[Twoshot-Part 1] Sequel of Never be Alone

never be alone

Author : Yochi Yang

Title : Sequel of Never be Alone

Main Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Choi Minho

Other Cast : Yang Yoseob, Kim Woobin

Genre : Romance, Mystery, Fantasy, Angst

Rating : General

Length : Twoshot

Flashback on author’s POV

“Pergi kau! Dasar pencuri!”

Seorang anak yeoja berusia sekitar 10 tahun yang memakai pakaian lusuh dengan alas kaki yang sudah tidak layak pakai itu tampak terdorong dari sebuah kedai makan. Sakit. Itulah yang ia rasakan saat itu. Padahal ia hanya berdiri mematung melihat makanan yang ada di kedai tersebut. Ia sama sekali tidak ingin mencuri. Ia hanya berpikir mungkin hanya dengan sekedar melihat beberapa makanan akan sedikit mengurangi rasa laparnya. Namun ternyata hanya makian dan perlakuan kasarlah yang ia dapat.

Menangis? Tidak. Ia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu, tepatnya sejak 6 bulan yang lalu, sejak kedua orangtuanya meninggal karena tertabrak sebuah truk. Saat itu ia sudah menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan semua air matanya hingga terkuras habis. Mungkin itulah terakhir kalinya yeoja kecil itu menangis.

Sedih? Tentu saja ia sedih. Ia bahkan sudah hampir setiap hari hidup bersama kesedihan. Dengan usianya yang masih kecil, anak itu hanya tahu bahwa ia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Ia hanya sendirian tanpa kedua orangtuanya. Terakhir yang ia ingat, ia dan kedua orangtuanya diusir dari rumah karena tidak mampu membayar uang sewa. Ia tahu Appanya bukan namja yang baik hanya dengan melihat bagaimana namja itu memperlakukan Eommanya ketika mereka diusir. Meski samar, ia ingat bagaimana kedua orangtuanya bertengkar di jalan, bagaimana Eommanya berusaha mengejar Appanya sampai ke jalan hingga akhirnya keduanya berujung memilukan, tepat di depan kedua matanya sendiri.

Tidak sedikit orang yang merasa iba padanya saat itu. Hingga akhirnya seorang namja paruh baya mengajaknya pulang ke rumah, memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Namun rupanya takdir seolah mempermainkannya. Namja itu mengidap penyakit mematikan yang pada akhirnya pun meregang nyawa.

Kembali sebatang kara, ia tak mau lagi hidup bergantung pada orang lain. Meski masih kecil, anak itu bahkan mulai berpikir bahwa kehadirannya hanya akan membuat orang lain terkena sial. Alhasil, ia hanya hidup terlunta-lunta di jalan, mencari makan apapun yang ada. Beruntung jika ada orang yang mau berbaik hati memberinya makanan atau uang. Tapi anak itu tak pernah mencoba untuk menjadi seorang pengemis. Yang dilakukannya selama 6 bulan ini hanyalah berjalan. Itu saja. Ia sama sekali tidak tertarik melakukan hal lain seperti mencari uang atau makanan. Ia hanya makan jika secara kebetulan ada yang memberinya makan. Bukan hal baru baginya jika harus menahan lapar seharian. Ia sudah terlatih bahkan ketika kedua orangtuanya masih hidup. Anak itu seperti seseorang yang tidak memiliki tujuan hidup. Ia hanya hidup karena ia memang masih bisa hidup. Ia sama sekali tak punya harapan apa-apa. Ia hanya sendirian di dunia ini.

Hey!”

Yeoja kecil yang masih terduduk akibat dorongan dari pemilik kedai tadi itu menoleh perlahan. Dilihatnya seorang anak namja sebaya dirinya tengah berdiri di atas sepeda miliknya. Ia juga melihat ada seorang anak namja lainnya berdiri tak jauh darinya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya anak itu sekali lagi.

Yeoja kecil itu hanya diam menunduk. Ia bermaksud berdiri, tapi ternyata lututnya lecet sehingga membuatnya kesulitan berdiri.

Eoh! Lututmu terluka—”

“Pergi!” potong yeoja kecil itu cepat, membuat anak namja yang semula ingin menolongnya itu mengurungkan niatnya.

Mwo? Kenapa menyuruhku pergi? Aku hanya mau menolongmu.”

“Kubilang pergi saja. Kau hanya akan terkena kesialan dariku.”

M-mwo? Kesialan?” anak namja itu hanya menggaruk leher belakangnya dengan raut wajah keheranan.

 “Yaa, Myungsoo-ya. Lebih baik kita pergi saja. Sepertinya dia tidak ingin diganggu.” tegur teman anak namja itu.

Anak yang dipanggil Myungsoo itu tak segera menjawab. Ia memandang yeoja di depannya itu sejenak, lalu mengambil sesuatu dari dalam tas ransel kecil miliknya.

Igeo, untukmu. Aku janji tidak akan mengganggumu lagi setelah ini tapi aku ingin kau makan ini. Sepertinya kau lapar.” katanya .

Yeoja kecil itu hanya menatap sebuah roti yang baru saja diulurkan padanya, tanpa menyentuhnya.

Wae? Kau tidak suka roti? Tapi aku hanya punya itu. Geuge— bekal makan siangku tadi tanpa sengaja terjatuh di jalan. Jadi hanya itu yang tersisa.”

Meski ragu, tapi perlahan-lahan tangan yeoja kecil itu pun terulur dan menerima roti yang diberikan padanya.

Go-gomawo..” ucapnya hampir tak terdengar.

Anak bernama Myungsoo itu mengangguk, lega karena pemberiannya diterima. Setelah itu ia pun kembali mengayuh sepedanya bersama temannya meninggalkan si yeoja kecil.

Yeoja kecil itu masih memandang kepergian mereka dari kejauhan. Entah kenapa, dalam hati ia berdoa agar suatu hari dipertemukan kembali dengan anak itu.

Yaa, sampai kapan kau akan terus memberikan makanan pada orang lain? Bukankah roti itu satu-satunya yang tersisa untuk bekal makan siangmu nanti? Kenapa kau malah memberikan itu padanya dan berbohong seperti tadi?”

“Tentu saja karena aku harus menolongnya. Sepertinya dia belum makan selama berhari-hari.”

Mwoya? Mana mungkin ada yang sanggup bertahan tanpa makan berhari-hari? Lagipula banyak gelandangan sepertinya di daerah sini.”

“Tidakkah menurutmu dia sedikit berbeda? Kau lihat tadi, dia bahkan menyuruhku pergi padahal aku hanya bermaksud ingin menolongnya.”

“Mungkin karena dia mengidap penyakit menular makanya dia menghindar saat kau mencoba mendekatinya.”

“Kurasa tidak. Dia terlihat sehat.”

Mwo? Apanya yang sehat? Bahkan untuk berdiri saja dia sudah kesulitan begitu. Aigoo.. Kau ini memang orang yang paling aneh di dunia yang pernah kutemui, Myungsoo-ya.”

Mworago?”

Keunde itulah yang kusukai darimu. Ngomong-ngomong, apa cita-citamu?”

Eum.. Aku belum memikirkannya. Tapi aku punya rencana ikut menyantap bekal makan siangmu nanti.”

Mwo? Andeoji!”

Yaa! Biasanya kau kan tidak pelit.”

Andwae! Untuk hari ini aku akan pelit padamu.”

Yaa, geureojima—”

“Myungsoo-ya! Apa kau sudah siap?”

Myungsoo yang baru saja memasukkan beberapa makanan ke dalam tas miliknya itu segera bergegas saat mendengar panggilan Eommanya.

Nde, aku datang, Eomma!” serunya sambil berlari-lari menuju garasi rumahnya.

Nyonya Kim tersenyum saat melihat putranya yang terlihat bersemangat sambil menyandang tas ransel yang sepertinya cukup berat itu.

