[ONESHOT] Never be Alone

never be alone

Author : Yochi Yang

Title : Never be Alone

Main Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Choi Minho

Genre : Romance, Mystery, Fantasy

Rating : General

Length : Oneshot

.

.

.

Hampa. Mungkin seperti itu rasanya. Karena aku tak merasakan kesedihan atau sejenisnya. Lalu bagaimana dengan sakit hati? Sepertinya itu juga kurasakan, walau sedikit. Tapi yang jelas, aku kecewa saat dia pergi begitu saja. Tanpa pesan, tanpa memberikan kata-kata perpisahan. Entahlah, padahal dia itu namja yang baik, ramah, bahkan mungkin dialah seseorang yang bisa membuat hariku sedikit berwarna. Dialah penyemangatku selama ini. Yah, mungkin memang hanya sebentar, tapi semua itu telah cukup membuatku terbebas dari suatu penyakit yang biasa kusebut kesepian. Tapi pada akhirnya, orang itu telah pergi tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Apa aku menangis? Tidak. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku tak menangis. Mungkin karena aku tak merasa sedih. Aku hanya merasa kesepian, kecewa, dan hampa.

Entahlah, barangkali karena ia sudah terlalu bosan, atau apalah, aku sama sekali tidak pandai menebak pikiran orang lain. Tapi sepintas aku sadar, kepergiannya ada hubungannya dengan ucapanku waktu itu. Ketika aku bertanya padanya tentang hubungan kami selanjutnya. Bodoh. Padahal aku hanya bercanda. Tapi rupanya ia menanggapi ucapanku dengan serius. Sudah kuduga aku memang tidak pandai membuat lelucon. Pada akhirnya aku malah kehilangan seseorang seperti dirinya gara-gara lelucon yang kubuat sendiri.

Aku tahu, aku dan dia hanya bersahabat, ah tidak. Sepertinya hanya berteman. Bagaimanapun aku tahu apa bedanya teman dan sahabat. Lagipula aku belum terlalu lama mengenalnya. Tentu saja dia mengira aku orang yang terlalu serius saat aku mengatakan hal itu padanya. Andai saja aku bisa memutar waktu, aku ingin waktu berulang jauh sebelum aku bertemu dengannya, lalu mengubah takdir agar aku tak bertemu dengan orang sepertinya. Tapi apa yang kubisa. Justru akulah yang mengacaukan takdir ini. Aku sendiri yang membuatnya pergi dariku.

Aku tidak menyesal pernah bertemu dengannya. Hanya saja aku sedikit menyesal karena belum sempat berterima kasih padanya yang telah sedikit membuatku bersemangat di hari-hari sepiku. Aku masih ingat ketika terakhir aku bertemu dengannya, kami masih akrab dan ceria seperti biasanya sampai kata-kataku itu muncul. Meski begitu ia bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi meninggalkanku seperti ini. Seperti yang sudah kukatakan, aku tak pandai menebak pikiran seseorang. Entah dia merasa terganggu dengan ucapanku itu, entah ia merasa bosan denganku, aku tidak tahu. Alhasil sekarang, saat ini dan detik ini, aku kembali merasa kesepian seperti biasa. Tak ada yang menyapaku setiap paginya. Tak ada yang menemaniku makan siang di kantin. Kembali seperti saat aku yang dulu sebelum bertemu dengannya. Aku yang sepi muram dan tak suka bicara seperti biasanya. Aku merasa hampa tanpanya. Benar-benar hampa.

Bam!

Aku terperanjat ketika layar komputer yang semula kucermati mendadak padam. Seperti dugaanku, seorang namja tinggi dan tampan alias si empunya komputer sudah berdiri di belakangku sambil melipat kedua tangannya di dada. Kulirik sekilas kabel penghubung komputer yang sudah tercabut dari stop kontak.

“Sedang apa kau?” tegurku padanya.

Yaa, seharusnya aku yang mengeluarkan pertanyaan itu. Sedang apa kau di dalam kamar seorang namja yang bukan suamimu?” balasnya sengit.

Aku hanya nyengir sebentar lalu menggaruk kepalaku yang sedikit gatal. “Mian. Tadi aku mencarimu dan tanpa sengaja melihat komputer milikmu menyala. Karena aku penasaran dengan isinya, jadi aku intip sebentar, hehehe.. Lagipula kita kan bersaudara jadi tidak ada masalah kalau aku masuk kamarmu.”

“Bagiku itu tetap jadi masalah. Jadi, kenapa kau mencariku?”

“Tunggu sebentar. Ada yang ingin kutanyakan padamu.”

Mwoya?”

“Tulisanmu yang tadi kubaca, apa itu berdasarkan kisah nyata?”

“Geurae, itu nyata.”

“M-mwo? T-tapi aku merasa ada kejanggalan di sana. Yang kau ceritakan itu namja kan? Dan dia pergi meninggalkanmu karena kau menanyakan soal hubunganmu selanjutnya dengannya. Bukankah sudah jelas alasan dia pergi? Tentu saja dia takut karena dia pasti berpikir kalau kau ini seorang gay. Apa benar kau ini seorang gay?”

“Enak saja kau bicara. Tentu saja bukan.”

“Lalu yang tadi?”

“Itu bukan tulisanku.”

Mwo? Maksudmu? Yang menulis itu bukan kau?”

Ne, itu orang lain. Sudahlah, kenapa tadi kau mencariku?”

“Kalau bukan kau yang menulisnya lalu siapa? Apa dia yeoja? Siapa dia?”

Aish kau ini cerewet sekali. Kalau sudah tidak ada perlu lebih baik keluar saja.”

“T-tapi tapi—”

“Minho sudah menunggumu di luar. Cepatlah.”

Mwo? Minho datang?”

Eoh! Dia sudah lama menunggumu.”

Sejenak aku merasa bingung dan gugup, antara rasa penasaran dengan kelanjutan tulisan sekaligus penulis tulisan itu, juga dengan kedatangan Choi Minho, namjachinguku, sekaligus calon suamiku. Kenapa dia datang semalam ini? Lagipula dia tidak bilang akan datang. Akan tetapi aku segera tersadar setelah terdorong keluar oleh Oppa dan berada di luar pintu kamarnya. Aku mendengus sejenak lalu segera keluar untuk menemui Minho. Tidak sempat merapikan diri, karena aku memang selalu tampil apa adanya di depan Minho. Namun begitu aku sampai di luar, tak kulihat siapapun di sana. Sepi dan hanya beberapa kendaraan serta lampu-lampu di pinggir jalanan yang terlihat. Aku mendesis tertahan, baru sadar kalau aku telah ditipu oleh namja itu.

“DASAR KIM MYUNGSOO BODOH!!”

Sial. Seharusnya aku tahu kalau dia berbohong.

Dadaku terasa sesak, entah kenapa. Aku merasa seperti ada sesuatu yang besar dan berat tengah menindih dada dan kepalaku. Sesak dan penat hingga aku sulit untuk bernapas. Apa ini? Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Aku hanya merasa ini adalah akhir hidupku. Aku kehabisan napas, bahkan untuk berteriak saja rasanya susah. Dan aku tak bisa melihat apapun. Semuanya gelap. Sekuat tenaga aku berusaha untuk menjerit, meminta tolong pada siapa saja yang mendengarku. Tapi sungguh, aku sendiri bahkan tak bisa mendengar bisikanku. Tuhan, apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku? Kenapa denganku? Kenapa aku merasa sesesak ini? Kenapa aku merasakan sesuatu hendak meledak dari dalam dadaku? Tolong, kumohon tolong aku! Aku tak bisa bernapas! Aaarrgghh!!

