Love Is Not A Crime [Chapter 18]

image

Main Cast:
Park Jiyeon (as Gongju), Kim Myungsoo, Yoon Soo Hee (as Park Soo Hee)
Other Cast:
Park So Jin, Park Jungsu ‘Leeteuk SJ’, Haeri ‘Davichi’, Kim Young Woon ‘Kangin SJ’, Kim Jaejoong, Im Siwan, Lee Donghae, Shindong SJ, Jung So Min, Changmin ‘DBSK’
Genre:
Romance, family, action
PG – 13

Mulai chapter ini, alurnya berbeda dengan drama asli Princess Ja Myung Go
Sorry for typos

“Appa, bagaimana persiapan Pemilu Presiden yang akan diselenggarakan 2 hari lagi?” Jiyeon melontarkan pertanyaan hanya untuk mengisi kesunyian di dalam ruang makan pagi itu.
Presiden Park tidak segera menjawab. Laki-laki paruh baya yang masih bertanggung jawab terhadap rakyatnya hanya mampu berdehem. Entah apa yang sedang dipikirkan, yang pasti dia belum menemukan jawaban atas pertanyaan Jiyeon.
Menyadari bahwa ayahnya belum bisa menjawab, Jiyeon hanya tersenyum tipis. “Aku harap semuanya berjalan dengan lancar sesuai harapan,” ucapnya lirih saat bersiap menyantap sarapan pagi dengan menu makanan khas Korea yang tak kalah lezat dari restoran terkenal.
***
Beberapa hari kemudian.
Beberapa mantan pejabat Negeri Ginseng telah berkumpul membentuk sebuah lingkaran di dalam sebuah ruangan kelas Internasional dengan penjagaan super ketat. Para mantan pejabat yang memiliki status penting dalam pemerintahan itu telah menunjukkan raut wajah serius saat sedang membahas suatu masalah negara yang sangat penting. Hal ini berkaitan dengan masa depan Korea Selatan sebagai sebuah negara merdeka. Nasib negara itu tak lebih dari perumpamaan Telur di Ujung Tanduk. Entah kapan waktunya, negara yang menjadi musuh bebuyutan Korea Utara itu akan hancur berkeping-keping jika tidak dapat menentukan pemimpin yang tangguh.
Sebuah pertemuan pejabat negara yang baru saja dipilih oleh presiden Korsel itu tk dapat diprediksikan apakah dapat mencegah perang saudara sesama negara semenanjung Korea atau tidak. Apa yang mereka bahas merupakan sesuatu yang tak seharusnya dibicarakan di kalangan pejabat.
“Mantan presiden Park pasti tahu mana yang terbaik untuk kita. Aku tidak ingin mengubah semua yang sudah berjalan selaras dengan keinginan rakyat.” Presiden terpilih, Shim Changmin, tetap ingin melanjutkan perjuangan mantan presiden Park yang dinilai telah melakukan sesuatu yang tepat.
“Aku ragu pada kemampuan mantan Presiden Kim,” sahut Hyukjae, Menteri Sosial Korsel.
“Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?” tanya Changmin yang merasa tersinggung atas perkataan Hyukjae. Dia merasakan aliran darahnya berdesir melewati pembuluh darah yang tersebar di seluruh bagian tubuhnya.
Hyukjae menelan ludah keringnya. “Dia tidak pernah meminta pejabatnya untuk menilai kinerja kepemimpinannya.”
“Apakah seorang presiden harus meminta pendapat kepada menterinya? Dari mana kau mendapatkan sumber yang menyatakan bahwa presiden meminta pendapat menterinya dala mengatur negar dan menentukan kebijakan sesuai dengan hak presiden?
“Aku tidak akan meminta pendapat pada siapapun. Melalui rapat ini, aku menunjuk Park Jiyeon sebagai Perdana Menteri Korea Selatan. Tidak ada yang bisa menggugat keputusaanku ini,” tegas Presiden Shim.
Hyukjae dan beberapa orang lainnya meludah kecil. Hal itu mereka lakukan untuk menunjukkan sikap kecewa atas keputusan Changmin sebagai presiden Korsel terpilih.
“Bukankah keputusanmu juga harus berdasarkan musyawarah semua elemen pemerintahan? Kau telah melakukan sebuah kesalahan, Presiden Shim. Seharusnya langkah pertama yang kau lakukan adalah menunjuk dan melantik seorang perdana menteri. Setelah itu kau bisa menunjuk menteri-menteri sesuka hatimu. Kesalahanmu ini bisa menjadi perbincangan dunia Internasional. Apakah kau sudah lupa aturan dalam pemerintahan? Atau kau hanya ingin memenangkan keluarga Park sebagai penguasa Korsel? Bukankah itu namanya nepotisme?” Yoochun terpancing emosi dan ingin meluapkannya di dalam rapat itu.
