[CHAPTER-PART 7] EIRENE

EIRENE

EIRENE-7

||Author : Lyzee7||

||Main Cast : Kim Myungsoo|Park Jiyeon|Irene|Ryu Hwayoung||

||Genre : Family|Romance|Complicated|Royal|Little Action||

||Rating : PG-17||

||Recommended Song : Fervor by Baek Jiyoung||

EIRENE CAST

“Sejak kecil, darah yang diturunkan ibunya dan marga ayahnya sudah menjadi beban yang dipikulnya sejak dia lahir di dunia ini.” –Mr. Oh

**

“Aku sungguh tidak mengenalmu, Park Jiyeon, atau mungkin harus kupanggil Midford?” Myungsoo mulai berucap dengan dingin lalu berhenti tepat di depan gadis itu hingga hampir meniadakan jarak di antara mereka. Ia mengulurkan tangannya, mencengkeram lengan atas Jiyeon karena tidak bisa menahan luapan emosinya. “Kau datang dengan tiba-tiba, duduk di kursi kepala keluarga, kau tidak pernah bersikap normal seperti remaja lain pada umumnya, pelayan yang terlalu loyal padamu sampai tidak peduli bahwa aku adalah seorang Putera Mahkota, kau mengenal Shin Wonho dan entah kenapa menginginkannya menjadi informanmu, setiap bertemu denganku kau selalu membungkukkan badan dan selalu mengucapkan kata-kata formal sialan itu padaku, tidak ada emosi apa pun yang terpancar di sana,” ucap Myungsoo seiring cengkeramannya yang semakin erat.

“Apakah…” Myungsoo menjeda dan menatap kedua bola mata Jiyeon yang menatapnya dengan datar. “Keluarga terdahulumu pernah terlibat Pembantaian pada tahun 1895?”

Jiyeon menatap lekat pada Myungsoo lalu menyinggungkan senyum kecil. “Apa yang membuat anda berpikir kalau saya tahu tentang hal itu?”

“Jiyeon Midford!” panggil Myungsoo dengan penekanan di setiap intonasinya. “Are you friends or enemy?”

 

EIRENE part 7

Seakan kata-kata Myungsoo menggema di kepala Jiyeon, mereka terdiam cukup lama membiarkan kesunyian menyelimuti mereka. Mata Myungsoo tak lepas memandang Jiyeon dengan lekat, berusaha mencari celah dari gadis di hadapannya.

“I am,” Jiyeon mulai menjawab, “…just one of your classmate.”

Bahu Myungsoo merosot kecewa dan marah dengan ucapan Jiyeon. Untuk beberapa saat, Myungsoo memejamkan mata, berusaha mengontrol emosinya dan bibirnya mengeras, membentuk garis lurus. Myungsoo mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. “Jangan bercanda, Jiyeon!” desisnya tajam. “Baiklah. Selain teman sekelasku, ‘siapa kau’ di luar sana?”

Senyum kecil terlukis di bibir Jiyeon, matanya memancarkan pandangan kosong menatap Myungsoo. “Saya sudah pernah mengatakannya kepada anda, Yang Mulia. Anda bisa mengaggap saya seperti yang anda inginkan,” balas Jiyeon dengan begitu tenang.

Mendengarnya, Myungsoo merasa kepalanya berdenyut dan rahangnya semakin mengeras. Ia menarik tubuh Jiyeon mendekat ke arahnya dan mendekatkan wajahnya dan gadis itu hingga ia bisa merasakan napas Jiyeon yang mulai normal. “Kau tahu? Aku bisa saja melakukan hal di luar nalar kalau aku belum bisa mendapatkan jawaban yang kuinginkan,” gumam Myungsoo sirat kemarahan pada suara dan matanya. “Kalau kau salah satu dari seorang temanku, maka kau seharusnya tidak merencanakan sesuatu di belakangku,” lanjutnya lalu pergi ke ruang ganti pria.

“Kalau begitu, Yang Mulia,” cegah Jiyeon membuat Myungsoo berhenti di ambang pintu. “Berhati-hatilah pada teman-teman anda yang lain. Karena mungkin saja mereka sedang merencanakan sesuatu di belakang anda. Bahkan seseorang yang sangat dekat dengan anda sekali pun.”

Dengan sekali sentakan Myungsoo berbalik lalu menunjuk wajah Jiyeon dengan kasar. “Stop talking about that bullsh*t, Midford! I’ll make sure that I will know about you and your plans with Shin Wonho!” setelah mengatakannya dengan sergahan keras, Myungsoo segera membanting pintu ruang ganti pria dengan keras.

BRAK

Jiyeon menolak menatap pintu ruang ganti yang baru saja dibanting Myungsoo dan tetap memandang ke ujung lorong, menuju lapangan olah raga. “You such have a bad memory, Prince. If you remember, I never tell a lie,” Jiyeon melirih hampir tidak terdengar bahkan oleh telinganya sendiri, ia mendengar suaranya hanyalah sebuah bisikan.