“Jiyeon-a! Jiyeon-a, gwaenchanha?”

Aku tersengal. Perlahan kubuka kedua kelopak mataku. Aku melihat wajah seorang yeoja yang tidak asing bagiku. Eomma.

“Kau berteriak. Apa kau mimpi buruk lagi?” tanyanya terlihat cemas.

Aku hanya mampu mengangguk. Yah, ternyata itu tadi hanya mimpi. Mimpi yang mengerikan bagiku.

Eomma hanya menarik napas pelan, lalu mengelus rambutku. “Eomma akan ambilkan air minum.” Katanya.

Sekali lagi aku hanya mengangguk. Eomma pun beranjak keluar. Kulihat Oppa sedang berdiri dan bersandar di ambang pintu kamarku. Kedua matanya seolah mengejekku yang bertingkah seperti anak kecil. Begitulah aku menafsirkan tatapannya itu.

“Pergilah. Aku baik-baik saja.” ucapku agak kesal sambil memiringkan badanku membelakanginya.

“Apa itu mimpi yang sama?” tanyanya.

Aku diam saja. Dia benar. Aku memang sudah sering bermimpi seperti itu. Sesak napas seperti itu. Sebenarnya apa maksud mimpi itu?

“Sudah kubilang setiap mau tidur berdoa dulu. Bukannya malah chattingan dengan Minho terus.”

Aku hanya mendengus mendengarnya. Tapi tidak membantah karena ucapannya itu memang benar.

“Mimpi itu—” ucapku kemudian, tanpa tahu apa Oppa masih di belakangku atau sudah kembali ke kamarnya.

“—sangat menakutkan. Aku takut itu benar-benar terjadi padaku. Aku tidak mau mengalami hal seperti itu. Semuanya terasa sesak, penat, dan juga sunyi. Aku benci keadaan seperti itu.” lanjutku.

“Kau takkan mengalami hal seperti itu.” Ah, rupanya ia masih di sana.

Aku tak segera menjawab. Aku tahu dia akan melanjutkan ucapannya.

“Sebentar lagi akan ada seseorang yang membuat hari-harimu semakin berwarna. Aku yakin Minho pasti bisa membuatmu bahagia selamanya.”

Tanpa sadar aku tersenyum. Wajah Minho mulai terlintas di pikiranku. Senyumannya, belaian tangannya yang lembut. Kesabarannya setiap kali menghadapi sikapku yang menjengkelkan. Semua itu membuatku berangsur membaik.

“Kau benar,” kataku. “Hanya dia satu-satunya yang bisa membuatku ceria. Dia adalah seseorang yang sangat berharga bagiku.”

“Baguslah kalau kau sudah mengerti. Sepertinya kau sudah merasa lebih baik sekarang.”

Eoh..” anggukku. “Gomawo sudah membantuku merasa lebih baik. Keunde Oppa.. Kau juga seseorang yang berharga untukku.”

“Aku tahu.”

Aku tersenyum mendengarnya, lalu membalikkan badanku sehingga aku bisa melihatnya yang masih berdiri di ambang pintu.

“Tapi bisakah kau menceritakan padaku mengenai yeoja yang menulis cerita yang aku baca tadi?” tanyaku kemudian. Entah kenapa aku mendadak teringat kembali dengan tulisan tadi, dan aku masih penasaran dengan itu.

“Kenapa kau begitu tertarik dengannya?”

“Aku tidak tahu. Aku merasa kalau dia adalah seseorang yang sangat berharga bagimu. Benar begitu?”

Kulihat Oppa hanya tersenyum kecil. “Kau benar. Dia memang orang yang berharga untukku.”

“Siapa dia? Apa dia teman kerjamu? Keunde selama ini aku tidak pernah melihat kau pergi bersama teman yeoja mu?”

“Kau akan tahu nanti. Baiklah, sudah larut malam. Lanjutkan tidurmu atau besok kau akan terlambat datang ke kantor.” Katanya.

“T-tunggu dulu, Oppa—” panggilku, tapi namja itu telah berjalan keluar dan menghilang dari pandanganku.

Aku menggerutu karenanya. Kenapa dia pelit sekali? Padahal aku ingin tahu seperti apa yeoja yang sudah berhasil menarik perhatian namja dingin itu.

“Jiyeon-a, gwaenchanha? Kenapa kau berteriak lagi?”

Aku sedikit terkejut mendengarnya dan tahu-tahu Eomma sudah kembali dengan membawa segelas air.

“Anniyo, Eomma. Aku hanya sedikit jengkel dengan Oppa. Dia tidak pernah mau terbuka padaku. Padahal aku tahu dia sedang menyembunyikan sesuatu.”

Eomma tersenyum menanggapi ucapanku. “Mungkin Oppamu sedang tidak ingin membuatmu turut repot memikirkan masalahnya. Baiklah, minum ini lalu kembalilah tidur. Ini sudah sangat larut.”

Aku hanya mengangguk dan menuruti perkataan Eomma.

“Selamat pagi, Eomma. Selamat pagi, Appa..” seruku pagi itu setibanya di ruang makan.

“Selamat pagi, sayang.” sambut Eomma sambil tersenyum.

Aku pun segera mengambil tempat duduk di sebelah Eomma.

“Wah, sepertinya pagi ini kau sangat bertenaga. Apa semalam tidurmu nyenyak?” tanya Appa.

Aku menggaruk belakang leherku sejenak, “Sebenarnya aku mimpi buruk lagi. Tapi sudahlah, yang penting sekarang aku sudah tidak apa-apa.”

Appa hanya mengulum senyum dan mulai meneguk air minumnya.

Aku menoleh ke tempat duduk di sebelah kananku. Kosong.

“Apa Oppa tidak ikut makan pagi lagi? Aish! Namja itu selalu saja terburu-buru. Sama sekali tidak pernah mau menghabiskan waktu makan bersama keluarga. Ck. Kalau saja aku bangun tidur lebih awal darinya.”

Begitulah, Oppa memang jarang, bahkan terhitung tidak pernah makan bersama kami. Dia selalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai Fotografer. Padahal selama ini aku belum pernah melihat seorang Fotografer sesibuk dirinya. Apa jangan-jangan diam-diam dia memiliki pekerjaan sampingan selain Fotografer? Hmm.. Mungkin sebaiknya aku menyelidikinya lain kali.

“Apa Minho akan menjemputmu pagi ini?” tanya Appa di tengah-tengah makan pagi kami.

“Tentu saja. Hari ini kami akan memilih gaun pengantin yang bagus. Aigoo aku sudah tidak sabar menunggunya.”

Ohmo! Rupanya kau sudah benar-benar dewasa ya. Apa kau sudah tidak sabar ingin memiliki calon suamimu itu, eoh?”

“Aish! Appa!!” sergahku dengan memasang wajah pura-pura kesal.

Appa hanya tertawa melihat ekspresiku. Eomma pun turut tersenyum geli karenanya.

