[CHAPTER-PART 2] The Reason I Life

The Reason I Life

The Reason I Life

Written by Angeljypark

Park Jiyeon – Park Chanyeol – Park Hyomin – Xi Luhan

Family – Sad – Chapter

===

The Reason I Life

 

Previous story, part 1

Kebahagiaan keluargaku adalah yang utama.

Pelukan hangat appa dan omma adalah dambaan kami.

Kesehatan noona adalah harapan kami.

Dan keselamatan jiyeon adalah permohonanku.

–Chanyeol-

===

The reason I Life

Suara tawa kembali menghiasi acara makan malam keluarga park. Chanyeol berhasil membuat appa dan ommanya juga hyomin tertawa dengan lelucon-lelucon yang ia buat.

Bwahahaha chanyeol-ah neo jinja! “ucapan sang appa tentu membuat chanyeol senang, ia merasa begitu akrab dengan sang appa. Ia pun menatap jiyeon yang duduk di depannya, mereka tersenyum bersama, namun chanyeol segera menghentikan senyumannya saat merasa ada yang aneh dengan jiyeon.

Jiyeon yang merasa ditatap mengalihkan perhatiannya pada hyomin yang duduk di sampingnya, membuat chanyeol ikut mengalihkan pandangannya.

Dan acara makan malam mereka berakhir dengan canda tawa, semuanya berkat chanyeol, namja tinggi yang begitu mendambakan saat-saat ini.

===

Jiyeon terus memegang perut bagian kirinya, ia sesekali meringis namun segera tersenyum

Aku berhasil lagi “gumamnya lirih saat tak merasakan salah satu tulang rusuk kirinya

Sudah dua hari berlalu, wae aku masih merasa memiliki rusuk disini keke “kekehnya menyiapkan buku hariannya

Haah~ aku melewatkan dua hari “keluh jiyeon saat melihat tanggal terakhir ia menulis, yaitu malam sebelum operasi dilakukan

Tok tok tok

Ne~ oppa masuklah “seru jiyeon, ia tahu siapa itu dari caranya mengetuk pintu

Yeonie-ah, gwaenchana? “Tanya chanyeol menyembulkan kepalanya dari balik pintu, di saat bersamaan, jiyeon pun menutup kembali buku hariannya

Ne oppa, nan gwaenchana, unnie eotte? “tanyanya, ia yakin chanyeol baru saja menemui hyomin

Ia baik, baru saja istirahat, omma menemaninya “ucap chanyeol dan keduanya pun berusaha tersenyum, walau mereka mampu merasakan perasaan satu sama lain

Neo jinja gwaenchana? “Tanya chanyeol lagi sambil duduk di tepi tempat tidur jiyeon, menatap jiyeon yang duduk di kursi belajarnya

Ne oppa, nan gwaenchana, jinjayo “ucapnya tersenyum dan mendudukan dirinya di sisi kanan chanyeol

Jinja? Geure aku percaya, berhentilah dari kelas taekwondo, kau akan membahayakan dirimu “pesan chanyeol

Ne oppa, aku akan berhenti, aku tak ingin ada yang rusak saat unnie membutuhkannya nanti “ucap jiyeon diselingi tawanya, berusaha membuat lelucon

Keumanhae! Berhenti berkata seperti itu! Oppa tak menyukainya! “bentak chanyeol menatap tajam jiyeon yang langsung menunduk

Mi-mianhae oppa, k-keunde bukankah itu benar? “ucap jiyeon pelan dengan suara tertahan, ia kembali menatap chanyeol, yang terkejut meliht air mata jiyeon

Ji-jiyeon-ah “panggil chanyeol membuat tangis jiyeon pecah

Oppa, aku takut~! Na eotheokhae?! Setiap omma mengatakan untuk bersiap aku selalu takut~ hiks hiks aku selalu ingin menolong unnie bahkan jika harus memberikan seluruh anggota tubuhku, keunde akupun menginginkan perhatian omma, aku berharap ia akan mengatakannya dengan lembut padaku dan juga mengkhawatirkanku oppa~“tangis jiyeon, melihat ini chanyeol pun tak mampu menahan air matanya, ia ikut menangis

Mianhae jiyeon-ah mianhae! Mianhae oppa tak bisa melindungimu, tak bisa melakukan apapun untukmu! Mianhae “ucapnya memeluk jiyeon yang terus menangis

O-ommo “seruan jiyeon berhasil mengejutkan chanyeol, ia mengusap air matanya dan melihat keadaan jiyeon yang berada dalam pelukannya

Gwaenchana? Jiyeon-ah? “panggil chanyeol

Ne oppa, nan gwaenchana, belum terbiasa saja “ucap jiyeon memegang perut bagian kirinya, menutup sebentar matanya membuat aliran air mata kembali mengalir

