[CHAPTER-PART 4] EIRENE

EIRENE

EIRENE-4

||Author : Lyzee7||

||Main Cast : Kim Myungsoo|Park Jiyeon|Irene|Ryu Hwayoung||

||Genre : Family|Romance|Complicated|Royal|Little Action||

||Rating : PG-17||

 EIRENE CAST

Yunho dengan cepat meninju Myungsoo tepat di pipi hingga jatuh tersungkur. Melihat hal itu Woohyun segera mengambil pistol yang ada di balik jasnya dan mengarahkannya pada Yunho yang langsung ditepis Yunho hingga pistol itu terpental jauh lalu menendang Woohyun hingga menabrak pintu dengan keras. Ia menyentakkan tangan kanannya hingga sebilah pisau berada di genggamannya lalu berjalan perlahan mendekati Myungsoo yang berusaha berdiri. Dengan satu gerakan, ia mendorong tangan kanannya ke arah Myungsoo

“YANG MULIA!”

JLEB

Eirene part 4

Darah segar mengenai wajah Myungsoo yang terlihat shock. Bukan, itu bukan darahnya. Melainkan darah dari seseorang yang menahan gerakan pisau itu menggunakan telapak tangannya. Ujung mata pisau terhenti tepat beberapa senti dari wajah Myungsoo dengan tangan seseorang yang mengalirkan darah segar hingga menetes di lantai marmer kamarnya.

Jiyeon. Gadis itu menggunakan tangan kanannya untuk mencegah pisau itu mencabut nyawanya. Gadis itu berdiri dengan kesadaran yang timbul tenggelam dan napas terengah karena asma yang masih dirasakannya.

“No-nona…” Yunho membelalakkan matanya melihat Jiyeon yang berdiri di depannya dengan tangan berlumuran darah. Seketika pegangan tangannya melonggar membuat Jiyeon dengan mudah menarik pisaunya lalu membuangnya ke lantai hingga terdengar suara dentingan yang cukup keras.

“Aku tidak pernah mengajarkanmu hal ini, Jung Yunho,” Jiyeon berucap dengan nada rendah dan tatapan tajam pada Yunho. “Cepat minta maaf pada Putera Mahkota!”

“Ta-tapi nona, dia telah-”

PLAK

Jiyeon menampar pipi Yunho dengan tangan kanannya sehingga membuat pipi Yunho terkena darah yang keluar dari tangan Jiyeon. Tamparannya tidak begitu keras, mengingat telapak tangannya yang terluka. Luka yang parah, tentu saja. Luka sayatan yang cukup dalam di sepanjang telapak tangan kanannya.

“Dengarkan perintahku, Jung Yunho!” pekik Jiyeon. Udara di paru-parunya seolah habis setelah mengatakannya. Jiyeon berbalik menghadap ke arah Myungsoo, menjatuhkan dirinya di lantai. Ia berlutut, meletakkan tangan kanannya di dada, menunduk dalam. “Saya bersalah karena-hhh… tidak bisa mengajari pelayan saya dengan baik, Yang Mulia. Hhh… saya tahu… orang yang telah mengancam… hh… nyawa anda… tidak akan bisa…” Jiyeon berhenti sambil berusaha mendapat udaranya kembali.

“… dimaafkan…” lanjut Jiyeon.

Sungguh Myungsoo tidak bisa mencerna kata-kata yang terlontar dari bibir gadis itu yang sudah sangat pucat. Lalu matanya tertuju pada tangan gadis itu yang terus mengeluarkan darah. Gadis itu benar-benar bisa mati kalau aku membiarkannya. Raung Myungsoo dalam hati. Tapi nyatanya tubuhnya tidak sejalan dengan pikirannya.

Tiba-tiba Jung Yunho berlutut tepat seperti Jiyeon lalu dengan tegas ia berkata, “Saya bersalah karena telah berusaha menyakiti anda, Yang Mulia Putera Mahkota.” Darah Jiyeon yang ada di pipinya meluncur jatuh ke kemeja putihnya ketika rahangnya bergerak setiap kali ia berbicara.

Myungsoo bangkit lalu menyisir rambutnya dengan ruas jarinya ke belakang. “Berdiri,” kata Myungsoo pada Jiyeon dan Yunho. Kedua orang yang berlutut itu mengikuti perintah Myungsoo. Tanpa melepas tatapannya pada Jiyeon, Myungsoo berkata pada Woohyun, “Panggil dokter Bae!”

Tanpa bertanya, Woohyun melaksanakan perintahnya.

“Kalau begitu, kami permisi,” pamit Jiyeon pada Myungsoo lalu membungkuk hormat sekilas.

Myungsoo menahan lengan kanan Jiyeon ringan agar gadis itu tidak kesakitan.“Dokter Bae akan merawat lukamu.” Myungsoo menuntun Jiyeon untuk duduk di kasurnya. Mengambil sapu tangannya lalu menutup luka Jiyeon. “Kau bisa mati kalau kehabisan banyak darah.”

