Love is Not A Crime[Chapter 19 – Pre Final]

image

Previous

Main Cast:
Park Jiyeon (as Gongju), Kim Myungsoo, Yoon Soo Hee (as Park Soo Hee)
Other Cast:
Park So Jin, Park Jungsu ‘Leeteuk SJ’, Haeri ‘Davichi’, Kim Young Woon ‘Kangin SJ’, Kim Jaejoong, Im Siwan, Lee Donghae, Shindong SJ, Jung So Min, Changmin ‘DBSK’
Genre:
Romance, family, action
PG – 13

Linac 19

Insiden ayahnya yang keracunan beberapa waktu yang lalu, tiba-tiba teringat kembali. Hal itu membuat Jiyeon penasaran siapa yang melakukannya. Pasti pelakunya sengaja melakukan hal itu.
Jiyeon pov
Aku masih penasaran dengan insiden makan malam akbar yang menyebabkan ayahku keracunan dan harus dibawa ke rumah sakit. Pelakunya pasti orang dalam atau malah kerabat dekat. Tapi siapa? Soo Hee? Ah, apa yang aku pikirkan? Soo Hee adalah saudara tiriku yang juga sangat menyayangi ayah. Mana mungkin dia tega meracuni ayah kandungnya sendiri?
Tunggu, aku ingat sesuatu yang… mengganjal. Malam itu, pelayan membawakan makanan dari dapur. Mereka ada lima orang dan setiap orang menyajikan makanan yang berbeda jenis. Waktu itu, pelayan yang memberikan makanan pada ayah adalah pelayan yang baru saja menukarkan makanannya dari meja presiden Kim. Ya, benar. Presiden Kim memiliki penyakit alergi pada makanan laut, terutama udang. Makanan yang ditukar itu adalah udang panggang. Pelayan itu menukarnya dengan makanan ayah kerena ayah yang memintanya. Jadi… hah! Andwae! Tidak mungkin, itu tidak mungkin. Semoga saja ini hanya dugaanku. Ya Tuhan, lindungilah orang-orang yang ku cintai.
Menjelang malam ini, aku terduduk di depan jendela kamarku. Memandang deretan bunga hias yang memanjakan mata. Keindahannya membuatku merasakan sedikit kedamaian meski hatiku teriris, sakit, apalagi jika mengingat Kim Myungsoo dan melihat kenyataan bahwa dia sudah menjadi milik saudara tiriku. Apa yang harus ku lakukan untuk melupakan namja itu? Aku… sungguh tak sanggup melupakannya. Park Jiyeon… nama itu memang cantik. Nama pemberian orang tuaku yang amat ku sayangi. Kenapa di saat aku menemukan kedua orang tua kandungku, di saat itulah aku harus kehilangan seseorang yang sangat ku cintai. Kenapa takdir mempermainkan hidupku seperti ini?
Jiyeon-a, kau tidak boleh seperti ini. Negara adalah nomor satu. Kim Myungsoo… ah, aku harus terbiasa tak menyebut namanya menjelang tidur.
Tiiiiiiit!
Ku tiup peluit milikku. Suaranya masih nyaring dan mampu membuat burung rajawali kesayanganku terbang menghampiriku. Air mataku meleleh melihat burung setia itu. Kenapa semua kenangan dengan Myungsoo kembali membayangiku?
“Terimakasih telah setia padaku, kau adalah sahabat terbaikku. Jangan tinggalkan diriku seperti dirinya yang telah meninggalkanku, eoh. Kalau itu terjadi, aku yang akan membunuhmu.” Kalimat itu ku katakan pada seekor rajawali yang setia menemaniku. Aku berusaha keras menarik kedua sudut bibirku meski hatiku menangis.
Jiyeon pov end
Malam semakin larut. Jiyeon tertidur di depan jendela kamarnya, terduduk dengan posisi kedua kaki dilipat di depan dada dan kaki itu ia gunakan untuk menyangga kepalanya. Meski kedua mata indah Jiyeon telah terpejam rapat namun cairan bening masih mengalir, membasahi kedua pipinya. Gadis itu benar-benar memiliki takdir hidup yang rumit. Jalan hidupnya berliku-liku.
Keesokan harinya, kediaman mantan presiden Park gempar. Dua orang nyonya Park keluar rumah untuk melihat sesuatu yang membuat para pelayan heboh pagi itu.
“Ada apa ini?” tanya Haeri yang baru saja selesai merias diri. Ia langsung keluar dari kamarnya saat mendapat laporan dari salah satu pelayan tentang sesuatu yang aneh pagi ini.
Haeri menunggu si pelayan menjawab pertanyaan. Tumben sekali wanita itu mau menunggu seseorang menjawab pertanyaannya.
Pelayan yang ditanya oleh Haeri pun akhirnya membuka mulut.
“I, itu, Nyonya.” Si pelayan terbata sambil menunjuk ke arah sesuatu yang terletak di atas tanah di bawah pohon sakura.
“Astaga!” pekik Park Soo Jin, nyonya tertua di rumah mewah keluarga Park.
“Ada apa, Eomma?” tanya Soo Hee yang baru datang bersamaan dengan Jiyeon.
“Omo! Itu kan burung rajawali yang sangat langka! Siapa yang tega membidikkan anak panah hingga membunuhnya seperti itu?” Soo Hee tak menampakkan ekspresi apapun tetapi kata-katanya menunjukkan kalau dirinya kaget melihat pemandangan aneh pagi itu.
Mendengar nama rajawali membuat Jiyeon maju beberapa langkah untuk melihat sesuatu yang menjadi pusat perhatian beberapa orang itu. Betapa terkejutnya Jiyeon, burung rajawali yang ia sayangi kini tergeletak kaku di bawah pohon sakura.
“Andwae!” lirihnya. Jiyeon tentu saja tidak berteriak atau menjerit histeris melihat burung kesayangannya mati terkena anak panah milik seseorang.
“Cepat buang bangkai burung itu!” perintah Haeri pada seorang pelayan yang berdiri tepat di belakangnya.
“Tunggu! Biar aku saja yang membuangnya. Kalian kembalilah ke dapur dan selesaikan pekerjaan kalian masing-masing.” Begitulah yang dikatakan oleh Jiyeon, sang pemilik burung rajawali gagah yang kini terkapar tak berdaya.
Jiyeon mendekati bangkai burungnya dan mengamati luka akibat tusukan anak panah di dada burung itu dengan seksama. Ia mencabut anak panah itu. Seseorang pasti sengaja membunuh rajawali kesayangannya.
“Kasihan sekali nasib burung itu. Ia harus menanggung penderitaan demi majikannya.” Soo Hee berkata-kata dengan santai tanpa memahami perasaan Jiyeon yang saat ini pasti hancur berkeping-keping karena burung pemberian Myungsoo telah mati sia-sia.
“Aku pasti akan membunuh orang yang telah melakukannya,” ketus Jiyeon seakan tahu siapa pelaku pembunuh burungnya. Ia melirik tajam ke arah Soo Hee yang berdiri di belakangnya.
Jiyeon mengamati anak panah yang dipegangnya. Keningnya berkerut saat ia menyadari bahwa anak panah itu tidak asing baginya. “Kim Myungsoo,” gumamnya lirih saat melihat tanda segitiga hitam di ujung anak panah itu yang menunjukkan bahwa sang pemilik bernama Kim Myungsoo. Jiyeon yakin betul kalau anak panah itu milik Myungsoo. Tapi tidak mungkin namja itu yang melakukannya. Dia sendiri yang memberikan burunh itu pada Jiyeon, jadi tidak mungkin kalau dia juga yang menghabisi nyawa burung rajawali itu. Pasti ada orang lain yang sengaja melakukannya untuk membuat Jiyeon membenci Kim Myungsoo.