Myungsoo meninju pintu lokernya setelah ia melepaskan kaus olahraga dan melemparkannya ke dalam. Punggung tegapnya terukir bak dewa Yunani dan tanpa tergores cacat sedikit pun. Kedua tangannya mengukung lokernya lalu menggeram marah di antara sela-sela giginya. Tiba-teba sekelilignya berputar dan kepalanya berdenyut hebat, ia mencengkeram kepalanya dan jatuh terduduk di lantai.

“Argghh!”

Rasanya menyakitkan dan menyiksa, dengan sekelebat bayangan tentang pembantaian yang entah mengapa terlintas di kepalanya. Seakan hal yang pernah di bacanya menjadi sebuah gambaran nyata, suara jeritan, letupan peluru yang membabi buta, suara cipratan darah, dan semuanya.

Myungsoo menggerakkan kepalanya, berusaha menyadarkan dirinya kembali dari sekelebat bayangan yang menyiksanya. “Apa-apaan itu tadi?” gumamnya pada diri sendiri setelah merasa kepalanya lebih ringan. Ia mendesah pelan, bangkit lalu mengambil seragam sekolahnya dari dalam loker. “Aku pasti terlalu banyak memikirkan tentang hal itu,” simpulnya.

.

“Hei, Shin Wonho!” panggil Myungsoo setelah Wonho mengaitkan kancing terakhir kemejanya. Saat ini mereka hanya berdua di ruang ganti yang disinari cahaya oranye matahari sore.

“Apa?” sahut Wonho tanpa menoleh pada Myungsoo. Lelaki itu mengambil dasi yang menggantung di pintu lokernya lalu mengikat di kerah kemejanya. “Ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu?” akhirnya ia menatap Myungsoo dengan sebelah alisnya terangkat.

“Kau… mengenal Park Jiyeon?” kata Myungsoo tanpa menatap Wonho.

“Hm?” Wonho menggumam. “She’s our new classmate, right?”

Myungsoo terkekeh lalu memutar kedua bola matanya jengah. “Mungkin Park Jiyeon memang teman sekelas kita,” ucapnya lalu menyeringai pada Wonho. “But, I know that you know about Jiyeon Midford, right.”

Gerakan Wonho yang sedang memutar dasinya terhenti lalu menatap Myungsoo dengan mata membulat sempurna. “Ba-bagaimana-?”

“Christmas eve,” balas Myungsoo. Ia bersedekap lalu kembali menatap kosong ke depan. “My Dad told me that she is Jiyeon Midford.”

Menggerap, Shin Wonho berjalan ke arah pintu lalu menguncinya. Ia mendekat ke arah Myungsoo dengan frustasi, emosi yang sangat jarang diperlihatkannya. “Dengarkan aku baik-baik, Myungsoo-ah!” bisik Wonho tampak waspada. “Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan dan bagaimana kau menilainya, tapi kumohon jangan pernah menyebut marga itu di depan orang lain- maksudku, not this time! Ini terlalu berbahaya.”

Seolah menganggap ucapan Wonho sebuah omong kosong, Myungsoo kembali menyeringai. “Apa yang membuatmu berpikir kalau aku percaya padamu?” desisnya lalu menghela napasnya kasar. “Dan kau baru saja menjelaskan kalau Midford itu berbahaya.”

“For God’s sake! That’s not what I mean!” sergah Wonho dengan keras.

“Kau pikir kau siapa, berani-beraninya kau membentakku?” kata Myungsoo dingin.

Ucapan Myungsoo menohok Wonho, membuat Wonho menatap lelaki itu denga tatapan tak percaya. “Yeah, I’m just one of your pions. Thanks for made me remember where’s my potition, Your Highness,” suara Wonho bergetar, tersirat rasa tersinggung, marah, dan kecewa di dalamnya. Tanpa mengatakan apa pun lagi, Wonho menyentakkan dasinya sampai lepas lalu keluar dari ruang ganti dengan membanting pintu penuh emosi.

“Jangan berkata seolah-olah aku yang kejam di sini, Shin Wonho.”

Mobil yang dikemudikan Yunho berhenti di pelabuhan yang pernah di kunjunginya bersama Jiyeon. Pelabuhan yang terletak cukup jauh dari keramaian dan hiruk pikuk orang desa maupun kota. Namun, kali ini mereka mengajak Jack yang duduk di samping Yunho. Pria itu terlihat berpakaian kasual dengan jaket abu-abu, celana coklat se-lutut yang memperlihatkan betapa terlatih kakinya dan sepatu kets yang ia kenakan.

Pada waktu yang bersamaan setelah mendapatkan aba-aba dari Jiyeon, Yunho dan Jack keluar dari mobil lalu berjalan cepat mendekati para pekerja yang mengangkat balok kayu yang cukup besar menuju kapal barang yang tidak begitu besar. Mengabaikan orang-orang di sekitar mereka yang menatap mereka dengan tatapan membunuh, Jack mengeluarkan pisau berukir naga miliknya lalu mencongkel bagian atas balok kayu dengan paksa sampai terbuka.

