[FICLET] …and It’s You

cr.tumbr.com

author : blacksphinx | cast : oh sehun, park jiyeon | genre : lil bit romance, drama
rating : teen | cr gambar : google.com


“Hun, hun, hun…”
Aku masih ingat cara mereka memanggilnya. Seseorang dengan pawakan tinggi dan kulit putih itu memiliki wajah yang cukup menawan.
Aku masih mengingatnya.
Ia yang mampu membuatku jatuh berkali-kali, meskipun aku mencoba lari darinya.
Ia mampu memenjarakan diriku dalam hatinya. Dan begitu pun dengannya, ia terpenjara di dalam hatiku.
.
.
.
Jauh di dalam sana, aku masih tetap mencintainya.
.
.
…mungkin selamanya.
.
.
…ia akan tetap bersamaku…
.
.
.
.
Di lubuk hati ini.


 

Hai, namaku Jiyeon, Park Jiyeon. Mereka memanggil aku Ji. Nama yang singkat, bukan? Aku punya seorang teman yang bernama Fhey. Dia cukup absurd dan mungkin ya, dia.. tidak bisa move on dari masalalu.

“Style 2015. Style pelajar 2015”
“What?”
“Sepatu selop, tas samping, rok beberapa centi diatas mata kaki baju ngepress dan..”
“Kau masih memikirkan itu? Oh c’mon!”
“Masalah? Ini kereen!! Masalalu harus dikenang.”
“Tidak.”
“Oke.”
“Bye.”

Itulah beberapa percakapan kecil antara aku dan Fhey, dia temanku dari transfer pelajar atau apalah itu namanya. Aku terlalu pusing memikirkannya. Selalu berakhir seperti itu. Intinya, dia absurd.

Koridor begitu sepi hingga hanya suara decit antara sepatu dengan lantai yang kudengar. Meninggalkan jejak kaki tak terlihat, meninggalkan kenangan demi kenangan yang aku ukir disini. Mengingatnya begitu menyenangkan. Aku akan meninggalkan sekolah ini satu tahun lagi.

“Ji?”
“Hm.”
Oh Sehun. Bukan Oh, Sehun. Dia laki-laki.

“Kau dipanggil ke ruang wakasek.”
“Aku?”
“Ya.”
Oke, ini pertamakalinya aku mendapat panggilan ke ruang wakasek dan aku pikir aku akan mendapat masalah dan oke, positif thinking. Oke.. sabaar.

Tok.. tok..
“Oh, Jiyeon! Kemari!”
“Ya, pak!”
“Kamu ada masalah apa? Nilai kamu turun semua.” Oke, nilaiku turun.
“Ya? Mungkin saya sibuk akhir ini, Pak.”
“Perhatikan. Kurangi kegiatanmu. Saya tidak mau melihat nilaimu turun lagi setelah ini.”
“Baik, Pak.”
Seingatku, aku tidak memiliki masalah. Mungkin hanya sibuk organisasi. Ya, mungkin karena itu.

Setelah dari ruang wakasek, kuperhatikan kedua kakiku yang setia melangkah, menunjukkan jalan kemana aku pergi dan menemaniku dimana pun aku berada.
Semilir angin siang ini sangat terasa. Bau udara yang dipenuhi embun mulai tercium. Bau basah akan hujan. Baunya begitu khas. Membuatku tenang, melupakan penat sejenak akibat dari ruang wakasek tadi.
Kuperhatikan koridor depan. Bel istirahat yang telah berbunyi beberapa menit lalu membuat anak anak berbondong bondong keluar dari kelas mereka. It’s break time!~

“Fhey!”
“Apa?”
“I’m just wanna say somethin'”
“What is that? Oh, Sehun?”
“Ssst. Shut Up! Kalau dia dengar bagaimana?”
“Kau kan tidak punya malu. Fine lah..”
Sumpah demi jenggot Zeus aku ingin membakarnya.