“Soo Hee, kau pasti tahu sesuatu,” kata Jiyeon yang mencurigai Soo Hee sebagai pelakunya.
Soo Hee menarik salah satu ujung bibirnya. “Kau menuduhku? Mana buktinya kalau aku yang melakukannya?”
“Aku… tidak menuduhmu. Hanya kau yang tahu tentang rajawali ini. Kau… yang membunuhnya, kan? Katakan yang sejujurnya maka aku akan memaafkanmu.” Jiyeon tak dapat menahan amarahnya lagi. Ia tidak tahan lagi mendapat tekanan terus menerus dari Soo Hee, Haeri maupun orang-orang yang tidak menyukainya. “Katakan saja!” bentak Jiyeon.
“Kau berani berbicara keras padaku? Lihat anak panah itu! Kau tahu sendiri kalau itu anak panah milik Kim Myungsoo, bukan?” Soo Hee berusaha membuat Jiyeon membenci Myungsoo.
Jiyeon memilih diam. Dia sudah dapat menerka kalau pelakunya adalah Soo Hee yang mengkambing-hitamkan Kim Myungsoo agar mereka berdua saling membenci. Untuk menghindari adu mulut dengan saudara tirinya, Jiyeon segera mengambil bangkai burung rajawali kesayangannya lalu menguburnya di halaman belakang rumah. Park Soo Hee pun kesal karena sikap acuh tak acuh Jiyeon yang membangkitkan emosinya. Harusnya Jiyeon yang emosi karena burungnya telah dibunuh tetapi sekarang malah terbalik, Soo Hee emosi mendapat perlakuan seperti itu dari Jiyeon.
“Hari ini kau membunuh burungku, suatu saat entah apa atau siapa yang akan ku bunuh, aku pastikan kau menangis darah saat itu tiba, Park Soo Hee,” lirih Jiyeon dalam perjalanan membawa bangkai burungnya ke halaman belakang rumah. Tentu saja Jiyeon menyimpan dendam atas kematian burungnya. Ia tidak terima akan kejadian itu karena sang rajawali sama sekali tak berdosa.
***
Ruang kerja perdana menteri Kim terlihat lengang sore ini. Tak ada aktivitas apapun baik di dalam ataupun di luar ruangan. Kim Myungsoo, sang perdana menteri nan tampan dan berkharisma tengah duduk bersandar di atas kursi sofa impor di tengah ruang kerjanya. Ia memejamkan kedua matanya yang terasa sangat lelah dan mengantuk. Kondisi fisik namja itu nampak sedikit memprihatinkan. Tubuhnya terlihat bertambah kurus dan penampilannya biasa saja. Meski begitu, Myungsoo masih kelihatan tampan dan mempesona.
Tok tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Myungsoo dan mengusir kantuknya seketika. Namja tampan itu mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangan kemudian merapikan pakaiannya agar tidak terlihat lusuh.
Ceklek!
Orang yang mengetuk pintu dari luar rupanya tak sabar menunggu disilahkan masuk oleh Myungsoo. Seorang wanita muda berjalan memasuki ruang kerja Myungsoo dengan senyum sumringah yang menghiasi wajah ayunya. Myungsoo mendesah lirih saat melihat siapa yang mendatanginya sore itu.
“Aku mempunyai sebuah berita yang bisa membuatmu senang, Sayang,” kata Soo Hee dengan mesra, sebelum ia bergelanyut mesra menyandarkan kepalanya di bahu Myungsoo.
Myungsoo hanya diam. Ia tidak minat sama sekali menanggapi kata-kata Soo Hee. Wanita itu memang jahat dan dia menyesali telah menikahi Soo Hee.
“Kenapa kau hanya diam? Baiklah, akan aku katakan sekarang. Pagi tadi rumahku gempar. Kau tahu penyebabnya?”
Pertanyaan Soo Hee tidak berhasil mendapat jawaban dari suaminya. Myungsoo hanya melihat sosok isterinya sekilas.
“Kau sungguh tidak tertarik? Ini menyangkut Park Jiyeon,” tambah Soo Hee. “Tadi pagi rumahku gempar karena ada bangkai seekor burung langka. Kau pasti sudah dapat menebaknya.”
Kali ini Soo Hee sukses mencuri perharian Myungsoo. “Burung langka?” Pikiran Myungsoo langsung tertuju pada seekor burung yang ia rindukan, burung rajawali kesayangannya yang telah berpindah tuan.
“Aku membidik burung itu dengan sebuah anak panah yang ku pinjam darimu.”
Mendengar pengakuan Soo Hee membuat Myungsoo mengerutkan keningnya dan sontak berdiri, mengepalkan tangan. “Apa kau bilang? Anak panahku?”
Soo Hee tersenyum licik. “Ya, busur dan anak panah yang aku pinjam kemarin. Maaf, Oppa. Anak panah itu… dibawa Park Jiyeon.”
“Apa? Kau… sungguh keterlaluan, Soo Hee! Kau membunuh burung milik Jiyeon menggunakan anak panah milikku? Kau sengaja ingin mengkambing-hitamkan aku?”
Myungsoo menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk di dalam ruang kerjanya. Ia tak menyangka kalau Soo Hee akan berbuat setega itu, membunuh burung rajawali yang sebenarnya adalah milik Myungsoo dan menggunakan anak panah Myungsoo… benar-benar tak masuk akal.
Myungsoo pov
Hari ini merupakan salah satu hari yang tak pernah ku inginkan. Park Soo Hee mempunyai dendam pada Jiyeon dan membuatnya berbuat apa saja asalkan dia senang. Apapun yang dilakukannya bisa masuk akal. Tapi kali ini… apa yang harus aku lakukan? Jiyeon pasti mengenali anak panah milikku. Dia hafal betul bentuk dan ciri-ciri anak panahku. Lalu Soo Hee menggunakannya untuk membunuh rajawali itu… yang sebenarnya adalah milikku juga. Ya ampun… mimpi apa semalam? Aku tidak pernah menyangka hal ini bisa terjadi. Jiyeon pasti sangat marah dan kecewa padaku. Apalagi anak panah itu dibawanya. Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa yang mestinya aku katakan padanya? Aku harus minta maaf? Dia pasti yakin kalau akulah yang membunuh burung itu.
Sejujurnya, aku sangat sedih burung itu mati dibunuh oleh Soo Hee. Tetapi aku tidak mungkin menunjukkan ekspresi kesedihanku pada Soo Hee. Dia pasti curiga nanti. Maafkan aku, Park Jiyeon. Bukan aku yang membunuh burung itu… tetapi istriku lah yang melakukannya.
Urusanku dengan pihak Selatan semakin runyam. Aku ingin membujuk ayah untuk membatalkan serangan rahasia ke Korsel. Tetapi Soo Hee malah membuat keadaan makin panas. Jika aku berhasil membujuk ayah untuk membatalkan serangan dan berdamai dengan Korsel, pasti Korsel akan menolaknya karena banyak masalah diantara dua pihak. Masalah ini membuat kepalaku seakan ingin pecah dan darahku mendidih. Aku harus menyusun kata-kata supaya Jiyeon tidak tersinggung atau marah padaku.
Myungsoo pov end
***
Dua minggu kemudian.
