[CHAPTER-PART 3] EIRENE

EIRENE

EIRENE-3

||Author : Lyzee7||

||Main Cast : Kim Myungsoo|Park Jiyeon|Irene|Ryu Hwayoung||

||Genre : Family|Romance|Complicated|Royal|Little Action||

||Rating : PG-17||

 EIRENE CAST

Note: Mungkin bagi kalian ini adalah part membosankan karena di part ini akan ada sesi penjelasan masa lalu para pelayan Jiyeon.

“Aku rasa ada sedikit kesalah pahaman disini,” kata Raja lalu menyentuh pundak Jiyeon. “Dia adalah kepala keluarga Midford, Jiyeon Midford yang dikenal anakku dan teman-temannya sebagai Park Jiyeon.”

Eirene part 3

Semua orang yang ada di ruangan itu pun terkejut begitupun Myungsoo yang terlihat mengepalkan tangannya. “Midford?” gumamnya terlebih pada dirinya sendiri.

“Duduklah, anakku,” kata Raja mempersilahkan.

Jiyeon mengangguk lalu duduk di kursinya setelah mengatakan terima kasih pada Jisub. Saat mendongak, matanya bertemu mata tajam Myungsoo yang tidak lepas darinya. Jiyeon membalasnya dengan mengulas senyum kecil hanya untuk sekedar sopan santun.

Yunho mundur beberapa langkah berdiri di belakang Jiyeon lalu menatap Woohyun yang juga berdiri di belakang Myungsoo. Ia memperlihatkan senyum ramahnya pada Woohyun yang hanya dibalas Woohyun dengan tatapan tajamnya seperti Myungsoo. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya, menahan emosi yang ingin ia keluarkan.

Makan malam berjalan lancar dengan suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Setiap menyuap makanannya, Myungsoo sesekali melirik Jiyeon dari balik bulu matanya. Jiyeon hanya memakan makanannya dalam diam tanpa memedulikan banyak pasang mata yang berkali-kali menatapnya diam-diam.

Setelah makan malam selesai, mereka dipersilahkan kembali ke tempat pesta utama yang sudah disediakan gelas yang disusun seperti piramida yang berisi wine. Tentu saja wine itu untuk orang dewasa.

Seseorang mengawasi pergerakan Jiyeon dari balik dinding. “Lakukan tugas kalian sekarang!”

Jiyeon’s Manor (09.00 PM)

Hyomin menutup gagang teleponnya, membalikkan badan lalu berjalan menyusuri lorong-lorong yang disinari lampu. Tangannya merogoh saku celana sebelah kanan lalu mengeluarkan sebuah benda. Mengumpulkan rambutnya ke atas, ia mengikatnya menggunakan benda itu menjadi kuncir kuda. Ia menaiki anak tangga yang mengantarnya ke balkon teratas manor Jiyeon lalu membuka sebuah kotak yang cukup panjang mengeluarkan sebuah senapan laras panjang. Dengan cepat, ia memasang lensa lalu peredam suara yang terletak di ujung benda itu.

Hyomin membidikkan senapan itu ke bawah lalu menemukan beberapa orang yang sedang bersembnyi di balik semak-semak dan pohon dengan berbagai macam senjata api yang ia ketahui cukup berbahaya. Ia menekan earphone yang terpasang di telinganya lalu berkata, “Kalian bersiap di tempat!”

“Baik!”

Evelyn POV

“Baik!” jawabku setelah menerima perintah dari Hyomin.

Namaku Evelyn. Hanya Evelyn karena itulah nama yang diberikan majikanku, nona Jiyeon saat pertama kali kami bertemu. Perlu diketahui bahwa aku adalah mantan mata-mata yang berasal dari Rusia. Keahlianku adalah menembak dengan akurat sejauh apapun target itu berada. Pistol, rifle, shotgun, atau senjata api lain bisa ku gunakan. Secepat apa pun lawannya, aku akan bisa melumpuhkannya. Kenapa? Karena kami adalah pelayan Minford.

Aku sangat bersyukur saat itu bertemu dengan nona disaat semua orang melupakan dan bahkan membuangku.

Flashback

New York few years ago.

“Agen 8, pergilah ke lokasi 27DA dan menyamarlah menjadi salah satu anggota penyergapan. Ketika waktunya tepat, habisi mereka semua agar kita bisa pergi!” perintah pemimpinku yang langsung ku kerjakan.

-30 minute later-

Aku berdiri menatap puluhan pasukan yang tergeletak tak bernyawa di kakiku yang menginjak genangan darah dengan napas tersengal. Kedua tanganku yang memegang pistol sedikit gemetar karena menerima dua tembakan, di lengan kanan dan di bahu kiriku.

Tiba-tiba kurasakan tubuhku melayang saat sebuah van menabrakku. Itu adalah van yang digunakan teman-temanku. Mereka meninggalkanku?

