[CHAPTER] IT’S CRAZY #6

image

( Poster by :HRa@HighSchoolGraphics (thanks ^^)

Author : Park Eun Ji
Main Cast:
Bae Suzy (MISS A)
Kim Myung Soo (INFINITE)
Yook Sung Jae (BTOB)
Yoo Young Jae (B.A.P)
Cameo:
Suprise for you 😉
Genre : Romance, School-life
Rating : PG-13
Disclaimer : All cast belong to God and his/herself 🙂 Plot?Mine! 🙂
Previous : #BREAKUP ~ #CRAZYDAY ~ #CONFUSED ~. #ESPERANZA ~ #WHATADAY

ENJOY ^^

©2016

#WhichOne?
” Mana ku tahu? Begitu kembali dari membuang sampah mereka sudah seperti itu.” Youngjae mengangkat bahu cuek lalu kembali sibuk menulis rangkuman dari buku. Itu jawabannya saat kutanya mengenai ia melihat kejadian di cafe beberapa minggu lalu.
” Ah sudah lupakan saja.” Aku juga kembali sibuk membaca buku, saat ini kami sedang berada di perpustakaan. Ujian akhir sebentar lagi, kami semua harus bekerja keras agar mendapat nilai terbaik dan masuk ke universitas ternama. Seolhyun harus pulang lebih dulu karena ada harus mengikuti bimbingan belajar. Jadwal Youngjae adalah besok sementara aku tiga hari lagi. Jadi kami memutuskan untuk belajar sendiri di perpustakaan.
Ketika ingin membalik halaman, tanpa sengaja aku melihat Youngjae. Ia tidak membuat tulisan, lebih tepatnya ia sedang mencoret-coret bukunya. Aneh, tidak biasanya ia tidak fokus seperti itu. Pasti ada sesuatu yang sedang ia pikirkan saat ini.
” Ada apa?” Aku bertanya, membuat Youngjae menghentikan coretannya tapi tidak memandangku. Ia tampak sedang berpikir keras.
” Kau masih meragukan Myungsoo? ” Aku mencoba bertanya kembali, kali ini Youngjae meletakkan pulpennya dan memandangku dengan wajah serius.
” Tidak. Aku justru meragukan Sungjae. ”
Aku mengangkat kedua alisku heran. Kenapa ia tiba-tiba membahas Sungjae? Dari tadi kan aku membicarakan tentang Myungsoo.
” Setahuku, dia tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Bahkan ada sampai rumor bahwa dia seorang gay. ” Aku refleks berdeham ketika mendengar rumor itu. Siapa yang menyebarkan rumor itu ya kira-kira? Apakah orang itu melihat Sungjae bersama Junghoon?

Youngjae menatapku curiga, sementara aku berusaha keras agar terlihat tenang. Bisa bahaya kalau Youngjae mengetahui yang sebenarnya. Walaupun aku tahu betul Youngjae bukan orang yang bermulut besar tetapi tetap saja aku tidak tenang, aku sudah berjanji pada Sungjae kalau aku tidak akan mengatakannya pada siapapun.

