[CHAPTER – PART 13] Skinny Love

litlethief-order-skinny-love

Skinny Love by Little Thief

Cast: Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Other cast: Park Sooyoung (Joy), Choi Minho and Lee Jieun (IU), etc

Genre: romance, little bit angst

Rating: PG-13

Length: Chaptered

Ketika jadwal keberangkatan Sooyoung sudah hampir cepat, Jiyeon malah menyengajakan diri datang terlambat. Dia benar-benar capek setelah dua bulan penuh bekerja nyaris dua puluh empat jam, dan sekarang Myungsoo harus tahu bahwa dia butuh istirahat.

Uangnya belum cukup, tapi setidaknya dengan sedikit keberuntungan bisa lebih dari cukup. Tentu saja keberuntungan bagi Jiyeon itu misalnya dia menang undian, atau Myungsoo memberi uang amplop tiga kali seminggu. Lagipula dia sekarang sudah sibuk mengurusi paspor dan visa untuk Sooyoung, sambil dalam hati bertanya kapan dia juga bisa mengurus paspornya juga. Dia tak pernah punya.

Namun semuanya buyar pada hari itu. Pagi hari itu.

Pada pukul sembilan, setelah pamit pada Ayahnya yang kondisinya baik sekali hari ini—tadi asyik menonton berita di TV—dia pergi ke luar rumah. Tasnya dia sandang di punggung. Ketika berjalan keluar rumah tuanya, dia menabrak seseorang yang sedang terburu-buru dan tak sengaja menabraknya.

“Maaf!” seru Jiyeon walau dia tidak salah. Bunyi benda berdebam-debam ke aspal. Dengan terburu-buru, Jiyeon membungkuk untuk membantu orang itu. Namun rupanya hanya dia saja yang melakukannya, karena yang menabraknya kini menatap dirinya terpana.

“Jiyeon?” tanya suara itu, suara yang sangat…familiar. “Jiyeon? Kau Park Jiyeon, kan?”

Mendengar suaranya, Jiyeon tidak sanggup lagi mendongak. Ini…suara yang dulu sangat dia sukai, yang telah lama sekali hilang dari kehidupannya. Jiyeon tak menyangka bisa mendengarnya lagi, setelah empat tahun berlalu.

Namun Jiyeon tahu tidak bisa selamanya menunduk seperti tidak punya tulang leher begitu. Jadi dia mendongak, dan tatapan di depannya serasa baru saja membakarnya. Orang yang tadi menabraknya itu sekarang memandang matanya penuh rasa minat dan kerinduan, senyuman tidak lepas dari bibirnya.

“Chanyeol—Channie?” tanya Jiyeon, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tidak mungkin ini semua hanya kebetulan orang itu menabraknya.

“Hai,” kata Chanyeol sambil nyengir. Pemuda itu banyak sekali berubah. Bertambah tinggi dan suaranya semakin berat, namun senyum dan matanya tetap sama.

Dengan canggung, Jiyeon dan Chanyeol berdiri, tapi masing-masing dari mereka masih saling memandang. Setelah rasanya lama sekali mengumpulkan suara, Jiyeon berbisik, “Kau pulang…”

“Ya,” gumam Chanyeol, merebut benda-benda berjatuhan yang tadi dipungut Jiyeon. Rupanya itu adalah tumpukan kardus. “Aku pulang dua hari lalu, tapi rasanya kau tidak pernah ada di rumah saat siang, jadi kupikir kau pasti sedang sibuk sekali. Kebetulan sekali, kita bertemu pagi ini.”

“Ya ampun!” desah Jiyeon, entah mau senang, sedih, terharu atau lega. Yang jelas lagi-lagi tumpukan kardus itu jatuh karena Jiyeon menghambur ke pelukan Chanyeol. “Anak tolol, kau tidak bilang-bilang kalau kau kembali…aku bisa buatkan kau semacam acara penyambutan…”

Suara tawa riang Chanyeol terdengar, dia mengusap punggung Jiyeon. Mereka melepaskan diri, dan lagi-lagi pria itu nyengir lebar. “Kau kenapa, sih? Jadi kelihatan seperti orang lelah begitu. Bagaimana kabar adikmu?”

“Sooyoung baik-baik saja,” tukas Jiyeon cepat. “Maaf tadi aku menabrakmu. Jangan bicara di sini, kita bisa ngobrol sambil makan di suatu tempat. Kau mau kirim kardus-kardus ini ke mana?”

Chanyeol ikut membantu Jiyeon memungut kardus yang tadi terjatuh. “Kardus ini isinya beberapa paket makanan…kau tahu, kan, tetangga kita. Aku memberikan mereka sebagai oleh-oleh karena empat tahun tidak pulang.” Kata Chanyeol, seringai manis timbul di wajahnya. Mau tak mau, Jiyeon ikut tersenyum melihatnya.

