[ONESHOT] Lucky

my-lucky

Quinniechip’s Present

Lucky Admirer

Starring by Kim Myungsoo & Park Jiyeon

A Romance Ficlet for Teenager with Parental Guidance


Aku kembali berada disini. Kedai kopi yang berada di persimpangan jalan tak jauh dari rumahku. Setelah kurang lebih tiga hari aku tak mengujungi tempat ini karena beberapa hari yang lalu aku tak sengaja menabrak motor yang ada di depanku, dan entah bagaimana ceritanya sehingga aku bisa jatuh tergelincir dan membentur bahu jalan. Alhasil aku harus melakukan rawat inap di rumah sakit selama satu malam dan selanjutnya aku hanya memerlukan istirahat di rumah dengan beberapa kali check-up setiap minggunya.

Sepulangnya dari rumah sakit, sebenarnya aku sudah merasa sehat. Keadaanku tidak begitu parah, hanya mendapatkan tiga jahitan di kepala dan beberapa perban di bagian lutut dan siku.

Selama dua hari kemarin aku resmi terkurung di dalam kamar. Bukan terkurung dalam artian yang sebenarnya, tapi eomma begitu protektif merawatku, dengan melarang ini dan itu. Tidak boleh keluar rumah, walaupun aku benar-benar bosan berada di dalam kamar seharian, bahkan untuk turun ke dapur, sekedar mengambil segelas airpun sungguh sulit rasanya. Butuh perdebatan yang sangat panjang sampai aku diperbolekhan untuk berkeliaran di sekitar rumah, dan selama dua hari itu, satu-satunya sumber penghiburku hanyalah televisi.

Jujur saja, tidak ada acara yang benar-benar menarik perhatianku. Setiap channel yang kutonton, semua isinya sama saja. Tidak akan jauh dari berita, gosip, dan drama romantis. Oh, sepertinya tontonan televisi masa kini memang ditunjukkan untuk para wanita.

Tak jarang aku berakhir dengan tertidur di depan televisi sambil memegang remote, karena terlalu bosan, dan yang bisa aku lakukan hanya tidur selagi berharap bahwa waktu cepat berlalu. Juga berharap bahwa luka-luka ini akan cepat sembuh. Sehingga aku bisa cepat bebas seperti sebelumnya, dan yang lebih penting lagi, aku tidak harus mendengar nasehat eomma setiap waktu yang benar-benar membuat mood-ku buruk.

Aku sangat bahagia saat dokter mengatakan bahwa aku sudah berada dalam keadaan yang lebih baik dan bisa kembali beraktivitas normal. Itu artinya tidak ada lagi eomma yang melarangku melakukan ini dan itu dengan alasan ‘kau masih sakit, sayang’, dan yang lebih penting lagi, aku bisa kembali ke cafe dan menemuinya lagi.

Bukan tanpa alasan mengapa aku begitu bersikeras untuk keluar walaupun aku sedang dalam keadaan yang tidak baik. Bukan karena jadwal kuliah yang harus segera aku isi ataupun tugas yang begitu menumpuk. Aku justru merasa senang karena beberapa hari ini bisa terbebas dari semua itu. Tapi, karenanya, gadis pelayan kedai kopi itu, yang entah siapa namanya. Gadis berambut panjang yang selalau tampak casual dengan balutan celana jeans yang dipadukan dengan sneakers hitamnya. Dia tidak begitu cantik, tapi menurutku ia manis, apalagi saat ia tersenyum. Kedua lekukan di pipinya terbentuk sangat dalam. Apalagi matanya yang akan ikut menyipit ketika ia tersenyum. Eye smile-nya benar-benar menarik perhatianku.

Aku, penguntit? Bukan. Tapi lebih tepat jika kau mengatakan bahwa aku adalah seorang pengagum rahasia-nya. Ya, secret admirer.

Aku bukan penggemar berat kopi. Tapi, demi gadis itu, aku rela tidak bisa tidur cepat karena efek kafein-nya bertahan cukup lama. Tak apalah, hitung-hitung aku bisa membayangkan betapa lucu wajahnya saat ia tertawa, sebelum aku pergi tidur, berharap bahwa aku dan gadis itu bisa saling mengenal, walau hanya dalam mimpi.

