[CHAPTER-PART 2] EIRENE

EIRENE

EIRENE-2

||Author : Lyzee7||

||Main Cast : Kim Myungsoo|Park Jiyeon|Irene|Ryu Hwayoung||

||Genre : Family|Romance|Complicated|Royal|Little Action||

||Rating : PG-17||

EIRENE CAST

Eirene part 2

Aku berjalan melewati lorong-lorong yang dindingnya dihiasi dengan lukisan indah. Lukisan itu menggambarkan istana jika dilihat dari luar, istana yang sedang kupijaki sekarang. Dindingnya yang berwarna merah dengan gambar mawar-mawar kecil berwarna emas adalah bagian favoritku. Kuhentikan langkah lalu kubalikkan badanku menarik kedua tangan orang tuaku yang jauh lebih tinggi dariku.

“Cepat jalannya Ibu, Ayah. Kita sudah terlambat!” suara kecilku keluar sambil berusaha menarik mereka yang hanya tertawa melihat tingkah konyolku.

“Memangnya siapa yang terlalu lama memilih baju? Bukannya anak kecil Ibu yang lucu ini sibuk memilih gaun paling indah sampai lupa waktu?” ejek Ibu dengan senyum jahilnya.

Pipiku merona malu dengan bibir mengercut kesal. “Maaf,” kataku menyesal sementara Ayah hanya terkekeh melihat tingkah kami. Kami berhenti di depan pintu besar berwarna coklat. Ayah menarikku menjadi di belakangnya sementara ia mengetuk pintu.

Ibu berbisik pelan padaku, “Ingat perjanjian kita?”

Aku mengangguk tepat saat Ayah membuka pintu besar itu tiba-tiba kilatan putih muncul. Seketika itu pula tempat ini berubah berganti sebuah ruangan yang gelap hanya ada sebuah lampu yang menyorot sepasang tubuh yang tergeletak berlumuran darah di lantai.

.

Jiyeon terduduk dengan napas memburu dan keringat yang membasahi pelipis, leher serta piyama tidurnya. Matanya bergerak liar ke setiap sudut kamarnya yang gelap. Tubuhnya bergetar bersingut mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang.

“H-Hyo… min…” ucapnya pelan dengan bibir yang bergetar. “Hyo-min… Hyomin!” ia berteriak lebih keras. “HYOMIN!” nama itu terus ia panggil sampai pintu kamarnya terbuka, seseorang masuk.

“Nona!” gadis yang baru masuk itu dengan cepat mendekati Jiyeon lalu duduk di sudut ranjang menghadap Jiyeon. “Tidak apa-apa, nona,” katanya menenangkan. Hyomin mengulurkan tangannya menyentuh tangan Jiyeon yang menarik-narik rambutnya kasar. “Sudah tidak ada yang perlu anda takuti, nona.” Ditariknya tangan Jiyeon lalu tangannya yang bebas menyentuh puncak kepala Jiyeon. “Anda sudah aman, nona.”

Jiyeon terisak, tangan kanannya menggenggam tangan Hyomin yang mengelus kepalanya. “Ibu dan Ayah dibunuh. Lalu, tidak ada yang menyelamatkanku walaupun aku memohon. Mereka menyakitiku, menginjak-injak harga diriku…”

“Tenangkan dirimu, nona.” Hyomin panik lalu mengeluarkan ponselnya menghubungi seseorang. “Yunho-ssi, cepat ke kamar nona dan bawa obatnya!” kata Hyomin pada seseorang di telepon. “Ya. Nona mimpi buruk lagi. Cepatlah kemari!”

Beberapa menit kemudian seseorang datang dengan membawa sebuah kotak abu-abu. Karena keadaan yang remang-remang, pria itu segera menyalakan lampu dan menemukan Jiyeon dengan keadaan yang berantakan.

“Mereka akan mendapatkan hukumannya, benarkan?” rancau Jiyeon.

Yunho segera mendekati ranjang lalu mengeluarkan jarum suntik dan tabung kecil berisi cairan bening. Disuntikkannya cairan itu di lengan Jiyeon dengan se-lembut mungkin agar tidak menyakiti Jiyeon. Ia membantu Hyomin membaringkan Jiyeon kembali ke ranjangnya.