Jiyeon melayangkan surat kepada Kim Myungsoo. Isi surat itu tentang pertemuan keduanya untuk membahas beberapa masalah yang melibatkan kedua negara yang mereka pimpin. Hal itu Jiyeon lakukan dengan sengaja karena itulah satu-satunya jalan untuk bertemu dengan Myungsoo dan bertanya langsung pada mantan kekasihnya terkait kematian burung rajawali yang ia sayangi.
Hari di mana pertemuan dua sejoli yang pernah menjalin hubungan asmara (Myungsoo dan Jiyeon) pun akhirnya tiba. Jiyeon mengundang Myungsoo datang ke Korea Selatan dan meyambut kedatangan namja itu layaknya tamu kehormatan negara.
“Terimakasih atas kedatangan Anda, Perdana Menteri Kim. Senang bertemu dengan perdana menteri Korut yang dikenal baik dan bijaksana.” Jiyeon berusaha memberikan sambutan terbaiknya untuk Kim Myungsoo.
“Senang bertemu denganmu juga, Perdana Menteri Park. Terimaskasih atas undangan yang sangat berharga. Senang juga rasanya bisa berkunjung di tanah selatan.”
Tak mau berlama-lama, Jiyeon dan Myungsoo mulai membahas masaah serius, diantaranya masalah perang saudara, peningkatan kerja sama di beberapa bidang. Mengingat tidak ada satu bentuk kerja sama pun diantara kedua negara karena perselisihan yang terus terjadi.
Tiga jam membahas masalah negara membuat Jiyeon dan Myungsoo lelah. Jiyeon menyilahkan Myungsoo menikmati makanan ringan yang disediakan oleh sang tuan rumah.
“Bisakah kita membahas sesuatu yang lain? Aku tahu kalau waktumu tidak banyak untuk sekedar berkunjung dan mengobrol di negara yang kau benci ini, tetapi… ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu secara langsung.”
“Baiklah, tanyakan saja sekarang. Ada apa sebenarnya hingga kau memintaku datang kemari?”
Sifat kaku Jiyeon membuat Myungsoo sedikit lebih tegas dari biasanya. Ia harus menunjukkan ketegasan sikapnya sebagai perdana menteri Korut.
Jiyeon menghela nafas panjang. Sebenarnya ia merasa enggan menanyakan perihal kematian burung rajawali miliknya. “Aku… ingin menanyakan tentang ini.” Jiyeon menunjukkan anak panah milik Kim Myungsoo yang telah merenggut nyawa burung kesayangannya. “Aku akan terima kematian rajawali itu. Tapi… kenapa anak panah ini tertancap di tubuhnya? Bukankah ini… milikmu?”
Myungsoo terdiam, merasa tertohok. Bukan dirinya yang melakukan hal keji itu. Ia tidak mungkin membunuh, apalagi membunuh burung kesayangannya. Tapi bagaimana dirinya bisa menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya pada Jiyeon? Gadis itu mungkin bisa tambah salah paham. Untuk itulah, Myungsoo memutuskan untuk diam sejenak dan membiarkan Jiyeon melanjutkan kata-katanya.
“Aku sungguh tidak mengira kau melakukannya, Kim Myungsoo. Kau takut kalau burung itu akam memberikan informasi berharga tentang Korut? Atau kau khawatir kalau burung itu bisa menyebabkan Korsel dan sekutu akan melakukan penyerangan pada negaramu? Jangan naif, Kim Myungsoo!” ketus Jiyeon geram. Ia terus menerus menahan amarahnya meski dalam hati… dirinya sangat merindukan sosok Kim Myungsoo.
‘Apa yang sedang kau bicarakan sekarang, Park Jiyeon. Tak tahukah kau kalau sebenarnya Soo Hee lah yang membunuh burung itu. Rajawali adalah salah satu pemberianku padamu yang sangat berharga. Bahkan aku rela melatih burung lain karena rajawali itu tepah menjadi milikmu. Aku pun sedih mendengar kabar itu. Tapi… apa yang dapat aku lakukan? Jika aku jujur padamu bahwa pembunuh burung itu adalah Soo Hee, kau pasti akan sangat marah dan membalas dendam padanya,’ batin Myungsoo yang tengah terpaku menatap Jiyeon. ‘Aku tidak bisa melakukan apapun, Jiyeon-a. Maafkan aku.’
“Kenapa diam? Kau tidak punya kata-kata pembelaan?” tanya Jiyeon agak sinis.
‘Bisakah aku memelukmu dan menciummu seperti dulu, Jiyeon-a?’ batin Myungsoo.
Ia tersiksa dengan keadaannya sendiri. Takdir membuatnya harus berselisih dengan mantan kekasihnya yang saat ini masih sangat dicintainya.
“Ya, akulah yang membunuh rajawali itu, “ kata Myungsoo nekad. Ia memang benar-benar nekad mengatakan itu semua. Ia mengatakan pengakuan palsu agar Soo Hee selamat dari kemarahan Jiyeon.
Jiyeon menarik salah satu sudut bibirnya. “Begitu rupanya… kenapa kau tega melakukannya? Kau takut kalau burung itu biaa mengetahui semua rencanamu? Kau takut kalau aku mengirim mata-mata?”
“Tidak, bukan begitu. Hanya saja aku…”
“Hentikan omong kosongmu itu, Kim Myungsoo!” Tatapan mata Jiyeon benar-benar bisa membuat siapapun takut melihatnya. Mata yang bersinar penuh amarah itu menatap Myungsoo tanpa berkedip. “Kau ingin menghancurkanku? Menyakitiku? Silahkan! Dengan senang hati aku menerimanya, tapi jangan sentuh siapapun dan apapun yang ada di sekitarku. Jika kau berani melakukannya, aku akan….”
“Akan apa?” Myungsoo memotong kata-kata Jiyeon hingga membuat gadis itu menahan semua kemarahannya.
Kedua tangan Jiyeon mengepal kuat, nafasnya memburu. Airmata mulai menetes membasahi pipi mulusnya. “Aku mohon, jangan sentuh apapun dan siapapun. Jangan sentuh keluargaku dan semua orang-orangku.”
Bruk!
Jiyeon terduduk lemas di atas lantai keramik berwarna putih bersih. Ia duduk bersimpuh menahan airmata yang ingin keluar dari muaranya. Bibirnya bergetar dan tak dapat mengatakan sepatah kata pun. Ia sudah lelah dengan keadaan itu. Ya, keadaan di mana dirinya harus menderita dan menahan semua kepedihan seorang diri. Kim Myungsoo yang diharapkan dapat menjadi tongkat hidupnya, kini malah berbalik menjadi jarum dalam hidupnya.
“Jiyeon-a…” panggil Myungsoo untuk pertam kalinya sejak mereka berdua berpisah. Namja itu tahu apa yang dirasakan oleh Jiyeon. Ia pun merasakan hal yang sama. Kepedihan dan kesedihan bercampur jadi satu.
Myungsoo memberanikan diri menyentuh bahu kanan Jiyeon. Saat kulitnya menyentuh bahu yeoja yang sangat dicintai itu, Myungsoo merasakan kerinduan yang dirasakan oleh Jiyeon. Ia ingin sekali mengatakan kalau dirinya masih sangat mencintai Jiyeon, sama seperti dulu.
“Maafkan aku, ku mohon. Maafkan segala kesalahanku, Jiyeon-a. Kita… harus menjalani takdir yang begitu rumit. Kau dan aku… tidak harus seperti ini.”