Wajah manisnya, sudah bagaikan candu bagiku. Walau hanya untuk beberapa menit, setidaknya mampu mengobati rasa rinduku padanya. Oh, apakah aku terlalu lancang jika kukatakan bahwa aku merindukannya disaat kami belum saling mengenal.

Aku selalu datang ke cafe pada sore hari. Bukan karena waktu yang tak memungkinkan, tapi karena aku lebih suka melihatnya duduk tenang. Setiap sore, cafe tak terlalu banyak dikunjungi, dan setiap kali ia mendapatkan waktu senggang, ia akan duduk di samping meja kasir dan membaca novel karya Shakespeare.

Daripada harus melihatnya berlalu lalang melayani pengunjung dengan keringat yang menetes dari sela rambutnya, yang jujur saja, ia tampak seksi pada saat itu, tapi aku lebih suka melihatnya diam, konsentrasi dengan bukunya, ia benar-benar terlihat manis saat itu.

Entah apa yang ada dalam dirinya sehingga membuatku tak berani untuk mendekatinya. Bahkan hanya sekedar untuk berkenalan pun aku tak mampu. Asal kalian tahu saja, saat aku sekolah dulu, aku ini salah satu lelaki yang paling banyak dikelilingi oleh para gadis. Bahkan aku sempat memiliki empat orang kekasih dalam satu waktu yang sama, ya walau semuanya berakhir tragis, ditampar, disiram air, dan ini cukup memalukan untuk kembali diungkit.

Destinasi pertamaku setelah terkurung tiga hari berturut-turut dalam rumah adalah cafe tempatnya bekerja. Aroma kopi sudah menyeruak saat aku  baru saja menginjakkan kaki di dalamnya. Aku sudah cukup familiar dengan aromanya. Dan yang menjadi pusat perhatian pertamaku adalah meja kasir, tempat dimana ia selalu duduk dan membaca novelnya. Tapi ia tak ada disana. Cukup lama aku berdiri diam di depan pintu masuk, setelah menyadari bahwa keberadaanku mengganggu pelanggan yang ingin masuk, aku segera menyingkir dan menuju tempat pemesanan.

“Selamat sore, apa yang ingin anda pesan?”

Aku diam tak menjawab. Mataku masih bergerak mencari keberadaannya. Tapi seberapa kuat aku mencari, dia tetap tak terlihat.

“Permisi, anda ingin memesan apa?”

“Ah,” Aku tersadar dengan pertanyaannya yang cukup kencang ia ucapkan, “Green Tea Latte satu.”

“Maaf.” Aku kembali menatap pelayan di depanku sebelum menarik beberapa lembar uang dari dalam dompet, “Untuk Green Tea Latte-nya sedang kosong. Seseorang sebelum anda baru saja mengambilnya. Apakah anda ingin mengganti pesanan?”

“Ya sudah, Caramel Machiatto saja.”

Sebenarnya aku tak begitu menyukai minuman yang terlalu manis. Tapi  ku rasa di hari yang tak begitu cerah ini, aku membutuhkan minuman yang benar-benar manis untuk meminimalisir nasib pahit yang menimpaku.

Setelah tiga hari menahan rindu, aku memaksakan diri untuk ke cafe hanya sekedar untuk melihatnya, walau terkadang aku masih merasa pusing, dan setelah aku datang, ia tak ada, bahkan sampai aku keluarpun gadis itu tetap tidak muncul. Sial!

Aku berjalan dengan sedikit menendang angin dan bebatuan dengan rasa kesal yang menggumpal. Ingin berteriak tapi aku masih punya malu. Untuk meredakan rasa kesal ini, aku memilih duduk sejenak ddi beranda kedai sambil menghabiskan kopinya. Panasnya sudah tak kupedulikan, aku terus menegaknya hingga tetes terakhir. Tak menyadari bahwa seseorang datang dan berdiri di hadapanku. Merasa diperhatikan aku langsung menoleh menghadapnya. Dan betapa terkejutnya aku bahwa ia ada disampingku saat ini. Gadis manis yang kucari-cari dari tadi kini berada tepat di depanku dan berdiri menatap padaku.