“Akan ku balaskan dendamku pada mereka… hh… sampai mereka… mendapatkan semua penderitaan… yang pernah kudapatkan… hh…” lirih Jiyeon dengan mata yang semakin berat karena kesadarannya sudah di ambang batas. “Kalian tidak boleh… pergi. Karena… hh kalian adalahh… pelayan.. –ku… pelayan kelu… arga…” Jiyeon pun terlelap karena efek obat tidur yang sudah bekerja di tubuhnya.

Hyomin dan Yunho turun dari kasur lalu berlutut bertumpu pada lutut kanan mereka menghadap Jiyeon dengan kepala tertunduk.

“Kami adalah pelayan anda. Sampai kapan pun kami akan selalu berada di sisi anda. Kami adalah pelayan keluarga *******.”

***

Castle

“Ayah, kau belum mengerahkan seseorang untuk mencari tahu siapa yang memata-mataiku?” Myungsoo menatap sang Raja kesal dengan mulut yang penuh dengan makanan.

“Orang terpercayaku sudah melakukan tugasnya,” sahut Raja tenang. “Hey, jangan makan terlalu banyak. Aku tidak ingin seorang Putera Mahkota melewatkan makan malam nanti,” tambahnya memperingatkan Myungsoo.

Myungsoo menelan makanannya dengan paksa. “Siapa? Laki-laki? Perempuan?” tanya Myungsoo antusias. Raja hanya diam tidak menunjukkan tanda-tanda akan menjawab pertanyaannya. “Ayolah! Beri tahu aku siapa orang itu?”

Kim Jisub hanya tersenyum menanggapinya. “Tidak lama lagi akan kuberi tahukan padamu, nak. Tidak sekarang,” katanya.

“Katakan, kapan ayah akan memberi tahuku?” paksa Myungsoo dengan nada bosan. Ia menopang kepalanya dengan tangan kiri dan sebuah sendok di mulutnya.

“Ketika kau dinobatkan menjadi Raja?” Jisub tidak yakin dengan apa yang ia katakan.

“Apa?” dinobatkan menjadi Raja tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini.

Jisub menggeleng. “Tidak… tidak… menunggumu menjadi Raja terlalu lama,” koreksinya, lalu menambahkan, “Aku akan mengenalkannya secara resmi padamu setelah kau cukup bisa menggunakannya,”

Myungsoo menaikkan sebelah alisnya menunggu Jisub melanjutkan perkataannya.

Jisub menautkan kedua jemari tangannya di depan wajahnya, menatap Myungsoo. “Yaitu saat upacara kedewasaan, di umurmu yang ke dua puluh tahun,” katanya. Ia yakin. “Ya. Dua puluh tahun, tidak lama lagi.”

Myungsoo mendesah kecewa. “Jadi, aku harus mengubur keingin-tahuanku selama dua tahun ke depan?” sejak kapan ia mudah tertarik dengan hal seperti ini?

Ratu (Lee Jiah) yang sejak tadi hanya melihat tingkah dua orang itu tertawa kecil. “Sejak kapan Putera Mahkota ingin tahu tentang siapa ‘tangan kanan’ Raja?” tanya Jiah heran.

“Dia ‘tangan kanan’-mu?” tanya Myungsoo pada Raja.

Jisub mengendikkan bahunya. “Semua pekerjaannya memuaskan. Ia menyelesakannya dengan caranya sendiri untuk melenyapkan para pengkhianat negara kita. Dia tidak pernah mengecewakanku. Jadi, yah… bisa dibilang dia adalah tangan kananku.” Jelasnya.

“Kita hentikan pembicaraan ini karena kita harus menghadiri pertemuan para bangsawan,” kata Jiah yang disetujui oleh Jisub. “Tapi sebelum itu, aku ingin mengenalkan seseorang padamu, Putera Mahkota.” Jiah menganggukkan kepalanya pada seorang maid yang berdiri agak jauh darinya.

Seorang laki-laki dengan pakaian formal tiba di hadapan mereka lalu membungkuk hormat.