Jiyeon mendongakkan kepalanya setelah mendengar permintaan maaf dari Myungsoo. “Tidak harus seperti ini?” tanya gadis itu tidak mengerti maksud kata-kata Myungsoo.
Kim Myungsoo mengangguk pelan. “Aku lelah dengan semua ini. Aku…”
Jiyeon menanti kelanjutan pengakuan Myungsoo. “Kenapa?” tanya Jiyeon lirih. Ia tak sanggup lagi mengeluarkan suaranya dengan keras.
“Aku akan meninggalkan Soo Hee dan… kita akan lari dari tanah Korea.”
Deg!
Apakah benar yang baru saja diucapkan Myungsoo? Begitu mudahnya namja itu mengatakan kalau mereka akan lari dari tanah leluhur (Korea).
“Jangan mengatakan apapun yang hanya akan membuat keadaan semakin kacau. Kau tahu, ayahmu sangat membenciku. Rakyatmu juga membenci Korea Selatan. Perang sudah ada di depan mata. Begitu mudahnya kau mengatakan itu semua?”
Myungsoo baru menyadari kalau dirinya saat ini bersikap keterlaluan dan hanya memikirkan dirinya sendiri. “Maafkan aku yang hanya memikirkan diriku sendiri, sedangkan di luar sana masih baayak masalah yang harus diselesaikan. Jiyeon-a, tolong katakan apapun yang bisa menghentikan perang saudara. Tolong… katakan apa saja yang bisa aku lakukan agar bisa membuat ayahku tidak membencimu lagi.”
“Mungkin jika aku mati, semua akan berakhir dengan indah. Tidak ada perselisihan apalagi perang. Ayahku dan ayahmu tidak lagi dipusingkan dengan hubungan kedua negara. Kau tidak lagi terbebani dengan perasaan bodoh itu, dan aku… akan meninggal dengan tenang.”
“Apa yang kau katakan, eoh?” Myungsoo memegang kedua bahu Jiyeon. Ia tak peduli pada empat bodyguard yang berjaga di luar, di depan pintu. “Hal itu tidak akan terjadi. Aku akan membuat semuanya kembali normal, kita bisa hidup berdampingan dengan harmonis. Yang biaa kau lakukan bukanlah meninggalkan semuanya, tetapi… membantuku memulihkan semuanya. Kita pasti bisa.”
Jiyeon terdiam. Myungsoo memang benar. Tapi jika itu terjadi, dia harus rela hidup tanpa Kim Myungsoo. Perasaan cintanya pada namja tampan itu tak akan pernah pudar. “Baiklah, aku akan membantumu, Oppa.”
Deg!
Myungsoo senang bukan kepalang saat mendengar Jiyeon memanggilnya dengan sebutan ‘Oppa’.
‘Bagaimana aku bisa menjalani hidup tanpamu, Oppa. Aku sungguh tak sanggup melihatmu bersama wanita lain, termasuk Soo Hee,’ batin Jiyeon yang merasakan perih di hatinya.
***
Hari berlalu dengan cepat. Kondisi mantan presiden Park semakin menurun padahal perawatan di rumah sakit dilakukan dengan maksimal. Pria paruh baya itu semakin kurus dan terlihat pucat. Semua anggota keluarga merasa cemas dan sedih. Kenapa bisa seperti itu? Perawatan kualitas tinggi dan segalanya serba terbaik telah dilakukan untuk menyembuhkan mantan presiden Park. Tapi kondisi pria itu malah semakin menurun. Nafasnya terengah-engah dan kedua kelopak matanya selalu menutup.
“Dokter, apa yang sebenarnya telah terjadi pada appa? Apa yang kalian berikan pada appa sehingga kondisinya semakin menurun?” Jiyeon cemas, takut, dan khawatir akan keadaan ayahnya yang semakin memburuk.
Dokter menjawab kalau semua sudah dilakukan sesuai prosedur dan kualitas nomor satu. Akan tetapi, hasilnya malah seperti itu. “Kami telah mengambil sampel darah untuk diteliti apakah ada sesuatu yang mencurigakan di dalamnya.”
Jiyeon mengangguk mengerti. “Jika ada sesuatu yang tidak beres, tolong rahasiakan dan katakan hanya padaku, Dokter.”
Dokter yang menangani tuan Park itu pun mengangguk. “Baik, saya mengerti.”
Sang dokter telah berlalu pergi. Kini, Jiyeon duduk manis di samping ranjang ayahnya yang sedang kritis.
“Appa, sebenarnya apa yang terjadi pada appa? Sejak keracunan malam itu, kondisi appa hanya membaik sesaat. Setelah itu, appa down dan harus dirawat di rumah sakit. Pasti ada sesuatu yang menyebabkan appa jadi seperti ini. Aku harus menyelidikinya. Aku harus tahu siapa yang menaruh racun di dalam makanan itu.”
Cekleeek!
Jiyeon menoleh ke arah pintu yang dibuka dari luar. Kamar perawatan ayahnya memang dijaga ketat namun jika ada anggota keluarga yang datang membesuk pasti diijinkan masuk, tak terkecuali Park Soo Hee. Ia datang membaqa sebuah nampan yang berisi buah dan obat. Pergerakan bola mata Jiyeon pun tak luput mengekor nampan yang dibawa Soo Hee.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jiyeon datar. Ia baru tahu kalau Soo Hee datang untuk mengantar obat setiap harinya.
Soo Hee melirik ke arah Jiyeon dan menatap saudari tirinya dari dua sudut mata bulatnya. “Aku datang untuk mengantarkan obat dan buah. Memangnya ada apa?”
Jiyeon mengerutkan keningnya. “Obat? Bukankah sudah ada perawat yang mengantarkan obat setiap waktunya?”
Soo Hee nampak sedikit gugup. “Aku yang menggantikannya. Aku… mengambil obat itu dari perawat dan ingin memberikannya langsung pada appa. Apa tidak boleh, eoh?”
Ada sesuatu yang membuat Soo Hee gugup. Jiyeon pun dapat melihatnya dan mulai curiga. Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Atau jangan-jangan…
“Letakkan saja obatnya. Biar aku yang meminumkannya pada appa. Kau… keluar saja, Soo Hee.” Jiyeon tidak bermaksud mengusir Soo Hee dari ruang perawatan itu. Tetapi ada sesuatu yang harus ia lakukan secara diam-diam.
Park Soo Hee kesal. Ia merasa diusir oleh Jiyeon. “Mentang-mentang kau adalah perdana menteri di negeri ini, kau seenaknya mengusirku begitu? Cih!”
Jiyeon kaget. “Yaak! Park Soo Hee, kau sudah mengantarkan obat itu, sekarang gikiranku meminumkannya pada appa. Kita… berbagi tugas.” Jiyeon mengatakan alasan yang masuk akal agar Soo Hee tidak tersinggung.
Ucapan Jiyeon ada benarnya juga. Soo Hee terdiam kemudian ia menyerahkan nampan itu pada Jiyeon. Ia merasa kesal karena seharusnya dirinya memastikan kalau ayahnya meminum obat yang ia bawa. “Pastikan appa meminum obatnya.” Soo Hee beranjak dan tak lama kemudian, ia menghilang di balik pintu.
“Aku tahu apa yang harus aku lakukan, Park Soo Hee.” Jiyeon membuka botol obat yang ada di nampan kemudian mengambilnya satu butir dan memasukkannya ke dalam saku blazernya. “Appa makan buah ini saja ya,” ucapnya saat melihat sang ayah membuka mata.
