[CHAPTER-4] LIFE

liferedo

poster credit : bubbletea@hsg

LIFE

Park Jiyeon | Kim Myungsoo

Jung Eunji | Mark Tuan

Kim Jiwon | Kim Taehyung

Romance, friendship, school life, family, rich

Chaptered

T

“Bagaimana hubunganmu dengan Eunji?” Mark menghela nafasnya bingung. Apa yang harus dikatakannya? Bagi Mark, ini benar-benar aneh. Sangat aneh. Namun Ia memberanikan diri memberitahu segalanya pada Myungsoo.

“Aku sama sekali tidak mengerti kenapa aku mengalami seperti ini. But, who knows. I like her, more than anyone else. Dia tidak bisa berbicara dengan baik, dia selalu berlaku kasar padaku, aku tidak tahu lagi. Aku menyukainya.”

Myungsoo tersenyum dan menjawab, “Kau hebat, Mark. Kau sudah bisa melalui masa lalumu. Sikapmu selama ini karena menganggap semua yeoja sama, aku baru pertama kali mendengarmu bicara seperti ini.” [in chapter 3]

.

”Kenapa kau tetap bersikeras mendekatiku? Pertama, kau tahu aku mantan kekasih Myungsoo. Kedua, kau tahu dengan jelas-jelas kalau kau bisa menolak pertunangan ini.”

“Pertama, aku tak peduli siapa kau. Kedua, aku—“ Eunji terlihat menunggu jawaban dari Mark. Namun sepertinya Mark sudah kehilangan kata-kata. Apa yang harus dikatakannya? Kenapa Ia tidak mau menolak pertunangan ini.

“—aku tertarik denganmu.” Mark tak punya pilihan lain selain mengatakannya. Kemudian Ia menatap Eunji yang tengah menatapnya tak percaya.

Sesaat, Eunji benar-benar tak dapat berbicara. Ia hanya menatap Mark dalam diam. Perasaannya berkecamuk, apa benar yang dikatakan Mark barusan?

Baru saja pikiran itu melintas, Eunji langsung menepis itu. Jangan terlalu berharap lebih, kalau nantinya hanya akan merasakan sakit.

“Berhenti bercanda, itu sama sekali tidak mengasyikkan. Bagaimana juga kau tertarik denganku? Sepertinya kau lupa kalau kau pernah mengatakan kalau pertunangan ini hanya untuk perusahaanmu.”

Mark tertawa kecil dan mengangguk. Dalam hati Mark mengatakan, ‘Yang kau katakan itu yang bercanda. Pernyataanku barusan sangatlah serius.’

“Kau tak sebodoh yang kupikirkan.”

“Kau bilang aku bodoh? Look at to mirror, who’s the most foolish.” Mark hanya tersenyum dan mengadahkan wajahnya kembali dengan hati berharap, ‘Sepertinya mendekatinya menjadi sangat sulit. Susah untuk mempercayai namja brengsek sepertiku.’ [in chapter 3]

 ————————————————————————

“Appa.” Jiyeon menahan airmatanya untuk keluar kala melihat appanya untuk yang pertama kali sejak 3 tahun terakhir. Namun appanya sama sekali tak mau menatapnya.

“Pergilah, jangan bersikap seperti ini.” Balas appanya menunduk.

“Lalu aku harus bagaimana?!”

“Pergilah.”

“Bertahun-tahun kalian berdua meninggalkanku bersama Jisoo, dan ketika aku menemukanmu kau menyuruhku pergi. Apa kau manusia?!” Jiyeon berteriak dengan keras karena sikpa appanya yang menurutnya sangat tidak masuk akal.

“Kau tidak pantas untuk melihat appamu yang jahat, Jiyeon!”

“Kalau appa merasa kau jahat, maka kembalilah. Aku mohon!”