Anni.. Kau benar-benar masih belum dewasa.” lanjut Appa masih dengan tawanya.

Aish! Appa memang terkadang sama menyebalkannya dengan Oppa. Ah, andai saja Oppa ikut tertawa bersama kami saat ini. Baiklah, sudah kuputuskan besok pagi aku pasti bisa menahannya untuk ikut makan pagi bersama.

Gwaenchanha?”

Aku menoleh pada Minho yang tengah menyetir di sampingku. Aku tersenyum.

Gwaenchanha. Aku hanya sedikit lelah. Pekerjaan di kantor hari ini lumayan banyak. Dan juga sewaktu di boutique tadi aku terlalu bersemangat sampai-sampai tidak sadar kalau aku sudah menguras tenagaku.”

“Kau harus lebih banyak beristirahat. Wajahmu terlihat pucat.”

Ah, benarkah? Tapi aku tetap cantik, kan?”

Minho hanya tertawa kecil mendengarnya, tanpa menjawab.

Yaa, kenapa kau hanya tertawa? Sudahlah, jujur saja. Sebenarnya kau juga mengakuinya kan?”

“Aku haus. Kita mampir di kedai ice cream dulu, ya.”

Sial! Dia mengabaikanku. Tapi aku tidak memprotes saat ia menepikan mobilnya di dekat kedai ice cream. Begitulah, ice cream memang salah satu kegemaranku.

“Satu porsi ukuran jumbo rasa vanilla.” ucapku antusias begitu seorang pelayan kedai tersebut mendatangi meja kami.

Yaa, yaa! Jangan terlalu berlebihan begitu. Yang sewajarnya saja.” Protes Minho.

Shireo. Aku sangat haus, jadi akan lebih baik kalau pesan yang besar sekaligus.”

“Kalau memang sangat haus, bukankah kau bisa memesan minuman dingin saja?”

Geogjeongma, Minho-ya. Aku tidak akan mati hanya karena satu porsi besar ice cream, eoh?”

Minho nyengir mendengarnya. Dan mau tak mau seperti biasa, ia hanya bisa pasrah padaku, haha.

“Tolong samakan saja pesanan kami.” katanya kemudian pada pelayan kedai.

Lalu begitu si pelayan pergi, Minho segera menggetok kepalaku. Aku meringis seraya memegangi kepalaku, menatap protes padanya. Tapi ia sudah mengalihkan pandangannya ke arah lain seolah tak terjadi apa-apa. Aku mendengus melihatnya. Tapi diam-diam kucermati wajahnya dari samping. Dia memang memiliki wajah yang tampan. Aku tersenyum karenanya. Namun entah kenapa mendadak ada sesuatu yang aneh merasuk ke dadaku. Aku tercengang. Tidak mungkin. Sesak ini..

 “Jiyeon-a..” panggil Minho tiba-tiba, tanpa menatapku.

N-ne?” sahutku.

“Apa kau benar-benar sudah siap dengan pernikahan ini?”

Aku sedikit mengernyitkan dahi, “Apa maksudmu?”

“Sebentar lagi kita akan menikah. Dan kau akan ikut tinggal bersamaku. Yang artinya meninggalkan keluargamu..”

Aku tertegun sejenak mendengarnya. Tak kusangka, aku baru menyadarinya sekarang. Minho benar. Setelah kami menikah, aku akan ikut tinggal bersamanya. Di rumahnya, yang akan menjadi rumahku juga. Dan secara tidak langsung, aku akan meninggalkan keluargaku. Eomma, Appa, dan juga Oppa..

“Apa kau sudah siap meninggalkan Eommamu? Appamu? Dan juga—”

Minho kembali menatapku, “—Oppamu?”

Aku masih tercekat, tak bisa segera menjawab pertanyaan Minho. Kepalaku tertunduk pelan. Memikirkan semuanya secara bergantian. Rasa sesak ini, aku tak boleh benar-benar mengalaminya. Aku tidak ingin mimpi burukku itu menjadi kenyataan. Aku tidak mau. Aku harus bisa menepis semua yang membuatku sesak dan penat. Dengan perlahan aku menarik napas dan mengangkat kepalaku.

“Aku— memilih untuk menikah denganmu, ikut bersamamu, bukan karena aku ingin meninggalkan  keluargaku. Justru sebaliknya, aku ingin menambah keluargaku dengan keluarga baru yang lain. Aku ingin semuanya bahagia. Biarpun aku tinggal denganmu dan meninggalkan keluargaku, bukan berarti aku tidak akan pernah bertemu mereka lagi, bukan? Aku masih bisa mengunjungi mereka kapanpun aku mau. Lagipula, Oppa pernah bilang padaku, bahwa Minho pasti bisa membahagiakanku selamanya. Dia yakin kalau kau takkan pernah membiarkanku merasa kesepian. Dan aku percaya padanya. Karena aku juga percaya kau akan melakukannya. Bukankah begitu, Minho-ya?”

Minho tak segera menjawab. Kedua matanya terus menatapku lekat, seolah ia tengah mencari sesuatu di sana. Namun sesaat kemudian ia tersenyum.

“Rupanya kau benar-benar sudah beranjak dewasa ya, Jiyeon-a..” katanya pula.

Yaa, jangan meledekku begitu—”

Oppamu itu— Kim Myungsoo, bisakah kau sampaikan ucapan terima kasihku padanya?”

Wae?”

“Karena dia sudah mempercayaiku untuk menjagamu.”

Aku mengangguk, “Tentu.”

“Kalau saja aku bisa bertemu dengannya..”

Ya, selama ini mereka berdua memang belum pernah bertemu sekali pun. Karena Oppa yang sangat jarang berada di rumah karena pekerjaan anehnya itu. Selama ini aku hanya bisa menunjukkan foto Oppa pada Minho, dan begitupun sebaliknya. Kurasa lain kali aku akan membuat rencana untuk mempertemukan mereka. Aku akan memamerkan bagaimana namja yang akan menjadi pasangan hidupku ini pada Oppa.

“Aku akan membuktikannya.” ucap Minho tiba-tiba.

Aku sedikit tersentak mendengarnya, “N-ne?” tanyaku.

“Akan kubuktikan kalau aku bisa membahagiakanmu. Selamanya..”

Aku tersenyum haru mendengarnya. Jarang sekali aku melihat Minho berkata seserius itu. Kalau saja pelayan kedai tidak datang membawa pesanan kami, tentu aku sudah meneteskan air mataku. Minho-ya, terima kasih sudah memilihku. Dan juga Oppa, terima kasih telah mendukung kami berdua.

Pukul 21:30 malam. Dan Oppa masih belum pulang. Padahal aku ingin curhat dengannya malam ini. Aku akan menceritakan semua yang terjadi seharian tadi padanya. Tapi aku sudah terlalu bosan menunggu. Apa dia pulang terlambat malam ini? Aku terus mendesah dan memain-mainkan ponselku. Ah benar juga. Aku baru teringat dengan sesuatu. Tulisan itu. Aku bisa menyelinap ke dalam kamar Oppa lagi untuk melanjutkan membaca tulisan itu. Mumpung Oppa belum pulang. Ah, semoga ia benar-benar pulang terlambat malam ini. Dengan penuh semangat, aku pun beranjak dari tempat tidurku dan berjalan perlahan menuju kamar Oppa. Dengan perlahan pula aku memegang knop pintu.