“Seorang mantan petinggi Jendral yang tidak pernah gentar melawan musuhnya seorang diri, bahkan teroris sekali pun,” Jiyeon mulai bersuara dengan mata runcingnya yang berkilat puas. “Dan satu-satunya anggota pasukan khusus tentara Jerman yang selamat setelah peperangan dan penghapusan oleh Negaranya sendiri. Hari ini mereka akan menjadi sebuah tim yang sangat mematikan dan liar menghadapi puluhan musuh di depan mereka. Mereka pernah dilatih untuk menghadapi banyak musuh seorang diri, tidak ada celah untuk mengalahka mereka.”

“Sayang sekali tapi, permainanmu sudah berakhir bahkan sebelum kau memulainya,” setiap kata yang Jiyeon ucapkan di bibirnya yang tersenyum miring, That’s Jiyeon Midford.

Tumpukan berbagai jenis senjata api terpampang di depan Jack. Pria itu mengambil sebuah handgun lalu memeriksa isi pelurunya yang ternyata masih penuh. “Seperti yang telah di prediksi oleh Nona,” ucapnya lalu memasukkan isi pelurunya kembali dan menatap Yunho yang sudah mengencangkan sarung tangan hitamnya, menyeringai. “There’s no mercy for them.”

DOR

DOR

DOR

Dengan gerakan cepat Jack menyerang sekawanan orang yang sudah mengepung mereka dengan tembakan telak dan beruntun. Begitu pun dengan Yunho yang sedang melawan beberapa orang dengan tangan kosong, gerakannya begitu gesit dan pukulannya telak mengenai rahang dan ulu hati lawannya. Tak jarang, ia mematahkan tulang leher lawannya karena tendangan kakinya yang sangat keras dan karena bantingannya di tanah aspal itu.

Suara tembakan dan teriakan kesakitan bagaikan angin lalu yang berhembus dan menghilang di lautan lepas. Jack maupun Yunho tak peduli dengan hal itu, cara mereka menatap lawan dan seringai puas yang tercetak di bibir mereka seolah menggambarkan bahwa mereka adalah singa lapar yang sudah lama menanti mangsa mereka.

“Tidak perlu terlalu berhemat menggunakan pelurumu, Yunho,” ucap Jack di sela-sela ia mengisi pelurunya. “Karena kita punya banyak persediaan di sini.”

Yunho tidak bisa menahan seringaiannya. “Baiklah,” balasnya lalu mengeluarkan handgun dari balik jasnya. Matanya menatap liar pada orang-orang yang bertambah banyak, datang berbondong-bondong dengan senjata di tangan mereka.

DOR

DOR

DOR

Tiga peluru panas ditembakkan Yunho kurang dari satu detik ke arah musuh-musuhnya yang berusaha menyerangnya balik. Sudah sekitar empat kali Yunho mengisi pelurunya hingga musuhnya tersisa sekitar sepuluh orang. Jack pun menggunakan pisaunya untuk melawan mereka pada saat ia menghentikan aksi tembaknya sejenak.

Jiyeon mengawasi keduanya dengan diam di mobilnya, tatapan dingin, caranya duduk dengan menyilangkan kaki, seolah menegaskan kalau dirinya adalah Jiyeon Midford. Keturunan Midford yang sangat diwaspadai, ditakuti, dan sangat diperhitungkan keberadaannya oleh bangsawan lain. Midford yang tak pernah goyah di atas tahtanya, Midford yang tetap berkuasa walaupun dipimpin oleh gadis remaja berusia 18 tahun, semua itu ada pada Jiyeon ‘yang sekarang dan seterusnya’.

Are you friend or enemy?

Ucapan Myungsoo kembali terngiang di benak Jiyeon, ia tersenyum kecil setelah mengulang-ulang kalimat itu. “Teman atau musuh?” bisiknya ketika menyadari ada seseorang yang membawa sebuah balok kayu di samping pintu mobilnya. Jiyeon membuka kaca mobil hingga setengahnya lalu.

DOR

Sebutir peluru melesat tepat di jantung pria itu dari sebuah pistol di tangan Jiyeon, darahnya terciprat mengenai pipi Jiyeon dan sekitar pintu dan jendela mobilnya. Tubuh pria itu meluruh ke tanah tanpa nyawa. Sorot mata Jiyeon tetap dingin, tanpa emosi, tanpa perasaan atas tindakannya. Tangannya bergerak memasukkan pistol itu ke dalam mantelnya, mengusap titik darah yang meluncur di sepanjang pipinya dengan gerakan sangat anggun.

“You are the one who deside, Prince,” setiap kata yang diuapkan tanpa keraguan oleh Jiyeon setenang air dalam danau. “If only you remember who I am.” Tenang namun dalam dan meneggelamkan siapa pun yang berani berenang di sana tanpa mengetahui monster seperti apa yang sedang tertidur lelap, menunggu mangsa yang akan berenang-renang di atasnya.