“Aku sama sekali tidak ingin membahas keluarga presiden Park dalam pertemuan ini. Yang akan kita bahas adalah rencana pelaksanaan pemerintahan. Tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga Park. Masalah Park Jiyeon, kalian bisa memberikan tes kemampuan padanya jika itu yang kalian inginkan.”
Semua terdiam mendengar kata-kata yang diucapkan oleh presiden Shim dengan nada serius dan terdapat penekanan di beberapa kata.
“Apakah kami harus mempercayainkata-kata Anda, Presiden?” tanya Hyukjae dengan maksid menyindir Changmin.
“Bukankah sudah ku katakan, kalian bisa memberikan tes ini itu pada Park Jiyeon. Aku yakin dia dapat melakukannya dengan baik. Kalian harus melihat kemampuan Park Jiyeon yang sesungguhnya. Gadis itu bahkan lebih cerdas dari kita semua.” Changmin tersenyum merasa menang dari beberapa orang yang ingin membelot.
Orang-orang yang ingin membelot tentu saja anak buah Haeri yang tidak dapat diampuni karena mereka juga lah yang berpartisipasi dalam melakukan tindakan yang tidak adil sama sekali terhadap Jung Kyung Ho dan Jiyeon.
Chamgmin dan mantan presiden Park telah memprediksikan hal di mana anak buah Haeri akan selalu memberikan halangan dan menyulitkan pelaksanaan pemerintahan yang bersih, adil, dan sesuai dengan keinginan rakyat. Changmin tidak akan mundur dan kalah dari mereka yang ingin menggulingkannya. Apabila mereka dapat menggulingkan Shim Changmin dari jabatan presiden, itu artinya mereka dapat mengobrak-abrik pemerintahan dengan mudah. Dengan kata lain, Changmin adalah dinding utama pertahanan Korsel dari serangan intern pemerintahan. Hal ini lebih sulit dan menantang dibanding serangan dari luar negeri.
***
Rapat tertutup antara presiden Shim dengan mantan pejabat yang memiliki peran penting dalam pemerintahan terdahulu telah usai. Hasil rapat tersebut adalah terpilihnya putri mantan presiden Park, yaitu Park Jiyeon sebagai perdana menteri Korea Selatan.
Jiyeon telah mengetahui hal ihwal penunjukkan tersebut. Hal inilah yang disebut-sebut sebagai rencana besar yang disiapkan oleh Tuan Park, Soo Jin, dan presiden Shim Changmin. Jiyeon akan mengemban tugas menjadi perdana menteri bersama dengan Changmin selaku presiden. Persiapan pelantikan pun dilakukan dengan penuh ketelitian dan penjagaan ketat. Perdana menteri dalam negara yang memiliki sistem pemerintahan Demokrasi Parlementer.
“Eomma, apakah aku bisa mengemban tugas penting sebagai perdana menteri? Semua orang di dunia ini telah mengetahui siapa diriku sebenarnya. Aku hanya gadis yang tidak berpendidikan tinggi. Aku juga pernah menjadi pengawal di istana kepresidenan Korea Utara. Apakah semua itu benar-benar tidak masalah?” Jiyeon cemas jika nanti saat pelantikan akan ada banyak protes dan demo yang dilakukan oleh masyarakat Korsel. Tak hanya itu, mungkin masyarakat dunia juga akan mengecam Korsel karena telah salah mengangkat perdana menteri.
“Tidak ada yang perlu kau cemaskan, Sayang. Kau adalah yang terbaik untuk negara kita. Masyarakat pasti akan bangga memiliki pemimpin pemerintahan negara sepertimu,” kata Soo Jin untuk membesarkan hati Jiyeon yang dilanda kecemasan tingkat tinggi.
Jiyeon mengangguk dan tersenyum tipis. Ia sangat bersyukur telah menemukan keluarganya. Apapun yang terjadi, orangtuanya akan mendukungnya sepenuh hati. Itulah yang membuat Jiyeon tetap tegar dalam menghadapi musuh dalam selimut.
***
Malam ini tak terasa seperti malam biasanya di musim gugur. Bunga sakura yang telah layu jatuh berguguran dan tak sedikit yang berserakan di jalan. Jiyeon terduduk di teras depan rumahnya seorang diri. Menikmati sapaan angin musim gugur yang sangat terasa nyaman.
Tap tap tap!
“Aigoo, rupanya ini yang dilakukan seorang putri mantan presiden dan sekaligus perdana menteri Korea Selatan?”
Suara Soo Hee mengejutkan Jiyeon yang tengah asyik menikmati hembusan angin musim gugur. Jiyeon membuka kedua matanya dan menatap tajam pada sosok gadis yang berdiri di depannya.
“Ckck. Apakah kau melakukan hal ini karena merasa kesepian sepanjang hari dan tidak melakukan hal-hal berguna sepanjang waktu?” tanya Jiyeon dengan sengit untuk membalas penghinaan yang dilakukan oleh Soo Hee.
