[One Shot] Apology

nyimasRDA - apology

nyimasRDA present

Apology

Cast:

Park Jiyeon

Kim Myungsoo

Genre: Romance and Sad

Length: One Shot

Rating: G

Desc: hello!! I’m comeback dengan satu OS dengan pairing Myungsoo dan Jiyeon. FF ini aku pakai POV nya Myungsoo. Biar lebih menghayati huhu. Sebenarnya aku ada satu FF judulnya Both of Us, tapi filenya hilang😦. Maaf kalau aku jarang update, aku lagi sibuk skripsian jadi waktu buat nulis FF cuma akhir minggu aja huhu. Aku bakal usahain untuk buat FF minimal 2 FF tiap bulannya. Semoga readers semua bisa mengerti ya! Gomawooo ah iya, FF ini terinspirasi dari satu FF yang aku baca di Asianfanfiction, harap maklum kalau ada sediki kesamaan.~

“I’m sorry I couldn’t protect you” – Kim Myungsoo

“After all, I’m just one of the many people in your life that comes and goes.” – Park Jiyeon

-oOo-

BRAK!

Aku tersentak, mataku menatap lurus wajahmu yang kini sudah dipenuhi pilu.

“Jawab aku Myungsoo-ya.”ujarmu memelas namun entah mengapa, aku enggan menjawab. “Siapa wanita yang bersamamu kemarin? Kenapa kau memberikan jaketmu padanya? Apa dia kekasihmu yang baru?”

Aku mengalihkan pandangan, menatap seisi kafe tempat kita bercengkrama, menatap lurus ke dalam mata setiap pengunjung yang melihat kita penuh tanda tanya. Jiyeon, kenapa kau tidak percaya padaku? Kenapa kau hanya mendengatkan kabar yang tidak pernah benar? Kenapa kau selalu saja mempermalukanku dihadapan orang-orang? Kemana semua kepercayaanmu padaku?

“Kau tetap akan diam? Tidak ingin menjelaskan? Geure, kalau itu memang yang kau inginkan. Aku pergi.”

Aku menatap lurus punggungmu yang perlahan menjauh, meninggalkanku dengan air mata mengalir deras dari kedua kelopak matamu. Tak kau hiraukan jeritanku yang terus memanggil namamu, memintamu sejenak menahan langkah dan mendengarkan semua penjelasanku. Kau terus berlalu.

Pertengkaran itu terjadi lagi. Entah sudah berapa kali kita meributkan hal-hal yang sama, membesarkan masalah yang sesungguhnya tidak patut kita perdebatkan. Apa yang salah denganku? Apa yang selah denganmu, Jiyeon-a. Apa yang salah dengan hubungan ini?

Apalagi yang harus aku lakukan, agar semua ini kembali seperti dulu, kembali seperti saat kita pertama bertemu. Penuh cinta. Penuh kasih. Penuh kebahagiaan. Kini yang ada hanya semua kecemburuan, teriakan juga makian yang saling kita lontarkan. Memenuhi nafsu amarah, menunjukan seberapa sakitnya perasaan kita.

-oOo-

Dentuman music menggelegar diseluruh penjuru Club Volume, membuat para pengunjung yang datang semakin bersemangat untuk menggoyangkan tubuhnya sesuai dengan irama yang dimainkan Disk Jockey yang juga ikut terhanyut dengan music yang ia mainkan. Aku berdiri ujung Club Volume, tepat di depan meja Bar bersama dengan beberapa temanku. Sejak tadi mataku terus menatap lurus seorang gadis yang sangat kukenal. Sambil menyesap segelas Brandy yang baru saja diberikan padaku, aku terus memperhatikan gerak-gerik gadis berambut panjang yang terlihat sedang mencari sesuatu.

“Myungsoo..”sapa seseorang membuat semua perhatianku terpecah.

“Ah, Minho, wae geure?”

“Aku melihat Jiyeon, kau membuat janji untuk bertemu dengannya? Sepertinya dia sedang mencarimu.”

“Hhhh.”Aku menghela nafas mendengar semua penjelasan Minho, sahabatku.

“Wae? Tidak ingin menemuinya?”

“Entahlah, aku hanya ingin sendiri dulu.”

“Apa kalian bertengkar?”