“Hmm.” Jiyeon terlalu lemas untuk menyahut. Tapi ia bisa mendengar dan mengerti apa yang dikatakan Myungsoo. Ia melirik Yunho yang masih terdiam, dengan isyarat tangan ia meminta Yunho mendekat ke arahnya. “Aku membuatmu khawatair, ya? Maafkan aku.” Ia berbisik lalu mendekatkan tangan kirinya ke pipi Yunho lalu mengusap darah itu menggunakan punggung tangannya. “Aku ingin tahu bagaimana reaksi mereka bertiga setelah melihat keadaanku seperti ini.”

“Mereka akan menangis meraung-raung di lantai, saya rasa,” sahut Yunho lalu menangkap tangan kiri Jiyeon, menggenggamnya. “Dan langsung membunuh saya di tempat.”

“Benarkah?” Jiyeon menerawangkan pikirannya. “Kau tidak b­oleh mati. Kalau kau mati, aku akan membencimu seumur hidupku,” kata Jiyeon sedikit terdengar bergurau. Tapi Yunho tahu kalau Jiyeon serius dengan apa yang dikatakannya.

“Saya mengerti,” balas Yunho sopan.

Party

Oh Sehun. Lelaki tampan itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat pesta sambil sesekali menyesap minumannya. Ia mengerutkan keningnya, berpikir. Bagaimana caranya menemukan orang yang sedang dicarinya.

PAK

Ditepuk keningnya lalu menghampiri tiga orang pria paruh baya yang sedang berbincang-bincang.

“Ayah! Aku ingin bicara sebentar,” panggil Sehun pada salah seorang pria yang terlihat paling muda di antara mereka.

Pria itu –Oh Jikyeong- bangsawan yang berbisnis di bidang perhotelan menghampiri anaknya setelah berpamitan pada rekan-rekan bisnisnya. “Ada apa?” tanyanya tanpa basa-basi. Pria itu memiliki tinggi yang sama dengan Sehun dan garis rahang yang sama.

Sehun sedikit ragu menanyakannya. “Apa benar… dia- gadis itu sudah kembali?” ia menghembuskan napas lega setelah pertanyaan itu sudah terlontar.

Jikyeong mengangguk. “Kau pasti menyesal karena tidak melihat kedatangannya hingga membuat bangsawan lain akan terkena serangan jantung mendadak. Hahaha!” pria itu tertawa lebar walaupun tidak begitu keras.

“Lalu, dimana dia sekarang?”

Mengangkat bahunya, Jikyeong mengatakan kalau ia tidak tahu karena setelah acara makan malam selesai gadis itu sudah menghilang dari pandangannya. Lalu ia teringat sesuatu. “Kalau tidak salah, tadi pengawal Pangeran dan pelayannya pergi ke taman labirin dengan panik. Kesana,” jelasnya menunjuk pintu yang terbuka lebar.

Setelah mengucapkan terima kasih dan menyerahkan gelas kosong ke tangan ayahnya, Sehun segera pergi ke tempat yang ditunjukkan ayahnya. Jikyeong menatap Sehun dengan perasaan dongkol lalu mendengus kesal.

Baru menginjakkan kaki di luar, Sehun menangkap seorang gadis yang berada di gendongan pria dengan kemeja putih. Tak jauh di depannya, Putera Mahkota berjalan sedikit cepat bersama pengawalnya.

Haruskah ia mengikutinya?

Per**tan! Ia tidak akan kehilangan kesempatan untuk bertemu dengannya.

Dengan langkah lebar, Sehun berusaha mengejar orang-orang yang sudah cukup jauh di depannya tanpa menimbulkan suara. Sampai keempat orang itu masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu rapat-rapat.

Sehun mendesah kesal lalu menempelkan daun telinganya ke pintu, berharap bisa mendengar pembicaraan. Walaupun ruangan di depannya kedap suara. Beberapa menit berlalu, Sehun tidak mendengar apa pun sampai suara debuman keras membuatnya terpental ke belakang. Jangan-jangan dia sudah ketahuan! Mau tidak mau ia harus pergi dari tempat ini dan kembali ke pesta. Biarlah, ia pasti masih bisa bertemu gadis itu lain waktu. Karena secara tidak langsung gadis itu sudah mengumumkan dirinya ke seluruh penjuru negeri bahwa ia sudah kembali.

Myungsoo’s Room

Setelah dokter Bae tiba, Woohyun meminta izin kepada Myungsoo untuk mengajak Yunho bicara di luar. Awalnya Yunho menolak kerena ia harus menemani Jiyeon. Tapi Jiyeon mengatakan kalau ia akan baik-baik saja dan menyuruh Yunho untuk bicara dengan Woohyun.

Woohyun menutup pintu kamar Myungsoo lalu menatap Yunho yang ada di belakangnya lewat bahunya. Ia bersedekap menatap Yunho sambil menyusun kata-kata di dalam benaknya agar Yunho mau menjawab semua pertanyaannya.

“Sudah lama tidak bertemu sejak kejadian enam tahun yang lalu.” Woohyun mengawali pembicaraan mereka. “Kenapa kau bisa bekerja pada keluarga… Midford?”

Yunho terkekeh mendengar pertanyaan Woohyun. “Apakah itu sangat penting untuk anda?”

“Jangan berbicara formal seolah kita tidak pernah saling mengenal, Jung Yunho!” geram Woohyun.

Yunho mengangguk lalu raut wajahnya berubah serius. “Nona memberi perintah padaku untuk berbicara dengan sopan kalau ada seseorang yang posisinya lebih tinggi dariku. Tapi, baiklah kalau itu maumu.”

