istana setelah keluar dari mobil kerajaan masih lengkap menggunakan seragam SD. Mengabaikan para pelayan yang membungkuk hormat padaku, aku menanggalkan ransel di lantai tanpa merasa bersalah sama sekali dan aku yakin salah seorang di antara mereka akan membereskannya.

Setelah berbelok di lorong kedua, aku sampai di depan pintu kayu lalu membuka tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Dan tepat setelah pintu terbuka, tidak sengaja kusandung kaki ku sendiri dan terjembab ke depan.

BRUK

“Aw,” ringisku pelan. Tepat setelah itu aku mendengar derap langkah mendekatiku.

“Anda baik-baik saja, Yang Mulia?”

Aku mendongak ketika mendengar suara khawatir gadis kecil itu. Lalu melihat mata hazelnya yang indah menatapku dengan cemas. Dengan sigap, kuambil posisi berdiri dan ia mengikutiku. “Aku baik-baik saja, jangan khawatir,” balasku. Kuulurkan tangan kananku mendekati wajahnya lalu kucubit pipinya dengan gemas.

“Aw!”

“Sudah kubilang kau harus memanggilku Myungsoo! Kenapa kau ini bandel sekali sih?” gumamku kesal. Padahal sudah berkali-kali aku mengatakan padanya untuk memanggilku dengan namaku saja, tapi dia tetap tidak mau dengan alasan yang sama.

“Itu tidak sopan, Yang Mulia,” balasnya.

Aku memutar bola mataku jengah lalu menatap hazelnya kembali. “Aku tidak peduli!” setelah kulepas cubitanku, aku meraih tangan kirinya. “Ayo!”

.

“Kau membawanya kan?” aku duduk di kursi piano putih yang terletak di tengah-tengah ruangan ini. Sesekali aku iseng menekan tuts piano menghasilkan lagu ‘Waltz in A minor’- karya Chopin.

“Tidak,” jawabnya membuat tarian jemariku terhenti. Sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, suaranya kembali terdengar. “Karena saya sudah hafal setiap detailnya.”

“Kau membacanya di rumah?”

Jiyeon menggumam meng-iyakan. “Saya membacanya setiap sebelum tidur.”

Aku menatapnya yang sedang duduk diam di sebelahku dengan tatapan ngeri. “Kau tidak takut mendapatkan mimpi buruk seperti itu?” tanyaku.

Jiyeon tertawa kecil. “Kenapa harus takut, Yang Mulia? Sudah menjadi kewajiban saya untuk mengetahui semua sejarah Kerajaan Korea Selatan.” Kedua tangannya terangkat lalu meneruskan lagu yang kumainkan sebelumnya. “Kakek anda mengalami kejadian yang mengerikan dalam hidupnya. Tidak ada anak yang menginginkan kedua orang tuanya dibunuh di depan matanya dengan cara yang mengerikan,” lanjutnya.

Jeda sekian lama, hanya dentingan piano yang menggema di antara kami. Rambutnya yang diikat ke samping membuatku mudah melihat hazelnya.

“Hei,” panggil Myungsoo membuat Jiyeon menoleh dan menghentikan permainan pianonya. “Dengarkan aku bernyanyi sebuah lagu, oke?”

Mendengar permintaan Myungsoo, Jiyeon tersenyum kecil lalu mengangguk. “Oke.”

Tom he was a piper’s son

He learnt to play when he was young

But all the tunes that he could play

Was over the hills and far away

Over the hills and a great way off

The wind shall blow my top knot off

Setelah selesai menyanyikan baitnya, Myungsoo menoleh ke arah Jiyeon. “Kau tahu lagu ini?”

“Ya,” jawab Jiyeon lalu menggerakkan tangannya di atas piano dan mulai bernyanyi.

Tom with his pipe’s made such a noise

That he please both the girls and boys

And they stopped to hear him play

Over the hills and far away

Over the hills and a great way off

The wind shall blow my top knot off

Myungsoo tidak berkedip menatap Jiyeon yang sedang fokus bermain piano, menatap kedua manik itu dalam. Seolah tenggelam di kedalaman hazel gadis itu, Myungsoo berbisik tanpa sadar.

“Kau… sampai kapan pun jangan pernah meninggalkanku sendirian.”

Permainan piano Jiyeon yang hampir mencapai klimaks tiba-tiba terhenti lalu ia menatap Myungsoo. Menemukan keraguan di dalam mata sang Pangeran, Jiyeon tersenyum lembut hingga memperlihatkan lesung pipinya.

“Saya tidak akan pernah meninggalkan anda, Yang Mulia. Anda tahu itu,” balas Jiyeon tanpa ragu. “Saya pernah berjanji pada anda sebelumnya,” lanjutnya karena ia meliihat keraguan masih tersirat di wajah Myungsoo.

“Promise me?”

