[CHAPTER-PART 5] EIRENE

EIRENE

EIRENE-5

||Author : Lyzee7||

||Main Cast : Kim Myungsoo|Park Jiyeon|Irene|Ryu Hwayoung||

||Genre : Family|Romance|Complicated|Royal|Little Action||

||Rating : PG-17||

||Recommended Song : Fervor by Baek Jiyoung||

 EIRENE CAST

Jiyeon hanya memberikan senyum tipisnya lalu berbalik pergi meninggalkan Tuan Shin yang menatapnya penuh kehangatan. Langkahnya terhenti ketika sampai di pintu. Ia membiarkan Yunho membuka pintu kayu ber-cat putih itu lalu melangkah keluar. Tetapi sekali lagi langkahnya terhenti ketika ia berhadapan dengan seseorang. Kim Myungsoo.

“Oh! Park Jiyeon.” Suara itu berasal dari Hyunwoo yang muncul dari balik punggung Myungsoo.

Walau pun ada Hyunwoo di antara mereka, kontak mata antara Myungsoo dan Jiyeon tak kunjung terputus seakan saling berusaha membaca pikiran satu sama lain hanya dengan saling menatap.

“Selamat siang, Lee Hyunwoo-ssi, dan Yang Mulia Putera Mahkota,” ucap Jiyeon pada akhirnya lalu membungkuk sopan seperti biasa.

Tetapi Myungsoo tak melepaskan tatapan tajamnya dari Jiyeon, tidak bisa ia lakukan. Setiap kali bertemu dengan gadis itu, ia hanya ingin mengetahui siapa dan apa tujuannya hadir di kehidupan damainya.

Takdir yang mempertemukan mereka walau pun sebenarnya sejak awal mereka mempunyai sebuah ikatan yang mungkin juga bisa disebut dengan takdir yang sudah ditetapkan sejak mereka lahir di dunia ini.

Eirene part 5

Hyunwoo menatap Myungsoo dan Jiyeon secara bergantian dengan alis yang terangkat ke atas. Ia mengamati bagaimana Jiyeon dan Myungsoo saling bertatapan tanpa ada yang berniat memutus kontak mata mereka. Saat ia akan menoleh pada Woohyun untuk menanyakan apa yang terjadi dengan Myungsoo, Hyunwoo mengurungkan niatnya setelah melihat Woohyun dan Yunho yang juga saling melemparkan tatapan tajam. Detik itu pula Hyunwoo memutuskan, mungkin lebih baik kalau diam dan menunggu mereka berdua tersadar dengan sendirinya.

“Oh! Anda berkunjung ke Angelia, Yang Mulia Putera Mahkota?” Tuan Shin datang dari ruangan yang baru saja Jiyeon tempati, membuat mereka menatapnya.

Dalam hati, Hyunwoo berkali-kali berterima kasih pada pria tua itu karena menyelamatkannya dari suhu ruangan yang tiba-tiba turun drastis. “Shin ahjussi, senang bertemu denganmu lagi,” kata Hyunwoo lalu menjabat tangan Tuan Shin.

“Terima kasih, Hyunwoo-ah,” balas Tuan Shin dengan ramah. Tuan Shin menatap Myungsoo lalu memberi hormat padanya.

“Tuan Shin, anda mengenal Jiyeon?” tanya Myungsoo tanpa menatap Tuan Shin.

Sebelum menjawab, Tuan Shin menatap Jiyeon yang dibalas Jiyeon dengan kernyitan kecil di dahinya sehingga hanya Tuan Shin yang menyadari hal itu. Tuan Shin kembali menatap Myungsoo dengan senyum lebarnya. “Jiyeon sedikit tertarik dengan Angelia, jadi kami sedikit berbincang tentang hal itu. Benar ‘kan, Jiyeon-ah?”

“Seperti yang anda katakan, Tuan Shin,” Jiyeon membenarkan. “Kalau begitu saya harus pergi. Sampai jumpa,” kata Jiyeon lalu membungkuk singkat sebelum pergi dari hadapan Myungsoo bersama Yunho.

“Sampai jumpa kembali,” balas Hyunwoo.

Berbeda dengan Hyunwoo, Myungsoo lebih memilih diam dan menatap punggung Jiyeon yang semakin menjauh.

Ryu Family’s Manor

Tuan Ryu sedang duduk bersantai di sofa sambil mendengarkan musik karangan Beethoven yang diputar melalui piringan hitam yang terletak tak jauh darinya. Wajah arogan dan mata tajamnya membuat siapa pun akan takut melihatnya. Bibirnya mengapit cerutu dan tangan kirinya menopang kepalanya di lengan sofa. “Jadi, Eirene sudah menyadari perangkap yang kita buat, ha?”