“Kau terlihat patuh sekali padanya, padahal dulu kau jarang mendengarkan perintah direktur.” Woohyun menyeringai saat mengatakannya. “Dan, kenapa kau bisa bekerja padanya?” ia tidak akan menyerah sampai mendapatkan jawaban yang diinginkannya.

“Setelah beberapa bulan dihentikan dari pekerjaanku, aku bertemu dengannya,” Yunho mulai bercerita. “Aku yang tidak mempunyai tempat tinggal, bertemu dengannya lalu dia memintaku bekerja padanya.”

“Berapa banyak uang yang kau dapatkan darinya?” tanya Woohyun sekali lagi.

Yunho tersenyum kecil lantas mengangkat sebelah alisnya tanpa berniat menjawab.

“Ah, aku tahu!” seru Woohyun dengan ekspresi yang dibuat seolah-olah dia senang karena telah mengetahui sesuatu. “Keluarganya pasti mengancam nyawamu kalau kau tidak mendengarkan perintahnya, benar bukan?”

Rahang Yunho mengeras karena Woohyun telah memancing emosinya. “Ya ampun. Kalau bukan karena nona, nyawamu dan nyawa tuanmu pasti sudah kukirim ke alam sana.” Yunho mendesis dengan mata terpejam dengan urat-urat pelipisnya semakin menonjol ketika rahangnya semakin mengeras.

“Lagi-lagi kau-!”

“Kalian tidak mengenalnya, itulah kesalahan kalian,” sela Yunho lalu membuka matanya menatap Woohyun. “Kami baru datang di dalam wilayah kerajaan kemarin dan kalian sudah menganggap kami orang yang berbahaya. Kalian beruntung bisa hidup tanpa khawatir kehilangan nyawa kalian sewaktu-waktu karena status sosial kalian. Terutama tuanmu, sang Putera Mahkota.”

“Kau salah!” bentak Woohyun. Ia melanjutkan dengan suara yang lebih rendah, “Karena status sosialnya, Putera Mahkota-lah yang dalam bahaya sewaktu-waktu.”

Yunho menyeringai dan memandang Woohyun remeh. “Hidup ini seperti permainan catur. Dalam catur, Putera Mahkota sama dengan Raja. Musuh tidak akan langsung menyerang raja karena ada pion yang melindunginya, kau pasti tahu itu.”

Woohyun hanya diam menunggu kata-kata yang selanjutnya yang akan dilontarkan Yunho.

“Dengan adanya pion-pion itu, musuh tidak akan berani mendekati Raja dan akan memilih pion terkuat untuk dikalahkan terlebih dahulu. Baru setelah itu Skakmat! Dan permainan berakhir,” lanjut Yunho lalu beranjak untuk kembali masuk melihat keadaan Jiyeon.

Tatapan Woohyun berubah ragu. “Aku- aku tidak mengerti.”

Yunho berhenti, menghela napas lalu menatap Woohyun sekali lagi. “Bagi beberapa bangsawan, keluarga Midford adalah ancaman serius bagi mereka. Oleh karena itu, para bangsawan yang merasa terancam dengan kehadiran kembali keturunan Midford akan berusaha melenyapkannya,” ia berhenti sejenak mengamati ekspresi Woohyun. “Tidak lama setelah Raja mengenalkan siapa nona sebenarnya… Manor keluarga Midford diserang.”

Woohyun mengerjapkan matanya dengan dahi berkerut. “A- Apa?” gumamnya. “Lalu, kenapa dia menunjukkan jati dirinya kalau ia tahu akan seperti ini?” tanya Woohyun.

“Bagi nona, dengan menjadikan dirinya umpan itu lebih efektif dan bisa menemukan musuh-musuhnya dengan mudah,” balas Yunho enteng. “Aku pergi.” Yunho mengetuk pintu kamar Myungsoo lalu masuk.

Woohyun mengacak rambutnya dengan frustasi lalu mengikuti Yunho.

Myungsoo’s Room

Myungsoo memperhatikan ekspresi wajah Jiyeon yang sesekali meringis kesakitan karena dokter Bae sedang membersihkan darah gadis itu dengan alkohol. Pada awalnya, dokter Bae bertanya-tanya mengapa mereka bisa terluka apa lagi telapak tangan kanan Jiyeon yang mempunyai goresan cukup dalam sehingga dokter Bae harus menjahitnya. Myungsoo meluncurkan alasan jitu yang terlintas di kepalanya bahwa ada sedikit kecelakaan yang mereka alami. Dan Myungsoo sudah mengancam dokter Bae agar tidak menceritakan hal ini pada siapa pun terutama kedua orang tuanya.

Myungsoo menekan kompres dingin di sekitar pipinya lalu meringis pelan. Matanya berair karena pukulan yang dilayangkan Yunho benar-benar keras. Tidak diragukan lagi bagi mantan petinggi jendral sepertinya.

Dari tempatnya duduk, Myungsoo bisa mengamati Jiyeon yang sedang berbaring di ranjangnya dengan masker oksigen yang ia pakai. Kata dokter Bae, itu bisa menormalkan pernapasan penderita asma walaupun tidak bisa menyembuhkannya. Dokter Bae juga mengusulkan untuk menggunakan inhealer yang bisa digunakan apabila sewaktu-waktu asmanya kambuh.