Mwoya? Sepertinya kau membawa barang cukup banyak.” ucapnya.

Nde, aku menambahkan beberapa makanan lagi untuk kubagikan bersama teman-temanku nanti. Gwaenchanhayo?”

Geureom.. Bawalah sesukamu.”

Gomapta, Eomma. Sepertinya ini akan jadi hari piknik yang menyenangkan.”

Nyonya Kim kembali tersenyum dan membiarkan Myungsoo masuk ke dalam mobil. Hari ini sekolah Myungsoo memang mengadakan piknik bersama di taman kota. Dan Nyonya Kim sengaja ingin mengantar Myungsoo ke sekolah meski sebelumnya anak itu menolak karena lebih suka menaiki sepeda miliknya. Tapi karena Nyonya Kim memaksa, akhirnya ia hanya bisa menurut.

Dan begitu keduanya sampai di depan sekolah, dengan cepat Myungsoo membuka pintu mobil dan segera berlari kecil memasuki gerbang sekolah setelah sempat mencium kedua pipi Eommanya.

Eoh! Myungsoo-ya! Sebelah sini!”

Myungsoo berhenti sejenak dan menoleh mendengar seruan itu. Ia melihat empat orang anak sudah berkumpul seolah menunggunya datang. Dengan santai Myungsoo pun berjalan ke arah mereka.

Whoa, ranselmu tampak berat. Apa saja yang kau masukkan ke dalam sana, eoh?”

“Makanan.”

Mwo? Semuanya?”

Myungsoo hanya mengangguk kecil.

Yaa, apa kau berencana memberikan makanan itu pada anak-anak gelandangan yang berkeliaran di sekitar taman kota, eoh?”

Myungsoo tak menjawab dan hanya menggaruk-garuk dagunya seakan berpikir.

“Sudah kuduga. Kau ini memang punya hobi yang aneh.”

“Memangnya apa salahnya dengan itu? Aku senang ketika memberi mereka sesuatu yang mereka butuhkan.” ucap Myungsoo pula.

“Sudahlah, jangan hentikan dia. Kalian tidak akan berhasil. Lagipula aku setuju dengan Myungsoo. Bukankah itu perbuatan yang mulia? Jadi tidak ada salahnya dengan itu. Aku juga ingin mencobanya suatu saat nanti. Memberi makanan pada mereka yang membutuhkan. Pasti menyenangkan.”

Aigoo.. Kalian berdua memang aneh.”

Eoh! Bel sudah dibunyikan. Kkaja, kita berkumpul di aula.”

Whoa.. Sangat ramai seperti biasa..” ucap Myungsoo begitu rombongan sekolahnya sampai di taman kota.

“Perhatian semuanya! Berkumpullah sesuai kelompok masing-masing.”

Di saat semuanya tengah sibuk dengan anggota kelompok masing-masing, Myungsoo malah mulai menjelajahi seisi taman menggunakan kamera yang dibawanya dari rumah. Anak itu memang suka sekali memotret suasana di sekitarnya. Teman-temannya bilang ia pantas menjadi seorang fotografer, tapi ia hanya mengatakan kalau belum memikirkan sebuah cita-cita dan melakukan itu semua untuk kesenangan semata.

Di saat asyik-asyiknya ia memotret, pandangannya mendadak terpaku pada seorang anak yeoja berpakaian lusuh yang tengah duduk seorang diri di bawah pohon. Myungsoo tertegun sejenak. Kedua matanya membulat begitu mengingat anak itu.

Eoh! Bukankah dia anak yang kemarin?” ucapnya pada dirinya sendiri.

“Myungsoo-ya, sedang apa kau? Seonsaengnim sudah memberikan tugas pada kita. Apa kau tidak mendengarkan, eoh?”

Mwo? Bukankah kita kesini hanya untuk piknik? Kenapa malah diberi tugas?”

“Kalau mau protes jangan kepadaku. Sudahlah, lebih baik kita berunding untuk mengerjakan tugas kelompok kita.”

Ah, jamkanman!”

“Kenapa lagi?”

Yaa, lihat di sana! Kau ingat anak itu?”

Mwo? Anak? Eodi? Yang memakai topi merah?”

Anniya.. Itu namja. Maksudku yeoja, yeoja! Yang duduk sendirian di bawah pohon. Yang kemarin kuberi roti.”

Ah, anak itu. Keunde wae? Apa kau ingin memberinya roti lagi?”

Eum..” angguk Myungsoo.

Arraseo.. Kalau begitu lakukan dengan cepat  dan setelah itu kita rundingkan tugas kelompok kita.”

“Tapi kau yang akan melakukannya.”

M-mworago?”

“Kau yang memberikan roti ini padanya.”

Yaa, jangan aneh-aneh. Kenapa harus aku yang melakukannya?”

“Aku khawatir dia marah padaku karena kemarin aku sudah berjanji tidak akan mengganggunya lagi. Lagipula bukankah tadi kau sendiri yang mengatakan kalau ingin mencoba memberikan makanan pada anak seperti dirinya, eoh?”

K-keunde—”

“Apa tadi kau hanya sekedar membual, eoh?”

Yaa, tentu saja tidak!”

Geureom.. Inilah kesempatanmu. Berikan roti ini padanya.”

Aish.. Arrasseo.. Arrasseo.. Akan kuberikan padanya.”

Myungsoo tersenyum puas mendengarnya. Entah kenapa dadanya berdebar-debar ketika temannya itu mulai berjalan menuju ke arah yeoja kecil tersebut berada.

Yeoja kecil itu terlihat mengusap-usap lututnya yang tampak lecet, meski sudah agak mengering. Berkali-kali ia mengusap peluh yang membasahi keningnya menggunakan lengan baju kecilnya yang lusuh. Ia merasa sudah cukup lama berjalan hari ini dan bermaksud beristirahat sejenak di bawah pohon. Namun niatnya yang semula ingin tidur itu mendadak urung ketika seorang anak namja berjalan menghampirinya. Anak itu terlihat ragu-ragu ketika mendekat. Ia hanya berdiri mematung tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membuat si yeoja kecil itu sedikit merasa terganggu.

“Apa yang kau inginkan?” tanyanya.

A-anniya. Hanya— ingin memberikan ini.” Kata anak itu seraya mengulurkan sebungkus roti padanya dengan hati-hati.

“Apa ini?”

“Roti.”

“Kenapa kau memberiku roti?”

Geuge— kau terlihat lapar, jadi aku memberimu roti.”

“Aku tidak lapar.”

M-mwo?”

“Aku hanya haus. Aku tidak merasa lapar.”

Anak namja itu tampak bingung mendengarnya. Dari raut wajahnya terlihat jelas sebuah pertanyaan “Apa yang harus kulakukan?”. Namun sejurus kemudian ia membuka tas ransel miliknya dan mengeluarkan sebuah botol minuman.

Igeo, minumlah.” katanya.

Yeoja kecil itu lagi-lagi hanya menatap ke arah benda yang diulurkan padanya, kemudian menatap namja itu secara bergantian.

“Jangan dekati aku.” ucap yeoja kecil itu tiba-tiba. “Aku bukan pengemis.”

Dan lagi, anak namja itu kembali bingung dengan sikapnya.

W-wae? Kau tidak mau minum? Bukankah tadi kau bilang haus?” tanyanya.

Yeoja kecil itu tak segera menjawab. Sebenarnya ia ingin menerima minuman itu, namun karena ia takut dan khawatir entah kenapa, akhirnya ia hanya diam tak bergerak.

“Siapa namamu?”

Yeoja itu sedikit tersentak mendengarnya. ia tertegun sejenak. Ini adalah pertama kalinya seseorang menanyakan namanya setelah sekian lamanya. Meski terasa sulit, bibir mungil anak itu perlahan bergerak.

