[CHAPTER-PART 3] The Reason I Life

The Reason I Life

The Reason I Life

Written by Angeljypark

Park Jiyeon – Park Chanyeol – Park Hyomin – Xi Luhan

Family – Sad – Chapter

===

The Reason I Life

Previous Story, Part 2

Bisakah permohonanku ini dikabulkan?

Tetaplah berdetak untuk kami “ucapnya memegang dadanya merasakan degupan jantungnya di sana dan tersenyum, bersamaan dengan aliran air mata pilunya.

===

The Reason I Life

Kanker, penyakit yang sudah berada di tubuhku sejak usia 2 tahun. Penyakit yang sudah menemaniku cukup lama. Banyak hal yang terjadi sejak itu. Omma yang kala itu harus berhenti bekerja untuk merawatku, appa yang harus bekerja ekstra demi kami, dan chanyeol yang menunjukkan keanehan sejak usia 3 tahun.

Hyomin terus tersenyum menatap lembar demi lembar album foto, menatap betapa bahagianya mereka disana. Di saat keadannya masih cukup baik, sang appa dan omma masih begitu memperhatikan chanyeol dan jiyeon

Mianhae nae dongsaeng, aku telah merebut perhatian yang seharusnya milik kalian

Hyomin terus membalik lembar demi lembar berisi berbagai foto mereka yang berlibur ke pantai atau taman bermain, dengan senyum cerah yang masih terpetak jelas di wajah chanyeol dan jiyeon yang saat itu masih berusia 8 dan 6 tahun.

Jauh dalam lubuk hati mereka, appa dan omma begitu menyayangi kalian. Mereka tetap khawatir saat mengetahui keanehan chanyeol adalah sebuah gangguan. Mereka tetap khawatir saat jiyeon terbaring di rumah sakit akibat komplikasi setelah mendonorkan sumsum tulang.

Aku mengetahuinya, keunde, rasa khawatir mereka setiap kali melihatku melemah, dengan darah bahkan wajah memucat layaknya seorang yang telah meninggal membuat perhatian mereka terpusat padaku

Mianhae dongsaeng-ah mianhae~

Flashback on

Hei hyomin! Kau lama sekali! Kelompok kita kan jadi kalah! “teriak seorang yeoja kecil berparas imut memarahi hyomin yang masih berusaha mengatur nafasnya

M-mianhae aku sudah berusaha sebisaku “ucap hyomin sedih

Seharusnya kita memang tak bermain dengannya, kata ommaku anak yang punya penyakit itu lemah! “ucap seorang lagi membuat hyomin menunduk sedih

Haaaa~ wae kau tak mengatakannya daritadi?!! “marah chingunya

Kajja kita bermain lagi! Jangan ajak hyomin “ucap seorang lagi dan mereka pun menjauhi hyomin yang sudah berlinang air mata

Hiks hiks mianhae hiks “tangis hyomin, dengan sisa tenaganya, ia berjalan dan duduk di kursi taman

Hyomin yang saat itu berusia 8 tahun terus memandang sedih chingu-chingunya yang bermain bersama, melihat senyum cerah mereka membuat hyomin ingin berada di sana.

===

Hyomin melangkahkan kaki mungilnya menuju rumah, mendapati chanyeol yang berusia 7 tahun saat itu sedang bermain bersama jiyeon

Unnie pulang~!!! “pekik jiyeon berlari memeluk hyomin yang terkekeh

Noonaaaaaa!!! “pekik chanyeol ikut berlari memeluknya

Ini untuk omma~ “ucap jiyeon memberikan gelas plastik pada hyomin

Ne~ kamsahamnida~ “ucap hyomin mengikuti permainan rumah-rumahan jiyeon

Haaa~ “desah chanyeol yang berlagak sebagai seorang ayah, dengan dasi panjang hingga lutut milik yoochun yang jiyeon ambil di lemari. Chanyeol kesal karena setiap hari harus meladeni permainan membosankan jiyeon

Aku pulang~ “ucap chanyeol datar dengan wajah kesal

Waaahh selamat datang appa~ “ucap jiyeon semangat membuat chanyeol mendengus kesal