Cklek!

Mwoya? Tidak dikunci? Ceroboh sekali namja itu. Apa dia tidak akan mengira kalau aku akan menyelinap ke kamarnya lagi? Ah sudahlah, ini malah lebih bagus, jadi aku tidak perlu susah-susah meminta kunci cadangan pada Eomma. Bisa-bisa nanti aku malah dihujani berbagai pertanyaan menyelidik dari Eomma.

Begitu sampai di dalam, aku kembali menutup pintu dan menyalakan lampu. Kamarnya terlihat rapi. Dan selalu rapi. Tentu saja bukan karena dia yang rajin. Tapi karena setiap pagi Eomma selalu membersihkan kamarnya. Hmm aku jadi punya keinginan ingin membersihkan kamarnya juga lain kali.

Kedua mataku segera tertuju pada komputer yang sudah agak tua yang berada di meja miliknya. Bagus. Inilah kesempatanku untuk melanjutkan menyelidiki yeoja itu. Butuh beberapa menit untuk menyalakan komputernya hingga akhirnya muncul desktop windows di layarnya. Dan aku pun segera memulai penjelajahanku di semua folder filenya. Tapi masalahnya, aku bahkan tidak tahu file itu disimpan di mana dan dengan nama apa. Aku sempat putus asa tapi aku terus saja searching dengan penuh kesabaran. Lalu jariku terhenti sejenak ketika menemukan folder bernama 2012. Aku mengerutkan kening. Di dalam benakku sudah muncul satu pikiran. Apa itu film kiamat yang berjudul 2012 itu? Namun pertanyaanku segera terjawab ketika membukanya. Ternyata bukan. Di dalam sana hanya ada beberapa file berformat jpeg dan juga document. Mataku langsung berbinar-binar. Tanpa ragu-ragu aku segera mengklik file document mulai dari atas. Satu persatu, dan ternyata itu semua tulisan yang ditulis sudah lama sekali, tahun 2012. Dan itu sekitar 4 tahun yang lalu. Aku mendesah kecewa, karena tak ada satupun dari mereka merupakan tulisan yang kubaca kemarin. Karena semua isinya tentang fotografi dan sejenisnya. Bahkan file gambar yang di sana pun hanya foto-foto yang diambil dari alam sekitar.

Lagi-lagi aku mendesah, hampir putus asa. Namun tiba-tiba aku tersentak. Bukankah file di komputer bisa disembunyikan? Siapa tahu Oppa telah mengaturnya sebagai hidden files? Haha gotcha, Oppa. Kau pikir aku bisa ditipu? Tanpa basa-basi lagi aku pun segera mengatur semua file yang semula don’t show hidden files menjadi show hidden files. Dan selanjutnya klik ok. Aku menunggu proses dengan harap-harap cemas. Hingga akhirnya beberapa file document yang semula tak terlihat, kini benar-benar menjadi terlihat. Aku terlonjak karenanya. Kuharap tulisan itu ada di salah satu document ini. Aku benar-benar penasaran dengan kelanjutan tulisan itu, juga tentang si penulis. Aku memulai membuka file pertama dengan was-was. Sedetik kemudian, kedua mataku langsung berbinar. Ini.. Ini adalah tulisan yang kemarin kubaca. Aigoo, aku telah menemukannya! Dengan semangat tertahan sekaligus berdebar-debar aku kembali men-scroll kursor sampai ke bagian terakhir aku membacanya kemarin.

. . . . Tak ada yang menyapaku setiap paginya. Tak ada yang menemaniku makan siang di kantin. Kembali seperti saat aku yang dulu sebelum bertemu dengannya. Aku yang sepi muram dan tak suka bicara seperti biasanya. Aku merasa hampa tanpanya. Benar-benar hampa.

Tanpa kusadari, aku telah melewati 4 bulan hari-hariku tanpa dirinya. Aku masih kecewa, meski aku mulai bisa menerima kepergiannya. Dan kurasa aku sudah bisa menjalani kehidupanku secara normal, walaupun tak seceria saat aku bersamanya. Aku mulai membiasakan diri bergaul dengan orang lain. Meskipun awalnya sulit, namun aku tetap berusaha untuk berlaku senormal mungkin. Hingga akhirnya aku berhasil memiliki dua orang teman lagi. Mereka sangat baik, hangat, dan ramah seperti dirinya. Aku merasa bersyukur karena kehadirannya yang singkat dalam hidupku telah merubahku sampai seperti saat ini. Aku mulai berteman dengan yang lainnya dan itu semua berkat dia. Dialah yang merubahku menjadi seperti sekarang. Dan pada akhirnya, aku pun mulai merindukannya.

Aku sangat merindukannya hingga aku tak bisa tenang selama berhari-hari. Aku pun mulai berusaha keras untuk mencari keberadaannya. Aku ingin bertemu dengannya sekali lagi. Anni, bahkan jika dia menolak untuk bertemu denganku, setidaknya aku ingin berterima kasih padanya. Walaupun hanya selama beberapa detik, aku ingin mengucapkan terima kasih padanya. Karena dia yang telah membuatku tak merasa kesepian lagi. Dia telah merubahku hingga aku tidak merasa sendiri lagi. Aku hanya ingin berterima kasih. Itu saja.

Hingga akhirnya hari itu pun tiba. Setelah melewati berbagai macam kejadian, akhirnya aku berhasil menemukan keberadaannya. Namun aku benar-benar tidak bisa menjelaskan perasaanku saat itu juga. Apakah aku senang karena telah berhasil menemukannya? Atau justru sebaliknya? Aku hanya bisa merasakan napasku yang mendadak sesak. Dan selanjutnya aku sadar kalau aku sama sekali tidak merasa senang. Aku telah menemukannya tapi aku bahkan tetap tak bisa mengucapkan rasa terima kasihku padanya. Air mata yang semula tak pernah mau keluar selama ini, mendadak berhamburan seakan berlomba satu sama lain. Aku menangis. Menangis seorang diri. Sendirian. Di atas batu nisannya..  

Bam!

Seperti yang terjadi kemarin, layar komputer mendadak padam. Aku tercengang, apa Oppa sudah pulang? Apa dia lagi yang mencabut colokannya? Tapi entah kenapa aku merasa kepalaku menjadi berat, dan dadaku mendadak sesak. Apa aku sedang bermimpi lagi? Tidak. Aku yakin aku masih terjaga. Ini bukan mimpi. Tapi kenapa? Kenapa aku merasa ini seperti mimpiku? Dan lagi, aku tak bisa melihat apapun di sekelilingku, kecuali gelap.

Entah sudah berapa lama aku tertidur, akhirnya aku membuka kedua mataku dan yang terlihat pertama kali olehku adalah wajah Eomma, seperti biasa.

“Jiyeon-a, kau sudah bangun? Gwaenchanha?”

Aku hanya mengangguk kecil. Aneh, aku merasa baru saja terjatuh. Kepalaku nyeri. Juga seluruh tubuhku.

“Apa yang terjadi, Eomma? Apa aku bermimpi lagi?” tanyaku.

“Tidak, sayang. Semalam kau tertidur di kursi dan terjatuh dari kursi. Apa kau tidak ingat?”