Tubuhku terhempas ke tanah dengan keras sampai aku tidak bisa berpikir untuk kabur dari tempat ini. Tubuhku mati rasa bahkan saat aku berusaha menggerakkan dan menyeret tubuhku sendiri untuk pergi dari tempat ini. Di samping jalan yang sepi karena sekarang masik pukul dua pagi, sebuah mobil terparkir tidak jauh dari tempatku berada. Seorang gadis berusia sekitar 14-15 tahun keluar dari sana bersama seorang pelayan yang mengenakan mantel hitam. Gadis itu berhenti tepat di depanku menatapku dengan tatapan datar.

“Apakah kau hanya sebatang kara?” tanyanya dalam bahasa inggris.

Ya. Tapi aku tidak menjawab.

“Kalau begitu, kita sama,” ucapnya lalu mengulurkan tangan kanannya ke arahku. “Ikutlah denganku. Biarkan aku menolongmu.”

Bagaikan sihir, hanya kata-kata itu yang terngiang di kepalaku. Kuangkat tangan kananku lalu menyambut uluran tangannya.

“Siapa namamu?” tanyanya.

Aku menggeleng. Aku tidak punya nama.

“Apa aku boleh memberimu nama?”

Menamaiku? Apakah aku pantas mempunyai nama? “Eum.”

“Evelyn. Namamu adalah Evelyn,” katanya.

Evelyn? Nama yang bagus. Aku tersenyum mendengar nama itu lalu menyebutnya berkali-kali di benakku. Aku menyukainya, nama itu.

Flashback End

Kuangkat kedua pistol yang ada di tanganku lalu mengarahkannya pada tiga orang yang juga membawa senjata.

“Selamat datang di rumah keluarga Midford. Tapi, selamat tinggal.”

DOR

DOR

DOR

Jack POV

Namaku adalah Jack Venere- dulu. Walau benci mengakuinya, dulu aku adalah anggota khusus tentara Jerman yang dibuang setelah menjadi satu-satunya tentara yang selamat dari perang. Ada alasan khusus mengapa aku sekarang begitu membenci Jerman. Dulu, aku diperlakukan seperti alat yang digunakan untuk membunuh ribuan musuh negara kami. Tetapi setelah kami menjalankan tugas, mereka malah berniat melenyapkan kami.

Flashback

“Kita berhasil! Kita menang!”

Kami bersorak gembira setelah semua musuh kami gugur. Kami sendiri ada sekitar dua puluh orang yang mash selamat.

“Kita sudah dijemput!” seseorang berteriak keras ketika kami melihat sebuah tiga helikopter jerman mendarat tidak jauh dari kami. Tiga prajurit bersenjata keluar dari setiap helikopter.

DOR

DOR

DOR

Tiba-tiba mereka menembaki kami satu per satu. Kami yang sudah kehabisan peluru hanya bisa menyerang mereka menggunakan pisau dan bahkan ada yang menggunakan tangan kosong. Semua teman-temanku yang tersisa sudah mati, meninggalkanku bersama tiga orang prajurit yang tersisa.

Seperti orang kesetanan, aku melempar pisau yang ada di tanganku hingga menembus dada kirinya. Lalu melawan dua orang yang lain dengan tangan kosong sampai salah satu dari mereka mati.

“Kenapa? Kenapa kalian melakukan ini?!” teriakku menatap matanya.

Sekujur tubuh prajurit itu sudah babak belur karena pukulanku yang bertubi-tubi. Ia hanya menatapku datar. “Kami hanya menjalankan perintah untuk menghabisi siapa pun yang selamat,” jawabnya tenang lalu melempar sebuah pisau yang berada di balik lengannya dari awal.

JLEB

Pisau itu menancap di bahu kiriku. Aku menyeringai, mengabaikan rasa sakit yang kurasakan. “Sayang sekali, bidikanmu meleset.” Dengan satu gerakan, pisau itu terlepas dari bahuku lalu kulempar dengan sekuat tenaga hingga menancap tepat di dada kirinya hingga ia roboh di depanku. “Kalau begitu, kau yang harus menggantikanku untuk berkorban demi negara.”

Setelah hari itu, hari-hari berikutnya hidupku benar-benar berubah. Aku pergi tak tentu arah, tidur di mana pun ketika kakiku letih, mengikuti pertarungan jalanan untuk mendapatkan uang yang tidak seberapa. Tubuh dan jiwaku hancur. Aku tidak mempunyai siapa-siapa, tidak mempunyai apa-apa.

Aku menatap langit-langit melalui gang sempit yang aku singgahi. Melihat bulan sabit itu, “Dunia sedang menertawakanku, ya?”