Eo-eosseoseyo yeo-yeobo~ “ucap hyomin yang sudah menahan tawa

Dialog ini lagi “rutuk chanyeol duduk bersila disamping hyomin yang hanya terkekeh. Mereka berdua harus sabar menemani permainan jiyeon yang bisa berlangsung selama dua jam itu

===

Hyomin melangkahkan kakinya riang menuju kelas barunya, ini adalah hari pertamanya sebagai anak Junior high school

Pada awalnya hyomin memiliki banyak teman, mengingat sikap ramahnya dan wajah manisnya. Keunde, semua berubah begitu hyomin pingsan saat jam olahraga dengan darah segar yang tak henti mengalir dari hidung dan bibirnya

Hei kudengar ia mengidap penyakit berbahaya~

Jinja? Mengerikan

Menular tidak?

Molla~ keunde lihatlah wajahnya, pucat sekali

Sebaiknya jangan dekat-dekat

Gumaman-gumaman beberapa siswa membuat hyomin sedih, ia mampu mendengarnya, walau ia terus berjalan tanpa menghiraukan semua itu

Hai~ “sapa seorang yeoja manis pada hyomin yang duduk menikmati bekalnya sendiri di kelas

Eoh? hai~ “sapa hyomin lembut

Aku makan disini denganmu ya~ “ucapnya mendapat anggukan senang hyomin

Aku Fei, kau hyomin kan? “ucapnya dan hyomin kembali mengangguk

Ne, aku hyomin

Sementara mereka sibuk berbincang, beberapa siswa mulai berbisik-bisik dengan wajah tak suka mereka

Yang benar saja yeoja popular seperti fei mau berteman dengan hyomin! “ucap seorang dari mereka

Molla, apa mungkin dia tidak tahu penyakit hyomin? “ucap seorang lagi

Seolma! kita kan sekelas “ucap seorang lagi

===

Hyomin-ah kau mengerti tidak soal ini? “tanya fei yang sudah duduk bersama hyomin, semenjak penykait hyomin diketahui seantero kelas, mereka memilik untuk tidak duduk bersama hyomin

Ah! ne! ini mudah “ucap hyomin mulai mengajari fei

Waah!! Daebak! Hyomin daebak “puji fei, hyomin yang mendengarnya pun senang, sejak SD dulu, tak ada yang sebaik ini padanya, kecuali anggota keluarganya sendiri

===

Yoochun dan taehee terlihat begitu senang saat melihat wajah cerah hyomin yang akhir-akhir ini begitu semangat berangkat sekolah. Apapun alasannya, mereka berharap itu akan selalu membuat hyomin tersenyum

Annyeong fei “sapa hyomin saat melihat fei di pintu kelas

Eoh? Annyeong hyomin-ah “sapanya

Hyomin-ah kau mengerti tidak tugas rumah kemarin? “tanya fei melas

Eoh? tugas matematika itu? Ne! waeyo? “bingung hyomin

Mau ajarkan aku tidak? “melas fei lagi membuat hyomin terkekeh

Eoh! tentu saja “ucapnya membuat keduanya tersenyum senang

===

Berkat hyomin yang selalu duduk di peringat 1, fei mampu menduduki peringkat 2

Wuaaahhh fei-ah neo jinja daebak~! “puji chingu-chingu mereka, sementara hyomin yang berada tepat di sebelah fei hanya tersenyum

Keke jinja? “ucap fei

Ne! daebak! “seru seorang lagi

Tentu saja! Aku kan memang pintar “ucap fei yang langsung berjalan bersama mereka meninggalkan hyomin yang terlihat sedih

===

Uhhukk uhhukk

Hyomin? Gwaenchana? Hyomin? “panggil guru olahraga mereka, ia segera menggendong hyomin ke ruang kesehatan dan menghubungi rumah sakit dan keluarga hyomin

Hei~ kejadian kemarin mengerikan sekali

Eoh! darahnya banyak sekali! Menjijikan

Wae ia masih bersekolah disini?