Aku membalikan tubuhku, enggan menatap juga menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan Minho. Beberapa kali aku menghembuskan nafas kesal. Kenapa Jiyeon harus mendatangi club ini? Kenapa pula aku harus sekesal ini. Hubunganku dengan Jiyeon memang sedang tidak berjalan baik. Jiyeon terus saja mencurigaiku, melarangku melakukan banyak hal hingga membuatku sedikit jengah.

“Eoh, ada dengan pria itu? Kenapa dia mendekati Jiyeon?”

Kalimat Minho langsung membuat perhatianku tertuju penuh pada sosok Jiyeon, sosok yang saat ini sedang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman seorang pria.

“Myungsoo-ya, kau mau kemana, eoh?”teriak Minho dari balik tubuhku.

“Ahjussi, tolong lepaskan tanganku.”pinta Jiyeon dengan suaranya yang sedikit serak.

“Hey tuan, bisakah kau melepaskan kekasihku?”

Jiyeon juga pria itu beralih menatapku. Aku menatap tajam ke arah Jiyeon yang kini tertunduk. Setelah pria itu melepaskan cengkraman Jiyeon, aku menariknya menjauh dari kerumunan, membawanya keluar Club.

“Myungsoo-ya..”lirih Jiyeon terus berusaha melepaskan tangannya dari cengkramanku.

“Apa yang kau lakukan disini?!”bentakku pada Jiyeon saat kaki kami sudah berdiri sedikit jauh dari club, membuat tubuh mungil gadis itu mundur beberapa langkah.

“Aku hanya ingin memastikan keadaanmu, Myungsoo-ya. Bukankah kau yang mengatakan kalau kau sedang tidak sehat?”

Aku menghela nafasku kuat-kuat, berharap semua kekesalanku dapat menguap cepat sehingga gadis bodoh ini tak sampai terluka.

“Jiyeon pulanglah, aku akan memanggilkan taxi.”ujarku akhirnya, merasa tak puas dengan perkataanku Jiyeon menarik tanganku pelan.

“Kita perlu bicara Myungsoo-ya. Ada banyak yang ingin aku tanyakan.”

“Tidak malam ini Jiyeon, aku lelah.”

“Kalau kau lelah, kau harusnya kembali ke apartementmu, bukan masuk kembali ke dalam bar. Bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau kau sedang tidak enak badan? Lalu kenapa Soo Jung melihat kau ada di club? Kenapa membohongiku Myungsoo?”Chaerin terus mengoceh dari balik tubuhku, melontarkan ribuan pertanyaan yang sudah membuatku jengah.

Pertengkaran seperti ini kerap kali terjadi. Entah bagaimana semua hal ini bermula, tapi semakin hari Jiyeon semakin membuatku jengah. Jiyeon selalu saja cemburu dengan hal-hal tak jelas dan terus saja melarangku untuk menghabiskan semua waktuku bersama teman-teman. Semua yang aku lakukan harus sepengetahuan dan harus dengan izinnya. Hidupku dikekang. Aku tak lagi memiliki kebebasan seperti layaknya manusia. Aku merasa diriku ini tidak pernah berharga dihadapan Jiyeon.

“Oppa.”rintihan suara Jiyeon yang akhirnya mampu membuat langkah kakiku berhenti.

“Wae?”

“Please Oppa, talk to me?”

“Tidak saat ini Jiyeon, aku mohon pulanglah.”

Aku menyerah, aku tidak sanggup lagi menghadapi sikap Jiyeon yang sungguh kekanakan. Tak bisakah Jiyeon sedikit percaya padaku? Tak bisakah jiyeon memberikan kebebasan padaku? Aku hanya ingin kehidupan lamaku kembali. Aku hanya ingin hidup seperti laki-laki lainnya. Aku hanya ingin meluangkan waktu untuk bersenang-senang dengan sahabatku.

“Wae wae wae?! Myungsoo! Aku sedang bicara padamu! Yya! Jangan tinggalkan aku!”teriak Jiyeon.

“WHAT?!”ujarku akhirnya. “APA LAGI YANG KAU INGINKAN?”

Jiyeon tersentak, air mukanya sangat memperlihatkan keterkejutan. Ini pertama kali aku berteriak, membentaknya seperti kehilangan akal. Atau mungkin aku memang sudah gila? Gila menghadapi semua pertanyaan, kecurigaan juga sikap Jiyeon.

