[One Shot] I Miss You So Bad –Sequel of Apology

nyimasrda - i miss you so bad

nyimasRDA present

I Miss You So Bad –Sequel of Apology

Cast:

Park Jiyeon

Kim Myungsoo

Lee Jonghyun

other idol

Genre: Romance and Sad

Length: One Shot

Rating: G

Desc: Hay! Sesuai janji yang aku buat kalau FF sequel dari Apology akan aku posting hari minggu. Sebelumnya aku mau ngucapin terima kasih karena masih ada aja yang mau baca FF aku padahal aku udah lama banget nggak posting, hehe. Terima kasih untuk yang sudah baca dan comment, juga pada silent rider. Gomawooo!

If you still love me, please don’t leave me. – Kim Myungsoo

-oOo-

Apology

-Jiyeon pov-

Diam. Hanya itu yang sejak tadi ku lakukan. Aku tidak ingin melakukan apapun, tidak ingin. Karena semua yang aku lakukan akan mengingatkanku pada sosok Myungsoo, sosok laki-laki yang kucintai. Aku menatap nanar sebuah figura besar yang terpajang jelas di depan tempat tidurku. Menatap wajah Myungsoo yang sejak tadi tersenyum kearahku, tersenyum bahagia.

Ah, aku ingat kapan foto ini diambil. Saat itu aku baru saja lulus dari sekolah menengah atas dan akan melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Hari itu adalah hari peringatan kebersamaan kami yang ke dua tahun. Hari yang begitu menyenangkan karena Myungsoo mau melakukan apa saja untukku.

Myungsoo-ya, kau tahu bagaimana bahagianya aku saat itu? Kau tahu betapa bahagianya aku bisa bersamamu? Kau adalah orang yang paling berharga dalam hidupku setelah Chanyeol Oppa. Kau adalah laki-laki yang sangat aku cintai.

Berkali-kali aku memikirkan apa yang diucapkan oleh Myungsoo. Apa aku yang telah membuatnya seperti ini? Apa aku yang bersalah sehingga membuatnya tidak nyaman? Yah, aku rasa akulah yang membuatnya enggan melanjutkan hubungan ini. Aku yang bersalah.

Aku akui bahwa belakangan ini aku selalu membuat onar. Hampir satu tahun aku seolah kehilangan kepercayaanku. Myungsoo Oppa selalu sibuk dengan pekerjaan barunya, ia selalu beralasan lembur tiap kali kami akan pergi berkencan keunde, aku selalu mempercayainya sampai akhirnya Eunji mengatakan kalau ia melihat Myungsoo sedang berjalan bersama seorang wanita, bahkan Eunji mengatakan Myungsoo rela memberikan jaketnya pada wanita itu.

Aku tidak ingin mempercayainya, keunde Eunji memberikan foto-foto kebersamaan mereka. Aku terbakar cemburu, aku kehilangan akal sehatku dan langsung melangkahkan kakiku pergi ke tempat Oppa bekerja. Aku mempermalukannya.

-flashback-

“Oppa eoddiga?”tanyaku pada Myungsoo saat ku dengar suaranya dari ponselku.

“Wae Jiyeonnie? Aku sedang bekerja sekarang, ada laporan yang harus ku kerjakan.”

“Myungsoo-ssi, bisakah kau membantuku dengan file-file ini? Aku sedikit tidak mengerti dengan apa yang dituliskan devisi perlengkapan.”aku mendengar suara seorang wanita di dekat Myungsoo, hatiku sakit.

“Babe, nanti ku hubungi lagi, eoh? Kkeunta.”

“Oppa gidaryo, Oppa.. yeoboseyo, oppa…”

Myungsoo memutuskan sambungan telephone begitu saja. Saat itu aku sangat yakin bahwa Myungsoo memilih membantu wanita itu. Saat itu aku berfikir bahwa Myungsoo menduakanku. Hatiku semakin sakit dengan semua kejadian itu. Dengan cepat aku memanggil taxi dan pergi ketempat Myungsoo bekerja.

Hampir dua jam aku menunggu Myungsoo, keunde Myungsoo tak juga terlihat. Berkali-kali aku mencoba menghubunginya, namun hanya mesin penjawab yang kudengar. Perlahan aku melangkahkan kakiku, menghampiri meja resepsionis dan menanyakan keberadaan Oppa.

“Annyeong hasimnikka, ada yang bisa saya bantu?”

“Ah ye, apa aku bisa menanyakan sesuatu padamu?”

“Ye, agasi.”

“Kim Myungsoo-ssi gaseyo?”

“Apa yang agasi maksud Kim Myungsoo-ssi dari difisi editor?”

“Ye? Ah ye, Kim Myungsoo-ssi.”

“Myungsoo-ssi saat ini sedang ada pertemuan dengan klien di kafe sekitar perusahaan ini.”

“Ye? Kapan Oppa, ani maksudku kapan Myungsoo-ssi kembali?”

“Kami tidak bisa memastikan agasi.”

“Ah ye, kalau begitu terima kasih.”

Tanpa berfikir panjang, aku melangkahkan kakiku menyusuri jalanan sekitar perusahaan tempat Oppa bekerja, berharap bertemu Myungsoo dan membicarakan semua hal yang mengganggu fikiranku. Berharap Myungsoo dapat menenangkan diriku. Keunde itu semua hanya pengharapanku, karena pada kenyataannya aku justru menghancurkan segalanya. Myungsoo justru berteriak dan menjauhiku.

Hampir dua puluh menit aku berjalan, mencari Myungsoo sampai akhirnya aku melihat namjaku sedang duduk bersama seorang gadis cantik berambut panjang. Mereka berdua tertawa bersama, bahkan beberapa kali Myungsoo tersenyum malu di hadapan wanita itu, wanita itupun tak segan untuk menyentuk tangan Myungsoo atau memukul manja lengan Myungsoo. Igeo mwoya? Apa ini yang membuat Oppa berubah sikap dan mengacuhkanku? Aku melangkahkan kakiku mendekati Myungsoo Oppa.

“Oppa.”panggilku membuat Myungsoo mendongakan kepalanya, beralih menatapku dengan tatapan terkejut.

