[Chapter 1] Last Angel

image

LAST ANGEL CH 1
Laykim Artposter & Storyline
Main Cast:
Park Jiyeon, Lee Jaehwan
Other Cast:
Byun Baekhyun, Bae Irene, Lee Junho, Lee Ahreum, Cha Hakyeon,
Genre:
Romance, Fantasy, Hurt/ comfort
Length: Multichapter
Rating: PG – 15

Tap! Tap! Tap!
Deru langkah sepasang kaki mungil menapak lembut di atas lantai sebuah bangunan kosong yang nampak menyeramkan. Sesekali – orang itu menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke arah belakang – mengawasi jikalau ada seseorang yang mengikutinya. Surai panjangnya tergerai indah dan mengalun saat ia menggerakkan kepalanya.

“Kau nampak ketakutan.”
Sebuah suara sukses mengejutkan gadis itu. Sontak, gadis itu mundur satu langkah karena ia harus menyembunyikan rasa keterkejutan itu dari orang yang melontarkan kata-kata beberapa detik yang lalu.

Tak ada respon dari sang gadis. Ia hanya berdiri mematung dan mengatur nafasnya.

Tap! Tap!
Terdengar suara langkah orang yang menyapanya tadi – mendekat dan terus mendekatinya.

“Mau apa kau mengikutiku?” Akhirnya sang gadis mengeluarkan suara.

“Park Jiyeon, kau tidak berubah!”

Gadis bernama Park Jiyeon – ya, gadis bersurai panjang itu memiliki nama lengkap ‘Park Jiyeon’. Seorang malaikat yang berjuang mati-matian mempertahankan takdirnya sebelum berubah menjadi devil. “Aku tidak punya urusan denganmu, Byun Baekhyun!”

Baekhyun berdiri tepat di belakang Jiyeon – menatap surai panjang malaikat cantik itu. Ya, meskipun Baekhyun tidak terlalu suka pada sosok malaikat cantik seperti Jiyeon, tapi ia mengakui kebaikan dan kecantikan malaikat itu. “Lihatlah! Sebentar lagi kau akan menjadi devil.”

Jiyeon tersenyum sinis. Hatinya merasa takut jika ucapan Baekhyun itu benar. “Hah! Sudahilah ucapanmu itu, Byun Baekhyun.”

“Kau tidak mau mendengarnya? Kau sendiri juga tahu siapa yang dapat menolongmu dari takdir burukmu itu.”

Jiyeon terdiam. Ia teringat pada seseorang yang pernah singgah di hatinya. Orang itulah yang dapat membantunya terbebas dari takdir buruk yang akan terjadi pada dirinya. “Jaehwan…” lirihnya dengan ratapan kesedihan. Sebenarnya Jiyeon sedih karena seseorang. Jika dirinya memang ditakdirkan menjadi devil, ia tidak akan dapat bertemu dengan seorang namja bernama Lee Jaehwan.
Kehidupan Park Jiyeon yang dulu telah terlupa saat dirinya menerima takdir menjadi seorang malaikat. Manakala menjadi malaikat, Jiyeon sangat senang dan bersyukur karena dirinya masih diberi kesempatan untuk menjadi sosok yang baik hati. Namun rupanya takdir yang ia jalani belum berhenti sampai di sini saja. Park Jiyeon harus menyelesaikan tugasnya yang diberikan oleh para dewa untuk dapat terbebas dari hukuman yaitu berubah menjadi devil.
***

Angin musim semi bertiup cukup kencang untuk memberikan kesejukan di hati manusia. Tiga pohon sakura berjejer di halaman depan sebuah rumah mewah berarsitektur Yunani kuno. Sekilas, bangunan megah itu tampak seperti istana raja Yunani pada zaman dahulu yang berdiri di dataran Korea.
Seorang malaikat cantik tengah berjalan gontai di bawah pohon sakura dengan membawa sebuah catatan yang sangat malas untuk dibaca. “Kenapa aku harus membawa catatan ini dan membacanya denhan seksama? Kalau tidak karena takdirku yang buruk, tentunya aku tidak ingin melakukan ini. Tugas ini… benar-benar membuatku putus asa.” Park Jiyeon, seorang malaikat yang berjuang mati-matian agar tidak menjadi seorang devil, mengeluh tentang takdir buruk yang harus ia terima jika gagal menyelesaikan misi tertentu. Sudah berkali-kali Jiyeon mendapatkan misi untuk tetap menjadi malaikat. Namun berkali-kali pula ia gagal menyelesaikannya. Jika kegagalan itu terjadi lagi kali ini, sudah dapat dipastikan kalau malaikat cantik dan seksi itu menjadi devil yang memiliki rupa tidak jelas. Jiyeon pun merinding membayangkan dirinya menjadi devil.