“Kau bahkan bukan anakku, tetapi kenapa kau sangat peduli padaku?!” teriak appa Jiyeon frustasi, dan mengucapkan sebuah kalimat yang tak seharusnya diucapkannya seumur hidup. Kalimat yang tak boleh Jiyeon ketahui selamanya.

M—mwo? Apa yang kau bilang? Aku bukan—“

“Bukan seperti itu, Jiyeon-ah. Dengarkan appa—“

“Lalu aku anak siapa? Apa kali ini kau juga mau bilang kalau Jisoo bukan adikku?!” Airmata Jiyeon mengalir begitu mendengar dan mengucapkan setiap kalimat. Apa yang selama ini disembunyikan mereka? Kenapa Jiyeon hanya terlihat seperti orang bodoh yang meminta jawaban.

Bahkan Myungsoo yang berada disana pun hanya mampu terdiam. Meskipun dari lubuk hati, Ia sangat ingin memeluk Jiyeon saat ini.

“Bukan aku yang harus menceritakannya. Tetapi ibu tirimu.”

“Ibu tiri? Aku sudah cukup gila ketika kau mengatakan kalau kau bukan ayahku, dan sekarang dia juga bukan ibuku?!”

“Kami mengambilmu dari seseorang yang memang harus menderita.”

“Apa?” Kali ini appa Jiyeon berlari pergi seusai menyelesaikan satu kalimat itu. Jiyeon ingin mengejarnya, namun akhirnya Ia berpikir kalau itu hanya akan sia-sia.

“Tidak bisakah kalian membuat hidupku tenang. Untuk membahagiakan Jisoo saja aku belum bisa..” Myungsoo langsung memeluk Jiyeon erat. Myungsoo membiarkan yeoja itu menangis dipundaknya, membasahi pakaiannya.

“Aku—“

“Aku akan membantumu, menyelesaikan segala masalahmu. Karena aku sudah berjanji, untuk selalu ada disisimu.”

————————————————————————–

“Aish, Mark benar-benar menyebalkan.” Keluh Myungsoo. Malam-malam begini, Mark menyuruh Myungsoo dengan mudahnya untuk membelikan beberapa makanan ringan. Myungsoo takkan mau melakukannya jika Mark tidak mengajukan ancaman gila.

‘Memang namja itu sudah gila,’ Myungsoo mengambil seluruh makanan ringan dengan asal, mengingat Mark baru saja memberikannya kartunya. Biar saja seluruh uang dikartunya terkuras habis. Siapa suruh dia menyuruh Myungsoo saat namja itu sedang belajar.

Myungsoo berjalan keluar dengan satu kantong plastik cukup besar, bawaannya ringan karena ini hanya berisi snack-snack tidak jelas. Myungsoo memasukki gang, supaya lebih cepat sampai. Namun didalam sana, Ia menjumpai beberapa pelajar yang membawa tongkat, serta satu pelajar didepannya.

Myungsoo berniat tidak ingin melewati gang ini karena tidak mau ikut bertarung. Namun Ia berhenti berbalik ketika menyadari namja yang sendirian itu adalah Jisoo. Myungsoo pun maju beberapa langkah dan mendengar percakapan mereka.

“Kudengar kau menghabisi Donghyuk karena Ia mengatakan nuna-mu hanyalah seorang wanita murahan. Kau ini mau sok jagoan?” Myungsoo dapat melihat dengan jelas kalau Jisoo hanya terdiam namun tetap menatap mereka.

“Dia mau jawab tunggu nuna-nya kita sentuh.” Jisoo mengepal tangannya geram.

“Yah! Kalau nuna-mu bisa kami sentuh, memang berarti nuna-mu itu murahan kan?” Jisoo menendang tong besar disana dan mulai menghajar mereka. Namun karena kalah jumlah, kini Jisoo dipukuli mereka dengan keras.