“Jiyeonnie, apa yang kau lakukan disini?”tanya Myungsoo lembut.

“Itu yang ingin aku tanyakan Oppa, sedang apa Oppa disini dengan..”mataku beralih menatao wanita yang duduk dihadapanku, tersenyum manis padaku.

“Ah, biarku perkenalkan, igeo Jiso-ssi. Jiso-ssi igeo Park Jiyeon…. temanku.”

Aku terkejut saat mendengar apa yang dikatakan oleh Myungsoo. Saat itu Myungsoo memperkenalkan aku sebagai temannya, bukan kekasihnya.

“Ah, Annyeong haseyo, nan Kim Jiso imnida.”

“Nde annyeong haseyo, naneun Kim Myungsoo yeoja chingu, Park Jiyeon imnida.”

“Ei Myungsoo-ssi, kau memiliki kekasih yang sangat cantik.”puji Jiso membuat Myungsoo tersenyum.

Seharusnya, saat ada seseorang yang memujimu kau akan merasa sangat senang keunde saat itu yang ingin aku lakukan hanyalah menampar wajah cantik Jiso dan berteriak untuk menjauhi Myungsoo, menjauhi kekasihku.

“Jiso-ssi, bisakah kau meninggalkanku dengan Oppa sebentar? Ada beberapa hal yang ingin aku katakan padanya.”pintaku tanpa mengalihkan pandanganku dari Myungsoo.

“Ah ye, eotteon (tentu). Myungsoo-ssi, aku permisi.”

“Jiyeonnie, duduklah.”pinta Myungsoo setelah melihat Jiso menjauh.

“Geu yeojaneun nuguyeyo?”

“Bukankah aku sudah memperkenalkannya padamu? Dia Kim Jiso, temanku.”

“Apa kau memiliki hubungan dengannya?”

“Aniyo, bukankah sudah ku katakan kalau Jiso-ssi adalah temanku?”

“Jeongmalyo?”tanyaku curiga.

“Park Jiyeon..”

“Lalu kenapa kau tidak mengatakan kalau aku kekasihmu?”

“Jiyeon keumanhera.”

“Wae oppa? Kau tidak ingin mengakuiku?”

“Kau sedang emosi, kajja kita pulang.”

“Aniyo, aku tidak ingin pulang. Kita belum selesai bicara.”

“Kita bicara nanti Jiyeonnie, aku tidak ingin bicara saat kau sedang emosi begini. Aku akan mengantarmu pulang.”

“Aniyo! Aku ingin bicara disini!”teriakku.

“Jiyeon, ireot jima hmm? Kajja kita pulang.”

“Wae Oppa? Kau tidak ingin bicara? Siapa wanita itu! Katakan padaku siapa sebenarnya Kim Jiso itu, eoh!”teriaku membuat semua pasang mata memandang ke arah kami. Aku tahu ini memalukan, keunde aku harus bertanya pada Myungsoo, aku harus tahu siapa itu Kim Jiso.

“Keure, jika kau tak ingin pulang tetaplah disini. Aku sudah mengatakan semuanya. Aku tidak pernah membohongimu, Jiyeonnie.”ujar Myungsoo lalu ia melangkah pergi, meninggalkanku sendiri.

“OPPA!”

“WAE JIYEON WAE?! KENAPA KAU JADI SEPERTI INI EOH?”aku tersentak saat mendengar Myungsoo berteriak. Air mataku mengalir begitu saja.

“O..oppa.”lirihku pelan.

“Jiyeonie, mianhe, eoh? Uljima, jangan menangis ne? Kajja kita pulang.”

Aku mengikuti semua yang dikatakan Myungsoo saat itu. Itu adalah kali pertama aku melihat Myungsoo begitu marah.

-flashback end-

Aku menyeka air mataku yang sejak tadi turun membasahi pipiku. Rasanya begitu sakit mengingat semua yang telah aku lakukan sehingga membuat Myungsoo jengah. Aku begitu bodoh melakukan hal-hal diluar akal sehat yang membuat Myungsoo tertekan. Seadainya aku tidak mendengarkan apa yang Eunji katakan, seandainya saja kau tidak membuat Oppa malu, mungkin aku dan Myungsoo masih bersama saat ini.

Aku melirik sekilas kearah sebuah surat yang sejak seminggu lalu belum ku buka. Sebuah surat dari keluargaku di Perancis. Perlahan tanganku meraih kertas putih itu dan membukanya, membaca setiap kata dengan jelas. Berusaha mengerti apa maksud dari isi surat yang ingin keluarga Ibuku sampaikan.

Setelah membaca seluruh isinya, aku menarik nafas panjang. Jika ini yang Myungsoo inginkan, maka aku akan berikan. Aku akan melakukan apa saja asal Oppa bahagia. Jika ia ingin aku menghilang, maka aku akan pergi. Pergi jauh bersama semua kenangan manis yang telah ia berikan.

-oOo-

“Oppa, eoddiso?”tanya ku setelah berhasil meraih ponsel dan mendial nomor seseorang.

“Eoh Jiyeonnie, wae? Chanyeol sedang memesan minuman sebentar.”

“Igeo Soo Jung?”

“Eng, naega Soo Jung. Wae Jiyeonie?”

“Ah, Soo Jung-ah mianhe, aku mengganggu?”

“Eiy, aniya Oppa sedang membeli minuman di kedai eskrim dekat rumahmu, wae?”

“Sungguh kebetulan kau dan Oppa sedang bersama. Soo Jung-ah, bisakah kau dan Oppa mampir sebentar ke rumahku? Ada yang ingin aku sampaikan.”

“Waeyo Jiyeonnie? Kenapa sepertinya serius sekali. Kau.. kau baik-baik saja, kan?”

Aku tersenyum mendengar pertanyaan Soo Jung, sahabatku ini jinjja.

“Aniya, nan gwaenchanha Soo Jung-ah. Aku hanya merindukan sahabat juga Oppaku. Apa kita bisa bertemu, sebentar saja.”

“Yya! Jangan membuatku takut Park Jiyeon! Katakan padaku ada apa?”