Aku tak segera menjawab. Ah, benar juga. Bukankah semalam aku berada di kamar Oppa? Mwoya? Jadi aku ketiduran di sana dan jatuh dari kursi? Aigoo..

Eomma, di mana Oppa?” tanyaku lagi.

Eomma tak segera menjawab. Aish, pasti namja itu sudah berangkat kerja sepagi ini.

“Tidak bisa dimaafkan. Bisa-bisanya dia tetap berangkat kerja padahal adiknya sedang sakit begini.” Gerutuku sambil beranjak. Namun sayang kepalaku terlalu sakit untuk digerakkan.

Argh.. Kenapa nyeri sekali? Apa jatuhku sangat parah?”

“Sebaiknya kau beristirahat saja dulu. Sebentar lagi Appa datang bersama dokter. Eomma juga sudah menghubungi Minho.”

Mwo? Minho akan datang kemari? Aigoo, kenapa Eomma memberitahunya? Pasti memalukan sekali kalau dia tahu aku langsung K.O gara-gara jatuh dari kursi.”

“Apanya yang memalukan?”

Aku terkejut mendengarnya. Tahu-tahu Minho sudah muncul dari ambang pintu. Astaga..

Namja itu membungkuk menyapa Eomma dan langsung menghampiriku.

“Apa kepalamu sakit?” tanyanya padaku.

Aku hanya mengangguk.

“Bagaimana kau bisa sampai terjatuh begitu? Sebenarnya apa saja yang sudah kau lakukan? Bukankah sudah kubilang, kau perlu banyak beristirahat.”

Aish, kenapa kau jadi memarahiku? Aku sudah sakit begini bukannya diberi perhatian, tapi malah dimarahi. Yang kubutuhkan sekarang ini bukan omelanmu, tapi—”

Greb!

Aku terkejut saat tiba-tiba Minho memelukku dan seketika membuatku tertegun karenanya.

“Aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Kau tahu kalau kau sampai terluka sedikit saja, itu akan membuatku menyesal. Karena itu berarti aku tidak bisa menjagamu seperti yang kukatakan. Jadi berjanjilah padaku untuk tidak berbuat hal-hal konyol selagi aku tak ada di dekatmu.”

Aku kembali tertegun mendengarnya. Minho-ya.. Aku bahkan tak bisa membalas ucapannya. Aku— aku terlalu bahagia mendengarnya.

“Jiyeon-a..”

“Lepaskan. Kau membuatku sulit bernapas, bodoh!” ucapku pura-pura marah.

Minho pun melepaskan pelukannya, tapi seketika ia memasang ekspresi terkejut begitu melihatku.

“Jiyeon-a, kau— menangis?” katanya.

“Sudah kubilang, aku tak bisa bernapas dan karena pelukanmu itu terlalu kuat sampai-sampai membuat badanku sakit dan hampir remuk karenanya. Tentu saja aku menangis.”

Bodoh. Bahkan akulah sebenarnya yang bodoh. Kulihat Minho tersenyum, lalu mengusap air mataku lembut, setelah itu menggetok kepalaku, tepat di bagian yang sakit.

AARRGHH!! APPOOOO!!! CHOI MINHOO KAU BENAR-BENAR BODOOHH!!”

Sial. Apa dia sengaja?

Seharian ini aku terus terbaring di tempat tidur. Mungkin Minho benar, aku butuh banyak istirahat. Tadi dokter juga mengatakan padaku kalau aku terlalu banyak beraktifitas dan kurang beristirahat. Jadilah sekarang aku terbaring di tempat tidur. Sebenarnya Minho ingin menemaniku dan ijin tidak masuk kerja, tapi aku melarangnya. Lagipula entah kenapa aku merasa kalau Oppa lah yang seharusnya mengurusku saat ini. Tapi namja itu malah berangkat kerja bahkan tanpa menungguku siuman dulu.

Perlahan aku memijit kepalaku yang sudah diperban. Aku heran, memang separah ini jatuhku semalam? Padahal hanya jatuh dari kursi. Ah, benar-benar aneh. Tapi sejurus kemudian aku malah kembali teringat dengan apa yang kuperbuat semalam. Tentang tulisan itu. Entah kenapa dadaku ikut terasa sesak ketika mengingat cerita yang ditulis oleh yeoja itu. Seakan aku sendiri yang mengalami kejadian itu. Benar-benar aku tidak menyangka kalau kisahnya bersama namja yang diceritakannya akan berakhir sepilu itu. Semakin kupikirkan, kepalaku terasa semakin nyeri. Aku mengerang pelan, tak ingin Eomma mendengar eranganku. Aku pun kembali memejamkan mata, berusaha untuk tidur.

“Sudah merasa baikan?”

Aku tersentak mendengarnya dan kembali membuka kedua mataku. Tampak olehku seorang namja yang sangat kukenal tengah berdiri di ambang pintu kamarku.

Oppa?” sahutku senang bercampur kesal. “Yaa, aku mencari Oppa sejak tadi pagi. Kenapa Oppa malah pergi bekerja di saat aku sedang terbaring sakit, eoh?”

Yaa, jangan terlalu bersemangat begitu. Nanti kepalamu bisa sakit lagi. Lagipula bukankah sekarang aku sudah di sini? Seharusnya kau senang, bukan?”

Aku mendengus, tapi kurasa dia benar. Aku senang sekali saat melihatnya. Oh tidak, kalau saja dia bukan Oppaku, mungkin ia sangat pantas bersaing dengan Minho di hatiku. Aish, apa yang sedang kupikirkan.

Aku melihat Oppa menyeret kursi lalu duduk di dekat tempat tidurku.

“Apa yang sudah kau kerjakan semalam di kamarku, eoh? Apa kau mengintip isi komputerku lagi?” tanyanya dengan nada penuh selidik.

Aku termangu sejenak, lalu menatap manik bola mata Oppa yang selalu menyejukkan hatiku.

Mian, aku sudah lancang membacanya, Oppa. Kau pasti marah padaku sekarang.” ucapku, lalu menunduk, berharap Oppa mengelus kepalaku dan memaafkanku.

Anni, justru aku lega kau sudah membacanya.”

Aku kembali mendongak. Rupanya ia tidak marah.

Wae? Kenapa kau lega?” tanyaku pula.

“Bukankah itu artinya sekarang kau sudah tidak penasaran lagi, eoh? Dengan begini kau tidak akan mengendap-endap masuk ke kamarku lagi, kan?”

Tch. Ternyata itu maksudnya.

“Tapi aku masih penasaran dengan yeoja itu. Dan juga namja yang ia maksud. Apa mereka teman-temanmu, Oppa?”

Eoh..” Oppa mengangguk.

Aku terdiam. Yeoja itu pasti merasa sangat sedih karena namja itu sudah tak ada di dunia lagi. Aku bisa mengerti perasaannya meskipun hanya tahu melalui tulisannya.

Puk!

Aku sedikit tersentak ketika tangan Oppa menyentuh kepalaku. Kulihat ia tersenyum padaku.

“Jangan terlalu dipikirkan.” ucapnya.