Soo Hee mendekati Jiyeon dengan langkah santai yang diayunkan sepasang kaki jenjangnya. “Semakin ku lihat dari dekat, aku sadar bahwa kita memang berbeda. Yah, meskipun di dalam tubuh kita berdua mengalir darah seorang ayah yang sama, aku tidak akan menjadi orang sebodoh dirimu. Jika aku menjadi dirimu… aku akan melakukan sesuatu untuk merebut kekasihku yang telah menikah dengan saudaraku.”
“Kau ingin memancing emosiku?”
“Anhiyo. Aku tidak perlu melakukan hal itu. Kau sudah cukup terpancing dengan apa yang telah terjadi selama ini. Iya, kan?” kata Soo Hee sinis. “Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan bertahan sampai akhir. Aku yang selalu berada di sisi suamiku atau kau yang selalu ingin mendapat tempat di hati rakyat dan menyelamatkan negara? Hidup terasa lebih menantang, bukan? Aku ingin tahu seberapa besar kekuatanmu untuk bertahan dari keadaan ini. Kau pasti tidak akan kuat menghadapi apa yang akan terjadi nanti.”
“Apa maksudmu?” tanya Jiyeon yang memang tidak mengerti arah pembicaraannya dengan Soo Hee. Saudara tirinya itu bicara tanpa penjelasan yang dapat ia pahami. “Apa yang sedang kau bicarakan?”
Soo Hee tersenyum sinis. Tatapannya nampak merendahkan Jiyeon yang tidak mengerti alur perbincangan mereka berdua. “Aku pikir kau adalah gadis yang luar biasa sehingga Myungsoo oppa mencintaimu dan mencarimu mati-matian. Aku terkejut melihat ekspresimu yang tidak lebih baik dari seekor babi.”
Tap!
Tangan kanan Jiyeon berhasil meraih leher jenjang Soo Hee dan sedikit mencekiknya. “Katakan lagi jika kau benar-benar ingin mati!” Ucapan Jiyeon bukanlah sebuah ancaman belaka. Ia akan mengeratkan cengkeraman tangannya untuk membunuh saudara tirinya itu. “Kau kira aku tidak berani membunuhmu? Pikirkan baik-baik. Aku akan siap membunuhmu kapanpun aku mau. Tidak peduli kau adalah saudaraku, istri dari Kim Myungsoo atau orang lain. Siapapun yang berani menghinaku dan orang tuaku, akan ku pastikan orang itu mati di tanganku.”
Soo Hee sama sekali tidak takut pada ancaman Jiyeon yang akan membunuhnya kapanpun ia mau. Sebaliknya, gadis itu seolah menyuruh Jiyeon untuk menyakitinya agar ia mendapatkan simpati dari Korsel dan Korut. Ya, yang dapat dia lakukan saat ini adalah merebut simpati dari banyak orang, termasuk suaminya sendiri. “Aku tidak takut pada ancamanmu. Bunuh saja jika kau mau. Jika kau membunuhku, Myungsoo oppa akan membencimu seumur hidupnya dan kau tidak akan hidup tenang. Aah, aku tahu. Pasti inilah yang diajarkan oleh Jung Kyung Ho pada murid-mudridnya.”
“Jangan pernah menyebut nama mendiang guruku. Kau adalah orang pertama yang pernah aku temui dan telah berbuat keji pada anggota keluarga orang lain. Kau tidak pantas menyebut nama guruku.”
Soo Hee tersenyum sinis. “Mungkin saat ini gurumu sedang tersenyum melihat murid-muridnya hancur, terutama Kim Myungsoo. Sayang sekali dia telah menikahi orang yang membuatnya mengakhiri hidup.”
Deg!
Kata-kata Soo Hee membuat nyeri di dada Jiyeon. “Park Soo Hee! Jaga ucapanmu sebelum ku robek mulutmu itu!” Harus berapa kali Jiyeon menahan emosi karena ulah Soo Hee.
“Kau membuatku muak, Park Jiyeon.” Sesaat kemudian Soo Hee melenggang pergi dengan langkah angkuh yang selalu ia tunjukkan di depan Jiyeon.
Jiyeon tidak sudi melihat punggung wanita licik itu. Dia dan ibunya sama saja, dua wanita yang dikutuk menjadi iblis di dunia. “Kenapa ada orang sejahat itu?” Jiyeon mendesah kasar.
***
Keesokan harinya.
Tumpukan kertas-kertas penting menghias meja kerja presiden Korsel, Shim Changmin. Sebagai presiden kepercayaan rakyat, Changmin harus bekerja keras menyejahterakan rakyatnya. Meski presiden hanya sebagai kepala negara, bukan berarti Changmin harus melepas tanggung jawab sebagai pemimpin bangsa dan menyerahkannya pada Jiyeon – perdana menteri Korea Selatan.