Tuan Park tidak dapat mengatakan sepatah kata pun. Entah apa yang terjadi padanya, pria beruban itu hanya dapat membuka mulutnya untuk makan dan minum, tidak sanggup mengucapkan kata-kata layaknya manusia normal.
***
Brak!
Jiyeon membuka pintu kamarnya dengan kasar. “Kurang ajar! Benar-benar iblis!” umpatnya sesaat setelah melempar tas tangannya ke atas ranjang. Sesaat kemudian ia mengeluarkan sebutir obat yang dibawa dari rumah sakit. Diamatinya sebutir obat berwarna merah dan berbentuk bulat itu. “Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi. Siapapun yang melakukannya, entah itu Soo Hee atau bukan, tetap saja harus dihukum. Aku harus mencari bukti kalau obat ini disimpan oleh Soo Hee. Tapi bagaimana caranya?” Jiyeon mendesah kasar.
Dua jam telah berlalu. Tanpa disadari Jiyeon, rupanya hari sudah larut sekali. Ia tertidur saat memikirkan cara untuk membuktikan Soo Hee bersalah. Park Jiyeon akan menghukum saudari tirinya, Park Soo Hee.
Satu cara yang terlintas di pikiran Jiyeon adalah berpura-pura baik dan tunduk pada Soo Hee agar ia dapat mengamati setiap gerak gerik saudarinya itu. Tapi… akankah Jiyeon betah melakukannya?
Kriiiiing!
Sebuah panggilan darurat mengagetkan lamunan Jiyeon. Ia segera mengambil benda berbentuk persegi panjang dan tipis itu.
“Yoboseo…” ucap Jiyeon pelan karena ia tidak tahu siapa yang berada di ujung telepon.
“Perdana menteri Park?” Seseorang bertanya untuk memastikan kalau sang penerima telepon adalah Park Jiyeon.
“Ne, ada apa, Ahjussi?” tanya Jiyeon langsung.
Seseorang yang dipanggil dengan sebutan ‘ahjussi’ adalah dokter khusus yang menangani ayah Jiyeon. “Maaf, kami harus menyampaikan sesuatu pada Anda.
Dahi Jiyeon berkerut. “Ada apa? Katakan saja, Ahjussi.” Jiyeon sangat mengenal dokter yang menangani ayahnya karena beliau adalah adik Park Soo Jin, ibunya sendiri.
“Maaf, Jiyeon-a. Aku harus menyampaikan berita yang sama sekali tak diharapkan oleh semua orang. Mantan presiden Park telah menghembuskan nafas terakhirnya beberapa menit yang lalu. Belum ada keluarga yang mengetahuinya selain dirimu. Setelah ini, aku akan memberitahu kedua ibumu.”
Taaarr!
Ponsel Jiyeon terlepas dari tangannya dan jatuh di atas lantai. Air mata tak dapat dibendung, Jiyeon menangis melepas kepergian ayahnya. “Kenapa ayah meninggalkanku? Kenapa… semua jadi begini? Bukan ini yang aku harapkan.”
***
Berita duka menyelimuti Negeri Ginseng. Korea Selatan tengah berduka. Tentu saja hal ini membuat semua orang bertanya-tanya tentang penyebab meninggalnya sosok mantan presiden yang baik hati, adil, bertanggung jawab dan sangat teladan. Korsel harus rela melepaskan mantan orang nomor satu di negaranya.
Susana duka benar-benar menyelimuti kediaman keluarga Park. Soo Jin tak henti-hentinya menangis saat mengantar kepergian sang suami tercinta yang harus berpisah secepat itu. Takdir manusia di tangan Tuhan. Entah kapan akan terjadi, pasti setiap manusia akan mati.
Kedua isteri dan putri mantan presiden Park nampak sangat sedih. Mereka pasti merasa kehilangan. Pemakaman resmi dilakukan pada esok pagi dan dihadiri oleh banyak pejabat penting Korea Selatan. Ada juga beberapa pejabat Korea Utara yang datang untuk berbela sungkawa, termasuk Kim Myungsoo.
Myungsoo mewakili ayahnya sebagai petinggi Korea Utara dan menjalankan kewajibannya sebagai menantu untuk turut hadir dalam upacara pemakaman mendiang mantan presiden baik hati yang meninggal kemarin malam.
Tatapan mata Myungsoo tak lepas dari seorang gadis yang amat dikenalnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Park Jiyeon. Jiyeon berdiri di samping makam ayahnya dengan wajah tertunduk. Ia pasti menyembunyikan tangisnya. Kedua tangan Myungsoo mengepal saat melihat Jiyeon menangis dalam diamnya. Dia ingin sekali menjadi satu-satunya orang yang dapat menghapus air mata Jiyeon. Melihat Jiyeon seperti itu dapat membuat Myungsoo merasakan sesak di dadanya.
***
Upacara pemakaman telah selesai. Jiyeon menyeka air mata dari pipinya kemudian menoleh ke sisi kanannya. Ia melihat sosok namja yang jantungnya berdetak lebih kencang. Kim Myungsoo ternyata juga melihat Jiyeon yang menatapnya singkat. Ia pun akhirnya terpaku pada sosok Jiyeon yang ingin sekali didekatinya.
‘Bersabarlah, Jiyeon-a. Bersabarlah!’ batin Myungsoo. Bola matanya mengekor kepergian Jiyeon.
Rupanya gadis bersurai panjang itu memutuskan untuk beranjak dari tempat pemakaman dan kembali ke kediaman keluarga Park. Ada sesuatu yang ingin dia lakukan.
Myungsoo tidak ingin membiarkan Jiyeon bersedih di hari pemakaman ayahnya atau setidaknya Jiyeon tidak boleh terlalu sedih. Namja pemilik mata elang itu menyusul Jiyeon yang berjarak 50 meter dari tempatnya berdiri. Ia bertekad harus bicara dengan sang mantan kekasih.
“Jiyeon-a!” panggil Myungsoo lirih. Rupanya tadi ia berlari kecil agar dapat menyusul Jiyeon.
Park Jiyeon hendak masuk ke dalam mobilnya yang dijaga oleh tiga orang bodyguard namun ia tiba-tiba menoleh ke arah belakang dan mendapati Myungsoo yang sudah berdiri di sana.
“Kim Myungsoo…” lirih Jiyeon dengan dahi berkerut dan mata sembab. “Ada apa memanggilku?”
Myungsoo berpikir sejenak, mencari jawaban yang tepat agar Jiyeoj tidak tersinggung. “Aku… turut berduka atas kepergian ayahmu. Jujur saja, aku merasa terkejut mendeegar kabar tentang kematian ayahmu.”
Jiyeon masih diam. Sepertinya ia memberikan kesempatan kepada Kim Myungsoo untuk berbicara semaunya.
“Jiyeon-a, Jaejoong hyung menitip salam untukmu. Ia juga turut berduka atas meninggalnya mantan presiden Park. Tapi… untuk saat ini hyung masih belum sembuh.”
Deg!
Jiyeon menangkap satu kata yang membuatnya cemas. “Sembuh? Apa maksudnya?”
“Ya, Jaejoong hyung sedang sakit. Ia baru saja mengalami kecelakaan di depan gedung presiden.”
Satu lagi orang yang disayang Jiyeon tengah mengalami sesuatu yang membuatnya cemas. “Aku ingin menjenguk Jaejoong oppa. Bagaimana caranya, Perdana Menteri Kim?” tanya Jiyeon datar.