“Tadi kami bicara lhoo~”
“Terus?”
“Oke, bye.”

“Ji, kau masih ada masalah dengan matamu?”
Jujur, beruntung aku memiliki sahabat seperti dia. Seseorang yang membuatku tenang. Bebas melepas keluh kesahku. Dia mengerti, bahkan ia mengerti hal yang aku tidak mengerti.
“Ya, sedikit. Ya. Masih sama. Otakku juga masih terasa sama.”
“Kau sudah konsultasi lagi?”
“Alasannya masih sama. Kacamata tidak membantu. Mungkin aku hanya kelelahan. Sudah ya, masih ada hal yang harus aku urus.”
“Kau selalu saja seperti ini.” Sindirnya pelan.

Waktu berlalu begitu cepat. Memori pun berputar, menambahkan kisah baru tiap detiknya. Seakan ia tidak pernah lelah untuk menulis dan mengabadikannya. Seakan ia tidak pernah habis mendapat ide baru. Sebagian dari memoripun terhapus, entah disengaja atau tidak disengaja.
Entah, akankah aku dikenang atau hanya akan menjadi memori yang terhapus dan terlupakan.
Namun kali ini berbeda. Darah itu mulai keluar dari hidung, bahkan telinga. Buku tulis yang kubuka pun penuh tetesan darah. Seakan ia tidak mau berhenti. Tanganku mencoba meraih tissue yang terletak di sudut meja belajar. Akan tetapi, kenyataan berkata lain…
Aku jatuh.
.
.
.
Aku jatuh sebelum ia tahu perasaanku.

Suara orang banyak, aku mendengarnya. Hanya kerumunan suara orang. Banyak sekali. Aku tidak bisa melihat mereka.
“Ji!”
“S-se?”
“Kau sedang apa disini?”
“A-aku… Entah, aku hanya disini. Mungkin masih jalan-jalan. Sedang apa kau disini?”
Sehun berbalik mendengar jawabanku. Entah apa yang ia pikirkan. Akan tetapi, cara ia menatapku berbeda.
“Dengar, aku menunggumu di pusat cahaya. Pergi ke sana dan ganti bajumu. Aku menunggumu.”
“Se-” Aku tersentak mendengarnya. Entah apa yang ia maksud. Cahaya? Cahaya yang sebelah mana? Ia hanya mengatakan tanpa menunjukkan ku dimana cahaya itu.
“Aku harus pergi.”
Dan ia pergi. Tanpa mengucapkan kata selamat tinggal.

“Cahaya? Dimana? Tidak ada. Kenapa baju ini? Baju ini cukup nyaman.” Baju putih ini cukup nyaman. Sungguh. Bahkan sekarang aku tidak merasakan apapun. Mataku melihat dengan jelas dan otakku terasa baik baik saja.

“Ji!”
Aku berbalik, melihat sosok Sehun tersenyum cerah.
“Kau kembali?”
“I’m here for you. Follow me!”

———–author pov———-

Seoul Hospital, 19.00 KST

“Defiblator?”
“Pasang. Aku akan mencoba memacu jantungnya.”
Di luar ruangan itu, orang tua Ji menunggu dengan gelisah. Seseorang yang ia banggakan masih sekarat di dalam ruangan itu. Nyatanya, selama ini Ji terlihat baik baik saja.

Tidak lama, pintu itu terbuka. Tanpa basa basi dokter itu berucap, “Dia akan segera sadar. Kalian bisa ke ruangan saya setalah hasil scan keluar.”

 

Seseorang yang berdiri dengan tegak, lama lama akan terduduk. Seseorang yang tadinya tersenyum, perlahan ia menangis. Bahkan tangisan itu lebih pedih dari kedengarannya. Ia menangis dalam diam.

Kabar Jiyeon sakit sudah tersiar di sekolah. Kususnya angkatannya.
“Kau baik baik saja?”
“Entahlah. Rasanya aku tidak baik.”
“Hun, jenguk dia di rumah sakit.”