Jinja? Geure, tidurlah “ucap chanyeol pelan, berusaha menghentikan tangisnya

Eoh! Jaljayo oppa “ucap jiyeon saat chanyeol mengecup keningnya

===

Pagi hari_Libur sekolah

Hei! Kalian tahu?! “ bisik chanyeol ketika mereka, hyomin, jiyeon dan dirinya, sedang menonton acara televisi saat appa dan omma mereka sudah berangkat kerja

Mwoji? “ucap jiyeon sambil memeluk lengan kanan hyomin yang berada ditengah-tengah keduanya

Luhan hyung!! Noona, jiyeon-ah kalian mengingatnya kan? “ucap chanyeol lagi mendapat anggukan keduanya

Eoh! Waeyo? “ucap hyomin mendapat anggukan setuju jiyeon

Ia akan pindah kemari!! “seru chanyeol senang sambil menghentak-hentakkan kakinya, membuat sofa yang mereka duduki bergerak naik turun

Jinja!!! Ommo!! “seru jiyeon terkejut bukan main

Ck! Igeo bwa! Jiyeon-ah igeo bwa! “ucap hyomin dengan nada menggoda menunjuk chanyeol

Eoh unnie waeyo? “bingung jiyeon

Ia seperti akan bertemu belahan jiwanya saja “ucap hyomin santai menghentikan kegirangan chanyeol

Yak noona!! “pekik chanyeol

Bwahahaha “hyomin tertawa puas, ia tau betapa chanyeol dan luhan begitu dekat dan selalu lengket seperti lem

Hahaha majayo unnie, oppa bahkan terus menangis saat luhan oppa pergi ke cina “sambung jiyeon

Yak! Keumanhae! “kesal chanyeol langsung berdiri menuju dapur

Hahaha yak! Dongsaeng-ah! “pekik hyomin yang terus tertawa melihat tingkah chanyeol begitu juga jiyeon

===

2 hari kemudian

Seperti yang diucapkan chanyeol, luhan kembali menginjakkan kakinya di korea, dan akan tinggal bersama mereka. Chanyeol begitu senang, chingu sekaligus hyungnya ini akan tinggal bersama dengannya.

Ommo!! Luhan semakin tinggi saja! “pekik taehee semangat melihat luhan yang berjalan dari arah pintu kedatangan internasional

Sementara itu, hyomin yang duduk di kursi roda dengan jiyeon yang membantu mendorong, tersenyum senang melihat sepupu mereka itu, sedangkan chanyeol, ia bahkan tak berhenti tersenyum sejak pagi ia bangun dan bersiap menjemput luhan.

Yaaakk!! Hyuuung~~ “pekik chanyeol membuat taehee dan yoochun hanya bisa menggelengkan kepala mereka, tak bisa di pungkiri, mereka begitu mengetahui bagaimana chanyeol sangat menyayangi luhan

Luhan yang mendengar suara berisik chanyeol langsung tertawa, dan dengan setengah berlari sambil menggeret kopernya, ia menghampiri mereka

Annyeonghasimnika samcheon, imonim! “ucapnya langsung membungkuk hormat pada yoochun dan taehee

Ne! aigoo~ kau pun semakin tampan! Kajja! Kita pulang! Imo akan membuatkan makanan lezat untukmu! “ucap taehee senang sambil mengambil alih kursi roda hyomin, membuat jiyeon sedikit terkejut dan terdorong kesamping.

Melihat itu, luhan segera menoleh pada chanyeol, ia kembali bingung saat chanyeol menunjukkan wajah murung dan dengan segera tersenyum menggandeng jiyeon.

Luhan yang tak mengerti apa pun selain penyakit hyomin hanya mengamati keluarganya itu, dan memilih berjalan di sebelah chanyeol yang sejak tadi menggandeng jiyeon.

Hyung! Biar ku bantu “ucap chanyeol menyadarkan luhan yang masih berkutat dengan pikirannya

Ne gomawoyo chanyeol-ah~ “ucapnya beralih menatap jiyeon yang menurutnya juga terlihat murung seperti chanyeol

Hei~ “sapa luhan menyenggol pelan lengan kiri jiyeon

Eoh? W-waeyo oppa? “bingung jiyeon menatap luhan yang tersenyum padanya

Anhiyo, gwaenchana! Hanya ingin menyapamu, Kau bahkan terlihat biasa saja saat melihatku, berbeda dengan namja jerapah itu “ucap luhan berpura-pura kesal sambil menunjuk chanyeol yang berada di depan mereka dengan dagunya

Keke mianhae oppa, keunde kami sangat menunggu kedatanganmu, setidaknya chanyeol oppa akan memiliki chingu “ucap jiyeon kembali menatap sendu kearah depan, membuat luhan kembali mengerutkan dahinya

