[CHAPTER-PART 4-END] Everglow

(FF-poster) Everglow

Author  : Agnes Febiola

Main Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Bae Suzy, Choi Minho

Additional Cast : … find it yourself, eoh? Kkk😉

Genre : Romance

Rating : G

 (Part-1) (Part-2) (Part-3)

EVERGLOW

Part 4 : “I’ll wait for you…”

Author’s POV

Dengan nafas tersengal Myungsoo tiba di depan ruang ICU. Yeoja yang satu jam lalu masih berdebat dengannya, bahkan meneteskan air mata di depannya, kini terbaring di ranjang rumah sakit. Jiyeon masih tak sadarkan diri.

Jika hal buruk terjadi pada Jiyeon. Myungsoo bersumpah dia akan membeci dirinya sendiri. Dadanya sesak. Kenangan bersama Jiyeon kembali berputar di ingatannya.

Namja bermasker dan bertopi hitam yang baru saja keluar dari ruang ICU mengangkat kerah Myungsoo. Sebuah tinju melayang di pipi kanan Myungsoo.

“Kau bilang kau akan menjaganya, huh?”

“Jongin-ah. Aku…”

Tangan Sehun segera menahan tangan Jongin yang siap melayangkan tinjuan keduanya. “Berhenti, Kim Jongin. Kau mau memicu keributan di sini? Kau mau foto kita tersebar? Kau mau menghancurkan debut kita?”

“Kim Myungsoo, jika terjadi sesuatu pada Jiyeon, pertemanan kita sampai di sini,” ucap Jongin dengan suara bergetar.

Ucapan Jongin membuat Myungsoo terperangah. Berarti apa yang diceritakan Jongin saat membicarakan mengenai hubungannya dan Jiyeon bukanlah candaan belaka. Jongin serius. Benar-benar serius.

Seperti biasa, malam itu mereka bertiga berkumpul di kamar Myungsoo. Sambil menunggu ayam gore, jajangmyun, dan pizza yang dipesan Myungsoo sebagai ‘traktiran’ jadiannya dengan Jiyeon, Jongin membuka suara dengan nada serius. Dia berkata bahwa dia melepas Jiyeon, mempercayakannya pada Myungsoo.

Jiyeon adalah cinta pertama Jongin. Telah lama Jongin memerhatikan Jiyeon, hingga dia tahu bahwa sebenarnya yeoja itu menyukai Myungsoo. Bahkan sebelum Jiyeon menyadarinya, tapi Jongin tahu. Sejak itu dia memutuskan untuk berteman dengan Myungsoo. Sehun yang memang sejak awal akrab dengan Jongin juga masuk dalam pertemanan mereka. Awalnya hanya sekedar ingin tahu apakah namja yang disukai Jiyeon baik atau tidak. Ternyata pertemanan mereka naik taraf menjadi persahabatan.

Malam itu, Jongin berkata dia melepas cinta pertamanya pada Myungsoo. Mempercayakan Jiyeon pada sahabatnya itu. Myungsoo dan Sehun hanya menganggap nonsense perkataan Jongin.

Ketakutan Myungsoo berlipat. Bukan hanya kemungkinan akan kehilangan Jiyeon, tapi kemungkinan dia akan kehilangan salah satu sahabat terbaiknya.

“Tenanglah, Myungsoo-ya. Saat ini Jongin sedang emosi. Persahabatan kita tidak semurah itu,” Sehun tersenyum menenangkan.

*—*—*—*—*

Seragam sekolah masih melekat di badannya. Myungsoo enggan beranjak dari sisi Jiyeon. Tangan jiyeon masih dalam genggamannya. Do’a pun tak hentinya ia panjatkan.

Eomma dan appa datang membawakannya baju ganti. Orang tua nya tahu bahwa dibujuk bagaimanapun, dia tidak akan mau pulang ke rumah.

“Sana kau mandi dulu. Kau tidak kasian dengan Jiyeon yang harus merasakan bau badanmu?”

“Eommaaa..”

“Appa sudah ijinkan kau ke wali kelasmu. Kau boleh libur selama tiga hari. Semoga Jiyeon cepat sadar ya.”

Myungsoo sangat bersyukur memiliki orang tua super pengertian seperti mereka.