Berjalan di bumi selama berjam-jam untuk mencari seorang pemuda yang namanya tercantum dalam catatan yang ia bawa. Jiyeon mengamati setiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia di sekitarnya. Mereka berjalan bersama-sama teman, menelepon, makan, minum kopi bersama, tertawa, bercanda, naik kendaraan, dan lain-lain.

Jiyeon berdiri di depan sebuah butik baju dan melihat-lihat koleksi baju dari luar. Kedua irisnya tak lelah memandang sebuah baju terbuka dan seksi. Bibir maisnya tersenyum saat melihat baju itu. Baku berwarna hitam dengan lengan sangat pendek, bagian dada terdapat kain menyilang dan terletak agak rendah sehingga menampakkan sedikit bagian dada. Baju itu memiliki bagian bawah berupa rok mini yang dikenakan hingga setengah paha.
“Aku pasti cocok memakai baju itu,” gumam Jiyeon sembari berjalan masuk ke dalam butik. Ia menyamar menjadi manusia dengan wajah aslinya. Namun rambutnya tidak seperti aslinya yang panjang sampai pinggang. Jiyeon sengaja membuat rambutnya pendek sebahu.

Baju sudah dibeli dengan sangat mudah. Penyamaran pun dimulai. Namun sayangnya, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan jika sudah menyamar menjadi manusia. Pemuda yang harus ia cari pun tak tahu berada di mana. Jiyeon seperti anak ayam yang kehilangan induknya.

Setelah berjalan ke sana kemari dengan, langkah putus asa yang tak berujung, akhirnya Jiyeon memutuskan untuk beristirahat di sebuah gang sepi dan gelap. Ia sangat membenci malam, pandangannya terbatas saat berada di malam hari.
Jiyeon berdiri di depan pagar sebuah rumah kecil, di sebuah gang gelap dan sepi. Ia menyandarkan punggungnya pada pagar tersebut sembari mengatur nafasnya. Kemampuannya hilang seketika saat menyamar menjadi manusia. Dirinya akan menjadi manusia seutuhnya yang tidak memiliki perbedaan dengan manusia yang lain.

Dingin, gelap, sepi dan membosankan. Itulah deskripsi singkat yang cocok untuk lokasi tempat Jiyeon berada.
Saat sedang bersantai dan beristirahat di tempatnya, ada tiga orang laki-laki berpakaian normal dan tengah mabuk karena terlalu banyak minum soju level tinggi – mendekati Jiyeon da menepuk bahu kirinya. Jiyeon tersentak kaget. Ia sangat takut melihat tiga orang mabuk yang sepertinya ingin berbuat jahat padanya.
“Halo, Cantik. Apa yang kau lakukan di sini?” tanya pria pertama yang memakai kacamat minus.
“Tidur dengan kami saja,” kata pria kedua.
Jiyeon berusaha menjauh dari tiga orang yang mengganggunya.

“Hey, hentikan!”
Seorang namja tampan berhidung mancung datang mendekat dengan langkah panjangnya. Kedua tangannya mengepal dan siap menghantam wajah tiga orang yang mengganggu Jiyeon.
“Pergi sana!” bentaknya sekali lagi.

Pria pertama malah sengaja memegang tangan Jiyeon dan mencengkeramnya hingga memerah. Jiyeon merasa kesakitan. Ia pun berontak dan berteriak. Baru kali ini ada orang yang berani menyentuhnya. Jiyeon pun menangis, meratapi kemalangan nasibnya yang harus menyamar menjadi manusia. “Manusia itu lemah,” lirihnyaaku seraya melepaskan tangannya dari cengkeraman dari pria tak jelas asal usulnya.

Bumm!
Prang!
Lee Jaehwan, namja tampan dan baik hati berhasil memukul pria pertama yang sudah berbuat kurang ajar pada Jiyeon.
Melihat pria jahat itu terperosok jatuh hingga kepalanya terbentur pagar tembok.

