[CHAPTER-PART 8] EIRENE

EIRENE

EIRENE-8

||Author : Lyzee7||

||Main Cast : Kim Myungsoo|Park Jiyeon|Irene|Ryu Hwayoung||

||Genre : Family|Romance|Complicated|Royal| Action||

||Rating : PG-17||

||Recommended Song : Fervor by Baek Jiyoung||

Happy Reading, Myungyeon Shipper!

 EIRENE CAST

‘Sebenarnya, kau sudah mengenalnya.’ -Irene

EIRENE part 8

Flashback 11 years ago

Hwayoung menatap ngeri ke arah rimbunan pohon yang menjulang tinggi di luar mobilnya, di sepanjang jalan. Malam ini ia dan kedua orang tuanya akan datang ke sebuah pesta yang diadakan oleh seorang bangsawan seperti dirinya.

“Ayah, kita tidak salah jalan, bukan?” ia bertanya ragu pada ayahnya yang memangkunya dan sedang mendengus geli.

Tuan Ryu menggeleng lalu mencium rambutnya. “Tidak. Tentu saja tidak,” jawabnya. “Sebentar lagi kita akan- ah! Lihat di depan sana! Rumahnya besar sekali, bukan?”

Hwayoung menatap rumah di depannya dengan binar kagum. “Hyoyoung-ah! Lihat rumah itu! Whoa! Besar sekali!” ia memekik antusias pada saudara kembarnya yang duduk di pangkuan ibunya.

Hyoyoung mengangguk antusias menyetujuinya. “Ibu, kita tidak terlambat, bukan? Whoah! Ada berapa lantai- satu, dua- ada empat lantai!” Hyoyoung bertepuk tangan dengan senang. “Apakah teman-teman kami juga datang?”

Nyonya Ryu mengangguk.

“Myungsoo?” Hwayoung menimpali.

“Hei! Tidak sopan memanggil Putera Mahkota seperti itu,” Nyonya Ryu memperingatkan.

Hwayoung memutar matanya lalu memekik senang ketika mobil yang ditumpanginya berhenti di dua anak tangga yang melingkar dengan indah menyambut kedatangannya. “Kita sudah sampai!” teriaknya senang.

Dua orang pelayan dengan sigap membuka pintu mobilnya di kedua sisi, lalu ia turun dengan semangat.

Pelayan lain yang berpakaian hitam putih menyambutnya dengan membungkukkan badan sopan. “Selamat datang di kediaman Midford. Silahkan masuk, Tuan dan Nyonya Ryu, juga Nona Ryu Hwayoung dan Nona Ryu Hyoyoung,” sambutnya membuat Hwayoung dan Hyoyoung tersenyum lebar.

Pesta diadakan dengan meriah layaknya bangsawan. Gaun dan dasi kupu-kupu seolah menjadi pemandangan yang sangat indah malam ini, di rumah yang lebih besar dari pada rumahnya. Lampu kristal besar menggantung di tengah-tengah ruangan ditemani lampu kristal di sekelilingnya yang lebih kecil membuat pendar cahaya yang lembut.

“Kita akan menyapa tuan rumah dan anaknya. Kalian bisa berkenalan dengannya- itu mereka,” Tuan Ryu mengajaknya menuju beberapa orang yang sedang berbincang.

Ada seorang anak perempuan yang sedang duduk di kursi dekat jendela besar sedang mengayun-ayunkan kakinya dengan bosan. Di samping anak perempuan itu seorang pria besar yang menakutkan sedang berdiri dengan tegap, kedua tangan dikaitkan di depan tubuhnya. Seorang pengawal.

Hwayoung bergidik ngeri lalu melirik Hyoyoung yang bereaksi sama seperti dirinya.

“This is such a wonderful party, David, Jihyun,” kata Tuan Ryu menghampiri sepasang suami isteri di depan mereka.

Hwayoung seakan terpana dengan mata hazel seorang pria bernama David yang menurutnya indah. Tatapan tajam yang dingin, membuatnya lebih takut dari pada ketika melihat pengawal tadi. Tapi itu hanya berlangsung sesaat sampai hazel itu melembut lalu pemiliknya menyinggungkan senyum lebar pada ayahnya.

“Terima kasih telah meluangkan waktu untuk datang ke pesta kami, Ryu Songjin-ssi,” Oh! Dia berbicara bahasa Korea. “Dan kupikir, kita memiliki teman baru di sini.” Dave melirik Hwayoung dan Hyoyoung bergantian.

“Mereka kembar?” Jihyun menimpali lalu mendekat.

“Ya,” jawab Nyonya Ryu. “Yang memakai gaun biru bernama Hyoyoung, dia adalah kakaknya. Dan yang memakai gaun pink bernama Hwayoung.”

“Ah, senang sekali,” kata Jihyun. “Aku juga punya anak perempuan, kalian mau aku kenalkan padanya? Dia pasti senang karena mempunyai teman baru. Ayo!” Jihyun mengajak mereka berdua mendekati anak perempuan yang masih mengayun-ayunkan kakinya dengan malas.

Hwayoung menatap anak perempuan yang mengenakan gaun berwarna hijau tosca itu tanpa berkedip. Jihyun meninggalkannya sejenak untuk mendekati anak perempuan itu dan membisikkan sesuatu, anak perempuan itu mendongak menatap Jihyun. Mata hazel yang sama seperti milik pria berambut cokelat tadi. Jihyun menggandeng tangan anak perempuan itu lalu mendekat padanya dan Hyoyoung.

