[CHAPTER-PART 6] EIRENE

EIRENEEIRENE-6

||Author : Lyzee7||

||Main Cast : Kim Myungsoo|Park Jiyeon|Irene|Ryu Hwayoung||

||Genre : Family|Romance|Complicated|Royal|Little Action||

||Rating : PG-17||

EIRENE CAST

DAK

Anak panah yang dilepaskan Oh Sehun melesat tepat di titik tengah target. Tanpa melepas senyumnya ia menatap Jiyeon. “Anak panah harus sejajar dengan mulut lalu tarik busur dengan kekuatan bertumpu pada sikutmu. Bagaimana? Kau sudah paham?” katanya pada Jiyeon yang berada di sampingnya, memperhatikan.

Menggigit bibir bawahnya, Jiyeon terlihat berpikir lalu menatap Sehun. “Let me try,” mintanya dengan sungguh-sungguh.

Sehun mengangguk lalu memasang pelindung siku dan tangan pada Jiyeon. Diberikannya panah dan busur pada Jiyeon, lalu membimbing gadis itu untuk membidik. “Pull it with your elbow,” Ia mengarahkan tangan kirinya di atas tangan kiri Jiyeon yang memegang kepala busur dan tangan kanannya memperbaiki posisi lengan kanan Jiyeon. “Close your left eye and try to focus.”

Mengikuti arahan Sehun, Jiyeon menutup mata kirinya lalu membidik pada papan target yang jauhnya kira-kira 25 meter.

“Hold your breath,” Bisik Sehun lalu menjauhkan tubuhnya dengan perlahan. “And then… Shoot!”

DAK

Jiyeon menurunkan kedua tangannya lalu melihat hasil bidikannya dengan dengan dahi berkerut samar. “How is it?” tepat setelah mengatakan hal itu, Sehun mengambil alih busur di tangan Jiyeon lalu tersenyum lembut pada gadis itu.

“As expected of you, My Lady,” balasnya. “It’s eight!”

Sebelah alis Jiyeon terangkat, bibirnya membentuk garis lurus. Sangat kentara bahwa gadis itu tidak puas dengan hasilnya. “I need ten, not eight,” geramnya.

Kedua alis Sehun bertaut. “Ini pertama kalinya kau memanah. Mustahil kau bisa mendapatkan sepuluh poin hanya dalam dua hari!” Sehun merutuki Jiyeon yang sangat keras kepala. Bagaimana mungkin gadis itu memaksa mendapatkan sepuluh poin dengan tangan terluka.

“Nothing impossible for Midfords. You know that,” desis Jiyeon dengan tatapan tajam dingin pada Sehun. “And, don’t ever look me down!”

“Aku tahu!” sentak Sehun. Ia menatap Jiyeon dengan mata yang memancarkan kekhawatiran. “Aku tidak pernah meremehkanmu!” lirihnya dengan sebelah tangan yang menangkup pipi Jiyeon. “Tapi Jiyeon-ah, kau manusia! A human! Jangan memaksakan diri hanya karena ingin mendapatkan Shin Wonho! Jangan membuatku khawatir karena pekerjaanmu selalu menempatkan dirimu dalam bahaya!” lanjutnya dengan suara lebih keras dan mata yang berkaca-kaca. Sungguh Sehun bukan pria cengeng yang mudah menangis. Tapi, “Aku benci karena tidak bisa melindungimu. Aku membenci diriku sendiri karena tidak bisa menghentikanmu menerima resiko terburuk karena pekerjaanmu.”

Mata Jiyeon bergerak menatap mata kanan dan kiri Sehun bergantian, bingung bagaimana ia harus bereaksi. Ingin berbicara, tapi Jiyeon tidak tahu apa yang harus disampaikannya. Akhirnya hanya satu kata yang terucap dari bibirnya, “Maaf.”

“Tidak bisakah kau berhenti-.”

“Ini pekerjaanku,” Potong Jiyeon. “Ini tugas keluarga Midford,” lanjutnya dengan tatapan kosong.

“Tapi kau punya pilihan-.”

“Aku memang punya banyak pilihan,” lirih Jiyeon lalu menatap Sehun tanpa keraguan. “Dan ini-lah pilihanku.”

Shin’s Manor

Suasana makan malam keluarga Shin berjalan dengan tenang. Tuan dan Nyonya Shin duduk berhadapan sementara Wonho duduk di samping Tuan Shin dan menyantap makanannya tanpa minat. Selama tiga puluh menit, Wonho hanya melahap lima sendok makanan dan mengunyahnya perlahan sambil melamun.

“Apa ada sesuatu yang mengganggumu selama festival?” ucap Nyonya Shin memecah keheningan.