“Aku baru saja hendak bekerja,” gumam Jiyeon, mulai berjalan. Chanyeol mengikuti di sisinya. “Aku kerja di kafe sekarang. Kau mau ikut? Kita bisa ngobrol di sana selagi aku bekerja.”

“Sungguh?” tanya Chanyeol dengan mata berbinar. “Aku mau ikut!”

Jiyeon tersenyum lemah. Maka dia dan Chanyeol berjalan, sesekali berhenti di rumah tetangga, yang menyambut kehadiran Chanyeol dengan gembira.

***

Pada saat usia Jiyeon lima belas tahun, salah satu tetangganya yang berbeda dua rumah darinya—yang sudah tua—meninggal. Seorang kakek berusia sepuh yang hidup sendiri. Sewaktu Jiyeon masih kecil, dia tinggal bersama istrinya. Nenek itu orang baik, suka membelikan Jiyeon dan Sooyoung baju-baju cantik yang dibawanya dari desa. Ketika usia Jiyeon sebelas tahun, Nenek itu meninggal dan suaminya hidup sendirian sejak itu.

Kakek itu punya dua anak yang semuanya sukses besar, yang jelas mereka semua tidak lagi tinggal di Korea. Mereka jarang pulang untuk menjenguk ayahnya. Maka, sekitar dua bulan setelah Kakek itu meninggal, rumah itu dijual dan keluarga Chanyeol menempatinya.

Awalnya Jiyeon mengacuhkan cowok itu, walaupun beberapa kali tampaknya Chanyeol hendak memperkenalkan diri. Padahal anak itu tidak buruk juga. Wajahnya cukup mempesona, suaranya serak dan dalam, ditambah tingginya yang spektakuler. Saat itu, Jiyeon baru akan masuk SMA dan menyadari bahwa anak itu ternyata satu sekolah dengannya.

Suatu hari ketika seminggu Jiyeon masuk sekolah, Chanyeol membuntutinya pulang. Membuat Jiyeon tidak tahan. Dia membalikkan badan dan berseru nyaring, “Kau ngapain, sih, mengikutiku?”

Chanyeol tampak kaget mendengar reaksi mendadak seperti itu, namun kemudian dia tergelak. “Rumahku berdekatan dengan rumahmu. Kau tidak tahu aku?”

Namun dengan angkuh Jiyeon kembali berjalan membelakangi Chanyeol. Ketika Chanyeol membuka pagar rumahnya, pemuda itu berteriak dengan suara khasnya. “Namamu siapa?”

“Park Jiyeon!”

“Aku Park Chanyeol,” kata pemuda itu, sebelum pintu pagar besi berdecit kembali tanda Chanyeol telah menutupnya.

“Ya, dan jangan ganggu aku lagi! Kita bukan tetangga!” teriak Jiyeon, agak berang. Dia masuk ke rumahnya dan setelah itu, dia menganggap Chanyeol sama sekali bukan tetangganya.

Namun semua arogan itu berakhir saat dua bulan pertama sekolah. Beberapa anak tahu latar belakang keluarga Jiyeon yang mungkin agak menengah ke bawah. Fakta bahwa Ibunya—yang saat itu masih hidup—adalah seorang penjahit, dan ayahnya—yang saat itu belum sakit-sakitan—adalah pegawai kantoran swasta, dia di-bully.

Tidak ada yang aneh dari anak yang orangtuanya adalah pegawai dan penjahit. Toh orangtua Jiyeon juga menerima gaji cukup, anaknya tak pernah kesusahan makan. Namun sekumpulan gadis populer yang menyukai Chanyeol, telah melihat bahwa cowok itu suka sekali membuntuti Jiyeon, dan menatapnya saat mereka papasan. Mereka iri dan mengira ada hubungan lebih di antara dua orang itu. Jadi mereka berusaha membuat Jiyeon terlihat kotor dengan menghina keluarganya.

Di suatu hari, setelah enam bulan bersekolah, Jiyeon sedang menangis di undakan tangga depan pintu utama sekolah. Baju olahraganya ditumpahi air, mejanya dikotori dengan saus, dan ada jebakan di kelas yang dibuat khusus untuknya, membuat dia terjatuh dan kakinya keseleo. Lutut kanannya agak membiru. Dan tak ada yang menolongnya sama sekali, mereka semua malah tertawa senang melihat dirinya kesusahan.

Dia mendengar seseorang menuruni undakan dengan cepat dan lantas mengambil tempat di sebelahnya. Jiyeon tidak melihat siapa orang itu. Dia tetap tertunduk, tidak mau siapapun melihat airmatanya. Namun orang itu memulai, “Kau menangis, ya? Kenapa?”