TOK

TOK

Pintu terbuka menampilkan Yunho lalu tidak lama kemudian Woohyun ikut masuk. Yunho berjalan mendekati Jiyeon dengan khawatir lalu menanyakan keadaannya pada dokter Bae. Dokter Bae mengatakan kalau setelah ini Jiyeon harus memeriksakan asmanya ke rumah sakit dan berkonsultasi pada dokter agar penanganannya tepat. Ia juga mengatakan pada Yunho untuk menggunakan inhealer seperti yang dijelaskan pada Myungsoo.

Setelah membalut tangan Jiyeon dengan perban, dokter Bae segera berpamitan pada Myungsoo. Sekali lagi Myungsoo mengingatkan agar dokter Bae tidak memberitahukan siapa pun tentang kejadian ini lalu mempersilahkannya pergi.

“Ehem. Jadi, kita akan kembali ke pesta dengan keadaan kita yang seperti ini?” Myungsoo berusaha menghilangkan ketegangan yang melanda mereka.

Jiyeon mendudukkan tubuhnya lalu turun dari ranjang Myungsoo dan disambut oleh Yunho dengan memegang lengan Jiyeon. “Masih ada beberapa jam sampai acara berakhir. Kita harus segera kembali ke pesta,” putus Jiyeon. Wajahnya sudah tidak se-pucat sebelum ia di tangani dokter Bae.

Myungsoo agak meragukan keputusan Jiyeon karena keadaan gadis itu yang baru pulih. Tetapi tak lama kemudian Myungsoo menyetujui Jiyeon dengan menganggukkan kepalanya lalu segera keluar dari kamarnya. Sedikit mengendap, mereka berjalan ke tempat pesta di adakan.

Morning at Myungsoo’s Room

Setelah membuka matanya, ingatan Myungsoo kembali memutar setiap kejadian yang ia alami bersama Jiyeon. Bagaimana raut wajah tersiksa gadis itu ketika Jiyeon terserang asma, bagaimana ia sangat panik dan meminta Yunho membawa Jiyeon ke kamarnya, betapa bodoh keputusannya ketika ia tersulut kemarahan dan berpikir untuk membunuh Jiyeon, sampai darah Jiyeon yang menyiprat ke wajahnya ketika gadis itu menyelamatkan nyawanya terbayang kembali seperti sebuah film.

Myungsoo memejamkan matanya menolak memandangi langit-langit kamarnya yang masih remang-remang karena lampu kamarnya yang terbiasa ia matikan sewaktu tidur dan ini belum waktunya pelayan membangunkannya karena masih cukup pagi.

KRING

Dering ponsel menyentakkan lamunan Myungsoo, membuatnya membuka mata kembali lalu meraik ponsel yang bergetar di nakas. Setelah melihat nama Lee Hyunwoo, Myungsoo menggeser icon berwarna hijau lalu menempelkan di telinga kanannya. “Kenapa sih? Ini masih pagi tahu!” erang Myungsoo kesal tanpa merubah posisi tidur terlentangnya.

“Hey, Yang Mulia! Kau lupa kalau kita hari ini akan berlatih untuk festival sekolah nanti?” nada suara Hyunwoo terdengar begitu kesal. “Ayolah! Aku tidak mau kita kalah seperti tahun lalu!”

Dengan satu sentakan, Myungsoo terduduk lalu menepuk keningnya. “Te- tentu saja aku ingat,” elak Myungsoo. Ia lalu turun dari ranjangnya lalu berjalan dengan cepat menuju kamar mandi. “Kalau begitu aku akan bersiap-siap. Bye!”

Jiyeon’s Manor

Hyomin menyuapi Jiyeon dengan sabar mengingat tangan kanan gadis itu tidak boleh terlalu banyak digerakkan. Ia khawatir dengan keadaan Jiyeon yang tidak begitu sehat sedang memaksa untuk tetap pergi bekerja ke suatu tempat. Walaupun ada Yunho, juga Jiyeon sudah meyakinkannya kalau ia tidak akan terlalu lelah dan akan selalu mengenakan baju hangat kemana pun, tetap saja Hyomin keberatan dengan keputusan majikannya.

Masih teringat bagaimana keadaan Jiyeon kemarin malam ketika Yunho membawanya pulang. Wajah pucat dan tangan yang terbebat perban, membuat Akira, Evelyn, dan Jack tidak berhenti merengek seperti anak kecil. Sangat bertolak belakang dengan kenyataan bahwa mereka adalah pembunuh berdarah dingin. Hanya di hadapan Jiyeon tiga orang itu berubah menjadi ramah, ceria, konyol, dan manja sekaligus, hanya Jiyeon. Selepas itu kalau ada segerombolan orang yang menyerang Manor Midford atau mengancam Jiyeon, mereka tidak akan segan untuk memutuskan kepala orang-orang itu dari tubuhnya agar Jiyeon aman.

Jiyeon menatap satu persatu pelayannya yang berdiri di samping meja makan. Raut wajah mereka terlihat sedih karena masih memikirkan keadaan Jiyeon yang masih belum membaik. Entah kenapa tidak melihat mereka yang ceria seperti biasanya ada sedikit perasaan aneh yang mengganjal pikirannya. Suasana rumah juga terasa sepi dan abu-abu, tidak ada tawa dan kekacauan yang mereka lakukan seperti biasanya.