“J-Ji-Jiyeon..”

“Jijiyeon?” ulang anak namja itu sedikit heran.

“A-anni..  M-maksudku— Jiyeon. P-Park Jiyeon.”

Ya, itulah namanya. Park Jiyeon. Yeoja kecil itu ingin menangis saat mengucapkan namanya sendiri. Tapi sayang karena ternyata air matanya sama sekali tak mau keluar.

Ah.. Geuge—Jiyeon-a— aku tidak bermaksud mengganggumu. Keunde— karena beberapa alasan, aku ingin memberikan ini padamu. Aku tidak akan memaksamu menerimanya, jadi aku akan meninggalkannya di sini. Dan juga roti ini. Walaupun sekarang kau tidak lapar, kau pasti akan membutuhkannya nanti. Jadi aku juga akan meninggalkannya di sini.”

Jiyeon hanya termangu mendengarnya. ia melihat anak itu meletakkan botol minuman dan sebungkus roti yang dibawanya tak jauh dari tempatnya berada. Setelah itu, tanpa mengucap apapun lagi ia pun berbalik.

J-jamkanman!” panggil Jiyeon sedikit ragu.

Anak itu kembali menoleh. “Wae?”

“Kau— siapa— namamu?”

Anak itu tak segera menjawab, seolah berpikir apa perlu ia memberitahukan namanya begitu saja. Tapi sejurus kemudian ia pun menjawab.

“Minho. Choi Minho.”

“Park Jiyeon?” ulang Myungsoo ketika Minho menceritakan perihal pengalamannya tadi.

Eoh. Begitulah katanya. Kurasa anak itu trauma karena sesuatu. Ia tampak takut setiap kali ada orang yang mendekatinya.”

Myungsoo terdiam sejenak, seolah tengah memikirkan sesuatu.

“Minho-ya..” katanya kemudian.

Wae?”

“Maukah kau menemaniku membeli baju saat kita pulang nanti?”

M-mwo?”

Minho’s POV

Begitulah, sejak saat itu aku selalu disibukkan oleh urusan Myungsoo dengan beberapa anak jalanan (–_–) terutama yeoja bernama Park jiyeon itu. Entahlah, kurasa Myungsoo jatuh cinta padanya. Aneh memang, padahal biarpun masih anak-anak, Myungsoo sudah populer di sekolah. Ia bisa saja mendapatkan yeoja yang lebih baik di sana. Tapi ternyata ia malah tertarik dengan yeoja jalanan. Baiklah, aku memang tidak memandang rendah terhadap Jiyeon. Aku hanya merasa heran pada Myungsoo. Aku sudah mengenalnya cukup lama, jadi aku tahu bagaimana sifatnya. Kurasa dialah manusia paling sempurna yang pernah aku temui di dunia ini.

Hingga suatu hari entah dengan alasan apa Myungsoo meminta orangtuanya agar mengadopsi Jiyeon. Kukira mereka akan menolak, tapi ternyata mereka menuruti keinginan Myungsoo dan mencoba mengajak Jiyeon pulang ke rumah. Namun siapa sangka kalau rupanya yeoja aneh itu justru menolak diadopsi dengan alasan tidak mau membuat orang lain sial lagi. Aku tidak tahu apa dan bagaimana masa lalunya, tapi aku cukup mengerti pasti dia punya masa lalu yang sangat buruk.

Tidak berputus asa sampai di situ, Myungsoo meminta kembali pada orangtuanya agar mendirikan sebuah panti asuhan untuk menampung mereka yang tinggal di jalanan. Paling tidak, Myungsoo akan lega kalau Jiyeon tak lagi tidur di tempat terbuka dan terus menerus terlunta lunta di jalanan. Dan lagi-lagi keinginan temanku itu dikabulkan. Akhirnya setelah berhasil mendirikan sebuah panti asuhan yang diurus oleh seorang karyawan Kim Aboenim, tidak sedikit anak jalanan yang ditampung di sana. Mula-mula Jiyeon tak mau saat diajak ke panti dengan alasan yang sama. Namun setelah sedikit dipaksa secara halus dan diberi pengertian yang aku sendiri kurang mengerti saat itu, akhirnya yeoja itu bersedia tinggal di panti asuhan. Ketika mendengar kabar tersebut, Myungsoo senang bukan main. Ia sampai meloncat-loncat kegirangan ketika mendengarnya. Astaga. Aku ingin tahu apa dia bodoh atau gila. Ia melakukan semua itu bahkan tanpa diketahui oleh Jiyeon sama sekali.

Aku memang tidak terlalu sering bertemu dengan Jiyeon. Kami hanya sesekali bertemu ketika Myungsoo memintaku memberikan sesuatu padanya. Aku khawatir yeoja itu salah paham dan mengira kalau akulah yang selama ini berbuat baik padanya. Padahal aku hanyalah sebagai perantara Myungsoo. Aku sudah berkali-kali menyuruh Myungsoo agar mendekatinya sendiri tanpa bantuanku, tapi namja itu tak pernah mau mendengarkan ucapanku. Ia hanya berkata kalau ia tak mau mengganggu Jiyeon, karena itulah janji yang diucapkannya saat pertama kali bertemu dengan Jiyeon waktu itu.

Semenjak tinggal di panti asuhan, Jiyeon tampak lebih baik dari sebelumnya. Tapi tetap saja, ia selalu menyendiri dan berwajah muram. Bahkan ketika ia mulai bersekolah pun tak pernah sekalipun ia pergi atau berkumpul bersama teman-temannya. Tentu saja aku tahu semua ini dari Myungsoo.  Namja itu sudah menekuni pekerjaan menjadi stalker Jiyeon selama ini. Meski begitu tetap saja aku yang selalu menjadi sasaran menemui Jiyeon setiap kali Myungsoo ingin memberikan sesuatu padanya. Dan itu terus berlangsung hingga kami lulus sekolah menengah pertama.  Begitulah, aku semakin lama menjadi semakin merasa tidak enak sendiri. Akhirnya begitu kami lulus sekolah menengah pertama, aku meminta pada orangtuaku agar disekolahkan ke luar negeri. Tentu saja dengan alasan agar Myungsoo mau berubah dan mulai melakukan semuanya sendiri tanpa melibatkanku lagi. Myungsoo marah seperti dugaanku ketika tahu aku akan keluar negeri. Aku tidak tahu apakiah dia marah karena harus berpisah denganku, atau marah karena ia kehilangan perantaranya. Tapi aku yakin dua-duanya menjadi alasan kenapa ia marah. Tapi masa bodoh dengan itu. Aku akan kembali setelah ia benar-benar mau melakukan semuanya sendiri. Lagipula, bukankah itu yang seharusnya dilakukan oleh seorang sahabat? Yah, kurasa Myungsoo akan mengerti nanti. Dan begitulah, akhirnya aku pun pergi meninggalkan Myungsoo.

Author’s POV

Mwoya? Kau masih belum bersiap-siap? Bukankah ini hari pertamamu di sekolah baru, eoh?” tegur Nyonya Kim ketika melihat Myungsoo, putra satu-satunya itu masih belum mengenakan seragam sekolah saat sarapan.

Ck. Aku tidak bersemangat kalau tak ada Minho.” sahut Myungsoo sambil mengambil sendok dengan gerakan malas.

“Lalu, apa kau ingin bersekolah ke luar negeri juga?”

Geuge— geureohke anniyo. Keunde—aku sudah terbiasa bersama Minho sejak kecil jadi aneh  saja rasanya kalau tidak bersamanya.”

“Apa benar karena alasan itu, eoh?” sambung Tuan Kim yang turut bergabung di meja makan.

M-museun suriya, Abeoji?”

“Apa tidak ada hubungannya dengan anak itu— Park jiyeon?”