“Appa mu juga sudah menghubungi wali Jiyeon. Keluarganya Jiyeon sangat susah dihubungi. Entah bagaimana caranya appa mu akhirnya mendapat kontak oppa nya Jiyeon. Besok siang oppa nya datang dari Belanda, Myungsoo-ya. Kau tidak pernah cerita kalau Jiyeon punya oppa,” eomma melirik appa bangga.

Oppa? Choi Minho?

“Myungsoo-ya, appa rasa suara oppa nya Jiyeon sangat familiar,” appa terlihat berpikir keras.

Myungsoo meringis. Tentu saja familiar. Sebagai penggemar basket, appa nya juuga tidak pernah melewatkan setiap interview pemain favoritnya. Dan tentu saja pemain favorit appa siapa lagi selain Choi Minho.

“Dia Choi Minho. Pemain favorit appa.”

“Hah? Siapa?”

“Oppa nya Jiyeon itu Choi Minho.”

“Mwo? Kau serius?”

Myungsoo mengangguk.

“Tapi aku tidak tahu kenapa mereka beda marga, eomma.”

“Orang tua nya bercerai?” tebak eomma.

“Bagaimana eomma tahu?”

“Berarti salah satu ikut marga eomma nya.”

Ah. Myungsoo kini mengerti.

“Sudah sana cepat mandi.”

Myungsoo masih enggan melepas genggaman tangannya. “Eomma… appa… aku sangat menyayangi Jiyeon.”

“Dia akan baik-baik saja. Percayalah.”

*—*—*—*—*

Myungsoo’s POV

Jiyeon masih terbaring seperti kemarin. Kesadarannya belum kembali. Dia masih dibantu alat pernafasan. Aku berusaha mengajaknya mengobrol seperti yang pernah ku lihat di tv, sebenarnya orang dalam keadaan seperti ini bisa merasakan keadaan di sekitar. Au tidak tahu Jiyeon masuk ke dalam taraf koma atau tidak.

Saat ku tanya pada suster yang memeriksa keadaannya tadi pagi, dia hanya berkata Jiyeon akan baik-baik saja. Untuk lebih detailnya dia akan memberitahukan pada wali Jiyeon, oppa nya yang sampai saat ini belum datang.

“Ji, kau pasti senang kan oppa mu akan datang hari ini?”

Aku terus berbicara kepadanya.

“Kau tahu, bahkan dalam keadaanmu saat ini aku masih tidak akan menceritakan pembicaraanku dengan Suzy. Saat kau sehat nanti, aku akan menjelaskan padamu bahwa apapun yang terjadi aku tidak akan mengingkari janjiku, apalagi janji untuk merahasiakan sesuatu. Semoga kau mengerti, Ji.”

Kubelai lembut tangannya yang ditancapi infus. Pasti sakit. Dulu aku pernah juga diinfus saat SD karena demam berdarah.

“Ji, sadarlah, hmm? Bukannya saat itu kau penasaran saat ku katakan bahwa ciuman di depan rumahmu bukan yang pertama kalinya. Bangunlah, akan kuberi tahu kapan ciuman pertama kita.”

“Kapan?”

“Saat malam tahun baru, saat kau tertidur. Maaf aku menciummu tanpa ijin, Ji.”

MWO??”

Tunggu. Bukannya sejak tadi aku berbicara sendiri?

Saat aku menoleh ke belakang. Seorang namja telah berdiri di depan pintu. Tinggi. Hanya celana jeans dan kaos polo hitam pun dapat membuat namja itu terlihat menawan. Aku yang seorang namja normal pun kagum dengan pesonanya. Di televisi pun dia sudah tampan, tapi ditemui secara langsung jauh lebih tampan.

“Choi… Choi Minho-ssi?”

“Eoh. Kau pacar Jiyi? Satu sekolah dengannya?”

Aku mengangguk pelan. “Annyeonghaseyo, Choi Minho-ssi. Kim Myungsoo imnida,” kuulurkan tanganku untuk menjabatnya.

Dia menyambut jabatan tanganku dengan santai dan ramah. “Kau bisa memanggilku ‘hyung’.”

Mataku berbinar seolah mendapat restu dadakan. Aku teringat pesan appa semalam untuk memintakan tanda tangan Minho hyung. Ah, kapan-kapan saja.

Dia mengambil tempat di sofa dengan nyaman.