” Jangan-jangan, kau tahu yang sebenarnya ya?” Youngjae menatapku dengan tatapan ‘cepat katakan yang sebenarnya’.
Aku memasang ekspresi sedatar mungkin. ” Tadi tenggorokanku hanya sedikit gatal, makanya aku berdeham sedikit. Oh ya memangnya kenapa kalau ia tidak dekat dengan wanita manapun? Kau juga begitu bukan? “Aku mengalihkan pembicaraan dengan bertanya balik kepada Youngjae.
Untungnya saat ini Youngjae sedang mudah dialihkan pembicaraannya, ia mengangkat bahu. ” Untuk saat ini aku sedang ingin fokus agar bisa masuk ke Seoul National University.” Ah, iya. Ayah Youngjae merupakan alumni SNU, beliau ingin anaknya agar masuk ke universitas bergengsi itu. Youngjae tidak ingin mengecewakan Ayahnya, makanya ia mati-matian belajar sampai larut malam agar bisa lulus ujian masuk ke sana.
” Selama ini dia tidak pernah dekat dengan siapapun. Kenapa Sungjae tiba-tiba dekat denganmu? Apakah ada sesuatu di antara kalian?” Youngjae memberiku tatapan menyelidik, ia seperti seorang detektif yang sedang mencari barang bukti. Aku mengangkat bahu, memangnya aku seseorang yang mengetahui segalanya?
” Kau sudah memasang gembok di Namsan Tower dengannya. Jangan-jangan kalian sudah berpacaran ya?” Youngjae kembali mengajukan pertanyaan. Kenapa dia menjadi begitu banyak bicara?
” Aku tidak percaya dengan mitos gembok itu. Lagipula warna gembokku dan gembok Sungjae sangat berbeda jauh. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya.” Aku kembali merangkum di buku tulisku. Aku cuma iseng saja saat memasang gembok, kenapa Youngjae menganggapnya serius? Sejak kapan ia percaya pada mitos-mitos aneh yang bahkan tidak bisa dibuktikan kebenarannya?
Youngjae memandangku dengan tatapan menyelidik. Aku tahu betul ia seperti ini karena dia tidak ingin aku tidak terlalu gegabah dalam bertindak.
” Tenang saja, aku tahu apa yang kuperbuat. Lagipula rumor bahwa dia gay itu tidak sepenuhnya benar. ” Aku mengigit ujung pulpenku, berusaha kembali fokus pada contoh soal. Sial, kenapa ketika aku ingin konsentrasi aku malah menemukan contoh yang sulit?
Aku mengangkat kepala, hendak bertanya kepada Youngjae. Tapi aku kembali menutup mulutku ketika melihat Youngjae. Ia menatapku dengan datar, tapi aku tahu arti dari tatapan itu. Dia sedang berusaha mencari tahu tentangku.
” Kau menyukai Sungjae.”
Apa?
” Wajahmu merona ketika aku menyebut nama Sungjae.”
Aku tertawa sambil membuka halaman buku selanjutnya. Kenapa tawaku menjadi tidak enak didengar?
” Aku benar kan?”
Pertanyaan Youngjae membuat tawaku berhenti. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, aku sendiri masih belum tahu mengenai perasaanku.
” Dan juga kau masih menyukai Myungsoo. Kau bodoh Suzy.” Ucap Youngjae frontal. Yang bodoh itu Youngjae! Aku sudah putus dengannya, mana mungkin aku masih memiliki perasaan kepadanya.

Kenapa aku merasa tidak enak ketika aku mengatakannya?

” Aku tahu kau sedang bimbang. Kau menyukai Sungjae dan Myungsoo bersamaan.” Youngjae menautkan jari-jarinya.
” Hah?Memangnya aku bisa seperti itu?” Menyukai dua orang secara bersamaan? Tidak ada hal seperti itu.
” Kau hanya belum menyadarinya. Pada akhirnya bisakah kau memilih?” Youngjae menatapku dalam. Ia seolah sedang berusaha menyelami pikiranku melalui mataku.
Aku tidak mampu untuk mengangguk, tidak mampu untuk menggeleng, bahkan aku tidak mampu bersuara untuk menjawab pertanyaan Youngjae. Aku biarkan sepi menjawab pertanyaan Youngjae, pertanyaan yang aku tidak pahami karena bisa memiliki banyak jawaban atau tidak membutuhkan jawaban sama sekali.

                                       IT’S CRAZY

Aku meregangkan badanku setelah berkutat dengan buku-buku tebal dan latihan soal selama beberapa jam. Namun, aku tidak bisa melakukannya karena penjaga perpustakaan sudah menatap kami dengan tajam. Aku menarik Youngjae sebelum penjaga perpustakaan benar-benar marah karena perpustakaan sudah tutup sementara kami masih di sini.