Myungsoo memutar otak, mencari cara agar Jiyeon dapat menjenguk Jaejoong. “Kau… benar-benar ingin menjenguknya?” tanya Myungsoo meyakinkan Jiyeon akan keinginannya menjenguk Jaejoong.
Salah satu cara agar Jiyeon dapat melihat keadaan kakaknya adalah masuk ke Korut. Itu artinya ia harus melalui batas wilayah Korut- Korsel.
“Tentu saja. Apakah aku nampak tengah bercanda?” Jiyeon mulai tersinggung. “Apakah kau ingin aku kehilangan orang yang ku sayangi untuk kesekian kali?”
“Bukan itu maksudku. Aku bisa membantumu. Tapi….”
Jiyeon tak menyadari air mata yang telah mengalir pelan dari dua sudut matanya. Rasa sedih saat kehilangan orang-orang yang ia sayangi telah membayang-bayangi hatinya. Jiyeon mulai curiga pada Myungsoo. Jangan-jangan orang yang menyuruh Soo Hee memberikan pil penambah rasa sakit itu adalah Kim Myungsoo. Mantan presiden Park adalah salah satu tokoh Korsel yang disegani dan ditakuti oleh negara lain, termasuk para petinggi Korut. Bisa jadi kalau Kim Myungsoo atau petinggi Korut yang lain telah melakukannya, mencoba membunuh tuan Park dan sekarang berhasil. Sang mantan presiden Korsel telah meninggal.
“Kau pasti senang melihatku hancur, kan?”
Deg!
Kata-kata Jiyeon membuat Myungsoo merinding. “Kenapa kau biicara seperti itu? Tentu saja tidak. Jiyeon-a, aku dulu memang ingin menghancurkan Korsel. Tapi saat aku tahu kalau ternyata kamu adalah putri Korsel, niat itu aku urungkan sampai sekarang. Selamanya… aku tidak akan berniat untuk menyerang Korsel. Aku… tidak akan sanggup.” Myungsoo tertunduk lesu. Ia ingin memeluk Jiyeon dan mengatakan bahwa dirinya masih sangat mencintai gadis itu meskipun kini telah menikah dengan Park Soo Hee.
“Aku… ingin bertemu denganmu di hari lain, tanpa seorang pun tahu hal itu. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, Kim Myungsoo.” Jiyeon langsung beranjak masuk ke dalam mobilnya.
Myungsoo hanya dapat melihat mobil berwarna putih milik Jiyeon berlalu begitu saja. “Sebenarnya… apa yang ingin dia tanyakan padaku?” gumam Myungsoo.
***
Satu minggu kemudian.
Jiyeon telah mengumpulkan bukti-bukti untuk menjebloskan Soo Hee ke dalam penjara karena telah memberikan pil mematikan pada mendiang tuan Park, ayahnya sendiri. Ia ingin saudari tirinya itu segera dihukum seberat-beratnya. Jiyeon yang dibantu presiden Changmin melalui asisten pribadinya, mampu menyerahkan berkas pengaduan pada Kepala Kepolisian Korsel.
“Aku akan membantumu sampai akhir, Jiyeon-a. Entah apa yang akan terjadi padaku nantinya, aku akan tetap membantumu. Ayahmu adalah orang yang paling berjasa bagiku. Sudah saatnya aku membalas kebaikan beliau dengan membantumu. Aku yakin kau tidak akan melakukan hal buruk dan yang merugikan negara.” Shim Changmin memberikan dukungan moral pada Jiyeon dan sekaligus memberikan bantuan pada gadis itu untuk membalaskan semua dendam Jiyeon.
“Terimakasih, aku sungguh tidak menyangka kalau akan seperti ini kejadiannya. Aku kehilangan orang-orang yang aku sayangi. Apa dosa yang telah ku perbuat?”
“Sudahlah, jangan bersedih. Kau adalah perdana menteri Korsel, jangan biarkan orang lain merusak hidupmu, Jiyeon-a.” Changmin meraih bahu Jiyeon dan menariknya ke dalam pelukan. Untung saja mereka berdua berada di tempat rahasia sehingga terbebas dari tatapan para staf.
Jiyeon merasakan adanya sedikit kenyamanan saat dipeluk Changmin yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri, sama halnya dengan Jaejoong.
“Jaejoong oppa sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Bisakah… oppa membantuku agar aku bisa masuk ke Korut dan melihat keadaan Jaejoong oppa?”
Changmin tampak berpikir serius. Dia ingin sekali bisa membantu Jiyeon dalam hal apapun. Untuk permintaan Jiyeon tadi… ia juga akan memikirkannya dengan baik. “Akan aku usahakan.”
Jiyeon lega mendengar pernyataan dari Changmin. “Mungki… hanya ada beberapa orang yang mendukungku. Oh ya, masalah kematian ayahku. Aku ingin Soo Hee segera ditahan untuk investigasi. Aku curiga kalau presiden Korut lah yang menyuruhnya meracuni appa.”
“Presiden Korut? Bukan perdana menteri?” tanya Changmin untuk meyakinkan Jiyeon tentang dugaannya.
Jiyeon mengangguk. “Aku yakin ini bukan perbuatan perdana menteri Korut melainkan presidennya.”
“Baiklah jika itu yang kau mau. Aku akan membantumu tetapi tidak sampai finish. Aku akan menegakkan hukum di negara kita. Siapa saja yang mencoba membunuh maupun telah membunuh pejabat negara seperti presiden, perdana menteri maupun para menteri dan anggota dewan, akan mendapat hukuman mati.”
Deg!
Hukuman mati memang pantas didapatkan oleh Soo Hee. Tetapi Jiyeon tidak tega melihat saudarinya dihukum mati. “Harus hukuman mati?” tanya Jiyeon takut.
Changmin mengangguk. “Tentu saja. Soo Hee bisa dihukum mati jika terbukti bersalah.”
“Tapi bukan itu yang aku inginkan.”
“Apa maksudmu? Jiyeon-a, Soo Hee dan Haeri pernah membuatmu menjadi tersangka pembunuhan seorang jenderal dam kau pernah dihukum mati. Jika membunuh seorang jendral saja bisa mengantarkanmu pada hukuman mati, apalagi kalau membunuh mantan presiden yang masih berpengaruh hingga saat ini?”
Park Jiyeon terdiam. Benar juga, ia harus bisa melihat Soo Hee mati di tangan para eksekutor.
***
Suasana malam begitu sepi di sebuah rumah sakit tempat Jaejoong dirawat. Hal itu membuat Jiyeon dan Myungsoo bersyukur karena mereka bisa leluasa bicara apa saja yang diinginkan. Ada banyak hal yang ingin disampaikan oleh Jiyeon maupun Myungsoo tentang masalah pribadi mereka dan masalah kenegaraan.
“Terimakasih sudah menepati janjimu, Myungsoo-ssi,” ucap Jiyeon sedikit tegang. Ia melirik ke arah Jaejoong yang tengah terlelap tidur.
Myungsoo tersenyum tipis dan menatap wajah cantik perdana menteri Korsel, Park Jiyeon yang sangat ia rindukan. “Aku akan berusaha untuk menepati semua janjiku.”
Jiyeon membalas tatapan Myungsoo. “Semua janjimu? Bukankah ada janji yang kau ingkari?”
Deg!