Langkah anak itu sangat anggun dengan mata yang tertuju padanya dan Hyoyoung secara bergantian lalu keningnya berkerut. Mungkin itu reaksi setelah melihatnya dan Hyoyoung yang identik. “Ayo, perkenalkan dirimu pada teman baru kita,” Jihyun mendorong halus punggung anak perempuan itu.

Mata hazel menatap Hwayoung dan Hyoyoung secara bergantian lalu mengulurkan kedua tangannya. “Hai! Namaku Jiyeon, Jiyeon Midford,” katanya lalu tersenyum lebar.

Hwayoung bertukar pandang dengan Hyoyoung lalu tersenyum, ia dan Hyoyoung menatap Jiyeon lagi lalu Hwayoung menjabat tangan kiri Jiyeon dengan tangan kirinya sedangkan Hyoyoung menjabat tangan kanan Jiyeon dengan tangan kanannya.

“Hai, aku Hyoyoung,” sahut Hyoyoung.

Hwayoung mengikutinya, “Aku Hwayoung.”

Setelah perkenalan itu, mereka duduk di kursi seperti yang Jiyeon lakukan sebelumnya lalu mengobrol tentang Cinderella, Puteri Salju, Puteri Duyung, Puteri Tidur dan lain-lain. Hal yang mengejutkan, Jiyeon tidak tahu semua film itu.

“Tidak masuk akal,” gumam Jiyeon yang berada di tengah-tengah mereka.

“Kenapa?” tanya Hyoyoung.

Jiyeon menaikkan sebelah alisnya. “Mana ada ibu peri, penyihir, manusia berekor ikan, dan orang yang bisa tertidur sangat lama tanpa makan dan minum?”

Hwayoung memberengut. “Mungkin saja. Ibu peri pasti ada untuk melawan penyihir dan untuk menolong manusia,” katanya.

“Tidak ada yang namanya ibu peri. Kalau ada, maka semua orang akan duduk santai di kursinya tanpa melakukan apa pun. Kalau ada penyihir, dalam sekejap mata orang-orang pasti akan mati. Yang ada hanya orang yang berusaha keras untuk melawan orang yang jahat,” jelas Jiyeon lalu mengayunkan kakinya lagi.

“Pahlawan?” kata Hyoyoung memiringkan kepalanya ke satu sisi.

“Polisi?” timpal Hwayoung.

Mengangkat bahu, Jiyeon melirik pengawalnya yang sedang memberi kode padanya. “Mungkin. Tapi aku tidak menyukai pahlawan atau pun polisi,” katanya lalu turun dari kursi dan berbalik menghadap Hwayoung dan Hyoyoung. “Aku harus pergi. Sampai jumpa,” Jiyeon pamit dan berbalik dengan tumitnya meraih lengan jas hitam pengawalnya lalu pergi.

Dari tempatnya, mata Hwayoung tak lepas melihat kepergian Jiyeon sampai gadis itu menghilang di lorong. Ini pertama kalinya Hwayoung bertemu anak seusianya yang sudah mempunyai pendirian dan membuatnya kagum sekaligus sedikit takut? Entahlah.

Flashback End

“Apa kau mengenalnya? Ryu Hwayoung?!” Myungsoo membentak dan mengguncang lengan atas Hwayoung ukup keras.

Hwayoung menatap Myungsoo dengan mata melebar dan sirat akan ketakukan. Bibirnya bergetar dan ia menggeleng berkali-kali. “Ti-tidak- aku-,” sekuat tenaga Hwayoung mengentakkan tangan Myungsoo. “Maafkan aku, Myungsoo-ah.” Ia berbalik lalu berlari menjauh dari Myungsoo yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

Hwayoung membuka pintu ruang ganti lalu terdiam di tempat, ekor matanya mencari-cari keberadaan Jiyeon- tapi tidak ada. Hwayoung menghela napas lega lalu mendekati Irene yang sedang meletakkan seragam sekolah di dalam lokernya. Irene sudah mengenakan kimono biru gelap lalu memasang pelindung dada, siku kiri dan tangan kanannya.

Irene melirik Hwayoung lalu melepas kaca matanya. “Cepat pakai kimono-mu, Hwayoung-ah! Waktu kita hanya tersisa lima belas menit,” katanya lalu merapihkan poninya dan menutup loker. “Kau baik-baik saja?”

Hwayoung mengedipkan matanya lalu mengangguk. “Ya,” jawabnya.

Myungsoo harus menelan kekecewaan sekali lagi. Ia membuka pintu ruang ganti dengan keras hingga membuat beberapa murid terlonjak kaget mengelus dada. Hyunwoo terlihat sedang mengelus kepalanya dan terlihat kesakitan di depan loker yang terbuka.

Dan ada Shin Wonho, berdiri membelakanginya -dengan bertelanjang dada, hanya mengenakan celana sekolah- tampak mengabaikan kedatangannya. Dengan berat hati, Myungsoo harus menahan semua luapan emosinya lalu berjalan ke lokernya dan mengganti pakaiannya.

You okay?” bisik Hyunwoo dengan nada takut.

Myungsoo meliriknya sebentar lalu membuka loker dan melemparkan jasnya. “Ya,” jawabnya dengan nada final.

Hyunwoo menutup rapat bibirnya lalu menggumam ‘okay’ tanpa bersuara.

.

Jiyeon melirik telapak tangan kanannya yang terdapat bekas luka menonjol dengan tatapan kosong.

“Memanah bukan soal untuk berburu, menembak target dengan tepat, atau pun mendapat poin sepuluh, Nona.”