Myungsoo tak tahan lagi, Ia terpikirkan kembali bagaimana Jiyeon yang kecewa karena adiknya dalam keadaan seperti ini. Ia pun melangkah mendekati mereka dan memotret mereka yang tengah menghajar Jisoo.

CKREK

CKREK

CKREK

CKREK

“Hei, apa yang kau lakukan, brengsek!” seru salah satu dari mereka. Myungsoo tertawa kecil, “Ah, mian. Aku lupa mematikan suaranya.”

Jisoo menyadari kalau namja itu adalah namja yang pernah ditemuinya bersama Jiyeon. Ia pun terkejut.

“Berikan ponselmu.” Sahutnya.

“Apanya? Aku memang suka memotret. Maaf kalau itu mengganggumu.”

“Lagipula apa untungnya memotret itu? Berikan pada kami.”

“Keuntungannya? Kuberikan ke polisi, aku bisa saja dapat uang kan?” balas Myungsoo santai. Sementara namja itu mulai mengajak teman-temannya untuk mengepung Myungsoo. Mereka pun berlari menghampiri Myungsoo dan menghajarnya.

Myungsoo berusaha melawan mereka, namun jumlah mereka kira-kira 7 atau lebih. Tentu saja Myungsoo kesusahan. Jisoo yang sudah membantu pun tak bisa membantu banyak karena sebelumnya Ia memang sudah babak belur.

Sayangnya, Myungsoo punya senjata rahasia. Ia sudah menghubungi polisi sehingga mereka semua dibawa ke kantor polisi.

————————————————————————–

Jiyeon datang dan menatap Jisoo dan Myungsoo kesal, “Kau pikir apa yang kau lakukan malam-malam begini, hah? Aku baru saja akan tidur!”

Jisoo menyengir pada Jiyeon.

“Akan tidur katanya. Tidur dengan siapa dan dimana dia malam ini.” Mereka tertawa begitu puas merendahkan Jiyeon. Jiyeon pun akhirnya tahu alasan mengapa mereka bertarung seperti ini.

“Kenapa kalian menanyakannya? Apa kalian tidak punya tempat tidur sehingga bertanya begitu? sayangnya, rumahku terlalu kecil dan sangat bersih untuk menampung brengsek seperti kalian.” Jiyeon menarik keduanya pergi darisana setelah membuat mereka tercengang dengan kalimat Jiyeon.

“Jisoo! Kau yang memaksa Myungsoo ikut bertarung, ya?”

“Dia memang sudah ada disana. Dan aku berterimakasih untuk itu. Jika tidak ada hyung, mungkin Jiyeon nuna sedang menangisiku sekarang.”

Jiyeon menjitak dahi Jisoo keras, sementara Myungsoo hanya tertawa.

“Myungsoo, kau mau kerumahku? Lukamu harus diobati.”

“Tidak apa?”

“Harusnya aku yang bertanya. Tidak apa kau kerumahku? Jauh berbeda dengan lingkunganmu.” Myungsoo menggeleng tanda tak masalah.

————————————————————————–

“Hyung, aku ingin mengucapkan sesuatu.” Myungsoo menatap Jisoo yang tengah menunduk.

“Aku minta maaf soal kejadian waktu itu, juga terima kasih untuk hari ini.” Myungsoo tersenyum pada Jisoo. Ketika namja itu tersenyum, Ia benar-benar sama seperti Jiyeon. Mereka memang meiliki senyuman yang sama.

“Sudahlah, aku juga minta maaf.”

“Keunde hyung, tadi kau cukup hebat dalam melawan mereka.” Myungsoo tersenyum geli mendengar Jisoo mengatakan hal seperti itu.

“Disekolah, ada namja yang jauh lebih sangar dariku tadi. Bahkan sangat sangar. Dia playboy dan preman sekolah. Dia sahabatku, aku pasti akan mengenalkanmu dengan si brengsek itu.” Jiyeon pun langsung ikut tertawa kala mengetahui siapa yang tengah Myungsoo bicarakan.