Myungsoo tersedak mendengarnya. Buru-buru ia segera meneguk air putih miliknya.  Dalam hati ia mengutuk Minho karena sudah memberitahukan soal Jiyeon pada Abeojinya.

Ohmo.. Sepertinya dugaanku benar.” lanjut Tuan Kim sambil tertawa, membuat Myungsoo semakin salah tingkah karenanya.

Mwoya? Ck.. Aku— akan ganti baju dulu.” katanya sambil beranjak.

Yaa.. Yaa.. Apa kau mencoba menghindar, eoh? Mulai sekarang cobalah melakukannya dengan usahamu sendiri, arrachi?” Tuan Kim tetap berseru bahkan ketika Myungsoo sudah lenyap dalam kamarnya.

Aish! Semua ini gara-gara Minho. Kenapa anak itu harus melanjutkan sekolah keluar negeri? Sekarang aku benar-benar harus memulainya seorang diri. Aigoo..” ucap Myungsoo frustasi.

Halaman sekolah baru Myungsoo sudah ramai oleh beberapa siswa-siswi yang baru datang. Myungsoo melangkah santai untuk mencari ruang kelas miliknya. Namja itu bersyukur karena dapat bersekolah di tempat ini berkat beasiswa yang didapatkannya. Jadi ia tidak akan terlalu menggantungkan diri pada kedua orangtuanya. Mula-mula namja itu melihat denah sekolah yang berada di papan pengumuman. Di saat ia tengah serius mencermati denah tersebut, beberapa siswa datang dan turut melihat denahnya pula. Begitu Myungsoo secara refleks menoleh, seketika ia terkejut karena rupanya salah seorang dari mereka adalah yeoja yang selama ini ia ikuti secara diam-diam, Park Jiyeon. Namja itu tercengang, tidak menyangka akan satu sekolah dengan Jiyeon karena sekolahnya ini merupakan salah satu sekolah elite. Namja itu benar-benar tidak tahu mengenai hal ini. Bagaimana bisa Jiyeon sekarang ada di sini? Apa ia dapat beasiswa juga sama sepertinya? Beberapa pertanyaan terus berputar dalam kepala Myungsoo hingga tanpa sadar Jiyeon telah beranjak pergi meninggalkannya.

Seperti dikomando, Myungsoo mengikuti kemana yeoja itu melangkah. Entah karena sudah terlatih menjadi seorang stalker atau apa, sikapnya sama sekali tidak mencurigakan. Setelah beberapa saat mengikuti Jiyeon, namja itu tahu kalau ternyata ia tidak sekelas dengan Jiyeon. Sedikit kecewa, tapi Myungsoo bersyukur karena paling tidak ia bisa melihat Jiyeon setiap hari di sekolah.

Beberapa saat lamanya Myungsoo terus berputar-putar tanpa tahu jalan menuju kelasnya. Bagaimanapun juga sekolahnya yang sekarang ini benar-benar besar dan merepotkan. Berkali-kali ia nyasar sampai di kelas lain. Tapi beruntung ia bertemu dengan seorang teman barunya yang ternyata sama-sama nyasar seperti dirinya. Setelah berjuang kembali, keduanya pun berhasil menemukan kelas mereka. Namun begitu tahu di mana letak kelasnya, Myungsoo seketika membelalak lebar dan nyaris pingsan, karena ternyata ruang kelasnya berseberangan dengan ruang kelas Jiyeon. Namja itu merutuk kebodohannya sendiri dan menggerutu tak jelas. Tapi tak urung ia tetap senang karena ia jadi lebih mudah untuk bisa melihat Jiyeon.

Yaa, kenapa kau terus saja melihat ke sana? Apa ada sesuatu yang menarik di kelas seberang, eoh?” tegur teman sesama nyasar yang bersama Myungsoo tadi turut melihat ke arah yang dilihat oleh Myungsoo, membuat namja itu menoleh cepat.

A-anniya.. Geunyang— ah, matta! Aku ingin pergi ke kantin. Yoseob-a, kau pasti juga haus kan setelah berkeliling tadi? Kkaja, kita cari kantinnya dan beli minuman sama-sama.” katanya.

Namja bernama Yoseob itu tak sempat menjawab karena Myungsoo telah terlebih dahulu menyeretnya keluar, bahkan namja itu menutupi kedua matanya saat mereka melewati depan kelas Jiyeon.

Yaa, kau minum terlalu banyak. Tidak takut kembung?” tegur Yoseob ketika melihat Myungsoo yang sudah menghabiskan entah berapa gelas minuman dingin di kantin.

Myungsoo tak menjawab melainkan terus meneguk minumannya, membuat Yoseob ngeri melihatnya.

Eoh! Sudah bel. Kkaja, kembali ke kelas” ajak Myungsoo kemudian beberapa detik saat bel tanda masuk berbunyi.

Yoseob hanya mengangguk mengiyakan masih dengan tatapan ngerinya. Ia membiarkan teman barunya itu berjalan mendahuluinya menuju ke kelas. Dalam hati ia bertanya-tanya apa namja yang kini sedang bersamanya ini masih waras? Baru beberapa saat mereka berjalan ketika tiba-tiba Myungsoo mendesis perlahan.

Wae?” tanya Yoseob heran, meskipun sebenarnya ia sudah menebak apa yang sedang terjadi.

“Sepertinya aku perlu pergi ke toilet.” sahut Myungsoo seraya memegangi perutnya.

Arrasseo. Geureom, aku duluan.”

Jamkanman! Kau tidak ingin menemaniku ke toilet?”

Mwo? Yaa, berapa usiamu sekarang?”

“16.”

“Kau tahu usia itu bahkan terlalu tua untuk ukuran seorang namja yang takut pergi ke toilet sendirian.”

Myungsoo nyengir mendengarnya. “Tch, arrasseo.”

Eoh! Sampai jumpa kembali di kelas.”

Myungsoo tak menjawab melainkan hanya memandang setengah tak rela pada Yoseob yang sudah semakin menjauh. Sedetik kemudian ia menggerutu tak jelas karena yang jadi masalah baginya saat itu adalah ia tak tahu di mana letak toilet sekolah.

Butuh waktu sekitar lima menit bagi Myungsoo untuk bisa menemukan letak toilet sekolah setelah bertanya sana siini. Namja itu lega bukan main ketika sampai di depan toilet. Namun kelegaannya langsung berubah menjadi mengkerut kembali lantaran tanda toilet namja dan yeoja yang ternyata menggunakan simbol gender.

WHAT THE HELL?? BAGAIMANA BISA AKU MEMBEDAKANNYA DI SAAT GENTING BEGINI?” cerca Myungsoo seorang diri.

Dalam hati ia terus mengira-ngira mana simbol untuk namja. Apa yang terdapat anak panah ke atas? Atau yang memiliki tanda plus di bawah? Namja itu benar-benar lupa sama sekali padahal sebelumnya ia sangat pintar untuk pelajaran sains. Bagaimana mungkin seorang murid pandai yang mendapatkan beasiswa bisa lupa dengan hal sekecil ini?

AAARGGHHH MOLLAAAA!! AKU TIDAK TAHAN LAGI!!” serunya sambil bergegas masuk ke dalam pintu toilet bertanda positif.

Seperti dugaan, begitu sampai di dalam namja itu mendadak tercengang karena interior toilet yang dimasukinya itu amat sangat berbeda dari toilet namja pada umumnya yang pernah ia masuki selama ini. Tanpa membutuhkan waktu lama, namja itu langsung tersadar bahwa ia salah memasuki toilet. Beruntung saat itu toilet sedang sepi, jadi ia berpikir bisa langsung keluar tanpa ketahuan siapapun. Akan tetapi baru saja ia berbalik hendak keluar, tahu-tahu pintu toilet terbuka dari luar dan muncul seorang yeoja dari sana. Myungsoo seketika membelalak lebar. Bukan hanya karena ia ketahuan masuk toilet yeoja, melainkan yeoja yang kini berada di hadapannya adalah Park Jiyeon.