Jiyeon miris melihat aksi para laki-laki yang menurutnya sangat keras. Ini kali pertama dia melihat aksi pemukulan dan perkelahian secara langsung.

Tiga orang pria aneh yang mencoba mengganggu Jiyeon telah dibuat jera oleh Jaehwan. Akhirnya mereka pun lari tunggang langgang menjauh dari Jiyeon.

Jiyeon merasa lega dan berterima kasih sekali pada Jaehwan. Ia terpesona melihat ketampanan Jaehwan hingga tak sadar kalau ternyata namja itulah yang dicari selama berjam-jam keliling kota Seoul.
“Kau tidak apa-ap, kan?” tanya Jaehwan pada Jiyeon yang berdiri di depannya. Ia melihat penampilan Jiyeon dari ujung kepala hingga kaki. Seksi dan cantik, dua kata itu mampu mendeskripsikan penampilan Jiyeon malam itu.
Jiyeon mengangguk.
“Sebaiknya jangan memakai baju terbuka seperti itu saat berjalan di malam hari. Banyak laki-laki hidung belang yang akan mengganggumu nanti.”
Apa yang dikatakan oleh Jaehwan sangat benar. Jiyeon menyadari hal itu dan berterima kasih sekali lagi pada Jaehwan. Ia tak mampu berkutik saat berhadapan dengan namja setampan Jaehwan.
“Lain kali hati-hati. Selamat maam.” Jaehwan bersiap pergi meninggalkan Jiyeon.
“Tunggu!” Jiyeon memegang tangan Jaehwan.
“Ada apa?” tanya Jaehwan tanpa menaruh curiga ataupun penasaran pada Jiyeon, kenapa gadis itu menahannya pergi.
Jiyeon melihat catatan yang dibawanya. Rupanya dia sudah tahu kalau Lee Jaehwan yang ia cari adalah namja yang telah menolongnya. Jiyeon mengelus dada dan menghembuskan nafas pelan.
“Apa kau tahu… cara mendapatkan uang dan tempat tinggal?” tanya Jiyeon polos.
Jaehwan mengerutkan kening. Kali ini dia bingung dengan pertanyaan Jaehwan. Bukan jawaban atas pertanyaan Jiyeon namun alasan Jiyeon menanyakan tentang hal sepele seperti itu.
“A, aku hanya bingung bagaimana lagi mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanku dan… bagaimana mencari tempat tinggal. Karena aku… baru saja pergi dari tempat tinggalku yang lama.”

Jaehwan mengangguk mengerti. “Untuk sementara, kau bisa tinggal bersamaku. Apartemenku cukup luas dan mungkin juga cukup untuk dua orang. Itupun kalau kamu tidak keberatan.”
Jiyeon senang sekali. Ternyata sangat mudah mendekati Jaehwan. Dia yakin pasti bisa membuat Jaehwan jatuh cinta. Dengan begitu, takdirnya akan berubah. Dia akan menjadi malaikat selamanya. “Terimakasih banyak. Aku sama sekali tidak keberatan. Bahkan… aku merasa sangat senang. Terimakasih sekali lagi, kau telah menyelamatkanku dua kali.”

Jaehwan tersenyum.
“Park Jiyeon.” Jiyeon mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Jaehwan. Malaikat cantik itu telah banyak belajar tentang perilaku dan aktivitas manusia. Cara berkenalan seperti tadi juga ia dapatkan saat berjalan-jalan mengelilingi kota Seoul beberapa jam yang lalu.

Jaehwan menyambut uluran tangan Jiyeon dengan senyum yang membuat ketampanannya tampak sempurna. Jiyeon akui, Lee Jaehwan adalah laki-lali pertama yang memiliki wajah tampan sekali. Menurutnya, belum ada malaikat yang memiliki wajah setampan Jaehwan. Namja itu tak berbeda dengan malaikat yang berparas tampan.
“Lee Jaehwan,” ucap Jaehwan ramah.
***