“Saya sangat menyesal karena telah membiarkan-nya lolos, Tuan,” sahut seorang pria yang berlutut dengan kepala yang menunduk dalam di depannya.

Tuan Ryu mengangkat tangan kanannya. “Tidak- tidak masalah. Sudah kuperkirakan dari seorang tangan kanan Raja,” katanya dengan tenang. “Tidak lama lagi keberuntungan akan berpihak pada kita.” Tuan Ryu mengapit cerutu di bibirnya, menyesap lalu menghembuskannya membuat kepulan asap keluar dari mulutnya. “Tapi, ada yang sedikit mengganjal pikiranku…”

“… sebelum menghilang lima tahun yang lalu, Eirene tidak pernah membiarkan targetnya tetap hidup…”

Oh Family’s Manor

Sore harinya, seperti yang telah diduga oleh Oh Sehun, tak lama lagi ia akan bertemu dengan seseorang yang ia nanti. Beberapa menit yang lalu, ayahnya- Tuan Oh memberi tahunya bahwa orang itu akan segera datang ke rumahnya. Ia senang karena pada akhirnya rasa kecewanya kemarin malam akan terobati hari ini. Ia tidak sabar untuk segera melihat-nya lagi, setelah sekian lama tidak bertemu dengan-nya.

Sehun berada di balkon kamarnya ketika sebuah sedan hitam berhenti di pintu masuk rumahnya. Ia mengamatinya dengan seksama ketika pengemudi keluar lalu membukakan pintu belakang. Muncul seorang gadis diikuti seekor anjing besar dengan bulu putihnya mengikuti gadis itu.

Sehun tidak bisa menyembunyikan senyumnya ketika ia merasa familiar dengan mata tajam gadis itu. Detik berikutnya Sehun berbalik menuju kamarnya lalu menuju pintu keluar, berniat turun untuk menyambut gadis itu. Ia sedikit berlari ketika menuruni anak tangga yang melingkar mengikuti bentuk dinding rumahnya. Melihat punggung gadis itu yang hampir menghilang di lorong rumahnya, Sehun mengumpat kecil lalu mempercepat langkahnya. Gadis itu masuk ke sebuah ruangan bersama seorang pria dan anjingnya lalu menghilang di balik pintu yang ditutup oleh pelayan rumahnya. Ia berniat membuka pintu tapi dihentikan oleh pelayan itu dengan sopan.

“Maaf, Tuan Muda. Ayah anda sedang mengadakan pertemuan dengan beberapa bangsawan,” kata pelayan itu.

Sehun mendesah jengkel lalu berbalik pergi. “Kalau ada yang menanyakanku, katakan saja kalau aku sedang latihan di doujou,” pesannya sebelum berlalu.

Di ruangan tertutup itu ada sebuah meja billiard dengan tiga pria yang berdiri mengelilingi, Tuan Oh duduk di sofa dekat perapian sambil menyilangkan kakinya, dan seorang wanita yang duduk di dekat meja kecil dengan secangkir green tea di tangannya. Salah satu dari tiga pria yang bermain billiard terlihat bukan seperti orang Asia dan berambut coklat. Dan dua lainnya adalah Tuan Ryu dan seseorang bermantel hitam dengan potongan rambut tipis dan rapi –orang Korea. Ruangan itu hanya diterangi sebuah lampu gantung yang membuat keadaan ruangan itu semakin remang-remang karena gelap.

“Lama tidak bertemu, Nona kecil,” sapa Tuan Oh.

“Apakah aku terlambat?” tanya Jiyeon begitu semua orang menatapnya dengan berbagai ekspresi.

Tuan Oh tersenyum lalu menggeleng. “Kami belum mulai, Jiyeon. Tenang saja,” sambutnya dengan ramah. Mata tua pria itu tertuju pada seekor anjing besar di samping Jiyeon lalu berkata, “Apa kita punya teman baru di sini?”

Jiyeon mengikuti arah pandang Tuan Oh lalu tertawa kecil. “Begitulah,” jawabnya. Jiyeon berjalan mendekati meja billiard yang sisinya masih kosong. “Kelihatannya anda juga memiliki peliharaan baru, benar ‘kan?”

Tuan Oh mengangguk, meng-iyakan. “Tapi, sayangnya peliharaanku sedikit memberontak,” balasnya.

“Jangan terlalu mengekangnya,” akhirnya pria yang berambut coklat berkata dengan logat yang sedikit aneh karena dia bukan orang Korea asli. “Kalau kau mengikat tali lehernya terlalu kuat, dia akan menjadi semakin buas dan berbalik menyerangmu.”

Tuan Ryu menegakkan badannya setelah gagal menyodok sebuah bola. “Kau terdengar seperti sudah sangat berpengalaman, Grey Anderson,“ katanya sinis yang disambut seringai dingin oleh Grey.