“Soo Jung-ah wae? Siapa yang menelepone?”

Aku dapat mendengar suara Chanyeol Oppa dari seberang, samar akhirnya aku tersenyum. Yah, masih ada Oppa juga Soo Jung disisiku, juga Halmoni yang menginginkanku kembali ke Perancis. Aku tidak seharusnya bersedih hati seperti ini. Bagaimanapun juga hidupku harus tetap berjalan.

“Igeo, Jiyeonnie meminta kita untuk menemuinya.”

“Jinjja? Geure, kajja kita pergi.”

“Geure. Jiyeonnie, kami akan segera sampai di rumahmu. Ingat, kau tidak boleh melakukan hal-hal aneh, eoh!”

Setelah itu telephone terputus.

-Jiyeon pov end-

-Chanyeol pov-

“Oppa, aku akan kembali ke Perancis.”

Kata-kata itu terus saja terngiang di telingaku. Jiyeon ku baru saja mengatakan hal yang paling tidak masuk akal di dunia ini. Bagaimana bisa dia mengatakan kalau ia akan kembali ke Perancis? Aniya, ini tidak benar. Hal ini tidak mungkin terjadi. Adik kecilku tidak boleh kembali ketempat mengerikan itu.

“Wae Jiyeonnie? Kenapa tiba-tiba mengatakan hal yang tidak masuk akal begitu?”ujar Soo Jung disebelahku.

Keterkejutan terlihat jelas di wajahnya. Aku tahu, Soo Jung pasti tidak menyangka bahwa kata-kata itu akan keluar dari mulut Jiyeon. Jiyeon beralih, mengambil secarik kertas kemudian menyerahkannya kepadaku. Mataku membulat saat membaca setiap kata yang tertulis disana. Bagaimana mungkin Halmoni meminta Jiyeon kembali setelah mengusir Kim Tae hae Ahjumma juga Park Hae Jin Ahjussi dari kediamannya setelah mengetahui mereka telah menikah.

“Igeo mwoya Jiyeonnie?”tanyaku akhirnya yang dijawab Jiyeon dengan senyuman.

“Mwoya, kau tidak bisa seperti ini Park Jiyeon. Kau tidak bisa meninggalkanku.”isak Soo Jung.

“Mianhe Soo Jung-ah, mianhe Oppa. Keunde aku harus kembali.”

“Aniya! Kau tidak bisa. Andwae!”

“Jebal Soo Jung-ah.”

“Aniya Jiyeon, kajima.”

“Aku tidak bisa membiarkan Halmoni terus dihantui rasa bersalahnya.”

“Aniya, aku tidak percaya dengan semua ucapanmu Park Jiyeon. Aku tahu kau mengambil keputusan ini karena kau ingin menghindari namja brengsek itu.”

Aku menoleh kearah Soo Jung yang kini sudah dipenuhi air mata, menatap bergantian wajah wanita yang ku cintai dan wajah adik kecilku yang kini sama pilunya. Hatiku rasanya sangat sakit melihat dua wanita ini menangis. Aku merasa bersalah lantaran tak dapat menepati janjiku pada mendingan Hae Jin Ahjussi. Seharusnya aku tak pernah membiarkan Jiyeon mengenal Myungsoo, harusnya aku tak pernah membiarkan mereka berkencan.

“Soo Jung-ah, keumanhae.”ujarku akhirnya.

“Aniya Oppa, kau tidak bisa membiarkan Jiyeon pergi begitu saja. Jiyeon sahabatku satu-satunya. Ini tidak bisa terjadi. Ini tidak boleh terjadi, Oppa.”

“Arrasso, keunde kita harus menghormati semua keputusan Jiyeon. Jika ini yang diinginkan Jiyeon, maka kita harus menerimanya.”

“Andwe, Oppa tidak bisa berkata seperti itu!”

“Soo Jung-ah, jangan seperti ini hmm. Kita tidak bisa memaksa Jiyeon untuk tinggal sementara hatinya sangat terluka. Kau tahukan Jiyeon selalu bersedih sejak Myungsoo memutuskan hubungan dengannya? Apa kau tidak ingin melihatnya bahagia?”

“Keunde Oppa..”

“Ku mohon mengertilah Soo Jung-ah, aku tahu kau akan sulit menerima semua yang dikatakan Jiyeon, keunde ini semua untuk Jiyeon.”

“Mianhe Soo Jung-ah. Aku tahu aku akan terlihat seperti pengecut jika menghindar seperti ini, keunde aku hanya ingin mencoba melupakan Myungsoo Oppa, aku hanya ingin berusaha menjalani hidupku dengan baik. Karena itu aku memutuskan untuk pergi. Setidaknya ada hal baik yang dapat aku lakukan jika kau pergi meninggalkan Korea.”

Detik berikutnya tangisan Soo Jung pecah. Gadisku berjalan mendekati Jiyeon, memeluknya diiringi oleh suara tangisan yang semakin besar. Sungguh aku tak ingin Jiyeon pergi, bagaimanapun aku sudah bersamanya bahkan sebelum ia terlahir, aku sudah menemaninya sejak ia masih dalam kandungan. Bagaimana bisa aku membiarkan adik kecilku pergi ke Negara lain meski disana ia akan tinggal bersama Halmoni, tapi tetap saja hatiku tidak bisa terima.

Meski begitu aku harus bisa merelakannya. Aku harus bisa membiarkan Jiyeon pergi karena aku tahu hanya itu satu-satunya jalan agar ia dapat melupakan namja berengsek bernama Kim Myungsoo. Aku hanya ingin melihat Jiyeon bahagia. Karena itu adalah janji yang ku buat sebelum Tae Hae Ahjuma juga Hae Jin Ahjussi meninggal.