Jaehwan dan Jiyeon masuk ke dalam apartemen berukuran cukup luas dan cukup bagus. Interiornya memang buatan lokal Korea, namun penataan barang-barang sangat pas dan enak dipandang mata. Desain interior yang sederhana tetapi indah, membuat mata Jiyeon betah mengelilingi pemandangan setiap sudut apartemen Jaehwan. Warna dinding ungu muda membuat setiap ruangan terlihat manis.
“Wah, bagus sekali,” puji Jiyeon polos.
“Apa baru kali ini kau melihat apartemen seperti milikku?” tanya Jaehwan ingin tahu.
Jiyeon mengangguk diiringi senyum menawan yang membuat parasnya terlihat semakin cantik. “Iya. Aku akui, apartemen ini bagus sekali. Kau pandai menata dekorasi interiornya.”
Jaehwan hanya membalas pujian Jiyeon dengan seulas senyum. “Kau bisa tidur di kamar paling pojok, di sana.” Jaehwan menunjuk pada sebuah kamar yang pintunya tertutup. Kamar itu terletak tepat di depan ruang makan dan di samping kamar lainnya. “Yang sebelahnya adalah kamarku.”
Jiyeon mengangguk mengerti. Dia pun melangkahkan kaki menuju kamar yang ditunjukkan oleh Jaehwan tadi. Sesampainya di depandepan kamar yang dimaksud, tangan Jiyeon siap memutar knop pintu.
“Kau mau makan apa?” tanya Jaehwan.
Jiyeon membalikkan badan. Ia berpikir tentang makanan manusia yang enak. “Menurutku semuanya enak,” jawab Jiyeon seadanya karena menurutnya semua makanan manusia terasa lezat di lidahnya.

Jaehwan tersenyum tipis.
“Aku bisa memasak,” sahut Jiyeon. Ia kembali ke tempatnya semula, berdiri di depan Jaehwan kemudian melihat peralatan dapur dan isi lemari pendingin. ‘Ternyata ada gunanya aku melihat acara di televisi tadi,’ batin Jiyeon senang.

“Kau yakin?” Jaehwan meragukan kemampuan Jiyeon.
Jiyeon mengangguk mantab. “Kau pikir aku gadis manja, eoh? Sudah, pergi sana!” Jiyeon mendorong tubuh Jaehwan agar segera menjauh dari area dapur karena namja itu mulai menyebalkan bagi Jiyeon. “Tunggu saja di sana!”
***

Satu jam kemudian.
Jaehwan berjalan acuh ke arah dapur. Ia tidak sabar lagi menanti Jiyeon selesai memasak. Perutnya membunyikan suara keroncongan yang dahsyat dan  tidak dapat lagi menahan lapar. Sesampainya di dapur, rupanya Jiyeon telah menyiapkan beberapa menu masakan. Jaehwan membelalakkan sepasang netranya saat melihat piring-piring berjajar rapi di atas meja makan. Setiap piring berisi makanan lezat yang menanti untuk disantap.

“Silahkan makan!” ucap Jiyeon dengan senyum sumringah karena dia berhasil menyamar menjadi manusia yang setidaknya bisa memasak.

Dengan ragu, Jaehwan duduk di salah satu kursi yang mengitari meja berbentuk persegi kemudian mengambil salah satu jenis masakan dengan sendoknya. Jaehwan langsung memasukkan suapan makanan itu ke dalam mulutnya. Rasanya….

Dua mata lebar Jaehwan membulat. Mulutnya belum berhenti mengunyah. Ia menarik nafas panjang saat makanan di dalam mulutnya telah masuk ke dalam lambung dengan lancar.

“Bagaimana?” tanya Jiyeon penasaran.

Jaehwan melirik ke arah Jiyeon kemudian mengangguk mantab. “He’em, enak sekali. Sungguh, baru kali ini ada orang yang memasak bulgogi dengan sempurna. Ah, lidahku masih dapat merasakan betapa lezatnya makanan tadi. Aku janji, semua makanan ini akan habis malam ini juga.”

“Yes! Waaaaah senangnya!” Jiyeon berjingkrak kesenangan. Ia berhasil membuat masakan terenak di dunia, mungkin.

Akhirnya Jaehwan dan Jiyeon telah menyelesaikan acara makan malam bersama. Tidak ada ruginya Jaehwan memungut seorang gadis asing yang tidak dikenal untuk tinggal di apartemennya.
Selesai makan, Jiyeon menyuruh Jaehwan mencuci piring karena Jiyeon sudah membuatkan makanan tadi. Jaehean mendengus kesal. Ia sangat membenci ‘cuci piring’.