Shin’s Manor

Di antara rak buku yang menjulang tinggi, Shin Wonho duduk berelonjor dengan sebuah map hitam di tangannya. Dengan tinta berwarna putih tertulis Ryu Songjin di sudut atas. Pada lembar yang dibaca Wonho terdapat kolom nomor, tujuan transaksi, waktu transaksi, dan nominal.

“Data transaksi gelap yang baru saja mereka lakukan tepat hari ini,” gumam Wonho lalu membetulkan letak kaca mata bacanya yang sedikit melorot. “Kalau ada pengiriman barang di di pelabuhan sore ini, maka Ryu Songjin benar-benar terbukti menjual senjata ilegal ke beberapa negara yang terlibat konflik.” Lelaki itu mendesah pelan, “Dan itu bisa memicu peperangan.”

“Ada satu orang lagi yang berada di balik layar,” desisnya lalu terkekeh pelan. “Dasar bangsawan busuk! Kau pikir aku akan meloloskanmu hanya karena anakmu adalah temanku? He’s just one of my classmates.

Ryu’s Manor

“Kapalnya meledak dan menewaskan semua orang-orangku?!” raungan Tuan Ryu terdengar menggema di ruang kerjanya.

Seorang pria dengan setelan jas rapi menunduk ketakutan karena kemarahan Tuan Ryu. “I-iya Tuan,” sahutnya nyaris seperti sebuah bisikan. “D-dan juga kami tidak bisa menemukan ‘barangnya’.”

BRAK

Tuan Ryu menghantamkan kepalan tangannya pada meja kerjanya, memuat beberapa barang robuk dan menggelinding dari atas meja. “Itu bukan sebuah kecelakaan,” desisnya penuh emosi.

“Ma-maaf?”

Mata yang berkilat marah itu menusuk tajam pada pria di depannya. “Dia sudah tahu kalau aku berkhianat padanya,” katanya frustasi lalu menjambak rambutnya sampai berantakan. “Dia melakukannya dengan sangat bersih dan itu adalah sebuah peringatan darinya.”

“Lalu, apa yang harus saya lakukan?” tanya pria itu dengan kecemasan yang mulai melandanya.

Deru napas Tuan Ryu secepat debaran jantungnya. Ia menyobek sebuah kertas, menuliskan sebuah alamat lalu memberikannya pada pria di depannya. “Panggil semua bawahanmu dan pergi ke alamat itu!”

“BUNUH MIDFORD, ORANG-ORANGNYA DAN SEMUA PELAYANNYA!”

Midford’s Manor

Jiyeon menutup balok kayu yang sebelumnya di pindahkan dari pelabuhan ke rumahnya menggunakan mobil pick up yang tersedia di sana oleh Jack. Terdapat empat kotak yang tersusun di sudut ruangan kedap suara yang berada di kediamannya. Jiyeon dan lima pelayannya berdiri dalam diam sampai Jiyeon membuka suaranya.

“Ryu Songjin terlalu meremehkanku dan berani berkhianat padaku,” suara rendah Jiyeon terdengar penuh kemarahan yang dipendamnya. Mimik wajahnya tidak menunjukkan kemarahan dan perubahan suasana, tapi caranya berbicara benar-benar menjelaskan bahwa Jiyeon sangat benci kalau ada yang berkhinat padanya. “Aku yakin dia sudah mengirimkan beberapa- bahkan semua pasukannya untuk menyerangku.” Jiyeon membalikkan tubuhnya menatap satu-persatu pelayannya. “Segera bersiap di posisi kalian, karena kita akan kedatangan tamu undangan kita! Kecuali Evelyn, kali ini kau akan berjaga di balkon kanan dan Yunho akan menggantikanmu!” perintah Jiyeon dengan tegas.

“Dimengerti, Nona!” balas mereka berempat bersamaan lalu segera pergi dari hadapan Jiyeon yang tetap terdiam di tempatnya dengan wajah yang tetap sama- datar dengan Hyomin di sampingnya.

“Mari saya antar ke kamar, Nona,” tawar Hyomin yang dibalas gelengan oleh Jiyeon.

“Tidak perlu,” tolak Jiyeon halus. “Maaf tapi, bisakah kau membantu mereka? Aku punya firasat kalau tamu kita lebih banyak dari biasanya,” lanjut Jiyeon menatap Hyomin lalu tersenyum kecil.

“Saya mengerti, Nona,” balas Hyomin, membungkuk pamit dari hadapan Jiyeon.

Untuk beberapa saat, Jiyeon terdiam di tempatnya berdiri sampai ia melangkahkan kakinya ke luar, menutup pintu lalu menguncinya dengan sebuah kunci berwarna perak dari saku mantel putihnya. Ia berbalik lalu kembali melangkah melewati lorong yang di terangi cahaya bulan dari cela-cela jendela. Sampai di ruang utama, ia menaiki anak tangga utama rumahnya.

DOR

Bunyi tembakan terdengar tepat ketika kaki Jiyeon menapak di anak tangga pertama, lalu pada anak tangga kedua terdengar teriakan kesakitan dari seorang pria yang diyakininya adalah musuh. Begitu seterusnya, bagaikan alunan lagu mengerikan yang mengantarnya sampai ia berhenti di depan lukisan besar yang berada di area percabangan.