Senyum Jiyeon mengembang melihat Myungsoo mengangkat jari kelingkingnya. Entah sudah berapa kali Mungsoo memintanya melakukan ritual ‘pinky promise’ dengan topik yang sama. Yaitu ia tidak boleh meninggalkan Myungsoo. Setelah itu tangan mungilnya terangkat dan kelingkingnya mengait pada kelingking Myungsoo.

“Sure My Prince.”

“AAAAARRRGH!!”

Jeritan itu menggema hingga ke penjuru lorong Manor Midford, membuat seorang wanita dengan rambut terikat rapi berlari tergesa-gesa menuju kamar nona mudanya.

Hyomin sendiri sudah hafal betul jeritan itu bukanlah jeritan ketakutan biasa. Namun sebuah pelampiasan apa yang selama ini sudah dirasakan oleh Jiyeon. Dimana Jiyeon selalu bersikap dingin, seolah-olah tidak terjadi apa pun jika dilihat dari luar. Tapi semua kejadian itu melukai jiwanya hingga terbawa ke dalam alam bawah sadar Jiyeon. Luka yang sangat sulit disembuhkan, dan mungkin tidak akan bisa disembuhkan. Bagi nona mudanya, kenangan bahagia hanya akan bertahan sesaat dan kenangan buruk akan terbawa hingga kapan pun. Tidak pernah Hyomin menyaksikan Jiyeon ketakutan dengan keadaan sadar kecuali jika kejiwaan nonanya mulai rapuh. Tak pernah terpikirkan Hyomin jika ia akan meninggalkan nona mudanya dan tidak bisa melindunginya dengan tangannya sendiri?

Hyomin mempercepat langkahnya dan setelah sampai di depan pintu besar itu, ia mendorongnya lalu masu ke dalam ruang yang remang cahaya tersebut. Sedetik kemudian… ia membeku.

“Nona…?” Hyomin tercekat tidak bisa mengeluarkan suaranya. Lalu dengan langkah perlahan, ia mendekati Jiyeon yang sedang menatap kedua telapak tangannya secara bergantian. Rambut panjangnya terlihat mengerikan, dua kancing baju piyama putihnya terlepas di bagian leher, bagian bawah bibirnya berdarah.

“Pembunuh…”

Suara itu begitu lirih hampir tak terdengar oleh Hyomin. “Nona…”

“Monster…”

“Tidak- Nona… anda bukan-”

“Darah…” bisikan Jiyeon menyentakkan Hyomin.

Darah? Seketika Hyomin mendekati Jiyeon dengan panik lalu melihat ke telapak tangannya. Tidak ada darah sedikitpun disana.

“Darahnya tidak mau hilang Hyomin-ah…” bisiknya sambil menggosok kedua tangannya dengan selimut setelah itu kedua matanya menatap liar ke segala arah. “Aku harus membersihkannya.” Jiyeon merangkak turun dari ranjang dan limbung ketika kedua kaki menopang tubuhnya, refleks Jiyeon berpegangan pada pinggiran meja yang ada di sebelah ranjang.

PRANK

Gelas yang bertengger di atas meja itu pecah karena jiyeon tak sengaja menyenggolnya dan pecahan tajam itu mengenai telapak kaki kanan Jiyeon.

“Nona…” Hyomin berusaha mencegah Jiyeon yang sedang terseok ke arah kamar mandi namun langsng di tepis oleh gadis itu. Raut muka Hyomin begitu tersiksa dan sedih melihat nona nya seperti itu. Ini salah satu yang ditakutinya ketika Jiyeon kehilangan kendali atas pikirannya. Lebih mengerikan dan menakutkan dibanding sebuah mimpi buruk, adalah ketika ia melihat Jiyeon seperti sekarang ini.

Saat ini kami berada di sebuah ruangan berukuran 5×5 meter yang telah ku kunci dari dalam setelah aku masuk ke ruangan ini dengan langkah tergesa.

“Kenapa tanganmu berlumuran darah seperti ini, Jiyeon-ah?” lelaki kecil di depanku menatapku takut dengan tubuhnya yang gemetar hebat.

Pangeran… takut padaku?

Jangan menatapku seperti itu…

“Pangeran… ini tidak-”

Jangan takut padaku, kumohon…

Mata itu menatap ke belakang punggungku- ke arah pintu, ada darah segar yang menggenang dari luar- lalu menatapku lagi. Kakinya yang gemetar melangkah mundur menjauhiku.

“Kenapa ada darah di tanganmu?” bisiknya parau. Tidak terselip nada ceria di setiap kata yang ia ucapkan seperti biasanya.

“Saya akan membersihkannya, Yang Mulia. Tapi-”

Pangeran menepis tanganku ketika aku beerusaha menenangkannya “M-menjauh dariku…” kedua tangannya gemetar dan memeluk tubuhnya seakan aku akan menyakitinya.

DOR

Aku pikir cahaya temaram ini akan menyamarkan warna merah yang melekat di tubuh dan pakaian putihku. Aku pikir dinding ruangan ini akan memberikan kesunyian hingga ia tak akan mendengar suara-suara pilu setelah lonceng ke tiga berbunyi di malam natal yang telah kusaksikan tadi.