Suara Akira semalam kembali terngiang di benaknya. Waktu itu ia duduk di atas jaket Akira yang dibentangkan di atas tanah, menemani Akira yang semangat menanam untuk labirinnya.

Flashback

“Anda bisa kedinginan, Nona,” Akira memperingatkan Jiyeon yang memeluk lutut dan duduk di sampingnya.

“Aku sudah memakai sweater dan mantel,” balas Jiyeon lalu mendengus geli. “Hei,” panggil Jiyeon. “Apakah aku boleh menanyakan sesuatu?”

Akira menatap Jiyeon lalu mengerutkan keningnya. “Tentu saja, Nona.”

Jiyeon menatap ragu pada Akira. “Menurutmu, seorang pemanah bisa menembak tepat di titik tengah target, bagaimana caranya?” tanya Jiyeon pada akhirnya.

Kerutan di kening Akira bertambah dalam. “Memanah?”

Jiyeon mengangguk.

Akira mengangguk mengerti lalu bersila menghadap Jiyeon. “Memanah bukan soal untuk berburu, menembak target dengan tepat, atau pun mendapat poin sepuluh, Nona,” katanya.

“Bukan?”

“Bukan,” ulang Akira.

“Lalu?”

Akira menunjukkan senyum lebarnya pada Jiyeon lalu meletakkan telunjuk di bibir. “Saya akan memberitahu rahasia untuk bisa membidik tepat sasaran,” bisik Akira.

Jiyeon mengangkat alisnya. “Hm?”

Mengangguk-anggukkan kepalanya, Akira merentangkan tangan kanannya ke atas dengan telapak tangan terbuka. “Kita harus mengira-kira kecepatan anginnya,” jelasnya lalu menurunkan tangannya dengan cepat. “Apakah memanahnya berada di luar ruangan?”

Mengangkat bahu, Jiyeon membalas, “Entahlah.”

“Kalau di dalam ruangan, abaikan saja, Nona,” gumam Akira. “Yang kedua, papan target anda adalah titik terkecil pada papan target,” lanjut Akira yang terlihat bingung dengan ucapannya sendiri. “Eh- maksud saya, bayangkan lingkaran tengah itu adalah papan target anda dan abaikan yang berada di luarnya.”

Jiyeon mengangguk. “Aku mengerti.”

“Yang terakhir merupakan hal yang paling penting,” kata Akira menatap Jiyeon dengan serius.

“Apa itu?”

“Kosongkan pikiran.” Akira menutup matanya.

“Abaikan semua suara di sekitar anda.”

Akira menghirup udara dengan tenang. “Rileks, jangan tegang sedikit pun.”

“Dan,” Akira membuka matanya lalu menatap Jiyeon dengan tatapan paling tenang yang dimilikinya.

“Kontrol emosi.”

Flashback End

Di bangku putih dekat danau, Jiyeon menurunkan tangannya di sisi tubuhnya. Ia memejamkan mata dan mengatur pernapasannya. Jangan memikirkan apa pun. Kerutan di kening Jiyeon berangsur menghilang. Abaikan suara, dan rileks. Rahang Jiyeon, kedua bahu dan kepalan tangannya mulai rileks, mengendur. Kontrol emosi. Jiyeon menarik napas secukupnya lalu menghembuskannya dengan perlahan. Menarik lalu menghembuskannya berkali-kali. Setelah itu ia membuka matanya, menatap embun di permukaan danau dengan hazelnya.

“Jiyeon, ayo pergi ke doujou.

Jiyeon menoleh ke belakang, menemukan Lee Jieun yang sudah berpakaian kimono seperti dirinya.

“Ya.” Jiyeon berdiri lalu menghampiri Jieun.

Bangku penonton doujou itu sudah di penuhi murid-murid yang sudah kalah di pertandingan sebelumnya. Tim A berbaris di depan papan target masing-masing dengan urutan Myungsoo di sebelah kanan, diikuti Hwayoung, Irene, dan terakhir Shin Wonho. Masing-masing membawa busur di tangan kiri dan kantung panah  yang di tempatkan di pinggang.

Tarik napas, keluarkan. Tarik napas, keluarkan. Myungsoo berusaha menghilangkan kegelisahannya lalu memasang anak panah pada busur lalu menariknya. Menahan napas, Myungsoo membidik titik tengah targetnya lalu melepas anak panahnya.

DAK

Setelah panahnya menancap di papan target, panah Hwayoung, Irene, dan Wonho mengikutinya secara bergantian.

“Sembilan, tujuh, sembilan, dan sepuluh poin!” penghitung skor mulai membaca hasil di masing-masing papan target. Semua orang berdecak kagum apalagi ketika poin Wonho dibacakan.

Myungsoo menggigit bibir bawahnya dengan resah lalu melirik Hwayoung yang terlihat masih pucat pasi. Diambilnya satu panah lagi lalu membidikkannya.

DAK

“Sembilan, enam, sembilan, dan sepuluh poin!”

Panah ke-tiga mereka lepaskan, tapi panah milik Wonho membentur panah yang sudah tertancap dan membuatnya meleset.

“Sepuluh, enam, delapan, dan delapan poin!”

Myungsoo menyeringai dengan puas lalu melirik Shin Wonho yang sedang memejamkan matanya dan mengatur pernapasan lalu beralih pada Hwayoung yang terlihat cemas dan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

Myungsoo menarik panah terakhir lalu membidikkannya. Ia menutup sebelah matanya menahan napas. Tiba-tiba pelipisnya berdenyut, membuat bidikannya sedikit goyah dan…

DAK

“Delapan, tujuh, sembilan, dan sepuluh poin!”