“Duduklah. Kejadiannya bagaimana, Myungsoo-ya?”

“Katanya Jiyeon ditabrak mobil dengan kecepatan tinggi saat akan menyebrang di perempatan daerah Gangnam, hyung.”

“’Katanya’?” dia melipat tangan. Matanya menyipit. “Itu sepulang sekolah kan?”

Aku mengangguk. Aku mulai mengerti arah pembicaraan ini.

“Kau tidak mengantarnya pulang? Kalian sedang bertengkar?”

Aku hanya bisa mengangguk. “Maafkan aku, hyung.”

“Kau pasti merasa bersalahkan? Hentikanlah. Hal itu hanya akan menyiksamu. Kalau tahu Jiyi akan kecelakaan, aku yakin kau pasti akan bersikeras mengantarkannya pulang.”

“Hyung, kenapa kau percaya padaku?”

“Karena aku percaya pada pilihan Jiyi.”

Jiyeon memang sangat mirip oppa nya. Kepercayaan dirinya. Ketenangannya. Keterbukaan terhadap orang yang baru dikenal. Gen super seolah mengalir dalam keluarganya. Kalau saja orang tuanya tidak bercerai, tentu saja Jiyeon tidak akan kesepian di rumah.

“Kau sudah menemui dokter, hyung?”

“Sudah. Aku telah dikabari keadaan Jiyi. Kedua ginjalnya rusak.”

Jantungku berdentum hebat. “Hah? Lalu bagaimana, hyung?”

“Aku akan mendonorkan salah satu ginjalku untuk, Jiyi. kau tentu sudah tahu kan? Dengan satu ginjal saja manusia bisa hidup.”

Mataku mulai berembun. “Kamsahamnida, hyung. Jeongmalkamsahamnida.”

“Eiii, mwoya. Bukannya hal ini wajar? Jiyi adalah adikku. Sudah semestinya aku melakukan hal ini.”

Sepertinya sesaat lagi aku menjadi salah satu penggemar seorang Choi Minho. Kalau kuceritakan pada Jiyeon, dia pasti akan menggodaku habis-habisan.

By the way, kau pasti kenal Suzy kan? Sahabat Jiyi, anak basket.”

Sejak kemarin aku masih bingung harus memberitahu kedatangan Minho hyung atau tidak. Aku juga tidak tahu Suzy telah mengetahui berita kecelakaan Jiyeon atau tidak. Aku tidak ingin mengagetkannya. Takut hal itu akan berpengaruh pada kandungannya.

Ne, hyung. Mengenai kandungan Suzy…”

“Eh?” raut Minho hyung seolah tidak mengerti apa yang kukatakan.

“Kandungan Suzy, hyung. Anakmu,” ulangku.

“Hah? Suzy… Suzy mengandung? Anakku?”

Apa ini? Bukannya kata Suzy, Minho hyung sudah tahu tentang kehamilannya?

“Kau tidak tahu, hyung?”

Minho hyung menggeleng.

“Suzy telah mencarimu beberapa bulan terakhir, hyung. Tapi kau tidak ada kabar.”

“Aku ke Belanda, Myungsoo-ya. Ke rumah nenek dari pihak appa. Jiyeon pasti telah memberitahumu mengenai kutukan di keluargan kami kan? Awalnya aku menganggap itu lelucon. Tapi setelah dikabari mengenai penyakit Jiyeon oleh Riahn ahjumma, aku mulai menanggapinya dengan serius.”

“Mengenai penyakit itu, aku sudah menemui dokter dan kata dokter masih bisa disembuhkan, hyung.”

“Lalu… kecelakaan ini? Sebenarnya aku juga tidak mau percaya pada hal seperti ini. Tapi tetap saja… dan aku menemukan catatan di buku nenek, bahwa hal ini bisa dihentikan hanya dengan pengorbanan. Aku tidak tahu pengorbanan seperti apa yang dimaksud.”

“Mungkinkah dengan kau mendonorkan ginjalmu pada Jiyeon, hyung?”

“Semoga saja hal itu termasuk pengorbanan. Karena ada atau tidaknya kutukan itu, aku pasti tetap akan mendonorkan apapun yang ada pada diriku jika hal itu bisa menyelamatkan Jiyi.”

Aku bertanya dengan hati-hati. “Mengenai Suzy… Kau akan bertanggung jawab kan, hyung?”

