[Twoshots-Part 2 (END)] Sequel of Never be Alone

never be alone

Author : Yochi Yang

Title : Sequel of Never be Alone

Main Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Choi Minho

Genre : Romance, Mystery, Fantasy, Angst

Rating : General

Length : Two Shots

Myungsoo’s POV

Damai sekali rasanya. Suara ini, aku tak pernah sekalipun melewatkannya setiap pagi. Suara kicauan burung yang ramai diiringi kepakan sayap mereka yang sesekali membentur jendela kaca kamarku seolah sengaja membangunkanku setiap harinya. Arrasseo.. Kalian tidak perlu khawatir aku tak bangun lagi. Masih banyak hal yang harus kulakukan, jadi aku pasti akan tetap bangun setiap pagi. Aku tidak peduli dengan perkataan orang lain. Aku tahu, mereka berpikir kalau hidupku tidak lama lagi karena penyakit yang kumiliki sejak kecil ini. Aku tahu bagaimana bahayanya penyakit kanker otak ini. Baiklah, sejujurnya aku menyesali semua ini. Kenapa ini harus terjadi lagi di saat aku telah menemukan hidupku? Tapi sekali lagi aku tidak peduli. Aku merasa sangat sehat dan bugar untuk saat ini. Aku tahu diriku melebihi sapapun di dunia ini. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai diriku.

Tch. Namja itu, Yang Yoseob. Pintar sekali dia menyembunyikan perasaannya saat menemuiku pagi tadi. Aku yakin ia merasa kasihan setelah tahu keadaanku. Tapi entahlah, namja itu bersikap seolah olah aku tak merasakan penderitaan apapun. Ia terus mengolokku karena langsung pingsan selama tiga hari gara-gara pukulan kecil dari Woobin sunbae. Aku tahu dia hanya ingin menghiburku. Meski begitu aku berterima kasih padanya karena masih bersikap seperti biasa padaku. Walaupun aku belum mengenalnya lama, tapi kurasa dia tak beda jauh dibandingkan Minho.

Ah, Minho. Sahabatku itu sudah mengenalku lama tapi bahkan dia sama sekali tak tahu mengenai penyakitku. Tentu saja aku sengaja tak ingin memberitahunya. Dia namja cengeng, aku khawatir ia tak bisa menahan tangisnya begitu tahu keadaanku, haha astaga aku jadi merindukan namja bodoh itu. Ngomong-ngomong aku jadi berterimakasih padanya, karena kalau saja dia tidak pergi ke luar negeri, mungkin saat ini aku masih belum mau bergerak sendiri. Yah, kurasa dia memang sengaja ingin membuatku berusaha sendiri tanpa bantuannya. Gomawo, Minho-ya. Kau tahu berkat dirimu aku sangat berbahagia saat ini. Akhirnya, aku bisa melakukannya sendiri tanpamu. Aku bisa melakukannya walau harus melanggar janjiku sendiri. Baiklah, kurasa itu tak penting lagi sekarang. Aku sudah membuat janji baru untuk Jiyeon. Minho-ya.. Kuharap kita bisa bertemu lagi tak lama nanti.

Begitulah, aku mulai terbiasa, anni, bahkan itu sudah menjadi kebutuhanku sehari-hari untuk menemui Jiyeon. Takkan ada yang mengerti sebesar apa rasa bahagiaku setiap kali melihat Jiyeon tersenyum dan berbicara padaku, bahkan aku sendiri. Walau tidak sering, tapi aku selalu berusaha untuk membuatnya tersenyum. Aku benar-benar melupakan segala hal yang membuatku terganggu selama ini setiap kali bersamanya. Park Jiyeon, aku benar-benar mencintai yeoja itu.

Tapi tentu saja, semua kebahagiaan di dunia ini tidaklah abadi seperti yang diharapkan oleh setiap orang pada umumnya, termasuk diriku. Aku tahu itu. Entahlah, padahal aku sudah sangat berusaha untuk tidak memikirkan keadaanku, tapi sepertinya memang benar, tak ada satupun manusia yang mampu menghentikan takdir Tuhan. Tanpa sepengetahuan siapapun kecuali orangtuaku, penyakitku semakin parah. Aku sudah tahu kalau ini akan terjadi. Aku tidak menyesal, hanya saja tidak pernah kusangka kalau hal itu akan datang pada saat ini. Di saat aku berhasil mendekati kebahagiaanku. Namun sekali lagi, aku selalu mengabaikan keadaanku. Aku selalu merasa sehat jika ingin bersama jiyeon.

Eoh! Jiyeon-a, annyeong!”

Begitulah ucapan yang selalu kulontarkan kepadanya setiap pagi saat ia baru datang ke sekolah. Aku tidak peduli apakah dia merasa risih atau terganggu karena sikapku, kebiasaan baruku itu tak pernah bisa kuhentikan. Aku hanya berpikir, tak mungkin aku menghabiskan sisa hidupku tanpa melibatkan Jiyeon. Meskipun ia selalu berusaha membuatku menghindarinya, namun aku tidak menyerah dan terus berusaha mendekatinya.

Yaa, wajahmu lemas sekali. Apa kau begadang semalaman?” tanyaku padanya. Tentu saja aku hanya beralasan untuk mengajaknya mengobrol. Yeoja itu bahkan sangat cantik dan tampak berseri pagi itu. Anni, setiap hari ia selalu cantik di mataku.

Mwo? Anni, aku tidak begadang. Tidurku nyenyak semalam.” ucapnya sedikit bimbang.

Aku pun bergerak menghampirinya. “Ingin wajahmu terihat lebih segar, eoh?” kataku.

Museun niriya?”

Kkaja, kita ke kantin. Aku akan membelikanmu minuman yang akan membuatmu terlihat lebih segar.”

K-keunde, Myungsoo-ya—”

Aku tak mempedulikan ucapannya itu melainkan langsung mendorong kedua bahunya dari belakang untuk mengajaknya ke kantin. Begitulah, hampir setiap hari aku mengganggu hidupnya. Aku benar-benar telah mengingkari janji lamaku. Tapi sekarang aku mulai terbiasa dan tak merasa bersalah lagi, karena selama aku bisa melihatnya tersenyum, itu sudah lebih dari cukup bagiku.

“Myungsoo-ya, lebih baik kau hentikan ini.” katanya begitu kami berdua sampai di kantin.

“Apanya yang dihentikan?”

“Apa tidak masalah kalau kau berteman denganku? Aku hanya yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Sedangkan kau—”

“Tidak masalah. Memangnya apa masalahnya? Bukankah kita sama-sama makan nasi?”

Yaa, bukan itu maksudku—”

Na arra. Aku tahu maksudmu, tapi aku tidak peduli.”

“Apa karena kau menyukaiku?”

Aku tersedak mendengarnya. Aku tahu kalau Jiyeon suka bicara blak-blakan seperti ini, tapi tak kusangka aku akan mendapatkan pertanyaan semacam itu darinya.