Malam ini, presiden Shim dan perdana menteri Park tengah disibukkan dengan berbagai macam masalah yang terjadi pada seluruh kementerian. Beruntung Jiyeon adalah orang yang sabar dan tekun. Dengan semangat yang tinggi dan kemampuan yang cukup mumpuni, Jiyeon mampu memberikan masukan dan perintah-perintah kepada para menteri untuk memperbaiki kementerian yang menjadi tanggung jawab masing-masing. Pemerintahan yag baru harus jauh lebih baik dari pemerintahab sebelumnya. Ditambah lagi – kedua pemimpin bangsa masih tergolong sangat muda. Baik presiden maupun perdana menteri sama-sama belum memiliko pasangan. Itulah indikator yang digunakan rakyat dan warga asing dalam menilai usia mereka berdua.
Kembali pada kegiatan rutin yang harus dijalani Changmin dan Jiyeon di dalam ruangan berukuran cukup besar itu. Keduanya masih bertahan membelalakkan mata untuk membaca setiap kata yang tertulis di dalam berkas dan surat-surat kenegaraan.
“Oppa, seharusnya kau meminta menteri sekretaris negara untuk menyelesaikan ini. Kau tidak perlu menanganinya. Atau… biarkan aku yang memintanya,” ujar Jiyeon saat menatap iba pada Changmin yang tengah menata kumpulan kertas-kertas di atas meja kerjanya. ‘Oppa’ – itulah kata sapaan yang digunakan Jiyeon untuk memanggil Changmin. Keduanya berbeda tujuh tahun. Oleh karena itu, Jiyeon lebih nyaman memanggil Changmin dengan sebutan oppa.
“Menteri sekretaris negara? Tidak, aku ingin menyelesaikannya sendiri meski harus menyita waktuku,” jawab Changmin ringan sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi empuknya. “Jiyeon-a, apa yang akan kau lakukan pada saudarimu – Park Soo Hee? Bukankah dia sudah mengkhianatimu?”
Jiyeon tersenyum sinis. Tidak ada kebenaran atas pertanyaan yang ditanyakan oleh Changmin. “Tidak ada istilah ‘mengkhianati’ diantara kami berdua. Aku dan Soo Hee tidak pernah akur.”
“Bukankah kau pernah menyelamatkannya? Bahkan kau rela mendapat luka tembak dan membunuh jenderal Korsel?” Changmin kembali mengajukan pertanyaan yang cukul sulit dijawab oleh Jiyeon.
Sembari membereskan beberapa lembar berkas-berkasnya, Jiyeon menjawab,”Aku menyelamatkannya karena hubungan keluarga. Dia adalah saudari tiriku. Tapi sekarang… dia adalah musuhku. Terlebih karena Soo Hee merupakan salah satu orang yang menyebabkan kematian guruku. Dia juga merebut Myungsoo dariku.”
Jiyeon mendesah kasar. “Alasan dia menikah dengan Myungsoo – yang pertama karena dia mencintai namja itu. Kedua, dia ingin membuatku sakit hati. Ketiga, mungkin saja dia ingin mengadu domba Korsel dan Korut.”
Changmin menggeleng pelan – mendengar penjelasan tentang Soo Hee dari mulut seorang Park Jiyeon. “Jika kau menikah dengan Myungsoo, mungkin saja akan tercipta kedamaian. Tapi faktanya Soo Hee yang menikah dengan Myungsoo. Dugaanku – bukan kedamaian yang akan tercipta, namun peperangan yang akan terjadi antara Korsel dan Korut. Aku penasaran sekali bagaimana pola pikir gadis itu….”
“Sudahlah, jangan membahas Soo Hee. Gadis itu tidak layak dibicarakan seperti ini.” Jiyeon menutup penanya. “Aku dengar oppa dan appa mengundang pejabat Korut untuk makan malam di sini….”
“Hmm, benar. Kami hanya ingin menjalin hubungan yang harmonis sebagai sesama negara Asia. Terlebih lagi – kita berbagi wilayah dengan Korut.”
“Ada benarnya juga. Jamuan makan malam itu… harus mendapat penjagaan super ketat. Jangan sampai ada pihak lain berhasil membuat pertemuan itu menjadi bumerang dan penyebab perang.”
***
Jamuan makan malam yang dibicarakan oleh Jiyeon dan Changmin sebenarnya adalah pertemuan bilateral antara Korut dan Korsel untuk membahas perang yang mungkin dilancarkan oleh pihak Korut. Perang itu pasti menyebabkan banyak kerusakan pada infrastruktur Korsel. Apalagi dampak nuklir pasti akan berdampak sangat berbahaya bagi kehidupan manusia. Tidak hanya kematian namun kecacatan fisik secara permanen akan diderita oleh warga Korsel.
Berbagai pihak menunggu datangnya momen bersejarah yang mungkin dapat menentukan masa depan Korsel dan Korut, termasuk Haeri dan antek-anteknya. Tentu saja mereka ingin mengambil keuntungan pribadi atau kepentingan kelompok mereka. Tidak mungkin Haeri dan antek-anteknya sudi memikirkan nasib rakyat Korsel. Untuk membahas masalah tersebut, mereka mengadakan pertemuan seperti biasanya yang dilakukan di rumah Junsu.