“Jadi,” pria dengan potongan rambut tipis setelah menyodok bola dan berhasil memasukkannya, membuka suara. “Kapan kau akan mulai bergerak?” pria itu menatap Jiyeon dengan mata sipitnya yang tajam.

Jiyeon membalas tatapan pria itu dengan angkuh dan begitu meremehkan. “Kapan anda akan memberikan timbal baliknya, inspektur Hyun?”

Inspektur Hyun menggeram. “Kapan pun kau inginkan,” jawabnya.

Jiyeon menyeringai lalu mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Kalau begitu, biarkan aku bermain-main sejenak,” ucapnya. “Anda yakin anak buah anda tidak ada yang tahu mengenai kerja sama kita?” lanjutnya.

“Kenapa kau terlihat khawatir?” cibir inspektur Hyun.

Jiyeon menaikkan sebelah alisnya. “Kalau kerja sama kita ketahuan, bukankah akan mengancam harga diri anda di hadapan anak buah anda?” katanya. “Memberikan informasi penting pada orang asing itu sebuah pelanggaran di kepolisian. Bukan begitu, inspektur?”

Grey mendekati Jiyeon lalu memeluknya singkat. “Cukup, teman-teman,” pisahnya. “We all know who Midfords are.” Matanya menangkap tangan kanan Jiyeon yang terbalut perban lalu ia meraihnya. “Apa yang telah terjadi?” tanyanya panik.

Jiyeon menurunkan tangannya lalu menggeleng pelan. “Hanya kecelakaan kecil,” jawabnya tidak ingin membuat Grey khawatir. “Jangan khawatir,” tambahnya ketika melihat Grey yang masih menatapnya khawatir.

Grey mentap Yunho dengan sengit dan mata yang memancarkan kemarahan. “Kau!” telunjuknya menunjuk Yunho dengan tegas. “Kau tahu kalau kau tidak boleh membiarkan Jiyeon terluka adalah prioritas utamamu, bukan?!” bentaknya tepat di depan wajah Yunho.

“Saya benar-benar menyesal, Tuan Anderson,” hanya itu yang bisa Yunho katakan. Yunho sadar kalau Jiyeon terluka karena tindakan gegabahnya menyerang Pangeran. Ia juga sadar kalau ia tidak bisa dimaafkan atas perbuatannya yang berujung dengan terlukanya Jiyeon yang saat itu sedang terserang asma.

“Cukup Grey!” ucap Jiyeon memperingati Grey agar mengontrol emosinya. “Ini sama sekali bukan salah Yunho dan aku tidak ingin melanjutkan masalah ini,” katanya dingin lalu kembali mengarahkan tatapan tegasnya pada Tuan Oh. “Sebelum kemari, aku bertemu dengan-nya ­di Angelia. Aku akan memberi tahu pada kalian apa langkahku selanjutnya.”

Satu jam lamanya Sehun menunggu di doujou-yang terletak di bagian belakang rumahnya-dengan bosan. Entah berapa lama mata sipitnya tak henti menatap bias oranye di langit karena matahari yang akan terbenam. Nampak di matanya puluhan burung yang beterbangan untuk segera kembali ke sarangnya, mereka hanya terlihat seperti titik hitam yang bergerak bebas di langit.

Tak lama kemudian ia mendengar derap langkah beberapa orang yang berjalan mendekatinya. Tapi Sehun mengabaikan hal itu dan memilih membiarkan dirinya terpaku pada pemandangan yang seolah menghipnotisnya.

“Sudah lama menungguku?”

Angin berhembus menerpa wajahnya setelah suara lembut itu terdengar di gendang telinganya. Kantuknya yang tadi ia rasakan seketika menguap, menghilang terbawa angin yang berhembus. Detik itu pula ia barharap, kalau ini sekedar mimpi jangan membangunkannya. Setelah sekian lama, akhirnya Sehun bisa mendengar suaranya lagi, bertemu dengannya. Walaupun suara yang didengarnya sedikit berbeda dengan terakhir diingatnya, tapi ia yakin kalau seseorang yang beriri di belakangnya adalah gadis itu.

Perlahan tapi pasti Sehun membalikkan badannya lalu menemukan seorang gadis yang terbalut mantel berbulu berwarna abu-abu bersama seorang pria berpakaian hitam putih di belakangnya. Tanpa melepas kontak matanya pada gadis yang menatapnya dengan datar- lebih tepatnya kosong, ia berjalan menghampirinya dengan pelan-pelan. Ia berkata, “Sudah bertahun-tahun lamanya kau menghilang. Tanpa kabar, dan aku hanya bisa berharap kalau kau baik-baik saja di luar sana. Sehari saja aku tidak bisa kalau tidak memikirkanmu, kau pikir sekarang ada berapa banyak hari yang kulewati dengan terus mencemaskanmu? Dan kau sekarang-dengan gampangnya-bertanya apa aku sudah lama menunggumu?” langkahnya terhenti tepat di hadapan Jiyeon, hampir tidak ada jarak di antara keduanya.