“J-Jiyeon-a?” ucap Myungsoo panik bukan main. Namja itu tahu Jiyeon akan segera meneriakkan satu kata yang amat tabu baginya dalam hitungan detik. Byuntae. Maka sebelum hal itu terjadi, secepat kilat Myungsoo menarik Jiyeon dan membungkam mulutnya menggunakan tangan kanannya, sementara tangan kirinya segera menutup pintu toilet dari dalam dan menahannya menggunakan tubuhnya sendiri.

Jebal.. Ini— ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku— aku bukan namja byuntae seperti yang kau pikirkan, jinjja aku tidak berbohong. Aku hanya salah masuk toilet karena kupikir ini toilet namja. Geureom jebal, jangan berteriak, eoh?” bisik Myungsoo dengan nada memohon. Ia benar-benar tamat kalau sampai Jiyeon berpikir dirinya namja byuntae. Namja itu mengumpat dalam hati kenapa pertemuan keduanya dengan Jiyeon harus pada saat-saat seperti ini.

Myungsoo masih membungkam mulut Jiyeon dari belakang, berharap yeoja itu mau mengerti keadaannya saat ini. Akan tetapi di luar dugaan, yeoja itu bahkan tak mencoba meronta sedikitpun. Ia seperti pasrah, ah tidak, lebih tepatnya tidak peduli. Karena merasa heran namun masih juga was-was, dengan perlahan Myungsoo melepaskan bungkamannya.

Jiyeon tampak menjauh darinya dengan napas sedikit terengah. Sepertinya bungkaman tangan Myungsoo tadi terlalu kuat sampai membuatnya sulit bernapas.

Mi— mian, g-gwaenchanha?” tanya Myungsoo khawatir sekaligus menyesal.

Jiyeon tak menjawab melainkan hanya menatap Myungsoo dengan tatapan datar, membuat namja itu merasa tak enak karenanya.

Geuge— kenapa kau tidak berteriak? Tidakkah kau menganggapku byuntae?” tanyanya kikuk.

“Bukankah kau tadi bilang kalau hanya salah masuk toilet?” balas Jiyeon akhirnya.

M-mwo?” ucap Myungsoo takjub, karena ini pertama kalinya setelah beberapa tahun yang lalu Jiyeon berbicara secara langsung padanya.

“Aku tadi juga salah masuk toilet namja. Jadi kita senasib.” lanjut Jiyeon.

Mwo?” lagi-lagi Myungsoo terpaku mendengarnya.

“Kau tidak ingin keluar? Atau ingin buang air di sini?”

A-anni anni.. Geureom, aku akan segera keluar.” Myungsoo benar-benar jadi salah tingkah saat itu. Dengan gugup ia berbalik dan membuka pintu toilet.

Jeogi!” panggil Jiyeon tiba-tiba.

Dengan cepat Myungsoo pun kembali menoleh. “W-wae?”

“Kau— tahu namaku?”

Myungsoo terkejut mendengarnya. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri karena sudah sembrono mengucapkan nama Jiyeon tadi.

A-anni, geuge— aahh, aku tahu karena melihat nametag—“ Myungsoo tak melanjutkan ucapannya karena saat melihat ke arah seragam milik Jiyeon, tak ada nametag apapun di sana.

“MATI KAU KIM MYUNGSOO!” jeritnya frustasi dalam hati.

Aahh.. Mi-mian. Aku sudah tak tahan ingin buang air, jadi aku akan keluar sekarang. Annyeong!” ucapnya kemudian, dan tanpa menunggu jawaban Jiyeon, namja itu sudah menghilang di balik pintu, meninggalkan Jiyeon yang masih termangu di tempatnya.

Tersenyum-senyum. Mengacak rambut sendiri. Itulah yang dilakukan namja bernama Kim Myungsoo itu sejak tadi. Hal itu terus berulang selama jam pelajaran berlangsung dan tentu saja membuat siapapun yang melihatnya merasa sedikit terganggu. Sayangnya tak sedikit yang memperhatikannya terutama para yeoja karena Myungsoo memang sudah menjadi bahan perbincangan mereka terkait dengan keramahan dan ketampanan wajahnya itu. Yang Yoseob yang kebetulan duduk di bangku seberang kanannya itu pun turut merasa terganggu pula. Diam-diam ia melempar namja itu menggunakan penghapus pensil dan tepat mengenai pelipisnya, membuat Myungsoo menoleh dan balas melemparkan tatapan “Yaa! Apa yang kau lakukan?”

Berhenti bersikap aneh dan fokus pada pelajaranmu!” ucap Yoseob tanpa mengeluarkan suara. Namun Myungsoo paham apa yang dikatakannya. Tanpa membalas ucapan Yoseob, namja itu kembali menghadap ke depan. Namun lagi-lagi Yoseob menyentilnya. Kali ini menggunakan sebuah gulungan kertas. Dengan sedikit kesal Myungsoo kembali menoleh.

Wae tto??” sengitnya tanpa suara.

Tolong kembalikan penghapus pensilku tadi.” balas Yoseob pula.

Sambil menggerutu pelan Myungsoo pun menunduk untuk mengambilkan penghapus pensil milik Yoseob yang jatuh karena digunakan untuk melemparnya tadi. Myungsoo sadar Yoseob sengaja melakukannya hanya untuk membuyarkan lamunannya. Meski begitu, rupanya namja itu masih saja melanjutkan sikap anehnya seperti tadi, tersenyum-senyum atau mengacak rambutnya sendiri. Yoseob jadi menduga-duga kalau namja itu memang kurang waras.

Yaa, kenapa denganmu tadi? Apa kau sudah gila, eoh?” tegur Yoseob begitu waktu istirahat tiba.

Mwoya? Tidak ada yang aneh denganku.” elak Myungsoo tak peduli.

“Tentu saja ada. Bahkan kau adalah orang paling aneh pertama yang pernah kutemui selama ini.”

Myungsoo tertegun sejenak mendengar ucapan Yoseob, ia mendadak teringat sesuatu.

Eoh, ucapanmu mengingatkanku pada sahabat lamaku. Dia juga pernah bilang kalau aku adalah orang paling aneh di dunia.” katanya.

“Benar, kan? itu artinya kau memang benar-benar aneh. Atau jangan-jangan kau sedang jatuh cinta, eoh?”

Eoh!” angguk Myungsoo refleks.

Mwoya? Jujur sekali?” sahut Yoseob terkejut.

M-mwo? T-tadi kau bilang apa?”

 “Yaa, kau sudah jatuh cinta di hari pertamamu di sekolah baru? Nuguji? Apa dia satu angkatan dengan kita? Atau senior kita, eoh?”

Aish! Tutup mulutmu! Aku tidak sedang jatuh cinta.”

Jinjja?”

Geureom.. Ck, dwaesseo. Aku mau ke kantin. Kau ikut atau tidak?”

“Jawab dulu siapa yeoja itu. Apa dia cantik? Pasti cantik, karena tidak mungkin kau jatuh cinta pada yeoja jelek.”

Aish! Diam kau!”

Yoseob terus saja menggoda Myungsoo hingga keduanya sampai di luar kelas. Namun ketika mereka tiba di luar, Myungsoo entah bagaimana secara tidak sengaja menyenggol, atau lebih tepatnya disenggol oleh seorang namja yang berjalan bersama tiga orang temannya. Secara otomatis Myungsoo pun berhenti dan melihat ke arah namja tersebut.

Yaa, tidakkah seharusnya kau mengatakan sesuatu?” ucap namja itu sambil berdiri menghadap Myungsoo.

Myungsoo tak segera menjawab, tapi ia tahu kalau namja yang kini berada di depannya itu adalah sunbaenya hanya dengan melihat atribut miliknya.

