[CHAPTER-PART 1] EIRENE

EIRENE

EIRENE-1

||Author : Lyzee7||

||Main Cast : Kim Myungsoo|Park Jiyeon|Irene|Ryu Hwayoung||

||Genre : Family|Romance|Complicated|Royal|Little Action||

||Rating : PG-17||

 EIRENE CAST

Seorang pria duduk di sebuah kursi dengan bantalan berwarna merah terlihat sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon. Pria itu menyilangkan kaki kanan di atas kaki kirinya dan tangan kiri yang menopang kepala. “Kinerjamu memang tidak diragukan lagi… Tidak, aku serius mengatakannya… Tentu. Sejujurnya, aku punya satu tugas untukmu… Akhir-akhir ini anakku merasa ada yang mengikutinya, dan aku ingin kau mengawasi semua yang ada di sekelilingnya… Aku menunggu laporanmu, Eirene.” Ia menutup flip ponselnya lalu meletakkannya di meja bundar tepat di depannya. Ia menyeringai kecil sebelum berdiri, mengambil segelas wine lalu meminumnya seteguk.

Tiba-tiba seorang wanita memeluknya dari belakang. Wanita itu bertanya, “Kau masih mencemaskannya?”

Pria itu mengangguk lalu membalikkan badannya ke arah istrinya. “Orang-orang yang berani menantang keluarga kita adalah orang yang berbahaya. Mereka pasti sudah menyusun taktik untuk menggagalkan rencana kita nantinya.”

“Rencana itu baru akan terlaksana beberapa tahun lagi, sayang,” sahut wanita itu.

“Tapi mereka juga punya rencana untuk menjatuhkan kita bagaimana pun caranya.”

***

Kim Myungsoo menggeliat pelan di bawah selimut hangatnya ketika sinar matahari yang masuk melalui gorden menerpa wajahnya. Tidur nyenyak yang ditemani mimpi indahnya pun terganggu saat mendengar sebuah suara yang memintanya untuk segera bangun. Beberapa detik kemudian ia mendudukkan tubuhnya dan menumpukan kepala ke tangan kiri hingga menutupi mata kirinya. Ia melirik ke arah kanannya dengan mata menyipit, menemukan seorang pelayan -menggunakan kemeja putih dan jas hitam dengan gaya rambut rapi- sedang membungkuk hormat padanya.

“Selamat pagi, Yang Mulia Putera Mahkota. Sekarang sudah pukul enam dan anda harus bersiap-siap untuk sekolah,” kata pelayan itu. “Kami sudah menyiapkan air hangat untuk anda membersihkan diri.”

“Baiklah. Kau boleh keluar,” ucap Myungsoo setelah kaki telanjangnya menyentuh lantai marmer kamarnya. Pelayan itu membungkuk sebentar lalu berjalan keluar setelah mendapat anggukan dari Myungsoo. Myungsoo melepas kaos hitamnya sambil berjalan menuju kamar mandi lalu melemparkan kaosnya di lantai. Setelah melepas semua pakaiannya, Myungsoo melirik bathup lalu mendecakkan lidahnya pelan. Tanpa mengatakan apa pun ia masuk ke bilik shower yang dibatasi kaca blur setinggi dadanya. Diputarnya kran air hangat sampai guyuran air mengenai kepalanya.

Myungsoo benar-benar memiliki tubuh yang indah walaupun ototnya tidak sebesar pria yang rutin pergi ke gym. Tapi ia mempunyai perut sixpack dan punggung yang tegap. Lengannya terlihat kuat setiap kali ia menggerakkannya. Ia sungguh sempurna didukung dengan ketampanannya dan statusnya sebagai Putera Mahkota. Sungguh lelaki sempurna dengan kehidupan yang sempurna pula.

Membasahi kepalanya seperti ini benar-benar membuatnya rileks. Apa lagi akhir-akhir ini aktivitas yang ia jalani sedikit membuatnya tidak tenang. Sebenarnya ia sudah biasa diikuti oleh beberapa gadis yang menggemarinya. Seperti saat pelajaran di kelas, makan siang di kantin sekolah, pelajaran olahraga di lapangan, bahkan pernah sampai di toilet. Tapi, entah kenapa kali ini ia merasa lebih was-was. Ia harap hari ini tidak ada yang mengusik kehidupan damainya.

Beberapa menit kemudian Myungsoo keluar dengan menggunakan kimono handuk sambil menggosok rambutnya dengan handuk biasa. Ia mendekat ke arah nakas di samping ranjangnya lalu meraih secangkir teh hangat yang sudah disiapkan untuknya seperti biasa. Setelah meminumnya sedikit, Myungsoo mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah.

TOK

TOK

“Masuk!” seru Myungsoo setelah mendangar ketukan di pintu kamarnya.

Pelayan itu masuk ke dalam kamar Myungsoo, membungkuk padanya yang sedang memakai dasi berwarna merah tua. “Yang Mulia Raja dan Ratu sudah menunggu di ruang makan untuk sarapan,” katanya sopan.

Myungsoo mengencangkan dasinya ke atas lalu meraih tas dan blazernya. “Aku sudah selesai. Ayo,” ajak Myungsoo pada pelayannya untuk segera pergi ke ruang makan.