Sejarah telah terulang kembali. Malam natal yang seharusnya dihabiskan dengan tawa kebahagiaan banyak orang, telah menjadi jerit mengerikan, pertumpahan darah, dan tangisan yang memilukan. Aku melihat semua itu bagaikan sebuah rekaman film. Sebuah ilustrasi nyata dari cerita pengantar tidur yang selalu kubaca setiap malamnya. Tidak ada mimpi buruk disetiap tidurku, tapi cerita itu kini telah menjadi nyata dan sangat mengerikan. Ini-kah sejarah yang hilang di masa lalu?

Dunia ini begitu kejam…

Jika sekelompok orang terjatuh dalam sebuah jurang, mereka akan saling menyakiti hanya untuk menggapai sehelai benang laba-laba yang belum tentu bisa membebaskan mereka. Manusia hanyalah makhluk serakah yang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Tidak ada manusia yang benar-benar murni berwarna putih, kebanyakan dari mereka berwarna abu-abu.

Itulah yang diajarkan kedua orangtuaku sebelum aku bertemu dengan Pangeran walaupun sebelum bertemu aku sudah mengetahui profil, kebiasaan, dan hal detail lainnya. Diantara anggota kerajaan yang lain, Pangeran adalah yang paling jujur mengungkapkan pendapatnya. Ia hanyalah anak kecil yang polos dan selalu optimis dengan dunia damai yang selalu diimpikannya.

Ayah… Ibu… apakah mereka mengerjakan tugasnya dengan baik? Mereka berusaha sekuat tenaga demi melaksankan tugasnya, jadi aku harus melaksanakan tugasku dengan baik.

Putih telah menjadi merah, dan mulai detik ini aku hanya akan menjadi hitam agar tidak ada warna lain yang bisa mengubah warnaku. Aku hanya akan mengenakan warna-warna gelap, sehingga tak akan ada yang bisa melihat bercak merah yang membasahi tubuh dan pakaianku.

Tak’kan pernah ada yang membuatku ragu lagi karena aku akan menutup mata dan telingaku. Melakukan apa yang harus ku lakukan, karena aku tidak ingin ada rumput liar yang mengganggu perjalanan Tuan-ku.

“A-aku takut, Jiyeon-ah…” bisiknya.

Aku menatapnya lembut ke dalam bola mata hitamnya yang mula redup. “Tidak apa-apa, Yang Mulia. Saya di sini, kita akan baik-baik saja…” aku ingin meraihnya namun tatapan matanya ke telapak tanganku. “Saya akan membersihkannya…” kugosokkan kedua tanganku ke sisi gaun putihku hingga noda merah itu menghilang.

“Sudah bersih, Yang Mulia…”

Tidak ada yang murni…

“Anda gemetar…”

Karena aku memiliki warna sendiri…

Kuraih kedua tangannya yang gemetar lalu kurengkuh tubuhnya yang sedikit lebih tinggi dariku untuk menenangkannya. Pangeran tidak menolak. “Saya akan selalu ada di sisi anda…” tanganku mengelus belakang kepalanya.

Karena aku memiliki warna sendiri…

“Jangan pernah meninggalkanku…” bisiknya parau.

Warna mutlak…

“Tidak akan pernah, Yang Mulia,” tangan kananku terangkat tinggi-tinggi. “Maafkan aku, Myungsoo-ah.”

Yaitu hitam.

To Be Continue

Authornya jahaaaaat!

Maaf ya. Sumpah aku minta maaf. Naskahnya yang chapter ini habis ilaaaang. Jadi aku harus ngetik ulang dan sempat melewati masa-masa yang menyebalkan, soalnya aku ga bisa ngarang ulang dengan jalan cerita yang sama. T.T

Author cediiiiiiih.

Semua file tentang T-ara hilang guys!!! Film, drama, dll hilang cemuaaaaa. Emang derita anak IT kayak gini yaaa???

Btw udah ada gambaran siapa Jiyeon? Atau masa lalu hubungan Jiyeon sama Myungsoo?

Sudah-sudah puas-puasin baca chapter ini deh. Author mau semedi dulu. Ngoding sama ngarang lanjutannya.

33 responses to “[CHAPTER-PART 9] EIRENE

  1. Asaaa aku back dan sudah ada lanjutannya.
    Bahhhh. Myung itu flashback.
    Hubungan seperti itu apa yg tersirat. Ahh mereka mash kecil si. Apakah mereka saling menyukai tp untuk umur merek yg masih kecil.
    Miris sumpah.
    Iya author mulai ngerti alurnya.
    Next yaa. Semngattt 😃

  2. wahh byk yg udah gk sabar nunggu nih lanjutannya , trmasuk aku ..
    ayo donk thor d next …
    udah siap uas nya kahh?
    dtunggu bgt fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s