Jiyeon mendongak dan melihat Chanyeol di sebelahnya. Tadinya dia hendak berteriak agar orang itu menjauh, tapi tidak sanggup. Dia terlalu tersendat. “Bukan urusanmu.”

“Kita tetangga dan harusnya jadi teman. Urusanmu juga urusanku,” kata Chanyeol tegas. “Aku bisa membantumu melewati kesusahan ini. Oh, kau bisa melewati kesulitan ini bersamaku kalau mau.”

Mendengarnya, Jiyeon tidak lagi marah. Dia hanya diam, dan menghela napas. Dia menegakkan kepala dan memandang lapangan olahraga yang berumput hijau dan menatap Chanyeol dengan mata sembab. “Aku ada pelajaran olahraga setelah istrahat ini, tapi pakaianku ditumpahi air sampai parah sekali.”

“Itu gampang,” kata Chanyeol. Dia berdiri, menaiki undakan tangga dan masuk ke sekolah. Sekitar lima menit kemudian, dia berlari gesit dan membawa sepasang setelan olahraga warna hijau. “Nih, buatmu,” katanya sambil menyodorkan kaus miliknya.

“Tidak kebesaran?” tanya Jiyeon ragu, menerima kaus hijau tersebut. Tubuh Chanyeol jelas lebih tinggi darinya dan jauh lebih besar.

“Masih lebih baik daripada tidak olahraga, karena cuma aku yang bisa kau mintai bantuan,” kata Chanyeol ketus, kini membuang muka dan berpura-pura melihat langit biru.

Senyum terbit dari sudut bibir Jiyeon. “Terimakasih banyak, Chan. Aku menarik ucapanku kemarin. Mulai sekarang, kita berteman. Kau juga bisa minta bantuanku kalau butuh.”

Jiyeon mengulurkan tangan. Chanyeol tersenyum padanya, dan menerima uluran tangan itu. “Berteman,” gumamnya, agak serak.

Sejak saat itu, tidak ada lagi hari di mana Chanyeol tanpa Jiyeon, atau Jiyeon tanpa Chanyeol. Mereka selalu bersama, berdua, tidak terpisahkan. Karena kedekatan mereka, kumpulan gadis itu tak berani lagi mengejar Chanyeol dan berhenti menindas Jiyeon.

Kemudian, saat mereka lulus SMA, berita mencengangkan itu datang. Keluarga Chanyeol lagi-lagi harus pindah. Mereka memang sering berpindah-pindah mengikuti kerja sang kepala keluarga. Kali ini mereka harus pindah ke China.

Saat melepas Chanyeol, Jiyeon merasa sangat sedih melihat Chanyeol pergi. Rasanya sangat hampa. Tapi, dia kehilangan Chanyeol sebagai teman. Teman yang selalu ada di sisinya, yang menemaninya saat tak ada orang lain yang mau mendekatinya.

Dan, Chanyeol juga tidak ingin pergi. Dia jauh lebih sedih daripada Jiyeon. Dia kehilangan Jiyeon seperti kehilangan separuh jiwanya. Dari hari pertama Chanyeol melihat Jiyeon dia tahu kalau dia sudah jatuh cinta, makanya dia selalu rela menghabiskan waktu di sisi gadis itu tiap hari.

Namun saat terpisah, tidak terpungkiri betapa pedihnya hati Chanyeol. Dia kehilangan sahabat sekaligus cintanya. Belum lagi, dia bahkan tak tahu bagaimana perasaan Jiyeon terhadapnya. Memang begitulah hal yang tidak menyenangkan dari sepasang sahabat, dan salah satu di antara mereka jatuh cinta.

***

Sampai jam sepuluh pagi, Myungsoo cemas kenapa Jiyeon tidak kunjung datang. Makin hari, anak itu makin sembrono. Biasanya dia datang paling pagi, namun sekarang datang seadanya saja. Yah, dia marah karena kalau Jiyeon datang terlambat, hanya ada sedikit waktu gadis itu bisa berada dekat dengannya…

Dia mengecek CCTV dengan gusar, melihat-lihat apabila ada tanda Jiyeon masuk. Hingga beberapa menit kemudian, sosok gadis berambut pendek itu masuk dengan tas punggungnya seperti biasa. Myungsoo langsung tersenyum lega. Seolah ada semangat baru yang disuntikkan ke tubuhnya.

Namun, tidak…ada laki-laki yang mengikuti Jiyeon, lalu berbicara dengan berjalan bersisian. Siapa laki-laki ini? Myungsoo menatapnya lekat dari rekaman. Pria itu bertubuh jangkung, rambutnya lebat kecokelatan. Dilihatnya, Jiyeon tampak berbicara dengan salah satu kasir yang menggantikan Yerin saat jam pagi.