Sesampainya di sana, Myungsoo menemukan kedua orang tuanya yang sudah menunggunya. “Selamat pagi, Ibu, Ayah,” sapa Myungsoo yang langsung disambut oleh mereka. Keningnya mengernyit melihat kedua orang tuanya berpakaian formal. “Apakah kalian mau pergi ke suatu tempat?” tanyanya. Ia duduk di kursi di depan kedua orang tuanya.

Ayahnya, sang Raja (Kim Jisub) mengangguk lalu menjawab, “Kami akan menghadiri acara amal setelah itu menghadiri pertemuan dengan para menteri dan beberapa bangsawan lainnya.”

Myugsoo mengangguk mengerti lalu memasukkan se-sendok sup ke mulutnya.

Beberapa menit berlalu dengan suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Setelah selesai, Myungsoo membersihkan sudit bibirnya dengan tisu lalu bangkit dan berpamitan untuk pergi ke sekolah. Di depan pintu masuk istana, sebuah mobil hitam -dengan kaca gelap dan dua bendera kecil kerajaan di kap- menunggunya. Myungsoo masuk setelah seorang pelayan membukakan pintu belakang untuknya.

***

Pagi ini suhunya begitu dingin di sekolah kerajaan yang terletak di kota Seoul. Beberapa murid memilih memakai pakaian yang dirangkap dengan sweater atau menggunakan syal. Tetapi ada juga yang tetap menggunakan blazer sekolah yang di rangkap rompi.

Jiyeon membenahi kerah sweater abu-abunya hingga menutupi hidungnya yang sedikit memerah karena kedinginan. Udara desember membuatnya menjadi beku dan ingin segera masuk ke kelas barunya untuk menghangatkan diri. Dipandanginya gedung megah itu sekali lagi sebelum menaiki beberapa anak tangga dan masuk. Tetapi tiba-tiba rombongan siswa/siswi datang menyeruduk–lebih tepatnya berbondong-bondong keluar, mendekati sebuah mobil hitam dengan dua bendera di kapnya yang baru tiba- hingga membuat Jiyeon terjungkal keluar.

“Ouch! It’s hurt!” umpat Jiyeon lalu berdiri dan menepuk rok ‘barunya’. Jiyeon membalikkan tubuhnya tepat ketika pintu penumpang dibuka oleh sopir. Seseorang dengan syal abu-abu dan menenteng tas merah keluar dari sana. Jiyeon memegang ujung kerah sweaternya menggunakan jemari tangan kanannya -yang terdapat sebuah cincin silver yang berukir ‘JM’ di jari manis- menyembunyikan seringaian. Ia bergumam dengan sangat pelan, “You’ve came. Let’s play the game, Prince.”

Jiyeon segera berpaling membelakangi kerumunan yang sedang membuat ruas jalan agar lelaki yang baru turun dari mobil itu bisa lewat. Suara ketukan sepatu boots-nya menggema di koridor sekolah yang saat itu sepi. Hanya ada beberapa siswa yang tidak tertarik dengan penerus tahta kerajaan yang baru tiba di sekolah.

.

Jiyeon berdiri di depan kelas bersama dengan wali kelas yang tidak salah bernama Lee Haeri dan seorang murid baru yang bernama… entah lah. Saat ia diminta wali kelasnya untuk memperkenalkan dirinya.

“H-hai, semuanya. Namaku Jiyeon- Park Jiyeon,” ucap Jiyeon dengan sedikit… gugup?

“Kau tidak ingin menyebutkan tanggal lahir dan hobimu?” tanya Haeri.

Jiyeon memalingkan pandangannya ke apah Hyeri dengan kening mengerut. “T-tanggal lahir?”

Hyeri mengangguk.

“Ta-tanggal lahirku…” dilihatnya beberapa teman barunya yang menunggu kata-kata yang selanjutnya keluar dari bibir cherry miliknya. Termasuk Sang Putera Mahkota yang sekelas dengannya, “… 25 Desember.”

“Woah! Kita bisa merayakannya besok,” sahut siswa yang duduk paling belakang.

Jiyeon menggeleng. “Tidak perlu merayakannya,” ucapnya yang tidak didengar teman-temannya yang berebut membawa persiapan pesta.

“Aku membawa cake!”

“Aku membawa balon!”

“Kalau aku akan mencari hadiahnya bersama Joohyun!”

“Hari ini adalah hari terakhir sekolah. Kalian lupa kalau besok libur?” ucapan Haeri membuat meraka menepuk jidat mereka pelan. Lee Haeri menepuk pundak Jiyeon, tersenyum. “Duduklah di salah satu bangku yang masih kosong.”

“Ne, seonsaeng-nim,” jawab Jiyeon. Ia pun memilih bangku baris ke tiga kolom ke dua dari kiri.

Melihat Jiyeon duduk di bangkunya, Haeri mempersilahkan murid baru yang lain untuk memperkenalkan diri.

“Hai! Namaku Irene,” ucapan gadis berkuncir kuda itu sukses membuat gerakan Jiyeon yang sedang mengeluarkan buku pelajaran pun terhenti. Irene melanjutkan, “Aku lahir tanggal 20 Desember. Hobiku… bermain catur?”

“Hey! Kita harus merayakan ulang kalian setelah libur musim dingin!” seru salah satu murid. Perdebatan untuk merencanakan pun terulang kembali sampai Irene duduk di samping bangku Myungsoo yang satu-satunya masih kosong.

Jiyeon melirik punggung Irene lalu beralih menatap punggung Myungsoo. Ia terus memandang punggung Myungsoo sambil meletakkan beberapa peralatan belajarnya. Jiyeon mengambil sebuah pulpen berwarna biru lalu memutar-mutar pulpen itu di jari kanannya tanpa melepas tatapannya.