Hari keberangkatan Jiyeon akhirnya tiba. Setelah Soo Jung memaksa untuk menginap di kediaman Jiyeon sampai hari adikku itu pergi, akhirnya hari yang tidak diinginkan itu datang. Semalaman aku mendengar Soo Jung terus menangis di kamar Jiyeon, memeluk adikku erat seakan mereka tak akan bisa bertemu lagi. Begitupun dengan Jiyeon. Ia tak hentinya memberikan nasihat agar Soo Jung menjadi dewasa dan tidak sering berteriak lagi. Ia juga memintaku untuk terus membuat sahabatnya itu bahagia sehingga ia bisa hidup dengan baik di Perancis tanpa harus dipusingkan dengan tangisan Soo Jung.

Hari ini aku bersama Soo Jung mengantar kepergian Jiyeon. Aku memarkirkan mobil yang pagi tadi ku pinjam dari Appa untuk mengantar adikku kembali ke Negara dimana Eommanya berasal. Selama dalam perjalanan kami hanya duduk diam. Menikmati detik tiap detik yang akan sangat kami rindukan kelak. Soo Jung terus saja memeluk Jiyeon sambil sesekali mengusap air matanya yang selalu saja jatuh membasahi pipinya yang lembut.

“Yya napeun gizibe, uljimarayo.”

“…..”

“Yya Soo Jung-ah, kenapa kau cengeng sekali sih? Kau seperti akan ditinggal kekasihmu saja.”

“Aku lebih baik ditinggal pergi kekasihku daripada kau yang harus pergi Jiyeonnie.”jawab Soo Jung yang masih terus menangis.

“Eich! Bagaimana bisa kau mengatakan itu di depan kekasihmu, pabo!”gerutu Jiyeon. “Yya berhentilah menangis, air matamu ini bisa berubah menjadi darah jika kau tidak segera berhenti, eoh.”

Aku hanya tersenyum tipis melihat pertengkaran mereka. Jiyeon dan Soo Jung sudah berteman sejak mereka masih duduk di sekolah menengah pertama, sejak Soo Jung pindah ke dekat rumah kami. Aku sangat tahu kalau mereka selalu bertengkar, meributkan hal-hal kecil hanya untuk mengetahui siapa yang akan mengalah. Setiap pertengkaran itu akan selalu berhenti jika aku sudah memarahi keduanya atau jika Jiyeon yang akhirnya mengalah lantaran sudah tak bisa menghadapi teriakan Soo Jung.

Mereka seperti saudara kembar yang kemana-mana selalu bersama, bahkan semua barang-barang yang mereka miliki selalu sama. Terkadang aku bahkan sedikit cemburu dengan kedekatan mereka. Tak pernah bisa ku bayangkan bagaimana kehidupan Soo Jung setelah Jiyeon pergi. Aku tahu Soo Jung sangat menyangai Jiyeon, bahkan rasa sayangnya melebihi rasa sayangku pada Jiyeon, Soo Jung lebih menyayangi Jiyeon dibandingkan aku, kekasihnya.

“Soo Jung-ah, jaga dirimu baik-baik eoh. Ingat yang selalu aku katakan. Berhentilah bersikap manja, jika kau terus seperti ini Chanyeol Oppa akan meninggalkanmu. Berhenti berteriak pada yeoja lain yang terus melototi Oppa. Kau juga tidak boleh melakukan diet ketat, eoh! Kau sudah cantik dan tubuhmu tidak akan membesar meski kau makan sepuluh kali sehari. Arrachi?”

Soo Jung hanya menganggukan kepalanya mendengar apa yang dikatakan Jiyeon.

“Mianhe Soo Jung-ah, aku seharusnya tidak meninggalkanmu seperti ini. Keunde aku harus menemui Halmoni.”

“Berjanjilah kau akan terus menghubungiku, eoh?”

“Ne, yagsoke.”

“Neo eopsi jal sal su ittago tachim haebwado, Jiyeonnie (Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan baik-baik saja tanpamu).”

“Ye ye, kau harus baik-baik saja meski aku tak ada disampingmu, ne?”

Soo Jung memeluk Jiyeon dan melepaskan semua kesedihannya. Menangis tersedu tanpa memikirkan orang-orang yang sejak tadi memperhatikannya.

“Oppa, na ganda.”ujar Jiyeon saat akhirnya Soo Jung membiarkan Jiyeon menghadap ke arahku.

“Eoh, jaga dirimu baik-baik. Kau tidak boleh melupakan kami di Seoul, ne.”

“Aniya, aku tidak akan melupakan Oppa dan orang-orang yang ada disekitarku.”

“Keunde kau harus melupakan namja berengsek itu. Kau berhak mendapat kebahagiaanmu sendiri.”ujarku yang hanya dijawab anggukan oleh Jiyeon. “Berjanjilah kau akan kembali setelah berhasil melupakan Myungsoo.”

“Ne! aku akan segera kembali.”Jiyeon berjalan mendekat kearah ku kemudian memelukku erat. “Oppa, gomawoyo. Kau selalu menjagaku dengan baik selama ini. Terima kasih atas semua kasih sayang yang kau berikan juga perhatian yang selalu kau curahkan padaku. Tolong sampaikan rasa terima kasihku pada Ahjussi juga Ahjumma, ne?”

“Saranghae Jiyeonnie, kau adalah adikku yang paling aku sayang. Kau tahu itu kan?”ujarku pelan.

“Ne arraso, nado saranghae Oppa.”

Setelah mengucapkan kata perpisahan, akhirnya Jiyeon melangkah menjauh.

“Hubungi aku jika kau sudah sampai, ne!”teriak Soo Jung saat Jiyeon sudah mendekat ke pintu keberangkatan.

Jiyeon mengangguk sambil melambaikan tangannya. Adikku tersenyum dengan lega. Senyuman yang aku tahu dipenuhi dengan keikhlasan. Tuhan, aku mohon buatlah Jiyeon bahagia. Jangan biarkan siapapun menyakitinya. Karena dengan begitu aku baru dapat melepaskan adikku pergi dengan tenang. Berbahagialah Jiyeon.

-oOo-

Tiga tahun kemudian.

-Myungsoo pov-

Sudah hampir tiga tahun sejak kepergian Jiyeon. Aku berusaha keras menjalani hari-hariku tanpanya. Berusaha keras untuk terlihat baik-baik saja meski dalam hatiku sangat tersiksa. Tiga tahun yang menyedihkan, itu yang selalu saja Minho katakan padaku. Aku tahu jika hidupku ini sangat menyedihkan, lebih pantas untuk ditertawakan jika dibandingkan untuk dikasihani, karena semua ini adalah yang aku ingini.

