[CHAPTER] 4 Worlds – 1A

poster-4-worldscupid.jpg

.

 

.

 

.

 

.

 

 

4 Worlds

by Cupid

Cast: Bae Suzy of Miss A

Park Jiyeon of T-Ara

Choi Minho of SHINee

Kim Myungsoo of Infinite

Other: Coming soon

Genre: Fantasy, AU, Universe

Length: Chaptered

Rating: General

Disclaimer:

Terinspirasi dari film Star Wars , The Hobbit, The Lord Of The Rings, dan film – film fantasy lainnya.

Sebagian cerita, merupakan hasil murni dari pemikiran Cupid.

Kalau jalan ceritanya hampir sama seperti punya kalian, Cupid minta maaf.

 Kalau tidak suka jangan baca.

 

 

.

.

.

 

 –Feliz Lectura–

 

Chapter 1A: First Time We Meet

 

Di tempat yang dingin ini, kita bertemu.

 

Hawa dingin kian menyelimuti, aku memeluk tubuhku sendiri. Angin makin lama makin kencang dan sinar matahari perlahan – lahan mulai lenyap. Tunggu, mungkin aku sedikit meralat kata – kataku.

 

Aku tak yakin itu sinar matahari atau bukan, aku tidak tahu aku sedang berada dimana. Entah di planet lain atau bukan, atau malah masih berada di bumi tetapi pada zaman yang berbeda.

 

Kulangkahkan kakiku ke depan, rasa takut seketika timbul dalam diriku pada saat aku menginjak es. Tepat pada saat itu, aku melihat sebuah makhluk mengerikan yang nampaknya mati melintas di bawahku, tepat di bawah es yang saat ini aku injak.

 

Pandanganku tak bisa terlepas dari makhluk mengerikan berkulit pucat itu, aku kemudian berjongkok menyentuh es dingin dan menatap perut makhluk mengerikan itu. Tiba – tiba saja, aku melihat tangan makhluk tersebut bergerak dan ketika kulihat wajahnya, makhluk tersebut membuka mata.

 

Seketika saja tubuhku bergetar, keringat dingin mengucur deras dipelipisku, aku kemudian berdiri dan membalikan badanku. Aku mendengar suara retakan es, naluriku mengatakan bahwa makhluk itu akan keluar dari dalam es dan membunuhku.

 

Satu – satunya cara untuk menyelamatkan diri adalah lari.

 

Tanpa pikir panjang, aku berlari menjauh dari makhluk tersebut tanpa memperdulikan bahwa aku berlari di atas es yang beku, dingin, dan licin. Berkali – kali aku hampir terjatuh dan terpeleset, namun aku tetap terus berlari. Aku bisa merasakan bahwa makhluk tersebut mengejarku, ketika aku menoleh ternyata jarak antara aku dan makhluk itu hanya 100 meter, dan makhluk itu berlari dengan kencang.

 

Aku kemudian berlari kembali dengan kencang, tentu saja sekencang apapun kuberlari pasti akan terpeleset karena licinnya es.

 

Bruk !

 

Aku terjerembab ke atas es, seluruh anggota badanku terasa sakit bagaikan dihujam seribu anak panah. Bukan hanya rasa sakit yang aku alami, tetapi juga rasa takut sekaligus khawatir.

 

Takut karena makhluk itu akan membunuhku dan khawatir karena es ini sebentar lagi akan retak dan mungkin saja aku tercebur ke air es yang bertemperatur sangat dingin.

 

Aku hanya bisa pasrah ketika aku mendengar deru nafas makhluk tersebut tepat berada di telingaku, mungkin inilah detik – detik terakhir aku hidup.

 

Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, Paman, Bibi, Irene eonni, Yoobin, Mingyu, dan Dahyun, tolong ikhlaskan dan jangan lupakan aku ketika aku telah mati, maafkan aku jika aku telah berbuat banyak kesalahan terhadap kalian semua.

 

You die, young lady

(Mati kau, gadis muda)

 

Suara serak dan berat bak monster itu keluar dari mulut makhluk mengerikan itu, aku menutup mataku dan membayangkan bahwa dibunuh terasa seperti berbaring di atas kasur Nenek yang empuk.

 

Phew!

 

Bruk!

 

Crash!