DOR

“Apa kalian melihatku, sekarang?” lirih Jiyeon sambil mengusap blue diamond yang tersemat di telunjuk kirinya lalu menatap lukisan pasangan suami-isteri yang terlihat bahagia. Di mana seorang wanita mengenakan gaun merah gelap-yang memamerkan leher jenjang dan kedua pundaknya-duduk di kursi dengan sebelah tangan bertautan dengan seorang pria berambut coklat dan mata hazel berdiri di belakangnya dengan gagah.

Jiyeon tersenyum kecil lalu meletakkan jemari lentiknya menyentuh permukaan lukisan itu sambil memejamkan mata, mengabaikan suara tembakan dan jeritan di luar. “Maaf karena belum sempat menjenguk kalian,” bisiknya bagai angin yang berhembus di antara dedaunan. Begitu ringan tanpa beban. “Mungkin beberapa hari atau beberapa minggu lagi, yang pasti aku akan datang.”

BRAK

Pintu rumahnya terdobrak dengan kasar, seseorang dengan pakaian acak-acakan muncul sambil menodongkan pistol ke arah punggungnya. Kebanyakan orang mungkin akan berbalik dan berusaha menjauh dari sana. Namun Jiyeon mengabaikan hal itu dan tetap memejamkan matanya.

“Karena aku merindukan kalian,” lanjur Jiyeon dengan nada suaranya yang tidak terselip ketakutan sama sekali.

DOR

Suara tembakan terdengar begitu dekat dan memilukan telinganya disusul suara gedebuk di belakangnya.

“Anda baik-baik saja, Nona?!” suara Yunho yang terengah terdengar khawatir di ambang pintu.

Jiyeon membuka matanya yang terpejam secara perlahan, melepaskan tangannya dari permukaan lukisan lalu berbalik. Setelah sepenuhnya menghadap pintu depan, ia menemuka Yunho yang sedang berdiri di ambang pintu beserta tubuh seseorang yang tergeletak di dekat kakinya. “Tentu saja,” jawab Jiyeon suaranya bersahutan dengan bunyi yang terdengar semakin keras karena pintu rumahnya terbuka.

Jiyeon menyinggungkan senyumnya lalu melanjutkan, “Kan ada kalian.”

Yunho terdiam sejenak lalu meletakkan telapak kanan di dada kirinya, mengangguk pada Jiyeon dengan senyum terukir di bibirnya. Yunho melangkah mundur sambil menyeret tubuh tak bernyawa di dekatnya lalu menutup pintu dengan rapat.

Sekali lagi, Jung Yunho sebagai pelayan keluarga Midford menunjukkan kesetiaannya, kepatuhannya dan kehebatannya pada Jiyeon. Yunho sudah mengabdikan dirinya pada Jiyeon, Yunho sudah bersumpah untuk memenuhi keinginan, perintah, dan semua ucapan Jiyeon padanya. Dia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Jiyeon lagi- siapa pun orangnya. Yunho juga bersumpah untuk itu.

Seumur hidupnya.

Oh’s Manor

Sehun melamun lagi walaupun matanya menatap layar TV yang terdapat di ruang keluarga. Secangkir teh di atas meja tak di sentuhnya sama sekali menyebabkan uap yang mengepul telah menghilang. Kakinya dinaikkan ke sofa untuk menopang kedua tangan yang terlipat beserta kepalanya.

Tuan Oh datang membawa secangkir kopi di tangannya lalu duduk di samping Sehun namun Sehun mengabaikannya. “Sudah dua hari bolos latihan taekwondo, Oh Sehun?” tanya Tuan Oh lalu menyesap kopinya.

Sehun menanggapinya dengan gumaman malas yang sangat singkat lalu bergerak mengganti channel TV.

“Berhenti disitu!” sentak Tuan Oh yang membuat Sehun berjengit kaget. Tuan Oh meletakkan cangkirnya di meja lalu memperhatikan layar TV dengan serius. Tak lama, seulas senyum di bibirnya muncul. “Dia sudah mulai bergerak rupanya,” gumam Tuan Oh lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan raut wajah penuh kepuasan.

“Apa?” tanya Sehun tidak mengerti lalu mengikuti arah pandang ayahnya.

Sebuah kapal pengangkut barang meledak, menewaskan seluruh awak kapal tanpa sisa saat akan berlayar. Tidak ada saksi mata yang melihat peristiwa tersebut berlangsung karena pelabuhan tersebut jauh dari desa maupun kota. Sampai saat ini puing-puing kapal masih di cari karena terlempar cukup jauh dari kerangka kapal…

Dengan mata melebar, Sehun menatap ayahnya dengan tatapan tak percaya. “Jangan bilang kalau Jiyeon yang-”

“Benar,” potong Tuan Oh. “Ini hanyalah sebuah peringatan dari Jiyeon kepada seseorang dan bangsawan lain agar tidak melakukan hal yang membuatnya marah.”