“Namanya Nam Woohyun. Dulu dia adalah jendral tentara Korea Selatan. Mulai sekarang dia adalah pengawal pribadimu,” jelas sang Ratu pada Myungsoo yang melongo tak percaya.

“Oh! God!”

***

Jiyeon’s Manor

Jiyeon mematut dirinya di depan cermin yang ada di ruang ganti pribadinya. Sebuah gaun hitam polos sepanjang mata kaki membalut tubuh indahnya dengan sempurna. Dengan dibantu Hyomin, Jiyeon memakai kalung perak dengan satu berlian kecil di tengahnya tak lupa dengan sepasang anting dan gelang yang serasi dengan kalung yang ia kenakan. Rambut hitamnya yang panjang ia gerai di bahu kirinya.

“Malam ini akan sangat dingin, nona,” kata Hyomin lalu menyampirkan blazer hitam di kedua sisi bahu Jiyeon.

Jiyeon berjalan menuju pintu kamar dan sudah ada Jung Yunho yang menunggunya dengan setelan kemeja putih dan jas hitam yang ia kenakan. Pria itu membungkuk hormat pada Jiyeon lalu mempersilahkan untuk berjalan mendahuluinya. Di anak tangga teratas Jiyeon bisa melihat tiga pelayannya yang menunggunya dengan ceria di bawah sana bersama seekor anjing berbulu putih yang cukup besar.

Dengan anggun dan tegas, Jiyeon menuruni satu per satu anak tangga yang beralaskan karpet biru diikuti Yunho bersama Hyomin sambil berkata, “Baiklah Evelyn (maid ber-rambut cokelat), Jack (seseorang berseragam koki), dan Akira (lelaki dengan wajah asia yang berpakaian kasual). Jagalah tempat ini selama aku pergi. Tutup semua jendela, pintu, dan jangan lupa bersihkan perapian dari abunya. Kalian bisa melakukannya, bukan?”

“Dimengerti, nona,” jawab mereka dengan begitu ceria.

Entah mengapa, Jiyeon terkekeh geli melihat tingkah ketiga pekerja rumahnya. “Kalian ini kenapa senang begitu?” tanya Jiyeon heran.

“Nona, anda tertawa! Cantik sekali!” seru Evelyn senang yang disetujui oleh Jack dan Akira.

Akira mengangguk dengan senyum mengembang. “Eum. Ternyata benar kalau suasana rumah ini ceria, bisa membuat nona senang,” katanya.

“Kami akan membuat nona bahagia dan tertawa lagi,” sahut Jack. Yunho dan Hyomin tersenyum geli melihat ketiga orang yang super aneh itu sedang bertekad untuk membuat nona mereka bahagia.

Jiyeon menutup bibirnya dengan tangan kanannya lalu tersenyum kecil. “Kalau begitu, lanjutkan saja kalau itu bisa membuat kalian senang.”

“Dan nona juga menjadi senang,” potong mereka bersamaan.

Pandangan Jiyeon beralih pada anjing yang kemarin ditemuinya. Ia sedikit menunduk dal meletakkan tangan kanannya di atas kepala anjing itu. “Kau bisa menjaga rumahku, Max?”

GUK

“Kau anak baik,” gumam Jiyeon, mengelus kepala Max lalu menarik tangannya.

Jiyeon mengangguk menyerah lalu meminta Yunho untuk segera berangkat. “Hyomin, kuserahkan rumah ini padamu,” katanya sebelum masuk ke mobil.

“Dimengerti, nona,” jawab Hyomin sambil membungkuk pada Jiyeon yang sudah masuk di mobil mewahnya. Hyomin dan ketiga pelayan itu mengamati mobil yang membawa Jiyeon pergi sampai menghilang di balik pintu gerbang otomatis.

Hyomin menepuk tangannya dua kali setelah memutar badannya menghadap ketiga bawahannya. “Lakukan tugas kalian!” perintah Hyomin tegas.

“Baik!”

GUK

***

Myungsoo POV

Perayaan natal di istana kali ini benar-benar meriah. Bangsawan-bangsawan yang datang bersama keluarga mereka dan aku sudah menyapa teman-temanku yang ada di sekolah kerajaan bersamaku. Tadi ada Hwayoung yang tiba-tiba menyapaku dan menempel terus jadi, aku meminta Hyunwoo untuk menolongku. Hyunwoo sekarang sibuk memilih-milih gadis paling cantik untuk ia dekati. Dan ada pengawal baru super kaku sedang berdiri tak jauh di belakangku.

