[Ficlet – Series] Second Choice #2

image

Previous

SECOND CHOICE #2
“Oh My God”
Laykim Artposter & Storyline

Main Cast:
Oh Sehun, Park Jiyeon, Bae Suzy
Support Cast:
Seo Joohyun & Kim Jongin
Genre:
Romance, AU, Friendship, School life
Length: Ficlet – Series
Rating: General

“Selamat datang!” ucap Jiyeon sambil membungkukkan punggungnya ke depan. “Silahkan masuk, Tuan dan Nyonya Oh.”
Tuan dan nyonya Oh masuk ke dalam rumah besar keluarga Park yang dikenal sebagai kumpulan orang-orang sukses. Ya, bagaimana tidak? Tuan dan nyonya Park memiliki perusahaan masing-masing. Anak perusahaan mereka tersebar di beberapa negara.
***

Acara makan malam dimulai. Selama acara itu berlangsung, canda dan tawa bahagia terdengar jelas di dalam rumah mewah keluarga Park, bahkan terdengar juga di pekarangan rumah mereka.
15 menit kemudian, acara makan malam diganti dengan sesuatu yang akan membuat Sehun dan Jiyoen kaget.
“Acara apa lagi?” tanya Sehun datar. Nampaknya namja dingin itu enggan untuk berlama-lama di kediaman Park Jiyeon.

Park Jiyeon sedari tadi diam. Sudah hampir 10 menit ia tidak membuka mulut sama sekali. Seleranya untuk bicara sudah menurun gegara melihat sosok Sehun yang amat mengesalkan.
Dentang waktu terus berjalan tanpa mempedulikan betapa asyiknya keluarga Park mengobrol dengan keluarga Oh. Melihat waktu yang semakin larut malam, tuan Park ingin meminta keluarga Oh untuk mempersingkat waktu.
“Kita persingkat saja, takutnya keluarga Oh akan merasa lelah karena malam semakin larut.” Tuan Park memulai bicara pada semua orang yang duduk di ruang tamu, termasuk Jiyeon dan Sehun.

Jiyeon menatap datar ke arah ayahnya. Ia tidak peduli apapun yang akan dikatakan oleh ayahnya.

“Baiklah, kita langsung pada inti pembicaraan tadi. Kedatangan kami ke tempat keluarga Park adalah untuk membicarakan perjodohan putra kami Oh Sehun dengan putri keluarga Park, yaitu Park Jiyeon,” terang tuan Oh dengan menunjukkan ekspresi cerah, secerah mentari pagi di musim semi.

“Apa?” pekik Jiyeon dan Sehun. Mereka tidak menyangka bahwa inti dari pertemuan itu untuk membicarakan masalah perjodohan.

“Aku tidak mau, Eomma,” rengek Jiyeon. Hari ini merupakan hari sial baginya. Semua ketidakberuntungannya terjadi pada hari ini.

“Jiyeon-a,” lirih nyonya Park. “Kita sudah sepakat untuk menjodohkan kalian berdua. Setelah lulus SMA, kalian bisa segera menikah.

“Menikah?” pekik Sehun.
Jiyeon menoleh ke arah Sehun dan tatapannya seakan ingin membunuh namja jangkung itu.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Sehun tidak terima jika Jiyeon menatapnya lekat-lekat.
“Siapa yang menatapmu? Berlebihan sekali….” Jiyeon memalingkan wajahnya dan tidak mau melihat Sehun yang duduk di sampingnya. Ia kesal sekali, kenapa harus ada perjodohan? Sekarang ini zaman modern, tetapi kenapa masih ada kata ‘perjodohan’?
***

Menjelang tidur, Jiyeon masih ingat kata ‘perjodohan’. Pertemuan tadi merupakan acara pertunangan yang tidak disetujui olehnya ataupun Sehun. “Ini namanya pemaksaan. Mana mungkin aku mau bertunangan dengan namja menyebalkan itu. Ya Tuhan, aku harus menyandang predikat ‘Tunangan Oh Sehun’. Semoga tidak ada yang tahu tentang hal itu.”