” Kau benar tidak apa-apa?” Youngjae menatapku khawatir setelah kami sampai di pintu gerbang sekolah. Ia akan membeli bahan makanan di supermarket sementara aku ingin cepat-cepat pulang.
” Memangnya selama ini aku pulang dengan siapa? Kan rumahmu dengan Seolhyun berbeda arah denganku.”
Youngjae mengacak rambutku. Ia tahu aku sudah biasa pulang sendiri, aku bisa menjaga diriku sendiri. ” Ya sudah, kalau begitu sampai jumpa. Jangan tidur terlalu larut.”
Aku merapikan rambutku yang berantakan sambil membalas lambaian tangan Youngjae. ” Iya Ibu Youngjae.” Belakangan ini ia jadi semakin banyak bicara. Padahal saat pertama kali bertemu, ia hanya berbicara seadanya jika ditanya.
Aku berbalik menyusuri trotoar menuju halte bis. Tidak jauh, hanya berjarak 50 meter. Saat aku sampai di halte, sialnya hujan turun dengan derasnnya. Padahal aku tidak membawa payung, bagaimana bisa aku berjalan kaki ke rumahku tanpa kebasahan?
” Yo!” Sungjae tahu-tahu menepuk bahuku dan duduk di sebelahku. Membuatku yang sedang menunggu hujan reda menjadi terkejut. Rambut dan seragamnya sedikit basah karena kehujanan.
” Jam sekolah sudah lama berakhir. Apa yang kau lakukan di sini?” Aku mengeraskan suaraku menyaingi suara hujan yang turun begitu derasnya.
” Seharusnya aku yang tanya begitu padamu. ” Sungjae tertawa lalu ia melanjutkan ” Aku habis terapi di psikiater tidak jauh dari sini. Sekarang, pikiranku sedikit tercerahkan.”

Tiba-tiba suara petir bergema dengan kerasnya. Membuatku refleks memegang lengan Sungjae dan memejamkan mata. Aku sedikit mengalami astraphobia. Takut dengan petir. Dulu, aku pernah ditinggal sendirian di rumah saat hujan deras. Tiba-tiba petir menggelegar, membuat lampu dirumahku mati dan membuatku memikirkan hal-hal aneh seperti hantu dan perampok. Petir dengan suara kencang lah yang membuatku sangat takut. Jika pelan, aku masih bisa tahan.

” Tidak apa-apa. Aku ada disini menemanimu. ” Sungjae menenangkanku dan menepuk-nepuk lembut kepalaku. Aku membuka mata dan menarik tanganku dari lengan Sungjae. Juga mengangkat kepalaku yang entah bagaimana sudah berada di lengan Sungjae juga.
Aku menatap Sungjae yang balas menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ia pasti terkejut karena sikap bodohku tadi. ” Maaf, aku-”
Tiba-tiba Sungjae memelukku, aku begitu terkejut sampai tidak bisa berbuat apa-apa. Ia memelukku erat. Pelukannya terasa begitu hangat, membuatku merasa terlindungi, membuatku tidak bisa memikirkan hal lain.
” Terima kasih telah datang di kehidupanku Suzy.” Sungjae berkata pelan. Ia melepas pelukannya dan menatapku yang masih kebingungan karena pelukannya tadi.
” Kau seperti memberikanku kehidupan kedua, Suzy. Kau telah membuka pikiranku yang sempit ini.” Sungjae mengalihkan pandangannya dariku, menatap jalanan yang basah oleh air hujan. Aku mengerutkan keningku, mencerna perkataan aneh Sungjae. Apa maksudnya? Aku tidak mengerti sama sekali.
” Aku tidak melakukan apapun. Bagaimana bisa aku membawa perubahan yang begitu besar bagimu?” Aku bertanya dalam kebingungan, Sungjae menjawabnya dengan senyum yang terlihat menyakitkan.
” Aku dan Junghoon dulunya bersahabat. Saat orang tuaku meninggal lima tahun yang lalu, duniaku seakan runtuh. Bisa dibilang aku tidak punya alasan untuk hidup lagi.” Tangan Sungjae mengepal dengan kuat bangku yang ia duduki. ” Kedua orang yang paling berharga dalam hidupku meninggalkanku. Aku berpikir kenapa aku tidak menyusul mereka saja? Saat pikiran itu muncul, aku berpikir untuk mengakhiri hidupku.”
” Lalu saat itu Junghoon datang kepadaku. Ia berkata kepadaku seperti ini ‘Diluar sana banyak orang yang rela melakukan apapun demi sebuah kehidupan. Kenapa kau menyia-nyiakan hidupmu dengan mudahnya?’. Saat itu aku hanya bisa terdiam.” Sungjae terdiam sesaat lalu melanjutkan kembali.
” Sejak saat itu, aku dan Junghoon semakin dekat. Semakin dekat hingga berkembang ke hubungan yang tidak seharusnya dilakukan. Menyukai sesama jenis.” Raut wajah Sungjae menjadi kelam.
” Aku tahu itu salah tapi saat itu aku berpikir cuma Junghoon yang menemaniku di saat sulit. Datang kepadaku disaat aku sedang kesepian. Oleh karena itu, aku membiarkannya. Hingga ketika, aku berada di kafe dan melihatmu datang dengan wajah murka yang menyeramkan, sedang berdebat dengan seorang pria yang sedang berciuman dengan wanita.” Sungjae tetap bercerita dengan raut wajah serius. Kalau saja situasinya tidak seperti ini, akan kupukul dia. ‘Wajah murka yang menyeramkan’, memangnya aku hantu penasaran yang diliputi dendam?
” Aku ingin menengahi, ingin memberitahu bahwa wanita itu yang mencium pria itu. Tapi aku tidak mau ikut campur.”
” Lalu saat melihatmu keluar dari pintu kafe dengan wajah menahan air mata, aku seperti tersentak. Mendadak, rasa ingin melindungi terasa kuat di benakku. Saat itu aku tersadar, aku ingin menjadi laki-laki yang normal. Aku ingin menjadi laki-laki yang dapat diandalkan. Aku tahu mungkin aku tidak akan bertemu denganmu lagi, tapi rasa ingin melindungi itu membuatku ingin berubah. Aku memutuskan hubungan dengan Junghoon. ” Sungjae terdiam sesaat, lalu menggumamkan sesuatu dengan suara pelan.
” Saat aku benar-benar sembuh, aku akan menyatakan perasaanku kepadamu.”
” Apa?” Aku tidak dapat mendengar perkataan Sungjae karena suaranya terdengar sangat pelan di antara hujan deras ini.
Sungjae menampilkan senyum tanpa bebannya kembali. ” Bukan apa-apa. ”