“Bulan hanya mengikuti siklus yang sudah digariskan oleh Tuhan. Jangan menyalahkannya.”

Menoleh ke arah suara itu berasal, kulihat seorang gadis berjalan dengan tenang mendekatiku. Suara ketukan sepatu bootnya menggema memantul di dinding lembab yang menjulang. “Siapa kau?” tanyaku sembari menilai penampilannya. Ia mengenakan mantel panjang yang menutupi sampai di bawah lututnya. Setelah kulihat-lihat lagi, seorang pria berdiri tidak jauh darinya, menunggu gadis kecil di depanku. Dia orang kaya.

Dengan gerakan cepat, kutodongkan pisau yang kusembunyikan di balik sabuk belakangku. Gadis kecil itu tidak berkutik, bahkan tidak terlihat takut sedikit pun dan hanya menatapku datar tanpa memedulikan mata pisau tajamku yang tepat beberapa inci di depan mata kirinya. “Serahkan semua barang berhargamu!”

“Nona!” pelayan pria itu hendak mengeluarkan sesiatu dari balik mantelnya tapi dihentikan oleh gadis kecil ini dengan mengangkat tangan kirinya. Tanpa melepas tatapannya dariku.

“Tidak ada yang salah dari semua yang kau lakukan,” katanya dalam bahasa Jerman.

“Apa maksudmu?”

“Kau hidup dengan cara mencuri kehidupan orang lain. Tidak ada yang salah dengan hal itu,” lanjutnya tanpa memedulikan pertanyaanku. “Kau melakukannya karena dunia dan orang-orang itu memperlakukanmu tidak adil.”

“Apa maksud-!”

“Aku juga begitu,” katanya lalu menunduk, tersenyum pedih.

Melihat ekspresinya membuat tubuhku membeku. Genggaman di pisauku sedikit melunak tetapi tidak kulepaskan.

“Aku- kami tahu pendertaanmu. Kami juga pernah merasakannya.” Aku tidak melawan ketika jemari kecil dan rapuh miliknya menggenggam mata pisauku lalu menurunkannya perlahan. Tangan kanannya ia ulurkan padaku. “Ikutlah bersamaku, bekerja di rumahku,” ajaknya.

Kurasa aku sudah gila karena mempercayai gadis ini.

Kusambut uluran tangannya dengan tangan kiriku. “Namaku adalah Jack.” Ya. Namaku adalah Jack, hanya Jack.

Flashback End

Aku menghisap rokok yang kuapit dengan dua jariku sambil berdiri di depan jendela besar. Mengintip dari balik gorden yang sedikit terbuka, kuhitung ada empat orang yang merjalan mengendap mendekati pintu masuk di sampingku berdiri. Kuambil pisau yang mempunyai ukiran naga di atas gagangnya.

CKLEK

Orang-orang itu masuk satu persatu melalui pintu belakang yang sudah terbuka. Cahaya yang remang-remang membuat mereka tidak menyadariku yang berdiri di belakang mereka.

“Sebagai tamu, kalian tidak kuanjurkan masuk melalui pintu belakang,” ucapku membuat mereka terperanjat lalu berbalik.

Mereka berniat menembakku. Tapi dengan gerakan cepat, kulempar pisau itu hingga menancap di leher salah seorang dari mereka. Satu tumbang.

DOR

DOR

DOR

Kuhindari ketiga tembakan itu lalu kulanjutkan dengan pukulan telak yang mengenai rahang dan tulang rusuk kiri salah seorang yang lain dengan sekuat tenaga yang membuatnya langsung terkapar di lantai. Tinggal dua orang.

Satu-satunya orang yang berambut pirang mengayunkan kakinya, aku menunduk di samping orang yang kuserang dengan pisauku. Kucabut pisau itu lalu kutusukkan ke leher belakangnya langsung dengan tanganku. Tinggal satu orang.

Kutatap tajam mangsa terakhir yang terus mundur sambil menodongkan pistolnya sampai menubruk dinding di belakangnya.

“Ja-jangan berge-!”

DOR

Lelaki itu tumbang setelah kutembakkan pistol yang kusembunyikan di balik punggungku.

Kuambil sapu tangan putih yang kusimpan di saku celanaku lalu kubersihkan darah yang melumuri pisauku dari pangkal hingga ujungnya.

“Amatir seperti kalian tidak akan pernah bisa mengalahkan kami- pelayan setia keluarga Midford.”

Akira’s POV

Setelah ikut dengan nona beberapa tahun yang lalu, aku mulai mengerti arti hidupku. Bagaimana rasanya mempunyai seorang teman dan seseorang untuk dilindungi. Sebelum bertemu dengannya aku adalah seorang yakuza yang haus akan darah di pedangku. Menyerang seseorang karena sebuah keinginan yang bahkan tidak kuketahui dari mana datangnya. Tapi sekaang aku mempunyai alasan mengapa aku akan membunuh lawan yang mengotori kediaman majikanku. Aku akan melindungi nona dengan nyawa dan pedangku, karena dia telah memberiku sebuah kehidupan baru agar aku bisa memperbaiki diriku sendiri.

