[Ficlet – Series] Second Choice

image

SECOND CHOICE
“Hello Boy”
Laykim Artposter & Storyline
Main Cast:
Oh Sehun, Park Jiyeon, Bae Suzy
Support Cast:
Seo Joohyun & Kim Jongin
Genre:
Romance, AU, Friendship, School life
Length: Ficlet – Series
Rating: General


FF ini pernah aku publish di wp pribadi dan wp umum punyaku sendiri; SMFFI

Teng teng teng!
Bel berbunyi dengan sangat nyaring dna sukses membuat semua siswa mengeluh. Pukul 8 pagi, SMA Hakgu mengadakan pertandingan voli untuk para siswi yang memiliki bakat di bidang olahraga voli. Tentu saja acara itu membuat beberapa siswi berlonjak kegirangan. Mereka dapat menunjukkan kemampuan masing-masing dan mungkin saja bisa mendapatkan beasiswa sampai lulus SMA.
Salah satu siswi yang antusias mengikuti pertandingan tersebut adalah Park Jiyeon, seorang siswi yang berasal dari keluarga kaya.

“Aku pasti ikut!” ujar Jiyeon terlalu bersemangat. “Namaku sudah ada di list peserta.”
“Apa? Jadi, kau sudah mendaftar?” tanya Joo Hyun kaget.
Jiyeon mengangguk secepat kilat dan senyumnya merekah, menghiasi wajah cantiknya. “Tentu saja. Sebentar lagi pertandingannya dimulai. Kau harus mendukungku!”

Joo Hyun heran melihat Jiyeon yang terlalu bersemangat ikut pertandingan bola voli. “Setan apa yang sedang merasuki tubuhnya? Kenapa dia mendadak semangat begitu?” gumam Joo Hyun seraya berjalan menuju lapangan di mana pertandingan voli akan dilaksanakan.
***

Jiyeon! Jiyeon! Jiyeon! Jiyeon!
Pendukung Park Jiyeon terus menerus meneriakkan namanya untuk memberi semangat pada gadis bersurai coklat-hitam itu. Pemilik manik mata nan indah itu tersenyum senang melihat pendukungnya bertambah banyak saat dirinya berhasil melakukan smash dan menambah skor timnya.
Satu ronde lagi.
Tim Jiyeon harus menang dengan skor tinggi. Seluruh anggota tim pun bermain dengan semangat membara. Namun saat giliran Jiyeon menangkis bola, rupanya bola itu melambung tinggi dan meluncur jatuh ke arah seorang gadis yang menjadi lawannya. Bae Suzy jatuh tersungkur di lapangan karena kepalanya terkena bola yang dilempar oleh Jiyeon. Penonton pun dibuat tercengang.

Park Jiyeon tidak menyangka kalau tangkisannya bisa sedahsyat itu. Ia pun bingung bukan kepalang.
“Bagaimana ini?” lirihnya panik.

Tiba-tiba seorang siswa bertubuh jangkung berlari ke tengah lapangan dan membawa Suzy ke UKS. Seketika itu, Jiyeon berlari meninggalkan lapangan dan menyusul siswa yang membawa Suzy.

Setiba di UKS, Suzy langsung ditangani oleh dokter yang berjaga. Sedangkan siswa jangkung tadi duduk di ruang tunggu dengan ekspresi datarnya.
Tap tap tap!
Langkah Jiyeon terdengar makin jelas dari UKS. Dia masuk ke dalam ruang UKS dan mendapati siswa itu.
“Di mana gadis itu?” tanya Jiyeon cemas.
Oh Sehun nama siswa itu. Ia menatap Jiyeon setajam silet. “Kau sengaja melakukannya, kan?”

Jiyeon kaget. Kedua bola mata membelalak bulat. “Apa? Aku bahkan tidak mengenal gadis itu. Bagaimana bisa kau menuduhku seperti itu? Tentu saja aku tidak sengaja. Salah dia sendiri tidak menangkis seranganku tadi. Bisa-bisanya melamun saat bermain voli.”