Wonho hanya menatap ibunya sebentar lalu menatap makanannya lagi. “Tidak, tidak ada apa-apa,” jawab Wonho.

Tuan Shin menghela napasnya lalu menatap anaknya dengan lembut. “Apakah menggantikan tugas ayah sangat berat untukmu?”

Wonho terdiam lalu menatap ayahnya dengan ragu. “Apakah ada pilihan lain?”

Menggeleng, Tuan Shin mengalihkan tatapannya dari Wonho. “Kau tahu, nak?” pria tua itu menghela napas berat sebelum melanjutkan, “Inilah perbedaan kita dengan Midford, dengan Jiyeon Midford.”

Mengernyitkan dahinya, Shin Wonho bertanya, “Apa itu?”

Tuan Shin tidak segera menjawab ia menyesap wine di depannya lalu menatap putranya sekali lagi. “Jiyeon yang punya banyak pilihan agar bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang, ia malah menyerahkan seluruh hidupnya untuk tunduk dan dengan suka rela menjatuhkan dirinya di jurang yang paling gelap dalam hatinya. Tapi kita yang punya satu pilihan, Jiyeon memberikan satu pilihan lain untuk kita bisa keluar dari ‘organisasi bawah tanah’ dan hidup normal tanpa takut diburu oleh bangsawan lain.”

“Karena hal itu-lah kami menghormatinya dengan sepenuh hati walaupun ia masih seusiamu,” tambah Nyonya Shin. “Dia membiarkanmu memilih, apakah hidup-tenang atau hidup-terancam. Sebagai orang tuamu, tentu saja semua orang tua ingin anaknya hidup dengan tenang. Tetapi, ketahuilah, anakku. Kalau aku berada di posisimu dan orang yang kulayani adalah Jiyeon Midford, aku akan mengabdikan diriku padanya.” Nyonya Shin mengucapkan setiap kata tanpa ada keraguan sedikit pun di mata mau pun intonasi bicaranya yang tenang seolah kata-kata itu sudah sering diucapkan dan dilakukannya.

Tuan Shin tersenyum lalu mengecup punggung tangan isterinya dengan lembut. “Entah bagaimana akhir dari hidup Jiyeon, aku berharap tidak seperti kedua orang tuanya dan para pendahulunya. Tapi menghindari hal itu juga suatu hal nya sangat sulit. Pemimpin ‘organisasi’ sebelumnya adalah ayah Jiyeon, dan sekarang dipimpin oleh Jiyeon yang usianya jauh di bawah kami- para Kepala Bangsawan. Menurutmu, berapa banyak para pengkhianat yang mengincar nyawanya?”

Ucapan Tuan Shin- ayahnya sukses menohok Wonho. Lelaki itu terdiam dengan perasaan yang berkecambuk di setiap tarikan napasnya. “Apakah ayah yakin aku bisa melakukannya? Apakah aku akan baik-baik saja?”

“Aku yakin dengan kemampuanmu, anakku,” balas Tuan Shin yakin. “Jiyeon bukan seseorang yang mengumpankan orang-orangnya, bahkan pelayannya untuk memancing para pengkhianat itu. Yang ia jadikan umpan, tak lain adalah dirinya sendiri. Dia akan melindungimu, tidak membiarkanmu dan para pelayannya mati sebelum dirinya sendiri. Kau akan baik-baik saja.”

“Aku,” Wonho agaknya ragu dengan apa yang diputuskannya. “Biarkan aku memilih setelah festival berakhir.”

“Baiklah,” putus Tuan Shin mengakhiri pembicaraan. “Pilihlah mana yang menurutmu tepat.”

Castle’s Library

Mungkin sudah lebih dari seratus judul buku yang ia baca hingga membuatnya berpikir untuk berhenti tapi, Myungsoo kembali meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia akan segera mendapatkan sedikit informasi. Informasi yang tidak Myungsoo targetkan karena ia memang tidak tahu apa yang dicarinya.

“Maaf atas kelancangan saya, Yang Mulia,” Woohyun yang sedari tadi hanya diam mulai bicara. “Mungkin akan lebih mudah kalau saya membantu anda.”

Myungsoo berbalik menghadap Woohyun dengan dahi berkerut samar. “Aku tidak keberatan. Tapi masalahnya aku tidak tahu judul buku yang kucari,” jelasnya.

“Anda bisa memberi tahu tema bukunya atau sesuatu yang ingin anda ketahui,” tawar Woohyun.

Myungsoo terdiam, lalu berpikir keras. “Mungkin sesuatu yang berhubungan dengan pembantaian pada tahun 1895.”