“Jiyeon…” Sehun melirih dengan bahunya yang merosot. “Aku tahu kalau dia sudah tidak sama lagi dengan yang dulu. Tapi, aku tidak tahu kalau sampai seperti ini,” ucapnya tidak percaya.

Enam tahun yang lalu Jiyeon tidak seperti ini. Enam tahun yang lalu Jiyeon selalu bersikap seperti anak-anak pada umumnya. Bermain, tertawa, menangis, dan yang lainnya. Setelah itu ketika pertama kali Sehun bertemu kembali dengan Jiyeon, segala macam bentuk emosi seolah menghilang digantikan tatapan kosong dan raut wajah yang datar. Tapi yang dilihatnya kali ini- Sehun tidak menyangka-sama sekali-kalau Jiyeon bertindak sejauh ini, sekejam ini. Seolah-olah hati gadis yang dikenalnya sudah diselimuti es yang sangat tebal dan memerlukan waktu yang lama untuk mencairkannya. Bahkan mungkin tidak akan bisa karena tidak ada seorang pun yang mampu mengembalikan Jiyeon seperti dulu. Bahkan Sehun- dirinya sendiri sekali pun.

“Memang seharusnya begini, Sehun-ah,” kata Tuan Oh yang membuyarkan lamunannya. “Sejak kecil Jiyeon sudah diajari untuk tidak mengenal belas kasih pada seorang pengkhianat. Di balik senyum dan tawanya dulu, Jiyeon sudah mengenal betapa mengerikannya negara ini,” lanjutnya dengan rahang yang mengeras, penuh amarah.

“Tapi dia bisa pergi dari negara ini dan melepaskan semua bebannya. Jiyeon tidak perlu meneruskan pekerjaannya dan membalaskan dendamnya. Dia cukup melepaskan kehidupan lamanya, mengubah identitasnya, dan memulai kehidupan yang baru agar dia bisa hidup dengan damai seperti dulu!” nada bicara Sehun meninggi seiring dia mengucapkan kalimatnya. Matanya menatap tajam tanpa tahu sopan santun pada ayahnya yang balik menatapnya dengan diam.

“Damai sepertu dulu, kau bilang?” desis Tuan Oh dengan lalu meremas lengan sofa. “Sejak kecil dia sudah pernah mendengar suara peluru setiap tengah malam di tidurnya, dia sudah mengenal seluk beluk kebusukan negara kita walaupun banyak orang yang beranggapan kalau mereka hidup di negara yang damai, dia sudah mengerti kalau dia harus selalu membungkuk kepada keluarga kerajaan, sejak.dia.kecil.” tiga kata terakhir diucapkan Tuan Oh penuh penekanan.

Sehun diam menatap ayahnya yang kehilangan kontrol emosi. Jujur, ia tidak pernah berhadapan dengan ayahnya yang seperti sekarang. Cara bicaranya cepat, penuh penekanan, dan semakin lama volume suaranya semakin meninggi.

Tuan Oh menyesap kopi untuk meredakan emosinya lalu berdiri. “Dan yang terpenting, dia adalah penyandang nama Midford dan mempunyai darah ibunya, Park Jihyun. Sejak kecil, darah yang diturunkan ibunya dan marga ayahnya sudah menjadi beban yang dipikulnya sejak dia lahir di dunia ini.” Tuan Oh mulai melangkah pergi. “Dan Jiyeon, sudah siap akan semua itu.”

Ryu’s Manor

Ryu Hwayoung berdiri dengan kedua kaki yang bergetar hebat mendengar kemarahan ayahnya yang terdengar dari balik pintu ruang kerja ayahnya. Tangannya terhenti di udara karena niat awalnya mengetuk pintu di depannya.

“TENANG KAU BILANG? KITA SEMUA AKAN MATI DAN KAU MEMINTAKU UNTUK TENANG?!”

Hwayoung tersentak dan segera menarik tangannya. “Ayah,” ia melirih dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

“SUDAH KUBILANG UNTUK TIDAK BERTINGKAH MACAM-MACAM WALAUPUN DIA MASIH SEUMURAN HWAYOUNG! DIA ADALAH MIDFORD! DIA ADALAH-!”

PLAK

Tersentak, Hwayoung mundur satu langkah dan air matanya menetes. “Ibu,” gadis itu terisak lalu membekap mulutnya agar tangisnya tidak terdengar. Lalu satu kta terngiang di kepalanya. Midford? Apa baru saja ibunya mengatakan Midford?

WALAUPUN DIA MASIH SEUMURAN HWAYOUNG!”

Hwayoung mengerutkan keningnya. “Seumuran denganku?”

“DIA ADALAH MIDFORD!”

“Midford?” mata Hwayoung terbuka dengan lebar.

DIA ADALAH-!”