Kuamati pedangku yang masih berada dalam sarungnya. Aku sudah bertekad untuk tidak menggunakan pedang asliku untuk melindungi nona. Aku akan melindungi nona dan membunuh orang-orang yang berniat menyakitinya tanpa melumuri pedangku dengan darah para tikus itu, dan nona tidak keberatan akan hal itu. Tetapi ia berpesan padaku agar aku tidak mati saat aku melawan hanya dengan pedang kayu. Karena, seorang pelayan keluarga Midford tidak diperkenankan mati sebelum tuannya.

Flashback

“TEMUKAN PEMBUNUH ITU! JANGAN SAMPAI DIA MEMBUNUH ORANG LAIN LAGI!”

Suara polisi itu terdengar olehku yang bersandar di sudut dinding yang gelap. Tangan kananku yang membawa pedang terkulai di sisi tubuhku. Dari pangkal hingga ujungnya terlumuri darah segar dari para korbanku.

Pedang adalah senjata.

Ilmu pedang mengajari bagaimana cara membunuh.

Itulah yang kupelajari setiap aku mengayunkan pedangku. Menyelinap tanpa suara, menyerang dengan cepat, dan tidak pernah ragu adalah caraku bertarung. Tapi…

“…untuk apa aku membunuh mereka? Apa tujuanku?” lirihku menatap taburan bintang di langit.

.

Hari ini, sekali lagi aku mengincar seseorang yang secara tidak sengaja membuatku marah karena telah menyiramkan segelas vodka ke wajahku. Apakah aku terlalu jahat? Tidak tahu. Aku hanya ingin memperingati orang-orang yang pernah merendahkanku, itu saja. Aku tahu aku salah, tapi entah kenapa aku akan lega kalau mereka sudah merasakan hunusan pedangku.

Kusandarkan punggungku di salah satu di tiang lampu yang ada di sepanjang jalan yang sudah sepi oleh pejalan kaki sambil mengamati rumah yang cukup bersar yang berada tak jauh dariku. Tangan kiriku membawa pedang yang masih berada dalam sarungnya yang berwarna putih, dan kugenggam dengan erat.

Tak lama kemudian seorang pria yang menjadi targetku malam ini berjalan gontai dengan pakaian yang berantakan menuju rumahnya. Kurasa dengan keadaan seperti itu ia tak akan menyadari keberadaanku di bawah sorot lampu sekalipun. Beberapa meter sebelum pria itu sampai di pagar rumahnya, aku bersiap mengeluarkan pedangku dari sarungnya. Gerakanku terhenti ketika seseorang keluar dari sebuah mobil yang terparkir tak jauh dariku. Seorang gadis yang hanya se-tinggi pundakku keluar, berjalan mendekatiku tanpa ragu. Walaupun aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, aku tahu benar kalau gadis itu menatapku.

Kubalikkan badanku sepenuhnya ke arah gadis itu lalu balas menatapnya tajam. “Tidak baik keluar malam-malam sendirian, gadis kecil,” kataku menekan gejolak emosi yang tiba-tiba muncul karena ia telah merusak rencanaku.

“Hei,” ia berhenti kurang dari lima langkah di depanku lalu merapihkan anak rambutnya. “Kau itu kuat, ya?”

Apa anak ini sedang membuat lelucon? “Apa urusanmu?”

“Kenapa kau membunuh?”

“Kau tidak perlu tahu!” gigiku gemeletuk dengan amarah yang membuncah.

“Apa tujuanmu?”

Cukup sudah!

Kutarik pedangku lalu membuang sarungnya ke tanah lalu menerjangnya.

SRET

BRUGH

Tubuhku terhempas ke tanah dengan kuat ketika seseorang menarik lalu membantingku. Sebilah pisau menempel di leherku dan seorang wanita menodongkan handgunnya di kepalaku. “Freeze (Jangan bergerak)!”

Aku memberontak tapi tanganku di kunci dengan salah satu kaki dari pria yang mengancamku dengan pisau. “Lepaskan aku!” aku mengerang pelan. “Kembalikan pedangku!” desisku ketika gadis kecil itu mengambil pedangku lalu mengamatinya sebentar. Masih ada sedikit bekas darah yang menempel di mata pedangku.

“Ternyata dugaanku benar. Kau lah pembunuh itu,” katanya lalu mengeluarkan sapu tangan putih dari balik mantel hitamnya.