“D-dasar bodoh. T-tentu saja aku menyukaimu. Kalau tidak, mana mungkin aku mau bersama denganmu sekarang?” aku menjawab dengan gugup dan seketika meneguk minumanku. Aku tidak tahu apakah saat itu wajahku memerah atau tidak.

Gomawo. Karena sudah menyukaiku.”

Aku tertegun mendengarnya. Tak ada perubahan air muka sama sekali di wajahnya. Artinya pertanyaan tadi memanglah tidak serius. Seharusnya aku tahu itu.

“Sejak orangtuaku meninggal, tak ada seorangpun yang menyukaiku. Mereka selalu menganggapku yeoja pembawa sial. Di panti asuhan pun tak ada yang mau berusaha mendekatiku sampai saat ini. Aku tidak marah, justru aku berterima kasih karena mereka menghindariku tanpa kusuruh. Tapi kau malah tidak peduli. Kau adalah orang kedua yang dengan bodohnya mau mendekatiku.”

“Orang kedua? Kalau begitu, apa ada orang lain selain aku?”

Eoh.. Dia sudah sering menemuiku untuk memberikan sesuatu padaku sejak kami masih kecil. Tapi ia tak pernah berbicara banyak padaku. Padahal aku selalu ingin mengobrol lebih lama dengannya. Tapi ia selalu menghindar dan selalu ingin cepat pergi setiap kali memberiku sesuatu. Meskipun begitu, aku senang karena ia tetap mau menemuiku. Tapi semenjak aku mulai masuk sekolah ini, ia sudah tak pernah menemuiku lagi. Kurasa ia sudah pindah.”

Aku masih tertegun. Aku tahu betul orang yang dimaksudnya itu pasti Minho. Entah kenapa aku sedikit menyesal kenapa bukan aku saja yang menemui Jiyeon sejak dulu. Tapi aku sadar tak ada gunanya menyesali itu semua. Sangatlah wajar kalau Jiyeon begitu senang karena Minho selalu datang menemuinya untuk memberikannya sesuatu, kendati itu aku yang meminta.

“Jiyeon-a..” kataku.

Hmm?”

“Kenapa kau tidak mencoba berteman dengan yang lainnya?”

Jiyeon tak menyahut melainkan hanya mengaduk-aduk minumannya tanpa menatapku.

“Mereka menghindar mungkin bukan karena mereka tak ingin berteman denganmu. Tapi karena kau sendiri yang tidak ingin berteman dengan mereka.” lanjutku.

Anni. Mereka memang tak ingin mendekatiku.”

“Kau salah. Sejak dulu kau selalu beranggapan kalau kehadiranmu menyebabkan orang lain mengalami kesialan. Padahal kau tahu sendiri kalau kesialan itu pasti menimpa setiap manusia. Tak ada yang bisa menghindari itu. Kau hanya tidak ingin mereka membencimu karena kesialan yang menimpa mereka datang di saat mereka dekat denganmu. Itu semua karena sebuah kebetulan. Lagipula apa kau ingin selamanya hidup sendirian?”

Jiyeon masih bungkam tak menjawab.

“Mungkin untuk saat ini kau baik-baik saja karena ada aku di sampingmu yang tidak peduli meskipun kau berusaha membuatku untuk menghindarimu. Tapi seandainya aku pergi, apa kau akan tetap baik-baik saja jika kau terus beranggapan seperti itu? Orang hidup itu pasti membutuhkan orang lain. Aku tahu sebenarnya kau merasa kesepian selama ini. Tapi kau selalu mengabaikan perasaan itu, geutji? Jiyeon-a, berhentilah mempertahankan bayangan kelam yang menyelimuti ingatanmu. Jika masa lalu yang selama ini membuatmu terkekang itu sulit untuk dilepaskan, cobalah untuk memikirkan masa depan. Setidaknya pasti ada sebuah harapan di hatimu untuk masa depanmu nanti. Apa kau tidak ingin hidup bahagia dengan orang lain? Kalau kau menginginkan kebahagiaan, mulailah dengan melakukan hal baru. Semua orang berhak untuk bahagia, Jiyeon-a. Begitupun denganmu.”

Aku menatap Jiyeon yang masih terdiam dengan tatapan matanya yang kosong mengarah ke dalam minuman yang ada di hadapannya. Tapi kurasa ia mulai memahami ucapanku. Jiyeon-a, aku hanya tak ingin melihatmu terus kesepian dan muram saat aku tak ada lagi di sampingmu nanti. Kuharap kau mengerti.

Jiyeon’s POV

Masa depan? Kebahagiaan? Apa aku memang membutuhkan itu semua? Selama ini aku tak pernah mengenal hal-hal semacam itu. Kebahagiaanku satu-satunya adalah ketika melihat Eomma tersenyum sambil mengelusku. Ketika Eomma mendendangkan lagu pengantar tidur saat aku mulai mengantuk. Atau ketika Eomma memelukku saat aku mulai tertidur. Itulah kebahagiaan bagiku. Tapi sekarang apa? Justru kebahagiaanku itu menghilang dariku dan meninggalkan banyak luka untukku. Sudah kuduga aku tak membutuhkan kebahagiaan lagi. Tapi kenapa? Ketika melihat namja di hadapanku ini, aku merasa seolah anggapanku itu salah? Kenapa aku merasa sedikit terobati setiap melihatnya tersenyum padaku? Masa depan? Apa sebenarnya masa depan yang dimaksudnya itu? Kim Myungsoo.. Tanpa sadar aku sudah terjatuh dan tenggelam dalam ucapannya. Dia berkata benar, aku memang merasa kesepian selama ini. Sejujurnya aku menginginkan seseorang selalu berada di sampingku. Eomma.. Apa aku memang harus mencari kebahagiaan lain? Apa aku bisa? Eomma aku ingin menangis, sungguh ingin menangis. Tapi kenapa air mataku tak pernah mau keluar? Kenapa denganku, Eomma?

Tiba-tiba kurasakan tanganku disentuh. Aku tersadar. Kulihat Myungsoo menyentuh tanganku.

Gwaenchanha?” tanyanya.

N-ne?” sahutku.

“Kau terdiam lama sekali tadi.”

Ah, nan— gwaenchanha.” aku mencoba tersenyum padanya.

Geurae, kurasa kau sudah tampak lebih segar sekarang. Kkaja, kembali ke kelas.”

Aku menuruti ajakannya dalam diam. Eomma, kalau memang aku harus menemukan kebahagiaan baru, apa boleh jika aku mengharapkan dia sebagai masa depanku?

