[Ficlet] Pick Up Guy

arrival

Kim Myungsoo – Park Jiyeon

| Ficlet – Fluff |

.

composed by,

signat

( was slee12 before)

“Pacar tidak berguna!” 

.

.

.

Vienna Int. Airport
03:46 AM CET 

“Kau tidak kuliah?”

“Kelasku sudah selesai minggu kemarin. Sisa beberapa yang belum ujian. Kau kapan pulang?”

Jiyeon tersenyum sumringah, ingat juga pria sialan itu menanyai kepulangannya, “Besok. Besok aku sampai.”

“Besok?”

“Besok malam,” tak sadar ia mengangguk semangat, padahal jelas lawan di seberang sambungan tak melihat apa yang ia lakukan.

“Oh.”

Hanya begitu? Satu setengah tahun tidak bertemu hanya begitu respon yang ia dapat? Mereka masih pacaran atau bagaiamana sih sebenarnya? Jiyeon mau saja berteriak jengkel -mengumpat bahkan, namun ruang tunggu keberangkatan sudah lumayan penuh dengan penumpang lain dan rasanya memalukan berteriak hanya karena pacar yang  tidak terdengar senang mendapat kabar kepulangan pasangannya.

“Jemput aku besok malam,” seloroh Jiyeon, gemas tak ditambahi sahutan Myungsoo.

“Tidak bisa. Besok malam aku ada latihan.”

Jiyeon mendengus keras. Tentu saja, dari jaman mereka belum pacaran bahkan, latihan dance bisa lebih diprioritaskan ketimbang dirinya. Kadang ia jengah, merutuki diri sendiri kenapa mau saja menjalin hubungan -jarak jauh bahkan dengan laki-laki yang kebanyakan pribadinya seperti air dan minyak dengannya itu. Cinta itu buta, Jiyeon setengah buta dulu, mungkin.

“Ya sudah. Selamat latihan, bodoh!” diakhiri sambungan penuh harap itu dengan tukas kesal. Menaruh ekspektasi pada Kim Myungsoo sama saja seperti berandai biolanya bisa bermain indah sendiri dengan ajaib. Dari skala nol sampai seratus maka kemungkinannya bisa lebih mendekati minus.

“Pacar tidak berguna!” gerutu Jiyeon selang berapa menit tanpa panggilan balik dari Myungsoo.

Dalam diam ia membuat pengingat, untuk mengungkit perihal hubungan mereka sesampainya kembali di Seoul. Mungkin dari pada menguras emosi, membuang tenaga, ada baiknya mengambil jalan sempit untuk dilalui masing-masing.

**

Incheon Int. Airport 
8:32 PM KST

 

Kalau dirasa-rasa, satu setengah tahun hanya seperti segelentir waktu yang tak begitu berarti. Namun satu setengah tahun jauh dari tanah air bagi Jiyeon seperti hampir satu dekade. Terlalu banyak hal yang ia rindukan. Mulai dari jajanan kaki lima hingga aneka sup kesukaan. Minus kekasih bodohnya itu tentu saja. Atau pun ayah ibu yang lebih mendewakan urusan kerja ketimbang keluarga.

“Jun? Kau dimana? Jangan bilang kau masih di rumah?!” Jiyeon segera mencecar adik laki-lakinya yang dititah untuk mengambil alih tugas menjemput delapan belas jam yang lalu.

“Hah? Kau sudah sampai? Kupikir masih tiga jam lagi?”

“Tolol, penerbanganku itu 12 jam, bukan 15 jam!” Lagi-lagi urat jengkelnya ditarik. Padahal ia sudah membayangkan perjalanan pulang dan kasur kamar empuk selama di penerbangan. Tapi adik laki-laki yang kelewat cerdas menghitung itu membuatnya terpaksa menunggu.

“Loh, memangnya Myung hyung tidak ada disana?”

“Myung? Maksudmu Myungsoo? Laki-laki bodoh itu kan si—” kata-katanya mengatung diam karena sang pemilik nama yang baru saja disebut kini bersandar pada tiang pembatas ruang kedatangan, menatap lurus ke arah Jiyeon dari balik kacamata yang entah saja kapan menjadi pelengkap paras.

Wajah Myungsoo yang tampak bosan masih sama. Rambut dengan poni jatuh tak tertata dan wajah yang tampak bosan dengan hal-hal sekitar. Persis seperti Myungsoo dalam ingatannya satu setengah tahun lalu. Myungsoo yang bersandar di samping gerbang sekolah menunggu Jiyeon selesai berkutat di ruang musik lalu segera mengapit lengannya begitu Jiyeon muncul hingga sepanjang jalan pulang, padahal rumah Myungsoo berselisih blok.

Jiyeonn tak bergeser dari tempat. Berdiri satu meter jauh dari Myungsoo. Tak paham apa yang sedang laki-laki itu lakukan. Tak paham apa yang sedang ia rasakan.