GREB

Tanpa bisa dicegah Sehun memeluk tubuk Jiyeon dengan erat namun tidak berniat menyakitinya. Ia membenamkan wajahnya tepat di lekukan leher gadis itu dengan tubuh yang bergetar. Tubuh jakungnya menunduk, merengkuh Jiyeon seolah berusaha menyalurkan perasaan yang dirasakannya selama bertahun-tahun tanpa gadis itu.

“Kau menyebalkan…” gumamnya dengan suara yang bergetar di leher Jiyeon. “Kau benar-benar menyebalkan, Midford.”

Jiyeon tidak membalas mau pun menolak pelukan Sehun. Ia hanya terdiam, membiarkan pria itu berusaha memberinya kehangatan yang selama ini sudah tidak bisa dirasakannya lagi. Tidak ada yang dirasakan Jiyeon selain kehampaan hati yang menguasai diri dan pikirannya.

Namun entah apa yang terjadi pada dirinya, sedikit demi sedikit ada percikan ingatan yang menyusup, membuat kepalanya berdenyut sakit. Tubuhnya mendadak lemas dan gemetar, lalu ia mencoba mendorong Sehun pelan agar melepaskannya.

“Are you alright?” tanya Sehun menatap Jiyeon yang mengernyit mencengkeram kepala.

“Nona?” Yunho mengambil alih tubuh Jiyeon dan menopang tubuh Jiyeon yang mungkin sewaktu-waktu bisa ambruk.

Dengan dahi mengernyit menahan sakit, lengan kiri Jiyeon terangkat memberikan kode pada Yunho agar melepaskan tubuhnya. “Aku baik-baik saja. Hanya sedikit letih,” ucapnya menenangkan.

Night at Castle

Ruangan luas itu diterangi oleh lampu yang di pasang di setiap dinding dan langit-langit perpustakaan. Di antara hamparan rak buku yang menjulang tinggi, Myungsoo menggeser telunjuknya ke buku lain setelah judul buku yang dibaca bukan yang ia cari. Lantas ia melangkahkan kakinya yang beralaskan sandal bulu berwarna putih membawa tubuhnya yang terbalut jubah sutra berwarna biru menuju bagian jajaran sejarah. Ia membaca satu persatu judul yang tertera di bagian samping buku secara berurutan; The Holy Castle, The First King, The Biggest War, Slaughter in 1895. Telunjuk Myungsoo terhenti di sebuah buku dengan sampul berwarna merah marun dengan tulisan emas timbul.

Diraihnya buku itu lalu menerjemahkannya. “Pembantaian di 1895?” di pikiran Myungsoo, mungkin tulisan di dalamnya akan mengerikan mengingat buku ini berjudul Pembantaian. Tapi setelah ia menemukan kutipan kalimat yang terletak di sudut bawah buku itu, “Betapa mengerikan, Keturunan Mahkota Raja menjadi satu-satunya keluarga kerajaan yang selamat setelah istana diserang oleh para pengkhianat.” Detik itu pula Myungsoo memutuskan untuk membaca buku itu. Ia duduk di tempat yang sudah di sediakan dengan lampu kecil yang bertengger di meja yang ia tempati. Ketika membuka lembar pertama, Myungsoo dibuat bingung dengan cara penulisan yang persis seperti buku dongeng. Di bagian kiri sebuah gambar sketsa, sedangkan sebelah kanan menjelaskan jalan ceritanya.

Entah sejauh mana kalian-para Penerus Tahta Kerajaan-akan mengingat atau mengetahui peristiwa mengerikan ini. Peristiwa mengerikan yang terjadi di malam natal, tepat ketika lonceng ketiga berbunyi.

Malam itu hanya terdengar suara musik klasik kesukaan Raja yang dimainkan oleh para pemain musik orkestra. Terdengar tawa anak-anak yang berlarian, bermain bersama Putera Mahkota kecil yang terlihat begitu bahagia. Saat itu lonceng emas raksasa yang berada di punccak istana di bunyikan tiga kali. Terdengar suara letusan keras saat suara lonceng ketiga, detik itu Raja telah tumbang dengan mata terbuka lebar dan darah yang mengalir keluar dari sebuah lubang di kepalanya.

Mereka semua berteriak tepat ketika puluhan orang berpakaian hitam yang menutupi wajahnya datang dengan senjata mereka. Mereka menembak dengan membabi buta

Tidak tahan, Myungsoo meloncati beberapa halaman.