Myungsoo’s POV

Tanpa terasa tiga bulan lamanya aku bersekolah di sekolah baruku ini. Ah, ngomong-ngomong aku tidak jadi dikeluarkan dari sekolah karena rupanya Woobin sunbae tidak mengadukanku pada kepala sekolah. Aku memang tak pernah mendengar kabarnya semenjak kejadian waktu itu, tapi yang kudengar dari Yoseob, Woobin sunbae sekarang tak pernah mengganggu siswa lain lagi. Entah itu berkat ucapanku waktu itu atau tidak, aku lega mendengarnya. aku jadi tak perlu mengkhawatirkan Jiyeon yang sewaktu-waktu bisa diganggunya. Dan aku bisa pergi dengan tenang nanti. Hahh.. kenapa aku jadi sedih begini sekarang? Seharusnya aku sudah bahagia karena di saat-saat terakhirku aku berhasil berbicara secara langsung dengan yeoja yang selama ini kucintai. Walaupun aku tahu kalau umur manusia itu Tuhan yang menentukan, tapi aku tak bisa mengelak saat dokter pribadiku mengatakan bahwa hidupku tak lama lagi. Lalu kenapa? Aku sudah berhasil mencapai keinginanku untuk berhadapan dan berbicara langsung dengan Jiyeon. Kurasa itu sudah lebih dari cukup. Tch.. Aku memang naif. Tentu saja aku berharap bisa hidup lebih lama bersama Jiyeon untuk selamanya. Manusia memang tak bisa dipercaya.

Seharusnya aku tak diperbolehkan kemana-mana hari ini. Aku tahu itu. Aku bisa merasakan sendiri bagaimana seluruh organ tubuhku kupaksakan untuk bergerak. Tidak. Aku hanya ingin melihat wajah Jiyeon. Setidaknya untuk terakhir kalinya. Aku ingin melihatnya tersenyum padaku terakhir kalinya.

“Myungsoo-ya! Annyeong!”

Bahkan pagi ini dialah yang lebih dahulu menyapaku. Aku pun tersenyum padanya.

Annyeong! Ingin makan pagi bersama?” tawarku, yang disambut oleh anggukan darinya.

“Tidak biasanya kau memakai penutup kepala? Apa kau kedinginan?” tanyanya yang berjalan di sebelahku.

Yaa, apa kau tahu sebuah rahasia besar dari seorang Kim Myungsoo?” bisikku padanya.

“Rahasia?”

“Sebenarnya kepalaku ini botak. Dan sejak dulu aku selalu memakai wig.”

Mwo? J-jinjja?

Aku hanya tertawa seolah mempermainkannya. Dan aku senang saat melihatnya menunjukkan ekspresi kesal padaku. Yah setidaknya aku tidak berbohong sepenuhnya, rambutku memang mulai habis akibat terapi kemoterapi yang kujalani selama ini. itulah sebabnya aku memakai penutup kepala. Tapi kurasa ia tak percaya dengan ucapanku.

“Myungsoo-ya..” panggilnya tiba-tiba dengan kepala sedikit tertunduk.

Hmm?”

“Boleh kutanyakan sesuatu?”

Eoh, geureom.”

“Kau— Apa kau— sudah memikirkan masa depanmu?”

Aku tak segera menjawab pertanyaannya. Masa depan? Andai saja aku punya, pasti itu menyenangkan.

“Aku memikirkan kata-katamu waktu itu. Kau bilang aku harus mencoba memikirkan masa depan dan menemukan kebahagiaanku. Aku— aku sudah mencobanya.”

Aku tertegun mendengarnya. Heran sekaligus senang karena ternyata ia menerima ucapanku waktu itu.

Geuge— aku— apa boleh jika aku dan kau— maksudku— jika aku ingin kau— yang menjadi masa depanku?”

Lagi-lagi aku tertegun mendengarnya. Jiyeon— memintaku untuk menjadi masa depannya. Seketika aku merasa ini seperti mimpi. Mimpi yang membahagiakan sekaligus menyakitkan. Jiyeon-a, sungguh aku sangat bahagia mendengar permintaanmu. Aku bahkan sudah membayangkan seperti apa masa depan kita berdua. Hidup bersama dalam suka dan duka. Ah, pastilah itu suatu kebahagiaan yang tiada duanya. Tapi.. Itu semua tidak mungkin terjadi. Aku tidak mungkin bisa menjadi masa depanmu. Tidak mungkin aku bisa hidup bersamamu selamanya. Sakit di kepalaku mendadak mulai terasa. Sangat sakit. Bahkan terlalu sakit untuk bisa kurasakan.

Geugemi-mian—maksudku, aku hanya merasa mungkin kaulah satu-satunya orang yang bisa membuatku berubah..” ia melanjutkan kembali ucapannya.

Langkah kakiku terhenti. Jiyeon-a, Aku tahu lebih dari siapapun di dunia ini bagaimana aku sangat ingin membahagiakanmu. Andai aku bisa, aku ingin memelukmu dengan sepenuh hatiku saat ini juga. Tapi aku takut tak mampu menopang tubuhku di saat aku memelukmu. Aku takut tak bisa menahan perasaanku. Aku tak ingin kau mengetahui keadaanku sekarang. Aku tidak mau melihatmu menangis pilu melihat keadaanku.

“M-Myungsoo-ya, wae geurae?”

Kurasakan sakit semakin menyiksaku. Kedua tanganku mengepal keras, menahan agar tak sampai ambruk di hadapannya.

Mianhae, Jiyeon-a..” hanya itu yang sanggup kukatakan padanya saat itu. Aku tak bisa menahan lebih lama lagi. Kutinggalkan dirinya yang masih menatapku dengan tatapan tak mengerti. Aku tahu pasti dia berpikir kalau aku menolak permintaannya. Tapi apa yang bisa kulakukan? Ini semua kulakukan karena aku tak ingin melihatnya bersedih.

Jiyeon-a..

Apa kali ini aku telah menepati janjiku? Apa aku sudah cukup melindungimu selama aku masih hidup?

Author’s POV

Seorang namja tampak berjalan santai menuju ruang kelasnya ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dengan santai pula ia membuka pesan yang masuk ke inbox miliknya. Tampak seulas senyum mengembang di wajahnya ketika melihat siapa yang mengiriminya pesan.

From : Myungsoo

“Yaa, kapan kau pulang? Ada yang ingin kusampaikan padamu. Jadi cepatlah datang sebelum terlambat. Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi, arraseo?”

Air muka namja itu mendadak berubah. Entah kenapa ia seperti merasa sedikit aneh dengan pesan yang baru saja diterimanya dari sahabatnya itu. Tanpa berpikir lebih lama lagi, namja itu berbalik dan berlari menuju arah yang berlawanan ke kelasnya.

Hey! Minho, kau mau kemana? Apa kau mau membolos? Hey!”

3 months earlier

“Aku akan pindah keluar negeri. Kau harus siap saat aku tak ada nanti.”

Mwoya? Apa kau sudah bosan bersamaku terus, eoh? Kau tak ingin menghabiskan waktu bersamaku lebih lama lagi?”

“Tidak usah membuat alasan yang akan melarangku pergi. Aku tahu pasti kau hanya kesal karena setelah ini tak ada lagi yang bisa membantumu mendekati Jiyeon. Pokoknya keputusanku sudah bulat. Aku tetap pergi.”