“Tentu saja.”

Ku hembuskan nafas lega mendengar pernyataan Minho hyung.

Minho hyung menyeka genangan di ujung matanya. “Myungsoo-ya, aku telah merusak masa depan Suzy, eoh? Bodoh. Kau bodoh, Choi Minho.”

“Kalian melakukannya juga atas dasar suka sama suka kan, hyung.”

“Tapi kalau saja saat itu aku bisa menahan…”

Aku paham perasaan Minho hyung. Jika diingat saat aku sekamar dengan Jiyeon saja, pikiranku telah melayang ke segala arah. Mungkin karena Minho hyung lebih dewasa, lebih berumur dariku, makanya keinginannya lebih besar dari aku yang memang bisa dibilang buta akan skinship.

Tidak benar apabila hanya menyalahkan Minho hyung. Suzy sendiri juga salah. Harusnya dia bisa lebih menjaga dirinya.

“Hyung, bagaimana kalau sekarang kau menemui? Dia sangat menunggumu. Aku akan menjaga Jiyeon di sini.”

Gomawo, Myungsoo-ya.”

*—*—*—*—*

Author’s POV

Sambil menguatkan hati, Minho memencet bel rumah Suzy.

“Siapa?” terdengar suara serak eomma Suzy dari interkom.

“Eomoni, ini Minho. Choi Minho.”

Jinjja? Masuklah, Minho-ya.”

Pintu rumah Suzy pun terbuka. Minho masuk seperti biasa. Eomma Suzy memang sudah mengetahui bahwa dia berpacaran dengan anaknya.

Eomma Suzy menyambut Minho dengan sebuah pelukan. Wanita paruh baya itu mulai terisak.

“Terima kasih telah datang. Minho-ya. Terima kasih.”

“Eomoni, maafkan aku. Aku… masa depan Suzy… maafkan aku,” Minho tidak tahu bagaimana harus berkata-kata.

“Kau mau makan? Hari ini aku memasak sup kepiting kesukaan Suzy. Kalau tahu kau datang, aku akan memasak samgyupsal kesukaanmu,” eomma Suzy menuntun Minho ke ruang makan.

Jujur. Minho tidak mengira akan mendapat sambutan seperti ini. Minho telah mempersiapkan diri untuk mendapatkan caci-maki, kemarahan, bahkan tamparan dari eomma Suzy. Tapi berbanding terbalik, malah wanita itu memperlakukannya dengan sangat baik.

“Kau tahu dari mana tentang kehamilan Suzy?”

“Dari Myungsoo, eomoni. Aku tidak berniat melarikan diri dari tanggung jawab. Aku baru saja pulang dari Belanda, eomoni. Ada urusan keluarga yang harus aku selesaikan. Kalau tahu Suzy hamil, aku akan mengabari Suzy sebelum pergi.”

Minho pun mulai menceritakan keadaan Jiyeon.

“Eomoni turut prihatin mendengarnya, Minho-ya. Jadi besok kau akan mendonorkan ginjalmu pada Jiyeon?”

Ne, eomoni. Masalah Jiyeon ini sebaik kita rahasiakan dulu dari Suzy. Aku tidak ingin mengagetkan dia dan kandungannya.”

“Kau mau menemui Suzy? Dia sedang tidur di kamarnya, Minho-ya.”

“Suzy sudah makan, eomoni?”

“Belum. Dia bilang tidak selera.”

“Biar aku bawakan sup kepiting ini di kamar Suzy. Kalau dia bangun nanti, aku yang akan menyuruhnya makan, eomoni.”

*—*—*—*—*

Suzy membuka matanya perlahan. Dia mengerjap melihat sosok sangat dinantikannya.

“Aku pasti bermimpi lagi,” desah Suzy. Ia kembali memejamkan matanya.

Sebuah kecupan di keningnya membuat ia membuka matanya lagi. Memicingkan matanya. Meyakinkan apa yang dilihatnya nyata.

Minho meraih tangan Suzy. Menempelkan tangan itu untuk menyentuh wajahnya. “Kau tidak bermimpi,” diciumnya tangan Suzy. “Maaf, aku baru datang, eoh?”

“Oppa… aku… aku…”

“Aku sudah tahu.”