Bukannya masuk ke dapur untuk mulai kerja, dia dan pria itu malah duduk di salah satu kursi dan mulai berbicara akrab sekali. Myungsoo menyipitkan mata, dan mulai merasa terbakar—entahlah, cemburu. Siapapun pria ini pasti yang membuat Jiyeon datang terlambat dan membuat Myungsoo resah sepanjang pagi. Kurang ajar.

“Kubalas kau,” geramnya, mulai berdiri dari kursinya. Dia mulai merapikan rambutnya, sambil menimbang penampilan terbaik yang harus dilihat Jiyeon darinya pagi ini. Dia tidak boleh membiarkan pria itu, tidak boleh…dia baru pertama kali melihatnya, bahkan baru beberapa detik, tapi rasanya sudah mau mengajak dia perang. Myungsoo harus bisa memperlihatkan bahwa dia menang.

Mana mungkin—Jiyeon harusnya mendengar pernyataan cintanya kemarin, jadi mulai sekarang, hanya Myungsoo yang boleh berada bersamanya.

Myungsoo mengambil mantel hitamnya dan setelah merasa cukup oke, dia keluar dari kantornya. Dia menuruni tangga, keluar dari pintu. Sekitar dua orang di dalam terkejut melihat kehadiran Myungsoo yang tiba-tiba ini.

“Wow! Kenapa?” tanya Minho keheranan, tapi Myungsoo tidak menjawab. Dia mengangkat dagu tinggi-tinggi dan memasang tampang angkuh.

“Kau mau menemui seseorang?” seru Minho, tidak menyerah saat sahabatnya tidak berbicara apapun. “Oh, ya, Jiyeon katanya izin kerja sampai siang—tadi ada teman lamanya datang!”

“Ya,” kata Myungsoo seadanya. Dia keluar dari dapur, melewati meja kasir. Dia menyapu pandangan dan melihat Jiyeon duduk di salah satu meja di dekat jendela kaca. Mengepalkan tangan, Myungsoo berjalan ke arahnya dan lelaki bertampang bocah tersebut.

Saat dia lewat, beberapa mahasiswi menunjuk dirinya, rupanya sedang terpana karena pesonanya. Namun Myungsoo mengacuhkannya, dia tidak peduli pada apapun selain dua orang itu di meja hari ini.

Ketika jarak dirinya lima langkah dari Jiyeon, gadis itu menoleh setelah asyik berbincang. Matanya membelalak senang melihat Myungsoo dan berseru riang, “Hei! Myungsoo!”

Mendengar sapaan penuh semangat itu, Myungsoo lega. Setidaknya, Jiyeon tidak lupa pada dirinya. Dengan kelegaan, dia berjalan mengitari meja dan mendelik pada pria itu, yang kini menatapnya penuh ingin tahu. Berbeda dengan ekpresi Myungsoo yang tampak ingin membunuhnya.

Dia mengambil tempat duduk di sisi kanan meja, dan rasanya seperti juri dalam pertandingan adu panco. Dua orang itu memandangnya penuh minat, tapi Jiyeon yang matanya paling berbinar.

“Aku izin kerja karena ingin menemani Chanyeol hari ini! Kurasa dia harus melihat kafe ini. Dia baru balik dair China setelah empat tahun aku tidak melihatnya. Channie, ini pemilik kafenya, Myungsoo. Myung, ini teman lamaku, Chanyeol.”

Chanyeol mengulurkan tangan riang, berharap dibalas dengan ramah. Namun Myungsoo hanya mendelik tanpa antusias—dia ingin memberi tatapan mengancam kalau bisa—dan membalas uluran tangannya tanpa meremasnya. Dilihatnya kening Chanyeol agak berkerut, namun Myungsoo mengabaikannya.

Uh, apalagi tadi—Jiyeon memanggilnya dengan sebutan nama kecil. Channie? Itu pasti semacam panggilan sayang. Biasanya orang yang terlampau dekat akan saling memanggil begitu. Yah, dulu dia dan Soojung juga begitu, sih, tapi sekarang kasusnya ada pada Jiyeon, dan semuanya jadi berbeda. Myungsoo makin tidak terima.

“Jadi,” Chanyeol berdeham, wajahnya tetap terlihat ceria. “Bagaimana si Jiyeon ini kalau kerja? Dia tak merepotkan, kan?”

“Tidak,” balas Myungsoo datar.