Aish! Itu memang salah satu alasan kenapa kau tak boleh pergi. Tapi masih ada hal lain yang membuatmu tak boleh pergi.”

Mwo? Alasan lain? Mwonde?”

Myungsoo tak menjawab dan malah membuang muka, lalu berjalan meninggalkan Minho begitu saja.

Dwaesseo. Kalau kau memang ingin pergi, pergi saja. Aku hanya bisa berharap kita masih bisa bertemu lagi nanti.” ucapnya dengan suara sedikit merendah seiring dengan kedua kakinya yang melangkah pergi meninggalkan Minho.

Mwoya? Apa dia benar-benar marah karena aku akan pergi? Ck.. Dasar namja bodoh. Seharusnya dia mengerti kalau kepergianku ini juga demi dirinya.” gumam Minho seorang diri. Dan itulah terakhir kalinya ia bertemu dengan Myungsoo, setelah sekian lamanya mereka bersama.

Minho’s POV

Mungkin seperti ini rasanya saat manusia kehilangan sesuatu yang berharga baginya. Sungguh amat sangat menyakitkan. Bahkan kau seolah merasa ikut hilang dari dunia ini bersamanya. Penyesalan, kehampaan, kesedihan, semuanya bercampur menjadi satu. Aku tak sanggup mengangkat kepalaku saat itu. Aku merasa sangat bodoh, anni. Dialah yang bodoh karena tak pernah memberitahuku tentang penyakit yang dideritanya selama ini. Andai saja ia memberitahuku sejak dulu, aku pasti akan tetap bersamanya sampai akhir. Ternyata selama ini aku salah. Tak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Seharusnya aku tahu itu. Kim Myungsoo, kau memang sahabatku yang paling bodoh yang pernah kutemui. Mianhae.. Aku bahkan tak sempat menemuimu saat kau benar-benar membutuhkanku. Aku justru datang di saat kau telah terbaring tenang di alam sana. Aku memang seorang sahabat yang buruk. Sangat buruk..

Perlahan kuremas surat yang sempat ditulisnya untukku. Hanya beberapa kata, namun begitu menggores perasaanku. Aku tahu ia pasti sudah tak mampu lagi menggerakkan jarinya untuk menulis lebih panjang dari itu.

Jagalah Jiyeon untukku.”

Apakah aku bisa? Apa aku bisa menyanggupi permintaan terakhirnya itu?

Satu bulan berlalu semenjak kepergian Myungsoo. Aku bahkan masih belum sepenuhnya percaya bahwa namja bodoh itu telah pergi dari dunia ini. Tapi yang bisa kulakukan saat ini hanyalah mengabulkan permintaan terakhirnya. Dan akhirnya aku pun memutuskan untuk pindah sekolah ke sekolah Myungsoo. Di sana aku langsung tahu kalau Myungsoo cukup populer. Banyak yang menanyakan keberadaannya, namun hanya sedikit yang tahu kebenaran bahwa ia telah tiada. Temannya yang bernama Yang Yoseob itu meminta mereka untuk menutup mulut tentang kematian Myungsoo. Aku jadi yakin kalau namja itu tahu perihal Myungsoo dan Jiyeon. Darinya pula aku bisa tahu kalau selama ini Myungsoo dan Jiyeon telah sering pergi bersama-sama. Aku tersenyum lega, karena setidaknya Myungsoo telah sempat merasakan kebahagiaan yang diinginkannya sebelum ia pergi.

Park Jiyeon. Aku sedikit tak percaya ketika melihatnya lagi setelah beberapa waktu yang lalu. Ia tampak lebih baik dari sebelumnya. Meski begitu saat ini aku tak bisa menemuinya, masih belum. Aku hanya tidak tahu bagaimana harus memulainya dari awal. Apa dia masih mengingatku? Atau justru melupakanku? Namun pertanyaanku segera terjawab pagi itu. Ketika tanpa sengaja aku berpapasan dengannya di koridor. Kami berdua terpaku dan saling menatap satu sama lain. Apakah ia masih mengingatku? Aku berharap ia mau menyapaku terlebih dahulu untuk mempermudahku. Namun rupanya ia malah beranjak pergi begitu saja beberapa saat kemudian.

“J-Jiyeon-a.”

Yeoja itu berhenti melangkah dan kembali menoleh padaku.

A-annyeong! Geuge— Apa kau— masih ingat denganku?”

Aku meneguk salivaku sendiri. Mengharap-harap cemas akan jawaban darinya. Hingga beberapa saat kemudian kulihat kepalanya bergerak turun. Ia mengangguk mengiyakan pertanyaanku. Aku hampir tak percaya dengan apa yang kulihat saat itu. Yeoja itu, Park Jiyeon tersenyum. Selama ini yang kutahu tentang dirinya, ia sama sekali tak pernah tersenyum. Kendati aku tak jarang menemuinya, belum pernah sekalipun kulihat senyuman di wajahnya. Tapi kali ini, rupanya ia jauh berbeda dari terakhir aku melihatnya dulu. Dalam hati aku memuji usaha Myungsoo yang telah berhasil membuat yeoja ini berubah. Kutarik napas sepenuh dadaku. Geogjeongma, Myungsoo-ya. Meski tak terlalu yakin, aku pasti akan berusaha untuk mengabulkan permintaanmu itu.

Jiyeon memang sudah berbeda dari dahulu. Ia mulai terlihat berbicara dengan teman-teman sekelasnya. Meski begitu terkadang ia masih terlihat melamun atau merenung seorang diri. Aku jadi bertanya-tanya apa yeoja itu sedang memikirkan Myungsoo? Meski ia tidak pernah menanyakan soal Myungsoo, tapi aku yakin ia penasaran hanya dengan melihatnya yang tak jarang seperti mencari seseorang di kelasku setiap kali ia lewat. Mula-mula aku masih merasa enggan untuk mendekatinya, tapi setiap kali mengingat permintaan Myungsoo, aku berusaha memberanikan diri untuk mendekati yeoja itu, hingga tanpa terasa tiga bulan lamanya kami berdua telah menjadi sahabat. Sampai pada akhirnya saat itu tiba, ketika kami sedang makan siang di kantin. Waktu itu ia tampak berbeda dari biasanya. Ia tampak gelisah dan seperti tengah memikirkan sesuatu. Sebenarnya sikapnya sudah terihat berbeda sejak minggu kemarin. Dan setiap kali aku bertanya ia hanya menjawab kalau sedang kurang enak badan. Hingga saat itu ia menanyakan sesuatu yang membuatku tertegun.

“Minho-ya, apa kau pernah merasa sangat rindu pada seseorang?”

Hanya sebuah pertanyaan kecil tapi aku bisa langsung tahu apa maksud dari pertanyaannya itu.

Wae? Kau sedang merindukan seseorang?” aku balik bertanya.

Geunyang— hmmh.. Eoh, aku merindukan seorang teman..”