“Apa kau marah?”tanya Jiyeon dengan suara bergetar.

Apa yang kau lakukan Myungsoo! Kau baru saja membentak Jiyeon, wanita yang sangat kau cintai. Keunde, Jiyeon pantas mendapatkannya. Dia sudah merebut semua kebahagiaanku! Jiyeon yang membuatku bersikap seperti ini.

“Myungsoo, aku bertanya padamu, apa kau marah? Bukankah aku yang seharusnya padamu? Kau mengatakan bahwa kau sedang sakit dan tidak ingin diganggu. Kau butuh tidur cepat sehingga kau membatalkan janjimu padaku malam ini sedangkan kau tahu sudah berapa lama aku mengharapkan makan malam ini? Apa kau tahu bagaimana khawatirnya aku? Apa kau tahu kalau aku pergi ke apartementmu, membawakan sup juga bubur kesukaanmu lengkap dengan obat juga vitamin? Aku menunggu di depan pintu apartementmu, menghubungimu berkali-kali namun yang kudapat adalah kebohonganmu.”

“Maj-a yo, Aku sakit! Aku sakit dengan semua sikapmu Jiyeon! Kau selalu mengganggu hidupku, kau selalu mengontrol kehidupanku! Aku tak lagi memiliki kebebasan! Kau tahu, aku sudah tidak tahan dengan semua sikap kekanakanmu.”

“Tidak tahan? Kau sudah tidak tahan Myungsoo-ya?”tanya Jiyeon dengan mata yang berkaca-kaca.

Bodoh! Bagaimana bisa kau melakukan ini Myungsoo! Kenapa kau membuatnya menangis?! Bukankah dia adalah wanita yang paling berharga dalam hidupmu?!

“Kau selalu mencurigaiku Jiyeon, kau tidak pernah percaya padaku. Semua yang aku lakukan harus dengan izinmu. Kau terus mengangguku. Kau membuatku tak tahan. Kau yang menyebabkan ini semua.”

“Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi, Myungsoo? Begitu maksudmu? Apa karena wanita itu?”

“Kau lihat, kau terus saja mempercayai semua omongan orang. Kau terus mencurigaiku, membuatku berada ditempat yang salah. Apa kau sadar bahwa kau yang membuat semua keadaan seperti ini? Kau tahu Jiyeon, aku lelah. Pulanglah. Tidak ada yang harus kita bicarakan.”aku berbalik dan melangkahkan kaki pergi, sampai akhirnya aku mendengar Jiyeon berteriak, lagi.

“Don’t you dare leave me when I’m talking Kim Myungsoo!”

Langkah kakiku terhenti saat tangan mungil milik Jiyeon menarik tanganku, membuat tubuhku berbalik menghadapnya. Menatap wajah cantik Jiyeon, wajah cantik wanita yang dulu aku cintai. Dulu.

“Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakana Myungsoo. Apa maksudmu kalau kau lelah?”

“Kau tahu dengan benar apa maksudku Jiyeon. Berhenti membodohi dirimu sendiri.”

“Aniya Myungsoo-ya, jelaskan padaku. Katakan dengan jelas.”

Aku menarik nafas panjang, memejamkan mata sebentar, memikirkan dengan matang bahwa semua yang aku lakukan dan aku pilih adalah benar.

“Kita putus saja.”

Kata-kata itu akhirnya keluar dari mulutku. Akhirnya setelah sekian lama aku memendam. Aku melihat dengan jelas keterkejutan diwajah Jiyeon, disusul dengan riakan air mata yang jatuh dengan deras dipipi Jiyeon lalu menghering diterpa angin malam yang menusuk kulit. Jiyeon menggelengkan kepalanya, enggan menerima semua yang aku katakana.

“Museun.. Myungsoo-ya, kau hanya sedang emosi hmm? Katakan kalau semua yang kau katakana itu adalah bohong. Kau tidak mungkin mengakhiri semuanya. Kau tidak bisa. Kau tidak boleh.”

“Jiyeon, aku sudah lama memikirkannya. Aku sudah lama menahan semua beban ini. Aku sudah tak lagi sanggup. Aku menyerah. Kita putus saja. Jalanilah hidupmu tanpa aku.”