Tiga tahun kepergiaannya merupakan tiga tahun terberat dalam hidupku. Hidupku benar-benar hancur. Aku jadi lelaki yang kasar juga temperamental. Hidupku benar-benar berubah. Dunia malam sudah menjadi duniaku. Setiap hari aku mengunjungi club-club malam, berusaha menghilangkan kesedihan juga kemarahan keunde yang ku dapatkan justru penyiksaan yang sebegitu kerasnya.

Berkali-kali berganti pasangan, selalu saja menjalankan one night stand dengan siapapun wanita yang mendekatiku. Berusaha mencari sesosok gadis yang mampu menghilangkan kesedihan, kekecewaa, kemarahan dan beribu perasaan lain yang bercampur menjadi satu dalam hatiku. Aku berusaha keras. Berusaha dengan keras untuk membuat diriku terlihat baik-baik saja.

Pekerjaanku berantakan, hidupku tak karuan dan semua itu disebabkan oleh kebodohanku yang telah mencampakan Jiyeon, wanita yang sangat aku cintai. Sempat terlintas keinginanku untuk mencari Jiyeon, menyusulkan ke Perancis untuk memintanya kembali namun keraguan-keraguan terus mendatangiku seolah menginginkan aku tersiksa lebih lama.

Selama tiga tahun kepergian Jiyeon, aku berusaha dengan keras untuk menerimanya. Menerima wanita yang sangat aku cintai menghilang, meninggalkanku seperti apa yang aku inginkan. Kalian tidak mungkin bisa percaya bagaimana tahun pertama Jiyeon pergi. Aku seperti manusia bodoh yang berkali-kali mencoba mengakhiri hidupnya.

Ku mohon, jangan sakiti Jiyeon ku lagi. Jangan dekati Jiyeon lagi.”

Kata-kata yang diucapkan Chanyeol selalu saja terngiang ditelingaku, berputar dengan baik di dalam otakku. Aku berusaha dengan keras untuk mencari Jiyeon, bertanya dengan teman-temannya, barangkali ada salah satu diantara mereka yang mengetahui keberadaan Jiyeon. Keunde, harapanku tidak pernah terwujud. Entah mereka tidak tahu atau mereka sengaja tidak ingin membiarkanku mendekati Jiyeon, tapi setiap kali aku menghubungi mereka, satu hal yang selalu mereka katakan, hal yang sama setiap harinya.

“Aku tidak tahu dimana Jiyeon berada.” Atau “Jangan cari Jiyeon lagi.”

Tak peduli seberapa keras aku meminta, tak peduli seberapa memelas aku memohon pada mereka, mereka akan tetap menjawab dengan wajah dingin dan memintaku pergi. Bahkan Soo Jung sampai memanggil petugas keamanan untuk mengusirku dari apartemennya kala aku memohon informasi darinya. Jangan fikir kalau Soo Jung sangat keterlaluan bahkan terkesan jahat, gadis itu mungkin melakukan hal yang benar. Soo Jung hanya ingin melindungi sahabatnya dari pria brengsek sepertiku.

Aku bisa mengerti kenapa Jiyeon meninggalkanku, seperti yang Soo Jung katakan, ini yang aku inginkan. Jiyeon hanya memberikan apa yang aku mau, berusaha membuat aku inginkan, berusaha membuatku bahagia seperti apa yang selalu ia lakukan.

Aku merasakan ponselku bergetar saat tengah mengikuti rapat redaksi di perusahaan penerbitan tempat ku bekerja. Setelah meminta izin kepada kepala pimpinan aku mengangkat telephone dari Minho, sahabatku.

“Yeoboseyo.”ujarku saat menerima telephone dari Minho.

“Myungsoo-ya! Aku melihatnya.”teriak Minho diseberang.

“Nugu?”

“Jiyeon. Aku melihat Park Jiyeon.”

Rasanya seperti mimpi saat nama itu disebut. Apa ini benar-benar terjadi? Apa Minho benar-benar melihat Jiyeon?

“Yeoboseyo.. Myungsoo-ya, kau mendengarku?”

“Eoddiga? Dimana kau melihat Jiyeon?”

“Di tepi jalan Seongbuk dong. Awalnya ku kira aku salah melihat, keunde setelah aku mengikutinya aku yakin itu Jiyeon. Yah, dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.”

Aku memutuskan sambungan telephone sebelum Minho selesai bicara. Pikiranku bercampur antara kebahagiaan juga ketakutan. Setelah tiga tahun lamanya aku mencoba, akhirnya aku dapat merelakannya. Namun semua itu tidak berlangsung lama sampai ketika Minho memberitahuku jika Jiyeon telah kembali.

Ku injak pedal gas sedalam-dalam yang ku bisa, membawa mobil yang ku tumpangi membelah jalanan kota Seoul menuju jalan seongbuk dong untuk mencari keberadaan Jiyeon. Seluruh jalanan sudah ku telusuri, ratusan rumah telah ku singgahi untuk mencari sosok Jiyeon namun nihil. Jiyeon ku tidak ada, dia tidak ada dimanapun tempat ku mencarinya. Aku mulai menyerah, mungkin Minho salah melihat. Tidak mungkin Jiyeon kembali.

“Kenapa tak mencoba bertanya pada Chanyeol?”fikirku dalam hati.

Dengan cepat aku menghentikan mobilku, mencari ponsel dan berusaha menghubungi Chanyeol. Berkali-kali aku mencoba menghubunginya namun tak juga ada jawaban sampai saat aku sudah mulai menyerah, aku mendengar sebuah jawaban atas panggilanku.

“Yeoboseyo?”jawab Chanyeol setelah lebih dari tiga kali aku berusaha menghubunginya.

“Chanyeol-a…”

“Myungsoo-ssi?”

“Ne, naega.”

