[CHAPTER] IT’S CRAZY #9

image

Poster by :HRa@HighSchoolGraphics (thanks ^^)

Author : Park Eun Ji
Main Cast:
Bae Suzy (MISS A)
Kim Myung Soo (INFINITE)
Yook Sung Jae (BTOB)
Yoo Young Jae (B.A.P)
Cameo:
Suprise for you ;)

Genre : Romance, School-life
Rating : PG-13
Disclaimer : All cast belong to God and his/herself :)

Plot?Mine! :)

Previous : #BREAKUP ~#CRAZYDAY~ #CONFUSED~ #ESPERANZA ~ #WHATADAY ~ #WHICHONE ~ LOSER ~ #CONFESSION

©2016

ENJOY \^^/

CHAPTER 9
#Happiness
Minggu ini aku mencoba untuk menenangkan pikiranku sejenak dengan berjalan-jalan sendirian di taman di pusat kota sambil membawa gitar. Sudah sejak lama sekali sejak terakhir aku memainkan gitar, kurasa aku harus menggerakkan jari-jariku yang kaku ini di atas senar gitar.

Aku duduk di salah satu bangku taman dan mulai memainkan gitarku. Setelah beberapa nada sumbang berhasil aku keluarkan, akhirnya aku bisa memainkan nada di gitar sehingga membentuk sebuah melodi.

We walking in the same path
Holding hands with seeing each other
We look so happy right now

I never think if it wasn’t you
Without you I’m just falling leaves in autumn

Petikan gitarku terhenti, setiap menyanyikan lagu ini pasti aku selalu lupa bagian akhirnya. Biasanya aku bernyanyi bersama Myungsoo dan membiarkannya menyanyikan bait terakhir. Ini tidak berguna. Lagu ini tidak terasa hidup jika aku yang menyanyikannya sendiri.

“The leaves that lost their colours”

Aku mendongakkan kepala begitu sebuah suara menyanyikan bait terakhir lagu ini. Myungsoo. Aku tersenyum tipis ketika mendengarnya bernyanyi, sudah lama sekali aku tidak mendengar suara merdunya.

” Mau menyanyikannya sekali lagi?” Myungsoo duduk di sampingku dan mengulurkan tangan untuk mengambil alih gitarku. Aku tersenyum, kemudian mendengarkan petikan gitar Myungsoo yang lebih mantap. Teknik bermain gitar Myungsoo lebih baik dibandingkan aku sehingga nada yang dihasilkan lebih hidup.

We walking in the same path
Holdings hands with seeing each other
We look so happy right now

I never think if it wasn’t you
Without you I’m just falling leaves in autumn
The leaves that lost their colours

Petikan gitar Myungsoo berhenti. Lagu ini tidak mempunyai judul, lagu ini tercipta secara spontan saat aku sedang berlatih gitar dulu. Lagu ini memiliki kenangan indah. Sàat aku masih berpacaran dengan Myungsoo, kami sering memainkan lagu ini.

” Aku jadi teringat dengan masa lalu.” Myungsoo tertawa. ” Kau merasakannya juga kan?”
Aku mendengus geli sambil mengangguk menjawab pertanyaan Myungsoo. ” Ini sedikit aneh, seperti ada sesuatu yang kurang.”
” Yang kurang adalah chemistry saat kita menyanyikan lagu tadi. Aku sangat canggung tadi karena sudah lama tidak menyanyikannya bersamamu. ” Myungsoo menyerahkan gitar kepadaku.
” Kalau sering menyanyikannya pasti akan bagus. ” Aku mengambil gitarku dan memasukkannya ke tempatnya dan hendak menutup resletingnya. Sialnya, resletingnya selalu macet dan membuatku kesal.
” Berikan padaku.” Myungsoo mengambil tas gitarku dan mengoleskan sedikit vaseline dari saku jaketnya ke resletingku. Kemudian tangannya bergerak untuk menutup resleting itu. Lancar sekali.
Myungsoo kemudian mengamatiku yang terbengong melihat resleting itu, kemudian tertawa. ” Ekspresimu itu, aku sangat menyukainya. Padahal aku selalu melakukannya berulang kali loh.”
Aku segera mengubah ekspresiku dan berdeham untuk menutupi rasa malu. ” Kurasa tempat gitar ini lebih menyukai dirimu dibandingkan pemiliknya.”
Myungsoo dengan sisa tawanya berkata. ” Lebih tepatnya dibutuhkan penanganan yang tepat agar resleting itu tidak macet. ”
” Tadi aku ke rumahmu, dan ibumu bilang kalau kau pergi ke sini. Jadi aku menyusulmu.”
” Memangnya ada apa ingin menemuiku?”
Senyum misterius tampak di wajah Myungsoo, ” Kau ada acara lain? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