Luhan mengikuti arah pandang jiyeon, ia melihat taehee yang sedang mengeratkan selimut di tubuh hyomin dan segera membuka pintu mobil serta yoochun yang segera membantu hyomin masuk ke mobil

Aku harap unnie akan baik-baik saja, setidaknya ia bisa mengenakan pakaian yang ia inginkan saat keluar rumah “gumam jiyeon terus menatap keluarganya itu dengan pandangan sendu

Ia akan baik-baik saja “ucap luhan membuat jiyeon tersenyum dan mengangguk

Ne, unnie akan baik-baik saja “ucap jiyeon memegang perut kirinya

Apa kau sakit? Sejak tadi kau memegang perutmu terus “bingung luhan

Eoh? Anhiyo oppa, hanya merasa aneh saja “ucap jiyeon membuat luhan semakin bingung, namun saat namja ini ingin bertanya, jiyeon segera berlari menuju mobil yang memang sudah dekat dengan mereka

Hyung! Palli! “teriak chanyeol yang kembali ceria, membuat luhan tersenyum

===

Seperti malam-malam sebelumnya, suasanan makan malam keluarga park dipenuhi canda tawa, jika biasanya chanyeol akan menguras otak untuk membuat lelucon, kali ini tanpa ia sadari, seluruh keluarga tertawa akibat perkelahian kecil dirinya dengan luhan.

Luhan terus-terusan mengejek chanyeol yang dulu selalu lengket padanya dan menangis sesenggukkan saat tahu dirinya akan pindah ke cina.

Luhan-ah mianhae, untuk malam ini kau tidur bersama chanyeol, gwaenchana? “Tanya yoochun

Ne samcheon, gwaenchanayo, asal namja jerapah ini tak memelukku seperti guling, tak akan ada masalah “ucap luhan santai mendapat tatapan laser chanyeol

Wooo~~ “seru hyomin dan jiyeon bersamaan, membuat mereka semua tertawa kecuali chanyeol yang sudah semerah tomat

Ckckckc! Ternyata kau benar-benar menyukai luhan, deongsaeng-ah “seru hyomin yang langsung melakukan tos dengan jiyeon

Bwahahaha kalian ini aigoo~ “ucap yoochun saat berhasil mengontrol tawanya

===

Luhan yang terbiasa bangun pagi segera bangun begitu matanya terbuka, diliriknya jam milik chanyeol yang berada di nakas

Masih pukul 6 rupanya “gumamnya segera bangun dan membersihkan diri

Luhan yang tak tahu harus melakukan apa memilih keluar menuju halaman belakang, berniat menikmati udara pagi yang menyejukkan.

Eoh?!! Jiyeon-ah? “panggil luhan heran saat melihat jiyeon, yang sama seperti kemarin, memegangi perut bagian kirinya sedang duduk sendiri di ayunan

Eh? oppa?! Kau sudah bangun? Pagi sekali “ucap jiyeon segera memeluk bantal sofa yang ada di ayunan

Ck! Kau pikir aku ini oppamu yang bahkan tak bergerak sama sekali meski aku meneriakkinya? “gerutu luhan membuat jiyeon tertawa

Bwahahaha ne! chanyeol oppa susah sekali dibangunkan, melihatnya bangun pagi saja sudah sebuah keajaiban “ucap jiyeon lagi bersamaan dengan luhan yang duduk di sampingnya, dan ikut memeluk bantal

Haaahhh~ aku bosan, hei bagaimana kalau kita ke taman? Setelah namja jerapah itu bangun dan juga jika imo dan samcheon mengijinkan hyomin noona keluar “ucap luhan tersenyum senang dan di balas anggukan lucu jiyeon

Ne! kita harus ke taman, aku ingin menikmati liburanku yang tinggal seminggu ini dengan baik!! Saat masuk nanti aku akan sendirian, chanyeol oppa akan melanjutkan kuliahnya, haaah~~ pasti sekolah akan sangat sepi tanpanya “keluh jiyeon membuat luhan gemas

Ck! Kau ini! Memangnya tak cukup bertemu chanyeol di rumah? Kau seperti takut kehilangannya saja “canda luhan membuat jiyeon tersenyum

Hehe ne oppa, aku…memang takut….takut tak bisa melihat mereka lagi “ucap jiyeon memelan membuat luhan menoleh bingung padanya

Mwo? Kau mengatakan apa? “bingung luhan

Anhiyo oppa, oppa kajja, sepertinya hyomin unnie sudah bangun “ucap jiyeon segera berdiri meninggalkan luhan yang kembali merasakan keanehan dari keluarganya itu

===

Seperti keinginan luhan pagi tadi, keempatnya, hyomin, luhan, chanyeol dan jiyeon, sudah berada di taman. Luhan dan chanyeol terus berlari memberi makan burung-burung yang ada di sana, sedangkan jiyeon dan hyomin memilih duduk di bangku taman yang tak jauh dari kedua namja itu.