“Ah, ada apa Myungsoo-ssi.”sikap Chanyeol berubah menjadi sangat kaku. Ia bahkan memanggilku dengan panggilan formal.

“Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu Chanyeol-a, apa kita bisa bertemu?”

“Kau ingin bertanya mengenai Jiyeon?”

“Butakhamnida.”ujarku memelas.

“Geure, kau dimana?”

“Aku sekarang sedang di Seongbuk dong.”

“Kebetulan perusahaanku berada disekitar jalan Seongbuk dong. Kita bertemu di Ando Café saja.”

“Geure Chanyeol-a. Gomawo.”

Lima belas menit menunggu Chanyeol merupakan menit-menit paling menegangkan yang pernah aku lewati. Apa yang harus aku tanyakan, bagaimana aku harus bersikap. Semua membuatku gelisah.

“Myungsoo-ssi, maaf membuatmu menunggu.”

“Aniya, aku juga baru sampai.”ujarku membohonginya.

“So, apa yang ingin kau tanyakan terkait adikku?”

Aku melirik ke arah Chanyeol sekilas, memperhatikan ekspresi wajahnya kemudian menarik nafas panjang.

“Apa Jiyeon baik-baik saja?”

“Eoh, dia sangat baik-baik saja. Jiyeon berhasil melewati saat-saat tersulitnya selama tiga tahun ini dan sudah menemukan kebahagiaannya.”jawab Chanyeol yang ku tahu adalah sebuah sindiran.

“Ah, syukurlah.”ujarku pelan.

Kami sama-sama terdiam, sibuk dengan fikiran masing-masing. Entah harus bagaimana lagi aku bertanya pada Chanyeol terkait apa yang dikatakan oleh Minho beberapa jam lalu.

“Chanyeol-a, apa aku bisa menemui Jiyeon? Apa kau bisa memberitahuku dimana Jiyeon sekarang tinggal?”

Chanyeol terlihat sedikit terkejut dan mengernyitkan keningnya.

“Meusun suriya?”

“Pagi tadi Minho melihat Jiyeon di sekitar jalan Seongbuk dong.”ujarku akhirnya.

“Untuk apa lagi Myungsoo-ssi?”

“Aku hanya ingin memastikan keadaannya.”

“Bukankah sudah ku katakan kalau Jiyeon sangat baik saat ini? Lalu apa lagi yang kau inginkan? Untuk apa kau menemuinya, eoh?!”ujar Chanyeol sedikit berteriak.

“Jebal Chanyeol-a, aku hanya ingin melihatnya. Aku mohon biarkan aku menemui Jiyeon. Meminta maaf secara langsung padanya dan mengakui kesalahanku. Tolong biarkan aku menemuinya, butakhamnida.”pintaku berlutut di hadapan Chanyeol.

Chanyeol mengalihkan pandangannya dari diriku. Entah apa yang telah memasuki kepalaku sehingga membuatku mengorbankan harga diri yang selama ini selalu ku junjung tinggi. Saat ini aku memohon sambil berlutut dihadapan seorang pria hanya untuk bisa bertemu dengan Jiyeon, gadis yang telah ku buang karena sikap egoisku.

“Hanbeon man, aku hanya ingin bertemu Jiyeon meski hanya sekali. Butakhamnida.”

“Geure, aku akan memberi tahu dimana Jiyeon tinggal, keunde kau tidak bisa lagi bersamanya Myungsoo-ssi. Tak peduli dengan apa yang akan kau lakukan, kau tidak akan pernah bisa bersama Jiyeon lagi.”

Apa itu tidak masalah? Apa aku akan baik-baik saja setelah bertemu Jiyeon meski tahu dia tak akan pernah bisa bersamaku lagi? Bukankah aku menemuinya karena ingin membuatnya menjadi milikku lagi? Lalu bagaimana jika Jiyeon tak bisa lagi bersamaku? Apa yang harus aku lakukan? Apa tidak masalah?

“Aku hanya ingin bertemu dengannya.”ujarku akhirnya.

Yah, mungkin ini yang seharusnya terjadi. Hanya dengan melihatnya, aku hanya ingin melihatnya walau hanya sekali. Aku melihat wajah Jiyeon ku.

-oOo-

Aku berdiri di depan sebuah rumah asing. Rumah yang begitu besar, begitu mewah dihiasi dengan beberapa pohon rindang di sekitarnya. Berkali-kali aku memastikan bahwa ini memang kediaman Jiyeon, memeriksa alamat juga nomor rumah yang diberikan oleh Chanyeol padaku. Tanganku terjulur, menekan sebuah tombol yang ku tahu itu adalah tombol bell, menunggu sampai yang memiliki rumah menjawab.

“Siapa?”tanya sebuah suara yang sudah sangat ku kenal, suara gadis yang ku cintai.

Badanku bergetar, jantungku berdetak cepat dengan sekujur tubuhku dialiri keringan saat suara merdu itu masuk ke dalam gendang telingaku, menyapa indra pendengar terus masuk ke dalam otakku. Merekamnya dan memutarnya kembali. Berkali-kali.

“Naega.”jawabku pelan, berusaha menyembunyikan rasa sesak.

Tidak ada jawaban. Berdetik-detik ku tunggu namun tak ada jawaban. Mungkinkah Jiyeon telah melupakanku? Atau Jiyeon tak ingin bertemu denganku. Tak ada satupun suara yang dapat ku dengar. Semua seolah tertelan oleh suara detik jarum jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Jam yang menjadi kado terakhir yang Jiyeon berikan untukku.

“Masuklah.”

Tepat setelah suara itu berlalu, pintu gerbang kediaman Jiyeon terbuka. Aku melangkahkan kakiku perlahan setelah berkali-kali mengambil nafas panjang guna menenangkan diriku. Rumah ini sangat indah, di depannya terdapat taman bunga yang ku yakin adalah milik Jiyeon. Taman bunga yang ditumbuhi berbagai macam bunga meski tanpa mawar disana. Tak ingin berlama-lama membuang waktu aku mempercepat langkahku memasuki rumah utama.