Kim Myungsoo.

Sang Putera Mahkota.

Calon Penerus Tahta Raja Korea Selatan.

Sang Pemimpin Mutlak.

Kata-kata itu terus terngiang di kepala Jiyeon. Ia mengulangnya berkali-kali bak sebuah mantra. Kim Myungsoo lahir pada tanggal 13 Maret 199-, Sang Putera Mahkota yang begitu di agung-agungkan oleh masyarakat Korea Selatan karena ketampanan dan salah satu dari sekian Calon Penarus Tahta Kerajaan yang diakui oleh masyarakat dunia. Dengan cara berpikir dan keahliannya dalam berbagai bidang, ia sering disebut-sebut Pemimpin Mutlak yang akan membawa kedamaian pada negeri ini.

***

Pagi ini benar-benar mengejutkan seorang Kim Myungsoo. Dua orang siswi baru sekaligus datang ke kelasnya yang membuat teman-temannya akan membuat pesta dadakan untuk merayakan ulang tahun yang sudah terlewat beberapa hari yang lalu. Entah kebetulan atau tidak, mereka lahir di bulan yang sama dan terlihat berasal dari keluarga bangsawan –yah, sekolah ini memang khusus untuk anak-anak seperti mereka sih- dengan penampilan mereka yang sedikit mewah.

Irene… nama gadis yang duduk di sampingnya ini terdengar familiar di telinganya. Atau mungkin ini hanya perasaannya saja. Ia mempunyai nama yang aneh tanpa menunjukkan kalau ia berasal dari luar negeri maupun orang tuanya yang mungkin blasteran. Bagaimana Myungsoo bisa tahu? Tentu saja dari logatnya berbicara. Tapi, gadis berkaca mata normal (Irene) ini terbilang gadis yang cukup fashionable atau mungkin pecinta fashion. Karena acsesories yang dipakainya lengkap dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Sedangkan Park Jiyeon, nama itu sama sekali asing baginya. Ia tak melihat ada yang istimewa dari nama gadis itu maupun caranya berpakaian. Tetapi ia bisa melihat di telunjuk kiri gadis itu tersemat cincin dari blue diamond yang sangat langka dan satu cincin di jari manisnya yang terlihat seperti cincin anak muda pada umumnya. Yang menarik adalah tanggal saat gadis itu lahir. Hari di mana perayaan natal besar-besaran yang dirayakan di seluruh penjuru bumi. Dan menurut Myungsoo, cara gadis itu berbicara terdengar sedikit- entahlah.

Tangan Myungsoo tiba-tiba berhenti menulis ketika ia merasa di awasi. Ini perasaan yang sama seperti yang ia rasakan akhir-akhir ini walaupun sedikit berbeda. Dengan cepat ia memutar kepalanya sedikit ke belakang dan menemukan teman barunya itu sedang menatapnya lekat-lekat sambil bermain pulpen dengan tangan kanannya. Gadis itu langsung mengalihkan tatapannya dari Myungsoo menuju Lee Haeri yang sedang menerangkan pelajaran di depan kelas. Mata Myungsoo berubah lebih tajam memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu -Jiyeon.

Gadis itu mulai mencatat materi yang diberikan Lee Haeri di depan kelas. Jiyeon meletakkan tangan kirinya ke kerah sweater abu-abunya, lalu menariknya ke atas sampai menutup dagu lancipnya. Setelah itu tangannya bergerak menyelipkan anak rambut coklat-kemerahan panjang itu ke belakang telinga karena mengganggu pengelihatannya.

Hebat! Sudah tertangkap basah sedang menguntitku seperti itu, sekarang dia bertingkah seolah tak terjadi apa-apa,” batin Myungsoo lalu mengalihkan perhatiannya pada pelajaran lagi.

Tanpa Myungsoo sadari, Irene terlihat tersenyum samar di sampingnya.

.

Setelah bel istirahat berbunyi, semua murid berhamburan keluar kelas untuk makan siang maupun melakukan aktivitas yang ingin mereka lakukan. Myungsoo memanggil sahabatnya yang duduk tepat di depannya.

“Hyunwoo-ah! Ayo kita ke kantin,” ajak Myungsoo yang disambut jawaban OK dengan menautkan ibu jari dan telunjuknya lalu mengangkat ke atas kepalanya.

Myungsoo menarik syal yang awalnya ia sampirkan di kursinya lalu menyampirkan ke lehernya tanpa melilitkannya. Ia pun membenahi blazernya membuat syalnya terapit kemeja dan blazernya. Myungsoo sedikit melirik Jiyeon yang sepertinya juga akan keluar kelas lalu ia memanggil Hyunwoo lagi untuk segera pergi.

Myungsoo dan Hyunwoo berjalan beriringan di koridor sekolah. Berbeda dengan Hyunwoo yang sibuk melambaikan tangannya pada beberapa siswi yang menyapanya, Myungsoo lebih memilih diam dan memikirkan sesuatu.

“Masih merasa diikuti?”

Suara Hyunwoo menyentakkan Myungsoo kembali ke dunia nyata. Ia menatap sahabatnya lalu menghela napas.

“Serius?!” seru Hyunwoo pelan lalu mengedarkan matanya ke setiap sudut koridor dan ke belakang. “Tidak ada yang mencurigakan,” lanjutnya.