Muncul sebuah cahaya yang menghentikan orang-orang itu. Mereka datang dengan mengenakan setelan hitam putih yang membawa berbagai macam senjata lalu menghabisi orang-orang berpakaian hitam itu dan tidak lupa dengan pemimpin mereka, seorang bangsawan terhormat yang berusaha menghancurkan kerajaan dan berniat mengambil alihnya. Pasukan penyelamat itu dipimpin oleh seorang bangsawan kejam, namun begitu tunduk pada Raja.

Bahkan dari raut wajahnya ia begitu terpukul setelah menyadari Raja dan Ratu kami sudah tergeletak tidak bernyawa, bersama anggota kerajaan yang lain dan beberapa Menteri. Hanya ada seorang bocah laki-laki yang berdiri sambil menangis tersedu-sedu tepat di depan pohon natal dan kemejanya dilumuri darah. Dia adalah Putera Mahkota.

Bangsawan itu berjalan perlahan lalu menghampiri Putera Mahkota. Mengatakan sesuatu lalu berlutut hormat padanya. Detik itu pula kami-yang selamat-menyadari, bahwa bangsawan itu-tanpa upacara yang sakral-telah menetapkan Raja baru kami.

Kami yang masih sadar turut bergabung dengannya untuk menunduk hormat dan berlutut pada Raja kami, Kim Hyunsoo. Kami akan melindunginya hingga ia tumbuh dewasa dan akan membimbing kami menuju kedamaian yang selama ini kami impikan. Kami akan melindungi semua keturunannya dengan nyawa kami hingga anak dan cucu kami yang akan memikul tugas itu. Kami akan terus melindunginya.

Dengan perasaan gusar dan campur aduk, Myungsoo menutup buku itu lalu terdiam beberapa saat. Ia mengenal- tahu tentang Kim Hyunsoo. Ia mengetahui wajahnya karena semua lukisan Raja dan keturunannya akan di tempelkan di dinding, tepat di depan cabang tangga utama istananya. Itu lebih mirip seperti pohon keturunan keluarganya.

Kim Hyunsoo di lukisan itu hanya memberlihatkan wajah dingin dan tatapan tajamnya yang selalu membuatnya bergidik ngeri ketika secara tidak sengaja memandangnya. Namun setelah membaca cerita ini Myungsoo mengerti kenapa Raja terdahulu begitu dingin dan terlihat menyeramkan dan tegas dalam waktu yang bersamaan. Siapa pun orang yang telah mengalami hal itu pasti akan menjadi seseorang yang berbeda dan kejam. Ia juga takut kalau kejadian itu akan terulang lagi. Lalu kalau itu terjadi, siapa yang akan menyelamatkan kerajaan ini?

“Ayah tidak menyangka kalau kau akan membaca buku itu,” Kim Jisub tiba-tiba muncul di sampingnya dengan pakaian yang tidak jauh berbeda darinya. “Menurutmu, itu hanyalah karangan fiktif atau kisah nyata?”

Myungsoo terlihat berpikir sebentar lalu menatap Raja dengan dahi berkerut. “Dongeng… nyata?” jawabnya tidak yakin.

Raja tertawa keras lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau pikir anak-anak mau membaca dongeng pengantar mimpi buruk?” katanya dengan sisa tawa. Ia menatap Myungsoo dengan tatapan tenangnya lalu melanjutkan, “Itu benar-benar terjadi, nak.”

“Serius?”

Raja mengangguk lalu menambahkan, “Kenyataan lebih sulit diterima dari pada cerita dongeng, bukan?”

Beberapa hari kemudian, lebih tepatnya sehari sebelum libur musim dingin berakhir, murid-murid sekolah kerajaan mempersiapkan diri untuk festival sekolah yang diadakan selama tiga hari. Mereka berlatih siang malam mengingat betapa mengerikan hukuman bagi kelompok yang mendapatkan poin rendah. Bukan hukuman dari sekolah memang, karena para lelaki di kelas Myungsoo dengan seenak jidatnya membuat peraturan yang membuat gadis-gadis tidak berdaya itu merengek ketakutan.

Ryu Hwayoung berkali-kali diarahkan oleh pelatihnya untuk membidik papan target dengan benar, menarik busur, menahan napas, lalu menembakkan anak panahnya dengan tepat. Ia masih ingat festival tahun lalu bagaimana Lee Hyunwoo dan teman-temannya maju ke depan kelas lalu mengumumkan, “Setiap orang dari tim yang mendapatkan poin tertinggi di festival ini berhak meminta apa pun-yang masuk akal-pada yang kalah.” Dan tentu saja pria-pria yang ingin dilihat keren itu langsung setuju tanpa memperdulikan gadis-gadis cantik di kelas mereka.