Acara ini diadakan di istana utama yang sangat luas. Di tengah-tengah ruangan ada sebuah pohon natal yang tingginya mencapai dua lantai. Terdapat banyak bungkus kado yang diletakkan di bawah pohon itu dengan pita yang berwarna-warni pula. Kado-kado itu berasal dari tamu-tamu yang sudah datang. Tempat ini juga didekorasi dengan konsep merah-emas. Di salah satu sudut ruangan ada kelompok pemain musik orkestra yang memainkan lagu khas natal. Tirai jendela besar yang dibuka membuatku bisa melihat butiran salju yang berjatuhan dari langit.

“Oh! Kau tidak bergabung dengan Yang Mulia Raja dan Ratu di sana, Pangeran?”

Suara yang baru-baru ini kukenal membuatku mengalihkan pandanganku dari benda putih pada seorang gadis yang memakai gaun soft pink –Irene. Aku sedikit merasa aneh dengan para perempuan yang lebih mengutamakan penampilan dari pada menghangatkan tubuh mereka dengan mantel berbulu yang hangat.

“Pembicaraan orang tua tidak akan bisa ku mengerti,” jawabku setelah melihat Ayah dan Ibu yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa kepala keluarga bangsawan yang berpenampilan begitu elegan.

“Kurasa mereka sedang membicarakan nasib negara,” sahut Hyumwoo tiba-tiba membuat Irene tertawa.

Pembicaraan kami terhenti ketika Irene dipanggil oleh seorang pria paruh baya yang sedikit ku kenal. Kalau tidak salah dia adalah kepala keluarga Lee bernama Lee Jonghyun yang bergerak di bidang pertambangan emas dan berlian. Ia bangsawan yang cukup terkenal dan Irene adalah putrinya, mungkin?

“Hey, Kim Myungsoo!” panggil Hyunwoo.

“Apa?”

Ia menunjuk dengan dagunya ke arah pintu. “Lihat, siapa yang datang,” katanya.

Aku mengikuti petunjuknya dan menemukan seseorang yang baru tiba bersama seorang pria yang membawa sebuah kotak kado berwarna merah dengan pita silver di tangannya yang memakai sarung tangan putih. Jiyeon berjalan menuju Ayah yang sedang bersama salah seorang koordinator acara sedang membicarakan sesuatu. Caranya berjalan begitu anggun melewati banyak pasang mata yang melihatnya dengan heran. Dia datang sendiri dan hanya ditemani seorang pelayan? Kemana orang tuanya?

“Kalian terlihat serasi dengan pakaian kalian,” Hyunwoo mencibir tiba-tiba.

Serasi? Aku menunduk melihat pakaianku. Kemeja hitam dengan dasi berwarna merah gelap dan celana jins hitam. Aku terdiam sampai mendengar Hyunwoo yang tertawa geli. “Diam kau!” desisku tajam. “Aku pergi dulu. Acara utama sudah akan dimulai,” kataku lalu pergi melihat apa yang akan dilakukan gads itu diikuti Woohyun yang mengekor di belakangku.

Ketika gadis itu sampai di depan Ayah, aku terkejut dengan reaksi yang diberikan Ayah yang langsung menyambutnya dengan senyum lebar lalu memeluknya singkat.

***

Author POV

Setelah turun dari mobilnya, Jiyeon masuk ke dalam bangunan megah nan mewah bersama Yunho. Dibantu Yunho, ia melepas blazernya ketika salah seorang maid menghampirinya. Yunho menyerahkan blazer itu pada sang maid agar diletakkan di tempat yang sesuai.

Setelah itu ia berjalan menuju tuan rumah penyelenggara pesta yang tidak lain adalah Raja, yang sedang membicarakan sesuatu dengan seorang pria. Saat Jiyeon cukup dekat, Raja menangkap Jiyeon dari sudut matanya dan tersenyum lebar.