Mendengar penjelasan Myungsoo, tubuh Woohyun menegang dengan mata yang menatap Myungsoo dengan tatapan tidak percaya. “Maaf?”

Slaughther in 1895. Kau tidak pernah mendengarnya?” ulang Myungsoo. “Pembantaian anggota kerajaan yang membuat-Raja terdahulu-kedua orang tua Raja Kim Hyunsoo meninggal.”

“Ah!” Woohyun terlihat mengerti maksud Myungsoo. “Ma-maaf, Yang Mulia. Saya rasa saya ti-tidak pernah mendengarnya.”

“Woohyun-ah!” panggil Myungsoo.

“Ya, Yang Mulia?”

Myungsoo membalikkan badannya ke arah rak buku lalu mengamati judulnya satu persatu. “Walaupun aku di sini, sebagai keturunan Kerajaan, sebagai pewaris tahta, sebagai Putera Mahkota. Aku merasa seperti semua orang sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Sesuatu yang sangat penting,” setiap kata yang ia ucapkan penuh tekanan dan begitu tajam. “Woohyun-ah!”

“Ya, Yang Mulia?”

Tangan Myungsoo yang awalnya bergerak dari satu buku ke buku yang lain berhenti. “Apa pun yang terjadi, jangan pernah membohongi apalagi mengkhianatiku. Kau mengerti?”

Entah mengapa mendengar ucapan Myungsoo membuat kedua tangan dan kaki Woohyun gemetar hebat. “Saya mengerti, Yang Mulia Putera Mahkota,” balasnya sambil membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.

Midford’s Manor

DOR

DOR

Dua tembakan terakhir dibidikkan Evelyn kepada dua pria berbadan besar yang terisa di depannya. Setelah itu ia menyimpan kedua pistolnya di balik rok maid yang ia pakai lalu mendekati kedua tubuh yang bersimbah darah itu. Evelyn meraih kaki kanan salah satu mayat itu lalu menariknya sekuat tenaga.

BRUK

“Aduh!” Evelyn mengerang sakit karena pantatnya mendarat di tanah ukup keras. “Berat sekali tubuh mereka,” ia mengeluh sebal. Ia mencoba melakukannya sekali lagi, lagi, lagi, dan lagi. Hingga tidak terasa kalau waktu sudah berlalu selama 15 menit.

“Eve!” tiba-tiba Akira datang dan mendekatinya membawa sebuah pedang kayu yang sudah patah dan berlumur darah. “Kenapa kau belum membersihkan mereka?”

Evelyn menunjuk kedua tubuh tak bernyawa itu lalu menunjuk dirinya sendiri.

“Apa?”

“Aku tidak cukup besar untuk menyeret mereka!” teriak Evelyn kesal.

Dengan memasang wajah mengerti, Akira mengangguk-anggukkan kepalanya. “Biar kubantu,” tawarnya lalu melakukan seperti yang Evelyn lakukan sebelumnya. Dengan dibantu Evelyn, Akira membawa kedua mayat itu satu persatu menuju ke dalam hutan yang mengelilingi Manor Midford. Perlu diketahui bahwa Manor Midford berada di tempat terpencil yang jauh dari kota maupun pedesaan. Tidak ada yang hidup di sana kecuali Midford dan para pelayannya.

Setelah mengubur kedua mayat itu, mereka kembali ke Manor dan ternyata Hyomin, Jack dan Max sudah berdiri di depan pintu masuk. Akira dan Evelyn mempercepat langkah mereka lalu berhenti di samping Jack dan Max, menghadap Hyomin. Hyomin memperhatikan mereka lalu memanggil mereka satu persatu.

“Akira!”

“Ya!”

“Evelyn!”

“Ya!”

“Jack!”

“Ya!”

“Kalian-”

GRRRRR

Ucapan Hyomin terhenti ketika mendengar Max menggeram. Ia menatap Max yang sedang bersiap meng-gonggong padanya.

“Max!”

“GUK!”

Hyomin tidak bisa menahan senyumnya lalu melanjutkan ucapan yang sempat terhenti. “Kalian telah mengerjakan tugas kalian dengan baik. Aku berterima kasih pada kalian.”

Mereka menggaruk tengkuk mereka yang tidak gatal lalu tertawa. “Itu merupakan tugas pelayan Midford!” jawab mereka serentak dengan senyum lebar.

“GUK GUK!”

.