“Sial!” mengumpat pelan, Myungsoo berbalik untuk bertukar tempat dengan Tim D. Ternyata yang menggantikan posisinya adalah Lee Hyunwoo diikuti Lee Jieun menggantikan Hwayoung, Jeon Jungkook menggantikan Irene, dan yang terakhir, Park Ji- Jiyeon Midford menggantikan Wonho. Dari sudut matanya, Myungsoo bisa melihat Wonho dan Jiyeon yang tidak saling menatap satu sama lain. Tampak acuh, tidak peduli, seakan mereka tidak pernah kenal satu sama lain. Ini aneh. Myungsoo memberikan busurnya pada Hyunwoo lalu duduk di kursi yang sudah tersedia.

Jiyeon mengepalkan lalu membuka telapak tangan kanannya, mengambil satu anak panah lalu memasang di busurnya. Memejamkan mata, kosongkan pikiran, rileks, kontrol emosi seperti yang pernah dilakukan sebelumnya, Jiyeon membuka matanya lalu membidikkan panahnya pada papan target.

Ketika Jiyeon menahan napas, tanpa sadar Myungsoo ikut menahan napas dan tidak pernah melepas tatapannya pada Jiyeon. Bagaimana cara gadis itu menarik busurnya, membidik, dan matanya yang memancarkan ketenangan. Sampai gadis itu melepaskan panahnya dan membiarkannya meluncur ke tengah papan target setelah anggota timnya melakukannya terlebih dahulu.

“Tujuh, delapan, delapan, dan sembilan poin!”

Panah ke-dua di tembakkan.

“Delapan, delapan, sembilan, dan sepuluh poin!”

Sepuluh poin! Myungsoo berteriak dalam hatinya, matanya melebar menatap Jiyeon yang tidak menunjukkan reaksi apa pun. Lalu matanya bergrak turun menatap tangan kanan gadis itu yang sedikit gemetar.

Bayangan bagaimana pisau itu terhenti tepat di depan matanya, karena gadis itu. Jantung Myungsoo kembali berpacu dan deru napasnya bertambah cepat. Saya bersalah karena tidak bisa mengajari pelayan saya dengan baik… Orang yang telah mengancam nyawa anda, tidak bisa dimaafkan.

“Delapan, sembilan, delapan, dan sepuluh poin!”

Poin ke tiga di dapatkannya dengan cukup baik, namun ekspresi Jiyeon tidak berubah, tetap begitu tenang. Ia mengabaikan denyut nyeri di telapak tangan kanannya setiap kali mengapit panah agar tidak terlepas ketika ia menarik busurnya. Mengalihkan matanya dari papan target, Jiyeon memejamkan matanya, menarik napas lalu menghembuskannya dengan perlahan. Setelah mengambil anak panahnya, ia membidikkannya ke papan target tepat di titik tengah yang masih terlihat.

Tiba-tiba genggamannya mengendur membuat pegangan di panahnya melemas lalu terlepas setelah panah Jungkook menancap di papan target.

“Tujuh, delapan, delapan, dan sembilan poin!”

Setelah melepaskan panah terakhirnya, kedua tangan Jiyeon terkulai lemas dengan tangan kanannya yang gemetar, seolah panca indranya baru saja berfungsi dan rasa sakit datang dengan tiba-tiba.

“Perolehan skor yang fantastis oleh teman baru kita, Park Jiyeon! Tapi, tentu saja hanya ada satu tim yang keluar sebagai pemenang! Untuk jumlah skor yang di peroleh oleh tim A adalah… 135 poin!”

“WOW!”

PROK

PROK

PROK

Dan jumlah skor yang di peroleh tim B adalah… 134 poin! SELAMAT ATAS KEMENANGAN KALIAN, TIM A!”

Para penonton bersorak gembira lalu berteriak histeris dengan tiba-tiba dan pembawa acara mengatakan hal-hal yang tidak ingin didengarkan Jiyeon.

Jiyeon menatap kosong pada telapak tangan kanannya lalu menghela napas berat. Tepukan terasa di pundaknya, ia mendapati Jieun yang menatapnya dengan senyum yang menenangkan.

“Tidak apa-apa ‘kan? Kau sudah melakukannya dengan sangat baik,” ucap Jieun.

“Iya,” Jiyeon menjawab. “Tidak apa-apa.”

Myungoo dan anggota timnya kecuali Hwayoung berdiri di depan kelas setelah mereka sudah mengganti kimono dengan seragam sekolah. Hwayoung beralasan sakit dan berpamitan untuk segera pulang yang membuat dugaan Myungsoo bahwa Hwayoung menyembunyikan sesuatu darinya semakin kuat. Mata tajamnya menatap dingin pada Jiyeon yang duduk dengan tenang di kursi, gadis itu memejamkan matanya, duduk menyilangkan kaki dan meletakkan tangan kirinya di atas meja.

“Kami sebagai pemenang, akan memilih masing-masing satu di antara kalian untuk memenuhi permintaan kami!” Ahsung bersuara ketika tidak ada rekan se-timnya yang mengatakan sesuatu. Ia melirik satu per satu rekannya lalu berhenti pada Myungsoo, memberi sebuah kode untuk mempersilahkan Myungsoo memilih.

Beberapa murid perempuan mulai ricuh dan menawarkan diri dengan suka rela. Myungsoo menyeringai lalu kembali menatap gadis itu, membuka mulutnya.

“Park Jiyeon.”

Seketika, semuanya hening. Tunggu! Itu bukan suara Myungsoo, tapi… Shin Wonho!

Jiyeon membuka matanya lalu mendongak menatap Wonho dengan kerutan samar di antara alisnya.