“Kalau kau berada disaat yang tepat, kau pasti bisa melihatnya.” Balas Myungsoo lagi. Kali ini Jisoo malah mengatakan kalau Ia tak sabar untuk melihatnya.

————————————————————————–

Jisoo baru saja menemui Myungsoo dan Jiyeon pagi ini. Ketika mereka tengah bercengkrama, ketiganya mendapati sebuah pertengkaran. Myungsoo tersenyum puas, “Kau datang disaat yang tepat, Jisoo-ya!”

“Hyung, yang mana? Ada dua namja.”

“Namja itu Mark, yang mengenakan earphone dan snapback putih, sementara lawannya adalah Kim Taehyung, pecundang.” Jiyeon hanya terdiam ketika Myungsoo mengatakan Taehyung pecundang. Seisi sekolah tahu kalau Mark dan Myungsoo sama sekali tak bisa berdamai dengan Taehyung.

“Sebelum aku benar-benar menghajarmu habis-habisan, kutanya sekali lagi. Kenapa kau melaporkanku pada appa?” Myungsoo menganga tak percaya. Mereka bertengkar karena Mark melaporkan Taehyung?

“Sudah kukatakan tadi malam aku sama sekali tak ke club. Lagipula, aku akan melaporkanmu jika itu menguntungkanku. Jika aku melaporkanmu, bukankah aku juga akan rugi?” balas Mark tak peduli. Myungsoo tahu itu benar, karena tadi malam saja Mark merengek minta dibelikan snack yang lain karena Myungsoo telah membuang snack itu saat berkelahi.

Mark bukannya mengkhawatirkan Myungsoo yang sama sekali tak mahir berkelahi, Ia jauh lebih mementingkan isi perutnya.

“Bukankah seharusnya kita melerainya? Ini akan jadi masalah jika bertengkar dilingkungan sekolah.”

“Taehyung sudah membayar semuanya untuk ini, Jisoo. Takkan ada guru yang akan melerai mereka. Teman-teman pun takkan berani melakukan apapun. Begitulah prinsipmu disekolah ini.”

“Jika kau tak mau mendapat masalah, jangan mencoba untuk dekat dengan mereka. Jangan ikut campur apapun yang bukan hubungannya denganmu. Hanya cara itu kalau kau mau lulus dari sekolah ini.” Kali ini Jiyeon yang menjelaskannya pada Jisoo.

Jiyeon kembali teringat mengenai pertemuannya dengan appa. Hingga sekarang, Jiyeon masih tak dapat menceritakannya pada Jisoo. Ia takut namja itu terluka, biar saja Jiyeon yang mengurus semuanya.

“Brengsek!” Taehyung meninju wajah Mark cepat. Mark terjatuh lalu kembali bangkit berdiri sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah.

Ia balas meninju Taehyung lebih keras, dan tanpa ampun. Ia pun bangkit berdiri dan membiarkan Taehyung yang terbaring lemas dilantai dengan darah disudut bibirnya, disekitar pipinya, juga didahinya.

Mark menghela nafasnya kasar dan berbalik ingin pergi. Namun Taehyung ternyata sudah mengambil kursi makan dan melemparkannya kearah Mark. Sayangnya lemparan itu meleset karena Mark sedikit bergeser tanpa tahu kalau Taehyung menyerangnya.

Semua wajah langsung terkejut ketika mendapati Eunji yang mengenai bangku itu. Kursi itu melewati pelipisnya, dan sepertinya sedikit mengenai mata, ditambah senderan kursi itu menabrak tubuh kecilnya membuatnya terjatuh pingsan dengan darah mengucur didahinya.

Mark yang melihat itu terkejut. Ia menatap Taehyung sangat emosi. Jiyeon pun berlari kearah Eunji sambil berusaha mengangkatnya kerumah sakit. Namun Jisoo dan Myungsoo mengikutinya. Myungsoo pun mengangkat Eunji dan membawanya langsung kerumah sakit.