Disekanya titik-titik air mata yang mulai menuruni pipi yeoja yang sangat dicintainya. “Maafkan aku, Suzy-ah. Aku telah merusak masa depanmu. Jeongmal mianhae. Saranghae…

Suzy meletakkan tangan Minho diperutnya. “Aku tidak pernah menyesali hal ini, oppa.”

Wae?”

“Karena kau mencintaiku. Dan aku? Aku sangat mencintaimu. Aku telah mendiskusikan hal ini dengan eomma kemarin. Aku akan cuti dari sekolah. Setelah melahirkan nanti, aku bisa mengikuti ujian persamaan.”

“Aku heran, kenapa eomma mu tidak marah padaku?”

“Karena kau menantu idaman.Hahaha. Eomma tahu dan yakin bahwa oppa adalah namja yang baik, bertanggung jawab.”

Dipuji seperti itu membuat Minho sedikit tersipu. “Aku akan menikahimu.”

“Eh? Bagaimana dengan kuliahmu?”

“Kau saja bisa meninggalkan sekolahmu, kenapa aku tidak? Lagipula kuliah tidak seketat sekolah, Suzy-ah. Kau juga tahu kan banyak orang yang sudah menikah tetapi kuliah.”

“Basketmu?” tanya Suzy.

“Basketmu?” Minho balik bertanya sambil melayangkan pandangannya pada bola basket kesayangan Suzy yg bertengger di meja belajar.

Kedua orang itu tertawa. Basket memang menjadi salah satu hal yang menyatukan mereka. Hal yang sama-sama penting di kehidupan mereka. Namun, saat mereka telah menemukan satu sama lain. ‘kehilangan’ basket pun siap mereka hadapi.

“Oppa, aku belum menceritakan hal ini pada Jiyeon. Aku takut dia marah padaku.”

“Biar aku yang akan menjelaskan pada Jiyeon nanti. Suzy-ah, aku akan menceritakanmu sesuatu, tapi kau jangan kaget, eoh?”

“Baiklah.”

Anida. Kau belum makan kan? Kau makan dulu nanti kuceritakan. Mau kusuapi?”

Suzy menggeleng keras. “Aku bisa makan sendiri.”

Minho mengelus kepala Suzy. “Arasseo.”

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Suzy telah menghabiskan semangkuk sup kepitingnya.

“Sudah, oppa. Kau bisa mulai bercerita.”

“Jadi, Jiyeon…”

*—*—*—*—*

Myungsoo’s POV

Jongin meneleponku.

“Myungsoo-ya, aku minta maaf atas kejadian kapan hari,” ujarnya dari seberang.

“Aku juga minta maaf telah lalai menjaga Jiyeon, Jongin-ah.”

“Kita masih berteman kan?”

“Eiiii, dangyeonhaji.”

“Jiyeon bagaimana?”

“Barusan dia masuk ke ruang operasi.”

“Operasi ginjal itu?”

“Eoh.”

Terdengar helaan nafas Jongin. “Semoga operasinya berjalan lancar.”

“Amiiin.”

“Myungsoo-ya, nanti kau kenalkan aku pada Minho hyung ya?”

Mwo?”

“Kau tahu… aku fans beratnya.”

“Huh, dasar. Sehun kemana?”

“Hai, Myungsoo-ya. Kau mencariku? Kita harus kembali latihan. Tapi kalau kau sendirian di depan ruang operasi, kita bisa menyelinap bolos latihan dan-“ baru saja dibicarakan langsung muncul.

“Tidak perlu. Di sini aku bersama Suzy, eomma Suzy, serta eomma-appa ku. Semangat latihannya. Ku tunggu debut kalian. Fighting, saekki-ya! Hahaha.”

*—*—*—*—*

Operasi Jiyeon berjalan lancar. Kamarnya dan Minho hyung bersebelahan.

“Suzy-ah, ku rasa kau harus pindah ke kamar sebelah,” ujarku berusaha mengusir Suzy dari kamar Jiyeon.

Suzy menatapku garang. “Sudah lama aku tidak bertemu dengan sahabatku ini, Myungsoo-ya. Bahkan ada Jiyeon kecelakaan pun kau tidak memberitahuku. Tega sekali!” suaranya mulai bergetar.