Eoh! disini kan tidak ada fasilitas untuk orang cacat

Gumaman-gumaman kembali terdengar, hyomin tak menghiraukannya, ia tetap menjalankan kursi roda otomatisnya

Annyeong fei “sapa hyomin yang di balas senyuman fei

Eoh! annyeong “ucap fei segera mendorong kursi roda hyomin

===

Fei-ah kau tak bosan membantunya terus? “ucap seorang yeoja saat dirinya, fei dan seorang lagi berada di kamar mandi

Waeyo? “tanya fei sibuk memperbaiki rambutnya

Dia kan sakit, kau yakin ingin berada di sana saat penyakitnya kambuh? “ucap seorang lagi, bertepatan dengan hyomin yang menjalankan kursi rodanya menuju kamar mandi

Memangnya kenapa? Lagi pula aku membutuhkannya “ucap fei menunjuk kepalanya, mengisyaratkan bahwa ia membutuhkan kepintaran hyomin

Ckckc! Neo jinja “tawa keduanya

Geureomyeo! Siapa juga yang ingin mengurus yeoja berpenyakit seperti dia kalau bukan karena kelebihan lain yang dia miliki “ucap fei membuat mereka tertawa, berbeda dengan hyomin yang sudah menangis, ia segera menjalankan kursi rodanya menjauh dari sana

===

Karena penyakit yang semakin parah, hyomin diharuskan berada di rumah menjalani perawatan. Berbeda ketika ia berkumpul bersama keluarganya, hyomin terlihat begitu murung saat sendirian.

Hyomin memutuskan untuk menikmati suasana sorenya di teras rumah, dengan langkah perlahan ia mendudukan dirinya di kursi

Penyakit yang menggerogoti tubuhnya membuat daya tahan tubuhnya lemah, ia bahkan sering kesakitan dan mendadak lemah jika terlalu lama berdiri atau berjalan, itulah mengapa hyomin sering menggunakan kursi roda

Dengan buku yang menemaninya, hyomin menikmati indahnya sore, hingga manik matanya menangkap sosok chanyeol dan jiyeon yang berjalan bersama segerombolan namja dan yeoja seumuran mereka

Yak! Chanyeol-ah besok kita bermain lagi! “pekik seorang namja sambil menenteng tas berisi bola

Eoh! tentu saja! “balas chanyeol

Jiyeon-ah! Besok setelah sekolah kajja kerumahku, kita bermain bersama “ucap seorang yeoja mendapat anggukan tiga chingu lainnya

Jinja? Geure! Kajja! “ucap jiyeon semangat membuat mereka semua tersenyum

Sementara hyomin, ia menatap mereka dengan pandangan sedih, membayangkan jika dirinya adalah jiyeon dan chingu-chingu lainnya adalah chingu di sekolahnya

Syukurlah “gumam hyomin begitu melihat wajah cerah chanyeol dan jiyeon

Syukurlah kalian bahagia “batin hyomin melambaikan tangannya saat chanyeol menangkap sosok dirinya yang duduk di teras

Noonaaaaa!!! “teriak chanyeol berlari ingin memeluk hyomin

Unnieeee!!! “pekik jiyeon. Beginilah mereka setiap kali melihat hyomin. Mereka akan berlomba siapa yang lebih dulu memeluk sang kakak

Aku menaaaanggg!!! “pekik chanyeol memblokade jalan jiyeon yang sudah merentangkan tangannya untuk hyomin

Aaaahhh!!! Oppa!!! Napeeunn!!! “rutuk jiyeon saat chanyeol terus memeluk hyomin, membuat hyomin terkekeh

===

5 tahun berlalu, bukannya mendapat kemajuan, hyomin terus melemah, chanyeol dan jiyeon begitu mengkhawatirkannya. Sementara yoochun dan taehee semakin panik akan kondisi sekarang

25%? “gumam taehee

Bukankah kita sudah mendonorkan begitu banyak pada hyomin? Wae kondisinya tetap sama? “ucap yoochun

Mianhamnida, ini diluar kendali kami, hyomin beruntung masih dapat hidup hingga sekarang, jika kalian memang menginginkan kesembuhannya, pendonoran harus dilakukan serempak “ucap dokter lee membuat keduanya bungkam

Serempak? Maksudmu mendonorkan semua sekaligus? “kaget taehee

Ne! “ucap dokter lee mantap

Kau tak pernah mengatakannya pada kami! “kesal taehee

Mianhamnida taehee, saat itu kalian begitu putus asa, karenanya aku menyarankan ini “ucap dokter lee

Kami akan tetap pada rencana awal “ucap taehee berlinang air mata

Hyomin, jiyeon dan chanyeol, mereka anak-anakku “ucap taehee dengan sorot mata tajam membuat yoochun mengerti apa yang dirasakan taehee saat ini