Jiyeon baru sampai di rumahnya setengah jam yang lalu, tepat jam tiga sore. Sekarang gadis itu sedang berada di balkon kamarnya, melihat Akira yang sedang menanam tanaman untuk labirinnya sendirian. Awalnya Jiyeon menyuruh Jack dan Evelyn untuk membantunya, tapi Akira menolak dengan mengatakan kalau ia sangat suka pekerjaan ini dan tidak mau di ganggu. Akira mengatakan kalau ia sudah mempunyai gambaran kalau labirinnya akan berbentuk lingkaran dengan air mancur di tengah-tengahnya, di sekitar air mancurnya bisa digunakan untuk piknik, bermain, dan lain-lain. Semua itu sudah dirancang oleh Akira.

Di mata Jiyeon, Akira-lah yang paling kekanak-kanakan karena masih berumur 21 tahun. Evelyn 25 tahun dan Jack 28 tahun. Akira yang paling periang dan paling banyak tertawa, Evelyn yang paling cantik dan manis, dan Jack yang paling pendiam dan jaim. Ketiganya pun juga mempunya kesamaan, yaitu akan menjadi seorang yang pemalu juka sudah di puji, apa lagi oleh Jiyeon. Wajah mereka akan menjadi seperti kepiting rebus jika majikannya turun tangan.

TOK

TOK

“Sudah waktunya mandi, Nona,” Hyomin memberi tahu di belakangnya membuat Jiyeon menoleh. “Saya sudah menyiapkan air hangatnya.”

“Ya,” sahut Jiyeon singkat lalu masuk ke dalam kamar mandi yang pintunya sudah dibukakan oleh Hyomin.

Setelah menutup pintu, Hyomin mendekati Jiyeon lalu melepaskan bajunya dengan hati-hati. Di bagian punggung Jiyeon terlihat bekas-bekas luka memanjang yang samar. Ada juga bekas sayatan pendek, sebuah bulatan disertai simbol rantai yang melilit dari atas ke bawah dengan tulisan slave kecil di atas pinggang bagian kirinya. Hanya simbol itu yang terlihat menonjol ke luar seperti di cap dengan sebuah besi panas menyala.

Setelah itu Jiyeon masuk ke dalam bathup yang dipenuhi busa beraroma lavender. Ia membiarkan Hyomin menggosok lengan dan punggungnya dengan hati-hati juga mencuci rambutnya dengan shampo.

“Hyomin-ah,” panggil Jiyeon pelan setelah Hyomin selesai membilas rambutnya.

“Ya, Nona?” Hyomin menyahut lalu mengeringkan Jiyeon dengan handuk putih.

Jiyeon terdiam cukup lama lalu keluar dari bathup dibantu Hyomin yang bersiap memakaikannya bathrobe. Jiyeon merentangkan tangannya memunggungi Hyomin. “Walaupun enam tahun sudah berlalu,” Jiyeon memulai sembari merapatkan bathrobenya. “Hanya simbol terkutuk ini yang masih terasa berdenyut,” lanjutnya nyaris seperti bisikan.

Hyomin menatap punggung Jiyeon dengan mata sendu dan mulai berair. Hyomin tahu yang Jiyeon maksud dengan simbol kutukan dan bentuknya. Simbol yang dengan kejamnya dicapkan ke punggung Jiyeon dengan panas membara hingga menimbulkan luka bakar di sana. Enam tahun yang lalu, Hyomin tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Jiyeon setelah orang tua Jiyeon meninggal. Sungguh, karena setelah satu minggu berlalu setelah kejadian itu, Hyomin yang masih berusia 21 tahun bertemu dengan Jiyeon pada malam itu.

Flashback

Di sebuah ruang pasien yang ramai, terlihat seorang perempuan dengan kepala dan lengan di perban dan kaki di gips sedang memaksa menerobos keluar setelah mencampakkan kedua kruknya di lantai. “Tidak bisa! Aku harus menemukan nonaku!” teriaknya menggema di ruangan itu. Tangannya yang terluka dengan brutal berusaha menyingkirkan empat orang perawat dan seorang dokter yang menahannya keluar. “Aku harus menemukan nonaku! Nona pasti selamat! Nona masih hidup! Nona sendirian di luar sana! Lepaskan aku! Biarkan aku pergi!”

“Hyomin-ssi, saya mohon tenanglah!” minta seorang dokter laki-laki baya.

“Tenang kau bilang?” Hyomin menggeram marah. “Nona saya di luar sana sendirian! Dia sebatang kara! Bagaimana aku-.”

“TIDAK ADA YANG SELAMAT SETELAH KEBAKARAN SEBESAR ITU!”