Aku hanya mampu mengangguk. Sebenarnya aku masih memiliki beberapa pertanyaan lagi. Tentang bagaimana bisa Oppa memiliki tulisan itu. Apa yeoja itu memberikannya padanya? Tapi untuk apa? Dan juga di mana yeoja itu sekarang? Apa dia baik-baik saja? Tapi belaian tangan Oppa seperti sebuah mantra sihir untukku. Aku mendadak merasa mengantuk hingga menguap beberapa kali.

“Oppa, jangan kemana-mana. Tetaplah disini menemaniku sampai aku bangun lagi..”

Aku mengatakan itu dengan setengah tersadar, karena aku sendiri bahkan hampir tak bisa mendengarnya. Meski begitu aku masih bisa merasakan belaian tangan Oppa.

Seminggu berlalu semenjak kejadian itu. Aku pun sudah merasa jauh lebih baik, meskipun terkadang kepalaku mendadak sakit tanpa sebab. Aku baru saja membuat makanan untuk malam ini. Eomma sedang menemani Appa menemui klien dan masih belum pulang sejak tadi pagi. Jadi aku berencana membuatkan makan malam untuk mereka. Dan juga seperti biasa, Oppa pun masih belum pulang. Jadi sepertinya aku akan sendirian sampai mereka pulang. Aku bisa saja meminta Minho datang menemaniku, tapi kurasa itu tidak mungkin, karena jika ia ada di sini dan hanya berdua denganku saat ini, bisa saja kami melakukan hal-hal yang diinginkan, hahaha baiklah, aku hanya bercanda. Minho bukan tipe namja seperti itu, dan aku pun bukan tipe yeoja seperti itu, astaga apa yang sebenarnya sedang kukatakan. Aku memang sengaja tidak meminta Minho datang karena aku tahu dia pasti kelelahan dan sedang beristirahat sekarang.

Kulirik jam tangan yang melingkar manis asam asin di pergelangan tangan kiriku. Pukul 18:22. Aku menguap sejenak. Ternyata rasanya membosankan kalau sendirian begini. Berkali-kali kuganti channel televisi yang saat ini sedang kucermati. Semua acaranya membosankan bagiku. Aku beralih pada smartphone milikku dan memencet sana-sini, membalas chat dari teman-temanku. hanya berlangsung beberapa menit hingga aku kembali menguap cukup lebar.

“Kalau mengantuk kenapa tidak tidur saja?”

Aku terperanjat mendengarnya dan seketika menoleh. Rupanya Oppa sudah berdiri di belakangku dengan Digital Single Lens Reflex Camera yang masih menggantung di lehernya.

“Mwoya? Sejak kapan kau datang? Bagaimana bisa aku tak mendengarmu masuk?”

Oppa hanya tersenyum tipis dan meletakkan kameranya di atas meja. Setelah itu ia turut duduk di sebelahku, menyandarkan punggung dan kepalanya sambil memjamkan kedua matanya. Aigoo, namja ini tampak kelelahan.

“Ingin kuambilkan minum?” tawarku.

“Anni.. Aku tidak haus.”

“Kalau begitu kita makan saja. Kau pasti lapar, kan?”

“Aku sudah makan malam tadi di luar.”

Aku sedikit kecewa mendengarnya. Padahal aku berharap Oppa akan mencicipi masakanku.

“Geurae, kau lelah kan? Kalau begitu biar kupijit.” kataku kemudian.

Anni.. Geunyang— tetaplah di sampingku, Jiyeon-a..”

M-mwo?”

“Aku ingin kau tetap berada di sini, di sampingku.”

Aku masih tertegun mendengarnya. Kenapa? Kenapa Oppa berkata seperti itu?

Wae? Shireo?” tanya Oppa kemudian.

G-geuge— sebentar lagi aku menikah, dan— dan aku harus ikut dengan suamiku. Geuraesseo.. Aku— aku tidak mungkin tetap berada di sampingmu, Oppa..”

Oppa menatapku sejenak. Aku pun balas menatapnya, entahlah. Aku tidak tahu apakah ucapanku barusan melukai perasaannya. Tapi bukankah aku mengatakan hal yang seharusnya kukatakan? Aku memang tidak sepenuhnya meninggalkan Oppa dan keluargaku. Tapi aku juga memang harus ikut bersama suamiku, bersama Minho.

“K-keunde Oppa, kau tidak perlu khawatir. Aku pasti akan sering datang untuk menemuimu. Jadi kau tidak akan kesepian lagi. Lagipula, bukankah selama ini kau memang jarang bersamaku, eoh? Seharusnya itu tidak terlalu jadi masalah untukmu, bukan?”

Aku masih menatap Oppa, berharap ia mau memahami keadaanku. Kulihat kedua bibirnya bergerak sedikit dan keluar sebuah ucapan dari sana.

“Pabo.”

M-mwo?” tentu saja aku heran sekaligus kesal mendengarnya.

“Yang kumaksudkan bukan itu. Aku sedang membicarakan saat ini, detik ini. Aku ingin kau tetap di sini, di sampingku. Jadi kalau aku butuh apa-apa, aku bisa langsung menyuruhmu, begitu. Dasar pabo.”

Aku melongo mendengarnya. Antara marah, kesal, dan malu yang bercampur menjadi satu. Lidahku bahkan terasa sulit untuk digerakkan. Padahal aku ingin sekali memaki-makinya, memukul atau kalau perlu menendangnya sampai membuatnya terbang menjebol atap rumah lalu meluncur tinggi ke langit. Tapi entahlah aku bahkan tak bisa bergerak, mungkin karena Oppa terlalu bagus untuk diperlakukan seperti itu.

“Kkaja.” ucapnya sambil berdiri.

Eoh? Eoddi?”

“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan keluar.”

“Sekarang? Keunde ini sudah malam? Bagaimana kalau nanti Eomma dan Appa pulang lalu mencari kita?”

“Kenapa kau memusingkan soal itu? Bukankah kau bisa meninggalkan pesan? Aish, kau ini memang benar-benar bodoh ya.”

Aku kembali merengut mendengarnya. Belum sempat aku membalas ucapannya, Oppa sudah berjalan mendahuluiku, tapi aku tahu namja itu sedang berusaha menahan tawanya. Sial.

“Yaa, kita mau kemana?” tanyaku sambil merapatkan mantel milikku. Dingin, tentu saja. Kulihat Oppa yang berjalan di sampingku tampak biasa saja. Apa dia sudah kebal dengan hawa dingin seperti ini?

“Namanya jalan-jalan ya jalan saja.” sahutnya enteng.

“Aish! Kau hanya membuang-buang waktu, Oppa. Bukankah lebih baik kalau kita tidur di rumah? Lagipula besok kau kerja lagi, bukan? Dan juga bagaimana kita pulang nanti? Apa kita harus jalan lagi? Ini sudah lumayan jauh dari rumah. Sangat jauh malah.”

“Aku hanya ingin menghabiskan saat-saat terakhir bersamamu. Bukankah sebentar lagi kau menikah dan akan ikut dengan suamimu?”

Aku terdiam sejenak mendengarnya. Kurasa dia benar.

“Arrasseo.. Tapi perutku lapar. Aish, padahal tadi aku berencana kita makan malam bersama seperti keluarga pada umumnya.”

“Cerewet. Nanti kau bisa minta makanan pada pemilik kedai di depan sana.”