“Bagus, deh,” Chanyeol tertawa. “Dulu dia sangat merepotkan aku. Aku harus rela tidak olahraga karena bajuku dipakai dia, dan keringatnya sangat bau—“

Namun sepertinya di bawah Jiyeon sudah menginjak kakinya, karena mendadak suaranya hilang dan suasana jadi hening lagi. Setelah menatap kosong ke depan, barulah Myungsoo bergantian menatap mereka berdua.

“Ah, ya, kupikir tadinya ada tamu, jadi aku datang,” katanya, bermuka dua.

Mendengarnya, Chanyeol terkikik. “Ya ampun, aku hanya berkunjung biasa. Tidak perlu sampai didatangi pemilik kafe begitu…” kata Chanyeol, agak tersipu malu dan tersanjung.

Dia tak tahu Myungsoo turun menjemput untuk mengajaknya bertengkar tadi.

“Jadi…” kata Myungsoo, memaksakan diri seolah topik kedekatan mereka jadi hal yang menyenangkan. “Kalian berteman dari kecil?”

“Oh, bukan dari kecil,” kata Chanyeol, tampak senang ditanyai demikian. “Sekitar saat SMA, kami lima belas tahun, ya…begitu.”

“Oh, begitu,” gumam Myungsoo. “Kau kembali dari China. Bagaimana keadaan di sana?”

“Yah, menurutku, Korea jauh lebih asyik,” bisik Chanyeol, keningnya berlipat, rupanya sedang mengingat keadaan di sana. Sebetulnya Myungsoo tidak membutuhkan itu. “Makanya aku senang sekali bisa pulang ke sini dan bertemu teman-teman lamaku. Sayangnya tidak lama. Aku harus kembali lagi ke China besok—aku hanya diizinkan empat hari saja.”

Myungsoo tampak ingin menggeram senang, tapi Jiyeon malah memekik kaget. “Kenapa begitu? Kau baru bertemu denganku pagi ini!”

“Yah, sudah kukatakan padamu, kan?” tanya Chanyeol sangsi, dia mengangkat bahu lesu. “Harusnya kita bisa bertemu dari jauh hari, tapi kau tidak ada di rumah sepanjang waktu…jadi waktu bertemu kita juga jadi singkat.”

Myungsoo nyaris tidak percaya saat mata Jiyeon mendelik padanya, penuh dendam. Gadis itu seolah marah karena dia harus pulang malam karena dirinya, membuatnya tidak bisa menemui si Chanyeol ini.

“Kalian bisa bertukar kontak,” kata Myungsoo, kaget karena ucapan itu meluncur saja dari mulutnya.

Dua orang itu memandangnya cepat, membuat Myungsoo merasa tersudut. Dia seperti baru saja melontarkan hinaan fatal. “Yah, masalahnya,” Chanyeol menghela napas. “Dia tidak punya ponsel, dan berkirim surat akan terasa kuno, jadi konyol sekali…”

“Lebih baik kirim surat daripada tidak,” ujar Myungsoo agak angkuh. Dia berdiri dan mendelik pada Jiyeon. “Ayo, kau harus kerja, kalau tidak aku akan potong gajimu.”

Mendengarnya terasa seperti horror bagi Jiyeon. Maka dia mengangguk dan berdiri. Namun saat Myungsoo berjalan, Jiyeon tidak mengikutinya. Dia masih berbisik ke telinga Chanyeol. Sebisa mungkin Myungsoo mengabaikannya, namun ternyata tidak bisa.

Setelah lima menit berbisik, Jiyeon pun langsung berlari ke dapur tanpa melirik Myungsoo. Pria itu memandangi punggung Jiyeon dan menghela napas berat. Dia pun dengan langkah pelan kembali ke meja tempat Chanyeol duduk tadi. Pria itu tampak sibuk mengemasi tas ranselnya.

“Tak perlu, aku akan bicara padamu sebentar,” kata Myungsoo kalem, namun tegas dan tajam. Membuat Chanyeol tidak mampu berkutik. Dengan patuh dia menyandarkan ranselnya kembali ke kaki meja dan menatap Myungsoo, terdiam.

Pemilik kafe beringsut duduk di hadapannya, dan melipat lengan di depan dada. Dia menatap Chanyeol dengan pandangan menilai sebelum berucap, “Kau dan Jiyeon sudah berkenalan dari lama?”

“Oh!” Chanyeol berseru lega, dia mengira Myungsoo akan bertanya sesuatu yang mengkhawatirkan tadi. “Ya, sudah lama sekali. Kenapa?”

“Kau sahabatnya, dan sudah berapa lama kau tinggalkan dia di China?”

“Empat tahun,” gumam Chanyeol, ada nada bersalah dalam suaranya. Myungsoo menatapnya dengan lebih tajam.

“Itu jahat sekali,” tukas Myungsoo, dan Chanyeol tampak agak tersinggung. Tapi dia segera menghapusnya karena tahu sosok di depannya adalah orang yang dihormati.