Aku tak menyahut. Aku terdiam karena aku tak tahu harus mengatakan apa. Normalnya, aku bisa saja memberinya saran untuk mencari tahu keberadaan orang yang dirindukannya itu. Tapi bukankah itu mustahil? Aku hanya tak ingin membuat Jiyeon bersedih saat mengetahui kenyataannya. Aku tahu betul bagaimana perasaan Jiyeon saat ini. Myungsoo-ya, apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku harus memberitahu yang sebenarnya? Atau aku terus diam dan menyimpan ini semua darinya?

Author’s POV

“Jiyeon-a, mau pulang bersama?” tawar Minho begitu dilihatnya Jiyeon baru keluar dari kelasnya.

Ah, mianhae, Minho-ya.. Masih ada suatu hal yang harus kulakukan. Aku mau pergi ke suatu tempat.”

Ah, arrasseo. Geureom, annyeong!”

Minho melihat Jiyeon setengah berlari meniinggalkannya. Yeoja itu tampak seperti terburu-buru. Dan hal itu membuat Minho penasaran ingin mencari tahu sebenarnya apa yang mau dilakukan yeoja itu.

Yeoja itu terlihat baru turun dari sebuah bus yang baru saja dinaikinya. Ia berjalan sambil sesekali melihat kertas kecil yang dipegangnya. Yeoja itu rupanya baru mendapatkan alamat rumah Myungsoo dari ruang Tata Usaha di sekolahnya. Agak sulit ia mendapatkan alamat itu karena staff TU di sekolahnya seperti enggan memberikan alamatnya. Namun setelah berjuang keras akhirnya usahanya membuahkan hasil. Kini yeoja itu mulai berkeliling mencari alamat rumah Myungsoo, hingga akhirnya ia menemukan sebuah rumah yang cukup besar tepat seperti alamat yang tercatat di kertas di tangannya. Yeoja itu menarik napas panjang sedalam-dalamnya begitu tangannya memencet bel rumah. Ia sangat berharap kalau yang membuka pintu rumah itu adalah Myungsoo. Namun harapannya kandas begitu seorang yeoja paruh baya membuka pintu rumah.

A-annyeonghaseyo.. Apa benar— Kim Myungsoo tinggal di sini?” sapa Jiyeon.

Yeoja paruh baya itu tak segera menjawab, melainkan menatap Jiyeon dengan seksama. Hingga akhirnya muncul sebuah ucapan dari mulutnya.

“Park— Jiyeon?”

Jiyeon’s POV

Aku tak tahu bagaimana dan apa yang sedang kurasakan saat itu. Aku terlalu shock. Tidak percaya dengan apa yang kini ada di hadapanku. Batu nisan bertuliskan nama Kim Myungsoo. Apa ini nyata? Atau halusinasiku saja? Namun keraguanku perlahan menghilang saat kembali teringat dengan apa yang dikatakan Nyonya Kim mengenai penyakit yang diderita Myungsoo selama ini. kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku membiarkannya terus mendekatiku kalau ternyata ia benar-benar mengalami kesialan seperti yang kutakutkan? Kenapa aku percaya begitu saja dengan ucapannya? Saat ini hanya penyesalan yang kurasakan. Aku benar-benar menyesal telah membiarkannya mendekatiku. Myungsoo-ya.. Aku bahkan masih ingat dengan jelas bagaimana ia tersenyum padaku. Bagaimana ia memberiku semangat dan membelaku di saat aku dalam kesulitan.

“Myungsoo-ya, kau bodoh! Kau jahat! Tega sekali kau meninggalkanku.. Aku bahkan belum sempat berterimakasih padamu.. Kau bahkan belum menjawab permintaanku waktu itu.. Kenapa kau harus pergi sekarang? Kenapa? Jawab aku, Kim Myungsoo, jawab aku..”

Aku terus menangis di atas batu nisan Myungsoo. Air mata yang selama ini tak pernah bisa kukeluarkan sama sekali, entah kenapa justru berhamburan keluar di saat seperti ini. Aku sedih. Aku benar-benar merasa sangat hancur. Lagi. Aku kehilangan orang yang kucintai..

Minho’s POV

Kurasakan kedua pipiku menghangat. Hatiku teriris melihat Jiyeon yang terus terisak di atas batu nisan Myungsoo. Aku tahu perasaannya, sangat mengerti. Bukan hanya rasa kehilangan yang terasa, namun juga sakit saat mengingat bagaimana perjuangan Myungsoo selama ini hanya demi membahagiakan Jiyeon. Tapi ia justru pergi di saat yeoja itu telah berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku ingin memeluk yeoja itu untuk menenangkannya, menyuruhnya agar merelakan kepergian Myungsoo, tapi kedua kakiku sama sekali tak bisa kugerakkan. Bagaimana mungkin aku bisa menenangkannya sementara aku sendiri bahkan masih belum bisa menerima kepergian Myungsoo? Akhirnya aku hanya bisa berdiri, menatapnya dari kejauhan. Myungsoo-ya, mianhae, aku benar-benar namja yang sangat lemah. Aku bahkan tak bisa menguasai perasaanku sendiri. Apa aku benar-benar bisa menyanggupi permintaan terakhirmu?

Seminggu berlalu semenjak Jiyeon mendatangi pemakaman Myungsoo. Selama itu pula ia mulai jarang bersamaku. Yeoja itu selalu menghindar setiap kali aku mencoba mendekatinya. Aku tahu, ia pasti hanya tak ingin orang lain terkena sial darinya, alasan sama yang pernah ia katakana sebelumnya. Aku mendesah, khawatir kalau yeoja itu kembali seperti Jiyeon yang dahulu. Pemurung dan suka menyendiri. Tak jarang aku melihatnya pergi ke lab. komputer  dan menyendiri di sana. Aku tak tahu apa yang ia lakukan, tapi aku pernah sekali memergokinya sedang menulis sesuatu di salah satu komputer di sana. Ketika aku bertanya, ia hanya menjawab sedang mengerjakan tugas, setelah itu mecabut flashdisk miliknya dan segera beranjak meninggalkanku tanpa menegurku sama sekali. Aku sempat putus asa saat itu, tak tahu harus berbuat apalagi agar ia tak menghindariku terus menerus. Dan hingga saat itu pun tiba.

Sudah bukan pertama kalinya lagi aku menjadi stalker Jiyeon. Aku sudah melakukannya semenjak pindah sekolah ke Seoul. Aku hanya berpikir kalau aku tak bisa mendekatinya, paling tidak aku bisa mengawasi dan melindunginya dari kejauhan. Hari itu aku melihat Jiyeon seperti biasanya, berjalan sendiri menyusuri trotoar. Aku tidak tahu kemana tujuannya, tapi aku semakin yakin kalau ia bermaksud mengunjungi pemakaman Myungsoo. Aku berjalan hanya berjarak beberapa meter di belakangnya.

Tes!