===

Omma~ “panggil hyomin yang berbaring di ranjang rumah sakit setelah operasi donor tulang rusuk

Ne hyomin-ah~ “sahut taehee mendekat

Omma~ kurasa ini cukup “ucap hyomin pelan menatap sang omma yang mendadak diam

Yeonnie telah melakukan banyak “ucap hyomin lagi dan taehee segera beranjak menuju wastafel, menutupi bulir air mata yang mendesak keluar

Hyomin! Jangan menyerah! Kau bisa melawannya “ucap taehee tegas tanpa menoleh pada hyomin yang memandang cemas dirinya

Keunde omma~ yeonnie telah melakukan begitu banyak untukku, ini pun menyakitinya, omma~ jebal henti…

Karena itu kau harus berjuang! Ia telah berkorban untukmu! Kau harus berjuang dan sembuh! “bentak taehee memandang tajam hyomin yang memandang sedih dirinya

Omma~ terimalah~ terimalah kenyataan bahwa ak…

Istirahatlah, omma akan menyusul appa ke ruang dokter lee “ucap taehee dingin meninggalkan hyomin yang kembali menunduk sedih

Na eotheokhae? Apa yang harus kulakukan untukmu dongsaeng-ah~ “tangis hyomin

Flashback of

Ini dia~ aku tahu aku akan pergi sekarang “ucap hyomin terus menatap foto-foto keluarganya. Suasana sore hari yang menyejukkan membuat hyomin begitu ingin mengenang keluarganya

Aku memang mengetahuinya, hanya tak tahu kapan. Itu bukan masalah bagiku. Aku tak keberatan penyakit ini membunuhku. Keunde penyakit ini membunuh keluargaku juga.

Saat semua orang begitu khawatir dengan tekanan darah dan rapuhnya organ tubuhku, mereka hampir tak menyadari bahwa chanyeol mengidap Dyslexic.

Flashback on

Taehee, yoochun dan chanyeol duduk bersama di ruang keluarga. Taehee terus merangkul chanyeol yang saat itu berusia 7 tahun sementara yoochun membolak balik halaman sebuah brosur

Yeollie-ah igeo bwa~ kau lihat anak-anak ini? Ada yang bergabung dengan tim sepak bola, tim renang “ucap yoochun menunjukkan foto anak-anak disana

Tim berkuda “ucap taehee membelai punggung chanyeol

Ne! Tim berkuda, lihatlah taman bermain ini, banyak anak-anak disana, kau akan memiliki waktu yang menyenangkan disana “ucap yoochun lembut, sementara taehee terus memandang cemas chanyeol yang hanya menunduk

Yoellie-ah waegure? “tanya yoochun lembut begitu chanyeol menatap sedih dirinya

Gwaenchana yeollie-ah, ini akan seperti liburan “ucap yoochun

A-aku akan berusaha keras “ucap chanyeol berlinang air mata

Anhiyo, bukan tentang itu “ucap yoochun memandang lembut chanyeol

Hey~ lihat appa “panggil yoochun

Kau tahu saat kau melihat sesuatu dan semuanya terlihat sedikit berantakan? Tempat ini spesial karena memiliki guru-guru di sana, mereka akan membantumu mengatasinya “ucap yoochun lembut

N-ne~ “angguk chanyeol dengan wajah memerah

Appa tak mampu melakukannya “ucap yoochun dengan raut khawatir

N-ne~ “angguk chanyeol menatap taehee dengan buliran air mata yang berhasil lolos

Yeollie-ah kau akan sangat hebat dalam matematika “ucap taehee mengeratkan rangkulannya

Ini akan berlangsung selama 6 bulan, itu saja, hanya sampai nilai-nilaimu meningkat “ucap yoochun

Jika kau tak menyukainya, appa akan langsung menjemputmu pulang “ucap yoochun lagi

N-ne “tangis chanyeol, taehee pun memeluknya begitu juga yoochun yang mengelus lembut puncak kepala chanyeol, menatap cemas putra mereka itu.

Flashback of

Mianhae chanyeol-ah, mianhae aku telah mengambil semua perhatian mereka saat kaulah yang paling membutuhkannya.