Menghela napas, Jiyeon meminta Akira, Evelyn, dan Jack mendekat dengan tangan kirinya dan mereka menurut. Jiyeon menarik kerah baju yang dipakai Akira membuat laki-laki itu membungkuk lalu Jiyeon menarik pipi kanan Akira dengan tangan kirinya yang tidak terluka.

“Eh?”

Semua yang ada di ruang makan memekik kaget dengan tindakan Jiyeon yang tiba-tiba.

“A- Aduh! Sakit, nona,” pekik Akira ketika Jiyeon semakin menarik pipinya ke atas.

“Kenapa kalian murung begitu? Bukankah kalian ingin membuatku senang? Ayo tersenyum! Tertawa! Aku tidak suka kalau wajah kalian jelek seperti ini!” semprot Jiyeon.

“Sa- saya mengerti, nona.” Akira buru-buru tersenyum diikuti Jack dan Evelyn yang ikut menunjukkan gigi mereka.

Jiyeon menggeleng, menyuruh Evelyn mendekat lalu melakukan hal yang sama. “Aku baik-baik saja. Jadi lebih baik kalian melaksanakan tugas kalian dengan riang gembira!”

“Ba- baik!”

Kini giliran Jack. “Kalau kalian melakukannya lagi, akan kupastikan tidak akan mengajak kalian ke mall setelah aku pulang dari pekerjaanku besok,” ancam Jiyeon lalu melepaskan cubitannya.

“A- apa? Kita akan ke mall?” tanya mereka bertiga.

Jiyeon mengangguk lalu meminum segelas susu yang sudah disiapkan di depannya. “Ya,” jawab Jiyeon. “Aku akan mengosongkan jadwal setelah pekerjaanku selesai,” lanjutnya. Setelah mengatakan hal itu, Jiyeon berdiri lalu mengajak Yunho untuk segera berangkat. “Oh ya.” Jiyeon berbalik. “Aku akan membawa Max kali ini,” lanjutnya.

“Semoga perjalanan anda menyenangkan, nona!” Seru Akira, Evelyn, dan Jack dengan wajah ceria.

Sambil berjalan ke pintu keluar, Jiyeon terlihat menyembunyikan senyum kecilnya di balik mantel bulu yang ia kenakan. Ia memanggil Max yang duduk menunggunya di depan pintu rumahnya.

.

Jiyeon duduk di kursi penumpang bersama Max di sebelahnya sedangkan Yunho menyetir di balik kemudi mobil mewahnya. Sebenarnya Jiyeon sedikit resah karena harus memakai baju dan mantel tebal untuk mencegah asmanya kambuh lagi. Bayangkan saja. Ia memakai sweater dan dirangkap mantel berkupluk bulu berwarna abu-abu, celana jins hitam dan memakai sepatu high heels boot abu-abu sampai menutupi lututnya.

Sambil mengelus Max yang bermanja-manja, Jiyeon melemparkan pandangannya ke luar jendela yang memperlihatkan butiran salju yang berjatuhan dari langit Seoul. Dari dalam mobilnya ia bisa melihat bagaimana atap kios-kios kecil tertutupi salju yang cukup tebal. Ada juga pedagang kaki lima yang sedang membersihkan tempat berdagangnya. Para pejalan kaki juga mengenakan payung agar tubuhnya tidak basah kuyup terkena salju yang sudah meleleh nantinya. Bagi Jiyeon itu kehidupan normal yang selama ini diinginkannya.

Sejak ia kecil, kedua orang tuanya selalu mengingatkannya agar tidak terlalu lelah saat bermain salju dan harus memakai pakaian berlapis-lapis. Alasannya mudah, yakni dikarenakan kondisi fisiknya yang lemah. Awalnya Jiyeon merasa baik-baik saja mengingat sudah beberapa tahun asmanya tidak kambuh. Jadi, ia kembali menentang suhu yang bisa membuat kondisinya menurun drastis akhir-akhir ini.

“Saya mendapatkan informasi baru dari sekolah anda, nona.” Suara Yunho membuat Jiyeon mengalihkan matanya lalu menatap Yunho melalui kaca mobil. “Hari pertama masuk sekolah akan ada festival tahunan yang diadakan setiap tiga hari setelah libur musim dingin.”

“Lalu, kenapa kau memberitahuku?” tanya Jiyeon heran. Tidak mungkin anak baru seperti dirinya harus ikut festival, bukan?

Yunho menjawab, “Pihak sekolah memberi tahu bahwa semua murid- tak terkecuali wajib mengikuti festival tersebut.” Yunho mengambi napas sejenak.

“Sebelum itu, saya akan menjelaskan peraturannya terlebih dahulu.” Yunho menjelaskan, “Dalam satu kelas, ada empat tim yang terdiri dari empat orang. Setelah itu, mereka akan diseleksi sehingga menjadi dua tim. Barulah pertandingan sebenarnya dimulai.”

“Setelah itu?”