Jiyeon-ah ini menyenangkan sekali bukan? “ucap hyomin yang berbalut syal, jaket dan selimut tebal dengan wajah pucat, pada jiyeon yang duduk di sebelah kirinya

Ne unnie, ini sangat menyenangkan “ucap jiyeon, sesekali ia terkekeh melihat luhan yang melempar makanan burung kearah chanyeol

Aku berharap waktu akan berjalan lebih lambat sekarang, aku… aku begitu menyukai saat-saat ini, hanya ada kita “ucap hyomin membuat senyum jiyeon berubah sendu, ia menunduk sebentar dan mengangkat kembali wajahnya dengan senyum manis

Ne! Aku pun mengharapkan itu unnie, saat seperti ini akan selalu kuingat “ucap jiyeon meletakkan tangannya di dada kirinya, merasakan degup jantung yang berdetak tenang disana

Tak jauh dari mereka, chanyeol yang sejak tadi sibuk mengomeli luhan menatap keduanya, ia dapat merasakan kesedihan kedua saudaranya itu, apalagi jiyeon yang sudah memegang dadanya, ia begitu tau alasan jiyeon melakukan itu, melihat keduanya membuat chanyeol seketika murung dan berbalik membelakangi mereka, menyembunyikan buliran air mata yang mendesak keluar.

Luhan yang sejak tadi terus tertawa dan berencana melempar chanyeol dengan makanan burung menghentikan tawanya, ia menatap chanyeol bingung dan beralih pada kedua saudarinya itu, ia tak begitu memahami situasi saat ini, namun melihat tingkah ketiganya ia yakin ada sesuatu yang menganggu mereka.

Yaakk!! Kalian berdua!! Cepat kemari! Apa menyenangkan duduk di sana dan melihatku terus dimarahi jerapah ini eoh?!! “pekik luhan membuat ketiganya menoleh kaget

Jiyeon dan hyomin tertawa mendengar itu dan segera berdiri, jiyeon membantu hyomin berjalan dan mengeratkan jaket hyomin. Chanyeol yang melihatnya segera menghampiri mereka, dan ikut menggandeng hyomin. Luhan yang melihatnya tersenyum, ia tak menyangka akan melihat momen manis seperti ini

===

2 hari kemudian

Keluarga park kembali dikejutkan dengan hyomin yang melemah. Malam ini mereka kembali panik saat hyomin tak henti-hentinya memuntahkan darah. Taehee dengan panik menggenggam tangan putrinya itu saat ambulance datang untuk membawa hyomin.

Jiyeon dan chanyeol menatap hyomin dengan panik, terkejut dan takut. Mereka mengkhawtirkan saudara mereka itu, jiyeon bahkan menitihkan air matanya. Luhan yang untuk pertama kalinya setelah 8 tahun, menyaksikan kembali bagaimana hyomin harus berjuang. Ia pun tak kalah panik saat melihat itu, ia hanya bisa terdiam dan berdiri di samping jiyeon yang sesenggukan

Yoochun yang begitu panik tak menghiraukan ketiganya, ia segera masuk ke mobil untuk menyusul ambulance yang membawa hyomin juga taehee yang menemaninya.

Palli!! “teriak yoochun panik pada ketiganya dan mereka pun berlari tanpa membawa mantel, disaat udara begitu dingin, masuk ke dalam mobil dengan wajah memerah akibat tangis, perasaan sedih yang menyatu dengan hawa dingin menusuk tulang.

Yoochun langsung memeluk taehee saat mereka tiba di rumah sakit, sedangkan chanyeol, ia terus menggandeng jiyeon, ia mengkhawatirkan hyomin, namun ia pun mengkhawatirkan jiyeon, karena jika keadaan genting seperti ini, jiyeon harus bersiap untuk menjalani donor

Jiyeon-ah! “panggil seseorang yang begitu dikenal jiyeon juga anggota keluarga lain, kecuali luhan

Jiyeon menoleh dengan pandangan terkejut, ia tahu apa maksud panggilan itu. Dengan ragu jiyeon melepas genggaman tangan chanyeol yang tak rela melepasnya. Luhan yang bingung hanya memandangi keduanya, dipikirannya saat ini adalah mengapa mereka memanggil jiyeon dan bagaimana dengan hyomin

Dokter lee, selamatkan hyomin “ucap taehee kalang kabut mendapat anggukan dokter lee, berbeda dengan jiyeon yang semakin menundukkan kepalanya menahan sedih juga kecewa akan ucapan sang omma