“Lama tidak melihatmu di pestaku, anakku,” kata Kim Jisub tanpa menghilangkan senyumnya. Ia berbisik pada pria di sampingnya, “Aku ada urusan sebentar. Bersiap-siaplah dan mulai acaranya lima menit lagi.”

Pria itu meng-iyakan perintah Raja lalu undur diri dari hadapan mereka.

Jiyeon tersenyum tipis lalu membungkuk anggun dengan tangan kanan di dadanya. “Sebuah kehormatan bagi saya bisa datang di pesta anda, Yang Mulia,” balasnya. Ia melirik Yunho dari balik bahunya. Yunho berdiri di samping Jiyeon lalu menyerahkan bungkusan kado itu pada Jisub dengan sangat sopan. “Saya membawa hadiah sederhana yang cukup menarik. Saya harap Yang Mulia menyukainya.”

Jisub menerima hadiah itu lalu melihat sebuah simbol yang ada di tengah-tengah kotak itu. Simbol yang mirip dengan angka delapan horizontal yang dililit rantai dan batang bunga mawar yang berduri. Saat ia akan membuka tutup kotak itu, Myungsoo tiba-tiba datang.

“Tunggu, Ayah!” cegah Myungsoo tiba-tiba berdiri di samping Jisub. Myungsoo mengulurkan tangan kanannya meminta kado itu. “Boleh aku memintanya?” tanyanya pada Jisub.

“Memintanya?”

Myungsoo mengangguk.

Di sisi lain, entah mengapa Woohyun melemparkan tatapan tajamnya pada Yunho sedangkan Yunho hanya membalasnya dengan senyum ramah yang biasa diberikannya pada orang lain.

“Entahlah…” Jisub ragu lalu melirik Jiyeon yang ada di depannya. “Kau tidak keberatan, Jiyeon?”

Jiyeon tersenyum lalu menggeleng. “Dengan senang hati, Yang Mulia,” jawab Jiyeon lalu beralih pada Myungsoo dan berkata, “Anda bisa memilikinya, Yang Mulia Putera Mahkota.”

Myungsoo menerima hadiah di tangannya, menatap Jiyeon tajam. “Terima kasih,” ucapnya.

“Sebuah kehormatan, Putera Mahkota,” sambut Jiyeon menatap Myungsoo dengan tenang tanpa senyum. “Kalau begitu, saya permisi,” Jiyeon membungkuk hormat lalu pergi diikuti Yunho.

Jiyeon menemukan sebuah pintu yang terbuka menuju taman yang ada di luar ruangan. Ia tersenyum lalu berbelok ke sana. Udara dingin yang berhembus menerpa wajah dan lengannya yang tak tertutupi apa pun tepat setelah kakinya menginjak jalan setapak yang membawanya menuju taman labirin yang membentang indah di depannya.

“Saya akan meminta Akira untuk membuatkan taman labirin jika anda menginginkannya,” kata Yunho yang mengamati Jiyeon yang sedang menikmati pemandangan di depan mereka.

Jiyeon menggeleng pelan lalu mengusap lengan atasnya. Melihat hal itu, Yunho melepas jas yang ia pakai lalu menyampirkannya pada bahu Jiyeon. Jiyeon membalas ucapan Yunho, “Tidak perlu. Akan percuma karena pada akhirnya akan dirusak oleh ‘tikus-tikus kecil’ itu.”

“Saya yakin Akira akan melindungi taman labirin anda dari ‘tikus-tikus’ yang anda maksud.” Yunho meyakinkan Jiyeon pada kemampuan Akira. Ia menambahkan, “Dia penyayang mahkluk hidup. Jadi, anda bisa percaya padanya.”

Jiyeon terdiam cukup lama lalu membuka suara, “Besok minta Akira untuk membuatkannya di halaman belakang.”

Senyum Yunho mengembang. “Dimengerti, nona.”

Suara tepuk tangan dari dalam terdengar sampai di gendang telinga mereka membuat mereka sadar kalau acara sudah di mulai.

“Saya rasa kita harus kembali, nona,” ucap Yunho yang diberi anggukan singkat dari Jiyeon.