“Shin Wonho?” geram Myungsoo marah. Ini adalah kesempatannya walaupun kemungkinan Jiyeon mengaku sangatlah kecil, Myungsoo ingin mencobanya.

Wonho menatap Myungsoo tanpa ekspresi lalu tertawa hambar. “Kau bahkan memiliki lebih dari satu permintaan yang bisa dikabulkan, Yang Mulia,” bisik Wonho tidak ingin didengar teman-temannya.

“Apa maksudmu?” desis Myungsoo.

Menyeringai, Wonho berkata, “Dia memilikiku, mulai sekarang.” Wonho melangkah mendekati meja Jiyeon lalu meraih tangan dan tas gadis itu lalu menariknya ke luar kelas mengabaikan tatapan tajamnya yang ingin melubangi kepala Wonho.

Myungsoo yang geram segera mengambil tas di bangkunya lalu keluar kelas untuk menyusul Wonho.

“Hei, mau kemana kau? Hei- Kim Myungsoo?”

Di abaikannya panggilan Hyunwoo dengan menutup pintu kelasnya cukup keras, bergegas mengejar Wonho dan Jiyeon yang berbelok ke tangga.

“Myungsoo-ssi!”

Langkah Myungsoo terhenti lalu ia berbalik menemukan Irene yang berlari ke arahnya. “Jangan mengejar mereka!”

Myungsoo mengerutkan keningnya. “Memangnya kenapa?”

“I-itu.” Irene melihat ke sekelilingnya sambil menggigit bibir bawahnya resah.

“Katakan padaku!”

Irene tersentak, kembali menatap Myungsoo dengan ragu. “Ini bukan kewenanganku. Tapi… terlalu berbahaya bagimu untuk berada di dekat Park Jiyeon.”

Mata Myungsoo dengan perlahan-lahan melebar seiring ia menyadari setiap kata yang baru saja di ucapkan oleh Irene. Ini berita baik atau malah berita buruk yang didapatkannya, Myungsoo tidak peduli. Ia hanya ingin menemukan jawaban dari setiap pertanyaan di benaknya. Siapa Midford? Apa hubungan Jiyeon dan Shin Wonho?

“Midford,” Myungsoo meralat membuat Irene terbelalak. “Namanya Jiyeon Midford.”

“K-kau sudah tahu?”

“Ya,” jawab Myungsoo. “Kau… mengenalnya, bukan?” Myungsoo berbisik dengan hati-hati agar Irene mau menjawab pertanyaannya dengan jujur. “Beritahu semua yang kau ketahui tentang Jiyeon Midford!”

“E-mail. Aku akan mengirimkannya melalui E-mail.”

“Jadi, apakah kau berniat memintaku untuk mencari orang lain?” tanya Jiyeon ketika mereka tiba di kursi panjang di dekat danau.

Wonho berbalik lalu menuntun Jiyeon agar duduk. Wonho mengulurkan tangannya. “Tanganmu.”

Jiyeon mengangkat sebelah alis lalu mengulurkan tangan kirinya.

“Tangan kananmu.”

“Untuk apa?”

Wonho berdecak lalu meraih tangan kanan Jiyeon dan menghadapkan telapak tangan kanan Jiyeon ke arahnya. “Sudah kuduga.” Bekas jahitan di telapak tangan Jiyeon terlihat sedikit memerah dan Wonho bisa merasakan tangan gadis itu yang gemetar. “Does it hurts?

No,” Jiyeon menjawab. “It doesn’t hurt.

Menghela napas, Wonho terkekeh. Ia merogoh saku celananya mengeluarkan segulung perban dari sana. “Aku baru ingat…” Ia mulai melilitkan perban itu paa telapak tangan Jiyeon. “Kalau seorang dengan nama Midford di belakangnya mempunyai sifat yang sangat keras kepala.”

“Senang kau bisa mengingatnya,” balas Jiyeon.

Wonho menatap Jiyeon, berusaha menyembunyikan senyum gelinya karena raut wajah Jiyeon yang tetap datar setelah ia melontarkan lelucon ringan itu. Ia menyelesaikan lilitan terakhir lalu mengikat perban untuk sentuhan terakhirnya dan melepaskan tangan Jiyeon. “Aku terkesan dengan kemampuan memanahmu.”

“Terima kasih. Tapi, aku tidak merasa bahwa aku telah mengalahkanmu.”

“Memang,” gumam Wonho. “Kau tidak mengalahkanku melainkan poin kita seri bahkan dengan tanganmu yang sedang terluka.”

Jiyeon diam.

“Itu sudah lebih dari cukup kalau kau pantas untuk mendapatkan hormat dariku,” lanjut Wonho menatap Jiyeon penuh keyakinan pada Jiyeon. “Aku akan menjadi informan-mu, My Lady,” suara Wonho lembut namun tegas untuk di dengar dan tanpa keraguan yang terselip di setiap suku katanya.

“Kau tahu apa arti ucapanmu, Shin Wonho?” taya Jiyeon tanpa melepas tatapan tajamnya.

“Ya.”

“Ini adalah pekerjaan yang kotor.”

“Ya.”

“Kau tahu apa konsekuensinya kalau kau berkhianat padaku.”

“Ya.”

“Kemungkinan kau akan melihat pertumpahan darah suatu hari nanti.”

“Ya.”

“Kau akan kehilangan beberapa temanmu.”

“Tidak masalah.”

Jiyeon menunjukkan senyum mirignya pada Wonho. “Aku terkesan, Shin Wonho,” ungkap Jiyeon.