Hyunwoo duduk bersila di lantai kayu rumahnya sambil mengetuk-ketukkan dua anak panah hingga berdenting. Pikirannya menerawang ke satu tahun yang lalu dimana ia dan teman-temannya membuat aturan yang ternyata berbalik pada mereka sendiri. Pada akhirnya Myungsoo berkali-kali menyalahkan Hyunwoo karena Myungsoo-Sang Putera Mahkota-harus menerima sebuah perintah dari seorang temannya yang satu tim dengan Wonho menang.

Kalian tahu apa tantangan yang diberikan pada Myungsoo?

Berfoto selfie dengan gaya yang begitu menggemaskan ditemani bunny ear berwarna pink.

Benar-benar sebuah kejadian langka.

Di rumahnya, Irene terlihat mencabut beberapa anak panah yang tertancap di dekat titik tengah papan target dengan wajah datarnya dan tangan kirinya menggenggam busur yang cukup besar. Tubuhnya terbalut kimono khusus untuk memanah lengkap dengan pelindung dada, siku kiri, dan lengan kanannya. Rambut hitam bergelombangnya dikuncir kuda dan paras cantiknya yang terpoles make up tipis. Di tengah semilir angin yang berhembus, Irene, tersenyum tepat ketika tangannya mencabut panah terakhir.

Di kediamannya, Tuan Shin menopang dagunya dengan bosan melihat putra tunggalnya yang sedang membaca buku yang cukup tebal di depannya. Entah yang ke berapa kali ia menghembuskan napasnya dengan sebal. “Bermurah hatilah sedikit, Wonho-ya,” bujuknya entah yang ke berapa kali pula.

Dengan jawaban yang sama, Wonho menggeleng. “Tidak,” katanya tanpa menatap Tuan Shin.

Sebelah alis Tuan Shin berkedut karena sebal dengan jawaban putranya. “Kau dulu mengagumi Midford, bukan?”

Akhirnya Shin Wonho menatap ayahnya tanpa ekspresi. “Aku hanya mengagumi seseorang yang pantas kukagumi.” Ia menutup bukunya lalu beranjak dari sofa.

“Kau anakku. Kau tahu kalau tugas kita adalah melayani keluarga Midford dengan memberikan semua informasi penting dan rahasia yang mereka inginkan?” geram Tuan Shin lantas membuat Wonho menghentikan langkahnya.

Tanpa membalikkan badan, Wonho berkata, “Aku anakmu.” Suaranya memecah keheningan yang mereka ciptakan di antara suara perapian yang membakar dan percikan kayu. “Sama denganmu, aku akan memastikan kalau Midford yang sekarang benar-benar pantas mendapat pelayanan dari keluarga kita,” lanjutnya lalu kembali melangkah pergi.

Tuan Shin mengangkat kepala dari topangan tangannya lalu menyisir rambut cepaknya ke belakang dengan jemarinya. Ia tersenyum. “Kau memang anakku.”

Myungsoo termenung di dalam kamarnya yang gelap karena sumber cahaya hanya berasal dari korden jendelanya yang terbuka menyisakan sehelai kain trasparan yang tidak bisa menahan sinar bulan. Masih jam tujuh malam, tapi keadaan kamar Myungsoo membuat beberapa orang berspekulasi bahwa sekarang sudah tengah malam.

Pria itu tidak terlalu memikirkan festival sekolahnya yang akan berlangsung besok pagi, sebagian pikirannya masih terbayang gadis itu, Jiyeon, seorang keturunan Midford. Sempat ia berniat menanyakan hal itu pada Ayah atau Ibunya, tapi bagaimana caranya bertanya?

Hei, Ayah! Kau tahu siapa Midford? –tidak mingkin.

Katakan padaku siapa Midford itu! –salah.

Seumur hidup Myungsoo, ia tidak pernah tertarik olah bangsawan-bangsawan yang berusaha memperkenalkan putri mereka padanya. Myungsoo membenci hal itu.

Selama ini hidupnya kebanyakan ia habiskan di istana dan harus diawasi oleh beberapa pengawal kalau ia pergi-sebelum ada Woohyun-keluar. Sejak umur sebelas tahun ia tidak pernah dibiarkan kemana pun sendirian tanpa pengawasan bahkan di istana sekali pun. Myungsoo baru pergi ke sekolah saat SMA setelah sembilah tahun ia menjalani home schooling. Teman terdekatnya hanyalah Lee Hyunwoo yang sesekali-jarang-membuatnya tertawa dan enjoy menjalani kehidupannya sebagai seorang penerus tahta kerajaan. Walaupun ia mendapatkan beberapa teman karena statusnya, Myungsoo berusaha menghargai hal itu. Mau bagaimana lagi?

TOK

TOK

“Makan malam sudah siap, Yang Mulia Putera Mahkota.”