***

Myungsoo POV

Bersama pelayannya, gadis itu pergi dari hadapanku menuju taman labirin melalui pintu yang terletak agak jauh dari keramaian. Ku alihkan tatapanku pada lambang keluarga bangsawan yang ada di tengah-tengah kotak kado yang ada di tanganku. Lambang ini sedikit timbul dengan warna merah yang lebih gelap. Aku sama sekali tidak mengerti arti lambang ini. Kukira aku akan mengetahui ‘siapa Jiyeon’ kalau aku melihat lambang keluarganya. Tapi nyatanya ini pertama kalinya aku melihat lambang ini. Isi? Haruskah aku membukanya di sini?

“Gadis itu memiliki mata yang bagus, bukan?”

Kualihkan perhatianku pada Ayah yang menatapku tenang.

“Mata tajam yang tidak pernah ikut tersenyum ketika bibirnya tersenyum seperti itu?” balasku heran.

Ayah mencibirku pelan, “Kau memiliki mata yang lebih tajam dan kau bahkan tidak pernah tersenyum sama sekali.” Skakmat! Kau benar, Ayah. “Bukan itu maksudku,” katanya tiba-tiba.

“Lalu?”

Ayah menghela napasnya. “Pelayan yang bersamanya tadi… tanyakan saja pada Woohyun,” balasnya lalu melenggang pergi.

Sialan orang tua ini, menggantungkan kata-katanya seenaknya sendiri. Aku memutar tubuhku menghadap Woohyun yang terlihat memikirkan sesuatu. “Katakan semua yang kau tahu, Nam Woohyun!” perintahku tegas. Ternyata memiliki pengawal berguna juga. Tentu saja, bodoh!

Woohyun menatapku lalu mengangguk patuh. Ia mulai menjelaskan, “Namanya Jung Yunho. Dia adalah mantan petinggi Jendral tentara Korea Selatan yang berhenti enam tahun yang lalu. Hampir semua tugas yang ia jalankan bisa ia selesaikan dengan baik dan sempurna. Kemampuan Yunho bagi kami sangat menakutkan dan mematikan.”

“Lalu, kenapa dia berhenti dari posisinya?” tanyaku penasaran.

Woohyun terlihat agak ragu menjawab pertanyaanku. “Suatu hari, ada laporan tentang sekelompok teroris menyandera para warga yang sedang pergi ke gereja. Diantara semua warga yang ada di sana, ada istri dan kedua anak Yunho. Pada saat itu, kami ditugaskan untuk menangkap semua teroris untuk mencari informasi yang kami inginkan. Sesuatu terjadi dan baku tembak tidak bisa dihindari. Isteri dan kedua anaknya mati, Yunho kacau dan langsung membunuh semua teroris itu tanpa ampun. Direktur kami marah dan menghentikannya dari tentara dan di blacklist dari semua pekerjaan,” lanjutnya menjelaskan.

Aku mengangguk. “Begitu ya.”

“Selamat malam Tuan dan Nyonya yang terhormat…”

Seorang pria pembawa acara berada di atas panggung kecil sedang membuka acara utama. Aku tidak berminat mendengar apa yang dikatakan orang itu sampai mataku melihatnya memasuki ruangan ini lagi bersama pengawalnya. Ia mengatakan sesuatu yang membuat Yunho melepas jas dari tubuh gadis itu, memakainya kembali lalu mendekat ke panggung.

Setelah Ayah naik ke atas panggung dan berbicara panjang lebar sebagai Raja Korea Selatan, acara dansa pun dimulai. Aku mengedarkan mataku dan menemukan Hyunwoo yang sudah mendapatkan seorang gadis bergaun merah. Aku berdecak kesal lalu duduk di kursi yang berada di dekat jendela dengan Woohyun yang berdiri di sampingku. Kotak kado yang tadi kudapatkan, kupangku dan kubuka tutupnya perlahan.

Mataku terbelalak dengan mulut sedikit melongo tak percaya. “Catur?” ya, yang ada di dalam kotak ini adalah catur yang sedikit berbeda dari biasanya.

“Itu memang catur, Yang Mulia,” Jiyeon sedikit menyindirku dengan sudut bibirnya yang tertarik ke atas. Ia lalu bertanya padaku apakah ia bisa duduk di kursi yang ada di sampingku dan kupersilahkan. Kami hanya terpisah meja kecil kosong yang akhirnya kujadikan tempat untuk menaruh kado yang sudah kubuka. “Cantik bukan?” tanyanya.