Aku mengamati ribuan gembok yang terpasang di pagar pembatas. Untuk ke sekian kalinya, aku kembali ke Namsan Tower lagi. Aku berjalan di samping Myungsoo, di tengah-tengah lautan gembok dan beberapa pasangan yang sedang bersenda gurau dan seseorang yang tengah memandangi gembok dengan pandangan kosong. Mungkin ia sedang memiliki masalah dengan pacarnya.

” Ingat tempat ini?” Myungsoo berhenti di pagar pembatas dan memegang gembok yang dulu aku pasang bersama Myungsoo. Hebat sekali ia dapat menemukannya di antara gembok-gembok ini.
Aku mengangguk, memperhatikan gembok yang berkarat itu. ” Tentu saja. Ini tempat kencan pertama kita dulu.”
” Jujur saja, aku lupa tempat dimana kita memasang gembok ini.” Myungsoo tertawa, memainkan gembok yang warnanya sudah pudar itu.
” Lalu, bagaimana bisa kau menemukannya?” Aku penasaran, kupikir Myungsoo masih mengingatnya.
Myungsoo meraih tanganku dan menempelkannya di dada kirinya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak lembut dan tenang, persis seperti sifat pemiliknya. ” Ini yang membuatku berhenti di sini.”

Aku bisa merasakan jantungku berdetak dengan sangat cepat, seolah-olah jantung ini ingin keluar dari tempatnya. Walaupun kami jarang bertemu, Myungsoo dapat membuatku nyaman dengan caranya sendiri. Dia tidak berubah sejak aku putus dengannya. Dia tetap memperlakukanku dengan lembut, menjagaku, dan membuatku nyaman.

Aku tersenyum, membalas senyum Myungsoo, ia kemudian menggenggam tanganku dan melanjutkan langkahnya. ” Kau banyak berubah sekarang. Kau lebih tenang, tidak seperti dulu.”
Aku cemberut, menarik diriku dan berjalan mundur menghadap Myungsoo, ” Yah, hidup adalah sebuah perubahan bukan?”
Myungsoo tidak menatapku, ia menatap ke arah belakangku lalu memegang kedua bahuku dan memutar tubuhku untuk menghindari pohon gembok raksasa yang hampir saja kutabrak. ” Jangan berjalan mundur, Nona. Kau harus belajar banyak dari Tow Matter.”
Aku memasag tampang polos.” Apakah aku harus mempunyai karat dan minum oli?”
Myungsoo menjawab dengan datar.” Tidak, kecuali kau adalah sebuah mobil.”

Kami saling berpandangan kemudian tertawa secara bersamaan. Sudah lama sekali aku tidak bercanda seperti ini dengannya. Mendengar tawa Myungsoo adalah salah satu hal paling membahagiakan dalam hidupku. Aku menyadari bahwa Myungsoo sangat berarti bagiku.

” Lusa aku akan menjalani wajib militer.”

Aku membulatkan mata begitu mendengar kabar mengejutkan itu dari Myungsoo.

” Bukankah kau sedang kuliah? Bagaimana dengan pekerjaan part time mu?”