Suara Woohyun menyadarkan Myungsoo dari lamunannya. Ia mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang lalu memakai sendal rumah yang biasa di pakainya.

“Aku segera datang,” katanya lalu pergi.

Jiyeon mencoba menggerakkan telapak tangannya setelah jahitan di telapak tangannya sudah dilepas oleh seorang dokter di Seoul Hospital. Terlihat garis memanjang yang membekas di telapak tangan kanannya dan sedikit terasa berdenyut membuat Jiyeon tidak nyaman. Tetapi, dasar Jiyeon yang memang tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, ia hanya mengatakan terima kasih setelah menolak tawaran dokter itu untuk melakukan operasi kecil untuk menghilangkan bekasnya.

Dokter itu juga memperingati Jiyeon agar tidak menggerakkan tangannya dengan paksa kalau masih terasa sakit, tidak boleh terkena lotion atau hal-hal yang bisa membuat bekas lukanya iritasi.

“Terima kasih atas bantuannya, Dokter,” kata Jiyeon, bangkit dari duduknya lalu berjabatan dan dibalas dokter itu dengan sama-sama. Jiyeon segera pergi dari ruangan itu bersama Yunho yang mengekor di belakangnya melewati koridor rumah sakit.

Beberapa pasien dan pengunjung lain mencuri pandang ke arah Jiyeon yang berjalan dengan pandangan lurus ke depan dan terkesan begitu dingin. Mereka menatap gadis bermantel coklat yang menjulang sampai lutut, seolah ada sebuah aura yang membuat mereka tidak bisa berpaling dari gadis itu. Beberapa dari mereka merasa telapak tangan mereka berkeringat dingin. Tidak ada yang mengenal gadis itu, tapi entah mengapa, mereka merasa kagum sekaligus… ketakutan.

.

07.20 AM-School

Jiyeon duduk di kursinya dan mendengarkan penjelasan tentang aturan pertandingan oleh Lee Hyeri. Lee Hyeri menjelaskan bahwa setiap tim terdiri dari empat anggota, tetapi karena ada dua murid baru, dua tim yang lain harus ada yang memperoleh lima anggota. Dan yang lebih mengejutkan lagi, setiap tim ditentukan sendiri oleh Lee Hyeri.

“Tim A, terdiri dari lima anggota,” seru Lee Hyeri di depan kelas. “Yang Mulia Putera Mahkota- Kim Myungsoo,”

Mendengar namanya dipanggil, Myungsoo mendongakkan kepalanya dan berharap-harap cemas siapa anggota satu timnya.

“Shin Wonho, Ryu Hwayoung, Song Ahsung, dan Irene.”

Sementara Myungsoo bersorak senang dalam hatinya, Hyunwoo melotot dengan mulut menganga tidak percaya dengan pembagian kelompok oleh Hyeri. Dari bangkunya, Jiyeon menatap ke arah Myungsoo, Wonho, dan Irene secara bergantian lalu menghembuskan napas yang tidak sadar telah ditahannya.

Mata Jiyeon bertemu dengan Irene yang memberikan smirk padanya, begitu meremehkan. “Sial!” umpat Jiyeon begitu pelan lalu tanpa sengaja menatap Myungsoo yang juga menatapnya dengan diam. Jiyeon memutus kontak matanya secara sepihak lalu beralih menatap tangannya yang terbalut perban.

Memang Jiyeon memutuskan untuk meminta Hyomin agar membebat lukanya untuk sementara waktu agar tangannya tidak banyak bergerak dan tidak terkena debu. Tapi Jiyeon sadar kalau nyeri yang masih terasa tidak akan sepenuhnya hilang dalam tiga- maksudnya dua hari.

Lee Hyeri menyebutkan anggota Tim B yang terdiri dari lima orang dan Jiyeon tidak termasuk di dalamnya. Tim C pun juga begitu, tidak ada Jiyeon. Akhirnya Jiyeon mendengar namanya di sebut dalam Tim D yang terdiri dari : Lee Hyunwoo, Jeon Jungkook, Lee Jieun dan yang terakhir adalah Jiyeon.

“Jadi,” Hyunwoo mulai membuka suaranya setelah kelompok mereka berkumpul. “Tim yang mendapatkan poin ter-rendah di pertandingan pertama akan dinyatakan kalah.”

Jieun mengangguk. “Aku tidak menyangka kalau peraturannya akan berubah.”

“Aku rasa kita tidak punya kesempatan untuk menang,” sahut Jungkook lemas.

Jiyeon menatap ketiga teman sekelasnya sambil berusaha menghilangkan ekspresi datarnya. Ia tersenyum kecil. “Kita hanya harus fokus pada pertandingan di hari pertama. Kita harus memastikan untuk lolos di babak pertama,” ucapnya.