Kajja jiyeon-ah “ucap dokter lee

Ne! “balasnya singkat dan menoleh pada chanyeol yang memandangnya khawatir. Jiyeon begitu berterima kasih karena chanyeol masih memperhatikannya. Ia memberikan senyum termanisnya berusaha menenangkan hati chanyeol

Tenanglah, kita hanya akan melakukan donor darah. Keunde, apakah kau siap jika mendonorkan cairan sumsum tulang pada hyomin? Ia membutuhkannya segera. Ini akan menyakitkan keunde akan hilang dalam beberapa hari “jelas dokter lee kembali membuat jiyeon gugup

Gwaenchana, bukankah kita sudah sering melakukannya? Aku hanya gugup, keunde aku tak keberatan. Selama unnie selamat, ini tak seberapa “ucap jiyeon membuat dokter lee terdiam

Penyesalan terlihat jelas dari manik matanya, namja paruh baya ini tak menyangka bahwa jiyeon akan setulus ini. Karena sarannya bertahun-tahun lalu jugalah jiyeon lahir.

===

1 jam berlalu, chanyeol tak mampu duduk dengan tenang, ia mengkhawatirkan keduanya, hyomin dan jiyeon, ia terus berdoa untuk keduanya. Sementara luhan yang sejak tadi berkutat dengan pikirannya akan kemana perginya jiyeon pun melakukan hal yang sama, ia terus mendoakan keselamatan hyomin, ia tak ingin hal buruk terjadi pada noonanya itu.

Saat itu pula pintu ruang operasi terbuka, keluarlah beberapa suster sambil mendorong ranjang hyomin membuat yoochun dan taehee langsung berlari mendekat tanpa menghiraukan chanyeol yang mereka tabrak

Chanyeol terdiam ketika tanpa sengaja sang appa menabraknya, membuatnya hampir saja terjatuh, namun ia berusaha mengerti, berusaha mengerti bahwa mereka hanya sedang panik

Luhan yang melihatnya pun terkejut, pasalnya untuk kedua kalinya ia melihat ekspresi murung itu, ekspresi murung yang chanyeol tunjukkan saat di bandara 3 hari lalu. Sementara luhan terus berkutat dengan pikirannya, beberapa suster kembali keluar dengan mendorong ranjang lainnya membuat luhan membelalakan matanya

Akhirnya ia tahu, ia tahu alasan jiyeon menghilang sejak tadi, karena jiyeonlah yang mendonorkan darah serta cairan sumsum tulang pada hyomin

Jadi, kali ini jiyeon yang mendonor? “tanya luhan pada chanyeol, namja yang berjalan dengan wajah khawatir sambil menggandeng tangan jiyeon

Ne, kali ini….kali ini jiyeon “ucap chanyeol lemah. Ia tidak dalam kondisi baik untuk menjelaskan semuanya

===

Jiyeon tersenyum begitu ia membuka matanya, ia dapat melihat dua namja dengan paras imut namun terlihat kacau itu memandangnya khawatir

Oppadeul~ annyeong “sapanya parau

Jiyeon-ah neo gwaenchana? Kau perlu sesuatu? “Tanya luhan bersamaan dengan chanyeol yang mengecup kilas pipi jiyeon sebelum pergi memanggil dokter

Ne, nan gwaenchana, unnie otteyo? “tanyanya pelan

Gwaenchana, hyomin unnie sekarang bersama samcheon dan imo, ia masih belum sadar, keunde ia sudah lebih baik “jelas luhan membuat jiyeon terdiam, ia tak masalah jika chanyeollah yang selalu ia lihat setelah operasi, ia bahkan senang melihat oppanya itu, namun untuk sekali saja, ia begitu ingin melihat wajah orangtuanya begitu ia sadar.

Ah,, melegakan “ucapnya pelan memandang sendu luhan yang masih menatap khawatir padanya

Bagaimana perasaanmu? Ini pertama kalinya kau mendonor pada noona? “ucap luhan yang berangsur-angsur lega sambil duduk di sisi kanan jiyeon

Ne? Awalnya aku gugup, keunde tidak lagi “ucap jiyeon tanpa mau menjawab pertanyaan kedua luhan

Geureyo “ucap luhan sambil tersenyum pada jiyeon yang juga membalasnya, bertepatan dengan dokter lee yang datang bersama chanyeol

Jiyeon-ah kau sudah sadar?! Geure bisakah kau menggerakkan badanmu? “Tanya dokter lee

Jiyeon berusaha menggerakan tubuhnya namun rasa sakit yang ia rasakan pada pinggulnya

Aarrghhh a-aphayo “ucapnya membuat dokter lee mengangguk

Geure, aku akan menyuntikkan vitamin juga pereda nyeri padamu, keunde aku harus memeriksa pinggulmu “ucap dokter lee sambil meminta seorang suster memegangi jiyeon

Jiyeon-ah ini akan sedikit sakit, bisakah kau menahannya? “Tanya dokter lee mendapat anggukan jiyeon yang juga gugup berbeda dengan chanyeol yang langsung memalingkan wajahnya.