 

Terdengar suara benda yang –sepertinya– terjatuh ke dalam air es yang teramat sangat dingin, aku mencoba bangkit berdiri dengan perlahan. Rasa sakit masih menjalar di seluruh tubuh, lutut dan tanganku memar serta perutku terasa berdarah.

 

Aku menoleh, terlihat seorang perempuan berambut pendek nampak tersenyum ke arahku sembari memegang pistolnya. “Hai, kau mau aku mengobatinya ?”

 

Perempuan itu menghampiriku, tangannya merogoh sesuatu di kantongnya dan mengeluarkan sebuah benda bulat berukuran kecil dan menaruhnya di tanganku yang terkena luka memar.

 

Ajaib, dalam waktu sepersekian detik luka memar ditanganku menghilang. Aku terpana melihat sebuah keajaiban yang baru saja aku alami atau bisa dikatakan kualami lagi.

 

Aku mendongak, melihat sebuah senyuman terukir di sudut bibirnya yang merah seperti buah appel.

 

“Park Jiyeon, asalku dari planet B81A, tepatnya di galaksi Andromeda. Kau ?”

 

Jiyeon, ia mengulurkan tangannya menunjukan bahwa ia mengajakku bersalaman.

 

“Aku Bae Suzy, kau bisa memanggilku Suzy. Aku berasal dari Los Angeles tepatnya di bumi, untuk lebih jelasnya aku berasal dari galaksi Bima Sakti atau yang biasa disebut Milky Way. Senang berkenalan denganmu… ” Aku membalas uluran tangannya dengan senyum yang mengembang.

 

“Apa aku boleh bertanya ?”

 

Aku mengangguk, mengisyaratkan bahwa ia boleh bertanya.

 

“Kenapa disebut Milky Way? Apa galaksi kalian terkenal dengan pertambangan permen susu?”

 

Bolehkah aku tertawa?

 

Tentu saja tidak, aku hanya tersenyum dan menjawab, “bukan. Tidak ada pertambangan permen susu, aku tidak tahu mengapa disebut Milky Way. Tanyakan saja kepada ahlinya…”

 

Jawaban yang terdengar memaksa itu seketika membuat Jiyeon tertawa renyah, sedetik kemudian Jiyeon memasang ea r wajah serius. “Kita harus pergi, disini tidak aman!”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

“Egascar!”

 

Jiyeon berteriak sembari mendongak kepalanya ke atas langit, aku menatap Jiyeon dengan tatapan aneh. Mengapa dia memanggil seseorang sembari mendongak ke atas, apakah temannya itu peri ?

 

“Kau memanggil siapa ?” Akhirnya aku memberanikan diri bertanya, menatap Jiyeon yang berteriak – teriak sembari menatap langit. Namun, aku tidak mendapatkan respon apapun. “Kau mengabaikanku !”

 

Tetap saja dia tidak merespon ucapanku tadi, baiklah aku akan pergi diam – diam.

 

Baru saja aku berjalan dua langkah, tiba – tiba saja aku dikagetkan dengan suara ringkikan kuda.

 

Aku menoleh, terlihat sebuah kuda berwarna putih seperti susu dengan surainya yang kuning seperti jagung serta memiliki sayap seperti sayap malaikat. Kuda tersebut memiliki tanduk yang runcing dan dari jauh terlihat seperti berlian berwarna hijau emerald  yang berkilap.

 

“Suzy, ini Egascar! Egascar ini Suzy…” Jiyeon tersenyum sembari memperkenalkanku dengan kuda yang tak kusangka benar – benar ada itu.

 

“Hai, Suzy ! Senang bertemu denganmu”

 

Aku terkejut setengah mati ketika mendengar kuda tersebut berbicara dan suaranya seperti laki – laki.

 

“Kau kuda jantan !? Aku kira kau betina…”

 

Aku begitu takjub sembari mendekat ke arah kuda tersebut, “aku bukan kuda tetapi unicorn, Suzy…”

 

Egascar mengibaskan ekornya, sekali lagi aku dibuat takjub ketika melihat serbuk kerlap – kerlip yang berterbangan dari ekornya. “Cepat naik ke punggungku! Waktu kita tidak banyak…, pasukan The Jack Bills sudah ada disini…” perintah Egascar.