Aku terbelalak ketika gadis itu membersihkan sisa-sisa darah sampai bersih dan noda merah terlihat jelas di sapu tangannya. Ia lalu memungut sarung pedang yang tak jauh dari tempatnya berdiri, memasukkan pedangku ke sana.

“Enough. Jack, Evelyn,” perintahnya membuat kedua orang itu menjauhkan senjatanya dariku. Gadis itu mengulurkan pedangku dan langsung kurebut darinya. Gadis itu memandangku datar, bukan tatapan merendahkan, tapi lebih kepada tatapan kosong. Tersirat kesedihan di pancaran mata runcingnya.

“Apa aku salah, karena telah membunuh mereka?” suaraku bergetar ketika mataku menatap dalam matanya.

“Entahlah,” jawabnya. Ia melanjutkan, “Kurasa kau hanya belum memiliki alasan dan tujuan yang tepat.”

Alasan dan tujuan? “Kalau begitu, apakah kau memiliki kedua hal itu? Apakah semua orang memilikinya?”

Ia terdiam sebentar lalu menengadah ke langit. “Entahlah.” Sekali lagi. Ia menatapku lagi. “Tapi, manusia pasti mempunyai alasan dan tujuan agar tetap bertahan hidup. Seperti orang itu…” tangannya menunjuk pada pria yang kujadikan target.

Pria itu sudah masuk ke dalam pekarangan rumahnya, memperbaiki penampilannya lalu menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Setelah itu, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah, membukanya. Aku tidak tahu jelas yang di dalamnya, entah kalung atau cincin. Pria itu mendekapnya lalu menggumamkan sesuatu, seperti sedang memanjatkan do’a. Ia lalu memencet bel yang ada di dekat pintu. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya keluar dari rumah itu, ia terkejut lalu memeluknya, menangis di lekukan leher pria itu. Pria itu mengeluarkan sebuah kalung dari dalam sana lalu memakaikannya.

“Aku menyayangimu, ibu.”

Detik itu pula aku terbayang dengan orang-orang yang kuambil nyawanya. Mereka pasti punya keluarga dan orang-orang yang menyayangi mereka. Apa yang telah kulakukan?! Aku telah memisahkan mereka dari orang-orang yang menyayangi mereka. Keluarga, isteri, dan anak-anaknya. Aku tidak pantas dimaafkan. Orang sepertiku bahkan tidak pantas hidup di dunia ini.

“Aku…” aku apa? “Aku…”

“Semua orang mempunyai alasan dan mereka berhak untuk tetap hidup. Termasuk juga kau,” ucapnya. Ia hanyalah gadis kecil yang berusia sekitar 14 tahun-an, tapi kenapa seolah-olah anak ini seperti sudah memiliki pengalaman hidup yang lebih lama dariku?

“Termasuk… aku…?”

“Ya, termasuk kau…” ia mengulurkan tangannya padaku. “Ikutlah denganku. Aku punya pekerjaan yang lebih baik dari pada membunuh orang lain secara acak. Lebih baik lenyapkan orang yang akan membunuh,” lanjutnya.

Aku menatapnya ragu lalu mengalihkan tatapanku pada dua orang yang lain. Wajah mereka tidak seperti orang Asia. Mereka tersenyum lalu mengisyaratkan untuk menyambut uluran tangan gadis ini.

“Namaku Akira. Aku ikut denganmu,” kuangkat tanganku lalu menjabat tangan mungilnya.

Flashback End

Sampai detik ini dan seterusnya, aku selalu bersyukur karena telah bertemu dengan nona. Ia pernah mengatakan padaku bahwa akan ada banyak orang yang mengincar nyawanya kalau ia menampakkan diri di depan publik. Saat itu aku tidak mengert kenapa anak kecil sepertinya begitu ingin di musnahkan oleh orang-orang yang mengincar nyawanya. Tapi setelah aku mendengar cerita dari Hyomin, aku mengerti. Aku mengerti bahwa di tubuh kecilnya, ia memikul beban yang sangat berat. Hyomin mengatakan bahwa nona sudah tidak pernah tersenyum dengan normal setelah kematian orang tuanya yang disebabkan oleh beberapa bangsawan yang mengincarnya saat ini. Setiap pagi nona selalu berdiri di depan foto kedua orang tuanya yang berada di antara belokan tangga ke kiri dan kanan di ruang utama, mengamatinya sambil memegang cincin blue diamond miliknya yang tersemat di telunjuknya.

Ada tiga orang bertubuh kekar yang membawa pistol di tangan mereka sedang berjalan tanpa suara menuju pintu belakang yang menghubungkan rumah nona dengan taman bunga. Aku mengambil dua buah pedang kayu yang tersusun rapi bersama pedang kayu lainnya di samping tembok rumah.

Menyelinap tanpa suara, menyerang dengan cepat, jangan ragu, dan SERANG.