“Mwo? Yaa, kau tega sekali padaku. Apa kau tidak menyayangiku, eoh?”

Oppa hanya tertawa kecil melihatku yang terus uring-uringan. Tapi kemarahanku mendadak mereda begitu kurasakan tangan Oppa menggenggam sebelah tanganku.

“Mian. Apa kau benar-benar lapar?” tanyanya sambil menoleh padaku.

Aku hanya mengangguk kecil, berusaha meredam gejolak aneh yang kurasakan dalam hatiku. Mwoya? Bukankah Myungsoo Oppa adalah Oppaku sendiri? Kenapa aku bisa segugup ini? Apa mungkin ini karena efek dari rasa lapar dan dingin yang saat ini menyerangku?

“Kita akan makan sebentar di kedai depan sana.”

Lagi-lagi aku hanya mengangguk mengiyakan. Rasanya aku ingin seperti ini selamanya. Bersama Myungsoo Oppa yang menggenggam tanganku. Begitu hangat dan damai.

Aku tak juga menyentuh makanan yang sudah tersedia di hadapanku, melainkan hanya menatap tajam Oppa yang duduk di depanku.

“Wae? Bukankah tadi kau bilang lapar? Kenapa sekarang kau bahkan tak menyentuh makananmu?” tanya Oppa.

“Yaa, bagaimana aku bisa makan kalau kau saja tidak ikut makan dan hanya menontonku makan begitu, eoh?” protesku.

“Bukankah sudah kukatakan kalau aku sudah makan tadi? Mana mungkin aku bisa makan lagi di saat perutku sudah kenyang? Sudahlah, abaikan saja aku dan mulailah makan. Setelah itu kita lanjutkan jalan-jalan lagi, eoh?”

Aku hanya mampu merengut seperti biasa dan akhirnya menuruti perkataannya. Sesekali kulirik para pengunjung lain yang terkadang berbisik-bisik sambil melihat ke arah kami berdua. Crap! Kenapa dengan mereka? Apa mereka begitu iri melihat kami berdua? Asal kalian tahu saja kami ini bersaudara. Dasar pabo. Sudahlah abaikan saja orang-orang itu dan mulailah berkonsentrasi pada makananmu, Jiyeon-a. Yah, walaupun tidak sepenuhnya bisa fokus karena Oppa yang terus saja menontonku makan. Astaga aku bahkan belum bermimpi apa-apa malam ini.

Aku masih menggerutu begitu kami sudah pergi agak jauh dari kedai yang kami datangi tadi. Bahkan hingga aku membayar makananku pada pemilik kedai, orang-orang itu masih saja berbisik-bisik sambil melihat ke arah kami.

“Aku benar-benar tidak mengerti apa masalah mereka. Apa mereka tidak pernah melihat yeoja secantik dan semanis diriku, eoh? Tch.. Membuat kesal saja.”

“Sudahlah, jangan memusingkan sesuatu yang tidak penting. Seharusnya kau bersyukur karena berkat kedai tadi saat ini perutmu tertolong dari rasa lapar.” lagi-lagi perkataan Oppa membuatku kalah telak.

“Arrasseo..”

Kulihat Oppa tersenyum dan menepuk kepalaku pelan.

“Lalu, kemana kita sekarang?” tanyaku kemudian.

“Jalan saja. Siapa tahu nanti kita bertemu dengan Minho di jalan.”

“Minho?” aku mengerutkan kening sejenak. Ah benar juga. Sekitar setengah jam lagi kami akan sampai di daerah sekitar kediaman Minho, yang sebentar lagi akan menjadi tempat tinggalku juga. Tapi tunggu dulu. Bagaimana Oppa bisa tahu tempat tinggal Minho? Apa aku pernah memberitahunya? Ah, ya mungkin saja aku memang pernah memberitahunya. Tapi ini bisa jadi hal yang bagus. Aku akan mempertemukan mereka berdua nanti. Semoga Minho masih belum tidur saat ini.

“Sedang apa kau?” tanya Oppa curiga begitu melihatku mulai memencet-mencet ponselku.

“Kau tidak sedang memberitahu Minho kalau kita berdua sedang perjalanan menuju ke rumahnya, kan?” ulangnya lagi, yang segera kusambut dengan cengiran bengal.

Geogjeongma, Oppa. Minho itu namja yang baik. Sangat sangat baik hati, jadi ia tidak mungkin marah karena Oppa sudah membuatku berjalan kaki sejauh ini hanya untuk pergi ke rumahnya.” ucapku.

Kulihat Oppa hanya tersenyum simpul, seolah meragukan ucapanku. Tentu saja aku tersinggung karenanya.

“Kau tidak percaya padaku? Dia bahkan menyuruhku menyampaikan rasa terima kasihnya padamu karena kau sudah mempercayainya untuk menjagaku. Oppa, Minho itu benar-benar seorang namja yang baik. Gwaenchanha, sebentar lagi kau akan tahu seperti apa orang yang akan menjadi dongsaeng iparmu itu.”

Na arra.” sahut Oppa cepat.

“Eoh, tapi melihatnya melalui foto saja itu tidak cukup. Kau harus bertemu secara langsung dengannya nanti.”

“Kau terlihat bahagia sekali semenjak kita membicarakan Minho.”

Wajahku seketika memerah karenanya. Apa benar sebegitu terlihat jelasnya perubahan sikapku?

M-mwoya? Aku biasa saja.” elakku.

“Gotjimal!”

Y-yaa! Bukankah sudah wajar kalau aku bahagia saat membicarakan calon pasangan hidupku? Aish, kau membuatku merasa tidak nyaman saja.”

“Syukurlah.”

“Mwo?”

“Aku ikut senang melihatmu bahagia begitu.”

Lagi-lagi aku merasa kedua pipiku memanas. Wae? Oppa kenapa kau selalu mengatakan hal-hal yang membuatku merasa aneh begini?

“Teruslah seperti ini, Jiyeon-a.”

Aku menoleh heran pada Oppa. “Waeyo?”

“Teruslah menjadi yeoja periang seperti saat ini.”

“Mwoya? Bukankah dari dulu aku memang sudah periang, eoh? Kau saja yang aneh. Terlalu dingin..”

“Jinjja? Aku dingin katamu?”

“Geureom. Aku bahkan belum pernah melihatmu menggandeng seorang yeoja. Yaa, apa jangan-jangan kau ini memang seorang gay, eoh?”

“Enak saja! Aku namja normal. Aku juga menyukai seorang yeoja.”

Mwo? Jinjja? Nugu? Nugu? Apa yeoja yang menulis cerita itu?”

Oppa hanya menatapku seolah aku ini aneh, yah begitulah aku mengartikan tatapannya saat itu.

W-wae? Jangan coba-coba mengataiku orang yang aneh.” kataku dengan nada mengancam.

“Anni. Kau benar. Aku memang menyukainya. Benar-benar menyukainya.” sahutnya kemudian, dan kembali menghadap ke depan.

Aku tak segera menjawab. Rupanya dugaanku benar. Oppa menyukai yeoja itu. Yah, aku juga akan ikut senang melihatmu bahagia, Oppa.

Diam-diam kulirik sebelah tangan Oppa yang kini berada di dalam saku celananya. Aku berharap ia menggandengku seperti beberapa saat yang lalu. Tapi aku tak berani memintanya. Wae? Bukankah hal wajar seorang dongsaeng meminta digandeng oleh Oppanya? Lalu apa yang sebenarnya kutakutkan?