“Aniya, Oppa waegeure? Jebal, jangan seperti ini eoh? Apa aku melakukan kesalahan? Mianhe Oppa, jeongmal mianhe. Jangan lakukan ini padaku Oppa, eoh. Aku mencintaimu, kau tahu itu kan? Just please don’t leave me, Myungsoo-ya.”

“Hentikan Jiyeon, kau tidak lagi bisa memperbaiki semua ini. Kau telah menghancurkan semuanya. Kau menghancurkan semua yang telah kita bangun. Kau yang membuatku melakukan semua ini.”

“Andwe, kau tidak bisa memutuskan semuanya begitu saja Myungsoo. Setelah lima tahun kita menjalani semuanya, bagaimana bisa kau mengakhir semuanya seperti ini? Bagaimana dengan impian kita? Bagaimana dengan janji yang telah kau buat? Bukankah kau mengatakan kau akan terus bersamaku dan menjagaku? Kau tidak bisa seperti ini Myungsoo, tidak bisa.”

“I’m sorry I couldn’t protect you.”

Setelah mengatakan kalimat itu aku berbalik, meninggalkan Jiyeon dengan tangisannya yang memilukan.

-oOo-

Sudah dua minggu aku menjalani hari-hariku tanpa Jiyeon. Tak ada lagi ganguan darinya. Tak ada lagi sikap kekanakannya. Aku menjalani hariku dengan bahagia. Aku merayakan kebebasanku. Tidak akan ada lagi Jiyeon dalam hidupku. Aku bebas.

“Hey Myungsoo, sepertinya kau menikmati kebebasan eoh?”

Aku menoleh kearah sumber suara, menatap Chanyeol yang kini sudah duduk dihadapanku dengam secangkir kopi ditangannya.

“Bagaimana keadaanmu?”tanyaku berusaha berbasa-basi.

“Seperti yang kau lihat, aku baik dan sangat menikmati hari-hariku.”

“Chanyeol-a, apa kau marah padaku? Aku membuat sepupumu menangis, aku bahkan menghindarinya.”

“Hey, coba kau bertanya pada dirimu sendiri, apa kau marah sudah membuatnya menangis terlebih kau menghindarinya?”

Pertanyaan Chanyeol sontak membuatku berfikir, apa aku marah pada diriku telah membuatnya menangis? Apa aku benar-benar telah mengambil keputusan yang benar dan apa benar ini yang benar-benar aku inginkan?

“Hey man, jangan terlalu difikirkan. Kau akan menjadi gila.”

“I’m sorry.”ujarku sebelum Chanyeol pergi.

“For what?”

“Because I make your cousin hurt.”

Chaenyol hanya tersenyum sebelum menghilang dari balik pintu kamar apartmentku.

-oOo-

Sudah satu bulan lamanya aku dan Jiyeon berpisah, menjalani kehidupan masing-masing. Selama satu bulan ini aku tak pernah mendengar kabar dari Jiyeon, gadis itu tak pernah menghubungiku atau menanyakan keadaanku atau bahkan ia tak pernah mencari diriku. Apa Jiyeon sudah melupakanku? Atau Jiyeon memang sudah lama ingin berpisah denganku? Banyak pertanyaan-pertanyaan yang datang, membuat aku sedikit demi sedikit menyadari betapa pentingnya kehadiran gadisku, Park Jiyeon.

Aku mulai merindukan semua rutinitas yang aku lakukan bersama Jiyeon, yang kerap kali kami kerjakan bersama. Aku merindukan tawanya, aku merindukan sikap manjanya, aku merindukan tingkah lucunya, aku merindukan semua usahanya untuk membuatku bahagia, aku merindukan pelukannya, aku merindukan pesan selamat pagi juga tingkah menyebalkannya. Aku merindukan semua yang ada dalam diri Park Jiyeon. Akhirnya aku mengakui bahwa aku merindukannya.

Pagi ini aku terbangun karena sebuah mimpi, mimpi dimana aku dan Jiyeon masih bersama. Mimpi dimana kami berjalan bersama, sambil bergandengan tangan menyusuri tepi pantai, memandang matahari yang mulai terbenam. Aku merindukannya. Apartement ini terlihat hampa. Terlihat kosong tanpa kehadirannya. Aku merindukannya. Merindukan Jiyeon.