Mark tak dapat langsung menahan emosinya begitu melihat apa yang terjadi pada Eunji.

“Brengsek! Bajingan! Kenapa harus Eunji?!!” Mark tak peduli lagi. Yang dipikirannya saat ini hanyalah Ia harus membalas apa yang barusan dialami Eunji. Tak peduli lagi apa yang akan terjadi nantinya.

————————————————————————–

Mark berlari kencang ketika Myungsoo memberinya pesan detail mengenai dimana Eunji dirawat. Begitu sampai, Ia langsung membuka pintunya dan menatap Eunji yang terbaring disana. Sepertinya Ia belum bangun. Mark terduduk disamping tempat tidur Eunji.

From. Myungsoo

Kami bertiga sudah pulang. Kau jaga terus Eunji ya. Kau mengagumkan, saat kau melakukannya pada Taehyung demi Eunji. Kau pasti berubah, Mark.

Mark menutup ponselnya dan menatap Eunji terus. Ia menyentuh dahi Eunji pelan, lalu mulai turun ke mata dan ke hidungnya, hingga Mark berhenti di bibir Eunji. Mark menghela nafasnya dan menjauhi tangannya dari wajah Eunji.

Tak lama, Eunji terbangun dan sedikit merengang. Mark yang menyadarinya langsung memanggil dokter. Ia hanya mengatakan, kalau Eunji baik-baik saja dan hanya perlu sebuah jahitan didahinya.

Keduanya terdiam didalam ruangan hingga akhirnya Eunji berceletuk, “Kau luka. Dokter mungkin saja mengira yang habis bertengkar itu kita.”

“Tidak lucu.” Balas Mark khawatir, namun berusaha tidak menunjukkannya. Eunji berniat bangun, namun Mark menghalanginya.

“Apa yang ingin kau lakukan? Akan aku lakukan.”

“Ambilkan kotak P3K.” Meskipun heran, Mark tetap mengambil kotak itu untuk Eunji.

Eunji membuka kotak itu dan mengobati luka disudut bibir Mark. Padahal itu hanyalah luka kecil yang bisa dibersihkan dengan air hangat. Namun Eunji mengobatinya.

“Kau kenapa sih? Hobi sekali bertengkar,”

“Bukan aku yang memulainya.”

“Tapi kau menyetujuinya.” Mark terdiam. Eunji benar, jika saja Mark tidak menyetujui pertengkaran ini dengan Taehyung mungkin Eunji tidak mengalami ini.

“Sorry.”

“Ckck, aku hanya bercanda kok. Jangan menyalahkan dirimu didepanku, aku tidak menyukainya.”

“Lalu kau sukanya apa? Cerewet sekali,”

“Aku sedang sakit. Dan itu karena kau. Bagaimana jika menjadi pelayanku sampai aku sembuh?” Mark mengangguk. Tak peduli apapun itu, asalkan Ia bisa bersama dengan Eunji. Asalkan Ia bisa melindungi Eunji, Ia akan melakukannya.

————————————————————————–

Sekarang adalah saatnya pengambilan nilai ujian menyanyi. Terlihat banyak siswa yang meminum pil supaya dapat tenang saat menyanyi nanti. Namun Eunji melihatnya aneh, berlebihan.

Tak lama, Jiyeon menghampirinya, “Eunji-ya, kau melihat pakaianku?” Eunji menggeleng sejenak. Jiyeon meninggalkannya dan mencari kesana kemari. Ya, pengambilan nilai ini memang harus menggunakan kostum supaya lebih menarik.

Eunji memegangi kembali perutnya. Ia belum sepenuhnya sembuh, dan beberapa kali perutnya selalu terasa sakit akibat hal itu. Dokter mengatakan, bagian tubuh dalamnya ada yang terinfeksi. Namun sepertinya Eunji tak berniat melakukan pengobatan. Lagipula hari ini Ia harus ujian.