Haeri dan beberapa orang pendukungnya telah berkumpul mengelilingi meja makan berbentuk elips di rumah Junsu. Meja beserta makanan yang terhidang di atasnya akan menjadi saksi biksu rencana jahat Haeri dan antek-anteknya.
“Senang sekali melihat wajah kalian berseri-seri seperti ini. Kita telah kalah satu kali saat pemilihan presiden. Untuk itu, kali ini kita harus berhasil. Tujuan dari pertemuan ini untuk menyingkirkan Park Jiyeon dan Shim Changmin dari posisi mereka. Kita akan memanfaatkan momen jamuan makan malam sebagai satu-satunya penyebab lengsernya Jiyeon dan Changmin. Dengan begitu, kita bisa memiliki kesempatan untuk merebut posisi tersebut.”
Beberapa orang yang hadir dalam pertemuan itu dibuat kagum oleh Haeri yang terkenal dengan kecerdikan dan kelicikannya. Tidak salah jika mereka memilih mantan istri presiden itu sebagai pemimpin mereka. Gerakan itu dapat dikategorikan sebagai gerakan pengkhianatan. Namun sayangnya hingga saat ini tak ada yang berani melaporkan Haeri dan antek-anteknya melalui halur hukum atau setidaknya masyarakat mengetahui wajah buruk Haeri dan kelompoknya.
“Aku sangat kagum pada nyonya. Apa rencana nyonya selanjutnya?” tanya Junsu yang setia melakukan apapun yang diperintahkan oleh Haeri.
Wanita licik itu tersenyum bangga pada dirinya sendiri. “Tentu saja aku memiliki otak cerdas, tidak seperti kalian. Ingat! Kita harus selangkah lebih dulu. Jangan sampai kita mengalami kekalahan seperti pemilu. Kali ini aku akan membuat sesuatuq yang heboh dan menggemparkan. Aku jamin, Jiyeon dan orang-orang yang berada di pihaknya akan kalang kabut mengatasu masalah yang akan kita buat.”
Seluruh hadirin penasaran apa rencana Haeri.
“Aku membutuhkan beberapa orang sebagai kaki tangan dan dana lebih banyak untuk misi ini,” ujar Haeri melirik setiap orang yang duduk di sekelilingnya.
“Masalah itu pasti saya selesaikan, Nyonya,” ucap salah seorang kepala polisi daerah yang haus kekuasaan seperti Haeri dan yang lainnya.
“Baguslah!” ucap Haeri senang.
***
Hari yang dinanti seluruh warga Korsel dan Korut pun tiba. Jiyeon dan Changmin berusaha menghilangkan rasa gugup mereka. Malam ini, pejabat Korut akan makan malam dengan para pejabat Korsel di istana kepresidenan. Shim Changmin sebagai presiden Korsel – telah duduk manis di dalam ruang kerjanya – menanti kedatangan tamu terhormat yang akan datang dalam waktu beberapa menit lagi.
Tap tap tap!
Jiyeon datang mendekati Changmin yang tampak risau menanti para tamunya. Ia tersenyum melihat penampilan Changmin yang terlihat menawan dan sangat berwibawa. “Oppa, aku sampai tercengang melihat penampilanmu. Daebak!” Jiyeon mengacungkan dua jempol tangannya pada Changmin – berharap namja itu dapat sedikit tenang.
Changmin membalasnya dengan senyuman. “Jangan membuatku merasa seperti seorang raja.”
“Nada bicaramu dingin sekali, Oppa. Jangan terlalu gugup. Mereka akan tahu jika kau masih seperti ini. Kita harus terlihat tegar. Jangan seperti itu! Tegakkan punggungmu!” Jiyeon memperlakukan Changmin seperti memperlakukan Jaejoong dan Myungsoo. Senyumnya terkembang saat melihat Changmin menurut – menegakkan punggungnya. “Oppa, jabatanmu lebih rendah dariku. Tapi kenapa justru oppa yang merasa gugup? Harusnya aku yang seperti itu.”
Changmin mendesah kasar. “Beraninya perdana mennteri bicara seperti itu.”
Jiyeon mengedarkan pandangannya. Tak ada siapapun di ruang itu, kecuali mereka berdua. “Lihatlah! Tidak ada siapapun di sini. Tak ada yang melihat kita bicara informal seperti ini. Oppa, santai saja….” Jiyeon duduk di atas sofa dengan santai. “Sebenarnya aku juga gugup.”
Changmin berdiri. “Kemarilah!” Ia menarik lengan Jiyeon agar gadis itu menegakkan tubuhnya dan mereka berdiri berhadapan.
“Waeyo?” tanya Jiyeon bingung.
Changmin melingkarkan tangan kirinya pada pinggang ramping Jiyeon. Sontak – hal itu membuat Jiyeon seperti disengat listrik. Tetap diam, Jiyeon membiarkan Changmin melakukan apapun yang akan dilakukan. Detik berikutnya, namja tampan itu menarik tengkuk Jiyeon dengan tangan kanannya dan mendekatkan wajah mereka.