Berlari tanpa suara bagiku hal yang mudah sehingga mereka tidak menyadariku bahkan ketika aku sudah di belakang mereka. Kuayunkan pedang kayuku dengan kuat hingga mengenai kepala salah satu dari mereka dan roboh.

Mereka berbalik lalu menodongkan pistol padaku. Dengan cepat kurendahkan tubuhku lalu menghantap pergelangan tangan mereka hingga pistol mereka terlepas. Berkali-kali kuayunkan pedangku dengan kuat hingga mengenai kepala dan leher mereka dan membuat darah keluar dari luka yang kubuat. Tanpa menggunakan pedang asliku aku tetap bisa melenyapkan mereka dengan pukulan telak di titik vital mereka.

Dua orang sudah tidak bernapas ambruk di depanku sedangkan satu orang yang lain keras kepala dan berusaha melawanku dengan tangan kosong. Kugerakkan kedua pedang kayuku lalu beberapa pukulan hingga membuatnya ambruk tepat dengan kedua pedang kayuku yang patah.

Berbeda dengan yang dulu, aku sekarang akan selalu mengutamakan keselamatan nona setiap kali aku bertarung dengan lawanku. Itu adalah alasan mengapa aku memilih untuk tetap hidup dan menebus semua kesalahan di masa laluku dengan melindunginya. Itu adalah tugas pelayan Midford.

Castle

Myungsoo menghampiri Jiyeon yang sedang mendengar Yunho yang berbisik di telinganya. Gadis itu tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai setelah Yunho menarik dirinya dari Jiyeon. Mata gadis itu menatapnya ketika Myungsoo berhenti di depannya. Jiyeon menunduk memberi hormat lalu menegakkan tubuhnya.

“Aku ingin bicara denganmu. Ikut aku!” Myungsoo meraih tangan Jiyeon lalu menariknya menuju taman labirin yang telah di kunjungi Jiyeon.

Melihat hal itu, Yunho segera mengikuti mereka tetapi di tahan oleh Woohyun. “Lepaskan saya!” geram Yunho tanpa melepaskan matanya dari Jiyeon yang sudah di pintu menuju labirin.

“Istana ini aman. Putera Mahkota hanya ingin bicara dengannya. Dan aku diperintahkan untuk membiarkannya bicara empat mata tanpa pengawal, Jung Yunho-ssi,” ucap Woohyun yang mencengkeram lengan Yunho dengan erat.

Yunho menggeram rendah menahan amarah lalu menatap Woohyun tajam. “Tidak ada tempat yang aman bagi nona kalau dia sedang sendirian. Dan saya, tidak akan pernah memaafkan kalian apabila sesuatu yang buruk terjadi,” desisnya tajam.

“Aku menjamin tidak akan terjadi hal yang kau bayangkan, Yunho-ssi,” sahut Woohyun.

Labiryn

Myungsoo mengitari jalan labirin seperti sudah hafal di luar kepala bersama Jiyeon yang berusaha mengikuti langkahnya dengan tangan kiri yang mengangkat gaunnya agar tidak terinjak. Napas Jiyeon sedikit tersengal dan terganggu karena harus menghirup udara dingin yang membuat pangkal hidungnya terasa membeku.

Myungsoo berhenti setelah sampai di pusat labirin yang terdapat air mancur cukup besar yang dihiasi lampu berwarna-warni. Ia lalu menyentak tangan Jiyeon dan berbalik menghadap gadis yang sedang menunduk mengatur napas.

“Jelaskan padaku…” Myungsoo membuka suara. “Jelaskan apa tujuanmu datang di dalam kehidupanku?”

Jiyeon mencengkeram kerah gaunnya dan berusaha mengambil napas dalam-dalam. “Tidak ada tujuan apa pun… Yang Mulia…” jawab Jiyeon pelan dengan napasnya terputus-putus.

Myungsoo mencengkeram lengan atas Jiyeon yang terasa dingin lalu mengguncangnya. “Kau adalah Midford? Kau sedang bercanda, bukan? Kau adalah Park Jiyeon, bukan Midford!” sentak Myungsoo membuat Jiyeon menatapnya dengan mata menyipit.

Jiyeon merasa pandangannya mulai mengabur dengan kepala yang berputar-putar. Ia berusaha menjaga kesadarannya. “Yang Mulia… hhhh…. Saya me… mang Midford. Hhh…. dan sela… manya…. akan tetap… hhh…” kedua tangannya balas mencengkeram lengan kemeja Myungsoo lalu berpindah di pundak Myungsoo. Ia berusaha menjaga keseimbangannya. “Aku… tetap… hhh…”

Myungsoo panik ketika melihat Jiyeon yang menyandarkan kepala di dadanya dan menunduk. “Hey! Kau baik-baik saja?” ia segera membawa Jiyeon duduk ke kursi panjang yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Diusapnya punggung Jiyeon ketika gadis itu terbatuk dengan napas yang sempit. Gadis itu sangat pucat ketika sorot lampu menerpa wajahnya.