Aku memandangi hujan yang mulai mereda. Sungjae yang selalu tersenyum dan seolah-olah tidak memiliki masalah ternyata memiliki kehidupan yang begitu rumit. Sekarang aku mengerti tatapan Sungjae dan Junghoon waktu di minimarket. Selain perasaan terluka, tatapan itu memiliki arti lain karena mereka berdua sudah bersahabat.

Tiba-tiba aku teringat dengan Junghoon. Sejak di minimarket, tidak pernah aku melihat Junghoon menemui Sungjae lagi ataupun sebaliknya. ” Lalu, kau tidak pernah berhubungan dengan Junghoon lagi? Maksudku, kalian kan dulu bersahabat.”
Sungjae menggeleng. ” Beberapa hari setelah itu, Junghoon terus menerorku dengan sms dan telepon. Tapi suatu hari, ia mengirimiku pesan singkat. Ia berkata bahwa ia ingin menenangkan diri sama sepertiku dan meminta maaf. Ia berkata aku akan selalu menjadi sahabatnya, apapun yang terjadi. ” Sungjae tersenyum. ” Percayalah, dibalik sikapnya yang seperti itu sesungguhnya dia orang baik.”

Aku tersenyum memandangi jalanan yang basah karena hujan tadi. Hujan telah benar-benar berhenti. Kuharap mereka bisa kembali seperti dulu lagi. Bersahabat maksudku.

Dan aku baru menyadari bahwa beberapa bis menuju ke rumahku berhenti di halte ini. Bis terakhir baru saja akan menutup pintunya kalau aku tidak segera bangkit berdiri dan masuk.

                                     IT’S CRAZY

Saat aku berjalan menuju rumahku, aku melihat Myungsoo di depan pintu rumahku. Wajahnya terlihat bingung, ia mengangkat tangannya untuk memencet bel lalu menurunkannya. Myungsoo memasukkan kedua tangannya ke saku dan bermaksud untuk pulang. Namun langkahnya terhenti begitu melihatku yang sedang mengamatinya.