“Park Jiyeon!” panggil Jaehwan datar.
Jiyeon menoleh cepat. “Ada apa? Kau mau curhat? Atau mau ku carikan jodoh?”

Jaehwan kesal pada Jiyeon yang sok akrab dan sok baik. “Sudah, lupakan saja itu. Kau ingin bekerja?”

Jiyeon mengangguk mantab. “Tentu saja.”

“Kalau begitu, besok pagi ikutlah denganku. Kau akan ku rekomendasikan menjadi salah satu koki di restoran milik temanku.”

“Koki?” tanya Jiyeon. Ia memutar ingatannya dan ingin segera mengetahui arti dari koki. Apa yang dimaksud koki? Tidak ada ingatan apapun tentang koki.
“Eoh, baiklah. Aku bersedia.” Jiyeon acuh dan mengiyakan tawaran Jaehwan. Pekerjaan sebagai koki mungkin menyenangkan baginya.
***

Malam berlalu dengan cepat. Itu sesuai dengan harapan Jiyeon. Dia ingin segera mengetahui arti dari koki.

Tok tok!
Jaehwan mengetuk pintu kamar Jiyeon. Gadis itu pun membukanya dan menyembulkan kepala ke luar pintu. Rambut berantakam dan make up yang masih menempel di wajah, membuat penampilan Jiyeon ditertawai oleh Jaehwan.

“Pakailah inI! Apa kau mau memakai baju seksi itu ke restoran?” Jaehwan menyerahkan sebuah setelan baju lengan panjang dan celana jeans yang nampak casual jika dipakai Jiyeon.

Jiyeon melihat kostum yang ia pakai. Benar juga kata Jaehwan. Pakaiannya terlalu terbuka dan terlihat seksi. Ia terkesan seperti seorang wanita penghibur. Membayangkan tentang wanita penghibur saja sudah membuat Jiyeon merinding. “Baiklah.” Dengan cepat, Jiyeon mengambil baju yang diberikam oleh Jaehwan.

“Aku tunggu di luar. Cepatlah! Aku bisa terlambat bekerja karena dirimu.” Jaehwan membalikkan badannya dan berjalan begitu saja menuju pintu masuk apartemennya.
***

Pukul 8 pagi, seharusnya Jaehwan harus sudah sampai di tempat kerja. Namja itu bekerja sebagai Supervisor di sebuah swalayan terbesar di kota Seoul.
Selama perjalanan menuju restoran yang dimaksud oleh Jaehwan, namja itu tak lelah melirik arloji mahalnya yang melingkar manis di lengan kirinya. ,

“Kenapa kau terus menerus melirik lenganmu? Ada luka, ya?” tanya Jiyeon sedikit khawatir.

Jaehwan bersikap acuh. Saat ini ia sedang agak emosi karena sudah terlambat datang ke tempat kerja.
“Kita turun!” perintah Jaehwan saat mobilnya berhenti di halaman sebuah restoran yang cukup mewah.

Jiyeon menurut apapun yang dikatakan namja yang bisa menjadikannya malaikat abadi. Keduanya berjalan memasuki restoran dengan terburu-buru. Jiyeon berjalan mengekor di belakanh Jaehwan.

“Jaehwan-a, aku senang kau mau mengunjungi restoran ini. Aku kira kau sudah melupakan tempat ini.” Byun Baekhyun, sahabat Lee Jaehwan sejak lima tahun yang lalu, memberikan sambutan seperti biasanya karena Jaehwan jawang sekali mengunjunginya.

“Maaf kalau aku jarang kemari, Baekhyun-a. Kau tahu, kan? Profesiku yang sekarang benar-benar membuatku tidak bisa meluangkan waktu untuk sekedar berkumpul dan bercanda tawa dengan teman-temanku.” Jaehwan menjavat tangan Baekhyun akrab.

“Kau datang ke tempat ini pasti ada sesuatu yang ingin kau katakan ataubkau punya tujuan lain?” Baekhyun seperti seorang peramal yang dapat membaca pikiran orang lain. Tebakannya benar, Lee Jaehwan memang sedang membutuhkan bantuannya.