“Apa?”

Tangannya bergerak mengeluarkan benda yang semua sudutnya dilindungi oleh sterofom itu dari dalam kotak. Berbeda dari kebanyakan catur yang dilipat, benda yang satu ini memiliki empat kaki yang menyatu dengan sisi-sisinya dan berwarna emas. Tanpa melepas sterofom itu, ia menunjuk tepat di tengah papan catur dan berkata, “Ini adalah batu giok yang kami olah untuk menjadi permainan yang disegani para bangsawan.”

“Setelah dipotong, batu giok putih dan hitam disatukan dengan teknik tertentu lalu dihaluskan sehingga permukaannya rata dan sempurna. Pembuatan satu catur giok ini kurang lebih selama dua tahun,” Yunho menyahut penjelasan yang diawali Jiyeon. “Hanya ada tiga bangsawan yang mempunyainya di dunia ini. Yaitu nona, anda –Yang Mulia Putera Mahkota, dan Raja Inggris –Raja Vincent Williams.”

***

Author POV

Myungsoo menaikkan satu alisnya. “Raja Inggris, Vincent Williams?”

Jiyeon mengangguk. Ketika ia akan mengatakan sesuatu, suara dering ponsel yang berasal dari Yunho mengurungkannya. Yunho sedikit menjauh lalu mengangkat telponnya. Belum sampai satu menit, ia memasukkan ponselnya ke saku jasnya lalu mendekat pada Jiyeon dan berbisik di telinga gadis itu, “Kita kedatangan tamu cukup banyak, nona. Hyomin dan yang lain sedang melayani mereka.”

Jiyeon mengangguk mengerti lalu salah satu sudut bibirnya terangkat ke atas. “Kuharap mereka mendapatkan sambutan yang menyenangkan dari pelayan kita.”

Myungsoo berniat mengatakan sesuatu tapi tiba-tiba Woohyun lebih dahulu membuka suaranya pada Myungsoo. “Yang Mulia, kita harus segera pergi ke ruang jamuan makan malam utama,” kata Woohyun.

Myungsoo mengangguk lalu menatap Jiyeon. Ia berkata, “Jiyeon-ssi, katakan pada kedua orang tuamu agar segera bergabung di jamuan makan malam bersama kepala keluarga yang lainnya. Sedangkan jamuan makan malam-mu dan teman-teman kita ada di ruangan yang lain. Ikuti saja Hyunwoo.” Myungsoo menunjuk Hyunwoo yang sedang berbicara dengan salah seorang maid. “Aku pergi dulu,” kata Myungsoo lalu beranjak pergi. Ia menghentikan seorang maid lalu meminta maid itu untuk membawa catur yang ia dapatkan ke kamarnya.

“Baiklah.” Jiyeon berdiri lalu menatap Yunho dengan sedikit seringai. Ia menambahkan, “Kurasa kita juga harus pergi.”

“Ya, nona,” jawab Yunho lalu pergi mengikuti Jiyeon.

***

Irene menatap ayahnya dengan mata menyipit setelah ayahnya memberi tahukan sesuatu yang tidak ia mengerti. “Bagaimana bisa tidak ada yang mencurigakan?” katanya dengan suara pelan.

Lee Jonghyun mengangkat bahunya lalu menyesap minumannya. “Belum, tidak sama dengan tidak ada, anakku,” koreksinya, “Kita hanya perlu menunggu sampai semuanya jelas. Kau mengerti?”

Irene mengangguk lalu mendekati Hwayoung yang sudah memberinya kode untuk segera menemui gadis itu. Sedangkan seorang pelayan memberi tahu Lee Jonghyun dan isterinya untuk segera ke ruang makan khusus kepala keluarga bersama anggota kerajaan dan beberapa menteri.

Irene duduk bersebelahan dengan Ryu Hwayoung dan gadis keturunan bangsawan yang tidak ia kenal. Di depannya ada seorang lelaki yang mempunyai mata cukup tajam –walau pun tak se-tajam Myungsoo- yang menatapnya lekat dengan tangan yang bertautan di depan wajah tampannya. Dan secepat itu pula lelaki di depannya mengalihkan tatapan pada salah seorang di samping lelaki itu yang tiba-tiba mengajak berbicara.