” Kau boleh datang ke rumahku seperti biasa. Aku tidak akan mengusirmu kok. ” Aku tersenyum, berusaha mencairkan suasana.
” Ini sudah malam, kau darimana saja? Kupikir kau sudah pulang ke rumah.” Myungsoo menghampiriku dan menatapku dengan khawatir.
” Kau lupa? Aku ini sudah berada di tahun terakhirku di SMA. Aku belajar di sekolah untuk persiapan ujian akhir.” Aku kemudian memperhatikan Myungsoo yang terlihat keren dengan kaus, jaket kulit dan tas ransel hitamny. Ditambah lagi dengan celana jins dan sepatu converse coklatnya yang biasa. Iya, ia selalu terlihat keren dalam keadaan apapun.
” Kau sendiri kenapa mendatangi rumahku malam-malam? Lebih baik kau istirahat di rumah. Aku melihatmu banyak bertugas akhir-akhir ini di televisi. ”
Senyum Myungsoo hilang, ia terdiam sesaat. Ini membuatku canggung, kenapa sih Sungjae dan Myungsoo gemar sekali untuk terdiam sesaat? ” Aku hanya ingin melihatmu.”
Jantungku berdegup kencang mendengar perkataan itu. Aku harus menjawabnya dengan apa?
Ponselku mendadak berbunyi. Syukurlah, aku terselamatkan dari situasi canggung ini.
” Halo. Sungjae? Kenapa meneleponku?…Oh besok berikan saja di sekolah….iya aku sudah sampai rumah…..sampai jumpa. ” Aku menutup telepon dan merasakan wajahku sedikit memanas.
Myungsoo menatapku dengan tatapan bertanya. ” Buku catatanku tertinggal.” Aku menjelaskan.
” Sungjae itu…pacarmu?” Myungsoo bertanya tanpa tersenyum.
” Bukan, dia temanku. ” Aku menjawab. Apa-apaan situasi ini? Kenapa aku dan Myungsoo seperti seseorang yang sedang berpacaran?
” Wajahmu memerah sejak menerima telepon dari orang itu. ” Myungsoo masih belum tersenyum, ekspresinya kaku sekali.
Aku memegangi wajahku dengan sebelah tangan. ” Aku tidak ada hubunga-”
Tiba-tiba Myungsoo memelukku. ” Tolong, jangan berpaling dariku. Karena rasanya menyakitkan melihatmu bahagia dengan orang lain selain aku.”

Untuk pertama kalinya sejak aku putus dengan Myungsoo, ia memelukku. Pelukannya masih sama seperti dulu, hangat dan menenangkan. Membuatku merasa nyaman. Dulu saat aku masih berpacaran dengannya, mungkin aku akan membalas pelukannya. Tapi sekarang keadaannya sudah berbeda, ada batasan-batasan karena aku dan Myungsoo hanya berteman.

Aku melepaskan pelukan Myungsoo. Ia menatapku dengan pandangan sedih. ” Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu tidak nyaman.” Myungsoo kemudian melanjutkan lagi. ” Tolong lupakan kejadian tadi. Cepatlah masuk, udara di luar dingin.” Ia berusaha untuk tersenyum. Lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. ” Ini tanda tangan EXO. Tolong, jangan memintaku untuk melakukannya lagi karena sangat sulit untuk mendapatkannya.” Ia berkata dengan nada bercanda. ” Sampai jumpa.” Kemudian ia membalikkan badannya dan pergi.

Aku membuka notes itu. Ternyata benar saja, ada tanda tangan member EXO di setiap halaman beserta namaku. Padahal aku hanya bercanda saja saat itu, tapi ia menanggapinya dengan serius.

Youngjae benar tentangku. Aku masih menyukai Myungsoo. Ditambah lagi aku juga menyukai Sungjae. Aku masih terpaku di luar rumahku, memegangi notes tanda tangan EXO. Pada akhirnya, bisakah aku memilih? Bisakah aku memilih Myungsoo dan meninggalkan Sungjae? Atau bisakah aku memilih Sungjae dan meninggalkan Myungsoo? Mendadak, kepalaku menjadi terasa sakit dan hatiku terasa sesak.

TBC
A/N: Masih inget dengan FF ini?._. Terima kasih buat readers yang mau bersabar nungguin update FF ini ya. Jujur aja, aku gatau cerita ini mau dibawa kemana jadi lama buat bikinnya ‘-‘ Have a nice day~ gamsahamnida~ #SedihbesokSenin

11 responses to “[CHAPTER] IT’S CRAZY #6

  1. Pingback: [CHAPTER] IT’S CRAZY #10 | High School Fanfiction·

  2. Pingback: [CHAPTER] IT’S CRAZY #9 | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s