“Yah, karena—Ayahku suka berpindah-pindah. Aku dan Jiyeon pernah kirim surat, tapi hanya sampai tiga surat saja…sesudahnya kami terlalu malas beli perangko lagi. Aku merasa bersalah karena tak bisa jadi orang yang menemaninya,” cerita Chanyeol dengan nada agak sedih.

“Tak perlu, dia sudah temukan orangnya,” balas Myungsoo getir. “Aku.”

Mendengarnya, denyut tidak terima memenuhi nadi Chanyeol. Dia mengangkat sebelah alis tinggi-tinggi, berbeda dengan ekspresi hormat yang dia pasang beberapa detik lalu. “Kau?”

“Ya, aku bisa menemaninya, kalau bisa selama yang kumau,” kata Myungsoo, belum pernah dia seyakin itu. “Kau jangan khawatir.”

“Jiyeon sahabatku,” kata Chanyeol agak sengit. “Hanya aku yang bisa menemaninya dalam keadaan apapun.”

“Tapi kenyataannya, kau meninggalkannya selama empat tahun. Dia jadi nelangsa dan sendirian. Itu yang kau sebut sahabat?” tanya Myungsoo penuh kemenangan. “Kau mencintainya, kan? Itu yang kau lakukan terhadap orang yang kau cintai? Meninggalkannya empat tahun? Kau kira empat tahun hanya semenit saja, ya?”

Tatapan Chanyeol berubah tidak suka, dan dia rasanya ingin menendang pemilik kafe ini jauh-jauh, tidak peduli bahwa dia duduk berhadapan dengannya di kafe yang orang ini bangun. “Dengar, kupikir tadinya kau seorang Bos yang terhormat. Kau menghardik tamumu cuma gara-gara seorang pegawai gadismu?”

“Ya,” tembak Myungsoo langsung. “Kau jangan pernah lagi mengganggu Jiyeon, toh dalam periode berikutnya aku akan selalu bersamanya.”

Chanyeol menyeringai jahat. Dia melipat lengannya di depan dada, seperti Myungsoo, menatapnya tajam. “Aku mencintainya selama empat tahun, menjadi sahabatnya selama empat tahun. Aku menjadi teman pertamanya saat tak ada yang mau jadi temannya, saat semua orang menindasnya. Kau tidak bisa menyuruhku sembarangan begitu. Berapa lama, sih, kau mencintainya? Lagipula, aku dengar, kau menyuruhnya bekerja sampai malam di sini, kan? Kau mencintai orang dengan menyuruh mereka bekerja sampai mati kelelahan, begitu?”

Percakapan itu berubah tidak sopan dalam kurun waktu sekejap. Kini wajah Myungsoo memerah karena marah. “Aku baru beberapa bulan menyukainya. Kuakui, tidak selama kau. Tapi setidaknya, aku lebih juara kalau urusan menemaninya.”

“Benarkah?” tanya Chanyeol, dengan suara nada ragu yang dibuat-buat berlebihan. “Apa dia menganggapmu penting juga?”

“Ya, dia sekarang menggantungkan hidupnya padaku. Aku menggajinya, agar dia bisa membayar sekolah adiknya. Lantas, apa yang sudah kaulakukan buat dirinya?”

“Banyak hal,” kata Chanyeol sengit. “Persahabatan, misalnya. Kesetiaan. Dan kau, kau cuma memanfaatkannya, kan.”

Mendengarnya, Myungsoo tersenyum. Dia mencondongkan tubuhnya, menatap Chanyeol dengan tatapan membakar, dan menyeringai. “Kau tahu, ya, kalau aku akan memanfaatkan gadis untuk kecantikan atau kekayaan, harusnya aku tidak memilih dia. Harus kuakui, dia hanya gadis biasa dan tidak kaya, buat apa aku memilihnya? Masih ada gadis yang jauh lebih bagus yang ada di luar sana. Itukah, yang kau sebut memanfaatkan?”

Wajah Chanyeol lebih merah daripada Myungsoo, dia mengepalkan tangan. Mendadak meja itu jadi gemetar karena amarah masing-masing pria yang merebutkan seorang gadis tersebut. Myungsoo merasakan getarannya, dan berdiri, menepuk pundak Chanyeol salut.

“Enyahlah dari kafe ini, atau tidak kupanggil polisi untuk menyeretmu keluar. Dan ingatlah, jangan terlalu beraharap padanya kalau kau akan kembali besok pagi. Jangan ganggu aku dengannya. Semoga siangmu menyenangkan, Park Chanyeol.”