“Daebak, Suzy-ya!” Eunji melihat Nayeon dan Suzy tampak bercengkrama dengan senang. Keduanya tertawa saat melihat Jiyeon yang kesana kemari mencari pakaiannya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Nayeon terkikik.

“Mencari pakaianku.” Keduanya tertawa lagi dan Eunji dapat menangkap kalau Suzy sempat menoleh kearah salah satu loker. Eunji berjalan kearah mereka, dan membuka loker itu kasar. Didalamnya, terdapat pakaian Jiyeon yang basah dan telah robek, serta ada gunting disampingnya.

“Kekanakkan. Kalian tak perlu melakukan ini.” Balas Eunji mengeluarkan pakaian itu. Jiyeon menatapnya tak percaya. Ia sudah memilih pakaian terbaik, yang kemungkinan cocok untuk penampilannya. Ia bahkan menabung untuk membeli pakaian ini.

“Kami? Kau yang kekanakkan, menuduh tanpa bukti.”

“Apa perlu kuserahkan gunting ini ke polisi untuk dicek lalu kau akan mengaku?” Keduanya terdiam dan menatap Eunji kesal. Setiap mereka mengganggu Jiyeon, selalu saja ada yang melindunginya.

Mark dan Myungsoo pun datang dengan empat buah minuman ditangan Myungsoo, “Ada apa?” Eunji melemparkan pakaian Jiyeon pada Mark namun tetap menatap Suzy dan Nayeon.

“Mau kubelikan sekarang? Pakaian yang takkan pernah bisa dibeli mereka.” Tawar Mark pada Jiyeon. Bagaimana pun, Mark merupakan pasangan menyanyi Jiyeon sehingga sudah seharusnya Ia bertanggung jawab atas Jiyeon.

“Minyoung eonni, bisa kau membawakan pakaian yang kau beli seminggu lalu? Yang belum pernah kupakai. Bawa sekarang.” Jiyeon menatap Eunji tak percaya. Yeoja itu sudah selesai menghubungi sekretarisnya.

7 menit kemudian, Minyoung datang dan memberikan pakaian itu pada Jiyeon. Namun betapa terkejutnya Jiyeon ketika mendapati Minyoung yang sama dengan Jung Ahyoung yang memberikannya 10juta won.

“Jung Ahyoung-ssi?”

“Maaf, nama saya Ahn Minyoung.”

“Tapi, wajahmu—“

“Saya memang memiliki kembaran bernama Ahyoung. Ahn Ahyoung.” Jiyeon sedikit pusing dengan semua itu. Sementara Eunji tersenyum tipis. Ia memang pernah memberitahu pada Ahyoung, dia perlu menyamar menjadi Minyoung ketika bertemu Jiyeon. Dan juga, jika Eunji sudah memanggilnya dengan sebutan Minyoung, maka Eunji memang sedang bertemu Jiyeon.

Jung Ahyoung, Ahn  Minyoung, Ahn Ahyoung. Eunji sangat ingin tertawa dengan semua nama itu. Padahal nama aslinya adalah Min Ahyoung.

“Pakailah ini.” Eunji memberikan dress putih pendek dengan sebuah pita cukup besar dibagian kanan pinggangnya. Suzy dan Nayeon menatap dress itu kagum.

“Nayeon-ah, bukankah itu pakaian yang ingin kita beli?”

“Tidak jadi, karena harganya lebih dari 50juta.” Mereka berdua berbisik-bisik. Namun Mark dan Myungsoo sudah pasti mendengarnya.

“Pakailah, Jiyeon. Selagi yang kau pakai ini, tidak bisa dibeli mereka.” Sahut Myungsoo puas. Jiyeon hanya dapat mengangguk canggung dan berjalan kedalam ruang ganti.