“Akan ku ceritakan nanti,” ucap Myungsoo yang langsung dibalas anggukan oleh Hyunwoo.

Sesampainya di kantin sekolah, mereka mengambil makanan yang sudah disediakan oleh koki sekolah lalu duduk di meja paling sudut. Di sela-sela makan, Myungsoo menceritakan semua hal yang terjadi di kelas. Mulai dari pendapatnya tentang teman-teman barunya, saat Jiyeon menatap dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Jiyeon, ya…” gumam Hyunwoo lalu mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin dan menemukan gadis yang mereka bicarakan sedang makan sambil mendengarkan musik lewat earphone. “Mungkin dia suka padamu. Seperti gadis-gadis yang lain,” tuturnya.

“Menurutmu begitu?” tanya Myungsoo tidak yakin dengan pendapat Hyunwoo.

“Hey boys! Apa yang sedang kalian bicarkan?”

Dua orang gadis menghampiri meja mereka dengan tiba-tiba. Gadis itu adalah Irene, dan yang menyapa tadi bernama-

“Hwayoung-ah, kenapa kau menyapa Yang Mulia Putera Mahkota seperti itu?” bisik Irene pada gadis bersurai hitam panjang yang ada di sampingnya.

Hwayoung mengatakan bahwa kedua orang tuanya adalah bangsawan yang paling dekat dengan kedua orang tua Myungsoo. Jadi, ia sudah terbiasa menyapa Myungsoo seperti itu di sekolah.

Mereka pun duduk dengan posisi Hwayoung di samping Myungsoo dan Irene di samping Hyunwoo. Hwayoung menceritakan bagaimana ia dan Irene bisa bersahabat walaupun baru bertemu. Hwayoung berkata bahwa ia dan Irene mempunyai selera yang sama terhadap fashion bahkan perancang favorit mereka pun sama. Sedangkan Myungsoo dan Hyunwoo agak risih dengan tingkah Hwayoung yang berusaha mendekati Myungsoo dan bla bla bla.

Sekali lagi Myungsoo merasa ada yang mengawasinya. Ketika ia mengalihkan matanya menuju sudut kantin yang lain, ia melihat Jiyeon yang lagi-lagi menatapnya lekat-lekat sebelum Jiyeon memutus kontak mata lebih dulu lalu meminum jus strawberry yang berada di depannya. Gadis itu terlihat menggumampan satu kata singkat dan langsung beranjak dari tempatnya duduk. Karena tidak mau kehilangan ‘seseorang yang mencurigakan’ Myungsoo segera pamit pada Hyunwoo dan berjalan sedikit cepat mengikuti Jiyeon yang sepertinya pergi ke danau yang terletak di belakang sekolah.

Sampai di sana, ia menemukan satu-satunya murid Royal School yang duduk di kursi panjang depan danau yang airnya sedikit beku. Suhu udaranya begitu dingin membuat Myungsoo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya agar tidak membeku. Berjalan mendekati Jiyeon dengan pelan, ia berhenti tepat di samping kursi panjang yang diduduki Jiyeon. Sama seperti yang dilakukan gadis itu, Myungsoo tidak melepas pandangannya pada permukaan danau yang ber-embun.

“Anda lebih memilih membeku di tempat ini dan meninggalkan tempat yang lebih hangat. Adakah hal penting yang ingin anda lakukan, Yang Mulia?” ucap Jiyeon memandang permukaan danau dengan tatapan kosong.

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu?” uap putih keluar dari mulut Myungsoo ketika ia mengatakannya. Ia melanjutkan, “Kau memang memakai sweater, tapi kau masih memakai rok sekolah. Apakah kau tidak kedinginan keluar hanya dengan memakai itu?” kini Myungsoo menatap Jiyeon lekat-lekat. Dari sudut matanya terlihat hidung gadis itu yang memerah dan pipinya merona karena menahan dingin.

Jiyeon terkekeh tanpa suara menutup bibirnya dengan tangan kanannya. “Suhu seperti ini bukan apa-apa dengan yang pernah saya rasakan,” ucap Jiyeon membuat kening Myungsoo berkerut.

“Apa maksudmu?”

Jiyeon menggeleng. Ia menjawab, “Tidak ada maksud apa-apa, Yang Mulia. Saya hanya asal bicara. Maaf atas kelancangan saya.” Tiba-tiba matanya menangkap seekor anjing dengan bulu putih yang kotor karena tanah dan salju sedang meringkuk di bawah pohon sedang menggonggong lemah. Ia berdiri lalu sedikit membungkuk pada Myungsoo, “Saya permisi, Yang Mulia.” Jiyeon berlalu dari hadapan Myungsoo menuju anjing itu

Ketika Jiyeon mendekat, ia baru tahu kalau ukuran anjing itu cukup besar dan sedikit terlihat liar. Jiyeon berjongkok meletakkan kedua lututnya di salju lalu mengulurkan tangannya membuat anjing itu menggeram, menggerakkan mulutnya menggigit tangan Jiyeon dan saat itu-lah ia mendengar suara Myungsoo.

“Anjing itu berbahaya, Jiyeon-ssi. Menjauhlah darinya!” desis Myungsoo khawatir. Ia berdiri tepat di belakang Jiyeon dengan was-was. Ia hampir membentak Jiyeon sekali lagi karena gadis itu mengulurkan tangannya yang lain untuk mendekat ke arah anjing itu sampai mendengar suara lirih Jiyeon.