Yunho menyinggungkan senyumnya. “Setelah itu akan ada tiga jenis pertandingan. Yaitu tentang pengetahuan dan wawasan, satu pertandingan yang ditentukan oleh seseorang yang mendapat poin terbanyak, dan memanah. Saya rasa anda tidak akan kesulitan dengan pertandingan awal.”

“Benar.” aku Jiyeon. “Permasalahannya hanya memanah, bukan?”

Yunho mengangguk. “Sekolah kerajaan adalah tempat para keturuan bangsawan untuk mempelajari apa yang dipelajari oleh para keturunan kerajaan. Maka dari itu, memanah dipertandingkan setiap tahunnya.”

Jiyeon berpikir sejenak. “Apa kau pikir memungkinkan kalau dalam empat hari aku bisa mempelajari dasarnya?”

“Saya rasa begitu,” jawab Yunho. Tetapi ia tersadar akan sesuatu, “Tapi tangan anda…”

“Aku baik-baik saja,” potong Jiyeon tidak mau dibantah. “Lanjutkan penjelasan tetang festivalnya!”

Pria paruh baya itu dengan sabar mengajari Hyunwoo cara memanah yang benar. Berbeda dengan Myungsoo yang beberapa kali mengenai titik tengah papan target yang beberapa meter di depannya, anak panah Hyunwoo lebih sering mengenai luar lingkaran dari pada di dalamnya.

Mereka sedang berada di arena khursus memanah yang didirikan oleh orang Jepang asli. Sebenarnya memanah merupakan hal yang biasa bagi anggota kerajaan karena setiap minggu ia memiliki jadwal untuk berlatih bersama pelatihnya. Ini permainan yang mudah menurut Myungsoo. Dengan pata tajamnya, ia bisa melihat targetnya dengan jelas lalu akan membidiknya dengan tepat sasaran.

DAK

Sekali lagi panah Myungsoo hampir mengenai tepat di titik tengah papan target. Kim Myungsoo memberikan busurnya pada Woohyun, menjatuhkan tubuhnya lalu bersila di atas lantai kayu tempat yang mirip seperti doujou itu. Menyikap lengan kimono khusus pemanah yang ia kenakan, Myungsoo mendesah setelah merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal karena harus bersikap tegap dan menarik benang busur yang membuat bahu dan sikunya kaku.

Kernyitan samar melintas di wajah tampan Myungoo, dan secepat itu pula kernyitan itu menghilang. Mata tajammnya terpejam dengan desahan kecil lolos dari bibirnya. Tidak berhasil! Latihan ini tidak bisa mengalihkan pikirannya dari gadis yang sudah terlanjur masuk di kehidupan damainya.

Damai.

Damai.

Damai.

Ada yang aneh dengan kata itu. Satu tahun belakangan ini ia merasa begitu damai, tentu saja sebelum kasus ia di mata-matai beberapa hari terakhir ini. Ia bersungguh-sungguh! Sebelum kasus ini, tidak ada kasus yang meresahkan keluarga kerajaan Korea Selatan sama sekali. Ayahnya yang dulu akan rapat setiap hari dengan menteri-menteri kerajaannya karena selalu ada kasus yang meresahkan ayahnya, satu tahun belakangan ini ayahnya hanya bersantai setelah menerima laporan sambil meminum teh bersama ibunya.

“Yeah! Aku berhasil!”

Seruan Hyunwoo menyentakkan Myungsoo dari lamunannya. Ia menatap Hyunwoo yang melompat-lompat tidak jelas sambil berteriak.

“Tujuh poin! Tujuh poin!”

Kim Myungsoo mengalihkan tatapannya dari Hyunwoo pada papan target lalu melihat satu-satunya anak panah yang berhasil mengenai sasaran setelah itu menatap Hyunwoo lagi. “Tujuh poin tidak akan bisa membuatmu mengalahkan Shin Wonho, Hyunwoo-ya,” kata Myungsoo lalu berdiri dan meminta busurnya pada Woohyun. Ia membidik ke papan targetnya, menahan napas ketika menarik busur lalu melepasnya dan…

DAK

Anak panah itu mengenai blue eye atau titik tengah papan targetnya. “Sepuluh poin. Kau baru bisa mengimbanginya,” kata Myungsoo dengan wajah datarnya. “Aku juga tidak yakin bisa mengalahkannya di bidang itu,” lanjut Myungsoo lalu menatap papan targetnya dan ‘hanya’ ada dua anak panah yang berhasil mengenai bue eye. “Aku tidak bisa selalu tepat sasaran,”

Lee Hyunwoo melotot ke arah Myungsoo. “Hey, Pangeran! Kalau kau bilang begitu, dengan kata lain kita tidak bisa mengalahkan timnya dan harus kalah lagi? Aku tidak mau!” serunya. “Oh!” ia tersadar sesuatu, “Bagaimana kalau kita merekrutnya dalam tim? Dengan begitu, kita tidak perlu takut kalah taruhan lagi!”

Myungsoo mengangkat alisnya tinggi-tinggi setelah mendengar usulan Hyunwoo. Sejujurnya ia juga pernah memikirkan hal itu, dan menurutnya itu bukan ide yang buruk. Dan ia akui kalau Shin Wonho merupakan murid dengan kemampuannya yang lengkap. Bisa- lebih tepatnya ahli memanah, mempunyai pengetahuan yang luas-sampai pernah ada yang menyebutnya perpustakaan berjalan. “Aku tidak keberatan, tapi…” ucapnya setelah sekian lama berpikir, “dia bukan tipikal orang yang mudah menyetujui ajakan orang lain.”