Aku mendongak. Langit tampak gelap dan rintik hujan mulai turun. Aku semakin gelisah ketika melihat Jiyeon yang terus berjalan tanpa terlihat ingin berteduh. Semakin lama hujan semakin deras. Dengan segera aku melepas jaketku bermaksud ingin melindunginya dari curahan air hujan dan mengajaknya ke rumahku karena jarak ke rumahku kebetulan hanya beberapa meter dari sini. Aku tidak peduli biarpun Jiyeon menolak ajakanku, aku tetap akan memaksanya untuk berteduh bagaimanapun caranya. Aku hanya tak ingin menyesal nantinya karena telah membiarkannya begitu saja. Bukan hanya karena merupakan permintaaan terakhir Myungsoo untukku, tapi aku sendiri mulai merasa harus melindungi Jiyeon mulai saat ini.

Namun baru saja aku mempercepat langkah untuk menyusulnya, sesuatu yang tak pernah kubayangkan terjadi begitu cepat di depan mataku sendiri. Walaupun sedikit samar karena pandanganku terhalang oleh air hujan, aku bisa mellihat kalau sebuah mobil baru saja menabrak Jiyeon. Jantungku seketika berhenti berdetak, tubuhku mendadak gemetar dan kaku tak bisa bergerak. Aku hampir tak percaya dengan apa yang kulihat saat itu. Aku melihat tubuh Jiyeon terlempar ke tepi jalan. Apa ini nyata? Ini bohong, kan? Aku terus mengelak kalau ini hanya halusinasiku semata. Namun sesaat aku tersadar bahwa ini bukan halusinasi. Ini kenyataan. Jiyeon. Park Jiyeon tertabrak oleh mobil. Tepat di depan kedua mataku sendiri.

“JIYEON-AAA!!”

Hampir dua minggu lamanya Jiyeon tak sadarkan diri. Aku benar-benar bersyukur saat dokter mengatakan bahwa Jyeon telah berhasil melewati masa kritis meskipun harus mengalami beberapa tulang yang patah. Akan tetapi dokter mengatakan kalau kecelakaan itu tidak berdampak parah pada organ dalam tubuh Jiyeon. Aku hampir tak percaya mendengarnya, karena jelas-jelas aku melihatnya sendiri bagaimana Jiyeon tertabrak waktu itu. Namun tetap saja aku bersyukur karena Jiyeon masih berada di sini. Aku benar-benar takut akan kehilangan yeoja itu. Tak bisa kubayangkan betapa menyesalnya aku seandainya Jiyeon benar-benar pergi.

Selama Jiyeon di rumah sakit, Kim Ahjumma dan Kim Ahjussi selalu datang untuk mengunjungi. Kedua orangtuaku sedang bertugas di luar kota jadi tak ada lagi yang bisa kuhubungi selain keluarga Myungsoo. Lagipula memang sudah sewajarnya kalau mereka tahu mengenai keadaan Jiyeon. Karena mereka sudah mengetahui perihal Myungsoo dan Jiyeon sejak dulu.

Setelah sekian lamanya menunggu, akhirnya pada hari itu Jiyeon siuman. Tak bisa kujelaskan betapa senangnya aku saat melihat Jiyeon membuka kedua matanya saat itu.

“J-Jiyeon-a, bagaimana perasaanmu? Syukurlah, aku senang melihatmu sadar.” ucapku.

Jiyeon tak segera menjawab. Kedua bola matanya berputar melihat sekelilingnya seolah mencoba beradaptasi dengan keadaan di sekitarnya untuk pertama kalinya.

“Jiyeon-a, gwaenchanha?” sekali lagi aku bertanya dengan hati-hati.

Jiyeon mulai menatap kearahku, namun lagi-lagi tak segera kudengar jawaban darinya. Aku mengira-ngira mungkin ia masih merasa shock dengan kejadian yang menimpa dirinya.

“Apa— kau butuh sesuatu? Aku akan mengambilkannya untukmu.”

“Kau— siapa?“

Deg! Aku tertegun mendengarnya. Jiyeon bertanya siapa aku? Kenapa? Aku menelan salivaku sendiri. Apa mungkin— Jiyeon mengalami amnesia?

Begitulah, Jiyeon mengalami amnesia akibat kecelakaan yang menimpanya. Mula-mula kami bingung harus bagaimana menghadapinya. Namun setelah merundingkan segalanya, akhirnya Kim Ahjumma dan Kim Ahjussi memutuskan untuk mengambil Jiyeon sebagai anak mereka.

Tepat sehari sebelum Jiyeon pulang, semua barang-barang Jiyeon yang semula berada di panti asuhan dipindahkan ke rumah keluarga Myungsoo tanpa sepengetahuan Jiyeon. Aku sendiri ikut membantu memindahkan barang-barang Jiyeon. Di saat aku sibuk dengan barang-barang miliknya, aku mendadak teringat sesuatu, flashdisk milik Jiyeon yang tanpa sengaja terlempar dari dalam tasnya ketika ia mengalami kecelakaan. Entah kenapa aku penasaran dengan apa yang ia sembunyikan dalam flashdisk tersebut. Maka sebelum aku pulang, terlebih dahulu aku masuk ke dalam kamar Myungsoo untuk menggunakan komputer milik Myungsoo. Aku sudah terbiasa keluar masuk rumah Myungsoo sehingga bagiku tidak mengapa jika aku masuk begitu saja saat itu. Cukup lama aku menjelajahi isi flashdisk milik Jiyeon, hingga akhirnya kutemukan file itu. File document yang berisi tentang curahan hati Jiyeon.

“……. Aku telah menemukannya tapi aku bahkan tetap tak bisa mengucapkan rasa terima kasihku padanya. Air mata yang semula tak pernah mau keluar selama ini, mendadak berhamburan seakan berlomba satu sama lain. Aku menangis. Menangis seorang diri. Sendirian. Di atas batu nisannya..

Semenjak kepergiannya, aku sama sekali tak punya harapan lagi. Aku merasa semua orang yang kusayangi telah direnggut dariku. Apa memang aku ditakdirkan untuk sendirian selamanya? Apa memang aku tak pantas untuk bahagia? Ya, mungkin aku memang sudah seharusnya tak ada di dunia ini. aku hanya bisa menyebabkan kesialan pada orang yang kusayangi. Tidak lagi. Aku tak ingin membuat mereka pergi lagi. Seharusnya aku melakukan ini sejak dulu. Seharusnya aku saja yang pergi dari dunia ini..

Aku terhenyak saat membaca tulisan itu. Jadi semua kejadian yang menimpanya itu sudah ia rencanakan sebelumnya? Park Jiyeon, yeoja itu benar-benar bodoh. Bagaimana bisa ia melakukan semua itu? Kenapa ia langsung menyerah begitu saja? Setelah membaca tulisannya, aku seketika berjanji dalam hati untuk selalu berada di samping Jiyeon dan akan berusaha membuatnya bahagia. Awalnya aku bermaksud menghapus file tersebut, namun entah kenapa hatiku berkata lain. Akhirnya aku memindahkan file tersebut ke komputer Myungsoo dan mengaturnya sebagai hidden file agar tak ada yang bisa membukanya dengan sengaja. Setelah itu aku menghapus file asli yang berada di dalam flashdisk milik Jiyeon.