Untuk kesekian kalinya ia akan mendengar pekik kesakitan jiyeon, dan ia begitu marah akan hal itu, keunde ia pun tak mungkin menyalahkan appa dan ommanya atau bahkan dokter lee, mereka semua hanya berusaha menyelamatkan hyomin, begitu juga jiyeon

Luhan yang tak tahu apa-apa pun hanya memandang khawatir jiyeon, setelah mendengar ucapan dokter lee, ia mendadak gugup dan segera menghampiri jiyeon yang sedang dibantu seorang suster untuk tidur menyamping

Kyaaaaaaa aaarrgghhh apphaaaayooo hiks kyaaaaaa!!! “pekikan jiyeon membuat luhan langsung menggenggam tangannya namun seketika ia menyadari perubahan chanyeol, saat ia menoleh, chanyeol telah memalingkan wajahnya dengan mata memerah, tak ingin melihat jiyeon yang kesakitan

Luhan segera menatap jiyeon yang menangis menahan sakit saat dokter lee memeriksa pinggulnya. Luhan pun merasakan betapa sakitnya jiyeon saat melihat wajah memerah serta genggaman tangan jiyeon yang begitu kuat

Chanyeol yang mendengar pun tak mampu menahan tangis, ia segera keluar dan mendapat tatapan bingung luhan serta bersalah dokter lee. Ia menutup cepat pintu dan jatuh terduduk dilorong rumah sakit yang begitu sepi di malam ini.

Ia menangis sambil menundukkan kepalanya, seketika kejadian saat hyomin melemah beberapa jam lalu terngiang dibenaknya, serta wajah gugup dan senyum menenangkan jiyeon beberapa jam lalu ketika bersiap untuk operasi pun muncul.

Ia menangis sesenggukan saat kembali mendengar erangan kesakitan jiyeon, untuk kesekian kalinya ia harus menahan tangis begitu melihat dan mendengar teriakan kesakitan jiyeon.

Namun, untuk kali ini, untuk pertama kalinya, chanyeol tak mampu lagi menahan tangisnya. Penyakit hyomin, sikap appa dan ommanya yang begitu acuh padanya serta jiyeon dan keselamatan jiyeon yang terancam, cukup membuatnya menangis tersedu-sedu layaknya seorang anak kecil.

===

4 hari berlalu, hyomin semakin membaik dan jiyeon pun sudah mampu berjalan tanpa harus merasa sakit pada pinggulnya. Sedangkan chanyeol, ia bisa mengurangi rasa khawatirnya dan berkonsentrasi pada kuliahnya yang akan dimulai besok

Sementara Luhan, ia begitu lega akan hal ini. Ia bersyukur hyomin semakin baik dan tak sepucat dulu, ia pun senang tak harus melihat jiyeon yang sesekali meringis pelan setiap kali ia berjalan.

Setelah makan malam yang menurut luhan cukup menyenangkan itu, ia dengan semangat berjalan menuju kamar chanyeol, berniat menggoda namja yang akan satu kampus dengannya sebentar lagi. Sambil sesekali tertawa membayangkan wajah kesal chanyeol yang berhasil ia goda, ia berjalan cepat melewati kamar-kamar di lantai dua.

Kondisi hyomin sudah membaik, untuk beberapa bulan kedepan tak perlu ada operasi chagi-ah “ucapan yoochun menghentikan senyum luhan, ia berhenti tepat didepan pintu kamar samcheon dan imonya itu.

Keunde oppa, bukankah dokter Lee mengatakan ia membutuhkan ginjal? Bukankah dengan segera mendonorkan ginjal pada hyomin ia akan semakin baik? Bukankah begitu “ucap taehee membuat luhan mengerutkan dahinya, berbagai pertanyaan muncul di benaknya, termasuk apakah sudah ada pendonor ginjal untuk hyomin

Keunde jiyeon dan hyomin, mereka baru menjalani operasi, bahkan sebulan ini sudah dua kali operasi! Bukankah jika melakukan operasi lagi akan membahayakan hyomin? “ucapan yoochun kali ini mengagetkan luhan, ia segera beranjak dari sana dengan segala ingatan yang muncul di benaknya

Luhan-ah sesampainya di korea, jagalah hyomin dengan baik, kondisinya begitu lemah, bantulah chanyeol dan jiyeon untuk menjaga hyomin ne~ “ucap sang omma