“Kita tiak akan tahu kalau kita tidak mencobanya,” kata Hyunwoo optimis. Hyunwoo menarik busurnya, membidik lalu menahan napas. Tetapi ia urungkan ketika tangannya mengendur sambil mendesah pelan. “Aku sudah tidak tahan! Tangan, bahu, dan punggungku pegal semua,” gerutunya dengan kesal lalu memberikan busur yang dipeganggnya pada pelatihnya dengan wajah cemberut. Ia merenggangkan tubuhnya sambil mengerang lalu memasang wajah memelas pada Kim Myungsoo.

Myungsoo mendecakkan lidah lalu memutar bola matanya. Ia menolehkan kepalanya ke arah Woohyun lalu memberikan busurnya lagi. “Kita akan makan siang… di Remsis, ruang VIP,” kata Myungsoo sambil lalu.

“Apa?”

Myungsoo melepaskan pelindung lengannya lalu menyerahkannya pada Woohyun. “Kau pikir enak makan di restoran sementara semua orang mengenalimu dengan sangat baik,” Myungsoo menekankan tiga kata terakhir dengan tegas. “Dan ada yang ingin aku pelajari,” lanjutnya.

Mendengar kata-kata yang tidak bisa dibantah, Hyunwoo hanya bisa mengangguk pasrah melihat temannya yang keras kepala. Menjadi teman seorang Putera Mahkota tidak selalu mujur, harus ia akui itu. Hyunwoo memang suka ketika menjadi populer, tapi ia tidak suka menjadi terlalu- sangat -populer.

Sudah sekitar dua puluh menit yang lalu mobil yang ditumpangi Jiyeon berhenti tak jauh dari pelabuhan kota. Pelabuhan itu tampak ramai oleh pekerja pengangkat barang yang mengeluarkan kotak kayu dari kabin kapal.

“Max,” panggil Jiyeon lalu membuka pintu penumpang. “Aku mengandalkanmu.”

GUK

Setelah itu Max keluar dari mobil berlari mendekati kotak kayu yang disusun di dekat truk. Lalu mendekati dua orang pekerja yang mengangkat sebuah kotak, bergelayut di kaki mereka hingga tubuh mereka terhuyung.

“Hey, anjing sialan! Pergi sana! Hush… hush…” kata pria itu sambil berusaha menjauhkan Max dengan salah satu kakinya.

GREB

Max menggigit pergelangan kaki pria itu hingga kotak kayu yang mereka bawa terjatuh dan pecah. Max segera kembali ke mobil Jiyeon setelah mengendus isi dari kotak itu.

Jiyeon menyambut Max dengan mengelus rahang anjing besar yang lebih mirip serigala itu dengan bangga. “Kerja bagus, Max,” katanya lalu menatap Yunho dari kaca mobil, “Kita harus segera pergi!”

“Baik, nona,” sahut Yunho lalu segera melajukan mobil mereka menjauhi pelabuhan.

Lee Hyunwoo menggosokkan kedua telapak tangannya di depan Myungsoo dengan tampang bersalah sambil menggumamkan kata maaf berkali-kali. “Maaf, aku benar-benar tidak tahu kalau semua ruang VIP penuh,” kata Hyunwoo dengan sedih.

Setelah tiba di Remsis yang merupakan restoran keluarga Lee Hyunwoo, mereka harus menelan kekecewaan karena semua ruang VIP penuh. Manager restoran bilang kalau mereka harus menunggu sekitar satu jam lagi sampai ada salah satu ruangan yang kosong. Myungsoo menolak, tentu saja. Mana mungkin dia mau duduk diam di mobil selama itu?

Myungsoo duduk di kursi penumpang sambil menyilangkan kakinya dengan tangan bersedekap. Keningnya berkerut sedang memikirkan tempat yang pas tanpa harus di sorot banyak orang. “Lee Hyunwoo, apakah kau tahu restoran apa yang menjadi saingan Remsis?” kata Myungsoo pada akhirnya.

Di samping, Hyunwoo nampak berpikir. “Ada,” jawabnya, “Angelia, restoran Angelia. Kita hanya perlu belok ke kanan di perempatan di depan sana,” Hyunwoo menunjuk arah yang dimaksudnya lalu tersenyum lebar pada Myungsoo.

Dengan otot rahang yang berkedut, Myungsoo mencondongkan sedikit tubuhnya lalu berkata, “Kita ke Angelia.”

“Kau tahu, aku tidak se-muda dulu untuk menjadi informan keluarga kalian.” pria itu menatap Jiyeon serius lalu menyesap secangkir teh di dekat perapian. “Omong-omong, ada apa dengan tanganmu? Kupikir pelayan Midford tidak akan membiarkan majikannya terluka se-ujung kuku pun,” lanjutnya.

“Ini hanya luka kecil karena kesalah pahaman yang tidak terduga,” sahut Jiyeon, “Dan juga, Tuan Shin. Saya tidak pernah memberi syarat seperti tidak membiarkan saya terluka se-ujung kuku pun. Syarat yang saya berikan hanyalah, sebagai pelayan setia keluarga Midford tidak boleh mati sebelum tuannya. Dengan kata lain, mereka harus terus mendampingi saya.” Jiyeon mengedarkan matanya ke penjuru ruang makan VIP yang mereka tempati.