“Aku tidak akan menyakitimu…” mata Jiyeon menatap anjing itu penuh kelembutan sambil terus mendekatkan tangannya. “…jangan takut, aku hanya ingin menyembuhkanmu…” geraman hewan itu melemah, melepaskan gigitan yang tidak menggores tangan Jiyeon sedikit pun lalu bersingut ke arah Jiyeon. Saat tangannya berhasil meraih pipi anjing itu, ia mengelusnya dengan lembut. “…kau kedinginan…” seakan mencari sesuatu, Jiyeon mengedarkan pandangannya lalu menemukan Myungsoo yang berdiri di belakangnya. Saat itu pula matanya menangkap syal yang dikenakan Myungsoo di balik blazernya dan mendapat sebuah ide.

“Apa yang kau lakukan?” geram Myungsoo saat melihat Jiyeon yang melepaskan sweater abu-abunya. “Kau…!” detik itu pula Myungsoo mematung, seolah waktu hanya berhenti pada tubuhnya melihat Jiyeon melilitkan sweaternya pada tubuh anjing itu. Kini ia menemukan Jiyeon yang hanya mengenakan kemeja sekolah yang ia tahu tidak bisa menghangatkan tubuh gadis itu. Ia terus terdiam sampai suara Jiyeon menyadarkannya.

“Makhluk berhati malaikat pun bisa berubah menjadi iblis setelah mengalami penderitaan yang begitu dalam…” Jiyeon menggendong anjing itu dengan hati-hati lalu berdiri, berbalik menghadap Myungsoo. Jiyeon menunduk sekali lagi sedikit membungkuk pada Myungsoo sebelum berlalu. Belum jauh Jiyeon berjalan, gadis itu berhenti lalu memutar badannya sedikit untuk menatap Myungsoo. “Kembalilah ke kelas, Yang Mulia. Di sana lebih hangat dari pada berdiam diri di sini.”

Myungsoo yang awalnya terdiam sambil tetap menghadap batang pohon itu mengeraskan rahangnya lalu berbalik menatap kepergian Jiyeon dengan mata yang tajam. “Apa yang sebenarnya kau inginkan? Siapa kau sebenarnya?”

***

Jiyeon berjalan menyusuri koridor yang sudah sepi karena sepertinya pelajaran sudah dimulai. Ia mengabaikan hal itu lalu sedikit lega karena yang sicarinya sejak tadi sudah ia temukan. Didorongnya pintu UKS lalu masuk ke dalamnya.

“Permisi!” Jiyeon melihat petugas kesehatan yang terlihat menulis sesuatu.

Wanita dengan jubah putih itu menoleh ke arah Jiyeon lalu mengernyit ketika melihat anjing yang dibawanya. “Ada yang bisa kubantu?”

Jiyeon mengangguk. “Bisakah anda mengobati kakinya yang terluka?” ia menunjukkan kaki depan anjing itu yang mengeluarkan darah.

Wanita itu terkekeh lalu berkata dengan sinis, “Aku hanya mengobati manusia, nona. Makhluk menyedihkan seperti anjing itu lebih pantas di jalanan dan mengemis makanan pada orang-orang.”

Jiyeon menghentikan gerakan tangannya yang mengelus kepala anjing itu lalu menatap petugas UKS dengan mata melebar.

“Kau adalah keturunan bangsawan, aku heran kenapa kau tidak jijik menggendong hewan yang sudah sekarat karena hepotermia itu.” lanjut wanita itu lalu melipat tangannya di depan dada.

Rahang Jiyeon mengeras dan tatapan matanya menjadi lebih tajam.

“Kita, manusia yang mengikuti hukum negara berbeda dengan anjing itu yang seharusnya sudah dimangsa oleh hewan lain dan mengikuti hukum alam. Semua keturunan bangsawan yang bersekolah di sekolah kerajaan ini bersikap layaknya bangsawan dan mengetahui di mana level mereka. Yang mereka lakukan sangat kami hormati karena dari kecil mereka sudah di-didik untuk melakukan hal-hal yang akan membuat mereka dihargai. Lalu, bagaimana kau di-didik sampai tidak mengetahui seberapa tinggi harga dirimu? Atau mungkin kau bukanlah keturunan bangsawan?” cerca wanita itu tanpa henti.

Jiyeon tetap diam dengan napasnya yang menjadi semakin berat.

Wanita itu melanjutkan, “Aku benar, ya? Kau heran aku tahu dari mana? Itu karena aku mengenal semua keturunan para bangsawan karena mereka sering disorot dengan keanggunan dan kekuasaan mereka. Tapi lihatlah dirimu! Aku sama sekali tidak mengenalmu. Aku tidak mengenal orang tuamu yang mungkin mengemis pada Raja agar-” ucapan wanita itu terhenti saat melihat Jiyeon menarik kedua sudut bibirnya ke atas, tersenyum.

Benar Jiyeon tersenyum. Tapi bagi wanita yang menghinanya habis-habisan tadi, entah mengapa hawa ruangan itu menjadi dingin walaupun pemanas ruangan sudah dinyalakan. “Ke- kenapa k-kau tersenyum?”

Tanpa menghilangkan senyumnya Jiyeon berkata, “Saya baru tahu betapa baunya anda.”

“Apa maksudmu?!” desis wanita itu.