Jaehwan tersenyum geli karena Baekhyun pandai menebak tentang dirinya. “Kau benar sekali, Baekhyun-a. Baiklah, aku persingkat saja. Ini Park Jiyeon, seorang gadis yang pandai memasak. Dia membutuhkan pekerjaan sekarang. Aku rekomendasikan Jiyeon untuk menjadi koki di sini. Bagaimana?”

Baekhyun bersikap tenang, sedangkan Jaehwan dan Jiyeon bersikap tegang. Jaehwan tegang karena ia tengah terburu-buru dan Jiyeon tegang karena ia akan memperoleh pekerjaan seperti manusia pada umumnya. “Baiklah, santai saja. Kalau aku… tentu saja menerima Jiyeon bekerja di sini. Tetapi… kau tahu sendiri kalau rekrutmen di restoran ini sangat ketat dan harus melalui persetujuan manajer Bae. Jadi, kita tunggu saja Irene datang.”

Jaehwan menghembuskan nafas kasar setelah ia mendengar nama Irene. Ya, dia lupa bahwa rekrutmen di restoran itu harus mendapat persetujuan Irene selaku manajer restoran. “Aku bisa dipecat karena terlambat bekerja,” ketus Jaehwan seraya menunjukkan arlojinya pada Baekhyun. “Aku titip Jiyeon, bagaimana? Katakan pada Irene kalau aku yangjarang merekomendasikan Jiyeon untuk berkerja di sini.”

Baekhyun mengangguk setuju dengan Jaehwan. “Baiklah.”

“Aku pergi dulu,” kata Jaehwan singkat. Ia bergegas pergi dari restoran.
Jiyeon berlari menyusul Jaehwan yang sudah tiba di depan pintu restoran. “Lee Jaehwan, tunggu!” teriak Jiyeon yang terus berlari menyusul ke mana arah perginya Jaehwan.

Prang!
Jiyeon menghentikan langkahnya saat sesuatu terjatuh ke lantai dan pecahan kaca tersebar di mana-mana. Jiyeon panik. Ia telah menjatuhkan sebuah piring dan pecah berantakan di lantai. Tak peduli dengan piring yang telah pecah itu, Jiyeon mencari sosok Jaehwan. Ia bertambah panik dan takut saat tidak menemukan Lee Jaehwan dan mobilnya di halaman restoran.

Tap!
Sepasang sepatu berhenti tepat di depan sepatu Jiyeon. Gadis itu bingung dan tidak tahu apa yang membuat seseorang berhenti begitu saja tepat di depannya.

“Ganti rugi piring yang pecah itu sekarang!” perintah seorang gadis bersurai coklat terang pada Jiyeon. Tatapan gadis itu tajam sekali.

Jiyeon berusaha mengatur emosi dan pernafasannya. “A, apa maksudnya?” tanya Jiyeon yangpenasaran mempertahankan diri menatap sepasang bola mata milik Bae Irene.

Irene mengambil satu pecahan kaca dari piring yang terjatuh tadi. “Kau lihat ini? Kau yang menjatuhkannya, sekarang ganti kerugian yang kau sebabkan ini sekarang juga!”

Jiyeon mundur satu langkah. “Ma, maaf tapi aku tidak sengaja.”

“Irene-a!” panggil Baekhyun yang baru saja melihat Irene mengintimidasi Jiyeon di depan banyak orang.
“Jangan lakukan itu. Biarkan saja,” kata Baekhyun tenang. Ia tidak ingin melihat Jiyeon merinding ketakutan karena dibentak oleh Irene. “Dia ingin bekerja di sini.”

“Apa? Gadis pengacau ini ingin bekerja di sini? Apa tidak salah?” Irene mengangkat kedua alisnya, kaget.

“Dia… direkomendasikan oleh Jaehwan.”
“Jadi tadi Jaehwan oppa ada di sini?” tanya Irene.
Baekhyun mengangguk mengiyakan.

Irene menatap Jiyeon lekat-lekat. Ia juga memandang gadis yang berdiri di depannya itu dengan seksama, dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Kau mengenal Lee Jaehwan?” tanya Irene meragukan pernyataan Baekhyun tentang Jiyeon dan Jaehwan.

“Ya, aku mengenalnya. Memangnya kenapa?” Jiyeon berusaha melawan rasa takutnya. Ia memang baru dua hari menjadi manusia tapi bukan berarti dirinya harus dipojokkan, diolok, diintimidasi, dan sebagainya.