Hyomin kembali membalik album foto itu, mendapati foto pernikahan appa dan ommanya

Appa~ mianhae aku telah merebut cinta pertamamu, aku hanya berharap suatu hari nanti, kau bisa mendapatkannya kembali. Cinta dan perhatiannya

Omma~ kau telah menyerahkan semuanya demiku, pekerjaanmu, pernikahanmu, seluruh kehidupanmu, hanya untuk melawan rasa takut yang selama ini menggerogotiku setiap saat.

Jiyeonnie~ uri yaeppo dongsaeng, yang selalu begitu kecil bagiku, mianhae aku membiarkan mereka menyakitimu, mianhae aku tak menjagamu dengan baik. Seharusnya ada jalan lain selain menyakitimu.

Luhannie~ malaikat kecil yang selalu ada untuk kami. Gomawo kau selalu ada untuk chanyeol disaat terpuruknya, kau membantunya belajar dan menyemangatinya setiap saat. Walau hanya setahun kau tinggal bersama kami saat itu, kau memberi begitu banyak perubahan bagi chanyeol dan bagi kami

Gomawo saat itulah kau yang menyemangatiku melawan penyakitku, tak kusangka namja berusia 10 tahun seperti mu mampu memberi kekuatan padaku dan bahkan membantu chanyeol melawan penyakitnya

Luhan-ah kau benar-benar malaikat kami, gomawo, gomawo kau selalu ada untuk kami.

Tok tok tok

Ne~ masuklah yeollie~ “ucap hyomin menutup album foto dan menutupnya dengan selimut

Noona~ igeo bwa~ “ucap chanyeol memberikan sebuah sketsa pada hyomin sambil terus melirik wajah sang kakak, menunggu reaksinya

Eoh? Apa ini aku? “tanya hyomin dengan senyum cerah yang membuat chanyeol ikut tersenyum lebar

Ne! Mmm aku belum menyelesaikannya, k-keunde,,, “ucap chanyeol mendadak kikuk, ia sangat ingin memperlihatkannya pada hyomin

Gwaenchana, noona sangat ingin melihat hasilnya “ucap hyomin membelai lembut pipi chanyeol yang tersenyum padanya

===

Sementara itu

Tok tok tok

Ne oppa, masuklah “ucap jiyeon sambil menutup buku pelajarannya

Jiyeon-ah gwaenchana? “Tanya luhan menyembulkan kepalanya dari balik pintu

Keke ne oppa, gwaenchana “tawa jiyeon, ia merasa luhan terlihat menggemaskan dengan pose seperti itu

Wae? Ada sesuatu diwajahku? “bingung luhan langsung melangkah masuk sambil meraba-raba wajahnya

Anhiyo oppa, kau masih terlihat tampan “ucap jiyeon membuat luhan tersenyum senang

Hahaha kau menyadarinya juga “ucap luhan penuh percaya diri

Eoh! Keunde chanyeol oppa do! Ia tampan “ucap jiyeon membuat luhan menatapnya sengit

Ck! Si jerapah itu? Aigoo!! Wae sainganku harus yang seperti dirinya “gerutu luhan membuat tawa jiyeon meledak

Yak yak yak! Keumanhae! “kesal luhan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah jiyeon

Ne ne ne~ “jawab jiyeon masih berjuang mengendalikan tawanya

Neo gwaenchana? “Tanya luhan kembali serius

Ne oppa, gwaenchana, waeyo? “bingung jiyeon

Anhiyo, oppa hanya ingin memastikan “ucap luhan segera duduk di pinggir tempat tidur jiyeon

Cklleeekk

Eoh? Luhan-ah kau disini “seru taehee saat membuka pintu kamar jiyeon

Ne imo “jawab luhan dengan senyum manisnya. Berbeda dengan jiyeon, yeoja manis ini terkejut dengan kehadiran ommanya

Kajja kita ke rumah sakit sekarang “ajak taehee membuat jiyeon murung, namun segera ia tepis dan mengambil jaketnya. Luhan yang melihat hanya bisa menghembuskan nafasnya lesu

Oppa, kajja “ajak jiyeon tersenyum pada luhan. Namja itu mengangguk dan segera menggandeng jiyeon keluar kamar