“Sebuah sanjungan untukku, My Lady,” balas Wonho membalas Jiyeon dengan senyum tipis. “Tubuhku, nyawaku dan semua yang kau butuhkan dariku adalah milikmu mulai sekarang.”

“Simpan nyawamu, Shin Wonho. Karena aku tidak akan menyentuhnya selama kau tiak berkhianat padaku,” bisik Jiyeon bagaikan aliran air yang begitu tenang namun dalam dan menenggelamkan.

Yes, My Lady.

Dan Shin Wonho, tanpa diperintahkan, ia sudah tahu jawaban dari setiap perintah yang diberikan oleh Jiyeon padanya. Hanya tiga kata itu, dan Wonho akan melaksanakan perintah Jiyeon dengan sebaik mungkin. Ia bersumpah tidak akan berkhianat pada Jiyeon sampai akhir hayatnya seperti yang pernah diungapkan oleh ayah dan ibunya. Ia akan selalu berada di belakang Jiyeon sebagai informan keluarga Midford. Tidak ada yang bisa memberinya perintah selain seseorang dengan marga Midford di belakangnya.

.

Di dalam mobilnya, Jiyeon melihat isi amplop cokelat yang diberikan oleh Shin Wonho sebelumnya. Beberapa lembar kertas dijadikan satu dengan klip kertas dengan rapih, setiap halamannya di baca satu persatu oleh Jiyeon. Seringai tipis muncul di wajahnya. “Kita lakukan eksekusinya hari ini, Yunho-ya,” gumam Jiyeon lalu memasukkan lerbar kertas ke dalam amplop.

“Dimengerti, Nona,” balas Yunho lalu menekan beberapa tombol ponselnya yang terhubung dengan headset. “Hyomin-ssi, lacak keberadaan Ryu Songjin dan laporkan padaku secepat mungkin. Setelah itu, kirim Evelyn bersamamu untuk segera pergi ke lokasi… ya, ini adalah perintah dari Nona… ya, aku tunggu.” Yunho menutup sambungan teleponnya. “Anda tidak keberatan kalau saya mengrim Evelyn dan Hyomin?” tanya Yunho melirik Jiyeon dari kaca spion.

“Tidak,” balas Jiyeon. “Evelyn akan berperan sebagai penembak jitu kali ini. Lagi pula firasatku mengatakan bahwa Ryu Songjin akan pergi jauh dari rumahnya.”

Mobil yang ditumpangi Myungsoo tidak lama lagi akan sampai di Istana. Di kursi belakang, Myungsoo duduk dalam diam dengan ponsel yang terus berada di genggamannya dan terus menyalakannya setiap kali layar ponselnya menggelap.

Sebelumnya, Myungsoo telah memberikan E-mailnya pada Irene tanpa pikir panjang dan gadis itu mengatakan akan memberitahu semua yang Myungsoo ingin ketahui, namun secara bertahap.

PING

Myungsoo terkesiap. Satu E-mail masuk dan itu dari Irene.

Dari       : Irene Lee

Perihal   : J.M.

Tanggal : 3 Januari 2015 15:20

Untuk     : Myungsoo Kim

Jiyeon Midford, dia adalah puteri dari pasangan David Midford dan Park Jihyun. ‘Midford’ adalah bangsawan Inggris yang paling disegani dan ditakuti oleh bangsawan lain. Bagi Raja Inggris, Midford adalah ujung tombak milik mereka yang tajam dan mematikan, bisa juga disebut sebagai tangan kanan Raja Inggris yang paling tunduk. Tapi, ketika David Midford menikahi Park Jihyun, ia mengubah kewarganegaraannya menjadi warga Korea Selatan.

Menurut anda, apakah seseorang yang tunduk pada Rajanya akan berpaling dengan mudah?

Irene Lee

.

“Bangsawan Inggris? Tangan kanan?” desis Myungsoo tidak percaya.

Untuk     : Irene Lee

Perihal   : Menurutku…

Tanggal : 3 Januari 2015 15:30

Dari       : Myungsoo Kim

Mereka memiliki tujuan tertentu? Di mana kedua orang tuanya?

Myungsoo Kim

.

Dari       : Irene Lee

Perihal   : Mr & Mrs Midford

Tanggal : 3 Januari 2015 15:36

Untuk     : Myungsoo Kim

Aku juga beranggapan kalau David Midford memiliki tujuan tertentu. Mr & Mrs Midford sudah meninggal.

Irene Lee

.

Meninggal? Myungsoo terbelalak setelah membacanya.

“Dia adalah kepala keluarga Midford, Jiyeon Midford yang dikenal anakku dan teman-temannya sebagai Park Jiyeon.”

Benar! Waktu itu ayahnya mengatakan dengan tegas bahwa Jiyeon adalah kepala keluarga Midford. Sialan! Mana mungkin Myungsoo bisa sebodoh ini?

“Kita sudah sampai, Yang Mulia Putera Mahkota.”

Sudah sampai? Sejak kapan? Myungsoo mendongak lalu melemparkan pandangan ke luar jendela. Ah! Ternyata memang sudah sampai. Myungsoo melangkah keluar dari pintu mobil yang dibukakan oleh salah seorang pelayan yang menyambutnya.

PING

E-mail masuk dari Irene, dan Myungsoo membukanya.

DEG

Langkah Myungsoo terhenti seketika, rahangnya mengeras dan genggaman tangan pada ponselnya.

‘Sebenarnya, kau sudah mengenalnya.’