Myungsoo menatap sepatunya yang sudah lusuh. ” Aku akan mengambil cuti dan aku sudah tidak bekerja lagi sebagai jurnalis. Itu sangat menyita waktu dan pikiranku.”
Ah, soal pekerjaannya aku jadi teringat dengan Sora. ” Mmm, kau…masih tidak mau bicara dengan Sora?”
Myungsoo mengerutkan dahinya, ” Darimana kau tahu?”
” Beberapa hari yang lalu kami bicara. Bukannya aku ikut campur urusan kalian tapi bukankah terasa tidak nyaman jika tidak bicara seperti itu?”
Rahang Myungsoo terlihat mengeras, ia marah. ” Karenanya aku putus denganmu, Suzy.”
” Bukan salahnya Myungsoo. Kita semua, aku, kau, dan Sora dipermainkan oleh takdir. Lagipula hubungan kita sekarang sudah membaik bukan? Kita sudah berteman sekarang.”
Myungsoo berkata dengan dingin. ” Apa Sora menyuruhmu melakukan ini?”
” Tidak. Walaupun aku baru bertemunya dua kali, tapi aku yakin Sora orang yang baik. Lagipula, ia temanmu bukan? Kau pasti tahu Sora bukan tipe orang yang seperti itu.” Aku teringat dengan sikap Sora yang friendly tempo hari, sangat sulit membayangkan Sora melakukan hal licik seperti tokoh antagonis di drama yang sering kutonton.
Myungsoo terdiam, aku memberinya waktu untuk berpikir. Aku meraih asal sebuah gembok dan membaca tulisan di gemboknya.

Suzy. Aku menyukai gadis ini. Bisakah aku memilikinya?^=^

Tulisan ini, aku mengenalnya. Ini adalah tulisan Sungjae. Jadi ia mengajakku waktu itu bukan hanya sekedar iseng saja melainkan untuk menulis permohonannya di sini?

Aku mendengus geli mengetahui Sungjae menggunakan gembok ini bukan sebagaimana mestinya. “Memangnya ini pohon permohonan?” Aku bergumam sendiri lalu membalikkannya seperti posisi semula. Semakin lama aku menjalani hari-hari ini, aku semakin sadar bahwa perasaan sukaku terhadap Sungjae hanya perasaan suka terhadap teman saja, tidak lebih. Aku menghargai perasaan Sungjae, hanya saja aku lebih nyaman jika bersahabat dengannya saja.

Aku mengeluarkan spidol dari saku jaketku dan menuliskan pesan balasan di balik gembokku yang dipasang di sebelahnya dulu, semoga saja ia bisa membaca pesan ini.

Kau boleh memilikiku. Tapi sebagai teman. Sebelum itu, bisakah kau memberiku traktiran kimbab? :p

Aku tersenyum ketika menulis pesan balasan kepada Sungjae. Saat pertama kali bertemu dengannya, aku menganggapnya seperti orang aneh. Tapi karena pertemuan-pertemuan kami, aku melihat sisi lain dari Sungjae. Ia orang yang menyenangkan dengan sikap kekanakannya dan sifat humblenya. Dari awalnya sedikit tertutup, pwrlahan ia mulai membuka diri, mulai berinteraksi dengan orang-orang.

” Kau melakukan vandalisme.”

Suara singkat Myungsoo membuatku kembali ingat dengan keberadaannya. Aku menegakkan badanku dan mengangkat bahuku ” Aku hanya sedikit menambah tulisan saja. Lagipula gembok itu milikku. Aku iseng memasangnya dengan seorang teman.”

Myungsoo mengerjapkan mata, ” Oh, oke.”

” Soal Sora, aku akan bicara dengannya besok. Sebenarnya, aku ragu jika Sora tidak mau bicara lagi padaku, aku telah melukai perasaannya. Tapi, aku akan mencoba. Aku tidak mau ada masalah yang belum terselesaikan sebelum aku memasuki militer.”

Aku mengangguk, menyetujui ucapan Myungsoo. Lalu Myungsoo seperti teringat sesuatu. Ia menatapku dengan wajah horor. ” Apa yang Sora katakan tentangku?”
Wajahku langsung memanas ketika mengingat kejadian itu. ” Sora bilang, kau selalu bercerita tentang diriku kepadanya.”
” Benar-benar, anak itu. Ah, itu…dia itu hanya bercanda tolong jangan didengarkan ya?” Myungsoo langsung gugup. Aku berusaha menahan tawa, kegugupan Myungsoo membuatku yakin bahwa apa yang diceritakan Sora benar.
” Sora tidak bercanda bukan?” Aku bertanya kepada Myungsoo, wajah Myungsoo langsung berubah serius. Akhirnya ia berkata lirih. ” Iya.”