“Y-Yun… ho…” bisik Jiyeon diantara helaan napasnya.

Mengerti, Myungsoo segera merogoh saku celananya. Ia mengumpat ketika sadar ia tidak membawa ponselnya. Ditatapnya Jiyeon yang menutup hidungnya dengan kedua tangannya agar udara yang dihirup tidak terlalu dingin sambil membungkukkan tubuhnya.

“Uhukh… uhukh…”

Myungsoo semakin panik melihat Jiyeon terbatuk disela-sela napasnya. Tanpa berpikir lagi, Myungsoo meraih tubuh gadis itu lalu mendekapnya erat. Berusaha memberikan suhu yang cukup hangat pada tubuh gadis itu yang bergetar. “Breath, Jiyeon. Breath!” bisiknya di telinga Jiyeon.

Gadis itu mencengkeram kuat pundak dan punggung kemeja Myungsoo saat melakukannya. Jiyeon menghirup napas pelan dan wangi tubuh Myungoo langsung memenuhi indra penciumannya lalu menghembuskannya pelan. Ia melakukan hal itu berkali-kali hingga rasa sesaknya sedikit berkurang.

“Kita harus kembali ke dalam. Kau bisa berdiri?” tanya Myungsoo.

Jiyeon menggeleng. “Tidak… Orang lain tidak boleh… melihat keadaanku yang seperti ini…” jawabnya. Ia melanjutkan, “Yunho… akan datang…” ucapnya lemah.

Setelah itu Myungsoo mengelus lengan Jiyeon berusaha memberikan kehangatan. Ia merasa begitu bodoh karena telah membawa paksa Jiyeon yang mengenakan gaun tanpa lengan dan dirinya sendiri yang tidak memakai jas dan lupa membawa ponsel. Udara Desember sudah pasti akan membekukan tubuh mereka kalau kedua pelayan mereka tidak segera datang. Myungsoo berkali-kali memastikan Jiyeon agar gadis itu tidak tertidur.

“Hey, Park Jiyeon. Aku boleh memanggilmu Park Jiyeon, bukan?” Myungsoo bersuara hingga uap putih keluar dari mulutnya.

“Eum.”

“Selamat ulang tahun,” gumam Myungsoo yang didengar oleh Jiyeon.

Tubuh Jiyeon menegang mendengarnya. “Terima kasih, Yang Mulia,” balasnya berusaha tenang.

Myungsoo memejamkan mata merasakan debaran jantungnya yang tiba-tiba bertambah cepat. Ia bertanya-tanya apa yang terjadi pada dirinya. “Apakah kau menggantikan orang tuamu di kursi milik kepala keluarga Midford itu?” tanya Myungsoo berusaha mengalihkan perasaannya.

“Aku tidak menggantikan siapa pun. Karena dari awal-.”

“Nona!” suara Yunho yang datang bersama Woohyun mengusik pembicaraan mereka membuat Jiyeon menjauhkan kepalanya dari Myungsoo. Melihat Jiyeon yang meringkuk kedinginan, Yunho segera berlutut, membuka mantelnya lalu memakaikannya pada Jiyeon membuat Myungsoo melepaskan dekapannya. Tangan Yunho terulur menyentuh pipi lalu kening Jiyeon. “Anda pucat.”

Jiyeon tidak membalas ucapan Yunho melainkan mencengkeram lengan kemeja pria itu lalu menenggelamkan wajahnya di balik lekuk leher Yunho.

Melihat hal itu tubuh Myungsoo menegang dengan perasaan aneh yang menyerang dadanya. Bahkan ia tak berkutik setelah Woohyun menyampirkan jas agar ia tidak kedinginan. “Dia sesak napas,” kata Myungsoo setelah tersadar dari lamunannya.

Mendengar hal itu, Yunho berusaha untuk tidak panik. Ia membisikkan sesuatu untuk menenangkan Jiyeon lalu mengambil ponsel di saku celananya. Mengetikkan beberapa nomor, Yunho segera menempelkan ponsel di telinganya.

“Hyomin-ssi, nona sesak napas. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya,” ucap Yunho pada Hyomin setelah teleponnya tersambung. “Asma?” gumamnya kaget. “Baiklah. Aku akan segera ke rumah sakit.” Ia segera memutus sambungan telepon lalu bergerak menyelipkan tangannya di antara leher dan lipatan lutut Jiyeon.

“Tunggu!” cegah Myungsoo membuat gerakan Yunho terhenti. “Ada dokter kerajaan di sini, aku akan memanggilnya. Kita bawa Jiyeon ke kamar tamu,” ucap Myungsoo memberi instruksi pada Yunho.