Jantung Jiyeon berdetak tak karuan, begitu juga Changmin. Perlahan tapi pasti, Changmin semakin mendekatkan wajahnya kemudian menempelkan bibirnya pada bibir merekah milik Jiyeon.
Jiyeon tegang. Berciuman. Ya, saat ini ia sedang berciuman dengan presiden Korsel. Seumur hidup, hanya Myungsoo yang pernah merasakan manisnya bibir Jiyeon yang mungil dan terasa manis.
Changmin semakin memperdalam ciumannya. Dia melumat bibir Jiyeon pelan. Ia sangat menikmati bibir mungil itu.
***
Iring-iringan mobil yang membawa sejumlah pejabat Korut yang datang untuk menghadiri jamuan makan malam tiba di halaman istana kepresidenan Korsel. Penjagaan super ketat diberikan oleh kedua negara untuk menjaga keamanan masing-masing pejabat. Pertemuan itu sangat penting, terlebih mengingat hubugan Korut dan Korsel yang memanas pada akhir-akhir ini.
Sesampainya di depan pintu masuk gedung istana, para pejabat penting itu keluar dari mobil masing-masing dan melambaikan tangan pada beberapa orang wartawan yang telah mengantongi izin meliput acara malam itu.
Kim Myungsoo nampak berada di tengah-tengah para pejabat Korut yang berjalan menuju ruang utama gedung istana kepresidenan. Ia memasang senyum dingin khas miliknya.
“Selamat datang,” ucap Presiden Korsel, Shim Changmin – yang tengah berdiri di dalam sebuah ruangan yang berukuran cukup besar untuk menampung 20 orang. Presiden tampan nan berwibawa itu menyilahkan para tamu pentingnya duduk di kursi yang telah disediakan – dengan begitu ramah.
Jiyeon turut memberi salam kepada para tamu yang telah masuk ke dalam ruangan itu, termasuk pada Myungsoo yang notabennya adalah mantan kekasihnya. Myungsoo menatap Jiyeon nanar. Tersimpan kerinduan dalam tatapan namja tampan dan dingin itu. Sedangkan Jiyeon hanya menyunggingkan senyum yang ia berikan juga pada para tamu yang lain.
Acara makan malam sebentar lagi dimulai. Changmin menyilahkan para tamu untuk beranjak menuju ruang makan istimewa yang telah disediakan. Tak segan, para tamu pun segera berdiri dari duduknya dan berjalan berbondong-bondong menuju ruang makan yang dimaksud oleh presiden Shim.
Jiyeon mengikuti rombongan tamunya menuju ruang makan. Dia telah memerintahkan para pelayan berseragam putih-hitam untuk menghidangkan makanan pembuka.
Makanan telah disajikan. Meskipun jabatan mereka afalah pejabat penting di negara masing-masing, bola mata mereka membelalak saat melihat makanan lezat terhidang di atas meja. Jiyeon, Changmin, dan mantan presiden Park tersenyum. Ini merupakan salah satu point keberhasilan jamuan makan malam itu.
Beberapa menit telah berlalu begitu cepat. Makanan yang disajikan semakin banyak dan lezat.
“Silahkan dinikmati,” ucap Changmin agar para tamunya tidak sungkan mengambil makanan yang telah dihidangkan – seraya menyunggingkan senyumnya.
Uhukk!!
Tiba-tiba mantan presiden Park batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Seketika itu senyum Changmin memudar. Jiyeon yang tengah asyik menyuap nasi ke dalam mulutnya – segera berhambur mendekati ayahnya yang berada di samping kiri Changmin sedangkan tempat duduknya berada di samping kanan Changmin.
“Appa…” lirih Jiyeon kalut dan cemas. Sepengetahuannya, mantan presiden Park tidak memiliki penyakit parah dengan gejala batuk darah.
Myungsoo melihat kejadian itu. Ia bersiap menghampiri Jiyeon namun segera ditahan oleh ayahnya.
“Tidak perlu,” ujar mantan presiden Korut itu.
Myungsoo kembali mendudukkan diri di kursinya. Beberapa pejabat yang menyaksikan mantan presiden Park batuk berdarah – panik dan cemas. Mereka tidak menyangka bahwa mantan orang nomor satu di Korsel itu akan menunjukkan sebuah pertunjukan yang menyedihkan.
Changmin menyuruh bodyguard-nya membawa mantan presiden Park ke rumah sakit. Jiyeon serba salah. Dia ingin sekali mengikuti para bodyuard itu ke rumah sakit, tapi dia adalah perdana menteri yang tidak boleh menghilang begitu saja di saat-saat penting seperti ini. Dia hanya dapat menyaksikan tiga orang namja gagah membawa ayahnya kelaur dari ruangan. Kedua bola matanya memerah – menahan air mata yang hendak kelaur dari muara. Tangannya gemetar.
“Gwaenchana…” lirih Changmin memegang tangan Jiyeon agar tak ada yang melihat bahwa tangan gadis itu gemetar. Ia meminta Jiyeon kembali ke kursi yang ditinggalkan begitu saja.