Bagaikan sihir, Hyomin membeku. Dunianya terhenti, semua suara terhenti, jantungnya terhenti. Ia bersumpah kalau ia lupa bagaimana cara bernapas dan berkedip. Seluruh tubuhnya bergetar dan sekelilingnya berputar hingga ia merasa isi perutnya di aduk. Bayangan api yang besar berkobar tanpa ampun mengoyak isi rumah itu. Manor Midford. Ia masih ingat bayangan Jiyeon yang dibopong oleh seseorang dalam keadaan tak sadarkan diri. Setelah itu semuanya gelap sampai ia tersadar di rumah sakit ini dan memaksa untuk keluar dari sana.

“Nona masih hidup! Nona dalam bahaya! Biarkan aku pergi!”

Begitu seterusnya. Hari selanjutnya Hyomin selalu berusaha keluar dari rumah sakit dengan tubuh yang belum pulih sepenuhnya tapi selalu digagalkan oleh para perawat dan beberapa petugas di sana. Lalu ia sempat nekat untuk melepaskan gips di kaki kirinya dengan paksa agar bisa berlari dari kejaran orang-orang itu tapi gagal. Hyomin terus mencoba sampai sudah seminggu ia dirawat di sana.

Pada suatu malam Hyomin menyusuri lorong rumah sakit, sekali lagi mencoba kabur dengan kakinya yang masih pincang. Sampai di dekat belokan, ia mendengar suara beberapa orang yang cukup keras.

“Nona, saya mohon tenanglah! Saya hanya ingin memandikan anda.”

“Nona, kami tidak akan menyakiti anda.”

“TIDAK! JANGAN MENDEKATIKU! PERGI! PERGI!”

Hyomin terpaku mendengar teriakan itu. Ia mengenalnya. Suara Jiyeon, Nona kecilnya. Nona kecilnya ada di sini, tidak salah lagi.

Seolah semua rasa sakitnya hilang, Hyomin berlari menuju asal suara dan sesekali hampir terjatuh di lantai. Sampai di sebuah kamar, ia melihat kerumunan beberapa dokter dan perawat, yang berkumpul di depan pintu sebuah kamar pasien. Tanpa mengatakan apa pun, Hyomin menerobos masuk ke dalam. Perasaan lega langsung berubah menjadi cemas dan rasa takut begitu melihat keadaan seorang gadis kecil dengan pakaian tidur lusuhnya, robek di beberapa bagian, terdapat bekas darah, beberapa lebam di lengan dan sudut bibirnya dan kakinya telanjang.

“Nona,” panggil Hyomin lembut dan berusaha melangkah mendekat dan gadis kecil itu malah histeris dan memeluk tubuhnya sendiri di sudut ruangan, menangis tersedu-sedu. “Nona, saya Hyomin, pelayan anda.”

“TIDAK! KAU ORANG JAHAT! KALIAN SEMUA ORANG JAHAT! KALIAN MENYAKITIKU!”

Air mata yang sudah di tahannya meluncur begitu saja. Ia menangis melihat keadaan Jiyeon. “Saya tidak akan menyakiti anda, Nona. Saya Hyomin, Park Hyomin,” katanya lalu melangkah mendekat sekali lagi.

“Hyo-min?” lirih Jiyeon lalu mendongakkan kepalanya menatap Hyomin yang berdiri tak jauh darinya lalu menatap orang-orang yang berdiri di depan pintu.

“Iya, Nona.” Beberapa langkah diambil Hyomin dengan penuh perhitungan. Setelah sampai di depan Jiyeon, ia mengulurkan tangannya lalu mengusap air mata Jiyeon. “Saya Park Hyomin.”

Tangan mungil Jiyeon meraih tangan Hyomin lalu Jiyeon memeluknya dan membenamkan wajah di perut Hyomin, menangis tersedu-sedu. “Aku takut, hiks… mereka menyakitiku, memukulku, hiks… mereka… mereka…. hiks…”

“Shhh, anda sudah aman, Nona. Tidak apa-apa,” Hyomin berkata dengan suara bergetar dan membalas pelukan Jiyeon.

.

Setengah jam kemudian, Hyomin berada di kamar mandi pasien sedang membantu Jiyeon melepaskan bajunya. Pada saat itulah pertama kalinya ia melihat torehan luka yang terlihat masih baru dan basah. Tapi matanya terpaku pada sebuah simbol dengan tulisan Slave, simbol budak, masih merah dan melepuh dengan jelas.

“Nona, punggung anda-”

“Jangan mengatakan apa pun!” potong Jiyeon dengan nada final tidak ingin di bantah.

“Saya mengerti, Nona,” sahut Hyomin.