Yaa, cepat minta maaf.” bisik Yoseob pada Myungsoo yang masih mematung.

Mwo? Minta maaf? Tapi dia yang— aiyaa!” Myungsoo mengerang kesakitan karena ucapannya dipotong oleh injakan kaki dari Yoseob.

“Minta maaf saja, bodoh!” ulang Yoseob sekali lagi masih dengan suara lirih.

Meskipun masih sedikit heran dan karena tak mau memperpanjang masalah akhirnya Myungsoo pun menurut.

Mian.” katanya .

Yaa, mana rasa hormatmu pada sunbaemu, eoh?” balas namja itu seolah sengaja membuat Myungsoo marah.

Tapi Myungsoo tak ingin mencari masalah lebih jauh.

Jeoseongeyo, sunbae-nim.” katanya kemudian seraya menunduk hormat.

Puas melihat sikap Myungsoo, namja itu menepuk bahunya agak keras sambil tersenyum, lalu berbalik dan kembali berjalan, membuat Yoseob bernapas lega karenanya.

“Siapa namja itu?” tanya Myungsoo kemudian.

“Kim Woobin, anak Kepala Sekolah.”

Myungsoo mengangguk-angguk paham.

“Syukurlah kau tidak melawannya. Aku sempat khawatir tadi.”

Gwaenchanha. Selama ia tidak menyentuh sesuatu yang berharga bagiku saja tidak masalah.”

Mwoya? Maksudmu, dirimu sendiri tidak berharga begitu?”

Geuge— mungkin bagiku tidak, tapi bagi orangtuaku pasti berharga, jadi aku juga akan menjaga diriku sendiri, hehe..” sahut Myungsoo sambil menggaruk kepalanya.

“Kalau begitu bukankah seharusnya kau marah tadi? Aish, lupakan. Aku bisa ikutan aneh lama-lama bicara denganmu. Kkaja!”

Yaa, kau sudah aneh sekarang. Kalau kau tidak mau jadi aneh sepertiku kenapa kau betah sekali bersamaku, eoh?”

Ah, benar juga. Kalau begitu pergilah, aku akan ke kantin sendiri.”

“Terlambat. Aku sudah mulai betah denganmu.”

“Hentikan, bodoh! Itu terdengar aneh!”

Myungsoo tertawa mendengarnya. Namun tawanya terhenti ketika mendengar sesuatu seperti terjatuh tak jauh di belakangnya. Keduanya pun serentak menoleh.

Ohmo! Ini tidak baik.” ucap Yoseob saat melihat Kim Woobin dan teman-temannya tengah berdiri di hadapan seorang yeoja yang sedang jatuh terduduk. Yoseob yakin kalau merekalah yang mendorong yeoja tersebut sampai terjatuh.

“Kenapa kau hanya diam, eoh? Apa kau tak bisa bicara? Kubilang cepat minta maaf padaku!” bentak Woobin dengan suara keras.

Akan tetapi yeoja itu seperti tak peduli sama sekali. Ia bahkan tak mengaduh atau meringis kesakitan saat lututnya mengalami luka karena terjatuh. Ia hanya diam dan menatap datar ke arah Woobin, membuat namja itu semakin geram karena merasa dipermainkan. Tangannya sudah mengepal bersiap untuk mencengkeram lengan yeoja itu dan memberi pelajaran padanya. Akan tetapi baru saja tangannya bergerak, seorang namja sudah berdiri di hadapannya dan menghalangi niatnya itu. Kim Myungsoo.

Yaa! Bikyeo!” bentak Woobin.

“Menyentuhnya sekali saja, kau berurusan denganku.” sahut Myungsoo dengan nada dingin.

Wae? Apa kau mau melawanku, eoh? Apa kau ingin dikeluarkan dari sekolah ini, anak baru?”

Myungsoo tak menyahut melainkan terus menatap Woobin dengan tajam. Merasa malu dan geram  karena sudah ditantang demikian, Woobin sudah bersiap melayangkan tinjunya ke wajah Myungsoo, akan tetapi niatnya urung saat ia mendengar seseorang berseru.

Yaa! Seonsaengnim datang!”

Dengan terpaksa Woobin menurunkan kembali kepalannya dan menatap tajam ke arah Myungsoo.

“Kita belum selesai, Kim Myungsoo.” katanya beberapa saat setelah membaca nametag di seragam Myungsoo.

Setelah itu ia dan teman-temannya pun berjalan pergi meninggalkannya.

Yaa, Myungsoo-ya, kenapa kau sembrono begitu? Apa kau sadar kalau kau sudah memasang bendera permusuhan dengannya di hari pertamamu di sekolah, eoh?” kata Yoseob yang sudah berada di sebelahnya. Rupanya namja itu yang baru saja berteriak kalau ada Guru yang datang. Tentu saja ia berbohong demi menyelamatkan teman baru anehnya itu.

“Aku tidak peduli.” sahut Myungsoo.

Aish! Kau ini benar-benar bodoh! Sekarang apa yang bisa kulakukan untuk membantumu lagi nanti?”

Myungsoo tak menyahut lagi melainkan berbalik untuk menghampiri yeoja yang tadi sudah dibelanya. Namun gerakannya terhenti, seperti ada sesuatu yang menghentikannya.

Gwaenchanha?” tanyanya masih tak berani mendekat.

Yeoja itu hanya mengangguk kecil.

Geuge— apa aku boleh membantumu berdiri?”

Yeoja itu tak segera menjawab melainkan hanya menatap lurus pada Myungsoo yang masih berdiri di hadapannya. Tak ada yang tahu apa yang tengah dipikirkannya saat itu, namun beberapa saat kemudian ia mengangguk. Myungsoo lega bukan main saat melihat anggukan kecil itu. Dengan hati berbunga-bunga akhirnya ia pun mendekat dan membantu memapah Jiyeon menuju ruang UKS, meninggalkan beberapa pasang mata yang menatap iri dari kalangan yeoja. Sementara Yoseob yang tertinggal itu mulai menduga-duga, apa yeoja itu yang sudah membuat Myungsoo jatuh cinta?

“Sudah merasa lebih baik?” tanya Myungsoo begitu luka yeoja itu sudah diobati.

“Ini hanya luka kecil. Aku sudah terbiasa.”

Myungsoo tak menyahut. Tapi ia paham kenapa yeoja itu berkata demikian. Park Jiyeon. Bagaimanapun juga Myungsoo tahu riwayat yeoja itu selama ini. Pastilah luka itu tak berarti apa-apa dibanding lukanya di masa lalu. Ia juga tahu kalau Jiyeon sengaja membiarkannya membantunya karena sesuatu. Dan Myungsoo tak tahu sesuatu apa itu.

“Kim Myungsoo?”

Myungsoo sedikit tersentak saat Jiyeon menyebutkan namanya.

Gomawo sudah menolongku.” lanjut yeoja itu membuat Myungsoo tertegun. Namja itu terlalu senang karena ini adalah pertama kalinya namanya disebut oleh yeoja yang selama ini disukainya. Tunggu dulu. Myungsoo menyukai Jiyeon? Baiklah, kenyataannya memang begitu. Namja itu bahkan tak mampu membalas ucapan JIyeon kecuali anggukan kecil.

Keunde kenapa kau menolongku? Padahal kau tahu kalau kesialan akan mendatangimu sebentar lagi.”

“Kesialan?” Myungsoo termenung sejenak. Ia jadi teringat kembali saat pertama ia bertemu Jiyeon waktu itu, yeoja itu mengatakan hal yang sama. Ia tak ingin Myungsoo mendapatkan kesialan darinya.

“Semua orang yang mendekatiku, mereka semua akan tertimpa kesialan.” lanjut Jiyeon kemudian.