Aku mengambil ponselku, mendial sebuah nomor yang ku hafal di luar kepalaku, menunggu nada sambung berubah menjadi suara merdu milik Jiyeon, suara merdu gadis yang kucintai. Berkali-kali aku mencoba menghubuginya, namun yang ada suara dari mesin penjawab. Dengan cepat aku mengambil kunci mobilku, menjalankannya melewati jalanan yang kerap kali ku lewati sampai akhirnya aku berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan taman bunga yang tak lagi terawatt.

Kenangan-kenangan itu kembali datang. Bagaimana aku juga Jiyeon merawat bunga-bunga yang kini telah layu, seperti telah lama ditinggalkan. Mataku menatap sebuah kotak surat yang berdiri gagah disamping gerbang berwarna putih gading kediaman Jiyeon. Mengapa banyak sekali surat disana? Apa Jiyeon tak lagi mempunyai waktu untuk membacanya?

Toktoktok..

“Jiyeon-a.. eoddigaseyo?”ujarku setelah mengetuk pintu kediaman rumah Jiyeon berkali-kali.

“Jiyeon-a, ini aku Myungsoo. Kau ada di dalam? Ku mohon buka pintunya. Kita harus bicara.”

Kosong. Tak ada jawaban yang kuterima. Ruma ini seperti tak berpenghuni. Rumput yang mulai meninggi, bunga-bunga yang tak terawat juga kotak surat yang mulai penuh. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Jiyeon tak membukakan pintu? Apa Jiyeon sudah pergi?

“Hyung!”panggil seorang anak kecil dari balik tubuhku.

“Eoh, Wo Jin-ah.”

“Hyung, apa yang kau lakukan disini?”

“Nan? Ah, aku mau menemui Noonamu, apa Jiyeon ada?”

“Noona? Bukankah Noona sudah pergi seminggu yang lalu?”

“Pergi? Meusun suriya Wo Jin-ah?”

“Hyung tidak tahu? Noona kembali ke Paris seminggu yang lalu.”

Paris? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Jiyeon meninggalkanku ke Paris setelah aku menyadari kesalahanku? Apa yang harus aku lakukan? Mengapa Jiyeon melakukan ini padaku? Apa Jiyeon membenciku? Kenapa Chanyeol tak mengatakan apapun padaku? Jiyeon, ku mohon kembalilah.

Aku terduduk di depan pintu rumah Jiyeon. Air mata mulai membanjiri kedua mataku, perlahan turun menyusuri pipi hingga jatuh entah kemana. Sekarang bagaimana? Aku harus bagaimana? Aku tidak ingin kehilangan Jiyeon seperti ini. Aku terlalu bodoh melepaskan wanita yang sangat mencintaiku dan sangat aku cintai hanya karena keegoisanku. Aku bersalah. Aku mengakui kalau aku bersalah. Nan eottokhe?

“Myungsoo-ya, apa yang kau lakukan disini?”tanya sebuah suara setelah lebih dari dua jam aku menunggu di depan kediaman Jiyeon.

“Hyung! Wae?! KENAPA KAU MELAKUKAN SEMUA INI!”teriak ku saat melihat Chanyeol.

“Hei-hei, apa yang terjadi? Ada apa denganmu?”tanya Soo Jung, kekasih Chanyeol padaku.

“Kenapa kalian merahasiakan tentang kepergian Jiyeon, eoh? WAE?!”teriaku lagi.

“Bukankah kau yang menginginkannya?”ujar Soo Jung sinis.

“Soo Jung-ah, kau tahu kalau Jiyeon pergi? Keunde kau tak mengatakan apa-apa padaku?”

“Wae? Kenapa aku harus memberitahumu? Agar kau bisa menyakiti Jiyeon lagi? Neo micheosseo?”

“Myungsoo-ya, masuklah. Kita bicara di dalam.”mataku beralih pada Chanyeol yang kini bersuara.

“Mwo?! Andwe! Oppa, kita tidak harus bersikap baik dengan pria seperti dia!”kesal Soo Jung.

“Keumanhae Soo Jung-ah, Myungsoo pasti terkejut dengan kepergian Jiyeon.”

Rasanya begitu sesak saat mengetahui sahabat yang paling dekat denganmu ternyata menyembunyikan sesuatu yang sangat penting. Rasanya ingin sekali aku berteriak dan memaki mereka, namun apa yang dikatakan Soo Jung benar, aku yang menginginkan Jiyeon menghilang.