***
Acara makan malam itu segera diselesaikan karena insiden yang mengagetkan semua orang – mantan presiden Park batuk berdarah. Para tamu berpamitan satu per satu. Mereka berterimakasih pada pemerintah Korsel atas jamuan makan malam meskipun mereka harus menyaksikan insiden yang menyedihkan tadi.
“Kami turut prihatin atas musibah yang menimpa mantan presiden Park. Semoga beliau lekas sembuh dan pulih seperti sedia kala,” ucap mantan presiden Kim – ayah kandung Kim Myungsoo.
Jiyeon hanya diam. Pikirannya melayang memikirkan keadaan ayahnya. Ingin sekali dia berlari ke rumah sakit sekarang juga. Jika Changmin tidak menahannya pergi, mungkin saat ini dia sedang mendampingi ayah tercinta di rumah sakit.
“Park Jiyeon-ssi, kami pamit kembali ke Pyongyang. Terimakasih atas kebaikannya. Semoga ayah anda lekas sembuh,” ucap ayah Myungsoo yang hanya mendapat respon ‘gamsahamnida’ dari Jiyeon.
Kim Myungsoo enggan meninggalkan Korsel. Bukan, dia enggan meninggalkan Jiyeon yang pasti sedang bersedih. “Appa, biarkan aku tinggal di sini. Ayah mertuaku sedang dirawat di rumah sakit. Bukankah sebaiknya aku mendampingi keluarga mereka?” bisik Myungsoo pada ayahnya. Bagaimanapun keadaannya, keluarga Park adalah keluarganya juga.
“Kau tidak perlu melakukannya. Jika kau ingin mengunjungi ayah mertuamu, lakukan secara resmi. Ini bukan masalah pribadi,” balas ayahnya – geram melihat Myungsoo yang lemah karena Jiyeon.
Myungsoo tetap bersikeras tinggal di Korsel. Ia tidak tega melihat Jiyeon yang tengah bersedih. Oh ada sesuatu yang ia lupakan. Jiyeon bukanlah istrinya, tetapi mantan kekasihnya. Jika ia ingin menghibur seseorang, Soo Hee lah yang harus ia hibur – bukan Jiyeon.
“Kim Myungsoo-ssi, terimakasih sudah berkenan tinggal untuk mendampingin keluarga Park,” ucap Changmin yang saat ini lebih mengkhawatirkan keadaan Jiyeon karena gadis itu terlihat pucat pasi.
Myungsoo tak begitu mendengar kata-kata Changmin. “Ah, iya,” ucapnya singkat. “Bagaimana kalau kita segera pergi ke rumah sakit?” usul Myungsoo karena sebenarnya dia ingin berdua dengan Jiyeon namun masih belum ada kesempatan yang pas.
Changmin setuju dengan Myungsoo. Sedangkan Jiyeon hanya menurut pada presiden Korsel itu. Mereka bertiga berangkat ke rumah sakit dengan satu mobil. Changmin duduk di sebelah sopir, sedangkan Jiyeon dan Myungsoo duduk di belakang. Presiden Korsel itu begitu menghormati tamunya sehingga ia rela duduk di depan bersama sang sopir. Iring-iringan mobil itu meluncur dengan kecepatan sedang.
Suasana hening. Jiyeon lebih banyak melamun. Myungsoo berkali-kali melirik ke arah mantan kekasihnya itu. Dia ingin menghibur Jiyeon atau setidaknya – sedikit berbincang dengan perdana menteri cantik itu.
‘Jiyeon-a, bersabarlah! Kau harus kuat. Sekarang… aku ada di sisimu, Jiyeon-a. aku mohon berhentilah menunjukkan ekspresi itu. Kau membuatku takut dan cemas,’ batin Myungsoo. Kata-kata itu tidak akan ia ucapkan di depan Changmin dan sang sopir. Dia tidak ingin orang lain mengetahui perasaannya yang sebenarnya. Mungkin Jiyeon pun sama sekali tidak mengetahui perasaannya yang tak pernah berubah untuk Jiyeon.
Dua puluh menit perjalanan telah dilalui. Iring-iringan mobil kepresidenan itu sampai di rumah sakit Hankuk, Seoul. Jiyeon, Changmin dan Myungsoo berjalan – lebih tepatnya berlari kecil menuju ruang operasi di mana mantan presiden Park tengah menjalani operasi.
Setiba di depan ruang operasi, Jiyeon terduduk lemas – tak berdaya dan menangis. “Appa…” lirihnya dengan suara parau.
Changmin tak sanggup melihat gadis itu menangis, apalagi Myungsoo. Perdana menteri Korut itu ingin memeluk Jiyeon namun ia harus menahan keinginan itu di depan banyak orang.
“Bersabarlah, Jiyeon-ssi.” Hanya kata-kata itu yang mampu terucap dari mulut seorang Kim Myungsoo. Ia kesal pada dirinya sendiri dan keadaan saat itu. Seandainya Jiyeon masih miliknya, dia pasti sudah memeluknya dan tak akan melepaskan gadis yang dicintainya itu.