Ia kesal. Tapi ia ingin sekali berlari membenamkan wajahnya pada bahu Myungsoo. Ia marah tapi ia menahan diri untuk tidak memoles senyum yang menggelitik. Ia jengkel tapi ia tetap bergeming di tempat, karena Myungsoo lah yang selalu menghampirinya.

“Kenapa berdiri disitu? Memangnya bokongmu tidak pegal duduk begitu lama sepanjang penerbangan?” Myungsoo beranjak dari sandar pembatas, berderap perlahan menghampiri Jiyeon.

“Apa? Kau mau merajuk karena kemarin kubilang aku tidak bisa menjemput?” serunya begitu makin jelas menangkap ekspresi Jiyeon yang sinis. “Memangnya kita ini baru pacaran? Sejak kapan aku rela meninggalkanmu hanya karena latihan sepele?”

Baru beberapa menit namun rasanya Jiyeon sudah menemukan kembali segala yang ia butuhkan. Meskipun dengan wajah tersinggung Myungsoo dan omelnya yang bisa lebih menyebalkan dari pada dosen Jiyeon.

“Ya sudah, marahnya di jalan saja. Aku lapar, belum makan karena menungguimu,” Myungsoo menarik troli dari genggam Jiyeon.

“Dasar bodoh. Pacar tidak berguna,” tubuhnya melingkar lengan pada punggung Myungsoo yang baru akan beranjak. Tak mengubris sekitar dimana ia berada. Punggung hangat yang hiatus ia sandari beratus-ratus hari belakangan.

“Selamat datang kembali tuan putri,” Myungsoo memutar tubuhnya, meraup dekap Jiyeon erat-erat. Membuang gundah keabsenan sosok pemilik sebagian perasaannya tersebut. Menyesap lamat-lamat aroma manis Lilly yang selalu menguar dari Jiyeon.

“Seingatku aku masih ratu. Bukan tuan putri.”

“Ya…. ya ya, terserahmu lah. Aku lapar, nanti saja urusan melepas rindunya. Kau tidur di rumahku malam ini.”

Jiyeon melepas peluknya, lantas menepuk keras tempurung kepala Myungsoo, “Mesum! Kenapa aku harus tidur di rumahmu?”

Myungsoo mengaduh riuh, mengusap kepalanya yang seketika nyeri karena pukulan Jiyeon cukup keras, “Jun dan teman-temannya sedang merayakan proyek mereka. Kau mau tidur dengan sepuluh anak laki-laki mabuk membuat gaduh rumahmu?”

“O-oh.”

Myungsoo mendorong troli, menggeser tungkai menjauh ruang kedatangan, “Mengataiku mesum padahal kau yang memikirkan hal-hal aneh.”

“Enak saja!” balas Jiyeon, tak terima.

“Kau kan sudah sering menginap di rumahku. Kenapa? Kau mau ada ‘apa-apa’-nya kali ini?”

Ganti lengan Myungsoo yang dijadikan sasaran kedua. Dua sisi pipi Jiyeon yang tersembunyi di balik syal semakin terasa hangat. Padahal mereka masih berjalan beriring di dalam gedung bandara.

“Apa-apa kepalamu! Kau tidur saja mendengkur keras, telingaku bisa rusak karena dengkuranmu.”

“Enak saja. Itu kau saja yang mimpi. Aku tidak pernah mendengkur.”

“Kau mendengkur, bodoh.”

“Tidak.”

“Iya.”

“Tidak pernah.”

“Selalu!”

Mempermasalahkan perkara tak penting sepanjang perjalan pulang. Membicarakan kura-kura peliharan Jun, tingkah tak tentu Sungyeol, sahabat Myungsoo, bahkan bibi penjual tteok di depan kampus Myungsoo.

Pribadi Jiyeon memang berbanding terbalik dengan pribadi Myungsoo. Tapi Myungsoo selalu berhasil membuat Jiyeon yang hemat berbicara menjadi ahli mendebat bahkan mengomel, lain waktu mengumpat seperti berandalan jago kaki tangan mafia.

Setengah tahun yang bergulir terasa hanya seperti jumput waktu. Jarak beribu-ribul mil tak tergubris hitung. Pengingat pribadi perkara jengahnya pada Myungsoo menguar. Tak peduli sejauh apa, selama apa, Myungsoonya akan tetap sama.

=end=

P. S

. this was orginally posted in https://firefliesquest.wordpress.com

. terima kasih buat yang masih suka baca karyaku

. as much as I’d love to, aku sama sekali nggak berencana menjadikan ini seri atau membuat kelanjutannya. jadi ya…. kelanjutan atau prequelnya kembali pada imajinasi kalian.

. if you have spare time, please kindly visit https://firefliesquest.wordpress.com or https://thecarnivalbreeze.wordpress.com

. thank you

-sincerely-

signat

50 responses to “[Ficlet] Pick Up Guy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s