Seolah tulang kakinya menjadi lembek, jantungnya berpacu dengan cepat, kepalanya berputar hingga perutnya bergejolak, Hwayong mundur sampai tubuhnya membentur dinding yang terasa sangat dingin. Ia mendesis- nyaris berbisik, “Jiyeon Midford…”

School-30 Minutes Before The Festival

Mendekap kimono memanahnya, Ryu Hwayoung berjalan menuju ruang ganti dengan perasaan gelisah. Tidak ada Hwayoung yang penuh aksesoris, fashionable, dan ceria hari ini. Terlihat lingkaran hitam di bawah matanya, bibirnya pucat tidak di poles lip balm, rambut pendeknya ia sisir seadanya. Beberapa murid menyapanya yang tidak di tanggapinya sama sekali. Matanya menatap lurus ke depan, lalu meremas ujung kimononya.

Tidak mungkin Park Jiyeon adalah Jiyeon Midford. Tidak mungkin kalau Jiyeon Midford masih hidup. Jiyeon Midford sudah mati ketika Manor Midford terbakar! Tidak mungkin Jiyeon Midford masih hidup.

Parasnya bertambah pucat ketika semua kalimat itu terulang di benaknya.

BRUK

Tanpa sengaja Hwayoung menabrak punggung tegap Myungsoo yang sedang berbincang dengan Lee Hyunwoo di depannya- di dekat ruang ganti. “Maaf,” ucapnya tanpa menatap Myungsoo bahkan mungkin ia tidak menyadari kalau yang ditabraknya adalah Myungsoo. Lalu Hwayoung melanjutkan jalannya lagi dan terhenti setelah beberapa langkah.

Di sana, Park Jiyeon- atau mungkin Jiyeon Midford, sedang berdiri, menatapnya dengan tatapan dingin, kejam, tak berperasaan. Setelah itu, sebuah seringaian samar terlihat di bibir cherry Jiyeon.

Bibir Hwayoung bergetar dan hendak mengatakan sesuatu, tapi ia tidak bisa menemukan suaranya, semuanya seolah menyangkut di ujung tenggorokannya. Takut, gelisah, marah, ia merasakan itu semua. “Jiyeon… Mi-d-fo-rd,” Hwayoung berbisik namun sepertinya Jiyeon mengerti gerak bibirnya.

Seringaian Jiyeon bertambah jelas dan Hwayoung sadar akan suatu hal.

Jiyeon Midford benar-benar masih hidup dan sedang berdiri di hadapannya.

Di depannya dengan segala aura yang hanya dimiliki oleh seorang MIDFORD.

Myungsoo’s POV

“Kau tidak kelihatan baik-baik saja, Myungsoo-ah,” ucap Hyunwoo dengan cemas tergambar jelas di wajahnya.

Aku menatapnya lalu menghela napas. “Jangan khawatir,” kataku dengan tenang. “Aku hanya memikirkan hal yang tidak penting.”

Matanya menyipit curiga mendengar jawabanku. “Ini bukan gayamu,” gumamnya. “Kau bisa menceritakan semua masalahmu padaku. Kita adalah teman bahkan sejak kita masih menghisap jempol, berapa kali aku haris mengatakan hal itu,” tambahnya dengan gusar.

“Aku tahu,” balasku mendengus geli. “Aku bahkan ingat saat kau ngompol di celanamu.”

Matanya melebar dengan kedua alis yang terangkat tinggi. “Oh? Kau ingat?” katanya terkejut.

Aku tertawa renyah padanya lalu mengibas-kibaskan tangan. “Tidak. Tidak ingat sama seka-”

BRUK

Tubuhku terdorong ke depan ketika seseorang menabrakku dari belakang dan ketika aku menoleh, dia adalah Ryu Hwayoung. Penampilan Hwayoung sangat jauh berbeda dari biasanya. Kemana aksesoris-aksesoris mahal yang berharga ratusan ribu won itu?

“Maaf,” gumamnya.

Hanya itu saja? Jelas itu bukan pribadinya. Padahal yang yang ditabraknya adalah aku. Biasanya Hwayoung akan langsung menempel seperti permen karet, tapi sekarang dia aneh dan berbeda dari biasanya. Melalui sudut mataku, aku bisa melihat langkahnya terhenti dan tubuhnya menegang melihat ke depan.

Mengikuti arah pandangnya, aku melihat seseorang berdiri dengan sebuah tas selempang yang tersampir di bahu kirinya. Rambut cokelat indahnya dikuncir kuda dengan pita bahan berwarna biru gelap. Tatapan matanya dingin seperti sudah menjadi ciri khas seorang Park Jiye- Jiyeon Midford.

Tak lama kemudian, seringaian yang jarang diperlihatkannya padaku terukir di bibirnya dan itu ditujukan pada Hwayoung. Mata Jiyeon bertemu denganku lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia masuk ke dalam ruang ganti setelah mengangguk kecil padaku.

Gerakan kecil Hwayoung yang akan masuk ke ruang ganti tertangkap olehku. Aku segera menyuruh Hyunwoo agar pergi ke doujou sekolah duluan yang diberinya anggukan kecil lalu pergi.

Setelah Hyunwoo pergi beberapa langkah, aku menahan lengan Hwayoung yang sudah akan di dekat gagang pintu lalu menyeretnya pergi menjauhi ruang ganti.