“Target bergerak berlawanan dengan kita, Nona. Evelyn dan Hyomin sedang membuntuti dalam radius sepuluh meter di belakangnya,” Yunho melaporkan pada Jiyeon ketika mereka melewati kawasan perbukitan yang cukup sepi, di samping kiri terdapat jurang yang cukup dalam.

“Ada berapa orang di dalam mobil?”

Jeda beberapa saat. “Empat orang, Nona. Kita akan sampai sekitar lima belas menit lagi.”

Hyomin mengendarai mobilnya menyesuaikan dengan kecepatan sebuah mobil yang beberapa meter di depannya. Di kursi belakang, Evelyn yang mengenakan jaket kulit hitam, sarung tangan hitam dengan rambut di gerai, sedang merakit beberapa komponen Riffle tipe APR Tactical hitam miliknya. Seperti klip, muzzle (moncong), scope (cakupan/teropong/lensa), dan yang terakhir di pasangnya adalah reducer (peredam).

“Empat ratus meter di depan ada tikungan tajam, Eve. Bersiap di posisimu!” Hyomin memberikan aba-abanya dengan tegas yang dibalas Evelyn dengan kata siap. “Ketika mobil sudah dalam posisinya, bidik dan tembak ban mobil belakang sebelah kanan, mengerti?”

“Ya,” jawab Evelyn lalu memakai topi hitam agar wajahnya tak terlihat. “Serahkan padaku!”

Hyomin mengangguk lalu memencet tombol untuk membuka jendela di samping kanan Evelyn. “Waktumu hanya enam detik, dimulai dari… Sekarang!”

Mobil mereka berbelok dengan tajam menimbulkan suara berdecit keras, bagian belakang berputar ke samping kanan hingga posisi mobil berubah sembilan puluh derajat dari posisi awal.

6…

Evelyn meletakkan lutut sebelah kanannya di kursi dan kaki ririnya agak ditekuk lalu mengangkat Riffle-nya hingga di posisi yang tepat.

4…

Menutup mata kirinya, Evelyn berusaha membidik seperti yang diperintahkan oleh Hyomin sembari menyesuaikan guncangan kecil dari mobil yang masih terasa. Ia menarik bagian pengunci agar kunci pelatuknya terbuka.

1…

Evelyn menarik pelatuknya, menimbulkan bunyi desingan kecil. Dengan gerakan gesit, ia menarik Riffle miliknya ketika jendela mobil ditutup Hyomin, kembali duduk di kursinya.

0…

Mobil berputar dan melaju ke arah berlawanan membelakangi mobil hitam yang kehilangan kendali, menabrak pembatas jalan dan meluncur ke jurang sampai beberapa detik kemudian suara debuman keras terdengar membuat Evelyn dan Hyomin saling berpandangan lalu menyeringai.

Good job, Eve,” ungkap Hyomin.

Evelyn mengunci pelatuk Riffle dan menaruh di pangkuannya, membuka topi. “I am Midford’s servant, Hyo. Thank you,” balas Evelyn, mengelus Riffle-nya. Ia berbisik, “You did well, Baby.

Evelyn dan ‘kekasihnya’ mengerjakan tugas dengan sangat baik.

Mobil Jiyeon terhenti oleh beberpa mobil yang memenuhi jalanan dan banyak orang yang mengerumuni pembatas jalan dari jurang. Dua mobil polisi di parkir jauh di tengah kerumunan dengan lampu sirine yang menyala berkelip-kelip. Kaca mobil meluncur turun, memperlihatkan Jiyeon yang mengarahkan matanya di kerumunan, mencari-cari sesuatu. Tak lama kemudian seringainya muncul ketika ia melihat besi pembatas jalan yang putus dan bengkok ke luar- ke arah jurang.

Sekelebat bayangan masa lalunya kembali memenuhi pikirannya, membuat seringai di bibir Jiyeon memudar.

“Hai, aku Hyoyoung.”

“Aku Hwayoung.”

Lalu, ketika mereka berkunjung ke rumah Sehun bersama orang tua masing-masing yang sedang mengadakan pertemuan. Saat itu ia mengingat ketika Hwayoung, Hyoyoung, dan Sehun hampir bertengkar karena Hwayoung dan Hyoyoung yang memilih menonton Snow White dari pada The Lion King.

Di sofa, Jiyeon dan Wonho hanya duduk dalam diam dan memperhatikan perdebatan kecil mereka.

“Jiyeon!”

Sehun, Hwayoung dan Hyoyoung memanggilnya. Jiyeon tersentak. “Ya?”

“Menurutmu lebih baik menonton Snow White atau Lion King?”

Jiyeon terdiam sejenak lalu sudut bibirnya berkedut, menahan tawanya lalu menatap satu persatu temannya yang menunggu jawabannya. Namun pada akhirnya Jiyeon hanya mengendikkan bahu karena dia benar-benar tidak tahu jalan cerita kedua film tersebut.

Jiyeon memejamkan matanya dengan kening berkerut samar. Ia juga kembali mengingat ketika Hwayoung dan Hyoyoung yang diculik hingga membuat beberapa orang ayahnya untuk turun tangan. Tapi orang-orang ayahnya melaporkan bahwa Hwayoung pergi meninggalkan Hyoyoung sendirian dengan panik, dan ketika di periksa, Hyoyoung sudah kehilangan nyawanya dengan sebilah pisau di perutnya dan kedua tangan dan kakinya dalam keadaan terikat.