 

Aku memberanikan diri menaiki punggung Egascar, jujur saja aku sangat takut dengan ketinggian.

 

“Suzy, kau terlihat tidak sehat?” Jiyeon rupanya memperhatikanku, aku menggeleng.

 

“Tidak, tidak! Ayo berangkat!” ucapku berusaha semangat.

 

Egascar menurut, dengan lincahnya, unicorn jantan itu berlari kencang dan terbang. Aku melihat ke bawah, rupanya ketinggian tak semenakutkan yang aku bayangkan. “Kau suka?” Egascar bertanya, aku hanya mengiyakan.

 

Kami bertiga terbang melintasi pegunungan bersalju, lautan luas, pedesaan, hutan – hutan, dan sampai akhirnya tiba di sebuah gerbang yang terbuat dari berlian hijau.

 

“Selamat datang di Emerald City!” ucap Jiyeon di selingi tawanya, aku terperangah takjub ketika Egascar terbang rendah memasuki pintu gerbang.

 

“Apakah ini Oz?” aku bertanya dengan penuh kekaguman dan tidak percaya.

 

Jiyeon tersenyum, ia telah turun dari Egascar.

 

“Tentu saja kita berada di Oz, lebih tepatnya di provinsi Oz yang beribukota Emerald City!” seru Jiyeon sembari ber–high five dengan seekor monyet terbang yang membawa beberapa bungkus roti.

 

Aku kemudian turun dari punggung Egascar, aku bahkan tak percaya jika aku tengah berjalan di atas permata – permata berwarna hijau muda yang cantik.

 

“Nona Jiyeon dan nona Suzy, kalian sudah di tunggu!”

 

Jiyeon tersenyum, “ya, Tn. Knuck!”

 

Orang kerdil yang bernama Knuck itu tersenyum, aku mengernyit heran. Bagaimana ia bisa tahu namaku?

 

“Jangan heran, nona. Sejarah sudah mengatakannya”

 

Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Tn. Knuck, walaupun aku sedikit tak mengerti dengan ucapannya.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

 

Aku, Jiyeon, dan Tn. Knuck telah sampai di dalam istana. Banyak sekali patung – patung yang terbuat dari berlian berwarna hijau yang berkilauan, aku mendongak ke atas. Lampu – lampu yang tergantung seratus persen terbuat dari permata hijau yang bisa bersinar.

 

“Salam, saudaraku!”

 

Aku dikagetkan oleh suara halus perempuan, mataku secara langsung menangkap seorang perempuan bergaun putih dengan rambut pirang bergelombang. Dari mahkota emas putih yang berhiaskan permata, sudah kupastikan ia adalah seorang ratu di provinsi Oz.

 

“Halo, Glinda !” sapa Jiyeon sembari tersenyum.

Aku tersenyum juga ea rah perempuan yang bernama Glinda itu.

 

“Aku masih menjadi seorang putri, Suzy…”

 

Rupanya, Glinda bisa membaca pikiranku !

 

“Ah, maafkan aku tuan Putri” ucapku sembari menggigit bagian bawah bibirku, jujur saja karena ini pertama kalinya aku bertemu dengan seorang putri.

 

“Cukup panggil aku Glinda…”

 

“Ya, Glinda… ”

 

Glinda kemudian mengajak kami ke sebuah ruangan, dimana ruangan tersebut menyimpan banyak sekali peta – peta menuju tempat yang ajaib nan misterius.

 

“Gerbong waktu bagian selatan barat daya sudah di kepung oleh pasukan The Jack Bills. Tak lama lagi, mereka akan sampai di markas Pearl. Aku tak terlalu memaksa kalian untuk membantu mereka melawan pasukan The Jack Bills, tetapi… Apakah kalian bersedia?”

 

Glinda menatapku dan Jiyeon, ia sangat berharap kepada kami berdua agar membantu semua orang di markas Pearl untuk melawan pasukan The Jack Bills.

 

Aku dengan senang hati akan membantu, seandainya aku memiliki sebuah keahlian untuk berkelahi atau bahkan sedikit sihir.

 

“Ya, aku bersedia! Aku bahkan rela mempertaruhkan nyawaku demi keamanan Glowing Land!”

 

Jiyeon berkata dengan suara lantang, di ikuti Tn. Knuck dan aku.

 

“Yang Mulia, apakah aku boleh ikut?”