” Saat aku menceritakan tentangmu kepada Sora. Aku hampir gila karena tidak bisa bertemu denganmu. Aku ingin memastikan apakah kau baik-baik saja, apakah kau istirahat dengan cukup, apakah kau makan dengan baik. Tapi aku tidak bisa, aku takut untuk bertemu denganmu karena aku tahu aku telah menyakitimu.” Pandangan Myungsoo melembut lalu merapihkan rambutku yang tertiup angin dengan lembut dan menyelipkannya di belakang telinga. ” Bisakah aku mendapatkan kesempatan kedua? ”
” Setelah aku meninggalkanmu di kafe, aku berpikir kau adalah orang paling jahat di dunia ini. Tapi aku merindukan orang jahat ini, aku ingin berada di sisi orang jahat ini walaupun ia telah menyakitiku. Saat itu aku berpikir bahwa aku terlalu bodoh karena masih mencintai orang jahat ini. Aku-” Aku tidak dapat melanjutkan perkataanku karena Myungsoo telah menarikku ke dalam pelukannya. Aroma maskulin yang selalu kusuka merasuki indra penciumanku, membawaku ke dalam nostalgia masa lalu, kenangan-kenangan masa laluku dan Myungsoo berkelebat bagaikan potongan film.
” Maaf, telah membuatmu seperti ini. Biarkan orang jahat ini memperbaiki kesalahannya, biarkan orang jahat ini berubah menjadi orang baik.”

Aku mengangguk dalam pelukan Myungsoo, ” Kalau kau seperti itu lagi, aku akan membunuhmu saat itu juga.”
Myungsoo melepaskan pelukannya, ia menghapus air mataku dengan perlahan. ” Tidak, aku yang akan membunuh diriku sendiri jika aku seperti itu lagi.”
” Jadi? Apakah kita kembali berpacaran? Kalau begitu, boleh aku memegang tanganmu.” Myungsoo berkata dengan nada menggoda.
Aku langsung salah tingkah,” Tadi kan kau sudah menggenggam tanganku.” Kemudian aku berjalan cepat, aku sangat malu sekarang.
Langkahku terhenti karena Myungsoo tiba-tiba memelukku dari belakang. Seolah itu belum mengejutkan, aku merasakan sebuah ciuman di pipi. Aku berbalik, terlalu terkejut untuk mengeluarkan satu kata pun.
” Itu ungkapan rasa senangku, tidak apa-apa kan?”
Aku tersenyum, kemudian berjinjit untuk mencium bibirnya singkat namun lembut. ” Kalau ini ungkapan rasa senangku.”

Myungsoo mengerjapkan matanya, wajahnya benar-benar seperti melihat hantu. Ekspresinya itu sangat lucu sehingga membuatku tertawa. Myungsoo mengacak rambutku sambil berkata ” Kau ini benar-benar. Unpredictable.”

Aku telah menemukan kebahagiaanku sendiri. Setelah melewati jalan penuh liku, penuh rintangan, akhirnya aku menemukan cintaku kembali. Perjalanan cinta ini baru saja dimulai kembali.

Fin
-TBC-

Yuhuu~ I’m back! \^^/ FF ini belom end kok, tenang aja kekeke~ penasaran sama Youngjae, Sungjae, dan Seolhyun kan? I’ll write them in next chapter~
Ah, gatau harus ngomong apa lagi .-. See ya next weeks and have a blessed weekend~

4 responses to “[CHAPTER] IT’S CRAZY #9

  1. Pingback: [CHAPTER] IT’S CRAZY #10 | High School Fanfiction·

  2. yey akhirnya suzy balikan sama myungsoo.
    tapi myungsoo nya uda mau wamil.
    ditunggu nextnya thof. fighting.

  3. Akhirnya Suzy balikan lagi sama Myungsoo, senangnya… dan untuk Sungjae, memang lebih cocok jd teman, solanya cemistry Myungzy itu udah yg paling sweet, jd ya Sungjae lebih baik jd teman untuk Suzy…
    Selalu ditunggu next partnya, gomawo author🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s