Irene pernah melihatnya. Lelaki itu adalah salah satu murid di kelasnya yang cukup pendiam. Lelaki yang hanya akan berbicara se-perlunya saja. Irene tidak tahu siapa namanya atau mungkin ia melupakannya? Entahlah…

***

Hyunwoo terlihat sedang mencari seseorang yang tidak ada di meja makan bersamanya, sementara semua temannya dan anak bangsawan yang lain sudah akan menyantap hidangan mereka.

“Kau mencari seseorang?” tanya seorang laki-laki yang duduk di sampingnya.

Hyunwoo menatapnya dengan alis terangkat melihat penampilan temannya yang berasal dari sekolah lain. Ia mengangguk, “Eum. Dia murid baru yang datang tepat sehari sebelum libur musim dingin. Seharusnya dia bergabung dengan kita di ruangan ini.”

“Hmm?”

“Ah!” Hyunwoo menepuk kepalanya teringat sesuatu. “Hari ini kan ulang tahunnya! Kenapa aku lupa untuk mengucapkan selamat sih!” erangnya kesal.

Menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong steak, laki-laki itu menoleh ke arah Hyunwoo. “Ulang tahunnya hari ini? 25 Desember?” tanyanya dengan sedikit berbisik.

Hyunwoo meng-iyakan. “Hebat bukan?”

“Siapa namanya?” tanya laki-laki itu sedikit mendesak.

“Jiyeon, Park Jiyeon,” Jawab Hyunwoo. Ia menambahkan, “Kau mengenalnya, Oh Sehun?”

Laki-laki yang bernama Oh Sehun itu sedikit menyeringai. “Entahlah…”

***

Myungsoo berusaha bersikap ramah ketika beberapa istri bangsawan menyapanya dan terang-terangan meminta Myungsoo untuk memilih putri mereka sebagai calon Puteri Mahkota. Kini ia duduk di depan meja makan yang besar, cukup untuk semua pasangan suami isteri bangsawan. Raja dan Ratu duduk berpisah di kedua ujung meja makan, sementara Myungsoo duduk di dekat ayahnya bersama Woohyun berdiri di belakang Myungsoo dan kursi di depannya kosong karena semua pasangan suami isteri saling duduk berhadapan.

Perlu diketahui, pada setiap punggung kursi bagian belakang mempunyai ukiran lambang keluarga mereka. Begitu pun dengan kursi Myungsoo yang mempunyai lambang kerajaan.

“Maaf, Yang Mulia,” seorang pria di samping Myungsoo membuka suara. “Saya tidak bermaksud lancang. Tapi, bukankah keluarga Midford sudah m- tidak ada?”

Raja hanya tersenyum lalu berkata dengan tenang, “Benarkah?”

CKLEK

Pintu besar itu terbuka ketika seseorang masuk. Myungsoo menatap orang itu dengan tatapan tajamnya.

“Maaf saya terlambat,” kata perempuan itu berjalan menuju kursi kosong yang berada di depan Myungsoo dengan Yunho yang mengekor di belakangnya.

“Hei, nak. Tempat makan malammu bukan di sini,” ucap salah seorang wanita tepat di samping kursi kosong itu ketika melihat Yunho menarik kursi untuk mempersilahkan Jiyeon.

Jiyeon terdiam dengan posisi yang tetap berdiri di samping kursi yang masih kosong itu hingga Raja berdiri. Raja berjalan mendekat pada Jiyeon yang sedang menatap wanita yang menghinanya dengan tatapan tajam. Tidak hanya wanita itu yang melihat Jiyeon dengan tatapan meremehkan, tamu-tamu yang lain pun juga.

“Aku rasa ada sedikit kesalah pahaman disini,” kata Raja lalu menyentuh pundak Jiyeon. “Dia adalah kepala keluarga Midford, Jiyeon Midford yang dikenal anakku sebagai Park Jiyeon.”

~To Be Continue~

6 responses to “[CHAPTER-PART 2] EIRENE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s