 

“Dan apakah aku boleh ikut juga?”

 

Seekor monyet terbang dan sebuah porselen gadis gembala tiba – tiba saja mengajukan diri untuk ikut melawan pasukan The Jack Bills.

 

“Tidak, disana terlalu berbahaya!” Glinda melarang namun monyet terbang itu menggeleng, “tidak tuan ea ra. Seberapa bahayanya pasukan The Jack Bills, asalkan itu demi keamanan Glowing Land aku siap!”

 

“Aku juga !” seru sang gadis gembala.

 

“Aku rasa Franky dan Serry boleh ikut. Benar begitu Tn. Knuck, Suzy?” Jiyeon menoleh ke arahku dan Tn. Knuck. “Ya, tentu saja boleh!” sahut Tn. Knuck “asalkan kalian tidak kabur…” sambungnya.

 

“Kalau boleh bertanya, kapan kita ke sana?” tanyaku malu – malu.

 

“Sekarang juga!” Jiyeon mengacungkan pistolnya.

Glinda tersenyum, “aku akan memberi kalian masing – masing senjata yang mungkin akan berguna untuk kalian”

 

Aku mengambil sebuah busur emas beserta lima puluh anak panah berwarna perak. Jiyeon mengambil sebuah pedang dan Franky, sang monyet terbang, mengambil sebuah busur perak dengan dua puluh anak panah berwarna perak juga, tetapi lebih kecil dari punyaku.

 

Khusus untuk Tn. Knuck, Glinda memberikan dua buah pistol seperti yang biasa polisi pakai dan untuk Serry, Glinda memberikan sebuah jarum biasa.

 

“Mengapa?” Serry protes sejenak namun Glinda tersenyum, “benda sekecil itu memiliki sebuah kekuatan terbesar dari semua senjata. Bahkan tongkat sihirku tak sanggup mengalahkan kekuatannya…”

 

Serry hanya mengangguk tak mengerti, aku kemudian menjelaskan kepada Serry bahwa ia harus menerima pemberian Glinda, karena bisa jadi jarum tersebut akan membuat pasukan The Jack Bills lari terbirit – birit.

 

“Terimakasih, Suzy! Ayo kita serang pasukan The Jack Bills!”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Kami berlima kemudian menaiki helikopter kerajaan, ternyata pengemudi helikopter itu ialah sebuah robot yang bernama Rohitto. Tn. Knuck duduk di depan, tepat di samping Rohitto. “Aku tak percaya kita bertemu lagi!” gerutu Tn. Knuck sehingga membuat kami semua tertawa.

 

“Senang bertemu denganmu tuan penggerutu!” balas Rohitto sehingga membuat kami tertawa lagi.

 

“Knuck! Panggil aku Knuck!” oceh Tn. Knuck sehingga membuat kami tertawa sekali lagi.

 

Helikopter perlahan – lahan mulai naik ke atas, aku melambaikan tangan ea rah Glinda.

 

“Semoga kalian berhasil!” jerit Glinda dari bawah “semoga saja!” balas kami serempak.

 

Dan tak terasa, helikopter kemudian terbang meninggalkan Emerald menuju gerbong waktu bagian selatan barat daya tepat di markas Pearl.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

“Bangun, bangun! Kita hampir sampai” bisikan Serry membangunkanku dari tidurku yang lelap, aku kemudian melirik ea rah jendela helikopter. Hal pertama yang kulihat ialah sebuah bendera hitam yang berlambang tengkorak manusia serta dua buah tulang yang bersilangan dan kemudian…, “kita datang di saat yang tepat kawan!” seringai Jiyeon sembari mengarahkan pistolnya ea rah pasukan makhluk – makhluk yang sangat jelek dan menyeramkan.

 

Aku kemudian ikut merentangkan busurku ea rah satu makhluk yang paling besar pada pasukan jelek dan menyeramkan itu.

 

“Siap?”

 

Rohitto bertanya kepada kami semua “Ya!”

 

“Tembak!”

 

Duar!

 

Phew!

 

Swing!

 

Shew!

 

Kami membantu semua orang di markas Pearl melawan pasukan The Jack Bills yang sangat jelek dan menyeramkan, kecuali untuk seorang pemuda yang tengah menaiki seekor makhluk besar yang wajahnya mirip serigala dan badannya mirip badan seekor singa.