Oppa, unnie~ “panggil jiyeon begitu melihat chanyeol dan hyomin sudah menunggu mereka di ruang tengah

Eoh?! Kajja jiyeon-ah “ajak hyomin berusaha mengalihkan perasaan bersalahnya lagi

Ne unnie, kajja! “jawab jiyeon riang, hyomin hanya bisa tersenyum melihatnya, ia sangat ingin semua itu dihentikan

Yeolli-ah! Kajja “ajak luhan begitu menyadari chanyeol hanya tersenyum sedih menatap noona dan yeodeongsaengnya itu

===

Jiyeon berjalan pelan sambil mendorong kursi roda hyomin yang juga di bantu dokter lee, kearah chanyeol, luhan dan kedua orangtuanya yang menunggu di depan ruang donor darah. Ia tersenyum ketika mereka menatap ke arahnya dan hyomin.

Hyomin-ah gwaenchana? “Tanya taehee dengan raut panik

Ne omma, gwaenchana “ucap hyomin melirik jiyeon yang hanya tersenyum

Kajja, kita pulang “ucap taehee lagi mengambil alih kursi roda hyomin

Dokter lee, kamsahamnida “ucap yoochun sambil melirik jiyeon, yeoja itu hanya diam dan sesekali mengerjap-ngerjapkan matanya, membuat yoochun kebingungan

Jiyeon-ah kajja “ajak chanyeol berusah meraih tangan jiyeon

Uhhukk uhhukkk

Hyomin?!! HYOMINN!! “pekik taehee membuat chanyeol dan luhan yang tadinya juga menatap jiyeon langsung berlari kearahnya, begitu juga dokter lee dan yoochun. Sementara jiyeon, ia hanya berdiri dengan raut kebingungan.

Seakan sedang bermimpi, jiyeon merasa segala yang ada di sekitarnya, bahkan teriakan panik dan kegaduhan keluarganya, menjadi begitu kabur.

Ia menggerakkan bola matanya tak tentu arah saat mendengar suara chanyeol yang memanggilnya dari jauh untuk menyusul mereka menuju ruang ICU. Namun, keadaan yang begitu sesak bagi jiyeon, membuatnya hanya mampu menatap kearah oppanya

Oppa~ “panggilnya lemah

Bruukk

Jiyeon-ah!!! “pekik chanyeol yang memang sedari tadi terus menatap jiyeon, walau tubuhnya bergerak membantu sang appa yang menggendong hyomin

Luhan yang masih panik dengan keadaan hyomin, begitu terkejut saat melihat jiyeon pingsan

Ommo! Jiyeon!! “luhan dengan panik berlari bersama chanyeol yang sudah lebih dulu menolong jiyeon

Dokter lee yang juga berjalan cepat sambil meminta para suster menyiapkan ruangan menatap kaget kearah jiyeon, ia memandang yoochun dan taehee yang bahkan tak menyadarinya

Dokter lee membuka cepat pintu ruang ICU dan yoochun langsung membaringkan hyomin

Ia membutuhkan donor cairan sumsum tulang lagi “ucapnya dengan tatapan khawatir, bukan hanya karena hyomin, namun juga jiyeon

Ne! Jiyeon! Oppa di mana ji…”perkataan taehee terhenti begitu melihat chanyeol dan luhan, dengan mata memerah serta nafas memburu, berdiri di depan pintu

Chanyeol menatap marah pada ketiganya, ia mengeratkan gendongannya pada jiyeon dan membawanya masuk. Yoochun, taehee dan dokter lee tak mampu berkata apa-apa saat tatapan marah chanyeol, diberikan pada mereka.

Aku akan memeriksanya “ucap dokter lee kaku, ia tahu keadaan saat ini begitu kacau

===

Chanyeol dengan mata memerah menahan tangis dan marah, berdiri menatap lurus ke depan. Sejak 30 menit lalu, ia terus menatap marah pintu ruang ICU, di mana kedua saudarinya berada.

Luhan tak jauh berbeda, ia menatap kosong kearah depan. Masih terngiang di benaknya kejadian beberapa saat lalu. Ia pun begitu ingat bagaimana chanyeol berlari panik menghampiri jiyeon.

Seketika air mata pun mengalir, luhan tak tahu harus memihak pada siapa. Ia menginginkan keselamatan keduanya, juga menginginkan senyum dan tawa terlukis di wajah namdongsaengnya, park chanyeol.