Pada awalnya semua terlihat baik-baik saja hingga tibalah hari itu, ketika Jiyeon kembali ke sekolah pertama kalinya. Ia terlihat ceria bahkan jauh berbeda dari sebelum ia mengalami kecelakaan. Ia mendatangi kelasku dan mengajakku pergi ke kantin. Semenjak keluar dari rumah sakit, ia memang hanya dekat denganku dan selalu bertanya apapun padaku mengenai hal-hal yang perlu diketahuinya. Tentu saja aku memberitahu semuanya kecuali tentang Myungsoo. Aku tidak tahu apakah aku egois atau tidak, yang jelas aku hanya tak ingin luka Jiyeon kembali terbuka begitu mengingat Myungsoo. Namun ucapannya pagi itu sungguh membuatku terkejut. Ketika kami berdua sedang makan bersama di kantin.

“Minho-ya, aku sedikit ingat dengan tempat ini. Aku juga mulai mengingat kalau kita sering makan bersama di sini, geutji?” katanya.

Eoh.. Kita memang sering makan bersama di sini.”

Gomawo, Minho-ya, entah kenapa aku merasa kalau selama ini kaulah satu-satunya yang menjadi teman baikku. Aku senang karenanya.”

Anni.. Aku bukan satu-satunya teman baikmu. Selama ini— kau berteman dengan semua orang.”

Jinjja? Tapi kenapa aku hanya mengingatmu seorang? Rasanya hanya kau yang jadi temanku. Ah, anni.. Aku merasa seperti melewatkan sesuatu, keunde aku tak bisa mengingatnya.”

“Kau tidak perlu memaksakan diri. Jalani saja apa adanya.”

Jiyeon hanya mengangguk dan kembali melanjutkan suapannya. Myungsoo-ya, apa ini sudah benar? Apakah yang kulakukan ini sudah benar? Yah, aku memang harus sedikit berbohong, ini semua kulakukan demi kebaikan Jiyeon. Aku tak ingin membuatnya merasa kesepian lagi.

“Apa semalam tidurmu nyenyak?” tanyaku di sela kami makan.

Eoh.. Awalnya aku tak bisa tidur. Tapi setelah mendengar Oppa bernyanyi, tidurku terasa lelap sampai pagi.”

Aku seketika tertegun mendengarnya. “Op-Oppa?”

Eoh.. Oppa tahu aku tak bisa tidur, jadi dia datang dan menyanyikan lagu untukku.”

“Jiyeon-a, tidakkah maksudmu Kim Ahjussi yang bernyanyi?”

Anniya.. Myungsoo Oppa yang menyanyi, bukan Appa, Minho-ya. Kau tahu suaranya merdu sekali, aku sampai tak bisa lupa dengan suaranya sampai sekarang. Naega geuriun mankeum geudaedo geuriungayo, naega michil deusi saranghaetdeon geu saram..”

Aku terhenyak di tempatku. Sama sekali tak mengerti dengan yang kudengar dari mulut Jiyeon. Bagaimana dia mengingat Myungsoo? Lalu, apa maksudnya dengan Oppa? Apa mungkin Jiyeon telah berhalusinasi sendiri? Apa karena perasaannya yang begitu dalam sehingga membuatnya berhalusinasi seperti itu? Aku benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tapi semenjak itu Jiyeon tak jarang membicarakan Myungsoo, seolah-olah sosok Myungsoo benar-benar ada dan selalu menemuinya setiap hari di rumah. Ketika aku bertanya pada Kim Ahjumma, ternyata Jiyeon benar-benar sering berbicara sendiri seakan-akan sedang berbicara dengan Myungsoo yang ia anggap sebagai Oppanya. Sebenarnya Kim Ahjumma dan Kim Ahjussi merasa iba dan sedih melihat keadaan Jiyeon, namun mereka membiarkan hal itu seolah sosok Myungsoo memang benar-benar ada di antara mereka.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun pun berganti tahun. Tanpa terasa 4 tahun sudah kami menjalani hari-hari seperti itu. Kini aku dan Jiyeon bekerja di perusahaan yang sama, yang dikelola oleh Abeoji. Dan sekitar sebulan yang lalu aku telah melamarnya untuk menjadi istriku. Bukan hanya karena permintaan terakhir dari Myungsoo, tapi karena aku pun mulai tak bisa lepas dari Jiyeon. Aku mencintai yeoja itu, walaupun mungkin perasaanku masih kalah dibanding perasaan Myungsoo terhadap Jiyeon selama ini. Meski begitu, aku sama sekali tak bisa menggantikan sosok Jiyeon di hatiku dengan orang lain. Aku bahkan rela melakukan aapapun demi Jiyeon. Aku tak ingin ia bersedih ataupun kesepian.

Namun ternyata semua tak berjalan semulus yang kuharapkan. Malam itu, beberapa hari setelah ia jatuh dari kursi di rumahnya, tanpa sengaja aku melihatnya berjalan seorang diri menyusuri trotoar. Aku yang baru saja membeli sesuatu untuk makan malam, bermaksud menghampirinya dan mengajaknya masuk ke dalam mobil, namun niatku urung begitu melihatnya berbicara seorang diri. Aku pun bertanya-tanya dalam hati apa mungkin saat itu Jiyeon kembali berhalusinasi? Apakah saat ini ia sedang bersama Myungsoo dalam imajinasinya? Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana ia tampak bahagia saat itu.

Jiyeon-a, andai saja aku bisa melihat apa yang sedang kau lihat sekarang. Andai saja benar-benar ada Myungsoo di sampingmu saat itu, aku pasti akan turut bahagia karena bisa melihat namja itu kembali setelah sekian lamanya. Argh! Tidak. Ini bukan saatnya untuk itu. Aku pun kembali fokus mengawasi Jiyeon dari dalam mobilku. Yeoja itu berjalan menuju rumahku. Apa mungkin ia bermaksud ingin datang ke rumahku? Tapi untuk apa? Dan kenapa harus berjalan kaki sejauh itu? Atau jangan-jangan, ia ingin ke pemakaman Myungsoo? Ah, kurasa tidak. Ia bahkan tidak tahu kalau Myungsoo sudah meninggal. Aku terus bertanya-tanya dalam hati sampai akhirnya aku melihat Jiyeon berhenti melangkah. Aku terkejut melihatnya. Entah kenapa kejadian 4 tahun yang lalu kembali terlintas dalam pikiranku. Ketika aku membuntuti Jiyeon di hari hujan itu. Ketika aku melihat Jiyeon tertabrak mobil. Semua itu terjadi tepat di tempat tersebut. Kenapa? Apa yang sebenarnya tejadi? Apa mungkin Jiyeon sudah mendapatkan kembali ingatannya? Namun pertanyaan demi pertanyaan yang terus berdatangan itu langsung terhenti begitu kulihat Jiyeon yang secara tiba-tiba jatuh pingsan di tempatnya. Aku terkejut melihatnya dan seketika bergegas turun dari mobil untuk menghampirinya.