“Jadi aku bisa memberitahu tentang rahasiamu pada Jiyeon kan? Jujur saja, gara-gara itu aku dan dia bertengkar. Dia bersikeras ingin tahu, sementara aku tidak bisa memberitahunya.”

Aku bisa merasakan hawa rasa bersalah mulai menghinggapi Suzy. “Aku berkata seperti ini bukan untuk membuatmu merasa bersalah. Kau juga sebaiknya jangan merasa bersalah karena hal itu akan membuat Jiyeon sedih. Hanya saja ku tegaskan, ke depannya jangan pernah memintaku merahasiakan hal apapun pada Jiyeon. Dia sahabatmu, percayalah, dia pasti bisa menerima seperti apa pun keadaanmu. Malah lebih baik kalau kau menceritakan sesuatu pada Jiyeon terlebih dahulu.”

Suzy mengangguk mengerti. “Gomawo, Kim Myungsoo. Aku mengerti.”

“Baiklah, kalau kau mengerti, mengapa kau tidak membiarkan temanmu ini mendapatkan privasi bersama pacarnya? Suamimu di kamar sebelah kan. Temani dia. Hahahaha,” godaku.

Semburat merah terlihat di pipi Suzy saat aku menyebut kata ‘suami’.

*—*—*—*—*

Author’s POV

Kelopak mata Jiyeon perlahan terbuka. Yeoja itu mengerjapkan mata beberapa kali. Myungsoo yang selalu setia di sampingnya juga ikut mengerjapkan mata.

“Ji, kau sudah sadar?”

Jiyeon hanya menjawabnya dengan senyuman.

*—*—*—*—*

Sebenarnya Myungsoo masih ingin menyimpan kebenaran tentang Suzy-Minho, namun Jiyeon terus merengek untuk minta diberitahu. Satu hari Myungsoo bertahan. Namun pada hari kedua pertahanannya runtuh. Terpaksa Myungsoo menceritakan semuanya. Selain tidak tega mendengar rengekan Jiyeon, Myungsoo merasa Jiyeon perlu tahu kebenarannya meski tidak harus secepat ini. Lagipula dia sudah ijin pada Suzy untuk tidak menyuruhnya menyimpan rahasia dari Jiyeon.

Sebisa mungkin, Myungsoo memberitahu Jiyeon dengan sangat perlahan. Dia tidak ingin yeoja itu kaget.

Setelah mendengar semua ceritanya, respon Jiyeon hanyalah diam. Yeoja yang masih dilekati beberapa jarum infus itu cukup lama terpekur.

“Aku besok harus kembali masuk sekolah,” keluh Myungsoo berusaha memecah keheningan.

“Tentu saja. Sebenarnya jatah liburmu tiga hari kan? Kau telah menambah sehari, Kim Myungsoo.”

Meskipun belum bisa banyak bergerak, kini Jiyeon telah lepas dari alat bantu pernafasan.

“Tapi kan aku menjaga yeoja chin-“

Jiyeon berdecak. “Aigoo, hanya karena yeoja chingu mu kau menjadi malas sekolah?”

“Bukan malas tap-“

“Lagipula aku sekarang sudah sadar, Myung,” untuk kedua kalinya Jiyeon memotong perkataan Myungsoo. “Ada dokter, suster, eomma-appa mu juga katanya nanti ke sini. Ah iya, Suzy juga boleh ke sini.”

“Myung…”

“Hmm?”

Mianhae. Hari itu… aku mengecewakanmu ya? Meskipun aku pacarmu, aku tetap tidak berhak kan memaksamu memberitahuku rahasia yang tidak bisa kau beritahukan pada siapapun. Jinjja mianhae, Myung.”

Myungsoo menatap Jiyeon dengan lembut. “Mulai saat ini aku tidak akan menyimpan rahasia apapun darimu.”

“Eh? Gwaenchana, Myung. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku-“

Myungsoo menggeleng. “Aku sendiri tidak nyaman menyimpan sesuatu darimu. Aku akan menjadi lebih baik, Ji. Andai saja saat itu aku memaksa mengantarmu pulang, mungkin kau tidak akan seperti ini.”

“Hey, semua kejadian yang ada telah di atur oleh Tuhan. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Oh iya, Myung, jadi Minho oppa ada di kamar sebelah bersama Suzy?”

“Eoh.”