 

Jujur, untuk yang pertama kalinya Suzy melihat musuh dengan wajah setampan itu.

 

“Jangan lengah Suzy! Kita harus melawan pasukan payah itu…” seru Jiyeon yang lasung melompat dari atas helikopter, aku menurut dan kemudian menyusul Suzy.

 

“Tn. Knuck ikut aku! Suzy dan Franky kalian tetap disini dan lawanlah pasukan The Jack Bills yang payah itu! Rohitto dan Serry, kalian tetap berada di helikopter. Jangan sampai jatuh!” Jiyeon membagi rencana.

 

Semuanya setuju, kami pun berpencar. Aku dengan gesit memanah satu per satu makhluk – makhluk jelek ini, sedangkan Franky dengan santainya ikut memanah bokong makhluk – makhluk jelek tersebut.

 

Aku tertawa, disaat seperti ini Franky malah melucu.

 

“Ayo kita kesana!” ucapku “tetapi kau di atas es nona…”

 

Aku tersenyum, “terjatuh pun aku masih bisa melawan…”

 

Dengan cepat aku berlari dan memanah, menghindar dari anak panah dan berbagai macam batu yang berusaha mengenaiku. Bahkan ketika aku terpeleset dan jatuh, aku masih bisa memanah kaki makhluk jelek itu dan dengan cepat bangkit kembali.

 

“Kau tahu Franky, ini pertama kalinya bagiku untuk berperang!” seruku sembari menendang perut seorang prajurit yang merupakan prajurit The Black Jills. “Bagiku ini yang ke dua kalinya!” seru Franky sembari memukul kepala seorang prajut menggunakan ekornya.

 

Ahoy! Butuh bantuan, sobat?”

 

Seorang bajak laut dengan gesitnya melompat dan bermain pedang dengan makhluk jelek yang melawan bajak laut itu dengan menggunakan kapak.

 

Kali ini aku tidak menggunakan busur, aku kemudian menghajar prajurit tersebut dengan jurus buatanku sehingga aku mendapatkan tombaknya.

 

Namun tiba – tiba saja, para musuh lari tunggang langgang tanpa sebab. Pertarungan sengit yang menyenangkan ini terhenti begitu saja dengan kepayahan para musuh yang lari sebelum perang selesai, jadi ini yang namanya pasukan The Jack Bills yang menakutkan ? Sangat payah !

 

“Aku Jack Sparrow dan aku memberitahumu bahwa sebentar lagi Smaug akan datang!”

 

“Suzy dan aku bertanya siapa itu Smaug?”

 

“Jack, Suzy! Ayo masuk ke markas, aku rasa Smaug akan datang!” Franky kemudian mengajak kami berdua masuk ke dalam markas, di ikuti oleh yang lainnya.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Ini markas atau bandara? Itulah ungkapan yang kuucapkan pertama kali saat memasuki markas Pearl.

 

“Kau tahu? Aku sebenarnya ingin menamai markas ini The Sparrows, tetapi Gandalf menolaknya. Padahal aku yang pertama kali menemukan tempat ini…” ucap Jack Sparrow sembari mengajak kami berkeliling markas.

 

“Jack, menurutmu apakah Smaug bisa merobohkan markas ini?” tanya Franky sehingga membuat Jack Sparrow menggelengkan kepalanya, “hanya kesombongan yang bisa merobohkan markas ini. Setidaknya itu yang dikatakan Gandalf” jawab Jack Sparrow.

 

Aku hanya terdiam mendengar obrolan Franky dan Jack Sparrow yang membicarakan ‘Gandalf’ jujur saja, aku tidak tahu siapa itu Gandalf. Mungkin saja, Gandalf ialah kakek Jack Sparrow yang cerewet atau kakek Franky.

“Kalian pasti lapar ? Mau makan ?”

 

“Tidak, Jack. Keadaan genting begini kau menawarkan kami untuk makan!”

 

“Ada banyak sekali banana split di meja makan. Rasanya pun sungguh lezat, aku jadi ingin mencobanya. Apa kau mau Suzy?” tawar Jack Sparrow, pria berjanggut itu menatapku dengan penuh keramahan.