Sehun memainkan handphone nya gusar. Nama Jiyeon tertera di sana, ia hanya ingin sekedar menelpon dan menanyakan kabar.

 

Akan tetapi..

 

“Aku bukan siapa siapanya. Nyatanya, aku tidak tahu dia menyukaiku atau tidak. Sudahlah, aku hanya bisa berharap dia akan kembali masuk sekolah.” Sehun memasukkan handphonenya ke kantong.
Ia melangkah melewati koridor. Meninggalkan temannya yang berdiri di pintu kelas. Memori itu terputar, memori nya,hanya memorinya.

“Fhey!”
“Apa?”
“I’m just wanna say somethin'”
“What is that? Oh, Sehun?”
“Ssst. Shut Up! Kalau dia dengar bagaimana?”
“Kau kan tidak punya malu. Fine lah..”
“Tadi kami bicara lhoo~”
“Terus?”

Ia mengingat kejadian itu. Ia juga merasa, Ji menyukainya. Bahkan ia mengingat sebagian besar memorinya bersama Ji.

 

Waktu terus berjalan. Tidak terasa sudah seminggu Sehun tidak melihatnya. Ia memang masih bisa tersenyum, tertawa dan serius. Akan tetapi, semuanya berbeda. Jika ia bisa mengatur waktu, ia ingin mengulang semuanya. Semua apa yang belum ia lakukan dan ucapkan. Ia ingin kembali.

Tak lama, ponselnya bergetar, menampilkan pesan dari seseorang, Jiyeon. Sedetik setelah membaca pesan itu, ia tersenyum simpul dan memasukkan ponselnya kembali.

————–Ji pov————-

Cklek.

“Kau datang?”
“Em.”

Bahkan aku sudah mengetahui bahwa itu ia sebelum dirinya masuk ke kamar ini.
“Kau sudah baikan?”
“Menurutmu?”
“Aku hanya bertanya. Kau sendiri?
“Orang tuaku masih sibuk. Jadi aku sendirian. O, bagaimana?”
“Apanya yang bagaimana?”
“Sekolah, keadaan, atau-”
“Hm? Oh, ayolah.. kau sebenarnya kenapa?”

Kau seharusnya tidak usah menghawatirkanku.
“Aku baik baik saja.”

Ayolah, jangan memasang ekspresi seperti itu. Kau yang seperti itu hanya akan menambah rasa sakitku. Cukup hanya aku yang merasakan.
“Ya! Gwenchana, Jinjja!”

“Jika kau baik baik saja kau tidak akan di infus dan berada di sini.”
Oke, memang benar, tapi rasa sakit itu hilang saat kau datang.

 

Kami terdiam selama beberapa detik. Aku mencoba mencari-cari hal apa yang bisa kami bicarakan.

Ah, itu..

“Oke. Tadi aku mengirim pesan kepadamu karena..”

“Karena aku menyukaimu. Aku datang kemari karena aku menyukaimu.”

Ne?”

 

“Kau tahu, rasanya baru kemarin aku mengenalmu.”

Kau memang gombal, flat, aneh tapi entah mengapa aku menyukaimu. Aku menyukai sikapmu. Seseorang yang membuatku nyaman, walaupun kau sering membuatku merasa terpojok dan entah aku harus bersikap bagaimana. Denganmu aku merasa aman.

“Apa yang membuatmu merasa seperti itu?”

Ia kemudian mengacak acak rambutku gemas. Ah, dia terlihat gemas kepadaku, ekspresi wajahnya mengatakan demikian.

“Wajahmu sama sekali tidak berubah, meskipun waktu sudah berlalu tiga tahun lamanya. Aku hanya, merasa kau berbeda.”
“Sama? Sepertinya kau salah, dulu aku sehat dan sekarang aku sakit.”
“Hatimu tidak sakit, Ji. Kau masih sama, Jiyeon yang aku kenal. Kau masih sama. Hanya jasmanimu saja yang sakit.”