“Ini..”

Aku terdiam dengan wajah yang benar-benar kaku.

“Untukmu.” Lanjutnya.

Tangan kanannya menjulur, meletakkan segelas Green Tea Latte yang masih dihiasi dengan kepulan asap hangat di atasnya, ke atas mejaku.

“Kau..” Matanya membesar seolah bertanya. Damn! Ia benar-benar lucu!

“Selalu datang setiap hari dan memesan Green Tea Latte, benar?”

Ini terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan. Seakan dia sudah tahu. Hei, tunggu, apa?!

Kemudian gadis itu tersenyum malu, “Aku memperhatikanmu setiap hari.”

Dan kupu-kupu dalam perutku pun beterbangan. Merekah kegirangan. Ia memperhatikanku? Yang benar saja!

“Dan aku harap Greeen Tea Latte ini bisa menjadi awal perkenalan kita.”

Gadis itu menjulurkan sebelah tangannya lagi padaku, “Aku Park Jiyeon, kau?”

Park Jiyeon? Nama yang cantik, seperti orangnya..

“Aku-”

Belum sempat aku mengucapkan namaku barang satu huruf pun. Teriakan seseorang dari pintu kedai lebih dulu memotong dan merusak semuanya.

“Yya! Park Jiyeon! Cafe sedang ramai dan kau mau terus asyik berkencan di luar sana? Kau berniat dipecat ya!”

Dengan cepat Jiyeon menarik kembali tangannya yang terjulur padaku, dan sekali lagi ia tersenyum meringis, “Sepertinya aku harus kembali bekerja sekarang.”

Jiyeon berbalik dan melangkah menjauh menuju cafe.

Aku yang kesal hanya bisa menarik-narik rambutku asal. Melempar gelas sisa kopi ke sembarang arah. Tanpa kusadari, Jiyeon sudah berhenti dan membalikkan tubuhnya ke arahku. Ia melihatku melakukan hal bodoh, dan ia menertawakan itu. Bodoh kau Kim Myungsoo!

“Aku harap kita bisa bertemu lagi di lain waktu, dan aku bisa tahu siapa namamu.” Ucapnya sedikit berteriak karena jarak kami yang lumayan jauh.

Baru saja ia balik melangkah, aku sudah kembali menghentikan perjalanannnya, “Besok! Lain waktu itu adalah besok. Aku Kim Myungsoo, jika kau benar-benar ingin tahu!”

Dan aku tahu, ia sedang tersenyum dengan pipi yang memerah di balik punggungnya.

Sama sekali tak kuduga. Mungkin ini balasan dari tiga hari harus menahan rindu. What a Lucky Day! What a Lucky Admirer! What a Lucky Me!

kkeut!

NATION EXAMINATION IS OVER! Lalalalala~

Lega ya, tapi sejujurnya tanggungan makin banyak dan semakin berat pula, huft :’) /iniapalahjadicurhat/

Udah lama nggak nulis, jadi kaku banget rasanya

Warning! Ini nggak aku edit, lagi mager banget, jadi kalo ada typo dan semacamnya, maafkeun😀

COMMENT PLEASE! SARANNYA JUGA BOLEH KOK~ LOVE YA ALL (づ。◕‿‿◕。)づ (♥͡З♥͡)

45 responses to “[ONESHOT] Lucky

  1. Omaigad kim HOW LUCKY YOU ARE!!!😱 gue bisa kek gitu juga ga ya😦 haha bikin envy aja nih ff sweet bangeeettt sukaaaa😍😘

  2. Kekeke… myungsoo sweet ya 😂😂 aduhh bacanya mikin aku kek orang gila senyum senyum sendiri, di tunggu kelanjutannya ya thorr 😘😘

  3. Ternyata sama saama memperhatikaaaan! Hihi ga bertepuk sebelaah tangaaaan yeaayy!^^
    Walaupun ceritanya pendeek tapi menariiik hihi
    Di tunggu karyaa lain nya hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s