Myungsoo langsung menyadari maksud ucapan Jiyeon. Janji yang dia ingkari benar-benar membuat hubungan mereka hancur, retak, atau apalah namanya. “Aku… minta maaf dari lubuk hati yang paling dalam. Jiyeon-a, semua itu terjadi karena situasi dan kondisi yang tidak aku harapkan.” Ia tak menyangka kalau Jiyeon masih mengingat janji itu.
“Sudahlah, tidak usah dibicarakan lagi. Janji itu tidak penting, baik bagimu ataupun bagiku. Sekarang… bagiku yang terpenting adalah rakyatku dan Jaejoong oppa.”
Myungsoo mengerutkan keningnya. Ia bertanya-tanya dalam hati, kenapa hanya ada satu nama yang penting baginya dan kenapa harus Jaejoong?
“Iya, aku tahu,” sahut Myungsoo dingin.
“Aku ingin membawa Jaejoong oppa bersamaku, tinggal di Korsel denganku. Entah bagaimana caranya, aku harus membawanya. Kau bisa membantuku?” tanya Jiyeon dengan sedikit memaksa. Ia tahu kalau Myungsoo pasti akan bersedia membantunya. Jika tidak, mungkin namja itu memang sudah berubah.
“Kenapa harus begitu? Dia adalah warga negara asli Korut, bukan Korsel.”
Jiyeon maju satu langkah dan membuat jarak antara dirinya dengan Myungsoo semakin dekat. “Karena dia adalah kakakku. Satu-satunya namja yang peduli dan sayang padaku. Haruskah aku kehilangan Jaejoonh oppa juga?” Kedua matanya memerah. Dia teringat mendiang ayahnya yang ternyata meninggal dengan cara dibunuh secara perlahan.
Myungsoo membisu. Ia tidak dapat mengatakan apapun karena semua yang dikatakan oleh Jiyeon itu benar. “Kau benar, tapi….”
“Tapi apa? Kau tidak bisa membantuku?”
Namja bermarga Kim itu bingung. ‘Apa yang harus ku lakukan?’ batinnya.
“Kalau dia di sini, apakah kau bisa menjamin keselamatannya apalagi saat oppa sedang terbaring seperti ini? Kau sanggup menjaminnya?”
Pertanyaan macam apa itu. Jiyeon benar-benar keras kepala.
Myungsoo harus berpikir berkali-kali untuk mengirim Jaejoong ke Korsel dan menetap di sana.
“Aku mohon, biarkan aku membawa Jaejoong oppa bersamaku. Aku bersedia melakukan apa saja untuk membawanya. Aku mohon…” pinta Jiyeon diiringi arIrmata yang menetes.
Melihat gadis yang dicintai tengah memohon dan menangis, membuat dada Myungsoo terasa sesak. Dia bisa saja membantu Jiyeon. Tapi sungguh berat jika harus berurusan dengan ayahnya. Jaejoong adalah asisten sekaligus pengawal presiden dan perdana menteri. Bagaimana caranya dia membiarkan Jaejoong pergi besama Jiyeon yang notabennya adalah musuh ayahnya.
Bruk!
“Aku mohon…” Jiyeon berlutut di hadapan Myungsoo dengan berlinang airmata.
“Jiyeon-a…” panggil Myungsoo meski tak direspon oleh Jiyeon.
Gadis itu masih berlutut memohon pada Myungsoo.
“Maaf, aku… tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa membantumu, Jiyeon-a. Untuk meminta Jaejoong hyung, aku harus ijin dulu pada ayahku. Kau sendiri, kan? Ayahku adalah orang yang keras. Dia tidak akan membiarkan salah seorang prajurit andalannya pergi begitu saja. Jujur… aku ingin sekali membantumu tapi… aku punya keterbatasan.” Myungsoo menyesal mengatakan itu semua. Dia meras tidak berguna bagi Jiyeon.
Jiyeon menghela nafas panjang. Ia harus dapat menerima kenyataan bahwa dirinya dan Jaejoong adalah dua orang yang berbeda kewarganegaraan.
“Tapi… Jaejoong oppa adalah orang Korsel asli. Bagaimana bisa presiden Kim menahannya begitu? Aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Jaejoong oppa.”
“Terserah padamu. Katakan saja apa yang kau butuhkan. Jika aku bisa membantumu, akan aku lakukan dengan senang hati. Tapi tidak untuk minta ijin pada ayahku.”
Jiyeon mulai memikirkan tentang sesuatu. Jika Myungsoo tidak berani meminta Jaejoong dari ayahnya, bukankah itu artinya namja tampan bermarga Kim tersebut juga tidak mampu mencegah perang antara Korsel dan Korut.
“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Hmm… ada dua pertanyaan. Tolong jawab dengan jujur.” Jiyeon menatap Myungsoo.
“Apa pertanyaanmu, Jiyeon-a?”
Jiyeon tidak yakin kalau Myungsoo dapat menjawab pertanyaannya. “Sebelum aku mengatakannya, maukah kau berjanji padaku untuk menjawabnya dengan jujur? Aku membutuhkan kejujuranmu.”
“Baiklah. Katakan saja!”
“Bagaimana dengan perang saudara? Apakah ayahmu ingin berperang?”
“Untuk yang itu… aku sudah bicara pada ayahku. Beliau tetap akan melaksanakan perang itu secara terbuka.”
Jiyeon semakin lemas. Kedua kakinya tidak berdaya menopang tubuhnya.
“Jiyeon-a, kau baik-baik saja, kan?” tanya Myungsoo khawatir.
Jiyeon membisu seribu bahasa, enggan mengeluarkan sepatah kata pun. “Aku hanya ingin hidup bersama orang-orang yang ku sayangi. Tapi… kenapa takdir malah mengantarkanku pada kehancuran?” Batin Jiyeon menangis, kedua mata indahnya pun tak luput dari cairan bening yang semakin lama mengalir semakin deras. Jika presiden Korut tetap menginginkan perang maka ia harus mencegahnya. Ya, apapun akan dilakukan Jiyeon untuk mencegah hal itu terjadi.
“Baiklah jika itu yang mungkin akan terjadi. Ada satu lagi yang ingin aku tanyakan padamu. Ini tentang kematian ayahku.”
Myungsoo terkejut. Ia ingin tahu alasan Jiyeon ingin membicarakan tentang kematian ayahnya. “Aku turut berduka atas meninggalnya ayahmu, Jiyeon-a.”
Jiyeon menatap Myungsoo nanar. “Bukan itu yang aku mau.”
“Maksudnya?” tanya Myungsoo lagi.
“Ayahku meninggal karena keracunan. Dokter mengatakan sendiri padaku dan aku memiliki bukti yang kuat untuk menyeret pelakunya ke meja hijau dan menjatuhkan hukuman mati. Kau tahu siapa yang menjadi pelakunya?”
Myungsoo semakin bingung. Apa lagi yang dibicarakan oleh Jiyeon kali ini? “Aku tidak mengerti maksud ucapanmu. Siapa yang melakukannya?”
Jiyeon mendesah kasar. “Kau tidak tahu?”
Myungsoo menggelengkan kepala pelan. “Memangnya siapa?”
“Bukankah kau yang menyuruhnya? Atau mungkin juga ayahmu.”
“Park Jiyeon! Keluargaku tidak sepicik itu,” bentak Myungsoo marah.
Jiyeon tak percaya ia mendengar bentakan Myungsoo dengan nada tinggi yang mengagetkannya. “Park Soo Hee. Dia adalah pelakunya. Dia yang sudah memberikan pil mematikan pada ayahku dan pil itu hanya dapat dibeli di Korut. Pasti kalian yang menyuruhnya. Iya, kan?”