“Myung, aku ingin bertemu dengan Oppa ku,” mata Jiyeon mulai berkabut. Sebisa mungkin dia menahan tangis yang sedari tadi hampir pecah di depan Myungsoo. Namja itu pasti akan sangat khawatir jika melihatnya menangis.

“Nanti, Ji. Kalau kau sudah bisa bangun, aku akan mengantarmu ke kamar Minho hyung.”

“Tapi Oppa sudah sadar kan?”

“Iya. Malah dia lebih dulu sadar daripada kau. Ji, kau mau aku keluar sebentar?”

“Buat apa?”

“Kau mau menangis kan? Aku tahu dari tadi kau menahannya.”

Satu persatu cairan hangat mulai menuruni pipi Jiyeon. “Kau selalu khawatir saat aku menangis. Kau juga menyalahkan dirimu dengan keadaan yang menimpaku. Aku tidak ingin menambah beban pikiranmu.”

“Myung, kau tahu Oppa ku telah mengorbankan sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Demi menyelamatkanku,” ujar Jiyeon di sela-sela tangisnya yang pecah.

“Ginjalnya?”

“Mimpinya. Basket.”

Kini Myungsoo mulai mengerti. Pengorbanan yang dilakukan oleh Minho bukan sekedar memberikan satu ginjalnya pada Jiyeon, tapi juga mengorbankan mimpinya. Memang manusia bisa hidup normal hanya dengan satu ginjal, tapi tentu saja ada beberapa aktivitas yang mengalami perbedaan.

Menjadi seorang atlet basket tentu saja Minho butuh latihan intensif. Apalagi di luar basket, Minho menyukai semua macam olahraga. Tidak ada olahraga yang tidak bisa dilakukannya. Dengan hanya satu ginjal, tentu saja dia tidak bisa melakukan semuanya seperti dulu.

Jiyeon masih tersedu. “Olahraga… Myung… Choi Minho juga menyukai renang. Oppa… oppa ku selalu mengikuti marathon tahunan. Tenis….”

Tidak ada yang bisa dilakukan Myungsoo selain menyeka air mata Jiyeon yang terus mengalir.

*—*—*—*—*

Dua bulan kemudian.

Sebuah koran dengan headline : “Choi Minho pensiun dini dari dunia basket” , dilemparkan ke pangkuan namja yang duduk mematut dirinya di kaca.

Yeoja yang melemparkan koran tadi kini merapikan tuxedo yang dipakai namja tersebut.

“Park Jiyeon, kau mau menangis lagi?” goda Minho. Dia mengacak-acak rambut dongsaeng tercintanya itu. “Sejak kapan kau jadi cengeng begini?”

Buru-buru Jiyeon menyeka air matanya. “Berdirilah, Oppa.”

Minho menurut.

“Hah, Oppa memang tampan sekali. Suzy sangat beruntung.”

“Bukannya Myungsoo juga tampan?”

“Iya sih, tapi tetap saja… Oppa adalah namja paling tampan di mataku.”

“Kalau Appa?” seorang pria paruh baya memasuki ruangan itu.

“Dulu Appa pernah paling tampan di mataku, tapi sudah tidak lagi,” jawab Jiyeon dingin.

“Park Jiyeon…” seorang wanita paruh baya juga memasuki ruangan. “Kau tidak boleh berkata seperti itu pada Appa mu.”

Sejujurnya saat ini Jiyeon merasa senang sekaligus rikuh. Sudah lama keluarganya tidak berkumpul bersama seperti ini. Tentu saja ini tidak akan berlangsung lama karena setelah ini orang tuanya tetap akan kembali pada rumah dan kesibukan masing-masing.

Jiyeon akan menikmati dan mengingat momen ini sebaik-baiknya.

*—*—*—*—*

Myungsoo menggandeng Jiyeon saat menyaksikan Minho dan Suzy mengucapkan sumpah setia.

“Nanti kita juga akan seperti itu kan, Ji?” bisik Myungsoo.

Mwo?”

“Aku mau kau yang ada bersamaku di altar nanti.”

“Kau melamarku sekarang? Micheosso. Pikiranmu terlalu jauh. Lebih baik kau berdoa untuk operasi kanker lambungku besok.”

Myungsoo merangkul Jiyeon erat. “Aku selalu berdoa untukmu dan aku yakin kau akan baik-baik saja. Karena kau akan bersamaku di altar nanti.”