“Jung Ahyoung, Ahn Minyoung, Ahn Ahyoung. Aku sungguh kasihan dengan Min Ahyoung.” Sahut Mark menggeleng-gelengkan kepalanya. Kali ini Eunji tidak bisa menahan kalau Ia tertawa didepan Mark. Mark pun tidak dapat menutupi kesenangannya kala melihat Eunji tertawa untuk pertama kalinya.

————————————————————————–

한여름밤에

Hanyeoreumbamye kkul

한여름밤에

Hanyeoreumbamye kkul

한여름밤에 (이건 맞이)

Hanyeoreumbamye kkul (igeon machi)

한여름밤에 (우린맞이)

Hanyeoreumbamye kkul (urin machi)

 

Suara lembut Jiyeon mengakhiri lagu tersebut. Kini mereka berdua turun dari panggung dan berpapasan dengan Myungsoo dan Eunji.

“Aku akhirnya tahu apa bakatmu.” Ledek Eunji, Mark menatapnya geram sekaligus gemas.

“Fighting.” Ujar Jiyeon pelan dan memberikan mic-nya pada Myungsoo dan tersenyum.

 

I love you 사랑해요

I love you saranghaeyo

널보는 날이면 둘만 만나는 날이 아닌데도

Neol boneun narimyeon dulman mannaneun nari anindedo

너에게만 보이려고 그래 그래

Neoegeman jal boiryeogo mak geurae nan geurae

I love you사랑해요

I love you saranghaeyo

널보는 날이면 둘만 만나는 날이 아닌데도

Neol boneun narimyeon dulman mannaneun nari anindedo

막설레고 그런다니깐요

Mak seollego geureon anikkanyo

Semua murid dinyatakan lulus dalam ujian ini, kecuali dua pasangan ini. Masih belum diumumkan kalau keduanya lulus atau tidak.

“Ujian menyanyi ini, kalian berempat tidak lulus.” Keempatnya menatap guru mereka jengkel. Pasti soal raut wajah lagi. Guru mereka bisa membaca dengan jelas, kalau mereka hanya menyanyi seadanya, dan tidak terlalu ingin dapat nilai bagus.

“Minggu depan, kalian akan melakukan pengulangan. Dengan cara yang berbeda,”

.

 

.

TBC.

aku udah buat cerita ini sampai chapter 7, dan sampai sekarang aku masih bingung. ending ini emang bisa aja myungyeon, tapi dibeberapa chapter sebelumnya, ada yang mengatakan ingin melihat markyeon bersama hehehe. jadi aku mau nanya, bukan deh, tapi voting wkwk.

myungyeon or markyeon? comment below~

60 responses to “[CHAPTER-4] LIFE

  1. kalo gue jadi suzy dan nayeon sih gue pasti kaga bakal gangguin jiyeon lagi
    pengulangan dengan cara yg berbeda? gimana ya maksudnya?:/

  2. pkoknya endingnya myungyeon donk …itu wajib🙂 he he…. Dan aku penasaran sama ortu kandungnya jiyeon siapa ? jisoo keren bgt, sayang sama noonanya, rela berantem demi noonanya … adek yg so sweet dh

  3. Huhu baru baca, habis aku sibuk sih ╥﹏╥

    Kalo udh baca dari part sebelumnya sih yaa lebih enak MyungYeon karena udh pass banget. MarkYeon boleh juga sih, tapi pasti ribet lagi Authornya mesti ubah alurnya lagi😅 seenak Author-nim aja deh, aku mah ngikut aja selagi Ji yg jadi pemain utamanya 😂

  4. Myungyeon lah thor..soalnyaaa sangat sangat sangat sangatt tidak rela klo myung sma eunjiii hahahaha..jiyi mah cocok sma siapa aj sbnrnya tp sma mark ga dpt feel klo myung udh psti dpt feel..tp moment mrka dsni krg greget..mlh bnyk moment mark eunji…next thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s