Hal yang berputar di benaknya hanyalah siapa yang membuat Nona kecilnya, Jiyeon, kehilangan binar di mata hazelnya, mata indah yang diturunkan oleh ayah Jiyeon. Siapa yang menyakiti Nona kecilnya hingga kehidupan yang dijalaninya monoton, makan, tidur, dan melamun. Siapa yang menorehkan luka mental yang begitu mendalam hingga membuat Nona kecilnya selalu dihantui mimpi buruk setiap kali memejamkan mata karena kematian orang tuanya dan membuat hatinya membeku.

Flashback End

School-Festival

Setelah mengganti seragamnya dengan seragam olah raga berwarna abu-abu, Jiyeon meletakkan kemeja dan rok sekolahnya di loker yang terlihat bersih- bahkan kosong. Ia menatap perban yang melilit di telapak tangan kanannya lalu lenarik lepas lilitan itu dan membuang perbannya di tempat sampah. Dipandangi bekas jahitan memanjang dan mencoba menggenggam tangannya sendiri berkali-kali. Ia raih sebuah tabung hisap inhealer lalu menggenggamnya dengan erat di tangan kirinya dan memasukkannya ke dalam kantung jaketnya.

“Sudah siap, Jiyeon-ah?” Lee Jieun muncul di sampingnya dengan seragam yang sama seperti dirinya.

“Ya,” jawab Jiyeon lalu menutup pintu lokernya dan pergi bersama Jieun ke lapangan.

Sesampainya di lapangan, sisa udara dingin dari bulan desember menerpa wajahnya. Jiyeon bergabung dengan kelompoknya yang tidak jauh dari tempat Tim A berada. Sementara teman-temannya sedang menyampaikan strategi mereka, Jiyeon hanya diam dan mendengarkan sesekali. Ketika dia menoleh, mata Jiyeon bertemu dengan mata tajam intimidasi milik Kim Myungsoo. Seperti yang biasa dilakukannya, Jiyeon membungkukkan tubuhnya sedikit lalu kembali mengalihkan perhatian pada Timnya.

“Jadi, urutan larinya adalah,” Jungkook menjelaskan. “Lee Jieun, Lee Hyunwoo, Park Jiyeon, dan yang terakhir adalah aku.”

“Sa- aku menjadi pelari ke-tiga?” tanya Jiyeon.

Jungkook mengangguk. “Ya. Apakah ada masalah?”

“Tidak. Aku akan melakukannya,” Jawab Jiyeon.

Pertandingan pun dimulai dengan Tim A yang harus menggunakan 4 anggota yaitu Kim Myungsoo, Shin Wonho, Irene, dan Ahsung. Tim A memilih urutan pelari dengan Ahsung untuk pelari pertama, Irene pelari ke-dua, Shin Wonho pelari ke-tiga, dan Kim Myungsoo pelari ke-empat. Tim A berada di lapisan lintasan paling dalam, Tim B lapisan lintasan ke-dua, dan Tim D yang ke-tiga. Saat masing-masing tim sudah berada di posisinya, guru olah raga mereka sudah bersiap di tempatnya untuk membunyikan peluit.

PRIIIIIT

Para pelari utama sudah memulai start mereka dengan sekuat tenaga dengan sebuah tongkat di tangan kanan mereka. Walau pun kalau dilihat Jieun berada di yang paling depan, faktanya itu hanya karena Tim D berada di lintasan paling luar, jadi start Jieun sedikit lebih maju. Dengan tubuh mungilnya, Jieun berusaha menyamai langkah dua pelari lainnya yang memiliki jangkauan kaki lebih lebar. *miris. Jarak Jieun hampir di susul oleh Ahsung ketika Jieun hampir mencapai Lee Hyunwoo.

“Lebih cepat, Lee Jieun!” teriak Hyunwoo sambil mengulurkan tangannya dan…

HUP

Ahsung yang memberikan tongkatnya terlebih dahulu pada Irene lalu di susul Jieun-Hyunwoo dan Tim B. Walaupun Irene cukup cepat dalam berlari, dia masih perempuan dan itu bukan apa-apa bagi Lee Hyunwoo. Ia semakin memperlebar jarak antara dirinya dan kedua tim dan berlari sekuat tenaga menuju pelari ke-tiga, Jiyeon.

Di tempatnya berdiri, Jiyeon terlihat mengepalkan tangannya beberapa kali, menarik napas, lalu menghembuskannya. Ia menoleh ke belakang menemukan Hyunwoo yang sudah tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ketika ia menggeser pandangannya, matanya menemukan mata tajam Shin Wonho yang menatapnya dengan dahi berkerut dan hanya berlangsung sesaat karena Jiyeon kembali mengawasi Hyunwoo yang hampir sampai. Dengan form yang pernah dibacanya dari sebuah buku tentang estafet, Jiyeon mengulurkan tangan kananna ke belakang lalu menerima tongkat estafet yang di berikan oleh Lee Hyunwoo padanya.