Jiyeon masih terisak dalam tangisnya. Ia tak peduli bagaimana anggapan orang-orang yang melihatnya saat ini. Ia tak peduli pada apapun. Saat ini dirinya sedang rapuh. Seseorang yang bisa menguatkannya – tak bisa berbuat apa-apa dan hanya melihatnya menangis. Saat ini yang diperlukan Jiyeon bukan lagi Myungsoo karena namja itu tak mungkin dapat menghibur dan menguatkan dirinya. Saat ini dia sangat membutuhkan Jaejoong. Hanya namja itu yang dapat menenangkannya. “Oppa… Jaejoong oppa,” lirih Jiyeon di sela-sela tangisnya. Ia ingin menangis di dalam pelukan Jaejoong – orang yang sudah dianggap seperti kakak kandungnya.
Myungsoo mendengar Jiyeon mengucapkan nama Jaejoong samar-samar. Dia berusaha meyakinkan diri kalau telinganya tidak salah dengar. Ya, dia mendengar Jiyeon memanggil nama Jaejoong yang kini berada di Korut. Myungsoo mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya kemudian mengirim sebuah pesan untuk Jaejoong.
To: Jaejoong Kim
Hyung, kemarilah segera. Rumah sakit Hankuk, Seoul. Ayah Jiyeon sedang dioperasi. Aku mohon datanglah kemari dan tenangkan dia, Hyung.
Diantara orang-orang yang berdatangan ke tempat itu – depan ruang operasi, tak ada sosok Haeri. Yang ada hanya putrinya, Park Soo Hee. Dia pun baru tiba setelah diminta oleh Myungsoo untuk datang ke tempat itu.
Hanya berselang limat menit dari kedatangan Soo Hee, lampu operasi berubah menjadi hijau – yang menandakan bahwa operasi telah selesai. Tim dokter yang menangani mantan presiden Park – keluar dari ruang operasi satu persatu. Dokter terakhir yang keluar dari tempat itu – akan menjelaskan tentang keadaan mantan presiden Park.
“Saya ingin bicara dengan keluarga mantan presiden Park secara pribadi,” kata dokter ahli bedah yang terakhir keluar dari ruang operasi. Ia menatap ke arah Jiyeon seakan memberi isyarat kalau dirinya akan mengatakan sesuatu mengenai keadaan ayahnya.
Jiyeon melangkah – mengikuti ke mana dokter itu pergi. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti dan membalikkan badan. “Changmin oppa, aku mohon ikutlah bersamaku.”
Changmin sama sekali tidak menyangka kalau Jiyeon akan memintanya untuk menemani dirinya – mendengar penjelasan dokter yang mungkin akan membuat dirinya lemah atau malah jatuh pingsan.
Myungsoo dan Soo Hee hanya dapat menatap punggung Changmin dan Jiyeon yang melangkah semakin jauh dan menghilang di tikungan.
***
Jiyeon dan Changmin telah sampai di ruang kerja dokter yang akan menjelaskan keadaan mantan presiden Park. Mereka menghela nafas dalam-dalam, bersiap medengarkan segala yang akan dikatakan oleh dokter yang menangani operasi ayah Jiyeon.
“Saya tidak mau berbasa-basi. Kami – para dokter cukup kaget melihat keadaan mantan presiden Park. Tidak satu penyakit pun yang diderita oleh beliau.”
Jiyeon dan Changmin mengerutkan kening. Changmin bertanya,”Lalu apa yang terjadi pada beliau?”
“Mantan presiden Park mengalami keracunan fatal. Organ-organ vitalnya hampir berhenti bekerja jika saja tidak segera dibawa ke rumah sakit. Racun ini sangat mematikan. Beruntung beliau tidak pernah menderita sakit keras sebelumnya. Racun yang saya maksud – bisa merusak organ-organ vital. Bahkan bisa menghentikan kerja orang-organ tersebut. Jenis racun ini… belum dapat dipastikan karena di Korea Selatan maupun Korea Utara tidak akan ditemukan racun semacam ini.”
Hati Jiyeon hancur mendengar kalau ayahnya mengalami keracunan. Tentu seseorang ingin meracuni ayahnya dengan sengaja atau mungkin saja target racun itu bukan ayahnya, melainkan pejabat Korut atau bahkan Myungsoo.

TBC

2 responses to “Love Is Not A Crime [Chapter 18]

  1. Terima kasih atas updatenya!! Harap jiyeon akan kuat dan myungsoo juga dpt ertahan dan akhirnya myungyeon akan bersama.dan terkejut juga changmin cium jiyeon. Apa dia menyukainya? Hmm.. Dan sudah pasti haeri yg ingin meracuni dan merosak kedamaian korut dan korsel.

  2. Pingback: Love is Not A Crime[Chapter 19 – Pre Final] | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s