“Aku tidak peduli. Semua orang di dunia ini pasti mengalami kesialan. Aku juga sering mendapat sial selama ini. Jadi bagiku tidak masalah jika harus terkena sial lagi.”

“Kau tidak khawatir dikeluarkan dari sekolah? Kau sudah mencari masalah dengan anak kepala sekolah.”

 “Lalu bagaimana denganmu? Bukankah kau juga sudah mencari masalah dengannya tadi? Bukankah seharusnya tadi kau meminta maaf padanya jika memang itu yang diinginkannya?”

“Aku tidak meminta maaf untuk kesalahan yang tidak kuperbuat. Dialah yang sengaja menabrakku. Aku tahu itu.”

“Lalu bagaimana jika sikapmu itu membuatmu dikeluarkan dari sekolah?”

“Aku hanya perlu pindah ke sekolah lain. Lagipula sekolah ini terlalu besar untukku. Dan aku masih bisa menggunakan beasiswa untuk pindah ke sekolah lain.”

“Kalau begitu pertanyaan yang sama sudah terjawab.”

“Kau juga mendapat beasiswa?”

Myungsoo mengangguk bangga.

“Tapi bagaimana mungkin seorang murid yang mendapatkan beasiswa bisa salah membedakan simbol gender dan salah masuk toilet? Bukankah itu aneh?”

Senyum Myungsoo berubah kecut mendengarnya.

Yaa, bukankah kau juga sama? Kau sendiri yang mengatakannya tadi pagi.” balasnya, membuat Jiyeon tersenyum geli karenanya.

Myungsoo tertegun melihatnya. Lagi-lagi ini pertama kalinya ia melihat senyum yeoja itu. Sangat manis sampai membuatnya hampir tak berkedip. Jantungnya berdegup kencang. Namun sayang senyum itu tak berlangsung lama. Secara perlahan Jiyeon beranjak dari tempat duduknya.

Eodi?” tanya Myungsoo heran.

“Aku baik-baik saja. Jadi tak ada gunanya berlama-lama di sini.” sahut Jiyeon sambil berjalan menuju pintu UKS.

“J-Jiyeon-a..” panggil Myungsoo, membuat Jiyeon berhenti dan kembali menoleh.

Mianhae..” lanjut Myungsoo kemudian dengan sedikit menunduk.

Wae? Kenapa meminta maaf padaku?”

A-ahh.. Anni.. Geunyang— bangapta.” Kata Myungsoo sambil tersenyum .

Jiyeon membalasnya dan hanya mengangguk menanggapinya. Setelah itu ia pergi meninggalkan Myungsoo yang masih berdiri di depan ruang UKS. Namja itu menarik napas dalam-dalam.

Mianhae, aku sudah melanggar janjiku untuk tidak mengganggumu. Tapi saat ini akan kubuat janji baru padamu. Aku akan terus menjagamu sampai akhir hidupku, Jiyeon-a..” bisiknya dalam hati.

Mwoya? Jadi dia yeoja yang sudah membuatmu jadi aneh, eoh?”

Myungsoo terkejut bukan main saat tiba-tiba Yoseob datang mengagetkannya dari belakang.

Yaa! Sejak kapan kau ada di sana?” balasnya sengit.

“Cantik juga. Kau cukup pintar memilih yeoja. Ngomong-ngomong siapa namanya?”

Aish! Diamlah!”

Ahh, Jiyeon! Tadi kudengar kau memanggilnya Jiy—”

Pletak! Ucapan Yoseob terpotong karena jitakan Myungsoo telah mendarat di kepalanya.

“Kubilang diam, sialan!” seru Myungsoo kesal.

“Itu sakit, sialan!” balas Yoseob tak kalah kesal pula.

Myungsoo agak tergesa membereskan buku-buku pelajarannya ketika tiba saatnya pulang sekolah. tak salah lagi, ia ingin pulang bersama dengan Jiyeon. Namja itu bahkan pergi begitu saja ketika buku milik Yoseob jatuh berserakan karena tersenggol olehnya. Yoseob hanya bisa berseru memaki-makinya karena ia tahu kalau Myungsoo sengaja melakukannya agar ia tak mengganggunya seperti tadi.

Namun sayang, begitu sampai di luar kelas, seorang namja datang menghalangi langkah Myungsoo.

“Kau Kim Myungsoo?” tanya namja itu.

Ne. Waeyo?”

“Ikut denganku.”

Mwo? Keunde aku—”

“Woobin ingin bicara denganmu.”

Myungsoo terdiam. Ia langsung memiliki firasat buruk begitu nama itu disebut. Tapi ia tak ada niat untuk menghindar atau kabur, jadi ia pun mengikuti kemana namja itu melangkah, meskipun ia sedikit menyesal karena melewatkan kesempatannya untuk bisa pulang bersama Jiyeon.

Keduanya kini sampai di sebuah gudang yang terletak di belakang sekolah. butuh waktu cukup lama untuk sampai di sana dikarenakan area sekolah yang luas. Myungsoo bisa melihat tiga namja sudah menunggu mereka di sana dan salah satunya adalah Kim Woobin. Namja itu juga sadar kalau niat mereka tidak baik terhadapnya. Tapi ia tetap berusaha bersikap tenang.

Ah, Sunbae-nim. Annyeonghaseyo!” sapanya sambil membungkuk hormat.

Woobin tak menjawab sapaannya melainkan berjalan menghampiri Myungsoo. Mula-mula namja itu menepuk bahu Myungsoo seperti halnya tadi, namun kali ini ia menambahkan sebuah tinjuan ke wajah Myungsoo, membuat namja itu terdorong ke belakang. Myungsoo memang sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi ia tidak menyangka kalau serangannya akan secepat ini. Dengan tersenyum simpul Myungsoo mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

“Kau masih bisa tersenyum, eoh? Tch! Kau benar-benar telah meremehkanku, anak baru!” ucap Woobin marah dan kembali melayangkan tinjunya. Namun kali ini Myungsoo berhasil menghindar sehingga Woobin hanya memukul angin.

“Kenapa kau hanya menghindar, eoh? Lawan aku, sialan!” Woobin semakin marah dan terus memberikan serangan acak pada Myungsoo, membuat namja itu sedikit kewalahan. Ia bukanlah seorang ahli bela diri, namun jika dilhat-lihat, Woobin pun sama seperti dirinya. Jadi Myungsoo bisa membaca seperti apa gerakan Woobin dan berhasil menangkisnya dengan sebuah pukulan yang cukup keras di tengkuknya.

Woobin terhuyung-huyung akibat pukulan telak itu dan membuat pandangannya sedikit kabur. Merasa sudah tak mampu bergerak lagi, ia pun memerintahkan ketiga temannya untuk menghajar Myungsoo.

Geumanhae!”

Ketiga teman Woobin yang semula hendak menyerang itu serentak menghentikan gerakan mereka ketika mendengar seruan tersebut. Myungsoo terkejut ketika melihat Yoseob sudah berdiri tak jauh dari mereka.

Yaa! Apa yang kau lakukan di sini, bodoh?” bentak Myungsoo.

“Aku sudah mengambil gambar kalian saat Myungsoo bertarung melawan Woobin. Dan aku sudah siap mengirimkannya ke media sosial. Jika kalian ingin melanjutkannya lagi, maka aku benar-benar akan menyebarkannya. Apa kalian baik-baik saja jika semua tahu tentang ini, eoh?” kata Yoseob tanpa mengacuhkan ucapan Myungsoo.

Ketiga teman Woobin hanya memandang satu sama lain. Dari raut wajah mereka tampak tidak percaya pada perkataan Yoseob.

“Baiklah, mungkin ini saatnya postinganku mendapatkan banyak komentar dan like.” Yoseob sudah mulai menggerakkan jari-jarinya. Namun baru saja ia hendak memencet tombol ok, ketiga teman Woobin sudah berlari pergi meninggalkan mereka.