Semilir angin membelai wajah Jiyeon dengan lembut -hingga membuat beberapa helai rambutnya terkibas- di area pemakaman milik keluarga bangsawan Ryu. Kedua orang tua Hwayoung dan Hwayoung sendiri menangis sesenggukan di samping makam Hyoyoung. Beberapa teman sekolah Hwayoung dan Hyoyoung pun turut datang dan beberapa di antara mereka pun menangis dalam diam juga ada yang menahan air matanya hingga memerah. Di sampingnya, Sehun menggenggam lembut tangannya untuk menenangkannya.

Tapi, Jiyeon tidak merasa sedih sama sekali. Apakah itu wajar? Ya! baginya itu wajar karena seumur hidupnya, ia sudah sering disuguhkan pemandangan seperti ini walau pun sebagaian besar adalah orang-orang yang menyerang Manor-nya dan beberapa di antara mereka merupakan pelayannya.

Merasa ada yang mengganjal matanya, Jiyeon berkedip dua kali.

TES

Eh? Apa ini? Tangan Jiyeon yang bebas terangkat dan menyentuh pipinya yang merona karena dingin. Basah. Ia menangis? Tidak mungkin! Seketika genggaman Sehun di tangannya mengerat dan ia menoleh.

‘Tidak apa-apa. Jangan menangis,” kata Sehun tanpa suara disertai senyum menenangkan.

Jiyeon kembali berpaling ke pusara makam Hyoyoung dan tertegun.

Satu tetes.

Dua tetes.

Empat tetes.

Air mata Jiyeon tidak bisa berhenti walaupun ia berkali-kali menyekanya. Akhirnya ia memejamkan mata dan membalas genggaman tangan Sehun dengan erat membuat Sehun menatapnya. Ia tidak tahu apa yang ia pikirkan, ia tidak tahu apa yang ia harapkan. Dalam hatinya, ia hanya mengatakan tiga kata.

‘Selamat tinggal, temanku.’

Waktu itu adalah pertama kali baginya kehilangan seorang teman dan membuatnya merasa kehilangan.

Jiyeon membuka matanya kembali ketika mendengar Yunho memanggilnya dengan cemas.

“Anda baik-baik saja, Nona?”

“Ya,” lirihnya lalu balas menatap Yunho dan menyinggungkan senyumnnya. “Hanya kembali teringat teman lama.” Mereka berdua adalah bagian dari masa lalunya dan tak akan lagi ada air mata kesedihan darinya.

Selamat tinggal Ryu Hwayoung. Sekarang, kau sudah bisa bersama dengan Hyoyoung lagi, bukan? Minta maaf-lah pada Hyoyoung karena pernah meninggalkannya demi keselamatanmu sendiri.

Castle

Myungsoo berjalan tergesa menuju rumah kaca setelah salah seorang pelayan memberi tahunya bahwa Raja sedang minum teh bersama Ratu di sana. Pintu rumah kaa terbuka lebar lalu Myungsoo masuk ke dalamnya dan terus berjalan. Ia berbelok pada sebuah jalan kayu yang sekelilingnya merupakan kolam bebatuan dan terdapat beberapa bunga teratai yang terapung di permukaan.

“Ayah!” panggil Myungsoo lantang ketika ia sudah bisa melihat ayahnya yang sedang tertawa bersama ibunya.

Raja dan Ratu berjengit kaget karena suara keras Myungsoo yang hampir seperti bentakan. Mereka berdua saling bertatapan lalu akhirnya Raja bertanya ada apa.

“Untuk yang terakhir kalinya…” Myungsoo merasa napasnya memburu karena kemarahan mulai menguasai pikirannya.

“Ya?” ayahnya menanggapi emosi Myungsoo dengan sangat berhati-hati.

Myungsoo meletakkan ponselnya di meja yang menampilkan sebuah gambar beberapa anak yang berdiri berjajar dan Myungsoo di tengahnya. Ada Lee Hyunwoo, Shin Wonho, Ryu bersaudara, Lee Jieun, Jeon Jungkook, Oh Sehun, dan yang lainnya. Tapi ada lingkaran merah pada gadis yang tepat berada di sampingnya. Gadis kecil yang sama tinggi sepertinya dengan rambut di gerai ke samping dan memakai dress berwarna peach, menatap kamera dengan senyum lebar yang manis.

Raja dan Ratu memucat.

“Dia…” Myungsoo menggerakkan telunjuknya menunjuk gadis itu. “Jiyeon Midford?”

Raja menatap Myungsoo dan mengangguk dengan gerakan kaku. “Eum.”

“Jelaskan padaku semua hal yang terjadi sebelum aku hilang ingatan! Sebelum insiden enam tahun yang lalu.”

To Be Continue

 

Hai Hai!!!

ada yang udah kangen sama author??

nih, aku kasih lanjutannya. Buat beberapa chapter kedepan mungkin agak lama, soalnya akhir-akhir ini author dapet banyak jobdesk buat sebuah proker jurusan. T^T

readers dimohon pengertian ya?

 

kalo pengen kasih semangat ke author, komen aja yang banyak. hehe

 

Btw, gaada yang daftar kuliah kah? di Malang? siapa tau author yang ng-ospek in >.<

 

29 responses to “[CHAPTER-PART 8] EIRENE

  1. Oh jadi myungsoo ilang ingatan..gara garaa apaaa yah…haduh jiyii main nya trrlalu berbahayaaa tihati yahhhhh….. semangat yah author………..fighting^^

  2. myung sama jiyeon udh saling kenala cuma myung hilang ingatan makanya dia ngk ingat sama sekali ma myung

  3. Wahhhhseru.
    Jiyeon baik apa ngg ya
    Jd tkut klau trnyata jiyeon jhat
    Mga aja apa yg dia lakuin it utk kbaikan smua org
    Keren
    Mkin pnasarab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s