Ne omma, geurom! Akan kulakukan “ucap luhan sambil membereskan pakaiannya

Ia baru saja menjalani operasi tulang rusuk 2 hari lalu, omma begitu penasaran dengan pendonor itu, siapa yang kali ini berbaik hati mendonorkan anggota tubuhnya? “ucap sang omma mendapat senyum luhan

Mungkin di korea ada banyak orang yang begitu baik, buktinya setiap hyomin noona membutuhkan donor, selalu ada yang mendonorkannya “ucap luhan lagi mendapat anggukan sang omma

Apa kau sakit? Sejak tadi kau memegang perut kirimu terus “bingung luhan menatap jiyeon

Eoh? Anhiyo oppa, hanya merasa aneh saja “ucap jiyeon masih memegang perut kirinya

Jiyeon-ah! “panggilan dokter lee membuat luhan keheranan

Jadi, kali ini jiyeon yang mendonor? “Tanya luhan pada chanyeol

Ne, kali ini….kali ini jiyeon “ucap chanyeol lemah

Ingatan luhan pun tertuju pada kejadian beberapa hari lalu saat di bandara, saat jiyeon kembali memegang perut kirinya

Seolma! “dengan wajah terkejut dan was-was ia bergumam. Luhan segera menuju kamar chanyeol dan menutup cepat pintu kamar namja itu, membuat sang pemilik sudah bersiap mengomelinya

Yak! Hyung! Bisa ketuk dulu tidak! “bentak chanyeol garang

Jelaskan semuanya padaku! Semua yang terjadi “ucap luhan dengan mata membulat akibat terkejut, ia mendekati chanyeol yang sedang membaca buku di tempat tidur

M-mwo? A-apa yang kau maksudkan hyung? “bingung chanyeol meletakkan buku bacaannya di nakas

Siapa pendonor hyomin noona selama ini? Apa dari orang berbeda atau dari seorang yang sama? “ucapnya membuat chanyeol terkejut bukan main, seakan jantungnya berhenti berdetak sesaat, namja ini bahkan tak mampu berucap

Nugu? Jiyeonnie? “ucap luhan dengan pandangan was-was, bagaimana tidak, hyomin telah melakukan lebih dari 10 kali operasi untuk donor dan puluhan kali donor darah selama 18 tahun terakhir dan jika semua donor yang didapatnya berasal dari jiyeon, tentu gadis manis itu pun akan merasa sakit luar biasa, seperti yang ia saksikan sendiri saat itu.

N-ne hyung, jiyeonlah pendonor tetap hyomin noona “ucap chanyeol menunduk sedih, berusaha menyembunyikan air matanya yang kembali mengalir

Hati Luhan mencelos mendengarnya, ia tak menyangka jika jiyeon adalah pendonor tetap, ia tak mampu membayangkan semua donor yang telah yeoja manis dan sehat itu berikan pada sang kakak.

Bukankah ini akan membunuhnya perlahan? “ucap Luhan sedih, ia masih tak mampu menerima kenyataan pahit ini

N-ne, tentu saja…tentu saja ini akan membunuhnya hyung!! “kesal chanyeol dengan mata sembab membuat Luhan menatap sedih dan khawatir pada namdeongsaengnya ini

Donor darah setiap bulannya, transfusi sel putih, sumsum tulang, pancreas, hati, usus, paru-paru, jaringan sumsum darah, jaringan tulang dan bahkan tulang rusuk kirinya juga cairan sumsum tulang! Ini akan membunuhnya hyung!! Nan…nan arrayo, ia selalu menyembunyikan sakitnya dariku terutama dari hyomin noona, ia bahkan menangis semalaman setelah operasi tulang rusuk! “tangis chanyeol, ia mengetahui semuanya, bahkan tangis pilu jiyeon saat mereka di rumah sakit, saat ia bahkan tak mampu bergerak dan membiarkan dongsaengnya menangis akibat sakit yang ia rasakan

Aku bahkan tak mampu bergerak saat mendengar erang kesakitannya malam itu, aku terlalu takut jika ia melihatku menatapnya sedih, aku menyayanginya seperti menyayangi hyomin noona, aku tak ingin kehilangan keduanya hyung!! “tangis chanyeol tak kunjung berhenti, luhan yang mendengar semuanya tak menyadari air matanya pun berhasil lolos

Ia tak menyangkan rahasia mengejutkan keluarga sepupunya ini, ia tak menyangka yeoja manis yang terlahir sehat itu akan melemah seiring berjalannya waktu. Yeoja manis yang selama ini dikatakan sebagai malaikat kecil oleh sanak saudaranya adalah malaikat penolong yang mengorbankan dirinya sendiri demi keselamatan saudarinya.

Sementara itu…

Jiyeon dengan senyum manis terus membalik lembar demi lembar buku hariannya, buku berwarna coklat dengan motif daun dan beruang kecil di tengahnya itu selalu ia bawa kemana pun, sebagai teman curhat yang setia mendengarnya.