Dia membalikkan badan, berjalan dengan angkuh. Myungsoo berjalan kembali ke dapur, dan melihat di dapur hanya ada Jiyeon dan Jongin—yang seperti biasa, tidak berguna, hanya duduk mendengarkan musik. Minho dan Jieun tadi keluar untuk sarapan bersama. Ini kesempatan bagus buatnya.

Myungsoo tahu jantungnya nyaris meledak gara-gara ini, tapi dia tidak tahan untuk mengacak rambut pendek Jiyeon. Gadis itu menggerutu marah, apalagi melihat siapa yang mengacak rambutnya. “Apa, sih, kau?”

Yang dimarahi hanya terkekeh senang, setidaknya percakapan ini hanya untuk mereka berdua saja. “Kau bekerja dengan bagus. Teruskan.”

“Ya, bukankah dari dulu?” tanya Jiyeon ketus. “Kau baru mengakuinya sekarang.”

“Ah, ya, maafkan aku,” Myungsoo memasang wajah lucu, membuat Jiyeon mau tak mau tertawa melihatnya.

“Di mana Chanyeol?” tanya Jiyeon. “Dia masih ada di sini, kan? Ada banyak hal yang harus kulakukan sebelum dia pergi ke China.”

“Tenang, dia baik-baik saja, tapi aku tak menjamin dia masih ada di sini,” kata Myungsoo, dia tersenyum mengingat kemenangannya berargumen barusan. “Dan daripada dengannya, ada banyak hal yang bisa kaulakukan denganku, aku senang hati melakukannya. Itu kalau kau mengajakku, dan aku berharap kau mengajakku. Yang penting, jangan terlalu lama bersama orang itu.”

Myungsoo mengucapkan kata-kata tadi dengan cepat sekali, sehingga Jiyeon hanya menangkap sebagian saja. “Maaf? Aku tidak mendengarmu, kau ngomong cepat sekali.”

“Tidak penting,” tangkas Myungsoo cepat, dan sebelum bertindak lebih jauh, dia sudah mengecup pipi kiri Jiyeon dalam sepersekian detik. Dalam sepersekian detik itu juga, dia melihat wajah Jiyeon sudah memerah seperti tomat, dan dia memalingkan muka dari Myungsoo.

“Apa—“ tanyanya, penuh kebingungan, dan wajahnya semakin merah seolah seluruh darahnya berkumpul di situ. Namun Myungsoo hanya tersenyum, “Ups. Maaf, aku kelepasan. Kau terusan bekerja, aku akan kembali ke atas.”

Dia menepuk punggung Jiyeon pelan sebelum masuk ke pintu kantor, dan menaiki tangga. Jantungnya berdetak membahagiakan, darahnya berdesir dengan menyejukkan di pembuluhnya. Bahkan ketika Myungsoo merebahkan diri ke tempat tidur, dia masih tersenyum sangat lebar.

Belum pernah dia merasa sebahagia ini sebelumnya.

***

Ketika turun karena malam sudah tiba, didengarnya lagu dari radio kafe mengalun, sejenis lagu jazz untuk dansa. Myungsoo melihat Jiyeon masih merapikan meja. Pria itu tersenyum.

“Belum pulang?” tanyanya, duduk di salah satu kursi dan menatapnya merapikan isi kafe.

“Belum,” sahut Jiyeon, tidak memandang Myungsoo. Dia tak berani memandangnya setelah kejadian tadi. Tidak sama sekali.

Melihat Jiyeon yang begitu salahtingkah, Myungsoo menghela napas. “Sori tentang tadi pagi. Aku—kurasa aku hanya terbawa suasana.”

“Suasana apa?” tanya Jiyeon, alisnya terangkat. “Kau tidak membicarakan kisah cinta klasik bersama Chanyeol, kan? Atau membaca novel sebelum kejadian fatal itu terjadi?”

“Tidak!” tangkis Myungsoo gusar. “Sungguh, aku hanya kelepasan. Kurasa ada setan yang menyuruhku begitu.”

“Itu berarti pipiku dicium setan,” kata Jiyeon datar, dan Myungsoo tertawa mendengarnya. Syukurlah, anak ini tidak mempermasalahkan kejadian tadi sama sekali…semoga saja dia belum tahu.

Ketika Jiyeon sudah selesai, dia berbalik ke dapur dan sudah siap dengan tas ranselnya. Namun saat lagu berganti dengan lagu lain, Myungsoo tersadar akan sesuatu.

“Musiknya bagus,” komentarnya. “Kau mau berdansa?”

“Apa?”

“Dansa,” kata Myungsoo, mengulang lebih pelan.

“Tapi aku tidak bisa berdansa,” Jiyeon memberengut.