Myungsoo’s POV

Apakah harus kuakui kalau tiga hari kedepan aku mendapatkan jackpot? Satu tim dengan Shin Wonho sama saja menentukan kemenangan sudah di depan mata kami. Tapi aku juga bisa menandinginya kok, sungguh. Hanya saja Hwayoung dan Ahsung- entahlah, kami tidak begitu yakin dengan kemampuan mereka. Bagaimana dengan Irene? Kurasa dia tipikal orang yang berpengetahuan luas.

Sekarang kami sudah saling berhadapan di aula sekolah setelah murid tahun pertama dan kedua selesai bertanding. Sekarang kursi penonton penuh dengan murid tahun pertama dan kedua yang sedang heboh-hebohnya menyemangatiku. Bukannya sombong, tapi siapa yang tidak tergila-gila pada Pangeran tampan sepertiku?

Kualihkan tatapanku pada Jiyeon yang sedang duduk di kursi paling ujung bersama teman satu timnya sedangkan aku berada di ujung yang berlawanan. Dapat kulihat ia yang tidak benar-benar mendengarkan diskusi teman-temannya. Ia terlihat mengetuk-ketukkan telunjuk kirinya di meja dan terlihat berpikir. Sesekali Jiyeon menggigit bibir bawahnya lalu mengangguk setelah anggota timnya meminta pendapatnya.

Tiba-tiba kulihat Wonho yang duduk di sampingku, dengan mata tajam menatap Jiyeon yang tidak sadar dengan tatapan Wonho. Beberapa detik kemudian Wonho kembali menatap ke depan tanpa minat dengan wajah dinginnya. Apa dia mengenal Jiyeon?

Author POV

Beberapa menit kemudian acara pun dimulai dan satu per satu pertanyaan diberikan pada mereka agar mereka berebut untuk menjawabnya. Pertanyaan yang diberikan tidak lain seputaran tentang sejarah Korea, Matematika, Sosial, dan seputaran Dunia.

Awalnya Tim Myungsoo beberapa kali berhasil menjawab dengan cepat pertanyaan yang diberikan. Tapi Tim Jiyeon dan yang lain benar-benar tidak mau kalah setelah Jiyeon memaksa teman-temannya agar memencet tombol walaupun mereka tidak tahu jawabannya dan Jiyeon meyakinkan mereka kalau ia akan menjawab pertanyaannya. Alhasil Tim D yang sempat ketinggalan dengan tim lain berhasil menempati posisi ke dua setelah Tim A sedangkan Tim B harus gugur.

“Jadi, perwakilan Tim A dipersilahkan untuk mengambil kertas yang sudah diacak untuk menentukan pertandingan berikutnya!” seru sang pembawa acara.

Myungsoo maju lalu memasukkan tangannya ke dalam wadah kaca untuk mengambil sebuah gulungan kertas. Setelah mengambil secara acak, Myungsoo menyerahkannya pada pembawa acara dan dibacakan isi kertas itu dengan keras.

“Yang akan dipertandingkan pada hari kedua adalah,”

“Estafet.”

Mendengar hal itu, Jiyeon menatap anggota Timnya yang tiba-tiba memekik senang. “Apa ada hal yang menguntungkan?”

Jieun dan Hyunwoo mengangguk lalu menunjuk Jungkook. Jiyeon beralih menatap Jungkook minta penjelasan.

“Biarkan aku jadi pelari terakhir. Lari cepat adalah bidangku,” jelasnya.

Jiyeon menyeringai lalu dengan cepat merubahnya menjadi senyuman. “Kalau begitu di babak kedua kita pasti akan berhasil.”

-To Be Continue-

Fiuh~ *lap keringat.

Bener-bener ngebut ngerjainnya karena Author baru bisa ngetik malem-malem kalo enggak ya subuh. Kenapa? Emang dasarnya Authornya aja yang aneh gara-gara ide Cuma nongol pas lagi ngantuk doang ditambah beberapa hari sebelum deadline malah dapet ide buat beberapa Chapter kedepan. Huft~ yang penting udah ada lanjutannya oke? Jangan protes kalo FFnya tambah geje.

My fav. Scene itu Jiyeon sama Sehun. Enak banget Jiyeon di sekitarmu orang ganteng semua. Trus perbincangan Wonho sama Ayahnya juga bagian fav. Aq. Feelnya gimana~ gitu…

See ya! guys!

Note: ga usah sedih sama beritanya Jiyeon, mereka belom nikah koq. Sellama janur kuning belum melengkung, MyungYeon never die! BANZAI!!!

21 responses to “[CHAPTER-PART 5] EIRENE

  1. Wah tambaaaah seru ini ceritaa :”
    Sehun sama jiyeon ada hub. Apaaa yah….
    terus itu jiyeon ketemu bpak bpak semua mau ada rencana apaa yahh :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s