Micheosso… jinjjaa…”

*—*—*—*—*

Lima tahun kemudian.

Jiyeon menatap tidak percaya namja yang lima tahun lalu berkata akan bersamanya di altar. Namja itu tertidur sangat pulas. Bahkan jika ada teriakan kebakaran pun ia tidak akan bangun.

Gomo… Myung samchoon aku bangunkan ya?”

“Semoga berhasil, Dahyun-ah.”

Choi Dahyun pun turun dari pangkuannya dan berjalan ke ranjang Myungsoo. Dia menempelkan permen di tangannya ke bibir Myungsoo.

“Mengantarkan makanan, Ji?” sapa Seulgi.

“Eoh. Semalam dia habis operasi?”

Seulgi mengangguk. “Operasinya berjalan selama lima jam. Pantas kan kalau pacarmu tepar seperti itu?”

Jiyeon tertawa. Seulgi benar juga. Myungsoo pasti sangat lelah. Tidak, dia selalu lelah sejak mulai menjadi residen di rumah sakit. Seulgi adalah salah satu residen dari kampus yang sama dengan Myungsoo. Bisa dibilang Jiyeon juga cukup akrab dengan Seulgi.

Usaha Dahyun mulai membuahkan hasil. Myungsoo membuka matanya.

“Eoh? Choi Dahyun wasseo,” sapa Myungsoo dengan suara serak. Segera ia bangun dan membawa Dahyun ke pangkuannya.

“Dahyun-ah, mau ikut Seulgi eonni jalan-jalan ke taman rumah sakit? Myungsoo samchoon akan makan siang dulu,” ajak Seulgi pada anak perempuan berumur lima tahun itu.

Geurae. Samchoon, makan yang banyak ya,” pesan Dahyun.

“Eung. Arassaeo,” jawabnya sambil mencubit pipi Dahyun gemas.

“Tidak terasa anak Minho hyung dan Suzy sudah sebesar itu ya, Ji?”

“Hahaha kau benar. Myung, hari ini aku membawakan asam manis udang kesukaanmu. Aku mencoba memasaknya sendiri.”

“Waaah, ibu pengacara memasak untukku? Aku beruntung sekali.”

*—*—*—*—*

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Myungsoo telah menghabiskan makanan yang dibawa Jiyeon.

“Myung, kau masih lapar? Mau aku belikan makanan di kantin rumah sakit?”

“Tidak usah, Ji. Wah, terima kasih atas masakannya. Siapa sangka seorang Park Jiyeon ahli dalam memasak?”

Mendengarnya membuat Jiyeon tersipu. “Siapapun bisa memasak seperti itu, Myung,” jawab Jiyeon merendah.

“Kau sudah sangat istri-able, Ji. Hahaha…”

Jiyeon mengangguk membenarkan.

“Ji… kau masih mau menungguku kan?”

“Tentu saja. Sampai kapan pun aku akan menunggumu. Saat ini kau hanya perlu berkonsentrasi pada studi kedokteranmu.”

Kepala seorang residen lain menyembul di balik pintu. “Myungsoo-ya, lima menit lagi ada pasien masuk ke UGD. Bersiaplah.”

“Eoh. Arasseo.”

“Bersiap-siaplah, Myung. Aku akan menjemput Dahyun di taman. Aku akan langsung pulang,” Jiyeon berdiri merapikan tempat makannya.

Myungsoo memberinya pelukan hangat dan erat. “Saranghae, Park Jiyeon.”

Nado, Kim Myungsoo. Do your best, eoh?”

—–  END —–

Author’s note:

Telat banget yaa hehe. Maaf para reader-nim. Urusan RL bener-bener ga bisa ditinggalin. Semoga kalian tetep suka dan enjoy. Sedihnya ini last part dari Jiyeon-Myungsoo wkwk. Secepatnya author bakal usahain balik dengan cerita baru. Makasih banyak buat yang udah baca Everglow. Maaf atas segala kesalahan, kekurangan, dan typo yang ada. /bow/ Annyeong! ~~

16 responses to “[CHAPTER-PART 4-END] Everglow

  1. yee akhirnya happy ending
    thor buat fanfic myungyeon lgi dong
    di tunggu karya” myungyeon yg lain , ato pun karya” jiyeon dngan pair yg lain thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s