Sementara itu, taehee kembali murung, begitu banyak masalah yang mengganggu pikirannya. Yoochun hanya memandang sedih taehee dan memeluknya, dipandangnya chanyeol dan luhan yang berdiri tak jauh dari pintu ruang ICU.

Perasaan bersalah kembali menggerogotinya, tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia kembali mengingat kejadian beberapa tahun lalu

Flashback on

Kanker? “kaget taehee begitu dokter umum yang ia datangi untuk memeriksa hyomin menyarankannya untuk mengunjungi dokter spesialis kanker

Ne, anak anda menunjukkan tanda-tanda adanya kanker “ucapnya membuat taehee panik, begitu juga yoochun yang menggendong hyomin kecil

Annyeonghasimnika tuan nyonya park “sapa seorang dokter

Ne, annyeonghasimnika “balas keduanya memperbaiki duduk mereka, merasa begitu tegang akan hasil pemeriksaan hyomin

Kami telah melakukan pemeriksaan, berdasarkan hasil, Park hyomin memiliki leukimia akut “ucap sang dokter perlahan

Leukimia? “gumam taehee cemas

Ne, kanker “ucap sang dokter membuat taehee dan yoochun terkejut bukan main

Taehee dengan cemas menatap hyomin yang saat itu berusia 2 tahun menjalani operasi, melihat jarum dan alat bedah yang menyentuh hyomin begitu menyayat hatinya

Aku tak akan membiarkannya meninggal “ucap taehee saat dirinya dan yoochun menunggu hyomin yang masih dalam pemeriksaan setelah operasi

==

Mianhae keunde, kalian tidak memiliki kecocokan seratus persen dengan organ tubuh hyomin, chanyeol pun begitu “ucap dokter lee membuat taehee kembali menangis

Eotheokhae~!! Oppa~ eotheokhae? Uri hyominnie~ “tangis taehee membuat yoochun memeluknya

Dengan tatapan ragu, dokter lee memandang mereka dan angkat bicara

Keunde kita bisa menolongnya “ucap dokter lee memberi secercah harapan bagi keduanya

Aku memiliki pendapat, keunde ini bukanlah hal yang diijinkan pihak rumah sakit “ucap dokter lee ragu

Seringkali saudara tidak memiliki kecocokan seratus persen, namun beberapa memiliki kecocokan. Apa kalian bersedia memiliki seorang anak lagi? “tanya dokter lee membuat keduanya terkejut

Darah tali pusar akan menjadi donor yang paling efektif untuk pengidap leukimia “jelas dokter lee memandang taehee yang menyimak dengan serius

Keunde bagaimana kau tahu ia akan cocok dengan hyomin? “tanya taehee

Kita bisa memastikannya, dengan diagnosis genetik, hasilnya akan 100 persen sama “ucap dokter lee membuat taehee tersenyum namun berbeda dengan yoochun yang menatap datar dokter lee

Anak pendonor? “ucap yoochun kesal

Ini bukan hal yang disarankan, aku pun secara resmi tak bisa merekomendasikannya “ucap dokter lee lagi

Geure, kami akan melakukannya “ucap taehee membuat yoochun harus menahan kesal

Kita harus mencobanya “ucap taehee memaksa

===

Yaeppo~ “ucap beberapa yeoja yang adalah saudara taehee dan yoochun saat melihat bayi taehee, park jiyeon

Ne, ia begitu manis seperti ommanya “ucap seorang namja paruh baya

Appa keumanhae~ “ucap taehee yang hanya tersenyum dalam rangkulan yoochun

Kau tahu, aku rasa malaikat kecil ini memang sengaja datang untuk memberi kebahagiaan pada kalian taehee-ah”ucap sang appa lagi membuat taehee dan yoochun terdiam

Relakan hyomin jika sudah saatnya, biarkan jiyeon mengganti posisinya sebagai putri kalian “ucap saudari yoochun

Noona “sergah yoochun, ia menyadari genggaman tangan taehee yang mengerat

A-aku ingin istirahat “ucap taehee memejamkan matanya membuat anggota keluarga lainnya mengerti dan segera keluar