HUP

Jiyeon segera berlari secepat yang ia mampu. Di dalam benaknya hanya ada berlarilah seperti dulu kau menghindar dari kejaran orang-orang terkutuk itu! Hanya untuk saat ini, BERLARILAH! Ia terus mengulang kalimat yang sama sementara napasnya mulai memburu dan hampir terdengar mengerikan. Keringat dingin mulai membasaki pelipis dan kedua telapak tangannya, membuat Jiyeon mengeratkan pegangannya pada tongkat yang ia pegang.

Tinggal beberapa meter lagi ia akan sampai di tempat Jeon Jungkook yang entah mengapa menatapnya khawatir.Di belakangnya, Kim Myungsoo juga menatapnya dengan pandangan yang tidak jauh beda dengan Jungkook. Beberapa kali Myungsoo terlihat ingin melangkahkan kakinya ke belakang tapi diurungkannya detik itu juga. Pandangan mata Myungsoo melirik Jiyeon yang melewatinya dan tidak sengaja mendengar deru napas Jiyeon seperti pada malam natal. Sampai suara Wonho menginterupsi kesadarannya, menoleh ke belakang lalu menerima uluran Wonho dersamaan dengan Jiyeon.

HUP

Jiyeon mengulurkan tongkat estafetnya pada Jungkook dan Jungkook langsung berlari seolah ini adalah lari sprint sementara Jiyeon hampir kehilangan keseimbagan dengan mata yang berkunang dan terbatuk beberapa kali. Ia mengabaikan Kim Myungsoo yang berlari melewatinya seakan indra pengelihatannya tidak berfungsi dengan baik. Ia butuh udara hangat untuk masuk ke dalam paru-parunya, dan di lapangan bukan tempat yang tepat apa lagi banyak orang di sini.

Jadi Jiyeon memutuskan untuk pergi ke lorong tepat di depan ruang ganti lalu menghirup inhealernya. Jiyeon menunggu sampai napasnya membaik dengan duduk di kursi panjang dan membenamkan kepalanya pada kedua lututnya, mengatur pernapasan.

Suara langkah kaki memantul sepanjang lorong. Walaupun enggan, Jiyeon mengangkat kepalanya untuk melihat seseorang yang berdiri di depannya sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana trainingnya. Shin Wonho.

“Kenapa kau memilihku? Banyak orang yang lebih berpengalaman dariku,” kata Wonho cepat.

Jiyeon mencetak senyum miringnya. “Saat ‘organisasi’ masih dipimpin oleh ayahku, kemampuan Tuan Shin sangat hebat. Keluargamu memiliki akses yang luas, dan satu hal- uhk!” Jiyeon terbatuk tiba-tiba dan sesak napas kembali menderanya.

“Wajahmu pucat, kau batuk, dan sesak napas, ini adalah asma. Tundukkan wajah dan peluk lututmu sambil mengatur napas. Setidaknya itu mempercepat penormalan pernapasanmu setelah kau menggunakan inhealermu,” jelas Shin Wonho sambil melirik tabung kecil di tangan Jiyeon.

“Kemampuan analisa milikmu kubutuhkan. Bukan hanya informasi, sebuah analisa juga sangat dibutuhkan,” lanjut Jiyeon tanpa mengindahkan ucapan Wonho.

“Banyak orang bisa menganalisa sesuatu. Dan asma sangat mudah di kenali,” balas lelaki itu.

“Tapi hanya sedikit yang bisa melakukannya secara refleks!” Jiyeon sedikit meninggikan suaranya namun tidak membentak. Detik itu juga tatapan Jiyeon melunak. “Katakan saja kalau kau tidak mau. Tidak masalah bagiku karena aku bisa mendapatkan seseorang untuk menjadi informanku- dan loyal padaku,” ujarnya lalu berdiri menatap datar pada Wonho.

“Buktikan padaku!”

Sebelah alis Jiyeon terangkat. “What did you say?

Shin Wonho terdiam lalu membalikkan badannya hendak kembali ke lapangan. “Buktikan padaku, bahwa kau adalah seseorang yang pantas mendapat loyalitas dan kehormatan penuh dariku,” ucapnya sebelum melangkahkan kakinya menjauhi Jiyeon.

Terkekeh kecil, Jiyeon menatap punggung Wonho yang berjalan menjauh darinya. “Like father like son,” desisnya lalu menyeringai penuh kepuasan.