 

Aku menggeleng pelan, “maaf Jack, tetapi aku tidak terlalu suka banana split. Lagipula Franky benar, keadaan begitu genting. Sebentar lagi Smaug akan datang! Lebih baik kita ambil posisi seperti yang lainnya, kau setuju Frank?” aku menatap ea rah Franky yang tersenyum lebar mendengar ucapanku.

 

“Sangat setuju! Aku berharap kau juga” Franky melirik ea rah Jack Sparrow yang tengah memainkan pedangnya, “baiklah. Tetapi jangan lari seperti ea r lalu” ucap Jack Sparrow.

 

Franky hanya terkekeh, monyet terbang itu kemudian mengikuti Jack Sparrow. Aku kemudian mengikuti mereka berdua, menuju dimana yang lainnya mengambil posisi untuk menyerang Smaug, yang katanya seekor naga yang bisa bicara.

 

It’s showtime, guys” ungkap Jack Sparrow sembari mengeluarkan pedangnya.

 

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Seekor naga besar terbang melintasi dataran es yang dingin dan beku, di atasnya terdapat seorang gadis cantik yang tengah bersiap dengan sebuah tongkat miliknya.

 

Naga besar itu berhenti tepat di depan gerbang markas Pearl, dimana musuh yang telah dinantikan sudah menunggu.

 

Gadis itu kemudian melompat dari naga itu, dengan santainya gadis itu kemudian membidik anak panah ea rah kaca jendela markas.

 

Sial bagi gadis itu, karena kaca jendela itu tidak mudah pecah dengan benda apapun.

 

“Kalahkan mereka, Smaug…”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

“Ambil posisi!” Tn. Knuck berteriak, para pasukan mulai siap sedia di posisinya.

 

Suzy, Franky, Jiyeon, dan Jack Sparrow berada tepat di depan gerbang. Menanti kedatangan Smaug dan seorang gadis yang merupakan sang pengkhianat sejati.

 

Terompet di tiup, pertanda perang sudah di mulai. Ketika pintu gerbang terbuka, ke dua musuh yang sangat tangguh ini dengan gesitnya menghajar mereka, bahkan Franky sampai dibuat lari tunggang langgang ke dalam markas hanya gara – gara tatapan tajam sang gadis.

 

“Siapa kau? Aku belum pernah melihatmu!” pekik gadis itu kepada Suzy sembari berusaha mengalahkan Suzy dengan tongkat sihirnya, namun Suzy dengan gesit berhasil menghindar dari serangan gadis itu.

 

“Aku pun bertanya demikian!” jawab Suzy tegas sembari merentangkan busurnya, namun gadis itu menghilang seketika.

 

“Tak semudah itu, hm” Gadis itu tertawa remeh dan menghilang.

 

“Ayo, Smaug! Kita pergi dari sini, aku rasa mereka sudah menyerah” Gadis cantik namun jahat itu tertawa terbahak – bahak di ikuti Smaug yang kemudian mulai terbang meninggalkan markas Pearl.

 

“Tidak semudah itu, bodoh!”

 

Seorang pemuda berteriak sembari merentangkan sebuah anak panah raksasa dan kemudian melepaskannya, sehingga anak panah itu menancap tepat pada perut Smaug, sang naga.

 

Smaug akhirnya jatuh, terhempas ke atas es dan tenggelam.

 

Namun, gadis itu malah menghilang.

 

Smaug sang naga pun akhirnya berhasil di kalahkan dan gadis itu melarikan diri.

 

Semuanya langsung bersorak gembira dan mengelu – elukan nama sang pemuda itu.

 

“Bagus sekali Myungsoo!”

 

“Kami bangga padamu!”

 

“Pencuri timun kecilku…”

 

“Pak Hans, aku bukan pencuri timun!”

 

Suzy tertawa pelan menatap pemuda yang bernama Myungsoo itu, pemuda yang sangat tampan.

 

“Kau suka dia? Sayangnya Myungsoo sudah mempunyai tunangan” ucap Franky yang sebenarnya benar – benar tidak tahu mengenai isi pikiran Suzy.

 

“Ya, dia memang tampan. Tetapi aku tidak menyukainya, pada dasarnya aku masih berumur 8 tahun. Kau tahu Frank ? Aku bahkan belum mengerti tentang persahabatan, apalagi cinta…” ucap Suzy.