Flashback off

Mereka akan baik-baik saja “gumam yoochun memeluk erat taehee

Hyung~ aku ingin mereka selamat, apa aku serakah? “gumam chanyeol sedih, air matanya kembali mendesak keluar

Anhiyo chanyeol-ah, i-itu memang yang seharusnya “ucap luhan, ia pun resah, bahkan untuk menenangkan chanyeol pun ia tak bisa

Dokter lee?! “panggil taehee, mereka berlari mendekat begitu juga chanyeol dan luhan

Tenanglah, jiyeonnie, ia kelelahan dan saat mendonor ia tidak dalam kondisi baik, dan akhirnya pingsan. Ia baik-baik saja sekarang “mendengar itu chanyeol dan luhan menghela nafas lemah

Hyomin? “tanya taehee

Bisa kita bicara sebentar? “ucapnya mendapat anggukan yoochun dan taehee. Mereka segera pergi menuju ruang dokter lee

Chanyeol dan luhan hanya menatap kilas ketiganya, mereka segera mengikuti para suster yang memindahkan jiyeon serta hyomin ke kamar rawat

Oppa? “panggil jiyeon. Chanyeol dan luhan langsung menghampirinya

Ne? Jiyeon-ah oppada~ “ucap chanyeol memeluk jiyeon, ia begitu khawatir akan dongsaengnya ini. Luhan yang berada di belakang chanyeol hanya tersenyum melihat jiyeon yang menatapnya

===

Donor ginjal harus segera dilakukan jika ingin hyomin selamat “ucap dokter lee ragu saat mengingat jiyeon

Kapan akan dilakukan? “tanya taehee dengan mata sembab tanpa memandang dokter lee

Yoochun yang mendengarnya terkejut, ia memandang taehee dan berusaha membujuknya

Wae oppa? Bukankah ia memang dipersiapkan untuk ini?!!! “geram taehee dengan kondisi kacau, begitu terlihat ia sangat tertekan, mata sembab juga wajahnya yang semakin tirus karena memikirkan keadaan keluarganya

Ne aku tahu, keunde sekarang berbeda, ia tetap anak kita “bujuk yoochun

Oppa!! Sejak awal ia dipersiapkan untuk ini! Ia tak akan ada jika bukan karena hyomin! “ucap taehee, ia terlalu lelah untuk berdebat

Kapan akan dilakukan?! “seru taehee memandang dokter lee

1 minggu lagi, 1 minggu adalah batas maksimal “ucap dokter lee ragu memandang yoochun yang terlihat enggan mendengarnya

===

Rumah sakit, next day

Jiyeon yang sudah lebih baik diijinkan pulang, berbeda dengan hyomin yang masih harus menjalani perawatan di rumah sakit hingga besok siang. Dokter lee juga hyomin meminta taehee, yoochun, luhan, chanyeol dan jiyeon untuk pulang dan tak perlu menemaninya di rumah sakit. Kelimanya menurut dan segera pulang siang itu juga.

Persiapkan dirimu untuk operasi minggu depan “ucap taehee menghentikan canda tawa ketiganya saat makan malam

Yoochun yang mendengarnya terkejut, taehee bahkan belum membicarakan masalah itu lebih lanjut dengannya.

TO BE CONTINUE

annyeong….

Angeljypark kembali…

mian kalo ceritanya baperin mulu keke

ini dia chapter 3 yang semoga ga baperin readersdeul kekeke

semoga kalian suka…

kamsahamnida #deepbow

 

 

 

34 responses to “[CHAPTER-PART 3] The Reason I Life

  1. Tetep aja nangis tiap baca ni ff, ya ampun seenggaknya harus ada yg di korbanin jangan dua”nya menderita kasian.. Jiyeon juga kan anak kandung mereka, tahee kok gitu sih tanpa pikir panjang pula setidaknya ada gitu rasa khawatir sama jiyeon..

  2. Astaga taehee walau bagaimanapun Jiyeon anakmu. Mskipun mmg awalnya mmg hnya demi hyomin. Jadi kesal sama taehee bagaimana bisa dia begitu trhdap darah dagingnya sndiri.
    Percayalah nnti malah akan menyesal ketika kehilangan. Klo gini mnding sad ending aja. Biar taehee menyesali akan keegoisannya. Biar dia bisa lebih menghargai yang masih ada.
    *emosiiii*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s