Keesokan harinya, sekolah gempar dengan adanya kabar mengejutkan yang tersebar dengan cepat di kalangan siswa, terutama para siswi yang mengidolakan Oh Sehun. Mereka mulai mencibir pertuangan Jiyeon-Sehun dan mengatakan kalau Jiyeon yang meminta pertunangan itu diadakan. Jiyeon pusing dan penat. Ke manapun ia pergi, pasti ada siswi yang ingin membully-nya. Untung saja ia gadis yang berani dan kuat. Ia ingin tahu, siapa yang menyebarkan berita itu? Memang bukan gosip atau isu semata. Pertunangan itu memang telah terjadi dan Jiyeon telah dibuat pusing hingga dirinya harus kehilangan semangat belajar di sekolah.

“Memangnya siapa yang mau menjadi tunangan Oh Sehun?” gumamnya lirih saat berjalan menuju kelasnya.

Jiyeon menghentikan ayunan langkah kaki jenjangnya secara tiba-tiba. Pemandangan yang membuatnya teringat pertemuan dengan Oh Sehun pun terngiang dalam ingatan. Jiyeon menatap acuh pada sepasang kekasih, Sehun-Suzy yang berjalan di depannya. Ketiganya berhenti di depan kelas Jiyeon dan saling menatap.

“Park Jiyeon?”
Jiyeon mendengar Suzy mengucap namanya lirih.

“Kenapa kau menyebut namaku?” tanya Jiyeon datar.
Gadis bernama Bae Suzy itu memang cantik dan pantas bersanding dengan Oh Sehun. Jiyeon benar-benar bisa gila. Orang tuanya memaksakan dirinya menjadi pihak ketiga dalam hubungan asmara Sehun dan Suzy.
Suzy nampak sedikit sedih saat bertemu dengan Jiyeon, apalagi Sehun juga melihat Jiyeon yang kenyataannya lebih cantik dari dirinya.

“Tolong minggir, aku tidak bisa lewat kalau kalian masih di situ.”
Sehun menggeleng pelan. Jiyeon pun melihat gerakan kepala Sehun itu dan berdecak pelan. Sepasang kekasih itu pun akhirnya pergi dari hadapan Jiyeon. Saat itulah banyak siswi yang mengejek dan mengolok Jiyeon. Mereka mengatakan kalau Jiyeon adalah gadis penggoda, gadis perusak hubungan asmara orang lain, gadis yang sangat berambisi untuk mendapatkan Oh Sehun.

Brukk!!
Jiyeon menjatuhkan dirinya di atas bangku dengan kasar. Tasnya ia banting begitu saja sebagai pelampiasan kekesalannya pada nasib buruk yang menimpanya. Kenapa jalan hidupnya berubah seperti ini?

“Sabarlah, Jiyeon-a,” ucap Joo Hyun memberikan dukungan moral pada Jiyeon. Sahabat terbaik akan selalu ada untuk menghibur di kala sedih atau susah.
“Bukan aku yang menginginkan pertunangan itu. Kedua orang tua kami yang menginginkannya. Mana mungkin aku mau bertunangan secepat itu dengan namja aneh yang baru ku kenal?” keluh Jiyeon. Ia ingin sekali menceritakan semua yang ia rasakan pada Joo Hyun.

Joo Hyun menepuk bahu Jiyeon. Ia yakin kalau Jiyeon pasti dapat melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Jika dirinya berjodoh dengan Sehun maka mereka bisa bersatu dalam ikatan pernikahan.
“Joo Hyun-a, jangan membayangkan sesuatu tentang aku dan Sehun. Kami tidak setuju dan tidak menginginkan pertunangan ini. Ah, aku seperti gadis murahan yang ingin merebut kekasih orang lain. Aku… seperti gadis yang tidak laku, Joo Hyun-a.” Jiyeon kesal sekali. Ia mampu mencari pasangan hidup dengan caranya sendiri, bukan dengan perjodohan. Jadi, ini yang dimaksud oleh ibunya? Inilah yang dimaksud berkaitan dengan masa depannya. “Aku bisa gila. Aku benar-benar tidak dapat membayangkan bagaimana hubungan ini bisa berjalan.”