“Oh? Myungsoo-ah, ada apa?” tanyanya.

Setelah cukup jauh dari ruang ganti, aku segera menyentakkan tangannya dan berbalik menghadapnya. “Ryu Hwayoung,” aku menyadari suaraku terengah-engah entah karena berjalan tergesa atau karena emosi yang sangat ingin kuluapkan.

“Y-ya?”

“Katakan padaku,” kuhentikan ucapanku lalu menelan ludah. “Apakah kau mengenalnya?”

Keningnya berkerut samar dengan mata menyipit. “Siapa?”

“Jiyeon M-,”

“…jangan pernah menyebut marga itu di depan orang lain.”

Aku berkedip cepat lalu menatapnya sekali lagi. “Park Jiyeon. Apakah kau mengenal Park Jiyeon?”

Matanya melebar sempurna, darah seakan menghilang dari wajahnya menyebabkannya pucat seketika. Melihat ekspresinya, aku yakin Hwayoung tahu sesuatu.

To Be Continue

Note:

Fiuh~ Aku telat update lagi ya? hehe, maap maap. Chapter 7 sebenernya udah selesai dan sebenernya ada satu misteri yang niatnya mau aku beberin, tapi ga jadi. Banyak readers yang bilang kalo misterinya kebanyakan, tapi kalo ga segitu ga bisa nyambung sama ceritanya. Maap ya, ga bisa bongkar satu misteri di chapter ini. T^T

Oh ya. aku juga mau jawab pertanyaan beberapa readers.

FF ini terinspirasi dari mana? Atau ngarang sendiri?

buat pertanyaan di atas, sebenernya mau author beberin inspirasi aku bikin ni FF kalau misteri siapa EIRENE udah terkuak. Soalnya kan ga seru kalau kalian udah tau siapa kawan dan lawan Myungsoo, Jiyeon itu jahat apa enggak.

Kalo aku ngasih tau apa yang nge-inspirasi aku sekarang, di jamin kalian bakal tau identitas EIRENE. Aku tawarin kalian deh, kalo kalian mau, aku bakalan ngasih tahu kalian di chapter depan. Kalo banyak yang mau tau, bakal author beberin, kalo mau baca dan ngelanjutin jalan ceritanya sampe misteri terkuak satu per satu, ga bakal aku beberin. Simpel kan.

Tapi, aku saranin kalian jangan minta. Soalnya kalo kalian baca ini kesannya Cuma nungguin kapan Myungsoo tahu kalau ‘?’ adalah ‘?’. Ngerti kan? Tapi- terserah kalian deh.

Pengennya sih author mau nyimpen ini sampai Eirene ketahuan identitasnya, juga Jiyeon. Kalo author ngasih tahu di chapter besok, author juga bisa ga ngebut nulisnya. Aku cuman takut bacanya kerasa hambar aja kalo kalian aku kasih tau. Jadi- ah, tau lah.

Tentang Pembantaian 1895 itu beneran ada/pernah kejadian/sejara atau enggak?

Jawabannya, itu resmi ngarang dan ga tau pernah ada beneran apa enggak.

Kapan adegan romantisnya Jiyeon-Myungsoo? Kok Sehun-Jiyeon doank?

Step by step ya. Myungsoo masih cari tahu siapa Jiyeon sebenernya. Friend or enemy?- Myungsoo.

Nah lo. Ada Grey Anderson pula. Siapa tuh? Christian Grey kah? *PLAK

Peran Grey Anderson masih belom dibutuhin di sini. Tapi kok ada di rumahnya Sehun? Anggap aja ke sana cuma buat numpang maen biliar. Kok keliatannya suka banget ama Jiyeon? A! A! (goyang-goyang telunjuk) not this time- Wonho.

Sehun ama Wonho kok sama2 di marahin n diceramahin bapaknya cuma gara-gara Jiyeon?

Bentar, author mau telfon Tuan Oh n Tuan Shin dulu. Ya… halo… readers nanya tuh di atas… oh… oke Om… bye!

Katanya, salah sendiri ngomongin Jiyeon Midford yang enggak-enggak. Mereka- kan udah bilang kalo bakalan tunduk dan setia!

Udah gitu doank.

.

Waktunya author yang nanya.

INI ENAKNYA HWAYOUNG DIAPAIN?

KALO MENURUT AUTHOR SIH, BIAR JIYEON DAN PELAYANNYA BERESIN DIA! HAHAHA BIAR FIX KALO JIYEON UDAH GA SEPERTI YANG SEHUN TAU DULU- ENAM TAHUN LALU.

 

Annyeong! ^.^

23 responses to “[CHAPTER-PART 7] EIRENE

  1. Justru banyak misyeri yg bikin rame haha..jadi makin penasaran di setiap chapter nya hahaha… semnagat nulis dehh..ditunggu cerita per part nyaaa^^

  2. Ahh. Cerita ini mmg byk misteri tapi itu yg buat aku lebih penasaran. Keep up with the story. Slowly smua kebenaran akan dikeluarkn.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s