“Kau menyalahkannya?”
Jiyeon dibuat kesal oleh namja berwajah dingin seperti vampir itu. Ia mendengus kesal karena dituduh seperti itu. “Hei! Kau kira aku sejahat itu? Kau kira aku sengaja mencelakai gadis itu? Kau kira aku gila, eoh? Aku bilang tidak sengaja melakukannya. Bukankah pada awal-awal pertandingan tidak ada masalah? Kau melihatnya, tidak? Jangan menuduhku dengan spekulasi murahan seperti itu! Kau memberikan tuduhan palsu.”

“Mentang-mentang kau anak orang kaya….”
“Kenapa? Memangnya kenapa kalau aku anak orang kaya? Ada masalah denganmu?”
“Dasar sombong!”
“Hey… Oh Sehun!” Jiyeon berhasil mengetahui nama siswa itu dari nametag di seragamnya. “Berhenti menyalahkanku! Aku memang anak orang kaya, tetapi aku berbeda dengan yang lain! Jangan menilai seseorang dari latar belakang keluarga! kau salah besar. Permisi!” Jiyeon melangkah keluar ruangan UKS begitu saja karena kesal pada namja sok pahlawan yang melindungi Bae Suzy.
***

Bel pulang sekolah berdering. Jiyeon lekas memasukkan alat-alat tulisnya ke dalam tas kemudian melesat keluar kelas tanpa berpamitan pada teman-temannya.
“Ada apa dengannya?” tanya Joo Hyun heran lagi.

Jiyeon berjalan cepat ke arah UKS. Ia ingin mengatakan sesuatu pada seorang gadis yang menjadi korban pukulannya tadi.
Tok tok!
“Permisi!” ucapnya pelan saat berdiri di depan pintu.
Dokter mengizinkan Jiyeon masuk dan melihat keadaan Bae Suzy. Saat berhadapan dengan Bae Suzy, Jiyeon merasa sangat bersalah telah membuat gadis itu terbaring di UKS selama jam pelajaran.
“Annyeong,” ucap Jiyeon berbasa-basi. “Aku Park Jiyeon.”
Suzy belum membalas sapaannya, Jiyeon langsung mengatakan siapa namanya.

“Bae Suzy,” ucap gadis itu. Suaranya nyaris tak terdengar.
“Aku datang ke sini untuk minta maaf padamu. Aku… tidak sengaja melakukannya. Jika saja kau menangkisnya, kau tidak perlu terbaring di sini.”
Suzy tersenyum tipis tetapi Jiyeon malah menatap gadis itu serius.
“Kau mengenal namja bernama Oh Sehun?” tanya Jiyeon to the point.
Gadis bersurai panjang yang tengah terbaring itu mengangguk pelan. “Ada apa?”

Jiyeon mendesah kasar. “Tidak ada apa-apa. Tolong katakan padanya untuk minta maaf padaku. Seumur hidup, aku belum pernah mendengar seseorang bicara seperti Oh Sehun tadi. Aku… sangat tersinggung. Itu saja. Maaf telah menyakitimu.”
Jiyeon membungkukkan badannya, menghormati Suzy dan tanda dirinya benar-benar minta maaf pada gadis itu.
***

“Sudah puas?”
Tap! Tiba-tiba Jiyeon menghentikan langkahnya saat baru saja keluar dari ruang UKS. Ia membalikkan badan dan melihat sosok namja yang amat dibencinya, Oh Sehun. Namja itu berdiri tegak di depannya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku.
Jiyeon tidak berniat menanggapi namja aneh itu. Ia ingin langsung pulang karena ayahnya menyuruhnya lekas pulang ke rumah.
“Maaf, aku sedang terburu-buru.” Jiyeon membalikkan badan lagi, kemudian berjalan cepat keluar gerbang sekolah.