Joo Hyun terdiam mendengar penuturan Jiyeon. Dia juga tidak memberikan komentar apapun.
“Joo Hyun-a, kau bisa menebak apa yang terjadi padaku?” tanya Jiyeon
Joo Hyun menggeleng. “Tidak, aku bahkan tidak dapat berkomentar, Jiyeon-a. Ini sangat rumit.”
Jiyeon mendesah kesal.
“Dua minggu lagi ada pesta dansa. Kau harus tunjukkan pada Sehun bahwa kau lebih baik dari Suzy sehingga Sehun bisa meninggalkan kekasihnya itu dan kau tidak perlu terombang-ambing diantar hubungan mereka berdua. Atau….”
Jiyeon menyipitkan matanya. “Atau apa?”
“Atau… kau paksa saja Sehun menari denganmu. Kalian pasti serasi. Kau kan tunangannya, jadi kau lebih berhak atas Sehun.”
“Seo Joo Hyun, jangan bodoh! Aku harus menjaga harga diri. Jika Sehun tidak menganggapku sebagai tunangannya, untuk apa aku berharap padanya? Sehun hanya mencintai Suzy. Jadi, aku akan membatalkan pertunangan ini dan mengadu pada ayahku kalau ada seseorang yang membocorkan rahasia pertunanganku.”
***

Tiga hari berlalu. Jiyeon terlalu gundah memikirkan acara pesta dansa yang akan digelar 11 hari lagi. Ia ingin sekali datang ke acara itu namun tidak memiliki pasangan yang dapat diajak ke acara menyenangkan itu.
“Pesta itu pasti menyenangkan,” lirihnya sambil menutup laptop. Ia baru saja belajar mata pelajaran yang akan diajarkan besok. Untung saja mood nya belajar di rumah masih tinggi, kalau tidak, ia pasti sudah ketinggalan jauh.
Pukul tujuh pagi, Jiyeon berangkat ke sekolah tanpa diantar sang ayah. Ia memilih naik bus daripada membawa sepeda atau mobil ke sekolah. Perjalanan ke sekolah membutuhkan waktu 30 menit karena jarak sekolah dengan rumahnya cukup jauh.
Setiba di sekolah, ia melihat beberapa siswa yang sudah datang, berjalan ke arah kelas mereka masing-masing. Masih sepi, batinnya.

“Oh Sehun?” lirih Jiyeon saat melihat Sehun berjalan menyusuri koridor kelas satu dengan langkah sangat pelan. Ada sesuatu yang terjadi padanya. Cara berjalannya tidak sama seperti biasanya.

“Sehun-a!” panggil Jiyeon. Ini kali pertamanya Jiyeon memanggil nama Sehun.
Oh Sehun mendengar Jiyeon memanggil namanya namun ia tidak mempedulikan gadis yang berstatus tunangannya itu.

“Hei Oh Sehun! Berhenti!”
Jiyeon berlari menyusul Sehun yang masih berjalan dengan gontai. “Apa yang terjadi padanya?” gumam Jiyeon.

Sehun ingin menjauh dari Jiyeon namun kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Sehun terjatuh. Untung Jiyeon segera sampai di tempat Sehun. Ia menarik lengan kanan Sehun sehingga namja itu tidak tersungkur di atas tanah. “Hei, ada apa denganmu?” tanya Jiyeon cemas.

Sehun menatap Jiyeon sesaat. “Aku tidak apa….”
Namja itu belum selesai menjawab pertanyaan Jiyeon, dirinya sudah tak sadarkan diri.
“Oh Sehun!” teriak Jiyeon berusaha membangunkan Sehun yang tengah pingsan.
Sehun terjatuh dan tak sadarkan diri dengan salah satu tangannya memegang perut bagian kanan bawah. Wajah dinginnya nampak pucat pasi, semakin menakutkan lagi ketika namja itu mengatupkan kedua kelopak matanya.

Tbc

6 responses to “[Ficlet – Series] Second Choice #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s