Irene bersilang tangan di depan dada. Ia mengangguk kecil. “Baiklah. Aku yang akan mengujimu untuk bisa bekerja di sini. Kau harus memasak makanan yang aku mau. Jika makananmu sesuai dengan standar rasa di restoran ini, kau lulus. Jika tidak, kau boleh angkat kaki dari restoran ini.”

Kedua tangan Jiyeon mengepal, ingin rasanya kepalan itu ia pukulkan ke wajah Irene yang angkuh dan sombong itu. “Baiklah,” sahut Jiyeon yangmengangguk merasa ditantang. Ia berjanji pada dirinya sendiri, akanaku menunjukkan kemampuan memasak lebih baik daripada memasak di apartemen Jaehwan.
***

Pukul 12 siang, Jaehwan tengah asyik duduk di kantin kantor utama sebuah swalayan besar. Ia mengaduk-aduk makanannya dan pandangannya entah kemana. Namja itu penasaran pada ujian masuk restoran yang dihadapi Jiyeon. Ia sedikit ragu kalau Jiyeon bisa membuat hati Irene luluh dan akhirnya menerima Jiyeon bekerja di restoran yang sudah lama ia tinggalkan.

Jaehwan telah kehilangan nafsu makan,. Sesaat sebelumnya, ia teringat kenangan manis bersama ibunya di restoran yang kini dikelola oleh Baekhyun dan Irene. Kenangan itu membuat airmata Jaehwan keluardan dari muaranya dan menusuk hati. Rasa sedih kehilangan orang yang disayangi hinggap kembali di hatinya.
Dibukanya sebuah foto yang tersimpan manis di galeri ponselnya. Foto seorang wanita paruh baya dengan dirinya sewaktu masih berusia 18 tahun.
“Eomma, maafkan aku yang tidak mampu mengelola restoran yang telah eomma bangun dengan susah payah. Semua kenangan tentang kematian eomma di sana, membuatku gila. Jika aku teringat kejadian itu, aku tidak bisa melepas kepergian eomma selamanya. Maafkan aku, Eomma,” lirih Jaehwan dengan menahan airmata yang hendak menetes membasahi pipi tirusnya.
***

Jiyeon telah selesai melaksanakan ujian masuk agar ia bisa bekerja sebagai koki di restoran yang tak pernah sepi itu. Ia sudah jatuh cinta pada restoran yang membuatnya kagum karena pelayanannya yang cepat, dekorasi interior yang unik dan karyawannya yang, ramah. Pantas saja restoran itu tidak pernah sepi pengunjung.

“Ehem!” Irene sengaja berdehem agar Jiyeon fokus bicara dengannya. “Aku akui masakanmu sangat enak. Sebagai orang yang memiliki profesionalitas tinggi, aku menerima kamu, Park Jiyeon, sebagai koki di sini. Tugasmu adalah bekerja bersama para koki yang lain dalam membuat berbagai masakan yang lezat dan yang akan disantap oleh pelanggan kami. Kau sanggup melaksanakannya?” tanya Irene dengan tegas.

Jiyeon tersenyum senang. Kali ini ia berhasil lagi. Sekarang, tidak ada yang bisa menyebutnya sebagai pengangguran. Memang tidak ada seorang pun yang menyebutnyakau begitu. “Baik, aku sanggup. Kapam aku mulai bekerja?” tanya Jiyeon antusias.

“Besok datanglah pagi-pagi. Kau tidak boleh datang terlambat.”
Jiyeon mengangguk paham. “Baiklah, aku mengerti. Terimakasih telah menerimaku bekerja di sini.” Jiyeon membungkukkan badan, pamit pada Irene kemudian ia melenggang pergi.

Tbc

5 responses to “[Chapter 1] Last Angel

  1. Pingback: [Chapter 2] Last Angel | High School Fanfiction·

  2. Wah jiyeon malaikat yg pintar masak yya,,, untung ajj dia keterima di restoranya irene,,, semangat jiyeon semoga sukses,,
    jaehwan semoga kau cpet jatuh cinta yya sma jiyeon, biar jiyeon ga jd devil yg menyeramkan,,
    Next,,

  3. Jadi kekuatan jiyeon ilang ya kalo nyamar jadi manusia, mudahan aja dia cepet beradaftasi deh ma manusia dan jaehwan cpet jatub cintrong ma jiyeon..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s