Myungsoo melongo melihatnya, tidak percaya kalau gertakan Yoseob berhasil.

Mwoya? Gertakanmu berhasil? Maldo andwae!” ucapnya.

Yaa, aku tidak menggertak. Aku benar-benar berniat menyebarkannya tadi. Tapi karena mereka sudah pergi, terpaksa aku membatalkannya.”

“Meski begitu, aku berhutang padamu. Gomawo, Yoseob-a.”

Yoseob hanya tersenyum dan mengacungkan jempol padanya.

Myungsoo kini beralih pada Woobin yang masih terduduk lemas akibat pukulannya tadi. Perlahan ia menghampirinya dan mengulurkan tangannya pada Woobin, tapi namja itu tak menyambutnya sama sekali dan hanya menatap benci pada Myungsoo.

Jeoseongeyo, Sunbae-nim. Aku sudah memukulmu. Tapi aku sama sekali tidak ada niat untuk bermusuhan denganmu. Aku hanya tidak suka dengan sikapmu. Kau tahu, tanpa menggunakan kekerasan pun, semua pasti akan menghormatimu. Karena semua orang menyukai dan menghormati orang yang baik dan ramah, seperti dia contohnya.” ujar Myungsoo sambil menunjuk ke arah Yoseob.

Naega? Whoa.. Gomawo.” sahut Yoseob senang.

Geuraesseo, aku harap kau tidak mendendam padaku setelah ini. Aku menghormatimu sebagai seorang sunbae. Geogjeongmaseyo, aku tidak keberatan jika kau mengadu pada kepala sekolah dan membuatku dikeluarkan dari sekolah. tapi kuharap kau mau mengubah sikap burukmu, Sunbaenim. Aku tahu itu tidak mudah. Tapi aku yakin semua bisa melakukannya secara perlahan. Termasuk kau, Sunbae-nim..”

Woobin masih tak menyahut. Ia membuang muka seolah tak ingin bertatapan lebih lama lagi dengan Myungsoo. Myungsoo mendesah pelan melihatnya.  Karena tak mendapat respon apa-apa, ia pun berbalik.

Kkaja, Yoseob-a. Kita pulang.” katanya.

Ysoeob mengangguk dan keduanya pun berjalan beriringan meninggalkan Woobin. Masih terdengar olehnya suara Yoseob yang menanyakan keadaan Myungsoo akibat perkelahian tadi. Hingga akhirnya keduanya benar-benar tak terlihat lagi oleh pandangannya.

Yaa, bagaimana kau bisa tahu kalau aku ada di sana? Apa kau mengikutiku lagi?” tanya Myungsoo pada Yoseob saat keduanya berjalan pulang bersama.

“Dasar bodoh! Aku hanya berniat menyerahkan ponselmu yang  tertinggal di meja. Tapi begitu aku keluar, kau sudah tidak ada. Tapi setelah bertanya pada salah satu penggemarmu, dia mengatakan padaku kalau kau pergi bersama seorang sunbae. Makanya aku langsung mempunya firasat buruk. Dan satu-satunya tempat paling sepi di sekolah ini adalah gudang ini, itulah alasannya aku bisa langsung tahu kalau kau ada di sana.”

Mwoya? Penggemar siapa yang kau maksud? Lagipula kau hebat bisa langsung tahu letak gudang itu. Padahal jarak antara kelas kita dengan gudang itu cukup jauh dan rumit.”

“Aku memotret denah sekolah.”

Whoa! Kau bahkan melakukan hal seperti itu hanya demi aku? Beruntung sekali memiliki teman sepertimu. Ah, kurasa kau bisa menggantikan posisi Minho untuk sementara.”

“Minho? Nugu?”

Belum sempat menjawab, Myungsoo mendadak merasakan nyeri di kepalanya. Pandangan matanya mendadak kabur.

Yaa, Myungsoo-ya, wae geurae?” tanya Yoseob heran sekaligus panik.

Anni.. G-gwaenchanha.”

Gotjimal! Apa karena pukulan Woobin tadi?”

Myungsoo tak menyahut. Namja itu berusaha keras menahan rasa sakit yang menggerogoti kepalanya. Ia bahkan tidak sadar kalau darah segar sudah mengalir dari hidungnya.

Andwae. Kumohon jangan sekarang. Aku bahkan baru saja memulainya.

To be continued..

Never be Alone [Oneshot ver]

Pertama-tama author pengen ngucapin banyak terimakasih buat kalian yang udah berbaik hati meninggalkan jejak setelah membaca ff ini.

Author tahu banyak banget bahkan berpuluh-puluh kali lipat readers yang udah membuka entah cuman sekedar buka doang atau baca ff never be alone kemarin. Tapi kok ya yang ninggalin jejak bahkan ga ada 50 %. Jujur nih, author sempet kesel, ya wajar lah sebaik apapun ane, tetep aja ane cuman manusia biasa, ahahah

Tapi alih-alih kesel plus jengkel, ane keinget sama komentar dari salah satu reader dulu. Dia bilang ga perlu memaksa reader ninggalin jejak lah, kalo toh ada ff dan ceritanya emang bagus, mereka bakalan tetep kasih komentar kok tanpa disuruh. Beda lagi kalo ceritanya ga menarik, ga bakalan dah ada dorongan buat ninggalin jejak. Nah, makanya di sini author sadar diri. Mungkin ff yang ane bikin emang kurang bagus makanya banyak yang diem-diem aja.

Tapi ane udah berusaha ngasih yang terbaik. Jadi kalo emang masih belum memuaskan ya berarti emang kadar kejeniusannya cuman selevel ini doang, haha tapi insya Allah di part berikutnya akan berusaha lebih baik lagi kok. Ohya, ngomong-ngomong maap telat publishnya ya, soalnya sibuk ngurusin nampyeon dan kerjaan, wkwk

See ya at the next part! *bighug

 

77 responses to “[Twoshot-Part 1] Sequel of Never be Alone

  1. Myungsoo sakit?? Jd dy meninggal bukan karena kecelakaan?
    Jadi ini asal usul pertemuan ketiganya

    Duhhh koq aku antara penasaran dan takut ya mau baca part selanjutnya
    Takut sedih pas baca myung nya meninggal 😢

  2. Unni.. maafkan diriku yg lupa comment wkwk. Soalnya ak lupaan orangnya, dan aku lupa jg udh baca ini apa belom, starting sih inget tp begitu mau tbc lupa jg masa iy ceritanya gini begitu ak baca lg. Wkwk. Miaaann~

  3. Pingback: [Twoshots-Part 2 (END)] Sequel of Never be Alone | High School Fanfiction·

  4. Yeeee ada sequel nya😃 aku seneng banget😁😁😁
    Ooh jadi gitu toh kehidupan jiyi sebelumnya😮
    Suka bangetlah sama karakternya myungsoo disini cucok banget qaqa pengen dong di taarufin sama niholang😁 kkkkk
    Hhmmm kira kira woobin bakal tobat ga ya setelah dikasih wejangan sama myung?:/ semoga iya deh ya tapi gue sih gayakin kkkkk
    Disini kok yoseobnya gemezin banget sih jadi pen nyubit pipinya pake tang😁anku😁 kkkkk
    Ditunggu banget kak lanjutannya😉😉😉😉

    • Wkwk ga boleh, myung itu cuman buat jiyi doang. Kalo mau taarufan mending sama yg lain aja 😁
      Nextnya uda ada kok, monggo dicicipi wkwk
      Gomawo ya isti 😊

  5. Haa.. Aq ktinggal jauh, ni smua krna sinyal ni…

    Ga nyanka luw flashbackx sperti ni,
    Jd ortux jiyeon d oneshootx tu sbenarx adalh ortu kandung myungsoo??
    Myung sakit pa sih? Kanker otak y?
    Next thor, Pnasaran bnget ma lnjutanx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s