“Myungsoo-ya taraoseyo.”

Aku mengikuti langkah kaki Chanyeol juga Soo Jung, masuk ke dalam rumah Jiyeon. Menatap setiap inchi rumah yang mengingatkanku pada sosoknya.

“Hyung, kenapa tidak memberitahuku?”tanyaku lagi.

“Kau ingin makan? Kita bisa berbagi makanan.”

“Hyung jawab aku.”

“Kita bicarakan ini nanti Myungsoo, makanlah dulu. Kau pasti belum makan, kan?”

“Aniya, aku sama sekali tidak ingin makan. Aku hanya ingin Jiyeon, Hyung. Jebal.”

“Huh, lucu sekali. Setelah membuangnya sekarang kau ingin Jiyeon lagi? Daebak.”ujar Soo Jung penuh kebencian.

“Soo Jung-ah mianhe, aku tahu aku salah. Aku terlalu egois sehingga menyakiti Jiyeon, keunde sekarang aku sadar bahwa aku masih mencintainya dan membutuhkannya.”

“Kau fikir semuanya selesai dengan permintaan maafmu, Myungsoo? Kenapa kau sepicik itu?”

“Soo Jung-ah, tolong tinggalkan aku dan Myungsoo sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya.”

“Oppa! Kau tidak boleh lupa kalau laki-laki ini yang membuat sepupumu menderita. Kau harus ingat itu!”ujar Soo Jung sebelum pergi meninggalkan aku dan Chanyeol.

Setelah kepergian Soo Jung, baik aku ataupun Chanyeol sama-sama terdiam, sibuk dengan segala pemikiran kami sendiri.

“Jadi, apa yang ingin kau tanyakan, Myungsoo-ssi.”ujar Chanyeol dengan bahasa yang sangat formal padaku.

“Hyung, kapan Jiyeon pergi? Kenapa kau tak memberitahuku? Apa aku yang membuatnya pergi?”

“Aku hanya tak ingin merusak kebahagiaanmu, Myungsoo-ssi. Kau terlihat begitu bahagia ketika sepupuku pergi dari hidupmu. Aku hanya tak ingin menjadikan Jiyeon sebagai seorang wanita yang hanya mampu membuatmu tertekan.”

Jawaban Chanyeol sontak saja membuatku terkejut. Namja tinggi ini mampu membuatku kehilangan muka, menghunuskan pedang langsung kedalam jantungku hanya dengan semua perkataannya.

“Seperti yang dikatakan kekasihku tadi, bukankah ini yang kau inginkan Myungsoo-ssi? Bukankah kau yang menginginkan Jiyeon untuk pergi meninggalkanmu? Bukankah Jiyeon selama ini hanya menganggu kebahagiaanmu? Lalu kenapa sekarang kau begitu marah?”

“Aku.. aku hanya baru menyadari rasa cintaku yang begitu besar pada Jiyeon.”

“Menyadari setelah dia pergi? So pathetic..”

“Hyung, jebal katakana padau dimana Jiyeon tinggal. Aku akan memperbaiki semuanya Hyung.”

“Tidak semudah itu Myungsoo-ssi. Aku tidak ingin kau membuat Jiyeon terluka lagi. Ku mohon, jangan sakiti Jiyeon ku lagi. Jangan dekati Jiyeon lagi.”

“Keunde Hyung.”

“Aku tahu kamu mencintainya, Myungsoo. Aku juga tahu Jiyeon sangat mencintaimu. Aku hanya tidak ingin melihat kalian saling melukai. Aku hanya ingin menepati janjiku kepada mendiang orang tua Jiyeon. Jadi aku mohon, relakanlah Jiyeon pergi. Relakanlah sesuatu yang kau lepaskan menghilang.”

Setelah mengucapkan semua kata-kata itu Chanyeol menghilang. Meninggalkanku dengan semua rasa bersalah juga penyesalahan. Haruskah aku merelakanmu Jiyeon-a? Jiyeon-a, berbahagialah.. Karena dengan itu aku bisa melepaskanmu dengan ikhlas.

END

FF ini bakal ada sequelnya dan sequel akan dipublish kalau banyak yang komen, jadi tolong beri dukungan untuk ff ini ya! terima kasih.

86 responses to “[One Shot] Apology

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s