“Saya mengerti,” jawab Yunho patuh lalu mengangkat Jiyeon ke dalam gendongannya.

Myungsoo segera memberi perintah pada Woohyun untuk segera menghubungi dokter kerajaan mereka. Setelah itu ia segera memandu Yunho menuju pintu lain agar tidak menarik perhatian tamu yang lain.

Myungsoo mengurungkan niatnya untuk memakai kamar tamu karena kamar itu jarang dibersihkan dan pasti banyak debu. Yang diketahuinya, penderita asma tidak boleh menghirup debu sedikit pun. Maka dari itu ia memilih kamarnya yang pasti bebas dari debu.

Yunho membaringkan Jiyeon lalu mundur beberapa langkah menghadap Myungsoo. “Anda membuat saya kehilangan rasa hormat pada anda setelah apa yang anda perbuat pada majikan saya, Yang Mulia Putera Mahkota,” geram Yunho dengan tatapan tajam dan rahang mengeras. Ia berusaha menahan amarah yang membuncah di dadanya, berusaha agar tidak melukai laki-laki yang sudah menyakiti Jiyeon walau tidak secara langsung.

“Jaga ucapanmu, Jung Yunho-ssi! Kau bisa saja kami tangkap karena telah melawan Putera Mahkota,” balas Woohyun tajam.

“Aku adalah pelayan keluarga Midford. Kalian pikir aku akan takut dengan hal kecil seperti itu?” cukup sudah Yunho menggunakan bahasa formal pada orang lain selain majikannya, Jiyeon. “Pelayan keluarga Midford tidak akan gentar hanya karena harus melawan keluarga kerajaan. Pertanyaannya adalah, apakah kalian siap melawan keluarga Midford?”

Myungsoo terdiam mencerna setiap kata yang diucapkan Yunho tanpa ragu padanya. Hal itu menambah keyakinannya bahwa Jiyeon-lah yang selama ini sudah mengancam hidupnya. “Jadi, memang benar dugaanku kalau kalian yang telah mengusikku selama ini. Kalian-lah yang telah mengincar nyawaku selama ini,” desis Myungsoo begitu pelan.

Kali ini Yunho yang terdiam mendengar pertanyaan atau lebih tepatnya pernyataan yang terucap dari bibir tipis Myungsoo.

“Woohyun-ah! Katakan pada dokter Bae kalau kita tidak membutuhkannya lagi!” perintah Myungsoo tegas.

“Tapi, Yang Mulia…”

“Kau tidak mendengarku?! Cepat batalkan!” Myungsoo meninggikan suaranya membuat Woohyun langsung mengerjakan perintah Myungsoo dengan segera.

Mendengar hal itu Yunho sangat marah hingga membuatnya terang-terangan melotot pada Myungsoo. “Apa yang kau lakukan?!”

Myungsoo menyeringai. “Untuk apa membiarkan seseorang yang mengancam keluarga kerajaan tetap hidup? Bukankah lebih baik dia-”

BUG

Yunho dengan cepat meninju Myungsoo tepat di pipi hingga jatuh tersungkur. Melihat hal itu Woohyun segera mengambil pistol yang ada di balik jasnya dan mengarahkannya pada Yunho yang langsung ditepis Yunho hingga pistol itu terpental jauh lalu menendang Woohyun hingga menabrak pintu dengan keras. Ia menyentakkan tangan kanannya hingga sebilah pisau berada di genggamannya lalu berjalan perlahan mendekati Myungsoo yang berusaha berdiri. Dengan satu gerakan, ia mendorong tangan kanannya ke arah Myungsoo

“YANG MULIA!”

JLEB

-To Be Continue-

20 responses to “[CHAPTER-PART 3] EIRENE

  1. Wahh part ini bikin deg degan seru bgt hihi… emang yg mata matain myungsoo jiyeon ya? Terus keluarga jiyeon tuh emang sebenernya keluarga yg gimana sih?bikin penasarrrrrran hmmmm

  2. Kayanya orang2 jiyeon dulunya pada gelap semua (berhubungan dengan pembunuhan). Tp bnarkah jiyeon yg mata2in myungsoo, trus apa tujuannya? Myungsoo kok kaget ya dengar nama klan kluargannya jiyeon?. Hemmm tambah penasaran ae

  3. Wah.. Intens!! Chp ini tidak membosankn. Bagus juga skrg tau tentang pelayan midford. Dan benarkn jiyeon yg mengancam keluarga myungsoo? Siapa sebenarnya keluarga midford?

  4. salut bgt ma jiyeon bisa dpetin org hebat dan setia bgt mereka ma jiyeon ..
    tp jiyeon umur 14 udah begitu hebat bgt ..
    aigoo myung gk percaya ma jiyeon ckck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s