Jiyeon maju beberapa langkah mendekati wanita itu lalu berhenti. Ia menautkan alisnya membuat ekspresi sedikit kecewa. “Anda tidak mencium baunya?” tanya Jiyeon terdengar sedih. “Ya ampun, saya kasihan dengan anda yang tidak bisa menggunakan hidung anda lebih baik dari anjing yang anda sebut makhluk menjijikkan hanya karena keadaannya.”

“Beraninya kau…!” wanita itu mengangkat tangannya berniat menampar Jiyeon. Jiyeon yang lebih sigap segera menangkap tangan wanita itu dengan salah satu tangannya.

“Tidakkah anda bisa mencium baunya? Bau yang bahkan lebih busuk dari bangkai binatang yang bahkan bisa membuat mata saya perih,” katanya datar. Ia mengangkat dagunya, memandang rendah wanita yang menatapnya marah. Ia melanjutkan, “Saya pernah berhadapan dengan orang seperti anda. Orang yang bahkan lebih rendah dan lebih menjijikkan dari sampah yang harus dibersihkan.”

Wanita itu mulai menatap Jiyeon takut. Menarik tangannya lalu bersingut mundur menjauhi Jiyeon. “Si-siapa kau?” bibir wanita itu bergetar takut saat mengucapkannya.

“Anda tidak perlu mengenal saya.” Jawab Jiyeon dengan arogan. “Yang perlu anda ketahui adalah… berpikirlah seratus kali sebelum membuat saya marah. Karena saya bukan tipikal seseorang yang mudah melepaskan orang yang merendahkan saya.” Senyumnya mengembang lagi lalu berkata, “Bisakah anda menunjukkan alkohol, kapas, obat merah, dan perban? Saya akan mengobatinya sendiri.”

Dengan tubuh yang gemetar, wanita itu segera mengambilkan semua yang diperlukan Jiyeon. Jiyeon menyeringai lalu meletakkan anjing yang masih digendongnya ke ranjang dengan hati-hati.

***

Sekali lagi Myungsoo melirik ke arah pintu yang tidak kunjung terbuka. Gadis itu belum kembali walaupun pelajaran sudah dimulai tiga puluh menit yang lalu. Gadis itu baik-baik saja, bukan? Pertanyaan itu berkali-kali terngiang di otak pintarnya.

“Anda baik-baik saja, Yang Mulia?”

Suara guru bernama Han Yonguk mengagetkan Myungsoo.

“Ya?” tanya Myungsoo kikuk ketika melihat teman-temannya menatapnya.

“Anda baik-baik saja?” tanya Han Yonguk sekali lagi.

Myungsoo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu mendapatkan ide. “Kepalaku sedikit pusing. Apakah aku boleh mengambil obat di UKS sebentar?”

“Tentu saja, Yang Mulia,” jawab Han Yonguk lalu mempersilahkan Myungsoo.

Myungsoo keluar ruang kelas lalu pergi ke tempat tujuannya karena mungkin Jiyeon akan mengobati anjing itu di sana. Beberapa menit kemudian ia sampai di lorong yang akan mengantarkannya ke UKS. Tiba-tiba matanya menangkap seorang gadis yang sedang menutup pintu lalu berjalan mendekatinya.

“Murid baru sepertimu sudah berani bolos pelajaran, huh?” ucap Myungsoo membuat gadis itu berhenti melangkah.

Jiyeon mendongakkan kepalanya menatap Myungsoo yang berdiri beberapa langkah di depannya. “Yang Mulia?” lirih Jiyeon.

***

Jiyeon membersihkan luka yang ada di kaki anjing itu dengan hati-hati. Lengan kemejanya sudah ia gulung sampai siku agar tidak mengganggu pergerakannya. Rambut panjangnya pun ia kuncir asal kebelakang.

“Nona,” panggil petugas wanita itu.

“Hmm?”

Wanita itu menghembuskan napasnya pelan. “Boleh saya tahu, siapa nama anda?” tanyanya takut.

“Panggil saja Jiyeon,” Jawab Jiyeon tanpa menghentikan pengobatannya. Setelah mengoleskan obat merah, Jiyeon melilitnya dengan perban.

“Kalau begitu, Jiyeon-ssi…” wanita itu terdiam lalu melanjutkan, “…maaf atas ketidak sopanan saya tadi.”

Jiyeon mengangguk lalu bangkit dari duduknya menghadap wanita yang menunduk takut padanya. “Saya akan kembali ke kelas. Jadi, bisakah saya meminta tolong jaga dia sampai bel pulang?”

Wanita itu mengangguk. “Tentu saja.”

Jiyeon sedikit membungkuk berterima kasih lalu berjalan menuju pintu. Tangannya terhenti ketika ia akan memutar gagang pintu UKS lalu membuka suaranya berkata datar, “Gunakan tangan dan mulutmu dengan benar sebelum aku yang akan mematahkan dan merobeknya. Walaupun manusia tetap berada di bawah kekuasaan dan hukum Raja, tapi hukum rimba masih ada. Jadi, lebih berhati-hatilah untuk berperilaku.” Setelah itu ia membuka pintu dan keluar meninggalkan wanita yang mematung dengan tubuh gemetar.

Jiyeon berjalan menunduk sambil merutuki apa yang baru saja dikatakannya. Bodoh! Bisa-bisanya kelepasan bicara seperti itu!

“Murid baru sepertimu sudah berani bolos pelajaran, huh?”