“Astaga, Putri Kerajaan selalu bisa berdansa. Kau yang gadis biasa harusnya juga bisa,” kata Myungsoo, tertawa mengejek. “Ayo, cobalah, aku sudah lama tidak berdansa dengan seseorang. Kalau kau kesulitan, aku akan mengajarimu.”

Menghela napas, Jiyeon menatap Myungsoo. Beberapa menit kemudian, dia mengangguk. Benar, lagipula musiknya juga bagus…dia menerima genggaman tangan Myungsoo. Pria itu menarik pinggang kecilnya ke dalam pelukannya, lengan jari mereka yang bertaut terbentang di sebelah kanan mereka.

Myungsoo dan Jiyeon mulai menari diiringi musik jazz mellow yang menenangkan. Kaki mereka bergerak seirama, walaupun Jiyeon merasa sangat kaku menggerakannya. Tapi Myungsoo tampak tidak keberatan. Sebaliknya, dia tampak sangat senang.

“Nyonya Park,” gumam Myungsoo, berbisik. Hembusan bisiknya menerpa lembut wajah Jiyeon. “Kau pernah jatuh cinta?”

“Apa?” tanya Jiyeon, “Pernah. Kalau tidak pernah, berarti aku tidak normal dan hidupku tidak indah.”

“Siapa, sih, orang yang kau cintai itu?” tanya Myungsoo, kini mengangkat lengannya, membiarkan Jiyeon berputar di bawahnya. Setelah dia merengkuh kembali pinggang Jiyeon, gadis itu tampak merenung.

“Siapa?” tanya Jiyeon mengulangi. Itu kau, idiot. “Yah…itu rahasia pribadiku, kan?”

“Ah, ya, betul…itu rahasia pribadimu,” ulang Myungsoo, dengan nada agak hampa. “Nah, kau lihat aku, kan? Aku mudah sekali terbawa suasana…dansa dan musik membuatku bertanya hal tolol seperti itu padamu…tidak heran, kan?”

“Ya,” jawab Jiyeon. Dia nyaris memekik kaget saat Myungsoo tiba-tiba mengangkatnya sekitar sepuluh senti dari tanah, dan dia mendarat. Tiba-tiba dia merasa capek berdansa.

“Dasar tolol, aku tidak bisa berdansa dan ini biasanya yang dilakukan penari kontemporer di panggung!” maki Jiyeon, tampak kesal. Myungsoo tergelak-gelak dan akhirnya melepaskan rengkuhan pinggangnya, walaupun agak tidak rela.

Namun Myungsoo teringat sesuatu. “Aku dulu selalu berdansa seperti ini…bersamanya.”

Jiyeon tak perlu bertanya dua kali untuk tahu siapa orang yang Myungsoo maksud.

“Gerakannya mempesona, karena itulah aku suka dansa…aku selalu punya pasangan dansa yang gerakannya apik,” Myungsoo tersenyum. “Tidak sepertimu, kaku sekali.”

Jiyeon memberi pandangan mengancam. Dia segera berjalan ke luar pintu, Myungsoo mengikutinya. Pria itu mengunci pintu kafe dan tersenyum padanya. “Selamat tidur, Ji, semoga mimpimu menyenangkan.”

“Selamat tidur,” kata Jiyeon. Dia dan Myungsoo berbalik berlawanan arah. Tiba-tiba dia rindu pada periode saat Myungsoo berbohong pada dirinya dan mengantarnya pulang.

Sebelum berbelok di tikungan, Myungsoo menatap punggung gadis yang berjalan lambat itu. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis.

Gadis itu akan jadi miliknya, selamanya kalau bisa, dan Myungsoo berterimakasih padanya atas banyak hal…


 

PENGUMUMAN, GUYS!

Kira-kira sampai 10 chapter (banyak banget ya) ke depan, ceritanya bakal full sama sweet moment MyungYeon! Atau ada yang keberatan sama 10 chapter? Siapa yang kangen MyungYeon, bisa siap-siap baper, ya😀 thanks a lot for reading! Have a nice day!

With regards,

Nadia.♥

25 responses to “[CHAPTER – PART 13] Skinny Love

  1. Yaampun so sweet banget sih MyungYeon (づ ̄ ³ ̄)づjadi senyum² sendiri bacanya ><
    Chanyeol yang sabar yaa, cari cewek lain aja, noh baekhyun nganggur *eh* :v

  2. Aciyeee, myung jealous ne ye.
    Ciye ciye.
    HAhh, yeoli bbrpa hri doank ya d korea. Huhhh, pdhl pngen xbiar aj yeoli d korea, supaya myung cmbru truz, wkwkkwkwkk.
    Aigooo, gk sabar.
    Ayuls ayuks. 10 chapter k dpan mah gk bkalan berasa klo myungyeon x sweet2 an. HAhay
    Suka suka.
    Jebbal, palli. Hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s