Kim Myungsoo mengumpat berkali-kali karena finish di posisi ke-dua. Kemampuan lari Jeon Jungkook memang menyebalkan di dalam perlombaan. Bayangkan saja! Jungkook pernah mewakili sekolahnya sampai di runner up.

Setelah mengatur napasnya, Myungsoo membalikkan badan bermaksud kembali berkumpul bersama teman-temannya. Tapi, mata elangnya menangkap Jiyeon yang sedang kembali ke gedung sekolah, mungkin ke ruang ganti. Apakah asmanya kambuh? Myungsoo bertanya pada dirinya sendiri lalu mengatakan pada teman-temannya kalau ia akan pergi ke ruang ganti dan menyerahkan festival pada Timnya.

“Kemampuan analisa milikmu kubutuhkan. Bukan hanya informasi, sebuah analisa juga sangat dibutuhkan.”

Suara Jiyeon terdengar dari tempat Myungsoo berdiri lalu ia memutuskan untuk bersembunyi di balik tembok dan bersandar di sana.

“Banyak orang bisa menganalisa sesuatu. Dan asma sangat mudah di kenali,” Wonho membalas tanpa ragu.

Asma? Pikir Myungsoo dengan kening berkerut samar dan jantungnya mendadak berdebar lebih cepat.

“Tapi hanya sedikit yang bisa melakukannya secara refleks! Katakan saja kalau kau tidak mau. Tidak masalah bagiku karena aku bisa mendapatkan seseorang untuk menjadi informanku- dan loyal padaku.”

Mata Kim Myungsoo membelalak. Informan? Untuk apa Park Jiyeon membutuhkan seorang informan? Shin Wonho?

“Buktikan padaku!”

What did you say?

“Buktikan padaku, bahwa kau adalah seseorang yang pantas mendapat loyalitas dan kehormatan penuh dariku.”

Loyalitas? Kehormatan? Sial! Sebenarnya apa yang mereka rencanakan?

Hanya itu yang dapat Myungsoo tangkap dari pembicaraan mereka sampai ia mendengar suara ketukan sepatu dan Shin Wonho yang berjalan melewatinya, pergi kembali ke lapangan. Myungsoo sehera keluar dari tempat persembunyiannya dan menatap Jiyeon yang masih terlihat pucat dengan tatapan paling tajam yang dimilikinya.

Dapat dilihatnya Jiyeon yang terkejut dengan kehadirannya namun dengan pintrnya gadis itu mengganti ekspresinya dan bersikap tenang. Gadis itu membungkuk padanya. “Yang Mulia Putera Mahkota,” sapanya.

Myungsoo tidak menjawab dan terus melangkahkan kakinya mendekati Jiyeon yang begitu tenang menghadapinya. Normalnya, seseorang yang sedang kepergok merencanakan sesuatu di belakangnya pasti akan gemetar gugup. Tapi Jiyeon… mana mungkin gadis itu bisa se-tenang ini pada saat Myungsoo mengintimidasinya?

“Aku sungguh tidak mengenalmu, Park Jiyeon, atau mungkin harus kupanggil Midford?” Myungsoo mulai berucap dengan dingin lalu berhenti tepat di depan gadis itu hingga hampir meniadakan jarak di antara mereka. Ia mengulurkan tangannya, mencengkeram lengan atas Jiyeon karena tidak bisa menahan luapan emosinya. “Kau datang dengan tiba-tiba, duduk di kursi kepala keluarga, kau tidak pernah bersikap normal seperti remaja lain pada umumnya, pelayan yang terlalu loyal padamu sampai tidak peduli bahwa aku adalah seorang Putera Mahkota, kau mengenal Shin Wonho dan entah kenapa menginginkannya menjadi informanmu, setiap bertemu denganku kau selalu membungkukkan badan dan selalu mengucapkan kata-kata formal sialan itu padaku, tidak ada emosi apa pun yang terpancar di sana,” ucap Myungsoo seiring cengkeramannya yang semakin erat.

“Apakah…” Myungsoo menjeda dan menatap kedua bola mata Jiyeon yang menatapnya dengan datar. “Keluarga terdahulumu pernah terlibat Pembantaian pada tahun 1895?”

Jiyeon menatap lekat pada Myungsoo lalu menyinggungkan senyum kecil. “Apa yang membuat anda berpikir kalau saya tahu tentang hal itu?”

“Jiyeon Midford!” panggil Myungsoo dengan penekanan di setiap intonasinya. “Are you friends or enemy?”

To Be Continue

25 responses to “[CHAPTER-PART 6] EIRENE

  1. Kesian kehidupan jiyeon. Dia ada byk pilihan tetapi memilih pilihan itu juga. Apa midford begitu jahat? Atau sebaliknya? Hmmm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s