Deg!
“Jiyeon-a, apa yang kau katakan? Aku… bahkan aku baru tahu saat kau yang mengatakannya tadi. Katakan padaku, apa yang dilakukan oleh Soo Hee?”
Jiyeon terdiam dalam tangis. Ia sungguh tidak dapat menahan air mata yang mengalir menganak-sungai di pipi halusnya. “Park Soo Hee memberikan pil eutanasia dosis rendah pada ayahku. Dia memberikan pil itu selama beberapa hari. Maka dari itu, kondisi ayahku semakin memburuk. Kenapa kalian begitu tega padaku? Bunuh saja aku sekarang. Jangan menyentuh orang-orang yang aku sayangi.”
‘Park Soo Hee, apa yang telah kau lakukan?’ batin Myungsoo.
***
Beberapa minggu telah berlalu. Jiyeon telah berhasil menjebloskan Soo Hee ke dalam penjara di salah satu rumah tahanan di kawasan Seoul. Gadis licik itu tengah menyiapkan diri untuk menerima hukuman mati karena telah terbukti melakukan pembunuhan dengan meracuni mendiang mantan presiden Park yang notabennya ayah kandungnya sendiri. Tidak ada seorang pun yang berdiri di belakang Soo Hee. Maksudnya, tidak ada seorang pun yang menyuruh Soo Hee meracuni ayahnya sendiri. Dugaan Jiyeon bahwa Myungsoo atau ayahnya yang menyuruh Soo Hee ternyata sama sekali tidak terbukti.
Pyongyang, Korea Utara.
Sang kepala negara Korea Utara duduk diam di dalam ruangannya. Ia sangat kecewa pada sang menantu yang ia banggakan. Park Soo Hee telah mencemarkan nama baik keluarga Kim dan keluarga Park.
“Benar-benar keterlaluan!” Presiden Kim menggeberak meja kerjanya hingga beberapa lembar berkasnya terjatuh di atas lantai.
Ceklek!
Myungsoo menyembulkan kepalanya kemudian masuk ke dalam ruangan berukuran lebih luas daripada ruang kerjanya. “Ada apa? Kenapa Appa begitu marah?”
“Ceraikan isterimu!” bentak presiden Kim pada putera tunggalnya.
“Apa?”
“Myungsoo, dia telah mempermalukan keluarga kita di depan mata Internasional. Dia bukan menantuku lagi. Aku tidak akan sudi memiliki seorang menantu seperti Park Soo Hee.”
Myungsoo tertunduk. “Sebenarnya aku datang ke tempat ini bukan untuk mendengar hal itu. Aku datang karena ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada Appa.”
“Apa?” tanya Presiden Kim kaku.
“Rupanya pelaku pembunuhan mendiang mantan presiden Park tidak hanya Soo Hee, tetapi Park Soo Jin juga terlibat.”
“Park Soo Jin? Kenapa bisa seperti itu?”
Myungsoo tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Dia terlalu asyik dengan pikirannya yang melayang memikirkan Jiyeon. Ya, gadis malang itu kini tengah dirundung kesedihan. Satu per satu orang yang ia sayangi telah tiada. “Aku pamit, Appa.”
“Kim Myungsoo! Apa yang dia pikirkan sampai tidak mempedulikan ayahnya yang bertanya padanya tadi.”
***
Siang ini Jiyeon memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai perdana menteri Korsel. Ia sudah tidak sanggup lagi mengemban amanah sebagai kepala pemerintahan. Kondisi dirinya saat ini benar-benar buruk. Banyak hal yang ingin ia lakukan secara rahasia dan tidak mungkin bisa dilakukan jika ia masih memangku jabatan sebagai perdana menteri.
Kabar tentang pengunduran diri Park Jiyeon dari posisi tertinggi dalam pemerintahan telah beredar luas. Jiyeon tidak peduli apa yang dikatakan oleh orang lain. Gadis itu kini telah terbebas dari tanggung jawab yang berat. Akhirnya ia bebas ke mana pun yang ia mau.
“Aku akan menghancurkan Korea Utara dengan tanganku sendiri.” Jiyeon menutup kedua matanya dan merencanakan sesuatu di dalam kepalanya. “Hah! Hidup begitu rumit.”
Jiyeon menyandarkan punggungnya pada sebuah sandaran kursi kayu menghadap sungai Han nan bersih. Udara kala itu terasa sejuk sekali. Bersantai dan menikmati hidup. Itulah yang seharusnya ia lakukan sejak dulu. Tetapi ternyata takdir berkata lain.
“Maka dari itu, kau harus kuat dan sabar.”
Deg!
Tiba-tiba sebuah suara tertangkap indera pendengaran milik Jiyeon. Gadis itu sontak membuka matanya kemudian menoleh kanan-kiri, mencari sosok orang yang mengatakan kalau dia harus kuat dan sabar.
“Sudah lama tidak melihatmu bersantai ria seperti ini, Jiyeon-a.”
Jaejoong berjalan mendekati Jiyeon yang masih duduk manis di atas bangku kayu.
“Oppa? Kau… benar-benar oppa, kan?” Sungguh tak disangka, Jaejoong muncul di hadapan Jiyeon dengan senyum terkembang.
Jaejoong mengangguk mantab. “Tentu saja ini aku, bukan Kim Myungsoo.” Ia mendudukkan tubuhnya di kursi yang sama dengan Jiyeon. “Wah, rupanya adikku sudah semakin dewasa dan….”
“Dan apa?”
“Bertambah tua. Hahahaha!” Jaejoong tertawa lepas setelah membuat Jiyeon kesal.
“Ish!” Jiyeon kesal. Meskipun kesal pada kata-kata Jaejoong, gadis itu merasa bahagia sekali bisa bertemu dengan sosok namja yang telah dirindukannya sejak lama. “Aku senang bertemu dengan oppa. Sungguh, aku tidak menyangka kalau oppa akan datang ke sini. Gomawo.”
Jaejoong hanya tersenyum kemudian mengacak rambut panjang Jiyeon. “Kau harus bertanggung jawab terhadapku.”
“Eh? Bertanggung jawab?”
“Iya, bertanggung jawab. Jadi, kau harus membantuku mencari pekerjaan di negara ini. Dengar Jiyeon-a, mulai hari ini aku akan tinggal di sini.”
“Benarkah? Bagaimana dengan keluarga presiden Korut?”
Jaejoong tidak menjawab dan hanya tersenyum.

Tbc

5 responses to “Love is Not A Crime[Chapter 19 – Pre Final]

  1. Kesian sekali myungyeon. Terutama myungsoo. Harus menahan perasaannya terhadap jiyeon dan ingkari beberapa janji. Tunggu selanjutnya. Harap ada kedamaian dan myungsoo bersatu. Ku duga myungsoo pasti melakukn sesuatu utk membuat jaejoong berada di korsel skrg

  2. Aku kok udah pernah baca ya.aku udah nunggu chapter 20 nya.. Myung hati kmu bnr2 kyak baja. Liat yeoja yang dicintainya nangis cuma diam..ahhh bnr2 menguras emosi bgt.. Fighting

  3. Akhirnya sohee dan soojin masuk penjara… Jdi permasalahannya tinggal ‘perang saudara’ dan jiyeon yg ingin menghancurkan korut ? Berharap myungyeon bisa brsatu dgn bahagia. Kasian mereka trsiksa begini TT
    Keep writing, ditunggu final chapternya. Fighting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s