Senyumnya berubah sendu manakala ia melihat tulisannya seminggu lalu, hari dimana luhan mengajak mereka bermain di taman, air matanya mengalir begitu mengingat betapa gembira dirinya serta ketiga saudaranya saat itu.

Aku ingin kembali…aku ingin kembali di saat itu, disaat hanya ada senyuman tanpa ingatan akan kenyataan pedih yang menghantui didepan kita “gumam jiyeon terus menatap sendu tulisannya itu

Jiyeon’s diary, 1 week ago

Hari ini begitu menyenangkan, luhan oppa mengajak kami ke taman, tempat favoritku.

Luhan oppa selalu berhasil membujuk appa dan omma untuk membawa hyomin unnie jalan-jalan, tak sepertiku yang selalu gagal kekeke

Entahlah, melihat kedekatan luhan oppa dengan appa dan omma serta tangan lembut omma yang selalu mengelus kepala luhan oppa dengan sayang, membuatku iri namun juga senang.

Aku iri perlakuan itu tak pernah kudapatkan, aku iri karena chanyeol oppa pun tak mendapatkannya, dan aku senang karena luhan oppa tak mengalaminya.

Saat berada di taman, hyomin unnie mengatakan padaku ia sangat ingin waktu berjalan lebih lambat, dan aku pun menginginkannya, suasana sore tadi begitu hangat, aku selalu ingin merasakannya.

Aku ingin waktu berjalan lebih lama, agar aku dapat membuat banyak kenangan manis bersama mereka. Aku bersedia pergi menggantikan unnie. Selama ini aku sudah menikmati hidupku dengan bebas tanpa rasa takut akan ajal yang bisa menjemputku kapan saja, bahkan ketika aku menutup mata di malam hari. Aku ingin memberikan itu pada unnie. Aku ingin ia bebas melakukan segala yang ia inginkan.

Appa, omma, bisakah kalian mengabulkan satu permintaanku?

Sayangilah chanyeol oppa seperti kalian menyayangi hyomin unnie, chanyeol oppa berhak akan itu, ia oppa yang sangat baik dan juga namdongsaeng yang sangat perhatian.

Bisakah permohonanku ini dikabulkan?

Jiyeon tersenyum menatap isi diarynya, air matanya kembali mengalir dan dengan cepat ia hapus. Ia memasukkan buku hariannya ke laci belajarnya dan segera beranjak ke tempat tidur, menenangkan hatinya yang kembali risau akan masalah keluarganya ini

Tetaplah berdetak untuk kami “ucapnya memegang dadanya merasakan degupan jantungnya di sana dan tersenyum, bersamaan dengan aliran air mata pilunya.

TO BE CONTINUE

Chaa… Angeljypark kembali lagi kekeke

Gomawo buat chingudeul yang udah komen di part sebelumnya, author seneng banget keke

Apalagi aku author baru, rasanya seneng liat banyak yang respon hehe

Nah,,, ini dia chapter duanya, mianhae kalau terlalu panjang atau malah kependekan kekeke

semoga kalian suka

kamsahamnida~ #deepbow

 

 

 

 

 

 

40 responses to “[CHAPTER-PART 2] The Reason I Life

  1. nangis bombay,,segitunya orang tua jiyeon,padahal kurang apa coba jiyeon..udah merasa ni akan sad end…
    jiyeon yg jadi pendonor tetap,tapi tetap saja kasih sayangnya pilih kasih..

  2. daebakk ni ff bikin nangis , feel nya dpet bgt thor .
    sumpah tu eomma appa jiyeon gk punya hati kali ya , jiyeon jd korbannya ..
    apa jiyeon gk berhak bebas ?
    emg hyo sakit apasih ?
    luhan bantuin jiyeon donk😦

  3. Daebaakk.. nih ff makin seru banget.. smpai baper baca.y smpai2 mataku jdi bengkak.. jadi?? selama ini yg menjadi pendonor tetap.y hyomin itu jiyi?? benar2 egois tuh org tua.. sma aja secara perlahan mereka mmbunuh jiyi.. emang jiyi pabrik organ manusia apa?? emang sih jiyi berhati malaikat atau emang dia benar2 malaikat haha aduuuhh thor cepetan yah di lanjutinnya.. mau lanjut baper lagi nihh keren banget ff.y.. FIGHTING!!!^^♡♥

  4. Bingung mau komen apa..yg jelas ff ini bener2 membwa perasaan pembaca berasa ngerasa penderitaan n rasa sakit mereka..chan,jiy..
    Ada aja org tua yg mengorbankan anakx demi keselamatan anakx yg lain bhkn sampai lupa memberi kasih sayang ke mereka.next.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s