Langkah Jiyeon terhenti, ia mendongak. Menemukan Myungsoo yang menatapnya tajam di depannya. “Yang Mulia?” ia bertanya, “Apa yang anda lakukan di sini?”

“Eh?- Aku…” bodoh, Kim Myungsoo! Cari alasan! “Aku ingin mengambil obat sakit kepala di UKS. Kembalilah ke kelas!”

Jiyeon mengangguk lalu tersadar sesuatu. “Maaf, Yang Mulia. Kelas kita dimana?” tanyanya membuat Myungsoo melongo.

“Tunggu disini! Aku akan mengambil obat sebentar.” Perintah Myungsoo lalu masuk ke dalam ruang UKS.

Jiyeon menyandarkan tubuhnya di dinding menunggunya dalam diam sambil mengetuk-ketukkan sepatunya di lantai. Ia mengangkat tangan kirinya mengamati blue diamond miliknya yang indah.

“Mengagumi betapa cantiknya berlianmu, eh?”

Jiyeon menoleh mendapatkan Myungsoo yang sudah berdiri di sampingnya. Buru-buru ia menurunkan tangannya dan menggeleng. “Tidak ada yang perlu dikagumi, Yang Mulia.”

“Baiklah. Kita harus kembali ke kelas. Ayo!” ajak Myungsoo.

Mereka pun berjalan beriringan walau pun Jiyeon sedikit di belakang Myungsoo karena menurut Jiyeon seseorang yang memiliki derajad lebih tinggi harus didahulukan.

“Kau seperti pengawalku kalau berjalan di belakangku,” sindir Myungsoo.

“Saya tidak keberatan kalau anda menganggapnya seperti itu,” sahut Jiyeon cuek.

Myungsoo menghela napasnya kasar merasa diabaikan Jiyeon. Ia mulai mengubah topik, mencoba mencari tahu tentang kehidupan Jiyeon. “Apa yang kau lakukan pada Haekyo seonsaeng-nim?”

DEG

“Apa?” Pertanyaan Myungsoo membuat langkah Jiyeon terhenti dan Myungsoo ikut berhenti.

“Kau membuat Haekyo seonsaeng-nim mau mengurus anjingmu. Padahal dia tidak pernah mau mengurus anjing kumuh dan hanya memilih anjing yang setiap minggunya pergi ke salon hewan.” Jelas Myungsoo membuat Jiyeon lega. “Kenapa kau bisa membuatnya seperti itu?”

Mereka melanjutkan langkah mereka.

Jiyeon menaikkan sebelah alisnya, berpikir. “Hanya membujuknya dengan sedikit ‘paksaan’.” Benar, paksaan yang tidak bisa ditolak.

“Setelah ini, kau akan membawa anjing itu ke mana?” tanya Myungsoo lagi.

“Tentu saja ke rumah, Yang Mulia,” jawab Jiyeon.

“Jiyeon…” panggil Myungsoo disahut deheman oleh Jiyeon. “Tidak-kah bahasamu terlalu formal? Maksudku, ayolah. Santai saja,” ucap Myungsoo.

“Menurut saya tidak ada yang aneh dengan bahasa saya,” sahut Jiyeon.

“Tentu saja aneh. Dari pada Putera Mahkota, semua orang di sini lebih menganggapku bintang boy band,” gerutu Myungsoo yang disambut kekehan Jiyeon. “Apa aku boleh bertanya satu hal lagi, Jiyeon?”

Jiyeon menatap Myungsoo yang meliriknya dari balik bahu. “Bukankah sejak tadi anda sudah menginterogasi-ku, Yang Mulia?” tanya Jiyeon lucu.

Ketahuan! “A-aku tidak sedang menginterogasi-mu, kau tahu!” Myungsoo berusaha mengatakannya se-datar dan se-cuek mungkin.

“Maaf. Silahkan ajukan pertanyaan anda, Yang Mulia,” kata Jiyeon sambil menahan senyumnya.

“Aku tidak pernah mendengar tentangmu sebelumnya…” Myungsoo mengatakannya pelan walaupun Jiyeon tetap bisa mendengarnya. “…tentang keluargamu…”

Baiklah. Jiyeon benar-benar tidak mengerti maksud Myungsoo berkata seperti itu. Tapi Jiyeon tetap diam menunggu apa yang akan diucapkan Myungsoo selanjutnya.

Myungsoo berhenti saat akan sampai di depan pintu kelasnya. Ia berbalik menatap Jiyeon lekat-lekat. “Aku mengetahui dan mengenal semua teman-temanku walau hanya sekedar pernah mendengar nama atau saat mereka menyebutkan nama keluarga mereka. Aku juga familiar dengan nama Irene.” Myungsoo berhenti bicara untuk mengambil napas. Ia melanjutkan, “Tapi aku tidak begitu familiar saat mendengar namamu, aku juga tidak mengetahui siapa nama orang tuamu. Akhir-akhir ini aku selalu merasa diawasi oleh seseorang. Lalu perasaan itu muncul kembali setiap saat kau melihatku dari tempatmu duduk. Dapat kusimpulkan kalau kau bukan hanya sekedar keturunan bangsawan. Aku benar?”

Jiyeon tersenyum tipis mendengar setiap kata-kata yang terlontar dari bibir Myungsoo. Ia membalas, “Anda tidak mengenal saya maupun keluarga saya… bahkan setelah saya menyebutkan nama orang tua dan pendahulu saya…” senyumnya menghilang digantikan tatapan kosongnya lalu melanjutkan, “Satu hal, Yang Mulia… akhir-akhir ini anda merasa diawasi seseorang dan anda mencurigai saya?”