Wanita itu berdiri, membelakangiku. Menghadap sebuah kolam renang yang begitu luas juga taman bunga disekelilingnya. Tubuhnya dibalut mantel berwarna abu-abu yang disempurnakan dengan rok beremple warna hitam yang panjangnya hanya sebawah lutut. Surainya panjang dengan warna coklat keemasan dibiarkan tergerai begitu saja. Rasanya aku ingin sekali berlari ke aranya, memeluknya dengan erat dan menghirup harum tubuhnya. Menyimpannya rapat-rapat dalam memori otakku yang bertahun-tahun merinduinya.

Langkahku terhenti sesaat, menikmati pemandangan sore yang begitu sempurna. Keindahan alam juga sosok yang ku cinta. Jiyeon berbalik. Kini ia menghadap ke arahku. Wajahnya masih cantik seperti yang dulu. Ia hanya memakai lipstick berwarna pink halus. Wajahnya putih berseri tampak sedikit pucat lantaran udara musim gugur yang begitu dingin.

Tanpa diberi aba-aba aku langsung mendekatinya. Memeluknya erat seolah ini adalah hal terakhir yang dapat ku lakukan. Dapat ku rasakan tubuh Jiyeon menegang. Jiyeon tetap diam. Tak bergeming meski ku peluk dengan erat. Udara yang dingin ini tak sebanding dengan dinginnya sikap Jiyeon padaku.

“Bogoshippo Jiyeonnie. Jeongmal bogoshippo.”lirihku pelan.

Tak mendapat jawaban dari Jiyeon lantas membuatku melepaskan pelukan. Menatap langsung ke dalam matanya yang kosong. Tatapan penuh cinta itu kini tak ada lagi. Yang ada hanya Jiyeon yang terlihat begitu membenciku.

“Apa kabarmu, Ji? Kau tahu betapa aku merindukanmu? Kenapa kau pergi tak memberi tahuku, hmm?”

“Untuk apa kau kesini?”tanya Jiyeon dingin.

Aku terkejut. Melihat bagaimana Jiyeon memperlakukanku membuatku sangat terkejut. Apa yang terjadi dengan Jiyeon, mengapa gadisku menjadi seperti ini? Apa Jiyeon sangat membenciku sehingga dia bersikap dingin seperti itu?

“Jiyeonnie, aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu.”

“Kau sudah melihatnya. Aku baik-baik saja sekarang.”

“Ji..”

Tidak ada jawaban. Jiyeon tetap diam tanpa mau menanggapiku.

“Aku merindukanmu.”

Satu tetes air mata melesat turun dari mata indah Jiyeon, mengalir turun melalui pipinya.

“Kenapa kau meninggalkanku, Ji? If you still love me, please don’t leave me.”lirihku sangat pelan.

“Bukankah itu yang kau inginkan, Oppa? Kau yang mengatakan padaku untuk menjauh. Kau yang telah lelah dengan semua sikapku. Kau yang telau membuatku pergi, lalu untuk apa lagi kau bertanya, eoh?”

“Mianhe Jiyeonnie, aku tahu aku bersalah. Aku sungguh menyesal. Aku begitu bodoh karena membiarkanmu pergi. Aku begitu bodoh karena membuatmu menjauh dariku. Mianhe Jiyeon, kau mau memaafkanku?”

“Aku sudah memaafkanmu, Oppa.”

Mendengar jawaban Jiyeon lantas membuatku tersenyum. Mungkinkah ini sebuah jalan untukku dapat meraih Jiyeon kembali? Aku sungguh yakin Jiyeon masih mencintaiku.

“Sekarang kau bisa pulang. Aku tidak ingin suamiku salah sangka jika melihat ada pria lain yang menemui istrinya saat ia sedang tidak ada di rumah.”

Suami? Apa yang tadi Jiyeon katakan? Suami? Igeo mwoya? Jiyeon sudah menikah?

“Meuseun suriya Jiyeonnie? Kau bilang suami? Kau pasti bercanda, kan?”

“Aniya, aku sudah menikah satu tahun lalu.”

“Andwae, kau tidak seperti ini Ji. Kau tidak bisa menikah dengan pria lain selain aku.”ujarku sambil terus menggelengkan kepalaku kuat.

Baru saja Jiyeon akan menjawab pertanyaanku, pintu ruangan terbuka. Menampilkan sosok pria dengan setelan jas berwarna maroon juga kemeja hitam serta dari maroon yang kini tengah sibuk membuka sepatu yang ia kenakan. Pria itu terlihat sangat tampan, berbadan tegak dengan rambut rapih. Aku menatapnya bergantian dengan Jiyeon.

Jiyeon tersenyum saat menatap pria itu. Matanya seolah memancarkan segudang rasa cinta yang dulu hanya tersedia untukku. Tatapannya sungguh hangat dan dipenuhi kasih sayang. Pria itu balik menatap Jiyeon, tersenyum sangat ramah seolah aku tak pernah ada di sana.

“Yeobo kau sudah pulang?”tanya Jiyeon mendekat ke arahya, mengambil tas kerja yang sejak tadi pria itu genggam.

“Eoh, bagaimana harimu?”

“Aku tadi bertemu dengan Soo Jung juga Chanyeol Oppa.”jawab pria itu. “Jiyeon, kau ada tamu?”

Pria itu menatapku dengan senyum diwajahnya. Ia terlihat ramah dan begitu penyayang. Ia berjalan mendekat diikuti Jiyeon dibelakangnya.

“Ne yeobo, igeo temanku dulu Kim Myungsoo.”

Rasanya begitu sakit saat mendengar Jiyeon menganggapku hanya sebagai temannya. Apakah ini yang dulu Jiyeon rasakan? Apa Jiyeon ingin menjaga perasaan suaminya? Aku tersenyum canggung saat melihat pria itu mengulurkan tangannya.

“Lee Jonghyun imnida.”

“Myungsoo-ssi, igeo nae nampyeon.”

“Kim Myungsoo.”jawabku menjabat tangan suami Jiyeon.

“Oppa kenapa pulang cepat?”

“Aku ingin bertemu istri juga anakku.”