Sehun masuk ke dalam UKS dan mengantar Suzy pulang. “Tenang, Suzy-a. Aku akan mengantarmu pulang secepat mungkin agar kau tidak merasakan sakit saat di perjalanan nanti.”

Suzy mengangguk pelan. “Terimaksih, Oppa. Aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu, Bae Suzy.”
***

Sore hari, Jiyeon telah sampai di kediaman keluarganya dan langsung membersihkan diri. Park Jiyeon memang seorang anak chaebol namun ia tidak sombong dan mampu hidup mandri. Ayahnya selalu mengajarkan hidup mandiri, disiplin, bertanggung jawab, dan selalu berbuat baik pada siapapun. Tak pernah ada kesombongan pada diri gadis berusia 17 tahun itu.

“Sebenarnya ada acara apa, Eomma?” tanya Jiyeon setelah berdandan secantik mungkin untuk menyambut tamu agung, rekan bisnis ayahnya.
Sang ibu yang tengah menata piring untuk makan malam nanti, hanya tersenyum.
“Eomma,” rengek Jiyeon manja. Ia selalu bersikap manja di depan ibunya karena Jiyeon adalah putri semata wayang yang mampu merebut semua perhatian ayah dan ibunya.

“Acara penting yang akan menentukan masa depanmu kelak,” jawab ibunya santai.
Jiyeon memutar otak, menebak jawaban dari ibunya. “Masa depan? Jadi, ini menyangkut masa depanku?”

Nyonya Park mengangguk diiringi senyum manisnya. “Sebentar lagi malam tiba. Nak, kau bantu eomma agar lekas selesai, ya.”

Jiyeon masih memikirkan maksud ucapan ibunya tentang masa depan dirinya sendiri. Masa depan apa? Apa yang akan terjadi pada dirinya? Perjodohan? Karir? Kuliah? Apa yang sebenarnya direncanakan oleh orang tuanya? “Kenapa orang tua selalu mempunyai rencana-rencana gila untuk anaknya?” gumam Jiyeon heran pada orang tuanya yang selalu mempunyai rencana mengejutkan untuk putri tunggal mereka. “Sebaiknya aku segera membantu Eomma daripada nanti dimarahi habis-habisan.”

Ting tong!
Bel rumah berbunyi dan sukses mengejutkan Jiyeon yang masih asyik membantu ibunya menyiapkan gelas-gelas dan ditata sedemikian rapi di atas meja makan. Gelas yang dipegang Jiyeon hampir terjatuh saat gadis itu terlonjak kaget mendengar bunyi bel. Jantungnya pun masih deg-degan.

Nyonya Park bersiap melangkahkan kaki menuju ruang tamu untuk membukakakn pintu, namun Jiyeon memintanya kembali menyiapkan makan malam dan dia menawarkan diri untuk membuka pintu itu. Mungkin yang memencet bel rumahnya adalah tamu kehormatan yang akan makan bersama malam itu.

Cekleeek!
Jiyeon membukakan pintu untuk tamu yang diharapkan kedatangannya oleh pasangan tuan dan nyonya Park. Tiga orang tamu berdiri di depan pintu. Dua diantaranya tersenyum ramah pada Jiyeon, sedangkan satu orang membelalakkan mata saat menatap tuan rumah yang membuatnya kesal di sekolah.

TBC to the next part

13 responses to “[Ficlet – Series] Second Choice

  1. Aku readers baru… wah nenu lagi ff jiyeon – sehun. Saya suka saya suka….
    Pasti itu sehun ….iyakan… akunlanjut bagiann 2 yah thor

  2. Wah apakah sehun dan jiyeon bakalan di jodohkan.. Waduh bakalan sulit kayaknya apalagi si sehun udh puny suzy tapi belom halal sih.. Hahaha

  3. nahloh sehun judes amat ma jiyeon ckck
    sehun pàcaran ma suzy dan jiyeon sehun bakal dijodohin waduhh next yaa thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s