Myungsoo mengangguk.

“Sangat berbahaya mengatakan hal seperti ini pada orang yang baru anda kenal dan anda curigai. Seandainya saya memang orang yang mengawasi anda, saya akan mengambil tindakan untuk mencapai tujuan saya. Jadi, berhati-hatilah Yang Mulia.” Jiyeon membungkuk hormat pada Myungsoo melewati Myungsoo yang tak melepas tatapan tajamnya pada Jiyeon. Sebelum mencapai pintu, Jiyeon menghentikan langkahnya tepat di samping Myungsoo lalu berbisik, “Dan, ya. Saya bukan hanya sekedar keturunan bangsawan, Yang Mulia.” Jiyeon menarik gagang pintu setelah mengetuknya lalu masuk.

Myungsoo melebarkan matanya mendengar pengakuan terakhir Jiyeon. Jadi memang dia yang memata-mataiku selama ini.

***

Irene membenahi kacamata dengan frame hitamnya yang sedikit miring ketika sedang menulis di buku catatannya.

TOK

TOK

Mendengar suara ketukan, Irene mendongakkan kepala dan menemukan Jiyeon yang baru saja muncul sepanjang jam pelajaran yang sudah di mulai 45 menit yang lalu.

“Namamu Park Jiyeon, bukan?” tanya Han Yonguk setelah melihat data muridnya. Jiyeon meng-iyakan pertanyaan Yonguk. “Apa yang membuatmu terlambat masuk ke kelasku, nona Park?”

Jiyeon berusaha membuat ekspresi se-menyesal mungkin lalu berkata dengan kepala menunduk, “Maaf, seonsaeng-nim. Saya merasa tidak enak badan dan memilih istirahat di UKS sebentar.”

“Baiklah. Silahkan duduk di kursimu!” perintah Yonguk pada Jiyeon.

Jiyeon segera duduk di kursinya setelah mengatakan terima kasih pada Yonguk. Tak lama kemudian pintu kembali terbuka dan menampilkan Myungsoo yang masuk dengan ekspresi sedikit murung.

“Anda sudak baik-baik saja, Yang Mulia?” tanya Yonguk yang hanya dibalas deheman oleh Myungsoo.

Tanpa mengatakan apa pun, Myungsoo duduk di kursinya dalam diam.

Irene tidak berkomentar apapun melihat Myungsoo yang terlihat bad mood. Ia melirik Jiyeon yang juga sedang meliriknya dengan seringaian yang tidak bisa ia artikan. Dibalasnya seringaian Jiyeon dengan mengangkat sebelah alisnya, menantang. So, the game has begin, eh? Let’s see, who’ll be the winner, Lady.

***

Bel pulang sudah berbunyi. Jiyeon mengemas peralatan tulisnya ke dalam tas lalu berjalan keluar kelas menuju ruang UKS, megambil peliharaan barunya. Sesampainya di sana, Jiyeon menemukan Haekyo yang sedang menulis sesuatu di buku kesehatannya. Haekyo menghentikan kegiatannya lalu memutar badannya menghadap Jiyeon.

“Kau mau mengambilnya?” tanya Haekyo.

Jiyeon mengangguk, “Ya. Saya akan membawanya pulang.” Ia mendekati ranjang lalu meraih anjing yang tertidur dalam balutan sweaternya. Ia membungkuk sedikit pada Haekyo lalu pergi.

Beberapa murid yang masih berada di koridor sekolah menatap Jiyeon dengan aneh dan jijik yang dibalas Jiyeon dengan sikap dinginnya. Banyak yang mencibir dan berbisik sedikit keras dan bisa didengar Jiyeon.

“Bukankah itu anjing liar yang ada di belakang sekolah?”

“Ya. Itu anjing yang suka mencari makanan basi di tempat sampah.”

“Eww… Apa dia tidak jijik? Kotor sekali!”

Jiyeon tetap berjalan tanpa menghiraukan semua cibiran yang ditujukan padanya. Ia sampai di depan gerbang sekolah mendekati sebuah mobil BMW hitam yang sudah menunggunya. Seorang pelayan berbaju serba hitam menghampirinya lalu membungkuk dalam.

“Udara dingin tidak baik untuk kesehatan anda, nona,” ucap pelayan itu sambil membuka mantel hitamnya lalu menyampirkannya pada Jyeon. Laki-laki itu melirik anjing malang yang digendong Jiyeon lalu tersenyum. “Anda benar-benar berhati malaikat, nona,” katanya lembut lalu membuka pintu penumpang, mempersilahkan Jiyeon.

“Tidak ada seorang pun yang memiliki hati setulus malaikat di dunia ini,” lirihnya lalu masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi belakang, Jiyeon menatap kosong seolah dunia ini menjadi lambat dan tak bersuara. “Siapa pun itu.”

-To Be Continue-

30 responses to “[CHAPTER-PART 1] EIRENE

  1. berasa tertarik baca chapter 1 nya. bait per bait bikin keterusan, eh malah malah udah to be continue. good job bikin curious nya

  2. Yee ada ff myungyeon lagi^^
    Ini sebenernya jiyeon siapaa sihh penasarannn
    terus yg di suruh ngawasin yang mulia siapa? Irene kah? Seru cerita mya bikiiin penasaraaa kkkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s