Jawaban Jonghyun menambah keterkejutanku. Anak? Bahkan Jiyeon sudah memiliki anak? Bagaimana mungkin. Bagaimana bisa. Ya Tuhan, apalagi ini? Apa tidak cukup semua penderitaanku ini? Kenapa kau membalas semua kesalahanku dengan rasa sakit yang begitu hebat seperti saat ini.

“Anak? Kau sudah punya anak?”tanyaku sedikit terkejut.

Lee Jonghyun tersenyum mendengar pertanyaanku. Ia terlihat begitu bahagia sungguh sangat bertolak belakang denganku yang kini hanya berdiri mematung. Terkejut dengan semua hal-hal yang baru saja terjadi dihadapanku.

“Ne, saat ini Jiyeon sedang hamil lima bulan. Kami sangat menantikan anak pertama kami ini.”jelas Jonghyun masih dengan senyum bangganya.

Jiyeon hanya tersenyum malu-malu mendengar apa yang dikatakan Jonghyun. Wajahnya bahkan bersemu merah sama seperti saat aku menyatakan perasaanku. Sama seperti saat ciuman pertama kami.

Aku melirik ke arah perut Jiyeon yang terlihat sedikit membuncit. Kenapa aku tidak menyadarinya? Kenapa aku bahkan tidak melihat sebuah foto pernikahan yang terpajang jelas di depan ruang tamu, tempatku berdiri saat ini. Kenapa aku begitu bodoh? Rasanya sungguh tidak tahan saat melihat mereka tersenyum berdua. Aku memutuskan untuk pergi.

“Jiyeonnie, sepertinya aku harus pamit.”ujarku akhirnya.

“Kenapa terburu-buru sekali Myungsoo-ssi? Kita bisa makan malam bersama jika kau mau. Masakan istriku sangat lezat.”tawar Jonghyun.

Aku melirik ke arah Jiyeon yang hanya diam. Mungkin gadisku itu merasa tidak nyaman dengan kehadiranku. Mungkin Jiyeon sangat ingin mengenyahkanku dari hidupnya.

“Tidak perlu Jonghyun-ssi, aku hanya mampir sebentar karena temanku mengatakan bahwa Jiyeon sudah kembali ke Seoul.”

“Ah, kami sudah kembali ke Seoul tiga bulan lalu Myungsoo-ssi. Mungkin Jiyeon masih sedikit sibuk makanya belum bisa menemui teman-temannya.”jelas Jonghyun.

Tiga bulan? Jiyeon sudah kembali tiga bulan keunde dia masih tidak menemuiku? Jiyeon bahkan tidak memberitahuku? Yya Myungsoo, apa yang kau harapkan euh? Jiyeon menemuimu dan memintamu kembali? Kau gila? Jiyeon mu sudah hidup bahagia dengan suaminya. Haha aku bodoh sekali jika mengharapkan hal itu terjadi.
“Begitu? Baiklah kalau begitu aku permisi.”ujarku pelan sambil membungkukan tubuhku sedikit. “Aku permisi Jiyeonnie. Jaga dirimu baik-baik, ne? Dan selamat atas pernikahan juga anak pertamamu?”

“Ne, gomawo Myungsoo-ssi.”jawab Jiyeon pelan.

Aku berjalan perlahan keluar dari kediaman rumah Jiyeon kemudian berhenti sesaat. Berhenti di depan taman bunga yang tumbuh segar. Kini aku tahu kenapa tak ada bunga mawar menghiasi taman Jiyeon. Itu semua karena aku. Aku begitu menyukai bunga mawar dan selalu memberikannya pada Jiyeon. Saat ini sudah tak ada lagi tempat dihati Jiyeon untukku seperti tidak adanya bunga mawar yang tumbuh di taman Jiyeon.

Aku berbalik sebentar, menatap sosok Jiyeon yang kini tengah berdiri tegak, tersenyum saat seorang laki-laki bernama Lee Jonghyun membungkuk dan mencium perutnya yang kini sudah sedikit membesar. Mengusap puncak kepala Jonghyun dengan penuh sayang. Pemandangan yang paling indah namun justru sangat menyakitkan. Inikah yang dimaksudkan Chanyeol? Meski apapun yang aku lakukan, aku tidak akan pernah kembali pada Jiyeon. Aku tidak akan pernah bisa membuat Jiyeon menjadi milikku lagi.

Menghela nafas panjang. Mungkin inilah saatnya aku benar-benar melepaskan Jiyeon. Membiarkan ia bahagia dengan pria yang begitu mencintainya. Membiarkan Lee Jonghyun membuatnya tersenyum dan terus bersama semasa hidupnya. Inilah balasan yang pantas ku dapatkan. Setelah apa yang aku perbuat, aku memang pantas menerimanya. Jiyeon pantas berbahagia. Biarlah rasa cintaku terus ku simpan sampai akhirnya aku menghilang. Saranghae Park Jiyeon.

End

Huaaaahh!!! Maaf banget baru bisa update sekarang huhu. Tiga hari lalu aku sibuk banget ngurusin kakak sepupuku nikahan. Sekali lagi maaf, semoga suka dengan ceritanya. Mian kalau nggak sesuai dengan keinginan kalian.

46 responses to “[One Shot] I Miss You So Bad –Sequel of Apology

  1. ye akhirnya jiyeon bisa move on malah sudah menikah..
    Q suka ni sequlnya enggak maksa..
    dan jiyeon malah lebih berbahagia..
    salah sendiri kenapa myuung enggak lebih keras lagi berusahanya..

  2. Kirain sequel nya mereka bakal balikan ternyata……
    Justru jiyeon move on dan myungsoo gagal move on

    Ini bener2 kesalahan myungsoo paling fatal, dy bikin jiyeon sakit hati dan akhirnya bener2 kehilangan gadis yg dia cintai

    Poor myungsoo 😂😂

  3. Wah gak nyangka banget endingnya bakalan meleset dr perkiraan,,,,tp ya seneng juga liat jiyeon udh bahagia dengan kehidupan barunya. Emank ini sulit buat myungsoo tp nasi udh jd bubur….terima nasiblah myung….saatnya utk lbh fokus mencari yeoja pengganti jiyeonnie…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s