 

Franky mengangguk setuju, ke duanya kemudian menghampiri Jiyeon yang tengah mengobrol dengan Myungsoo, pemuda tadi.

 

“Halo, Frank! Bagaimana kabarmu?” sapa Myungsoo sembari ber–high five dengan Franky.

 

“Seperti yang kau lihat” balas Franky sembari mengembangkan senyumannya.

 

“…dan siapa yang sedang bersamamu?” tanya Myungsoo sembari menatap ea rah Suzy.

 

“Suzy dan aku tahu siapa namamu” jawab Suzy sembari tersenyum tipis, “kau pasti mendengarnya” balas Myungsoo.

 

“Bagaimana jika kita bertiga keluar, aku merasa ada penyusup di luar” ucap Jiyeon sembari berjalan ea rah gerbang. “Tunggu, aku dan Suzy atau aku dan Franky?” tanya Myungsoo sehingga membuat Jiyeon menoleh sekilas, “Franky kau masuk ke dalam saja, situasi sekarang belum sepenuhnya aman”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Gerbong waktu selatan barat daya baru saja di serang oleh pasukan The Jack Bills dan Smaug sang naga. Walaupun begitu, para pasukan The Jack Bills dan Smaug berhasil di kalahkan. Meskipun itu hanya kemenangan kecil yang hanya bersifat sementara.

 

Keadaan Glowing Land benar – benar dalam situasi darurat, kegelapan semakin banyak menyerang. Para penduduk mulai terdesak hingga ke pedalaman, seluruh orang – orang dari segala zaman dan dari planet manapun di panggil untuk membantu menjaga kedamaian Glowing Land.

 

Suzy, Jiyeon, dan Myungsoo selalu siaga. Ke tiganya mulai merasakan keberadaan seseorang di sekitar mereka. “Siapa disana?” Jiyeon berteriak sembari mengarahkan pistolnya ea rah bongkahan es.

 

Crash!

 

Seseorang melempar bola salju tepat di wajah Suzy, gadis itu kemudian merasa jengkel. Siapa orang iseng yang berani melempar bola salju tepat di wajahnya?

 

“Kalau kau berani tunjukan wujudmu!” pekik Suzy sehingga membuat seorang pemuda muncul secara tiba – tiba di depannya sembari memainkan bola salju.

 

“Minho?” Myungsoo terperangah ketika melihat seorang pemuda yang bernama Minho secara tidak langsung muncul di hadapannya.

“Kau Myungsoo, seorang pangeran dari kerajaan langit bukan? Kau pasti lupa siapa diriku” ucap Minho dengan senyum sinisnya.

 

“Kau siapa? Pasukan The Jack Bills?” Jiyeon mengarahkan pistolnya sehingga membuat Minho tertawa terbahak – bahak. “Tenang, nona manis. Aku Minho, seorang penyihir dan aku hampir di bunuh oleh Jine karena menolak permintaannya untuk menjadi salah satu anggota The Jack Bills” cerita Minho sembari melipat ke dua tangannya.

 

“Siapa itu Jine?” Suzy bertanya, gadis itu menebak dalam hati bahwa Jine ialah seorang gadis yang tadi ikut menyerang markas Pearl bersama Smaug.

 

“Kau sudah menebaknya di dalam hati dan itu benar” jawab Minho datar.

 

Kemudian, Minho mengajak mereka bertiga menuju kemahnya atau bisa dibilang menemaninya sebentar untuk mengemasi barang – barangnya menuju markas Pearl.

 

.

 

.

 

.

 

.

To Be Continued

 

 

HELLO ~

 

Akhirnya chapter 1 dari FF 4 Worlds ini akhirnya rilis juga :’’v

 

Cupid pen minta maap nih sama kalian kalo fantasy – nya ini bikin kalian gak ngeh T.T

Leave a comment if you like it okaaaay😄

Anyway thanksfor BabyChannie for amazing poster😀

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6 responses to “[CHAPTER] 4 Worlds – 1A

  1. wah keren bggt ff’y berasa nonton film fantasy beneran.. feel’y dpet bgt,, daebakk daebakk
    mwo!!! myungsoo udh pnya tunangan?? siapa?? aku harap sih jiyeon yg jadi tungangan myungsoo…
    next ne,, hwaiting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s