Tuan Shin tertawa kecil mendengar penuturan Jiyeon. Pria tua itu mengikuti Jiyeon dengan memandang perapian yang membuat tubuhnya hangat. “Terakhir bertemu denganmu sekitar tujuh atau delapan tahun yang lalu. Dulu kau sangat lucu dan pemalu sehingga kau selelu sembunyi di belakang ayahmu. Sekarang kau sudah tumbuh besar dan sudah menjadi keturunan Midford seperti yang seharusnya. Hmm, sebenarnya aku kaget kalau kau masih ingat padaku setelah sekian lama dan bisa menemukan tempatku berada,” katanya dengan tatapan lirih pada perapian karena sedikit memutar memori masa lalunya.

Angelia,” kata Jiyeon tiba-tiba, “Bagi orang lain, mungkin ini adalah restoran bintang lima. Tapi bagi keluarga Midford, Angelia mempunyai arti sebagai Dewa Pembawa Berita yang tidak lain adalah, kalian mempunyai banyak informasi dunia bawah yang tidak diketahui orang lain.” Ia melanjutkan, “Jadi, apakah anda mau kembali menjadi informan keluarga Midford?”

Tuan Shin mendesah dengan suara tuanya lalu meletakkan cangkir teh di atas meja. “Sudah kukatakan aku tidak bisa melakukannya dengan tubuh tuaku seperti ini,” katanya, “Tapi, ada seseorang yang bisa meneruskan pekerjaanku yang satu itu,” lanjutnya dengan nada yang terdengan seperti menyembunyikan sesuatu.

“Siapa itu?”

Tuan Shin menautkan jemarinya di depan wajahnya sambil menatap Jiyeon lekat. “Seseorang yang sulit membuat kesepakatan dengan orang lain dan sulit bekerja di bawah kendali orang lain,” jelasnya dengan nada suara yang rendah, “sama persis sepertiku, dulu.”

“Lalu, bagaimana ayah saya membuat anda bekerja padanya?” tanya Jiyeon.

Tuan Sin memberikan senyuman misteriusnya sebelum menjawab, “Dia menang telak ketika festival tahunan sekolah kerajaan dan memenangkan taruhan.”

Jiyeon tidak berkata apa pun setelah itu. Ia hanya menatap Yunho dengan mata runcingnya yang terpoles sedikit make up. Yunho mengangguk dan membuat Jiyeon menatap Tuan Shin kembali lalu berdiri dari kursinya. “Saya sudah tahu siapa yang anda maksud, Tuan Shin,” katanya lalu membiarkan Yunho memakaikan mantelnya, “Terima kasih karena telah bersedia bertemu dengan saya lagi.”

Tuan Shin memberikan senyum terhangat yang dimilikinya pada Jiyeon lalu berdiri. “Kau bisa menghubungiku kapan pun, nak,” katanya. Ia melanjutkan, “Aku benar-benar senang bisa melihatmu lagi.”

Jiyeon hanya memberikan senyum tipisnya lalu berbalik pergi meninggalkan Tuan Shin yang menatapnya penuh kehangatan. Langkahnya terhenti ketika sampai di pintu. Ia membiarkan Yunho membuka pintu kayu ber-cat putih itu lalu melangkah keluar. Tetapi sekali lagi langkahnya terhenti ketika ia berhadapan dengan seseorang. Kim Myungsoo.

“Oh! Park Jiyeon.” Suara itu berasal dari Hyunwoo yang muncul dari balik punggung Myungsoo.

Walau pun ada Hyunwoo di antara mereka, kontak mata antara Myungsoo dan Jiyeon tak kunjung terputus seakan saling berusaha membaca pikiran satu sama lain hanya dengan saling menatap.

“Selamat siang, Lee Hyunwoo-ssi, dan Yang Mulia Putera Mahkota,” ucap Jiyeon pada akhirnya lalu membungkuk sopan seperti biasa.

Tetapi Myungsoo tak melepaskan tatapan tajamnya dari Jiyeon, tidak bisa ia lakukan. Setiap kali bertemu dengan gadis itu, ia hanya ingin mengetahui siapa dan apa tujuannya hadir di kehidupan damainya.

Takdir yang mempertemukan mereka walau pun sebenarnya sejak awal mereka mempunyai sebuah ikatan yang mungkin juga bisa disebut dengan takdir yang sudah ditetapkan sejak mereka lahir di dunia ini.

-To Be Continue-

*Don’t be SiDer please🙂

20 responses to “[CHAPTER-PART 4] EIRENE

  1. Kasian jiyeon nih di incar sama org jahat mulu….tapi tetep penasaran deh sama jiyeon.kkkk terus sehun siapa nya jiyeon sih….ada ikatan apa antara jiyeon sama myungsoo yahhhh

  2. Aq tahu siapa yg dimaksud tuan shin😊. Jiyeon bener2 misterius banget jadi tambah penasaran. Kira2 bangsawan yg pengen klauar jiyeon mati siapa aja? Raja juga kah?Semuga engga😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s