Jiyeon’s POV

Sakit. Hanya itu yang dapat kurasakan saat ini. Apa yang baru saja terjadi padaku? Mimpi? Bukan. Itu sama sekali bukan mimpi. Secara samar aku mendengar seseorang memanggil namaku berkali-kali. Perlahan kubuka kedua mataku. Aku melihat Minho. Bukan Eomma. Artinya memang benar aku tidak sedang bermimpi. Aku kembali teringat pada Myungsoo. Kim Myungsoo. Sekarang aku mengingat semuanya. Aku ingat, Myungsoo telah pergi meninggalkanku selama ini. Bodoh! Kenapa aku bisa melupakannya? Ternyata selama ini aku hanya berhalusinasi. Kim Myungsoo yang sebenarnya telah pergi meninggalkanku. Selamanya. Hatiku rasanya sakit. Pedih dan nyeri. Tanpa terasa kedua pipiku mulai menghangat. Aku menangis.

“J-Jiyeon-a..” kulihat Minho menatap iba padaku. Aku tahu, aku pasti terlihat seperti orang bodoh dan menyedihkan saat itu. Aku pun menghambur padanya. Menangis sekuat-kuatnya, mencoba mengeluarkan segala sesuatu yang mengganjal dalam hatiku selama ini. Aku bahkan tak tahu berapa lamanya aku terus menangis seperti itu. Myungsoo-ya.. Aku merindukanmu..

“….seandainya aku pergi, apa kau akan tetap baik-baik saja?…”

“….Jika masa lalu yang selama ini membuatmu terkekang itu sulit untuk dilepaskan, cobalah untuk memikirkan masa depan..”

“….Aku yakin Minho pasti bisa membuatmu bahagia selamanya….”

Ucapan Myungsoo itu kembali terngiang di telingaku. Apa itu benar? Apa aku bisa melakukannya? Myungsoo-ya.. Aku tidak tahu, sungguh aku tak tahu harus bagaimana.

 “….Akan kubuktikan kalau aku bisa membahagiakanmu. Selamanya..”

Benar. Minho bahkan pernah berjanji seperti itu padaku. Dan aku tahu ia takkan pernah mengingkari janjinya. Myungsoo-ya.. Apakah memang seharusnya aku mulai merelakanmu? Dan mulai memikirkan masa depanku? Bersama Minho?

“Apakah mempelai namja bersedia hidup dalam suka dan duka bersama dengan mempelai yeoja dan bersedia menerima kekurangan dan kelebihan dari mempelai yeoja?”

Nde, saya bersedia.”

“Lalu apakah mempelai yeoja bersedia hidup dalam suka dan duka bersama dengan mempelai namja dan bersedia menerima kekurangan dan kelebihan dari mempelai namja?”

Nde, saya bersedia.”

Begitulah. Upacara pernikahanku dengan Minho berakhir dengan tepuk tangan meriah dari para tamu undangan. Malam ini aku telah resmi menjadi istri dari Choi Minho, namja yang selama ini selalu mendampingiku. Namja yang begitu mencintaiku. Aku sangat bersyukur mendapatkannya, dan aku berjanji akan selalu membahagiakannya, seperti halnya yang ia janjikan kepadaku. Dan malam itu, aku tak tahu apakah aku masih berimajinasi atau tidak, aku melihat sosok seorang namja berpakaian rapi tampak tersenyum padaku dari kejauhan. Kim Myungsoo. Ia datang. Lagi-lagi air mataku jatuh. Tapi kali ini bukan kesedihan yang kurasakan. Aku bahagia telah mengenalnya. Aku ingat bagaimana kami bertemu pertama kalinya waktu aku masih menjadi gelandangan. Semua pengorbanannya selama ini padaku. Aku tahu semuanya berkat Minho. Dan aku bahagia telah menjadi satu-satunya yeoja yang ia cintai selama hidupnya. Gomawo, Myungsoo-ya.. Aku berjanji, aku pasti hidup dalam kebahagiaan..

-END-

Yo! Apa kabar? Hoho lama ya updatenya? Mian super duper mian, soalnya thor beng keceh susah banget nyari waktu nyante buat ngelanjutin. Sekalinya ada waktu, dibikin tidur, mubadzir soalnya kalo ga dibikin tidur, hahaha

Maap juga ya kalo endingnya kurang joss. Tapi yah emang kurang lebih kayak gini alur yang udah mancep di pikiran thor beng dari kemaren-kemaren, jadi mau kaga mau ya harus terima, wkwk kecepetan siih, tapi ya udahlah daripada kaga kelar-kelar, ya ngga?😀

Makasih ya buat yang masih setia baca dan ga jadi silent reader. Kalian emang the best dah pokoknya! Buat para siders, gapapa deh ga ngasih komen. Asal kalian merasa terhibur aja thor udah seneng kok dapat pahala nyenengin orang. Tapi kalo ceritanya sedih mana bisa ngehibur kan ya? Hahaha ya udahlah anggap aja terhibur😛

Doain ya mudahan kita bisa ketemu lagi dengan ff yang baru. Annyeong! ^^

Previous : [Part 1]

47 responses to “[Twoshots-Part 2 (END)] Sequel of Never be Alone

  1. Huaaaaaa plis ini nyesek banget😭😭😭 aku gakuat😭😭😭😭 *peluk wonwoo*
    Kenapa harus kanker otak???😭😭😭
    Haaahh tapi yasyudlah harus terima kenyataan
    Aku suka banget deh sama karakternya myungsoo disini dan ini ceritanya best bangetlah suka banget meskipun endingnya aku gasuka soalnya bukan myungyeon tapi gapapa kan ga semua ending cerita harus sesuai keinginan kita kekeke tapi puas banget deh serius sama ceritanya😁😁😁
    Anyway maapin ya kak baru baca sekarang😁😁😁

  2. Hueee myungsoo oppa 😭😭 sediih bangeett. Ya walaupun jiyeonnya bahagia sih huhuu u,u

    Baguss deh author, bahasanya rapih, mudah dipahami juga ^^

    Keep writing ne!

    Ps: mind to visit my wp? I was myungyeon shipper too! Thanks ^^

  3. Endingnya bikin aku nangisss tp bukan karena sedih juga sih, tp campur aduk, sedih sekaligus bahagia n terharu
    Moment saat jiyeon melihat myungsoo di pernikahannya (entah halusinasi atw bukan) tp itu moment yg paling ngena bgt ><

    Good job author
    Aku suka bgt ff nya
    Ditunggu karya selanjutnya

  4. ini kenapa sedih bgt cerita nya hika gk rela myungsoo menggal… walaupun jiyeon udh bahagia sama minho hiks….daebak ff nya nggak berhenti nangis . apalagi pas perjuangan dan pengorbanan myungsoo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s