“Keunde— bukankah yeoja itu menyukai namja itu? Geuge— maksudku, biarpun namja itu sudah meninggal, apa yeoja itu sudah bisa melupakannya begitu saja?” aku mencoba kembali berbicara.

Molla. Keunde, sekalipun ia masih belum bisa melupakannya, aku akan membuatnya berhenti mengingatnya dan memulai dengan kehidupan yang baru. Seorang manusia harus hidup untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Bukan untuk masa lalu. Lagipula, itu sudah berlalu 4 tahun silam.”

Aku tertegun sejenak mendengarnya. Oppa terdengar serius dengan ucapannya. Namun kuakui ia memang benar. Sudah seharusnya yeoja itu mulai membuka lembaran hidup baru dan meninggalkan masa lalunya. Entah kenapa hatiku mendadak gundah. Ternyata Oppa benar-benar menyukai yeoja itu. Ah, benar juga. Mungkin perasaan Oppa terhadap yeoja itu hampir sama persis dengan perasaanku terhadap Minho. Kurasa aku cukup mengerti.

Cukup terasa, atau lebih tepatnya sangat terasa, kami berdua sudah hampir mendekati daerah sekitar tempat tinggal keluarga Choi. Mungkin sekitar 100 meter lagi. Dan aku sudah tidak sabar untuk mempertemukan kedua namja ini. Akhirnya, salah satu keinginan kecilku akan segera terwujud. Pasti mereka berdua akan menjadi sangat akrab setelah bertemu. Astaga, aku benar-benar menyayangi mereka berdua.

Oppa, kkaja! Sebentar lagi kita sampai di rumah Minho. Kkaja, kkaja!” aku meraih tangan Oppa dan mengajaknya mempercepat langkah agar segera sampai.

“Jiyeon-a, jamkkanman!”

Aku pun berhenti melangkah ketika Oppa menahanku.

“Wae? Apa ada sesuatu?” tanyaku heran.

Oppa tak segera menjawab, melainkan hanya menatapku sedemikian rupa, membuatku semakin tidak sabar karenanya.

“Oppa, wae? Kenapa kau menahanku di sini?” ulangku.

“Jiyeon-a, kau— tidak mengingat tempat ini?”

“Mwo?”

Lagi-lagi Oppa tak segera menjawab. Aku pun mulai melihat sekelilingku. Hanya sebuah persimpangan jalan raya dengan beberapa kendaraan yang melintas dan juga beberapa lampu yang menghias sepanjang jalan. Sekilas memang tidak ada yang aneh dengan pemandangan ini. Tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang lain yang sepertinya kulupakan.

“Apa— aku pernah kemari sebelumnya?” tanyaku seolah pada diriku sendiri. Bodoh, tentu saja aku pernah kemari, bukankah aku memang sering melewatinya karena ini jalan menuju rumah Minho? Lalu kenapa Oppa menanyakannya? Dan kenapa aku mendadak merasa aneh? Apa ada yang salah denganku? Tempat ini.. Jalan ini.. Suasana ini.. Memang tidak begitu asing bagiku. Dan semakin kupikirkan, kepalaku mendadak sakit dan nyeri. Persis seperti yang kurasakan akhir-akhir ini. Aku merasakan kedua tanganku digenggam oleh Oppa.

“Jiyeon-a, mianhae..”

Wae? Kenapa kau meminta maaf, Oppa? Aku ingin menanyakannya tapi kepalaku terlalu sakit dan pandanganku mulai kabur. Kurasa aku akan segera ambruk dalam hitungan detik.

“Op-Oppa..”

“Mianhae.. Aku sudah meninggalkanmu..”

Mwoya? Apa yang dikatakannya barusan? Meninggalkanku? Apa maksudnya?

“Saranghae.. Jiyeon-a..”

M-mwo? Apa baru saja Oppa mengatakan kalau ia mencintaiku? Cinta? Ah, benar juga. Tidak ada yang aneh saat seorang Oppa mengatakan cinta pada dongsaengnya. Tapi sejurus kemudian aku merasakan sesuatu yang dingin menyentuh bibirku. Oppa.. Apa dia menciumku? Myungsoo Oppa menciumku? Bukankah ini salah? Tidak seharusnya ia mencium bibirku. Tapi aku merasa kehangatan merasuk ke dalam jiwaku secara bersamaan. Bibirnya memang terasa dingin, tapi aku merasa seluruh perasaanku menghangat. Aku masih setengah sadar beberapa saat lamanya. Masih bisa kuingat dengan jelas bayangan Oppa meski kedua mataku kini terpejam. Beberapa bayangan lain pun mulai ikut menyelinap ke dalam pikiranku seiring dengan rasa sakit.

Sampai ketika pada akhirnya..

Aku mulai mengingat tempat ini..

Dan juga..

Namja ini..

Myungsoo Oppa..

Kim Myungsoo..

.

.

-End-

Sequel [Part 1]

Annyeong! Masih inget gak sama author beng-beng? Aigoo rasanya sudah kelamaan ya, serasa berabad-abad lamanya kita tidak bercingcong ria bersama. Dan ane rasa cuman sedikit reader di sini yang masih inget, ahahah mamvrus lu dilupain beng!

Ane tau pasti kalian kaga puas sama ff ini, ya taulah, endingnya aja gantung gitu. Gaje banget. Apaan itu, gimana bisa itu si Myung suka sama Jiyi? Apa sebenernya mereka bukan saudara kandung? Oke, biarpun kalian bertanya-tanya tapi beng yakin kalo kalian yang brilian ini udah pada meraba-raba gimana flashback mereka, gimana mereka bisa kayak gitu. Dan biar gitu pasti kalian ga puas terus minta kejelasan yang berarti minta sequel. Bener kan? Bisa dipikirkan sih nanti, tergantung dari kalian juga tentunya. Tenang, author Beng masih baik kayak dulu kok. Tapi kalo kalian udah puas sih lain cerita lagi, lebih bagus malah. Jadi author mantannya bang yoyo yang sampai sekarang masih sayang ini jadi ga perlu repot-repot mikirin ide buat sequel lagi, kyahaha

Oke segitu saja. Keep missing me, guys! Muahaha

 

 

84 responses to “[ONESHOT] Never be Alone

  1. Baru sempet bacaaaaa
    PAs awal udh ngeh pasti myungsoo itu udh ga ada
    Dr pas jiyeon mimpi buruk dan bilang ke eomma nya tp eomma nya cuma tersenyum
    Itu kode bgt tuh
    Tp ada kejadian apa sebelum nya yg bikin jiyeon jd seperti itu
    Jiyeon kecelakaan ya? Dan myungsoo nyelamatin tp malah myungsoo yg meninggal?? *nebak ajah kkkk

    Tau aja deh author klo ini gantung bgt dan reader butuh sequel
    Yowisss aku lanjut ke sequel yaaaaa

  2. Ciaaa authorr bengbeng is back. Udalama bangettt . Uda 1000 thun lamnya menghilang dan akhirnya kembali *blusshhh hohoho suka sekaliii mau baca next ff nyaaa …. Jjjjjaaaannnnngggg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s