 

 

Sehun..

 

Aku hanya takut, kau berharap berlebih padaku.

 

Aku tidak ingin kau sedih nantinya.

 

“Oke, kau aneh.”

“Ya, terserah. Oh, aku mencatat pelajaran selama kau absen. Aku membawanya, walaupun tulisanku tidak sebagus tulisanmu, aku harap itu bisa membantu.”

Aku menemukannya,
seseorang yang membuatku nyaman dan aman.

Masih sama. Aku masih berada di ruangan entah, mungkin ah, aku tidak tahu ukurannya berapa. Yang pasti, aku sering sendirian. Mengingat hanya ada aku disini. Orang tuak sibuk bekerja. Mereka mengunjungiku ketika malam dan pergi sebelum aku bangun.

Aku ingat, buku Sehun. Kenapa tidak aku baca?

Perlahan, tanganku meraih salah satu buku yang tertumpuk di meja samping. Buku itu tidak tersampul dengan rapi. Tanganku mulai membuka dan aku mulai membaca halaman demi halaman buku itu. Masih sama, tulisannya sama sekali tidak berubah.

“Ish, tulisanmu masih sama jeleknya.”

Catatannya lengkap. Aku masih mengingatnya, ketika ia sama sekali tidak menulis dan hanya memperhatikan guru. Namun, sekarang ia telah berubah rupanya. Atau, mungkin hanya karena aku tidak memiliki catatan dan dia melakukan ini untukku?

Sadarlah.. kau bukan siapa siapanya.

“Karena aku menyukaimu. Aku datang kemari karena aku menyukaimu.”

“Ne?”

“Sebenarnya..”

“Aku tidak ingin mendengarnya sekarang.”

“Aku pikir kau harus mengatahuinya.”

“Kau berpikir begitu?”

Sehun memegang kedua tangan  Jiyeon, ia menatapnya Intens.

“Aku mencintaimu. Aku tidak peduli entah situasinya bagaimana, perasaanku tidak bisa berbohong.”

“Bahkan aku belum mengatakan yang sebenarnya.”

Aku masih membaca buku itu. Namun, seketika pandanganku mengabur. Penyakit ini kambuh.

.

.

.

..dan aku jatuh.

Aku sadar, setiap manusia memiliki batas waktu. Dan mungkin aku sudah berada di ambang batas.

.

.

.

Senang mengenalmu, Oh Sehun.

————-author pov———–

1 year later..

 “Hun?”
Lelaki dengan jas itu menoleh. Ia tersenyum pada temannya, “Ya?”

“Kau kesini sendiri? Oh man, kau setampan ini datang ke pesta prom sendirian?” Sehun hanya balas tersenyum. Kemudian temannya berbisik, “Kau memang single jual mahal atau memang single ngenes?”

“Aku sedang menunggu seseorang,” respon Sehun cepat.

“Who is she? ‘She’ benar, kan?”

Sehun mengangguk.

“Siapa dia? Kau di sekolah sepertinya tidak sedang dekat dengan siapapun.”

“Dia datang.”
“Aku tengah menunggunya, Park Jiyeon.”

————–

I’m done.

…waiting,

crying,

trying…

I’m done.


Hai, balik nih sama cerita super absurd yang sebenernya nih, aku bingung mau nulis apaan. Ya, jadilah kaya gini, berhubung suasana hati masih agak sedih gara gara liburan selesai dan gara gara doi. Jangan tanya aku dia sakit apa karena aku gatau dia sakit apaan, hehe.

Thank you banget yang nyempetin baca sampe akhir ya walaupun ceritanya jelek gini.. Maaf ada tipo Jiyeon jadi rara >< karena sebelumya emang castnya rara ><

See you~

10 responses to “[FICLET] …and It’s You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s